• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN SOSIAL DI MASYARAKAT. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN SOSIAL DI MASYARAKAT. docx"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SOSIAL DI MASYARAKAT

Kita selalu berhubungan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai makhluk sosial, kita saling membutuhkan pertolongan orang lain untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain. Hubungan dengan orang lain disebut dengan proses sosial. Dan proses sosial inilah yang menumbuhkan adanya hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Hubungan Sosial

Hubungan sosial merupakan hubungan yang terwujud antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok sebagai akibat dari hasil interaksi diantara sesama mereka.

Pengertian hubungan sosial hampir sama dengan interaksi sosial. Namun, hubungan sosial memiliki pengertian yang lebih luas, karena dalam hubungan sosial ada emosi atau perasaan yang muncul saat berkomunikasi. Contoh hubungan sosial yaitu gotong royong.

Tindakan seseorang dapat mempengaruhi dan mengenai kepada pihak lain. Ada 2 jenis tindakan, yaitu :

1. Apabila hubungan sosial antara individu satu dengna individu lain bersifat langsung (contoh : sentuhan, percakapan ataupun tatapmuka). Maka, telah terjadi apa yang dikenal dengan kontak sosial.

2. Apabila hubungan sosial tersebut berlangsung secara timbal balik. Maka, menyebabkan terjadinya interaksi sosial.

Cat : Di dalam hubungan sosial, setiap individu dapat mempelajari tingkah laku lawan interaksinya

Ada 2 faktor yang mendasari terjadi hubungan sosial, diantaranya ialah:

1) Faktor Internal ( Dari Dalam )

 Keinginan untuk mempertahankan hidup.

 Keinginan untuk melakukan komunikasi dengan sesama.  Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 Keinginan untuk meneruskan keturunan.

2) Faktor Eksternal ( Dari Luar )

(2)

Identifikasi, yaitu kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Proses identifikasi lebih mendalam dibandingkan imitasi. Contoh : adik yang selalu ingin sama dengan kakaknya.

Simpati, yaitu perasaan yang timbul dalam diri seseorang yang membuatnya merasa merasa seolah-olah berada dalam keadaan orang lain. Contoh : ketika kita mengetahui teman kita terkena bencana alam kita juga merasakan kesedihan ( simpati ) dan berusaha membantunya ( empati ).

Empati, yaitu perasaan sedih yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu uang bisa meringankan beban orang lain yang menderita. Empati hampir sama dengan simpati. Contoh: ketika kita mengetahui teman kita terkena bencana alam kita juga merasakan kesedihannya (simpati) dan berusaha membantunya ( empati ).

Motivasi, yaitu pengaruh yang diberikan oleh seseorang individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti aoa yang dimotivasikan itu secara kritis, rasional dan penuh penuh rasa tanggungjawab. Contoh : tugas yang diberikan oleh guru akan dikerjakan murid dengan sebaik-baiknya.

Seseorang yang melakukan hubungan sosial selalu memiliki tujuan-tujuan tertentu, antaralain ialah :

 menjalin hubungan persahabatan;  menjalin hubungan usaha;

 mendiskusikan sebuah persoalan;  melakukan kerja sama; dll.

Tujuan tersebut akan tercapai jika proses sosial sosial berjalan lancar. Proses sosial dalam hubungan sosial memiliki dua syarat untuk mencapai sebuah keharmonisan, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

Proses Asosiatif

Proses Asosiatif merupakan berntuk kerja sama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi.

1) Kerjasama (Coorperation) merupakan usaha bersama wantara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama memiliki pandangan bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri. Kerjasama di bagi menjadi 5, yaitu :

 Kerukunan, meliputi gotong royong.

(3)

 Kooptasi, yaitu proses penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan organisasi.

 Koalisi, yaitu gabungan dua badan atau lebih dalam satu tujuan yang sama.

Join venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu.

2) Akomodasi merupakan pemulihan hubungan baik antara dua pihak atau lebih yang semula mengalami perseteruan. Proses akomodasi memerlukan perhatian dari kedua bilah pihak bahkan terkadang juga membutuhkan bantuan pihak ketiga.

Ada pun tujuan akomodasi, yaitu :

 Mengurangi pertentangan antara perorangan atau organisasi akibat salah paham.

 Melebur kelompok sosial yang terpisah. Bentuk-bentuk Akomodasi diantaranya :  Pemaksaan ( coertion )

 Kompromi ( compromize )  Mediasi ( mediation )  Arbitrasi

 Konsiliasi

 Peradilan ( adjudication )  Tolenransi

 Stalemate

3) Asimilasi adalah proses kerja sama yang sangat harmonis dengan membentuk kesatuan homogen. Asimilasi juga merupakan usaha untuk megurangi perbedaan terhadap perorangan atau kelompok.

