ABSORPSI GARIS
9, 11 November 2021
Bahan: Slide Dr. C. Kunjaya, revisi Hesti 15-11-2016 Bahan: Bab 10 Erika Böhm-Vitense & Bab 9 Carroll-
Ostlie
Garis Absorpsi
◦ Absorpsi garis terjadi karena elektron yang terikat di suatu tingkat energi di dalam atom mendapat foton dengan energi (h ) yang sama dengan beda energi antara level
tersebut dengan suatu level lain di atasnya.
◦ Energi foton (h ) itu harus kira-kira sama
dengan beda level energi tsb, jika lebih atau kurang tidak akan terserap oleh absorpsi
terikat-terikat
◦ Foton dengan energi (h ) tepat sama pun
masih belum tentu diserap, ada probabilitas
tertentu
Struktur garis-garis spektrum
Bentuk garis spektrum secara individual kaya akan
informasi mengenai lingkungan di mana garis terbentuk.
Garis Absorpsi
Jika kita melihat ke arah bintang dengan menggunakan dua filter, filter C hanya melewatkan cahaya kontinum di dekat garis, filter λ hanya melewatkan riak
gelombang λ di dalam garis, maka
artinya kita melihat lapisan atmosfir yang lebih dalam dengan filter C, karena
koefisien absorpsi pada λ lebih besar
daripada pada C.
F
c= Fluks kontinum
F
λ= Fluks pada riak gelombang λ di dalam garis R
λ= Fraksi fluks yang diserap = kedalaman garis
c c
c
F F F
F
R
F −
= −
= 1
λ Fc - F
Kekuatan garis dinyatakan dalam lebar ekuivalen atau equivalent width, yaitu lebar garis dari persegi panjang dengan tinggi yang sama dengan F
cdan luas yang sama dengan luas daerah yang dibatasi profil garis dan F
c
= −
=
line line
d
F F d F
R W
c c
wings
core
Full width at half maximum (FWHM)
◦ Ukuran lain untuk lebar sebuah garis spektrum
adalah FWHM (disimbulkan dengan ∆𝜆
1/2, yaitu perubahan panjang gelombang antara kedua sisi garis di mana kedalamannya:
𝐹
𝑐− 𝐹
𝜆𝐹
𝑐− 𝐹
𝜆0= 1
2
Untuk garis lemah,
L<<
c ,lapisan
λ=2/3 dekat
dengan
c=2/3, fungsi Planck 𝐵
𝜆(𝜏
𝜆) di
λ=2/3 dapat didekati dari
c=2/3
c c
c
d
B dB
B
( = 2 / 3 ) = ( = 2 / 3 ) −
L
c
= +
Tebal optis pada suatu panjang gelombang
merupakan jumlah dari kontribusi kontinum dan
garis
Koefisien Absorpsi
◦ Absorpsi di dalam garis disebabkan oleh 2 macam absorpsi yaitu absorpsi kontinu
dan absorpsi garis itu sendiri
L
c
= +
Tebal optis berbanding lurus dengan koefisien absorpsi
c=
catau
c L
c
c
= +
Koefisien Absorpsi
◦ Pada
λ=2/3
c L
c
c
= + 3 2
Uraikan menurut deret Taylor
−
c L
c
1
3
2 …(*) untuk
L
c(Optically thin line)
Koefisien Absorpsi
◦ Di pihak lain pada
λ=2/3 (lihat gambar)
c
c
= − 3
2
Samakan dengan (*), maka
−
=
−
=
c L c
c
1
3 2 3
2
c L
c
3
= 2
untuk
L<<
cKedalaman Garis
Kedalaman garis dinyatakan oleh R
:
) (
) (
) (
3 2
3 2 3
2
=
=
−
= =
= −
c c
c c
B
B B
F F R F
Gunakan uraian 𝐵
𝜆(𝜏
𝜆= 2/3) disekitar
c=2/3
c c
c
d
B dB
B
( =
32) = ( =
32) −
) (
3 ) 2
( )
(
3 2 3 2 3
2
3 2
= +
=
−
=
=
=c
c L c
c c
B
d B dB
B
R
c
Kedalaman Garis
c L c
c c
d dB R B
3
2 )
( 1
3 / 3 2
2
=
== Diperoleh:
3 2
ln 3
2
=
=
c c
c L
d B R d
Kedalaman Garis
Definisikan kedalaman efektif :
c
c
d
B H d
ln 3
2
eff
= Maka diperoleh:
H
effR
=
LKedalaman efektif adalah kedalaman atmosfir yang secara efektif berkontribusi pada
pembentukan garis dengan koefisien absorpsi
konstan
Kedalaman Garis
Persamaan
Menunjukkan bahwa kedalaman garis bukan hanya bergantung pada koefisien absorpsi garis tapi juga koefisien absorpsi kontinu dan gradien fungsi Planck terhadap kedalaman.
Jika tidak ada gradien temperatur tidak akan ada garis absorpsi
3 2
ln 3
2
=
=
c c
c L
d B R d
Pelebaran Garis
◦ Garis absorpsi dan emisi dalam spektrum tidak
takhingga sempitnya, tapi diperlebar oleh beberapa proses.
◦ 3 proses utama yang menyebabkan pelebaran garis:
- Pelebaran alamiah (natural broadening)
akibat lebar alamiah dari tingkat2 energi → profil Lorentzian
- Pelebaran Doppler
akibat gerak thermal atom2 dalam atmosfir bintang → profil Gaussian
- Collisional/pressure broadening
Akibat tumbukan dengan atom atau ion lain → profil
Lorentzian
Pelebaran alamiah
◦ Pendekatan klasik:
garis absorpsi (emisi) dihasilkan oleh transisi elektron dari satu kulit ke kulit lain dalam keadaan terikat.
Frekuensi foton yang dihasilkan diperoleh dari ℎ𝜈 = 𝜒2 − 𝜒1
Di mana 𝜒𝑛 adalah energi eksitasi kulit n.
Pelebaran alamiah terjadi karena energi pada setiap tingkat memiliki lebar.
Dalam pendekatan klasik osilasi elektron, garis absorpsi (emisi) dalam sebuah garis adalah absorpsi (emisi) dari sebuah elektron dengan frekuensi eigen
Karena osilasi meradiasikan energi, maka osilasi
tersebut teredam (damped). Persamaan gerak osilator dengan redaman:
ሷ𝑥 + 𝛾 ሶ𝑥 + 𝜔
02𝑥 = 0
Pelebaran alamiah
Koefisien absorpsi garis 𝜅
𝐿per cm diberikan oleh
koefisien absorpsi per atom 𝜅
𝐿,𝑎(satuan cm
2) dikalikan dengan jumlah atom pengabsorpsi per cm
32 , 2
) 2 / (
+
a L
o
= −
Dengan:
2 2 2
3 8
mc
oe
=
damping constant
Profil Lorentz/damping profile
Koefisien absorpsi garis dapat juga ditulis:
f adalah kuat osilator (oscillator strength), yang berkaitan dengan berapa banyak osilator klasik yang bersesuaian dengan garis yang ditinjau.
Kuat osilator memberikan informasi tentang probabilitas transisi.
Nilai f sudah dihitung dan dapat dibaca dalam tabel data garis-garis absorpsi.
mc f e
a
L 2 2
2
,
( / 2 )
+
=
Pelebaran alamiah
Pelebaran alamiah
◦ Pendekatan kuantum:
Karena elektron menempati suatu level eksitasi pada waktu yang singkat, maka menurut prinsip ketidakpastian Heissenberg energi tidak dapat memiliki nilai yang pasti:
Δ𝐸 = ൗ ℏ Δ𝑡 Secara umum
di mana Δ𝑡
𝑖dan Δ𝑡
𝑓adalah kala hidup di
keadaan awal dan akhir.
Contoh soal:
Kala hidup elektron pada keadaan eksitasi pertama dan kedua atom H adalah sekitar
Δ𝑡 = 10
−8𝑠. Tentukan pelebaran alamiah garis 𝐻
𝛼yang memiliki 𝜆 =656.3 nm.
Jawab:
◦ Perhitungan menunjukkan bahwa FWHM dari profil garis untuk pelebaran alamiah adalah
dengan Δ𝑡
0adalah waktu tunggu untuk sebuah transisi terjadi. Nilai tipikal adalah:
kurang lebih sesuai perhitungan dalam contoh
soal.
Pelebaran Doppler
Atom atau ion penyerap di atmosfir bintang tidak diam, tapi laju partikelnya mengikuti distribusi Maxwell : (turunkan!)
o total
e d N
dN
o
) 1
( / )2( =
−m T kT
R
go
2 2
=
=
Dengan ξ = 𝑣
𝑥adalah komponen radial (satu dimensi) dari kecepatan
Bagaimana pengaruh gerakan materi penyerap
pada lebar garis?
Pelebaran Doppler
Partikel yang bergerak mendekati atau menjauhi pengamat dengan laju ξ
misalnya, tidak akan menyerap foton yang frekuensinya ω
omelainkan pada ω
oΔω, dan menurut hukum doppler:
o
c
D
=
Pelebaran Doppler
pengamat
Atom-atom dalam gerak termal vr
vr
Red shifted Blue shifted abs. abs.
Profil Doppler
◦ Efek Doppler akan mempengaruhi profil garis sbb:
di mana dan
( )
D D
a L
D
D
e
e e
N
− 0 21
−( / )21
−( / )21
0 )
/ ( ,
o D Dc
−
=
= λ
Ddisebut lebar doppler
m kT c
c
o D
2
= =
−
= c =
m kT c
c
o D
2
= =
Latihan
◦ Untuk atom hidrogen dalam fotosfer Matahari (T
= 5777 K), tentukan pelebaran Doppler dari garis 𝐻
𝛼Jawab:
sekitar 1000 kali pelebaran alamiah
Profil Doppler
Serapan untuk seluruh garis akibat elektron yang memancarkan radiasi seperti osilator klasik:
−
=
2 22mc d e
Sehingga koefisien absorpsi garis menjadi:
)2
/ ( 2
2 2 ,
e
Dmc e
D a
L
− =
−
=
mc
d e
2
atau
Untuk pelebaran Doppler saja, FWHM:
m kT
D
c
2 ln 2 2
2
ln
/ 1
= =
karena 𝑑𝜆 = −
𝑐𝜈2
𝑑𝜈
Pelebaran garis H di Matahari
Di Matahari kecepatan rata-rata H = 10 km/s, memberikan lebar garis Balmer
sekitar 0,1 Ǻ
Pelebaran Turbulensi
◦ Dalam beberapa kondisi fisis perlu diperhitungkan pelebaran karena turbulensi di atmosfir bintang
= kecepatan karena thermal motion
= kecepatan karena gerak turbulen dalam gas (bulk motion)
Masing2 komponen kecepatan diambil
kecepatan yang paling mungkin (most probable).
Pelebaran Doppler efektif:
2 turb 2
th 2
o
= +
th
turb2 2
2
2
turb turb
th
D
m
kT c
c
eff
= + = +
Pelebaran Rotasi
◦ Setiap bagian dari atmosfir bintang
mempunyai harga v yang berbeda-beda karena rotasi diferensial.
◦ Titik-titik yang mempunyai v sama pun bisa menghasilkan pelebaran Dopler yang
berbeda karena posisinya
◦ Pelebaran paling besar dihasilkan dari daerah khatulistiwa bintang, di tepi piringan bintang
i v
v
r= sin
Indikator Pelebaran Doppler
◦ Pelebaran yang disebabkan gerakan partikel penyerap nampak pada profil garis.
◦ Karena pelebaran Doppler yang besar bisa saja garis yang lebar ekivalennya besar tidak saturasi
◦ Besarnya medan kecepatan di atmosfir
bintang dapat dilihat dari FWHM (full width
half maximum) garis.
Pressure/collisional broadening.
◦ Tumbukan atom dengan atom lain atau ion
dapat mengganggu orbit/tingkat energi elektron dalam atom sehingga menyebabkan pelebaran garis absorpsi/emisi.
◦ Profil pelebaran garis akibat tumbukan serupa dengan akibat pelebaran alamiah, yaitu profil damping (Lorentz)
◦ Waktu rata-rata antar tumbukan dihubungkan dengan jalan bebas rata-rata ℓ dan kecepatan 𝑣 sbb (𝜎 adalah cross section dan n densitas
jumlah atom):
Pressure/collisional broadening.
◦ Lebar profil garis akibat pelebaran tumbukan bergantung pada n:
◦ Alasan untuk klasifikasi luminositas Morgan-
Keenan menjadi jelas. Garis yang lebih sempit
pada bintang raksasa dan maharaksasa adalah
akibat n yang lebih kecil dalam atmosfir yang
extended. Pada bintang deret utama garis lebih
lebar karena atmosfirnya lebih rapat (n besar)
sehingga tumbukan lebih sering terjadi.
◦ Tinjau atom hidrogen dalam fotosfir matahari yang temperaturnya 5777K dan densitas
jumlahnya sekitar 1.5 x10
23m
-3. Hitung pelebaran tumbukan dari garis 𝐻
𝛼Jumlah ini setara dengan pelebaran alamiah.
Tapi jika jumlah atom dalam atmosfir bintang
lebih besar, lebar garis meningkat.
Profil Garis
1 0.8
0.6 0.4 0.2 F /F cont
0Profil
Gauss
Profil
Lorentz
• Akibat efek Doppler, kecepatan besar menyebabkan besar.
Profil gaussian bergantung pada distribusi kecepatan atom-atom penyerap, yaitu maxwellian, yang meluruh secara eksponensial pada kecepatan besar → sayap tidak lebar.
• Profil Lorentz (damping) akibat pelebaran alamiah & tumbukan. Di daerah yang jauh dari pusat garis 0 koefisien absorpsi (berarti juga tebal optis ) sebanding dengan ∆ −2 atau ∆𝜆 −2 → tidak eksponensial, profil turun lebih lambat, sayap lebih lebar
Profil Voigt
◦ Profil garis total adalah kontribusi dari profil
Doppler dan profil Lorentz, yang disebut profil Voigt.
Voigt: garis putus-putus
Profil Voigt
◦ Profil Doppler mendominasi dekat panjang
gelombang pusat (𝜆
0), namun akibat penurunan eksponensial dalam kedalaman garis untuk
pelebaran Doppler, terjadi transisi ke profil
Lorentz untuk daerah sayap, sehingga profil garis cenderung memiliki inti Doppler dan sayap
damping (Lorentz).
◦ Bentuk profil bergantung pada rasio lebar
damping 𝛾/2 terhadap lebar Doppler Δ𝜔
𝐷, yang
dinotasikan dengan 𝛼 = Τ 𝛾 2Δ𝜔
𝐷.
Profil Voigt
◦ Koefisien absorpsi garis 𝜅
𝐿diberikan oleh (dengan f oscillator strength) :
◦ Tabel 10.1 dalam buku Introduction to Stellar Astrophysics – Erika Böhm Vitense memberikan nilai-nilai fungsi yang diperlukan untuk
menghitung fungsi Voigt H.
◦ Profil garis bergantung pada banyaknya
atom/ion penyerap 𝑁
𝑎Lebar Ekivalen
◦ Untuk garis yang optis tipis (𝜅
𝐿≪ 𝜅
𝑐)
rs
rs
f
mc CN e
22 2
=
mc f d e
garis
=
2
22r= derajat ionisasi s=tingkat energi
Oscilator Strength
𝑊
𝜆= න
𝑔𝑎𝑟𝑖𝑠
𝑅
𝜆𝑑𝜆 = 2 3
1 𝜅
𝑐𝑑𝑙𝑛𝐵
𝜆𝑑𝜏
𝑐න
𝑔𝑎𝑟𝑖𝑠
𝜅
𝐿𝑑𝜆
=
23 1 𝜅𝑐
𝑑𝑙𝑛𝐵𝜆
𝑑𝜏𝑐
𝑁
𝑟𝑠
𝑔𝑎𝑟𝑖𝑠𝜅
𝐿,𝑎𝑑𝜆
Lebar Ekivalen
◦ Jika semua konstanta digabungkan menjadi C’ rumus diatas dapat ditulis :
rs rs
f N C
W
= '
2• Petunjuk tentang N
rsdapat diperoleh dari rumus Boltzmann:
kT ro
rs ro
rs
e
sg N g
N =
− /Lebar Ekivalen
◦ Sehingga:
kT rs
rs ro
ro
g f e
sg
W
N
2 − /• Dengan demikian jika kita bisa mengukur W
dari pengamatan; gf, k dan χ dari tabel, kita
dapat menghitung N/g, jika T diketahui.
Lebar Ekivalen
◦ Bagaimana jika kita tidak mengetahui T ?
◦ Kita dapat mencarinya dengan membanding- kan dua garis :
kT r
r
e
f f g
g W
W
( )/2 2 2 1 2 1 2 1 2
1 1 2
− −=
• Maka kita dapat menghitung T jika energi
eksitasi diketahui. T yang diperoleh dengan
cara ini disebut temperatur eksitasi
Lebar Ekivalen
◦ Untuk optis tipis kedalaman garis pada setiap titik pada garis meningkat secara proporsional
terhadap 𝜅
𝐿/𝜅
𝑐atau proporsional dengan jumlah atom penyerap.
◦ Bagaimana untuk optis tebal ?
Harusnya 𝑆𝜆(𝜏𝑐 = 0)
Lebar Ekivalen
◦ Ini tidak berlaku lagi untuk kasus di mana 𝜅
𝐿/𝜅
𝑐≈ 1
atau > 1 sehingga garis tsb disebut tebal secara optis.
◦ Garis optis tebal mencapai kedalaman maksimum 𝑅
𝜆, karena 𝑅
𝜆tidak dapat > 1 (kita tidak dapat memiliki
intensitas < 0).
◦ Sebenarnya intensitas terendah di pusat garis diberikan oleh 𝑆
𝜆𝜏
𝜆=
23
pada pusat garis
◦ Untuk garis yang sangat tebal secara optis di mana
𝜅𝐿
𝜅𝑐
→ ∞ di pusat garis, intensitas di pusat garis diberikan oleh fungsi sumber 𝑆
𝜆𝜏
𝑐= 0 . Oleh karena itu
intensitas pusat terendah diberikan oleh 𝑆
𝜆0 atau
dalam keadaan LTE oleh 𝐵
𝜆0 yang tidak nol, karena
T(0) tidak nol.
Lebar Ekivalen
◦ Di bagian sayap, garis masih optis tipis, sehingga masih tumbuh proporsional dengan 𝜅
𝐿/𝜅
𝑐sehingga garis menjadi lebih lebar, dan profil menjadi lebih berbentuk segiempat. Karena bagian sayap
sangat curam (untuk profil Doppler), absorpsi total meningkat sangat kecil terhadap peningkatan
𝜅
𝐿/𝜅
𝑐.
Michael Richmond, Creative Commons
Contoh: garis absorpsi yang sangat lemah
Michael Richmond, Creative Commons
Profil Gauss/Doppler, berubah dengan
pertambahan tebal optis (jumlah atom penyerap)
Michael Richmond, Creative Commons
Profil gauss/Doppler, berubah dengan pertambahan tebal optis (jumlah atom penyerap)
Michael Richmond, Creative Commons
Profil gauss/Doppler, berubah dengan pertambahan tebal optis (jumlah atom penyerap)
Michael Richmond, Creative Commons
Profil Lorentz, berubah dengan pertambahan tebal optis (jumlah atom penyerap)
Michael Richmond, Creative Commons
Profil Lorentz, berubah dengan pertambahan tebal optis (jumlah atom penyerap)
Michael Richmond, Creative Commons
Profil Lorentz, berubah dengan pertambahan tebal optis (jumlah atom penyerap)
Michael Richmond, Creative Commons
Profil gauss/Doppler vs profil Lorentz
Michael Richmond, Creative Commons
Profil gauss/Doppler vs profil Lorentz
Kurva pertumbuhan (curve of growth
◦ Akan dibahas bagaimana absorpsi total dalam garis spektrum, yang diukur oleh lebar ekuivalen 𝑊
𝜆, dihubungkan dengan koefisien garis absorpsi 𝜅
𝐿atau dengan kata lain dengan atom
pengabsorpi dalam garis yang diberikan
→dari sini kita dapat menentukan jumlah atom pengabsorpsi, sehingga komposisi kimia bintang dapat ditentukan
◦ Absorpsi total dalam sebuah garis diberikan oleh:
Kurva pertumbuhan (curve of growth
◦ Untuk optis tipis:
◦ Untuk optis tebal, limit kedalaman garis untuk pusat:
𝑅
𝜆0=
𝐹𝑐−𝑆𝜆(0)𝐹𝑐
◦ Untuk menggambarkan keseluruhan profil garis, kita memerlukan interpolasi untuk 𝑅𝜆 yang mirip dengan
𝑅
𝜆=
23
𝜅𝐿 (𝜆)
𝜅𝑐 𝑑𝑙𝑛𝐵𝜆
ฬ
𝑑𝜏𝑐 𝜏𝑐=23 dengan
untuk kasus optis tipis (di bagian sayap pada profil garis)
c c
F F R
= F −
𝜅
𝐿𝜆
0= 𝜋𝑒
2𝑚𝑐
2𝜆
02Δ𝜆 𝑁
𝑟𝑠𝑓
𝑟𝑠Kurva pertumbuhan (curve of growth
◦ dan menyerupai
untuk bagian garis yang tebal.
c c
F S
R F
( 0 )
= −
Persamaan ekstrapolasi untuk kedalaman Garis
Definisikan :
c c
L
d B X d
( ) ln
3
) 2 ( =
Untuk kasus optis tipis R
λ=X(λ).
Menurut rumus di atas X(λ) bisa >> 1.
Ini mustahil, karena R
λtidak bisa lebih dari 1
R
λmaksimum yang dapat dicapai adalah R
λ0Kedalaman Garis
Untuk mengatasi hal ini didefinisikan rumus interpolasi:
R
oX R
1 )
( 1
1 +
=
Dengan demikian untuk garis yang optis tipis
1
c
L
R
oX
1 )
(
1 R
X ( )
Kedalaman Garis
Untuk garis yang tebal:
X(λ) >>1 R
λ R
λ0
+
=
=
garis garis1
) ( 1
1
d
R X
d R W
o
dapat dihitung.
Hubungan antara 𝑊
𝜆dengan 𝑋 𝜆
0disebut kurva pertumbuhan
Untuk pelebaran Doppler
𝑋 𝜆 = 𝑋 𝜆
0+ Δ𝜆 = 𝑋 𝜆
0𝑒
−Δ𝜆 Δ𝜆0
2
𝑋 𝜆
0= 𝜋𝑒
2𝑚𝑐
2𝜆
02Δ𝜆 𝑁
𝑟𝑠𝑓
𝑟𝑠𝐻
𝑒𝑓Kurva pertumbuhan
◦ Merupakan alat penting yang digunakan astronom
untuk menentukan jumlah atom penyerap N
adan dari sana menentukan kelimpahan elemen dalam atmosfir bintang.
◦ N
asering disebut column density (densitas kolom):
menyatakan jumlah atom dalam silinder yang penam- pang lintangnya 1m
2dan tingginya membentang dari pengamat hingga fotosfir/awan antar bintang.
◦ Kombinasi proses Doppler dan tumbukan menghasilkan perubahan yang rumit dalam lebar ekuivalen sebuah garis spektrum terhadap pertambahan tebal optis
(pertambahan jumlah atom penyerap).
Kurva pertumbuhan
◦ Jika jumlah atom penyerap sedikit (tebal optis kecil):
𝑊 ∝ 𝑁
◦ Setelah garis mengalami saturasi, sayap Doppler nyaris tidak berubah dengan penambahan
jumlah atom penyerap. Hubungan W dengan N dapat didekati sebagai
𝑊 ∝ ln 𝑁
◦ Akhirnya, sayap pelebaran tumbukan
mengalahkan sayap Doppler, meskipun suku tumbukan jauh lebih kecil di sekitar pusat garis.
𝑊 ∝ 𝑁
Optis tipis
saturasi sangat tersaturasi
◦ Untuk mengurangi error yang terjadi karena penggunaan hanya sebuah garis spektrum, biasanya digunakan beberapa garis yang dihasilkan oleh transisi dari keadaan (orbital) awal yang sama.
◦ Hal ini dapat dilakukan dengan memodifikasi kurva pertumbuhan teori menjadi plot antara 𝑙𝑜𝑔 𝑊 𝜆 di sumbu-y vs 𝑙𝑜𝑔 𝑓𝑁 Τ
𝑎(
𝜆500𝑛𝑚
) di sumbu-x.
𝑓𝑁
𝑎menyatakan jumlah atom yang berada
di atas setiap meter persegi fotosfer yang
secara aktif terlibat dalam menghasilkan
sebuah garis spektrum
Contoh:
◦ Contoh 9.5.5 Carroll- Ostlie
◦ Prosedur:
1. Gunakan kurva pertumbuhan teori untuk atom Natrium dan nilai f dari tabel untuk menentukan Na (jumlah atom
pengabsorpsi/rapat kolom). Dalam kasus ini Na adalah jumlah atom di atas setiap m2 fotosfir yang ada dalam keadaan dasar 2. Gunakan persamaan Boltzmann untuk menentukan rasio atom
dalam keadaan tereksitasi dibanding atom dalam keadaan dasar -> didapat jumlah semua atom netral (keadaan dasar + tereksitasi)
3. Gunakan persamaan Saha untuk menentukan perbandingan atom netral terhadap atom yang terionisasi 1 kali → didapat jumlah atom total (terionisasi + netral)
4. Kalikan 3 dengan massa sebuah atom natrium → diperoleh massa atom natrium di atas setiap m2 fotosfir (rapat massa)