• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN JENIS DAN BOBOT UMPAN YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGGUNAAN JENIS DAN BOBOT UMPAN YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2302-6308

PENGGUNAAN JENIS DAN BOBOT UMPAN

YANG BERBEDA PADA BUBU LIPAT KEPITING BAKAU ( Application of Different Types and Bait’s Weights on Mud Crab Trap )

Septiyaningsih

1*

, Ririn Irnawati

2

, Adi susanto

2

1

Mahasiswa Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl. Raya Jakarta Km. 4 Pakupatan Serang Banten

2

Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl. Raya Jakarta Km. 4 Pakupatan Serang Banten

*

Korespondensi: [email protected] Diterima: 11 April 2013 / Disetujui: 10 Mei 2013

ABSTRAK

Kepiting bakau merupakan komoditi perikanan bernilai ekonomis dan bernutrisi tinggi serta memiliki rasa yang lezat sehingga digemari oleh masyarakat.

Penggunaan perangkap (bubu) untuk menangkap kepiting bakau sudah umum dilakukan, namun pemilihan umpan yang digunakan masih didasarkan atas ketersediaan dan harganya yang murah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan bobot umpan yang efektif untuk digunakan pada penangkapan kepiting bakau menggunakan bubu lipat. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan laboratorium dengan umpan kulit sapi, ikan swanggi dan ikan biji nangka dengan boot 50 g, 100 g dan 150 g. Hasil penelitian dengan analisis RAL faktorial menunjukkan bahwa perbedaan jenis dan bobot umpan tidak memberikan pengarus nyata terhadap frekuensi masuknya kepiting bakau ke dalam bubu. Kombinasi jenis dan bobot umpan yang menghasilkan frekuensi masuk tertinggi adalah ikan biji nangka dengan bobot 50 g

Kata kunci: bubu, kepiting bakau, umpan

ABSTRACT

Mud crab is a fishery commodity which is very popular because it has a delicious flavor and high nutritional content. Mud crab in nature captured by using trap gear. Bait is one of the factors that support successful of trap fishing operation.

Selection of bait generally base on cheap price and easy to get. Increasing bait’s weight also significantly increase catch. The objective of the research is to determine the type and bait’s weight that effective to catch mud crab. Research was conducted with experimental laboratory. Bait used are cowhide, Upeneus sulphurus and Priacantus tayenus. The bait’s weight used was 50 g, 100 g, and 150 g.

Observed data include frequency and crab is weight that goes into the crab traps.

Data analyzed using a completely randomized design (CRD) factorial. The results show that the types of bait have no effect to entry frequency of mud crab into traps (F count < F table), and bait’s weight have no effect to entry frequency of mud crab into traps (F count < F table). Interaction between the type and weight of bait no effect to entry frequency of the mud crab into traps (F count < F table).

Keyword: bait, mud crab, traps

(2)

PENDAHULUAN

Kepiting bakau merupakan komo- diti perikanan yang memiliki nilai jual tinggi karena memiliki rasa yang lezat dan kandungan gizi yang tinggi (Asmara 2004). Produksi kepiting bakau nasional diperoleh dengan cara budidaya dan penangkapan. Penangkapan kepiting bakau langsung dari alam dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis perangkap dan salah satunya adalah bubu (Rakhmadevi 2004).

Bubu merupakan alat penangkap ikan yang bersifat pasif, yakni memu- dahkan ikan untuk masuk namun sulit untuk meloloskan diri (Mawardi 2001).

Miller (1990) menyatakan bahwa keber- hasilan penangkapan menggunakan bubu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konstruksi bubu, lama peren- daman (soaking time) dan umpan.

Umpan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan suatu operasi penang- kapan ikan, khususnya untuk alat tangkap pasif seperti bubu dan pancing (Subani dan Barus 1989). Alat tangkap bubu biasanya menggunakan umpan alami berupa ikan rucah karena har- ganya murah, mudah diperoleh dan masih memiliki kesegaran yang baik (Ramdani 2007).

