• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS RANTAI PASOK KOMODITAS RUMPUT LAUT DI DESA UJUNG BAJI KECAMATAN SANROBONE KABUPATEN TAKALAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS RANTAI PASOK KOMODITAS RUMPUT LAUT DI DESA UJUNG BAJI KECAMATAN SANROBONE KABUPATEN TAKALAR"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS RANTAI PASOK KOMODITAS RUMPUT LAUT DI DESA UJUNG BAJI KECAMATAN SANROBONE

KABUPATEN TAKALAR

MAULINA 105961109517

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(2)

ii

ANALISIS RANTAI PASOK KOMODITAS RUMPUT LAUT DI DESA UJUNG BAJI KECAMATAN SANROBONE

KABUPATEN TAKALAR

MAULINA 105961109517

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir Skripsi ini.

Makassar, juli 2021

Maulina 105961109517

(6)

vi

ABSTRAK

MAULINA.105961109517. Analisis Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Dibimbing oleh Syafiuddin dan Akbar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rantai pasokan komoditas rumput laut dan untuk mengetahui aliran produk, aliran keuangan, dan aliran informasi yang ada di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan sengaja atau purposive sampling dengan menunjuk 29 petani rumput laut sebagai sampel mendapatkan sumber data. Sedangkan untuk penentuan sampel rantai pasok pada pedagang dilakukan dengan snowball sampling yakni dengan menelusuri pedagang yang dijadikan sampel sebanyak 4 orang pedagang yang terlibat dalam rantai pasokan komoditas rumput laut. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pasokan komoditas rumput laut yang ada di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar meliputi petani rumput laut (Produsen) – pedagang pengumpul dan pedagang besar – koperasi – perusahaan kosfermindo (KIMA) – PT. Agarindo Bogatama di Tangerang (Konsumen). Aliran produk mengalir mulai dari hulu ke hilir dan memiliki dua sistem yaitu diantar dan mengantarkan produk. Aliran keuangan mengalir dari hilir ke hulu dan memiliki dua sistem pembayaran yakni transaksi secara langsung dan transaksi via Bank. Aliran informasi mengalir dari dua arah yakni produsen dan konsumen terkait permintaan dan penawaran.

Kata Kunci : rantai pasok, komoditas rumput laut, aliran produk, aliran keuangan, aliran informasi

(7)

vii

ABSTRACT

MAULINA.105961109517. Analysis of the Seaweed Commodity Supply Chain in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency. Supervised by Syafiuddin and Akbar.

This study aims to determine the supply chain of seaweed commodities and to find out product flow, financial flow, and information flow in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency.

Sampling in this study was intentional or purposive sampling by appointing 29 seaweed farmers as sampling. Meanwhile, for determining the supply chain sample to traders, snowball sampling is done by tracing the informants who are sampled as many as 4 traders involved in the supply chain of seaweed commodities. The data analysis used is descriptive qualitative data analysis.

The results showed that the supply chain of seaweed commodities in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency included seaweed farmers (producers) - collectors and wholesalers - cooperatives - kosfermindo company (KIMA) - PT. Agarindo Bogatama in Tangerang (Consumer). The product flow flows from upstream to downstream and has two systems, namely delivery and product delivery. Financial flows flow from downstream to upstream and have two payment systems, namely direct transactions and transactions via banks. The flow of information flows from two directions, namely producers and consumers regarding supply and demand.

Keywords: supply chain, seaweed commodity, product flow, flow finance, information flow

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Syafiuddin, M.Si, selaku pembimbing I dan Bapak Akbar, S.P., M.Si., selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi dapat diselesaikan.

2. Ibu Dr. Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P., selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

(9)

ix

4. Kedua orangtua ayahanda Abdul Rasyid dan ibunda St. Halija, adik-adikku tercinta dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan bantuan, baik moril maupun material sehingga proposal ini dapat terselesaikan.

5. Seluruh Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali segudang ilmu kepada penulis.

6. Kepada pihak pemerintah Kecamatan Sanrobone khususnya Kepala Desa Ujung Baji beserta jajarannya yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di daerah tersebut.

7. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi dari awal hingga akhir yang penulis tidak dapat disebut satu persatu.

Akhir kata penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan proposal ini. Semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan. Semoga Kristal-kristal Allah senantiasa tercurah kepadanya. Amin.

Makassar, juli 2021

Maulina

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

HALAMAN PERNYATAAN ...v

ABSTRAK ...vi

ABSTRACT ...vii

KATA PENGANTAR ...viii

DAFTAR ISI ...x

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Kegunaan Penelitian ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Analisis Rantai Pasok ... 5

2.2 Komoditas Rumput Laut ... 7

2.3 Pemasaran Pertanian... 9

2.4 Pemasok dan Peranannya ... 10

2.5 Pemain Utama dalam Rantai Pasok ... 11

2.6 Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 12

(11)

xi

2.7 Kerangka Pikir Penelitian ... 15

III. METODE PENELITIAN ... 16

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 16

3.2 Teknik Penentuan Sampel ... 16

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 17

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 18

3.5 Teknik Analisis Data ... 19

3.6 Definisi Operasional ... 21

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI ... 22

4.1 Keadaan Geografis ... 22

4.2 Keadaan Demografis ... 23

4.3 Keadaan Sarana dan Prasarana ... 27

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29

5.1 Identitas Responden ... 29

5.2 Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji ... 38

5.3 Mekanisme Aliran Produk, Aliran Keuangan dan Aliran Informasi dalam Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji ... 44

VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 48

6.1 Kesimpulan ... 48

6.2 Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

LAMPIRAN ... 52

RIWAYATHIDUP ... 67

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Nomor Hal

Teks

1. Penelitian Terdahulu yang Relevan dalam Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut ... 12 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Ujung Baji

Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 23 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Ujung Baji

Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 24 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian di Desa

Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 25 5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Ujung

Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 26 6. Jumlah dan Jenis Sarana Prasarana di Desa Ujung Baji Kecamatan

Sanrobone Kabupaten Takalar ... 27 7. Jumlah dan Persentase pada Petani Berdasarkan Umur di Desa

Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 30 8. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Ujung

Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 31 9. Karakteristik Petani Berdasarkan Pengalaman Berusahatani di Desa

UjungBaji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 32 10. Karakteristik Petani Berdasarkan Luas Lahan di Desa Ujung

Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 33 11. Identitas Pedagang Pengumpul Rumput Laut di Desa Ujung

Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 34 12. Identitas Pedagang Besar Rumput Laut di Desa Ujung

Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 36

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Hal

Teks

1. Aliran Barang dalam Analisis Rantai Pasok Komoditas Rumput

Laut ... 6 2. Kerangka Pemikiran Penelitian Analisis Rantai Pasok Komoditas

Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar... 15 3. Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji

Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 38 4. Aliran produk, Aliran Keuangan dan Aliran Informasi pada Rantai

Pasok di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten

Takalar... 44

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Hal Teks

1. Kuisioner Penelitian untuk Petani Rumput Laut ... 53 2. Kuisioner Penelitian untuk Pedagang Rumput Laut ... 54 3. Peta Lokasi Penelitian ... 56 4. Identitas Petani Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan

Sanrobone Kabupaten Takalar ... 57 5. Identitas Pedagang Pengumpul Rumput Laut di Desa Ujung Baji

Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 58 6. Identitas Pedagang Besar Rumput Laut di Desa Ujung Baji

Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar ... 58 7. Luas Lahan Petani Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan

Sanrobone Kabupaten Takalar ... 59

8. Dokumentasi Penelitian ... 60 9. Surat Izin Penelitian ...

(15)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki peluang dan potensi budidaya komoditas laut yang sangat besar untuk dikembangkan. Kurang lebih 2 juta Ha diantaranya sangat potensial untuk pengembangan rumput laut dengan produksi rata-rata 16 ton per Ha. (Maftuhah, 2015), berdasarkan data DKP RI tahun 2008, apabila seluruh lahan dapat dimanfaatkan maka diperoleh kurang lebih 32 juta ton per tahun. Hal ini dapat menjadi salah satu sumber pemasukan devisa bagi Negara, dan juga mampu menjadikan Indonesia sebagai Negara pengekspor rumput laut kering terbesar di dunia.

