• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan Infrastruktur dalam untuk Pengembang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebutuhan Infrastruktur dalam untuk Pengembang"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU

KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR UNTUK PENGEMBANGAN WILAYAH

(STUDI KASUS KABUPATEN SAMOSIR)

Mata Kuliah :

Sistem Wilayah, Lingkungan dan Hukum Pertanahan

Dosen :

Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.Rer.Reg.

Disusun Oleh :

No. Urut : 8

Nama : Rechian Hapsari

NRP : 03111750077011

PROGRAM PASCA SARJANA (S2)

BIDANG KEAHLIAN MANAJEMEN ASET INFRASTRUKTUR

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL, LINGKUNGAN, DAN KEBUMIAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

(2)

DAFTAR ISI

Daftar Isi ... 2

Daftar Tabel ... 3

Daftar Gambar ... 3

BAB I Pendahuluan ... 5

I.1. Latar Belakang ... 5

I.2. Rumusan Masalah ... 8

I.3. Tujuan ... 8

BAB II Tinjauan Pustaka dan Gambaran Umum ... 9

II.1. Tinjauan Pustaka ... 9

II.2. Gambaran Umum ... 12

II.2.1. Geografi ... 12

II.2.2. Demografi ... 14

II.2.3. Kondisi dan Potensi Ekonomi ... 15

BAB III Pembahasan ... 17

III.1. Metodologi ... 17

III.2. Isu Strategis dan Permasalahan ... 17

III.3. Strategi Pengembangan di Bidang Infrastruktur ... 21

BAB IV Kesimpulan ... 27

(3)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Komposisi PDRB Kabupaten Samosir Menurut Harga Konstan Tahun 2010... 16

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kawasan Wisata Danau Toba ... 5

Gambar 2. Proporsi PDRB Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Tahun 2015 ... 6

Gambar 3. Pertumbuhan PDRB 8 Kabupaten/Kota Terendah di Sumatera Utara ... 7

Gambar 4. Pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota Terkait Danau Toba ... 7

Gambar 5. Peta Administrasi Provinsi Sumatera utara dan Lokasi Kabupaten Samosir ... 12

Gambar 6. Peta Administrasi Kabupaten Samosir ... 13

Gambar 7. Jumlah dan Lajur Pertumbuhan Wisatawan Asing dan Domestik di Kabupaten Samosir ... 17

Gambar 8. Rata-rata Lama Inap Wisatawan ... 18

Gambar 9. Tingkat Hunian Hotel dan Akomodasi Lainnya... 18

Gambar 10. Komposisi PDRB Kabupaten Samosir ... 19

Gambar 11. Komposisi PDRB Kabupaten Badung ... 19

Gambar 12. Panjang Jalan di Kabupaten Samosir ... 20

Gambar 13. Komposisi Total Akomodasi di Kabupaten Samosir dan Provinsi Sumatera Utara ... 21

Gambar 14. Rencana Pembangunan Jalan Tol Kuala Tanjung – Bukit Tinggi – Parapat ... 22

Gambar 15. Bandar Udara Silangit Sebelum Pengembangan ... 22

Gambar 16. Rencana Pengembangan Bandar Udara Internasional Silangit ... 23

(4)

Gambar 18. Rencana Pengembangan Jalur Lingar Samosir ... 24

Gambar 19. Konsep Jembatan Tano Ponggol ... 25

Gambar 20. Pengolahan Air Minum oleh BUMDES ... 26

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pemerintah saat ini tengah berupaya mengembangkan kawasan-kawasan destinasi wisata baru yang diberi julukan Bali Baru . Kawasan-kawasan tersebut antara lain adalah Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Pulau Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Danau Toba (Sumatera Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Gunung Bromo (Jawa Timur), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Pantai Tanjung Lesung (Banten), dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

Sebagai salah satu tujuan wisata prioritas baru, Danau Toba diharapkan dapat menjadi penggerak perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sumatera Utara pada umumnya dan di sekitar Danau Toba pada khususnya. Ditargetkan pada tahun 2019, jumlah wisatawan yang berkunjung di Danau Toba sebanyak 1 juta orang. Untuk mencapai target tersebut, berbagai pengembangan telah diinisasi oleh pemerintah antara lain pengembangan Bandara Internasional Silangit, pembangunan Jalan Tol Kualanamu – Parapat, dan revitalisasi Danau Toba.

