• Tidak ada hasil yang ditemukan

314756017 Pengetahuan Rencana dan Ketrampilan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "314756017 Pengetahuan Rencana dan Ketrampilan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IX

DARI TEORI KE DALAM TINDAKAN:

PENGETAHUAN, RENCANA DAN KETERAMPILAN

Dalam bab ini, kita berpikir tentang bagaimana pengetahuan yang terkandung dalam skema dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang berhasil; dan bagaimana penyesuaiannya di skema, hanya eksis dalam potensi, dan menjadikannya efektif. Ada tiga tahapan agar pengetahuan dapat diterjemahakan kedalam tindakan yang berhasil. Tahapan pertama dengan memiliki skema yang tepat, yaitu dimana kita boleh berpikir bahwa skema kita sebagai pengetahauan. Tahapan yang kedua dengan memperoleh rencana yang tepat untuk suatu tindakan, yaitu pengetahuan yang bagaimana yang kita gunakan. Tahapan ketiga dengan menterjemahkan rencana ini ke dalam tindakan, yaitu dimana kita berpikir kita mampu melakukannya. Walaupun berbeda, ketiga tahapan tersebut saling terkait erat, dan itu adalah hubungan ketiganya yang akan kita selidiki dalam model ini.

A. PENGETAHUAN

Pengetahuan yang kita bahas, adalah pengetahuan yang terorganisir, bukanlah koleksi pengetahuan yang merupakan fakta-fakta yang terisolir. Diagram yang telah diperkenalkan di bab 8, akan diulangi lagi pada bab ini (lihat gambar 9.1), diagram tersebut merupakan cara yang berguna untuk menggambarkan sebuah struktur pengetahuan, karena ini dapat mengartikan atau meterjemahkan tiga tingkatan dari proses abstraksi, yaitu:

1. Sebagai sebuah peta perjalanan. Disini, setiap titik mewakili sebuah lokasi fisik.

2. Sebagai peta kognitif. Disini, setiap titik mewakili sebuah konsep dan sebuah garis menggambarkan sebuah hubungan diantara konsep-konsep tersebut.

(2)

lebih atau kurang secara bergantian, tergantung pada aspek yang menjadi penekanan.

Gambar 9.1

B. MENGAPA PENGETAHUAN HARUS KONSEPTUAL.

Selanjutnya, kita akan melihat sifat dari peta kognitif lebih detail. Kita bisa menganggap peta kognitif sebagai model mental yang berasal dari fitur tertentu dari dunia luar.

Seperti yang dikatakan oleh Heraclutus bahwa, “Kita tidak dapat dua kali masuk pada sungai yang sama”. Sebuah pengalaman yang kita dapat (kadang-kadang) membuat kita belajar dari masa lalu kita dan pengalaman itu tidak akan lagi kita temuai dalam bentuk yang sama persis. Akan tetapi kita akan menemukan situasi dimana kita perlu menerapkan pelajaran yang kita miliki untuk masa depan, atau pengalaman itu akan menjadi antisipasi yang kita bawah ke pikiran masa depan. Jika model-model mental yang kita miliki berguna bagi kita, model-model tersebut harus mewakili sesuatu yang umum dari pengalaman masa lalu yang mampu mengenali kejadian masa depan.

(3)

menemukan keteraturan itu dan mengorganisir hal-hal itu ke dalam struktur konseptual, yang mereka sendiri juga teratur.

Struktur konseptual atau skema-skema ini, sama dengan peta kognitif hanya sedikit lebih. Peta kognitif adalah sebuah atlas kognitif, dari jenis yang agak khusus. Sebagai analogi, jika skemp ingin berkendara dari Coventry ke Bristol, pertama kali skemp akan menggunakan sebuah peta perjalanan di Inggris, dimana Bristol tampak sebagai titik, dan kemudian sebuah peta jalan di Bristol, menunjukan tujuan skemp (katakanlah Universitas) adalah sebuah titik, dan akhirnya skemp mungkin menggunkan sebuah rencana dari kampus universitas untuk dapat memperlihatkan dimana skemp boleh memarkir mobilnya, gedung dan ruangan yang skemp ingin temukan. Jika semua peta ini terletak pada skala dan detail yang sama, mereka akan tidak dapat digunakan, karena dua alasan, yaitu:

