• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIAGNOSA KLINIS DAN PENGENDALIAN EKTOPARASIT PADA IKAN KERAPU TIKUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DIAGNOSA KLINIS DAN PENGENDALIAN EKTOPARASIT PADA IKAN KERAPU TIKUS"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

DIAGNOSA KLINIS DAN PENGENDALIAN EKTOPARASIT PADA IKAN KERAPU TIKUS ( Cromileptes altivelis)

DI KERAMBA JARING APUNG

BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU (BBAP) TAKALAR

TUGAS AKHIR

ASRIADI 11 22 009

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN PANGKEP

2014

(2)

DIAGNOSA KLINIS DAN PENGENDALIAN EKTOPARASIT PADA IKAN KERAPU TIKUS ( Cromileptes altivelis)

DI KERAMBA JARING APUNG

BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU (BBAP) TAKALAR

TUGAS AKHIR

ASRIADI 11 22 009

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN PANGKEP

2014

Tanggal Lulus :

(3)

DIAGNOSA KLINIS DAN PENGENDALIAN EKTOPARASIT PADA IKAN KERAPU TIKUS ( Cromileptes altivelis)

DI KERAMBA JARING APUNG

BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU (BBAP) TAKALAR

TUGAS AKHIR

ASRIADI

11 22 009

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi Pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan kepulauan

Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh Pembimbing :

Sri wahidah,S,Pi,M.Si Dr.Ir.H.Nursidi Latief,M.Si

Ketua Anggota

Diketahui oleh:

Ir. Andi Asdar Jaya, M.Si. Ir. Rimal Hamal, M.P.

Direktur Ketua Jurusan

(4)

i KATA

PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini sesuai yang di harapkan.

Shalawat dan salam kita haturkan untuk Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat dan telah mengantarkan kita keluar dari alam kegelapan menuju ke pencerahan ilmu pengetahuan.

Dalam menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini, tidak terlepas dari adanya bantuan dari beberapa pihak baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Teristimewa penulis haturkan sembah sujud kepada Ibunda tercinta, Kakak dan seluruh keluarga besar yang telah banyak membantu penulis baik moril maupun motivasi dan iringan doa dengan penuh kasih sayang kepada penulis. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Sri Wahidah, S.Pi,M.si dan Dr.Ir. H. Nursidi Latief, M.Si. Selaku ketua dan anggota pembimbing yang telah memberikan pentunjuk, bimbingan dan bantuan kepada penulis di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

2. Bapak Idris, S.Pi. Selaku Pembimbing Lapangan di Balai Budidaya Air Payau, Takalar.

3. Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P dan Ibu Ratnawati Rifai, S.Pi., M.Si. Ketua dan Sekretaris Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

(5)

ii 4. Bapak Ir. Andi Asdar Jaya, M.Si. Direktur Politeknik Pertanian Negeri

pangkep.

Penulis mengahaturkan terima kasih kepada ayahanda tercinta Bahtiar dan ibunda Muliati yang senantiasa memberih support baik berupa moril maupun material serta beliau senantiasa mengiringi doa hingga penyelesain studi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat di dalam penyusunan laporan tugas akhir ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan tugas akhir ini.

Akhir kata penulis ucapkan semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca, khususnya bagi penulis sendiri.

Pangkep…..Juni 2014

Penulis

(6)

iii

RINGKASAN

ASRIADI, 11 22 009. Diagnosa Klinis dan Pengendalian Ektoparasit pada Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Keramba Jaring Apung (KJA) Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar Di bawah Bimbingan Sri Wahidah dan Nursidi Latief.

Ikan kerapu merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dimana ikan kerapu pada ukuran kecil dijadikan ikan hias, harganya mahal dan juaga sebagai ikan yang berukuran konsumsi. Belakangan ini budidaya kerapu berkembang pesat dimana usaha untuk meningkatkan produksi telah mengarah kepada usaha budidaya secara intensif. Dalam budidaya intensif dan terkontrol keberhasilan dibidang produksi sangat di tentukan oleh beberapa faktor antara lain penyediaan benih, pakan, kualitas air, pengendalian penyakit dan sebagainya.

Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui cara mendiagnosa dan mengendalikan ektoparasit pada kerapu tikus (C. altivelis ) di KJA, sedangkan kegunaannya dapat menjadi bahan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat khususnya yang berkecimpung pada usaha budidaya kerapu.

