• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik terhadap Neoliberalisme Posisi Ne (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kritik terhadap Neoliberalisme Posisi Ne (1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

Tugas Review 2 Teori Hubungan Internasional I (Liberalisme)

NPM : 1506685233

Kelas : THI B

Sumber Utama : Reviewoleh Jon Shefner, “A Brief History of Neoliberalism, by David Harvey” dalam The Annals of the American Academy of Political and

Social Science, Vol. 610 (Sage Publications, Inc. 2007), hlm. 260—263.

Kritik terhadap Neoliberalisme: Posisi Negara dalam Sistem Ekonomi

Konsep neoliberalisme berangkat dari konsep yang sudah lebih dari dulu ada yakni,

liberalisme yang untuk pertama kali dipopulerkan oleh ahli filsafat etika dan ekonomi, Adam

Smith, melalui bukunya The Wealth of Nation. Banyak telaah tentang teori-teori kapitalisme

kontemporer melihat neoliberalisme pada prinsipnya sebagai wujud dari perkembangan baru

dari praktik imperialisme. Fase ini dimulai ketika terjadi kegagalan atas penerapan ekonomi

neo-klasik yang masih menerapkan intervensi “regulasi pemerintah.” Dengan memberikan titik

tekan pada “regulasi pemerintah” untuk menghindari kekeliruan asumsi bahwa dengan praktik

neoliberalisme maka peran negara dihabisi. Negara sekiranya pada posisi tertentu sebenarnya

justru tetap eksis dan mengambil langkah yang lebih meningkat dalam sistem neoliberalisme.

Berdasarkan pernyataan tersebut, tulisan ini akan membahas mengenai ulasan neoliberalisme

dan posisi negara di dalamnya yang akan dibagi menjadi tiga bagian; pertama, penulis akan

memaparkan secara ringkas isi dari review Jon Shefner yang merujuk pada bukunya David

Harvey, A Brief History of Neoliberalism; kemudian, bagian kedua akan dipaparkan terkait

perbandingan pendapat neoliberalisme berdasarkan scholars lain diikuti dengan analisis

penulis terhadap perbandingan tersebut; lalu, bagian ketiga akan diakhiri dengan kesimpulan.

Posisi State dalam Sistem Neoliberalisme

Pemikiran neoliberal di dalam lingkup ekonomi telah mendominasi proses pembuatan

kebijakan selama lebih dari tiga puluh tahun dan terjadi pada negara-negara yang sudah

mumpuni secara kemampuan ekonomi, dengan kata lain negara-negara maju di belahan bumi

utara seperti Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa Barat. Penerapan neoliberal dalam sistem

ekonomi sebenarnya telah memundurkan pertumbuhan ekonomi itu sendiri secara global,

(2)

2

regional dan berdampak pada sistem ekonomi global.1 Menurut Shefner, akibat dari penerapan

sistem neoliberalisme membuat pertumbuhan menjadi tidak merata yang menimbulkan

stratified class lines dan adanya polarisasi kekuasaan ekonomi pada pihak-pihak tertentu. Hal

ini berdampak kepada masyarakat yang berasal dari lower-middle-income, secara jelas,

penerapan sistem ekonomi neoliberalisme telah berdampak pada penurunan jumlah gaji

pekerja yang tidak sesuai dengan tingkat kerja serta mengecilkan akses masyarakat terhadap

public services seperti kesehatan, pendidikan, dan lain-lainnya. Shefner berpendapat bahwa

bukti ini secara tegas menyampaikan bahwa neoliberalisme memiliki dampak yang negatif bagi

masyarakat yang berasal dari lower-middle-income namun, kebijakan sistem neoliberalisme

masih menjadi yang paling kuat dalam pengimplementasian ekonomi sebuah negara.

Shefner juga berpendapat bahwa kelas-kelas kapitalis yang berada di Amerika Serikat

dan Inggris cenderung bekerja dengan para kalangan ekonom yang tinggi sebagai bentuk dari

sikap probusiness intelectuals dengan menggunakan institusi keuangan internasional untuk

menyampaikan pesan bahwa hal paling buruk dalam sistem ekonomi ialah intervensi negara di

dalam sistem ekonomi tersebut dan mengatakan bahwa biarkan sistem pasar bekerja secara

independen dalam mengatasi kebutuhan masyarakat di dalm sektor sosial dan ekonomi.

