• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Matematika Hijau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pembelajaran Matematika Hijau "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi Pembelajaran Matematika Hijau dengan

Pendekatan Problem Based Learning (PBL) Guna

Mengembangkan Sikap cinta Lingkungan pada siswa

SMAN 1 Keumala

Muzakkir, M. Ed

SMAN 1 Keumala, Aceh, [email protected]

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sikap cinta lingkungan pada siswa SMAN 1 Keumala Kabupaten Pidie provinsi Aceh melalaui pembelajaran Matematika Hijau dengan pendekatan PBL, serta untuk mendapatkan umpan balik dari siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Pembelajaran Matematika Hijau adalah salah satu cara pembelajaran Matematika yang menjadikan isu – isu lingkungan sebagai media utama dalam pembelajaran. Kegiatan penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas

(classroom action research). Tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 SMAN 1 Keumala. Kegiatan pada setiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, dan angket sikap cinta lingkunga. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah Problem Based Learning (PBL) dan dilakukan pada materi peluang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kegiatan pembelajaran matematika Hijau dengan Pendekatan PBL pada materi peluang respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan menunjukkan bahwa respons siswa senag dan model ini dapat diteruskan untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya dengan pengelolaan yang lebih optimal. Rasa cinta lingkunagn di kalangan siswapun semakin bertambah, dimana siswa merasa semakin peduli dengan lingkungannya, hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai persentase jumlah siswa yang bersikap positif dari siklus I (55 %) ke siklus ke II (70 %). Siswa makin menyadari bahwa matematika ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa.

Kata kunci: Pembelajaran Matematika Hijau , Problem Based Learning (PBL), Sikap cinta lingkungan.

A. PENDAHULUAN

(2)

lahan sehingga berkurangnya lahan atau daerah resapan air; pendangkalan sungai akibat sampah maupun lumpur dan penyempitan sungai oleh manusia; pembuatan saluran air dan tanggul waduk) yang tidak memenuhi syarat dan kurang baik; air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan. Upaya penanganan banjir pada umumnya lebih terfokus pada saat banjir berlangsung, sementara upaya penanggulangannya masih lebih banyak pada tataran diskusi. Upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman, sikap, dan perilaku terhadap pencegahan bencana banjir sebenarnya dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan ini dapat dilakukan pada seluruh lapisan masyarakat termasuk siswa sekolah baik SD, SMP, maupun SMA.

Penanaman konsep terkait dengan pelestarian dan pemanfaatan lingkungan perlu ditanamkan kepada para siswa sejak dini, peserta didik harus memahami bahwa manusia adalah agen penentu bagai lingkungan sekitarnya. Konsep lingkungan akan mudah diterapkan dalam proses belajar mengajar jika siswa diajak untuk mengaitakn alam sekitarnya dengan pengajara yang berlaku sebagaimana yang diharapkan dalam model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), di mana peserta didik dihadapkan pada sistem pembelajaran faktual di sekitarnya (Elaine. 2007). Berkaitan dengan pembelajaran matematika, CTL kemudian lebih dispesifikkan lagi dalam Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), dalam pengajaran dengan Pendekatan PMR siswa akan di hadapakan dengan permasalahan – permasalah yang dihadiya sehari – hari kemudian pada tahap akhir siswa akan mendapatkan penyelesaian dari permasalahn tersebut. Sepanjang pengetahuan dan berdasarkan pengalaman peneliti, pembelajaran Matematika di sekolah saat ini menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara proses belajar mengajar matematika dengan pemeliharaan lingkungan, sehingga sikap peserta didik terhadap lingkungan sangatlah negatif. sekolah belum sepenuhnya terintegrasi dengan konsep pelestarian lingkungan sehingga belum sepenuhnya mampu mengembangkan sikap ramah lingkungan pada siswa. Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan peneliti di SMAN 1 Keumala terkait dengan sikap cinta lingkungan pada peserta didik masih berada pada tahapan sangat memprihatinkan. Melihat kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk mengungkap dan menemukan cara untuk menyampaikan materi yang diajarkan agar siswa dapat mengingat konsep tersebut lebih lama di benaknya. Selain itu, siswa juga memiliki sikap cinta lingkungan yang sangat diperlukan bagi pembangunan berkelanjutan di masa mendatang.