(6)

Pengembangan kawasan wisata Danau Toba tidak hanya dilakukan pada satu kabupaten saja, namun beberapa kabupaten yang terintegrasi. Kabupaten-kabupaten yang berperan serta dalam pengembangan kawasan wisata ini adalah Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Simalungun, dan Kabupaten Karo. Secara khusus, Kabupaten Samosis memiliki potensi pengembangan yang sangat besar, karena seluruh wilayah Pulau Samosir berada dalam kawasan administrasi kabupaten tersebut. Sehingga sejatinya pengembangan wilayah wisata Danau Toba akan berdampak besar secara ekonomi terhadap Kabupaten Samosir. Sedangkan tiga kabupaten lainnya adalah pintu gerbang menuju lokasi wisata Danau Toba.

Sumber: BPS Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 2. Proporsi PDRB Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Tahun 2015

(7)

Sumatera Utara. Begitu pula pada sisi pertumbuhan PDRB, diantara delapan kabupaten terendah, Kabupaten Samosir tidak menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Dan bahkan sejak tahun 2013 hingga 2015, pertumbuhan PDRB Kabupaten Samosir menunjukkan tren penurunan. Tren penurunan juga ditunjukkan kabupaten-kabupaten lainnya kecuali Pakpak bharat. Namun, hal ini seharusnya tidak terjadi pada Kabupaten Samosir yang memiliki keistimewaan sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Seharusnya potensi yang tidak dimiliki ketujuh kabupaten lainnya tersebut dapat membuat kabupaten tersebut memiliki pertumbuhan yang lebih baik lagi.

Sumber: BPS Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 3. Pertumbuhan PDRB 8 Kabupaten/Kota Terendah di Sumatera Utara

Sumber: BPS Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 4. Pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota Terkait Danau Toba

(8)

baik di tahun 2014 pada Kabupaten Karo dan Simalungan atau tahun 2015 pada Kabupaten Toba Samosir. Sedangkan kabupaten Samosir terus mengalami penurunan laju pertumbuhan dari tahun 2013 hingga 2015.

I.2. Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang kondisi yang terjadi, kami merumuskan masalah untuk kemudian dapat diungkap pada makalah ini. Sebagaimana berikut:

 Apa saja pembangunan infrastruktur yang telah dan yang akan dilakukan dalam upaya pengembangan wilayah Kabupaten Samosir?

I.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN

GAMBARAN UMUM

II.1. Tinjauan Pustaka

Pengembangan wilayah mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1980-an oleh para Geografiwan Eropa, terutama dari Negara Belanda, dengan kerjasama antar universitas di Eropa. Hasilnya adalah lahirnya program studi baru bernama Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah. Sebelum berdiri menjadi disiplin tersendiri yang memadukan Ilmu Geografi dengan Ilmu Perencanaan Wilayah, proyek ini dikenal dengan nama Rural and Regional Development Planning (RRDP).

Pada tahun 1950-an, gerakan Ilmu Wilayah muncul, dipimpin oleh Walter Isard untuk menghasilkan lebih banyak dasar kuantitatif dan analitis pada masalah geografi, sebagai tanggapan atas pendekatan kualitatif pada program geografi tradisional. Ilmu wilayah berisi pengetahuan bagaimana dimensi keruangan menjadi peran penting, seperti ekonomi regional, pengelolaan sumber daya, teori lokasi, perencanaan kota dan wilayah, transportasi dan komunikasi, geografi manusia, persebaran populasi, ekologi muka bumi dan kualitas lingkungan. Geografi ada karena adanya perbedaan keruangan antara suatu daerah dengan daerah lainnya. Geografi menjelaskan bagaimana bentuk dan lapisan muka bumi, bisa berbentuk sedemikian rupa secara sistematis. Juga berkaitan dengan kegiatan manusia di muka bumi yang berbeda-beda tersebut. Perbedaan Geografi dengan ilmu-limu lainnya seperti Pertanian, Geologi, dan lainnya adalah dari pendekatan teorinya.