Namun, Shefner merujuk pada eksperimen yang dilakukan oleh David Harvey saat penerapan

neoliberalisme gagal untuk mencapai keberhasilan di kota New York dan justru mengakibatkan

masalah ekonomi dan keuangan seperti munculnya slum area, meningkatnya pengangguran di

kota New York, semakin menurunnya akses social services¸dan lain sebagainya yang membuat

Harvey berargumen bahwa peraturan negara dan peran negara perlu dilibatkan dalam mengatur

liberalisasi hubungan dengan, fleksibilitas penanaman modal, dan sektor ekonnomi lainnya

karena negara dalam hal ini adalah yang memiliki kewenangan dalam mengkonstruksi

peraturan dan nilai, melakukan kegiatan ekspor dan impor, serta menerapkan kebijakan sistem

neoliberalisme itu sendiri.2

Dalam kasus ini, Shefner berpendapat bahwa pemerintah tidak dapat begitu saja

didorong untuk bisa patuh dalam memenuhi kebutuhan modal kapitalis di negaranya namun,

di sisi lain pemerintah tersebut tidak dilibatkan secara aktif dalam pengolahan sistem ekonomi

tersebut dalam upaya pembentukan dan ideologi baru dan kebijakan-kebijakan yang rasional.3

Hal ini memunculkan kembali apabila negara yang menganut sistem neoliberal tidak dapat

1 Jon Shefner, Review “A Brief History of Neoliberalism,” dalam The Annals of the American Academy of

Political and Social Science, Vol. 610 (Sage Publications, Inc. 2007), hlm. 260.

(3)

3

dibangun tanpa adanya kerja sama dari pemerintah, kelas-kelas yang dominan yang dapat

mengatur jalannya sistem negara, kaum intelektual, dan media yang berfungsi untuk menyorot

simpati rakyat kepada negara tersebut.

Kritik dan Pendapat Scholars Mengenai Neoliberalisme

Kemunculan neoliberalisme sebenarnya merujuk kepada bangkitnya kembali bentuk

aliran ekonomi liberalisme lama yang mulanya dipicu oleh tulisan Adam Smith, The Wealth of

Nations. Adam Smith yang menganut mazhab ekonomi klasik, mempropagandakan pentingnya

penghapusan intervensi negara atau pemerintah dalam mekanisme ekonomi, sebagai gantinya

Smith, menganjurkan agar pemerintah membiarkan mekanisme pasar bekerja dengan

logikanya sendiri, melakukan deregulasi, serta menghilangkan segala bentuk hambatan (tarif

dan non tarif) dan restriksi. Namun di sisi lain, teori keynesian yang dikemukakan oleh Keynes

mengungkapkan bahwa pemerintah dan negara penting dalam keterlibatannya mengatur sistem

ekonomi untuk menstabilkan keadaan ekonomi pada tingkat pengangguran yang tidak boleh

lebih tinggi atau lebih rendah (sebagai usaha menghindari inflasi). Keynes juga percaya apabila

pemerintah dapat mengamankan kesempatan kerja dan inflasi yang rendah secara bersamaan

dengan menggunakan kewenangannya dalam menjalankan kebijakan fiskal, kebijakan

moneter, dan instrumen lainnya yang digunakana sebagai upaya untuk menyesuaikan tingkat

harga, restrukturisasi sistem pajak, belanja dan pengeluaran pemerintah, mengatur hubungan

industrial, serta mengatur tarif dan besaran bunga.4 Hal-hal seperti ini kecil kemungkinannya

apabila di dalam sistem neoliberalisme keterlibatan pemerintah dan negara mendapatkan akses

yang sulit sehingga kontrol pasar hanya dikelola oleh segelintir kelompok yang memiliki

kepentingan bisnis di dalamnya.

