DAFTAR ISI
BAB I LATAR BELAKANG...2
A. LATAR BELAKANG MASALAH...2
B. RUMUSAN MASALAH...4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...5
A. NOTARIS...5
B. KEWENANGAN NOTARIS...9
C. AKTA OTENTIK YANG DIBUAT DILUAR KEWENANGAN NOTARIS...12
BAB III PEMBAHASAN...16
A. KEWENANGAN NOTARIS DALAM MEMBUAT AKTA OTENTIK...16
B. KEDUDUKAN HUKUM AKTA OTENTIK YANG DIBUAT NOTARIS DILUAR KEWENANGANNYA...21
BAB IV PENUTUP...28
A. KESIMPULAN...28
B. SARAN...29
BAB I
LATAR BELAKANG
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Notaris merupakan salah satu pejabat negara yang kedudukannya sangat dibutuhkan di masa sekarang ini. Di masa modern ini, masyarakat tidak lagi mengenal perjanjian yang berdasarkan atas kepercayaan satu sama lain seperti yang mereka kenal dulu. Setiap perjanjian yang dilakukan oleh masyarakat pasti akan mengarah kepada notaris sebagai sarana keabsahan perjanjian yang mereka lakukan. Karena itulah, kedudukan notaris menjadi semakin penting di masa seperti sekarang ini. Seperti pejabat negara yang lain, notaris juga memiliki kewenangan tersendiri yang tidak dimiliki oleh pejabat negara yang lainnya.
melalui akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapannya, mengingat akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan memiliki nilai yuridis yang esensial dalam setiap hubungan hukum bila terjadi sengketa dalam kehidupan masyarakat.
Akta otentik yang dibuat oleh notaris merupakan sebuah alat pembuktian untuk menyatakan adanya suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pihak. Sebagai alat bukti, akta otentik dikatakan memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna karena memiliki tiga kekuatan pembuktian, yaitu kekuatan pembuktian lahiriah, kekuatan pembuktian formil, dan kekuatan pembuktian material. Kekuatan pembuktian lahiriah (uitwendige bewijskracht) yaitu kemampuan yang dimiliki oleh akta otentik untuk membuktikan keabsahannya sebagai akta otentik yang lahir sesuai dengan aturan hukum mengenai peryaratan sebuah akta otentik. Kekuatan pembuktian formil (formele bewijskracht), yaitu kemampuan untuk memberikan kepastian bahwa suatu kejadian dan fakta yang disebutkan dalam akta memang benar dilakukan, terkait dengan tanggal atau waktu pembuatan, identitas para pihak, tanda tangan para penghadap, saksi-saksi, dan notaris, tempat pembuatan akta, serta keterangan atau pernyataan yang dilihat, disaksikan, didengar atau disampaikan oleh para pihak. Kekuatan pembuktian material (materiele beswijskarcht) merupakan kepastian mengenai kebenaran materi suatu akta.
Notaris dalam melaksanakan tugas dan jabatannya yang berwenang membuat akta otentik dapat dibebani tanggungjawab atas perbuatannyahal ini sesuai dengan Pasal 1 angka 1 Undang-undang Perubahan Atas UUJN. Tanggungjawab tersebut sebagai kesediaan dasar untuk melaksanakankewajibannya. Pertanggungjawaban notaris meliputi kebenaran materil atas akta yang dibuatnya. Notaris tidak bertanggung jawab atas kelalaian dan kesalahan isi akta yang dibuat di hadapannya, melainkan Notaris hanya bertanggung jawab bentuk formal akta otentik sesuai yang diisyaratkan oleh undang-undang.
yang melanggar wewenang. Maka akta notaris tersebut tidak mengikat secara hukum atau tidak dapat dilaksanakan. Kewenangan notaris adalah membuat akta otentik sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-undang Perubahan Atas UUJN.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah definisi Notaris ?
2. Apa saja kewenangan yang dimiliki oleh Notaris ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. NOTARIS
sebagai pengganti Staatblad Nomor 30 tahun 1860 tentang PJN (PJN), yang dimaksud dengan Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Notaris dikualifikasikan sebagai Pejabat Umum, tapi kualifikasi Notaris sebagai Pejabat Umum, tidak hanya untuk Notaris Saja, karena sekarang ini seperti Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) juga diberi kualifikasi sebagai Pejabat Umum dan Pejabat Lelang. Pemberian kualifikasi sebagai pejabat umum kepada pejabat lain selain kepada Notaris, bertolak belakang dengan makna dari Pejabat Umum itu sendiri, karena seperti PPAT hanya membuat akta-akta tertentu saja yang berkaitan dengan pertanahan dengan jenis akta yang sudah ditentukan, dan Pejabat Lelang hanya untuk lelang saja.1
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi dari kata wewenang adalah hak dan kekuasaan untuk bertindak. Sedangkan definisi dari kata kewenangan adalah hak dan kekuasaan yang dipunyai untuk melakukan sesuatu.2 Wewenang Notaris pada prinsipnya
merupakan wewenang yang bersifat umum, artinya wewenang ini meliputi pembuatan segala jenis akta kecuali yang dikecualikan tidak dibuat oleh Notaris. Dengan kata lain, pejabat-pejabat lain selain notaris hanya mempunyai kewenangan membuat akta tertentu saja dan harus berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.
Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.3
1 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Refika Aditama, Bandung, 2008, hal. 13.
2 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 1128.