(10)

Sehingga pengembangan wilayah merupakan usaha memberdayakan pihak terkait (stakeholders) di suatu wilayah dalam memanfaatkan sumberdaya dengan teknologi untuk memberi nilai tambah (added value) atas apa yang dimiliki oleh wilayah administratif/wilayah fungsional dalam rangka meningkatkan kualitas hidup rakyat di wilayah tersebut. Dengan demikian dalam jangka panjangnya pengembangan wilayah mempunyai target untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Cara mencapainya bersandar pada kemampuan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan lingkungan sekitar dan daya tampungnya serta kemampuan memanfaatkan peralatan pendukung (instrument) yang ada.

Dengan target tersebut dirancang skenario-skenario tertentu agar kekurangan-kekurangan yang dihadapi dapat diupayakan melalui pemanfaatan sumberdaya. Apabila konsep tersebut diterapkan di Indonesia, masih muncul persoalan berupa kekurangan teknologi untuk mengolah sumberdaya yang ketersediaannya cukup melimpah.

Pendekatan yang mengacu pada aspek sektoral dan spasial tersebut mendorong lahirnya konsep pengembangan wilayah yang harus mampu meningkatkan efisiensi penggunaan ruang sesuai daya dukung, mampu memberi kesempatan kepada sektor untuk berkembang tanpa konflik dan mampu meningkatkan kesejahteraan secara merata. Konsep tersebut digolongkan dalam konsep pengembangan wilayah yang didasarkan pada penataan ruang.

(11)

Konsep integrasi fungsional mengutamakan adanya integrasi yang diciptakan secara sengaja diantara berbagai pusat pertumbuhan karena adanya fungsi yang komplementer. Konsep ini menempatkan suatu kota/ wilayah mempunyai hirarki sebagai pusat pelayanan relatif terhadap kota/wilayah yang lain. Sedangkan konsep desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah tidak terjadinya aliran keluar dari sumberdana dan sumberdaya manusia. Pendekatan tersebut mempunyai berbagai kelemahan. Dari kondisi ini munculah beberapa konsep untuk menanggapi kelemahan tersebut. Konsep tersebut antara lain people center approach yang menekankan pada pembangunan sumberdaya manusia, natural resources based development yang menekankan sumberdaya alam sebagai modal pembangunan, serta technology based development yang melihat teknologi sebagai kunci dari keberhasilan pembangunan wilayah. Kenyataan menunjukkan bahwa aplikasi konsep tersebut kurang berhasil dalam membawa kesejahteraan rakyat.

Walaupun teori keunggulan komparatif tersebut telah bermetamorfose dari hanya memperhitungkan faktor produksi menjadi berkembangnya kebijaksanaan pemerintah dalam bidang fiskal dan moneter, ternyata daya saing tidak lagi terletak pada faktor tersebut (Alkadri et.al. (1999). Kenyataan menunjukkan bahwa daya saing dapat pula diperoleh dari kemampuan untuk melakukan perbaikan dan inovasi secara terus menerus. Menurut Porter (Tiga Pilar pengembangan Wilayah, 1990) keunggulan komparatif telah dikalahkan oleh kemajuan teknologi. Namun demikian setiap wilayah masih mempunyai faktor keunggulan khusus yang bukan didasarkan pada biaya produksi yang murah saja, tetapi lebih dari itu yaitu adanya inovasi untuk pembaharuan. Suatu wilayah dapat meraih keunggulan daya saing melalui 4 (empat) hal yaitu keunggulan faktor produksi, keunggulan inovasi, kesejahteraan masyarakat, dan besarnya investasi.

(12)

lain secara nasional. Namun pendekatan ini mempunyai kelemahan yang antara lain apabila salah di dalam mengelola jaringan keruangan tadi tidak mustahil menjadi awal dari proses disintegrasi. Untuk itu harus diterapkan konsep pareto pertumbuhan yang bisa mengendalikan keseimbangan pertumbuhan dan dikelola oleh pemerintah pusat. Konsep pareto ini diharapkan mampu memberikan keserasian pertumbuhan antar wilayah dengan penerapan insentif-insentif kepada wilayah yang kurang berkembang.

