i Judul:
LAPORAN PENELITIAN
STUDI EVALUASI ELIMINASI FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2017 : KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA
(Daerah Endemis Brugia malayi Zoonotik)
PENYUSUN:
1. dr Hijaz Nuhung, M.Sc 2. Nita Rahayu, SKM, M.Sc 3. Yuniarti Suryatinah, Apt 4. drh Dicky Andiarsa, M.Ked
5. dr Paisal, M.Biomed 6. Annida, SKM, M.Sc 7. M.Rasyid Ridha, SKM, M.Sc
8. Budi Hairani, S.Si 9. Deni Fakhrizal, SKM 10. Wulan Sari RG Sembiring, SKM
11. Dian Eka Setyaningtyas, S.Si 12. Akhmad Rosanji, SKM 13. Akhmad Wahyudin, SKM
14. Erly Hariyati, Amd.AK 15. Abdullah Fadily, Amd.AK 16. Dwi Candra Arianti, Amd.AK
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN BALAI LITBANG P2B2 TANAH BUMBU
TAHUN 2017
ii Judul:
LAPORAN PENELITIAN
STUDI EVALUASI ELIMINASI FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2017 : KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA
(Daerah Endemis Brugia malayi Zoonotik)
PENYUSUN:
1. dr Hijaz Nuhung, M.Sc 2. Nita Rahayu, SKM, M.Sc 3. Yuniarti Suryatinah, Apt 4. drh Dicky Andiarsa, M.Ked
5. dr Paisal, M.Biomed 6. Annida, SKM, M.Sc 7. M.Rasyid Ridha, SKM, M.Sc
8. Budi Hairani, S.Si 9. Deni Fakhrizal, SKM 10. Wulan Sari RG Sembiring, SKM
11. Dian Eka Setyaningtyas, S.Si 12. Akhmad Rosanji, SKM 13. Akhmad Wahyudin, SKM
14. Erly Hariyati, Amd.AK 15. Abdullah Fadily, Amd.AK 16. Dwi Candra Arianti, Amd.AK
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN BALAI LITBANG P2B2 TANAH BUMBU
TAHUN 2017
iii SK PENELITIAN
iv
v
vi
vii
viii
ix SUSUNAN TIM PENELITI
No Nama Keahlian Kedudukan
Dalam Tim
Tugas
1 dr.Hijaz Nuhung, M.Sc Inderaja Ketua Peneliti Bertanggung jawab terhadap seluruh penelitian di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan 2 Nita Rahayu, SKM., M.Sc Kedokteran
Tropis
PJT Kab HSU Bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan penelitian di Kabupaten Hulu Sungai Utara
3 Yuniarti Suryatinah, Apt Farmasi PJT Kab Kobar Bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan penelitian di Kabupaten Kotawaringin Barat 4 M.Rasyid Ridha, SKM,
M.Sc
Entomologi Peneliti Bertanggung jawab terhadap aspek entomologi dan lingkungan
5 drh Dicky Andiarsa, M.Ked Kedokteran Laboratorium
Peneliti Bertanggung jawab terhadap aspek reservoar
6 dr Paisal, M.Biomed Biomolekuler Peneliti Bertanggung jawab terhadap aspek Klinis, KAP dan SDJ 7 Annida SKM, M.Sc Parasitologi Peneliti Bertanggung jawab terhadap
aspek Klinis, KAP dan SDJ 8 Budi Hairani, S.Si Biologi
Lingkungan
Peneliti Bertanggung jawab terhadap aspek reservoar
9 Deni Fakrizal, SKM Kesehatan Lingkungan
Peneliti Bertanggung jawab terhadap aspek stool dan gen BM 10 Dian Eka Setyaningtyas, S.Si Bioteknologi Peneliti Bertanggung jawab terhadap
data indepth interview 11 Wulan Sari RG Sembiring,
SKM
Entomologi Peneliti Bertanggung jawab terhadap aspek entomologi dan lingkungan
12 Akhmad Rosanji, SKM Entomologi Litkayasa Bertanggung jawab terhadap aspek entomologi dan lingkungan
13 Akhmad Wahyudin, SKM Parasitologi Litkayasa Bertanggung jawab terhadap aspek Klinis, KAP dan SDJ 14 Erly Hariyati, Amd.AK Parasitologi Litkayasa Bertanggung jawab terhadap
aspek stool dan gen BM 15 Abdullah Fadilly, Amd.AK Entomologi Litkayatasa Bertanggung jawab terhadap
aspek reservoar 16 Dwi Candra Ariyanti,
Amd.AK
Parasitologi Litkayasa Bertanggung jawab terhadap aspek Klinis, KAP dan SDJ
17 Dahlia Administrasi Bertanggung jawab terhadap
kesekretariatan
18 Gusti Meliyanie Administrasi Bertanggung jawab terhadap
kesekretariatan
x PERSETUJUAN ETIK
xi PERSETUJUAN ATASAN YANG BERWENANG
JUDUL LAPORAN PENELITIAN TAHUN 2017 :
STUDI EVALUASI ELIMINASI FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2017 : KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA
(Daerah Endemis Brugia malayi Zoonotik)
xii KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga pelaksanaan penelitian berjudul: ―Studi evaluasi eliminasi filariasis di Indonesia tahun 2017 : Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (Daerah Endemis Brugia malayi Zoonotik)‖ dapat diselesaikan dengan baik. Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis program eliminasi filariasis di kabupaten/kota yang telah melaksanakan POPM khususnya di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar atau acuan dalam hal pengembangan model eliminasi filariasis yang dapat diterapkan oleh pelaksana program dalam penanggulangan filariasis. Penulisan laporan dilakukan setelah rangkaian proses penelitian selesai dilaksanakan. Laporan penelitian ini merupakan pertanggungjawaban ilmiah dan administrasi.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Kepala Badan Litbangkes, Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Kepala Dinas Kesehatarn Kabupaten Kotawaringin Barat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Ketua Panitia Pembina Ilmiah Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Kepala Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, tim peneliti dan staf teknis Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu serta semua pihak yang telah bekerja dan membantu proses penelitian di lapangan maupun di laboratorium. Penulis menyadari bahwa dalam laporan akhir ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu masukan, saran, dan kritik sangat penulis harapkan. Semoga laporan ini memberikan manfaat bagi semua pihak.
Tanah Bumbu, Januari 2018 Penulis,
dr Hijaz Nuhung, M.Sc
xiii ABSTRAK
STUDI EVALUASI ELIMINASI FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2017 : KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA
(Daerah Endemis Brugia malayi Zoonotik)
dr. Hijaz Nuhung, M.Sc, dkk
Latar Belakang: Banyaknya kabupaten/kota yang gagal TAS (Transmission Assesment Survey) menimbulkan kendala bagi kabupaten/kota karena besarnya sumber daya yang diperlukan (biaya operasional dan dukungan SDM), dan belum seluruh kabupaten/kota yang endemis filariasis melaksanakan POPM filariasis secara menyeluruh (minimal 65% dari total populasi); untuk itu perlu dilaksanakan suatu studi yang menyeluruh guna mengetahui berbagai aspek terkait dengan kegagalan/keberhasilan suatu kabupaten/kota dalam melaksanakan eliminasi filariasis.
Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kotawaringin Barat (lulus TAS-3) dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (lulus Re-TAS 1). Penelitian dilakukan selama 10 bulan yaitu dimulai dari bulan Februari sampai dengan November 2017. Pengujian yang dilakukan antara lain KAP, klinis, survei darah jari (SDJ), survei tinja, survei gen Brugia malayi, surevi reservoar, survei vektor, survei lingkungan dan indepth interview. Lokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat adalah Desa Sungai Bakau di dan Desa Dawak. Sedangkan lokasi studi untuk Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) adalah Desa Pihaung dan Desa Banjang.
Hasil: Di Kabupaten Kotawaringin Barat, pada uji KAP diketahui bahwa dari 620 responden yang diwawancarai ada 26,2% yang mengetahui penyebab dan penularan filariasis, dan dari 620 responden tersebut ada 44,7% responden yang ikut POPM. Pada uji klinis diketahui bahwa dari 620 responden ada 11 (sebelas) responden didiagnosa memiliki demam filaria, 1 (satu) responden lymphadenitis dan 1 (satu) responden early lymphodema. Pada survei darah jari dari 620 sampel diketahui ada 5 (lima) orang yang positif mikrofilaria. Pada survei tinja dari 150 sampel anak SD diketahui ada 4 (empat) orang anak positif Trichuris trichiura, 4 (empat) orang anak positif Ancylostoma duodenale/Necator americanus, 2 (dua) orang positif mix dari Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Ancylostoma duodenale/Necator americanus, 1 (satu) orang positif mix dari Trichuris trichiura dan Ancylostoma duodenale/Necator americanus, dan 1 (satu) orang positif Hyminolepis sp. Pada survei gen Brugia malayi dari 20 sampel diketahui bahwa tidak didapatkan anak yang positif Brugia malayi. Pada survei reservoir dari 101 reservoir yang tertangkap (kucing, kera ekor panjang dan anjing) diketahui bahwa ada 5 (lima) reservoir yang positif mengandung Brugia malayi, 5 (lima) reservoir yang positif mengandung Dirofilaria immitis, 16 (enam belas) reservoir yang positif mengandung Dirofilaria repens, dan ada 3 (tiga) reservoir yang positif mix mengandung Brugia malayi dan Dirofilaria repens. Pada survei vektor nyamuk yang berhasil tertangkap yaitu 315 ekor nyamuk genus Mansonia, 260 ekor nyamuk genus Culex, 21 ekor nyamuk genus Anopheles, 46 ekor nyamuk genus Aedes, 243 ekor nyamuk genus Verallina, 3 ekor nyamuk genus Coqullettidia, 312 ekor nyamuk genus Armigeres dan 1 ekor nyamuk genus Lutzia.
Dari hasil PCR diketahui bahwa nyamuk dari semua genus tidak ada yang positif mengandung Brugia malayi. Pada survei lingkungan yang dilakukan di Desa Dawak ditemukan ada 21 habitat lingkungan perindukan nyamuk yang terdiri dari tepi sungai , kolam, bak beton, ban bekas, comberan, drum, ember dan penampung karet. Sedangkan survei lingkungan yang dilakukan di Desa Sungai Bakau menemukan ada 58 habitat lingkungan perindukan nyamuk terdiri dari laguna, sumur, genangan air, kolam, bak WC, ember, perahu bekas dan tepi pantai. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada uji KAP diketahui bahwa dari 620 responden ada 47,7% yang mengetahui penyebab dan penular filariasis, dan dari 620 responden tersebut ada 73,1% yang ikut POPM. Pada uji klinis dari 620 responden diketahui bahwa 9 (sembilan) responden didiagnosa memiliki demam
xiv
filaria. Pada survei darah jari dari 620 sampel diketahui ada 1 (satu) orang yang positif microfilaria. Pada survei tinja dari 155 sampel diketahui 1 (satu) orang positif Enterbius Vermicularis dan 1 (satu) orang positif Hyminolepis sp. Pada survei gen Brugia malayi dari 20 sampel tidak didapatkan anak yang positif Brugia malayi. Pada survei reservoir dari 100 reservoir yang tertangkap (kucing, kera ekor panjang dan anjing) diketahui bahwa ada 21 (dua puluh satu) reservoir yang positif mengandung Dirofilaria repens. Pada survei vektor nyamuk yang berhasil tertangkap yaitu 633 ekor nyamuk genus Mansonia, 784 ekor nyamuk genus Culex, 129 ekor nyamuk genus Anopheles, 15 ekor nyamuk genus Aedes, dan 18 ekor nyamuk genus Coqullettidia.
