Pelaksanaan dan
Per kembangan
Hukum
Inter nasional
Danil Akbar Taqwadin, BIAM, MSc.
•
Walaupun kurangnya keefekt ifan pelaksanaan hukumint ernasional, t idak berart i hukum int ernasional t idak bisa dilaksanakan.
•
M et ode t radit ional dalam pelaksanaan hukum int ernasional adalah dengan prot es.•
Prot es diplom at ik m erupakan langkah pert am a dalam pelaksanaan ini.•
Biasanya prot es juga t erm asuk perm int aan at as kesalahan yang t erjadi segera diperbaiki.•
Apabila prot es t idak cukup m am pu m engakom odirPelaksanaan hukum internasional
dengan jalan damai (peaceful ways)
•
Pasal 2 (3) Piagam PBB m ew ajibkan negara-negaram enyelesaikan sengket a int ernasional dengan jalan dam ai.
•
M ekanism e ini dit uliskan dalam pasal 33 Piagam PBB:- Negot iat ion:
- Enquiry (penyelidikan)
- M ediat ion
- Conciliat ion (m endam aikan)
- Arbit rat ion (arbit rase)
•
Walaupun bukanlah sebuah keharusan negara-negara m enggunakan Int ernat ional Court of Just ice dalamm enyelesaikan sengket a di ant ara m ereka, nam un put usan yang dihasilkan akan m engikat . Ket idakpat uhan t erhadap
put usan ini sangat jarang t erjadi. Kalaupun t erjadi m aka akan dit indaklanjut i m elalui DK PBB.
•
Dalam beberapa t ahun t erakhir, int it usi judicial di t ingkat int ernasional sem akin berkem bang: m unculnya t hePelaksanaan hukum internasional
dengan jalan paksaan (Coercive ways
)
• Gagalnya pelaksanaan hukum int ernasional dengan jalan damai dapat pula menjurus kepada penggunaan paksaan.
• Terdapat dua (2) t ipe paksaan: (1) paksaan t anpa penggunaan milit er, (2) paksaan dengan penggunaan milit er.
1. Paksaan t anpa penggunaan milit er
(a) self-help (pengucilan): apabila sebuah negara melakukan t indakan ilegal dan menolak unt uk membayar gant i rugi, maka negara t ersebut akan dikucilkan oleh si negara yang merugi.
Di masa lalu, negara lebih memilih berperang unt uk menyelesaikan perkara yang dianggap krusial. Saat ini, kemungkinan unt uk perang semakin t ert ut up dengan adanya dua int srumen hukum int ernasional yang melarang t erjadinya perang: (1) The General t reat y for t he
(b) Count er-measures (t indakan balasan): hal ini sam a sepert i ret orsion (penangkalan). Ret orsion adalah t indakan yang t idak bersahabat , nam un t idak m elanggar hukum , m elakukan sesuat u unt uk m elukai negara yang m elakukan kesalahan. Ex. Pem ut usan hubungan diplom at ik (hal ini t idak m elanggar
hukum , sebab t idak ada dasar bahw a set iap negara harus
m em iliki hubungan diplom at ik dengan negara lain), em bargo, penarikan kem bali program bant uan.
(c) Reprisals (t indakan balasan): hal ini pada dasarnya
ilegal, nam un dit ujukan kepada negara yang m elakukan t indakan illegal t erlebih dahulu. Ex. Apabila negara A m engam bil
propert y w arga negara B t anpa ada just ifikasi, m aka negara B dapat m em balas dengan m engam bil propert y w arga negara A, nam un harus dalam proporsi yang set ara. Tidak unt uk
2. Paksaan dengan penggunaan m ilit er
Dalam pasal 2 (4) Piagam PBB, m elarang penggunaan m ilit er dalam hubungan ant ara negara. Nam un, t erdapat dua
pengecualian:
a. Hak unt uk bert ahan diri pada pasal 51 Piagam PBB (penggunaan m ilit er secara unilat eral)
Perkembangan Hukum
Internasional
•
Bagi para pem ikir barat Treat y of West phalia (1648) dianggap sebagai aw al lahirnya hukum int ernasional.•
Nam un banyak pem ikir non-barat yang m enganggap bahw a hukum int ernasional bukanlah produk barat .•
Dalam sejarah yang pernah dit ulis oleh Gerhard von Glahn, dit em ukan perjanjian ant ara penguasa Lagash dan Um m a, dua kom unit as di M esopot amia. Kem udian juga dalam cerit aHukum Internasional Islam
• Islam, sejak abad ke 7, t elah memformulasikan hukum int ernasional t ersendiri yang dikenal dengan As-Siyar.
• Kit ab as-Siyar Al-Kabir dit ulis oleh M uhammad Al-Shaybani pada abad ke 8. 800 t ahun lebih t ua dari karya Hugo Grot ius yang dikenal sebagai bapak Hukum Int ernasional.
• Hugo Grot ius mempublikasikan karyanya De jure belli ac pacis (On t he Law of War and Peace) pada t ahun 1625.
• Hukum int ernasional islam dilihat sebagai panduan bagi negara islam dalam melakukan int eraksi dengan negara lain.
• Sumbernya berasal dari Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.
