• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA SPEKTRO FOTOMET (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA SPEKTRO FOTOMET (1)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA SPEKTROFOTOMETRI

“SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (AAS)”

EEL VINASARI 1205700 / 2012 KELOMPOK 3 PENDIDIKAN KIMIA RM

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

(2)

SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (AAS)

A.Tujuan Percobaan

1. Mengetahui bagian-bagain dari spektrofotometri AAS

2. Untuk menentukan konsentrasi Pb dalam sampel

B.Waktu dan Tempat

hari/ tanggal : Jumat / 19 Desember 2014

jam : 08.00-11.30 WIB

tempat : Laboratorium Instrumen

C.Teori Dasar

Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil, elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi. Dalam AAS, atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas, energi elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas (Basset, 1994).

Spektrofotometri molekuler pita absopsi inframerah dan UV-tampak yang di pertimbangkan melibatkan molekul poliatom, tetapi atom individu juga menyerap radiasi yang menimbulkan keadaan energi elektronik tereksitasi. Spectra absorpsi lebih sederhana dibandingakan dengan spectra molekulnya karena keadaan energi elektronik tidak mempunyai sub tingkat vibrasi rotasi. Jadi spectra absopsi atom terdiri dari garis-garis yang jauh lebih tajam daripada pita-pita yang diamati dalam spektrokopi molekul (Underwood, 2001).

(3)

canggih dalam analisis.ini disebabkan karena sebelum pengukuran tidak selalu memerluka pemisahan unsur yang ditetukan karena kemungkinan penentuan satu logam unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan, asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61 logam. Sember cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang telah terakomisasi, kemudian radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari nyala api. Detektor akan menolak arah searah arus ( DC ) dari emisi nyala dan hanya mnegukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel. Atom dari suatu unsur padakeadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tingi atau tereksitasi. Atom-atom dari sampel akan menyerpa sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Penyerapan energi cahaya terjadi pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom tersebut (Basset, 1994).

Hubungan kuantitatif antara intensitas radiasi yang diserap dan konsentrasi unsur yang ada dalam larutan cuplikan menjadi dasar pemakaian SSA untuk analisis unsur-unsur logam. Untuk membentuk uap atom netral dalam keadaan/tingkat energi dasar yang siap menyerap radiasi dibutuhkan sejumlah energi. Energi ini biasanya berasal dari nyala hasil pembakaran campuran gas asetilen-udara atau asetilen-N2O, tergantung suhu yang dibutuhkan untuk

b = panjang jejak sinar dalam medium berisi atom penyerap, L c = konsentrasi, M/L3

(4)

Pada persamaan diatas ditunjukkan bahwa besarnya absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi atom-atom pada tingkat tenaga dasar dalam medium nyala. Banyaknya konsentrasi atom-atom dalam nyala tersebut sebanding dengan konsentrasi unsur dalam larutan cuplikan. Dengan demikian, dari pemplotan serapan dan konsentrasi unsur dalam larutan standar diperoleh kurva kalibrasi. Dengan menempatkan absorbansi dari suatu cuplikan pada kurva standar akan diperoleh konsentrasi dalam larutan cuplikan. Bagian-bagian AAS adalah sebgai berikut (Day, 1986).

a.Lampu katoda

Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji, seperti lampu katoda Cu, hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu : Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur.

Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam sekaligus.

b.Tabung gas

Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20000 K, dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen, dengan kisaran suhu ± 30000 K. Regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan, dan gas yang berada di dalam tabung. Spedometer pada bagian kanan regulator merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung. Gas ini merupakan bahan bakar dalam Spektrofotometri Serapan Atom

c.Burner

Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan aquabides, agar tercampur merata, dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lobang yang berada pada burner, merupakan lobang pemantik api.

