Judul Asli : “Fiqh Al Janazah” Judul Terjemah : Fikih Jenazah
Penulis : Muhammad Bayumi
Penerbit : Maktabah Iman, Mansurah, Mesir
Cetakan :
-Jumlah halaman Asli : 147 Jumlah halaman Terjemah : 245
Fikih Jenazah
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang Segala puji bagi Allah yang maha esa. Shalawat beriringkan salam kita hadiahkan kepada nabi terakhir, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
Dan begitulah,
Buku yang kini tengah berada di tangan anda ini merupakan buku yang menerangkan tentang berbagai hukum jenazah dan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan materi tersebut. Tentu saja, cara penulisan buku ini mempergunakan susunan kalimat yang sederhana dan mudah difahami.
Di samping itu, buku ini juga banyak memberikan peringatan tentang beberapa ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita. Mereka menganggap bahwa semua itu dapat bermanfaat bagi orang yang telah meninggal! Padahal, pada kenyataannya tidak begitu. Karena, nilai kemanfataan itu hanya akan didapat dengan mengikuti petunjuk nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan semua ajaran yang termaktub; baik dalam teks al Quran maupun as Sunnah.
Hanya Allah-lah yang mengetahui seluruh maksud dan tujuan manusia. Dan Dia-lah yang telah menunjukkan jalan bagi manusia....
Penulis,
Imam Nawawi berkata: “Kalimat: ‘Janazah’ diambil dari kalimat (Janaza = زنج). Kalimat tersebut dipergunakan apabila jenazah orang yang meinggal telah ditutupi kain kafan. Hal ini telah diterangkan oleh Ibnu Faris dan ulama-ulama lainnya. Sedangkan Fi’il Mudhari’ (kalimat yang menunjukkan pada waktu yang tengah berlangsung) dari kalimat Janazah adalah (Yajnizu = زنجي). Dengan memberikan tanda kasrah pada huruf nun. Kalimat (janazah = ةزانج) sendiri dapat mempergunakan kasrah dan fathah pada huruf jim (jinaazah atau janaazah).
Akan tetapi, penggunaan kasrah akan lebih baik (jinaazah). Ada sebagian ulama yang mengatakan penggunaan fathah (janaazah) hanya untuk orang yang telah dicabut nyawanya saja. Sedangkan penggunaan kasrah (jinaazah) hanya untuk tandu pembawa mayat. Akan tetapi, ada sebagian ulama yang berpendapat sebaliknya. Susunan ini diterangkan oleh pemilik kitab “Al Mathaali’”. Kata plural dari kalimat ‘janaazah’ atau ‘jinaazah’ adalah (janaaiz = زئانج). Dan tidak ada pendapat lagi selain ini.1 Para ulama
tersebut mengatakan bahwa kalimat (An Na’syu = شعنلا) yang memiliki arti keranda, tidak akan dipergunakan, kecuali untuk tempat yang biasa dipergunakan untuk mengusung jenazah orang yang telah meninggal.
Dan sebelum kita berbicara tentang berbagai hukum yang berkaitan dengan jenazah, saya akan membicarakan beberapa hal yang berhubungan dengan sebelum terjadinya kematian, di antaranya:
I. Persiapan Menuju Kematian
Hendaknya, di setiap saat, setiap hamba berusaha untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian. Karena, kematian
1 Anda dapat melihatnya pada “Syarh an Nawawi” atas kitab:
akan datang secara tiba-tiba. Sehingga, kematian tidak datang pada tahun tertentu atau waktu tertentu. Kematian juga tidak akan datang dengan sebab penyakit tertentu. Oleh karena itu, yang seharusnya diperhatikan oleh setiap manusia hidup adalah: Mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan panjang ini. Karena, seorang hamba tidak akan mengetahui, kapan ketentuan Allah tersebut datang kepadanya. Ia juga tidak akan tahu, kapan ia akan dipanggil untuk menghadap Tuhannya.2
Dan ketika seorang hamba telah mengetahui bahwa dirinya akan dipanggil Allah pada saat kapan-pun, sesuai dengan kehendak-Nya, maka hendaknya ia mempersiapkan diri untuk hari itu dengan menabung amal shalih, tetap berjalan di jalan Allah dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang akan membawa dirinya pada kemurkaan Allah. Allah berfirman dalam al Quran: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya."3
Dari Barra bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sekelompok orang yang menggali kuburan. Mereka terlihat menangis. Bahkan, air mata mereka mengalir dengan deras. Maka, pada saat itu Rasulullah bersabda: “Saudara-saudaraku akan seperti ini. Maka, bersiap-siaplah kalian.” Adapun maksud dalam kalimat ‘bersiap-siap’ di sini adalah: Hendaknya setiap orang berusaha sekuat tenaga mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang telah ditentukan Allah tersebut.
“Wahai orang sombong! Berfikirlah tentang kematian dan sakit yang mengiringinya. Rasakanlah sulit dan pahitnya. Wahai kematian! Bagai sebuah janji yang tidak dapat aku ingkari.
2 Lihat: “Shaid al Khaathir”, milik Ibnu Jauzi, H: 10, Cet:
Maktabah Iman, Mansurah, Mesir.
Seorang hakim yang tidak dapat aku adili...Cukuplah kematian membawa kebahagiaan dalam hati dan membuat air mata ini berlinang...Cukuplah kematian memisahkan sekelompok orang, memutus tali kenikmatan dan harapan. Wahai anak Adam! Apakah kalian sempat berfikir tentang hari ketika nyawa kalian dicabut dan kalian harus berpindah dari dunia yang kamu tempati sekarang?”
Apa yang Anda rasakan, seandainya Anda terpaksa harus berpindah dari satu tempat yang luas ke dalam tempat yang sangat sempit? Apa yang anda rasakan, ketika Anda melihat sahabat dan teman karib Anda tidak lagi setia menemani Anda? Apa yang Anda rasakan, seandainya Anda juga ditinggalkan oleh saudara dan teman? Ketika Anda harus berpindah dari tempat tidur dengan selimut yang empuk, ke tempat yang menjijikkan. Dimana Anda hanya berselimutkan debu dan tanah!
Wahai orang-orang yang senang mengumpulkan harta dan membangun istana yang megah! Kalian tidak akan memiliki apapun, kecuali kain kafan. Bahkan, semua harta dan istana kalian-lah yang akan merusak dan menghancurkan kalian. Dan pada akhirnya, jasadmu hanya akan diselimuti debu dan kembali ke tempat asalmu.”4
“Wahai anak Adam! Bayangkanlah kematian sebelum engkau mengingat setiap kelalaian yang engkau lakukan. Sehingga, tidak terasa, engkau merasa ingin kembali ke dunia. Tanyalah waktu, berapa orang yang mengharapkan datangnya perbuatan baik. Sayangnya, harapan yang menjadi impian malah menjadi bahan cercaan. Sehingga, nasehat tidaklah cukup menjadi bekal kematian. Tidak juga keterangan yang dapat menyembuhkan mereka, orang-orang yang tengah berada di pembaringan. Waktu yang terus bergulir telah ia sia-siakan. Padahal, saat itu, ia mampu melakukannya.
Dan sekarang, Anda yang hanya beberapa langkah lagi dari pintu kematian, tidakkan Anda mendengar perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ditujukan kepada Ibnu Umar: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau melintas di jalanan.” Dan pada saat itu Ibnu Umar berkata: “Apabila kamu tengah berada di waktu sore, janganlah kamu menunggu pagi. Dan ketika kamu berada di waktu pagi, janganlah kamu menunggu datangnya sore. Pergunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” Dalam satu riwayat dikatakan: “Persiapkanlah dirimu, untuk menjadi bagian dari ahli kubur.”
II. Memperbanyak Mengingat Kematian
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan. Yaitu, kematian.”5 Yang dimaksud
dengan penghancur di sini adalah pemutus.
Ketahuilah wahai hamba Allah! Mengingat kematian akan melahirkan perasaan gelisah. Ya, gelisah dalam menjalani kehidupan dunia yang bersifat sementara ini. Sehingga, setiap saat, manusia akan berusaha untuk memalingkan wajahnya kepada kehidupan akhirat. Kemudian, manusia juga tidak akan terlepas dari dua kondisi kehidupan; kesempitan dan keluasan, kenikmatan dan cobaan.
