TUGAS INDIVIDU III
READING REPORT
MATA KULIAH : KOMUNIKASI INTERPERSONAL
TEMA : PERSEPSI
DOSEN : DR. Hj. NINIS AGUSTINI D., M.Lib AGUS RUSMANA, Drs., MA
DI SUSUN OLEH : TIARA DESYANTI RAHARJA
210210120056 INPUS-B
PROGRAM STUDI ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
PERSEPSI
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori.1
Persepsi adalah proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Persepsi mempengaruhi rangsangan (stimulus) atau pesan apa yang kita serap dan apa makna yang kita berikan kepada mereka ketika mereka mencapai kesadaran.2
PROSES PERSEPSI
Proses persepsi terjadi dalam 3 tahapan:
1. Terjadinya stimuli alat indra
Alat-alat indra distimuli (dirangsang) 2. Stimuli terhadap alat indra diatur
3. Stimuli alat indra ditafsirkan-dievaluasi[2]
PROSES YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
Antara kejadian stimuli (sampainya sebuah pesan, keberadaan seseorang, senyum, atau lirikan mata) dan evaluasi atau penafsiran terhadap stimuli tersebut, persepsi dipengaruhi oleh berbagai proses psikologis penting. Disini kita menyinggung enam proses utama (Cook, 1971; Rubin, 1973; Rubin dan McNeil, 1985) : teori kepribadian implisit (implicit personality theory), ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), aksentuasi perseptual (perceptual accentuation), primasi-resensi (primacy-recency), konsistensi (consisitency), dan stereotipe (stereotyping).
1 Rakhmat, Jalaluddin, 2007,Psikologi Komunikasi,Bandung: Remaja Rosdakarya
MEMBUAT PERSEPSI LEBIH AKURAT
Efektivitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi. Kita dapat meningkatkan akurat kita dengan (1) menerapkan strategi untuk mengurangi ketidakpastian,dan (2) mengikuti beberapa pedoman atau prinsip yang disarankan.[2]
ATRIBUSI ATAU PENYEBAB (ATTRIBUTION)
Atribusi adalah proses dengan mana kita mencoba memahami perilaku orang lain selain juga perilaku kita sendiri (Fiske dan Taylor, 1984).
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam menilai sebab atau atribusi, dalam persepsi antarpribadi: konsensus, konsistensi, keberbedaan.
ATRIBUSI-DIRI
Dalam menggunakan atribusi-diri dalam usaha menilai perilaku diri sendiri, kita mengikuti prinsip-prinsip umum yang sama seperti bila kita menilai perilaku orang lain. Tetapi ada dua perbedaan penting: Kita cenderung mengganggap perilaku kita sendiri disebabkan oleh faktor luar, dan bukan faktor dalam; dan kita biasanya bersikap ingin-menang-sendiri (self-service bias).[2]
Persepsi, seperti juga sensasi, ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. David krech dan Richard S. Crutchfield (1977: 235) menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi persepsi:
1. Perhatian
“ Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah”, demikian definisi yang diberikan oleh Kenneth E. Andersen ( 1972: 46). Perhatian terjadi apabila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra kita, dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra yang lain.
Faktor eksternal penarik perhatian
Apa yang kita perhatikan ditentukan oleh faktor-faktor situasional dan personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perhatian yang bersifat eksternal atau
PERSEPSI ORANG
Aksentuasi perseptual konsistensi
menonjol, antara lain: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan.
Gerakan. Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.
Intensitas Stimuli. Kita akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol dari stimuli yang lain.
Kebaruan (Novelty). Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik perhatian.
Perulangan. Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian.
Faktor internal penaruh perhatian
Beberapa contoh faktor yang mempengaruhi perhatian kita: (1) Faktor-faktor biologis
(2) Faktor-faktor sosiopsikologis
Motif sosiogenis, sikap, kebiasaan, dan kemauan, mempengaruhi apa yang kita perhatikan. Kenneth E. Andersen (1972: 51-52) menyimpulkan dalil-dalil tentang perhatian selektif yang harus diperhatikan oleh ahli-ahli komunikasi.
1) Perhatian itu merupakan proses yang aktif dan dinamis, bukan pasif dan refleksi. Kita secara sengaja mencari stimuli tertentu dan mengarahkan perhatian kepadanya. Sekali-sekali, kita mengalihkan perhatian dari stimuli yang satu dan memindahkannya pada stimuli yang lain.
