• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE SASTRA DALAM KEGIATAN B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN METODE SASTRA DALAM KEGIATAN B"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN METODE SASTRA DALAM KEGIATAN

BELAJAR MENGAJAR BERBASIS PENDIDIKAN

AGAMA ISLAM DI PESANTREN

Karya Ilmiah

Diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti Program Beasiswa Unggulan Kemendikbud Tahun 2014

Oleh:

Fachriana Hanifiyah

NIMKO: 133306000

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia pada umumnya lebih menyukai suatu keindahan yang mereka

alami dan mereka lihat dalam kehidupan mereka sehari – hari. Adakalanya

keindahan tersebut dihasilkan dari kegiatan yang mereka lakukan yang berkaitan

dengan tingkah lakunya, bahkan keilmuannya. Oleh karena itu, hal ini dapat

dikatakan bahwa mereka cenderung mempersepsikan segala jenis kegiatan yang

mereka lakukan sebagai suatu wujud yang menghasilkan suatu keindahan.

Sebaliknya, sesuatu yang memang tidak baik ataupun rumit untuk dipandang dan

dilakukan terkadang menjadi suatu kendahan. Dalam kasus ini, sebagai

contohnya, seorang anak yang secara tidak sengaja melewati suasana pinggiran

perkotaan yang memiliki suasana yang kotor dan penuh dengan sampah. Anak

tersebut terasa memiliki sebuah imajinasi yang tinggi akan sebuah keindahan;

bahwa yang dia lihat saat itu, bilamana dilukiskan dalam suatu karya yang berupa

gambar akan terasa indah di depan mata.

Berangkat dari pernyataan di atas inilah, sebuah kajian sastra yang sudah

kian dinamai sebagai sebuah keilmuan yang identik dengan keindahan ataupun

nilai estetika telah diterapkan dalam dunia pendidikan juga, khususnya pendidikan

agama Islam. Dalam realitasnya, sebuah lembaga pendidikan yang masih

mengikat pada pengkajian nilai estetika kesastraan pada proses pembelajaran

pendidikan yang berbasis keagamaan adalah pesantren.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan yang dideskripsikan pada latar belakang tersebut,

penulis bermaksud memberikan rumusan masalah sebagai studi kasus atas

penjelasan yang berkaitan dengan judul karya ilmiah ini. Adapun rumusan

(3)

1. Seperti apakah wujud dari pada kajian sastra yang diterapkan pada

pembelajaran keagamaan di pesantren?

2. Bagaimanakah implementasi kajian sastra pada pembelajaran para

santri di pesantren?

3. Bagaimanakah hubungan antara sastra dan pesantren?

C. Tujuan Penulisan

Dalam rangka membangun sebuah pemahaman dan korrespondensi

terhadap permasalahan yang dikaji dalam karya ini, maka penulis mengajukan

beberapa tujuan penulisan karya ilmiah ini. Adapun tujuan penulisan tersebut

antara lain:

1. Untuk mengetahui dan memahami eksistensi sastra dalam ruang

lingkup pesantren

2. Sebagai media informasi bagi para pelajar khususnya yang telah

berdomisili di pesantren (Santri) akan adanya sastra dan nilai sastra di

pesantren

3. Untuk mengetahui penerapan kajian sastra pada pembelajaran para

santri di pesantren

4. Untuk menyempurnakan tujuan pendidikan yang sebenarnya

D. Ruang Lingkup Pembahasan

Untuk menghindari pemikiran yang begitu merumitkan para pembaca,

khususnya para pelajar akan karya ini, maka penulis bermaksud memberikan

ruang lingkup pembahasan sebagai media untuk menyatukan konsep pemikiran

antara penulis dan pembaca dalam rangka pemahaman terhadap isi dan penjelasan

yang dimaksudkan dalam karya ilmiah ini. Oleh karena itu, penulis membatasi

karya ilmiah ini pada penerapan ataupun implementasi kajian sastra – meliputi

nilai kesastraan pada pembelajaran (kegiattan keagamaan) para santri di

pesantren.

E. Sistematika Penulisan

(4)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini, penulis memberikan gambaran keseluruhan

yang singkat dan akurat mengenai apa yang akan dibahas

dalam karya ilmiah ini yang bertujuan untuk mengantarkan

para pembaca kepada rasa ingin tahu yang kuat kepada apa

yang dibahas dalam karya ilmiah ini. Adapun beberapa sub

materi dari bab ini meliputi latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, dan

sistematika penulisan.

BAB II KERANGKA TEORI

Pada bab ini, penulis akan memberikan sekilas tentang

variabel yang ada pada judul karya ilmiah. Kerangka teori

ini merupakan gambaran secara umum tentang pembahasan

variabel – variabel yang menjadi istilah acuan. Adapun sub

materi dalam bab ini meliputi pengertian sastra, fungsi

sastra, pengertian pendidikan, dan fungsi pendidikan.

BAB III PEMBAHASAN

Dalam bab ini, penulis akan memaparkan dan menjelaskan

secara umum tentang judul karya ilmiah ini dengan

menyatukannya kepada kerangka teori.

BAB IV PENUTUP

Bab ini merupakan kesimpulan dari pembahasan yang

merupakan jawaban terhadap masalah serta berisi tentang

saran – saran yang telah direkomendasikan oleh penulis

(5)

BAB II

KERANGKA TEORI

A. Pengertian Sastra

Pada hakikatnya, kata “sastra” diintisari dari bahasa sanskerta “shastra”,

yang mempunyai arti teks yang mengandung instruksi ataupun pedoman. Jika kita

cermati dari segi suku katanya, kata “sastra’ akan terpecah menjadi “sas” yang

berarti instruksi ataupun ajaran, dan “tra” yang berarti alat ataupun sarana.

Sehingga, dalam Bahasa Indonesia, kata “sastra” tersebut bisa digunakan untuk

merujuk kepada “kesusastraan” yang memiliki pengertian sebuah jenis tulisan

yang memiliki arti ataupun keindahan tertentu.

Dari pernyataan tersebut, kita dapat mendefinisikan bahwa sastra adalah

jenis kesenian yang merupakan hasil kristalisasi nilai – nilai yang telah disepakati

untuk terus menerus dibongkar dan dikembangkan dalam suatu masyarakat. Nilai

– nilai tersebut tersirat dalam sebuah bahasa yang menjadi inti dari sastra tersebut,

dikarenakan eksistensi sastra yang tidak jauh dari bahasa.1 Berangkat dari nilai –

nilai itulah, seseorang mampu membaca dan memproyeksikan arti sebuah

kehidupan. Tidak menutup kemungkinan, seseorang akan terasa nyaman dan peka

dalam mempelajari sesuatu jika sesuatu tersebut dihiasi dengan sastra dan

keindahannya.

Dalam ruang lingkup yang sama, sastra tidak bisa lepas dari sebuah karya

sastra yang merupakan buah atau hasil, bahkan bisa menjadi wujud dari sebuah

sastra. Hal ini telah terbukti dengan adanya beberapa karya konkrit sastra yang

telah dicetak menjadi sebuah buku, misalnya novel, pantun, cerita pendek,

dongeng, kisah – kisah zaman dahulu, dan lain sebagainya. Dari pernyataan

tersebut, kita dapat menyimpuulkan bahwa sastra yang semula dikenal sebagai

karya yang sering diekspresikan dengan bahasa lisan, kini telah menjadi karya

(6)

yang telah ditulliskan sebagai script yang dengan mudah didapatkan oleh

masyarakat terutama kaum pelajar.

B. Fungsi Sastra

Sastra, pada hakikatnya dibutuhkan oleh manusia di sepanjang sejarah dan

perjalanan hidupnya. Dalam sastra-lah terdapat berbagai filosofi dari kehidupan

manusia. Dalam hal ini, seorang pemikir Romawi yang bernama Horatius,

mengemukakan istilah dulce et utile dalam karyanya yang berjudul Ars Poetica,

yang memiliki makna bahwa sastra memiliki fungsi ganda, yakni menghibur dan

bermanfaat bagi pembacanya. Sastra memang menghibur dengan keindahan,

memberikan makna terhadap kehidupan, ataupun mmeberikan keleluasaan

terhadap dunia imajinasi.2 Bagi banyak orang, sastra menjadi sarana untuk

menyampaikan pesan tentang kebenaran baik secara tersirat maupun tersurat.

Oleh karena itu, sastra dapat diibaratkan sebagai potret ataupun sketsa kehidupan

secara global.

Dalam hal fungsi, sastra telah mengalami berbagai perubahan dari zaman

ke zaman sesuai dengan kondisi dan keadaan lingkungan pada saat itu. Saat ini,

sastra juga merupakan media komunikasi yang melibatkan tiga komponen di

dalamnya, yaitu pengarang sebagai pembuat karya sastra, karya sastra sebagai

hasil tangan dan buah piker pengarang, dan penerima pesan yang dalam hal ini

pembaca ataupun penikmat karya sastra.3 Adapun fungsi – fungsi sastra dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Fungsi Rekreatif.

Dalam hal ini, karya sastra dapat memberikan hiburan yang

menyenangkan bagi pembaca atau penikmatnya.

2. Fungsi Didaktif

2

Melani Budianta, Membaca Sastra – Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi, (Magelang:IKAPI,2006), Cet.3, Hal. 19

(7)

Dalam fungsi didaktif ini, karya sastra mampu mengarahkan pembaca

untuk bertindak sesuai dengan nilai - nilai kebenaran dan kebaikan. Setiap

karya sastra yang tercipta secara langsung maupun tidak langsung

memberi hikmah yang dapat kita terapkan dalam kehidupan.

3. Fungsi Estetis

Fungsi estetis adalah bahwa karya sastra mampu menciptakan dan

memberikan keindahan bagi pembacanya. Karya sastra diciptakan dengan

mempertimbangkan sifat keindahannya. Melalui bentuk yang indah inilah

karya sastra dapat hadir dan diterima oleh banyak orang.

4. Fungsi Moralitas

Dalam hal ini, karya sastra mampu mendedikasikan pengetahuan tentang

moral yang baik dan buruk. Melalui karya sastra pembaca dapat

mengetahui moral yang patut dicontoh karena baik dan tidak perlu

dicontoh karena buruk.

5. Fungsi Religious

Dalam fungsi ini, karya sastra juga memperhatikan ajaran-ajaran agama

yang dapat diteladani oleh para pembacanya. Terkadang ajaran itu tidak

dapat diterima secara langsung oleh seseorang lewat khotbah. Akan tetapi,

melalui karya sastra yang dikemas dalam bentuk cerita, maka ajaran itu

dapat tersampaikan dan diterima dengan senang hati tanpa merasa ada

paksaan.

C. Pengertian Pendidikan

Secara harfiah, pendidikan berasal dari kata didik yang berarti memelihara

dan memberikan latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan

juga dapat diartikan sebagai sebuah proses pembimbingan manusia dari

kegelapan, kebodohan kepada pencerahan pengetahuan yang hakiki.4 Di samping

itu, pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup

(8)

ataupun mencapai kemajuan yang lebih baik. Apa yang ditekankan dalam

pengertian pendidikan ini ialah sadar dan sistematik.5

Oada hakikatnya, pendidikan merupakan sarana fundamental upaya

manusia untuk memperoleh kelangsungan hidupnya. Pendidikan juga merupakan

hak asasi setiap manusia dalam proses mempersiapkan dirinya menuju masa

depan yang yang lebih baik, dan yang bermanfaat bagi dirinya maupun bangsa

dan negaranya. Pemerintah juga memberikan dukungan yang penuh terhadap

setiap masyarakat pada umumnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak

untuk tujuan bersama. Hal tersebut relah tersirat dan tersurat dalam Muqaddimah

Undang – Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang berbunyi “Melindungi segenap

bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan

bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.6

Sejalan dengan beberapa pengertian tersebut, maka usaha pendidikan

dilaksanakan mulai dari tahapan makro yang meliputi nasional ataupun structural,

meso yang meliputi institusionalm dan mikro yang meliputi instruksional dalam

ruang lingkup fungsi manajerial, operasional, penelitian dan pengembangan, dan

penunjang.

Selanjutnya, argumentasi – argumentasi yang berkaitan dengan pengertian

pendidikan dapat dilihat secara jelas dengan sebuah kajian filosofi bahwa manusia

pada hakikatnya membutuhkan berbagai model – model bimbingan yang akan

mengarahkan mereka pada suatu kebenaran. Kita mengenal istilah “ilmu”, yang

pada umumnya digunakan untuk mendeskripsikan sebuah disiplin pengetahuan

yang sistematis dan logis yang mudah dicerna oleh pikiran manusia. Demikian,

ilmu tersebut harus dihantarkan dan disampaikan oleh seorang subjek dan

tentunya secara adat dan formal pendidikan, diajarkan dalam sebuah lembaga

5

(9)

pendidikan yang di dalamnya terdapat sebuah kurikulum7 yang mengatur jalannya

proses pembelajaran.

D. Pengertian Pesantren

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam Indonesia yang

berbasis sistem pendidikan “tradisional” untuk mendalami bidang ilmu-ilmu Islam

dan mengamalkan ilmu tersebut sebagai pedoman hidup keseharian atau perilaku.

Secara teknis, pesantren adalah tempat di mana para santri tinggal. Dapat

dikatakan bahwa pesantren serupa dengan akademi militer atau biara, dalam artin

bahwa mereka yang berada di pesantren mengalami suatu kondisi totalitas.

Dibandingkan dengan pendidikan parsial yang ditawarkan oleh system pendidikan

public Indonesia sekarang, yang menjadi budaya atau adat pendidikan umum

bangsa, pesantren dengan sendirinya merupakan suatu kultur yang unik.8

Sebagai lembaga pendidikan non formal, tentunya pendidikan di pesantren

tidak kalah baiknya dengan pendidikan formal lainnya, karena di dalamnya tidak

hanya diajarkan keilmuan agama saja, melainkan keilmuan umum juga diajarkan

– guna menjawab tantangan global dan menyiapkan kader yang Islami dan

berkebangsaan. Hal ini yang membuat pesantren terbagi menjadi dua model, yaitu

pesantren salaf dan pesantren modern.

Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi pesantren untuk

mendidik dan membimbing para santri menuju jalan kebenaran. Dengan

diadakannya kurikulum pesantren yang membantu proses belajar mengajar di

pesantren, para santi tentunya akan mendapatkan pengetahuan yang terarah sesuai

dengan materi yang diajarkan. Dalam realitasnya, kurikulum tersebut membawa

model – model perencanaan pembelajaran dan pengajaran di pesantren.

7

Kurikulum adalah sebuah rancangan pengajaran dan pembelajaran yang disusun untuk mencapai suatu matlamat pendidikan serta bertujuan mengarahkan proses pembelajaran. Lihat Dr. Nor Hashimah Hashim,dkk, Panduan Pendidikan Prasekolah, (Kuala Lumpur:PTS Professional,2003), Cet.1, Hal.94

(10)

BAB III

PEMBAHASAN

A. Eksistensi Sastra dalam Lingkungan Pesantren

Adanya arus globalisasi tidak menutup kesempatan bagi sebuah keilmuan

yang sudah lama dikenal oleh banyak orang dan tentunya masih lekat dengan

tradisional, untuk tetap menampakkan kemurniannya yang penuh dengan

keindahan dan intisari kehidupan. Terdapat banyak orang yang mengatakan

bahwa sastra merupakan ilmu yang bersifat tradisional dan berjaya ketika

pra-globalisasi dan modernisasi.

Dari pernyataan tersebut, orang – orang telah menganggap bahwa sastra

hanyalah sebatas karya puitis dan sebuah tembang kesenian lagu. Sebaliknya, saat

ini, sastra kian menjadi sebuah media dalam sebuah proses pembelajaran dalam

dunia pendidikan. Artinya, sastra maupun nilai kesastraan mulai ditanamkan

dalam proses belajar mengajar di berbagai lembaga pendidikan9, khususnya

pesantren. Hal tersebut dilakukan dalam rangka membimbing dan mengarahkan

para pelajar kepada ilmu yang diajarkan menuju sebuah pemahaman.

Dalam pandangan sejarah, terhitung sejak sekitar awal milennium ke-3,

sastra pesantren di Indonesia menunjukkan geliat yang benar – benar nampak.

Kreatifitas dan produktivitas sastra pesantren meningkat drastic, baik secara

kualitatif maupun secara kuantitatif. Tentunya, hal ini merupakan hal yang

signifikan dan positif, meskipun pasalnya menyimpan komplikasi keunikan

tersendiri di belakangnya. Di satu sisi, fenomena ledakan sastra pesantren

menunjukkan dan mengukuhkan eksistensi pesantren sebagai salah satu unit

peradaban yang tak pernah kering dari penciptaan - penciptaan baru, khususnya

dalam dunia kesusasteraan.

Setiap karya sastra memang sudah mengandung pesan - pesan keagamaan

yang kuat. Sekalipun ia terlepas dari istilah “Sastra Islam atau Islami”. Karena

(11)

dalam sebuah karya sastra disamping harus memiliki kesan metafor, rima, dan

estetika yang baik, di dalamnya juga mesti terdapat nilai moral, religiusitas

(apapun bentuknya), dan kekuatan kritis terhadap fakta kemanusiaan.10 Melihat

asal mula sastra sendiri, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Jika

dilacak jauh ke belakang dengan melihat sejarah sastra, kehadiran unsur

keagamaan dalam sastra sama halnya dengan keberadaan sastra itu sendiri.

Dalam hal ini, Mangunwijaya (1982) mengatakan bahwa pada awal mulanya,

segala sastra adalah religius.

Membicarakan sastra dan agama yang tentunya memiliki hubungan yang

erat dengan jiwa pesantren bisa berarti mempertautkan pengaruh agama dalam

sebuah karya sastra, atau sebuah karya sastra bernafaskan agama. Pertautan dua

hal itu didasarkan pada pandangan bahwa seorang pengarang dari karya sastra

yang mana karyanya telah dikonsumsi tidak dapat terlepas dari nilai – nilai dan

norma – norma yang bersumber dari ajaran agama yang tampak dalam

kehidupan.11 Pandangan itu erat dengan proses penciptaan karya sastra, bahwa ia

tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya.

Dengan demikian, dalam kasus ini, eksistensi sastra dalam pesantren ialah

bagaimana para santri sebagai pelajar Islam memakai asas nilai dan moral yang

terkandung dalam sastra yang berasaskan keislaman. Artinya, proses pada belajar

mengajar suatu keilmuan dalam pesantren harus memiliki visi dan orientasi

kependidikan yang pada dasarnya merupakan suatu penanaman nilai – nilai

keislaman, pengembangan sikap, serta perujukan terhadap perilaku dan tindakan

yang sesuai dengan moral yang agung yang telah disampaikan dan diajarkan oleh

Rasulullah SAW.12

B. Model Penerapan Sastra dalam Pesantren

Pada saat ini, banyak di antara guru dari berbagai lembaga pendidikan

menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi dalam rangka

10

NU Online oleh D.Zawawi Imron.

11 Aprinus Salam, Oposisi Sastra Sufi, (Yogyakarta:LKiS,2004), Cet.1, Hal.2 12

(12)

menciptakan suasana kelas yang kondusif, produktif, dan solutif. Salah satu

lembaga pendidikan non formal yang masih lebih edukatif di kalangan masyarakat

Indonesia ialah pesantren.

Pesantren merupakan salah satu kekayaan khazanah pendidikan di

Indonesia. Pesantren seyogiyanya perlu dibaca sebagai warisan sekaligus

kekayaan kebudayaan intelektual nusantara. Lebih dari itu, pesantren juga

seharusya dipandang sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri.

Pesantren juga memegang sistem pendidikan yang cenderung pada keagamaan,

pemondokan (karantina), serta penerapan pola pendidikan selama 24 jam

merupakan salah satu keunikannya. Karena itu pulalah, pesantren dianggap

sebagai pengejawantahan local genus pendidikan Nusantara yang sejati.

Kekayaan lektur dan intelektualisme pesantren dibuktikan dengan

banyaknya kitab - kitab turats13 yang ditulis oleh para mushannif (pengarang)

berlatar pesantren. Karya - karya ini tidak saja populer di Indonesia, melainkan

juga hingga ke tanah Arab. Di antara para pengarang tersebut antara lain adalah:

Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani, Syekh Nawawi Bantani, Syekh Yasin

al-Fadani, Kiai Ihsan Jampes, Kiai Ma’shum Ali, Kiai Hasyim Asy’ari, dan lain-lain.

Di samping khazanah intelektualisme, pesantren juga dekat dengan tradisi

susastra, khususnya puisi. Bahkan, puisi (syi’ir) menjadi ruh bagi hampir seluruh

aktivitas keilmuannya. Berbagai macam disiplin ilmu keagamaan diajarkan

melalui bait-bait puisi (nadham). Syi’ir-syi’ir ‘ilmi ini tidak saja dipelajari,

melainkan juga dihafalkan. Tradisi nadham dan hafalan menjadi dua serangkai

yang nyaris tidak dapat dipisahkan. Sehingga, jika dikatakan seseorang belajar

‘Amrithi atau Alfiyah, maka sejatinya dia sedang belajar ilmu nahwu melalaui

puisi-puisi ‘ilmi itu dengan cara menghafalkannya sekaligus.

13

Dalam perkembangan sejarahnya, peran kebudayaan yang menonjol dan berpengaruh yang dimainkan pesantren hingga kini adalah konsentrasi dan kepeloporannya dalam mempertahankan dan melestarika ajaran Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah serta mengembangkan kajian – kajian keagamaan melalui khazanah kitab kuning (al-kutub al-qadimah wa kutub at-turats) yang sering disebut oelh kalangan pesantren sendiri sebagai instrument pokok untuk memperdalam agama (tafaqquh fid-din). Lihat Dr.K.H.Said Aqil Siroj, Tasawuf sebagai Kritik Sosial – Mengedepankan

(13)

Di samping itu, silsilah akar sastra di pesantren yang lainnya adalah diba’.

Pembacaan antologi puisi karya Imam Abdurrahman Ad-Dayba’i ini dilakukan

seminggu sekali oleh masyarakat pesantren. Diba’, bahkan secara “magis”, juga

dianggap sebagai doa untuk kepentingan penyembuhan dan doa keselamatan.

Berangkat dari hal tersebut, tradisi (keilmuan) di pesantren sangatlah kaya. Tradisi

keilmuan di pesantren tidak kalah baiknya dengan tradisi keilmuan di lembaga –

lembaga pendidikan yang lainnya.14 Bahkan, ada pula yang telah sampai pada

kesimpulan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang asli Nusantara

dengan khazanah intelektual yang luar biasa.

Di samping itu, dalam hal pendidikan yang berkaitan dengan penyampaian

materi keagamaan, pesantren tidak lepas dari kitab – kitab yang bernuansa Islami

yang cenderung digunakan sebagai buku pedoman (handbook) oleh kaum santri.

Kitab – kitab tersebut tentunya mengandung sebuah unsur kesastraan mengenai

sejarah maupun karya dari pengarang kitab – kitab tersebut. Tambahnya, sastra

tidak hanya terdapat dalam kitab – kitab tersebut, melainkan sastra telah

digunakan dan diserap serta diterapkan nilainya oleh banyak guru dalam sebuah

pesantren untuk mengantarkan dan membimbing para santri sebagai murid kepada

suatu pemahaman keilmuan yang dimaksudkan dalam suatu kitab.

Dewasa ini pun apabila kita melirik ke beberapa pesantren atau

pusat-pusat perkembangan agama Islam, maka akan mendengar atau menyaksikan

hasil-hasil karya sastra di kalangan pesantren. Bentuk karya sastra tersebut ada berupa

Nazam atau Nazaman, Drama, Puisi, dan Syair - Syair hafalan mengenai ilmu

tertentu. Dalam kasus ini, sebagai contoh ialah kitab Amtsilatut Tashrif yang

ditulis oleh Ma’sum bin Ali, menjadi sebuah kitab pada pembelajaran Ilmu Alat

(Nahwu dan Shorrof) yang mana dalam implementasinya menggunakan irama

sholawat serta sistem hafalan agar murid mampu menangkap dan mengingat

(14)

dengan baik apa yang terkandung dan dimaksudkan dalam pelajaran dan kitab

tersebut.15

Dalam mempelajari ilmu, penggunaan teknik hafalan16 lebih bersifat dasar

alasan, bukan asas tujuan. Karena, tujuan utamanya adalah memahami, sementara

hafalan, yang tentu saja dimaksudkan untuk lebih mudah mengingat, juga menjadi

referensi sebagai argumen, siapa tahu suatu saat dibutuhkan sebagai jawaban.

Pada umumnya, yang dihafalkan oleh para santri ini adalah syi’ir atau nadham

yang berkaitan dengan bidang keilmuan yang mereka pelajari di pesantren.

Dari segi estetika, tradisi transformasi ilmu pengetahuan melalui puisi

ataupun nazam merupakan keistimewaan. Bahkan merupakan acuan paling dasar

dari semua pembicaran tentang silsilah ataupun referensi ilmiah di pesantren.

Berbagai disiplin ilmu pengetahuan diturunkan melalui puisi, mulai dari

teori-teori hukum fiqh, gramatika, teori-teori rima dan matra, hingga linguistik.

Dengan demikian, masih terdapat banyak corak dan fenomena penerapan

kajian kesastraan beserta nilai – nilainya dalam kegiatan belajar mengajar di

pesantren sebagai proses transformasi keilmuan dari kitab pegangan para murid.

Kajian kesastraan yang berkomposisi berbagai kitab – kitab sebagai karya sastra

itulah yang mengantarkan para santri kepada pemahaman suatu ilmu agama yang

diajarkan dalam pesantren.

C. Hubungan antara Sastra dan Pesantren

Di lingkungan Pesantren, sekalipun mata pelajaran sastra tidak diajarkan

secara khusus, instrument - instrumen pemahaman sastra dan pendekatan sastrawi

dalam praktek pendidikan ala Pesantren sesungguhnya menjadi metode yang

sangat kuat berakar. Secara teoritik mungkin hal ini tidak disadari sebagai bagian

dari metode. Pada kenyataannya, gaya dan suasana, tradisi dan pola belajar

mengajar di Pesantren sangat mengedepankan pendekatan - pendekatan sastrawi.

15 KH.MA.Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta:LKiS,1994), Cet.1, Hal.263 16

(15)

Tradisi melantunkan dan menghafal bait - bait nadhom sebagai penghantar

mata pelajaran ilmu alat seperti nahwu dan shorof memudahkan mereka mencerna

pemahaman atas ilmu itu sendiri. Kajian - kajian atas kitab kuning karya ulama

dan shalaf al-shalih lainnya, untuk sebagian di antara kitab-kitab tersebut ditulis

dengan tekstur sastrawi dan berunsur puitik, seperti kitab Zubad, misalnya, cara

mengkajinya pun dimulai dari melantunkan dan menghafal bait demi bait isi dari

kitab tersebut, betapapun materi dari kitab-kitab itu berisi ajaran - ajaran tasawuf,

teologi maupun kaidah - kaidah fiqhiyah dan ilmu - ilmu alat (pengetahuan

gramatika bahasa Arab).17 Kebiasaan sedemikian, secara tradisional membuat

lingkungan Pesantren dan para santri khususnya, begitu akrab dengan syair -

syair, nyanyian - nyanyian, puji - pujian yang menjadi penghantar mereka dalam

menghafal pelajaran dari mana pemahaman dan pengetahuan agama mereka

ditransferensikan.

Metode sastrawi pada akhirnya menjadi jiwa dari tradisi dan pola belajar

mengajar di lingkungan Pesantren itu sendiri. Sekalipun para santri tidak secara

teoritik belajar sastra, dunia sastra itu sendiri bukan sesuatu yang asing di

lingkungan mereka. Kegiatan-kegiatan haflah (pertemuan para santri) yang secara

periodik dilakukan biasa ditampilkan pula pementasan - pementasan kesenian

khas Pesantren seperti; kasidah, terbangan, pentas rebana dan lain - lain. Bahkan

di waktu - waktu tertentu pula selalu ada kegiatan lomba seperti; membaca kitab

al-Barzanji dan hafalan bait-bait alfiyah Ibnu Malik dan sebagainya.

Tradisi dan kultur Pesantren yang akrab dengan dunia sastra itu dari tahun

ke tahun, seperti tak habis-habisnya melahirkan para pegiat sastra baik yang

berkecimpung di tingkat lokal maupun nasional seperti; Faizi El sael, Ahmad

Syubanudin Alwi, Haqqi al-Anshory, Arief Fauzi Marzuki, Acep Zamzam Nur,

D. Zawawi Imran, Ahmad Tohari, Ragil Suwarna Pragolapati (Alm.), Zaenal

Arifin Thoha (Alm.), KH. Maman Imanul Haq, Ahmad Zaky (Zaky Zarung),

Mahbub Jamaluddin, Sachree M. Daroini, Kaje Habib, Nor Ismah (Ismah Kajee),

(16)

Ma’rifatun Baroroh, Pijer Sri Laswiji, Ully, dan tentunya masih banyak lainnya

yang tidak sempat disebut di sini.

Pengalaman dan keakraban bersastra yang melekat dalam tradisi dan pola

belajar mengajar di lingkungan Pesantren itu menjadikan sastra tak ubahnya jiwa

dari kehidupan Pesantren itu sendiri. Sastra seperti menemukan rumahnya yang

nyaman. Kegiatan sastra begitu nyata dihidupkan, tapi juga barangkali masih malu

- malu untuk diakui sebagai bagian dari tradisi Pesantren itu sendiri. Karenanya,

proses mengembangkan sastra di lingkungan Pesantren pada akhirnya harus terus

menerus dilakukan, bukan semata - mata karena sastra menjadi jembatan

penghubung pembelajaran ilmu - ilmu agama. Lebih dari itu, usaha ini dilakukan

sebagai bentuk pertanggung jawaban religi atas nilai - nilai agama itu sendiri.

“Innallaha jamilun yuhibbu al-jamal.” Yang artiya Allah lah yang terindah. Dia

yang menyintai keindahan. Dan, puncak dari segala yang bernama keindahan

adalah kembali ke asal mula keindahan dengan cara-cara yang sarat keindahan

pula (khusnul khotimah).

Sastra merupakan jalan pembebasan.18 Ia hadir di tengah carut marut

kehidupan dan sistim sosial yang mampat. Sastra juga menjadi kunci pembuka

kebuntuan akibat ketatnya aturan - aturan yang memancing kreativitas dan

kebebasan individu. Sastra di lingkungan Pesantren menjadi jalam pembebasan

dari kebuntuan memahami pelajaran dan pendalaman ilmu-ilmu agama. Sastra

diakui atau tidaki telah menjadi wasilah (penghubung) internalisasi pendalaman

pengetahuan di bidang agama.

Dalam sudut pandang lain, perlu dikemukakan pula di sini, lingkungan

Pesantren pada umumnya miskin pengakuan dan cenderung ‘alergi’ terhadap

sastra. Bahkan, sastra dianggap sebagai bidang keilmuan yang tidak penting

diajarkan. Kecenderungan ini berawal dari munculnya anggapan bahwa sastra

akan mendekatkan seseorang pada aspek-aspek ‘ma’ashiy’ (sesuatu yang bersifat

maksiat) dan karena itu bersastra (baca: berkesenian) sebagai sesuatu yang tabu

18

(17)

bagi para santri yang sedang menempuh pendidikan agama. Walaupun sebetulnya

bukan sastra itu sendiri tetapi lebih pada persoalan sosiologis. Bahwa sastra,

dalam pengertian dunia seni misalnya, cenderung berdampak pada

kegiatan-kegiatan yang secara normatif melanggar kaidah - kaidah ajaran agama.

Namun demikian, lingkungan Pesantren tidaklah memungkiri peranan

metode sastrawi dalam transferensi ilmu - ilmu keagamaan. Pada kasus ini tampak

adanya pola hubungan sebagaimana telah dikemukakan. Di satu pihak, sastra

tidak dianggap sebagai unsur penting dalam pengajaran, sementara di pihak lain

sastra digunakan sebagai instrumen pola belajar mengajar di lingkungan

Pesantren.

Secara teoritik mereka tidak perlu mengerti apa itu sastra. Hidup dan

aktivitas sehari - hari mereka di lingkungan Pesantren selama bertahun - tahun

pada akhirnya justru menjadi jalan sastra itu sendiri. Mereka adalah lakon dalam

pentas laku sastra di lingkungan Pesantren. Jadi, sastra di lingkungan Pesantren

bukanlah sesuatu yang menempel dan atau ditempelkan begitu saja. Jalan sastra

yang lahir dari tradisi panjang itu merupakan sesuatu yang sudah ratusan tahun

melekat. Sejarahnya begitu panjang sebagaimana Pesantren itu sendiri. Sastra, dan

dengan demikian metode sastrawi di lingkungan Pesantren diakui atau tidak

hakikatnya adalah ‘nalar religi’ lain yang dikembangkan Pesantren secara ‘given’

atau dalam bahasa Pesantrennya sesuatu yang bersifat ‘laduniyah’.

Seiring dengan perkembangan zaman, sastra telah menjadi ‘living

tradition (Tradisi yang Hidup)’ di lingkungan Pesantren yang tidak lekang di

makan waktu. Bilamana mereka telah menjadi bagian dari kehidupan yang lebih

umum metode sastrawi ini menjelma dalam kebiasaan kerja - kerja kultural

mereka di masyarakat. Hal ini misalnya dapat dilihat dari sisi keluwesan dan

kelenturan orang-orang Pesantren yang tentunya menerima hal - hal baru tanpa

merasa perlu menjadi bagian dari kebaruan itu sendiri. Dalam arti, semodern

apapun orang Pesantren bukan hal mudah bagi mereka untuk mengubah kultur

kepesantrenan mereka. Menjadi modern bukan berarti menjadi orang lain yang

(18)

D. Hubungan antara Sastra dan Pendidikan Moral

Sastra sangat terkait erat dalam kehidupan manusia dan merupakan potret

kehidupan manusia.19 Sastra pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam

perjalanan budaya dan peradaban karya cipta manusia itu sendiri. Sastra seperti

pisau tajam, bahkan jauh lebih tajam, yang mampu merobek - robek dada dan

menembus ulu hati, bahkan jiwa dan pemikiran. Pisau tajam ini juga mampu

menjadi alat paling efektif untuk membuat ukiran patung karya kehidupan yang

paling indah. Sastra juga bisa lebih halus daripada sutra yang paling halus hingga

mampu menelusup ke dalam relung jiwa hingga tunduk dan pasrah pada

kekuatannya.

Sastra dan manusia serta kehidupannya adalah sebuah persoalan yang

penting dan menarik untuk dibahas secara komprehensif. Sastra berisi manusia

dan kehidupannya. Manusia dan kehidupannya mempunyai hubungan yang rapat

dengan kehidupan sastra. Manusia menghidupi sastra dan kehidupan sastra adalah

kehidupan manusia. Bilamana seseorang berimajinasi dengan menggunakan sastra

bahkan nilai – nilai sastra, seseorang itu akan mengerti bahkan memahami

kehidupan kemasyarakatan yang terjadi pada saat itu pula. Berangkat dari opini

tersebut, diperlukanlah pencitraan diri manusia.20

Kekuatan sastra yang dahsyat mampu mengubah moralitas dan karakter

manusia ke dalam persepsi kehidupan yang berbeda. Sejarah menuliskan

bagaiman sosok seorang Umar bin Khatthab yang punya kepribadian keras

akhirnya luluh dalam basuhan sejuknya kekuatan sastra ayat - ayat Al-Qur’an.

Goresan luka dari tajamnya pedang takkan bisa membuatnya menangis. Hantaman

pukulan dan tendangan dari algojo terkuat dan terkejam sekalipun takkan sanggup

menggoyahkan ketegarannya. Ancaman pembunuhan dan kematian tidak sedikit

pun membuatnya merinding ketakutan.

Kini sudah saatnya dunia pendidikan tidak melihat sastra sebelah mata.

Sastra bukan barang langka yang hanya tersimpan di museum. Sastra bukan

19

Melani Budiana,dkk, Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi), (Yogyakarta:IKAPI,2008), Cet.1, Hal.23

(19)

mahluk asing yang hanya diperlakukan sebatas pengenalan dan penghafalan

identitas. Dunia pendidikan di negara kita harus sudah memisahkan sastra dari

pelajaran Bahasa Indonesia, mendalami sastra secara lebih luas, melahirkan

sastrawan-sastrawan besar dari pendidikan formal dan memfungsikan dengan

maksimal kekuatan sastra untuk mendidik generasi dan kehidupan berbangsa.

Sejatinya, sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu

memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan,

keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi, dan sumbilmasi dalam setiap

gerak kehidupan manusia dalam menciptakan peradaban. Jika sastra tercerabut

dari akar kehidupan manusia, maka manusia tak lebih dari sekedar hewan berakal.

Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan.

Terlepas dari hal tersebut, dalam konteks pendidikan moral, nilai estetika

kita jumpai tidak hanya dalam bentuk (struktur) karya sastra, tetapi juga dalam

isinya (tema dan amanat). Nilai moral akan terlihat dalam sikap terhadap apa yang

akan diungkapkan dalam sebuah karya sastra dan dalam cara pengungkapannya.

Nilai konsepsi akan terlihat dalam pandangan pengarang secara keseluruhan

terhadap masalah yang diungkapkan di dalam karya sastra. Djokosujatno

(2002:263) berpendapat bahwa sastra populer pada setiap zaman mempunyai

peran luhur untuk mengantarkan pendidikan moral dan etika.21 Dalam sebuah

pengertian bahwa karya sastra harus secacra eksplisit maupun implicit

menyampaikan dan menyisipkan pesan – pesan moral di dalamnya.

Dewasa ini, seorang pendidik hal ini dianggap paling penting untuk masa

sekarang. Kita banyak melihat kemerosotan moral siswa di dalam kehidupan

sehari-hari yang sudah sangat mengkhawatirkan, bukan saja oleh kita para

pendidik tetapi juga oleh masyarakat. Setiap hari kita menyaksikan, baik secara

langsung maupun taklangsung kebobrokan moral siswa. Misalnya tawuran

antarpelajar yang semakin marak dan menimbulkan korban jiwa, pemakaian

narkoba, pencurian, pembajakan dan perampokan yang dilakukan oleh siswa,

serta sopan santun siswa terhadap guru dan orang tua yang rnernprihatinkan. Hal

tersebut merupakan bukti nyata kelunturan moral siswa sudah mengkhawatirkan.

21

(20)

Hubungan kemerosotan moral siswa dengan sastra adalah untuk mencoba

menggantungkan harapan perbaikan moral siswa pada pelajaran sastra. Mungkin

hal ini sudah berulang-ulang dibicarakan, tetapi sekali lagi mencoba

mengingatkan bahwa pengajaran sastra dapat juga diandalkan untuk memperbaiki

moral terutama moral siswa.22 Harapannya adalah pada pelajaran sastra ini tentu

harus disesuaikan dengan cara atau metode dan tujuan pengajaran sastra yang

tepat. Tanpa itu semua harapan itu akan sia - sia.

Dalam pengajaran sastra tersebut, tidak luput dari peran sebuah karya

sastra bersumber dari kenyataan kehidupan yang ada di dalam masyarakat. Karya

sastra tidak terlahir dari kekosongan tradisi – yang berupa buku pedoman ataupun

buku pegangan para pelajar. Akan tetapi, karya sastra tidak hanya

mengungkapkan realitas objektif itu saja. Di dalamnya diungkapkan pula nilai -

nilai yang lebih tinggi dan lebih agung dari sekedar realitas objektif itu. Karya

sastra bukan semata-mata meniru alam (imitation of nature) atau meniru

kehidupan (imitation of life), tetapi merupakan penafsiran - penafsiran tentang

alam dan kehidupan itu (interpretation of life).

