• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA BK ANGKATAN 2015 STKIP PGRI SUMBAR ABSTRAC

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA BK ANGKATAN 2015 STKIP PGRI SUMBAR ABSTRAC"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

DEPAN UMUM PADA MAHASISWA BK ANGKATAN 2015 STKIP PGRI SUMBAR

Oleh:

Riky Fanolesa*

Dr. Yuzarion Zubir, S.Ag., S.Psi., M.Si**

Rila Rahma Mulyani, M.Psi., Psikolog***

* Mahasiswa

** Pembimbing I

*** Pembimbing II

Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRAC

This research was backgrounded by student college that anxiety when speaking in front of public and doesn’t have good self confidence to speak in front of public. The aim of this research to describes: 1) the level of self efficacy of guidance and counseling student college on STKIP PGRI 2015, West Sumatera 2) the level of anxiety speaking in front of public, guidance and counselling student STKIP PGRI 2015, West Sumatera and 3) testing the correlation between self efficacy with anxiety speaking in front of public. This research is correlation descriptive. The research population is student college on 2015 year BK STKIP PGRI West Sumatera and the total is 148 students. The sample using self efficacy technic of proportional random sampling and the total is 108 students. Instrumen using self efficacy questionnare and anxiety speaking in front of public and for conducting the data analysisis with presentation technic and correlation pearson product moment. The result of research shows that there is significant correlation between self efficacy with speak anxiety in front of publics are strong correlation with self efficacy low cathegory and level of anxiety speak in front of public is high category. The correlation of spesification: (1) experience to authorise something with huge pretension for success, the correlation is very strong, (2) social model with huge pretension to success, the correlation is very strong. (3) social persuation with huge pretension to success, the correlation is strong, (4) the physical condition and emotional with huge pretension to success is strong correlation, (5) experiences to aurhorize something with self potray, the correlation is very strong, (6) social modeling with self potray, the correlation is strong, (7) social persuation with self potray, the correlation is strong, (8) the physical condition and emotional with self potray, the correlation is strong, (9) experiences authorise something with evaluation, the correlation is strong, (10) social modelling with evaluation, the correlation is strong, (11) Social Persuation with evaluation, the correlation is strong, (12) the physical condition and emotional with evaluation, the correlation is strong, (13) the experiences aauthorise something with successful and failure in the past, the correlation is strong, (14) social modelling with successful adn failure in the past, the correlation is strong, (15) social persuation with successful and failure in the past, the correlation is strong, (16) the phsyical conditionand emotional with successful and failure in the past, the correlation is strong. Based on research result this recomended to student college to decrease and protect the stability of emotional condition that direct to felling of anxienty when talking in front of public and always have the strong believe within ourselves about ability to speak in front of public.

Key Words: Self Efficacy, Anxiety Speaking in front of public.

PENDAHULUAN

STKIP PGRI Sumbar merupakan salah satu perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan vokasi dalam bidang kependidikan yang ditujukan untuk menghasilkan lulusan yang

tidak saja ahli dalam bidang keilmuan, namun juga mempunyai kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak. Sebagaimana misi STKIP PGRI Sumbar untuk menjadi perguruan tinggi terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan, pengajaran, dan penelitian serta

(2)

pengabdian kepada masyarakat (Pedoman Akademik, 2012:4).

Sebagai sebuah perguruan tinggi, STKIP PGRI dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu tampil di tengah-tengah masyarakat. Terlebih bagi mahasiswa calon tenaga pendidik yang harus menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia pendidikan yang semakin maju, dari sisi keilmuan maupun metodologi pengajaran.

Oleh karena itu penting bagi STKIP PGRI Sumbar untuk segera menghasilkan lulusan- lulusan professional dalam bidang pendidikan.

Khusus pada Program Studi BK, diharapkan nantinya mahasiswa tidak hanya menguasai ilmu secara teori namun juga dapat mengimplementasikannya sehingga terbentuk guru bimbingan dan konseling (BK) yang profesional (Pedoman Akademik, 2012:149). Untuk dapat menjadi guru BK yang profesional diperlukan banyak latihan dan pengalaman. Latihan dan pengalaman tersebut dapat diperoleh dengan mengikuti perkuliahan yang menuntut mahasiswa untuk aktif, kritis dan kreatif. Mahasiswa yang aktif, kritis dan kreatif dapat menunjang pemahaman dan penguasaan materi perkuliahan sehingga apa yang menjadi tujuan dari Program Studi BK dapat tercapai.

