• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ELABORASI TEMA: ORIGAMI DALAM ARSITEKTUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III ELABORASI TEMA: ORIGAMI DALAM ARSITEKTUR"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

dua tempat pusat kebudayaan Eropa seperti yang dibutuhkan oleh kelompok penggemar budaya Jepang (kadang dikenal dengan sebutan ‘komunitas Jepang‘ saja), kemungkinan disebabkan oleh perbedaan karakter budaya Eropa dengan budaya Jepang. Kebudayaan Eropa diterjemahkan dalam tingkah laku (manner) dan jarang diidentifikasikan ke dalam cara berekspresi yang khas. Berbeda dengan kebudayaan Jepang –terutama budaya kontemporer— yang diterjemahkan secara hampir seragam di seluruh dunia melalui cara berpakaian, berkesenian, dan mengidentifikasikan diri.

Berdasarkan wawancara dengan salah satu anggota kelompok pencinta kebudayaan Jepang di JLCC (Japanese Language and Culture

Centre) Bandung, anggota kelompok penggemar kebudayaan Jepang

memang membutuhkan tempat yang dapat diidentifikasikan sebagai ‘markas’ kelompok. Hal ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan juga untuk memperkuat eksistensi kelompok di mata masyarakat.

The Japan Foundation yang dalam hal ini diasumsikan sebagai

pemilik dan penyandang dana berperan sebatas penyedia fasilitas dan pendukung perkembangan ‘komunitas’.

BAB III

ELABORASI TEMA:

ORIGAMI DALAM ARSITEKTUR

III.1 DEFINISI-DEFINISI

Origami dalam proses perancangan projek ini diolah melalui proses metafora yaitu perbandingan dari bentuk arsitektur terhadap bentuk origami aslinya.

III.1.1 DEFINISI METAFORA

(2)

(Oxford’s Learners Pocket Dictionary, 2003)

Gaya bahasa dengan menggunakan lukisan yang mempunyai persamaan atau dibuat sebagai perbandingan.

(Chaniago. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,1995) III.1.2 DEFINISI ORIGAMI

Origami dikenal luas oleh masyarakat sebagai seni melipat kertas dari Jepang yang konon berasal dari era Meiji.

Origami adalah :

A form of visual / sculptural representation that’s defined primarily by the folding of the medium especially paper.

(Joseph Wu dari www.paperfolding.com , 1999) III.1.3 MACAM-MACAM ORIGAMI

1. Origami tradisional

Origami tradisional adalah origami yang murni menggunakan media kertas yang dilipat. Dalam pembuatan origami tradisional, tidak diperkenankan memotong kertas dan menyambungnya dengan lem. Modul yang hendak disambung harus saling berkait sehingga dapat bersambungan tanpa perlu menggunakan lem.

Contoh-contoh origami:

Gambar 3.1 Origami Tradisional 3d Gambar 3.2 Origami Tradisional 3d Sumber dok. Pribadi sumber dok. Pribadi

(3)

Gambar 3.3 Origami Tradisional 3d Sumber dok. Pribadi

2. Tessellations

Origami tessellations adalah origami yang berdasarkan pola grid kertas (crease pattern). Tessellations tidak membentuk wujud benda tetapi membentuk pola yang saling bertumpuk. Apabila pola tersebut dilihat dari depan akan menghasilkan pola yang berbeda dengan pola yang terlihat dari bagian belakang. Tessellations juga merupakan cabang origami yang dekat hubungannya dengan teori-teori matematika (lihat

lampiran hal.78).

Perbedaan yang paling dasar antara origami tradisional dengan

tessellations adalah titik mula pembuatannya. Origami tradisional pada

umumnya tidak dimulai dengan membentuk grid sedangkan tessellations harus dimulai dengan membentuk grid. Grid yang dibentuk dapat berbentuk segitiga maupun segiempat.

Contoh-contoh tessellations :

(4)

Gambar 3.6 Tessellations Grid Segiempat Sumber dok. Pribadi

3. Origami basah / wetfolding

Origami basah atau wetfolding adalah perkembangan dari origami tradisional. Pada wetfolding, kertas biasanya dibasahi terlebih dahulu agar bisa dibuat melengkung. Pada beberapa bentuk origami kertas dibasahi hanya pada bagian-bagian tertentu untuk membentuk lengkungan.

Contoh origami basah :

Gambar 3.7 Origami Basah

Sumber: dok. Unit Kebudayaan Jepang ITB

(5)

Knotologi adalah seni yang dianggap masih berhubungan dengan origami. Perbedaannya dengan origami tradisional adalah pada teknik pembentukannya. Knotologi lebih cenderung menggunakan teknik menganyam daripada melipat.

Contoh knotologi:

Gambar 3.8 Bola Knotologi, sumber dok. Unit Kebudayaan Jepang

ITB

III.2 INTERPRETASI TEMA

Origami identik dengan melipat. Terkadang suatu bentuk origami diulang sedemikian rupa sehingga wujudnya berasal dari perulangan modul. Kertas yang digunakan untuk origami jika dibongkar kembali akan meninggalkan jejak berwujud grid. Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik kata kunci untuk tema ini yaitu : grid, lipat dan modul.

Dari kesimpulan sederhana di atas, dengan mudah dapat kita terjemahkan origami ke dalam bentuk arsitektur berdasarkan kata-kata ‘grid, lipat, dan modul’ tersebut.

Grid dan modul adalah cara mengolah bentuk yang umum dilakukan di dunia arsitektur. Grid adalah :

A grafting of bars; a network of lines.

(Chamber’s Mini Dictionary,----) Modul adalah :

(6)

Banyak sekali karya arsitektur yang menggunakan grid dan modul sebagai dasar perancangannya. Arsitek yang terkenal piawai menggunakan modul adalah Le Corbusier dengan karyanya Domino House.

Contoh lain arsitektur dengan modul :

Gambar 3.9 Hotel Sea Hawk, Cesar Pelli Gbr.3.10 Atsushi Imai Gymnasium, Shigeru Ban

Sumber Top Architects of The World sumber Top Architects of The

World

Kata ‘lipat’ dalam arsitektur identik dengan teknik baru perancangan arsitektur yaitu folding architecture. Dalam folding

architecture, bangunan dianggap seperti kertas yang bisa dibentuk.

Arsitek yang sering menggunakan teknik ini antara lain Shuhei Endo. Contoh-contoh arsitektur yang bentuknya seperti lipatan origami:

Gbr 3.11 Phaeno Science Centre, Zaha Hadid Gbr 3.12 Opera House Mariinsky, DominiquePerrault

(7)

Gbr 3.13 Opera House Mariinsky, Gbr 3.14 Opera House Mariinsky, DominiquePerrault DominiquePerrault Sumber Top Architects of The World Sumber Top Architects Of The

World

III.3 STUDI BANDING KASUS DENGAN TEMA SEJENIS

III.3.1 STUDI BANDING

1. Opera House Mariinsky, Dominique Perrault

Proposal desain untuk Opera House Mariinsky ini adalah pemenang dari sebuah kompetisi pada tahun 2003 untuk sebuah gedung opera di Saint Petersburgh. Konsepnya adalah mentransformasikan kubah emas gereja St.Petersburgh ke dalam bentuk yang lebih modern. Didalam kubah emas raksasa tersebut terdapat fasilitas gedung opera berkapasitas 2000 orang, restoran, ruang pamer, auditorium kecil berkapasitas 350 orang, kantor, dan lain-lain.

Gambar 3.15 Opera House Mariinsky, Dominique Perrault Sumber Top Architects of The World

(8)

metal diolah seolah-olah menerus dari atap sampai semua dinding. Kolom struktur memiliki modul yang tidak tentu. Semua elemen arsitektur mengikuti keberadaan lempengan metal yang membentuk dinding tersebut.

Gambar 3.16 Springtecture B Gambar 3.17 Springtecture B Sumber : www.paramodern.com Sumber :

www.paramodern.com

Gambar 3.18 Springtecture B Sumber : www.paramodern.com

III.3.2 PERBANDINGAN DAN KESIMPULAN STUDI BANDING

Pada umumnya, bangunan-bangunan yang telah dipelajari tidak dirancang dengan pendekatan form follow function tetapi melalui pendekatan bentuk. Konsekuensi dari pendekatan bentuk adalah fungsi di dalamnya harus memiliki luasan yang disesuaikan dengan bentuk yang sudah ada. Atau sebaliknya, luasan ditentukan sebelumnya sehingga bentuk yang sudah ada dapat diperbesar atau diperkecil tetapi tidak menghilangkan bentuk dasar yang telah disepakati.

Bangunan Opera House Mariinsky yang dirancang oleh Dominique Perrault sekilas tampak seperti bangunan bertopeng. Padahal jika dilihat

Gambar

Gambar 3.1 Origami Tradisional 3d                    Gambar 3.2 Origami Tradisional 3d   Sumber dok
Gambar 3.7 Origami Basah
Gambar 3.15 Opera House Mariinsky, Dominique Perrault  Sumber  Top Architects of The World
Gambar 3.16 Springtecture B                                               Gambar 3.17 Springtecture B   Sumber : www.paramodern.com                                                                                  Sumber  :  www.paramodern.com

Referensi

Dokumen terkait

Teori penekanan desain pusat pertunjukan seni tari Bali ini dilihat dari fungsi bangunan yang disesuaikan dengan standart yang berlaku, dan kebutuhan ruang yang

Pada gambar diatas menunjukan suasana interior, terlihat struktur yang dipakai interior Brisbane Convention & Exhibition Centre ini, struktur yang di expos

Silau dapat terjadi karena radiasi langsung sumber cahaya ke mata maupun karena pantulan cahaya dari suatu permukaan ke mata yang dapat mengurangi kemampuan mata

Seorang ahli warna, Brewster mengemukakan teorinya bahwa warna- warna merah, kuning dan biru merupakan unsur – unsur warna tersendiri yang tidak dapat dihasilkan oleh

Menurut Fred Linn Osmon dalam Bukunya Pettern For Designing Children’s Center Ruang-ruang yang dinamis atau ruang-ruang yang mengalir dan berhubungan dengan ruang

Rizal Yogaswara – Padepokan Seni Tari Kabupaten Ciamis | 29 Bangsal Diponegoro ini terdiri atas 3 bagian utama, yaitu panggung yang berukuran 7 m x 12 m, bangsal

Jadi elemen kontekstual yaitu arsitektur vernacular tradisional Jawa Barat akan menjadi elemen fisik atau elemen arsitektural pada Padepokan Giriharja,

3.1 Potensi Wisata Kota Bandung Dengan Konsep Smart Tourism Bandung adalah kota pelajar dengan potensi pendidikan dan di kenal di Indonesia, potensi teknologi yang di kembangkan