II.2. Gambaran Umum

II.2.1. Geografi

Kabupaten Samosir merupakan salah satu dari 33 kabupaten/kota yang masuk dalam administrasi Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Samosir juga merupakan bagian kawasan wisata Danau Toba. Kawasan Kabupaten ini terdiri dari seluruh kawasan Pulau Samosir dan sebagian wilayah bibir Danau Toba.

Gambar 5. Peta Administrasi Provinsi Sumatera utara dan Lokasi Kabupaten Samosir

Secara geografis Kabupaten Samosir terletak di antara 20 – 20

(13)

- 2.157 meter di atas pemukaan laut. Luas wilayah Kabupaten Samosir adalah ± 2.069,05 km2, terdiri dari luas daratan ± 1.444,25 km2 (69,80 %), yaitu seluruh Pulau Samosir yang dikelilingi oleh Danau Toba dan sebahagian wilayah daratan Pulau Sumatera, dan luas wilayah danau ± 624,80 km2 (30,20 %).

Menurut kecamatan, wilayah daratan yang paling luas adalah Kecamatan Harian dengan luas ± 560,45 km2 (38,81 %), diikuti oleh Kecamatan Simanindo ± 198,20 km2 (13,72 %), Kecamatan Sianjur Mulamula ± 140,24 km2 (9,71 %), Kecamatan Palipi ± 129,55 km2 (8,97 %), Kecamatan Pangururan ± 121,43 km2 (8,41 %), Kecamatan Ronggurnihuta ± 94,87 km2 (6,57 %),Kecamatan Nainggolan ± 87,86 km2 (6,08 %), Kecamatan Onanrunggu ± 60,89 km2 (4,22 %), dan Kecamatan Sitiotio ± 50,76 km2 (3,51 %).

Sumber: wikipedia

Gambar 6. Peta Administrasi Kabupaten Samosir

(14)

Wilayah administrasi pemerintahan kecamatan di Kabupaten Samosir hingga tahun 2016 tidak mengalami pemekaran, yaitu terdiri dari 9 kecamatan. Sementara wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan mengalami pemekaran pada tahun 2012, yaitu dari 111 desa dan 6 kelurahan menjadi 128 desa dan 6 kelurahan.

II.2.2. Demografi

Berdasarkan angka proyeksi penduduk pertengahan tahun, penduduk Kabupaten Samosir pada tahun 2016 adalah sebanyak 124.496 jiwa, terdiri dari 61.904 penduduk laki-laki (49,72 %) dan 62.592 penduduk perempuan (50,28 %), dengan rasio jenis kelamin sebesar 98,90 dan angka kepadatan penduduk mencapai 86,20 jiwa/km2. Sementara itu rumah tangga yang ada di Kabupaten Samosir adalah sebanyak 30.007 dengan rata-rata penduduk tiap rumah tangga sebesar 4,15 jiwa/rumah tangga.

Menurut persebaran penduduk tiap kecamatan, penduduk yang lebih banyak adalah di Kecamatan Pangururan, yaitu 30.648 jiwa (24,62 %), dengan angka kepadatan penduduk mencapai 252,39 jiwa/km2, sedangkan penduduk yang paling sedikit adalah di Kecamatan Sitiotio yaitu 7.376 jiwa (5,92 %), dengan angka kepadatan penduduk mencapai 145,31 jiwa/km2. Kecamatan yang mempunyai angka kepadatan penduduk paling kecil adalah Kecamatan Harian. Meskipun memiliki wilayah yang paling luas, yaitu mencapai 560,45 km2, tetapi hanya didiami oleh penduduk sebanyak 8.158 jiwa (6,55 %) dengan rata-rata 14,56 jiwa/km2. Hal ini disebabkan karena sebagian besar wilayahnya merupakan areal hutan produksi maupun hutan lindung dan juga areal pertanian.