Sehubungan dengan hal itu, metode pembelajaran yang digunakan di Program Studi BK STKIP PGRI Sumbar yang paling dominan adalah diskusi kelompok dan presentasi yang menuntut berbicara di depan banyak orang. Namun dalam prakteknya, banyak aspek yang menjadi kendala bagi mahasiswa calon pendidik untuk menjadi profesional, tidak jarang mahasiswa merasa cemas untuk mengungkapkan pikirannya secara lisan baik pada saat diskusi kelompok, maupun saat mempresentasikan tugas.

Kecemasan berbicara tersebut memiliki dampak terhadap penampilannya.

Kecemasan berbicara terdiri dari dua kata yang masing-masingnya memiliki arti.

Kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang.

Freud (Feist & Feist, 2010:38) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasakan tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan

bahaya yang mengancam. Kecemasan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan aprehensif atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi (Nevid, dkk., 2005:163).

Sedangkan berbicara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996:98) adalah berbahasa, melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dan sebagainya).

Menurut Tarigan (1981:15) berbicara adalah kemampuan untuk mengucapkan kata-kata, untuk megekspresikan, serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sedangkan berbicara di depan umum adalah suatu variasi atau perluasan percakapan, dimana seorang pembicara menghadapi pendengar dalam jumlah banyak yang bertujuan untuk mempublikasikan informasi dalam situasi tatap muka (Devito, 1995:5).

Philips (Apollo, 2007:17-32) menjelaskan kecemasan berbicara didepan umum dengan istilah reticence, yaitu ketidakmampuan individu untuk mengembangkan percakapan yang bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan tetapi karena adanya ketidakmampuan menyampaikan pesan secara sempurna, yang ditandai dengan adanya reaksi secara psikologis dan fisiologis. Masing-masing gejala yang ditunjukkan ketika mengalami kecemasan berbicara di depan umum tidak dapat berdiri sendiri, tetapi masing-masing gejala saling berhubungan. Individu yang mengalami kecemasan berbicara di depan umum akan mengalami gejala pada psikologisnya, akan mempengaruhi fisiologis dan kognitifnya semua gejala tersebut saling timbal balik satu dengan yang lainnya.

Ada banyak hal yang mempengaruhi terjadinya kecemasan pada diri seseorang, baik faktor biologis maupun kognitif. Faktor biologis terdiri dari faktor genetis dan neurotransmiter, sedangkan faktor kognitif terdiri dari prediksi berlebihan terhadap rasa takut; keyakinan yang irrasional; sensitivitas berlebihan terhadap ancaman; salah mengatribusikan sinyal-sinyal tubuh dan self efficacy yang rendah (Nevid, dkk., 2005:180- 184).

Berdasarkan hasil observasi yang telah peneliti lakukan pada tanggal 22 Desember 2015 pada saat mahasiswa melakukan presentasi di dalam kelas. Dari observasi ditemukan bahwa beberapa mahasiswa yang sedang melakukan 1

(3)

presentasi tidak menatap audiens atau forum, matanya selalu tertuju pada lembaran makalah yang sedang dibaca, kesulitan untuk melanjutkan apa yang ingin dijelaskan, kata- kata yang telah disusun rapi untuk diutarakan banyak lupa untuk disampaikan, bingung dengan apa yang akan diucapkan sehingga sering mengulang kalimat yang sama sewaktu melakukan presentasi. Mereka terlihat kurang yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

Mereka seakan merasa kurang mampu dan pesimis untuk tampil dengan percaya diri.

Hal senada diperoleh dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan pada beberapa orang mahasiswa angkatan 2015 dengan inisial RZ, FT, AY dan RD (tahun masuk 2015) di Program Studi BK tanggal 22 Desember 2015, diperoleh informasi bahwa mereka mengalami kecemasan jika harus berbicara di depan banyak orang, terutama pada saat mempresentasikan makalah sehingga materi yang sudah dikuasai tidak bisa disampaikan dengan baik. Mahasiswa juga mengaku menjelang presentasi merasakan gemetaran, berkeringat, jantung berdetak kencang, merasa selalu dinilai oleh orang lain atas setiap perbuatannya, takut jika nantinya ada pertanyaan dari anggota forum yang tidak mampu dijawab.

