• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Penyakit Tidak Menular Berbasis wilayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Manajemen Penyakit Tidak Menular Berbasis wilayah"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pada umumnya pola penyakit terdiri

dari dua kelompok,

Penyakit menular

Penyakit tidak menular

Namun secara umum di pahami.

Bahwa,

penyakit

yang

tidak

disebabkan

oleh

mikroorganisme

adalah

penyakit

tidak

menular,

sedangkan

penyakit

penyebabnya

(3)

Penyakit Tidak Menular : Karakteristik dan Perkembangannya

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah yang tengah

berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat.

PTM sering dikaitkan dengan berbagai faktor risiko seperti

pencemaran lingkungan, akibat penggunaan berbagai bahan kimia

toksik yang dipadukan dengan perilaku life style yang

menyebabkan masyarakat tertentu terpajan pada kondisi

lingkungan yang “tidak alamiah”. Secara genetika, hubungan

interaktif

antara

manusia

dengan

lingkungannya

dapat

menimbulkan

perubahan-perubahan

struktur

genetik

yang

menyusun hidup.

menghadapi masalah PTM sering kali lebih mudah melakukan

(4)

Perbedaan utama lain manajemen PTM

yang

bersifat

preventif,

yakni

pengendalian pada sumber penyakit

sering kali merupakan kewenangan

sektor lain.

Contoh : Sumber pencemaran industri

tentu

merupakan

kewenangan

perindustrian dan Dinas Lingkungan

Hidup.

PTM

menyerang

berbagai

kelompok

umur,

dan

sering

kali

(5)

Berbeda dengan penyakit menular, manajemen penyakit tidak

menular dalam perspektif kesehatan masyarakat merupakan

upaya yang sangat sulit dan kompleks. Hal ini disebabkan

karena :

a. Perkembangan penyakit scara umum biasanya berjalan lambat

dan memerlukan waktu yang panjang, agar dapat diketahui

secara klinik, laboratorik maupun teknologi diagnotik lainnya.

b. Tidak adanya atau kurang adanya hubungan kerja sama antara

rumah sakit dengan Dinas Kesehatan wilayah setempat, terutama

dalam hal kerja sama informasi faktor risiko, pencatatan dan

kasus.

c. Untuk tata laksana kasus memerlukan alat bantu diagnostik

berteknologi tinggi dan mahal.

d. Sering kali tidak ada atau belum ada obatnya.

e. Sering kali menimbulkan kerusakan organ tubuh secara

irreversible

.

f. Pengendalian faktor risiko PTM, bersifat lintas sektor dan

memerlukan kemitraan berbagai tingkat masyarakat.

(6)

Manajemen PTN umumnya sama

seperti halnya Penyakit menular,

yakni tata laksana kasus dan tata

laksana faktor risiko atau

upaya-upaya

kesehatan

masyarakat.

Perbedaanya,

penyakit

menular

sumber penyakit adalah penderita

penyakit

menular

itu

sendiri,

(7)

Secara umum dikenal dua macam pendekatan :

a. Retrospektif, yakni “ berangkat” dari adanya kasus-kasus PTM. Kemudian melakukan telaah secara retrospektif, mencari sebab-sebab atau risiko penyakit yang berperan.

b. Prospektif, yakni “berangkat” atau mulai dari suatu faktor risiko yang sudah dikenal. Kemudian melakukan upaya observasi secara prospektif atau upaya prediktif terhadap kemungkinan penyakit atau gangguan kesehatan yang ditimbulkannya.

Pengkelompokan PTM (menurut WHO, 1983; ATSDR, 2009) 1. Kanker berbagai jenis dan penyebabnya

2. Kardiovaskular dan sistem pernafasan

3. kelainan endokrin dan gangguan metabolisme 4. Sistem Saraf dan pancaindra

5. Hemopoetik

6. Muskuloskeletal dan pertumbuhan 7. berbagai ganguan penyakit kulit 8. gangguan reproduksi

9.organ penting seperti ginjal, gastrointestinal tract, liver dan lain-lain 10. Rudapaksa dan kecelakaan

(8)

Langkah-langkah Umum Manajemen PTM berbasis Wilayah a. Penentuan wilayah kerja.

b. Penentuan Kasus Penyakit Tidak Menular dan atau Faktor Risiko yang menjadi prioritas wilayah.

c. Gambarkan ke dalam model yang menggambarkan proses kejadian penyakit beserta seluruh faktor risiko yang diduga berperan.

d. Susun kegiatan pengendalian tiap simpul berdasar model tersebut di atas.

e. Apabila dilaksanakan pada wilayah kabupaten, maka diperlukan perencaan untuk rancangan kegiatan tersebut.

f. Audit Manajemen Penyakit tidak menular dilakukan baik untuk manajemen kasus atau manajemen faktor resiko.

