• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA BAHASA DALAM CERPEN KARYA SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAYA BAHASA DALAM CERPEN KARYA SISWA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

GAYA BAHASA DALAM CERPEN KARYA SISWA

Dian Risdiawati1 Sumadi2 Widodo Hs3

Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang 65145 E-mail: [email protected]

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang Tahun Ajaran 2013/2014 dilihat dari segi penggunaan dan fungsinya. Penelitian jenis kualitatif ini menggunakan pendekatan stilistika dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penggunaan gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan dalam cerpen siswa. Gaya bahasa retoris ditemukan sebanyak 18 jenis dan yang paling sering digunakan adalah gaya bahasa eufemismus. Gaya bahasa kiasan ditemukan sebanyak 10 jenis dan yang sering digunakan adalah gaya bahasa metafora.

Kata kunci: gaya bahasa, retoris, kiasan, cerpen

ABSTRACT: This study aimed to describe the style implemented based on direct and indirect meaning, namely rhetorical style and figurative language short story by high school students of class XII Brawijaya Smart School (BSS) Malang academic year 2013/2014 based on (1) use and (2) function. The study uses qualitative method with descriptive design. The result of this research show that the short story of students use rhetorical style and figurative language. The rhetorical style detectable 18 type and the most is eufemismus style. The figurative language detectable 10 type and the most is metaphor style.

Keywords: language style, rhetorical, figurative, short story

Gaya bahasa merupakan hal yang menarik di dalam karya sastra khususnya cerpen. Pengarang yang satu dengan pengarang yang lainnya dapat mengungkapkan perasaannya dengan bahasa yang khas dan berbeda-beda terhadap pengarang melalui gaya bahasa. Keraf (2010:113) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Melalui gaya bahasa memungkinkan pembaca dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang mempergunakan bahasa. Semakin baik bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya. Semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian yang diberikan kepadanya.

Gaya bahasa diartikan sebagai bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan cara memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal yang lain yang lebih umum. Menurut Tarigan (1985:5), gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau

1

Dian Risdiawati adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang, Angkatan 2010.

2Sumadi dan 3Widodo Hs adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.

▸ Baca selengkapnya: kesimpulan cerpen seragam

(2)

mempengaruhi penyimak dan pembaca. Penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.

Menurut Kridalaksana (2001:25) penjelasan gaya bahasa secara luas yaitu pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. Gaya bahasa dan kosa kata mempunyai hubungan timbal balik yang erat. Semakin kaya kosa kata seseorang beragam pula gaya bahasa yang dipakainya. Peningkatan penggunaan gaya bahasa memperkaya kosa kata penggunanya. Oleh karena itu, pengajaran bahasa merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kosa kata siswa. Gaya bahasa memiliki unsur penting yang mewakili bentuk bahasa sastra di antaranya mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan mantra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra (Sudjiman, 1993:13—14).

Penggunaan gaya bahasa dalam cerpen mempunyai fungsi, yaitu sebagai pengemban nilai estetika karya itu sendiri untuk menimbulkan efek tertentu, menimbulkan tanggapan pikiran pada pembaca, dan mendukung makna suatu cerita. Cerpen sebagai salah satu bentuk prosa fiksi yang sering juga disebut dengan sebuah cerita ringkas memerlukan pengungkapan yang lebih rumit. Cerpen dituntut untuk mencari momen yang menarik, kemudian diekspresikan melalui bahasa secara personal sehingga menimbulkan nilai estetik. Hanya saja, di dalam sebuah cerpen terdapat proses pemadatan ide yang selalu terarah tetapi dapat membentuk sebuah kesan.

Seorang siswa mempunyai karakteristik pada setiap karyanya. Karakteristik cerpen karya siswa dilihat dari segi gaya bahasa memengaruhi kalimat dalam karangan siswa dan kesan pembaca. Setiap siswa mempunyai karakteristik gaya bahasa tersendiri yang merupakan ciri khas dari karya siswa tersebut. Seorang siswa dapat mempelajari gaya-gaya pengarang lain dengan membaca dan mempelajari buku-buku. Meskipun demikian, gaya bahasa pengarang bergantung dari watak pengarang itu sendiri. Setiap pengarang menumbuhkan gaya mengarang sendiri, yaitu sebuah gaya yang sesuai dengan wataknya dengan pertimbangkan pikiran dan perasaan dalam menentukan fokus dalam karyanya. Salah satu kekhasan seorang pengarang dapat dilihat dari gaya bahasa yang digunakan untuk menggambarkan karakter tokoh dalam karyanya.

Peneliti memilih cerpen dikarenakan menulis cerpen termasuk dalam kurikulum pembelajaran, seperti yang disebutkan dalam standar isi SMA kelas XII semester satu yakni menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain (pelaku, peristiwa, latar) (Kementrian Pendidikan Nasional, 2006). Oleh karena itu, peneliti menganggap bahwa menulis cerpen tidak akan lepas dari pembelajaran sastra, sehingga penelitian ini bermanfaat untuk pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah.

(3)

bahwa Presiden Soeharto lebih banyak menggunakan diksi abstrak, diksi khusus, diksi populer, gaya bahasa repetisi, dan gaya bahasa paralelisme.

Penelitian ini berbeda dengan kedua penelitian tersebut. Letak perbedaannya adalah pada fokus penelitian. Jika penelitian sebelumnya menitik beratkan pada gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan pilihan kata pada karangan Bahasa Jawa dan pidato Presiden, penelitian ini menitikberatkan pada gaya bahasa retoris dan kiasan pada cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya

Smart School (BSS) Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yang meliputi gaya bahasa retoris dan kiasan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang tahun ajaran 2013/2014 dilihat dari segi penggunanaan dan fungsinya.