Asimilasi memiliki beberapa faktor, yaitu :  Sikap toleransi.

 Perkawinan campuran.

 Adanya kesamaan berbagai unsur budaya.  Keterbukaan golongan penguasa.

Faktor yang menghambat terjadinya asimilasi, yaitu :  Adanya diskriminasi.

 Adanya persaingan in-group yang kuat.

(4)

Proses Disosiatif

Proses disosiatif disebut sebagai proses oposisi. Secara umum dapat di bedakan menjadi 3, yaitu persaingan kontroversi dan pertentangan.

1) Persaingan ( Kompetisi ), merupakan proses sosial yang terjadi karena individu atau kelompok yang saling bersaing mencari keuntungan melalui bidang kehidupan pada suatu pusat perhatian publik dengan cara mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan ancaman atau kekerasa.

2) Kontraversi, merupakan bentuk proses sosial yang ditandai dengan adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau perasaan tidak suka yang disembunyikan. Perasaan tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak sampai menimbulkan pertikaian.

Proses kontravensi mencangkup 5 proses sebagai berikut :  Proses umum, meliputi pertikaian, protes, perlawanan, penolakan dll.  Bentuk kontraversi sederhana, meliputi mencaci maki, mencela dll.

 Bentuk kontraversi intensif, meliputi penghasutan, menyebarkan isu, dan mengecewakan.

 Kontraversi yang bersifat rahasia.

 Kontraversi bersifat taktis, meliputi membingungkan pihak lain, provokasi dll.

Ada 3 tipe umum kontarversi dalam kehidupan sehari-hari, seperti :  Kontraversi yang menyangkut generasi dalam masyarakat. Hal ini terjadi dalam masyarakat yang memiliki perubahan cepat, seperti halnya orang tua dan anak. Menigkatnya usia anak mengakibatkan lingkungan

pergaulan naskin meluas, membuat orang tua menjadi khawatir akan menyimpang dari tradisi.

 Kontraversi yang menyangkut bidang seks. Kontraversi itu menyangkut hubungan suami istri dalam keluarda dan peranan masyarakat.

 Kontraversi parlementer. Kontraversi ini meyangkut hubungan antar golong mayoritas dan minoritas.

3) Pertentangan, merupakan proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawan disertai ancaman dan kekerasan.

Beberapa faktor yang menimbulkan pertentangan, antara lain :  perbedaan antara individu satu dengna yang lain;

 perbedaan kebudayaan;  perbedaan kepentingan; dan  perubahan sosial.

(5)

 Tumbuhnya solidaritas di dalam kelompok akibat dari pertentangan entar kelompok.

 Goyahnya persatuan kelompok di dalam kelompok apabila pertentangan itu terjadi di dalam kelompok.

 Timbulnya perubahan kepribadian dari orang per orang.  Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak.

SUMBER : http://agildisini.blogspot.com/2011/01/ips-hubungan-sosial.html

Komunikasi sosial

Kemampuan komunikasi interpersonal adalah kecakapan yang harus dibawa individu dalam melakukan interaksi dengan individu dalam melakukan interaksi dengan individu lain atau sekelompok individu (Goldstein, 1982). Menurut French (dalam Rakhmat 1996), kemampuan interpersonal adalah apa yang digunakan seseorang ketika berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain secara tatap muka. Komunikasi Sosial adalah mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, untuk kelangsungan hidup, aktualisasi diri, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketergantungan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi sosial kita bisa berkerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota, dan negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.

Definisi

Dalam kehidupannya, manusia senantiasa terlibat dalam aktivitas komunikasi. Manusia mungkin akan mati, atau setidaknya sengsara manakala dikucilkan sama sekali sehingga ia tidak bisa melakukan komunikasi dengan dunia sekelilingnya. Oleh sebab itu komunikasi merupakan tindakan manusia yang lahir dengan penuh kesadaran, bahkan secara aktif manusia sengaja melahirkannya karena ada

maksud atau tujuan tertentu.

Memang apabila manusia dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya seperti hewan, ia tidak akan hidup sendiri. Seekor anak ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan sendiri. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan alat-alat fisik yang cukup untuk hidup sendiri.

