KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkanrahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Perkembangan Moral pada Anak”.Dalam meyelesaikan makalah ini kami telah berusaha untuk mencapai hasil yangmaksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan pengetahuan, pengalaman dankemampuan yang kami miliki, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauhdari sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dansempurnanya makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Yogyakarta, 21 April 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan perkembangan moral?
2. Apa saja kegiatan-kegiatan, permainan yang dapat mengasah perkembangan moral?
3. Apa saja yang menjadi problema dalam perkembangan moral? 4. Bagaimana realisasi perkembangan moral?
C. Tujuan Penulusan
Dari rumusan masalah diatas, dapat diketahui tujuan penulisan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perkembangan moral. 2. Untuk mengetahui apa saja kegiatan-kegiatan, permainan yang dapat
mengasah perkembangan moral.
3. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi problema dalam perkembangan moral.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MORALKata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Kata mos jika akan dijadikan kata keterangan atau kata sifat lalu mendapat perubahan dan belakangannnya, sehingga membiasakan menjadi “morris” kepada kebiasaan moral dan lain-lain, moral adalah kata nama sifat dari kebiasaan itu, yang semula berbunyi moralis. Kata sifat tidak akan berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari selalu dihubungkan dengan barang lain. Begitu pula kata moralis dalam dunia ilmu lalu dihubungkan dengan scientia
berkembang dari sikap heteronom ( bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang lain) menjadi otonom dari dalam diri sendiri. Pada tahap heteronom anak-anak menggangap bahwa peraturan yang diberlakukan dan berasal dari bukan dirinya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi, dihormati, diikuti dan ditaati oleh pemain. Pada tahap otonom, anak-anak beranggapan bahwa perauran-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama antara para pemain. Anak-anak pada usia paling muda hingga umur 2 tahun melakukan aktivitas bermain dengan apa adanya, tanpa aturan dan tanpa ada hal yang patut untuk mereka patuhi. Mereka adalah motor activity tanpa dipimpin oleh pikiran. Pada tahap ini merepa belum menyadari adanya peraturan yang koersif, atau bersifat memaksa dan harus di taati. Dalam pelaksanaannya peraturan kegiatan anak-anak pada umur itu merupakan motor activiy. Anak pada usia 7-10 tahun beralih dari kesenangan yang semata-mata psikomotor kepada kesenangan yang didapatkan dari persaingan dengan kawan main dengan mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku dan disetujui bersama. Walaupun sebenarnya tidak faham akan peraturan sampai hal yang paling kecil namun keinginan untuk bekerja sama dengan kawan bermain amatlah besar. Anak ingin memahami peraturan dan bermain dengan setiap mengikuti peraturan itu. Pada tahap ini sifat heteronom berangsur menjadi otonom Pada usia 11 sampai 12 tahun kemampuan anak untuk berfikir abstrak mulai berkembang. Pada umur umur itu, kodifikasi ( penentuan) peraturan sudah dianggap perlu. Kadang-kadang mereka lebih asyik tertarik pada soal-soal peraturan daripada menjalankan permainannya sendiri.
1. Taraf Pra-Konvensional.
Pada taraf ini anak telah memiliki sifat responsif terhadap peraturan dan cap baik dan buruk, hanya cap tersebut ditafsirkan secara fisis dan
hedonistis (berdasarkan dengan enak dan tidak enak, suka dan tidak suka) kalau jahat dihukum kalau baik diberi hadiah. Anak pada usia ini juga menafsirkan baik buruk dari segi kekuasaan dari asal peraturan itu diberi, orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada taraf ini terdiri dari dua tahpan yaitu :
a. punishment and obedience orientation. Akibat-akibat fisik dari tindakan menentukan baik buruknya tindakan tersebut menghindari hukuman dan taat secara buta pada yang berkuasa diangga bernilai pada dirinya sendiri.
b. Instrument-relativist orientation. Akibat dalam tahap ini beranggapan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang dapat menjadi alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dianggap sebagai hubungan jual beli di pasar. Engkau menjual saya membeli, saya menyenangkan kamu, maka kamu mesti menyenangkan saya.
2. Conventional Level (taraf Konvensional)
Pada taraf ini mengusahakan terwujudnya harapan-harapan keluarga atau bangsa bernilai pada dirinya sendiri. Anak tidak hanya mau berkompromi tapi setia kepadanya, berusaha mewujudkan secara aktif, menunjukkan ketertiban dan berusaha mewujudkan secara aktif, menunjang ketertiban dan berusaha mengidentifikasi diri mereka yang mengusahakan ketertiban social. Dua tahap dalam taraf ini adalah :
berusaha membuat dirinya wajar seperti pada umumnya orang lain bertingkah laku. Intensi tingkah laku walaupun kadang-kadang berbeda dari pelaksanaanya sudah diperhitungkan, misalnya orang-orang yang mencuri buat anaknya yang hampir mati dianggap berintensi baik.
b. Tahap law and order, orientation. Otoritas peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dan pemeliharaan ketertiban social dijunjung tinggi dalam tahap ini. Tingkah laku disebut benar, bila orang melakukan kewajibannya, menghormati otoritas dan memelihara ketertiban social.