d.Monokromator

(5)

e.Detektor

Detektor merupakan alat yang mengubah energi cahaya menjadi energi listrik, yang memberikan suatu isyarat listrik berhubungan dengan daya radiasi yang diserap oleh permukaan yang peka. Fungsi detektor adalah mengubah energi sinar menjadi energi listrik, dimana energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk mendapatkan data. Detektor AAS tergantung pada jenis monokromatornya, jika monokromatornya sederhana yang biasa dipakai untuk analisa alkali, detektor yang digunakan adalah barier layer cell. Tetapi pada umumnya yang digunakan adalah detektor photomultiplier tube. Photomultiplier tube terdiri dari katoda yang dilapisi senyawa yang bersifat peka cahaya dan suatu anoda yang mampu mengumpulkan elektron. Ketika foton menumbuk katoda maka elektron akan dipancarkan, dan bergerak menuju anoda. Antara katoda dan anoda terdapat dinoda-dinoda yang mampu menggandakan elektron. Sehingga intensitas elektron yang sampai menuju anoda besar dan akhirnya dapat dibaca sebagai sinyal listrik. Untuk menambah kinerja alat maka digunakan suatu mikroprosesor, baik pada instrumen utama maupun pada alat bantu lain seperti

Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada spektrofotometry serapan atom (AAS), diolah sedemikian rupa di dalam ducting, agar asap yang dihasilkan tidak berbahaya.

Keunggulan dan Kelemahan SSA

1. Beberapa keunggulan SSA

a.Sensitivitas (kepekaan) : cara ini sangat pekat, banyak unsur dapat ditentukan pada kadar ppm, bahkan beberapa unsur dengan teknik tertentu dapat ditentukan dalam orde ppb.

b.Selektifitas : cara ini sangat selektif, sehingga dapat menentukan beberapa unsur sekaligus dalam suatu larutan cuplikan tanpa perlu pemisahan.

(6)

karena sederhananya isyarat dan telitinya hasil pengukuran yang menjadi dasar pembuatan kurva kalibrasi.

2. Beberapa kelemahan SSA

a.Beberapa unsur tidak mudah menghasilkan uap atom dalam keadaan dasar ketika mencapai nyala, seperti terdisosiasinya senyawa stabil sehingga menghalangi deteksi dan penetapan, misalnya Al, Mo, Si dan Ti

b.Beberapa nyala lebih tepat untuk unsur-unsur tertentu, maka bertambahnya contoh yang akan ditentukan memerlukan tidak hanya satu penukaran sumber cahaya dan setting, tetapi juga penukaran nyala, pembakaran dan sumber gas.

Menurut Umar Ubbe (2003), hubungan antara absorbansi A dengan konsentrasi zat pengabsorbsi adalah linear. Ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan supaya hukum Beer dapat dipakai, yaitu syarat konsentrasi, syarat kimia, syarat cahaya, dan syarat kejernihan.

1. Syarat Konsentrasi

Beer baik untuk larutan encer. Pada konsentrasi tinggi (biasanya 0,01 M), jarak rata-rata di antara zat-zat pengabsorbsi menjadi kecil sehingga masing-masing zat mempengaruhi distribusi muatan tetangganya. Interaksi ini dapat mengubah kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang yang diberikan. Oleh karena interaksi ini bergantung pada konsentrasi, maka peristiwa ini menyebabkan penyimpangan dan kelinieran hubungan diantara absorbansi dan konsentrasi. Pengaruh serupa kadang-kadang terjadi di dalam larutan yang mengandung konsentrasi zat pengabsorbsi yang rendah tapi konsentrasi zat non pengabsorbsi yang tinggi, terutama elektrolit. Interaksi elektrostatis ion-ion yang berdekatan dengan zat pengabsorbsi akan mempengaruhi harga molar absortivitas ; pengaruh ini dapat dihindari dengan cara pengenceran.

Pengaruh interaksi molekul-molekul tak berarti padaa konsentrasi di bawah 0,01 M kecuali untuk ion-ion organik tertentu yang molekulnya besar. Contohnya absortivitas molar pada 436nm untuk kation metilen blue dilaporkan bertambah 88% bila konsentrasi zat warna tersebut naik dari 10– 5 menjadi 10 -2 ; walaupun ditambah 10– 6, penyimpangan dari hukum Beer masih terjadi.