Menurut G.H.S. Lumban Tobing adalam bukunya mengenai Peraturan Jabatan Notaris, wewenang utama notaris yaitu untuk membuat akta otentik. Otentisitas dari akta notaris bersumber dari Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris dimana notaris dijadikan sebagai “pejabat umum”, sehingga akta yang dibuat oleh notaris karena kedudukannya tersebut memperoleh sifat sebagai akta otentik.4
Kewenangan notaris ini meliputi 4 hal, yaitu:5
1. Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta yang dibuatnya itu.
2. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang (-orang), untuk kepentingan siapa akta itu dibuat.
3. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat, dimana akta itu dibuat. 4. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu.
Dengan demikian Notaris merupakan suatu Jabatan (Publik) yang mempunyai
karakteristik, yaitu :6
a. Sebagai Jabatan UUJN merupakan unifikasi di bidang Peraturan Jabatan Notaris, artinya satu- satunya aturan hukum dalam bentuk undang-undang yang mengatur Jabatan Notaris di Indonesia, sehingga segala hal yang berkaitan Notaris di Indonesia harus mengacu kepada UUJN.
Jabatan Notaris merupakan suatu lembaga yang diciptakan oleh Negara. Menempatkan Notaris sebagai Jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu (kewenangan tertentu) serta bersifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap.
b. Notaris mempunyai kewenangan tertentu, setiap wewenang yang diberikan kepada jabatan harus ada aturan hukumnya sebagai batasan agar jabatan dapat berjalan dengan baik, dan tidak bertabrakan dengan wewenang jabatan lainnya. Dengan demikian jika seorang pejabat (Notaris) melakukan suatu tindakan diluar wewenang yang telah ditentukan, maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar wewenang.
4 Tobing, G.H.S. Lumban, Peraturan Jabatan Notaris, Jakarta: Erlangga, 1983, Cetakan ke 4, hlm.48
5 Tobing, G.H.S. Lumban, hlm. 49
Wewenang Notaris hanya dicantumkan dalam Pasal 15 ayat (1), (2) dan (3) UUJN.
c. Diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah Pasal 2 UUJN menentukan bahwa Notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, dalam hal ini menteri yang membidangi kenotariatan (Pasal 1 ayat (14) UUJN).
d. Tidak menerima gaji atau pensiun dari yang mengangkatnya. Notaris meskipun diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah tetapi tidak menerima gaji maupun uang pensiun dari pemerintah. Notaris hanya menerima honorarium dari masyarakat yang telah dilayaninya atau dapat memberikan pelayanan cuma-cuma untuk mereka yang tidak mampu.
e. Akuntabilitas atas pekerjaannya kepada masyarakat. Kehadiran Notaris untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan dokumen hukum (akta) otentik dalam bidang hukum perdata, sehingga Notaris mempunyai tanggung jawab untuk melayani masyarakat, masyarakat dapat menggugat secara perdata Notaris, dan menuntut biaya, ganti rugi dan bunga jika ternyata akta tersebut dapat dibuktikan dibuat tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, hal ini merupakan bentuk akuntabilitas Notaris kepada masyarakat.
Notaris sebagai pejabat umum (openbaar ambtenaar) yang berwenang membuat akta otentik dapat dibebani tanggung jawab atas perbuatannya sehubungan dengan pekerjaannya dalam membuat akta tersebut. Ruang lingkup pertanggung jawaban notaris meliputi kebenaran materiil atas akta yang dibuatnya. Mengenai tanggung jawab Notaris selaku pejabat umum yang berhubungan dengan kebenaran materiil, Nico membedakannya menjadi empat poin yakni:7
1. Tanggung jawab Notaris secara perdata terhadap kebenaran materiil terhadapakta yang dibuatnya;
2. Tanggung jawab Notaris secara pidana terhadap kebenaran materiil dalam aktayang dibuatnya;
3. Tanggung jawab Notaris berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris terhadap kebenaran materiil dalamakta yang dibuatnya;
4. Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkankode etik Notaris.
Notaris pada sistem civil law8 sama seperti hakim. Notaris hanya sebagai pihak yang menerapkan aturan. Pemerintah mengangkat Notaris sebagai orang-orang yang menjadi "pelayan" masyarakat. Sebagai pihak yang diangkat oleh negara maka Notaris dapat dikategorikan sebagai pejabat negara. Menyandang status sebagai pejabat negara berarti Notaris menjadi wakil negara. Negara mendelegasikan kewenangan pada Notaris untuk melakukan pencatatan dan penetapan serta penyadaran hukum kepada masyarakat, terutama menyangkut legalitas dokumen perjanjian atau kerja sama.
Notaris di negara penganut sistem civil law formasi penempatannya diatur oleh pemerintah. Pengangkatan Notaris baru akan disesuaikan dengan jumlah yang dibutuhkan untuk mengisi formasi yang kosong. Seorang Notaris civil law akan mengeluarkan akta yang sama persis dengan asli akta (minuta akta) yang disimpan dalam kantor Notaris. Pada salinan akta tersebut yang melakukan tanda tangan cukup si Notaris. Tanda tangan itu dilakukan di atas meterai dan dibubuhi stempel resmi Notaris. Di Indonesia stempel notaris berlambang burung garuda yang merupakan lambang negara Indonesia. Adapun penempelan meterai pada akta merupakan sebuah bukti sudah dibayarkannya pajak atau beanya, yaitu bea meterai.
Akta yang dibuat oleh seorang Notaris dalam sistem civil law merupakan akta autentik yang sempurna sehingga dapat dijadikan alat bukti yang sah di pengadilan. Memegang akta autentik akan membuat posisi Anda kuat di mata hukum sehingga jika sewaktu-waktu Anda digugat oleh pihak lain yang tidak memiliki bukti kuat maka kemungkinan besar Anda dapat mementahkan gugatannya.