• Karena hukum int ernasional merupakan panduan yang t urun dari Allah SWT. Oleh karena it u, hubungan int ernasional harus
berlandaskan pada perint ah Allah SWT. Apabila ada seseorang
•
Sist em hukum nasional dan hukum int ernasional secarakonvensional m em iliki perbedaan dari sisi efekt ifit as inst it usi pelaksana, pem buat dan pengaw asan UU/ Hukum .
•
Sedangkan, hukum islam (nasional) at au hukum islam(int ernasional) m em iliki kesam aan sum ber (perint ah Allah SWT). Allah SWT m erupakan single ot orit as t ert inggi di dunia bahkan alam (t erm asuk sist em int ernasional (sist em ant ar negara)) at au berlandaskan dari pem aham an Taw heed (Ke-esa-an Allah).
•
Hukum int ernasional islam lebih dahulu m enyandarkan diri pada ot orit as Allah SWT sebagai penguasa alam , dibandingkan not ion pact sunt servanda yang m erupakan prinsip hukum•
Dalam hukum int ernasional islam juga m em uat t ent ang at uran pencegahan t ent ang horornya perang dan m enjadikannyalebih m anusiaw i. Prinsip kem anusiaan dalam hukum
Hukum Internasional modern
•
Perkembangan hukum internasional modern sejak abad ke-17 dan 18 m elahirkan t iga pandangan t ent ang filosofi hukum int ernasional: t he nat uralist , t he posit ivist , dan t he groat ians. 1. The nat uralist
pada dasarnya pem ikiran ini beranjak dari pem ikiran Hugo Grot ius sendiri. Kem udian dilanjut kan oleh2. The Posit ivism
The posit ivist percaya bahw a hukum int ernasional m erupakan buat an m anusia. M ereka percayabahw a hukum dan keadilan bukanlah hal yang sam a, dan hukum dapat saja berbeda dari w akt u ke w akt u dan dit em pat yang
berbeda. Posit ivist percaya bahw a hukum int ernasional berasal dari perjanjian dan kebiasaan (cust om / adat ) t ent unya at as
3. The Groat ians
The groat iansberdiri di t engah ant ara nat uralist dan posit ivist . M ereka percaya bahw a adanya•
Perkembangan hukum Internasional abad 19: Kongres Vienna (1815) m engabadikan panduan hubungan Int ernasional dalam kont eks balance of pow er bangsa-bangsa Eropa.•
Hukum int ernasional m enjadi Euro-cent ric. Dan pandangan posit ivism m enjadi leading school dalam m asa abad 19. Seiring dengan m enurunnya popularit as nat ural t heory dan m eningkat nya posit ivism. Dengan m eningkat nya popularit as•
Perkembangan hukum internasional sejak abad 20 hingga sekarang: Berakhirnya perang dunia pert am a m erubahpandangan t ent ang hukum int ernasional. Pandangan yang
kaku berubah kepada t radit ional posit ivist philosophy (nat
ural-posit ivist philosophy).
•
Pada m asa ini, para ahli beranggapan bahw a ket ika hukum int ernasional t idak dapat disandarkan pada t indakan at auPerilaku/ tindakan negara
membangun
terhadap hukum internasional
• Set elah perang dunia kedua, komposisi masyarakat int ernasional t urut berubah seiring de-kolonisasi w ilayah-w ilayah jajahan eropa. Hal ini juga t urut membawa perubahan pada ranah hukum
int ernasional.
• PBB lahir set elah PD2 (1945), dan kekuat an barat t et ap mendominasinya.
• Kemerdekaan negara-negara set elah PD2, memperkaya anggot a dan st rukt ur dalam PBB. Negara-negara ini dikenal sebagai negara dunia ket iga.
• Negara-negara ini t idak memiliki ideologi yang t egas. Namun
•
Para negara dunia ket iga m erasa m ereka t idak diikut sert akan dalam pem bangunan hukum int ernasional, nam un m ereka juga t idak dapat m enolak seluruh hukum int ernasional yang t elah dibuat sebelum m ereka m erdeka. Secara norm al,m ereka m engakui kebut uhan hukum int ernasional sebagai panduan legal dalam m engat ur hubungan ant ara negara.
•
Negara dunia ket iga m enunt ut m enghilangkan at uran t ent ang anneksasi w ilayah. M ereka m enginginkan represent asi yang set ara dalam badan-badan int ernasional sepert i DK PBB dan M I. M ereka m enginginkan Hukum int ernasional sebagai•
Negara selat an/ negara dunia ket iga/ negara m em bangun um um nya adalah negara m iskin. Sejak 1973 negara2 inim enghadapi gencarnya pem bangunan negara-negar m aju dan dihadapkan pula pada m asalah kem iskinan dan pem bangunan ekonom i. M ajelis Um um PBB m enjadi t em pat ‘curhat ’-an
negara2 ini dalam m enyalurkan aspirasinya, m ereka m enunt ut :
1. Int ernasional econom ic order yang baru.
2. Aplikasi t he common herit age of mankind, unt uk m engam bil keunt ungan dari SDA di laut (UNCLOS 1982) dan dapat
m em berikan sum bangsih kepada negara2 yang kurang m aju.
3. Pengakuan, pengat uran dan im plem ent asi hukum