Analisis Gaya Bahasa Dalam Cerpen The Oval Portrait
Karya Edgar Allan Poe
Sri Arfani ABA BSI Jakarta
Jl. Salemba Tengah No. 45. Jakarta Pusat [email protected]
ABSTRACT
Analysis of figure of speeh. This research aims to describe the figure of speech used by EDGAR ALLAN POE in the short story THE OVAL PORTRAIT. This research used is descriptive method in form of qualitative by using structural and stylistics approach. Based on the result of the data analysis, the conclusions of this research that there are four type of figure of speech was found in short story of THE OVAL PORTRAITby EDGAR ALLAN POE. The data was shown there are six examples of phrases figure of speech namely: 1) methaphore was found in this short story only 1 phrase, 2) simily was found in this short story consist of 2 phrases,3) alliteration was foundin this short story is 2 phrases, and 4) irony was found only 1 phrase. The authors were able to create a better sense to the reader by explaining things in this short story, using stylistic way.
Keywords: analysis, figure of speech, short story.
I. PENDAHULUAN
Gaya bahasa merupakan hal yang menarik di dalam karya sastra khususnya cerpen. Pengarang yang satu dengan yang lainnya mengungkapkan perasaanya dengan bahasa yang khas dan berbeda-beda terhadap pengarang melalui gaya bahasanya. (Keraf 2010) menyatakan bahwa gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Melalui gaya bahasa memungkinkan pembaca dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang mempergunakan bahasa. Semakin baik bahasanya semakin baik pula penilaian orang terhadapnya, Sebaliknya semakin buruk gaya bahasanya semakin buruk juga penilaian orang terhadapnya.
Selanjutnya, Menurut (Nurgiyantoro 2010) sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangun)-nya. Struktur karya fiksi menyaran pada pengertian hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi,
yang secara bersama-sama membentuk satu kesatuan yang utuh.Selanjutnya hubungan antarunsur instrinsik yang satu denganyang lain saling menentukan dan membentuk satu kesatuan cerita yang utuh mulai dari peristiwa cerita (plot atau alur), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita, latar cerita, dan gaya pengarangnya (Sumardjo dan Saini, 1988).
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahawa unsur instrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Unsur intrinsik yang dimaksud adalah plot atau alur, tema cerita, suasana cerita, latar cerita dan gaya pengarangnya. Pendapat lain dikemukakan oleht Sumardjo dan (Saini 1988), gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa agar daya ungkap atau daya tarik atau sekaligus kedua-duanya bertambah.
Gaya bahasa diartikan sebagai bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan
efek dengan cara memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertetu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Menurut (Tarigan (1985) Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca. Penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.
Penggunaan gaya bahasa dalam cerpen mempunyai fungsi, yaitu sebagai pengemban nilai estetika karya itu sendiri untuk menimbulkan efek tertentu, menimbulkan tanggapan pikiran pada pembaca, dan mendukung makna suatu cerita. Alasan penulis meneliti gaya bahasa dalam penelitian ini adalah:
1. Gaya bahasa merupakan satu dianatara ciri khas pengarang untuk mengungkapkan perassaannya yang akan membedakan antara pengarang yang satu dengan pengarang yang lainya.
2. Gaya bahasa yang beragam dan bervariasi dari masing- asing pengarang merupakan cara pengarang untuk mewakili perasaannya terhadap apa yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui karanganya.
3. Gaya bahasa merupakan aspek yang sangat penting dari sebuah karya sastra termasuk cerpen, karena gaya bahasa yang mengungkapkan perasaan seseorang dan menyampaikan pesan lewat sebuah karya sastra 4. Gaya bahasa dalam cerpen
berfungsi sebagai pengemban nilai keindahan, untuk menimbulkan efek tertentu.