B. KEWENANGAN NOTARIS
Kewenangan Notaris tersebut dalam Pasal 15 dari ayat (1) sampai dengan ayat (3) UUJN, yang dapat dibagi menjadi:9
1. Kewenangan Umum Notaris. 2. Kewenangan Khusus Notaris.
3. Kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian.
1. Kewenangan Umum Notaris
Pasal 15 ayat (1) UUJN menegaskan bahwa salah satu kewenangan Notaris yaitu membuat akta secara umum. Hal ini dapat disebut sebagai Kewenangan Umum Notaris dengan batasan sepanjang :
a. Tidak dikecualikan kepada pejabat lain yang telah ditetapkan oleh undang-undang.
b. Menyangkut akta yang harus dibuat adalah akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum untuk dibuat atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.
c. Mengenai kepentingan subjek hukumnya yaitu harus jelas untuk kepentingan siapa suatu akta itu dibuat.
d. Namun, ada juga beberapa akta otentik yang merupakan wewenang Notaris dan juga menjadi wewenang pejabat atau instansi lain, yaitu:10
1) Akta pengakuan anak di luar kawin (Pasal 281 BW),
2) Akta berita acara tentang kelalaian pejabat penyimpan hipotik (Pasal 1227 BW), 3) Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi (Pasal
1405, 1406 BW),
4) Akta protes wesel dan cek (Pasal 143 dan 218 WvK),
5) Surat kuasa membebankan Hak Tanggungan (Pasal 15 ayat [1] UU No.4 Tahun 1996),
6) Membuat akta risalah lelang.
9 Habib Adjie, Opcit., hal. 78
Berdasarkan wewenang yang ada pada Notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 UUJN dan kekuatan pembuktian dari akta Notaris, maka ada 2 hal yang dapat kita pahami, yaitu :
1. Notaris dalam tugas jabatannya memformulasikan keinginan/tindakan para pihak ke dalam akta otentik, dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku.
2. Akta Notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, sehingga tidak perlu dibuktikan atau ditambah dengan alat bukti yang lainnya. Jika misalnya ada pihak yang menyatakan bahwa akta tersebut tidak benar, maka pihak yang menyatakan tidak benar inilah yang wajib membuktikan pernyataannya sesuai dengan hukum yang berlaku
2. Kewenangan Khusus Notaris
Kewenangan Notaris ini dapat dilihat dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN, yang mengatur mengenai kewenangan khusus Notaris untuk melakukan tindakan hukum tertentu, seperti: a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan
dengan mendaftarkannya di dalam suatu buku khusus ;
b. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftarkannya dalam suatu buku khusus ;
c. Membuat salinan (copy) asli dari surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan ; d. Melakukan pengesahan kecocokan antara fotokopi dengan surat aslinya ;
e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta ; f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan, atau
g. Membuat akta risalah lelang.
Pasal 15 ayat (2) huruf j UUJN memberikan kewenangan kepada notaris untuk membuat akta di bidang pertanahan. Ada tiga penafsiran dari pasal tersebut yaitu:11
1) Notaris telah mengambil alih semua wewenang PPAT menjadi wewenang Notaris atau telah menambah wewenang notaris.
2) Bidang pertanahan juga ikut menjadi wewenang notaris.
3) Tidak ada pengambil alihan wewenang dari PPAT ataupun dari Notaris, karena baik PPAT maupun notaris telah mempunyai wewenang sendiri-sendiri.
3. Kewenangan Notaris Yang Akan Ditentukan Kemudian
Dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN, dengan kewenangan yang akan ditentukan kemudian adalah wewenang yang berdasarkan aturan hukum lain yang akan datang kemudian (ius constituendum).12Wewenang Notaris yang akan ditentukan kemudian, merupakan
wewenang yang akan ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Batasan mengenai apa yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan ini dapat dilihat dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tetang Peradilan Tata Usaha Negara bahwa:13 Yang dimaksud dengan peraturan perundangan dalam
undang-undang ini ialah semua peraturan yang bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan Rakyat Bersama Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, serta semua keputusan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah, yang juga mengikat secara umum.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian tersebut adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga negara (Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat) atau Pejabat Negara yang berwenang dan mengikat secara umum. Dengan batasan seperti ini, maka peraturan perundang-undangan yang dimaksud harus dalam bentuk undang-undang dan bukan di bawah undang-undang.
C. AKTA OTENTIK YANG DIBUAT DILUAR KEWENANGAN NOTARIS
Kewenangan Notaris adalah kewenangan yang diperoleh secara Atribusi,14 yakni
pemberian kewenangan yang baru kepada suatu jabatan berdasarkan suatu peraturan
12Habib Adjie, Opcit., hal. 82
13Habib Adjie, Opcit., hal. 83
perundang-undangan atau aturan hukum. Notaris diberikan kewenangan oleh peraturan perundang-undangan yakni UUJN, yang berarti juga kewenangan tersebut sebatas apa yang diberikan oleh UUJN.15
Menurut UUJN yakni Pasal 15 Ayat (1), kewenangan Notaris adalah membuat akta dengan batasan :
a. sepanjang tidak dikecualikan pada pejabat lain yang ditetapkan oleh Undang-undang; b. sepanjang menyangkut akta yang harus dibuat atau berwenang membuat akta otentik
mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan;
c. sepanjang mengenai subjek hukum untuk kepentingan siapa akta itu dibuat.