Ketika manusia tengah didera oleh kesempitan dan cobaan berat, mereka akan dengan mudah mengingat kematian. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama. Padahal, kematian lebih sulit dari apa yang tengah dihadapinya. Dan ketika ia berada dalam keluasan dan mendapatkan nikmat, maka mengingat
5 Hadits Shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad, Tirmidzi, Nasai,
kematian akan terasa sulit. Oleh karena itu, baik sekali untuk mendengar perkataan seseorang:
Ingatlah kematian sebagai pemutus kenikmatan
Persiapkanlah diri menuju kematian, karena hari itu akan datang.
Sebagian orang lagi berkata:
Ingatlah hari kematian, maka kamu akan merasakan ketenangan
Ketika mengingat kematian, harapan-pun akan menyurut
Sebagian orang shalih, biasanya memanggil-manggil orang yang telah meninggal, di malam hari. Mereka berdiri di dekat dinding-dinding kota Madinah: “Wahai orang yang telah pergi....wahai orang yang telah pergi...” Ketika orang itu meninggal, gubernur Madinah merasa kehilangan suara tersebut. Maka, ia-pun bertanya tentang keberadaan orang tersebut. Seseorang mengatakan kepadanya bahwa laki-laki tersebut telah meninggal dunia. Maka, sang gubernur-pun berkata:
Masih melekat erat dalam fikirannya tentang orang yang pergi itu dan ia masih mengingatnya
Sampai akhirnya seekor unta berlutut di depan pintunya Maka, tiba-tiba ia-pun terperanjat dan berputar,
Ia memiliki kesiapan, sehingga tidak akan kehilangan harapan-harapannya
tetapi, ketika hati mulai lupa untuk mengingat kematian, maka musuh ini akan masuk dari pintu kelalaian.”6
Syaikh Daqqaq berkata: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: Dipercepat pintu taubatnya, selalu memiliki kepuasan hati dan semangat dalam menjalankan ibadah.
Dan barang siapa yang melupakan kematian, maka mereka akan disiksa dengan tiga perkara: Penangguhan pintu taubat, tidak pernah merasa puas, dan bermalas-malasan dalam menjalankan ibadah.”7
III. Ziarah Kubur
Salah satu perbuatan yang dapat mengingatkan manusia pada kematian. Sehingga, manusia akan bersiap-siap menuju pintu kehidupan abadi adalah: Ziarah kubur.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berziarah ke kubur ibunya. Maka, beliau-pun menangis. Hal itu membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya juga menangis. Pada saat itu, nabi berkata: ‘Aku meminta idzin kepada Allah untuk memintakan ampunan baginya. Akan tetapi, Allah tidak mengidzinkanku. Kemudian, aku meminta idzin kepada Allah untuk menziarahi kuburnya. Maka, Allah-pun mengidzinkanku. Oleh karena itu, ziarahilah kuburan. Karena, ziarah kubur akan mengingatkan kita pada kematian.”8
Maka, datang dan berziarah ke kuburan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengingat kematian. Sehingga, barang siapa yang melihat jasad yang tergolek dalam kuburan, ia akan mengingat
6 Lihat: “Mawaa’idh Ibnu Jauzi: Al Yaqutah”, H: 63, Cet: Daar al
Fadhilah.
bahwa dirinya-pun akan dipertemukan dengan mereka. Oleh karena itu, bayangkanlah tentang para penghuni kuburan. Dimulai dari rakyat biasa dan orang-orang besar, raja-raja dan rakyatnya, para pangeran dan orang-orang lemah. Bagaimana kematian menghampiri mereka. Sehingga, siapa-pun dan dari mana kedatangan mereka, Allah tetap menempatkan mereka dalam sebuah penantian. Ya, penantian untuk sebuah pengampunan dari Tuhan mereka...
Tidak ada satu-pun yang bermanfaat bagi mereka. Tidak ada satu-pun yang dapat memberikan keuntungan. Tidak ada satupun yang mampu menmerikan dorongan bagi mereka untuk bangun dan bangkit. Tidak ada satu-pun anak ataupun ayah yang memberikan keringanan syafaat bagi mereka. Tidak ada harapan bagi mereka, selain kasih sayang Tuhan semesta alam. Karena, yang bermanfaat pada saat itu hanyalah amal shalih dan ajaran yang benar: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.”9
IV. Penulisan Wasiat
Sebaiknya, hamba Allah mempercepat penulisan wasiat. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Tidak selayaknya seorang muslim yang menginap sebanyak dua malam. Kemudian, ia memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, kecuali mencatat wasiatnya tersebut di dekat bagian kepalanya (bantal).” Kemudian, Ibnu Umar berkata: “Semenjak aku mendengarkan sabda Rasulullah tersebut, aku tidak melewati malam-malamku. Kecuali, aku telah memiliki wasiat.”10
Dan disunnahkan bagi orang yang memberikan warisan untuk
memberikan wasiat kepada kerabatnya yang tidak mendapatkan hak waris. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah: “Diwajibkan
9 Lihat: “Tashliyat al Mushab ‘Inda Faqdi al Ahbab”, Muhammad
Abdul Salam, H: 133-134.
atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.”11
Akan tetapi, hendaknya wasiat ini tidak lebih dari sepertiga harta yang hendak diwariskan. Bahkan, akan lebih baik lagi apabila kurang dari satu per tiganya. Dalam kitab “Shahihain” dikatakan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta yang berlimpah. Tidak ada satu-pun yang menjadi pewaris hartaku. Kecuali, putriku semata wayang. Apakah aku harus mewasiatkan tiga per dua harta tersebut?” Maka, Rasulullah-pun menjawab: ‘Tentu saja tidak.” Kemudian, Sa’ad bin Abi Waqqash bertanya lagi: “Dengan setengah harta tersebut?” Rasulullah-pun menjawab: ‘Bukan”,
Sa’ad bertanya lagi: “Mungkin dengan satu per tiga hartaku?’ Maka Rasulullah menjawab: “Ya, satu per tiga. Dan itu-pun lebih dari banyak.” Kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meneruskan: “Wahai Sa’ad, lebih baik kamu membiarkan ahli warismu dalam keadaan kaya. Dari pada kamu membiarkan mereka miskin dan meminta-minta kepada orang lain.” Dalam kitab “Shahih Bukhari” disebutkan bahwasanya Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: “Seandainya manusia memberikan kurang dari satu per tiga sampai satu per empat, maka Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam akan berkata: “Satu per tiga. Itu-pun, sudah lebih dari banyak.”
Kedua orang tua dan para kerabat yang mendapatkan hak waris
dari orang yang mewasiatkan tidak sah mendapatkan wasiat. Karena, hukum kebolehan mereka telah dihapus oleh ayat waris. Dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah menerangkan masalah ini dengan sangat terperinci pada saat
khutbah haji wada’. Pada saat itu, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada orang yang berhak mendapatkannya. Oleh karena itu, tidak ada wasiat bagi orang yang mendapatkan hak waris.”12
Dan diharamkan melakukan wasiat yang membahayakan pihak-pihak tertentu, seperti: mewasiatkan agar harta yang dimilikinya tidak boleh diberikan kepada para pewarisnya. Atau, mengutamakan sebagian ahli waris dibanding ahli waris yang lainnya. Dan seandainya orang yang mewariskan tersebut masih tetap melakukan hal tersebut, maka wasiatnya dianggap tidak sah dan tidak dapat diterima. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Barang siapa yang membuat-buat sesuatu yang baru dalam ajaran kita. Padahal, sesuatu tersebut bukan bagian dari ajaran kita. Maka, tidak dapat diterima.”13
Seorang muslim hendaknya menghitung jumlah harta dan hak yang
harus diberikannya dalam wasiat. Di samping, berbagai hal yang berhubungan dengan amanat dan wasiat. Sehingga, hak orang-orang tidak hilang begitu saja di tangannya. Dan ia akan menanggung dosa hak-hak yang hilang tersebut.