Rumput laut merupakan salah satu barang ekspor yang potensial untuk dikembangkan. Indonesia saat ini masih menjadi salah satu negara pengekspor terpenting di Asia, karena alga tumbuh dan menyebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Salah satu sentra produksi alga terbesar di wilayah pesisir terletak di Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil alga terbesar di Indonesia dengan kontribusi lebih dari 30% terhadap produksi nasional. Alga juga merupakan produksi akuakultur terbesar. Sulsel menyumbang sekitar 70% dari hasil perikanan lainnya. Pada tahun 2015, realisasi produksi alga di Sulawesi Selatan mencapai 2.826.536 ton atau sekitar 97% dari target produksi 2.866.199 ton. (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2015).

(16)

2 Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis mulai sejak tahun tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari usaha budidaya rumput laut ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai. (Ditjenkan budidaya 2004).

Budidaya tanaman rumput laut telah lama dilaksanakan oleh masyarakat Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar terdapat 5 Dusun yaitu Dusun Ujung Baji, Dusun Ujung Lau, Dusun Galumbaya, Dusun Makkio Baji, dan Dusun Maccini Baji.

Lima dusun tersebut telah lama memproduksi rumput laut untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Jumlah petani rumput laut di Desa Ujung Baji sebanyak 291 orang. Petani rumput laut dibedakan menjadi 3 berdasarkan dengan ukuran jumlah produksinya.

Komoditas rumput laut di Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar perlu diimbangi dengan sistem distribusi yang baik. Mengingat peranan rantai pasokan memegang peranan dalam menghasilkan pendapatan yang maksimal, naik turunnya harga rumput laut dari tahun ke tahun dapat mempengaruhi pendapatan petani. Tinggi rendahnya harga rumput laut tergantung pada situasi dan kondisi sosial ekonomi kurangnya informasi tentang aliran materiil dan kurangnya koneksi ke manufaktur oleh karena itu proses penentuan harga dikuasai oleh pedagang sehingga kekuatan tawar menawar antara produsen dan pedagang hampir tidak ada.

(17)

3 Berdasarkan kondisi di lapangan, harga pemasaran rumput laut yang fluktuatif ini diakibatkan oleh pengaturan manajemen rantai pasokan yang tidak efisien. Efisiensinya manajemen rantai pasokan dapat tercapai jika pengolahan dan pengawasan hubungan saluran distribusi dilakukan secara kooperatif oleh semua pihak yang terlibat, sehingga sektor perikanan komoditi rumput laut memiliki lokal kontrol tinggi dibandingkan dengan komoditi lainnya serta dapat dijadikan sebagai objek sarana penyelamat ekonomi masyarakat. Bentuk perjanjian rantai pasok ini sangat membutuhkan perhatian khusus, adanya pendekatan rantai pasok terhadap bahan baku di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar diharapkan dapat memberikan gambaran pasokan rumput laut sebagai pertimbangan pengelolaan supply chain rumput laut bagi konsumen maupun manufaktur atau industry pengolahan.

Oleh karena itu maka perlu dilakukan penelitian tentang rantai pasokan pada komoditas rumput laut. di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana rantai pasok komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar?

(18)

4 2. Bagaimana aliran produk, aliran keuangan, dan aliran informasi pada komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini berdasarkan latarbelakang adalah:

1. Untuk mengetahui rantai pasok komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

2. Untuk mengetahui aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi pada komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman penulis agar dapat mengembangkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan dan agar peneliti mampu mengetahui rantai pasokan komoditas rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

2. Sebagai bahan informasi bagi para pembaca, baik rekan akademisi maupun orang-orang yang berkecimpung di bidang pertanian.

3. Informasi bagi pemerintah dalam menerapkan kebijakan untuk pengembangan sistem distribusi komoditas rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

(19)

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Analisis Rantai Pasok

Menurut Li (2007:5), definisi rantai pasok adalah serangkaian kegiatan dan keputusan yang saling terkait yang bertujuan untuk mengintegrasikan secara efisien pemasok, produsen, gudang, jasa transportasi, pengecer, dan konsumen.

Aktivitas-aktivitas yang dimaksud yakni mengubah sumberdaya alam, bahan baku, dan komponen-komponen menjadi produk-produk jadi atau setengah jadi yang akan disalurkan ke konsumen akhir. Dengan demikian barang dan jasa dapat didistribusikan dengan jumlah lokasi dan waktu yang tepat untuk meminimumkan biaya demi memenuhi kebutuhan konsumen, dan menekankan pada semua aktivitas memenuhi kebutuhan konsumen yang didalamnya terdapat aliran dan transformasi barang mulai dari bahan baku sampai ke konsumen akhir dan disertai dengan aliran informasi dan uang. Rantai pasok merupakan segala aktivitas yang terintegrasi termasuk didalamnya juga aliran informasi yang berkaitan dengan tiga aspek yaitu: sumber, proses produksi dan proses penghantaran produk.

Terdapat tiga komponen dalam rantai pasokan yaitu:

1. Rantai pasokan hulu (upstream supply chain), meliputi berbagai aktivitas perusahaan dengan para penyalur antara lain berupa pengadaan bahan baku dan bahan pendamping.

(20)

6 2. Rantai pasokan internal (internal supply chain), meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan sampai pada proses produksi.

Aktivasi utamanya antara lain produksi dan pengendalian persediaan.

3. Rantai pasokan hilir (downstream supply chain), meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan. Fokus utama kegiatannya adalah distribusi, pergudangan, transportasi dan pelayanan.

Aktivitas dalam rantai pasokan mengubah sumber daya alam, bahan mentah dan komponen menjadi produk jadi yang didistribusikan ke pengguna akhir. Kemudian ada tiga jenis aliran dalam rantai pasok yang perlu dikelola, yaitu:

1. Aliran barang/material mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream).

Salah satu contoh aliran barang adalah aliran adalah aliran bahan baku yang dikirim dari supplier kepada pabrik pengolahan. Selanjutnya, setelah melalui proses produksi, barang akan dikirim kepada para distributor yang diteruskan dengan pengiriman barang kepada para pengecer dan terakhir barang akan bergerak dari tangan pengecer kepada konsumen akhir. Aliran barang dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. Aliran Barang

Supplier Pabrik

Konsumen Akhir

Distributor

Manufaktur/Pengecer

(21)

7 2. Aliran uang/finansial dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu, berbeda dengan aliran barang, aliran uang dapat berbentuk invoice, perjanjian pembayaran, cek dan lainnya.

3. Aliran informasi memiliki perbedaan dengan aliran barang dan uang. Jika aliran barang mengalir dari hulu ke hilir maka aliran informasi bergerak mengalir baik dari hulu ke hilir maupun hilir ke hulu. Aliran informasi yang dibutuhkan dari hilir ke hulu sebagai contoh adalah informasi persediaan barang di sejumlah distributor atau supermarket sedangkan kepada pihak yang membutuhkan informasi adalah pabrik. Informasi dari hulu ke hilir sebagai contoh adalah suatu distributor yang ingin memperoleh informasi terkait kapasitas produksi pabrik.