(15)

tergolong bukan angkatan kerja adalah sebanyak 9.237 jiwa (11,62 %), yaitu mereka yang sekolah sebanyak 3.391 jiwa, mengurus rumah tangga sebanyak 2.135 jiwa, dan melakukan kegiatan lainnya sebanyak 3.711 jiwa. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) penduduk Kabupaten Samosir tahun 2015 adalah sebesar 1,28 %.

II.2.3. Kondisi dan Potensi Ekonomi

PDRB Kabupaten Samosir pada tahun 2016 adalah sebesar 2.635 milyar rupiah dengan laju pertumbuhan sebesar 5.27% dari tahun sebelumnya. Komposisi terbesar dalam PDRB tersebut adalah bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan yakni sebesar lebih dari 50%. Bidang lapangan usaha ini masih menjadi yang paling utama sejak tahun 2012 hingga 2016, dengan laju pertumbuhan rata-rata kurang lebih 5,55%. Kemudian disusul bidang konstruksi dan real estate dengan total rasio sebesar lebih dari 12%.

BIDANG LAPANGAN USAHA 2012 2013 2014 2015 2016

A Pertanian Kehutanan dan Perikanan 1,116.21 1,184.48 1,253.46 1,319.69 1,385.46

B Pertambangan dan Penggalian 12.43 13.37 14.33 15.34 16.42

C Industri Pengolahan 12.6 12.99 13.4 13.91 14.28

D Pengadaan Listrik dan Gas 1.46 1.58 1.75 1.9 1.94

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

1.06 1.11 1.17 1.23 1.3

F Konstruksi 214.26 225.22 236.68 250.56 267.91

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

228.22 243.09 258.05 274.79 293.78

H Transportasi dan Pergudangan 60.13 64.15 68.4 73.73 79.49

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 95.85 102.94 110.27 118.34 127.68

J Informasi dan Komunikasi 20 21.79 23.44 24.73 26.62

Produk Domestik Regional Bruto 2,105.65 2,234.09 2,367.1 2,503.78 2,635.77

(16)

Sumber: BPS Sumatera Utara

Tabel 1. Komposisi PDRB Kabupaten Samosir Menurut Harga Konstan Tahun 2010

(17)

BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Metodologi

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah qualitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS), makalah-makalah penelitian sebelumnya, dan artikel-artikel terkait. Paparan, peraturan, dan perundangan yang terkait juga dijadikan sumber untuk memperkaya pembahasan.

III.2. Isu Strategis dan Permasalahan

Sebagai satu-satunya pulau yang berada di Danau Toba, Pulau Samosir memiliki berbagai potensi destinasi wisata yang menarik. Obyek wisata tersebut terdiri dari wisata alam, sejarah, dan budaya, antara lain bukit Holbung, makam Raja Sidabutar, Museum Huta Bolon Simaninda Batak, Menara Pandang Tele, dan Kursi Batu Siallagan. Namun, destinasi wisata tersebut masih belum digarap secara maksimal sehingga masih sedikit wisatawan yang berkunjung di Pulau Samosir. Tercatat pada tahun 2016, jumlah wisatawan di Kabupaten Samosir tidak lebih dari 200.000 orang, dimana kurang dari 40.000 orang merupakan wisatawan mancanegara.

Sumber: BPS Kabupaten Samosir

Gambar 7. Jumlah dan Lajur Pertumbuhan Wisatawan Asing dan Domestik di Kabupaten Samosir

(18)

menunjukkan bahwa wisatawan yang datang di Kabupaten Samosir cenderung hanya untuk sekedar mampir dan tidak berlama-lama menikmati atraksi pariwisata di sana. Hal ini juga ditunjang data tingkat hunian hotel dan akomodasi di Sumatera Utara. Tingkat hunian di Kabupaten Samosir jauh di bawah rata-rata tingkat hunian di Sumatera Utara, 16,83% berbanding 48,52% pada tahun 2016. Begitu pula jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di sekitar Danau Toba.