Sebaiknya seorang Muslim memberikan wasiat terhadap
keluarganya untuk bertakwa dan taat kepada Allah. Selain itu, seorang muslim hendaknya juga memberikan wasiat kepada keluarganya untuk melaksanakan berbagai kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Tidak menjerit-jerit ketika dirinya meninggal, memukul-mukul pipi, menyobek pakaian dan mengucapkan hal-hal yang akan membuat murka Allah.
12 Hadits Hasan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan
Baihaqi.
Ketika berwasiat, seorang muslim dianjurkan untuk menghadirkan
dua orang saksi yang adil. Dengan harapan, isi wasiatnya tidak akan dirubah atau diganti ketika dirinya telah meninggal dunia.
Ketika berwasiat, dianjurkan untuk memulainya dengan bacaan basmalah yang diiringi oleh bacaan hamdalah. Setelah itu, mengucapkan shalawat kepada nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Untuk selanjutnya membaca seperti ini: “Ini merupakan wasiat seorang fakir yang merindukan pengampunan dari Tuhannya.” Kemudian, hendaknya orang tersebut meneuskan: “Dan pada saat membuat wasiat ini, saya dalam kondisi sehat; baik secara fisik maupun mental.
Saya berwasiat dengan bersaksi bahwa sessungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah yang maha esa. Tidak ada ada sekutu baginya. Dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Keberadaan surga itu benar dan neraka juga benar. Dan hari kiamat pasti akan datang. Dan Allah akan membangkitkan siapa saja yang berada di dalam kubur.
Wasiat saya yang pertama ditujukan untuk keluarga dan keturunan saya adalah: Bertakwalah kalian kepada Allah Subhaanahu Wata’aala, dengan melakukan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Melaksanakan shalat lima waktu, memegang teguh dan mempertahankan ajaran agama Islam, menjaga tali silaturahmi dan kekerabatan di antara kalian. Dan ketahuilah, bahwa dunia ini akan mendekati kiamat. Dan kebahagiaan akan ditemukann ketika bertemu Allah Subhaanahu Wata’aala. Dan Allah juga merasa senang ketika bertemu dengan hambanya tersebut.” Setelah itu, barulah ia menyebutkan sisa wasiatnya.
Orang yang sakit hendaknya menerima sakit yang diberikan oleh Allah dengan lapang dada. Di samping itu, ia juga harus berusaha untuk bersabar dalam menerima seluruh ketentuannya. Dan hal tersebut sangat baik baginya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang-orang yang beriman memang menakjubkan. Semua perbuatannya baik. Dan semuanya itu tidak dimiliki oleh siapapun. Kecuali, orang yang beriman. Seandainya mereka mendapatkan kebaikan, maka mereka bersyukur dan menganggap itulah yang terbaik baginya. Dan seandainya mereka ditimpa keburukan, mereka akan bersabar dan menganggap semua itu adalah yang terbaik bagi mereka.”14
Dari ‘Atha bin Abi Rabah, ia berkata: “Ibnu Abbas berkata kepada saya: ‘Maukah kuperlihatlkan kepadamu perempuan ahli surga?’ Maka akupun berkata: ‘Ya, tentu.’ Ia berkata: ‘Perempuan kulit hitam ini telah datang kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: ‘Aku menderita penyakit epilepsi. Sehingga, pakaianku terbuka (tanpa sadar). Mintakanlah doa untukku.’ Maka, Rasulullah berkata: “Seandainya kamu memilih bersabar, maka kamu akan mendapatkan surga. Dan seandainya kamu memilih yang lain, maka aku telah mendoakan kesembuhanmu.’ Perempuan itu-pun menjawab: “Aku akan bersabar.’ Kemudian, ia meneruskan perkataannya: ‘Bajuku telah tersingkap. Maka, doakanlah agar di lain waktu tidak tersingkap lagi.’ Maka Rasulullah-pun mendoakan perempuan tadi.”15
Orang yang sedang dalam sakit hendaknya mengetahui bahwa sakit akan menghilangkan dosa-dosa. Dan setiap kali penyakit itu bertambah parah, maka dosa-dosa-pun akan terhapus dengan cepat. Dari Abu Sa’id al Khudriyyi dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Segala sesuatu yang menimpa seorang Muslim
14 HR. Muslim
dari rasa lelah, penyakit menahun, sedih, dilukai, dirampas sampai terkena duri, maka Allah akan menggantinya dengan menghapus dosa-dosanya.”16
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pada saat itu, ia terlihat demam. Saya-pun menyentuhnya dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, Anda tengah mengalami demam tinggi!’ Maka, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Benar, aku tengah mengalami demam. Sama seperti dua orang sahabat kalian yang mengalaminya.’ Maka saya-pun berkata: “Engkau benar-benar telah mendapatkan dua pahala.” Rasulullah menjawab: ‘Benar, dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang manusiapun yang hidup di tanah Muslim, kemudian ia tertimpa sebuah penyakit dan lain sebagainya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya. Sebagaimana Allah telah menggugurkan dedaunan dari pohon.”17
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ketika bencana masih menimpa orang-orang mukmin dan mukminah; baik pada fisiknya, harta ataupun anaknya, maka Allah akan membuang seluruh dosa-dosa mereka.”18
Dan seorang hamba hendaknya mengetahui bahwa bencana yang
sangat besar hanya dikhususkan untuk orang-orang pilihan. Pada saat itu, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah ditanya tentang manusia seperti apa yang mendapatkan bencana yang begitu besar? Sang Rasul menjawab: “Para nabi. Kemudian, orang-orang shalih. Setelah itu, manusia-manusia yang
16 HR. Muttafaq ‘Alaihi 17 HR. Muttafaq ‘Alaihi
18 Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Dan
memiliki kedudukan yang serupa dengan itu dan kemudian yang serupa dengan itu. Seseorang akan diberikan bencana sesuai dengan kapasitas keimanannya. Seandainya ia memiliki iman yang kuat, maka bencana yang diterimanya akan ditambah. Dan seandainya ia memiliki iman yang rendah, maka bencana yang akan didapatnya diringankan. Dan selama bencana dan musibah itu dirasakan seseorang, maka ia tidak akan memiliki dosa selama hidupnya di dunia ini.”19
Dari Abu Sa’id al Khudriyyi Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Saya menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pada saat itu, beliau tengah mengalami demam. Maka, akupun meletakkan tanganku di tubuhnya. Maka, panas yang menjalar dari tubuhnya sampai ke kedua tanganku. Padahal, kedua tanganku berada di atas selimut. Maka, saat itu aku berkata: “Wahai Rasulullah, panas anda sangat tinggi.” Ketika itu Rasulullah menjawab: “Begitulah, setiap kali musibah yang ditimpakan kepada kita berlipat, maka berlipat-lipat pula pahala yang akan kita terima.” Maka, saya-pun berkata kembali: “Wahai Rasulullah, orang seperti apa yang mendapatkan bencana paling besar?” Kemudian, Rasulullah menjawab: “Para nabi”, saya-pun bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang shalih.”20
Orang yang terkena musibah juga harus menyadari bahwa pemberi musibah itu adalah dzat yang maha adil dan maha penyayang. Dan Allah tidak akan mengirimkan bencana tersebut untuk menghancurkannya atau menyiksanya. Allah juga tidak menurunkan musibah tersebut untuk meluluh lantakkannya. Akan tetapi, semua itu Ia lakukan untuk menguji kesabaran, kerelaan dan
19 Hadits Hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu
Majah
20 Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Abu Ya’la,
keimanannya. Di samping, untuk mendengar permohonan dan doanya. Bagaimana hambanya mengetuk pintu-Nya. Terdiam merenungi nasib dengan hati tercabik memohon kepada-Nya, mengangkat kedua tangan mengadukan seluruh penderitaannya.”21
Allah sendiri telah mencela orang-orang yang tidak memohon dan menyerahkan diri kepada-Nya, pada saat musibah telah datang menerpa dirinya. Allah berfirman dalam al Quran: “Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka. Maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka. Dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.”22 Dan mengadukan permasalahan kepada Allah harus disertai oleh kesabaran dan kerelaan.