Berkaitan dengan self efficacy, mahasiswa menyatakan bahwa mereka menghindar untuk menjadi moderator karena merasa tidak mampu memandu diskusi dengan baik; mahasiswa lebih memilih untuk membacakan makalah daripada menjelaskan dengan bahasa sendiri inti dari makalah tersebut dengan alasan tidak mampu untuk merangkai kata-kata yang dapat membuat forum mengerti dengan inti makalah yang disampaikan, serta untuk menghindari menatap anggota forum; mahasiswa juga menghindar bahkan menolak untuk menjawab pertanyaan forum meskipun mengetahui jawabannya dikarenakan kurang yakin untuk menyampaikan jawaban dan takut jawabannya disalahkan oleh dosen.

Mahasiswa menilai dirinya masih belum memiliki penguasaan bahasa yang baik sehingga masih belum berani berbicara di depan banyak orang; mahasiswa kurang yakin dengan kemampuan yang dimiliki sehingga lebih memilih untuk menghindari berbicara saat diskusi berlangsung.

Mahasiswa tersebut juga lebih memilih untuk tidak ikut merespon tanggapan dari anggota

forum. Mahasiswa memiliki penilaian yang cukup rendah terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk berbicara di depan banyak orang atau forum. Bila keadaan ini berlangsung terus menerus, maka mahasiswa tidak akan memiliki keberanian untuk menunjukkan kemampuan dirinya, proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik dan pada akhirnya tujuan pendidikan tidak akan tecapai.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :

1. Masih ada mahasiswa yang sedang melakukan presentasi tidak menatap audiens atau forum.

2. Ada mahasiswa yang matanya selalu tertuju pada lembaran makalah yang sedang dibaca saat presentasi.

3. Ada mahasiswa yang kesulitan untuk melanjutkan apa yang ingin dijelaskan.

4. Ada mahasiswa yang saat presentasi, kata-kata yang telah disusun rapi untuk diutarakan banyak lupa untuk disampaikan.

5. Ada mahasiswa yang bingung dengan apa yang akan diucapkan sehingga sering mengulang kalimat yang sama sewaktu melakukan presentasi.

6. Ada mahasiswa yang terlihat kurang yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

7. Ada mahasiswa yang seakan tidak mampu dan pesimis untuk tampil dengan percaya diri.

8. Ada mahasiswa yang mengalami kecemasan jika harus berbicara di depan banyak orang.

9. Ada mahasiswa yang cemas sehingga materi yang sudah dikuasai tidak bisa disampaikan dengan baik.

10. Ada mahasiswa yang mengaku menjelang presentasi merasakan gemetaran, berkeringat, jantung berdetak kencang, merasa selalu dinilai oleh orang lain atas setiap perbuatannya.

11. Ada mahasiswa yang takut jika nantinya ada pertanyaan dari anggota forum yang tidak mampu dijawab.

12. Ada mahasiswa menyatakan bahwa mereka menghindar untuk menjadi moderator karena merasa tidak mampu memandu diskusi dengan baik.

13. Ada mahasiswa lebih memilih untuk membacakan makalah daripada

(4)

menjelaskan dengan bahasa sendiri inti dari makalah dengan alasan tidak mampu untuk merangkai kata-kata yang dapat membuat forum mengerti dengan inti makalah yang disampaikan,

14. Mahasiswa juga menghindar bahkan menolak untuk menjawab pertanyaan forum meskipun mengetahui jawabannya dikarenakan kurang yakin untuk menyampaikan jawaban dan takut jawabannya disalahkan oleh dosen.

15. Mahasiswa menilai dirinya masih belum memiliki penguasaan bahasa yang baik sehingga masih belum berani berbicara di depan banyak orang.

16. mahasiswa kurang yakin dengan kemampuan yang dimiliki sehingga lebih memilih untuk menghindari berbicara saat diskusi berlangsung.

17. Mahasiswa tersebut juga lebih memilih untuk tidak ikut merespon tanggapan dari anggota forum.

18. Mahasiswa memiliki penilaian yang cukup rendah terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk berbicara di depan banyak orang atau forum.

Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami permasalahan yang diteliti dan mengingat keterbatasan penulis dari segi kemampuan, waktu dan dana serta agar penelitian ini lebih terarah, maka penelitian ini hanya dibatasi pada:

1. Batasan masalah umum

Batasan masalah umum dalam penelitian adalah hubungan self efficacy dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa angkatan 2015 Program Studi BK STKIP PGRI Sumbar.

2. Batasan masalah khusus

a. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

b. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan gambaran diri.

c. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan evaluasi.

d. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

e. Hubungan modeling sosial dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

f. Hubungan modeling sosial dengan gambaran diri.

g. Hubungan modeling sosial dengan evaluasi.

h. Hubungan modeling sosial dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

i. Hubungan persuasi sosial dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

j. Hubungan persuasi sosial dengan gambaran diri.

k. Hubungan persuasi sosial dengan evaluasi.

l. Hubungan persuasi sosial dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa.

m. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

n. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan gambaran diri.

o. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan evaluasi.

p. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Tujuan umum

Tujuan umum dalam penelitian adalah hubungan self efficacy dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa angkatan 2015 Program Studi BK STKIP PGRI Sumbar.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

b. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan gambaran diri.

c. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan evaluasi.

d. Hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

e. Hubungan modeling sosial dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

f. Hubungan modeling sosial dengan gambaran diri.

g. Hubungan modeling sosial dengan evaluasi.

h. Hubungan modeling sosial dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

i. Hubungan persuasi sosial dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

(5)

j. Hubungan persuasi sosial dengan gambaran diri.

k. Hubungan persuasi sosial dengan evaluasi.

l. Hubungan persuasi sosial dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa.

m. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan keinginan yang besar untuk berhasil.

n. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan gambaran diri.

o. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan evaluasi.

p. Hubungan kondisi fisik dan emosional dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan pada semester genap (Januari-Juni) tahun ajaran 2015-2016 tepatnya pada bulan April.

Penelitian dilaksanakan di STKIP PGRI Sumbar. Peneliti memilih STKIP PGRI Sumbar karena fenomena Self Efficacy yang rendah dan Kecemasan Berbicara di Depan Umum yang tinggi banyak dialami oleh mahasiswa Program Studi BK terutama mahasiswa tahun pertama.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan korelasional, maksudnya penelitian ini mendiskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta- fakta dan sifat populasi tertentu dan mencoba menggambarkan fenomena secara mendetail apa adanya dan untuk menguji hubungan antara dua variabel atau lebih (Yusuf, 2005:84). Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mendeskripsikan dan mencari hubungan antara variabel self efficacy (X) dan variabel kecemasan berbicara di depan umum (Y).

Penelitian ini berusaha menggambarkan bagaimana “Hubungan self efficacy dengan kecemasan berbicara di depan umum.”

Menurut Yusuf (2005:183)

“populasi merupakan totalitas semua nilai- nilai yang mungkin dari pada karakteristik tertentu sejumlah objek yang ingin dipelajari sifat-sifatnya”. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa angkatan 2015 Program Studi BK STKIP PGRI Sumbar yang berjumlah 148 orang. Sampel untuk penelitian ini sebanyak 108 orang mahasiswa angkatan 2015 Program Studi BK STKIP

PGRI Sumbar yang dipilih dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Proporsional Random Sampling. Menurut Yusuf (2005:201) Proporsional Random Sampling adalah pengambilan subjek dari setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subjek dalam masing-masing unit wilayah.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dalah angket tentang self efficacy dan kecemasan berbicara di depan umum. Menurut Sugiyono (2012: 142)

“Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden. Menurut Riduwan (2010: 71) “Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons (responden) sesuai dengan permintaan pengguna”.

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah persentase dan korelasi pearson product moment.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, ditemukan 37% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki self efficacy dengan kategori rendah, 32% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki self efficacy dengan kategori sedang, 19% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki self efficacy dengan kategori tinggi, 5% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki self efficacy dengan kategori sangat tinggi dan 7%

mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki self efficacy dengan kategori sangat rendah. Temuan ini mendeskripsikan bahwa self efficacy yang dialami mahasiswa BK angkatan 2015 pada umumnya berada pada kategori rendah, meskipun ada juga yang sedang dan tinggi.