2. Syarat Kimia

(7)

3. Syarat Cahaya

Hukum Beer hanya berlaku untuk cahaya yang betul-betul monokhromatik (cahaya yang mempunyai satu macam panjang gelombang). Bila cahaya mempunyai dua macam panjang gelombang λ ‘ dan λ ‘’.

4. Syarat Kejernihan Syarat Kejernihan

Kekeruhan larutan yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid misalnya menyebabkan penyimpangan hukum Beer. Sebagian cahaya akan dihamburkan oleh partikel-partikel koloid akibatnya kekuatan cahaya yang diabsorbsi berkurang dari seharusnya

Spektro emisi dan serapan atom dikarekterisasi dengan gelombang berupa garis yang sepit dibanding dengan gelombang yang lebar pada spektofotoetri olekular. Absorpsi ato adalah proses yang mana atom-atom pada tingkat energy rendah menyerap radiasi dan menjadi tereksitasi. Penyerapan energy terjadi oleh adanya nteraksi antara elektron dalam suatu atom dengan radiasi elektromagnetik. Pada penyerapan radiasi oleh electron menyebabkan terjadinya suatu transisi dari suatu tingkat ke tingkat lainnya, seperti dari orbital 2s ke orbital 2p, dan sebagainya. Atom yang berada pada tingkat tereksitasi (energy tinggi) kemudian kembali ke tingkat dasar atau ground state (energy rendah) dengan emancarkan energy dengan foton-fotonnya yang sama besarnya dengan yang diserap ketika tereksitasi. Atom-atom hanya dapat menyerap dan mengemisi energy sebagai foton-foton cahaya jika energy foton (hv) tepat sama dengan selisih energy entara dua tingkat energy yang terlibat dalam transisi.

Secara umum komponen alat-alat spektroskopi serapan atom sama seperti spektroskopi UV-Vis . keduanya mempunyai suatu sumber cahaya, tempat contoh, monokromator, detector dan keduanya digunakan untuk mengukur serapan sebagai suatu fungsi dari konsentrasi standard an digunakan hukum beer untuk menentukan konsentrsi contoh yang tidak diketahui. Eskipun demikian pada alat spektroskometer serapan atom mempunyai sumber cahaya dan tempat contoh y6ang sangat berbeda dengan yang digunakan pada spektrometri molecular.

1.Sumber cahaya

(8)

a.Monokromator harus mempunyai celah yang sangat sempit 0,01 nm, agar

gelombang yang dilewatkan cukup kecil 0,03 nm.

b.Energi yang ditransmisi dari suatu sumber kontinyu memberikan , panjang glombang yang dilewatkan sangat kecil, sehingga diperlukan detektor yang sangat peka (sensitif) daripada system fotomultiplier yang konvesional

2. Lampu katoda berongga

Katoda atom dan anoda wolfram ditutup dengan gelas yang berisi gas inert (Ne atau Ar) dengan tekanan 1-5 torr. Potensial yang digunakan sekitar 500 V, arus sekitar 2-10 mA dan gas pengisi terionisasi pada anoda. Ion yang dihasilkan bergerak cepat enuju katoda dan mengeluarkan atom-atom logam yang membentuk awam atom-atom. Proses ini disebut SPUTTERING.

3. Nyala

Fungsi nyala adalah menghasilkan atom-atom zat yang dianalisa pada berkas sinar yang mana dapat Menyerap radiasi oleh lampuy katoda berongga.