5. Gaya bahasa yang bervariasi dan beragam cukup sulit untuk di ajarkan kepada siswa sehingga pemahaman siswa kurang memadai untuk dipahami dan dimengerti tentang gaya bahasa tertentu, pada contoh gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen, jadi dengan adanya penelitian ini diharapkan pada
siswa untuk memahami dan mengerti ragam dari gaya bahasa degan contoh- contoh yang mudah di pahami terutama gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe.
Cerpen sebagai bentuk salah satu bentuk prosa fiksi yang sering juga disebut sebagi suatu cerita ringkas memerlukan pengungkapan yang lebih rumit. Cerpen dituntut untuk mencari moment yang menarik, kemudian diekspresikan melalui bahasa secara personal sehingga menimbulkan nilai estetik. Hanya saja didalam sebuah cerpen terdapat pemadatan ide yang selalu terarah tetapi dapat membentuk sebuah kesan.
Menurut (Sumardjo 2004), wujud fisik cerpen adalah cerita pendek. Tetapi batasan panjang pendeknya belum ada ukuran yang tetap dan pasti. Para ahli masih berdebat tentang batasan yang tepat. Ada mengartikan cerita pendek terdiri dari 500 kata sampai 5000 kata. Bahkan ada yang terdiri dari 30.000 kata. Tetapi rata-rata cerpen Indonesia terdiri dari 4 atau 5 lembar kertas folio dengan spasi rangkap. Atau paling banyak 20 lembar. Hal ini tidaklah berbeda dengan kelaziman ukuran cerpen dari Barat yang kurang lebih ukurannya relatif sama dengan cerpen Indonesia pada umumnya.
Selain ciri di atas, ciri yang kedua adalah sifat naratifnya, atau sifat ceritanya. Cerita pendek harus berbentuk naratif dan pendek, bukan berbentuk argumentasi, analisa, atau deskripsi. Yang ketiga, ciri cerpen adalah ceritanya fiksi (ciptaan atau rekaan). Fiksi bukan sesuatu khayalan belaka atau yang tidak masuk akal, akan tetapi cerpen biasanya berdasarkan pada realitas yang ada.
Edgar Allan Poe adalah seorang sastrawan barat terkemuka, yang dikenal lewat berbagai karya- karyanya, yang menggunakan kata-kata yang sederhana tetapi mengandung makna yang penuh dengan nilai estetika tinggi yang memerlukan imajinasi dan pembacaan intensif dari pembaca agar tidak salah tafsir. Setiap kata-kata yang tertuang dalam
puisinya sangat menarik untuk diteliti, sehingga peneliti mengambil objek penelitian tentang salah satu karya indah miliknya.
Seperti telah disinggung di atas, ukuran kelaziman cerpen Barat umumnya sama dengan cerpen di Indonesia. Di antaranya karya Anton Chekov, Guy de Mapaussant, dan Edgar Allan Poe. Khusus yang terakhir ini penulis ingin menganalisis salah satu karya yang tergolong masyhur yaitu The Oval Portrait di mana termasuk cerpen beraliran Gothic. Istilah gothic menurut kamus Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (Third Edition) adalah tulisan yang menceritakan sesuatu yang aneh, ganjil, suram terjadi di dalam tempat yang menyeramkan.
The Oval Portrait menceritakan tentang kisah cinta yang tragis (a tragic love story) di mana si tokoh utama yang berperan sebagai pelukis menjadi sangat berhasrat dalam menyelesaikan karyanya—melukis istrinya yang kecantikannya memikat semua orang. Sampai-sampai dia (pelukis) ini tidak menyadari bahwa waktu terus berjalan, jam demi jam telah berlalu, siang berganti malam, bahkan hari telah hari hingga seminggu telah berlalu, namun goresan di kanvas masih meliuk-liuk. Pengorbanan dan cinta tulus dari seorang istri sang pelukis, yang menjadi model untuk dilukis oleh sang suaminya, yang dengan penuh kasih sayang merelakan dirinya dijadikan objek lukisannya sambil menahan rasa lapar, haus, kantuk hingga ajal menjemputnya.