Ungkapan senada juga dikemukakan oleh David Harvey dalam bukunya Neoliberalism

and The Restoration of Class Power, apabila terdapat alasan penting mengapa neoliberalisme

perlu dipertimbangkan untuk bisa menjadi pola dalam sistem ekonomi politik global yaitu,

dinamika neoliberalisme yang mengutamakan pasar untuk bisa dijadikan aktor utama dalam

kegiatan ekonomi negara perlu mejadi perhatian khusus karena pasar tidak bisa dan tidak

memiliki kewenangan yang setingkat dengan negara di saat menjalankan sebuah sistem

ekonomi.5 Lebih jauh lagi, pasar tidak bisa melakukan atau membuat regulasi-regulasi yang

4 Jomo, ed., Globalization under Hegemony: The Changing World Economy (Oxford: Oxford University Press.

2006), hlm.141.

5 David Harvey, Neoliberalism and The Restoration of Capitalist Class (Oxford: Oxford University Press, 2009),

(4)

4

berkaitan dengan pajak yang telah diatur oleh negara dan belum punya upaya preventif dalam

mengatasi inflasi karena pada dasarnya pasar mengedepankan profit-oriented system dalam

menjalankan perannya di sistem ekonomi. Hal ini yang menyebabkan dinamika neoliberalisme

memaksa berbagai bentuk adaptasi yang sangat bervariasi di dalam sistem ekonomi antara satu

negara dengan negara lain dengan tujuan untuk menyamakan persepsi di dalam sistem pasar.

Kemudian, neoliberalisme yang memaksa negara untuk bisa beradaptasi dengan sistem pasar

negara lain dinilainya sebagai sebuah transisi yang akan membawa pereekonomian justru

menjadi tidak stabil. Hal ini kemudian dilihat oleh Harvey sebagai disparitas yang semakin

nampak bahwa neoliberalisme menghadirkan banyak paradoks dan kontradiksi.6

Di sisi lain terdapat John Rawls yang melihat neoliberalisme dari sudut pandang

penataan ekonomi dan keadilan yang mengatakan bahwa konsepsi keadilan menuntut suatu

basis ekonomi yang fair melalui sistem perpajakan yang proporsional (dan bahkan pajak

progresif jika diperlukan) serta sistem menabung yang adil sehingga memungkinkan

terwujudnya distribusi yang adil pula atas semua nilai dan sumber daya sosial. Di sini perlu

ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menikmati nilai-nilai dan sumber daya

sosial dalam jumlah yang sama, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menciptakan

kemungkinan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat secara keseluruhan.7 Prinsip ini

tidak hanya berlaku bagi anggota masyarakat dalam generasi yang sama, tetapi juga bagi

generasi yang satu dengan generasi yang lainnya. Bagi Rawls, kekayaan dan

kelebihan-kelebihan bakat alamiah seseorang harus digunakan untuk meningkatkan prospek orang-orang

yang paling tidak beruntung di dalam masyarakat. Hal ini berlawanan dengan prinsip

neoliberalisme yang memandang bahwa pendekatan harus dilakukan kepada probusiness

intellectuals agar keberlangsungan pasar tetap terus dinamis tanpa menghiraukan masyarakat

dari golongan lain yang juga terdapat di dalam wilayah negara tersebut.

Analisis Penulis terhadap Kritik Neoliberalisme

Dari tulisan ini, penulis sejalan dengan pendapat Shefner yang menyatakan bahwa

harus ada keterlibatan negara di dalam sistem pereekonomian, walaupun negara tersebut

menganut sistem pemikiran ekonomi neoliberalisme campur tangan negara juga diikutsertakan

di dalamnya karena tidak semua sistem ekonomi yang dijalankan oleh pasar memiliki tingkat

kewenangan yang sama apabila hal tersebut dilaksanakan oleh negara.