1. Objenya terlalu besar untuk ditunjukkan atau terlalu kecil untuk menunjukan gambaran yang cukup jelas.

2. Peta akan berisi informasi yang terlalu banyak atau sedikit.

Kertas dari peta-peta ini adalah sebuah simbol, yang siap membangkitkan peta mental yang berasal dari rencana-rencana tindakan skemp dan peta-peta tersebut datang secara terpisah. Tetapi pada kasus ini Bristol adalah tempat kelahiran skemp, jadi skemp sudah memiliki peta itu dalam ingatan skemp. Disini peta tersebut disimpan dengan cara yang berbeda pada peta simbolik, ini berarti mereka nampak bersarang di dalam satu sama lain. Di peta jalan kognitif skemp (yaitu mental), seolah-olah ada sebuah titik besar mewakili Bristol. Bagaimana skemp berpikir tentang Bristol saat skemp mengemudi turun jalan tol. Tetapi skemp mengabaikan jalan ke pinggiran kota Bristol, dan titik ini memperluas ke dalam peta lain, yaitu sebuah peta jalan kota. Dalam hal ini, di dalam pemikiran skemp titik itu sekarang mewakili universitas. Setelah memarkir mobil skemp, skemp melanjutkan dengan berjalan kaki ke gedung, skemp memperluas titik ini menjadi sebuah rencana tiga - dimensi dari bangunan universitas.

(4)

Kemudian halaman itu seperti memperlihatkan area yang semakin mengecil di peta yang sama dengan perbesaran yang semakin meningkat. Jadi untuk menggambarakan hal ini, skemp telah menggunakan sebuah metafora dari photografi, dimana kita dapat membeli lensa dengan faktor fokus yang panjang. Melihat pada pemandangan yang sama, kita dapat menggunakan ini untuk memberi sebuah pemandangan sudut yang luas, dimana kita melihat dalam detail yang lebih sedikit. Atau dengan peningkatan fokus panjang kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih jelas, yaitu detail foto yang lebih dari sebuah area yang lebih kecil. Jika kita melihat pada sebuah titik dari sebuah peta perjalanan dengan sebuah kaca pembesar, kita tidak dapat melihat sebuah peta perjalanan dari sebuah kota. Dan di dalam peta mental Inggris, ada kota-kota bagi skemp, yang tetap merupakan titik-titik. Skemp tidak dapat mengakses beberapa detail lebih lanjut, diluar lokasi mereka secara keseluruhan. Tetapi di alam, ada detail yang lebih untuk dilihat, seperti: kota, jalan, bangunan, batu bata (atau apalah), struktur granular, molekul. Jadi model jenis ini adalah sebuah penggambaran yang baik dari lingkungan kita.

Untuk meringkas dua ide yang saling melengkapi, kita boleh mengatakan bahwa delta-dua memiliki sebuah kemampuan variable fokus untuk memeriksa konteks dari delta-satu, dan kemudian di dalam delta-satu, pengetahuan diorganisasikan di dalam skema, dan dianggap sebagai struktur konseptual yang terdiri dari beberapa konsep yang memiliki karakter khusus.

(5)

Dalam matematika, abstraksi yang berturut-turut, yang mengarah kepada pembentukan konsep yang urutannya tertata semakin tinggi dan pada umumnya menawarkan contoh yang sangat kuat, seperti telah disebutkan di atas. Ini adalah latihan yang menarik untuk menghubungkan sesuatu proses yang umum dan menganalisis tingkatan dari satu pekerjaan. Sebagai contoh dalam menyelesaikan sebuah persamaan. Satu skema yang tepat, yang siap dipilih yaitu matematika, bukan memasak ataupun membaca musik. Dalam sudut pandang yang sangat luas, perhatian untuk mengidentifikasi, tanpa sebuah detail, bahwa lokasi yang kita perlukan adalah aljabar. Semakin dekat kita melihat, maka membawa lebih banyak detail yang akan digunakan dalam menyelesaikan sebuah persamaan. Jika ini bukanlah bentuk yang sesuai, kita perlu memeriksa secara rinci, kita perlu menguji lebih dekat detailnya sebelum mengindentifikasinya sebagai sebuah persamaan kuadrat. Berkaitan dengan hal ini, sekarang kita menuju ke semua skema dari persamaan kuadrat, kita mempunyai beberapa latihan rutin dalam menyelesaikan ini. Namun kita belum pada titik awal dari semua ini. Untuk mendapatkan persamaan yang merupakan salah satu bagian sub tujuan kita, kita bergantian menggunakan skema persamaan kuadrat kita dan skema aljabar secara umum. Untuk menyelesaikan ini kita perlu memperhatikan dan melihat secara mendetail dan sebagian persamaan ini berasal dari sifat aljabar umum (yang rincian ini tidak diperlukan). Sepanjang waktu kita mengubah fokus kita, antara umum dan khusus, sehingga kita sangat cepat memutuskan untuk tidak perlu berpikir tentang hal itu. Hal ini untuk tujuan kita sendiri, agar kita lebih condong pada persamaan kuadrat. Tetapi untuk membantu proses itu tidak mulus dan mudah, kita perlu lebih reflektif dalam menyadari apa yang sedang terjadi.