METODE

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan stilistika. Penggunaan pendekatan stilistika dalam penelitian ini adalah untuk melihat bentuk keindahan bahasa yang digunakan dalam cerpen siswa. Metode kualitatif digunakan bersamaan dengan pendekatan stilistika karena dalam penelitian ini tidak dibutuhkan angka, melainkan dibutuhkan data yang berupa uraian kata. Maksudnya adalah penelitian ini berusaha untuk memberikan data secara objektif tentang gaya bahasa dan kekhasan gaya bahasa apa saja yang digunakan dalam cerpen karya siswa.

Sumber data penelitian ini berupa cerpen karya siswa kelas XII A2 SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang Tahun Ajaran 2013/ 2014 yang berjumlah 15 cerpen. Cerpen karya siswa kelas XII A2 dipilih sebagi sumber data karena penelitian tentang penggunaan gaya bahasa dalam cerpen karya siswa belum pernah dilakukan sebelumnya.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa LKS, panduan kodifikasi gaya bahasa, dan rubrik pengumpul dan analisis data. LKS berisi perintah dan petunjuk menulis cerpen yang digunakan untuk mengambil data dari siswa. Panduan kodifikasi gaya bahasa digunakan untuk mengklasifikasi data. Rubrik pengumpul dan analisis data digunakan untuk identifikasi kalimat dari data.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) memberi tugas menulis cerpen kepada siswa, (2) mengumpulkan semua cerpen karya siswa, (3) membuat tabel pengumpul data dan kodifikasi data, yaitu memberikan kode-kode terhadap data, (4) memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam tabel pengumpul data, dan (5) melakukan penyajian data berdasarkan teori-teori yang menjadi landasan penelitian ini.

Data dalam penelitian ini adalah data verbal yang berupa gaya bahasa dalam cerpen karya siswa kelas XII A2 SMA Brawijaya Smart School Malang. Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan maksud memperoleh deskripsi tentang gaya bahasa dalam cerpen karya siswa yang meliputi gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan yang dilihat dari segi penggunaan dan fungsi.

(4)

Selanjutnya, dilakukan penyajian data yang bertujuan untuk memperoleh kesimpulan-kesimpulan gaya bahasa dalam cerpen siswa, yaitu penggunaan dan fungsi gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan yang digunakan dalam cerpen karya siswa sebagai temuan penelitian. Tahap terakhir dalam analisis data penelitian ini adalah penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan pada penelitian ini adalah mengecek kesesuaian hasil analisis data dengan gaya bahasa dalam cerpen siswa yang diteliti, yaitu penggunaan gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan berdasarkan deskriptor yang telah dibuat.

HASIL

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, diperoleh dua temuan, yaitu (1) penggunaan dan fungsi gaya bahasa retoris dan (2) penggunaan dan fungsi gaya bahasa kiasan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang. Adapun hasil yang lebih lengkap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Penggunaan dan fungsi gaya bahasa retoris. Penggunaan gaya bahasa retoris dalam cerpen siswa cukup variatif. Gaya bahasa retoris yang ditemukan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA BSS Malang yaitu gaya bahasa eufemismus, yaitu sebanyak 22 kalimat. Contoh kalimat yang menggunakan gaya bahasa eufemismus adalah Otaknya di bawah garis kemiskinan. Gaya bahasa asindeton ditemukan 15 kalimat. Kalimat yang menggunakan gaya bahasa asindenton adalah Tak sedikit cobaan yang dia alami, kata-kata pedas sering ia dapatkan dari teman-teman sekelasnya, nasib pahit lain juga beberapa kali ia alami ketika ia bekerja sebagai buruh. Gaya bahasa erotesis dan gaya bahasa anastrof ditemukan sebanyak 14 kalimat. Contoh gaya bahasa erotesis adalah

Kenapa bel istirahat tidak segera berbunyi? Aku sudah lapar, ayolah aku mohon. Contoh gaya bahasa anastrof adalah Siang itu gang yang berada tepat di depan

rumah dipenuhi oleh warga kampung.

Gaya bahasa retoris lain yang juga ditemukan dalam cerpen siswa adalah gaya bahasa hiperbola sebanyak 11 kalimat, contohnya Rambutnya yang panjang sesekali tertiup angin, terkibas dan menampakkan sinar-sinar anggunnya. Gaya bahasa prolepsis ditemukan sebanyak 8 kalimat, contohnya Ia berpikir sedemikian naasnya jika teman mereka memiliki pemikiran yang begitu pendek. Ditemukan pula gaya bahasa pleonasme sebanyak 7 kalimat, contohnya Dengan percaya kulangkahkan kakiku mendekati dirinya. Gaya bahasa kiasmus ditemukan sebanyak 6 kalimat, contohnya Tidak hanya kesabaran yang harus diterimanya melainkan rasa menerima apa adanya adalah jalan hidup yang harus ditempuh olehnya. Gaya bahasa asonansi dan gaya bahasa polisindenton masing-masing ditemukan sebanyak 5 kalimat. Contoh gaya bahasa asonansi adalah Habis nyuci mobil hanya boleh menonton kalau nggak Doraemon atau Digimon, mungkin

Pokemon. Contoh gaya bahasa polisindenton adalah Cewek kampung lagi

(5)

sebanyak 2 kalimat. Contoh gaya bahasa elipsis adalah Terus kita juga udah

tukeran nomor handphone, dan….Contoh gaya bahasa litotes adalah Wong aku yang bodoh gini aja nyantai.

Gaya bahasa retoris yang dominan digunakan adalah gaya bahasa eufimismus. Fungsi dari gaya bahasa retoris adalah memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, menggambarkan suasana secara lebih hidup dan menarik, menekan ataupun menyanggah suatu gagasan, dan menyampaikan gagasan secara tidak langsung.