6 Ibid., hlm. 76.

(5)

5

Penulis berpendapat bahwa ketimpangan sosial yang ditimbulkan oleh kebijakan

neoliberal menghambat segala upaya untuk merealisasikan kesetaraan hukum yang dibutuhkan

untuk membuat demokrasi kredibel. Korporasi besar memiliki sumber daya untuk

mempengaruhi media dan menguasai proses politik, dan hal itu mereka lakukan. Dalam politik

elektoral AS, sebagai satu contoh saja, seperempat dari satu persen warga terkaya di Amerika

memberikan 80% dari keseluruhan kontribusi politik individual; sedangkan korporasi

menghabiskan lebih banyak uang untuk itu dibandingkan buruh dengan perbandingan sepuluh

banding satu. Dalam neoliberalisme ini semua masuk akal; pemilihan umum mencerminkan

prinsip pasar, dengan besarnya kontribusi sebanding dengan investasi. Hasilnya, hal ini

memperkuat anggapan bahwa politik elektoral tidak relevan bagi kebanyakan orang dan

kekuasaan korporasi tetap terjaga tanpa digugat.

Selain itu, sejalan dengan yang diungkapkan oleh Keynes terkait intervensi negara di

dalam sistem ekonomi, penulis menganggap bahwa tidak adanya campur tangan negara

terhadap perekonomian merupakan salah satu hal yang dapat menunjukkan kelemahan

neoliberalisme. Hal ini dapat dilihat dari krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2007

hingga sekitar 2010 i yang menunjukkan kegagalan pasar yang tidak dapat menjalankan

fungsinya secara sempurna (market failure). Keadaan tersebut mendorong pemerintah Amerika

Serikat untuk memperbaiki keadaan dengan mengeluarkan dana talangan berjumlah ratusan

milyar dollar Amerika. Adanya campur tangan pemerintah menunjukkan bahwa sistem

perekonomian berdasarkan neoliberalisme tidak dapat benar-benar bertahan melewati krisis

tanpa bantuan dari pihak negara dan pemerintah.

Lebih lanjut lagi, penulis memandang bahwa neoliberalisme tidak dapat begitu saja

menentukan sistem pasarnya sendiri karena seperti yang dikatakan oleh David Harvey bahwa

terdapay transisi yang tidak berjalan dengan baik yang justru memundurkan pertumbuhan

ekonomi sebuah negara yang dapat digambarkan seperti negara-negara dunia ketiga dan

negara-negara berkembang yang aset-aset dalam negerinya dikuasai oleh pihak-pihak asing.

Negara-negara dunia pertama banyak menuntut negara-negara lain baik yang sudah

berkembang ataupun yang masih dalam proses berkembang untuk segera melakukan

liberalisasi perekonomian dalam negeri mereka sehingga negara-negara maju tersebut

memiliki pasar untuk memasarkan hasil industrinya. Di lain pihak, negara-negara maju tersebut

juga melakukan proteksi terhadap pasar pertanian dalam negeri sendiri. Hal ini menyebabkan

negara-negara berkembang yang masih harus beradaptasi dengan institusi ekonomi dan politik

dalam negerinya semakin tereksploitasi dan terdependensi terhadap negara-negara maju

(6)

6

Dalam sisi ekonomi penulis memandang apabila di dalam sistem neoliberalisme

terdapat implementasi pembebasan arus modal, akan tetapi tidak diiringi dengan pembebasan

arus tenaga kerja. Kebijakan neoliberal diangggap mendorong standar lingkungan dan buruh

menuju titik yang terendah. Contohnya dalam pengimplementasian NAFTA,

perusahaan-perusahaan yang ada di Amerika Serikat banyak yang memindahkan perusahaan-perusahaannya ke

Meksiko karena tergiur upah buruh yang jauh lebih rendah dan pasar yang dianggap cukup

menjanjikan. Sementara banyak pekerja di Amerika yang kehilangan pekerjaan, di Meksiko

upah buruh tidak mengalami perubahan yang berarti. Padahal seiring dengan arus modal yang

masuk ke dalam Meksiko maka biaya hidup meningkat drastis. Hal tersebut menyebabkan

kesejahteraan penduduk lokal mengalami penurunan yang cukup tajam.