Orang yang sakit juga harus memiliki prasangka baik terhadap Tuhannya. Di samping, mengingat kasih sayangnya yang begitu berlimpah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman: “Aku tergantung kepada prasangka hambaku.23 Dan aku
21 Lihat: “Tasliyat Ahl al Mushab”, Muhammad Menji Halabi, H: 213 22 QS. Al Mukminuun: 76
23 Tegasnya: Allah berfirman: “Aku dapat melakukan apapun yang
diperkirakan hambaku bahwa aku akan melakukannya.” Dalam konteks di atas, lebih mengedepankan sisi permohonan dari pada rasa takut.
akan bersama mereka ketika mereka mengingat-Ku. Seandainya mereka mengingatku dalam jiwanya, maka aku-pun akan mengingat mereka dalam jiwa-Ku. Dan seandainya mereka mengingat-Ku di suatu tempat, maka Aku akan mengingat mereka di suatu tempat yang lebih baik dari tempat mereka.”24
Dari jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Tiga hari sebelum kematiannya, saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkan: ‘Janganlah kalian meninggal dunia, kecuali berprasangka baik terhadap Allah Subhaanahu Wata’aala.”
Para ulama berkata: “Ini semua merupakan peringatan dari Allah agar manusia tidak merasa putus asa. Dan mendorong mereka untuk memiliki harapan. Sekalipun, pada detik-detik terakhir hidupnya: “Maka, biasakanlah seorang yang menderita sakit untuk berprasangka baik terhadap Allah. Dan kuatkanlah harapan yang sama. Karena rasa takut merupakan cambuk yang akan menggiring sebuah jiwa dalam bersungguh-sungguh.25
Adapun prasangka akan mendapatkan ampunan dosa dengan terus melaksanakan dosa adalah bagian dari kebodohan dan kelalaian. Dan hal tersebut akan menggiringnya pada aliran Murjiah. Anda dapat melihat keterangan ini dalam kitab: “Syarhu as Sunnah” (5/273).
Khithabi berkata: “Yang akan diterima prasangkanya oleh Allah adalah orang-orang yang sering berbuat baik. Seakan-akan Allah berkata: “Perbaikilah amal perbuatan kalian. Maka, Allah akan berbaik sangka kepada kalian.” Dan seandainya amal perbuatan manusia yang berprasangka itu buruk, maka akan buruk pula prasangka Allah terhadapnya. Dan sikap berbaik sangka juga termasuk ke dalam bagian harapan, permohonan maaf. Sesungguhnya Allah maha mulia dan agung. Anda dapat melihatnya pada kitab: “Syarhu as Sunnah” (5/272)
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menemui seorang pemuda yang tengah menghadapi sakaratul maut. Maka, pada saat itu Rasulullah bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Aku hanya mengharap ridlo Allah. Dan aku sangat takut dengan dosa-dosaku.” Maka, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan berkumpul dua sifat seorang hamba dalam satu tempat seperti ini. Kecuali, Allah akan memberikan harapan yang ia harapkan dan rasa aman dari apa yang ia takutkan.”26
VI. Jangan Mengharapkan Kematian
Apabila sakit yang dirasakan oleh seorang hamba semakin parah, maka ia tidak diperbolehkan untuk mengharapkan datangnya kematian. Hal tersebut berdasarkan hadits yang datang dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, hanya karena mendapatkan bahaya yang diturunkan Allah kepadanya. Seandainya ingin tetap memilih kematian, maka hendaknya ia berkata: ‘Ya Allah berikanlah kehidupan kepadaku. Seandainya kehidupan tersebut memang yang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian memang jalan yang terbaik untukku.”27
25 Lihat: “Al Tsabat ‘Inda al Mamat”, milik Ibnu Jauzi, H: 67,
Cet: Daar Andalus, Jeddah.
26 Hadits Hasan, diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Dan dinilai sebagai hadits Hasan oleh imam Tirmidzi dan Ibnu Hajar
27 HR. Buhkari dalam kitab: “Al Mardhaa” (5671), pada bab:
Dan dari Qais bin Abu Hazm, ia berkata: “Kami menemui Khabbab untuk menjenguknya. Sahabat yag satu ini mengalami luka bakar sebanyak tujuh buah pada bagian perutnya. Pada saat itu, ia berkata: “Seandainya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam tidak melarang kita untuk memohon datangnya kematian, niscaya aku akan memohonnya.”28
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kalian semuanya mengharapkan kematian. Dan janganlah kalian memintanya sebelum datang waktu kematian itu tiba. Karena, seandainya seseorang mati, maka akan terputuslah seluruh amal perbuatannya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menambahkan usia seorang mukmin, kecuali untuk kebaikan.”29
Dan dari Ummu Fadhl Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Pada saat itu, paman Rasulullah, Abbas, tengah mengadukan keinginannya untuk segera mendapatkan kematian kepada Rasulullah. Maka, Rasulullah-pun berkata kepada pamannya tersebut: “Wahai pamanku, janganlah engkau mengharapkan kematian. Seandainya engkau memiliki amal perbuatan baik, kemudian Allah memperlambat ajalmu, maka engkau dapat menambah jumlah amal kebaikanmu. Dan itu sangat baik untukmu. Dan seandainya engkau memiliki amal buruk kemudian Allah memperlambat ajalmu, maka engkau dapat berusaha untuk bertaubat dari semua kesalahan itu.
Maut Li Dhararin Nazala Bihi.”
28 HR. Bukhari dalam kitab: “Al Mardhaa” (5672), pada bab:
“Tamannaa al Mariidh al Mauta”. Dan HR. Muslim dalam kitab: “Ad Dzikru Wa ad Du’aa” (6758), pada bab “Karaahiyyat Tamannaa al Maut Li Dhararin Nazala Bihi.”
29 HR. Muslim dalam kitab: “Ad Dzikru Wa ad Du’aa” (6755), pada
Dan itu sangat baik untukmu. Oleh karena itu, janganlah engkau mengharapkan kematian.”30
Adapun hikmah di balik larangan mengharapkan kematian ini adalah: Bahaya yang akan diterima oleh seorang hamba akan berimbas pada bahaya yang bersifat duniawi. Adapun mengharapkan kematian karena takut timbulnya fitnah dalam agama, atau dengan harapan dirinya dapat terlepas dari dosa terhadap Allah, maka hukumnya boleh-boleh saja.
Imam Nawawi berkata: Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, hanya karena mendapatkan bahaya yang diturnkan Allah kepadanya. Seandainya ingin tetap memilih kematian, maka hendaknya ia berkata: ‘Ya Allah, berikanlah kehidupan kepadaku. Seandainya kehidupan tersebut memang yang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian memang yang terbaik untukku.” Merupakan pengakuan Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam secara terang-terangan bahwa dirinya sangat tidak menyukai tindakan mengharapkan kematian hanya karena bahaya yang sedang merundungnya; baik disebabkan oleh sakit, kemiskinan, mendapatkan siksaan dari musuh atau hal-hal lain yang menjadi bagian kesulitan di dunia.
Adapun sikap khawatir akan adanya bahaya yang berimbas pada agamanya atau akan menimbulkan fitnah di dalamnya, maka Rasul tidak membencinya. Karena, hal tersebut tidak bertentangan dengan makna hadits di atas dan hadits-hadits lainnya. Dan sikap seperti itu, pernah dilakukan oleh para ulama salaf. Karena, mereka merasa takut akan timbulnya fitnah terhadap agama mereka. Di dalam hadits tersebut juga dikatakan: “Apabila bahaya yang diterimanya terus berlanjut. Dan ia tidak mampu lagi untuk bersabar dengan kondisi yang dialaminya; baik berupa penyakit
30 Hadits Shahih yang diriwayatkan Hakim (1/399) dan dikuatkan
ataupun yang lainnya, maka hendaknya ia berkata: “Ya Allah berikanlah kehidupan kepadaku. Seandainya kehidupan tersebut memang yang terbaik untukku. Dan cabutlah nyawaku. Seandainya kematian memang yang terbaik untukku.” Akan tetapi, perbuatan yang terbaik adalah bersabar dan diam menunggu keputusan sang maha pencipta.31
Al Haafidz, Ibnu Hajar berkata: “Dan para sahabat juga telah melakukan hal tersebut (mengharap kematian ketika takut terjadi fitnah dalam agama). Dalam kitab: “Muwattha”, bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Ya Allah, usiaku sudah semakin tua, kekuatanku-pun melemah dan aku-pun telah mengembangkan sayap kepemimpinanku. Maka, dekaplah aku, bawa aku kepadamu tanpa harus membuang-buang waktu atau terlalu melebih-lebihkan.”