4. Jenis-jenis nyala

Nyala yang ideal adalah nyala yang sudah cukup untuk menyebabkan atoisasi dari zat yang dianalisis tapi belum cukup panas untuk menyebabkanionisasi, dengan demikian untuk zat yang dianalisis berbeda diperlukan nyala ideal yang berbeda pula . ada tiga macam nyala yang umum digunakan yaitu,

a. Udara –propane

Nyala ini relative dingin sekitar (1800 oC) yang hanya memberikan sensitifitas yang baik untuk unsur-unsur yangmudah diionisasi sepertio Na dan K

b. Udara-asetilen

Nyala ini paling umum digunakan pada SSA karena memberikan temperatur yang lebih tinggi sekitar (2300 oC) yang cukup untuk mengatomisasi banyak unsure Meskipun untuk unsur-unsur yang membentuk oksida stabil seperti Ca, Mo dapat dianalisis dengan memvariasikan perbandingan oksidan terhadap bahan bakar.

c. Nitrous oksida- asetilen

(9)

Gangguandalam AAS

Gangguan didefinisikan sebagai suatu pengaruh dari komponen matriks pada hasil analisis.Gangguan menyebabkan perbedaan kelakuan pada sampel dan larutan kalibrasi. Gangguan dapat dibagi menjadi dua golongan: gangguan spektra dan gangguan nonspektra.

1. Gangguan Spektra (Spectral Interference), menyebabkan kenaikan absorpsi : a. Spektra Latar Belakang (Background Spectral) Disebabkan oleh penghamburan partikel dalam atomisasi atau absorpsi molekuler, antara lain disebabkan oleh sulitnya pemecahan oksida, hidroksida atau halida. Dapat ditanggulangi menggunakan lampu D2. b. Adanya λ dari unsur lain yang sangat dekat dengan analit seperti berikut:

 Cd λ 288,802 nm diganggu As λ 288,812 nm

 Mg λ 285,213 nm diganggu Fe λ 285,179 nm

 Zn λ 213,856 nm diganggu Fe λ 213, 859 nm dan Cu λ 213,850 nm

Gangguan tersebut sulit dihilangkan, cara mengatasinya adalah dengan melakukan pengukuran pada λ lainnya, walaupun biasanya akan memberikan hasil yang kurang sensitif.

2. Gangguan Nonspektra (Nonspectral interference) menyebabkan kenaikan atau penurunan absorpsi.

a. gangguan transportasi

(10)

b. Gangguan ionisasi

Adanya atom dari unsur yang mudah terionisasi pada suhu flame, akan menyebabkan gangguan kesetimbangan pembentukan ion dan atom dari unsur yang sedang ditetapkan, terlebih bila kepekatan unsur pengganggu cukup besar, misalnya Na. M M+ + e (contoh) Na Na+ + e (pengganggu) Elektron dari Na akan menggeser kesetimbangan pertama ke kiri. Dengan demikian jumlah atom yang terbentuk seolah lebih besar sehingga menyebabkan absorpsi cahaya akan naik dan terjadi kesalahan positif. Untuk menanggulanginya, digunakan larutan buffer radiasi misalnya larutan CsCl dan SrCl2.

c. Gangguan Emisi

Atom bebas dapat tereksitasi bila menyerap sejumlah energi baik energi cahaya maupun energi panas (flamefotometri), sehingga pada saat kembali ke keadaan dasar, akan melepaskan cahaya emisi. Karena λ cahaya emisi sama dengan λ cahaya yang ditransmisikan (dari HCL), gangguan jenis ini tidak dapat dihilangkan oleh monokromator. Untuk menanggulangi gangguan ini digunakan modulator. Ada 2 jenis sistem modulasi: a. Modulasi elektronik Oleh modulator sinar dari HCL dibuat berkedip pada frekuensi tertentu, sehingga saat diterima detektor akan dihasilkan arus yang gambarnya seperti pada gambar 23a, yang identik dengan kurva arus bolak-balik. Sedangkan sinar emisi yang berasal dari flame, merupakan sinar kontinu sehingga bila diterima detektor akan dihasilkan kuat arus yang tetap seperti pada gambar 23b, yang identik dengan kurva arus searah. Dengan penyaringan menggunakan suatu alat, yang masuk ke dalam sistem pembacaan hanya berupa arus bolak balik (It), sedangkan arus searah (cahaya emisi) dihilangkan. Modulasi elektronik digunakan dalam SSA single beam (lihat gambar 10a). b. Modulasi mekanik Sistem modulasi mekanik terdapat pada SSA Double Beam (Gambar 10b). Oleh chopper, cahaya yang masuk ke dalam flame akan dibuat gelap terang (tertahan baling-baling). Dengan demikian cahaya transmisi (It) pun menjadi gelap terang. Saat diterima oleh detektor akan dihasilkan kurva arus bolak-balik. Sedangkan yang berasal dari cahaya emisi dihasilkan kurva arus searah. Yang diteruskan hanya itu.