Terakhir, merujuk pada teori keadilan yang diungkapkan oleh Rawls, pandangan

penulis terhadap penerapan neoliberalisme justru semakin mempertegas adanya kesenjangan

antara kelas atas dan kelas bawah. Kesenjangan antar kelas dalam negara akan semakin

melebar ketika orang yang sudah kaya dan memiliki modal dan alat-alat produksi dapat

semakin memperkaya diri, sementara orang yang miskin dan tidak memiliki modal akan

semakin terpuruk dalam perekonomian yang sangat kompetitif. Dalam lingkup global,

negara-negara dunia ketiga akan mengalami kebergantungan terhadap negara-negara-negara-negara dunia pertama.

Negara-negara dunia ketiga akan menjadi sumber eksploitasi ekonomi maupun sumber daya

alam bagi negara-negara dunia pertama tanpa mendapatkan timbal balik yang sesuai. Sekalipun

negara-negara dunia ketiga ingin menghentikan ketergantungan terhadap negara-negara dunia

pertama, namun untuk melakukannya sangatlah sulit tanpa harus mengalami kejatuhan

ekonomi yang cukup parah.

Kesimpulan

Dari pemaparan mengenai neoliberalisme di atas, penulis menyimpulkan bahwa

terdapat kritik-kritik terhadap neoliberalisme di dalam penerapannya. Keterlibatan negara di

dalam sistem pereekonomian yang menganut sistem neoliberalime lebih sedikit perannya

dibandingkan dengan sistem pasar yang diterapkan di dalamnya. Penulis juga menarik

kesimpulan keterlibatan negara perlu dimaksimalkan dalam pengimplementasian sistem

ekonomi neoliberal karena tidak semua sistem ekonomi yang dijalankan oleh pasar memiliki

tingkat kewenangan yang sama apabila hal tersebut dilaksanakan oleh negara.

Di dalam kesimpulan ini penulis juga ingin menambahkan bahwa Neoliberalisme juga

dapat menjadi solusi untuk memperbaiki perekonomian negara terutama seperti dalam kasus

(7)

7

perekonomiannya. Akan tetapi, dalam mengadaptasi ideologi ini sistem perekonomian dalam

negeri haruslah diawali dengan persiapan-persiapan terlebih dahulu, terutama dengan

memantapkan perekonomian dalam negeri sehingga mampu bersaing dalam kancah

internasional. Setelah negara siap, barulah pengimplementasian prinsip-prinsip neoliberalisme

(8)

8

Daftar Referensi

Harvey, David. 2009. “Neoliberalism and The Restoration of Capitalist Class.” Oxford: Oxford

University Press.

Jomi, ed. 2006. “Globalization under Hegemony: The Changing World Economy.” Oxford:

Oxford University Press.

Rawls, John. 1971. “A Theory of Justice.” London: Oxford University Press.

Shefner, Jon. 2007. “Review A Brief History of Neoliberalism, oleh David Harvey.” The

Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 610. USA: Sage

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian yang penulis lakukan, data yang dipergunakan merupakan data primer yang ditunjang dengan data sekunder, dimana data yang dikumpulkan untuk penelitian tersebut

The internal parameters of the battery and the supercapacitor are obtained based on the characteristics of charging and discharging current using a predefined equivalent

Kecamatan Martapura Barat Dalam Angka 2016 merupakan publikasi tahunan yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Banjar.. Disadari bahwa publikasi ini belum sepenuhnya memenuhi harapan

Memahami konsep yang berkaitan dengan aturan pangkat, akar dan logaritma, fungsi aljabar sederhana, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, sistem persamaan linier, program

Kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan berdasarkan karakteristik subyek penelitian yang meliputi jenis kelamin,usia, durasi diabetes melitus,

Perekonomian Kecamatan Tamansari didukung oleh saran dan prasarana wilayah yang ada, yang merupakan aspek pendukung utama dalam pembangunan yang secara tidak langsung akan

(2) manajemen memahami bahwa tanggung jawab perusahaan tidak hanya untuk pemegang saham tetapi juga pihak-pihak lain yang berkepentingan, (3)

Dalam penelitian ini, masalah yang dibahas terbatas pada penyelesaian numeris untuk masalah penyebaran COVID-19 yang diselesaikan dengan menggunakan metode Runge-Kutta orde