Obsesi sang pelukis yang membara dalam membuat karya lukis yang agung dan berkelas dengan nilai tinggi membuat dia hanyut dan tenggelam dalam waktu yang terus berlalu hingga dia tidak menghiraukan kondisi fisik dan psikis istrinya sebagai objek lukisannya. Suasana demikian ditunjang dengan sifat pasrah, tunduk, cinta yang begitu mendalam sang istri terhadap suaminya—dengan mata berbinar yang selalu diiringi dengan senyum mengembang terpancar memaksa menutupi kelelahan dan kepedihan diwajahnya. Kondisi inilah yang menambah alur cerita semakin tragis.
Berdasarkan beberapa hal yang telah dipaparkan di atas penulis tertarik untuk menganalisis cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe yakni pada salah satu analisis instrinsiknya yakni:
1. Gaya bahasa apa sajakah yang terdapat dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe? 2. Bagaimana makna gaya bahasa
yang terdapat dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe?
Gaya bahasa dalam karya sastra pernah diteliti oleh (Eka Winarti 2003) dengan judul skripsi “Gaya Bahasa dalam Novel Supernova 1Karya Dewi Lestari”, dalam penelitiannya menemukan gaya bahasa perbandingan yaitu, gaya bahasa metafora, gaya bahasa hiperbolisme, dan gaya bahasa antonomasia. Gaya bahasa sindiran, yaitu hanya gaya bahasa sinisme. Gaya bahasa penegasan yaitu, gaya bahasa pleonasme, gaya bahasa repetisi, gaya bahasa anti klimaks, dan gaya bahasa enumarusio. Gaya bahasa pertentangan yang terdapat pada penelitiannya yaitu gaya bahasa antithesis. Gaya bahasa yang dominan dalam novel Supernova 1 karya Dewi Lestari yaitu gaya bahasa penegasan yaitu gaya bahasa repetisi yang terdiri dari 32 buah.
(Modesta Februaria 2011) dengan judul skripsi “Analisis Gaya Bahasa dalam Novel Pabrik Karya PutuWijaya”, dalam penelitiannya menemukan penggunaan gaya bahasa perbandingan sebanyak 13 jenis gaya bahasa dari 15 jenis gaya bahasa yang ada, dan yang paling banyak digunakan adalah gaya bahasa metafora. Penggunan gaya bahasa sindiran yang terdapat dalam penelitiannya yaitu gaya bahasa ironi, sinisme, dan sarkasme, sedangkan gaya bahasa sindiran yang paling banyak digunakan adalah gaya bahasa ironi. Penggunaan gaya bahasa pertentangan sebanyak 13 jenis gaya bahasa dari 16 jenis gaya bahasa. Selanjutnya gaya bahasa penegasan yang ditemukan dalam penelitiannya hanyalah gaya bahasa antithesis.
Penelitian selanjutnya, yang dilakukan oleh ( Neti Indrayani 2008) dengan judul skripsi “Gaya Bahasa dalam Kumpulan Cerpen Gres Karya Putu Wijaya”, dan hasilnya yaitu gaya bahasa perbandingan yang terdapat dalam penelitiannya adalah gaya bahasa personifikasi, gaya bahasa simbolik, gaya bahasa metafora, gaya bahasa asosiasi, gaya bahasa metonemia, dan gaya bahasa hiperbolisme. Gaya bahasa sindiran yang terdapat dalam kumpulan cerpen yang ditelitinya yaitu gaya bahasa sinisme dan gaya bahasa sarkasme. Gaya bahasa penegasan yang ditemukan yaitu gaya bahasa klimaks, gaya bahasa repetisi, gaya bahasa retoris, gaya bahasa interupsi, dan gaya bahasa asidenton.