3. Postoonventional Level ( taraf sesudah konvensional)
Pada taraf ini seorang individu berusaha mendapatkan perumusan nilai-nilai moral dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah (valid) dan yang dapat diterapkan entah prinsip itu berasal dari otoritas orang atau kelompok yang mana. Tahapannya adalah :
a. Social contract orientation, Dalam tahap ini orang mengartikan benar-salahnya suatu tindakan atas hak-hak individu dsan norma-norma yang sudah teruji di masyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang bersiat relative, maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu consensus bersama.
Dalam proses perkembangan moral reasoning dengan enam tahapannya seperti itu berlakulan dalil brikut :
a. Perkembangan moral terjadi secara berurutan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
b. Dalam perkembangan moral orang tidak memahami cara berfikir dari tahap yang lebih dari dua tahap diatasnya.
c. Dalam perkembangan moral, seseorang secara kognitif tertari pada cara berfikir dari satu tahap diatas tahapnya sendiri. Anak dari 2 tahap 2 merasa tertarik kepada tahap 3. berdasarkan inilah kohlber percaya bahwa moral reasoning dapat dan mungkin diperkembangkan.
d. Dalam perkembangan moral, perkembangan hanya akan terjadi apabila diciptakan suatu diequilibrium kognitif pada diri si anak didik. Sesorang yang sudah mapan dalam satu tahap tertentu harus diusik secara kognitif sehinga ia terangsang untuk memikirkan kembali prinsip yang sudah dipegangnya. Kalau ia tetap tentram dan tetap dalam tahapannya sendiri, maka tidak mungkin ada perkembangan.
Kegiatan yang dapat mengasah perkembangan moral anak menyangkut 3 hal strategi,yaitu strategi latihan dan pembiasaan, strategi aktivitas dan bermain, strategi pembelajaran (wantah, 2005 :109).
1. Strategi Latihan dan Pembiasaan
2. Strategi aktivitas bermain
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan perilaku moral kepada anak. Menurut hasil penelitian Piaget (Wantah, 2005:116) menunjukkan bahwa perilaku moral anak usia dini terjadi melalui kegiatan bermain. Pada mulanya anak bermain sendiri tanpa dengan menggunakan mainan. Setelah itu anak bermain menggunakan mainan namun dilakukan sendiri. Kemudian anak bermain bersama temannya namun belum mengikuti aturan yang berlaku. Selanjutnya anak bermain bersama temannya dengan aturan yang berlaku.
3. Strategi Pembelajaran
Usaha perkembangan moral anak dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran moral. Pendidikan moral dapat disamakan dengan pembelajaran dan nilai-nilai dan penngembangan watak yang diharapkan dapat dimanifestasikan dalam diri dan perilaku seseorang seperti kejujuran,keberanian,persahabatan dan penghargaan (Wantah,2005:123)
Secara umum ada berbagai teknik yang dapat diterapkan untuk mengembangkan moral anak. Menurut Wantah (2005:129) teknik-teknik yang dimaksud adalah: 1.membiarkan, 2. tidak menghiraukan, 3. Memberi contoh (modelling), 4. mengalihkan arah (redirecting), 5.memuji, 6. mengajak, 7.menantang.
B. KEGIATAN YANG DAPAT MENGASAH PERKEMBANGAN MORAL
1. Strategi Latihan dan Pembiasaan
Latihan dan pembiasaan merupakan strategi yang efektif untuk nmembentuk perilaku tertentu pada anak termasuk perilaku moral. Dengan latihan dan pembiasaan terbentuklah perilaku yang bersifat relative menetap. Misalnya, jika anak dibiasakan untuk menghormati anak yang lebih tua atau orang dewasa yang lainnya, mak anak memiliki kebiasaan yanbg baik, yaitu selalu menghormati orangtuanya.
2. Strategi aktivitas bermain
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan perilaku moral kepada anak. Menurut hasil penelitian Piaget (Wantah, 2005:116) menunjukkan bahwa perilaku moral anak usia dini terjadi melalui kegiatan bermain. Pada mulanya anak bermain sendiri tanpa dengan menggunakan mainan. Setelah itu anak bermain menggunakan mainan namun dilakukan sendiri. Kemudian anak bermain bersama temannya namun belum mengikuti aturan yang berlaku. Selanjutnya anak bermain bersama temannya dengan aturan yang berlaku.
3. Strategi Pembelajaran
C. MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN MORAL
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian,perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi para ahli psikoanalisis, perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematanagan dari sudut organik biologis. Menurut psikoanalisis, moral dan nilai menyatu dalam konsep superego yang dibentuk melalui jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang dari luar (khususnya orang tua) sedemikian rupa, sehingga akhirnya terpencar dari dalam diri sendiri. Teori-teori yang nonpsikoanalisi beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukan satu-satunya sarana pembentukan moral. Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu, banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral peserta didik, diantaranya , yaitu: 1. Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
2. Faktor seberapa banyak model(orang-orang dewasa yang simpatik,teman-teman,orang-orang yang terkenal dan hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal.
3. Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala-segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.,
menurut tahap-tahap perkembangan Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
KESIMPULAN