2. Ditemukan 37% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki kecemasan berbicara di depan umum dengan kategori tinggi, 35% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki kecemasan berbicara di depan umum dengan kategori rendah, 16% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki kecemasan berbicara di depan umum dengan kategori sedang, 7% mahasiswa BK

(6)

angkatan 2015 memiliki kecemasan berbicara di depan umum dengan kategori sangat tinggi dan 5% mahasiswa BK angkatan 2015 memiliki kecemasan berbicara di depan umum dengan kategori sangat rendah. Temuan ini mendeskripsikan bahwa kecemasan berbicara di depan umum yang dialami mahasiswa BK angkatan 2015 pada umumnya berada pada kategori tinggi, meskipun ada juga yang sedang dan rendah.

3. Terdapat hubungan yang signifikan antara Self Efficacy dengan kecemasan berbicara di depan umum, besarnya koefisien korelasi antara variabel Self Efficacy (X) dengan variabel kecemasan berbicara di depan umum (Y) adalah - 0,942, menunjukkan arah hubungan yang negatif. Artinya, semakin tinggi self efficacy mahasiswa maka semakin rendah kecemasannya berbicara di depan umum, sebaliknya semakin rendah self efficacy mahasiswa maka semakin tinggi kecemasannya berbicara di depan umum.

4. Terdapat hubungan antar indikator self efficacy dengan kecemasan berbicara di depan umum. Variabel tentang self efficacy yaitu: pengalaman menguasai sesuatu (X1), modeling sosial (X2), persuasi sosial (X3), kondisi fisik dan emosional (X4). Variabel kecemasan berbicara di depan umum yaitu:

keinginan yang besar untuk berhasil (Y1), gambaran diri (Y2), evaluasi (Y3), keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu (Y4).

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Program Studi BK STKIP PGRI SUMBAR mengenai self efficacy dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa angkatan 2015, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat self efficacy mahasiswa BK angkatan 2015 STKIP PGRI Sumbar pada umumnya berada pada kategori rendah.

2. Tingkat kecemasan berbicara di depan umum mahasiswa BK angkatan 2015 STKIP PGRI Sumbar pada umumnya berada pada kategori tinggi.

3. Terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dan kecemasan berbicara di

depan umum dengan rhitung sebesar - 0,942 pada taraf signifikansi 0,05 atau tingkat kepercayaan 95% dengan tingkat hubungan sangat kuat. Tanda korelasi menunjukkan arah negatif. Semakin tinggi self efficacy yang dimiliki mahasiswa maka semakin rendah kecemasan berbicaranya di depan umum, sebaliknya semakin rendah self efficacy yang dimiliki mahasiswa maka semakin tinggi kecemasan berbicaranya di depan umum.

4. Terdapat hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan keinginan yang besar untuk berhasil dengan koefisien korelasi sebesar -0,848 dan keeratan hubungan yang sangat kuat.

5. Terdapat hubungan modeling sosial dengan keinginan yang besar untuk berhasil dengan koefisien korelasi sebesar -0,787 dan keeratan hubungan yang kuat.

6. Terdapat hubungan persuasi sosial dengan keinginan yang besar untuk berhasil dengan koefisien korelasi sebesar 0,769 dan keeratan hubungan yang kuat.

7. Terdapat hubungan kondisi fisik dan emosional dengan keinginan yang besar untuk berhasil dengan koefisien korelasi sebesar -0,742 dan keeratan hubungan yang kuat.

8. Terdapat hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan gambaran diri dengan koefisien korelasi sebesar -0,851 dan keeratan hubungan yang sangat kuat.

9. Terdapat hubungan modeling sosial dengan gambaran diri dengan koefisien korelasi sebesar -0,825 dan keeratan hubungan yang sangat kuat.

10. Terdapat hubungan persuasi sosial dengan gambaran diri dengan koefisien korelasi sebesar -0,799 dan keeratan hubungan yang kuat.

11. Terdapat hubungan kondisi fisik dan emosional dengan gambaran diri dengan koefisien korelasi sebesar -0,724 dan keeratan hubungan yang kuat.

12. Terdapat hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan evaluasi dengan koefisien korelasi sebesar -0,784 dan keeratan hubungan yang kuat.

13. Terdapat hubungan modeling sosial dengan evaluasi dengan koefisien korelasi sebesar -0,724 dan keeratan hubungan yang kuat.

(7)

14. Terdapat hubungan persuasi sosial dengan evaluasi dengan koefisien korelasi sebesar -0,694 dan keeratan hubungan yang kuat.

15. Terdapat hubungan kondisi fisik dan emosional dengan evaluasi dengan koefisien korelasi sebesar -0,664 dan keeratan hubungan yang kuat.

16. Terdapat hubungan pengalaman menguasai sesuatu dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu. dengan koefisien korelasi sebesar -0,785 dan keeratan hubungan yang kuat.

17. Terdapat hubungan modeling sosial dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu. dengan koefisien korelasi sebesar -0,745 dan keeratan hubungan yang kuat.

18. Terdapat hubungan persuasi sosial dengan keberhasilan dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu. dengan koefisien korelasi sebesar -0,759 dan keeratan hubungan yang kuat.

19. Terdapat hubungan kondisi fisik dan emosional dengan keberhasilan dengan keberhasilan dan kegagalan dimasa lalu.

dengan koefisien korelasi sebesar -0,693 dan keeratan hubungan yang kuat.

SARAN

Berdasarkan simpulan hasil penelitian, maka dapat dikemukakan beberapa saran kepada pihak-pihak berikut:

1. Mahasiswa

Mahasiswa disarankan untuk mengurangi dan menjaga stabilitas keadaan emosi yang mengarah kepada timbulnya perasaan cemas ketika berbicara di depan umum, sehingga mampu berbicara di depan umum dengan baik. Begitu juga halnya dengan self efficacy, setiap mahasiswa disarankan untuk selalu memiliki keyakinan yang kuat didalam diri tentang kemampuan untuk berbicara di depan umum.

2. Dosen Program Studi BK

Bagi Dosen Program studi BK STKIP SUMBAR, sebagai bahan pertimbangan untuk lebih memberi reinforcement kepada mahasiswa yang berani tampil dalam mengemukakan pendapatnya di depan umum.

3. Peneliti selanjutnya

Berdasarkan temuan penelitian yang telah diuraikan pada BAB IV, maka

untuk peneliti selanjutnya disarankan membahas self efficacy dan kecemasan berbicara di depan umum dengan variabel lainnya agar dapat mengembangkan teori ini lebih luas lagi.

Selain itu juga bisa melanjutkan penelitian ini dengan menemukan penanganan khusus terhadap mahasiswa yang mengalami kecemasan berbicara di depan umum dan strategi untuk meningkatkan self-efficacy mahasiswa.

KEPUSTAKAAN

Apollo. 2007. Hubungan antara Konsep Diri dengan Kecemasan Berkomunikasi Secara Lisan pada Remaja. Manasa . Vol 1, No 1, Juni 2007 (17-32).

(online). http://www.pdf-search- engine.com/kecemasan-

berkomunikasi-pdf html. Tanggal Akses 29 Desember 2015.

Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Devito, Joseph. 1995. The Element Public of Speaking. New York: Harper &

Row. Publishers.

Feist & Feist. 2010. Teori Kepribadian.

Jakarta: Salemba Humanika.

Nevid, Jeffrey dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.

Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian. Jakarta:

Rjawali Press.

Tarigan. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:

Angkasa Raya.

Tim Penyusun. 2012. Buku Pedoman Akademik. Padang: STKIP PGRI.

Yusuf, A. Muri. 2005. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa saat diterapkan pendekatan Nature Of Science meningkat pada tiap pertemuannya,

Surat Kabar dan Pemilukada DKI Jakarta 2017 (Studi Kecenderungan Penulisan Tajuk Rencana Pada Surat Kabar Harian Kompas dan Media Indonesia Terkait dengan

paling sedikit bencana karena kemampuannya mengurangi dampak bencana dengan memperkuat rumahnya dan menggunakan asset yang dimilikinya, (2) penderitaan yang dialami, menjadikan

Guru hendaknya dapat mengembangkan model pembelajaran yang menarik bagi peserta didik agar peserta didik tidak bosan dan proses pembelajaran berlangsung secara maksimal,

Goeteng Taroenadibrata Purbalingga pada bulan Maret-Mei 2017 angka kunjungan ibu hamil 1158 orang, diantaranya partus spontan sebanyak 118 ibu maka dari itu

Dari penjelasan atau uraian mengenai masing-masing kuadran pada diagram IPA dan juga termasuk faktor- faktor yang ada di dalamnya, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor

- Untuk subjek 1berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa subjek 1 memiliki tindakan yang cukup baik mengenai PHBS, ini dibuktikan dengan subjek 1 dalam kegiatannya