Timbal adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan

(11)

berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi. Keberadaan timbal bisa juga berasal

dari hasil aktivitas manusia, yang mana jumlahnya 300 kali lebih banyak dibandingkan Pb

alami yang terdapat pada kerak bumi. Pb terkonsentrasi dalam deposit bijih logam. Unsur Pb

digunakan dalam bidang industri modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan

korosi, bahan pembuat cat, baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraetil. Timbal (Pb)

adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun)

terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan,

minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb .

Keracunan akibat kontaminasi Pb bisa menimbulkan berbagai macam hal diantaranya:

1. Menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin (Hb)

2. Meningkatnya kadar asam δ-aminolevulinat dehidratase (ALAD) dan kadar

protoporphin dalam sel darah merah

3. Memperpendek umur sel darah merah

4. Menurunkan jumlah sel darah merah dan retikulosit, serta meningkatkan kandungan

logam Fe dalam plasma darah.

(12)

(13)

L ampu katoda

D.Alat dan Bahan

- Pipet tetes - Corong kaca - Botol semprot - Labu erlenmeyer - Kuvet

(14)

- Gelas ukur - Pipet ukur - Pipet gondok - aquades

- sampel Pb(NO3)2

- Spektrofotmetri serapan atom

E.Prosedur Kerja

1. pembuatan larutan induk 1000 ppm

 Ambil Kristal 1 gram logam Pb dalam 50 ml asam nitrat 2M

 Larutkan dalam gelas kimia

 Masukkan dalam labu ukur 100 ml

 Paskan volume dengan auades sampai tanda batas

 Homogenkan

2. Pembuatan larutan Pb 100 ppm

 Ambil 10 ml larutan induk

 Masukkan kedalam labu takar 100 ml

 Paskan voume sampai tanda batas

 Homogenkan

3. Pembuatan larutan Pb 5,10,15,10,25 ppm

 Ambil 0,5 ml larutan Pb 100 pm untuk membuat larutan Pb 2 ppm

 Masukkan dalam labu ukur 10 ml

 Paskan volume dengan aquades

 Homgenkan

 Begitu juga untu membuat larutan Pb 10,15,10,25 ppm

4. Pengukuran dengan AAS

 Diletakkan sampel pada ujung pipa pada AAS

 Dibuka kran gas asitilena sedikit, ditutup.

 Dibuka kran pembuka gas.

 Dinyalakan komputer.

(15)

 Diklik (Connect) pada kotak dialog yang muncul dan tunggu hingga instalasi selesai yang ditandai dengan semua item berwarna hijau kemudian tekan (Ok).

 Dipilih (Next) pada kotak dialog yang muncul.

 Diisi kotak kosong dengan elemen yang akan dianalisis.

 Dipilih ( Next ) dan program akan berjalan.