C. SEBUAH MODEL RESONANSI

(6)

mengamati rak sebuah buku dalam sebuah topik tertentu; tetapi sering, seolah-olah buku yang tepat datang sendirinya ke tangan kita, terbuka pada halaman yang kita perlukan. Dalam bahasa model ini, kebanyakan dari skema kita tidak aktif pada waktu tertentu, kecuali jika kita sadar bahwa kita kelebihan infomasi dan kebanyakan informasi tersebut tidak relevan dengan kebutuhan kita sekarang. Tetapi untuk setiap situasi baru yang kita jumpai, biasanya skema yang tepat diaktifkan, dan di dalam skema tersebut terkandung konsep-konsep yang relevan. Bagaimana kita melakukan ini? dan bagaimana kata “Grup” mengandung suatu arti ketika skemp berpikir tentang aljabar, dan sebuah arti berbeda ketika skemp berpikir tentang pengorganisasian kelas?

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini dan pertanyaan lainnya, seperti yang telah dijelaskan pada buku sebelumnya (Skemp, 1979a), yaitu menggambarkan sebuah model resonansi untuk penyimpanan dan pengambilan informasi yang dikonseptualisasikan. Dengan resonansi, radio dan televisi menjadi sensitive selektif, untuk frekuensi tertentu dari antara banyak gelombang pembawa elektro-magnetik yang mencapai antena. Dengan resonansi telinga, kita membedakan antara dua hal dan mengidentifikasi suara yang berbeda nada dan warna suara. Dari titik awal seperti ini, skemp berpikir resonansi yang mungkin menawarkan model untuk aktivasi (pengambilan selektif dalam kesadaran) dari skema dan konsep. Perkembangan lebih lanjut dari model ini, telah menyarankan kemungkinan penjelasan fitur lain dari konsep, seperti cara-cara di mana mereka dapat berinteraksi secara kreatif untuk membentuk konsep-konsep baru, tanpa masukan lebih lanjut dari sumber-sumber luar, dan fenomena penggangu dari persepsi, yang telah menarik dibahas oleh Behr & Post ( Behr & Post , 1981).

D. HUBUNGAN ASOSIATIF DAN HUBUNGAN KONSEPTUAL

(7)

dari hubungan itu sendiri juga patut menjadi pertimbangan kita. Pada bagian ini, kita membedakan antara dua jenis koneksi, yang skemp sebut asosiatif dan konseptual. Untuk lebih pendek kita sebut A-link dan C-link, dan kita melihat beberapa kualitas dari A-link dan C-link.

Gambar 9.2 memberikan beberapa contoh koneksi asosiatif. Jika kita melihat bagian-bagian setiap konsep, hubungannya di sini adalah A-link. Sebagai contoh,

Gambar 9.2

Satu-satunya cara yang kita miliki dalam membentuk koneksi ini adalah dengan menghafalkan. Tidak ada keteraturan atau pola yang akan membuat belajar cerdas.

Sebaliknya, di sini adalah contoh dari koneksi konseptual:

Semua koneksi hanya diwakili oleh garis yang memiliki hal yang sama. Kita mungkin memang menganggapnya sebagai koneksi yang sama, tetapi diterapkan untuk pasangan yang berbeda dari angka, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9.3.

