• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. pakaian tidak diurus, serta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. pakaian tidak diurus, serta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pengertian anak jalanan menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia, adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah maupun hanya keluyuran di jalanan dan tempat umum lainnya. Karakteristiknya usia 5 sampai 18 tahun, wajah terlihat kusam dan pakaian tidak diurus, serta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.1 Definisi tersebut menyebutkan bahwa anak jalanan melakukan kegiatan sehari-hari di jalan demi mencari nafkah untuk keberlangsungan kehidupan mereka.

Anak jalanan yang hidup di jalanan memungkinkan mereka terpengaruh pergaulan yang bebas seperti minuman keras dan obat-obatan terlarang. Selain itu anak jalanan juga memungkinkan akan mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan terhadap psikologis, seksual, fisik dan verbal dari anak jalanan lain dan orang-orang yang di sekeliling mereka.2 Ketika anak jalanan berada di jalanan maka mereka tidak akan mendapatkan kehidupan yang layak seperti: lingkungan yang tidak kondusif, tidak mengenyam pendidikan, mengembangkan kemampuan

1Yuniar Puspareni, “Impian Anak Jalanan (Studi Eksplorasi Tentang Orientasi Masa Depan Anak Jalanan)”Skripsi (Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas Ilmu Pendidikan, 2012), 14.

2Herlina Astri, “Kehidupan Anak Jalanan di Indonesia,” Jurnal Aspirasi Vol. 5, No. 2 (Desember 2014): 152.

(2)

berinteraksi kepada orang lain, budi pekerti yang kurang baik dan kebutuhan untuk mendapatkan jaminan keamanan hidup di jalan.3

Data statistik jumlah anak jalanan di Kota Banjarmasin di tahun 2012 sebanyak 22 orang, dan semuanya (100%) terbina. Pada tahun 2013, jumlah anak jalanan meningkat menjadi 79 orang, dan jumlah yang terbina hanya 48 orang (60,76%). Cukup mengkhawatirkan di tahun 2014, jumlah anak jalanan kembali meningkat menjadi 89 orang, sedangkan yang terbina hanya 48 orang (53,93%).4

Dalam dokumen atau tulisan yang dibuat oleh Algi Rifani yang berjudul “Anak Jalanan Yang Baik” dijelaskan bahwa ada 4 penanganan atau pemberdayaan untuk anak jalanan. Adapun yang pertama ialah pendekatan secara langsung kepada individunya seperti memberi hadiah dan silaturahmi yang bertujuan agar mereka merasa diperhatikan dan memiliki kepercayaan agar mau dibina. Kedua, membuka pengajian agama Islam khusus untuk anak jalanan seperti belajar iqro atau al-Qur’an, akhlak dan fiqih. Ketiga, membuka rumah singgah untuk anak jalanan seperti rumah singgah Al-Ajyb yang berada di jalan Soetoyo S, Banjarmasin. Keempat, memberikan pelatihan sesuai bakat dan keinginan mereka seperti bengkel, las, kreatif seni dan lain-lain.5

3Herlina Astri, “Kehidupan Anak Jalanan di Indonesia,” Jurnal Aspirasi Vol. 5, No. 2 (Desember 2014): 150.

4M. Ramadhani, Sarbaini, dan Harpani Maftuh, “Peran Dinas Sosial Dalam Penanggulangan Anak Jalanan Di Kota Banjarmasin,” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Vol.

6, no. No. 11 (Mei 2016): 948.

5Muhammad Algi Rifani, “Anak Jalanan Yang Baik,” Januari 2020, 2.

(3)

Pada penanganan atau pemberdayaan untuk anak jalanan yang ke tiga di atas adalah membuka rumah singgah untuk anak jalanan, hal ini sama seperti Departemen Sosial yang menjelaskan bahwa rumah singgah sebagai centre based (panti) untuk anak jalanan. Menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia rumah singgah adalah sebuah sarana untuk anak jalanan yang disiapkan sebagai penghubung mereka dengan orang-orang yang akan menyantuni mereka.6 Rumah singgah juga berperan sebagai tempat berlindung anak jalanan dari tindak kekerasan yang menimpa mereka, selain itu rumah singgah juga dapat menjadi tempat pemulihan kembali bagi anak jalanan dari penggunaan narkoba dan merubah pola pikir atau tingkah laku mereka menjadi lebih baik.7