Dan diriwayatkan oleh imam Ahmad dan para ulama lainnya tentang seseorang yang mengerutkan dahi (meminta kematian). Dikatakan bahwa seorang yang mengkerutkan dahi sambil memohon ampunan dengan sangat kepada Allah berkata: “Wahai penyakit dan segala wabah bawalah aku.’ Pada saat itu, al Kindi berkata: ‘Mengapa engkau berkata seperti itu? bukankah Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian?”
Maka, orang tadi berkata: “Sesungguhnya, aku mendengar Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah akan mempercepat proses kematian enam orang manusia, di antaranya: ‘Perempuan-perempuan bodoh, banyak memberikan syarat, penjual hukum....” (Al Hadits). Untuk memperjelas hadits di atas, disebutkan hadits dari Muadz yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan diperkuat keshahihannya oleh imam Hakim dalam doa yang dilakukan
31 Lihat: “Syarh an Nawawi ‘Ala Shahiih al Muslim” (17/10), Cet:
setelah melaksanakan shalat: “Seandainya aku akan menebar fitnah pada kaumku, maka cabutlah nyawaku tidak dalam keadaan fitnah.”32
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Sakit yang diderita Sa’ad bin Ubadah semakin parah. Maka, nabi datang menjenguknya. Beliau datang bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika para sahabat masuk ke rumahnya, Sa’ad sedang dalam perawatan keluarganya. Maka, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bertanya: “Apakah ia telah meninggal?” Para sahabat menjawab: ‘Belum wahai Rasulullah.’ Seketika itu juga Rasulullah menangis. Melihat Rasulullah menangis, para sahabat-pun ikut menangis. Akhirnya, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Apakah klaian tidak mendengar? ‘Sesungguhnya Allah tidak menyiksa seorang hamba dengan tetesan air mata atau dengan kesedihan hati. Akan tetapi, Allah menyiksa dengan ini —sambil menunjuk pada lidahnya— atau membiarkannya mati. Dan seorang yang meninggal akan disiksa oleh Allah hanya karena tangisan keluarganya.”33
VII. Sakaratul Maut
Apabila seseorang telah merasakan datangnya kematian, maka sebaiknya ia melafalkan kalimat: “Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah).” Sedangkan orang-orang yang berada di sekelilingnya membantunya membaca talqin apabila yang sakit lupa. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam: “Talqinkanlah kematian kalian dengan mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah).”34 Dan dari Muadz
bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallalâhu
32 Lihat: “Fathul Baari”, (10/133) 33 HR. Muttafaq ‘Alaihi.
‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang akhir kehidupannya ditutup dengan membaca Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah) akan masuk surga.”35
Dan dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Hadirilah saat-saat datangnya kematian salah seorang di antara kalian. Dan bimbinglah mereka untuk mengucapkan talqin dengan mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah). Karena, mereka melihat apa yang tidak kalian lihat.”36
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Talqinkanlah kematian kalian dengan membaca Lâ Ilâha Illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah). Maka, barang siapa yang akhir ucapannya ketika sakaratul maut Lâ Ilâha Illallâh, suatu saat pasti ia akan masuk surga.” Akan tetapi, seandainya ia mengucapkan talqin jauh-jauh hari dari kematiannya, maka ia tidak akan mendapatkan janji Rasulullah tersebut.”37
Adapun makna sabda Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam: “Talqinkanlah kematian kalian” adalah ketika seseorang dihampiri kematian.
Para ulama telah sepakat dalam masalah talqin ini. Akan tetapi, mereka menganggap makruh memperbanyak bacaan talqin dan membacanya secara berturut-turut. Dengan tujuan, tidak membuat orang yang dalam sakaratul maut tersebut letih dengan kondisinya yang terasa sempit dan dilanda kesedihan yang begitu mendalam. Sehingga, dalam hatinya akan tertanam rasa benci dan berbicara dengan sesuatu yang tidak sesuai.
Para ulama tersebut berpendapat: “Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal dengan satu bacaan talqin, maka jangan
35 Hadits Hasan yang diriwyatkan Ahmad (5/233) dan Abu Dawud
(3116)
36 HR. Muslim dalam kitab: “Iman”
diulang lagi. Kecuali, dengan bacaan-bacaan atau materi pembicaraan yang lain. Setelah itu, barulah diulang kembali, agar bacaan Lâ Ilâha Illallâh menjadi ucapan terakhirnya ketika menghadapi kematian. Setelah itu, pembicaraan para ulama kembali mengarah pada pentingnya menjenguk orang yang dilanda sakaratul maut. Tentunya, untuk mengingatkan, mengasihi, menutupkan kedua matanya dan memberikan hak-haknya. Dan semuanya itu telah menjadi kesepakatan para ulama.38
Dan disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang tengah sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian, disunahkan juga untuk membasahi bibir orang tersebut dengan kapas yang telah diberi air. Karena, bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang semakin menderanya. Sehingga, orang tersebut sulit untuk berbicara dan meminta. Dengan air dan kapas tersebut, setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Sehingga, hal tersebut dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat.39
Sebaiknya, orang-orang yang berada di sekeliling orang yang tengah sakaratul maut berbicara tentang yang baik-baik saja. Karena, pada saat itu, para malaikat mengamini apa yang mereka katakan.
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila kalian hadir untuk menjenguk orang yang sakit dan hendak meninggal, maka katakanlah yang baik-baik. Karena, para malaikat akan mengamini apa yang kalian ucapkan.”40
Imam Nawawi berkata: “Para ulama berpendapat bahwa mengucapkan kata yang baik-baik, seperti: mendoakan, memohonkan
38 Lihat: “Syarhu an Nawawi ‘Ala Shahih Muslim” (6/458) 39 Lihat: “Al Mughni” milik Ibnu Qudamah (2/450)
ampunan, kelonggaran, keringanan dan lain sebagainya untuk orang yang tengah sakaratul maut hukumnya mandub (sangat dianjurkan). Karena, saat itu para malaikat ikut hadir di tempat tersebut dan mengamini ucapan mereka.41
Kemudian, disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut ke arah kiblat. Sebenarnya, ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam. Hanya saja, dalam beberapa Atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut.
Para ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat:
Pertama: Berbaring telentang di atas punggungnya. Sedangkan
kedua telapak kakinya dihadapkan ke arah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap ke arah kiblat.
Ke dua: Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah
sakaratul maut menghadap kiblat. Dan imam Syaukani telah menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar. Seandainya mengarahkan orang yang sakaratul maut pada posisi ini akan menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut untuk berbaring ke arah manapun. Sesuai, dengan yang membuat dirinya tenang.
Peringatan: Sebagian orang terbiasa untuk membaca al Quran dekat orang yang sakaratul maut. Khususnya, surat Yaasiin. Mereka melakukan hal tersebut berdasarkan panduan sebuah hadits yang berbunyi: “Bacalah surat Yaasiin untuk orang-orang yang meninggal dunia.”
Padahal, hadits ini digolongan oleh Ibnu Qaththan ke dalam hadits dho’if (lemah). Sedangkan Daar Quthni sendiri berkata: “Hadits ini memiliki sanad (perawi) yang lemah dan matan (teks)
yang tidak diketahui secara pasti (Majhûl). Untuk itu, tidak boleh memasukkannya ke dalam kitab Hadits.
Selain hadits di atas, orang-orang tersebut juga terbiasa mempergunakan sebuah hadits yang berbunyi: “Tidak ada seorang manusia yang mati, kemudian dibacakan surat Yaasiin untuknya, kecuali Allah akan mempermudah segala urusannya.” Padahal, hadits ini juga dianggap sebagai hadits dho’if. Diriwayatkan oleh imam Dailami dalam kitab: “Firdaus” bahwa salah satu perawi hadits ini bernama Marwan bin Salim. Dan ia termasuk perawi yang dho’if.