Selain itu Notaris juga diberikan kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.16 Kewenangan lain tersebut diantaranya adalah membuat Akta
Pendirian Perseroan Terbatas (diatur dalam Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas), Akta Jaminan Fidusia (diatur dalam Pasal 5 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia), Surat Kuasa Mebebankan Hak Tanggungan (diatur dalam Pasal 15 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan dengan Tanah), Akta Pendirian Partai Politik (diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik), Akta Pendirian Yayasan (diatur dalam Pasal 9 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan juncto Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan).
Notaris berwenang pula membuat akta In Originali (meski dalam UUJN dimasukkan dalam ketentuan Pasal 16 Ayat (2) dan (3), namun jika melihat substansinya maka hal tersebut merupakan kewenangan Notaris) yakni :
15 Adjie, Op. Cit., hal. 77-78.
1) pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun; 2) penawaran pembayaran tunai;
3) protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimanya surat berharga; 4) akta kuasa;
5) keterangan kepemilikan; atau
6) akta lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Di dalam ketentuan 1868 BW yang lebih mendekati dengan permasalahan yakni :
Suatu akta otentik adalah suatu akta yang dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta itu dibuat.
Melihat ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk memenuhi klasifikasi sebagai akta otentik maka suatu akta harus memenuhi yarat-syarat sebagai berikut :
a) Akta itu harus dibuat oleh (door) atau dihadapan (ten overstan) seorang pejabat umum. Yang dimaksud dengan dibuat oleh yakni akta yang dibuat oleh pejabat umum yang menguraikan secara otentik sesuatu tindakan yang dilakukan atau suatu keadaan yang dilihat atau disaksikan pejabat umum sendiri didalam menjalankan jabatannya, akta seperti ini lazim disebut sebagai Akta Berita Acara (relaas akta) dan yang dimaksud dengan dihadapan adalah bahwa akta tersebut dibuat atas permintaan para pihak yang bersumber dari pernyataan, keterangan, hal tentang hak dan kewajiban maupun syarat-syarat yang dikehendaki para pihak, yang kemudian dikonstantir dalam suatu akta otentik oleh pejabat umum, lazimnya akat seperti ini disebut dengan Akta Para Pihak (partijakte).17
Pejabat umum (openbaar ambtenaar) yang dimaksud adalah sesorang yang diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah dan diberi wewenang dan kewajiban untuk melayani publik dalam hal-hal tertentu.
b) Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang.Bentuk yang telah ditentukan maksudanya adalah bahwa dalam pembuatannya, akta tersbut harus
sesuai dengan bentuk atau format yang telah ditentukan oleh Peraturan Perundangan yang berlaku.
c) Pejabat umum sebagaimana dimaksud harus mempunyai wewenang untuk membuat akta itu.
Pejabat umum yang mempunyai wewenang dapat diartikan berwenang:18
1. Membuat akta otentik yang dibuatnya maksudnya tidak setiap pejabat umum dapat membuat semua akta, akan tetapi seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta-akta tertentu, yakni yang ditugaskan atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan perundang- undangan.
2. Saat akta itu dibuat maksudnya seorang pejabat umum tidak boleh membuat suatu akta dimana pada saat itu dirinya dalam keadaan tidak aktif sebagai pejabat umum (belum disumpah, cuti, pensiun, atau diberhentikan).
3. Sesuai kedudukannya membuat akta itu maksudnya bahwa pejabat umum itu hanya berwenang membuat akta otentik dalam wilayah yang baginya ia berwenang untuk melakukannya, jika akta tersebut dibuat diluar wilayah yang baginya tidak berwenang maka aktanya menjadi tidak sah.
Tindakan Notaris diluar wewenang yang sudah ditentukan tersebut, dapat dikategorikan sebagai perbuatan di luar wewenang Notaris. Jika menimbulkan permasalahan bagi para pihak yang menimbulkan kerugian secara materil maupun immateril dapat diajukan gugatan ke pengadilan negeri. Untuk permasalahan seperti ini, maka Majelis Pengawas atau Majelis Pemeriksa yang dibentuk oleh Majelis Pengawas tidak perlu turut serta untuk menindaknya sesuai wewenang Majelis Pengawas Notaris. Majelis Pengawas Notaris dapat turut serta untuk menyelesaikanya, jika tindakan Notaris sesuai dengan wewenang Notaris.
BAB III
PEMBAHASAN
A. KEWENANGAN NOTARIS DALAM MEMBUAT AKTA OTENTIK
1. AKTA OTENTIK
ini berarti mempunyai kekuatan bukti sedemikian rupa karena dianggap melekatnya pada akta itu sendiri sehingga tidak perlu dibuktikan lagi dan bagi hakim itu merupakan “Bukti wajib/keharusan”.
Berdasarkan Pasal 1868BW merupakan sumber untuk otensitas akta Notaris juga merupakan dasar legalitas eksistensi akta Notaris, dengan syarat-syarat sebagai berikut: a. Akta itu harus dibuat oleh (door) atau dihadapan (tenoverstaan) seorang Pejabat
Umum.
b. Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang,
c. PejabatUmum oleh atau dihadapan siapa akta itu dibuat, harus mempunyai wewenang untuk membuat akta tersebut.
Syarat-syarat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Akta yang dibuat oleh (door) atau dihadapan (tenoverstaan) seorang Pejabat Umum. Pasal 38 UUJN yang mengatur mengenai Sifat dan Bentuk Akta tidak menentukan mengenai Sifat Akta. Dalam Pasal 1 angka7 UUJN, menentukan bahwa akta Notaris adalah akta otentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tatacara yang ditetapkan dalam UUJN.