Penelitian yang berkaitan dengan penggunaan umpan di Indonesia telah banyak dilakukan, namun penelitian yang berkaitan dengan bobot umpan terhadap hasil tangkapan bubu masih jarang dilakukan. Padahal penambahan bobot umpan pada bubu dapat meningkatkan hasil tangkapan secara signifikan (Miller 1983). Marie (1994) juga menyimpulkan bahwa peningkatan bobot umpan akan meningkatkan hasil tangkapan kepiting pada level tertentu.

Berdasarkan hal tersebut penelitian tentang penggunaan jenis dan bobot umpan yang berbeda pada bubu lipat kepiting bakau merupakan hal yang menarik untuk dilakukan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jenis umpan dan botot umpan yang efektif untuk digunakan pada bubu lipat kepiting bakau pada skala laboratorium. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mem- bantu nelayan dalam menentukan jenis dan bobot umpan yang efektif untuk penangkapan kepiting bakau.

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat

Pengumpulan data dilaksanakan di hatchery Bahari Desa Tanjung Pasir Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Pengola- han data dilaksanakan di Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Univer- sitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan antar lain bubu lipat berjumlah 10 unit, timbangan, kamera digital, stopwatch, DO meter dan refraktometer. Bahan yang diguna- kan antara lain kepiting bakau (30 ekor), kulit sapi, ikan biji nangka dan ikan swanggi.

Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan adalah percobaan di laboratorium. Pengum- pulan data dilakukan selama 15 hari, Penelitian ini menggunakan bubu lipat berbentuk kotak yang berukuran (p x l x t) 55 x 35 x 20 cm dan diberi perlakuan jenis umpan kulit sapi, ikan biji nangka (Upeneus sulphurus), dan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) dengan bobot umpan 50 g, 100 g dan 150 g.

Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Rancangan Acak Leng- kap (RAL) faktorial. Kenormalan data diuji dengan Kolmogorov-Smirnov.

Pengaruh jenis dan bobot umpan dianalisis dengan uji ANOVA dan uji lanjut.

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis Umpan

Frekuensi kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu paling tinggi terlihat pada perlakuan umpan ikan biji nangka dengan jumlah frekuensi kepiting yang masuk sebanyak 227 kali, sedangkan frekuensi terendah terlihat pada perlakuan tanpa umpan (kontrol) dengan jumlah frekuensi sebanyak 20 kali. Secara rinci frekuensi kepiting bakau yang masuk pada bubu dengan jenis umpan yang berbeda disajikan pada Tabel 1.

Umpan ikan biji nangka mengha- silkan frekuensi masuk kepiting bakau paling tinggi. Hal ini diduga karena adanya beberapa faktor, diantaranya ikan biji nangka mengandung kadar protein dan lemak yang cukup tinggi.

Kandungan kimia utama yang berpe- ngaruh terhadap respons penciuman ikan adalah protein, lemak dan asam amino (Riyanto 2008). Fitri (2008) menjelaskan bahwa penggunaan um- pan sebagai atraktor ditentukan oleh kandungan kimia umpan yang diguna- kan. Umpan yang mengandung asam amino diidentifikasi dapat menjadi stimulus dan atraktor makan pada ikan dan crustacea.

Penggunaan ikan biji nangka seba- gai umpan merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh nelayan untuk menangkap kepiting bakau. Selain kelimpahannya cukup

banyak di alam, ikan ini juga memiliki harga yang relatif lebih murah, sehingga dapat mengurangi biaya umpan.

Hasil analisis anova menunjukan bahwa penggunaan jenis umpan yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap frekuensi masuknya kepiting bakau. Hasil ini ditunjukkan dengan nilai F hitung sebesar 0,205 dan nilai F tabel sebesar 3,018. Hal ini diduga karena komposisi kimia yang terkandung pada masing-masing umpan yang diujicoba- kan tidak memiliki kisaran yang jauh.

Secara rinci kandungan kimia umpan yang diujicobakan terlihat pada Gambar 1.