Dapat dikatakan bahwa di dalam kehidupan komunikasi adalah persyaratan yang utama dalam kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang melepaskan hidupnya untuk berkomuikasi antar sesama. Dengan seperti itu, komunikasi sosial sangat penting dalam kehidupan manusia pada umumnya untuk membantunya

(6)

Karena sifat manusia yang selalu berubah-ubah hingga kini belum dapat diselidiki dan dianalisis secara tuntas hubungan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara lebih mendalam dan terorganisir

Fungsi Komunikasi Sosial

= Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan tersesat, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi yang memungkin individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai pantuan untuk menafsirkan, situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategi-strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematik yang ia masuki. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimanamakan, minum, berbicar sebagai manusia dan memperlakukan manusi lain secara beradap, karena cara-cara berprilaku tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan kluarga dan pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komunikasi. Implasif adalah fungsi komunikasi sosial ini adalah fungsi

komunikasi kultural. Para ilmuan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. = Fungsi komunikasi sosial bisa terbentuk dengan adanya pembentukan dari dalam: pembentukan konsep diri, pernyataan eksistenssi diri dan untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan & memperoleh kebahagiaan.

Pembentukan konsep diri

(7)

bagai kertas putih yang dapat mereka tulisi apa saja atau tanah liat yang dapat mereka bentuk sekehendak mereka. Pendeknya kita adalah “ciptaan” mereka. Sayangnya tidak semua orang tua menyadari hal ini. Seorang ibu, ayah atau kakak boleh jadi mengeluarkan kata-kata kepada anak: “Bodoh!,” Dasar anak nakal!,” “Penakut!,” bila hal itu kerap terjadi sungguh itu akan merusak konsep diri anak yang pada gilirannya akan mereka percayai. Seorang anak mungkin saja cerdas tetapi karena dianggap bodoh, ia akan surut melakukan apa yang ia ingin lakukan, karena ia mengaggap dirinya demikian. Pada gilirannya orang lain akan

menganggap dirinya bodoh. Ini lah yang disebut “nubuat yang dipenuhi sendiri” (self-fulfilling prophecy), yakni ramalan yang menjadi kenyataan karena, sadar atau tidak, kita percaya dan mengatakan bahwa ramalan itu akan menyadi

kenyataan. Dalam proses menjadi dewasa, kita menerima pesan dari orang-orang disekitar kita mengenai siapa diri kita dan harus menjadi apa kita. Menjelang dewasa, kita menemui kesulitan memisahkan siapa kita dari siapa kita menurut orang lain, dan konsep diri kita memang terkait rumit dengan definisi yang diberikan orang lain kepada kita. Meskipun kita berupaya berperilaku

sebagaimana yang diharapkanorang lain, kita tidak pernah secara total memenuhi pengharapan orang lain tersebut. Akan tetapi, ketika kita berupaya berinteraksi dengan mereka, pengharapan, kesan, dan citra mereka tentang kita sangat

mempengaruhi konsep diri kita, perilaku kita, dan apa yang kita inginkan. Orang lain itu “mencetak” kita, dan setidaknya kita pun mengasumsikan apa yang orang lain asumsikan mengenai kita. Berdasarkan asumsi–asumsi itu, kita mulai

memainkan peran-peran tertentu yang diharapkan orang lain. Bila permainan peran ini menjadi kebiasaan, kita pun menginternalisasikannya. Kita menamakan peran-peran itu kepada diri kita sebagai panduan untuk berperilaku. Kita

menjadikannya bagian dari konsep diri kita. Dengan kata lain, kita merupakan cermin bagi satu sama lainnya. Bayangkan saya pada cermin dikamar mandi menunjukkan apakah saya sudah bercukur atau belum. Saya harus melihat pada anda siapa saya. Proses pembentukan konsep diri itu dapat digambarkan secara sederhana. Konsep diri kita tidak pernah terisolasi, melainkan bergantung, pada reaksi dan respon orang lain. Dalam masa pembentukan konsep diri itu, kita sering mengujinya, baik secara sadar ataupun secara tidak sadar. Kita dapat memperkirakan perbedaan konsep diri seseorang dengan memperhatikan kata-kata yang orang ucapkan, kita dapat menduga dari kelas atau golongan mana ia

berasal. Sadar akan pentingnya citra diri dimata orang lain, sebagian orang berbicara dengan menggunakan banyak istilah asing, meskipun tatabahasa atau ucapannya keliru yang pada kata sebenarnya juga tersedia pada bahasa Indonesia agar dipandang intelektual dan modern.