Bahkan, imam Malik telah mengatakan bahwa hukum membaca al Quran di sisi mayat adalah makruh. Dalam kitab: “Syarhu as Shaghiir” (1/220): “Dimakruhkan membaca salah satu ayat dalam al Quran ketika datang kematian. Karena, tindakan tersebut tidak pernah dilakukan oleh para salafus shalih. Sekalipun, semuanya itu diniatkan sebagai doa, memohon ampun, kasih sayang dan mengambil pelajaran.
VIII. Beberapa Hal Yang Harus Dilakukan Setelah Datangnya Kematian
Seandainya kematian seseorang dapat diyakini secara hukum. Sehingga, dalam keputusan medis, ruh orang tersebut telah dibuktikan meninggalkan jasadnya secara sempurna. Maka, bagi orang-orang yang menghadiri kematian tersebut, mereka diwajibkan untuk melakukan beberapa hal tertentu:
Pertama: Menutupkan kedua matanya dan mendoakannya. Hal
tersebut sesuai dengan sebuah hadits yang datang dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: “Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam menemui Abu Salamah. Pada saat itu, pandangannya telah kabur.42 Maka, Rasulullah-pun berkata: “Ketika ruh manusia
42 Dikatakan pandangan orang yang tengah sakaratul maut telah
dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya.” Seketika itu juga, keluarganya menjerit histeris. Kemudian, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam melanjutkan kembali perkataannya: “Janganlah kalian mendoakan diri kalian, kecuali dengan yang baik-baik. Karena para malaikat akan mengamini apa yang kalian ucapkan.” Kemudian, Rasulullah melanjutkan kembali perkataannya: “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan angkatlah derajatnya ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Dan ampunilah seluruh dosa yang telah dilakukannya di masa lalu. Ya Allah, Tuhan semesta alam, ampunilah kami dan dia. Luaskanlah ia di alam kuburnya dan berikanlah cahaya di dalamnya.43
Imam Nawawi berkata: “Perkataan Rasulullah: “Maka tutupkanlah” merupakan dalil dianjurkannya menutupkan mata orang yang telah meninggal. Dan para ulama muslimin telah bersepakat dalam menanggapi perkara tersebut. Mereka berkata: “Hikmah dibaliknya agar wajah si mayat tidak terlihat buruk ketika matanya tidak ditutupkan.44
Dan sudah seyogyanya untuk menutup seluruh tubuh dan wajah orang yang meninggal. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam ketika meninggal dunia ditutupi dengan kain.”45
Dan diperbolehkan mencium wajah orang yang meninggal. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu masuk ke dalam rumahnya. Kemudian, ia melihat jasad Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam yang tertutup kain. Kemudian, ia membukakan daerah wajahnya, sedikit membalikkannya dan kemudian menciumnya.”46
tidak terfokus pada pandangannya tersebut.
43 HR. Muslim
44 Lihat: “Syarh an Nawawi ‘Ala Shahih al Muslim”, (6/462) 45 HR. Muttafaq ‘Alaihi
Adapun hikmah dibalik menutupi orang yang telah meninggal adalah untuk menjaganya agar tidak tersingkap dan menutupi auratnya.
Ke dua: Kerabat dan keluarga orang yang meninggal hendaknya
bersabar dan rela dengan ketentuan Allah. Menyerahkan segala keputusan kepada Allah dan kembali kepada kehendak-Nya. Allah berfirman dalam al Quran: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang-orang-orang yang apabila ditimpa musibah. Mereka mengucapkan: "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”47
Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa suatu musibah, kemudian berkata: “Sesungguhnya kami hanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, berikanlah pahala atas semua musibah yang aku terima. Dan tinggalkanlah sisi baik dari musibah tersebut. Niscaya Allah akan meninggalkan sisi baik dari musibah tersebut.”48
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Pada saat itu, kami tengah berada bersama Rasulullah, Muhammad Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian, salah seorang putri Rasulullah mengutus seseorang untuk memanggil dan mengabarkan kepada Rasulullah bahwa putranya yang masih kecil dalam keadaan sakaratul maut. Maka, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam pun berkata: “Kembalilah kepadanya. Katakan kepadanya sesungguhnya Allah tidak akan mengambil dan memberi sesuatu. Karena segala
sesuatunya telah ditentukan oleh Allah. Maka, katakanlah kepadanya untuk bersabar dan menanti balasan dari Allah.”49
Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bersabarlah ketika menghadapi hantaman musibah pertama kalinya.”50
Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya Allah akan meridhoi seorang mukmin yang bersabar dan mengharap pahala-Nya, ketika orang yang dicintainya meninggal dunia. Dan memberikan kepadanya balasan surga.51
IX. Menangisi Orang Yang Meninggal Dunia
Diperbolehkan untuk menangis dan mencucurkan air mata karena kepergian seseorang. Akan tetapi, tanpa menjerit dan berteriak-teriak. Dalam hal tersebut telah banyak hadits yang menyoroti masalah ini.
1. Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami masuk ke rumah Abu Saif52 bersama Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi
Wasallam. Pada saat itu, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam mengangkat tubuh Ibrahim dan menciumnya. Tidak lama berselang, kami masuk kembali ke kamarnya dan Ibrahim menghembuskan nafasnya yang terakhir. Maka, kedua mata Rasulullah terlihat berkaca-kaca dan mengalirkan air mata. Abdurrahman bin ‘Auf-pun berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah?!” Rasulullah menjawab: “Bin ‘Auf, air ini adalah rahmat dari Allah.” Kemudian, beliau meneruskan: “Mata akan mengalirkan air, hati akan melahirkan kesedihan. Dan kita
49 HR. Muttafaq ‘Alaihi 50 HR. Muttafaq ‘Alaihi.
51 Hadits Hasan yang diriwayatkan oleh Nasa’I dari Abdullah bin
Amr Radiallahu ‘Anhu
tidak akan berbicara, kecuali yang diridloi oleh Allah Subhânahu Wata’âla. Dan kami akan merasa sedih dengan kepergianmu, Ibrahim.”53
Ibnu Bathal dan ulama lainnya berkata: “Hadits ini menjelaskan bahwa menangis dan bersedih diperbolehkan oleh agama. Tentunya, kesedihan yang diwarnai dengan aliran air mata dan kelembutan hati dan bukan kesedihan yang diwarnai kemurkaan terhadap keputusan Allah.54
2. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ayah saya tertimpa musibah di perang Uhud. Hal tersebut membuat saya menangis. Orang-orang-pun melarang saya menangis. Padahal, Rasulullah sendiri tidak melarang. Kemudian, bibiku, Fatimah juga menangis. Maka, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kalian berdua menangis ataupun tidak, malaikat masih tetap melindungi ayahmu dengan sayap-sayapnya, sampai ia mengangkatnya.”55
3. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: “Ketika sa’ad bin Mu’adz meninggal, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam, Abu Bakar dan Umar ikut menghadirinya. Aisyah berkata: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku mengetahui bagaimana tangisan Abu Bakar yang berselang dengan tangisan Umar. Dan pada saat itu, saya tengah berada di dalam Kamar.”56
4. Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Pada saat itu, kami tengah berada bersama Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam. Tiba-tiba datang seorang utusan anak perempuan Rasulullah. Dengan tujuan mengabarkan bahwa putranya yang masih kecil dalam keadaan sakaratul maut.
53 HR. Muttafaq ‘Alaihi
54 Lihat: “Fathul Bari” (3/208). 55 HR. Muttafaq ‘Alaihi
56 Hadits Hasan yang diriwayatkan Ahmad (6/141-142), Ibnu Hibban
Kemudian, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Kembalilah kepadanya (anak perempuan Rasulullah) dan beritahukan kepadanya bahwa baik yang diberikan ataupun diambil dari dirinya, seluruhnya milik Allah Subhânahu Wata’âla. Dan setiap ciptaan Allah telah ditentukan ajalnya. Maka perintahkanlah ia untuk bersabar dan memohon pahala kepada Allah.