Akta yang dibuat oleh (door) Notaris dalam praktek Notaris disebut Akta Relaas atau Akta Berita Acara yang berisi berupa uraian Notaris yang dilihat dan disaksikan Notaris sendiri atas permintaan para pihak, agar tindakan atau perbuatan para pihak yang dilakukan dituangkan ke dalam bentuk akta Notaris. Akta yang dibuat di hadapan (tenoverstaan) Notaris, dalam praktek Notaris disebut Akta Pihak, yang berisi uraian atau keterangan, pernyataan para pihak yang diberikan atau yang diceritakan dihadapan Notaris. Para pihak berkeinginan agar uraian atau keterangannya dituangkan kedalam bentuk akta Notaris.
keinginan dan permintaan para pihak Notaris dapat memberikan saran dengan tetap berpijak pada aturan hukum. Ketika saran Notaris diikuti oleh para pihak dan dituangkan dalam akta Notaris, meskipun demikian tetap bahwa hal tersebut tetap merupakan keinginan dan permintaan para pihak, bukan saran atau pendapat Notaris atau isi akta merupakan perbuatan para pihak bukan perbuatan atau tindakan Notaris.
2. KEWENANGAN NOTARIS
Notaris berwenang untuk :
a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tanda tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
b. Membukukan surat-surat di bawah tanda tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus;
c. Membuat copy dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
d. Melakukan pengesahan kecocokan fotocopy dengan surat aslinya; e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta; f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan, atau;
g. Membuat akta risalah lelang.
a. Mengenai Kewenangan Notaris dalam hal Legalisasi terhadap surat dibawah tangan diatur dalam Pasal 15 ayat 2 huruf a UUJN.
Contoh :
Nomor : 01 / L / I / 2010
- Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Amir syamsudin, SH,Mkn, Notaris di Purwokerto, pada hari ini menghadap kepada saya :
1 Tuan ARIEZTA REFYN, swasta, bertempat tinggal di Banyumas, Menteng----Raya, RT 008, Rw. 010, Kelurahan Kedung banteng, Kecamatan Kedung banteng, Purwokerto, Pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor :
Pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor ; 09.5207.030655.0323 Yang dikenal
b. Mengenai Kewenangan Notaris dalam hal Penandaan (waarmerking) terhadap surat dibawah tangan diatur dalam Pasal 15 ayat 2 huruf b UUJN
Contoh :
63/Waar/IV/2009
Dibubuhi cap dan didaftarkan dalam buku pendaftaran yang diadakan khusus untuk itu saya Amir Syamsudin Notaris di Purwokerto pada tanggal 19 September 2009 tanda tangan Notaris dan Cap Jabatan.
c. Kewenangan Notaris dalam hal Coppie Collationnee
Merupakan membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan; Coppie Collationnee ini membuat asli surat-surat yang pernah dibuat dan hendak dipergunakan lagi seperti halnya surat kuasa yang dilekatkan pada Minuta akta Notaris atau dengan kata lain surat kuasa atau surat di bawah tangan lainnya yang diketik ulang, maka agar dapat digunakan oleh pihak yang berkepentingan, maka Notaris membuat Kopi dari asli surat di bawah tangan (Coppie Collationnee), pada akhir atau penutup akta ini disebutkan dibuat sebagai Coppie Collationnee Pasal 15 ayat 2 huruf c UUJN. Coppie Collationnee ada 2 (dua) macam, yaitu;
1) Coppie Collationnee dari Surat di bawah tangan yang telah dilekatkan pada minuta akta Notaris.
Contoh :
Surat kuasa di buat di bawah tangan, tertanggal 10 Nopember 2011, yang telah dijahitkan pada minuta akta saya, Notaris, Nomor 72/CC/2011, Tanggal 16 Nopember 2011, Notaris di Purwokerto.
Tanda tangan Cap Jabatan
2) Coppie Collationnee dari Surat di Bawah Tangan yang setelah dicocokan dengan aslinya di kembalikan lagi kepada yang berkepentingan.
Contoh :
Di keluarkan sebagai salinan yang sama bunyinya “Coppie Collationnee” dari Surat kuasa di buat di bawah tangan, tertanggal 10 Nopember 2011, setelah terhadap fotocopy tersebut yang sesuai dengan surat aslinya, dengan memberi cap jabatan dan tanda tangan Notaris pada fotocopian tersebut atau yang sebagian orang menyebutnya “legalisir” biasanya pengesahan fotocopy ini dibuat oleh Notaris terhadap surat-surat untuk data pelengkap untuk keperluan Notaris dalam menjalankan jabatannya, seperti KTP, Kartu Keluarga, dan surat-surat lainnya, pengesahan fotocopy ini. Diatur dalam Pasal 15 Ayat 2 huruf d UUJN.
Contoh :
Pengesahan fotocopy
Fotocopy ini sesuai dengan aslinya yang diperlihatkan kepada saya, Notaris-PPAT, Purwokerto
Amir Syamsudin, SH, Mkn
Notaris pada dasarnya memiliki kewenangan untuk melakukan penyuluhan hukum terhadap akta yang akan dibuatnya, namun penyuluhan hukum itu sebatas akta masih berupa draft. Karena jika telah menjadi akta dan notaris melakukan penyuluhan hukum, apalagi jika akta tersebut terjadi sengketa dikemudian hari, hal itu telah menyalahi kewenangan yang dipunyai oleh Notaris tersebut dan hal itu dilarang untuk dilakukan. Notaris dilarang melakukan advokasi, karena hal tersebut telah melebihi kewenangannya sebagai seorang Notaris, dalam Undang-undang baik tentang jabata notaris maupun tentang advokat telah ditegaskan bahwa notaris tidak boleh merangkap sebagai advokat begitu pula sebaliknya. Dasar Hukum Pasal 15 ayat 2 huruf e UUJN dan tentang larangan Notaris berperan sebagai advokat diatur dalam Pasal 17 huruf e UUJN.