Dalam keadaan yang riil bentuk supply chain tidak dijumpai dengan gambaran yang sesederhana gambar 1 namun akan lebih banyak pelaku yang terlibat dalam suatu supply chain. Pujawan I Nyoman, et.al (2010).

2.2 Komoditas Rumput Laut (Gracilaria sp.)

Rumput laut atau seaweed merupakan salah satu tumbuhan yang tergolong dalam makroalga benthik atau benthic algae yang hidupnya melekat di dasar perairan. Tanaman ini tidak bisa dibedakan antara bagian akar, batang, dan daun, sehingga bagian tumbuhan tersebut disebut thallus, oleh karena itu tergolong tumbuhan tingkat rendah (Anggadiredja, 2008).

Berdasarkan kandungan pigmennya rumput laut dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu rumput laut merah (Rhodophycea), rumput laut cokelat (Phaeophycea), dan rumput laut hijau (Chlorophyceae), ketiga golongan tersebut

(22)

8 mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi karena dapat menghasilkan metabolit primer senyawa hidrokoloid seperti agar, karagenan, dan alginate (Anggadiredja et al., 2008).

Salah satu contoh spesies yang bernilai ekonomis di Indonesia adalah Gracilaria sp. dari kelas Rhodophyceae. Rumput laut ini banyak digunakan

sebagai bahan baku pembuatan agar. Agar berfungsi sebagai bahan pengental (thickener), stabilisator (stabilizer) dan pengemulsi (emulsifying agent). Dalam industri farmasi agar-agar berguna sebagai pencahar atau peluntur dan kultur bakteri. Industry kosmetika, agar-agar digunakan dalam pembuatan salep, cream sabun dan pembersih muka atau lotion. Industri lain menggunakan agar-agar sebagai bahan tambahan, misalnya dalam beberapa proses pada industry kertas, tekstil, fotografi, semir sepatu, tapal gigi, odol, pengalengan ikan atau daging dan juga untuk kepentingan mikritomi, meseum dan kriminologi (Ma’ruf et al., 2014).

Permintaan dunia agar-agar terus meningkat setiap tahunnya. Permintaan yang cenderung meningkat menyebabkan kebutuhan juga semakin besar, sehingga ketersediaan Gracilaria sp. di alam menjadi sangat terbatas. Kebutuhan Gracilaria sp. Untuk industri agar-agar didalam negeri dan ekspor mencapai

27.000 ton per tahun sementara, produksi rumput laut untuk jenis tersebut hanya mencapai 16.000 ton/ tahun sehingga kekurangan (Anggadiredja, zatnika, &

purwoto, Rumput Laut, 2006).

Peningkatan produksi Gracilaria sp dapat ditempuh melalui usaha budidaya. Budidaya rumput laut merupakan salah satu cara yang dapat memenuhi permintaan industry dan juga menekan pengambilan di alam secara berlebihan

(23)

9 (Budiyani et al., 2012). Untuk mencapai produksi Gracilaria sp perlu dipacu dengan pemberian nutrient yang diharapkan akan meningkatkan pertumbuhannya dan pada saat panen raya produksi rumput laut cenderung berlimpah maka bentuk pengaturan rantai pasokan sangat perlu mendapat perhatian khusus. Dengan adanya pendekatan rantai pasokan komoditi rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar, hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang ketersediaan penawaran alga sebagai pertimbangan manajemen rantai pasok bagi konsumen dan industri pengolahan.

Rumput laut marga Gracilaria memiliki ciri-ciri umum, yaitu bentuk thallus yang memipih atau silindris tipe percabangan yang tidak teratur

membentuk rumpun dan pada pangkal percabangan thallus menyempit. Gracilaria sp adalah rumput laut yang termasuk golongan alga merah dengan ciri fisik

berikut: mempunyai thallus silindris, permukaan halus, atau berbintil-bintil, dan mempunyai warna hijau kuning, menurut Anggadiredja et al (2006).

2.3 Pemasaran Pertanian

Pemasaran merupakan suatu kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh para perusahaan, baik itu perusahaan barang ataupun perusahaan jasa dalam rangka mengembangkan usahanya untuk memperoleh laba, serta untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya tersebut (Kolter dan Gary Amstrong, 2004). Pemasaran pertanian adalah proses aliran komoditi yang disertai pemindahan hak milik dan penciptaan guna waktu, guna tempat dan guna bentuk yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran dengan melaksanakan satu atau lebih fungsi-fungsi pemasaran (Sudiyono,2001).

(24)

10 Peranan pemasaran saat ini adalah tidak hanya menyampaikan produk atau jasa hingga ke tangan konsumen tetapi juga bagaimana produk atau jasa tersebut dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan menghasilkan laba, sasaran dari pemasaran adalah menarik pelanggan baru dengan menjanjikan nilai superior, menetapkan harga menarik, mendistribusikan produk dengan mudah, mempromosikan secara efektif, serta mempertahankan pelanggan yang sudah ada dengan tetap memegang prinsip kepuasan (Agusthina Shinta, 2011).

Pemasaran adalah suatu proses dan manajerial yang membuat individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan ingin ciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain, atau segala kegiatan yang menyangkut penyampaian produk atau jasa mulai dari produsen sampai konsumen.

2.4 Pemasok dan Peranannya

Penjual atau pemasok adalah istilah manajemen rantai pasokan yang menyediakan barang atau jasa kepada perusahaan. Pemasok merupakan sumber keberadaan suatu produk karena pemasok merupakan input dari proses operasional suatu unit bisnis atau perusahaan pemasok yang dapat berhubungan dengan:

1. Produsen menggunakan alat dan tenaga kerja untuk membuat barang yang dapat dijual.

2. Prosesor (manufaktur) yang mengubah suatu produk dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

(25)

11 3. Pengemas (produsen), menyiapkan produk untuk distribusi, penyimpanan,

penjualan dan penggunaan.

4. Distributor, (bisnis) perantara antara produsen dan dealer.

5. Grosir, penjualan barang atau barang kepada pengecer.

6. Dealer waralaba, waralaba distribusi lokal.

7. Trader, seorang profesional yang berurusan dengan perdagangan (Wikipedia, 2012).

2.5 Pemain Utama dalam Rantai Pasok

Supply chain menunjukkan adanya rantai yang panjang dan dimulai dari

supplier sampai pelanggan, dimana adanya keterlibatan entitas atau disebut pemain dalam konteks ini dalam jaringan rantai pasok yang sangat kompleks tersebut. Berikut ini merupakan pemain utama yang terlibat dalam rantai pasok:

1. Supplier (chain 1)

Rantai pada rantai pasok dimulai chain 1, yang merupakan sumber penyedia bahan pertama dimana rantai penyaluran barang akan mulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, suku cadang atau barang dagang.

2. Supplier – Manufactur (chain 1-2)

Rantai pertama tadi dilanjutkan dengan rantai kedua, yaitu manufacturer yang merupakan tempat mengkonversi ataupun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan kedua mata rantai tersebut sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Misalnya inventory carrying cost dengan mengembangkan konsep supplier partnering.

(26)

12 3. Supplier – Manufactur – Distribution (chain 1-2-3)

Dalam tahap ini barang yang dihasilkan disalurkan kepada pelanggan, dimana biasanya menggunakan jasa distributor atau wholesaler yang merupakan pedagang besar dalam jumlah besar.