Akan tetapi, utusan itu kembali kepada Rasulullah dan berkata: ‘Ia bersumpah bahwa engkau harus mendatanginya.’ Usamah kembali berkata: “Maka, Rasulullah-pun berdiri diiringi berdirinya Sa’ad bin Ubbadah dan Mu’adz bin Jabal.’ Usamah berkata lagi: ‘Rasulullah akhirnya pergi bersama para sahabatnya. Anak laki-laki itu-pun diberikan ke pangkuan Rasulullah, sedangkan badan perempuan itu terlihat bergetar. Seakan-akan, ia terserang sesuatu. Air mata Rasulullah-pun mengalir. Maka, Saad berkata: “Ada apa dengan Anda wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Ini semuanya merupakan rahmat yang telah Allah ciptakan pada setiap hati hambanya. Dan sesungguhnya, Allah akan mengasihi hamba-hambanya yang pengasih.”57
5. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam ketika pulang dari perang Uhud mendengar perempuan-perempuan dari keluarga Abdul Asyhal menangis atas kehilangan yang mereka rasakan. Kemudian Ibnu Umar meneruskan: “Akan tetapi, tidak ada satu-pun orang yang menangisi kepergian Hamzah. Maka, datanglah perempuan-perempuan Anshar dan mereka-pun menangisi kematian Hamzah. Rasulullah-pun terbangun dan berkata: “Kalian masih menangis di sini. Pulanglah ke rumah kalian masing-masing. Dan setelah ini, janganlah kalian menangis karena kematian.”58
6. Dari Jabir bin ‘Atik Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam datang untuk menjenguk Abdullah bin Tsabit. Akan tetapi, ia menemukan laki-laki itu telah tiada. Rasul-pun berusaha untuk membangunkannya dengan memanggilnya. Akan tetapi, Abdullah bin Tsabit tidak juga menjawabnya. Kemudian Rasulullah berbalik dan berkata: “Kami telah kehilanganmu Wahai Abu Rabi’. Kaum perempuan-pun menjerit dan menangis. Ibnu Atik berusaha memerintahkan mereka untuk diam dan berhenti menangis. Akan tetapi, Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Biarkanlah mereka. Apabila telah datang ketentuan wajib, maka jangalah kalian menangis.” Mereka-pun akhirnya bertanya: Apa yang dimaksud dengan ketentuan wajib itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kematian.”59
Sabda Rasulullah: “Semenjak hari ini, janganlah kalian menangisi kematian.” Begitupula dengan perkataannya dalam hadits Jabir bin Atik: “Apabila telah datang ketentuan wajib, maka jangalah kalian menangis.” Hadits-hadits tersebut secara jelas merupakan larangan untuk tidak menangis. Dan keduanya bertentangan dengan hadits-hadits lain yang menyatakan kebolehkan menangis. Untuk menyatukan kedua hadits tersebut, maka diambil kesimpulan bahwa tangisan yang tidak diperbolehkan adalah tangisan yang disertai dengan menjerit-jerit, berteriak dan lain sebagainya. Sedangkan menangis yang diperbolehkan adalah tangisan biasa yang hanya mencucurkan air mata. Akan tetapi, kita tidak mungkin menahan suara. Oleh karena itu, diperbolehkan mengeluarkan suara. Asal tidak berteriak.”60
58 Hadits Hasan yang diriwayatkan Ahmad (2/92) dan Ibnu Majah
(1591).
59 Hadits Shahih yang diriwayatkan Abu Dawud (3111) dan Nasa’I
(4/13).
Untuk memperkuat penyatuan dua golongan hadits ini kita akan mempergunakan hadits yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi dari Jabir bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam menggamit tangan Abdurrahman bin Auf kemudian ia pergi menuju putranya Ibrahim. Akan tetapi, ia menemukannya sudah menghembuskan nafas terakhir. Rasulullah-pun mengangkat dan memindahkan jasad Ibrahim ke pangkuannya dan kemudian menangis. Maka, Abdurrahman berkata: “Mengapa anda menangis. Bukankah anda melarang orang-orang untuk menangis?” Rasulullah-pun menjawab: ‘Tentu saja tidak. Aku hanya melarang orang-orang untuk mengeluarkan dua macam suara buruk. Sehingga, ketika tertimpa musibah mereka berlomba-lomba untuk menangis, mencakar-cakar wajah, merobek-robek pakaian (bagian dada) dan membuat syaitan tertawa terbahak-bahak.”61
Maka, menangis dan bersedih terhadap orang yang meninggal dunia dengan cara yang lembut dan baik, tidak menghilangkan rasa rela dan sabar dalam diri seorang hamba diperbolehkan.
Dan hendaknya seorang hamba berhati-hati untuk tidak mengucapkan kata-kata yang dapat menggugurkan pahalanya ketika dirinya mendapatkan musibah. Atau, mengeluarkan kata-kata yang dapat mendatangkan kemurkaan Tuhannya. Jangan sampai ia menganggap bahwa musibah tersebut sebagai bagian dari kedhaliman.
Perlu diingat, Allah Subhânahu Wata’âla adalah dzat yang maha adil dan tidak pernah berdosa. Ia maha mengetahui dan tidak pernah menyesatkan atau luput dari segala sesuatu. Dan Ia juga maha bijaksana. Dalam setiap perbuatannya terdapat hukum dan kemaslahatan. Dimana Ia tidak pernah berbuat sesuatu. Kecuali, di belakangnya terdapat hikmah. Oleh karena itu, seluruh yang diberikan dan diambil semata-mata miliknya. Ia tidak akan ditanya tentang apa yang Ia lakukan. Bahkan, ia lah yang menyakan kepada makhluknya atas seluruh perbuatan mereka. Ia-lah dzat yang dapat
mengerjakan apa-pun yang dikehendakinya. Maha mampu untuk melakukan apa-pun. Ia-lah yang maha memiliki seluruh kehidupan dan seluruh perkara.
Oleh karena itu, hendaknya orang yang mendapatkan musibah mengeluarkan kata-kata yang dapat mendatangkan keridloan Tuhannya dan memperbanyak pahalanya. Sekaligus, mengangkat derajatnya.62
Larangan Untuk Meratapi63 Jenazah, Merobek-Robek Pakaian
Mencakar-Cakar Muka, Menjambak Rambuk Dan Sebagainya
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang semua perilaku di atas. Selain itu, beliau juga menerangkan bahaya berbagai perbuatan tersebut; baik untuk jenazah atupun orang yang hidup.
Pertama: Bahaya Ratapan Bagi Orang Yang Masih Hidup:
1. Dari Abu Malik al Asy’ari bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ada empat tradisi Jahiliyyah yang tidak pernah ditinggalkan oleh umatku: menyombongkan asal leluhur, mencemarkan nama keturunan, meminta hujan ke bintang-bintang,64 dan meratap.” Kemudian, Rasulullah
62 Lihat: “Tasliyyah Ahl Mushab”, Al Halabi, H: 58
63 Kalimat meratapi (an Niyahah) diambil dari kalimat (an Nuh)
yang memiliki arti menjerit-jerit dan mengangkat suara sekeras-kerasnya ketika menangis.
64 Yang dimaksud dengan meminta hujan ke bintang-bintang adalah:
meneruskan perkataannya: ‘Dan barang siapa yang meratap kemudian belum bertaubat sebelum kematiannya, maka pada hari kiamat nanti ia akan dibangunkan dengan mempergunakan pakaian dari getah tembakau. Selain itu, kulitnya akan terkena penyakit kudis dan gatal-gatal.”65
2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Dua perbuatan manusia yang dapat menyeret mereka ke arah kekufuran; Mencemarkan nama keturunan dan meratapi jenazah.66 Dan para ulama telah
berbeda pendapat dalam menyoroti kalimat kufur di sini bagi orang-orang yang melakukan dua perbuatan tersebut.
Imam Nawawi berkata: “Di dalamnya terdapat berbagai pendapat. Akan tetapi yang paling benar adalah makna keduanya merupakan perbuatan orang-orang kafir dan akhlak jahiliyah.67
Artinya, orang-orang yang melakukan hal tersebut menyerupai perbuatan orang-orang kafir.
3. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Bukan termasuk ke dalam golongan kami orang-orang yang memukul-mukul pipi,
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: ‘Allah berfirman: “Di antara hamba-hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada juga yang kafir. Adapun orang yang berkata: ‘Hujan ini merupakan kekuasaan Allah dan rahmat-Nya. Maka mereka adalah orang-orang yang beriman kepadaku dan tidak mempercayai bintang-bintang itu. sedangkan orang yang berkata: ‘Hujan ini berdasarkan bintang ini, maka mereka benar-benar telah kafir kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang.”