Bobot kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu pada jenis umpan yang berbeda mempunyai berat total 91.090 g. Bobot kepiting bakau paling tinggi terdapat pada umpan ikan biji nangka sebesar 31.930 g, sedangkan bobot kepiting bakau paling rendah terdapat pada perlakuan bubu tanpa umpan (kontrol) sebesar 2.390 g. Secara rinci bobot kepiting bakau yang masuk pada bubu dengan jenis umpan yang berbeda disajikan pada Tabel 2.

Hasil analisis anova pada jenis umpan menunjukkan bahwa penggunaan jenis umpan yang berbeda tidak berpengaruh terhadap bobot kepiting bakau yang masuk pada bubu.Hal ini terlihat pada nilai F hitung sebesar 0,198 dan nilai F tabel sebesar 3,018.

Tabel 1 Frekuensi kepiting bakau yang masuk pada jenis umpan yang berbeda

No. Keterangan

Jenis umpan

Kontrol Kulit sapi Ikan biji

nangka Ikan swanggi

1. Jumlah ulangan 45

2. Total frekuensi kepiting

yang masuk ke bubu (kali) 675

3. Frekuensi masuknya

kepiting (kali) 226 227 202 20

4. Persentase (%) 33,48 33,64 30 3

(4)

Gambar 1 Kandungan kimia umpan yang diujicobakan.

Tabel 2 Bobot kepiting bakau yang masuk pada bubu dengan jenis umpan yang berbeda

No. Keterangan

Jenis umpan

Kontrol Kulit sapi Ikan biji

nangka Ikan swanggi

1. Jumlah ulangan 45

2. Total bobot kepiting yang

masuk ke bubu (g) 91.090

4. Bobot kepiting yang

masuk (g) 30.230 31.930 26.540 2.390

5. Persentase (%) 33,19 35,05 29,00 3,00

Bobot Umpan

Frekuensi kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu paling tinggi terlihat pada perlakuan bobot umpan 50 g dengan jumlah frekuensi kepiting yang masuk sebanyak 250 kali, sedangkan frekuensi terendah terlihat pada perlakuan bobot umpan 150 g dengan jumlah frekuensi kepiting yang masuk adalah sebanyak 195 kali. Secara rinci frekuensi kepiting bakau yang masuk pada bubu dengan bobot umpan yang berbeda disajikan pada Tabel 3.

Hasil analisis anova menunjukkan bahwa penggunaan bobot umpan yang berbeda berpengaruh nyata terhadap frekuensi masuknya kepiting bakau ke bubu dengan Fhitung sebesar 4,427.

Hasil uji BNT menunjukkan hanya bobot umpan 50 g yang berbeda nyata dengan bobot umpan 150 g sedangkan

bobot yang lain memberikan pengaruh yang sama.

Pada penelitian ini penggunaan bobot umpan 50 g menghasilkan frekuensi masuk kepiting bakau ke dalam bubu paling tinggi, sedangkan bobot umpan 150 g menghasilkan frekuensi masuk kepiting bakau paling rendah. Hal ini bebeda dengan pernyataan Marie (1994) yang menyata- kan bahwa peningkatan bobot umpan akan meningkatkan hasil tangkapan pada level tertentu. Fenomena ini diduga karena adanya beberapa faktor, yaitu (1) kepiting bakau yang masuk merupakan kepiting yang ada di sekitar bubu, saat siang hari kepiting berada pada sisi kolam untuk melindungi dirinya dari sinar matahari; (2) frekuensi kepiting yang masuk ke dalam bubu saat pergantian air baru cenderung lebih banyak dibandingkan dengan frekuensi kepiting yang masuk saat air

(5)

belum mengalami pergantian; (3) tinggi- nya peluang kepiting yang sama masuk ke dalam bubu yang sama untuk beberapa kali pengulangan.

Bobot kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu pada bobot umpan yang berbeda mempunyai berat total 88.700 g. Bobot kepiting bakau paling tinggi terdapat pada bobot umpan 50 g dengan bobot sebesar 35.940 g, sedangkan bobot kepiting bakau paling rendah terdapat pada bobot umpan 150 g dengan bobot sebesar 25.160 g.

Secara rinci bobot kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu pada bobot umpan yang berbeda disajikan pada Tabel 4.