Pasal 15 ayat (1) UUJN, menegaskan bahwa salah satu kewenangan Notaris, yaitu membuat akta secara umum, dengan batasan sepanjang :
1. Tidak dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
2. Menyangkut akta yang harus dibuat atau berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.
3. Mengenai subjek hukum (orang atau badan hukum) untuk kepentingan siapa akta itu dibuat atau dikehendaki oleh yang berkepentingan.
4. Berwenang mengenai tempat, dimana akta itu dibuat, hal ini sesuai dengan tempat kedudukan dan wilayah jabatan Notaris.
5. Mengenai waktu pembuatan akta, dalam hal ini Notaris harus menjamin kepastian waktu menghadap para penghadap yang tercantum dalam akta.
B. KEDUDUKAN HUKUM AKTA OTENTIK YANG DIBUAT NOTARIS DILUAR KEWENANGANNYA
Wewenang Notaris dalam pembuatan akta otentik sepanjang tidak dikecualikan kepada pihak atau pejabat lain, atau Notaris juga berwenang membuatnya disamping dapat dibuat oleh pihak atau pejabat lain, mengandung makna bahwa wewenang Notaris dalam membuat akta otentik mempunyai wewenang yang umum, sedangkan pihak lainnya mempunyai wewenang terbatas. Pasal 15 UUJN, telah menentukan wewenang Notaris. Wewenang ini merupakan suatu batasan, bahwa Notaris tidak boleh melakukan suatu tindakan di luar wewenang tersebut. Sebagai contoh Notaris dapat memberikan Legal Opinion secara tertulis atas permintaan para pihak. Jika dilihat dari wewenang yang tersebut dalam Pasal 15 UUJN, pembuatan Legal Opinion ini tidak termasuk wewenang Notaris. Pemberian Legal Opinion merupakan pendapat pribadi Notaris yang mempunyai kapasitas keilmuan bidang hukum dan kenotarisan, bukan dalam kedudukannya menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris, sehingga jika dari Legal Opinion menimbulkan permasalahan hukum, harus dilihat dan diselesaikan tidak berdasarkan kepada tatacara yang dilakukan oleh Majelis Pengawas atau Majelis Pemeriksa yang dibentuk oleh Majelis Pengawas, tapi diserahkan kepada prosedur yang biasa, yaitu jika menimbulkan kerugian dapat digugat secara perdata.
Dalam hal kewenangan Pasal 15 ayat (1), Notaris wajib menjamin kepastian hari, tanggal, bulan, tahun dan pukul menghadap yang tercantum atau disebutkan pada bagian awal akta Notaris, sebagai bukti bahwa para pihak menghadap dan menandatangani akta pada hari, tanggal, bulan, tahun dan pukul yang tersebut dalam akta dan semua prosedur pembuatan telah dilakukan sesuai aturan hukum yang berlaku dalam hal ini UUJN. Jika pihak yang tersebut dalam akta merasa menghadap Notaris dan menandatangani akta di hadapan Notaris pada saat yang diyakininya benar, tapi ternyata dalam salinan dan minuta akta tidak sesuai dengan kenyataan yang diyakininya, maka pihak yang bersangkutan melakukan tindakan pengingkaran terhadap kepastian hari, tanggal, bulan, tahun dan pukul menghadap yang tercantum dalam akta. Dalam kaitan ini diperlukan pembuktian dari pihak yang melakukan pengingkaran tersebut dan Notaris yang bersangkutan.
dikualifikasikan melakukan tindak pidana antara lain membuat surat palsu (Pasal 263), melakukan pemalsuan (Pasal 264), mencantumkan atau turut serta melakukan keterangan palsu dalam akta otentik 266 jo 55 atau 56 KUHP.
Menurut Putusan Pengadilan Negeri Surabaya, nomor 260/1981/Pidana, tanggal, 1 Januari 1984, Pengadilan Tinggi Surabaya, nomor 127/Pid/1984/PT. Sby, tanggal 5 Juli 1984 dan Mahkamah Agung nomor 942/Pid/1984, tanggal 28 September 1985, serta Pengadilan Tinggi Surabaya, nomor 270/Pid/1984/PT. Tertanggal 14 April 1986 putusan terhadap pokok perkara, bahwa pembuatan akta pihak, Notaris hanya sekedar mengkonstatir saja apa yang diinginkan atau dikehendaki oleh penghadap yang bersangkutan, dengan cara mencatat, kemudian menyusunnya agar sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, dan kalau sudah selesai dengan kehendak penghadap, maka penghadap diminta untuk membubuhkan tanda tangannya serta menulis nama terangnya, hal ini merupakan prosedur pembuatan akta Notaris akta pihak. Jika kemudian ternyata terbukti bahwa yang menghadap Notaris tersebut bukan orang yang sebenarnya atau orang yang mengaku asli, tapi orang yang sebenarnya tidak pernah menghadap Notaris, sehingga menimbulkan kerugian orang yang sebenarnya. Pertanggungjawaban pidana dalam kejadian seperti tersebut diatas, tidak dapat dibebankan kepada Notaris, karena unsur kesalahannya tidak ada, dan Notaris telah melaksanakan tugas jabatan sesuai aturan hukum yang berlaku, sesuai asas tiada hukum tanpa kesalahan, dan tiada kesalahan yang dilakukan oleh Notaris yang bersangkutan, maka Notaris tersebut harus dilepas dari tuntutan.