4. Supplier – Manufactur – Distribution – Retail Outles (chain 1-2-3-4)

Dari pedagang besar tadi barang yang disalurkan ke toko pengecer (retail outlets). Walaupun ada beberapa pabrik yang langsung menjual barang hasil produksinya kepada customer, namun secara relatif jumlahnya tidak banyak dan kebanyakan menggunakan pola seperti diatas.

5. Supplier – Manufactur – Distribution – Retail Outlets – customer (chain 1-2- 3-4-5)

Customer merupakan rantai terakhir yang dilalui dalam supply chain dalam konteks ini sebagai end-user atau pengecer atau retailers Ia menawarkan barangnya secara langsung kepada pelanggan, pembeli atau pengguna (Indrajit dan Djokopranoto, 2002).

2.6 Penelitian Terdahulu yang Relevan

Berikut ini adalah tabel penelitian terdahulu yang dapat digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

Tabel 1: Penelitian Terdahulu Yang Relevan

No. Judul Metode Penelitian Hasil

1. manajemen Rantai Pasokan Produk Cengkeh pada Desa

Deskriptip Kualitatif

Biaya merupakan hasil yang tidak asing lagi setiap orang didalam suatu perusahaan dalam memproduksi barang dan jasa yang memerlukan pengeluaran yang harus dikorbankan tersebut merupakan pengorbanan

(27)

13 Wawona

Minahasa Selatan (Stevani carter wuwung, 2013).

nilai barang. Kebutuhan akan data dan biaya berbeda-beda dan biaya yang mungkin dihitung berdasarkan kondisi dan tujuan. Biaya haruslah didasarkan kepada fakta yang bersangkutan sehingga kemungkinan perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat. maka dapatlah dikatakan bahwa peranan biaya adalah merupakan masalah yang sangat penting bagi perusahaan.

Tanpa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam menunjang aktivitasnya dengan baik, sehingga dapat menghambat perusahaan dalam mencapai laba. Sehingga dapat dikatakan masalah biaya sangatlah diperlukan untuk menjalankan kegiatan dengan baik.

2. Analisis Rantai Pasok Komoditas Cengkeh di Kecamatan Eremerasa Kabupaten Bantaeng (Muh Nur Ansari, 2021)

Analisis Deskriptip,

Penelitian secara Kualitatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai pasok komoditas cengkeh di Kecamatan Eremerasa Kabupaten Bantaeng memiliki 2 saluran.

Saluran I terdiri dari produsen - pedagang pengepul - konsumen.

Aliran produk mengalir dari hulu kehilir memiliki 2 sistem, diantar dan mengantar. Aliran keuangan mengalir dari hilir ke hulu memiliki 2 sistem, transaksi dan transfer via bank. Aliran informasi mengalir dari dua arah meliputi permintaan dan penawaran.

3. Analisis Rantai Pasokan (supply chain) komoditas Cabai Rawit di Kelurahan Kumelembuai Kota

Penelitian Kualitatif

- Rantai pasok bahan baku cabai rawit di desa Kumelembuai sudah efisien mengingat nilai bagi hasil di masing-masing saluran.

- Aliran produk dalam rantai pasok cabai rawit di desa Kumelembuai terdiri dari cabai yang sangat besar.

- Aliran informasi dalam rantai pasok bahan baku cabai adalah aliran informasi dari petani dengan

(28)

14 Tomohon

(Lilis Suryani Tubagus, et.al 2016).

setiap mata rantai yang terlibat di desa Kumelembuai

- Aliran keuangan dalam rantai pasok barang cabai di Kecamatan Kumelembuai terbagi menjadi 7 jenis aliran, dimana pada aliran keuangan, sistem transaksi pembayaran yang digunakan selama proses distribusi sangat mempengaruhi kinerja setiap mata rantai dalam mata rantai tersebut.

Sistem manajemen rantai pasok cabai rawit di Desa Kumelembuai Kota Tomohon diharapkan dapat terus berfungsi secara efisien sehingga setiap mata rantai yang terlibat tidak mengalami kendala fisik maupun material.

4. Analisis Penerapan Rantai Pasokan Pabrik Gula Aren

Masarang (Monico A.

Pongoh, 2016).

Metode Kualitatif Hasil penelitian didapatkan bahwa penerapan rantai pasokan pabrik Gula Aren Masarang berawal dari petani sebagai supplier air nira, diproses dipabrik dan dikemas dalam ukuran tertentu untuk dikirim kekonsumen. Rantai pasokan pertama yaitu petani sebagai pemasok air nira, dan berjumlah 15 orang dengan pasokan berjumlah 2.692 liter. Manajemen rantai pasokan yang ada diperusahaan gula aren Masarang yaitu petani sebagai supplier, kemudian produsen sebagai unit prosesing dan berikut pengiriman ke konsumen di luar negeri. Konsumen memerlukan gula Kristal yang banyak namun produsen tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada.

(29)

15 2.7 Kerangka Berfikir

Kerangka fikir adalah pola pikir yang dikonsep untuk mendapat gambaran dalam penelitian. Berdasarkan pada uraian sebelumnya maka dalam kerangka pikir pada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Sentra Rumput Laut (Gracilaria)

sp)

- Aliran Produk - Aliran Keuangan - Aliran Informasi

Hilir Konsumen Hulu

Petani Rumput Laut

- Pedagang pengepul - Pedagang besar - Manufactur - Distributor Analisis

Deskriptif

Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian Analisis Rantai Pasok.

Analisis Kualitatif

(30)

16

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar pada Bulan Juni sampai Juli 2021. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purvosive), dengan pertimbangan bahwa lokasi ini merupakan daerah penghasil rumput laut.

3.2 Teknik Penentuan Sampel

Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling yaitu mewawancarai petani rumput laut dan pedagang yang terlibat

dalam rantai pasokan rumput laut (gracilaria sp) di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dari

petani dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertenti ini misalnya orang tersebut yang dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin memiliki pengalaman usahatani rumput laut diatas 5 tahun sehingga memiliki banyak ilmu dan dapat memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi yang diteliti. Atau dengan kata lain pengambilan sampel diambil berdasarkan kebutuhan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa petani rumput laut (gracilaria sp) yang tergolong dalam pengalaman usaha tani 5 tahun keatas sebanyak 29 orang.

(31)

17 Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dari

pedagang yang pada awalnya jumlahnya sedikit tersebut belum mampu memberikan data yang lengkap, maka harus menjari orang lain yang dapat digunakan sebagai sumber data dan aseperti itu seterusnya. Serta melakukan wawancara secara mendalam kepada lembaga yang ikut berperan dalam rantai pasokan rumput laut yakni pedagang pengumpul 2 orang, pedagang besar 1 orang dan koperasi 1 orang.

Jadi, jumlah keseluruhan sampel sebanyak 33, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Caranya yaitu seorang peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau hasil informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat deskriptip kualitatif yaitu suatu pendekatan penelitian yang menghasilkan data deskriptip berupa data data tertulis atau lisan dari orang-orang yang dan pelaku yang telah diamati.

Adapun bentuk penelitiannya adalah deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan hanya bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena dalam situasi tertentu yang diperoleh dari petani dan lembaga rantai pasokan baik berupa lisan maupun tulisan, penjelasan dari interview, wawancara dan observasi di lapangan untuk mendukung penjelasan dalam analisis data.