Penggunaan dan fungsi gaya bahasa kiasan. Penggunaan gaya bahasa kiasan oleh siswa cukup bervariasi. Gaya bahasa kiasan yang ditemukan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA BSS Malang meliputi gaya bahasa metafora yang ditemukan sebanyak 39 kalimat, contohnya Sontak warga sekitar rumah berhamburan keluar rumah. Gaya bahasa personifikasi ditemukan sebanyak 10 kalimat, contohnya Itu adalah detik-detik di mana perut sudah mulai berdemo.

Gaya bahasa sinisme ditemukan sebanyak 6 kalimat, contohnya Akhirnya ada juga cowok yang mau ngajak kencan sahabatku yang satu ini. Gaya bahasa ironi ditemukan sebanyak 6 kalimat, contohnya Lihat kawan, mereka lulus, lulus dengan ketidakjujuran mereka. Gaya bahasa sarkasme ditemukan sebanyak 6 kalimat, contohnya Otaknya udah otak kebo.

Gaya bahasa kiasan lain yang ditemukan adalah gaya bahasa metonimia sebanyak 6 kalimat, contohnya Itu yang pakai baju polo warna biru. Gaya bahasa simile dan gaya bahasa sinekdoke ditemukan sebanyak 4 kalimat. Contoh gaya bahasa simile adalah Namun bel istirahat tak kunjung berbunyi bagai siput yang berjalan sangat lamban. Contoh gaya bahasa sinekdoke adalah Satu kelas diam dan tegang. Gaya bahasa antonomasia dan gaya bahasa epitet yang masing-masing ditemukan sebanyak 1 kalimat. Contoh gaya bahasa antonomasia adalah

Itu di sana yang pakai baju warna pink, lagi duduk sendirian menunggu sang pangeran datang. Contoh gaya bahasa epitet adalah Raja Matahari tersenyum begitu riangnya di siang hari ini.

Gaya bahasa retoris yang dominan digunakan adalah gaya bahasa metafora. Fungsi dari gaya bahasa kiasan adalah memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, menggambarkan suasana secara lebih hidup dan menarik, menekan ataupun menyanggah suatu gagasan, dan menyampaikan gagasan secara tidak langsung.

PEMBAHASAN

Penggunaan Gaya Bahasa Retoris

(6)

karya siswa, gaya bahasa retoris banyak digunakan. Penggunaan gaya bahasa oleh siswa sangat sederhana. Kesederhanaan bahasa yang digunakan siswa inilah yang merupakan salah satu ciri khas penggunaan gaya bahasa dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang.

Penggunaan gaya bahasa yang berwujud pengulangan bunyi vokal pada sebuah larik atau kalimat disebut gaya bahasa asonansi. Menurut Keraf (2010:130), gaya bahasa asonansi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Penggunaan gaya bahasa asonansi biasanya digunakan pada puisi atau prosa untuk menambahkan efek penekanan atau keindahan. Siswa yang menggunakan gaya bahasa asonansi berjumlah 4 atau 26,6% siswa. Gaya bahasa tersebut menonjolkan perulangan bunyi vokal dalam kalimat. Dalam penggunaan gaya bahasa asonansi, siswa dominan mengulang vokal a. Contohnya pada kalimat Sebenarnya masalah menjawab atau berdebat ia sangat hebat,

terdapat pengulangan vokal a. Vokal a dalam kalimat tersebut sering digunakan dan terlihat begitu mencolok dari vokal lainnya. Vokal a dikombinasikan dengan konsonan t menjadikan frasa dalam kalimat tersebut mempunyai efek eufoni sehingga menciptakan keindahan dan menarik.

Gaya bahasa aliterasi membahas tentang bentuk kalimat atau frasa yang di dalamnya terdapat huruf konsonan yang diulang. Gaya bahasa aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Keraf, 2010:130). Gaya bahasa aliterasi hanya digunakan oleh 2 siswa atau 13,3% siswa. Konsonan yang digunakan oleh siswa adalah konsonan t dan h. Ketidakseringan penggunaan gaya bahasa aliterasi ini dikarenakan siswa tidak terlalu memperhatikan keindahan tiap katanya. Siswa hanya menuliskan kata-kata sederhana. Secara keseluruhan gaya bahasa aliterasi dan gaya bahasa asonansi menimbulkan eufoni dan kakofoni untuk menarik perhatian pembaca. Contohnya pada kalimat Doraemon atau Digimon, mungkin Pokemon.

Gaya bahasa anastrof adalah gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat (Keraf, 2010:130). Pengguna gaya bahasa anastrof ada 26,6% atau 4 dari 15 siswa. Dari data siswa, kebanyakan siswa menjadikan Keterangan pada urutan awal, baru kemudian diikuti dengan

Subjek, Predikat, dan Objek. Keterangan yang digunakan siswa adalah

Keterangan waktu, Keterangan cara, dan Keterangan tempat. Kalimat Siang itu

gang yang berada tepat di depan rumah dipenuhi oleh warga kampung dikatakan

sebagai gaya bahasa anastrof karena terjadi pembalikan unsur kalimat. Secara umum, unsur keterangan waktu yaitu siang itu biasanya diletakkan di akhir kalimat, dalam kalimat ini diletakkan di awal kalimat. Kalimat tersebut dalam tataran gramatikal memang tidak salah. Kalimat tersebut terdiri atas Ket, S, P, dan

O. Dilihat dari urutan pola kalimatnya, kalimat tersebut tidak pada umumnya, biasanya S diletakkan pada awal kalimat, tetapi pada kalimat tersebut S diletakkan setelah Ket.