Jadi didalam lingkup kewenangan Notaris yang kemudian dapat timbul permasalahan hukum atau tuntutan terhadap Notaris maka keadaan tersebut diberlakukan asas praduga sah dalam menilai akta Notaris.
2. KEDUDUKAN AKTA OTENTIK YANG DIBUAT NOTARIS DILUAR KEWENANGANNYA
No. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris dan pasal 17 Undang-Undang No. 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, seorang Notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah kabupaten atau kota serta mempunyai wilayah jabatan yang meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya, seorang Notaris tidak dapat menjalankan jabatannya diluar wilayah jabatannya.
Pendalaman Pasal 19 ayat (2) disebutkan bahwa Notaris tidak berwenang secara teratur menjalankan jabatan diluar tempat kedudukannya maka dapat dihubungkan Notaris sebagai pejabat umum harus bertindak sesuai kedudukannya dalam membuat akta bahwa pejabat umum itu hanya berwenang membuat akta otentik dalam wilayah yang baginya ia berwenang untuk melakukannya, jika akta tersebut dibuat diluar wilayah yang baginya tidak berwenang maka aktanya menjadi tidak sah.
Berikut adalah uraian mengenai pembuatan akta otentik diluar kewenangan wilayah Notaris:19
Seorang Notaris yang berkedudukan di Bekasi, berhak untuk membuat akta di Bandung, Cirebon, Sukabumi, dan lain sebagainya. Karena daerah-daerah tersebut masih masuk dalam wilayah kerjanya (provinsi Jawa Barat). Namun, dia tidak berhak untuk membuat akta di Tangerang. Walaupun kalau secara jarak, lebih dekat dengan Bekasi. Karena Tangerang sudah masuk dalam Provinsi Banten.
Yang dimaksud dengan “membuat akta” di sini adalah hadir di hadapan para penghadap (subjek perjanjian), membacakan dan menanda-tangani akta tersebut.
Sebaliknya, Pembuatan akta pendirian PT yang berkedudukan di Medan, sedangkan pembuat aktanya adalah Notaris Kabupaten Cianjur.
Seperti pada konsep pembuatan perjanjian pada umumnya, asalkan pada saat pembuatan akta pendirian PT tersebut dilakukan oleh para pendiri, yang hadir dan
pembuatan-akta-pendirian-pt-menanda-tangani akta pendirian tersebut di hadapan Notaris Kabupaten Cianjur, serta para penghadap tersebut memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 39 UU No. 30/2004, maka akta pendirian tersebut sah dan diperbolehkan.
Pasal 39 UU No. 30/2004 menyebutkan bahwa: (1) Penghadap harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Paling sedikit berumur 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah; dan b. Cakap melakukan perbuatan hukum.
(2) Penghadap harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) orang saksi pengenal yang berumur paling sedikit 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah dan cakap melakukan perbuatan hukum atau diperkenalkan oleh 2 (dua) penghadap lainnya.
(3) Pengenalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan secara tegas dalam akta. Selanjutnya, demikian pula dalam hal misalnya akan dilaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”) yang mengubah anggaran dasar, susunan direksi/komisaris maupun struktur pemegang saham PT yang berkedudukan di Medan tersebut. Hal-hal tersebut juga akan dilakukan oleh Notaris Kabupaten Cianjur, karena memang pelaksanaan RUPS-nya dilaksanakan di Cianjur. Hal tersebut dapat juga dilakukan asalkan memenuhi ketentuan dalam Pasal 76 ayat (4) UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UU No. 40/2007”) yaitu, seluruh pemegang saham hadir dan/atau diwakili dan agenda RUPS-nya sesuai dengan undangan rapat. Dalam hal ada pemegang saham yang tidak hadir dan/atau diwakili, maka yang berlaku adalah ketentuan dalam Pasal 76 ayat (1) UU No. 40/2007 yaitu harus di tempat kedudukan PT tersebut.
kedudukan pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau akta Notaris batal demi hukum atau akta Notaris dibatalkan oleh para pihak sendiri dengan akta Notaris lagi, maka pembatalan akta Notaris yang lainnya tidak berlaku. Hal ini berlaku pula untuk asas Praduga Sah. Asas Praduga Sah ini berlaku, dengan ketentuan jika atas akta Notaris tersebut tidak pernah diajukan pembatalan oleh pihak yang berkepentingan kepada pengadilan umum (negeri) maka akta Notaris tersebut tidak mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau tidak batal demi hukum karena tidak dibatalkan oleh para pihak sendiri. Dengan demikian penerapan Asas Parduga Sah untuk akta Notaris dilakukan secara terbatas, jika ketentuan sebagaimana tersebut di atas dipenuhi.
Meskipun demikian kedudukan akta Notaris telah :
1. Diajukan pembatalan oleh pihak yang berkepentingan kepada pengadilan umum (negeri) dan telah ada putusan pengadilan umum yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, atau
2. Batal demi hukum, atau
3. Mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan, atau 4. Dibatalkan oleh para pihak sendiri, atau
5. Dibatalkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena penerapan asas Praduga Sah.
Setelahnya terhadap minuta akta-akta tersebut tetap harus berada dalam bundel akta Notaris yang bersangkutan Pemberian salinan tersebut dilakukan oleh Notaris, karena akta Notaris tersebut merupakan perbuatan para pihak, dan para pihak berhak atas salinan akta Notaris dan Notaris berkewajiban untuk membuat dan memberikan salinannya.
