• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL BAB I III PSIKOLOGI EKOLOGI PEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROPOSAL BAB I III PSIKOLOGI EKOLOGI PEN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PENDIDIKAN PERILAKU PELESTARIAN LINGKUNGAN SUNGAI SEJAK DINI PADA SISWA SDN PEKAUMAN 1 MARTAPURA

Dosen Pengampu : Neka Erlyani, M. Psi, Psikolog Rika Vira Zwagerry, M.Psi, Psikolog

Oleh: Kelompok 6

Ade Rahmawati I1C115201 Selvia Dwi Agustina I1C115240 Febry Juliyanto I1C115215 Mauliza Mulianti I1C115222 Dini Hardianti I1C115007 Fitri Fauziah I1C115030

(2)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT KALIMANTAN SELATAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Psikologi Ekologi.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun penyajian materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan, khususnya kepada dosen kami yang telah membimbing kami,dalam menyelesaikan tugas ini.

Banjarbaru, Mei 2017

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi yang ada di pulau Kalimantan. Ibu kota Kalimantan Selatan adalah Banjarmasin. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km2. Provinsi ini memiliki 2 kota yaitu kota Banjarmasin

dan kota Banjarbaru. Selain itu, provinsi Kalimantan Selatan memiliki 11 kabupaten. Kabupaten Banjar merupakan salah satu kabupaten dengan wilayah terbesar di Kalimantan Selatan. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, luas Kabupaten Banjar adalah 4.668 km2. Ibu kota

kabupaten Banjar adalah Martapura yang berjarak 40 km di sebelah timur kota Banjarmasin dan memiliki beberapa kecamatan, salah satunya yaitu Kecamatan Martapura Barat. Kecamatan Martapura Barat terdiri dari 14 desa yang terletak di tepi sungai Martapura. Keberadaan sungai tersebut tentunya dapat dioptimalkan oleh masyarakat sekitar untuk menunjang berbagai macam aktifitas. Oleh karena itu, masyarakat sering tidak dapat dipisahkan dari kebergantungannya dengan sungai. Hanya saja, keberadaan sungai tersebut juga merupakan salah satu faktor ancaman yang dapat menghambat aktifitas dan produktifitas warga ketika musim penghujan tiba. Ketika memasuki musim penghujan, curah hujan di Kalimantan selatan akan semakin tinggi yang mana akan membuat air meluap dan terjadi banjir.

(5)

Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Balangan, dan Kabupaten Hulu Sungai Utara yang menjadi kawasan yang rawan banjir. Di Kabupaten Banjar sendiri, daerah yang rawan terjadi banjir adalah daerah Martapura dan Pengaron. Banjir terjadi diakibatkan lalainya masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar terutama sungai. Sering kali didapati bahwa masyarakat, terutama masyarakat pinggiran sungai, sering membuang sampah sembarangan ke jalan, ke saluran di pinggir jalan, bahkan ke sungai. Sampah menurut WHO adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan individu yang tidak disengaja (dalam Chandra, 2006). Sampah ada yang dapat terurai dan menyerap ke dalam tanah dan ada yang tidak dapat terurai dan ketika sudah lama dibuang, bentuknya tetap sama. Limbah pada biasanya juga disebut sebagai sampah yang terdiri dari barang-barang yang digunakan setiap hari seperti sisa makanan, kertas, logam, plastik, dan lain sebagainya (dalam Mensah, dkk, 2014).

(6)

kepedulian dalam penanganan permasalahan lingkungan sungai sekitar Desa Pekauman sebagai tempat tinggal mereka.

1.2 Permasalahan dan Khalayak Sasaran

Khalayak sasaran dari kegiatan ini adalah anak sekolah dasar kelas 5 di SDN Pekauman 1 yang terletak di Jl. Martapura Lama, desa Pekauman, Kecamatan Martapura Timur. Sekolah dasar ini terletak di pinggir sungai. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh SDN Pekauman 1 antara lain:

1. Saat musim penghujan, SDN Pekauman 1 sering terendam banjir diakibatkan meluapnya air sungai yang berada di sekitar sekolah tersebut. Banjir yang merendam sekolah tersebut, membuat aktifitas belajar mengajar di SDN Pekauman 1 menjadi terhambat dan tidak dapat dilaksanakan secara optimal. 2. Penyebab meluapnya air sungai tersebut diakibatkan aliran sungai terhambat.

Saluran air pun tersumbat dikarenakan banyaknya sampah yang menjadi penghalang aliran air dan membuat air tergenang dan ketika hujan akan meluap.

3. Masyarakat masih banyak yang kurang peduli atau bahkan tidak peduli sama sekali dengan keadaan lingkungan sekitar. Masih banyak masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan baik itu ke sungai maupun ke saluran di pinggir jalan yang menyebabkan saluran air menjadi tersumbat.

4. Anak-anak sangat mudah dalam meniru perilaku orang dewasa. Akibat banyaknya oknum-oknum masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan, membuat anak-anak meniru perilaku tersebut dan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.

(7)

1.3 Tujuan Kegiatan

Tujuan dari kgiatan yang kami lakukan adalah :

1. Untuk memberikan pengetahuan pada siswa SDN pekauman 1 tentang kelestarian lingkungan sungai

2. Untuk memberikan pengetahuan cara mengurangi produksi sampah dengan daur ulang

1.4 Manfaat Kegiatan

Diharapkan dengan kegiatan ini siswa SDN pekauman 1 dapat : 1. Memahami tentang kelestarian lingkungan sungai

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Sungai

Sungai adalah tepat – tempat dan wadah – wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan (Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991). Berdasarkan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang dimaksud wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2000 km2.

Sungai merupakan tempat berkumpulnya air di lingkungan sekitarnya yang mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Daerah sekitar sungai yang mensuplai air ke sungai dikenal dengan daerah tangkapan air atau daerah penyangga. Kondisi suplai air dari daerah penyangga dipengaruhi aktifitas dan perilaku penghuninya (Wiwoho, 2005). Sungai sebagai sumber air merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai fungsi serba guna bagi kehidupan dan penghidupan manusia.

Menurut Dinas PU, sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. Menurut UU No. 35 1991 tentang sungai, menyebutkan pengertian Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai di hitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. Sehubungan dengan itu maka pada bantaran sungai di larang membuang sampah dan mendirikan bangunan untuk hunian.

Sungai mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan peradaban manusia, ketersediaan air dan kesuburan tanah disekitarnya, sungai telah memberikan sumber kehidupan bagi manusia. Sungai juga dapat dijadikan sebagai sarana transportasi guna meningkatkan mobilitas serta komunikasi

(9)

mandi, cuci, kakus, dan air minum. Dalam banyak hal sungai dapat dikelola dan dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Ketersediaan air yang terdapat di sungai maupun kesuburan tanah disekitarnya, memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kehidupan manusia.

Mempunyai fungsi ekonomi, sebagai konsumsi dan kebutuhan berbagai aktivitas seperti industri, perdagangan dan jasa, pertanian dan wisata yang dapat menghasilkan nilai ekonomi. Mempunyai fungsi ekonomi, karena dapat

menghasilkan nilai ekonomi seperti ruang produksi, wisata dan raw material (Robert Kodoatie, 2002). Menurut HR Mulyanto (2006) salah satu fungsi dari sungai adalah alur sungai yang dapat digunakan sebagai sarana transportasi.

Ciri-ciri sungai bersih menurut Anandriyo (2013) adalah: (1) Air bersih dan jernis. (2) air tidak berbau. (3) tidak terdapat banyak sampah. (4) tidak tercemar limbah. (5) aliran airnya deras. (6) banyak terdapat hewan air. (7) banyak tanaman air. (8) tidak terdapat bangunan liar. (9) ada penghijauan disekitar sungai. (10) dapat dijadikan sarana transportasi. Air sungai yang bersih dan bebas polusi, bisa

digunakan untuk memenuhi kebutuhan air jutaan manusia. Sayangnya

perkembangan zaman membuat sungai beralih fungsi menjadi tempat sampah. Tidak hanya sampah rumah tangga, kalangan industri juga membuang limbah mereka sehingga membuat sumber air ini menjadi kotor dan tercemar.

2.2.1 Pencemaran Sungai

Pencemaran sungai adalah tercemarnya air sungai yang disebabkan oleh limbah industri, limbah penduduk, limbah peternakan, bahan kimia dan unsur hara yang terdapat dalam air serta gangguan kimia dan fisika yang dapat mengganggu kesehatan manusia.

(10)

alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas sebagai zat pembersih di rumah tangga.

2.2.2 .Penyebab dan dampak pencemaran sungai  Penyebab pencemaran sungai

1. Sumber polusi air sungai antara lain limbah industri, pertanian dan rumah tangga. Ada beberapa tipe polutan yang dapat masuk perairan yaitu : bahan-bahan yang mengandung bibit penyakit, bahan-bahan yang banyak membutuhkan oksigen untuk pengurainya, bahan-bahan kimia organic dari industri atau limbah pupuk pertanian, bahan-bahan yang tidak sedimen (endapan), dan bahan-bahan yang mengandung radioaktif dan panas.

2. Penggunaan insektisida seperti DDT (Dichloro Diphenil Trichonethan) oleh para petani, untuk memberantas hama tanaman dan serangga penyebar penyakit lain secara berlabihan dapat mengakibatkan pencemaran air. Terjadinya pembusukan yang berlebihan diperairan dapat pula menyebabkan pencemeran. Pembuangan sampah dapat mengakibatkan kadar O2 terlarut dalam air semakin berkurang karena sebagian besar dipergunakan oleh bakteri pembusuk.

3. Pembuangan sampah organic maupun yang anorganic yang dibuang kesungai terus-menerus, selain mencemari air, terutama dimusim hujan ini akan menimbulkan banjir. Belakangan ini musibah karena polusi air datang seakan tidak terbendung lagi disetip musim hujan. Sebenarnya air hujan adalah rahmat. Akan tetapi rahmat dapat menjadi ujian apabila kita tidak mengelolanyadengan benar.

 Dampak Pencemaran Sungai

Ø Dampak terhadap kesehatan. Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain :

(11)

c) jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan diri.

d) air sebagai media untuk hidup vector penyakit

Ø Dampak terhadap estetika lingkungan. Dengan semakin banyaknya zat organic yang dibuang ke lingkungan perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah limbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika. Selain bau, limbah tersebut juga menyebabkan tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau sabun akan menyebabkan penumpukan busa yang sangat banyak. Inipun dapat mengurangi estetika.

2.2.2 Cara Mengatasi atau Upaya Pelestarian Daerah Aliran Sungai 1. Melestarikan hutan di hulu sungai. Agar tidak menimbulkan erosi tanah disekitar hulu sungai sebaiknya pepohonan tidak digunduli atau ditebang atau merubahnya menjadi areal pemukiman penduduk. Dengan adanya erosi otomatis akan membawa tanah, pasir, dan sebagainya ke aliran sungai dari hulu ke hilir sehingga menyebabkan pendangkalan sungai.

2. Tidak buang air di sungai. Buang air kecil dan air besar sembarangan adalahperbuatan yang salah. Kesan pertama dari tinja atau urin yang dibuan sembarangan adalah bau dan menjijikan. Tinja juga merupakan medium yang paliang baik untuk perekembangan bibit penyakit dari yang ringan sampai yang berat, oleh karena itu janganlah buang air besar sembarangan khususnya di sungai.

(12)

4. Tidak membuang limbah rumah tangga dan industri Tempat yang paling mudah untuk membuang limbah industri atau limbah rumah tangga berupa cairan adalah dengan mambuangnya kesungai namun apakah limbah itu aman? Limbah yang dibuang secara asal-asalan tentu saja dapat menimbulkan pencemaran mulai dari bau yang tidak sedap, oencemaran air gangguan penyakit kulit serta masih banyak lagi.

Maka oleh karena itu dalam keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle), mendaur pakai (reuse). Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi “masyarakat kimia”, yang menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya (Apriadji dan Wied Harry, 1994). 2.3 Bencana dan Penanggulangannya

Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan bencana yaitu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Macam bencana ada dua, yaitu bencana yang disebabkan karena fenomena alam dan bencana yang disebabkan ulah manusia.

(13)

2. Bencana yang disebabkan ulah manusia, antara lain : terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industry, terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan, terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup atau bencana antara lain :

o Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).

o Perburuan liar.

o Merusak hutan bakau.

o Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.

o Pembuangan sampah di sembarang tempat.

o Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas

Bencana yang sering terjadi di Desa Pekauman Martapura itu sendiri adalah bencana banjir karena keberadaan desa tersebut yang terletak di tepi sungai. BPBD Kabupaten Banjar menyebutkan bahwa Kabupaten Banjar merupakan salah satu kabupaten selain Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Balangan, dan Kabupaten Hulu Sungai Utara yang menjadi kawasan yang rawan banjir. Dan di Kabupaten Banjar sendiri, daerah yang rawan terjadi banjir adalah daerah Martapura dan Pengaron.

(14)

tidak tertampungnya air dalam saluran pembuangan atau terhambatnya aliran air dalam saluran pembuang sehingga meluap dan menggenangi daerah sekitarnya (dalam Suripin, 2004). Banjir terjadi diakibatkan lalainya masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar terutama sungai. Sering kali didapati bahwa masyarakat, terutama masyarakat pinggiran sungai, sering membuang sampah sembarangan ke jalan, ke saluran di pinggir jalan, bahkan ke sungai. Sampah menurut WHO adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan individu yang tidak disengaja.

Sebenarnya penanggulangan pencemaran air dapat dimulai dari diri kita sendiri. Dalam keseharian, kita dapat mengurangi pencemaran air dengan cara mengurangi produksi sampah (minimize) yang kita hasilkan setiap hari. Selain itu, kita dapat pula mendaur ulang (recycle) dan mendaur pakai (reuse) sampah tersebut. Sampah dapat bernilai jual dan menguntungkan dengan cara daur ulang. Menurut Apriadji dan Wied Harry (1994) Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, dan barang elektronik.

Berikut ini merupakan tahap-tahap dari kegiatan daur ulang :

1. Mencari barang-barang yang telah di buang seperti kertas, botol air mineral, dus susu, kaleng dan lain-lainya..

2. Memilah; yakni mengelompokkan sampah yang telah dikumpulkan berdasarkan jenisnya, seperti kaca, kertas, dan plastik.

(15)

4. Mengirim; Kirim sampah yang telah dipilah ke tempat daur ulang sampah,atau menunggu pengumpul barang bekas keliling yang akan dengan senanghati membeli barang tersebut.

(16)

BAB III

METODE PELAKSANAAN 3.1 Langkah Intervensi

Adapun langkah intervensi yang kami tawarkan adalah social education berupa perilaku dan etika berbudaya berbasis lingkungan sejak dini dengan menggunakan mind mapping dan lokakarya pengelolaan barang-barang yang tidak terpakai menjadi barang berguna untuk dapat menumbuhkan perilaku pro-lingkungan. Berikut rencana yang kami susun untuk melakukan intervensi terkait :

1. Pemahaman akan masalah yang terjadi (assessment)

2. Pemahaman terhadapat kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki oleh individu atau kelompok terhadap masalah yang terjadi

3. Menentukan intervensi yang tepat 3.2 Rencana dan Kegiatan

Acara yang kami usulkan yaitu berupa social education dan lokakarya keterampilan pengolahan sampah menjadi barang berguna. Kegiatan tersebut diadakan di SDN Pekauman 1 dengan sasaran utama anak-anak yang duduk di kelas V. Berikut deskripsi dari masing-masing kegiatan :

1. Social Education

Social education berupa pendidikan perilaku pelestarian lingkungan sungai sejak dini dengan menggunakan mind mapping yaitu metode pembelajaran berupa peta pikiran berisi tulisan, symbol dan gambar yang berwarna-warni dan menggunakan example non example yaitu metode pembelajaran dengan media gambar untuk dianalisis permasalahan-permasalahan yang terkandung.

Waktu : Sabtu, 22 April 2017 Tempat : SDN Pekauman 1 2. Lokakarya

(17)

tempat sampah atau tabungan dan siswa secara berkelompok mengikuti langsung setiap langkah dengan didampingi beberapa instruktur pada masing-masing kelompok.

Waktu : Sabtu, 22 April 2017 Tempat : SDN Pekauman 1

Seperti yang telah dibahas di bagian langkah intervensi, kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk memahami perilaku dan etika berbudaya berbasis lingkungan dan menggugah kepedulian dalam penanganan permasalahan lingkungan sejak dini. Jika dikaitkan dengan langkah-langkah intervensi, yaitu sebagai berikut :

Kegiatan social education berupa pendidikan perilaku pelestarian lingkungan sungai sejak dini tujuannya tidak lain adalah agar anak-anak memiliki pemahaman yang berkelanjutan tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan. Adapun kegiatan lokakarya berupa keterampilan pengolahan sampah menjadi barang berguna tujuannya adalah untuk mengolah sampah menjadi barang yang memiliki nilai guna yang tinggi, mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan atau berbagai macam penyakit yang berasal dari sampah serta mengurangi timbunan sampah.

3.3 Jadwal Kegiatan

Waktu Agenda Keterangan

(18)

09.15-09.45 WITA Post-test Panitia

09.45-10.00 WITA Istirahat Panitia

10.00-10.45 WITA Lokakarya Panitia dan Peserta 10.45-11.00 WITA Pemberian bingkisan dan kenang-kenangan Panitia

11.00-11.10 WITA Penutup Panitia

3.4 Anggaran Dana

NO Nama Barang Banyak Harga

Satuan Total

1 Kertas Karton Besar 2 Rp.8.000.00 Rp.16.000.00 2 Kertas Karton Sedang 3 RP.3.000.00 RP.9.000.00

3 Double Tip 1 RP.6.500.00 RP.6.500.00

4 Pulpen Karakter Pack 2 RP.24.000.00 RP.48.000.00 5 Snack untuk siswa 20 RP.5.000.00 RP.100.000.00 6 Snack untuk Guru 1 Rp.50.000.00 RP.50.000.00

TOTAL RP.229.500.00

(19)

3.6 Metode Evaluasi

Metode evaluasi yang kami gunakan berupa post-test tentang materi social education yang diberikan. Adapun aspek yang diukur yaitu

pemahaman siswa tentang: 1. Macam bencana

2. Penyebab pencemaran air (sungai) 3. Dampak pencemaran air (sungai) 4. Ciri-ciri air bersih

5. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko kekurangan air bersih

(20)

Apriadji, Wied Harry.1994. Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya. Peraturan

Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC

Kodoatie J Robert, 2002, Banjir. Pustaka pelajar Yogyakarta

Mensah, P. O,. dkk. 2014. Characteristization of Solid Waste in the Atwimanbiagya District of the Ashanti Region. Kumashi Ghana. International Journal of Waste Management and Technology, 2 (1): 1-14.

Mulyanto, H.R., 2006, “Sungai, Fungsi dan Sifat-sifatnya”, Graha Ilmu, Semarang. Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang sungai

Sosrodarsono, S. dan Tominaga, M. 1985. Perbaikan dan Pengaturan Sungai. Terjemahan Oleh Gayo, M. Y. Jakarta: Pradnya Paramita

Suripin, 2004. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. ANDI. Yogyakarta.

Tondok, M. S. 2008. “Menyampah” dari Perspektif Psikologi (2). Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil simulasi transformasi gelombang dari laut lepas ke garis pantai dengan menggabungkan efek shoaling dan refraksi gelombang Transpormasi Gelombang di Sepanjang

Bagaimana tidak, padahal orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang atheis mampu bertahan dengan penderitaan-penderitaan yang menimpa mereka, maka orang

Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam contoh 2 yang telah diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, apabila dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun sesudah

1. Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak yang ditulis oleh Anna Yulia Tahun 2005 di dalamnya dijelaskan mengenai tips dan trik menumbuhkan minat baca pada anak.

Perhitungan biaya pengiriman buah kelapa sawit dan total biaya berdasarkan tariff sekal kirim dari kebun ke pabrik (Tabel 1. –Tabel6.) disajikan pada (Tabel 9)

Akan tetapi, kita dapat melakukan tindakan yang bijaksana terhadap diri kita sendiri, keluarga dan juga masyarakat luas agar  yang bijaksana terhadap diri kita sendiri, keluarga

Berdasarkan gambar di atas, terlihat bahwa keselurahan hotel di Kawasan pantai Anyer menyediakan akses ibadah untuk para pengunjung sesuai dengan

Hal ini berarti auditor yang dapat mengimplementasikan due professional care yang terefleksikan oleh sikap skeptisme dan keyakinan yang memadai dalam pekerjaan