6 2 7 5 9

Nama dia John Smith

Nomor telpon dia

62759 Nomor telponkantor dia 3719

(8)

Gambar 9.3

Perbedaan kemudahan dalam belajar terlihat sangat besar. Bayangkan, di satu sisi, harus mempelajari seratus angka disusun sebagai dua puluh nomor telepon 5 digit, dan di sisi lain, harus mempelajari urutan yang dicetak di atas, sampai seratus istilah. (dengan demikian ada lebih dari seratus angka yang terlibat). Dalam kasus kedua, kita bahkan tidak perlu belajar semua nomor. Kita akan mempelajari miniatur dari struktur pengetahuan, atau skema, dari mana kita dapat menghasilkan semua istilah tunggal. Pengetahuan tentang jenis kedua juga lebih mudah beradaptasi. Jika ditanya, kita bisa mengatakan apa angka ke 100 dalam seri diatas, atau ke 99, atau tentunya ke 10 , 20, 21 , 19 dan seterusnya .

(9)

Dalam matematika juga terbentuk beberapa hubungan yang asosiatif, misalnya hubungan antara konsep angka dan simbol. Namun sebagian besar merupakan koneksi konseptual. Jika, kebanyakan terlalu banyak menggunakan pembelajaran asosiatif (hafalan), ada beberapa kerugian, yaitu; 1. Menyebabkan pembelajaran tidak efisiensi

2. Menghabiskan banyak tenaga.

3. Kerugian dalam penyesuaian atau adaptasi

Jadi belajar cerdas mengharuskan koneksi konseptual daripada koneksi asosiatif yang terbentuk setiap kali latihan.

Seperti yang telah disebutkan dalam bab 8, seseorang yang telah memiliki konsep, peka untuk mengenali salah satu contoh lebih lanjut dari konsep itu. Hal ini berlaku juga untuk koneksi konseptual, yang dengan sendirinya merupakan jenis tertentu dari konsep. Jadi seseorang yang telah merasa C-link di

Lebih mungkin untuk mengenali mereka di

Meskipun bukan C-link yang sama seperti sebelumnya. Berikut ini adalah urutan ketiga:

Ketiga urutan memiliki C-link yang keduanya sama dan berbeda. Mereka sama dalam hal ada perbedaan umum antara nomor yang berdekatan, tetapi mereka berbeda dalam hal, jumlah perbedaannya tidak sama. Dengan demikian, kualitas konseptual C-link menimbulkan konsep tatanan yang lebih tinggi, dalam hal ini, konsep deret aritmatika. Ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penemuan lebih lanjut, seperti

Perbedaan lain antara C-link dan A-link adalah bahwa sekali C-link telah dibentuk, ada sesuatu dimana kita bisa menggambarkan. Ini menjadi akses untuk kesadaran, kita dapat memberikan nama untuk itu, dan mengkomunikasikan itu. "Ada perbedaan umum antara angka yang berurutan. Di urutan kedua, ini adalah 13". Tapi ketika datang ke A-link, tampaknya

3 6 9 12 15

5 18 31 44 57

1 6 11 16 21

(10)

tidak mungkin untuk dapat mengetahui diluar yang sedang ada. Berikut ini adalah cara lain di mana belajar menghafal matematika memperberat orang yang menggunakan cara itu.

E. NAMA LAIN DARI SKEMA

Istilah skema dan struktur konseptual skemp digunakan saling bergantian, yang satu untuk memudahkan, dan yang satu lagi untuk menekankan dua kualitas, yaitu komponen konsep-konsep, tidak terisolasi tetapi terintegrasi.

Peta Konsep. Kita sadar, dalam Bab 2 dan 3 yang juga akan dijelaskan dalam bab ini, tentang sifat hierarkis dari beberapa struktur pengetahuan, terutama dalam matematika. Peta mental yang kita miliki dari lingkungan adalah tidak hierarkis. Konsep yang digunakan di tempat berbeda memiliki susunan yang sama, dan kita tidak perlu memiliki konsep baru yang dibentuk dari lokasi setempat. Demikian pula, kita dapat mempelajari kondisi geografi Denmark tanpa mempelajari terlebih dahulu kondisi Italia. Dalam pengetahuan, bagaimanapun, konsep-konsep tertentu merupakan prasyarat bagi pembentukan konsep-konsep lainnya. Skemp teringat, ketika beberapa tahun yang lalu skemp belajar untuk meraih gelar psikologi dan juga untuk lulus ujian fisiologi. Dalam hal ini skemp tidak memiliki pengetahuan prasyarat biokimia, dan lulus ujian hanya dengan hafalan-hafalan. Ini bukan sebuah pengalaman yang ingin skemp ulang, tetapi hal ini adalah salah satu hal yang dialami banyak anak dalam pembelajaran matematika, dengan cara yang mereka pelajari.