2) Kita cenderung memperhatiakan hal-hal tertentu yang penting, menonjol, atau melibatkan diri kita.
3) Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan kepercayaan, sikap, nilai, kebiasaan, dan kepentingan kita. Kita cenderung memperkokoh kepercayaan, sikap, nilai, dan kepentingan yang ada dalam mengarahkan perhatian kita, baik sebagai komunikator atau komunikate.
4) Kebiasaan sangat penting dalam menentukan apa yang menarik perhatian, tetapi juga apa yang secara potensial akan menarik perhatian kita. Kita cenderung berinteraksi dengan kawan-kawan tertentu. Hal-hal seperti ini akan menentukan rentangan hal-hal yang memungkinkan kita untuk menaruh perhatian.
5) Dalam situasi tertentu kita secara sengaja menstrukturkan perilaku kita untuk menghindari terpaan stimuli tertentu yang ingin kita abaikan.
6) Walaupun perhatian kepada stimuli berarti stimuli tersebut lebih kuat dan lebih hidup dalam kesadaraan kita, tidaklah berarti bahwa persepsi kita akan betul-betul cermat. Kadang-kadang konsentrasi yang sangat kuat mendistorsi persepsi kita.
8) Tenaga-tenaga motivasional sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi. Tidak jarang efek motivasi ini menimbulkan distraksi atau distorsi (meloloskan apa yang patut diperhatikan, atau melihat apa yang sebenarnya tidak ada).
9) Intensitas perhatian tidak konstan.
10) Dalam hal stimuli yang menerima perhatian, perhatian juga tidak konstan. Kita mungkin memfokuskan perhatian kepada objek sebagai keseluruhan, kemudian pada aspek-aspek objek itu, dan kembali lagi kepada objek secara keseluruhan.
11) Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha itu sering menuntut perhatian. Pada akhirnya, perhatian terhadap stimuli mungkin akan berhenti. 12) Kita mampu menaruh perhatian pada berbagai stimuli secara serentak. Makin besar keragaman stimuli yang mendapat perhatian, makin kurang tajam persepsi kita pada stimuli tertentu.
13) Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan mempertahankan perhatian.
2. Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu.
Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang pertama: persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Mereka memberikan contoh pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Bila orang lapar dan orang haus duduk di restoran yang pertama akan melihat nasi dan daging yang kedua kan melihat limun atau coca-cola. Kebutuhan biologis menyebabkan persepsi yang berbeda.
Pengaruh kebudayaan terhadap persepsi sudah merupakan disiplin tersendiri dalam psikologi antarbudaya (Cross Cultural Psychology) dan komunikasi antar budaya (Intercultural Communication).
Kerangka Rujukan(Frame of Reference)
Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai kerangka rujukan. Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan mempengaruhi bagaimana orang memeberi makna pada pesan yang diterimanya. Menurut McDavid dan Harari (1968: 140), para psikolog mengganggap konsep kerangka rujukan ini amat berguna untuk menganalisa interprestasi perseptual dari peristiwa yang dialami.
3. Faktor-faktor Struktural yang Menentukan Persepsi
lalu menghimpunnya.
Krech dan Crutchfield melahirkan dalil persepsi yang kedua: medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interprestasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
Dalam hubungan dengan konteks ,Krech dan Crutchfield menyebutkan dalil persepsi yang ketiga: sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau
kontras.
Karena manusia selalu memandang stimuli dalam konteksnya , dalam strukturnya, maka ia pun akan mencoba mencari struktur pada rangkaian kedekatan atau persamaan. Prinsip kedekatan menyatakan bahwa stimuli yang berdekatan satu sama lain akan dianggap satu kelompok.
Kretch dan Crutchfield menyebutkan dalil persepsi yang keempat: objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain , cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.
Dalam komunikasi , dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya. Ia menghubungkan dirinya atau mengakrabkan dirinya dengan orang-orang yang mempunyai prestise tinggi. Terjadilah apa yang disebut “gilt by association” (cemerlang karena hubungan). Orang menjadi terhormat karena duduk berdampingan dengan anggota kabinet atau bersalaman dengan Presiden. Sebaliknya kredibilitas berkurang karena berdampingan dengan orang yang nilai kredibilitasnya rendah pula. Disini terjadi apa yang disebut “guilt by association” (bersalah karena hubungan). Jadi, kedekatan dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.
Menurut Kretch dan Crutchfield, kecenderungan untuk mengelompokkan stimuli berdasarkan kesamaan dan kedekatan adalah hal yang universal. ”it is not something that only the poor logicians can do”, ujar mereka. Kita semua sering atau pernah melakukannya.
PERSEPSI INTERPERSONAL
Pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya, menentukan interprestasi kita pada sensasi. Bila objek atau peristiwa di dunia luar itu kita sebut distal stimuli, dan persepsi kita tentang stimuli itu kita sebut percept*maka percept tidak
disebut Fritz Heider sebagai constructive process. Proses ini meliputi faktor biologis da sosiopsikologis individu pelaku perspesi.
Pada tahun 1950-an, dikalangan psikolog sosial timbul aliran baru (disebut “ new look”) yang meneliti pengaruh faktor-faktor sosial seperti pengaruh interpersonal, nilai-nilai kultural, dan harapan-harapan yang dipelajari secara sosial pada persepsi individu, bukan saja terhadap objek-objek mati, tetapi juga pada objek-objke sosial. Lahirlah istilah persepsi sosial yang didefinisikan sebagai “ the role of socially generated influences on the basic processes of perception” (McDavid dan Harari, 1968: 173).
Persepsi sosial kini memperoleh konotasi baru sebagai proses mempersepsi objek-objek dan peristiwa-peristiwa sosial. Untuk tidak mengaburkan istilah dan untuk menggarisbawahi manusia (dan bukan benda) sebagai objek persepsi, disini kita menggunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi pada objek selain manusia kita sebut saja persepsi objek.
Ada empat paerbedaan antara persepsi objek dengan persepsi interpersonal. Pertama, pada persepsi objek, stimuli ditangkap oleh alat indra kita melalui benda-benda fisik: gelombang, cahaya, gelombang suara, temperatur, dan sebagainya; pada persepsi interpersonal, stimuli mungkin sampai kepada kita melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak ketiga.
Kedua, bila kita menanggapi objek, kita hanya menanggapi sifat-sifat luar objek itu;kita tidak meneliti sifat-sifat batiniah objek itu. Pada persepsi interpersonal kita mencoba memahami apa yang tidak tampak pada alat indra kita. Kita tidak hanya melihat perilakunya, kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu. Kita mencoba memahami bukan saja tindakan, tetapi juga motif tindakan itu. Dengan demikian, stimuli kita menjadi sangat kompleks. Kita tidak akan mampu “menangkap” seluruh sifat orang lain dan berbagai dimensi perilakunya. Kita cenderung memilih stimuli tertentu saja. Ini jelas membuat persepsi interpersonal lebih sulit, ketimbang persepsi objek.
Ketiga, ketiak kita mempersepsi objek, objek tidak bereaksi kepada kita; kita pun tidak memberikan reaksi emosional padanya. Dalam persepsi interpersonal, faktor-faktor personal Anda, dan karakteristik orang yang ditanggapi, serta hubungan Anda dengan orang tersebut, menyebabka persepsi interpersonal sangat cenderung untuk keliru.lagipula, kita sukar menemukan kriteria yang dapat menentukan persepsi siapa yang keliru: persepsi Anda atau persepsi saya.
Keempat, objek relatif tetap, manusia berubah-ubah.
orang lain dari petunjuk-petunjuk eksternal (external cues) yang dapat diamati. Petunjuk-petunjuk itu adalah deskripsi verbal dari pihak ketiga, Petunjuk-petunjuk proksemik, kinesik, wajah, paralinguistik, dan artifaktual. Selain yang pertama, yang lainnya boleh disebut sebagai petunjuk nonverbal (nonverbal cues).semuanya kita sebut faktor-faktor situasional.
Pengaruh Faktor-faktor situasional pada Persepsi Interpersonal
1. Deskripsi Verbal
Menurut Solomon E. Asch, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Kata “ kritis” pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif;pada rangkaian kedua, negatif. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect.
2. Petunjuk proksemik
Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak dalam menyampaikan pesan; istilah ini dilahirkan oleh antropolog interkultural Edward T. Hall. Hall membagi jarak ke dalam empat corak: jarak publik, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya dengan orang lain menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka.
3. Petunjuk Kinesik 4. Petunjuk wajah
5. Petunjuk paralinguistik 6. Petujuk artifaktual
Pengaruh faktor-faktor personal pada persepsi interpersonal
1. Pengalaman 2. Motivasi 3. Kepribadian
DAFTAR PUSTAKA
Devito,joseph a.2011.Komunikasi Antar Manusia.Tangerang Selatan : Karisma Publishing Group