Hasil analisis anova menunjukkan bahwa penggunaan bobot umpan yang berbeda berpengaruh terhadap bobot kepiting bakau yang masuk pada bubu.

Hasil ini ditunjukkan dengan nilai F hitung sebesar 12,678. Berdasarkan hasil uji BNT didapatkan hasil bahwa hanya bobot umpan 100 g yang tidak berbeda nyata dengan bobot umpan 150 g terhadap bobot kepiting yamg masuk ke bubu.

Bobot kepiting bakau yang masuk ke bubu pada bobot umpan yang berbeda menunjukkan bahwa bubu dengan bobot umpan 50 g mengha- silkan bobot kepiting paling besar dibandingakan bubu yang lainnya.

Grasso dan Basil (2002) menyatakan crustacea (decapoda) dapat menemu- kan sumber bau yang telah dikacaukan oleh efek turbalensi arus dan distribusi bau berdasarkan ruang dan waktu dengan menggunakan antena luar yang dilengkapi dengan sensor kimia dan mekanik. Kepiting dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki antennule yang lebih panjang sehingga mampu melacak keberadaan umpan dengan jumlah yang lebih sedikit dan jarak yang lebih jauh dibandingkan kepiting dengan ukuran lebih kecil.

Hubungan Jenis dan Bobot Umpan Frekuensi kepiting yang masuk ke bubu paling tinggi terdapat pada umpan ikan biji nangka berbobot 50 g.

Frekuensi terendah terdapat pada perlakuan umpan ikan swanggi ber- bobot 150 g (Tabel 5).

Tabel 3 Frekuensi kepiting bakau yang masuk pada bobot umpan yang berbeda

No Keterangan Bobot umpan

50 g 100 g 150 g

1. Jumlah ulangan 45

2. Total frekuensi kepiting yang masuk ke

bubu (kali) 655

3. Frekuensi masuknya kepiting (kali) 250 210 195

4. Persentase (%) 38,16 32,06 29,78

Tabel 4 Bobot kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu pada bobot umpan yang berbeda

No Keterangan Bobot umpan

50 g 100 g 150 g

1. Jumlah ulangan 45

2. Total bobot kepiting yang masuk ke

bubu (g) 88.700

3. Bobot kepiting (g) 35.940 27.600 25.160

4. Persentase (%) 40,52 31,11 28,37

(6)

Tabel 5 Frekuensi kepiting bakau yang masuk ke dalam bubu pada jenis dan bobot umpan berbeda

No. Keterangan Kulit sapi Ikan biji nangka Ikan swanggi 50 100 150 50 100 150 50 100 150

1. Jumlah ulangan 45

2.

Total frekuensi kepiting yang masuk ke bubu (kali)

655

3. frekuensi masuknya

kepiting 73 87 66 97 65 65 80 58 64

4. persentase (%) 11,14 13,29 10,08 14,80 9,92 9,92 12,22 8,86 9,77

Hasil analisis anova didapatkan bahwa penggunaan jenis dan bobot umpan yang berbeda tidak berpenga- ruh nyata terhadap frekuensi masuknya kepiting bakau. Hasil ini ditunjukkan dengan nilai Fhitung sebesar 1,818 sehingga semua perlakuan yang diujicobakan memberikan pengaruh yang sama terhadap frekuensi masuknya kepiting bakau.

Ikan biji nangka mengandung kadar protein dan lemak yang tinggi sehingga dapat memberikan rangsa-ngan makan pada ikan dan crustacea. Protein berasal dari bermacam-macam kandungan asam amino yang saling berkaitan, sedangkan asam amino diidentifikasi sebagai perang-sang nafsu makan dari ikan-ikan predator (Mukhlis 2012).

KESIMPULAN

Jenis umpan yang paling efektif (disukai) oleh kepiting bakau adalah ikan biji nangka dengn bobot 50 gram.

SARAN

Penelitian lanjutan skala lapangan sangat diperlukan untuk menentukan efektivitas jenis dan bobot umpan yang yang telah dicobakan pada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Asmara H. 2004. Analisis Beberapa Aspek Reproduksi Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Perairan Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.