Berdasarkan ketiga penelitian mengenai gaya bahasa tersebut yang membedakan penelitian penulis dengan penelitian di atas adalah objek dan masalah penelitiannya. Pada penelitian ini penulis memfokuskan mengenai analisis gaya bahasa dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe, yang meliputi penggunan gaya bahasa metafora, simili, aliterasi dan ironi dan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dalam The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe,dengan menggunakan teori gaya bahasa Gorys Keraf.
II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Gaya Bahasa
Menurut(Kridalaksana 2010) Penjelasan gaya bahasa secara luas yaitu pemanfaatan atau kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. Gaya bahasa dan kosa kata memiliki timbal balik yang erat. Semakin kaya kosa kata seseorang beragam pula gaya bahasa yang dipakainya. Peningkatan penggunaan gaya bahasa memperkaya kosa kata penggunanya. Gaya bahasa memiliki unsur penting yang mewakili bentuk bahasa sastra diantaranya mencangkup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan mantra yang digunakan seorang
sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra (sudjiman).
Menurut (Keraf 1990), gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan yang kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.
Gaya bahasa sendiri dapat dilihat dari segi nonbahasa maupun dari segi bahasanya. Keraf membagi gaya bahasa dari segi nonbahasa atas tujuh pokok:
Pertama, berdasarkan pengarang; pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sejamannya, atau pengikut-pengikutnya, sehingga dapat membentuk sebuah aliran. Misalnya, ada aliran atau gaya Chairil, gaya Takdir dan sebagainya.
Kedua, berdasarkan masa; gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Ada gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern, dan sebagainya.
Ketiga, berdasarkan medium, tiap bahasa karena struktur dan situasi sosial pemakainya, dapat memiliki corak tersendiri. Sebuah karya yang ditulis dalam bahasa Inggris akan memiliki gaya yang berlainan bila ditulis dalam bahasa Indonesia dan seterusnya.
Keempat, berdasarkan subyek; subyek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Seperti, ada karangan bergaya filsafati, gaya ilmiah (hukum, teknik dsb), popular dan sebagainya.
Kelima, berdasarkan tempat; gaya ini mendapat namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasanya. Ada
gaya Jakarta, gaya Medan, gaya Jogya dan seterusnya.
Keenam, berdasarkan hadirin, hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Ada gaya intim (familiar) yang cocok untuk lingkungan keluarga atau untuk orang yang akrab.
Yang terakhir (tujuh), bersadarkan tujuan; gaya ini memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang, di mana pengarang ingin mencurahkan gejolak emotifnya. Misalnya, ada gaya sentimental, gaya sarkastik, gaya humor dan lain-lain.
Analisa atas sebuah karangan dapat dilihat dari ketujuh macam jenis gaya tersebut di atas.
Adapun jika dilihat dari segi bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, yaitu: pertama, gaya bahasa berdasarkan pilihan kata. Kedua, gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana. Ketiga, gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, dan yang kelima, berdasarkan langsung tidaknya makna.
Ditinjau dari segi bahasa, maka gaya bahasa dapat dihubungkan dengan gaya bahasa kiasan, yang di dalamnya ada jenis metafora, simile, aliterasi (lebih ke gaya bahasa retoris), ironi, alegori, personifikasi, metonimia, eponim dan masih banyak lagi.
Dari banyaknya jenis gaya bahasa kiasan, penulis hanya menganalisis empat yang pertama (metafora, simile, aliterasi, dan ironi). Hal ini dilakukan guna menyesuaikan dengan cerpen sebagai data utamanya. Adapun keempat gaya bahasa kiasan tersebut akan dibahas secara terperinci.
1. Metafora
Menurut Knowles dan Moon (2006:2), ketika kita membicarakan metafora, berarti kita menggunakan bahasa untuk mengacu kepada sesuatu (benda) di mana kita tidak memaknai sesuatu (benda) tersebut secara
makna asal atau makna literalnya, dengan tujuan memberi kesan kesamaan, kemiripan ataupun untuk membuat hubungan atau pertalian antar kedua benda tersebut. Dengan kata lain perbedaan antara makna literal atau harfiah dan makna metaforis dapat dilihat dari acuannya. Jika makna literal mengacu pada entitas konkret, yaitu sesuatu yang memiliki eksistensi fisik sedangkan makna non-literal mengacu kepada sesuatu yang abstrak
Kemudian Knowles dan Moon berpendapat bahwa metafora memiliki peran penting dalam hubungannya dengan bahasa. Pertama, metafora merupakan proses dasar yang terjadi dalam pembentukan kata atau kata-kata dan makna dari kata atau kata-kata tersebut. Dalam beberapa hal, konsep dan makna dari suatu bentuk bahasa dileksikalisasikan menggunakan metafora dan kemudian menjadi konsep baru. Kedua, berkenaan dengan wacana, metafora penting digunakan karena ia memiliki fungsi menjelaskan (explaining), mengklarifikasi (clarifying), menggambarkan (describing), mengekspresikan(expressing), mengevaluasi (evaluating), dan menghibur (entertaining).
Definisi senada diungkapkan Keraf metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai dan semacamnya (Inggris: like atau as), sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Hal inilah yang membedakan antara metafora dengan simile di mana simile condong menggunakan kata-kata tersebut (seperti, bagai dll).
2. Simile
Abrams mendefinisikan simile sebagai suatu perbandingan antara dua hal yang sama sekali berbeda yang dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan kata-kata seperti “like” atau as.”
Hal yang tidak jauh berbeda datang dari Keraf yang mengartikan simile atau persamaan sebagai perbandingan yang bersifat eksplisit, maksudnya ia (simile)
langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.
Lebih jauh, (Keraf 1990) membedakan persamaan atas persamaan tertutup dan persamaan terbuka. Persamaan tertutup adalah persamaan yang mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu, sedangkan persamaan terbuka adalah persamaan yang tidak mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu; pembaca atau pendengar diharapkan akan mengisi sendiri sifat persamaannya.
Selanjutnya, Menurut (Aminuddin 1995), bahasa kias diartikan sebagai penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan perbandingan atau analogi ciri semantis yang umum dengan yang umum, yang umum dengan yang khusus ataupun yang khusus dengan yang khusus. Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang merupakan bentuk penyimpangan yang lebih jauh, khususnya di bidang makna. Gaya bahasa kiasan memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari gaya bahasa retoris. Hal tersebut dikarenakan yang dimainkan dalam lingkup gaya bahasa telah menyangkut aspek makna atau semantik.
Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat disarikan bahwa gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa gaya bahasa metafora merupakan perbandingan atau analogi dengan membandingkan dua hal ecara langsung, tetapi dengan cara singkat dan padat
3. Aliterasi
Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (edisi ketiga) mendifinisikan aliterasi (Inggris: alliteration) sebagai penggunaan yang sama dalam bunyi atau bunyi-bunyi, khususnya dalam bunyi konsonan, pada beberapa permulaan kata-kata yang secara posisi saling berdekata-katan satu sama lain.
(Keraf 1990) menyebut aliterasi sebagai gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang
dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan.
Sementara menurut Abrams (199:97) aliterasi adalah pengulangan bunyi yang letaknya dekat dan berurutan. Aliterasi biasanya hanya akrab dengan bunyi konsonantik.
Selanjutnya, menurut Daud aliterasi adalah gaya bahasa yang memanfaatkan kata-kata yang permulaannya sama bunyinya. Aliterasi merupakan pengulangan bunyi konsonan awal yang sama atau bunyi vokal yang berturut-turut atau pengulangan perkataan atau suku kata yang berhampiran. 4. Ironi
Menurut (Keraf 1990), kata ironi diturunkan dari kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Entah dengan sengaja atau tidak, rangkaian kata-kata yang dipergunakan itu mengingkari maksud yang sebenarnya.