Diagnosa klinis dilakukan melalui pengamatan gejala klinis ikan yang terinfeksi penyakit dengan cara: 1. Mengamati dan mencatat tingkat kematian ikan (akut atau kronis), 2. Mengamati dan mencatat karakteristik tingkah laku ikan, 3.

Mengamati dan mencatat tanda - tanda eksternal yang menyerang ikan, sedangkan Pengamatan Mortalitas ikan dengan cara: 1. Menghitung jumlah ikan yang mati dalam masing-masing wadah, 2. Menghitung jumlah ikan yang mati secara keseluruhan.

Hasil pengamatan diagnosa klinis menunjukkan bahwa ikan kerapu yang terserang parasit menyebabkan tingkat kematian yang bersifat sub akut, ditandai dengan terjadinya penurunan nafsu makan ikan, bersifat menyendiri dan tingkah laku berenang lemah serta megap-megap di permukaan. Sedangkan tanda-tanda eksternal ikan yang mati adalah warna tubuh pucat dan terjadi kerusakan pada bagian overculum, lendir berlebihan, dan sirip renang mengalami kerontokan. Sedangkan jumlah ikan yang mati secara keseluruhan adalah 130 ekor. Berdasarkan hasil pengamatan diagnosa klinis pada benih ikan kerapu menunjukkan bahwa ikan terinfeksi parasit Dactylogyrus sp, Trichodina sp dan Diplectanum. Pengendalian parasit dilakukan melalui perendaman bahan kimia yaitu elbazine 5 ppm selama 10- 15 menit.

(7)

iv

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

RINGKASAN ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan ... 2

II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Taksonomi dan Morfologi... 3

2.2 Habitat dan Penyebaran ... 5

2.3 Makanan dan Kebiasaan Makan ... 6

2.4 Parasit pada Ikan ... 7

2.5 Diagnosa dan Gejala Klinis ... 9

2.6 Pengendalian Penyakit Ikan ... 10

2.7 Kualitas Air……… 11

III METODOLOGI ... 13

3.1 Waktu dan Tempat ... 13

3.2 Alat dan Bahan ... 13

3.3 Metode Pengumpulan Data……….. 14

3.4 Metode Pelaksanaan ... 14

3.5 Parameter yang Diamati... 15

(8)

v

IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16

4.1 Gejala Klinis Ikan yang Terinfeksi Penyakit………. 16

4.2 Mortalitas Ikan ... 17

4.3 Jenis Parasit Menyerang Ikan Kerapu Tikus……….. 18

4.4 Pengendalian Parasit pada Ikan kerapu di keramba jaring apung……. 23

V KESIMPULAN DAN SARAN ... 25

5.1 Kesimpulan ... 25

5.2 Saran ... 25 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(9)

vi DAFTAR TABEL

Halaman

1 Parameter Kualitas Air ... .. 12

2 Alat yang Digunakan Untuk Diagnosa dan Pengendalian Ektoparasit Pada Ikan Kerapu Tikus ... 13

3 Bahan yang Digunakan Untuk Pengendalian Parasit Pada Ikan Kerapu Tikus ... ...14

4 Gejala Klinis Ikan yang Terserang Penyakit ... 16

5 Mortalitas Ikan ... 17

6 Jenis Parasit yang Terdapat pada Ikan Kerapu Tikus ... 18

(10)

vii DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Marfologi Ikan Kerapu Tikus (C. altivelis). ... 5

2 Kondisi Ikan yang Mati ... 18

3 Parasit Dactylogyrus sp. ... 19

4 Parasit Trichodina sp. ... 21

5 Parasit Diplectenum sp. ... 22

6 Perendaman dengan albazine pada benih kerapu ... 24

(11)

1 I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komoditas ikan laut khususnya ikan kerapu pada umumnya merupakan mata dagangan internasional yang sangat tinggi nilainya. Kebutuhan konsumsi ikan laut khususnya ikan kerapu untuk negara-negara Asia di antaranya Hongkong, China, Taiwan, Singapore dan Jepang.