Pendekatan Kesehatan Masyarakat harus memiliki beberapa ciri atau prinsip-prinsip :

g. Fokus perhatian adalah masyarakat atau penduduk secara keseluruhan, bukan kelompok per kelompok apalagi orang per orang. h. Adanya keterlibatanmasyarakat atau community involvement atau

community organiza-tion dalam mencapai berbagai tujuan dan sasaran kegiatan yang ditetapkan.

i. Berorientasi pencegahan.

j. Pengendalian pada sumber penyakit merupakan cara terbaik.

k. Ilmu dan metode kesehatan msyarakat, juga mengutamakan kerja sama lintas sektor dan kemitraan.

(9)

Startegi Umum Pengendalian PTM berbasis wilayah

1. Pencatatan dan pelaporan kasus harus dilakukan dengan baik, lengkap dengan alamat, konfirmasi diagnostik, serta kemungkinan faktor risiko lainnya.

2. Pertemuan lintas sektor lembaga swadaya masyarakat untuk membahas temuan informasi hasil analisis surveilans perlu dilakukan sekaligus untuk menggalang kemitraan dalam penanggulangan penyakit menular tertentu.

3. Evaluasi dan monitoring.

4. Strategi Surveilans PTM : mengingat upaya intervensi di Indonesia dilakukan banyak institusi di berbagai tingkat dengan jenis surveilans yang berlainan dan kapasitas yang berbeda.

5. Strategi promosi dan pencegahan PTM.

6. Pemilihan metode partisipatif dalam pengendalian faktor risiko

(community organization).

(10)

Manajemen

Penyakit

Kanker

berbasis

wilayah

Kanker adalah sebuah proses pertumbuhan sel-sel

organ tertentu yang tidak terkendali. Pertumbuhan

sel-sel tersebut disebut sebagai kanker. Kalau

memenuhi empat karakteristik :

a. Clonality; berasal dari sebuah sel punca dan

kemudian membelah dan membentuk sel serupa

kemudian membentuk sekelompok sel ganas.

b. b. Otonomi; tidak bisa lagi dikendalikan sistem

biokimia secara normal

c. Anaplasia, tidak ada lagi diferensiasi sel secara

normal.

(11)

Komponen lingkungan seperti udara, pangan, maupun air

dikatakan memiliki potensi membahayakan kesehatan, apabila di

dalamnya mengandung satu atau lebih agents penyakit. Agent

penyakit termasuk :

a. Kelompok mikro organisme : virus, parasit, jamur dan bakteri.

b. Kelompok bahan kimia toksik : pestisida, CO

c. Kelompok Fisik : radiasi, ultraviolet.

beberapa bahan karsinogen telah diketahui. Kemudian untuk

mengetahui aman tidaknya, ditetapkan baku mutu lingkungan

atau standar kesehatan. Demikian juga berlaku untuk udara dan

pangan. Upaya pengendalian kanker lebih efektif dengan cara

mempelajari berbagai faktor risiko lingkungan yang memiliki

potensi membahayakan yang dapat menimbulkan kanker.

(12)

Patogenesis Kejadian Kanker

80 – 90 % kanker berhubungan atau disebabkan karena faktor

lingkungan. Berbagai bahan atau kekuatan unsur bahan kimia,

seperti radiasi,arsenicals, dll memiliki potensi bahaya timbulnya

kanker. Berbagai agents ini kontak dengan melalui wahana

transmisi seperti udara, air atau pangan hal ini kita kenal sebagai

peristiwa pencemaran. Namun juga memperhitungkan faktor

perilaku hidup manusia itu sendiri yang meliputi pula hobi,

kebiasaan, pekerjaan dan sebagainya. Juga termasuk umur, jenis

kelamin, ras merupakan faktor penentu timbulnya kanker.

Ada berbagai ragam bahan karsinogen, umumnya bahan kimia

yang dapat diklasifikasian ke dalam tiga kelompok besar :

a. DNA reactive, misal benzidine, benzene, arsenicals. Bahan

karsinogen tersebut ber-eaksi dan atau merusak DNA sel jaringan

yang menimbulkan kekacauan pembelahan sel

b. Epigenetic, misalnya hormon estrogen, DDT, dan lain-lain.

Mekanisme melalui non-DNA secara umum mengacaukan

keseluruhan pembelahan sel, mitosis

(13)

Pengukuran

Besaran

Masalah

Kanker dalam Komunitas

kanker di ukur berdasarkan beberapa hal, selain

mengukur keganasan sebagian mengukur magnitude

of the problem, dan sebagian lagi mengukur berbagai

faktor risiko yang menyertainya . Hasil ukuruan dapat

digunakan untuk tujuan pencegahan maupun upaya

tersebut preventif dan promotif.

1. Insidensi dan mortalitas.

2. Variasi umur.

3. Variabilits antar wilayah.

4. Gender, umur, suku bangsa, kebiasaan, kesukaan,

perilaku dan lifestyle penduduk dalam sebuah

wilayah harus pula di petakan.