(11)

Bentuk resmi dari nomor 2

untuk hal-hal tertentu dalam matematika, kita mendapatkan sebuah skema perintah sebagian, menggambarkan konsep-konsep yang diperlukan untuk memahami pengetahuan lainnya. Penyusunan peta konsep erat kaitannya dengan analisis konseptual yang dijelaskan dalam Bab 2, halaman 18. Contohnya adalah pada Gambar. 9.4.

Gambar 9.4

(12)

Sebuah peta konsep semacam ini dapat digunakan setidaknya dalam dua cara, yaitu untuk merencanakan urutan pengajaran dan untuk diagnosis.

Pada bagian berikutnya, kita akan membahas hubungan antara skema dan rencana tindakan. Peta konsep adalah jenis tertentu dari skema, dimana kita dapat merancang jenis tertentu dari rencana, misalnya rencana mengajar. Hal ini juga memberikan kemampuan beradaptasi dalam pendekatan mengajar. Angka-angka pada peta konsep hanya ditampilkan untuk menunjukkan perintah, namun bukan hanya pendekatan urutan-urutan yang mungkin. Ketika membangun rumah bertingkat tiga, tidak menjadi masalah apakah kita akan membangun dari dinding depan atau dinding belakang, atau dinding samping, maupun dari lantai dasar pertama, tetapi semua kebutuhan harus tersedia di tempat itu sebelum lantai berikutnya dibangun. Demikian pula, dalam pembelajaran struktur matematika tertentu, mungkin ada perintah yang sah dengan beberapa pendekatan. Semua harus didasarkan pada prinsip yang sama, yaitu bahwa untuk memahami suatu konsep baru, pemahaman siswa dibentuk dan dikonsolidasikan dengan pemahaman sebelumnya sebagai prasyarat.

(13)

Selama beberapa tahun terakhir, tafsiran sebuah angka dalam peta konsep ini, selama tujuh tahun pertama bersekolah, telah membuat skemp menyadari kompleksitas konseptual dari tahap awal mempelajari matematika. Kegagalan untuk menjelaskan hal ini, merupakan salah satu alasan mengapa anak-anak terus mengalami kesulitan.

Frame dan Skema. Istilah kerangka dan variabel yang digunakan oleh Davis (1984), dan penulis lainnya, berhubungan erat dengan makna dari skema dan konsep. Berikut adalah contoh (Davis, 1984):

Frame. Kejadian yang sangat berpengaruh terhadap pengolahan informasi berhubungan dengan cara-cara yang kompleks dan saling terkait dengan informasi tertentu, berupa tipe aktif, dapat direpresentasikan dalam memori. Untuk memahami hal tersebut, diperlukan representasi struktur pengetahuan untuk mengemukakan jenis yang sangat khusus, yang dikenal sebagai Frame. (hal. 45)

Hal ini selanjutnya dibahas dalam konteks memahami bacaan, sebagaimana pendapat Davis yang menunjukkan ide-ide yang cukup umum.

(i) sebuah kalimat tertulis atau isyarat paragraf pengambilan satu atau lebih frame dari memori; (ii) frame ini kemudian menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tertentu, (iii) pembaca mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, dan memasukkan jawaban ini menjadi variabel dalam frame, sehingga menyatukan informasi frame umum dan informasi spesifik dari masukan individu, (iv) ketika jawaban tidak diperoleh dari input data, frame dapat melakukan evaluasi standar, (v) jika tidak input data atau standar evaluasi yang tersedia untuk mengisi variabel kunci, bingkai dapat menolak untuk fungsi, (vi) evaluasi dilakukan, untuk menentukan apakah pilihan frame telah benar, dan apakah variabel telah diisi dengan benar, (vii) dari pendapat ini, hampir semua pengolahan informasi selanjutnya akan didasarkan pada pemberian contoh data dalam frame dan data masukan sederhana akan diabaikan. (Davis, 1984, hal. 47ft)

Berikut adalah terjemahan ke dalam bahasa skema dan konsep.