Pernyataan eksistensi diri

(8)

eksis. Namun kita berbicara, kita menyatakan bahwa sebenarnya kita ada. Fungsi komunikasi sebagai eksistensi diri sering terlihat pada uraian penanya seminar. Meskipun penanya sudah di ingatkan moderator untuk berbicara singkat dan langsung kepokok permasalahan, penanya atau komentator itu sering berbicara panjang lebar, menguliahi hadirin, dengan argumen-argumen yang tidak relavan.eksistensi diri juga sering dinyatakan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam sidang-sidang mereka yang bertele-tele, karena mereka merasa dirinya paling benar dan paling penting, setiap orang ingin berbicara dan didengarkan. Fenomena itu misalnya pernah muncul dalam sidang-sidang selama berlangsungnya sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bulan Oktober 1999 malalui banjir interupsi dari begitu banyak peserta sidang,

khususnya pada 3 hari pertama. Banyak interupsi yang asal-asalan, tidak relavan, kekanak-kanakan, kocak, konyol, menjengkelkan, naif, dan terkadang

memuakkan.

Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh

kebahagiaan

Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu dan harus berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan dan minum, dan memenuhi kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan. Komunikasi, dalam konteks apa pun, adalah bentuk dasar adaptasi terhadap lingkungan. Menurut Rene Spitz, komunikasi (ujaran) adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam kepribadian: “mulut sebagai rongga utama adalah jembatan antara persepsi dalam dan persepsi luar, ia adalah tempat lahir semua persepsi luar dan model dasarnya, ia adalah tempat transisi bagi perkembangan aktivitas internasional, bagi munculnya kemauan dari kepasifan. Melalui komunikasi pula kita dapat memenuhi kebutuhan emosional kita dan meningkatkan kesehatan mental kita. Kita belajar makna cinta, kasih sayang, keintiman, simpati, rasa hormat, rasa bangga, bahkan irihati, dan kebencian. Melalui komunikasi sosial, kita dapat mengalami berbagai kualitas perasaan itu dan membandingkannya antara perasaan yang satu dengan perasaan yang lainnya. Karena itu, kita tidak mungkin, kita dapat mengenal cinta bila kita pun tidak mengenal benci. Kita tidak akan mengenal makna pelecehan bila kita tidak mengenal makna penghormatan. Lewat umpan balik dari orang lain kita memperoleh informasi bahwa kita orang yang berharga. Penegasan orang lain atas diri kita membuat kita merasa nyaman dengan diri sendiri dan percaya diri. Melalui komunikasi dengan orang lain, kita dapat memenuhi kebutuhan

emosional dan intelektual kita, dengan memupuk hubungan yang hangat dengan orang-orang disekitar kita. Tanpa pengasuhan dna pendidikan yyang wajar, manusia akkkan mengalami kemerosotan emosional dan intelektual. Kebutuhan emosional dan intelektual itu kita peroleh petama-tama dari keluarga kita, lalu dari orang-orang dekat disekeliling kita seperti kerabat dan kawan-kawan sebaya dan barulah dari masyarakat umumnya. Orang yang tidak memperoleh kasih sayang dan kehangatan dari orang-orang disekelilingnya cendrung agresif. Pada

(9)

menunjukkan bahwa orang yang terkucil secara sosial cendrung lebih cepat mati. Selain itu, kemampuan berkomunikasi yang buruk ternyata mempunyai andil dalam kematian seseorang. Misalnya, Kaisar Frederick II, penguasa romawi abad ke-13, membuat percobaan dengan memasukkan sejumlah bayi ke labotarium. Anak-anak itu dimandikan dan disusui oleh ibu-ibu, namun bayi-bayi itu tidak diajak berbicara. Ia ingin mengetahui apakah bayi-bayi itu akan berbicara dalam bahasa Hebrew, atau Yunani, atau Latin, atau Arab, atau bahasa orang yang telah melahirkan mereka. Upaya tersebut sia-sia karena sebuah bayi itu mati. Mereka tidak dapat hidup dalam belaian, wajah riang, dan kata-kata sayang dari ibu angkat mereka. Sementara Eric Berne mengembangkan suatu teori hubungan sosial yang ia sebut Transactional Analysis (1961). Terinya berdasarkan hasil penelitian mengenai keterlantaran indrawi (sensory deprivation) yang menunjukan bahwa bayi-bayi yang kekurangan belaian dan hubungan manusiawi yang normal menunjukan tanda-tanda kemerosotan fisik dan mental yang bisa berakibat fatal. Ia menyimpulkan bahwa senthan emosional dan indrawi itu penting bagi

kelangsungan hidup manusia. ia menyimpulkan teorinya dengan ungkapan “If you are not stroked, your spinal cord will shrivel up” (Jika engkau tidak mendapatkan belaian, urat saraf tulang belakang mu akan layu). Menutut Berne, dalam arti luas, belaian mengisyaratkan pengakuan atas kehadiran orang lain. Karena itu, belaian dapat digunakan sebagai unit dasar tindakan sosial.