65 HR. Muslim 66 HR. Muslim
merobek-robek pakaian dan berdoa dengan doa-doa di zaman Jahiliyyah.”68
Adapun sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Bukanlah termasuk ke dalam golongan kami”, artinya tidak berjalan di atas sunnah dan jalan kami. Akan tetapi, makna yang dimaksud bukan kafir yang keluar dari agama. Semuanya itu merupakan kalimat yang menunjukkan pada sesuatu yang berlebihan (al Mubâlaghah) dalam masalah penolakan. Seperti seorang laki-laki yang berkata ketika memberikan pelajaran kepada anaknya: “Aku bukanlah kamu. Dan kamu bukanlah aku.” Artinya, kamu tidak sejalan dengan diriku.
Adapun sabda Rasulullah: “Dan merobek-robek pakaian” bermaksud pakaian bagian atas. Artinya, kalimat tersebut melarang orang-orang untuk merobek-robek setiap pakaian. Karena, semuanya itu merupakan bagian dari perbuatan yang dapat mendatangkan kemurkaan.
Sedangkan sabda Rasulullah: “Dan berdoa dengan mempergunakan doa di zaman Jahiliyyah” yang dimaksud di dalamnya adalah ratapan.
4. Dari Abu Burdah, ia berkata: “Abu Musa menderita sakit. Kemudian ia tidak sadarkan diri. Kaum perempuan dari keluarganyapun secara otomatis menjerit. Ketika Abu Musa tersadar kembali ia berkata: “Aku telah terbebas dari berbagai hal yang telah dilarang oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang umatnya untuk berteriak (ketika mendapatkan bencana), memotong-motong dan merobek-robek.”69
Yang dimaksud dengan berteriak adalah: Mengangkat suara ketika menangis. Di antara ayat al Quran yang mempergunakan kalimat ini adalah firman Allah: “Mereka mencaci kamu dengan
lidah yang tajam.”70 Sedangkan yang dimaksud dengan
memotong-motong adalah: Yang mememotong-motong rambutnya ketika mendapatkan musibah. Dan yang dimaksud dengan merobek-robek adalah: Orang-orang yang merobek-robek pakaiannya.
Semua perkara tersebut telah diharamkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus dilarang untuk mempergunakannya. Karena, semuanya itu menandakan ketidak ridloan dengan ketentuan yang telah diberikan Allah kepadanya.
5. Dari seorang perempuan yang mengikuti bai’at bersama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, ia berkata: “Beberapa perkara baik yang telah dicamkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada kami adalah: Tidak mengingkari peraturan, tidak mencakar-cakar wajah, tidak berdoa dengan sesuatu yang tercela, tidak merobek-robek pakaian dan memotong-motong rambut.”71
Ke Dua: Bahaya Ratapan Bagi Orang Yang Telah Meninggal:
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa seorang jenazah akan disiksa di dalam kuburnya dan di hari kiamat, hanya karena ratapan sanak keluarganya. Untuk memperjels permasalahan tersebut, telah banyak hadits-hadits yang menerangkannya, di antaranya:
1. Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang jenazah akan disiksa di dalam kuburnya, hanya karena ratapan terhadapnya.”72
2. Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
70 QS. Al Ahzaab: 19
bersabda: “Barang siapa yang meratapinya, maka ia akan disiksa di hari kiamat nanti disebabkan ratapan tersebut.”73
3. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya, seorang jenazah akan disiksa hanya karena tangisan keluarganya.”74
4. Dari Anas: Ketika Umar bin Khattab mulai memohon, Hafshah-pun meratap. Maka, Umar berkata: “Wahai Hafshah, tidakkah kamu mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang-orang yang diratapi akan disiksa?” Kemudian, Suhaib juga ikut meratap: “Maka, sekali lagi Umar berkata: “Wahai Suhaib, tidakkah kamu mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Orang-orang yang diratapi akan disiksa?”75
Dan terkadang, seseorang akan berkata: “Apa dosa jenazah sehingga ia akan disiksa disebabkan oleh perbuatan yang tidak pernah ia lakukan dan hanya dilakukan oleh orang lain? Padahal, Allah berfirman dalam al Quran: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”76
Para ulama telah berbeda pendapat dalam mentakwilkan berbagai makna hadits ini. Dan di antara takwil-takwil yang ada, pendapat mayoritas ulama saja yang dapat dikatakan sebagai pendapat yang benar. Yaitu, hadits-hadits di atas memiliki makna: Barang siapa yang berwasiat kepada sanak keluarganya untuk meratapi kematiannya. Atau, tidak memberikan wasiat untuk tidak melakukannya. Padahal, ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut telah terbiasa dilakukan oleh masyarakat sekitarnya. Maka ia akan mendapatkan dosa. Akan tetapi, seandainya ia berusaha untuk
melarngnya sebelum ajl menjemput, maka berlakulah hadits Abdullah bin Mubarak baginya: “Apabila orang tersebut telah mencegah mereka untuk melakukan perbuatan tersebut ketika dirinya masih hidup. Kemudian, orang-orang tersebut melakukan larangannya setelah dirinya meninggal, maka si jenazah tidak akan mendapatkan siksaan.
Boleh Meratapi Jenazah Tanpa Harus Menjerit-Jerit
Diperbolehkan untuk meratapi jenazah dan mengingat-ingatnya dengan berbagai hal yang layak untuknya. Akan tetapi, tanpa disertai dengan jeritan dan teriakan-teriakan. Atau, berbohong dalam menyebutkan sifat-sifatnya. Dan dalil atas hal tersebut adalah:
1. Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Ketika nabi telah mendekati kematian, rasa sakit yang dideritanya membuat dirinya tidak sadarkan diri. Maka, fatimah-pun berkata: “Aku juga merasakan rasa sakit yang engkau derita wahai ayahku”, Maka, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam-pun berkata: “Ayahmu tidak akan merasakan rasa sakit lagi semenjak hari ini.” Ketika Rasulullah meninggal dunia, Fatimah berkata: “Wahai ayah, semoga semua keinginan dan doa’mu dikabulkan oleh yang maha kuasa. Ayahku...surga firdaus adalah tempatmu. Ayahku...kepada Jibril kami akan memberitahukan kematianmu.” Ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dikuburkan, Fatimah berkata: “Jadikanlah diri kalian sebagai manusia-manusia yang baik, dengan menaburkan debu di peristirahatan terakhir Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.”77
2. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu masuk ke dalam kamar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, setelah kematiannya. Kemudian, ia
meletakkan bibirnya di antara kedua mata Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pelipis Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian, Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, Wahai kekasihku, wahai hamba Allah yang ihklas...”78
Memberitahukan Berita Kematian
Di antara pemberitaan peristiwa kematian; ada berita yang diwajibkan dan ada yang dilarang. Adapun yang harus diberitahukan adalah berita yang bertujuan untuk memberitahukan pihak keluarga jenazah, kerabat, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang sudah selayaknya diberi tahu. Dengan harapan, semua elemen masyarakat tersebut dapat bahu membahu dalam mengurus jenazah, mengkafani, menshalatkan dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Karena, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengumumkan kematian raja Najasyi pada hari kematiannya kepada orang-orang. Kemudian, beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan shalat ghaib bersama masyarakat muslim. Sebagaimana Rasulullah juga mengumumkan kematian Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah sebelum datangnya berita kematian mereka dalam peperangan Mu’tah.
Dan disunnahkan bagi orang yang mengabarkan tadi untuk meminta orang-orang yang ia beritahukan untuk memohonkan ampunan bagi si jenazah. Hal tersebut berdasarkan perkataan nabi kepada para sahabatnya, ketika beliau mengumumkan kematian raja Najasyi: “Saudara kalian, raja Najasyi telah meninggal dunia. Oleh karena itu, mohonkanlah ampunan baginya kepada Allah.”79 Dan begitupula
ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan hal yang sama ketika mengumumkan kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far dan
78 HR. Bukhari