(32)

18 Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

1. Data primer, yaitu data yang diperoleh dalam melakukan pengamatan langsung informan di sepanjang rantai pasok alga, khususnya data dari wawancara dan diskusi dengan informan.

2. Data sekunder, yaitu data yang bersumber dari dokumen serta diperoleh dari informasi berasal dari instansi terkait yang berupa buku catatan bukti yang telah ada atau arsip baik dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi wawancara dan dokumentasi.

1. Observasi, yaitu data yang diperoleh melalui pengamatan secara langsung terhadap aktivitas rantai pasok maupun pemasaran petani rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

2. Wawancara, metode ini dilakukan peneliti kepada responden dengan menggunakan kuisioner sebagai alat bantu untuk memperkuat dan mendapatkan gambaran umum dan penjelasan terkait masalah yang akan dibahas yaitu rantai pasok rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

3. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang diambil langsung dari lokasi penelitian berupa data-data dari dokumen atau arsip yang ada dikantor dengan mengabadikan gambar, penelusuran serta sumber kepustakaan yang

(33)

19 mendukung data di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu proses pencatatan, untuk menggambarkan dan menggambarkan keadaan objek pemeriksaan berdasarkan fakta-fakta yang ada (Budiman, 2013:34). peristiwa yang terjadi di gudang rumput laut, desa Ujung Baji, kecamatan Sanrobone, pemerintahan Takalar. Metode penelitian dalam analisis kualitatif menurut Miles dan Huberman (1992) adalah sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Data yang diperoleh di lokasi penelitian (data lapangan) dicatat dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terperinci. Laporan pengalaman dari peneliti direduksi, dirangkum dan poin-poin terpenting dipilih, difokuskan pada yang esensial kemudian dicari polanya. Tahap reduksi data dilakukan selama pengumpulan data, diikuti dengan agregasi, coding, pelacakan pola dan penulisan memorandom teoritis.

2. Penyajian Data

Penyajian data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti memperoleh gambaran umum tentang gambaran keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari fokus penelitian.

3. Menarik Kesimpulan Verifikasi

Verifikasi atau Penelaahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara terus menerus selama penelitian sejak awal lapangan dan selama proses

(34)

20 pengumpulan data peneliti mencoba menganalisis dan menemukan makna kata-kata yang terkumpul yaitu: mencari pola, topik hubungan. bersama dengan peristiwa, Hipotesis dan lain lain, yang akan dicatat dalam kesimpulan awal. Inferensi dapat ditarik dengan menambahkan data melalui proses verifikasi berkelanjutan.

(35)

21 3.6 Definisi Operasional

1. Rantai pasok adalah aktifitas penyaluran pasokan barang yang meliputi aliran materiil, aliran keuangan, aliran informasi komoditi rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

2. Rumput laut merupakan produk pertanian yang diproduksi oleh petani di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar kemudian dipasarkan kepada pedagang pengumpul atau punggawa lalu ke koperasi kemudian keperusaahn cosmofindo dan sampai pada tangan konsumen.

3. Petani rumput laut adalah yang memproduksi rumput laut dengan melalui beberapa tahapan hingga panen rumput laut hingga guna memenuhi kebutuhan ekonominya.

4. Aliran produk adalah aliran barang dari produsen hingga ke konsumen yang mengalir dari hulu ke hilir. Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier material ke suatu pabrik material setengah jadi, setelah produk

selesai diproduksi mereka dikirim ke distributor kemudian digunakan oleh pelanggan.

5. Aliran keuangan adalah aliran yang mengalir dari hilir ke hulu terkait dengan laporan yang berisi segala macam transaksi yang melibatkan uang baik transaksi pembelian maupun transaksi penjualan.

6. Aliran informasi mengalir dari dua sisi, informasi yang berkaitan dengan penyediaan produk, penawaran dan permintaan.

(36)

22

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Kondisi Geografis

4.1.1 Luas dan Letak Wilayah

Desa Ujung Baji merupakan salah satu dari 6 desa yang ada di dalam wilayah Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Desa Ujung Baji memiliki luas wilayah sekitar 331 ha yang terdiri dari: Tanah Sawah dengan luas 36 ha, Tanah Rawa dengan luas 47 ha, Pemukiman dengan luas 76 ha, Pekarangan dengan luas 32 ha, Pasang Surut dengan luas 121 ha, dan Fasilitas Umum dengan luas 13,2 ha. Desa Ujung Baji terdiri dari 5 dusun, diantaranya yaitu Dusun Ujung Lau, Dusun Ujung Baji, Dusun Galumbaya, Dusun Makkio Baji dan Dusun Maccini Baji.

Desa Ujung Baji terletak 4 km dari kota kecamatan, di sebelah utara Ujung Baji berbatasan dengan Desa Sanrobone, di sebelah Selatan Ujung Baji berbatasan dengan Desa Maccini Baji, di sebelah timur Ujung Baji berbatasan dengan Desa Soreang dan di sebelah Barat Ujung Baji berbatasan dengan Desa Laguruda.

4.1.2 Iklim

Desa Ujung Baji sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia beriklim tropis dengan dengan 2 jenis musim dalam 1 tahun yakni musim kemarau pada bulan April sampai bulan September dan musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai Maret. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap mata pencaharian masyarakat yang ada di Desa Ujung Baji.

(37)

23 4.2 Keadaan Demografis

4.2.1 Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Populasi penduduk di Desa Ujung Baji diklarifikasikan ke dalam jumlah kepala keluarga dan jumlah penduduk per jiwa. Adapun jumlah penduduk di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan pada Jenis Kelamin di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Persentase %

1. Laki- laki 982 48,52

2. Perempuan 1.042 51,48

Total 2.024 100,00

Sumber : Profil Desa Ujung Baji, 2021.

Tabel 2 menunjukkan bahwa penduduk Desa Ujung Baji berdasarkan jenis kelamin sebanyak 2.204 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 982 jiwa dengan persentase 48,52 % dan perempuan dengan jumlah sebanyak 1.042 jiwa dengan persentase 51,48 %.

4.2.2 Keadaan Penduduk Berdasarkan Usia

Usia seringkali dujadikan patokan untuk menggambarkan produktivitas.

Usia produktif adalah usia penduduk antara 15-59 tahun dan usia non produktif adalah 0-14 tahun serta lebih atau sama dengan 60 tahun. Usia sangat mempengaruhi dalam kegiatan usahatani dan segala aktivitas yang berkaitan dengan rumput laut di Desa Ujung Baji. Jumlah penduduk berdasarkan usia di Desa Ujung Baji dapat dilihat pada tabel 3.

(38)

24 Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan pada Usia di Desa Ujung Baji Kecamatan

Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Usia (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase %

1. 0-6 257 12,70

2. 7-12 189 9,34

3. 13-18 267 13,19

4. 19-25 235 11,61

5. 26-40 513 25,35

6. 41-55 352 17,39

7. 56-65 117 5,78

8. 66-75 77 3,80

9. 75-keatas 17 0,84

Total 2.024 100,00

Sumber : Profil Desa Ujung Baji, 2021.

Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia lanjut atau usia 75 tahun ke atas menduduki peringkat paling terendah dengan jumlah 17 jiwa atau dengan persentase 0,84 %. Sedangkan kelompok usia yang paling tertinggi 26 – 40 tahun dengan jumlah 513 jiwa atau dengan persentase 25,35%.

4.2.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Secara umum, Desa Ujung Baji adalah wilayah pesisir yang mempunyai letak wilayah dengan ketinggian kurang lebih 2 meter dari permukaan laut. Desa Ujung Baji pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan.

namun demikian pula penduduk yang bekerja pada sektor lain. Keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Ujung Baji dapat dilihat pada tabel 4.