Sebuah struktur konseptual disebut skema. Diantara fungsi-fungsi baru yang telah memiliki skema, di luar sifat yang terpisah dari konsep individu, adalah sebagai berikut: 1. Mengintegrasikan pengetahuan yang ada

2. Bertindak sebagai alat untuk pembelajaran pada masa depan

3. Membuat pemahaman yang mungkin.

Dalam konteks pemahaman bacaan,

(14)

(Davis, 1984, p.45), hal itu bukan kerangka yang menimbulkan pertanyaan; (iii) pembaca menggabungkan kata-kata untuk skemanya, dengan demikian memahami arti dari kalimat atau paragraf, (iv) informasi yang tidak berasal dengan cara ini dapat diberikan oleh seluruh skema, yang mewujudkan keteraturan (fitur umum) jenis situasi ini; (v) jika informasi penting yang tidak tersedia baik dari masukan tertulis maupun dari sisa skema, orang mungkin tidak mengerti, dan tidak dapat menjawab pertanyaan atau bertindak dengan tepat, (vi) intuitif atau evaluasi reflektif dilakukan, untuk menentukan apakah suatu skema yang digunakan tepat, dan apakah kalimat telah dipahami dengan benar, (vii) saat ini, hampir semua pemikiran, perencanaan, komunikasi, dan tindakan, akan didasarkan pada banyak informasi yang disediakan oleh kombinasi dari contoh tertentu dan skema umum yang telah berasimilasi.

Istilah skema telah digunakan lebih lama, yang telah diperkenalkan dalam psikologi oleh Bartlett (1932). Dan bagi skemp, istilah frame kurang sugestif dari kualitas skema, khususnya kualitas organik dan interioritas konsepnya. Slot, atau variabel, tidak membuat perbedaan penting antara konsep primer dan sekunder, tidak menjelaskan proses abstraksi yang kita bentuk. Skemp juga berhati-hati dalam menerima penjelasan sebagai metafora pemikiran manusia, tapi menyesatkan, yang disebut teknologi informasi. Proses simbol pada komputer, bukan informasi. Mereka bekerja pada tingkat sintaks saja, bukan semantik. Hati skemp telah diperdalam menjadi ketidakpercayaan sejak membaca analisis penetrasi Weizenbaum (1976).

Namun, skemp tidak berpikir itu lebih penting bahwa kita menggunakan terminologi yang berbeda, asalkan hal ini tidak mencegah kesadaran bahwa kita menggunakan ide yang sama, atau tidak menghambat komunikasi. Yang paling penting adalah untuk memahami pentingnya cara-cara di mana kita membawa pengetahuan terorganisir kita untuk digunakan pada setiap situasi baru, dengan cara ini dan lainnya, buku Davis telah memberi kontribusi yang berharga. Tema yang sama berjalan sepanjang karya Ausubel (Ausubel & Robinson, 1969).

(15)

menginternalisasi dan membuat makna baru, konsep yang dimengerti, dan proposisi, dengan relatif sedikit usaha dan beberapa pengulangan. (hal.57)

F. RENCANA

Rencana tindakan, bukan rencana dalam arti diagram. Dan kita akan berpikir banyak tentang tindakan mental, seperti dalam matematika, seperti tentang tindakan fisik, seperti dalam mengendarai mobil. Dengan makna ini, perencanaan adalah apa yang harus kita lakukan, secara fisik maupun mental, untuk mengambil langkah (apa pun yang sedang bertindak) dari keadaan sekarang ke tujuan.

(16)

lakukan kita perlu skema relasional untuk berkomunikasi bagaimana kita mencapai solusi, sistem simbol yang sesuai, dan untuk membangun bukti logis bahwa solusi kita benar, sebuah skema logis dimana hubungannya adalah kesimpulan, bahwa jika pernyataan tertentu adalah benar, maka pernyataan yang mengikuti juga harus benar.

G. KETERAMPILAN: MENJADI MAMPU

Untuk memiliki sebuah rencana tindakan, tidak sama dengan menempatkan rencana ini ke dalam tindakan. Penumpang mobil mungkin bisa menjadi navigator, merencanakan rute dan memberitahu sopir ke mana harus berbelok, ke kiri, atau kanan, atau jalan lurus. Tetapi penumpang ini tetap tidak bisa untuk mengemudikan mobil sendiri. Ini adalah kombinasi antara perencanaan, dan mampu memasukkannya ke dalam tindakan, yang kita sebut memiliki keterampilan.