Pada tahun 2012 di Kota Banjarmasin muncul sebuah organisasi mahasiswa yang bernama Syiar Jalanan yang sekarang sudah berganti nama menjadi Al-Ajyb. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa anak jalanan dianggap sebagai sampah masyarakat, oleh sebab itulah organisasi ini dibentuk supaya anak jalanan khususnya yang berada di Kota Banjarmasin mendapatkan pembinaan. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada subjek AR, komunitas Syiar Jalanan ini terbentuk berawal dari salah satu relawan, yakni subjek AR sendiri yang melihat pemandangan malam hari di pinggiringan Kota Banjarmasin. Adapun pemandangan yang subjek dapatkan ialah anak kecil dengan pakaian kotor, tanpa mengenakan alas kaki, mencari nafkah di lampu merah, berlarian tanpa takut bahaya yang

6Fikriryandi Putra, Desy Hasanah, dan Eva Nuriyah, “Pemberdayaan Anak Jalanan Di Rumah Singgah,” Jurnal Share Social Work Vol. 5, No. 1 (2015): 53–54.

7Muhammad Algi Rifani, “Anak Jalanan Yang Baik,” Januari 2020, 4.

(4)

dapat menerunggut nyawa di jalanan. Selain itu ada juga pemandangan lain seperti anak kecil yang menghirup lem dan remaja yang bermain gitar dengan tubuh bertato. Setelah melihat pemandangan seperti itu, subjek AR mengajak bicara dengan salah satu dari mereka. Dalam pembicaraan tersebut, salah seorang anak ada yang berkata “Ya kalau besar di jalanan ini biasanya laki-laki jadi preman, kalau wanita jadi pelacur”.8 Selepas dari obrolan tersebut, subjek AR berpikir untuk mencari solusi membantu anak jalanan. Pada malam-malam berikutnya, subjek AR mengenalkan dirinya kepada anak jalanan, mengajak bicara sambil makan dan minum. Setelah lama bergaul dengan anak jalanan dan akrab dengan mereka, subjek AR mengajak anak jalanan untuk belajar mengaji atau membaca al-Qur’an.

Dua minggu setelah pengajian anak jalanan ini, AR mengajak teman- teman kuliahnya untuk membentuk komunitas anak jalanan, maka terbentuklah komunitas ini dengan nama Syiar Jalanan atau sekarang berganti nama menjadi Al-Ajyb.

Anak jalanan yang baik atau disingkat Al-Ajyb adalah sebuah perjuangan pendidikan untuk anak jalanan (pengamen, gembel, pengemis dan lain-lain) di Kota Banjarmasin yang dimulai sejak tahun 2012. Pada tahun 2018, rumah singgah Al-Ajyb secara resmi menjadi sebuah Yayasan dan terdaftar pada Lembaga Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial. Rumah singgah Al-Ajyb adalah sebuah Yayasan yang berdiri sendiri (independen), bukan di bawah naungan dari dinas sosial akan tetapi hanya

8Muhammad Algi Rifani, “Anak Jalanan Yang Baik,” Januari 2020,.3–5.

(5)

sebagai mitra dari dinas sosial, yang diberikan surat izin operasional oleh notaris dan Kemenkumham.9 Walaupun tidak mendapatkan gaji, kegiatan- kegiatan relawan di rumah singgah Al-Ajyb masih berlanjut hingga sekarang.

Bersamaan dengan resminya Yayasan, Al-Ajyb juga dipinjamkan rumah singgah oleh pemerintah. Fungsi dari rumah singgah ini salah satunya adalah sebagai tempat lanjutan pendidikan agama Islam untuk pembinaan anak jalanan dan lain-lain. Anggota kepengurusan atau relawan di rumah singgah saat ini ada 7 orang, yang mana sebagian dari mereka adalah mahasiswa yang masih aktif dari berbagai universitas di Kota Banjarmasin.

Relawan menurut kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai suka rela, bersedia hati dan tidak mengharapkan imbalan.10 Jadi maksud dari relawan adalah seseorang yang memiliki keinginan untuk menolong orang lain dengan tanpa mengharapkan balasan dari perbuatannya atau dalam psikologi disebut sebagai altruisme.11 Menurut PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) relawan yaitu seseorang maupun sekelompok orang yang secara ikhlas menolong orang lain tanpa berharap akan balasan atau imbalan serta sadar terhadap pekerjaan yang dia lakukan

9Algi Rifani, Wawancara Pribadi, Banjarmasin 7 Februari 2020

10Pusat Bahasa Departement Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta:

Pusat Bahasa, 2008), 1190.