(39)

25 Tabel 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian di Desa Ujung

Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Jenis Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Persentase %

1. Petani 291 14,37

2. Nelayan 554 27,37

3. Buruh Tani 2 0,10

4. Aparatur Sipil Negara (ASN) 18 0,89

5. Pedagang Barang Kelontong 15 0,74

6. Bidan Swasta 1 0,05

7. TNI 1 0,05

8. Guru Swasta 5 0,25

9. Pedagang Keliling 4 0,20

10. Tukang Kayu 2 0,10

11. Tukang Batu 2 0,10

12. Karyawan Perusahaan Swasta 8 0,39

13. Tidak Memiliki Pekerjaan Tetap 89 4,40

14. Belum Bekerja 318 15,71

15. Pelajar 301 14,87

16. Ibu Rumah Tangga 423 20,90

17. Purnawirawan/Pensiunan 7 0,34

18. Perangkat Desa 7 0,34

19. Dukun/Paranormal/Supranatural 2 0,10

20. Sopir 1 0,05

21. Tukang Jahit 3 0,15

22. Tukang Kue 5 0,25

23. Karyawan Honorer 5 0,25

24. Pelaut 14 0,69

25. Satpam/Security 4 0,20

Total 2.024 100,00

Sumber : Profil Desa Ujung Baji, 2021.

Tabel 4 menunjukkan bahwa mata pencaharian utama adalah nelayan dengan jumlah 554 jiwa atau dengan persentase 27,37 %. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di desa ujung baji menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan. Jumlah petani rumput laut (Gracilaria sp) yang sebahagian dijadikan sebagai sumber informasi dalam penelititian ini dengan

(40)

26 jumlah 291 jiwa atau dengan persentase 14,37Sedangkan mata pencaharian yang terendah adalah bidan swasta, TNI dan sopir dengan masing-masing berjumlah 1 jiwa atau dengan persentase 0,05%.

4.2.4 Keadaan Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Pembangunan pendidikan dititik beratkan pada peningkatan mutu dan perluasan kesempatan belajar disemua jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Tingkat pendidikan penduduk di Desa Ujung Baji umumnya merata dari tingkat pendidikan rendah sampai tingkat pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan karena banyak diantaranya mereka yang menyadari pentingnya pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan penduduk Desa Ujung Baji berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5.Jumlah Penduduk berdasarkan Pendidikan di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase %

1. Tamat SD/Sederajat 370 30,20

2. Tamat SMP/Sederajat 272 22,21

3. Tamat SMA/Sederajat 522 42,61

4. Tamat D3/Sederajat 4 0,33

5. Tamat S1/Sederajat 57 4.65

Total 1.225 100,00

Sumber : Profil Desa Ujung Baji, 2021.

Tabel 5 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk di Desa Ujung Baji yang tertinggi adalah tingkat tamat SMA dengan jumlah 522 jiwa atau dengan persentase 42,61%. Sedangkan tingkat pendidikan terendah adalah tingkat tamat D3 dengan jumlah 4 jiwa atau dengan persentase 0,33%.

(41)

27 4.3 Keadaan Sarana dan Prasarana Pertanian

Sarana dan prasarana merupakan salah satu alat atau fasilitas yang dapat mempermudah segala bentuk aktivitas manusia. Untuk menambah ilmu, manusia membutuhkan sarana pendidikan. Untuk beribadah membutuhkan sarana peribadatan. Untuk memperlancar hubungan dari satu tempat ke tempat yang lain, kita membutuhkan sarana pengangkutan dan lain-lain. Keberadaan sarana dan prasarana sangat berpengaruh pada aktivitas sehari-hari yang akan berdampak pada kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat. Adapun uraian keadaan sarana dan prasarana di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar, dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Jumlah dan jenis sarana prasarana di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah (unit) Presentase (%)

1. Taman Kanak-kanak (TK) 2 4,54

2. Sekolah Dasar 2 4,54

3. Perpustakaan Desa 1 2,27

4. Masjid 4 9,09

5. Musholla 2 4,54

6. Posyandu 5 11,36

7. Pabrik Rumput Laut 1 2,27

8. Lapangan Sepak Bola 1 2,27

9. Penampung Air Hujan 20 45,45

10. Pasar 1 2,27

11. Jembatan Kayu 1 2,27

12. Perahu 4 9,09

Total 44 100,00

Sumber :Profil Desa Ujung Baji, 2021.

(42)

28 Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah sarana dan prasarana di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar untuk secara keseluruhan terdapat 44 jumlah sarana dan prasarana yang meliputi sarana pendidikan 5, masjid 4 dan musholla 2, sarana kesehatan 5, penampung air hujan 20 dan sarana olahraga 2.

Dari hasil observasi di lapangan hampir semua sarana dan prasarana itu difungsikan.

(43)

29

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Responden

1. Identitas Petani Rumput Laut

petani dapat didefenisikan sebagai pekerja pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya guna memenuhi kebutuhan hidup dengan menggunakan peralatan yang bersifat tradisional dan modern. Petani merupakan produsen rumput laut Gracilaria yang menjual ke pedagang pengumpul maupun ke pedagang besar atau koperasi yang ada di Desa Ujung Baji. Dalam penelitian ini identitas petani rumput laut meliputi umur, pendidikan, pengalaman berusahatani dan luas lahan.

a. Umur

Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi aktivitas seseorang dalam dalam melakukan usahataninya. Sampel yang memilki usia muda mempunyai kemampuan fisik dalam bekerja dibandingkan dengan informan yang usianya tua, namun dari segi pola pikir dan pengalaman yang berusia tua lebih tinggi dibanding yang berusia muda. Faktor umur bagi petani juga sangat mempengaruhi kemampuan fisik untuk keberhasilan dalam mengelola lahan rumput lautnya. Petani yang memilki usia produktif biasanya memiliki kemampuan fisik uang baik dalam bekerja, lebih dinamis dan responsif terhadap teknologi, sebaliknya petani yang tergolong usia tidak produktif menunjukkan kondisi fisik yang menurun, kurang dinamis dan bersifat statis sehingga lebih

(44)

30 tertutup terhadap hal-hal baru. Umumnya seseorang yang berumur muda mempunyai kemampuan berfikir yang lebih maju dan lebih mudah menerima serta terpengaruh dalam hal-hal baru, bila dibandingkan dengan seseorang yang berumur tua karena kemampuan berfikir dan bekerja menjadi lemah, selalu berhati hati dalam mengambil keputusan yang baru serta cenderung mempertahankan apa yang biasa dilakukan dengan selalu mengambil pertimbangan-pertimbangan berdasarkan pengalaman. Penentuan umur dilakukan dengan menggunakan hitungan tahun. Karakteristik petani berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel.

Tabel 7. Jumlah dan Persentase pada Petani Berdasarkan Umur di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Usia (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 18 – 25 4 13,79

2. 26 – 33 6 20,69

3. 34 – 41 4 13,79

4. 42 – 49 8 27,59

5. 50 – 57 4 13,79

6. 58 – 65 4 13,35

Total 29 100,00

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2021.