(14)

Manajemen Kanker berbasis wilayah

Secara filosofis, pengendalian kanker berbasis wilayah

dapat menggunakan pola pikir tahapan simpul 1, 2, 3 dan

4.

upaya pencegahan pada simpul 1 misalnya, berupa

pengendalian

adanya

agents,

dapat

dimulai

dari

sumbernya. Pengendalian pada sumbernya misalnya

menganti bahan yang diduga memiliki potensi bahaya

kanker.

upaya pencegahan simpul 2/pada lingkungan sekitar. Dapat

dilakukan

dengan

cara

membersihkan

komponen

lingkungan yang mengandung agents penyebab kanker

atau bahan-bahan karsinogenik.

upaya pencegahan pada simpul 3. yakni mencegah agar

manusia jangan kontak dengan bahan-bahan karsinogen

dengan memberi alat proteksi : misalnya memberi pakaian

pelindung, memberi penyuluhan, mengkonsumsi health

food yang mengandung mikronutrient atau bahkan

pemberian vaksin.

(15)

Penyakit

Saluran

Pernafasan

dan

Kardiovaskular

Jantung merupakan organ vital yang berfungsi

memompa darah ke seluruh tubuh untuk menjaga

agar organ lain tetap berfungsi.

Faktor risiko penyakit saluran pernafasan dan

kardiovaskular :

faktor kegemukan, kebiasaan merokok, konsumsi

pangan tertentu, beberapa faktor lingkungan

seperti NOX, karbonmonoksida, sulfurdioksida,

manganese aerosol dll,

Penyakit kardiovaskular yaitu penyakit yang

menyangkut jantung itu sendiri dan

penyakit-penyakit pembuluh darah beberapa penyakit-penyakit yang

termasuk kelompok penyakit kardiovaskular :

(16)

sistem pernafasan manusia diibaratkan sebagai organ

tubuh yang terletak didalam namun selalu bersinggungan

atau berinteraksi dengan dunia luar. Udara bersih atau

kotor terpaksa masuk ke dalam paru-paru melalui bronkhus

ketika bernapas yang memerlukan oksigen. Sistem

pernafasan sebenarnya sudah dilengkapi dengan sistem

pertahanan tubuh, seperti rambut getar (cilia), ataupun

mekanisme sekresi cairan untuk menangkap berbagai

bahan partikel maupun gas yang tidak dikehendaki.

Partikel yang dihirup dan menumpuk akan mengganggu

(17)

Pencemaran Udara dan Gangguan Penyakit Pernafasan NonInfeksi

(18)

Pencemaran Udara dan Kesehatan

Apabila menyimpang dari kondisi normal, atau ada jenis

komponen yang berubah konsentrasinya pada waktu dan

tempat tertentu akibatnya timbul dampak yang disebut

Pencemaran udara. Secara normal Proporsi udara kurang

lebih 79% Nitrogen, 20 % oksigen, serta sisanya tidak

melebihi 1 % yang ditempati bahan-bahan seperti argon,

karbondioksida, karbonmonoksida dll.

Faktor yang mempengaruhi pencemaran udara. Arah dan

(19)

terutama di kota-kota besar ialah kegiatan manusia yang berturut-turut, disumbang oleh kendaraan bermotor, kegiatan industri, kegiatan rumah tangga dll.

menurut tempat pencemaran udaranya dapat dikategorikan ke dalam :

a. Indoor air Pollutan, yakni pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah yang berkaitan dengan kegiatan memasak, merokok,kejadian di tempat perkantoran dll

b. Outdor air pollutan, yakni pencemaran udara yang terjadi di luar, sebagaimana lazimnya di kawasan perkotaan yang disebabkan kendaraan bermotor dan industri.

Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan sangat luas. Secara umum dampak pencemaran udara dapat diklasifikasikan kedalam dampak :

1. sistemik, yakni dampak yang mengenai hampir semua bagian dan fungsi tubuh manusia. Misalnya karbondioksida dan timah hitam.

(20)

Metode Pengukuran Faktor Risiko

salah satu metode untuk mengetahui

peran lingkungan terutama terhadap

penyakit kardiovaskular dan pernapasan

adalah metode kuesioner yang sudah

standar. Pendekatan menggunakan

bentuk pertanyaan secara detail tentang

gejala yang dialami, sesuai gejala

penyakit pernapasan dan kardiovaskular

kemudian

membandingkan

antara

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Analisis senyawa sildenafil sitrat dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Spektrometri Massa (KC-SM) yang disampling pada 2

Jadi dari berbagai pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa produk cacat “bocor leak test” adalah dikarenakan terdapat cacat internal produk yaitu

Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut sumber ingatan yang harus di dokumentasikan dan di pakai sebagai bahan pertanggung jawaban dan

meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan mewarnai yang merupakan salah satu alternatif kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru di sekolah

Pengetahuan Masyarakat Desa Bakung, Jogonalan, Klaten tentang asam jawa untuk menyembuhkan batuk Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat pengetahuan

Segala puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala yang telah memberikan segala rahmat dan karunia Nya kepada para hamba Nya sehingga dengan segala kerja keras

“ Jika suatu potensi bahaya telah diidentifikasi pada suatu tahapan dimana pengendalian diperlukan untuk menjamin keamanan produk, dan tidak ada upaya pengendalian

Ant adalah build tool dengan script berbasis Java, digunakan untuk mengotomasi berbagai proses yang umum dilakukan dalam pembuatan aplikasi Java, antara lain:.. • memasukkan