Kerapu tikus (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu ikan laut yang berprospek cukup cerah dan juga berpotensi untuk dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kerapu adalah ikan yang hidup di air yang berkadar garam tinggi (air laut) hingga air yang berkadar garam rendah (payau). Selain itu, kerapu merupakan ikan yang hidup di dasar perairan yang cukup dalam (pada kedalaman 70 meter) hingga pada dasar perairan dangkal atau di muara sungai. Ikan kerapu merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit proptogyni, dimana proses deferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau ikan kerapu ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan.

Budidaya ikan laut di Indonesia mulai berkembang karena adanya permintaan pasar dan harga yang semakin meningkat dewasa ini serta semakin terbatasnya penyediaan stok ikan dari hasil tangkapan.

Dengan melakukan usaha budidaya kerapu tikus di keramba jaring apung, faktor yang harus mendapat perhatian utama yaitu ketersediaan pakan dan penyakit, dimana penyakit dapat mengakibatkan penurunan mutu dan bahkan dapat

(12)

2 menyebabkan terganggunya pertumbuhan, penurunan produksi ikan, dan bahkan kematian.

Penyakit pada ikan merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan fungsi atau struktur tubuh pada ikan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ada tiga factor yang dapat menimbulkan penyakit yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang (ikan), dan adanya patogen (jasad penyakit). Dengan demikian, timbulnya penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, inang dan patogen. Interaksi yang tidak serasi menyebabkan ikan mengalami stress, sehingga mekanisme pertahanan yang dimiliki menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit.

Ektoparasit adalah hewan atau tumbuhan yang berada pada tubuh, insang,

maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Dengan kata

lain parasit hidup dari pengorbanan inangnya. Parasit dapat berupa udang renik,

protozoa, cacing, bakteri, virus, dan jamur. Manfaat yang diambil parasit terutama

adalah zat makanan dari inangnya.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui cara diagnosa klinis dan pengendalian parasit pada pembesaran kerapu tikus (C. altivelis ) di keramba jaring apung, sedangkan kegunaannya dapat menjadi bahan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat khususnya yang berkecimpun pada usaha budidaya kerapu.

(13)

3 II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi

Kerapu tikus tergolong dalam genus Cromileptes dan familia Serranidae yang sekarang tergolong ikan komersial dan mulai dibudidayakan dikalangan masyarakat, selain itu ikan ini kebanyakan hidup diperairan terumbu karang dan sekitarnya (Anindiastuti, 1999)

Menurut Ghufron (2001) ikan kerapu tikus dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Phyllum : Chordata Sub phylum : Vertebrata Class : Osteichyes Sub class : Actinopterigi Ordo : Percomorphi Sub ordo : Percoidea Family : Serranidae

Sub family : Epinephihelinae Genus : Cromileptes

Spesies : Cromileptes altivelis

Ikan kerapu tikus (C. altivelis) tergolong jenis ikan air laut yang bernilai jual tinggi, dan memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya. Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae, tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2,6 – 3,0 kali panjang

(14)

4 standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). Panjang kepala seperempat panjang total, leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. Lubang hidung bagian posterior besar. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. Sirip punggung semakin melebar kebelakang, sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak, sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pylorik 13. Sisik punggung sangat halus dan licin (Ayson, 1995). Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala, tubuh, dan sirip. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit, semakin tua bertambah banyak (Randall, 1987). Secara morfologi ikan kerapu tikus dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Marfologi ikan kerapu tikus (C. altivelis).

Sirip punggung (dorsal fin)

Sirip ekor (caudal fin)

Sirip dada (vectoral fin) Sirip anus

(anal fin) Mata (eye)

(15)

5 2.2 Habitat dan Penyebaran

Dalam siklus hidupnya kerapu tikus muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, selanjutnya menginjak dewasa berupaya keperairan yang lebih dalam antara 7 – 40 m, biasanya perpindahan ini berlangsung pada senja dan siang hari. Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah pantai dekat muara sungai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun (Ijaya, 2006).

Kebanyakan ikan kerapu tinggal di terumbu karang dan sekitarnya, meskipun ada pula yang hidup di pantai sekitar muara sungai. Kerapu besar biasanya ditemukan diperairan pantai yang berlumpur didepan muara sungai, Bersifat nocturnal, pada siang hari bersembunyi di liang karang tapi pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari pakan, Hidup di perairan pantai, perairan karang, ada yang hidup sendiri-sendiri dan ada pula yang membentuk gerombolan kecil (Nontji, 2002).

Hidup di habitat berkarang sehingga disebut juga ikan kerapu karang, penyebarannya mulai daerah tropi sampai sub tropik. Di Indonesia ikan kerapu tikus terdapat hampir diseluruh wilayah perairan seperti: Teluk Banten, Ujung Kulon, Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa, Madura, Kalimantan, dan Nusa Tenggara (Sugama, 2001). Selain terumbu karang lokasi kapal tenggelam juga menjadi rumpon yang nyaman bagi ikan kerapu tikus. Ikan-ikan tersebut akan berdiam dalam lubang-lubang karang atau rumpon dengan aktifitas relatif rendah.

(16)

6 2.3 Makanan dan Kebiasaan Makan

Ikan kerapu tikus (C. altivelis) merupakan jenis ikan karnivora. Sifat kanibalnya muncul apabila kekurangan pakan terutama terlihat pada stadia awal.

Dari pengamatan isi perut kerapu kecil diketahui kandungan didalamnya didominasi oleh golongan Crustacea sebanyak 83% dan ikan-ikan 17%. Namun, pada kerapu macan semakin besar ukurannya komposisi isi perutnya cenderung didominasi oleh ikan-ikan. jenis udang-udangan yang banyak dijumpai dalam isi perut ikan kerapu tikus adalah jenis udang krosok (Parapeneus sp), udang dogol (Metapeneus sp), dan udang jerbung (Penaeus merguiensis). Sementara kelompok ikan yang ditemukan dalam isi perut ikan kerapu macan adalah jenis ikan teri (Stelopterus sp), ikan baronang (Siganus sp), ikan blanak (Mungil sp), dan cumi-cumi (Loligo sp) dalam jumlah kecil (Akbar, 2000).

Ikan kerapu tikus mempunyai kebiasaan makan pada pagi hari sebelum matahari terbit dan menjelang matahari tenggelam. Di alam ikan kerapu tikus makan sambil berenang diantara batu-batu karang, lubang atau celah-celah batu yang merupakan tempat persembunyiannya. Dari tempat itulah ikan kerapu menuggu mangsanya, bila mangsa tampak dari jauh ikan tikus macan melesat cepat untuk menangkap dan menelannya, kemudian kembali ketempat persembunyiannya (Akbar, 2000). Ikan kerapu tikus yang dibudidayakan secara terkontrol, saat akan memijah ditandai dengan nafsu makan yang menurun jadi pada saat ikan akan memijah pemberian pakan dikurangi dan saat memijah tidak diberi pakan.

(17)

7 2.4 Parasit pada Ikan

Parasit merupakan salah satu penyebab penyakit infeksi yang sering menyerang ikan terutama pada usaha pembenihan dan pembesaran ikan. Serangan parasit bisa mengakibatkan terganggunnya pertumbuhan, kematian bahkan penurunan produksi ikan. Berbagai organisme yang bersifat parasit mulai dari protozoa, crusstacea dan annelida. Penyebab penyakit pada budidaya ikan kerapu yaitu adanya crustacean, protozoa, jamur, bakteri dan virus. Di perairan bebas, terdapat berbagai macam parasit dengan variasi yang luas tetapi jumlahnya sedikit.

Sedangkan dalam kegiatan budidaya, parasit terdapat dengan variasi yang sedikit tetapi jumlahnya banyak. Umumnya setiap parasit mempunyai siklus hidup yang rumit, yang kemungkinan merupakan hal penting dalam pengobatan ikan yang terserang parasit (Suswono, 2006).

Secara umum penanganan penyakit meliputi tindakan diagnosa, pencegahan dan pengobatan. Diagnosa yang tepat diperlukan dalam setiap rencana pengendalian penyakit, termasuk pengetahuan mengenai daur hidup dan ekologi organisme penyebab penyakit. Diagnosa yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat dan tindakan penanggulangan yang lebih terarah (Subyakto, 2003).

Parasit yang sering menginfeksi pada budidaya (pembesaran) ikan kerapu di KJA adalah :

2.4.1 Crustacea

Ada dua jenis parasit crustacea yang sering menyerang ikan kerapu yaitu jenis Benedenia sp. dan Calligus sp. Benedenia terutama menyerang ikan lewat insang dan mulut ikan sebelah dalam, sedangkan calligus menyerang ikan pada insang dan

(18)

8 sekujur tubuhnya. Ikan yang terserang benedenia akan mengalami kerusakan pada insang hingga berwarna coklat dan menurunkan nafsu makan, sedangkan ikan yang terserang calligus akan gelisah gerakannya, turun nafsu makannya dan bila telah parah bisa menyebabkan luka ditubuh ikan (Chong and Chao, 1986).

Menurut Kurniastuty, (2004) kutu ikan merupakan parasit yang menyerang ikan air laut bentuknya seperti argulus yang merupakan golongan crustacea, banyak menyerang pada pendederan ikan kerapu. Parasit ini berbentuk pipih seperti kutu, menempel dipermukaan ikan terutama bagian kulit dan sirip. Gejala yang diperlihatkan yaitu ikan berenang lamban, nafsu makan menurun, sisik mudah lepas, insang berwarna pucat, terdapat luka pada bagian tubuh ikan dan menggesek- gesekkan tubuhnya ke sisi jaring atau berenang miring seolah-olah ikan merasa gatal.

2.4.2 Cacing (Trematoda).

Jenis cacing yang sering menyerang ikan kerapu adalah Diplectenum sp yang merupakan golongan trematoda. Cacing ini terutama menyerang ikan pada bagian insang serta organ dalam seperti usus dan gonad (Chong and Chao, 1986). Gejala yang tampak pada ikan kerapu yang terserang penyakit ini adalah penurunan nafsu makan, warna tubuh pucat serta produksi lendir meningkat. Ikan cenderung menggosok-gosokkan tubuhnya kedinding wadah pemeliharaan dan berenang dipermukaan air, megap-megap dengan tutup insang membuka.

2.4.3 Protozoa

Terdapat dua jenis penyakit ikan kerapu akibat serangan protozoa, yaitu Cryptocaryoniasis dan Brooklynelliasis. Cryptocaryoniasis disebabkan oleh Cryptocaryon irritans, sedangkan Brooklynelliasis disebabkan oleh Brooklynella sp.

(19)

9 Gejala yang ditunjukkan oleh adanya serangan kedua jenis penyekit ini adalah kelesuan pada ikan, mata buram, sisik mudah lepas, perdarahan pada kulit (haemorage), peningkatan produksi lendir dan pembusukan sirip (Murni, 1990) 2.4.4 Monogenea dan Digenea

Monogenea merupakan parasit sejenis kutu ikan dari golongan crustacea.

Parasit ini menyerang dengan cara menempel dipermukaan tubuh ikan kerapu, terutama bagian kulit dan sirip. Parasit ini dapat mengakibatkan kematian pada ikan, karena parasit ini mengisap darah ikan (inang). Serangan parasit ini dapat menimbulkan luka pada bagian tubuh ikan, ikan berenang lambat dan cenderung memisah diri dari kelompoknya, nafsu makan menurun, sisik mudah lepas, insang berwarna merah pucat, dan tubuh sering menggesekkan diri ke waring / jaring (Murni, 1990).

Digenea adalah trematoda endoparasit yang memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau lebih inang antara. Digenea umumnya berbentuk pipih seperti daun dengan struktur mirip turbelaria. Tubuh lunak dan terdiri dari 2 sucker, faring, kaekum dan sistem reproduksi. Parasit ini memperlihatkan inang spesifitas yang tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan pada inang yang akhir.

Organ yang diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran gastrointernal dan organ yang berdekatan seperti hati, empedu, paru-paru, gelembung renang serta saluran darah (Palisoc, 1997).

2.5 Diagnosa dan Gejala Klinis pada Ikan

Diagnosa merupakan upaya untuk mengetahui jenis dan penyebab penyakit yang menyerang ikan. Sehingga ikan yang terserang penyakit dapat dilihat secara

(20)

10 langsung dan dapat di identifikasi secara mikrobiologi. Dengan gejala klinis yang terlihat, yaitu pada bagian sirip dan ekor ikan mengalami kerontokan, serta menurunya nafsu makan pada ikan, produksi lendir berlebihan, bersifat menyendiri (tidak bergerombol), dengan tingkah laku berenang lemah dan megap-megap di permukaan.

Menurut Amlacher dan Otte (1961) dalam Sniezko dan Axelrod (1971), serangan penyakit pada ikan terdapat dalam empat tingkatan, yaitu:

1. Akut : ikan mati dalam waktu yang singkat sementara tanda-tanda penyakit yang jelas belum terlihat.

2. Sub akut : ikan mati dalam waktu yang singkat dan terlihat gejala serta kerusakan pada tubuh ikan.

3. Kronis : terlihat kerusakan yang berlanjut lama.

4. Laten : ikan tidak memperlihatkan gejala penyakit tetapi didalam tubuh ikan terdapat organisme penyakit.

2.6 Pengendalian Penyakit Ikan

Pengendalian penyakit ikan kerapu adalah suatu tindakan aktifitas yang bertujuan untuk mengurangi atau menekan terjadinya suatu kegagalan dalam membudidayakan ikan kerapu.

Salah satu cara pengendalian penyakit di KJA adalah melakukan berbagai upaya agar sirkulasi air terjadi secara terus-menerus pada wadah budidaya. Secara umum penanganan penyakit meliputi tindakan diagnosa, pencegahan dan pengobatan.

Diagnosa penyakit sangat penting dilakukan untuk mengetahui jenis parasit yang menyerang sehingga akan memudahkan untuk melakukan tindakan tindakan.

(21)

11 Tindakan yang dilakukan dalam pengendalian penyakit yaitu mempertahankan kualitas air, pemberian pakan yang cukup, baik mutu, ukuran maupun jumlahnya dan pengobatan dilakukan dengan menggunakan bahan kimia dan treatmen air tawar.

Penanganan penyakit dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Pencegahan

Pencegahan penyakit pada ikan dilakukan dengan cara pengelolaan waring/

jaring. Waring harus dibersihkan atau diganti minimal 2 minggu sekali atau bila terlihat sudah kotor atau banyak organisme penempel (biofouling). Sedangkan ukuran lebih besar minimal sebulan sekali. Tujuan adalah untuk mengurangi resiko terjangkitnya hama dan penyakit pada ikan. Setelah dilakukan pemindahan ikan, jaring di desinfektan dan dijemur 2- 3 hari, kemudian dilakukan penyikatan, setelah bersih dapat dijemur beberapa saat kemudian dipakai lagi atau di simpan.

2. Pengobatan

Tindakan yang dilakukan dalam pengobatan penyakit ektoparasit pada ikan kerapu yaitu dengan cara treatment air tawar dilakukan apabila ikan terserang penyakit dengan cara dipindahkan kedalam wadah yang terpisah yang berisi air tawar selama kurang lebih 10 – 15 menit. Perendaman dengan menggunakan bahan kimia seperti albazine 5 ppm.

2.7 Kualitas Air

Beberapa parameter lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan ketahanan larva terhadap penyakit antara lain: suhu air, salinitas, pH, oksigen terlarut, amonia, nitrit, bahan organik dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti

(22)

12 pestisida dan logam berat (Arifin, 2008). Ikan kerapu menyenangi air laut berkadar garam 33 - 35 ppt (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005)

Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, DO, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan.

Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002).

Parameter kualitas air yang layak untuk budidaya ikan kerapu di keramba jaring apung :

Tabel 1. Parameter kualitas air.

No Paramter Satuan Kisaran Optimim

1 Suhu °C 26 – 32

2 Salinitas Ppt 31 – 34

3 pH - 7 – 8,5

4 Oksigen terlarut ( DO )

Ppm > 5

5 Kecerahan Meter > 3

6 Kecepatan arus Cm/detik 20 – 25

Sumber: Poernomo (1992)

(23)

13 III METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penulisan tugas akhir ini berdasarkan hasil dari kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakan selama 3 bulan yaitu Februari – Mei 2014 di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar, Sulawesi Selatan.

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada kegiatan pengendalian ektoparasit pada ikan kerapu tikus dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2.

Tabel 2. Alat yang digunakan untuk diagnosa dan pengendalian ektoparasit pada ikan kerapu tikus

No Nama Sfesipikasi Kegunaan 1 Buku &

pulpen

- Alat untuk mencatat tanda-tanda gejala klinis dan mortalitas ikan

2 Ember 10 liter Untuk menyimpan ikan yang mati dan untuk wadah air laut

3 Seser - Untuk mengambil nikan pada keramba

4 Sterefoam 20 kg Sebagai tempat perendaman ikan

5 Jaring - Sebagai tempat atau wadah Pemeliharaan ikan di KJA

6 Pemberat 5 kg Sebagai pemberat untuk jaring

7 Tali - Untuk mengikat jarring pada keramba

8 Mikroskop Untuk mengamati parasit pada ikan

9 Objek glass - Mempermudah pengamatan parasit

(24)

14 Tabel 3. Bahan yang digunakan untuk pengendalian parasit pada ikan kerapu tikus.

No Nama Spesifikasi Kegunaan

1 Ikan kerapu - Organisme budidaya

2 Elbazine 5 mg Untuk menghilangkan bakteri

3 Air laut 5-10 liter Sebagai media pengobatan

3.3 Metode Pengumpulan Data

a) Metode pengumpulan data yang digunakan dalam kegiatan penulisan tugas akhir ini meliputi data utama (primer) dan data pendukung (sekunder).

1. Data Primer

Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan melakukan diagnosa klinis serta pengendalian ektoparasit pada pembesaran ikan kerapu di KJA

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui wawancara langsung dengan pembimbing/teknisi lapangan, dan beberapa studi pustaka.

3.3 Metode Pelaksanaan Prosedur Pengamatan

1. Pengamatan gejala klinis (diagnosa klinis) ikan yang terinfeksi penyakit

 Mengamati dan mencatat tingkat kematian ikan (akut atau kronis).

 Mengamati dan mencatat karakteristik tingkah laku ikan.

 Mengamati dan mencatat tanda – tanda eksternal yang menyerang ikan.

(25)

15 2. Pengamatan Mortalitas

 Menghitung jumlah ikan yang mati dalam masing – masing wadah.

 Menghitung jumlah ikan yang mati secara keseluruhan.

Pengendalian penyakit

1. Pengendalian penyakit dengan albazine

 Alat dan bahan disediakan

 Stereafoam diisi air sebanyak 5-10 liter dan larutan albazine sebanyak

5 mg

 Ikan direndam selama 10 – 15 menit kemudian dipindahkan ke jaring baru

2. Pergantian jaring

 Jaring diikat pada masing-masing bagian sisi keramba.

 Setelah itu beri pemberat pada setiap sisi jaring yang bagian bawah.

 Ikan yang telah diobati di tempatkan pada jaring yang baru.

3.5 Parameter yang Diamati

a. Gejala Klinis Ikan yang Terserang Penyakit.

 Mengamati dan mencatat karakteristik tingkah laku ikan.

 Mengamati dan mencatat tingkat kematian ikan.

 Melakukan pengamatan dan mencatat tanda-tanda eksternal yang

menyerang ikan . b. Mortalitas Ikan.

 Menghitung jumlah ikan yang mati dalam masing-masing wadah.

 Menghitung jumlah ikan yang mati secara keseluruhan.

Gambar

Gambar 1.  Marfologi ikan kerapu tikus (C. altivelis).

Referensi

Dokumen terkait

menganalisis kelayakan investasi dan sensitivitasnya pada usaha pembesaran Kerapu Lumpur serta mengetahui prospek pengembangan usaha pembesaran Kerapu Lumpur pada Karamba Jaring

Bakteri patogen yang menyebab penyakit pada ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Keramba Jaring Apung Boneatiro Di Kabupaten Buton diidentifikasikan sebagai

STUDI IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI ENDOPARASIT PADA SALURAN PENCERNAAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI KERAMBA JARING APUNG UNIT PENGELOLA BUDIDAYA LAUT SITUBONDO,

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui daya dukung perairan menampung limbah yang masuk dari kegiatan antropogenik dan budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung

Teknik Pembesaran Ikan Kerapu Cantik ( Epinephelus sp.) Pada Keramba Jaring Apung di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur.. Dosen Pembimbing

Percobaan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan terhadap hemositologi ikan kerapu bebek yang dibudidayakan di keramba jaring apung (KJA) telah dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan

Pemanfaatan daerah laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) untuk pengusahaan ikan kerapu macan ini, mendatangkan manfaat bagi warga sekitar. Manfaat yang dirasakan

Pengembangan budidaya ikan kerapu dengan Keramba Jaring Apung KJA memiliki prospektif karena harga jual yang tinggi dan ikan dapat dipasarkan dalam keadaan hidup, sehingga pembudidaya