47 hlm.

Daha L. 2011. Rancangan Percobaan untuk Bidang Biologi dan Pertanian Teori dan Aplikasinya. Makassar:

Massagena Press. 206 hlm.

Fitri ADP. 2008. Respon Penglihatan dan Penciuman Ikan Kerapu Terhadap Umpan Terkait dengan Efektivitas Penangkapan [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 215 hlm.

Grasso FW and Basil JA. 2002. How Lobsters, Crayfishes, and Crabs Locate Sources of Odor: Current Perspective and Future Directions.

Opinion in Neurobiology: Usa (12):

721-727.

Miller RJ. 1983. How Many Traps Should a Crab Fisherman Fish.

Can. J. Fish Management. 3: 1-8 Miller RJ. 1990. Effectiveness of Crab

and Lobster Trap. Marine Fisheries Research Journal.No. 47: 1228- 1249.

(7)

Rakhmadevi CC. 2004. Waktu Perendaman dan Periode Bulan Pengaryhnya Terhadap Kepiting Bakau Hasil Tangkapan Bubu di Muara Sungai Radak, Pontianak [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.

70 hlm.

Ramdani D. 2007. Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan pada Bubu Lipat dengan Menggunakan Umpan yang Berbeda [skripsi]. Bogor:

Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 73 hlm

Riyanto M. 2008. Respon Penciuman Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Terhadap Umpan Buatan [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 117 hlm.

Sainte-Marie, B and Cyr. 1994. Catch of Japanese Crab Traps in Relation to Bait Quantity and Shielding.

Fisheries Research No 24:129-139.

Mawardi, M.M. 2001. Pengaruh Penggunaan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Karang pada Alat Tangkap Bubu (Trap) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seibu [skripsi]. Bogor:

Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 63 hlm.

Mukhlish. 2012. Efektivitas Bubu Lipat Modifikasi dengan Jenis Umpan Berbeda pada Penangkapan Lobster di Perairan Pelabuhanratu [skripsi]. Bogor: FPIK, Institut Pertanian Bogor. 62 hlm.

.

Gambar

Gambar 1  Kandungan kimia umpan yang diujicobakan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari pengolahan data yang terjadi kebutuhan jam kerja pada jadwal induk cukup besar dan sulit untuk diterapkan kedalam lantai produksi apabila perusahaan tidak

masih mengarah pada selera rendah pasar, daripada menggugah kesadaran atau pencerahan batin.memang sebuah film bersifat menghibur namun tentu lebih baik apabila sifat

Sehingga dalam penelitian ini membran selulosa asetat- kitosan dibuat dengan blending nanopartikel ZnO dan Al 2 O 3 variasi konsentrasi 0-4% untuk meningkatkan sifat

Berdasarkan hasil peneltian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh berbagai konsentrasi Cu terhadap kadar Cu dalam akar dan kadar klorofil

ﺖﺳا ﻪﻛ 24 - 30 ﺪﻴﺗﻮﺌﻠﻛﻮﻧ دراد و نﺎﻴﺑ ﻲـﺻﺎﺼﺘﺧا رد ﺖﻓﺎﺑ ﻪﻀﻴﺑ و لﻮﻠـﺳ يﺎـﻫ ﻲـﺴﻨﺟ دراد ، ﺎـﻣا رد مﺮﭙـــﺳا ﻎﻟﺎـــﺑ ﻲﻳﺎـــﺳﺎﻨﺷ هﺪـــﺸﻧ ﺖـــﺳا

Dari Gambar 3 dapat diketahui bahwa kerapatan akar tersier dan kuarter pada kedalaman 0-30 cm sangat berhubungan dengan jarak dari batang kelapa sawit.. Sementara akar

Kritik lain yang dialamatkan kepada Azami adalah bahwa Azami ternyata tidak masuk ke jantung perdebatan diskursif yang berkembang di Barat, sehingga gagal mererspons

Pada sisi lain terkait dengan ditetapkannya Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum, ada keberatan dari Wajib Retribusi yang disampaikan sesuai Surat Ketua