Tabel 7 memperlihatkan bahwa umur petani rumput laut Gracilaria yang paling banyak adalah pada usia 42 – 49 tahun yaitu sebanyak 8 orang atau dengan persentase 27,59% dan kelompok usia yang paling sedikit adalah pada usia 58 – 65 tahun yang berjumlah sebanyak 3 orang atau dengan persentase 10,35%. Hal ini menunjukkan bahwa usia petani masih termasuk usia produktif dalam membidangi pekerjaan sebagai petani dan memilki fisik yang kuat dalam peran rantai pasokan rumput laut. Kelompok usia produktif menurut Badan Pusat

(45)

31 Statistik tahun 2018, yaitu kelompok penduduk umur yang berada pada rentang usia 15 sampai dengan 64 tahun.

b. Pendidikan

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Tingkat pendidikan mempengaruhi sikap petani dalam mengambil keputusan terhadap berbagai teknologi dan inovasi baru atau yang telah dikembangkan terutama untuk peningkatan usahatani yang akan dijalankannya. Adapun karakteristik petani berdasarkan pada tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 8. Karakteristik petani berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. SD 9 48,28

2. SMP/Sederajat 6 20,69

3. SMA/Sederajat 14 31,03

Total 29 100,00

Sumber: Data Primer setelah Diolah, 2021.

Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah petani terbanyak berdasarkan tingkat pendidikan, yaitu pendidikan SMA sebanyak 31, 03%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan petani sudah tergolong tinggi, karena diantara mereka memilki tingkatan pendidikan SMA/Sederajat dan tidak ada responden yang tidak bersekolah. Tingginya tingkat pendidikan responden disebabkan adanya kesadaran petani akan pentingnya pendidikan formal yang memudahkan

(46)

32 untuk meningkatkan usahatani rumput laut yang dijalankannya melalui pembinaan masyarakat petani oleh penyuluh pertanian lapangan pada suatu waktu.

c. Pengalaman berusahatani

Pengalaman petani merupakan suatu pengetahuan ekonomi yang diperoleh melalui rutinitas kegiatannya sehari-hari atau peristiwa yang diperoleh dan pernah dialaminya melalui berapa lama pengalamannya ataupun karena adanya tambahan pengetahuan dari penyuluh setempat. Lama berusahatani akan mempengaruhi pengalaman mereka dalam memproduksi rumput laut. Adapun tabel tentang pengalaman usahatani petani yaitu sebagai berikut.

Tabel 9. Karakteristik Petani berdasarkan Pengalaman Berusahatani di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Lama Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 5 – 7 7 24,14

2. 8 – 10 6 20,69

3. 11 – 13 2 6,89

4. 14 – 16 4 13,80

5. 18 – 20 6 20,69

6. 21 – 23 4 13,79

Total 29 100,00

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2021.

Tabel 9 menjelaskan bahwa petani rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone sudah ada cukup banyak informan yang membudidayakan rumput laut lebih dari 5 tahun. Dalam berusahatani rumput laut selama 5-7 tahun paling banyak yaitu dengan jumlah 7 orang dengan persentase 24,14% dan jumlah petani yang pengalaman 11-13 tahun hanya sebanyak 2 orang dengan persentase 6,89%. Semakin lama pengalaman berusahatani, semakin mudah bagi mereka untuk memproduksi dan memasarkan rumput laut.

(47)

33 d. Luas Lahan

Luas lahan merupakan media tumbuh bagi tanaman, tempat hewan dan manusia melakukan aktivitas kehidupannya. Luas lahan sangat mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan dan kebijakan dalam hal penggunaan bibit dan peralatan serta semakin luas lahan yang digarap oleh petani, maka dimungkinkan produksi rumput laut semakin tinggi sehingga meningkatkan pendapatan usahatani mereka. Oleh karena itu, lahan merupakan satu faktor penting dalam usahatani rumput laut Gracilaria sp. Adapun karakteristik petani berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Karakteristik Petani berdasarkan Luas Lahan di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Luas lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 0,023 – 0,046 13 44,83

2. 0,047 – 0,070 2 6,89

3. 0,071 – 0,094 8 27,59

4. 0,095 – 0,118 1 3,45

5. 0,119 – 0,142 1 3,45

6. 0,143 – 0,166 4 13,79

Total 29 100,00

Sumber: Data primer setelah diolah, 2021.

Pada tabel 10, dapat dilihat bahwa petani responden yang memilki luas lahan 0,023 ha – 0,046 ha sebanyak 13 orang dengan persentase 44,83% yang memilki luas lahan 0,095 ha – 0,118 ha dan 0,119 ha – 0,142 ha hanya masing- masing 1 orang atau dengan persentase 3,45%. Semakin luas lahan yang dimiliki petani, semakin banyak pula produksi rumput laut yang dihasilkan oleh produsen atau petani rumput laut Gracilaria sp.

(48)

34 2. Identitas Pedagang

Kegiatan pendistribusian barang dari produsen ke konsumen terdapat pedagang atau disebut sebagai lembaga rantai pasokan. Lembaga ini mempunyai peran penting dalam kegiatan penyaluran pasokan barang yang meliputi aliran materiil, aliran keuangan dan aliran informasi komoditas rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Lembaga rantai pasokan ini mendistribusikan produk secara langsung dan tidak langsung kepada konsumen ataupun pedang di luar maupun dalam kota.

Pedagang atau lembaga rantai pasok yang terlibat dalam rantai pasokan rumput laut Gracilaria sp di Desa Ujung Baji adalah pedagang pengumpul, pedagang besar dan koperasi. Layaknya suatu pengalaman dan pola pikir yang cermat, dalam hal ini usia, pendidikan dan pengalaman sangat mempengaruhi keberhasilan dalam berdagang. Identitas sampel pedagang pengumpul, pedagang besar dan koperasi rumput laut dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 11. Identitas Pedagang Pengumpul Rumput Laut dan Koperasi di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Uraian Pedagang Pengumpul

(Orang)

Persentase (%) 1. Umur (Tahun)

a. 46 – 55 b. 56 – 65

1 1

50 50

Jumlah 2 100

2. Pendidikan

a. SMA 2 100

Jumlah 2 100

3. Pengalaman berdagang (tahun)

a. 4 b. 10

1 1

50 50

Jumlah 2 100

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2021.

(49)

35 Tabel 11 menggambarkan bahwa umur pedagang pengumpul tergolong dalam usia produktif yaitu 46 – 55 tahun dan juga ada pedagang pengumpul berumur lebih 50 tahun. Pada usia produktif, pedagang masih mampu bekerja dengan baik dibandingkan dengan fisik yang kuat serta mental dalam melaksanakan peran sebagai penyalur rantai pasok rumput laut dari produsen ke konsumen.

Tingkat pendidikan pedagang pengumpul dalam pemasaran rumput laut adalah tamatan SMA. Tingkat pendidikan pada pedagang pengumpul ini mengalami peningkatan yakni sampai pada tingkat lanjut sehingga akan berdampak besar terhadap cara pandang pedagang pengumpul dalam menganalisis kebutuhan perusahaan atau konsumen lebih dalam lagi khususnya yang berkaitan dengan mekanisme rantai pasokan, hal ini akan meningkatkan keuntungan pedagang.

Lama berusahatani akan mempengaruhi pengalaman mereka dalam mendistribusikan rumput laut. Lama usaha dalam pedagang pengumpul yaitu kurang dari 5 tahun dan ada juga lebih dari 5 tahun. Semakin lama pengalaman berdagang, maka semakin mudah mereka untuk memasarkan produksi rumput laut. Hal ini disebabkan karena mereka sudah cukup dikenal oleh konsumen dan mempunyai penjual dan pembeli atau pelanggan tetap.

(50)

36 Tabel 12. Identitas Pedagang Besar Rumput Laut dan Koperasi di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

No. Nama Jenis

kelamin

Umur (Tahun)

Tingkat pendidikan

Lama berdagang 1. Roni

(pedagang Besar)

Lk 46 SD 12

3. Abdul Kadir (Koperasi)

Lk 53 D3 10

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2021.

Pedagang besar di desa Ujung Baji yaitu pedagang yang membeli rumput laut dalam volume yang relatif banyak dan memilki modal yang cukup besar.

Biasanya pedagang besar membeli rumput laut dari petani (produsen) di dalam maupun luar Desa Ujung Baji dan dari pedagang pengumpul di luar Desa Ujung Baji. Volume pembelian rumput laut oleh pedagang besar ini rata-rata sebanyak kurang lebih 2.000 Kg (2 ton) setiap 2 sampai satu minggu sekali tergantung dengan transaksi yang terjadi. pedagang tersebut melakukan pembelian rumput laut di tempat tinggalnya dengan cara pembelian lewat perantara antara pedagang lain dan juda mendatangi langsung petani (produsen) rumput laut di Desa Ujung Baji. Adapun proses penjualan rumput laut kepada koperasi desa setempat, Pedagang besar menjual rumput laut langsung ke pedagang yang lebih besar yaitu koperasi yang ada di Kecamatan Sanrobone lalu selanjutnya didistribusikan ke manufaktur atau perusahaan Kosfermindo yang ada di kota Makassar. Lalu di perusahaan Kosfermindo didistribusikan lagi ke tangerang (Agarindo Bogatama) yang termasuk pabrik pengolahan rumput laut menjadi produk makanan dan minuman agar-agar.

(51)

37 Berdasarkan tabel 12, dapat diketahui bahwa usia pedagang besar adalah 46 tahun dan usia informan pada koperasi yakni 53, kedua informan pada lembaga rantai pasokan tergolomg produktif. Pada usia produktif, pedagang dan koperasi masih mampu bekerja dengan baik didukung dengan fisik yang kuat serta mental dalam melaksanakan peran sebagai penyalur rantai pasokan rumput laut dari produsen ke konsumen.

Tingkat pendidikan pedagang besar adalah tingkat SD dan informan pada koperasi adalah tingkat D3. Jika Tingkat pendidikan pedagang besar ini mengalami peningkatan yakni sampai pada pendidikan tingkat lanjut maka akan berdampak besar terhadap cara pandang pedagangan dalam menganalisis kebutuhan manufaktur lebih dalam lagi khususya yang berkaitan dengan mekanisme distributor rantai pasokan. Hal ini akan meningkatkan keuntungan pedagang.

Lama usaha berdagang pada responden pedagang besar rumput laut di Desa Ujung Baji yaitu 12 tahun sedangkan pada informan koperasi setempat adalah 10 tahun. Jika dilihat dari pengalaman berdagang, kedua informan sudah cukup lama dalam berdagang. Hal ini akan mempengaruhi proses rantai pasokan karena semakin lama pengalaman usaha maka semakin cepat bagi pedagang untuk mendistribusikan produksi rumput laut karena dia sudah cukup dikenal oleh konsumen dan mempunyai pelanggan atau pembeli tetap.

(52)

38 5.2 Rantai Pasok Komoditas Rumput Laut di Desa Ujung Baji

Rantai pasok adalah suatu aktivitas yang melaksanakan penyaluran pasokan barang atau jasa dari tempat asal, produksi sampai ke tempat pembeli atau pelanggan (Assauri, 2011). Adapun pemeran dalam rantai pasok komoditas rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar itu ada 6 yaitu :

Gambar 3. Rantai pasok rumput laut Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar

a. Produsen

Produsen adalah seseorang yang melakukan usaha budidaya rumput laut jenis gracilaria sp. menggunakan laut lepas sebagai media budidaya. Peran produsen dalam teknik budidaya rumput laut ini diantaranya adalah penanaman bibit, bibit ini diambil dari hasil panen rumput laut yang telah berumur 40-45 hari yaitu dengan jalan memotong menjadi 4-5 bagian untuk kemudian ditanam kembali hasil panen yang dianggap berkualitas bagus dengan menggunakan tali untuk mengikat ke bentangan. Panjang meteran dalam 1 bentangan yaitu 15 meter. Setelah penanaman dilakukan maka perlakuan selanjutnya adalah melakukan pemeliharaan pada rumput laut, salah satunya yaitu dengan cara pemasangan pelampung yang terbuat dari botol aqua bekas. Fungsi dari

Koperasi Cosfermindo (KIMA) Produsen

(petani)

Pedagang besar

(konsumen) Agarindo Bogatama (TANGERANG) Pedagang

pengumpul

(53)

39 pelampung ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman rumput laut tersebut. Lama pemeliharaan rumput laut di perairan adalah 40-45 hari. Setelah hari ke 45 maka rumput laut sudah siap dipanen dan dilakukan dengan cara melepas tali ris yang terikat pada bentangan, dikumpulkan dalam rakit gabus untuk dibawa kedarat dan siap untuk dijual.

Untuk pemanenan biasanya dilakukan pada saat air surut. Rumput laut (Gracilaria sp) dilakukan satu kali pembibitan dalam satu kali panen, apabila pada perubahan iklim global (musim kemarau) maka tidak dilakukan penanaman karena akan menyebabkan kerugian yang besar atau rumput laut tidak tumbuh.

Produsen yang dimaksud adalah petani yang membudidayakan rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar sebagai pelaku rantai pasok pertama sekaligus sebagai penyedia bahan baku. Rumput laut yang telah melalui tahap panen, penyortiran dan pengeringan (bahan setengah jadi) kemudian akan dijual oleh petani kepada pedagang desa setempat, dengan harga yang bervariasi komoditas rumput laut (Gracilaria sp), pedagang pengumpul membeli rumput laut dengan harga Rp5.000/kg, sedangkan pedagang besar membeli rumput laut dari harga Rp6.500/kg untuk kadar air 18% dan Rp6.800/kg untuk kadar air 16%. Semakin rendah jumlah persentase kadar air maka semakin tinggi harga yang diperoleh.

b. Pedagang

Pedagang adalah orang yang melakukan perdagangan, memperjual belikan suatu barang yang tidak diproduksi sendiri, yang dimaksud disini adalah pedagang pengumpul dan pedagang besar yang berada di Desa Ujung Baji yang

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kebutuhan pelabuhan yang dibutuhkan dalam konsep Tol Laut dan mengetahui kelayakan empat pelabuhan hub yang ada di Indonesia, yaitu

[r]

Bakso menjadi salah satu alternatif makanan cepat saji yang cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia, baik itu dari kelas bawah sampai kelas atas sangat familiar dengan

Gelombang 2.4 GHz yang telah melewati material logam dengan jarak yang sama dengan gelombang 2.4 GHz yang melewati material kaca, akan menghasilkan dampak yang

Hasil yang diharapkan dari proses sosialisasi adalah di mengerti dan dipahami secara utuh tentang konsep-konsep, prinsip prosedur, kebijakan dan tahapan-tahapan dalam

Hasil penelitian setelah dilakukan perancangan ulang alat parut kelapa sistem engkol menunjukkan bahwa rancangan alat parut kelapa sistem engkol yang berbasis

(2) Rancangan rencana kerja dan anggaran tahunan yang telah mendapatkan penilaian dan persetujuan dari Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh Badan

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “Desain Didaktis Pada Pembelajaran Tata Nama Senyawa Anorganik dan Organik Sederhana Berbantuan Lesson