• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SECARA DARING DI SD NEGERI 29 KOTO HILALANG, KEC.AMPEK ANGKEK, AGAM Skripsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SECARA DARING DI SD NEGERI 29 KOTO HILALANG, KEC.AMPEK ANGKEK, AGAM Skripsi"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SECARA DARING DI SD NEGERI 29 KOTO HILALANG, KEC.AMPEK

ANGKEK, AGAM Skripsi

Diajukan untuk mengikuti Sidang Munaqasah pada Prodi Pendidikan Agama Islam

Oleh : Desri Yolanda

2116.024 Dosen Pembimbing:

Salmiwati, M.Ag NIP.197306152005012008

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI

1442 H / 2020 M

(2)

i ABSTRAK

Skripsi ini disusun oleh Desri Yolanda, NIM 2116.024, berjudul:

“Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Secara Daring di SD Negeri 29 Koto Hilalang, Kec.Ampek Angkek, Agam”.

Pada saat peneliti mendatangi SD Negeri 29 Koto Hilalag yang kebetulan peneliti mengajar di MDA Terpadu SD Negeri 29 Koto Hilalang yang bertempat di SD tersebut, dan peneliti berkunjung atas dasar keperluan MDA. Peneliti memperhatikan guru dalam melaksanakan pembelajaran secara daring. Guru menggunakan aplikasi whatsapp sebagai media komunikasi dengan siswa. Setelah peneliti amati lebih lanjut hampir semua materi guru tersebut menggunakan metode pemberian tugas. Padahal pada kenyataannya tidak semua materi bisa terapkan hanya melalui pemberian tugas.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif kualitatf. Penelitian berlokasi di SD Negeri 29 Koto Hilalang yang beralamat di Jorong Koto Hilalang, Kenagarian Lambah, Kecamatan Ampek Angkek, Agam. Dalam hal ini yang menjadi informan kunci adalah guru Pendidikan Agama Islam dan siswa-siswi kelas VI A&B, dan informan pendukung Kepala Sekolah SD Negeri 29 Koto Hilalang. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan informan.

Setelah melakukan penelitian maka diperoleh hasil sebagai berikut bahwa problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring tersebut yaitu berupa problematika yang dihadapi guru dan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring. Problematika yang dihadapi guru seperti aplikasi pembelajaran yang tidak terkuasi secara maksimal. Kemudian jaringan internet dan smartphone yang didalamnya mencakup kuota internet yang menjadi keluhan bagi guru. Selanjutnya pengelolaan pembelajaran yang masih belum terlaksana secara efektif sehingga menyebabkan siswa kurang memahami materi yang disampaikan. Terakhir masalah penilaian yang menjadi masalah serius bagi guru berhubung susahnya melakukan penilaian karena minimnya interaksi dengan siswa. Adapun problematika yang dihadapi siswa berupa aplikasi pembelajaran yang digunakan guru belum maksimal guna keberhasilan pembelajaran daring ini.

Kemudian masalah jaringan internet dan smartphone yang menjadi keluhan bagi siswa karena tidak semua siswa memiliki smartphone dan juga gangguan jaringan serta kuota internet yang tidak memadai walaupun sudah ada bantuan kuota dari pemerintah, tapi kuota tersebut tidak bisa digunakan untuk semua aplikasi.

Selanjutnya masalah pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru tidak sesuai dengan kemampuan siswa dalam memahami materi. Terakhir masalah kurangnya pengawasan orang tua yang menyebabkan siswa lebih banyak bermain diluar rumah.

(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara umum manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya.

Pendidikan merupakan sarana utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan adalah membimbing atau bimbingan yang diberikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.1

Di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab 1 pasal 1 dikemukakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan merupakan instrumen penting yang sangat efektif untuk melakukan transformasi peradaban suatu bangsa, dalam konteks ini, pendidikan berpengaruh besar bagi pembentukan kepribasian manusia dan sekaligus jati diri suatu bangsa. Sebab dengan pendidikan manusia diharapkan mampu membangun diri, komunitas, dan alam semesta, dengan demikian pendidikan tidak lain adalah media pembentukan manusia seutuhnya, baik dalam peningkatan pengetahuan maupun keterampilan.

1 Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet. Ke-3, hal.99

(4)

Pendidikan juga merupakan salah satu cara untuk mengembangkan potensi diri sesorang juga pribadinya, dengan pribadi dan potensi yang baik maka seseorang bisa memberi manfaat kepada kehidupan yang berada disekitarnya, seperti yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Lingkungan yang memiliki masyarakat terdidik akan berkembang dengan baik dan akan memiliki kehidupan yang baik juga. Kegiatan mendidik bukan hanya peran dunia pendidikan atau institusi pendidikan saja tetapi disetiap tempat pada elemen masyarakat dimanapun juga harus melakukan kegiatan mendidik, karena mendidik adalah tugas setiap manusia bukan hanya tugas tenaga pendidik saja.2 Hal ini diingatkan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-„Asr ayat ketiga:

ة ْاۡو َصاَوَتَو قَ ۡ

ة ْاۡو َصاَوَتَو لۡٱ ۡب َّصلٱ

٣

Artinya: Dan saling menasehatilah dalam kebenaran dan saling menasehatilah dalam kesabaran.3

Dari segi etimologi atau bahasa, kata pendidikan berasal dari kata “didik”

yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an sehingga pengertian pendidikan adalah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik dalam akhlak dan kecerdasan berfikir.

Sedangkan pengertian pendidikan secara terminologi atau istilah adalah usaah sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dieinya

2 Bach. Yunof Candra, Problematika Pendidikan Agama Islam, ISTIGHNA. Vol. 1 No. 1, Januari 2018, hal.134

3 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung:

WALI, 2012), hal.601

(5)

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

UNESCO telah merumuskan bahwa hakikat pendidikan itu setidaknya ada empat; Pertama, how to know, disini terjadi proses pentransferan ilmu dari pendidik kepada si terdidik. Kedua, how to do, bagaimana seseorang berbuat setelah dia tahu. Ketiga, how to be, ke arah mana peserta didik ingin dibawa.

Keempat, how to live together, hidup bersama secara harmonis di tengah dunia yang multikultural.4

Intinya pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan tidak hanya untuk memanusiakan manusia tetapi juga agar manusia menyaari posisinya sebagai khalifatullah fil ardhi, yang pada gilirannya akan semakin meningkatkan dirinya untuk menjadi manusia yang bertaqwa, beriman, berilmu, dan beramal sholeh. Di dalam Islam manusia yang beriman, berilmu dan beramal sholeh memang memiliki derajat yang tinggi.5

Lewat pendidikan khususnya pendidikan Islam akan diprogramkan pembentukan manusia seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniyah maupun ruhaniyah, menumbuhkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah SWT, manusia dan alam semesta.6

4 Sopian Sinaga, Problematika Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan Solusinya, WARAQAT. Vol. II No. 1, Januari-Juni 2017, hal.177

5 Bach. Yunof Candra, Problematika Pendidikan Agama Islam, ISTIGHNA. Vol. 1 No. 1, Januari 2018, hal.134

6 Haidar Putra Daulay, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia, (Medan:PERDANA PUBLISHING, 2012), hal.1

(6)

Adapun istilah Pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa pengertian yaitu:

1. Pendidikan menurut Islam atau Pendidikan Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran-ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasar Islam, yaitu Al-Quran dan Sunnah.

2. Pendidikan keislaman atau Pendidikan Agama Islam, yakni upaya mendidik agama Islam atau ajaran Islam atau nilai-nilai Islam agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.

3. Pendidikan dalam Islam atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam. Dalam arti proses bertumbuh kembangnya Islam dan umatnya, baik Islam sebagai agama, ajaran, maupun sistem budaya dan peradaban sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.

Dari definisi diatas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud Pendidikan Agama Islam adalah suatu aktivitas atau usaha-usaha tindakan dan bimbingan yang dilakukan secara sadar dan sengaja serta terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma- norma yang ditentukan oleh ajaran Islam.7

Dalam mewujudkan peran utama Pendidikan Agama Islam dibutuhkan salah satunya proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pendidikan agama Islam.

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk

7 Sopian Sinaga, Problematika Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan Solusinya, WARAQAT. Vol. II No. 1, Januari-Juni 2017, hal.177-178

(7)

suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.

Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif membuat ataupun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalaman yang bermanfaat bagi pribadinya.

Belajar di sekolah merupakan sebuah proses yaitu interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa jika terjadi kegiatan belajar kelompok. Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran. Pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan pandangan dunia.

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.8

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru secara terprogram dalam desain instruksional (instructional design) untuk membuat siswa atau peserta didik belajar secara aktif (student active learning), yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Karena pada dasarnya pembelajaran adalah kegiatan terencana, yang mengondisikan atau merangsang seseorang bisa belajar dengan baik, agar tercapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, maka kegiatan pembelajaran akan

8 Chandra Ertikanto, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Media Akademi, 2016), hal.1

(8)

bersama pada dua kegiatan utama; Pertama, kegiatan belajar. Kedua, bagaimana orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar.9 Begitu juga dengan pembelajaran pendidikan agama Islam yang bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT tentu tak lepas dari yang namanya proses pembelajaran baik disekolah maupun dilingkungan masyarakat.

Sebagai sebuah proses, pembelajaran dihadapkan pada beragam permasalahan atau problematika. Problematika pembelajaran adalah berbagai permasalahan yang mengganggu, menghambat, mempersulit atau bahkan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Belakangan ini dunia pendidikan dihadapkan dengan permasalahan atau problematika yang cukup serius. Terhitung Maret 2020, organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan Corona Virus Disease (Covid-19) sebagai pandemi yang telah melanda lebih dari 200 negara di dunia. Sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19 pemerintah Indonesia melakukan beberapa tindakan, mulai dari kampanye di rumah saja, sosial and physical distancing, pergeseran libur lebaran, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pelarangan mudik , hingga yang terkini yaitu masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona Covid-19 dengan tatanan baru yang disebut new normal.10

9 Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh, (Bandung:

2014), hal.116

10 Henry Aditia Rigianti, Kendala Pembelajaran Daring Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Banjarnegara, Elementary School. Vol. 7 No. 2, Juli 2020, hal.297

(9)

Kondisi ini memberi dampak secara langsung pada dunia pendidikan.

Lembaga pendidikan formal dan nonformal menutup pembelajaran tatap muka dan beralih dengan pembelajaran daring (online). Peralihan pembelajaran, dari yang semula tatap muka menjadi pembelajaran daring memunculkan banyak hambatan bagi guru, mengingat hal ini terjadi secara mendadak tanpa adanya persiapan sebelumnya. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengeluarkan Surat Edaran No.4 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) terhitung mulai 24 Maret 2020. Intinya dalam surat edaran tersebut Dinas Pendidikan menghimbau kepada guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring.11

Pembelajaran secara daring merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang memanfaatkan perangkat elektronik khususnya internet dalam penyampaian belajar. Pembelajaran daring, sepenuhnya bergantung pada akses jaringan internet. Kondisi ini memunculkan ketidaksiapan persiapan pembelajaran, perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak menyebabkan semua orang, baik guru, orang tua maupun siswa dipaksa untuk melek teknologi.

Pada kegiatan pembelajaran tatap muka, media pembelajaran dapat berupa orang, benda-benda sekitar, lingkungan dan segala sesuatu yang dapat digunakan guru sebagai perantara menyampaikan materi pelajaran. Hal tersebut akan menjadi berbeda ketika pembelajaran dilaksanakan secara daring. Semua media atau alat

11 Henry Aditia Rigianti, Kendala Pembelajaran Daring Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Banjarnegara, Elementary School. Vol. 7 No. 2, Juli 2020, hal.297-298

(10)

yang dapat guru hadirkan secara nyata, berubah menjadi media visual karena keterbatasan jarak.12

Bertolak dari hal diatas, maka intinya pembelajaran secara daring itu menimbulkan kendala-kendala atau bisa disebut problematika dalam keberlangsungan proses pembelajaran. Sebagai langkah untuk mengetahui problematika yang dihadapi oleh guru selama berlangsungnya pembelajaran secara daring ini penulis telah melakukan observasi di sebuah sekolah yaitu SD Negeri 29 Koto Hilalang pada tanggal 2 September 2020 jam 10.42 WIB.

Berdasarkan observasi awal tersebut penulis melihat guru melakukan proses pembelajaran secara daring, guru menggunakan aplikasi wahtsapp untuk pemberian tugas kepada siswa, untuk mengetahui masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran daring penulis melakukan wawancara singkat dengan majelis guru yang ada di sekolah tersebut termasuk guru Pendidikan Agama Islam. Dari hasil wawancara tersebut, pada umumnya guru menemui masalah yang paling umum yaitu susahnya berinteraksi dengan siswa dan susahnya memantau pemahaman siswa baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Kendala atau masalah diatas secara merata dialami oleh guru-guru yang ada di sekolah tersebut. Namun karena dalam penelitian ini penulis membahas tentang problematika pembelajaran pendidikan agama Islam., maka yang jadi permasalahan utamanya adalah kendala atau masalah yang dihadapi oleh guru pendidikan agama Islam dalam pembelajaran pendidikan agama Islam secara

12 Henry Aditia Rigianti, Kendala Pembelajaran Daring Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Banjarnegara, Elementary School. Vol. 7 No. 2, Juli 2020, hal.298

(11)

daring, selain masalah diatas juga terdapat masalah pokok yang dihadapi oleh guru pendidikan agama Islam dalam pembelajaran pendidikan agama Islam secara daring yaitu susahnya penanaman akhlak dan perubahan sikap dan tingkah laku siswa dalam proses pembelajaran daring ini. Karena tujuan pendidikan agama Islam tentu bukan hanya pemahaman materi dan sekedar menambah pengetahuan siswa saja, melaikan juga untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman siswa tentang agama Islam sehingga menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi yang merupakan tujuan dari pendidikan agama Islam.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik dan ingin mengetahui apa saja permasalahan yang berhubungan dengan pembelajaran pendidikan agama Islam secara daring di SD Negeri 29 Koto Hilalang. Maka dari itu peneliti mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah bahan penelitian ilmiah dengan judul “Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Secara Daring di SD N 29 Koto Hilalang, Kec. Ampek Angkek, Agam”.

B. Batasan Masalah

Karena cakupan permasalahan cukup luas dan agar tidak menyimpang dari permasalahan yang dibahas maka peneliti memberikan batasan masalah yaitu:

1. Problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD Negeri 29 Koto Hilalang.

2. Problematika yang dihadapi siswa kelas 6 A&B dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD Negeri 29 Koto Hilalang.

(12)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan Batasan Masalah diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu:

1. Apa saja problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD N 29 Koto Hilalang?

2. Apa saja problematika yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD N 29 Koto Hilalang?

D. Tujuan Penelitian

Setiap melakukan penelitian tentu sudah memiliki tujuan. Oleh sebab itu berikut ini tujuan penelitian yaitu:

1. Untuk mengetahui apa saja problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD N 29 Koto Hilalang.

2. Untuk mengetahui apa saja problematika yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD N 29 Koto Hilalang.

E. Kegunaan Penelitian

Terdapat 2 manfaat yakni manfaat teoritis dan manfaat praktis yaitu:

1. Manfaat Teoritis

a. Dapat mengetahui problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring di SD N 29 Koto Hilalang.

(13)

b. Dapat membantu guru Pendidikan Agama Islam dan sekolah memecahkan problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD N 29 Koto Hilalang.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru PAI, sebagai pembelajaran untuk lebih meningkatkan kreatifitas agar proses pembelajaran pendidikan agama Islam secara daring lebih efektif.

b. Bagi peneliti, untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S-1) pada Prodi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi.

F. Penjelasan Judul

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman terhadap judul proposal ini, maka perlu diberikan penjelasan terhadap istilah yang terdapat dalam judul diantaranya:

Problematika : Problematika berasal dari kata problem yang dapat diartikan sebagai masalah atau permasalahan. Adapun masalah itu sendiri adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan, dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai hasil yang maksimal.

Pembelajaran : Pembelajaran adalah sebuah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Pembelajaran juga merupakan sebuah bantuan yang diberikan pendidik agar dapat

(14)

terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

Pendidikan Agama Islam : Pendidikan agama Islam yang dimaksudkan peneliti adalah salah satu bidang studi wajib yang membahas seputar ilmu keagamaan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik dengan mengarahkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada peserta didik agar kelak menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berkepribadian yang memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Daring : Daring merupakan akronim atau singkatan dari kata Dalam Jaringan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah daring memiliki arti terhubung melalui jejaring komputer, internet dan sebagainya.

Dari penjelasan diatas maka penulis simpulkan bahwa problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam daring adalah problematika atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi baik oleh guru maupun oleh siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilakukan secara daring.

G. Sistematika Penulisan

BAB I: PENDAHULUAN

Merupakan bab pendahuluan. Bab ini berfungsi untuk memberikan gambaran tentang penelitian yang akan dilakukan yang meliputi Latar Belakang Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Masalah,

(15)

Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Penjelasan Judul serta Sistematika Penulisan.

BAB II: KAJIAN TEORI

Merupakan bab landasan teori. Bab ini berfungsi untuk membaca fenomena yang akan disajikan dalam bab empat, memuat tentang problematika pembelajaran PAI secara daring.

BAB III: METODE PENELITIAN

Bagian ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang meliputi : Jenis Penelitian, Lokasi Penelitian, Informan, Teknik Pengumpulan Data, Instrumen Penelitian, Teknik Analisis Data, dan Triangulasi Data.

BAB IV: HASIL PENELITIAN

Bagian ini memuat tentang hasil penelitian yang meliputi:

Problematika yang dihadapi guru dan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring.

BAB V: PENUTUP

Merupakan bab penutup. Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

(16)

14 BAB II

LANDASAN TEORI A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Sebelum membahas tentang pembelajaran pendidikan agama Islam, terlebih dahulu akan dijelaskan apa itu pembelajaran. Belajar dan pembelajaran merupakan dua konsep yang saling terkait satu sama lain, bagaikan dua sisi mata uang yang sulit untuk dipisahkan. Aktivitas belajar peserta didik hanya dimungkinkan berlangsung dalam suatu proses pembelajaran yang dapat memberi kesempatan bagi mereka untuk belajar dengan baik. Sebaliknya, proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik bila mendapat respons dari peserta didik.

Belajar alam arti luas merupakan suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku baru yang bukan disebabkan oleh kematangan dan suatu hal yang bersifat sementara sebagai hasil dari terbentuknya respons utama. Belajar merupakan aktivitas, baik fisik maupun psikis yang menghasilkan perubahan tingkah laku yang baru pada diri individu yang belajar dalam bentuk kemampuan yang relatif konstan dan bukan disebabkan oleh kematangan atau sesuatu yang bersifat sementara.13

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi belajar memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian

13 Muh. Sain Hanafy, Konsep Belajar Dan Pembelajaran, Lentera Pendidikan. Vol. 17 No. 1, Juni 2014: 66-79, hal.68

(17)

atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dimilikinya sebelumnya.

Belajar menurut Margaret E. Bell Gredler adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap. Belajar dimulai dalam masa kecil, sejak bayi sudah dilatih hal-hal yang kecil seperti mengenal ibunya. Selama masa kanak-kanak menuju masa remaja diperoleh berbagai sikap, tingkah laku, nilai, keterampilan, hubungan sosial masyarakat, dan berbagai kecakapan mata pelajaran di sekolah.14Bertitik tolak dari beberapa pendapat mengenai makna belajar, ditemukan bahwa walaupun terdapat perbedaan mengenai pengertian namun terdapat kesamaan makna bahwa konsep belajar selalu menunjukkan kepada suatu proses perubahan, baik pengetahuan maupun prilaku seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.

Terkait pembahasan tentang belajar diatas, maka selanjutnya akan dijelaskan apa itu pembelajaran. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sitem Pendidikan Nasional bahwa pembelajaran adalah suatu proses interkasi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran pada pokoknya merupakan tahapan-tahapan kegiatan guru dan siswa dalam menyelenggarakan program pembelajaran, yaitu rencana kegiatan yang menjabarkan kemampuan dasar dan teori pokok yang secara rinci memuat alokasi waktu, indikator pencapaian hasil belajar, dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran untuk setiap materi pokok mata pelajaran.

14 I Putu Suka Arsa, Belajar dan Pembelajaran; Strategi Belajar yang Menyenangkan, (Yogyakarta: Media Akademi, 2015), hal.1

(18)

Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan berproses melalui tahapan-tahapan yang dicirikan dengan karakteristik tertentu. Pertama, melibatkan proses mental siswa secara maksimal dalam proses pembelajaran.

Kedua, membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab secara terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa yang pada gilirannya dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.15

Proses pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat siswa belajar, sehingga situasi tersebut merupakan peristiwa belajar (event of learning) yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku dari siswa. Sementara itu, Chauhan mengatakan bahwa pembelajaran adalah upaya dalam memberi perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar, “learning is the process by which behavior (in the broader sense) is or changed through pratice or training” yang artinya belajar

adalah proses perubahan tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.16

Kesimpulannya, pembelajaran merupakan usaha pendidik untuk mewujudkan terjadinya proses pemerolehan pengetahuan, dan pembentukan sikap serta kepercayaan diri pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses yang menfasilitasi peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

15 Muh. Sain Hanafy, Konsep Belajar Dan Pembelajaran, Lentera Pendidikan. Vol. 17 No. 1, Juni 2014: 66-79, hal.74

16 Sunhaji, Konsep Manajemen Kelas dan Implikasinya Dalam Pembelajaran, Jurnal Kependidikan. Vol. II No. 2, November 2014, hal.32-33

(19)

Setelah diketahui apa itu pembelajaran, selanjutnya akan diuraikan tentang pendidikan agama Islam secara rinci, mulai dari pengertian agama, agam islam dan kemudian pengertian pendidikan agama Islam.

Secara etimologis kata agama dari kata “a” dan “gama”. A berarti tidak, gama berarti kacau. Agama berarti tidak kacau. Dalam Islam agama disebut

“ad din” berarti kepatuhan, ketaatan. Dalam bahasa inggris disebut religi berarti kepercayaan dan penyembahan kepada Allah. Secara epistimologis agama adalah suatu peraturan Allah yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal memegang peraturan Allah itu dengan kehendak sendiri, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.17

Bach. Yunof Candra menyebutkan dalam jurnalnya bahwa agama adalah keyakinan akan adanya dzat yang ghaib dan luhur,yang dzat itu mempunyai perasaan-perasaan dan pilihan, serta mempunyai pelaksanaan dan pengaturan terhadap berbagai hal yang diingini manusia, dan keyakinan bahwa seseorang itu memang diutus (diperintah) untuk bermunajat kepada dzat yang tinggi itu baik secara suka rela atau terpaksa, dengan segala kerendahan dan ketundukan.

Dengan bahasa yang lebih singkat, agama adalah beriman kepada dzat yang mempunyai sifat keutuhan, yang terwujud dalam bentuk ketaatan dan peribadatan. Ini adalah pengertian agama jika dilihat dari sisi kejiwaan dalam beragama. Namun bila dilihat sebagai sebuah kebenaran yang muncul, maka agama adalah sekumpulan perundang-undangan teoritis yang memberikan

17 Aminuddin, Aliaras Wahid dan Moh. Rofiq, Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: GRAHA ILMU & UIEU- University Press, 2006), hal.35

(20)

batasan-batasan tentang sifat ketuhanan ilahiyyah, dan sekumpulan ketentuan- ketentuan praktis yang melukiskan cara-cara peribadatan kepadaNya.

Ulama-ulama Islam juga telah memberikan definisi tentang agama dengan peraturan ketuhanan yang dapat menutun orang yang mempunyai akal sehat, dengan segala pilihan (kebebasan) yang dimilikinya, kepada sesuatu yang dapat membawa kebaikan dalam kehidupan dunia ini dan keselamatan akhirat kelak. Menurut Abu Al-A‟la AL-Maududi agama adalah peraturan kehidupan yang sempurna dan menyeluruh untuk semua segi baik keyakinan, pemikiran, akhlak ataupun amal perbuatan.18

Apabila disimpulkan maka akan didapatkan bahwa agama bukan hanya sekedar keyakinan dan ritual semata, tetapi agama juga merupakan hidup, kehidupan dan gaya hidup manusia. Bagaimana manusia berpakaian, bagaimana manusia makan dan minum, bagaimana tidur yang sehat dan baik, bagaimana berdagang yang baik dan masih banyak lagi, kesemua peraturan agama adalah kebaikan untuk kehidupan manusia.

Selanjutnya yang menjadi pokok bahasan adalah apa itu Islam. Islam dalam bahasa Arab berasal dari kata “aslama” yang artinya menyerahkan diri, tunduk dan patuh. Asal usul kata aslama adalah berasal dari kata “salama”

yang artinya selamat. Apabila arti kedua kata ini dihubungkan maka akan bermakna selamat bagi yang menyerahkan diri, tunduk dan patuh. Didalam Al- Quran kata Islam atau yang berhubungan dengan kata Islam terkadang

18 Bach. Yunof Candra, Problematika Pendidikan Agama Islam, ISTIGHNA. Vol. 1 No.

1, Januari 2018, hal.138-139

(21)

dikaitkan dengan kata agama atau Ad-Diin, Al-Millah, dan lain sebagainya.

Seperti pada Q.S Ali-„Imran ayat 19 misalnya, Allah berfirman:

َّن إ َوي لٱ َدي ع َّللّٱ مََٰلۡس لۡٱ ۡ

Artinya: Sesungguhnya agama di sisi Allah SWT ialah Islam.19

Berdasarkan ayat Al-Quran diatas maka jelas Allah SWT mengabarkan tidak ada agama yang Dia terima dari seseorang selain agama Islam, yaitu dengan mengikuti para Rasul yang diutus Allah pada setiap zaman yang ditutup dengan pengutusan Nabi Muhammad SAW.

Menurut „Abdurrahman An-Nahlawi dalam bukunya Usul At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah wa Asalibuha fil Bait wal Madrosah wal Mujtama’

mendefinisikan Islam secara terminologi sebagai sebuah peraturan ilahi yang telah Allah sempurnakan dan menjadikannya peraturan yang sempurna, menyeluruh bagi segala segi kehidupan, dan meridhoinya sebagai tata cara interaksi antara manusai dengan penciptanya, manusia dengan alam semesta, manusia dengan seluruh makhluk ciptaan, dengan dunia dan akhirat, dengan masyarakat, pasangan, anak, hakim, hukum dan dengan segala yang berkaitan dengan kehidupan manusia.20

Dari kedua definisi agama dan Islam diatas apabila dihubungkan maka akan didapatimakna bahwa agama Islam adalam agama yang mengatur cara hidup manusia yang sesuai dengan aturan undang-undang yang telah ditetapkan oleh Pencipta, yang memberikan keselamatan apabila mengikuti

19 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung:

WALI, 2012), hal.52

20 Bach. Yunof Candra, Problematika Pendidikan Agama Islam, ISTIGHNA. Vol. 1 No.

1, Januari 2018, hal.141

(22)

dengan benar-benar menyerahkan diri, tunduk dan patuh, dan semua peraturan perundang-undangan Sang Pencipta ini benar-benar memberikan kebaikan, keselamatan bagi kehidupan ciptaanNya.

Menurut Azra pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran dan nilai-nilai Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui proses pendidikan seperti itu individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi, dan berhasil mewujudkan kebahagiaan didunia dan akhirat.21

Terakhir yaitu pendidikan agama Islam. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan, pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamlkan ajaran agama Islam, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan.22

Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah satu mata pelajaran yang bertujuan untuk membina, membimbing peserta didik secara maksimal demi tercapainya pribadi yang matang. Dengan Pendidikan Agama Islam ini, peserta didik diharapkan mampu memadukan fungsi iman, ilmu dan amal shaleh secara integral, sehingga dapat diperoleh kehidupan yang harmonis, baik di dunia, maupun di akhirat karena menurut ahli pendidikan Islam Asy Syaibany,

21 Iswantir M, Gagasan dan Pemikiran Serta Praksis Pendidikan Islam di Indonesia, JURNAL EDUCATIVE. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2017, hal.169

22 Peraturan Pemerintah (PP) No.55 Tahun 2007, Sekretariat Website JDIH BPK RI.

(23)

tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat.23

Pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran diberbagai jenjang sekolah termasuk sekolah dasar. Pendidikan agama Islam memerlukan strategi dan teknik yang efektif serta dinamis dalam penyampaiannya guna memberikan kemudahan pemahaman bagi peserta didik. Salah satu pengembangan strategi dan teknik dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yakni dengan inovasi teknologi pembelajaran untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam tersebut. Sebab agama Islam ini fleksibel, tidak menutup serta membatasi diri dari perkembangan zaman. Hal ini disandarkan pada potogan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

Artinya: Engkau lebih mengetahui tentang urusan duniamu. (H.R Muslim).

Hadits ini terdapat dalah Shahih Muslim (1366) yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak membatasi urusan dunia kepada para sahabat dan umatNya selagi urusan dunia itu maslahat, terlebih urusan dunia itu adalah untuk meningkatkan pembelajaran dalam dunia pendidikan melalui inovasi teknologi. Artinya sangat dianjurkan demi kemaslahatan prose pembelajaran terlebih pembelajaran pendidikan agama Islam dalam dunia pendidikan.24

23 Irna Andriati dan Zulfani Sesmiarni, Impelentasi Pendekatan Scientific Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, JURNAL EDUCATIVE. Vol. 2 No. 2, Juli- Desember 2017, hal.147

24 Ahmad Jaelani dkk, Penggunaan Media Online Dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar PAI di Masa Pandemi Covid-19, JURNAL IKA. Vol. 8 No. 1, Juni 2020, hal.16

(24)

Berdasarkan pembahasan secara rinci tentang pendidikan agama Islam diatas, dan juga sebelumnya telah dibahas apa pengertian atau pun makna dari pembelajaran, jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan upaya atau usaha membuat peserta didik dapat belajar, terdorong belajar, mau belajar dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam secara menyeluruh yang mengakibatkan beberapa perubahan dalam tingkah laku seseorang baik dalam kognitif, afektif dan psikomotorik.

2. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar

Tujuan pendidikan direkomendasikan sebagai pengembangan pertumbuhan yang seimbang dari potensi dan kepribadian total manusia, melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri perasaan dan kepekaan fisik, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Menurut Salamah Noorhidayati “Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai yaitu individu yang kemampuan-kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya sebagai seorang individu, maupun sebagai warga negara atau warga masyarakat”.

Namun secara konseptual pendidikan agama Islam bertujuan membentuk pribadi muslim yang utuh, mengembangkan seluruh potensi jasmaniah dan rohaniah manusia, menyeimbangkan dan mengembangkan hubungan yang harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dengan alam semesta.

Kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya, yakni

(25)

tingkah laku luarnya, kegiatan jiwanya, dan filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT dan penyerahan diri kepada-Nya.

Tapi menurut Al-Abrasyi tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam yang paling tinggi adalah membentuk manusia berakhlak karimah (berbudi mulia).25

Karena itu, dapat dipahami bahwa eksistensi pembentukan akhlak karimah dalam perspektif pembelajaran pendidikan agama Islam sangat tinggi kedudukannya. Ini tidak berarti bahwa pendidikan agama Islam tidak menekankan pentingnya pendidikan intelektualitas ini merupakan salah satu bagian integral yang dapat menopang tercapainya pendidikan yang berakhlak karimah. Para pakar pendidikan agama Islam telah sepakat bahwa tujuan dari adanya pembelajaran pendidikan agama Islam bukanlah untuk mengisi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum pernah mereka ketahui, akan tetapi:

a. Mendidik akhlak dan jiwa mereka b. Menanamkan rasa keutamaan

c. Membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi

d. Mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya dengan penuh keikhlasan dan kejujuran.

Berdasarkan hakikat tujuan tersebut, maka diturunkan atau dijabarkan sejumlah tujuan kurikulum mulai dari tujuan kelembagaan pendidikan, tujuan setiap mata pelajaran sampai kepada model pembelajaran yang digunakan demi

25 Saprin Efendi dkk, Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 064025 Kecamatan Medan Tuntungan, EDU RILIGIA. Vol. 2 No. 2, April-Juni 2018, hal.270

(26)

tercapainya hasil pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dasar.26 Sehingga dilihat dari segi materi-materi yang ada, pelajaran pendidikan agama Islam di tingkat sekolah dasar sudah sangat luas cakupannya, terbukti dari materi-materi yang diajarkan atau standar kompetensi, kompetensi dasar maupun indikatornya terdiri dari berbagai aspek (aspek pembelajaran pendidikan agama Islam seperti membaca Al-Quran dan praktik ibadah) agar peserta didik memiliki kompetensi seutuhnya dalam bidang agama Islam baik dari segi kognitif, psikomotorik, dan afektif.27

3. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar

Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam berorientasi pada penerapam Standar Nasional Pendidikan. Untuk itu dilakukan kegiatan- kegiatan seperti pengembangan metode pemebelajaran pendidikan agama Islam, pengembangan kultur budaya Islami dalam proses pembelajaran, dan pengembangan kegiatan-kegiatan kerohanian Islam dan ekstrakulikuler.28

Pelaksanaan pendidikan agama Islam tidak hanya disampaikan secara formal dalam suatu proses pembelajaran oleh guru agama, namun dapat pula dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Guru bisa memberikan pendidikan agama ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta didik. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama semua guru. Artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru agama saja

26 Saprin Efendi dkk, Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 064025 Kecamatan Medan Tuntungan, EDU RILIGIA. Vol. 2 No. 2, April-Juni 2018, hal.270

27 Saprin Efendi dkk, Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 064025 Kecamatan Medan Tuntungan, EDU RILIGIA. Vol. 2 No. 2, April-Juni 2018, hal.271

28 Nandang Kosim, Pengembangan dan Aplikasi Pembelajaran PAI di SD, JURNAL QATHRUNA. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2015, hal.131

(27)

melainkan juga guru-guru bidan studi lainnya. Guru-guru bidang studi itu bisa menyisipkan pendidikan agama ketika memberikan pelajaran bidang studi.

Dari hasil pendidikan agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin, dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Selanjutnya untuk mengaplikasikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar terdapat empat aspek yang harus diperhatikan dalam penerapan startegi pembelajaran yang meliputi urutan kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran dan waktu yang digunakan guru dalam menyelesaikan setiap langkah kegiatan pembelajaran serta yang terakhir adalah evaluasi pembelajaran.

a. Kegiatan Pembelajaran

Secara umum kegiatan pembelajaran meliputi tiga aspek yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Proses pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah harus diupayakan dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa hal yang kiranya perlu untuk dipahami secara mendalam oleh para guru pendidikan agama Islam, bahwa dalam melaksanakan proses pembelajarannya seorang peserta didik harus menyadari bahwa:

1) Proses pembelajaran jangan merupakan suatu tindakan yang lahir karena keterpaksaan.

(28)

2) Belajar yang dilakukan secara sukarela merupakan suatu proses pembelajaran yang bernilai.

3) Peserta didik mengenal dirinya dengan baik, sehingga siap untuk menerima materi pembelajaran.29

Apabila seorang peserta didik melaksanakan kegiatan pembelajarannya secara terpaksa, maka akan dijumpai keadaan kejiwaan yang tidak mendukung bagi proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Peserta didik yang merasa terpaksa akan memperlihatkan kondisi kejiwaan berupa: timbul rasa permusuhan dari dalam diri (inner hosility) berupa adanya tekanan dari luar diri yang menimbulkan perasaan tidak bahagia pada seorang peserta didik, kemudian peserta didik akan membenci dirinya sendiri (self hate), dan juga peserta didik akan memiliki perilaku anti sosial sehingga pada akhirnya peserta didik tersebut akan menjadi “anak bermasalah”.

Untuk mengatasi timbulnya kondisi kejiwaan yang tidak mendukung proses pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut, maka seorang GPAI dituntut untuk dapat memberikan kebebasan pada peserta didiknya dalam mengikuti proses pembelajaran yang dilaksanakan, kebebasan disini maksudnya kebebasan yang terikat peraturan yang di sepakati sedari awal sebelum pembelajaran berlangsung.30

29 Nandang Kosim, Pengembangan dan Aplikasi Pembelajaran PAI di SD, JURNAL QATHRUNA. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2015, hal.133

30 Nandang Kosim, Pengembangan dan Aplikasi Pembelajaran PAI di SD, JURNAL QATHRUNA. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2015, hal.134

(29)

b. Metode Pembelajaran

Orientasi metode pembelajaran pendidikan agama Islam perlu memperhatikan beberapa hal; Pertama, mempertimbangkan kurikulum dengan memperhatikan materi essensial yang memungkinkan diberikan kepada peserta didik dengan tetap mengacu pada standar nasional dalam merancang kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah. Kedua, memperhatikan proses pembelajaran atau metode pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah baik di dalam kelas maupun ekstrakurikuler. Ketiga, sikap guru pendidikan agama Islam dalam mengajar. Guru pendidikan agama Islam tidak hanya memikirkan tuntutan kewajiban formal mengajar di sekolah, namun memiliki jiwa dan semangat sebagai muslim yang mempunyai kewajiban untuk mengajar menyampaikan ilmu pengetahuan dan mendidik peserta didik sehingga dapat menyiarkan dan melestarikan agama Islam.

Penerapan pembelajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar harus menyenangkan, dengan pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan metode pembelajaran harus bervariatif dalam setiap pembelajarannya. Metode yang dapat digunakan antara lain;

metode ceramah, metode tanya jawab, metode perumpamaan, metode demonstrasi, metode aplikasi dan metode keteladanan. 31

c. Media Pembelajaran

31 Nandang Kosim, Pengembangan dan Aplikasi Pembelajaran PAI di SD, JURNAL QATHRUNA. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2015, hal.134-135

(30)

Penyediaan alat peraga pendidikan agama Islam berkaitan dengan media pembelajaran yang merupakan bagian integraldalam sistem pembelajaran seperti media cetak, media pembelajaran elektronik, dan sebagainya. Media cetak seperti buku, bulletin, jurnal, koran, majalah, dan sebagainya yang berkaitan langsung dengan materi pendidikan agama Islam atau materi pelajaran yang sifatnya umum. Media elektronik adalah komputer (seperti internet), film, televisi, VCD/DVD, radio, kaset, dan sebagainya. Dari media elektornik ini yang dimanfaatkan adalah berupa program-programnya yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam.

Media pembelajaran lainnya yang sangat konvensional tetapi sangat penting adalah buku pedoman guru. Buku pedoman guru untuk membantu guru mencapai tujuan pembelajaran yang digunakan baik untuk menyusun silabus maupun menyusun buku yang digunakan oleh guru dalam mengajar, sehingga ketika menyusun silabus akan terhindar dari kesalahan konsep.

Buku pedoman guru sangat penting sebagai pedoman untuk menetukan standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi pembelajaran. Materi pembelajaran pada buku kurikulum hanya pokok-pokok materi pembelajaran, sehingga tugas gurulah untuk aktif dan kreatif mengembangkan materi pembelajaran tersebut.32

d. Waktu yang digunakan

Dalam sistem pendidikan kita kurikulum dibagi dalam bahan yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertntu, misalnya untuk satu

32 Nandang Kosim, Pengembangan dan Aplikasi Pembelajaran PAI di SD, JURNAL QATHRUNA. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2015, hal.135-136

(31)

semester atau satu tahun. Guru dapat menguraikannya menjadi tugas bulanan dan mingguan. Maksudnya ialah agar bahan yang sama dikuasai oleh semua murid dalam jangka waktu yang sama. Dapat dipahami bahwa waktu yang sama untuk bahan yang sama tidak akan sesuai bagi semua murid terkait dengan perbedaan individual. Bagi murid yang pandai waktu tiu mungkin terlampau lama, sedangkan untuk murid yang tak begitu pandai waktu itu mungkin tidak cukup. Perlu kiranya diselidiki hingga manakah dapat dipertinggi efisiensi belajar anak. Sebelum pembelajaran dilaksanakan di kelas guru agama Islam menyusun rencana pembelajaran yang dilakukan secara bersama dalam kelompok kerja guru agama Islam.

e. Evaluasi Pembelajaran

Mengenai evaluasi pendidikan agama Islam ini terkadang terjadi hal- hal yang diluar dugaan. Misalnya ada peserta didik yang jarang sekolah, malas dan merasa terpaksa mengikuti pelajaran agama, tetapi ketika di evaluasi dia mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang rajin belajar agama. Artinya yang salah itu adalah evaluasinya karena yang dilakukan hanyalah mengukur aspek kognitifnya saja. Oleh karena itu evaluasi pendidikan agama Islam jangan hanya mengandalkan evaluasi kemampuan kognitif saja, tetapi harus dievaluasi juga sikap (afektif) dan praktek atau keterampilan (psikomotor). Guru melakukan pengamatan terhadap perilaku sehari-hari peserta didik tersebut apakh peserta didik itu sholat? Kalau dilaksanakan apakah sholatnya benar sesuai tata caranya? Evaluasi ini sebetulnya bisa menentukan status peserta

(32)

didik tentang hasil belajarnya itu apakah sudah mencapai tujuan yang ingin dicapai atau tidak.

Kalau tujuan pendidikan agama itu adalah supaya peserta didik bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka evaluasinya harus sesuai, dan evaluasinya itu bukan hanya hafal tentang kaidah-kaidah terkait kemampuan kognitif saja tetapi juga yang bersifat praktikal. Ujiannya jangan sekedar mengukur kemampuan kognitif melainkan juga kemampuan yang bersifat psikomotor, praktek dan perilaku, serta sikap peserta didik sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam.33

4. Fungsi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar

Pembelajaran pendidikan agama Islam mempunyai fungsi sebagai media untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, serta sebagai wahana pengembangan sikap keagamaan dengan mengamalkan apa yang telah didapat dari proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Sebagai sebuah mata pelajaran di sekolah, pengajaran agama Islam mempunyai tiga fungsi yaitu;

Pertama, menanamtumbuhkan rasa keimanan yang kuat. Kedua, menanamkembangkan kebiasaan (habit vorming) dalam melakukan amal ibadah, amal saleh dan akhlak mulia. Ketiga, menumbuh kembangkan semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugrah Allah SWT kepada manusia.34

33 Nandang Kosim, Pengembangan dan Aplikasi Pembelajaran PAI di SD, JURNAL QATHRUNA. Vol. 2 No. 2, Juli-Desember 2015, hal.137-138

34 Zakiah Dradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal.172

(33)

Beberapa hal tentang fungsi pembelajaran pendidikan agama Islam dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang ditanamkan dan ditunjang oleh pendidikan keluarga.

b. Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional.

c. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan fisik mupun lingkungan sosial dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan sesuai dengan ajaran agama Islam.

d. Pembiasaan, melatih peserta didik untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik.

Disamping fungsi-fungsi tersebut, hal yang sangat perlu diingatkan bahwa pendidikan agama Islam merupakan sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.35

B. Pembelajaran Secara Daring

Pandemi COVID-19 (corona virus disease 2019) pertama muncul di akhir tahun 2019 tepatnya di Wuhan, China. COVID-19 merupakan sebuah virus yang penularannya sangat cepat dan sulit untuk mengetahui ciri-ciri orang yang sudah terjangkit virus ini karena masa inkubasinya kurang lebih selama 14 hari. Hampir seluruh negara mengalami dampak pandemi ini, hingga banyak negara-negara

35 Zakiah Dradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal.172

(34)

yang menetapkan status lockdown dan antisispasi lainnya guna memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19. Akibat dari kebijakan tersebut sektor pendidikan terkena dampak langsung dari pandemi ini, yaitu berupa sekolah-sekolah ditutup dengan tujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Meskipun sekolah ditutup namun kegiatan belajar mengajar atau proses pembelajaran tidak berhenti, berdasarkan surat edaran menteri pendidikan dan kebudayaan bahwa seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan dengan sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) di rumah. Jadi daring merupakan singakatan dari dalam jaringan yang bisa diartikan dengan terhubung melalui jejaring komputer, internet dan sebagainya.36

Pembelajaran daring merupakan sebuah pembelajaran yang dilakukan dalam jarak jauh melalui media berupa internet dan alat penunjang lainnya seperti telepon seluler dan komputer. Pembelajaran daring sangat berbeda dengan pembelajaran seperti biasa. Pembelajaran daring lebih menekankan pada ketelitian dan kejelian peserta didik dalam menerima dan mengolah informasi yang disajikan secara online. Selama pembelajaran daring berlangsung banyak orang tua yang mengeluhkan beberapa masalah yang dihadapi selama peserta didik belajar dirumah, diantaranya terlalu banyak tugas yang diberikan dan guru yang belum mengoptimalkan teknologi. Disamping banyaknya keluhan orang tua mengenai pembelajaran daring, namun ternyata pembelajaran daring juga memiliki beberapa kelebihan, meskipun tak bisa dipungkiri bahwa pembelajaran daring ini memiliki kekurangan.

36 Hilna Putria dkk, Analisis Prose Pembelajaran DARING Masa Pandemi COVID-19 Pada Guru Sekolah Dasar, JURNAL BASICEDU. Vol. 4 No. 4, 2020, hal. 863

(35)

Adapun beberapa kelebihan dari pembelajaran daring yaitu adanya keluwesan waktu dan tempat belajar , misalnya belajar dapat dilakukan di kamar, ruang tamu dan sebagainya serta waktu yang disesuaikan misalnya pagi, siang, sore atau malam. Kemudian dapat mengatasi permasalahan mengenai jarak, misalnya peserta didik tidak harus pergi ke sekolah dulu untuk belajar. Tidak ada batasan dan dapat mencakup area yang luas. Dan terakhir kelebihan dari pembelajaran daring adalah membangun suasana belajar baru, pembelajaran daring akan membawa suasana yang baru bagi peserta didik, yang biasanya belajar di kelas. Suasana yang baru tersebut dapat menumbuhkan antusias peserta didik dalam belajar.37

Adapun beberapa kekurangan yang terjadi pada pembelajaran daring yaitu anak sulit untuk fokus pada pembelajaran karena suasana rumah yang kurang kondusif. Keterbatasan kuota internet atau paket internet atau wifi yang menjadi penghubung dalam pembelajaran daring serta adanya gangguan dari beberapa hal lain salah satunya seperti gangguang jaringan dan lain sebagainya. Pembelajaran daring juga mengakibatkan kurangnya interkasi antara guru dan siswa bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajara mengajar. Pembelajaran daring yang dilaksanakan saat ini menjadi hal baru yang dirasakan oleh guru maupun peserta didik.38

C. Problematika Pembelajaran 1. Pengertian Problematika

37 Hilna Putria dkk, Analisis Prose Pembelajaran DARING Masa Pandemi COVID-19 Pada Guru Sekolah Dasar, JURNAL BASICEDU. Vol. 4 No. 4, 2020, hal. 863-864

38 Hilna Putria dkk, Analisis Prose Pembelajaran DARING Masa Pandemi COVID-19 Pada Guru Sekolah Dasar, JURNAL BASICEDU. Vol. 4 No. 4, 2020, hal. 864

(36)

Problematika berasal dari kata problem yang diartikan dengan “sesuatu yang masih menimbulkan masalah atau masih belum dapat dikerjakan”. Dapat dipahami bahwa problematika adalah suatu persoalan atau masalahyang belum terselesaikan dan mengganggu suatu aktivitas. Problematika mempunyai pengertian sebagai hal-hal yang menimbulkan masalah yang belum bisa terpecahkan/permasalahan.

Menurut Kartini Kartono terdapat dua jenis problematika yang diketahui, yaitu problematika sederhana dan problematika sulit. Keduap problematika tersebut dapat dibedakan berdasarkan ciri-cirinya, jangkauannya dan cara mengatasinya, yakni:

a. Problematika Sederhana

Problematika sederhana memiliki ciri skala kecil, problematika ini tidak memiliki sangkut paut dengan problematika lain, tidak memiliki konsekuensi yang besar, pemecahan masalah tidak memerlukan pemikiran yang luas dan mendalam dan bisa diselesaikan secara individu. Teknik pemecahan masalah pada problematika ini bisa dilakukan dari pengalaman, intuisi dan kebiasaan pada diri seseorang.

b. Problematika Sulit

Problematika sulit atau kompleks memiliki skala besar, yaitu memiliki kaitan erat dengan problematika lainnya, memiliki konsekuensi yang besar, dan pemecahan problematika ini memerlukan pemikiran keras atau analisis yang tajam. Problematika sulit terbagi menjadi dua jenis, yaitu terstruktur dan tidak terstruktur. Problematika terstruktur adalah problematika yang

(37)

jelas penyebabnya, rutin dan sering terjadi sehingga pemecahannya sudah dapat diprediksi. Problematika tidak terstruktur adalah problematika yang tidak jelas penyebab dan konsekuensinya, serta bukan problematika yang sering berulang.39

Bila dikaitkan dengan pendidikan agama Islam, maka problematika pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah belum semuanya memenuhi harapan umat Islam, terutama PAI di sekolah-sekolah umum. Mengingat kondisi dan kendala yang dihadapi, maka diperlukan pedoman dan pegangan dalam membina pendidikan agama Islam.

2. Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam banyak sekali permasalahan yang dihadapi yang seringkali permasalahan tersebut menjadi hambatan untuk mencapai tujuan secara maksimal, problematika tersebut terdiri dari berbagai aspek yang menjadi problem-problem dalam pendidikan, yaitu sebagai berikut:40

a. Problem Pada Peserta Didik

Sebagaimana peserta didik adalah pihak yang hendak disipakan untuk mencapai tujuan, dalam arti yang dibimbing, diajari dan atau dilatih dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengmalan terhadap ajaran agama Islam. Maka problem yang ada pada anak didik perlu

39 Saprin Efendi dkk, Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 064025 Kecamatan Medan Tuntungan, EDU RILIGIA. Vol. 2 No. 2, April-Juni 2018, hal.268

40 Susiana, Problematika Pembelajaran PAI di SMKN 1 Turen, Jurnal Al-Thariqah. Vol.

2 No. 1, Juni 2017, hal. 74

(38)

diperhatikan untuk ditindaklanjuti dalam mengatasinya, sehingga tujuan dalam pendidikan itu dapat terealisasi dengan baik.

Adapun problem yang ada pada peserta didik adalah segala yang mengakibatkan adanya kelambanan dalam belajar. Dan hal tersebut merupakan problematika dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, antara lain:

1) Karakteristik Kelainan Psikologi

Fairuz Stone menjelaskan bahwa keseimbangan perkembangan anak yang tertinggal dalam belajarnya itu lebih sedikitd dibandingkan teman-temannya secara umum. Misalnya, mereka dikenal sebagai anak yang kurang pengindraannya, khusunya lemah pendengaran dan penglihatannya.

2) Karakter Kelainan Daya Pikir (Kognitif)

Kelainan yang satu ini dianggap yang paling banyak menimpa anak berkaitan dengan kegiatan belajar. Banyak teori para pakar yang menjelaskan adanya keterkaitan erat antara kecerdasan umumnya bagi anak dan tingkat keberhasilannya dalam belajar. Jika kita mengamati tingkat kecerdasan dari sisi lain, maka kita jumpai adanya perilaku yang menyebabkan adanya keterkaitan antara daya fikir dan anak yang lamban belajarnya, seperti lemahnya daya ingat hingga mudah melupakan materi yang baru dipelajari, lemah kemampuan berpikir jernih, tidak adanya kemampuan beradaptasi dengan temannya, rendah dibidang

(39)

kebahasaannya baik mufradat maupun dalam menyusun kalimat, dan cenderung lamban bicara.

Sebagaimana mereka hanya dapat meraih tingkat pencapaian yang rendah, mereka juga tidak dapat berkonsentrasi dalam waktu lama.

Sehingga kemampuan dalam penerapan suatu ilmu, pemilihan, dan analisisnya rendah. Terkadang mereka sulit berfikir secara rasional dan cenderung berdasarkan perkiraan. Istilah-istilah tersebut besar pengaruhnya terhadap proses kegiatan belajar anak.41

3) Karakter Kelainan Kemauan (Minat & Motivasi)

Kemauan dianggap sebagai tetapnya kekuatan yang stabil dan dinamis bagi perjalanan seseorang agar dapat mewujudkan tujuan tertentu dalam hidupnya. Kemauan juga berpengaruh besar dalam kegiatan belajar. Seseorang yang sudah tidak mempunyai motivasi dalam melakukan pembelajaran maka dia akan mengalami kejenuhan dan tidak ada gairah untuk bersungguh-sungguh. Sebagaimana pengertian motivasi sendiri yaitu, suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya.

Jika dikaitkan dengan masalah motivasi, dapat dikatakan bahwa tindakan seseorang sangat tergantung pada antisipasi atau ekspektasi seseorang terhadap rangsangan yang dihadapinya. Antisipasi yang positif terhadap rangsangan akan menimbulkan reaksi mendekat, sedangkan

41 Susiana, Problematika Pembelajaran PAI di SMKN 1 Turen, Jurnal Al-Thariqah. Vol.

2 No. 1, Juni 2017, hal.74-75

(40)

antisipasi negatif terhadap suatu rangsangan akan menimbulkan rekasi menjauh. Suatu objek atau rangsangan yang diduga akan menimbulkan rasa nikmat atau enak akan menimbulkan reaksi mendekat.

4) Karakter Kelainan Interaksi (Emosional) dan Sosial

Teori yang menjelaskan bahwa menjalarnya perilaku interaksi (emosional) yang tidak disukai di antara anak-anak yang terjadi dalam lingkungan belajar dalam kelas meliputi rasa tidak senang, tidak adanya kecocokan antar siswa, adanya permusuhan, kebencian, marah, merusak, overacting, perkelahian, dan sebagainya.42 Bagi anak-anak yang tertinggal dalam proses pemahaman belajar, terkadang mereka menanggapinya dengan rasa kebencian, ketidaksukaan terhadap pelajaran tersebut dan merasa berkecil hati serta merasa terkucilkan oleh teman di sekitar sekelilingnya.

b. Problem Pada Pendidik

Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan disekolah, pendidik memegang peranan yang paling utama. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 151:

اَهَك م ك ه لَع يَو ۡم كي كَز يَو اَي تََٰياَء ۡم كۡيَلَع ْاو لۡتَي ۡم كي ن الٗو سَر ۡم كي ف اَيۡلَسۡرَأ َبَٰ َت كۡلٱ

َو َةَهۡك لۡٱ ۡ َنو هَلۡعَت ْاو ىو كَت ۡمَل اَّن م ك ه لَع يَو

١٥١

Artinya: Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami,

42 Susiana, Problematika Pembelajaran PAI di SMKN 1 Turen, Jurnal Al-Thariqah. Vol.

2 No. 1, Juni 2017, hal.75-76

(41)

menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur‟an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.43

Ayat ini menerangkan bahwa seorang pendidik adalah pewaris Nabi yang mempunyai peranan penting dalam merubah dinamika kehidupan primitif menuju kehidupan madani. Pendidik dalam Islam juga dikatakan sebagai siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik.

Pendidik dalam pendidikan agama Islam dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seseorang dikatakan profesional ketika pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model yang sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada masa zamannya. Pendidik dalam sekolah yang biasa disebut dengan sebutan guru. Guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Para pakar menyatakan bahwa, betapapun bagusnya sebuah kurikulum hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru di luar maupun di dalam kelas.

Kualitas pembelajaran yang sesuai dengan rambu-rambu PAI dipengaruhi pula oleh sikap guru yang kreatif untuk memilih dan melaksanakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran yang relevan

43 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung:

WALI, 2012), hal.23

Referensi

Dokumen terkait

pembiayaan yang mungkin timbul. Dengan menjalankan prinsif 5C menandakan bahwa Bank Syari’ah sudah melaksanakan prinsif kehati -hatian. Jika ditinjau dari Ekonomi Islam

Hasil penelitian dapat disimpulkan kebijakan hukum agraia yang terbentuk melalui UUPA No.5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Hukum Agrari itu dibentuk dengan tujuan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986, Sediaan Galenik, Jakarta: Departemen Kesehatan Indonesia Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005, Pharmaceutical Care

Penyelesaian sengketa pembatasan wilayah Kashmir menurut hukum internasional adalah memutuskan PBB untuk mencoba pendekatan baru yaitu dengan mengirimkan perwakilan

Sebagaimana teori semiotik Roland Barthes yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti mengambil keseluruhan lirik lagu Mafia Hukum karya Grup Band Navicula

Berbeda sebagai seseorang pribadi tidak menyangkutkan jabatan Notaris tersebut dipailitkan maka akibat hukum yang timbul adalah sebagaimana diatur di dalam UUK Nomor 37 Tahun

Data g ambar yang diterima oleh client adalah data string yang ditangkap prosedur even DataArrival pada Winsock. String yang ditangkap pada even ini bukanlah strin g