Gaya bahasa ironi, gaya bahasa sinisme, dan gaya bahasa sarkasme dalam cerpen digunakan untuk menyindir dengan tingkatan tertentu. Gaya bahasa ironi berfungsi untuk menyindir dengan menjaga perasaan lawan bicara. Gaya bahasa sinisme berfungsi untuk menyindir sehingga lawan bicara sadar akan sindiran tersebut. Gaya bahasa sarkasme berfungsi untuk menekan makna sindiran yang terkesan mempermasalahkan apa yang dibahas
III. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode yang memberikan perhatian terhadap data alamiah, data dalam hubungannya dengan konteks keberadaannya Ratna, Alasan penulis menggunakan metode deskriptif karena dalam penelitian ini analisis data tidak menggunakan perhitungan angka-angka tetapi dilukiskan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat. Alasan di atas sesuai dengan pendapat
(Semi 1993) bahwa penelitian bersifat deskriptif berarti terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar, bukan dalam bentuk angka-angka.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan struktural dan pendekatan stilistika karya sastra. Alasan penulis menggunakan kedua pendekatan tersebut karena gaya bahasa merupakan satu di antara unsur instrinsik yang terdapat di dalam karya sastra. Pendekatan struktural merupakan pendekatan yang beranjak dari asumsi-asumsi dasar bahwa sastra sebagai karya yang kreatif memiliki otonomi penuh yang harus dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan terlepas dari hal yang berada diluar dirinya. Karya sastra dipandang sebagai suatu kebetulan makna antara bentuk dan isi. Dengan kata lain pendekatan ini memandang dan menelaah sebuah karya sastra dari segi intrinsik yang merupakan penggabungan dari karya sastra itu sendiri.Pendekatan stilistika sastra adalah pendekatan yang yang hendakmengungkapkan aspek-aspek estetik pembentuk kepuitisan karya sastra. Pendekatan ini memandang penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karyasastra, gaya yang disengaja atau timbul serta merta ketika pengarang mengungkapkan idenya dalam sebuah karya sastra (Endraswara, 2008).
Penelitian ini menggunakan sumber data utama dari cerita pendek The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe. Cerpen tersebut terangkum dengan cerpen-cerpen yang lain dalam buku yang berjudul The Complete Tales and Poems of (Edgar Allan Poe 1938). Metode kualitatif deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini menggambarkan kata dan kalimat dalam cerpen. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis gaya bahasa dan maknanya dalam cerpen. Dengan menganalisis gaya bahasa dan makna penelitian ini memfokuskan hanya pada cerpen yang terdapat dalam The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe. Objek penelitian ini adalah gaya bahasa dan pemaknaannya yang digunakan dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan
Poe. Subjek penelitian ini adalah cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, simak dan catat. Alasan penulis menggunakan teknik tersebut karena data dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen berupa kumpulan cerpen yang berjudul Keraf membedakan persamaan atas persamaan tertutup dan persamaan terbuka. Persamaan tertutup adalah persamaan yang mengandung yang telah penulis tentukan. Simak dan catat merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan peristiwa yang secara seksama dan mendalam.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data, penulis hanya menemukan enam contoh dari gaya bahasa. Memang, dalam cerpen ini Poe tidak banyak menggunakan bahasa bermajas, mengingat cerpen ini dikategorikan sebagai cerpen yang pendek (short-short story) jadi tidak banyak kosa-kata yang dapat dieksplorasi oleh si pengarang.
Dari enam Frasa yang mengindikasi sebagai gaya bahasa yang penulis dapatkan, dapat diklasifikasikan: terdapat dua contoh gaya bahasa aliterasi, satu contoh gaya bahasa metafora, dua contoh gaya bahasa simile, dan satu gaya bahasa ironi.
Adapun contoh penemuan gaya bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Metafora
Gaya bahasa metafora adalah gaya bahasa gaya bahasa metafora merupakan perbandingan atau analogi dengan membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dengan cara singkat dan padat. Gaya bahasa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat (Keraf, 2010). Data yang ditemukan dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe adalah :
…to light the tongues of a tall candelabrum which stood by the head of my bed…
Frasa yang bergaris bawah secara literal bermakna lidah-lidah dari kandelabra (tempat untuk menaruh lilin atau lampu) yang tinggi. Frasa tersebut dapat dikategorikan sebagai metafora karena kata candle (lilin) dapat diperbandingkan dengan kata tongues. Kata tongues di sini mengarah pada kata candle atau lilin itu sendiri. Jadi frasa tersebut kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara terjemahan komunikatif berbunyi “…untuk menyalakan lilin-lilin di kandelabra yang tinggi di dekat kepala tempat tidurku…”
2. Simile
Gaya bahasa simile adalah gaya bahasa yang bermaksud atau kiasan yang membandingkan dua objek yang mempunyai sifat dan nilai yang sama. Menurut (Keraf 2010), gaya bahasa simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Keraf membedakan persamaan atas persamaan tertutup dan persamaan terbuka. Persamaan tertutup adalah persamaan yang mengandung permulaannya sama bunyi. Data yang mengandung simili dalam cerpen The
Oval Portrait karya Edgar Allan Poe adalah :
…all light and smiles, and frolicsome as the young fawn; loving and cherishing all things…
Frasa yang bergaris bawah jelas merupakan jenis gaya bahasa simile karena dalam bahasa Inggris, simile identik dengan kata-kata seperti “like” atau “as”, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata-kata tersebut dapat diterjemahkan dengan kata seperti, bagai, bak dan sebagainya. Frasa di atas ingin membandingkan the young lady (wanita muda) dengan a fawn (anak rusa). Jika frasa yang bergaris bawah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka berbunyi ….lincah bagai rusa muda…
…the spirit of the lady again flickered up as the flame within the socket of the lamp…
Dalam hal ini, Frasa the spirit of the lady dapat dibandingkan dengan frasa a flame within the socket of the lamp, karena dalam kalimat di atas ada kata as (seperti,
bak dll) sebagai cirri dari simile. Maka kalimat tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan …semangat sang wanita mulai memudar (berkelip) bagai api dalam relung lampu…
3. Aliterasi
Keraf menyebut aliterasi sebagai gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan. Data aliterasi dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe adalah :
…commingled gloom and grandeur… …manifold and multiform armorial trophies…
Kedua frasa di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa aliterasi. Untuk frasa yang pertama, bunyi konsonantik [g] di ulang-ulang di mana jarak antara posisi [g] yang satu dengan yang lainnya berdekatan. Hal serupa terjadi pada frasa yang kedua, di mana bunyi [m] diulang-ulang dengan posisi yang saling berdekatan pula.
4. Ironi
Gaya bahasa ironi yaitu gaya bahasa sinisme, dan gaya bahasa sarkasme dalam cerpen digunakan untuk menyindir dengan tingkatan tertentu. Gaya bahasa ironi berfungsi untuk menyindir dengan menjaga perasaan lawan bicara. Gaya bahasa sinisme berfungsi untuk menyindir sehingga lawan bicara sadar akan sindiran tersebut. Gaya bahasa sarkasme berfungsi untuk menekan makna sindiran yang terkesan mempermasalahkan apa yang dibahas. ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya ( keraf).
Data bahasa kiasan ironi dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe adalah :
“…in sooth some who beheld the portrait spoke of its resemblance in low words, as of a mighty marvel, and a proof not less of the power of the painter than of his deep love
for her whom he depicted so surpassingly well”.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “…kenyataannya sebagian dari mereka yang melihat lukisan itu membicarakan dengan lirih bahwa lukisan tersebut mirip (dengan sang wanita), sungguh keajaiban, dan tentu ini sebagai bukti atas kemahiran sang pelukis sekaligus cintanya yang teramat dalam kepada kekasihnya yang ia lukis dengan sempurna”.