== Resensi: Seni Berbicara, Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di mana Saja. Oleh Larry King & Bill Gilbert

Tidak bisa disangkal, berbicara adalah salah satu keahlian manusia yang sudah dilatih sejak usia balita. Tapi, walaupun terus saja sepanjang hidupnya manusia berbicara, dapat dibedakan antara orang yang “bisa” berbicara dan orang yang “tidak bisa” berbicara. Bisa jadi suara dan kalimat yang muncul dari mulut kita bukan lah sesuatu yang seharusnya, atau bukan suatu yang bermakna, atau tidak ada isinya, atau tidak ada manfaatnya, atau tidak bisa digunakan untuk mengambil manfaat, dan seterusnya. Bahkan peribahasa mengatakan, pedang yang paling tajam adalah lidah kita.

Larry King adalah seorang pembawa acara di CNN, yang acaranya meraih rating tertinggi dan merupakan satu-satunya talk show interaktif yang menjangkau dan dipancarkan di seluruh dunia. Ia sudah berpengalaman dalam profesi pembawa acara, baik di radio, televisi, seminar, dll, selama lebih dari 40 tahun. Larry King mampu membuat aturan-aturan utama dalam seni berbicara yang menurutnya dapat menjadi kunci sukses menjadi pembicara yang baik, baik itu di dalam konteks keseharian, acara formal, maupun sebagai sebuah profesi, seperti pembawa acara.

(10)

acara-acara talk show maupun pembicaraan tidak resminya. Judul-judul dari isi buku tersebut sangat membuat penasaran, seperti “Percakapan trendi dan ketepatan bahasa politis”, “Tamu terbaik dan terburuk saya serta alasannya”, dan masih banyak lagi.

Bagian cerita tentang pengalaman King dalam menghadapi orang lain, yang tersebar hampir di seluruh penjuru buku, adalah bagian yang paling menarik untuk disimak dan diambil pelajaran. Nampaknya, King memang sengaja menjadikan cerita-cerita tersebut sebagai alat untuk mempermudah pembaca memahami maksud King. Dari gaya penulisan tersebut, King memberikan tip-tip dan pelajaran bukan dengan apa-apa yang dilakukan oleh dirinya, tetapi dari apa-apa yang dilakukan orang-orang hebat yang ia temui dan berbicara dengan dirinya.

Buku King tentang seni berbicara ini tergolong sebagai buku yang ringkas dan padat, dituliskan dengan bahasa seadanya. Mungkin saja King lebih pandai berbicara daripada menulis, sehingga belum semua idenya dapat dituangkan dalam buku ini. Buku ini bukanlah suatu hasil riset maupun pemikiran mendalam tentang seni berbicara, lebih tepat dikatakan sebagai tip dari King. Karena buku ini mempunyai sudut pandang yang cukup sempit, yaitu King, dan budaya Amerika tentunya. Masih banyak nilia-nilai dan tip dalam berbicara yang belum dielaborasi khususnya yang terkait dengan keragamanan budaya manusia di dunia. Ada baiknya, apabila buku ini ingin menjadi buku internasional yang lebih

mapan, nilai-nilai berbicara dari budaya mainstream di dunia juga diberi tempat, sebagai contoh seperti bagaimana orang Jepang berbicara, atau nilai Asia, nilai Afrika, nilai Eropa, dan seterusnya.

Dari banyak sekali pelajaran yang berharga di dalam buku King tersebut, ada beberapa hal yang saya selalu ingat dalam hal seni berbicara, yaitu antusiasme, bertanya, dan diam. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Larry King & Bill Gilbert Seni Berbicara, Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di mana Saja Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Cetakan ke 21, 2007 212 halaman

Diposting oleh Dikky Z di 8:18 AM

Referensi

Dokumen terkait

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk

Sebagai suatu proses motivasi merupakan perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Suatu proses

Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut di atas, manusia menggunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Organisasi sosial

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada.. diri

Pada ibu dengan anak down syndrome, adanya bentuk perilaku ibu yang menarik diri dari interaksi sosial, menyalahkan diri atas setiap peristiwa yang dialami dan menunjukan

Dengan adanya media sosial saat ini dianggap menjadi suatu media komunikasi alternatif untuk mengekspresikan diri pada semua bentuk aktivitas, perasaan serta

Pada ibu dengan anak down syndrome, adanya bentuk perilaku ibu yang menarik diri dari interaksi sosial, menyalahkan diri atas setiap peristiwa yang dialami dan menunjukan

[email protected] Abstrak Pengetahuan adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala seperti gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses