45
STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS MICE UNTUK MEWUJUDKAN KOTA SURAKARTA SEBAGAI KOTA MICE
Junaedi
Politeknik Indonusa Surakarta [email protected]
ABSTRAKSI
Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo pada tahun 2015 telah merencanakan berbagai acara menarik dengan mengemas pariwisata dan budaya kota tersebut untuk memikat wisatawan lebih banyak. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo telah menyiapkan 59 acara yang dibagi atas 29 acara utama dan 30 acara pendukung. Beberapa acara utama yang sudah terkenal adalah Solo Great Sale, Solo Batik Carnival, Solo
Carnaval, Solo International Performing Art, Kirab Malam Satu Sura dan lain-lain. Tujuan
kegiatan budaya dan pariwisata tersebut adalah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota Solo. Selain itu kegiatan tersebut juga untuk mendukung wisata MICE di kota Solo yang sedang dicanangkan pemerintah kota Surakarta dan pemerintah Indonesia. Untuk itu fasilitas MICE terus ditingkatkan terutama di daerah agar menjadi destinasi MICE kelas dunia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menjadi keunggulan kompetitif Kota Surakarta sebagai kota MICE, mengetahui faktor yang menjadi keberhasilan kritis yang diperlukan Kota Surakarta sebagai kota MICE dan mengetahui strategi yang dibutuhkan untuk pengembangan Kota Surakarta menuju kota MICE.
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif untuk menilai kapasitas dan validitas manajemen Kota Surakarta memenuhi MICE. Penelitian kuantitatif ditujukan untuk memprediksi perkembangan Kota Surakarta dan mengukur kemampuan strategi sebagai kota MICE. Alat analisis yang digunakan adalah analisis SWOT dan Matrik Daya Tarik Industri.
Untuk mewujudkan kota MICE, berdasarkan analisis SWOT Kota Surakarta berada dalam kategori S > W dan O > T dengan demikian strategi yang diperlukan adalah melakukan perluasan (ekspansi). Analisis grand strategy berdasarkan matrik strategi pengembangan Kota Surakarta dengan cara meningkatkan pertumbuhan, mendominasi pasar dan meningkatkan investasi secara maksimum.
Kata Kunci: MICE, Keunggulan Kompetitif, Keunggulan Kritis
I. PENDAHULUAN
Salah satu penentu perkembangan dunia pariwisata di suatu daerah adalah terbukanya daerah itu terhadap pertumbuhan pariwisata di tingkat lebih luas, baik nasional maupun internasional. Di Indonesia, peningkatan kepercayaan dari dunia internasional terhadap negara ini sebagai tujuan wisata yang menarik mendorong tumbuhnya bisnis MICE (Meeting, Incentive, Conference, and
Exhibition), terutama sejak 2007. Dampak
besar bisnis MICE dapat dilihat dari perolehan devisa pariwisata dengan diadakannya sejumlah kegiatan konvensi internasional skala besar seperti PATA
Travel Mart dan Global Climate Change
yang berhasil diadakan di Indonesia pada 2010 dan pertemuan APEC pada tahun
2015. Peran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) yang sekarang menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), para pelaku bisnis MICE, INCCA (Indonesia
Congress and Convention Association), dan
perguruan tinggi penting dalam mendukung perkembangan dan pertumbuhan bisnis MICE dalam konteks promosi pariwisata di Indonesia. Keberadaan Direktorat MICE di
Kemenparekraf diharapkan mampu
mendorong semakin meningkatnya industri jasa MICE di negara ini.
46
dan banyak pihak, yang menimbulkan pengaruh ekonomi berlipat ganda (multiplier
effect) yang menguntungkan dan dapat
dirasakan oleh banyak pihak, khususnya karena daya pengeluaran finansial (spending
power) dari segmen MICE tinggi, sekitar
8-10 kali wisatawan biasa. Di antara pihak yang potensial mendapatkan keuntungan besar bisnis MICE adalah Percetakan, Hotel, Perusahaan Sovenir, Biro Perjalanan Wisata, Transportasi, Professional Conference
Organizer (PCO), Usaha Kecil dan
Menengah (UKM), dan Event Organizer. Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo pada tahun 2015 telah merencanakan berbagai acara menarik dengan mengemas pariwisata dan budaya kota tersebut untuk memikat wisatawan lebih banyak. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo telah menyiapkan 59 acara yang dibagi atas 29 acara utama dan 30 acara pendukung. Beberapa acara utama yang sudah terkenal adalah Solo Great Sale, Solo Batik Carnival, Solo Carnaval, Solo International Performing Art, Kirab Malam Satu Sura dan lain-lain.
Tujuan kegiatan budaya dan pariwisata tersebut adalah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota Solo. Selain itu kegiatan tersebut juga untuk mendukung wisata MICE di kota Solo yang sedang dicanangkan pemerintah kota Surakarta dan pemerintah Indonesia. Event MICE menjadi
andalan dalam menarik kunjungan
wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia yang tahun ini mentargetkan 10 juta wisman. Untuk itu fasilitas MICE terus ditingkatkan terutama di daerah agar menjadi destinasi MICE kelas dunia.
Kota Surakarta merupakan daerah tujuan wisata MICE yang banyak diminati berbagai kalangan, karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk mendukung kegiatan itu. Di kota ini, misalnya, banyak terdapat hotel dan gedung pertemuan yang mempunyai standar MICE dan siap menggelar berbagai kegiatan, baik skala nasional maupun internasional. Pada September 2013, di Kota Solo, terdapat 28 hotel bintang dan 77 hotel melati dengan jumlah kamar mencapai 4.500 unit. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan 2007 lalu yang hanya ada 10 hotel bintang dan 70 hotel non-bintang dengan jumlah kamar
hanya 2.800 kamar (kompas.com, 21 Januari 2014)
Banyaknya peserta seminar, konvensi, pameran maupun kegiatan lainnya berskala nasional maupun internasional yang digelar di Kota Surakarta menunjukkan bahwa posisi Surakarta sebagai salah satu daerah pariwisata berbasis MICE semakin kokoh. Pengembangan kegiatan bisnis MICE menjadi salah satu prioritas program pengembangan pariwisata karena kegiatan yang digelar akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata. Di samping itu,
banyaknya kegiatan MICE dapat
memberikan keuntungan, yaitu
meningkatkan penghasilan, termasuk para pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata. Misalnya, produk kerajinan, rumah makan atau restoran, dan hotel banyak diuntungkan.
Sebagai kota wisata, Surakarta terus berbenah dan menambah berbagai fasilitas yang dibutuhkan wisatawan. Bertambahnya hotel, restoran, pusat perbelanjaan dan fasilitas olah raga tentu semakin memanjakan para wisatawan untuk merasa nyaman berkunjung ke Surakarta. Selain itu, kondisi kota ini yang aman menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk mengadakan acara skala nasional, regional maupun internasional, baik seminar, pameran, pertemuan, dan lain sebagainya. Dengan kondisi seperti itu banyak pelaku jasa wisata menyambut optimis dan mendukung berbagai kegiatan dalam kerangka bisnis MICE.
Beragamnya fasilitas penyelenggaraan kegiatan budaya dan pariwisata di Surakarta menjadi daya tarik luar biasa dalam penyelenggaraan acara pertemuan, insentif, konvensi dan pameran untuk memeriahkan
obyek-obyek wisata yang ada.
47
Pemerintah juga dapat menetapkan pajak dengan lebih banyak obyek dan subyek pajak terkait dengan berbagai acara bisnis MICE yang diadakan di berbagai gedung pertemuan besar. Uraian mengenai keterkaitan antar-sektor usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan bisnis MICE tersebut memperlihatkan keunggulan bisnis MICE dibandingkan atraksi atau usaha pariwisata lainnya. Penyelenggaraan suatu acara bisnis MICE akan memberikan efek berlipat ganda (multiplier effect) yang lebih luas dan lebih besar terhadap sektor-sektor pendukung pariwisata yang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa wisata MICE dapat memberikan manfaat yang besar bagi usaha kepariwisataan dan pemerintah. Oleh karena itu, harus dikembangkan dan dikaji secara lebih komprehensif agar wisata MICE ini
memberikan hasil yang maksimal
pendapatan daerah khususnya di Surakarta. Pada penelitian ini akan lebih difokuskan pada strategi untuk mengembangkan wisata MICE dengan mengkaji faktor-faktor internal dan eksternal yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Surakarta, baik itu berupa kekuatan, kelemahan, peluang maupun
ancaman yang dapat menghambat
pertumbuhan wisata MICE di kota Surakarta. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji strategi yang tepat dan menjadi prioritas bagi pengembangan wisata MICE di Kota Surakarta.
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Tiyanto, Widodo dan Baharudin (2011) yang meneliti tentang strategi pengembangan kota Semarang menuju kota MICE. Hasil penelitiannya menemukan bahwa untuk menjadikan kota Semarang menjadi kota MICE diperlukan strategi memperbaiki kelemahan dan membangun keunggulan kota Semarang. Penelitian lain dengan kajian MICE juga dilakukan oleh Herawati dan Akbar (2011), penelitian ini mengkaji potensi wisata MICE kota Solo dalam rangka meningkatkan daya saing daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kota Solo memiliki image keramahtamahan penduduk yang bersahaja, akar budaya yang kuat yaitu budaya kesultanan, alam dan landscape yang indah, destinasi wisata cukup banyak dan bernilai historis, sarana penunjang wisata
MICE (EO, Venue, gedung Conference), serta memiliki warisan budaya dari UNESCO yaitu Batik dan Keris. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut di atas selain dari waktu penelitian juga dari metode analisis yang digunakan, sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi usaha pengembangan wisata MICE di Kota Surakarta. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Faktor apakah yang menjadi keunggulan kompetitif Kota Surakarta sebagai kota MICE?
2. Faktor apakah yang menjadi
keberhasilan kritis yang diperlukan Kota Surakarta sebagai kota MICE?
3. Bagaimana strategi yang dibutuhkan untuk pengembangan Kota Surakarta menuju kota MICE?
II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Bisnis MICE
Bisnis MICE merupakan bisnis jasa kepariwisataan yang bergerak di seputar Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (Meeting, Incentive,
Convention, and Exhibition, yang
disingkat MICE). Keempat jenis kegiatan kepariwisataan ini merupakan usaha untuk memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang, khususnya para pelaku bisnis, cendekiawan, eksekutif pemerintah dan swasta, untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan
kepentingan bersama, termasuk
memamerkan produk-produk bisnis (Prayudi, 2011).
Pertama, meeting merupakan rapat atau pertemuan sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah asosiasi, di mana perusahaan yang mempunyai kesamaan minat dengan tujuan dan
kepentingan membahas suatu
48
penyelengaraan konvensi yang
membahas perkembangan kegiatan perusahaan yang bersangkutan dan/atau kegiatan pameran.
Ketiga, convention, yaitu
pertemuan sekelompok orang
(negarawan, usahawan, cendekiawan, profesional dan sebagainya) untuk mambahas masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama, biasanya dengan jumlah peserta banyak. Keempat, exhibition, yaitu bentuk
kegiatan mempertunjukkan,
memperagakan, memperkenalkan,
mempromosikan, dan menyebarluaskan informasi hasil produksi barang atau jasa maupun informasi visual di suatu tempat tertentu dalam jangka waktu tertentu untuk disaksikan langsung oleh
masyarakat dalam meningkatkan
penjualan, memperluas pasar dan mencari hubungan dagang.
Bisnis MICE tidak dapat dipisahkan dari mata rantai usaha di bidang kepariwisataan dan berbagai sektor usaha lainnya. Penyelenggaraan MICE melibatkan banyak sektor usaha atau industri dan banyak pihak, yang
menimbulkan pengaruh ekonomi
berlipat ganda (multiplier effect) yang menguntungkan dan dapat dirasakan oleh banyak pihak, khususnya karena kemampuan pengeluaran finansial (spending power) dari segmen MICE tinggi, sekitar 8-10 kali wisatawan biasa. Di antara pihak yang potensial mendapatkan keuntungan besar bisnis MICE adalah Percetakan, Hotel, Perusahaan Sovenir, Biro Perjalanan Wisata, Transportasi, Professional Conference Organizer (PCO), Usaha
Kecil dan Menengah (UKM), dan Event
Organizer.
2. Bisnis MICE di Surakarta
Surakarta adalah daerah tujuan wisata di Pulau Jawa. Kombinasi unik antara kraton, sejarah, tradisi, budaya, pendidikan dan pusat perbelanjaan menjadikan Surakarta sangat menarik untuk dikunjungi. Kota ini merupakan daerah tujuan wisata MICE yang banyak diminati berbagai kalangan, karena memiliki fasilitas yang cukup lengkap
untuk mendukung kegiatan itu. Di kota ini, misalnya, banyak terdapat hotel dan gedung pertemuan yang mempunyai standar MICE dan siap menggelar berbagai kegiatan, baik skala nasional maupun internasional.
Berdasarkan data kantor Dinas Pariwisata Kota Surakarta, sampai sekarang di daerah ini tercatat terdapat 28 hotel berbintang, dan 77 hotel melati, di samping sejumlah gedung pertemuan yang dapat mendukung Surakarta sebagai tujuan wisata MICE. Banyaknya peserta seminar, konvensi, pameran maupun kegiatan lainnya berskala nasional maupun internasional yang digelar di Kota Surakarta menunjukkan bahwa posisi Surakarta sebagai salah satu daerah pariwisata berbasis MICE semakin kokoh.
Pengembangan kegiatan bisnis MICE menjadi salah satu prioritas program pengembangan pariwisata karena kegiatan yang digelar di kota akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata. Banyaknya kegiatan MICE dapat memberikan keuntungan, yaitu meningkatkan penghasilan, termasuk
para pemangku kepentingan
49
wisatawan mau belanja, misalnya, pilihan wisata belanja semakin banyak tersedia, mengingat semakin banyak didirikannya pusat perbelanjaan modern di berbagai sudut kota ini.
Tidak hanya urusan belanja, untuk wisata MICE yang lain di Surakarta sangat memadai. Banyak hotel berbintang, Solo Grand Mall, Solo Paragon, Solo Square, Kampoeng Batik, Java Expo, Diamond Covention Hall, adalah beberapa tempat konvensi dan pameran yang banyak diminati para pengunjung. Dibandingkan kota lainnya di Jawa Tengah, Kota Surakarta masih unggul karena memiliki fasilitas yang memadai..
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa salah satu fasilitas sangat penting dalam suatu penyelenggaraan konvensi adalah ruang
pertemuan (hall) dan hotel.
Pertumbuhan hotel dan jumlah kamar berikut fasilitas-fasilitasnya secara langsung akan berpengaruh terhadap penyediaan fasilitas pendukung untuk usaha wisata MICE. Di antara hotel
yang sangat terkenal untuk
penyelenggaraan bisnis MICE antara lain: hotel Bintang 5 (Kusuma Sahid Prince Hotel, Hotel Sahid Jaya); hotel Bintang 4 (Solo Paragon Hotel & Residence, The Royal Surakarta Heritage, The Sunan Hotel Solo, Hotel Novotel); hotel Bintang 3 (Hotel Indah Palace Solo, Rumah Turi Green Boutique Hotel, Riyadi Palace Hotel, Hotel Agas, Omah Sinten, Rumahku Heritage Hotel, Asia Hotel, Hotel Ibis Solo, Hotel Dana); hotel Bintang 2 (Pose In Hotel Solo, Lampion Hotel Solo, Fave Hotel Adisucipto Solo) (Dinas Pariwisata Kota Surakarta, 2015).
Perkembangan hotel yang ada di Surakarta sangat dipengaruhi pula oleh akses dari dan/atau ke dunia pariwisata internasional. Dibukanya Bandara Adi Sumarmo Surakarta sebagai bandara udara internasional telah membuka
peluang sangat lebar bagi
pengembangan pariwisata internasional, termasuk bisnis MICE di kota budaya ini. Lokasi geografisnya yang strategis
jelas membuat kota Surakarta mudah
dijangkau baik menggunakan
transportasi udara maupun darat. Untuk transportasi udara, jarak Bandara Adi Sumarmo hanya sekitar 10 km dari pusat kota, dan didukung dengan transportasi lokal yang relatif memadai, terutama armada angkutan darat dalam kota, seperti taksi, Transbatik Solo, bis umum, kereta api dengan tarif relatif murah. Kondisi ini didukung dengan kondisi jalan yang baik dan lalu-lintas yang relatif tidak sering mengalami kemacetan. Hal ini sangat berpengaruh pada kenyamanan dan kemudahan bagi wisatawan konvensi, baik selama berlangsungnya konvensi maupun setelah acara itu selesai.
Selain itu, ada juga fasilitas yang sangat mendukung berkembangnya bisnis MICE, yaitu tersedianya sarana telekomunikasi secara memadai. Surakarta banyak memiliki tempat yang melayani jasa telekomunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan lokal,
interlokal, dan interlokal.
Berkembangnya Warnet (Warung
Internet), jaringan telpon kabel yang dipadu dengan speedy dari Telkom, jaringan komunikasi wireless 3G dan 4G untuk koneksi Internet, dan pesatnya perkembangan inovatif berbagai merek komputer dan handphone dengan kualitas jauh lebih tinggi memperbesar peluang berkembangnya pariwisata, termasuk bisnis MICE. Semua fasilitas telekomunikasi tersebut sangat
membantu pengguna jasa
telekomunikasi, baik untuk penduduk lokal maupun untuk wisatawan.
Kehadiran wisatawan di
Surakarta tidak dapat dilepaskan juga dari berkembangnya wisata kuliner di kota ini. Berdirinya berbagai hotel berbintang yang menyediakan berbagai jenis masakan dan fasilitas restoran yang bertaraf internasional sangat mendukung pertumbuhan bisnis MICE internasional. Di lokasi tengah kota dan pinggiran kota juga terdapat rumah makan dengan berbagai tipe dengan berbagai jenis makanan seperti Indonesian Food,
50 Food, dan lain-lain menambah khasanah
wisata kuliner di Surakarta. Dengan demikian Surakarta mempunyai jumlah dan jenis rumah makan yang cukup
banyak untuk melayani selera
wisatawan, termasuk mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan bisnis MICE.
Beragamnya fasilitas
penyelengga-raan pariwisata di Surakarta menjadi daya tarik luar biasa
dalam penyelenggaraan acara
pertemuan, insentif, konvensi dan pameran untuk memeriahkan obyek-obyek wisata yang ada. Pengembangan yang disengaja atas bisnis MICE ini tentu akan memicu perkembangan acara itu di masa yang akan datang. Karena itu, dapat dikatakan bahwa usaha wisata MICE memiliki dampak berlipatganda (multiplier effect) yang sangat kaitannya
dengan mata-rantai usaha
kepariwisataan lainnya, mulai dari usaha yang besar seperti hotel berbintang, usaha transportasi, akomodasi sampai usaha terkecil dan informal seperti usaha pembuatan dan penjualan cenderamata. Pada tingkat yang lebih riil, di antara pihak yang mendapat keuntungan dari perkembangan bisnis ini adalah: pengusaha transportasi, baik tingkat lokal, interlokal, nasional maupun internasional; akomodasi, baik hotel berbintang maupun tak-berbintang;
restoran; hiburan; shooping;
cenderamata. Akhirnya, pemerintah juga dapat menetapkan pajak dengan lebih banyak obyek dan subyek pajak terkait dengan berbagai acara bisnis MICE yang diadakan di berbagai gedung pertemuan besar.
III. METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif untuk menilai kapasitas dan validitas manajemen Kota Surakarta memenuhi MICE. Penelitian kuantitatif ditujukan untuk memprediksi perkembangan Kota Surakarta dan
mengukur kemampuan strategi sebagai kota MICE.
2. Responden Penelitian
Responden atau narasumber dalam penelitian ini meliputi: pelaku bisnis pariwisata, birokrasi ( SKPD terkait); masyarakat.
3. Variabel dan Pengukuran
Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel internal dan variabel eksternal. Indikator variabel internal meliputi convention dan ekshibition center, hotel,
transportasi, kompetensi
SDM,organizer, place interest, post
convention tour, biro konvensi.
(Tiyanto, dkk; 2011)
Indikator variabel eksternal meliputi Analisis variabel eksternal meliputi globalisasi, potensi wisata, struktur industry, ekonomi, teknologi, dan pemerintah. Pengukuran variabel internal menggunakan kriteria berikut: +2: sangat unggul; +1: unggul; 0 = sama; -1 : tidak unggul; -2 : sangat tidak unggul. Pengukuran variabel eksternal menggunakan criteria berikut: + 2 : peluang besar; +1 peluang kecil; 0 : stabil; -1 : ancaman kecil; - 2 : ancaman besar. Besaran masing-masing bobot ditentukan berdasarkan:
a. Urgensi
b. Focus Group Disscussion (FGD)
c. Inter depth interview.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini dilakukan dengan pola triangulasi, yakni data dikumpulan dari tiga segmen yang berbeda (Sugiyono, 2007) , yaitu: observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan
dokumentasi yang merupakan
penggalian data primer langsung pada sarana fisik dan pendukung pariwisata. 5. Data dan sumber data
a. Data primer, data yang dikumpulkan peneliti, mencakup variabel internal dan eksternal
b. Data sekunder, data yang diperoleh dari sumber lain atau dinas / pihak-pihak yang terkait
6. Teknik Analisis Data
51
deskriptif - kualitatif. Melalui cara tersebut diharapkan diperoleh hasil yang bersifat komprehensif. Sedangkan untuk data kuantitatif diolah dengan analisis dekriptif, yaitu analisis tabel frekuensi dan analisis persentase. Untuk menjawab perumusan masalah pada penelitian ini menggunakan metode analisis Strength & Weakness dan
Opportunity & Threat ( SWOT Analysis)
dan Matrik Daya Tarik Industri. Teknik pengolahan data primer yang bersifat kuantitatif dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu editing, coding dan
tabulating dengan menggunakan
software SPSS for windows. Pengolahan
data sekunder menggunakan program
Excel.
IV. HASIL PEMBAHASAN
Data Untuk menganalisis
pengembangan strategi bisnis MICE di Kota Surakarta menggunakan analisis SWOT dan Matrik Daya Tarik Industri. Hasil analisis SWOT dan Matrik Daya Tarik Industri dijabarkan di bawah ini:
1. Analisis SWOT
Berdasarkan data dari hasil focus group discussion, wawancara, dan analisa urgensi dibuat analisis SWOT, berdasarkan hasil analisis SWOT ini dapat dilihat secara garis besar yang menjadi menjadi kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman , Kota Surakarta menjadi kota MICE.
Tabel 1
- banyak tempat mall tersedia
- banyak daya tarik budaya dan sejarah - banyak daya tarik
religi
- banyak tempat
- Produk asing yang membanjiri Kota Kota yang Spesifik
- Banyak jejaring
- Perbaikan tata kota yang berkelanjutan
- Masih sedikit TIC (tourisme
iformation centre) - Masyarakat kota
masih banyak yang belum sadar wisata - Masih berpikir
untung rugi belum berpikir benefit jangka panjang
52
yaitu kebutuhan pelanggan yang bisa atau sudah dipenuhi. Sedangkan kelemahan (weakness) dihubungkan dengan kebutuhan pelanggan yang perlu diminimalisir. Selain itu faktor eksternal ditunjukan peluang (opportunity) yang bisa dikembangkan di Kota Surakarta, dan ancaman (threats) yang diminimalkan. Di dalam mengembangkan kota MICE. strategi yang dikembangkan apabila S>W dan O>T digunakan strategi perluasan (expansion) dan bila S<W dan O<T di gunakan strategi konsolidasi. Hasil identifikasi dapat digabungkan S-O, S-T, W-O, dan W-T, sebagai berikut terlihat pada Tabel 2
Tabel 2 Matrik SWOT
Hasilnya dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa di Kota Surakarta masuk kategori S > W dan O > T dengan demikian strategi yang harus dilakukan adalah perluasan (ekspansif). Analisa Strategi
pengembangan dimaksudkan untuk
menentukan perencanaan jangka panjang yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk merealisasikan tujuan perlu menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan. Faktor internal akan memberikan tingkat kekuatan dan kelemahan, sedangkan faktor eksternal memberikan kesempatan-kesempatan maupun ancaman. Proses strategis dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut : 1. Identifikasi variabel internal dan eksternal, 2.Penilaian variabel internal dan eksternal, 3. Penentuan posisi bisnis, 4. Perumusan strategis. Tahap pertama dan kedua diakukan dengan
mengidentifikasi berbagai indikator dominan yang mempengaruhi keberhasilan organisasi dan dilakukan dengan memberikan bobot serta kondisi yang dibandingkan dengan pesaing, terutama untuk variabel-variabel internal. Tahap ketiga, mengetahui posisi bisnis organisasi, dalam penelitian ini digunakan Matrik Daya Tarik Industri (MDTI), dan Akhimya posisi yang dicapai oleh organisasi maupun SBU-SBU-nya dirumuskan strateginya. Di dalam menentukan bobot disusun berdasarkan kepentingan serta urgensinya, dan dilakukan penilaian melalui FGD dan inter depth
interview, sehingga hasil pembobotan
berbeda satu sama lain.
Analisis Kondisi Internal
Analisis internal pengembangan menuju Kota MICE mencakup variabel sebagai berikut; 1. Lokasi penyelenggaran pameran
(covention dan exhibition center ); 2.
Tempat penginapan (hotel); 3.Transportasi; 4. Kompetensi Penyelenggara pameran
(competency); 5.Organisasi penyelenggara;
6.Tuntutan kebutuhan konvensi (place interest); 7.Paket wisata dalam konvensi (post convention tour); 8. Organisasi
konvensi. Berdasarkan hasil studi di lapangan masing-masing variabel nampak pada Tabel 3.
Tabel 3
Nilai Rata-rata Variabel Internal
NO Faktor Internal Rata-Rata
1 Lokasi 1.6
2 Hotel 1.9
3 Transportasi 1.7
4 Kompetensi 0.2
5
Organisasi
Penyelenggara 0.9
6 Place Interest 0.3
7
Post Convention
Tour 1.0
8
Organisasi
Konvensi 0.5
Jumlah 1.0
Analisis Kondisi Eksternal
53
ekonomi, teknologi, dan pemerintah. Nilai nilai variable eksternal sebagai berikut lihat Tabel 4. di bawah.
Tabel 4
Nilai Rata-rata Variabel Eksternal
Pada tabel 3. dan 4 nilai variabel internal sebesar 0.5 (kondisi sedang ) dan variabel eksternal 1.1 (kondisi peluang tinggi) . Dengan mendasarkan pada kedua nilai variabel tersebut maka posisi Surakarta MICE dapat dilihat pada gambar di bawah .
Pada gambar di atas. interval kekuatan bisnis dan daya tarik ditentuntukan dengan nilai : -2 - -1 Tinggi
> -1 - 1 Sedang > 1 - 2 Tinggi
Berdasarkan posisioning Surakarta MICE terletak pada kondisi variabel internal sebesar 0.5 (kondisi sedang ) dan variabel eksternal 1.1 (kondisi peluang tinggi) maka pilihan strategi nampak pada gambar 2, berikut ini :
Berdasarkan SWOT di atas dapat di buat suatu matrik strategi pengembangan Kota Surakarta sebagai kota MICE menuju percepatan Kota Surakarta sebagai kota MICE lihat Tabel 5. Matrik sebagai berikut:
Tabel 5. Matrik Strategi Pengembangan Kota Surakarta
Hasil SWOT menyimpulkan bahwa Kota Surakarta masih berada S > W dan O > T dengan demikian memerlukan strategi perluasan.
V. PENUTUP
1. Faktor Keunggulan Bersaing sebagai Kota MICE dilakukan melalui sektor pendukung wisata MICE seperti peningkatan investasi, ketersediaan fasilitas wisata yang lengkap dan memuaskan, situasi pasar yang menguntungkan konsumen (low cost), peran sumber daya manusia yang professional dan keunggulan kompetensi dengan daerah lain.
2. Faktor Kunci Keberhasilan Kritis,
pelaksanaan MICE tergantung
ketersediaan fasilitas fisik, seperti hotel, ruang meeting; ruang incentive; ruang konferensi; dan ruang pameran dan sarana penunjang sesuai tuntutan kebutuhan. Selain itu tuntutan sumber daya manusia profesional untuk
No Faktor Eksternal
Rata-Rata
1 Globalisasi 0.5
2 Potensi wisata 1.6
3 Struktur Industri 0.1
4 Ekonomi 0.0
5 Teknologi 0.1
6 Pemerintah 0.7
54
mengelola dan mengorganisir konvensi tersebut.
3. Untuk mewujudkan kota MICE,
berdasarkan analisis SWOT Kota Surakarta berada dalam kategori S > W dan O > T dengan demikian perlu melakukan perluasan (ekspansi) Analisis
grand strategy berdasarkan matrik
strategi pengembangan Kota Surakarta
dengan cara meningkatkan
pertumbuhan, mendominasi pasar dan
meningkatkan investasi secara
maksimum.
Saran
1. Meningkatkan jumlah even-even baik skala nasional maupun internasional yang menarik dan unik serta bervariasi sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung atau mengikuti kegiatan even-even tersebut.
2. Menguatkan brand image atau branding kota Surakarta sebagai kota MICE dengan cara meningkatkan TIC dan mempromosikan even-even pariwisata, budaya, religi, kuliner dan lain sebagainya.
3. Untuk meningkatkan investasi di kota Surakarta perlu dilakukan kerjasama dengan para investor baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
DAFTAR PUSTAKA
Fred R David. 2012. Strategic Management
Concepts & Cases. Pearson
Academic; 14th edition
Fretes, R.A.; Santoso, P. B.; Soenoko, R.; dan Astuti, M. 2013. Strategi Perencanaan dan Pengembangan
Industri Pariwisata dengan
Menggunakan Metode SWOT dan QSPM (Studi Kasus Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon).
Jurnal Rekayasa Mesin 4 (2):
109-118.
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis
Multivariate Dengan Program
SPSS. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang.
Herawati, Tuty dan Akbar, Juni. 2011. Kajian Pengembangan Potensi Wisata MICE Kota Solo Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing
Daerah. Jurnal Epigram. Vol 8 No 2 hal 78-84 Oktober.
Porter, M.E. 1993 "Towards a Dynamic
Theory of Strategy", Strategic
Management Journal, 12 (Winter Special Issue), pp. 95–117.
Prayudi, M Agus. 2011. Bisnis MICE
Sebagai Potensi Unggulan
Pariwisata di Yogyakarta. Jurnal
Pariwisata. Vol 2 No 2, September
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfa Beta.
Thompson, Arthur A., and Strickland, Jr., A. J., 2010 Strategic Management :
concepts and cases, III. Boston :
Irwin/McGraw-Hill,
Thompson, Arthur A., and Strickland, Jr., A. J., 2010 Strategic management :
concepts and cases, III. Boston :
Irwin/McGraw-Hill,
Tiyanto, Prihatin; Widodo dan Baharudin, Agus. 2011. Strategi Pengembangan Kota Semarang Menuju Kota MICE, Upaya Percepatan Pembangunan Menuju Kota Semarang Setara.
Jurnal Riptek Vol 5, No II, Hal
9-24.
Zulkarnaen, H. O. dan Sutopo. 2013. Analisis Strategi Pemasaran Pada Usaha Kecil Menengah (UKM) Makanan Ringan (Studi Penelitian UKM Snack Barokah di Solo).
Journal of Management 2 (3): 1-13.
UNDIP. Semarang.