Untuk menentukan akta notaris yang mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan atau akan menjadi batal demi hukum, dapat ditentukan dari:
a. Ketentuan pasal-pasal tertentu yang menegaskan secara langsung jika notaris melakukan pelanggaran, maka akta yang bersangkutan termasuk akta yang mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, maka dikembalikan kepada ketentuan-ketentuan dalam KUH Perdata mengenai akta batal demi hukum.
Akta notaris batal atau batal demi hukum atau mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan terjadi karena tidak dipenuhinya syarat-syarat yang sudah ditentukan menurut hukum, tanpa perlu adanya tindakan hukum tertentu dari yang bersangkutan yang berkepentingan. Oleh karena itu, kebatalan bersifat pasif, artinya tanpa ada tindakan aktif (yaitu para pihak yang ingin membatalkan perjanjian karena sebab tertentu ingin tidak dilangsungkannya perikatan yang termuat dalam akta tersebut) atau upaya apapun dari para pihak yang terlibat dalam suatu perjanjian, maka akan batal atau batal demi hukum karena secara serta merta ada syarat-syarat yang tidak dipenuhi.20
Pembuatan akta notariil yang tidak memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam ketentuan perundang-undangan maka akta berakibat batal demi hukum. Hal ini sudah dapat dilihat dari putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 80/Pdt.G/1987/PN.Sby, tanggal 30 April 1987, Pengadilan Tinggi Jawa Timur Nomor 58/Pdt/1988/PT.Sby, tanggal 28 Pebruari 1988 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1462 K/Pdt/1989, tanggal 29 Nopember 1993 menyatakan bahwa suatu akta menjadi batal demi hukum jika akta tersebut bertentangan dengan aturan hukum.21
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akta notariil mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan jika disebutkan dengan tegas dalam pasal-pasal yang bersangkutan. Jika tidak disebutkan dengan tegas dalam pasal yang bersangkutan, maka termasuk sebagai akta menjadi batal demi hukum (berdasarkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap) jika tidak memenuhi unsur-unsur yang ditetapkan oleh undang-undang.
20 Habib Adjie, 2013, Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris, Cet. II, PT. Refika Aditama, Bandung, hal. 67.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah disesuaikan pada bab sebelumnya maka diambil kesimpulan sebagai berikut:
formil maupun secara materiil. Setelah akta yang diinginkan para pihak selesai dibuat, muncul tanggungjawab lain dari Notaris yaitu menyimpan Minuta akta serta Notaris harus siap memberikan keterangan dimuka pengadilan bilamana akta yang dibuat dihadapan Notaris menuai permasalahan.
2. Kewenangan Notaris sebagaimana diatur dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 jo Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris terbagi menjadi 3, yakni Kewenangan Umum Notaris terdapat dalam ayat (1), Kewenangan Khusus Notaris terdapat dalam ayat (2) dan Kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian terdapat dalam ayat (3). Kewenangan ini merupakan suatu batasan, bahwa Notaris tidak boleh melakukan suatu tindakan di luar wewenang tersebut.
Selain ketiga kewenangan di atas, Notaris memiliki wewenang di bidang pertanahan dengan catatan sepanjang bukan wewenang yang telah ada pada PPAT.
3. Dalam hal akta otentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menjadi permasalahan maka status akta otentik itu sendiri dapat berubah dan dapat didegradasi keotentikanya. Kebatalan dan pembatalan dalam akta yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris yaitu: akta dapat dibatalkan jika akta tidak memenuhi syarat subjektif sahnya suatu perjanjian, akta batal demi hukum atau mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan karena tidak terpenuhinya syarat-syarat yang sudah ditentukan menurut hukum, akta dibatalkan oleh para pihak karena sebab tertentu ingin tidak dilangsungkannya perikatan yang tertuang dalam akta, dan pembatalan dapat dilakukan atas dasar dibuktikan dengan asas praduga sah yang mana akibat hukum yang timbul atas akta adalah sesuai dengan keputusan pengadilan.
B. SARAN
1. Notaris dalam menjalankan jabatannya harus lebih berhati-hati dalam melakukan pelayanan terhadap kehendak para pihak yang menghendaki adanya akta otentik yang dibuat di hadapan Notaris sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 jo Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, serta peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan jabatan Notaris.
2. Notaris tetap berpegang teguh terhadap sumpah Jabatan Notaris yakni melaksanakan jabatan dengan amanah, jujur, seksama, mandiri dan tidak berpihak.
3. Notaris hendaknya lebih teliti dalam menerima berkas-berkas data identitas berikut dokumen yang dilampirkan oleh para pihak yang menghadap dan mempelajari dengan seksama kasus atau perbuatan hukum apa yang akan dituangkan bentuk akta otentik.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
G.H.S Lumban, Tobing.1983. Peraturan Jabatan Notaris. Erlangga. Jakarta.
Adjie, Habib.2008. Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Refika Aditama, Bandung.
Koesoemawati, Ira dan Rijan, Yunirman. 2009. Kode Etik Notaris, Mengenal Profesi Notaris, Memahai Praktik Kenotariatan, Ragam Dokumen Penting Yang Diurus Notaris dan Tips Tidak Tertipu Notaris. Raih Asa Sukses. Jakarta.
F.X. Ngadijarnoet all., 2006, Lelang Teoridan Praktek, Jakarta.
B. Undang – Undang
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
Undang-undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
C. Internet