(3)

Real World

Abstraction and formalization Mathematizing in

Applications Mathematizing and reflection

Keumala. Adapun pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah Problem Based Learning (PBL). Mengingat adanya berbagai keterbatasan, penelitian difokuskan pada salah satu pokok bahasan yang sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari para siswa yakni Peluang. Berdasarkan uraian di atas, masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah mengembangkan sikap cinta lingkungan pada siswa SMAN 1 Keumala? (2) Bagaimanakah respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan?

B. Tinjauan Kepustakaan

1. Pembelajaran Matematika Hijau

(4)

Diagram 1 proses pengajaran matematik menurut PMR

2. Pembelajaran Problem Base Learning (PBL)

Taufiq (2009) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang bertujuan merangsang terjadinya proses berpikir tingkat tinggi dalam situasi yang berorientasi masalah. Lebih lanjut peter (2001)

dikemukakan PBL utamanya dikembangkan untuk membantu

siswa sebagai berikut :

a. Mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi

b. Belajar berbagai peran orang dewasa Dengan melibatkan siswa dalam

pengalaman nyata atau simulasi (pemodelan orang dewasa), membantu siswa

untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar melakukan peran

orang dewasa

c.

Menjadi pelajar yang otonom dan mandiri Kemampuan untuk menjadi

pembelajar yang otonom dan mandiri ini diharapkan dapat mendorong

tumbuhnya kemampuan belajar secara autodidak dan kesadaran untuk belajar

sepanjang hayat yang merupakan bekal penting bagi siswa dalam mengarungi

kehidupan pribadi, sosial maupun dunia kerja selanjutnya.

(5)

diketahui sebelumnya. Guru dalam hal ini melatihkan keterampilan menafsirkan pengamatan. Pada tahap ke tiga yaitu tahap menuliskan inti permasalahan, pemahaman konsep yang sebelumnya telah diketahui siswa diterapkan dalam rangka menulis masalah utama pada fenomena yang telah diamatinya. Guru melatih keterampilan menerapkan konsep pada siswa. Pada tahap ke empat yaitu tahap menuliskan cara pemecahan masalah, serangkaian konsep dikumpulkan dalam kegiatan kelompok untuk memecahkan masalah kemudian dirumuskan beberapa alternatif pemecahan masalahnya. Guru melatih keterampilan menerapkan konsep. Pada tahap selanjutnya yaitu tahap menuliskan tindakan kerja yang akan dilakukan, serangkaian tindakan kerja yang akan dilakukan kemudian dituliskan secara berurutan dalam lembar kerja siswa. Siswa menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh data dalam rangka menyelesaikan masalah denga prosedur yang telah dirancang sebelumnya. Setiap pengambilan data diamati dengan teliti untuk mengurangi paralaks. Guru melatih keterampilan merencanakan penelitian, keterampilan menggunakan alat dan bahan, serta keterampilan mengamati pada siswa.Pada tahapan terakhir yaitu tahap menuliskan hasil kegiatan, setelah diperoleh data, siswa akanmembuat grafik dalam mengkomunikasikan hasil penelitiannya dan memperoleh keteraturan data yang selanjutnya bisa digunakan untuk meramal data yang akan diperoleh pada pengambilan data selanjutnya. Guru melatih keterampilan meramalkan dan keterampilan berkomunikasi pada siswa. Masalah tersebut adalah masalah yang memenuhi konteks dunia nyata baik yang ada didalam buku teks maupun dari sumber lain seperti peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, peristiwa dalam keluarga ataukemasyarakatan untuk belajar tentang berpikirdan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

C. Metode Penelitian

(6)

lembaran respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran. Setiap siklus terdiri dari

empat tahapan sebagaimana pendapat Kemmis dan Mc Taggart dimana dimulai dari

perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Keumala yang

berjumlah 30 siswa. Proses analisis data dilakukan dengan melihat data yang diperoleh

pada instrumen penelitian. Siswa dikatakan merespon positif jika persentase siswa yang

setuju (S) dan sangat setuju (SS) untuk pernyataan positif dan jawaban Tidak Setuju

(TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS) untuk pernyataan negatif lebih besar dari pada

persentase tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS) untuk penyataan positif dan

jawaban Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (TST) untuk pernyataan negatif.