Sumber: BPS Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 8. Rata-rata Lama Inap Wisatawan

Sumber: BPS Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 9. Tingkat Hunian Hotel dan Akomodasi Lainnya 10

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

(19)

Sumber: BPS Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 10. Komposisi PDRB Kabupaten Samosir

Sumber: BPS Bali, diolah oleh penulis

Gambar 11. Komposisi PDRB Kabupaten Badung

(20)

Hidayat menyebutkan ada tiga permasalahan mendasar pada kawasan wisata Danau Toba, antara lain:

1. Aksesibilitas

Akses menuju ke kawasan wisata Danau Toba masih dirasa sulit. Saat ini jalur yang tersedia adalah jalur darat menggunakan kendaraan bermotor. Sedangkan akses mobilitas di dalam kawasan Danau Toba juga memiliki banyak kekurangan. Di Kabupaten Samosir, panjang jalan hampir tidak banyak mengalami perubahan sejak tahun 2008. Panjang jalan nasional dan provinsi tidak mengalami penambahan, sedangkan jalan kabupaten dengan kualitas yang lebih rendah hanya bertambah kurang dari 200 m dalam waktu 8 tahun terakhir.

Sumber: BPS Kabupaten Samosir

Gambar 12. Panjang Jalan di Kabupaten Samosir

2. Amenitas

(21)

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah oleh penulis

Gambar 13. Komposisi Total Akomodasi di Kabupaten Samosir dan Provinsi Sumatera Utara

3. Atraksi

Permasalahan atraksi merupakan permasalahan pada kualitas produk wisata yang akan dipromosikan dan dipasarkan. Permasalahan ini juga diungkap oleh Simarmata (2012) dimana pengunjung Danau Toba merasa sarana pendukung dan kegiatan wisata di lokasi penelitian kurang memuaskan.

III.3. Strategi Pengembangan di Bidang Infrastruktur

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, baik pemerintah pusat maupun daerah melakukan beberapa pengembangan. Pengembangan Diantaranya sebagai berikut:

1. Konektivitas menuju Danau Toba a. Pembangunan jalan tol

(22)

Gambar 14. Rencana Pembangunan Jalan Tol Kuala Tanjung – Bukit Tinggi – Parapat

b. Pengembangan bandar udara

Bandar udara yang akan dikembangkan adalah Bandara Silangit dan Bandara Sibisa. Bandara Silangit akan dikembangkan hingga memiliki berstandar internasional. Sebelumnya bandara ini adalah bandara perintis yang memiliki panjang landasan 1.800 meter sehingga hanya bisa didarati pesawat berbadan kecil. Bandara Silangit terletak di Siborong-Borong, Kabupaten Tapanuli Utara. Selain itu, juga dikembangkan bus bandara yang menghubungkan bandara dengan tempat-tempat strategis.

(23)

Gambar 16. Rencana Pengembangan Bandar Udara Internasional Silangit

Sedangkan Bandar Udara Sibisa direncanakan akan diperpanjang landas pacunya. Tujuan perpanjangan landasan adalah agar Bandara Sibisa dapat didarati oleh pesawat ATR dan Boeing 737. Dengan demikian, Bandara Sibisa bisa menjadi titik tolak alternatif wisata kawasan Toba.

Gambar 17. Rencana Pengembangan Bandar Udara Sibisa

2. Konektivitas di Pulau Samosir a. Jalur lingkar samosir

(24)

adalah keterbatasan anggaran pemerintah daerah untuk mengejar target pembangunan yang diharapkan. Sepanjang jalur ini direncanakan memiliki atraksi-atraksi wisata yang menarik, seperti anjungan cerdas seperti yang di bali, tempat istirahat dengan pemandangan alam yang indah, dan konektivitas pedestrian yang baik.

Sumber: Kementerian Pariwisata

Gambar 18. Rencana Pengembangan Jalur Lingar Samosir

b. Pengembangan dermaga

Direncanakan akan dilakukan pengembangan pada dua dermaga di kawasan Danau Toba, yakni dermaga Ambarita dan Dermaga Simanindo. Dua dermaga tersebut akan dikembangkan hingga menjadi dermaga bertaraf internasional. Pengembangan tersebut dapat mengatasi permasalahan kepadatan antrian penyeberang yang sering terjadi pada akhir minggu. Pembangunan tersebut menjadi tanggungjawab Kementerian Perhubungan.

c. Pembangunan jembatan menuju Pulau Samosir

(25)

(menghormati keluarga istri), elek marboru (mengayomi wanita), dan minat mardongan tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga).