11David G. Myers, Psikologi Sosial, trans. oleh Aliya Tusyani dkk., 10 ed. (Jakarta:

Salemba Humanika, 2012), 187.

(6)

itu tidak ada balasan atau imbalannya baik berupa waktu, pikiran, tenaga dan kemahiran yang dimilikinya.12

Dalam penelitian ini, peneliti memilih relawan rumah singgah Al- Ajyb karena kelebihan dari rumah singgah Al-Ajyb yang sifatnya mandiri.

Maksudnya, relawan di rumah singgah Al-Ajyb tidak menerima gaji karena rumah singgah Al-Ajyb sendiri adalah organisasi yang mandiri.13 Di rumah singgah, untuk pembayaran tagihan seperti listrik, air PAM (perusahaan air minum) dan lain-lain adalah hasil dari keringat sendiri dari rumah singgah Al-Ajyb.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk hidup bermasyarakat dengan manusia yang lain. Sebagai makhluk yang hidup bermasyarakat, haruslah saling membantu dan menjalin komunikasi untuk bertukar pikiran dan memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Dalam kehidupan bermasyarakat tersebut akan ditemukan perilaku sosial seperti bahu-membahu atau menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Menolong orang yang membutuhkan pertolongan tanpa mengharapkan balasan dalam psikologi disebut sebagai altruisme.14

Altruisme adalah perilaku menolong yang mementingkan kepentingan orang lain dari pada diri sendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah empati yakni kemampuan merasakan apa yang

12Tazkiyatus Sakinah, “Altruisme Pada Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)”Skripsi (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2018), 9.

13Jumri, Wawancara Pribadi, Banjarmasin, 24 Februari 2020.

14Indriyani Diyai, Hendro Bidjuni, dan Franly Onibala, “Hubungan Kecerdasan Spritual Dengan Perilaku Altruistik Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Sam Ratungali Manado,”

Jurnal Keperawatan Vol. 7, No. 1 (Mei 2019): 2.

(7)

dirasakan oleh orang lain.15 Emmons, Barret dan Schneider menyebutkan bahwa orang yang tingkat religiusnya tinggi adalah orang yang altruistik karena mudahnya dalam berempati, adil, jujur dan menunjukkan penghargaan pada aturan hidup bermasyarakat dan perilaku yang muncul dalam lingkungan sosial yaitu perilaku menolong, altruisme, mempunyai sikap anti kekerasan dan menghindari perselisihan.16 Menurut Sears dkk altruisme diartikan sebagai tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan, kecuali hanya perasaan telah memberikan kebaikan kepada orang lain.17 Sedangkan menurut Myers, altruistis itu adalah orang yang mempunyai kepedulian terhadap orang lain serta tak segan menolong walaupun dia sudah tahu perbuatannya tidak akan dibalas.18

Dalam kehidupan ini, manusia dan uang tidak dapat dipisahkan.

Apalagi di masa sekarang, semua orang membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Akan tetapi masih ada orang yang rela mengorbankan waktu dan tenaga mereka walaupun tidak di gaji menjadi relawan.

Di masa sekarang, perilaku altruis kian terkikis. Manusia di zaman sekarang banyak berpikir bahwa hidup tidak gratis, selalu ada harga yang

15Cahaya Kamilah dan Neka Erlyani, “Gambaran Altruime Anggota Komunitas 1000 Guru Kalimantan Selatan,” Jurnal Ecopsy Vol. 4, No. 1 (April 2017): 34.

16Julia Dwi Putri dan Sayang Ajeng Mardhiyah, “Peran Religiusitas Terhadap Altruisme Relawan Walhi Sumsel,” Jurnal Insight Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember Vol. 14, No. 2 (Oktober 2018): 193.

17David O. Sears, Jonathan L. Freedman, dan L. Anne Peplau, PsikologiSosial, trans. oleh Michael Adryanto (Jakarta: PenerbitErlangga, 1994), 47.

18David G. Myers, Psikologi Sosial, trans. oleh Aliya Tusyani dkk., 10 ed. (Jakarta:

Salemba Humanika, 2012) 187.

(8)

harus dibayar, dari pemikiran seperti inilah yang menyebabkan manusia memperhitungkan untung dan ruginya pada apa yang mereka lakukan.

Semakin jaranglah orang yang rela menolong terhadap sesama tanpa mengharapkan imbalan. Padahal Allah SWT memerintahkan untuk berperilaku altruistik seperti pada surah Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi:



















Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.

Menurut tafsir Al-Mishbah ayat ini menerangkan tentang menyeru untuk memiliki prinsip dalam bekerja sama dengan orang lain dengan tujuan kebajikan dan taqwa.19 Sedangkan menurut tafsir Ibnu Abbas “Tolong- menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan” maksudnya adalah tolong-menolonglah dalam taat kepada Allah SWT, bertakwalah sehingga kamu meninggalkan maksiat dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan maksiat.20

Di sisi lain, Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sebaik- baiknya, yakni manusia memiliki sifat keadilan, kemurahan hati, dan lain sebagainya.21 Salah satu relawan rumah singgah Al-Ajyb yang peneliti jumpai, dia menolong anak jalanan karena terinspirasi dari hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

19M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2011), 17.

20Abdullah, Tanwir Al-Miqbash Dari Tafsir Ibnu Abbas, ed. oleh Majduddin, 3 ed.

(Lebanon: Dar Al-Kotob Al-ilmiyah, 2008), 115.

21Solehan Arif, “Manusia dan Agama,” Jurnal Islamuna Vol. 2, No. 2 (Desember 2015):

150.

(9)

Tidaklah termasuk orang yang beriman kamu semua, sampai kamu mencintai saudaramu (peduli sesama) sebagaimana kamu mencintai (peduli) terhadap dirimu. HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasa’i.

Alasan peneliti, memilih relawan rumah singgah Al-Ajyb karena pada studi pendahuluan menjelaskan bahwa rumah singgah Al-Ajyb adalah organisasi yang mandiri dan relawan yang bekerja di sana tidak menerima gaji yang berarti relawan rumah singgah Al-Ajyb ini mereka rela menolong tanpa mengharapkan imbalan. Berdasarkan hal tersebut, peneliti merasa cocok menjadikan relawan rumah singgah Al-Ajyb sebagai subjek karena sesuai dengan fenomena yang ada.

Atas dasar latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya maka peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian dengan judul

“Altruisme Relawan Pada Rumah Singgah Al-Ajyb”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana bentuk-bentuk perilaku altruisme para relawan pada rumah singgah Al-Ajyb?

2. Apa saja aspek-aspek perilaku altruisme relawan pada rumah singgah Al-Ajyb?

3. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme relawan pada rumah singgah Al-Ajyb?

(10)

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku altruisme para relawan pada rumah singgah Al-Ajyb

2. Untuk memahami aspek-aspek perilaku altruisme relawan pada rumah singgah Al-Ajyb

3. Untuk mengindentifikasi bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme relawan pada rumah singgah Al-Ajyb.

D. Signifikansi Penelitian

Hasil penelitian ini semoga bisa menjadi manfaat baik dari sisi teoritisnya maupun praktisnya. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu:

a. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya referensi yang berhubungan dengan ilmu psikologi sosial. Serta bermanfaat untuk mengetahui dan memahami teori baik itu tentang bentuk-bentuk altruisme, aspek-aspek altruisme dan faktor-faktor altruisme dalam diri seorang relawan.

b. Secara praktis bagi peneliti, peneliti dapat mengetahui perilaku altruisme relawan. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk menjadi pribadi yang altruis sehingga bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi insan lainnya, serta diharapkan dapat menambah-nambah ilmu pengetahuan khususnya tentang altruisme.

(11)

E. Definisi Istilah

Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap judul di atas, peneliti memperjelas definisi secara spesifik sebagai berikut:

1. Altruisme

Kata altruisme diambil dari bahasa Prancis autrui atau dalam bahasa latinnya disebut alter yakni orang lain. Pada abad ke 19 di Prancis, kata ini dikenalkan oleh filosof dan sosiolog yang bernama Auguste Comte. Comte menyebutkan altruisme itu adalah “living for others” atau dalam bahasa Prancisnya “vivre pour autrui” yang artinya hidup untuk orang lain.22 Secara bahasa altruisme diartikan sebagai tindakan yang berorientasi pada kebaikan orang lain.23 Menurut Myers altruistis itu adalah orang yang mempunyai kepedulian terhadap orang lain serta tak segan menolong walaupun dia sudah tahu perbuatannya tidak akan dibalas.24

Aspek-aspek altruisme mengacu pada pendapat Myers yang menjelaskan bahwa dalam perilaku altruisme terdiri dari lima, yaitu:

a. Empathy, perilaku altruis tumbuh dengan empati pada diri seseorang. Seseorang yang sangat altruis mempunyai rasa tanggung jawab, mudah bersosialisasi dan menyesuaikan

22Robertus Robet, “Altruisme, Solidaritas, dan Kebijakan Sosial,” Jurnal Sosiologi Masyarakat 18, no. 1 (Januari 2013): 4.

23Asti Wulandari, “Perilaku Altruisme Karyawan (Studi Kasus pada Mandor Perkebunan Sawit Perseroan Terbatas (PT).Tribuana Mas Kabupaten Tapin),” Jurnal Studia Insania 5, no. 2 (November 2017): 126.

24David G. Myers, Psikologi Sosial, trans. oleh Aliya Tusyani dkk., 10 ed. (Jakarta:

Salemba Humanika, 2012) 187.

(12)

dirinya, mudah bertoleransi dan mengatur diri sendiri, dan bisa memberi kesan yang baik kepada orang lain.

b. Belief on a just world (meyakini keadilan dunia), orang yang berperilaku altruis mempunyai keyakinan terhadap keadilan dunia (just world), yakni keyakinan bahwa dalam jangka waktu tertentu orang yang berbuat baik akan mendapatkan kebaikan dan orang yang berbuat buruk akan mendapatkan keburukan pula.

c. Sosial responsibility (tanggung jawab sosial), yaitu memiliki tanggung jawab dari apa yang dilakukan oleh setiap orang, sehingga ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan orang itu mempunyai hasrat untuk menolongnya.

d. Kontrol diri secara internal, perilaku altruisme seseorang muncul melalui kontrol dalam diri seseorang (contohnya kepuasan diri).

e. Ego yang rendah, dengan keegoisan diri yang rendah maka akan lebih mudah untuk mementingkan kepentingan orang lain dari diri sendiri.25

Dari penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa altruisme dalam penelitian ini adalah perilaku menolong yang memberikan manfaat secara positif, dilakukan secara suka rela dan tanpa mengharapkan imbalan. Pada penelitian ini yang menjadi indikator

25David G. Myers, Psikologi Sosial, trans. oleh Aliya Tusyani dkk., 10 ed. (Jakarta:

Salemba Humanika, 2012), 187–229.

(13)

atau yang ingin dilihat lebih dalam pada relawan adalah: bentuk- bentuk altruisme para relawan di rumah singgah Al-Ajyb, aspek-aspek altruisme para relawan yaitu: empati, meyakini keadilan dunia (belief on a just world), tanggung jawab social (social responsibility), kontrol diri secara internal dan ego yang rendah dalam diri seorang relawan serta faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku altruisme relawan:

yaitu empati, faktor personal dan situasional, nilai-nilai agama dan moral, norma tanggung jawab sosial, suasana hati dan norma timbal balik.

2. Relawan

PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) menyebutkan arti relawan yaitu individu maupun kelompok yang secara ikhlas menolong orang lain tanpa berharap akan balasan atau imbalan serta sadar terhadap pekerjaan yang dia lakukan itu tidak ada balasan atau imbalannya baik berupa waktu, pikiran, tenaga dan kemahiran yang dimilikinya.26 Pengertian relawan lain menurut Schroeder, ialah seseorang yang memberikan tenaganya, keahlian dan sebagian waktunya dengan tidak mendapatkan upah atau sesuatu yang sifatnya finansial dari sebuah organisasi pelayanan publik, yang mana intinya dari aktivitas kerelawanan tersebut tidak ada sama sekali keuntungan yang dia dapatkan.27

26Tazkiyatus Sakinah, “Altruisme Pada Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)”Skripsi (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2018), 9.

27Musfirotul Abidah, “Kebermaknaan Hidup Seorang Relawan” (Skripsi, Surabaya, Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, 2012), 20.

(14)

Dari penjelasannya sebelumnya dapat disimpulkan bahwa relawan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seseorang atau sekelompok orang yang rela memberikan waktu, pikiran, tenaga dan keahliannya untuk menolong orang lain tanpa mengharap akan bila serta sadar bahwa apa yang dilakukannya tidak mendapat gaji atau upah. Dalam penelitian ini relawan yang peneliti maksud adalah:

a. Relawan yang bekerja pada rumah singgah Al-Ajyb b. Bekerja selama 1,5 tahun lebih di rumah singgah Al-Ajyb c. Usia 20-40 tahun

3. Rumah Singgah Al-Ajyb

Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia, rumah singgah adalah sebuah sarana untuk anak jalanan yang disiapkan sebagai penghubung mereka dengan orang-orang yang akan menyantuni mereka.28 Al-Ajyb adalah sebuah perjuangan pendidikan untuk anak jalanan yang dimulai sejak tahun 2012.

Rumah Singgah Al-Ajyb adalah rumah singgah untuk anak jalanan yang diresmikan sejak desember 2018. Pada rumah singgah ini anak jalanan mendapatkan pembinaan, seperti pembinaan pendidikan agama Islam, ekonomi, musik dan lain-lain.

28Fikriryandi Putra, DesyHasanah, dan Eva Nuriyah, “Pemberdayaan Anak Jalanan Di Rumah Singgah,” Jurnal Share Social Work Vol. 5, No. 1 (2015): 53–54.

(15)

F. Penelitian Terdahulu

Rujukan karya ilmiah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Skripsi “Altruisme Pada Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)”

yang ditulis oleh Tazkiyatus Sakinah dari UIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2018. Pada penelitiannya menerangkan tentang karakteristik altruisme yang dimiliki oleh relawan PMI. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang, dua di antaranya adalah laki-laki dan satu wanita dan tergabung dalam PMI selama 3-4 tahun. Metode yang dia gunakan yaitu metode kualitatif dan memakai pendekatan fenomenologis, sedangkan teknik penggalian data menggunakan wawancara dengan pedoman umum. Hasil pada penelitian ini ialah karakteristik altruisme pada anggota Palang Merah Indonesia perilaku altruisme yang muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Perilaku yang dimunculkan ketiga subjek mencerminkan karakteristik setiap perilaku altruisme, yakni empati, meyakini keadilan dunia, tanggung jawab sosial, kontrol diri internal dan ego yang rendah.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian peneliti ada pada objeknya yaitu Palang Merah Indonesia (PMI), yang mana organisasi PMI ini digaji, sedangkan relawan Al-Ajyb tidak digaji. Adapun persamaannya adalah melihat/menjelaskan karakteristik yang dimiliki oleh seorang relawan.

2. Jurnal Studia Insania “Perilaku Altruisme Karyawan (Studi Kasus pada Mandor Perkebunan Sawit Perseroan Terbatas (PT).Tribuana Mas

(16)

Kabupaten Tapin)” Vol. 5, No. 2 November 2017 yang ditulis oleh Asti Wulandari dari UIN Antasari Banjarmasin. Metode yang digunakannya adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif serta menggunakan tinjauan Psikologi Islam. Subjek dalam penelitiannya berjumlah 3 orang. Dalam memperoleh data, teknik yang dia gunakan ialah observasi nonpartisipan dan wawancara semi terstruktur. Hasil dari penelitian in menunjukkan bahwa perilaku altruisme karyawan tersebut mencakup komponen altruisme yang sebagian besarnya memiliki kesamaan satu sama lain, yaitu karyawan berperilaku helping (menolong), mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain, sharing (berbagi) dan honesty (kejujuran).

Perilaku donating & generosity cuma ada pada diri subjek AB dan PA.

Kemudian Cooperation (kerja sama) cuma ada pada diri subjek AW.

Perilaku altruisme pada ke 3 subjek sama dengan yang diajarkan pada agama Islam, yakni berbuat dengan ikhlas. Akan tetapi, subjek AW perilaku altruismemya dalam ranah kemanusiaan. Faktor yang menyebabkan karyawan berperilaku altruisme di perusahaan kelapa sawit tersebut adalah faktor situasional (luar diri), ketiga subjek tersebut menolong karena ada daya tarik, atribusi terhadap korban, terhimpit oleh waktu, keperluan korban. Faktor modelling yang ada hanya ada di subjek PA. Faktor dalam diri, ketiga subjek tersebut termasuk dalam kriteria karakteristik altruisme seperti empati, just world, kewajiban sosial, internal locus of control, egosentris yang

(17)

rendah, prinsip kesamaan, mood dan pengharapan positif. Pada faktor religiusitas hanya ada dua subjek yang memiliki karakteristik altruisme, karena keyakinan pada ajaran agama yang mengajarkan menjadi sebaik-baik manusia.

Persamaannya dengan penelitian peneliti adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan altruisme sebagai objeknya.

Perbedaannya adalah penelitian ini menggunakan penelitian studi kasus, sedangkan penelitian peneliti menggunakan penelitian lapangan.

Selain itu, objek dalam penelitian ini adalah karyawan dari perkebunan kelapa sawit, sedangkan pada penelitian peneliti adalah relawan dari rumah singgah Al-Ajyb.

3. Skripsi “Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Altruistik Pada Relawan PMI Kota Medan” yang ditulis oleh Christina Lumbanraja dari Universitas Medan Area Tahun 2016. Penelitian ini memiliki tujuan untuk hubungan antara empati dengan perilaku altruistik pada relawan PMI di kota Medan. Metode dalam skripsinya ini menggunakan metode kuantitatif. Subjeknya ialah relawan PMI yang aktif paling sedikit selama 6 bulan, serta berusia di antara 20-35 tahun yang jumlahnya sampai 80 orang. Skala yang dia gunakan ialah skala empati dengan 31 aitem, perilaku altruistik dengan 20 aitem.

Reliabilitas skala perilaku altruistik rbt = 0,811. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik Korelasi Product Moment digunakan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel bebas dan satu

(18)

variabel terikat. Software yang digunakannya yaitu SPSS versi 16,0.

Dalam hasil analisis didapatkan hubungan positif yang signifikan antara empati dengan perilaku altruistik pada relawan rxy = 0,610 dengan p <0,01. Kemudian hasil yang lain dari penelitian ini empati tergolong tinggi dengan nilai rata-rata empirik yang diperoleh yaitu 77,40 selanjutnya perilaku altruistik terlihat besar dengan nilai rata- rata empirik yang diperoleh 50,12.

Persamaan dengan penelitian peneliti adalah sama-sama membahas perilaku altruisme. Adapun perbedaannya pada penelitian ini adalah mencari hubungan antara empati dengan perilaku altruisme dan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, sedangkan pada penelitian peneliti menggunakan metode kualitatif.

4. Skripsi “Peran Rumah Singgah Dalam Pembinaan Agama Islam Bagi Anak Jalanan Usia Dasar (Studi Kasus di Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur Kota Malang” yang ditulis oleh Bagus Isyanto Eko Putro dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deksriptif kualitatif. Hasil dalam penelitian ini adalah rumah singgah di jawa timur ini mempunyai banyak peran, yaitu sebagai fasilitator, pembinaan dan evaluator. Sedangkan pembinaan yang dilakukan rumah singgah ini, yaitu pembinaan akidah, fiqih, akhlak. Pada pembinaan akidah seperti menyebutkan dua kalimat syahadat, tafakkur, cerita Nabi Muhammad. Pembinaan fiqih seperti wudhu,

(19)

sholat, puasa, baca tulis Al-Qur’an. Dan pembinaan akhlak dengan tujuan membentuk pribadi anak jalanan menjadi lebih baik dan mulia, seperti kegiatan amal, bantuan sosial dan 3S (sapa, senyum dan salam).

Perbedaan dengan penelitian peneliti dalam penelitian ini adalah pada fokus penelitiannya, yaitu peranan rumah singgah dalam pembinaan ajaran Islam untuk anak jalanan. Sedangkan fokus penelitian peneliti adalah altruisme relawan pada rumah singgah.

Persamaannya dengan penelitian peneliti ada pada jenis penelitiannya, yaitu deskriptif kualitatif.

5. Skripsi “Hubungan Tingkat Religiusitas Dengan Perilaku Altruistik Pada Santri Di Ponpes Futuhiyyah Mraggen Kab.Demak” yang ditulis oleh Irwan Gatot S dari UIN Walisongo Semarang Tahun 2015.

Penelitiannya menggunakan metode kuantitatif dan field research.

Sampel yang ditentukan memakai teknik incidental sampling, dengan 75 santri. Skala disebarkan guna untuk mengumpulkan data. Analisis data memakai korelasi product moment dan dibantu dengan IBM SPSS Statistic Editor Version 20 for windows. Hasilnya menunjukan bahwa ada hubungan positif antara tingkat religiusitas dengan perilaku altruistik, dalam artian semakin besar tingkat religiusitas yang dipunyai santri-santri maka semakin besar juga perilaku altruistik dari individu tersebut dan begitu juga kebalikannya, semakin kecil religiusitas santri maka semakin kecil altruistik setiap individunya.

(20)

Perbedaannya dengan penelitian peneliti adalah menggunakan penelitian kuantitatif dan subjeknya santri-santri tersebut, sedangkan persamaannya dengan penelitian peneliti menggunakan pendekatan lapangan (field research) dengan relawan sebagai subjeknya.

Dari beberapa penelitian sebelumnya terdapat kesamaan dan keterkaitan dengan judul penelitian peneliti, yaitu sama-sama membahas altruisme, namun dalam konteks yang berbeda. Penelitian pertama, altruisme dalam konteks relawan PMI, kedua studi kasus altruisme pada karyawan, ketiga hubungan altruisme dengan empati pada relawan, keempat peranan rumah singgah untuk anak jalanan, kelima hubungan religiusitas dengan altruisme, sedangkan dari penelitian yang dibahas oleh peneliti kali ini berbeda konteksnya dengan penelitian sebelumnya, oleh karena itu penelitian “Altruisme Relawan Pada Rumah Singgah Al-Ajyb”

memiliki posisi yang layak untuk dibahas.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian “Altruisme Relawan Pada Rumah Singgah Al-Ajyb ini adalah sebagai berikut:

1. Bab pertama pendahuluan, yang dipaparkan dalam bab ini adalah latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, signifikansi penelitian, definisi istilah, penelitian terdahulu, dan sistematika penulisan.

2. Bab kedua landasan teori, yaitu mengkaji tentang teori-teori altruisme, relawan dan juga kerangka berpikir.

(21)

3. Bab ketiga metode penelitian, yakni menjelaskan tentang jenis penelitian, lokasi penelitian, karakteristik subjek dan objek penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan, pengolahan dan analisis data penelitian.

4. Bab keempat paparan dan pembahasan data penelitian, berisi tentang profil tempat penelitian, paparan data penelitian, paparan hasil penelitian, pembahasan data penelitian dan keterbatasan penelitian 5. Bab kelima penutup, berisi kesimpulan dan saran.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah melakukan perhitungan nilai instrinsik dari saham-saham perusahaan yang tergabung dalam Indeks LQ45 dan membandingkan nilai instrinsik perusahaan dengan harga

Seseorang yang mempunyai titik dekat 60cm ingin melihat dengan jelas benda yang berjarak 20cm dari mata.. Orang tersebut harus memkai kacamata dengan jenis lensa

“Kegiatan promosi yang dilakukan yaitu memberikan pengenalan bagi mahasiswa baru pada saat Orientasi Perguruan Tinggi (OPT) seperti pengenalan layanan yang

terjemahannya bahwa Daeng Manojengang dijatuhi hukuman oleh pengadilan Hindia Belanda 17 September 1847 karena dipersalahkan melawan pemerintah Hindia Belanda,

Sehingga, dengan menggunakan metode Lean Six Sigma dapat diketahui akar setiap permasalahan sehingga tidak hanya dari perusahaan manufaktur saja melainkan dapat diterapkan

Gerberich: Foundations of Methods in Secondary Schools dalam http://www.educ.upm.edu.my yang menyatakan bahawa mahir hanya dalam satu penggunaan kaedah pengajaran sahaja

Ekoran daripada itu, kajian ini dijalankan adalah untuk mengenal pasti bentuk gaya pembelajaran yang menjadi keutamaan kepada pelajar-pelajar Tahun 4 Fakulti

Bersyukur untuk kasih setia Tuhan yang boleh terus-menerus menopang Rohkris di 71, berdoa kiranya supaya melalui Rohkris, teman-teman di 71 bisa menikmati