(7)

penjelasan. Penggunaan gaya bahasa asindenton pada cerpen siswa ada 50,0% atau 9 dari 15 siswa. Gaya bahasa asindenton ini digunakan karena mayoritas siswa sering menyebutkan sesuatu lebih dari dua hal. Misalnya pada kalimat Tak sedikit cobaan yang dia alami, kata-kata pedas sering ia dapatkan dari teman-teman sekelasnya, nasib pahit lain juga beberapa kali ia alami ketika ia bekerja sebagai buruh. Kalimat tersebut dikatakan sebagai gaya bahasa asindenton karena ditemukan tiga klausa bersifat padat dan mampat yang sederajat dan tidak dihubungkan dengan kata sambung. Klausa tersebut hanya dipisahkan dengan menggunakan koma. Klausa tersebut dianggap sederajat karena sama-sama menerangkan menegenai keadaan tokoh.

Gaya bahasa polisindenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindenton. Gaya bahasa polisindenton merupakan gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut dengan memakai kata penghubung atau kata sambung. Dalam gaya bahasa polisindenton pemisahnya berupa kata sambung seperti dan, dengan, serta, dan sebagainya. Terdapat 5 siswa atau 33,3% siswa yang menggunakan gaya bahasa polisindenton. Berdasarkan data yang telah ditemukan, siswa cenderung memakai kata sambung dan. Dari lima kalimat gaya bahasa polisindenton, empat diantaranya menggunakan kata sambung dan, dan yang satu kalimat menggunakan kata hubung bahkan.

Gaya bahasa kiasmus adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frasa atau klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkansatu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa dan klausa lainnya (Keraf, 2010:132). Siswa yang menggunakan gaya bahasa kiasmus ada 5 atau 33,3% siswa. Siswa menggunakan kata-kata yang berantonim untuk mengungkapkan pertentangan namun berimbang. Misalnya dalam kalimat Ada banyak alasan yang bisa membuatku bahagia, tapi bahagia itu membuahkan kesedihan. Dalam kalimat tersebut terdapat dua klausa yang berimbang namun dipertentangkan. Klausa ada banyak alasan yang bisa membuatku bahagia dipertantangkan dengan klausa bahagia itu membuahkan kesedihan. Pertentangan tersebut yang membuat menarik, sehingga ada kesan mendalam dan makna tersirat dalam kalimat tersebut.

Gaya bahasa prolepsis atau antisipasi adalah gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Gaya bahasa prolepsis digunakan oleh 6 siswa atau 40,0% siswa. Gaya bahasa tersebut banyak digunakan karena siswa banyak menceritakan tentang peristiwa berkesan yang dilakukan tokoh seperti saat menggambarkan suasana atau saat memperkenalkan tokoh baru. Kalimat Ia berpikir sedemikian naasnya jika teman mereka memiliki pemikiran yang begitu pendek, bisa disebut sebagai gaya bahasa prolepsis karena kalimat tersebut menggunakan kata-kata lebih dahulu sebelum gagasan yang sebenarnya terjadi. Kalimat tersebut menggunakan lebih dahulu kata naas sebelum gagasan yang sebenarnya terjadi, yaitu pemikiran yang begitu pendek. Sebelum sampai pada peristiwa pikiran pendek, penulis sudah menggunakan kata naas, padahal naas

baru terjadi kemudian.

(8)

menegaskan atau menekankan pandangan, perasaan, dan pikiran. Dalam cerpen karya siswa terdapat 33,3% siswa atau 5 siswa yang menggunakan gaya bahasa hiperbola. Salah satu hal yang dibesar-besarkan siswa pada cerpen adalah rambut yang panjang sampai-sampai menampakkan sinar, padahal kenyataan yang terjadi sebenarnya tidak seperti apa yang diibaratkan siswa tersebut. Misalnya pada kalimat Rambutnya yang panjang sesekali tertiup angin, terkibas dan

menampakkan sinar-sinar anggunnya. Kalimat tersebut dikatakan gaya bahasa hiperbola karena terdapat kata-kata yang melebih-lebihkan, padahal hanya ingin menyampaikan rambut yang panjang. Rambut panjang dinyatakan dalam kata-kata yang berlebihan. Dengan pernyataan yang dibesar-besarkan tersebut, rambut panjang terkesan sebuah barang yang sangat indah, perhiasan yang disamakan dengan permata yang bersinar.

Gaya bahasa paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Kusumawati (2010:23) yang menyatakan bahwa gaya bahasa paradoks adalah gaya bahasa yang kata-katanya mengandung pertentangan dengan fakta yang ada. Siswa yang menggunakan gaya bahasa paradoks berjumlah 2 siswa atau 13,3% siswa. Pada kalimat Ia belajar bahwa waktu adalah lebih berharga dari emas, siswa mempertentangkan antara waktu dengan emas. Seolah-olah waktu adalah sebuah benda yang sama dengan emas, padahal waktu dalam makna kamus adalah satuan saat lamanya melakukan sesuatu, bukan sebuah benda. Dengan disamakannya kedua hal tersebut, maka terbentuk sebuah pertentangan. Pertentangan tersebut dimaksudkan siswa untuk menarik perhatian pembaca karena kebenarannya.

Gaya bahasa eufemismus merupakan gaya bahasa yang bertujuan untuk memperhalus suatu ungkapan. Nurdin, Maryani, dan Mumu (2004:25) berpendapat bahwa gaya bahasa eufemismus adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat menggantikan satu pengertian dengan kat lain yang hampir sama untuk menghaluskan maksud. Misalnya dalam frasa otaknya di bawah garis kemiskinan. Frasa tersebut yang merupakan frasa penghalusan dari kata bodoh.