Kalimat tersebut dinyatakan penulis sebagai ironi karena, di satu sisi banyak tamu yang memuji atas kemiripan lukisan dengan orang yang dilukis karena keahlian sang pelukis yang memang mempunyai talenta yang luar biasa serta lukisan tersebut sebagai bukti cinta kasihnya terhadap sang wanita, di sisi lain, semua itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu, kematian sang kekasih itu sendiri.
V. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe setidak-tidaknya terdapat beragam gaya bahasa di dalamnya. Adapun berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh penulis, terdapat empat jenis gaya bahasa yang ditemukan dalam cerpen The Oval Portrait karya Edgar Allan Poe. dengan enam frase majas dari semua gaya bahasa tersebut yaitu:
a. Gaya bahasa metafora yang terdapat dalam cerpen ini hanya satu frase saja;
b. Gaya bahasa simile yang terdapat dalam cerpen ini terdiri atas dua frase;
c. Gaya bahasa aliterasi yang terdapat dalam cerpen ini terdiri atasa dua frase juga;
d. Gaya bahasa ironi yang terdapat dalam cerpen ini hanya satu frase.
2. Saran
Berdasarkan Kesimpulan di atas, dapat disarankan beberapa hal, yakni sebagai berikut:
Hasil penelitian ini disarankan agar dijadikan sebagai dasar bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti gaya bahasa dalam cerpen khususnya cerpen dari barat. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian pada aspek lain yang terkait dengan gaya bahasa. Masyarakat atau pembaca umum, disarankan untuk lebih mencintai karya sastra, terutama prosa. Cerpenis ,disarankan untuk memperhatikan pengguna gaya bahasa, sehingga menimbulkan efek keindahan dan dramatisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. (1999). A Glossary of Literary Terms (Seventh Edition) Boston, Massachusetts: Thomson Learning, Inc.
Allan, Hervey. (1938). The Complete Tales and Poems of Edgar Allan Poe. New York: The Modern Library, Random House, Inc.
Aminuddin. (1995). Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.. Semarang: IKIP Semarang Press
Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (Third Edition). Harun daud.
Bahasa Dalam Mantera;
penggunaan dan pengucapanya: http://www.dbp.gov/mydbp98/majalah/ bahasa/99.htm+jenis majas
Endraswara, Suwardi. (2008). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta. MedPres.
Keraf, Gorys. (1990). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia
Keraf, G. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Knowles, Murray dan Rosamund Moon.
2003. Introducing Metaphor. London/New York: Routledge. Nurgiyantoro, B. (2000). Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
Mackey, Alison, Susan, M. Gass. (2005). Second Language Research:
Methodology and Design. London: Lawrence Erlbaum Associates. Puspa Ruriana dan Iqbal Nurul Azhar.
VARIASI MAKNA DALAM SURAT KABAR arrtikel ini dimuat di Jurnal Ilmiah Kebahasaan ” Medan Bahasa” Volume 5, Nomor 1, Juli 2010. Halaman 55-67 yang diterbitkan oleh: Kementrian Pendidikan Nasional Sekretariat Jendral Pusat Bahasa. ISSN 1907-1787. 2010
Ratna, Nyoman Kutha. (2007). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumardjo dan Saini. (1988). Apresiasi Prosa Fiksi. Jakarta: Gramedia.
Semi, Atar. (1993). Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Sumardjo, Jacob. (2004). Menulis Cerita Pendek. Bandung: Pustaka
Surya Ningtyas Ariyani. Bahasa Figuratife Pada Kumpuan Puisi Mata Pisau Karya Sapardi Djoko Damono dan Pemakaianya: Kajian Stilistika Dan implementasinya Sebagai Bahan ajar Bahasa dan Sastra di SMA. Skripsi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia dan daerah Fakultas keguruan dan imu pendidikan Universitas Muhammadyah Surakarta. Tarigan, H.G. (1985). Pengajaran Gaya
Bahasa. Bandung Angkasa. H.5