Dengan demikian, sebuah karya sastra yang baik, mengajak orang

terutama para pelajar untuk turut serta merenungkan masalah - masalah hidup

yang musykil. Mengajak orang untuk berkontemplasi, menyadarkan dan

membebaskannya dari segala belenggu pikiran yang jahat dan keliru. Karya sastra

mengajak orang untuk mengasihi manusia lain. Berangkat dari hal pengkondisian

dan perbaikan moral siswa melalui karya sastra dan pembelajaran sastra, bahwa

implementasi nilai – nilai kesastraan tersebut tidak hanya dilakukan di lingkungan

kelas formal, akan tetapi harus dipraktekkan dengan diadakannya kegiatan

ekstrakulikuler yang dapat mengasah kemampuan para pelajar serta memahami

apa yang terkandung di dalam kegiatan tersebut.

22

Erwan Juhara,dkk, Cendekia Berbahasa (Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas XII

(21)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Sastra memang banyak dikenal oleh masyarakat sebagai suatu keilmuan

yang berbau seni dan sejarah, yang di dalamnya terdapat banyak intisari

kehidupan manusia. Dengan sastra, manusia mampu mengekspresikan isi jiwanya

ke dalam bentuk karya sastra yang telah dikenal saat ini. Dengan sastra pula,

sebuah ilmu dapat ditransformasikan kepada objeknya. Melihat hal tersebut,

pendidikan mulai merekomendasikan sastra sebagai media pembelajaran pada

lemabaga – lembaga pendidikan. Bahkan, ada pula lembaga pendidikan yang

dengan sendirinya mengangkat sastra sebagai mata pelajaran.

Dalam hal ini, sebuah lembaga pendidikan non formal yang disebut

pesantren masih melekat dengan apa yang disebut sastra yang mempunyai nilai

guna dan nilai estetikanya. Dengan demikian, sastra yang digunakan dalam proses

pembelajaran dan pengajaran di pesantren adalah karya dan nilai estetika dari

sastra tersebbut, sehingga mampu menghasilkan sebuah pemahaman terhadap

materi yang diajarkan.

B. Saran

Pelaksanaan maupun penerapan keilmuan sastra beserta nilai – nilai yang

tekandung di dalamnya diharapkan menjadi penunjang dan factor pendukung

kepada para santri dalam kegiatan belajar mengajarnya di pesantren. Hal tersebut

tidak lepas dari berbagai elemen yang berada di pesantren, yang meliputi ustadz

ataupun ustadzah sebagai guru, pengurus pesantren, para santri, dan bahkan orang

tua para santri. Elemen – elemen tersebut diharapkan memperhatikan tindakan

dan perilaku santri sebagai implementasi ataupun wujud dari ilmu yang

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Djoko Damono, Sapardi. (2007). Sastra di sekolah – Dengan sastra menjadi manusia. Jakarta:HISKI,2007.

Budianta, Melani. (2006). Membaca Sastra – Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Magelang:IKAPI.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI. (2007). Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Jakarta:PT Imperial Bhakti Utama.

Darmaningtyas. (2004). Pendidikan yang Memiskinkan. Yogyakarta:Galang Press.

Surya, Mohamad. (2004). Bunga Rampai Guru dan Pendidikan. Jakarta:Balai Pustaka.

Hashimah Hashim, Nor,dkk. (2003). Panduan Pendidikan Prasekolah. Kuala Lumpur:PTS Professional.

Djoko Damono, Sapardi. (2997). Sastra di Sekolah - Dengan Sastra Menjadi Manusia. Jakarta:HISKI.

A’la, Abd. (2006). Pembaruan Pesantren. Yogyakarta:Pustaka Pesantren.

Wahid, Abdurrahman. (2001). Menggerakkan Tradisi – Esai – Esai Pesantren. Yogyakarta:LKiS.

Salam, Aprinus. (2004). Oposisi Sastra Sufi. Yogyakarta:LKiS

Aqil Siroj, Said. (2006). Tasawuf sebagai Kritik Sosial – Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, bukan Aspirasi. Bandung:PT Mizan Pustaka

Nuruzzaman, M. (2005). Kiai Husein Membela Perempuan. Yogyakarta:Pustaka Pesantren

Solikhin, Muhammad. (2009). 17 Jalan Menggapai Mahkota Sufi Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Yogyakarta:Mutiara Media

Sobary, Mohamad. (2004). Singgasana dan Kutu Busuk. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

(23)

Budiana, Melani, dkk. (2008). Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi). Yogyakarta:IKAPI

Santana K. Septiawan. (2007). Menulis Ilmiah – Metode Penelitian Kualitatif,. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia

Budiman, Hikmat. (2002). Lubang Hitam Kebudayaan,. Yogyakarta:Kanisius

Referensi

Dokumen terkait

Sarana dan prasarana di SMP Negeri 9 Magelang sudah cukup memadai karena sekolah ini sudah termasuk dalam kategori Sekolah Standar Nasional. Untuk pembelajaran Bahasa

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya Mahkamah Konstitusi menafsirkan ketentuan Pasal 53 ayat (3) UU 30/2014 sehingga harus dibaca sebagai berikut: “Apabila dalam batas waktu

Namun terlihat dalam tabel kontingensi walaupun hasil dari tabel yaitu ada pengaruh antara pemakaian kontrasepsi IUD dengan kejadian vaginitis tetapi dalam

Sisa Hasil Usaha (SHU) adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurang dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain. disajikan setelah

mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa yang tidak sejenis sepanjang

Pada 4 Februari 1993 dibentuk Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) berkedudukan di Medan, yang merupakan gabungan dari Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun)

Jika siswa dapat menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi sehingga dapat mencapai tujuannya maka siswa tersebut telah melakukan proses berpikir

Bentuk-bentuk kepercayaan ini mempunyai fungsi yang Jangsung dengan kebutuh- an-kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat agraris misalnya : mengenai perhitungan waktu