Sumber: Kementerian PUPR

Gambar 19. Konsep Jembatan Tano Ponggol

3. Pengembangan pengelolaan sarana air baku dan minum

(26)

Gambar 20. Pengolahan Air Minum oleh BUMDES

4. Pembangunan atraksi wisata baru

Pembangunan lainnya yang direncanakan adalah pembangunan atraksi wisata baru berupa Patung Yesus raksasa. Pembangunan dipercaya dapat meningkatkan jumlah wisatawan secara signifikan, sebagaimana yang terjadi di Tana Toraja. Patung Yesus tersebut direncanakan akan dibangun di Desa Boho Kecamatan Sianjurmula-mula.

(27)

BAB IV

KESIMPULAN

Kabupaten Samosir memiliki potensi sektor pariwisata yang belum tergali secara maksimal. Perekonomian kabupaten tersebut masih didominasi oleh sektor pertanian dan sejenisnya. Kontribusi sektor pariwisata di dalam PDRB masih sangat kecil, jika melihat potensi yang dimiliki berupa destinasi wisata Danau Toba yang berkelas dunia.

Kebutuhan infrastruktur merupakan hal yang mutlak bagi pembangunan wilayah di Kabupaten Samosir dan sekitarnya untuk menggerakkan sektor pariwisata. Konektivitas merupakan salah satu permasalahan mendasar yang dialami Kabupaten Samosir, selain amenities dan atraksi.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Ratman, D. R. (27 Januari 2016). PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS 2016 – 2019 [Presentasi Powerpoint]. Jakarta, diakses pada 5 Mei 2018:

http://www.kemenpar.go.id/userfiles/Paparan%20-%20Deputi%20BPDIP.pdf

Simarmata, M. (2012). Persepsi Wisatawan terhadap Pariwisata Danau Toba – Parapat. Jurnal Akar (1), pp 137-145.

Kementerian PUPR. (2016). Sinkronisasi Program dan Pembiayaan Pembangunan Jangka Pendek 2018-2020 Keterpaduan Pengembangan Kawasan dengan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pulau Sumatera

Gideon, A. (19 Mei 2018). Tiga Masalah Utama Pengembangan Pariwisata Danau Toba. Diakses pada 5 Mei 2018:

Gambar

Gambar 1. Kawasan Wisata Danau Toba
Gambar 5. Peta Administrasi Provinsi Sumatera utara dan Lokasi Kabupaten Samosir
Gambar 6. Peta Administrasi Kabupaten Samosir
Gambar 8. Rata-rata Lama Inap Wisatawan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah opsi call memberikan hak, bukan kewajiban, kepada pemiliknya (holder) untuk membeli sebuah aset dari writer dengan harga yang telah disepakati (strike price

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat peristiwa pertukaran ion antara fly ash dan ammonium karbonat pada waktu 2 jam dan 3 jam dapat dilihat bahwa semakin tinggi waktu

Secara teoritas telah diuraikan, bahwa perencanaan merupakan fungsi managemet yang memegang peranan yang sangat penting untuk tercapainya efektifitas k erja dan

Hasil unjukkan faktor aruh terhadap n pencegahan huan, sikap dan uk meningkatkan melaksanakan da pertolongan n peningkatan an untuk n nakes antara elatihan dapat rkala

Kemudian penggunaan beberapa satelit inderaja, seperti satelit HIMAWARI untuk EWS, NOAA, MODIS, SPOT dan LANDSAT beserta orbitnya yang dapat digunakan pada

b) Pencegahan HIV/AIDS, kegiatannya dengan melakukan pencegahan penularan ibu ke anak, memberikan layanan kesehatan kepada para remaja, pemeriksaan dan pengobatan

Pada luka insisi operasi dilakukan infiltrasi anestesi local levobupivakain pada sekitar luka karena sekresi IL-10 akan tetap dipertahankan dibandingkan tanpa

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia, didalamnya terkandung pesan moral yang