Respon siswa dan pengamatan akan dijadikan sebagai bahan refleksi pada setiap siklus.

D. Hasil dan Pembahasan

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 kali pertemuan dimana setiap sekali pertemuan mewakli satu silus penelitian, adapun hasil dan pembahasan diuraikan pada setiap pertemuan sebagai berikut

1. Hasil pengamatan, respon dan sikap siswa pada siklus pertama

Hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung kegiiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru, dimana permasalahan tentang isu-isu lingkungan masih banyak bersumber dari guru, di samping itu siswa masih belum familiar dengan model pembelajaran yang coba diterapkan. Hasil respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan Pembelajaran Matematika Hijau pada siklus pertama menunjukkan bahwa 40 % siswa menunjukkan respon senang, 40 % menunjukkan respon tidak senang, dan 20% tidak meberikan respon. Untuk hasil sikap rasa cinta lingkungan pada siklus pertama ini terlihat sikap posistif sudah mendominasi siswa dimana 55 % siswa memiliki sikap positif terhadap cinta lingkungan, namun masih ada 45 siswa yang masih memiliki sikap negative terhadap sikap cinta lingkungan.

(7)

berikutnya, peneliti juga harus menerangkan kembali pada awal pertemuan pada siklus berikutnya yang mana maksud dari Pembelajaran Matematika Hijau, sehingga diharapkan siswa tidak merasa aneh dengan pembelajaran yang dijalankan guru.

2. Hasil pengamatan, respon dan sikap siswa pada siklus kedua

Hasil pengamatan pada siklus kedua banyak perubahan yang telah terjadi dimana permasalahan sebagai dasar pembelajaran dengan pendekatan PBL muncul dari pengalaman siswa sendiri sehingga guru hanya mengarahkan contoh-contoh isu yang lebih mengarah dengan topik peluang yang sedang dipelajari, siswa mulai antusia dengan model yang diterapkan 60% siswa aktif selama proses belajar mengajara berlangsung , sehingga prinsip PMR bisa diterapkan sepenuhnya pada siklus kedua dimana guru hanya berfungsi sebagai pembimbing selama proses diskusi berangsung. Dari lembaran respon siswa ditunjukkan bahwa 80 % siswa merasa senang dengan Pembelajaran Matematika HIjau sedang sisanya 20% masih merasa tidak senang dengan model yang coba diterapkan guru. Hasil instrumen sikap cinta lingkungan menunjukkan pada siklus kedua 70 % siswa memiliki sikap positif terhadap rasa cinta lingkungan, dan 30 % masi menunjukkan sikap negatif.

Berdasarkan hasil pada siklus kedua, sikap cinta lingkumgan bisa dikembangkan dengan Pembelaajaran Matematika Hijau, hal ini sesuai dengan pendapat (Kana Hidayati, dkk 2008) menyataan bahwa dengan mengaitkan isu lingkungan dalam pembelajaran matematika maka akan mengambangkan sikap cinta lingkungan di kalanagn siswa.

E. Kesimpulan

Pengembangan sikap cinta lingkunag dikalangan siswa selama proses belajar melalui model Pembelajaran Matematika Hijau mengalami peningkatan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap cinta lingkungan siswa bisa di kembangkan mellaui pembelajaran di sekolah tidak semestinya dengan pelajaran khusus lingkungan hidup. Sehingga diharapkan pembelajaran berbasis isu lingkungan bisa diterapkan pada semua tingkata satuan pelajaran dan semua bidang study. Tujuan akhirnya adalah memunculkan sikap siswa yang ramah dan peduli ligkungan hidup yang merupakan asset utama untuk kehidupan di masa yang akan dating.