Dengan mengungkapkan otaknya di bawah garis kemiskinan dirasa tidak menyinggung perasaan dan tidak dianggap menghina atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan, sehingga lebih terkesan santun. Gaya bahasa eufemismus adalah gaya bahasa yang paling sering digunakan. Hal tersebut terjadi karena sebisa mungkin penulis menata apakah kata yang dipilihnya pantas dibaca atau tidak. Dengan siswa menggunakan gaya bahasa tersebut, tulisan siswa terkesan santun dan mencerminkan siswa yang memperhitungkan kelayakan tulisannya untuk dibaca orang lain. Siswa yang menggunakan gaya bahasa eufimismus sebanyak 12 siswa atau 80,0% siswa.

(9)

Siswa menggunakan gaya bahasa pleonasme untuk menarik pembaca dan menjabarkan gagasan secara rinci. Contohnya pada kalimat Dengan percaya kulangkahkan kakiku mendekati dirinya. Kalimat tersebut dikatakan sebagai gaya bahasa pleonasme karena kata kulangkahkan kaki mengalami pemborosan kata. Kata melangkah seharusnya sudah mewakili makna tanpa disertai kaki, karena seyogyanya, melangkah sudah menggunakan kaki. Penggunaan gaya bahasa pleonasme supaya kalimat tersebut dapat menyiratkan makna yang lebih dalam.

Gaya bahasa silepsis merupakan bentuk penyimpangan yang berfungsi untuk menggabungkan dua kata untuk memperkuat suatu makna. Gaya bahasa silepsis adalah gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama (Keraf, 2010:135). Gaya bahasa silepsis digunakan oleh 3 orang atau 20,0% siswa. Gaya bahasa tersebut digunakan siswa karena siswa ingin menimbulkan efek mendalam pada kalimat tersebut. Konstruksi kalimat kedua bersifat menguatkan konstruksi yang pertama. Contohnya pada kalimat wajah marah memerah. Kalimat tersebut dikatakan gaya bahasa silepsis karena frasa marah memerah merupakan dua kata yang tidak sama tetapi hanya satu kata saja yaitu marah yang memiliki hubungan dengan kata sebelumnya. Sebenarnya kata marah sudah mewakili makna, namun dalam klimat tersebut kata marah ditambah dengan kata memerah menyebabkan makna semakin kuat yaitu marah yang sangat.

Gaya bahasa erotesis adalah gaya bahasa yang menggunakan kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban. Menurut Kusumawati (2010:26), gaya bahasa erotesis atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penelakan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Dalam cerpen karya siswa, sejumlah 6 siswa atau 40,0% siswa yang menggunakan gaya bahasa erotesis. Gaya bahasa erotesis digunakan siswa untuk menceritakan tokoh bermonolog. Kebanyakan siswa menggunakan kalimat-kalimat tersebut sebagai gumaman hati tokoh yang diceritakan. Kalimat Kenapa bel istirahat tidak segera berbunyi? Aku sudah lapar, ayolah aku mohon

dikatakan sebagai gaya bahasa erotesis karena kalimat tersebut merupakan bentuk monolog dari tokoh. Pertanyaan tersebut tidak mungkin dijawab karena tidak ada lawan bicara yang akan menjawab. Pertanyaan tersebut hanya gumaman dalam hati yang tidak memerlukan jawaban dari tokoh lain.

Gaya bahasa perifrasis adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata yang lebih banyak dari yang diperlukan (Keraf, 2010:134). Sebenarnya gaya bahasa perifrasis mirip dengan gaya bahasa pleonasme. Perbedaanya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berkelebihan tersebut sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja. Siswa yang menggunakan gaya bahasa perifrasis sebanyak 3 siswa atau 20,0% siswa. Dari data siswa terlihat bahwa siswa hanya ingin membuat gagasannya tercurah indah dan rinci sehingga menarik pembaca. Misalnya pada frasa tempat minum kopi sekaligus untuk istirahat. Frasa tersebut dikatakan sebagai gaya bahasa perifrasis karena frasa tersebut dapat digantikan dengan warung. Penjelasan yang panjang dapat diganti dengan kata warung.

(10)

pola yang berlaku (Keraf, 2010:132). Gaya bahasa elipsis merupakan gaya bahasa yang menghilangkan satu unsur atau beberapa unsur kalimat, mungkin subjek, predikat atau keterangan. Gaya bahasa elipsis menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat ditafsirkan oleh pembaca. Hanya ada dua kalimat sekaligus 2 atau 13,3% siswa yang menggunakan gaya bahasa elipsis. Dilihat dari konteks pembicaraannya, dua kalimat ini digunakan oleh siswa untuk menceritakan tokoh yang sedang bercanda atau dalam keadaan senang. Contohnya kalimat Terus kita juga udah tukeran nomor handphone, dan…. Kalimat tersebut dikatakan sebagai gaya bahasa elipsis karena kalimat tersebut berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi oleh pembaca, yaitu setelah kata dan… Pengisian unsur kalimat yang dihilangkan tersebut tidak bisa bersifat manasuka, tetapi harus mempertimbangkan acuan kalimat sebelumnya sehingga pengisian unsur kalimat tidak keluar dari konteks permasalahan.

Gaya bahasa litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Menurut Nurdin, Maryani, dan Mumu (2004:26) gaya bahasa litotes adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi atau mengecilkan kenyataan yang sebenarnya, tujuannya untuk merendahkan diri. Siswa yang menggunakan gaya bahasa litotes sejumlah 2 siswa atau 13,3% siswa. Siswa menggunakan gaya bahasa litotes untuk menyampaikan sebuah gagasan namun dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya. Misalnya saja pada kalimat Wong aku yang bodoh gini aja nyantai. Siswa mengatakan bodoh, padahal sebenarnya tokoh tersebut tidak bodoh. Pengambilan kesimpulan bahwa kalimat tersebut merendahkan diri yaitu menyatakan bodoh tetapi kenyataannya tidak bodoh, mengacu pada kalimat sebelumnya.

Gaya bahasa retoris yang tidak ditemukan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang adalah gaya bahasa apofasis atau preterisio, gaya bahasa apostrof, gaya bahasa histeron proteron, gaya bahasa zeugma, gaya bahasa koreksio atau epanortosis, dan gaya bahasa oksimoron. Gaya bahasa tersebut tidak ditemukan karena kalimat-kalimat dalam cerpen karya siswa tidak memenuhi syarat untuk tergolong dalam gaya bahasa tersebut.

Fungsi Gaya Bahasa Retoris

Keindahan bahasa dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya

Smart School (BSS) Malang agar pembaca merasa terhibur dalam menikmati karya cerpen tersebut. Keindahan bahasa tersebut dapat diaplikasikan ke dalam sebuah tulisan dengan menggunakan gaya bahasa tertentu. Gaya bahasa merupakan penggabungan dari kedua aspek bahasa dan sastra, karena sastra tidak bisa lepas dari bahasa yang membentuknya.

(11)

keterangan, sehingga gaya bahasa ini memiliki fungsi untuk memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik.

Gaya bahasa anastrof berfungsi membuat gagasan untuk lebih hidup dan menarik. Hal ini terlihat dari keterangan yang dibangun untuk diperkuat. Gaya bahasa kiasmus berfungsi untuk menonjolkan sesuatu yang diperbandingakan dalam sebuah kalimat, sehingga dalam cerita didapatkan suatu gambaran jalan cerita yang lebih menarik. Gaya bahasa elipsis memiliki fungsi menyederhanakan kalimat, sehingga dalam cerpen karya siswa penggunaan gaya bahasa ini menjadikan kalimat lebih efisien dan padat tanpa merubah makna yang ingin disampaikan. Gaya elipsis ini digunakan untuk menekankan suatu gagasan, penekanan tersebut terlihat dari perbandingan yang ada di dalam kalimat.

Gaya bahasa eufimismus memiliki fungsi memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik dengan mempertimbangankan kesantunan tulisan. Gaya bahasa litotes memiliki fungsi sebagai penyangkal sesuatu yang nyata. Penyangkalan tersebut membuat efek penggunaan gaya bahasa dalam cerpen siswa menjadi lebih sopan dengan tidak menyombongkan diri. Fungsi gaya bahasa pleonasme dan gaya bahasa perifrasis adalah untuk lebih memperjelaskan kepada pembaca dengan penggunaan kata-kata yang lebih banyak sehingga lebih detail dalam mengungkapkan gagasan yang diinginkan oleh penulis.

Gaya bahasa erotesis berfungsi untuk mempertentangkan atau meyakinkan pendapat yang sedang diragukan oleh tokoh yang sedang bermonolog atau pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Gaya bahasa silepsis berfungsi untuk menggabungkan dua kata untuk memperkuat makna kalimat. Gaya bahasa paradoks berfungsi untuk mengkonkritkan atau menekankan suatu keadaan yang sedang terjadi. Gaya bahasa hiperbola berfungsi untuk memberikan efek berlebihan atau membesar-besarkan gagasan. Sedangkan gaya bahasa prolepsis berfungsi untuk memberikan kejutan atas gagasan dengan menyampaikan kata-kata pengantar terlebih dahulu.

Penggunaan Gaya Bahasa Kiasan

Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang merupakan bentuk penyimpangan yang lebih jauh, khususnya di bidang makna. Gaya bahasa kiasan memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari gaya bahasa retoris. Hal tersebut dikarenakan yang dimainkan dalam lingkup gaya bahasa telah menyangkut aspek makna atau semantik. Menurut Aminuddin (1995:227), bahasa kias diartikan sebagai penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan perbandingan atau analogi ciri semantis yang umum dengan yang umum, yang umum dengan yang khusus ataupun yang khusus dengan yang khusus.

(12)

Gaya bahasa personifikasi atau prosopopeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Menurut Pradopo (1997:75) personifikasi adalah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir, dan sebagainya seperti manusia. Siswa yang menggunakan gaya bahasa personifikasi ada 7 atau 46,6% siswa. Gaya bahasa personifikasi siswa mengandung persamaan. Hal yang disamakan adalah benda mati seperti matahari, perut, nasib, pertanyaan, dan beberapa suasana disamakan dengan manusia. Hal-hal tersebut diberi lakuan layaknya manusia. Contohnya pada kalimat Itu adalah detik-detik di mana perut sudah mulai berdemo. Kalimat tersebut merupakan gaya bahasa personifikasi karena terdapat kata perut yang diberi tingkah seperti manusia. Perut dinyatakan dapat berdemo, padahal perut hanyalah anggota tubuh yang tidak bisa melakukan hal layaknya manusia. Dengan alasan tersebut kata berdemo bukan merupakan kata yang sebenarnya.

Gaya bahasa sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian. Nurdin, Maryani, dan Mumu (2004:24) menyatakan bahwa sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yag mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan sebagian. Gaya bahasa sinekdoke digunakan oleh 3 siswa atau 20,0% siswa. Gaya bahasa sinekdoke digunakan siswa dengan maksud untuk menyebutkan nama sebagian sebagai penganti nama keseluruhan, atau sebaliknya. Hal tersebut menimbulkan efek kalimat yang lebih simpel dan efisien karena pembaca dapat menafsirkan sendiri apa yang dimaksudkan oleh siswa melalui tulisan tersebut. Kalimat Satu kelas diam dan tegang, dikatakan sebagai gaya bahasa sinekdoke karena terdapat bahasa figuratif yang mempergunakan kata satu kelas untuk menyatakan

keseluruhan siswa dalam satu kelas. Dengan kata satu kelas sudah mewakili semua siswa yang termasuk dalam anggota kelas tersebut.

Menurut Keraf (2010:143), gaya bahasa ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian katanya. Dalam gaya bahasa ironi dipakai kata-kata yang berlawanan dengan maksud yang sebenarnya. Terdapat 26,6% siswa atau 4 siswa yang menggunakan gaya bahasa ironi. Misalnya pada kalimat Lihat kawan, mereka lulus, lulus dengan ketidakjujuran mereka. Kalimat tersebut dikatakan sebagai gaya bahasa ironi karena kalimat tersebut merupakan sindiran yang mengandung maksud tersembunyi, yaitu kecurangan untuk bisa lulus.

Gaya bahasa sinisme adalah suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Nurdin, Maryani, dan Mumu (2004:27) berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sindiran yang cara pengungkapannya lebih kasar. yang menggunakan gaya bahasa sinisme berjumlah 3 siswa atau 20,0% siswa. Kalimat Akhirnya ada juga cowok yang mau ngajak kencan sahabatku yang satu ini dikatakan sebagai gaya bahasa sinisme karena terdapat frasa akhirnya ada juga cowok yang mau yang merupakan sindiran berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.

(13)

sinisme (Keraf, 2010:143). Siswa yang menggunakan gaya bahasa sarkasme ada 5 siswa atau 33,3% siswa. Contohnya pada kalimat Otaknya udah otak kebo. Kalimat tersebut dikatakan sebagai gaya bahasa sarkasme karena terdapat kata

otak kebo yang mengandung celaan yang getir dan menyakiti hati karena otak si tokoh disamakan dengan otak kebo. Otak manusia yang seharusnya bisa digunakan untuk berfikir, disamakan dengan otak kerbau yang tidak bisa digunakan untuk berfikir. Berdasarkan data siswa, penggunaan gaya bahasa ironi, gaya bahasa sinisme, dan gaya bahasa sarkasme tujuannya adalah untuk menceritakan seorang tokoh yang meyindir, namun dengan tingkat kekasaran yang berbeda. Penggunaan ketiga gaya bahasa tersebut relatif jarang karena siswa mempertimbangkan kelayakan tulisannya untuk dibaca. Kebanyakan siswa menggunakan gaya bahasa tersebut untuk mengungkapkan makna yang cenderung negatif.

Gaya bahasa metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Nurdin, Maryani, dan Mumu (2004:23) berpendapat bahwa metonimia adalah gaya bahasa penamaan terhadap suatu benda dengan mempergunakan nama pabrik, merek dagang, nama penemu, nama jenis, dan lain-lain. Gaya bahasa metonimia digunakan oleh 6 siswa atau 40,0% siswa. Siswa menggunakan hubungan pertalian tersebut berupa merk dagang untuk menyebutkan sebuah produk, contohnya siswa menyebutkan Blackberry 10 untuk menyebutkan handphone.

Gaya bahasa simile adalah gaya bahasa yang bermaksud tamsil atau kiasan yang membandingkan dua objek yang mempunyai sifat dan nilai yang sama. Menurut Keraf (2010:138), gaya bahasa simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Siswa yang menggunakan gaya bahasa simile sebanyak 4 siswa atau 26,6% siswa. Siswa menguatkan gaya bahasa ini dengan penggunaan kata-kata yang lazim digunakan untuk menyamakan sesuatu, yaitu kata seperti, bagai, bagaikan, kayak, seolah, dan semacam. Kata yang digunakan dalam cerpen karya siswa adalah kata bagai, bak, bagaikan, dan kayak. Misalnya kalimat Namun bel istirahat tak kunjung berbunyi bagai siput yang berjalan sangat lamban dikatakan sebagai gaya bahasa simile karena kalimat tersebut menunjukkan kata yang disamakan dengan frasa terakhir. Persamaan tersebut terjadi karena hadirnya kata

bagai dalam kalimat tersebut. Kata tak kunjung disamakan dengan siput yang berjalan sangat lamban, padahal dua hal tersebut merupakan dua hal yang sangat berbeda jauh. Hal yang pertama merupakan kata kerja, dan satunya merupakan seekor hewan.

(14)

Gaya bahasa epitet menurut adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Menurut Nurdin, Maryani, dan Mumu (2004:25) gaya bahasa epitet adalah gaya bahasa berwujud seseorang atau sesuatu benda tertentu sehingga namanya dipakai untuk menyatakan sifat tersebut. Gaya bahasa epitet juga jarang ditemukan. Siswa yang menggunakan gaya bahasa epitet sebanyak 1 atau 6,7% siswa. Dalam cerpen, siswa menggunakan istilah Raja Matahari untuk menyatakan ciri matahari. Raja Matahari merupakan frasa deskriptif yang menggantikan matahari. Dengan memasukkan frasa yang terbilang baru tersebut, siswa terkesan berusaha untuk membuat pembaca cerpennya terhibur dan tidak menjenuhkan.

Gaya bahasa yang tidak ditemukan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang adalah gaya bahasa alegori, gaya bahasa parabel, gaya bahasa fabel, gaya bahasa alusi, agaya bahasa eponim, gaya bahasa hipalase, gaya bahasa satire, gaya bahasa inuendo, gaya bahasa antifrasis, dan gaya bahasa pun atau paronomasia. Gaya bahasa tersebut tidak ditemukan karena kalimat-kalimat dalam cerpen karya siswa tidak memenuhi syarat untuk tergolong dalam gaya bahasa tersebut.

Fungsi Gaya Bahasa Kiasan

Dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang juga ditemukan fungsi gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa simile memiliki fungsi sebagai efek untuk mendramatisasi, sehingga gagasan lebih hidup. Gaya bahasa metonimia berfungsi untuk menekankan atau menyanggakan suatu gagasan. Gaya bahasa personifikasi berfungsi untuk mendramatisasi sebagai efek nyata atau menghidupkan suatu benda dalam kalimat, sehingga terkesan menarik. Gaya bahasa epitet dalam cerpen karya siswa memiliki fungsi memperkuat makna yang ingin ditampilkan sehingga bisa menekankan atau menyanggahkan suatu gagasan. Gaya bahasa sinekdoke memiliki fungsi untuk memperluas arti, sehingga kesan yang ditimbulkan lebih terkesan besar. Hal tersebut berarti gaya bahasa sinekdoke digunakan untuk menekankan makna atau gagasan. Gaya bahasa antonomasia berfungsi sebagai mengaburkan atau memperjelas tokoh. Sedangkan gaya bahasa metafora berfungsi untuk membandingkan dua hal secara langsung dan dalam bentuk yang singkat, sehingga memberi efek menarik dan hidup.

Gaya bahasa ironi, gaya bahasa sinisme, dan gaya bahasa sarkasme dalam cerpen karya siswa digunakan untuk menyindir dengan tingkatan tertentu. Gaya bahasa ironi berfungsi untuk menyindir dengan menjaga perasaan lawan bicara. Gaya bahasa sinisme berfungsi untuk menyindir sehingga lawan bicara sadar akan sindiran tersebut. Gaya bahasa sarkasme berfungsi untuk menekan makna sindiran yang terkesan mempermasalahkan apa yang dibahas.

(15)

siswa karena gaya bahasa dalam karya sastra dalam konteks ini adalah cerpen bergantung pada latar belakang penulis atau siswa itu sendiri yang dapat memberi nilai terhadap watak, prbibadi, kemampuan, dan lain-lain.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan, dapat diperoleh dua simpulan sebagai berikut. Pertama, gaya bahasa retoris yang digunakan pada cerpen siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang ada enam belas, yaitu (1) gaya bahasa aliterasi, (2) gaya bahasa asonansi, (3) gaya bahasa anastrof, (4) gaya bahasa asindenton, (5) gaya bahasa polisidenton, (6) gaya bahasa kiasmus, (7) gaya bahasa elipsis, (8) gaya bahasa eufimisme, (9) gaya bahasa litotes, (10) gaya bahasa prolepsis, (11) gaya bahasa erotesis, (12) gaya bahasa pleonasme, (13) gaya bahasa hiperbola, (14) gaya bahasa perifrasis, (15) gaya bahasa silepsis, (16) dan gaya bahasa paradoks. Gaya bahasa retoris yang dominan digunakan adalah gaya bahasa eufimisme, yaitu ada 22 kalimat. Fungsi dari gaya bahasa retoris adalah memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, menggambarkan suasana secara lebih hidup dan menarik, mendukung ataupun menyanggah suatu gagasan, dan menyampaikan gagasan secara tidak langsung.

Kedua, gaya bahasa kiasan yang digunakan dalam cerpen karya siswa kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BSS) Malang ada sepuluh jenis gaya bahasa, yaitu (1) gaya bahasa metafora, (2) gaya bahasa personifikasi, (3) gaya bahasa sinekdoke, (4) gaya bahasa sinisme, (5) gaya bahasa ironi, (6) gaya bahasa sarkasme, (7) gaya bahasa metonimia, (8) gaya bahasa simile, (9) gaya bahasa antonomasia, (10) dan gaya bahasa epitet. Gaya bahasa kiasan yang dominan digunakan adalah gaya bahasa metafora, yaitu sebanyak 39 kalimat. Fungsi dari gaya bahasa kiasan adalah memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, menggambarkan suasana secara lebih hidup dan menarik, menekan ataupun menyanggah suatu gagasan, dan untuk menyampaikan gagasan secara tidak langsung.

Saran

(16)

DAFTAR RUJUKAN

Agustin, D. N. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa dalam Pidato Presiden Soeharto. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.

Keraf, G. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kementrian Pendidikan Nasional. 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran

Bahasa Indonesia SMA/MA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Kridalaksana, H. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kusumawati. 2010. Analisis Pemakaian Gaya Bahasa pada Iklan Produk

Kecantikan Perawatan Kulit Wajah di Televisi, (Online),

(http://eprints.uns.ac.id/278/1/169981511201010311.pdf), diakses 26 Mei 2014.

Nurdin, A., Maryani, Y. & Mumu. 2004. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia.

Bandung: Pustaka Setia.

Pradopo, R. D. 1997. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudjiman, P. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Tarigan, H. G. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa pada puisi karya siswa SMA di Yogyakarta, sehingga dapat diketahui gaya bahasa paling dominan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa dan diksi dalam kumpulan cerpen Kesetiaan Itu karya Hamsad Rangkuti serta relevansinya dengan

Tabel 2.2 Gaya Bahasa Kiasan dalam Kumpulan Cerpen Rectoverso Karya Dewi Lestari No Gaya Bahasa Kiasan Jumlah 1 Persamaan atau simile 20 2 Personifikasi atau Prosopopoeia 4 3

(2) Fungsi gaya bahasa yang ditemukan pada penelitian analisis gaya bahasa pada keenam cerpen di majalah Aninda ada empat fungsi yaitu : a) menyatakan suatu pertentangan dengan

Pada penelitian ini penulis memfokuskan mengenai analisis gaya bahasa dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe, yang meliputi penggunan gaya

Gaya bahasa repitisi yang ditemukan dalam kumpulan cerpen Kacapiring berjumlah 21 data. Gaya bahasa repitisi digunakan pengarang untuk menekankan gagasan yang penting. Berikut satu

Dalam penelitian ini penulis akan mengamati penggunaan gaya bahasa kiasan pada kumpulan cerpen Red Jewel Of Soul karya Sinta Yudisia yang memiliki sebelas judul yakni

Alasan penulis melakukan penelitian pada cerpen ini adalah untuk megetahui jenis-jenis gaya bahasa apa yang terdapat dalam cerpen tersebut dan gaya bahasa apa yang paling banyak