Secara umum, skema bukan satu-satunya sumber dari rencana yang dapat membentuk dasar keterampilan. Beberapa diprogram secara genetik, yang lainnya dipelajari sebagai kebiasaan. Dalam kedua jenis tersebut, rencana dan tindakan menyatu, dan elemen kognitif kecil pengaruhnya. Dalam kedua kasus, keterampilan berguna dan efektif dalam kondisi tertentu, tetapi tidak memiliki kemampuan beradaptasi. Beberapa rencana genetik ditentukan oleh tindakan (naluri) yang sangat kompleks dan efektif sehingga sulit untuk melihat keduanya berbeda. Tetapi perbedaannya adalah dalam hal adaptasi mereka, seperti yang digambarkan Erikson (1950), seseorang yang datang dari Inggris ke Selandia Baru. Erikson menulis, "ketika musim dingin datang mereka semua selatan dan tidak pernah kembali, karena naluri mereka menunjuk ke selatan, tidak warmward" (hal. 88).

(17)

menghitung atau kesalahan dalam tanda. Kombinasi memiliki rencana dan mampu menerjemahkan hal ini dengan lancar dan terpercaya ke dalam tindakan, dalam konteks ini, kita maksud dengan keterampilan.

Pada tingkat tindakan, sulit untuk membedakan antara kebiasaan baik, dan keterampilan kognitif didasarkan dari jenis yang diuraikan di sini. Perbedaannya, lagi-lagi dalam hal adaptasi. Seorang anak yang memiliki tabel perkalian merupakan keterampilan kognitif, jika ia lupa hasil dari 7 x 9, dapat merekonstruksi itu, misalnya, dengan mengetahui bahwa 7 kurang dari 7 x 10. Dalam pengetahuan ini, ia juga memiliki contoh untuk digunakan dalam membentuk konsep yang lebih tinggi, yaitu pembagian dan perkalian atas penjumlahan dan pengurangan. Seorang anak yang hanya dilatih dengan baik dalam fakta-fakta perkalian memiliki satu keuntungan.

Janganlah kita meremehkan bahwa keuntungan memiliki fakta-fakta ini adalah mudah, akurat, dan terpercaya dalam bentuk rutinitas. Tetapi janganlah kita melupakan pentingnya pemahaman, yang mana rutinitas menjadi hafalan-belajar dari kebiasaan, sederhana atau tidak adaptif. Untuk membedakan antara keterampilan dimana dukungan kognitif hadir atau tidak, skemp jelaskan dalam Bab 5 istilah otomatis (skill dengan pemahaman) dan mekanik (kebiasaan hafalan-belajar). Untuk yang pertama, istilah fasih juga baik.

Gambar

Gambar 9.1B. MENGAPA PENGETAHUAN HARUS KONSEPTUAL.
Gambar 9.2Satu-satunya cara yang kita miliki dalam membentuk koneksi ini adalah
Gambar 9.3Perbedaan kemudahan dalam belajar terlihat sangat besar. Bayangkan, di
Gambar 9.4

Referensi

Dokumen terkait

mendorong siswa menterjemahkan konsep dengan kata-kata sendiri setelah membaca soal dan memahami; (2) pertanyaan strategi yaitu pertanyaan yang didesain untuk mendorong

para tokoh sehingga pembaca dengan cepat masuk dan ikut terlibat dalam penceritaan dan bisa memahami pentingnya arti agama dalam kehidupan yang akan menjadi pedoman untuk

Dalam bidang wacana, istilah tersebut memiliki arti sebuah proses yang harus dilakukan pembaca atau pendengar untuk memahami makna yang secara harfiah tidak

Teori modernisasi, misalnya, melihat negara secara teleologis dalam arti bahwa semua negara akan berkembang ke arah ideal tertentu, sementara dependensi memahami negara dalam

Model soal kumiawasehou ini dilakukan dengan cara menggabungkan atau mencocokkan kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang berhubungan antara kolom-kolom pertama yang berisi

Hasil penelitian juga konsisten dengan penelitian Afrinaldi (2013), yang menyatakan bahwa semakin besar rasio biaya training dikeluarkan bank mengandung arti

1) Kesulitan dalam mengenal kata-kata yang terdapat dalam bacaan. 2) Kesulitan dalam memahami arti kata dan istilah yang terdapat dalam bacaan. 3) Kesulitan dalam

Retorika adalah suatu gaya atau seni berbicara, baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) maupun melalui keterampilan teknis. Seni berbicara ini bukan hanya