F. Tabel Pengamatan

Konsentrasi Pb (ppm) Absorbansi

5 0.0016

10 0.0024

15 0.0026

20 0.0044

25 0.0033

Sampel X 0.0037

G.Perhitungan

1. Pembuatan larutan Pb 100 ppm dari larutan induk 1000 ppm V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 1000 ppm = 100 ml x 100 ppm

V1 =100ml ×1000100pmppm

=10 ml

(16)
(17)

x=0.0001080.00246 =22.77

jadi konsentrasi sampel yaitu 22.77 ppm

H.Pembahasan

Spektrofotometri serapan atom adalah suatu metode analisis untuk penentuan konsentrasi suatu unsur dalam suatu cuplikan yang didasarkan pada proses penyerapan radiasi sumber oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). Proses penyerapan energi terjadi pada panjang gelombang yang spesifik dan karakteristik untuk tiap unsur. Proses penyerapan tersebut menyebabkan atom penyerap tereksitasi: elektron dari kulit atom meloncat ketingkat energi yang lebih tinggi. Banyaknya intensitas radiasi yang diserap sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat energi dasar yang menyerap energi radiasi tersebut. Dengan mengukur tingkat penyerapan radiasi (absorbansi) atau mengukur radiasi yang diteruskan (transmitansi), maka konsentrasi unsur di dalam cuplikan dapat ditentukan.

Logam yang digunakan pada praktikum ini yaitu Pb, pertama dibuat lautan induk 1000 ppm lalu dibuat lagi larutan standar 100 ppm ,larutan yang 100 ppm ini dibuat lagi menjadi 5,10,15,10,25 ppm.Pada proses SSA, sampel dimasukkan melalui selang kecil yang dicelupkan ke dalam labu ukur. Dari selang tersebut, sampel disemprotkan menjadi butiran-butiran air (aerosol) yang dibakar melalui tungku atau burner berbahan bakar asetilena dan oksigen yang diambil dari udara. yang ada dalam alat tersebut dengan suhu yang tinggi yaitu 1000oC. Pada saat pembakaran lampu katoda untuk logam Pb menyala lalu cahaya masuk melalui lubang kecil yang terdapat di dalam alat SSA. Api yang terkena cahaya lampu katoda (Pb) yang dapat menentukan kadar logam Pb yang terkandung di dalam sampel air. Setelah proses tersebut, cahaya diteruskan sampai ke detektor yang akan membaca data lalu memunculkan gambar grafik pada komputer.

Pada percobaan diperoleh grafik yang tidak linear , hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu: Pengenceran yang kurang tepat, sehingga mempengaruhi nilai absorbansi.Pemakain pipet yang tetukar sehingga mempengaruhi hasilnya atau hasilnya tidak akurat.dari perhitungan diperoleh konsentrasi sampel yaitu :22.77 ppm

I.Kesimpulan

(18)

 Lampu katoda

 Tabung gas

 Burner

 Monokromator

 Detektor

 Sistem pembacaan

 Ducting

2. Dari percobaan diperoleh persamaan y=0.000108x+0.00124 sehingga didapat konsentrasi sampel yaitu 22.77 ppm

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisa Kuantitatif Anorganik. EGC: Jakarta

Ristina, maria. 2006. Petunjuk Praktikum Instrumen Kimia. STTN – Batan: Yogyakarta

(19)

Referensi

Dokumen terkait

1) Tapak harus memiliki luas lahan yang besar, sehingga dapat menyediakan lahan parkir yang memadai. 2) Bangunan yang akan direncanakan di dalam tapak keamanannya

hammer) itu terjadi, dimana air dengan tenaga gravitasi dari terjunan menghantam arus balik tadi, 2/3 debit keluar lubang pembuangan, sementara yang 1/3 debit mendorong klep

Kapal BlueFin 15 meter adalah jenis kapal penumpang cepat yang dibangun dari bahan Fibreglass Reinforced Plastic (FRP) yang dibangun dengan sistem Full Moulded Hull,

[r]

[r]

Dibawah ini beberapa alat tenaga yang sering dipakai dalam bekerja,

(5) skor 1, apabila siswa tidak mampu menuliskan adegan, latar dan kramagung yang sesuai dengan tema yang telah ditentukan. e) Kemampuan siswa dalam membuat naskah drama

Puji syukur penulis panjatkan dengan penuh kerendahan hati kepada Allah SWT atas segala berkah dan karunia yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan