BAB II LANDASAN TEORI
1. DEFINISI
Banyak ahli-ahli pada industri konstruksi memberikan defmisi VE, maka beberapa dari mereka mendifmisikan VE sebagai pengurangan biaya konstruksi.
Beberapa mendifinisikan sebagai perubahan perencanaan untuk mengurangi biaya, tetapi semua itu adalah defmisi yang tidak tepat.
Berbagai defmisi yang benar telah dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
- Pendekatan kreatif yang terorganisir untuk mengoptimalkan biaya dan atau kualitas sebuah fasilitas dari suatu sistim (Dell’ Isola, 1982).
- Prosedur yang sistimatis untuk mencapai fungsi yang diperlukan dengan biaya yang minimum tanpa mengurangi kualitas suatu produk/perencanaan (Crum, 1971).
- Pengendalian dan evaluasi yang sistimatis terhadap biaya yang berhubungan dengan penghematan (Macedo et al, 1978).
- Penerapan yang sistimatis dengan mengidentifikasikan fungsi, dan mencapai fungsi yang diperlukan dengan biaya yang terendah yang mungkin untuk dicapai (Green and Popper, 1990).
- Pendekatan sistimatis melalui Tim dari banyak disiplin ilmu untuk menganalisa proyek untuk mencapai nilai terbaik pada overall life cycle project cost yang paling rendah (Norton and McElligot, 1995).
Beberapa defmisi telah dipaparkan di atas, mungkin masih ada defmisi yang lain, namun dari defmisi-defmisi yang ada bisa ditemui karakteristik
berkumpul bersama didalam sebuah pertemuan untuk menganalisa proyek, pendekatan yang sistimatis dengan melakukan penekanan pada nilai' dan fungsi serta melakukan peninjauan biaya konstruksi dan life cycle costs.
VE b u kan;
- Perabahan perencanaan: bukan mengoreksi kesalahan perencanaan, bukan untuk menghitung ulang perhitungan yang telah dilakukan oleh Perencana.
- Pencarian alternatif yang murah untuk mengurangi biaya dengan menurunkan kualitas.
- Pengharusan untuk dilakukan dalam semua perencanaan, tetapi memerlukan sebuah biaya resmi dan merupakan analisa fungsi.
- Pengendalian kualitas.
- Life Cycle Costing, perencanaan biaya, rekayasa biaya, manaj emen proyek, jaminan kualitas, audit proyek (As Barton, 1991).
2. FILOSOFI VE
Filosofi VE didasarkan pada dasar pemikiran bahwa biaya yang tidak perlu selalu ada pada sebuah perencanaan fasilitas yang kompleks. Oleh karena itu, jika biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan ditiadakan, maka akan dicapai penghematan biaya tanpa mengurangi fungsi (Zimmerman and Hart, 1982).
Tujuan utama VE adalah untuk mengidentifikasi dan meniadakan biaya yang tidak perlu. Oleh karena itu untuk memahami filosofi VE, maka hams memahami arti biaya yang tidak perlu. Beberapa arti dari “ biaya yang tidak perlu” dapat didefmisikan sebagai berikut:
- Biaya yang tidak memberi kontribusi berarti kepada pertambahan nilai dari suatu produk (Mudge, 1989).
- Biaya yang tidak memberi nilai tambah dari suatu produk atau biaya yang tidak penting untuk mencapai fungsi-fungsi yang khusus (Crum , 1971).
- Biaya yang tidak memberi peningkatan kualitas, kegunaan terhadap kelengkapan kebutuhan konsumen (Miles, 1972).
- Biaya yang tidak perlu yang terdapat pada banyak perencanaan yang merupakan biaya tambahan bila dibandingkan dengan perencanaan yang lebih hemat yang tetap mencapai fungsi yang sama, penyebabnya antara lain : rencana-rencana yang tidak perlu, bahan-bahan mahal yang tidak perlu, kesulitan di dalam pengerjaann^a (Green and Popper, 1990).
Di dalam uraian diatas, maka dapat dijabarkan beberapa hal sebagai berikut:
- Penggunaan hubungan kegunaan dari komponen. Kegunaan diukur oleh tingkat pemenuhan kebutuhan dari fiingsi.
- Penetapan umur dari komponen harus seimbang dengan umur keseluruhan, sehingga sebuah komponen tidak mempunyai umur yang berlebihan yang mengakibatkan biaya yang tidak perlu.
- Pemahaman kualitas adalah fungsi yang subyektif, tetapi perasaan terhadap kualitas yang baik harus dipertahankan. Filosofi VE adalah mengurangi biaya tanpa mengurangi kualitas.
- Penampilan dari sebuah produk sering menjadi salah satu keistimewaan yang sangat penting bagi konsumen.
- Pemberian sesuatu yang istimewa bagi konsumen membuat mudah untuk terjual.
perubahan VE. Zimmerman dan Hart (1982) mendefinisikan sebagai berikut:
3.1. Fungsi
Fungsi adalah tujuan dasar dari sebuah elemen, dapat juga menjadi karakteristik yang membuat sebuah elemen bermanfaat/berguna atau membuat terjual. Fungsi dapat dinyatakan dalam dua bentuk kata, yaitu kata kerja dan kata benda. Contoh mendefinisikan fungsi dari sebuah komponen dapat dilihat pada tabel 2.1.
label 2.1. Definisi fungsi.
K ata benda K ata kerja
Kabel listrik Mengalirkan listrik
Pipa air Mengalirkan air
Pengolahan air limbah Menjemihkan air
Jembatan Mengatasi rintangan
Pondasi Meneruskan beban
Fungsi sebuah elemen dapat didefinisikan menjadi fungsi primer dan fungsi sekunder, dimana fungsi primer merupakan pekerjaan yang spesifik atau tujuan proyek hams dilengkapi, sedangkan fungsi sekunder mendukung fungsi yang mungkin dibutuhkan tetapi tidak melakukan pekeijaan yang sebenamya (utama). Misalnya dalam merencanakan kabel listrik dengan adanya fimgsi primer adalah mengalirkan listrik, maka untuk kabel listrik harus cukup aman untuk mengalirkan listrik.
3.2. Nilai
Nilai adalah hubungan antara harga dengan nilai yang dinyatakan oleh pemilik berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan sumber-sumber di dalam situasi yang ada. Beberapa jenis dari nilai adalah Nilai pakai, Nilai estetik, Nilai tukar, Nilai biaya. Nilai pakai dapat diberikan contoh pada gedung bertingkat, maka pondasi tiang pancang berfungsi untuk menahan atau meneruskan beban keselumhan, sekaligus juga berguna untuk mengurangi/meniadakan penurunan. Nilai estetika merupakan biaya yang dikeluarkan untuk penampilan, kebanggan atau sesuatu yang monumental. Nilai tukar sering terjadi satu jenis bahan menjadi mahal karena antara penyaluran dan kebutuhan pasar tidak seimbang sehingga perlu dipikirkan altematif penggantian bahan tersebut sehingga dapat terjadi penghematan. Yang terakhir adalah nilai biaya yang merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk bagian dari sistim yang dibutuhkan untuk memproduksi keseluruhan sistim, misalnya pengecoran plat beton diperlukan untuk memasang pipa-pipa untuk kabel listrik, ini adalah biaya yang harus dikeluarkan, bila hal ini dilalaikan maka akan terjadi pemborosan biaya.
3.3. Istilah yang Berhubungan dengan VE
Istilah Value Engineering (VE), Value Analysis (VA), Value Management (VM), adalah istilah-istilah yang sering membuat rancu.
Meskipun pengetahuan VE, VA, VM berbeda defmisi dan arti, tetapi untuk penelitian ini digunakan istilah VE untuk ketiga istilah tersebut diatas.
Hal ini untuk menyederhanakan dan istilah VE lebih populer di Indonesia.
Dibawah ini diberikan definisi yang berbeda yang sering membuat rancu dari ketiga istilah diatas.
• VE : Studi nilai pada suatu proyek yang sedang dikembangkan, anaiisa dilakukan pada proyek yang sedang direncanakan.
• VA : Studi nilai pada suatu proyek yang sedang dibangun (telah direncanakan), anaiisa biaya dilakukan untuk mendapatkan bagian yang dapat dirubah untuk penghematan.
• VM : Menetapkanmetode dan teknik yang digunakan pada pekerjaan nilai, tetapi tidak membedakan antara rekayasa suatu bangunan atau fasilitas dengan anaiisa suatu produk, VM dipakai untuk seluruh bidang nilai.
4. MANFAAT VE
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa VE dapat membantu mendapatkan biaya proyek yang lebih rendah tanpa mengurangi kualitas. Hal lain yang penting VE adalah pendekatan yang berorientasi pada tim, sehingga dapat mencapai suatu sinergi yang pada akhimya mendapat suatu hasil kerja yang efektif. Sebagai bagian dari manfaat VE, maka beberapa ahli menyebutkan manfaat sebagai berikut:
- Peningkatan perencanaan yang lebih efisien karena ada forum diskusi, forum evaluasi untuk pihak-pihak yang terlibat sebelum proyek dilaksanakan.
Melalui forum-forum tersebut maka dapat dipertimbangkan life cycle costs, penerapan dengan teliti project’s brief serta teridentifikasinya hambatan- hambatan proyek dan meniadakan masalah-masalah yang mungkin dihadapi sebagai hambatan. (Norton and McElligott, 1995)
11
- Proses yang sangat efektif yang menghasilkan penghematan biaya secara langsung sebagai tambahan dari banyak. manfaat yang lain seperti sistim dan prosedur yang ditingkatkan. Manfaat lain meliputi kualitas yang layak, respon dari prioritas pemilik, penyediaan kesepakatan imtuk pemilik secara resmi ikut serta dalam kunci perencanaan dan keputusannya lebih lanjut akan dihasilkan manfaat selama studi value, yaitu memungkinkan mengidentifikasi resiko-resiko dan mengembangkan strategi untuk mengelola resiko-resiko tersebut. (Barton, 1991)
- Manfaat lain yang didapat adalah bertambahnya komunikasi diantara mereka yang berhubungan dengan masalah. Kekurangan komunikasi merupakan masalah besar yang harus dihadapi. Hubungan diantara pihak- pihak yang terlibat untuk berkomunikasi menghadapi dan menyelesaikan masalah sangat dimungkinkan teijadi dengan efektif didalam studi VE yang dilakukan. (Anderson, 1993).
5. PELAKSANAAN VE
Di dalam melaksanakan VE secara efektif dan efisien dibutuhkan metodologi standart. The Job Plan dibuat untuk maksud tersebut. Di dalam perkembangan lebih lanjut maka dibuat metodologi pendekatan oleh para ahli yang akan dibahas pada 5.2.
5.1. The Job Plan
Ada beberapa versi the jo b plan. Prosedurnya adalah sama.
Tabel 2.2. menunjukkan perbandingan the jo b plan versi US/EPA, The Five Phase Job Plan, dan General Service Administration (GSA).
Pada pembahasan ini, akan digunakan The Five-Phase Job Plan untuk menggambarkan prosedur, sebagai berikut:
Job P la n :
(Tahap Informasi) (Tahap Kreatif) (Tahap Analisa)
(Tahap Pengembangan) - Information Phase
- Creative Phase - Judgement Phase - Development Phase
- Recommendation Phase (Tahap Presentasi)
Tabel 2.2. Kerangka Kerja VE
EPA-Six-phase Job Plan 1. Information Phase 2. Creative Phase 3. Analytical Phase 4. Investigation Phase 5. Recommendation Phase 6. Implementation Phase Standart-Five Phase Job Plan 1. Information Phase 2. Creative Phase 3. Judgment Phase 4. Development Phase 5. Recommendation Phase GSA Job Plan-Eight-Phase Job Plan 1. Information Phase
2. Functional Analysis 3. Creative Phase 4. Judgment Phase 5. Development Phase 6. Presentation Phase 7. Implementation Phase 8. Follow-up
13
5.1.1. Tahap Informasi
Tahap ini meliputi pendefinisian dari proyek, latar belakang informasi yang mendasari dari perencanaan proyek, pembatasan- pembatasan dan biaya-biaya yang sensitif di dalam kepemilikan dan pengoperasian. Tujuan dari tahap ini untuk tim VE adalah mendapatkan informasi dan pengetahuan sebanyak mungkin untuk perencanaan proyek. Beberapa informasi secara rinci yang hams diperhatikan sebagai berikut:
- Batasan proyek (Project Constraints ).
• Peraturan pemerintah
• Kapasitas perencanaan proyek
• Batas anggaran biaya
• Kualitas konstruksi dan tingkat kenyamanan
• Arsitektur untuk menyesuaikan keadaan sekitamya - Informasi yang dibutuhkan dari perencana dan pemilik.
Beberapa informasi dibutuhkan untuk menjadi patokan bagi studi VE. Beberapa bidang yang penting sebagai berikut:
• Kriteria perencanaan (sistim yang dibutuhkan).
• Kondisi tanah
• Peraturan pemerintah
• Elem en dari perencanaan (bagian-bagian proses, komponen-komponen konstruksi).
• Sejarah dari proyek.
• Utilitas yang diperlukan.
• Dampak bagi lingkungan.
• Perhitungan perencanaan.
Kunjungan ke Lokasi
Kunjungan ke lokasi sangat membantu tim VE untuk melihat lebih nyata. Dengan melihat kenyataan lokasi maka pekeijaan akan lebih akurat.
Analisa Biaya
Cost model digunakan sebagai metode untuk mengetahui biaya tiap-tiap bidang, juga digunakan untuk menentukan bidang yang paling tinggi biayanya dalam perencanaan. Sedangkan untuk mengetahui bidang yang paling tinggi biayanya (high cost area) digunakan Pareto’s Law pada gambar 2.1., dimana 80% dari biaya secara normal didapati pada 20% item.
Sehingga untuk m enghem at w aktu studi VE dapat dikonsentrasikan pada 20% item tersebut yang merupakan high cost area.
Gambar 2.1. Pareto’s Law o f Distribution
N um ber o f constituents (%)
15
- Analisa Fungsi
Analisa fungsi pada proyek digunakan untuk mengidentifi- kasikan apa yang coba dikeijakan dan juga mengidentifi- kasikan biaya yang berkaitan. Tujuan analisa fungsi adalah mendefinisikan dengan jelas pekeijaan dan kebutuhan dari pfoyek. Analisa fungsi adalah landasan dari VE. Definisi terbaik yang dapat diberikan adalah analisa fungsi membantu untuk mengidentifikasikan apa yang betul-betul diinginkan untuk dikeij akan dan berapa biaya yang hams dikeluarkannya.
5.1.2. TahapKreatif
Pada tahap ini dilakukan identifikasi sejumlah alternatif : ide-ide baru, perencanaan-perencanaan bam, bahan-bahan bam dan metode konstruksi. Pada tahap ini dilakukan dengan teknik brainstorming : informasi disampaikan secara bebas, tidak ada hambatan, tidak ada batasan, secara spontan, semuanya dengan
anggapan tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.
5.1.3. Tahap Analisa
Tahap ini m engevaluasi a lte rn a tif-a lte rn a tif untuk menentukan yang terbaik. Pada tahap ini dianalisa secara analisa ekonomi teknik, analisa life-cycle costing, dan menggunakan matrik evaluasi.
5.1.4. Tahap Pengembangan
Tahap ini akan membuat perbandingan perencanaan, membuat sketsa perencanaaan asli dan perencanaan yang diajukan, memberikan gambaran atas apa yang diajukan den'gan uraian meliputi hal apa saja, memberikan perbandingan analisa life-cycle cost, dan memberi kesempatan untuk mendiskusikan keuntungan dan kerugian.
5.1.5. Tahap Presentasi
Tujuan dari tahap ini adalah mempresentasikan hasil VE kepada pemilik. Green dan Popper (1990) menggambarkan bahwa tahap ini paling penting, karena komunikasi yang kurang baik akan merupakan hambatan terhadap respon dari tim perencana.
Tugas utama dari tim VE adalah untuk mengkomimikasi- kan kepada pemilik dan tim perencana melalui presentasi resmi dan laporan tertulis yang terperinci. Keberhasilan tahap ini banyak tergantung pada keahlian mempresentasikan untuk mencapai pesan-pesan yang benar.
5.2. Pendekatan Pelaksanaan VE
Di dalam perkembangan pelaksanaan VE metode keija VE telah dikembangkan dengan cara-cara pendekatan didalam pelaksanaaimya.
Berikut ini akan dibahas pendekatan-pendekatan yang diterapkan dibeberapa negara.
17
The 40 Hour Workshop
Pendekatan ini paling sering diterapkan dalam pelaksanaan VE, seperti yang didefmisikan oleh Kelly dan Male (1988), pendekatan ini meliputi evaluasi dari pra rencana (sketch design) oleh tim perencana kedua yang didalamnya dipimpin oleh value manager selama 1 minggu. Keselumhan proses yang digambarkan oleh Kelly dan Male (1988) dapat diringkas pada Tabel 2.3.
label 2.3. 40 jam Proses VE (Kelly and Male, 1988)
Monday Morning - Phase 1 (information) Client and design team architect present scope o f project to VM team
Monday Afternoon -Phase 2 (Creativity) Brainstorming session to search fo r alternatives
Tuesday Morning Creativity Continues
Tuesday Afternoon - Phase 3 (Evaluation) Selection o f best ideas from Phase 2 Wednesday - Phase 4 (Development) Best ideas from Phase 3 developed into
feasible cost technical alternatives
Thursday Development Continues
Friday Morning Selection o f optimum cost technical alternatives
Friday Afternoon - Phase 5 (Presentation) Above altenatives presented to client and design team architect
VM team disperses
- The Charette
Metode ini dinamakan demikian setelah ahli VE Bob Charette merumuskan arahan pemilik melalui identifikasi fimgsi dari ruang yang direncanakan. (Kelly and Poynter - Brown, 1990).
Pendekatan ini dilakukan pada akhir perumusan arahan pemilik (setelah tim perencana ditunjuk tetapi sebelum perencanaan dimulai).
Koordinator tim VE memimpin tim perencana dan pem ilik melaksanakan VE selama satu atau dua.hari pertemuan.
The Contractor’s Change Proposal
VE dapat pula dilakukan atas inisiatif kontraktor yaitu kontraktor mengusulkan pembahan desain setelah proses pelelangan atau pada tahap konstruksi juga sering disebut dengan VECP (Value Engineering Change Proposal). Dalam hal ini kontraktor mengajukan proposal atas hasil studi VEnya beserta penghematan biaya yang telah dicapai kepada Pemilik. Hal ini juga terdapat pada peraturan VE di Indonesia yang akan dibahas pada item 8.
P enghem atan biaya sebagai hasil ja s a k o ntraktor, m aka penghematan yang didapat akan diberikan sebagian kepada kontraktor. Pendekatan ini terbatas untuk menggunakan kreatifitas karena desain telah lengkap, tetapi efektif penghematan yang berkaitan dengan aspek-aspek teknis pelaksanaan. Tetapi pendekatan ini perlu waktu lagi, sehingga waktu pelaksanaan menjadi mundur.
Japanese 3 Hour Compact VE Program
Sehubungan dengan hambatan waktu, maka The Society o f Japanese VE telah mengembangkan program VE 3 jam. Pendekatan ini dilakukan dalam lingkup operasional lapangan dan cocok untuk proyek yang tidak terlalu besar, sehingga biaya VE rendah.
19
Dari the job plan dan pendekatan-pendekatan diatas, maka yang paling berguna adalah pendekatan yang fleksibel, yang ditentukan secara kliusus tergantungjenis proyeknya. Tabel 2.4. memberikan perbandingan dari pendekatan-pendekatan VE diatas.
Tabel 2.4. Pendekatan-pendekatan VE
VM approach Duration o f study Time o f study 40 hour workshop 5 days, 40 hours after sketch design
Charette 2 - 3 days briefing stage
Japanese compact study 3 hours site operation
Contractor s change proposal not regular site operation
6. POTENSI VE
VE sangat berguna untuk mencapai penghematan tanpa mengurangi fungsi. Pada penerapannya perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini supaya VE berpotensi untuk digunakan.
6.1. Ciri-ciri Proyek yang Berpotensi VE
Tidaksemuaproyek berpotensi untuk dilakukanVE. Ketikastudi VE dilakukan, maka akan memerlukan waktu dan biaya untuk aktifitas VE. Barton dan Knott (1996) mengusulkan beberapa kunci indikasi yang mungkin digunakan oleh manajer untuk menentukan perlu/tidak dilakukan VE, adalah antara lain mempunyai potensi penghematan;
percepatan proyek; kompleks, biaya tinggi atau proyek-proyek inovasi.
6.2. Potensi VE pada Tahapan Proyek Konstruksi
Penghematan biaya paling maximum dapat berpotensi bila VE dilakukan pada awal tahap perencanaan yaitu pada tahap konseptual (penimusan dari arahan pemilik/10% perencanaan) kemudian disusul dengan pelaksanaan gambar (35% perencanaan) dan selama proses konstruksi. Tahap-tahap penghematan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2. oleh Kelly dan Male (1988).
Gambar 2.2. Presentasi sederhana kesem patan untuk m erubah perencanaan (Kelly and Male, 1988)
7. TIM VE
■Potensi VE didapati pada proyek yang kompleks, maka tim yang menangani harus ahli dan berpengalaman. Tim yang terlibat dari banyak disiplin ilmu dalam keahlian sesuai dengan kebutuhan proyek yang ditangani (Green and Popper, 1990).
Tim VE yang terlibat pada bangunan bertingkat tinggi disesuaikan dengan kebutuhannya. Beberapa studi kasus menunjukkan para ahli yang terlibat sebagai berikut:
21
- Studi kasus : Bangunan Engineering Management (Zimmerman and Hart, 1982) peran ahli yang terlibat: VE Specialist, Ahli Struktur, Arsitek, Me
chanical Engineering, Ahli Sipil, Ahli Listrik.
- Studi kasus : Bangiinan Rumah Sakit (Male, 1993) peran ahli yang terlibat:
VE Specialist, Quantity Surveyor, Arsitek, Wakil Kontraktor, Ahli Listrik, Mechanical Engineering, AhU Struktur, Building Services Engineer
8. PERATURAN VE DI INDONESIA
Perkembangan VE di Indonesia di dukung oleh pemerintah dengan dikeluarkarmya peraturan pemerintah melalui keputusan Dirjen Cipta Karya No. 023/KPTS/CK/1992 tanggal 1 April 1992 dan keputusan Dirjen Cipta KaryaNo. 295/KPTS/CK/1997 tanggal 1 April 1997. Padadasamyakeputusan tersebut pada tahap perencanaan dan pada tahap setelah pelelangan, sebagai berikut:
8.1. Tahap Perencanaan
“ Untuk pekerjaan pembangunan dengan luas diatas 1.200 m^ atau diatas 8 lantai, konsultan perencana diwajibkan pada tahap perencanaan menyelenggarakan paket kegiatan loka karya VE selama 40 jam secara in-house. “
8.2. Tahap Setelah Pelelangan
“ Untuk pekerjaan yang berdasarkan penetapan dari Pemimpin Proyek pada waktu pelelangan dapat menggunakan metode VE menyusun
Value Engineering Change Proposal ( V ECP). “
9. BIAYA VE
Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa studi VE adalah orientasi kepada pendekatan tim, maka pelaksanaannya dibutuhkan biaya yang cukup besar.
Pembahasan biaya VE akan dipaparkan beberapa pendapat/penelitian dari para ahli juga yang terdapat pada keputusan Diijen Cipta Karya Indonesia. Biaya VE tersebut dipaparkan sebagai berikut; .
- Keputusan Dirjen Cipta Karya No. 295/KPTS/CK/1997 tanggal 1 April 1997.
Paket kegiatan loka karya VE selama 40 jam secara in house dilakukan pada proses perencanaan. Biaya penyelenggaraan loka karya, termasuk biaya keija sama dengan pemberi jasa keahlian VE merupakan bagian yang dimasukkan kedalam biaya konsultan perencana. Keputusan tersebut tidak menyebutkan besamya biaya.
- Keputusan Dirjen Cipta Karya No. 023/KPTS/CK/1992 tanggal 1 April 1992.
Biaya pelaksanaan VE dibebankan pada hasil penghematan biaya yang didapat (H) dari program kegiatan VE proyek yang bersangkutan, yang besamya adalah 20% dari H (penghematan yang di dapat).
- Biaya untuk workshop standard di Amerika Utara antara US $ 20.000 - $ 40.000 tergantung dari besar dan rumitnya proyek.
Biaya VE untuk proyek yang relatif kecil hams dibatasi, karena bila tidak dibatasi akan besar persentasenya terhadap biaya proyek keseluruhan.
Untuk menyesuaian tersebut dapat dilakukan The Shortened Study yang dapat hanya melibatkan 3 orang untuk 2 hari dengan 2 hari tambahan untuk
Value Engineer. (Kelly and Male, 1988)
23
- Beberapa contoh dari studi VE yang sukses pada Industri Konstruksi menghemat 5 - 20% dari biaya proyek, sedangkan biaya untuk jasa VE adalah maximum 10% dari penghematan. (Deirisola,1982)
- Biaya dari VE pada umumnya 1 % dari total biaya proyek sementara sebuah penerapan VE dapat dicapai penghematan 5-10% dari total biaya proyek.
(Norton and McElligott, 1995)
10. HAMBATAN - HAMBATAN PELAKSANAAN VE
Hambatan-hambatan yang sering ditemui dalam pelaksanaan VE telah diteliti oleh beberapa ahli, dalam penelitian tesebut didapati hambatan- hambatan pelaksanaan VE pada Industri Konstruksi di Hongkong adalah cara- cara lain lebih memadai dari metode VE, pengetahuan yang kurang untuk melaksanakan VE, waktu yang kurang, Pemilik dan pihak yang terlibat sulit untuk berubah, dan tidak percaya diri atau sulit untuk memperkenalkan pada Pemilik. Sedangkan hambatan-hambatan pelaksanaan VE pada Industri Konstruksi di Amerika Utara adalah butuh waktu terutama untuk proyek kecil sehingga penghematan yang dilakukan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan untuk melakukan VE, pemborosan waktu oleh tim perencana bila pada akhimya harus dirubah, perubahan-perubahan dirasa tidak perlu, dan waktu untuk merubah perencanaan tidak ada dalam j adwal perencanaan.
11. HUBUNGAN VE DENGAN PERKEMBANGAN KONSTRUKSI
Akhir-akhir ini beberapa hal mendapat perhatian cukup besar dari para peneliti dan praktisi. Beberapa hal tersebut adalah Constructability, Concurrent Engineering, Sustainable Construction, dan Performance. Dalam perkem- bangan tersebut maka penerapan VE perlu memperhatikan hal-hal tersebut.
11.1. Constructability
Constructability didefinisikan sebagai penggunaan secara optimal dari pengetahuan dan pengalaman konstruksi dalam perencanaan, pengadaan dan pelaksanaan di lapangan untuk mencapai tujuan proyek secara keseluruhan (Hanlon and Sanvido, 1995). Di dalam analisa Constructability diperhatikan pula kelayakm struktur bangunan, cara tennudah dan terefektif untuk membangunnya (Fischer, 1997). Suatu perencanaan Constructability harus merupakan bagian dari penyelesaian proyek secara terpadu atau perencanaan penerapan terpadu, yang mana mencakup organisasi proyek, prosedur operasi, penjadwalan, keuangan, strategi proyek menyeluruh, perencanaan kontrak atau subkontrak, perencanaan pengadaan, perencanaan konstruksi, dan mengidentifikasi- kan hambatan yang potensial, untuk tercapainya kesuksesan penyelesaian proyek (CM Comittee, 1991). Fokus Constructability adalah pada optimisasi keseluruhan proses konstruksi, VE biasanya dilakukan selama fase perencanaan dari proses penyampaian fasilitas. Idealnya program Constructability formal yang efektif dimulai selama fase perencanaan konseptual dan terus berlangsung selama proses konstruksi. Penerapan Constructability dapat bertindak sebagai pendahuluan bagi VE, yang menyediakan informasi melalui masukan dari constructor dan pelajaran yang diperoleh dari proyek yang lalu sehingga VE akan menjadi lebih efektif.
11.2. Concurrent Engineering
C oncurrent E ngineering adalah suatu m etodologi untuk membangun produk baru yang efisien dengan merencanakan produk
25
terseb u t secara sim ultan dan m em pertim bangkan aspek-aspek manufaktur, pemeliharaan, dan operasi (Eldin, 1997). Concurrent Engineering berguna selama fase perencanaan dan perencanaan proses serta produk untuk mereduksi waktu dan biaya pembuatan produk (Barkley &, Saylor, 1994). Faktor-faktor sukses dalam menerapkannya berhubungan dengan pertimbangan pekerja, manajemen dan proses (Eldin, 1997).
11.3. Sustainable Construction
Sustainable Contruction adalah suatu kreasi dan manajemen yang bertanggung jawab terhadap lingkungan pembangunan yang sehat didasarkan pada prinsip ekologi dan penggunaan sumber daya secara efisien (Kibert, 1999). Pengertian lain adalah dengan memandang sus
tainable construction harus memberi kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan, yang dijabarkan secara detail seperti; (Lawson, 1998).
- Menciptakan perekonomian yang sehat yang dapat mendorong kualitas hidup dengan menjaga lingkungan dan kehidupan manusia.
- Meminimumkan kerusakan sekecil mungkin terhadap lingkungan, dan resiko terhadap kesehatan manusia.
- Menggunakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui secara optimal.
- M enggunakan sumber daya yang dapat diperbaharui secara berkelanjutan.
Seringkali konstribusi bangunan yang potensi terhadap masalah sustainable construction dikaitan dengan penghematan biaya yang berkaitan dengan komponen terpakai dan enerji yang dibutuhkan.
11.4. Performance
Performance berarti memenuhi semua spesifikasi yang telah disetujui, ekonomis, dan sesuai dengan fimgsi yang dirasakan konsumen (O’Neill, 1989). Pemilikakanmencarikontraktoryangakanmemberikan performance yang terbaik dengan menawarkan suatu kualitas, tepat pada waktunya dengan total biaya yang rendah. Performance teraiasuk bagian dari suatu konsep yang menguraikan atau berdampak pada performance dari suatu konstruksi. Kategori ini terbagi menjadi kategori hasil dan dampak. Kategori hasil meliputi: biaya, produktivitas, kualitas, keamanan dan keselam atan kerja; sedangkan kategori dam pak m eliputi ; kompleksitas, ketidakpastian, ketergantungan antar aktivitas, otomatisasi, lokasi konstruksi utama, proses dasar, tipe metode dasar.