(8)

Kristianto , Arief. 2010. Seri Tanggap Bencana Alam banjir. Bandung: Angkasa

Meaningfully : solution for reaching struggling learners

. Paul. H. Brookes

Publishing. London

Armanto, D. 2002.

Teaching

multiplication

and division realistically in Indonesian

primary schools: Aprototype of local instruction theory.

Doctoral

dissertation. The Netherlands, Enschede: University of Twente.

De Lange, J. 1987.

Mathematics Insight and Meaning

. Utrecht: OW & CO.

Furner. J.M dan Kumar. D. D. 2007. The mathematics and science integration argument :

a stand for teacher education.

Eurasia Journal of Mathematics, Science &

Technology Education

. 3(3). 185 – 189.

Gravemeijer, K & Doorman, M. 1999. Context Problem In Realistic Mathematics

Education: a Calculus course as an Example.

Educational Studies in

Mathematics.

Netherlands. Kluwer Academic Publishers. 111-129

Gravemeijer, K. 1994.

Developing Realistic Mathematics Education

. Ultrecht:

Freudenthal Institute.

Hadi, S. 2003. PMR

: Menjadikan Pelajaran Matematik Lebih Bermakna Bagi Pelajar

.

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematik

“Perubahandi Paradigma dari Paradigma Mengajar ke Paradigma

Belajar,”Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 27 – 28.

Hayley B. 2004. Realistic mathematics education: Eliciting alternative mathematical

conceptions of learners.

African Journal of Research in SMT Education.

8(1):53-64

Sembiring, R.K. Hadi, S & Dolk, M. (2008). Reforming Mathematics Learning in

Indonesian Classrooms.

ZDM Mathematics Education.

40:927–939.

Smart. A. M. 2009. Introducing Angles in Grade Four:A Realistic Approach Based on

the van Hiele Model.

Canadian Journal for New Scholars in Education.

2(1):1-20

Soedjadi. 2001 .

Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke

Arah Upaya Baru)

. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics

Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya, Juni 2001.

Streefland, L. 1991.

Realistic Mathematics Education In Primary School

. Utreecht:

Center for Science and Mathematics Education, Netherlands.

Tuan.A. L. 2006.

Applying Realistic Mathematics Education in Vietnam:Teaching

middle school geometry

. Universität Potsdam Institut für Mathematik.

Belanda. Tesis doctor. Tidak dipublikasikan.

Wubbles, T. Korthagen, T & Broekman, H. (1997). Preparing Teachers For Realistics

Mathematics Education.

Educational Studies in Mathematics.

Kluwer

Academic Publishers. Netherlands. 32: 1–28.

(9)

Swan, J. A. & Stapp, W.B. 1979. Enviroment education: strategic toward a more liveable

future. New York. John Wiley & Sons

Referensi

Dokumen terkait

menganalisis data yang diperoleh melalui angket tanggapan siswa adalah

Untuk mengetahui sikap belajar matematika siswa kelas X SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon, penulis menggunakan angket skala likert (skala sikap) yang terdiri dari 24

Instrumen penelitian ini menggunakan angket dengan model check list dengan skala likert, dimana responden tinggal membubuhkan tanda rumput (v) pada kolom jawaban

Untuk memperoleh respon siswa digunakan angket dengan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok

tubuh dan instrumen kepercayaan diri yang berupa angket dengan menggunakan. skala Likert.

Hasil angket ditabulasi untuk mengubah data dan instrumen pengumpul data (angket) menjadi tabel-tabel angka. Skala yang digunakan untuk menganalisis data yakni skala

Instrumen yang digunakan adalah tes pengetahuan materi pencemaran lingkungan berupa soal pilihan ganda sebanyak 15 soal, angket sikap cinta lingkungan berupa pernyataan sebanyak 30

02, Desember 2022 keterangan dari skala lembar validasi dan angket dengan menggunakan skala likert : Kategori Instrumen Skor Skor Jawaban Item Instrumen Skor 5 Sangat Baik 4