Dari hasil PCR diketahui bahwa nyamuk genus Mansonia ada yang positif mengandung Brugia malayi. Kabupaten HSU merupakan kabupaten yang pernah gagal dalam TAS pertama, sehingga mendapat 2 (dua) tahun penambahan POPM yaitu tahun 2014 dan 2015. Kegagalan yang ada terjadi karena rendahnya tingkat edukasi masyarakat tentang filariasis sehingga pada pengobatan ulang dilakukan inovasi berupa perubahan bentuk sediaan obat menjadi puyer dengan penambahan pemanis dan menambahkan bahan kontak berupa biskuit. Pada tahun 2014 dan 2015 pemberian obat dilakukan langsung oleh petugas ke posyandu dan kelompok bermain (TK dan PAUD). Pada survei lingkungan yang dilakukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara diketahui bahwa di Desa Pihaung ditemukan 21 habitat lingkungan perindukan nyamuk yang terdistribusi yaitu comberan (3 titik), kolam ikan (1 titik), kolam yang dipenuhi tumbuhan air (8 titik), sawah (3 titik), kolam ikan (1 titik), serta sungai kecil yang menjadi tapal batas alam dengan desa tetangga, dan di Desa Banjang ditemukan 47 habitat lingkungan perindukan nyamuk terdiri comberan (16 titik), kolam (23 titik), perahu bekas (1 titik), sumur (1 titik), sungai (5 titik).
Kesimpulan: Keberhasilan pelaksanaan TAS tahap ketiga di Kabupaten Kotawaringin Barat didukung oleh aspek epidemiologi yaitu mikrofilaria ditemukan pada sampel survei darah jari masyarakat (0,8%), B. malayi tidak ditemukan pada nyamuk, meskipun masih ditemukan tempat perindukan potensial untuk perkembang biakan nyamuk, nyamuk dominan yang dari genus mansonia, B.malayi ditemukam pada hewan reservoar. Keberhasilan pelaksanaan TAS tahap tiga di Kabupaten Kotawaringin Barat didukung oleh aspek manajemen yaitu implementasi kebijakan sudah sesuai dengan Permenkes No 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis, anggaran didukung oleh Pemerintah Daerah, SDM yang terlibat sudah mencukupi, sarana dan prasarana sudah cukup mendukung, kerjasama lintas sektor sudah berjalan cukup baik, Masukan untuk perbaikan eliminasi filariasis di Kabupaten Kotawaringin Barat yaitu melaksanakan POPM pada Desa Dawak di Kabupaten Kotawaringin Barat dan pengobatan secara selektif pada sampel positif di Desa Sungai Bakau, penguatan surveilans filariasis baik dari Dinas Kesehatan maupun Puskesmas, survei entomologi harus dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau keberadaan vektor, mengintensifkan kerja sama lintas sektor yang sudah berjalan dengan baik, monitoring dan evaluasi pelaksanaan program oleh pemerintah daerah secara berkala. Sedangkan keberhasilan pelaksanaan Re-TAS tahap satu di Kabupaten Hulu Sungai Utara didukung oleh aspek epidemiologi yaitu mikrofilaria ditemukan pada sampel darah masyarakat (0,16%), B.malayi tidak ditemukan pada hewan reservoir, B. malayi ditemukan pada nyamuk genus mansonia, tempat perindukan potensial untuk perkembang biakan nyamuk ditemukan di lokasi dan asil uji gen B. malayi negatif menunjukan tidak ada reaksi silang (Uji PCR). Keberhasilan pelaksanaan Re-TAS tahap satu di Kabupaten Hulu Sungai Utara didukung oleh aspek manajemen yaitu implementasi kebijakan pusat sejalan dengan daerah, meskipun belum ada peraturan daerah yang mengatur mengenai eliminasi filariasis di Kabupaten Hulu Sungai Utara, SDM kesehatan berperan aktif dalam kegiatan eliminasi filariasis, meskipun jumlah masih terbatas, Bupati terlibat langsung dalam POPM dengan cara dan memberikan contoh minum obat langsung agar masyarakat tidak ragu, memanfaatkan sarana dan prasarana yang
xv
tersedia, terdapat keterlibatan lintas sektor (Dinas Pendidikan untuk data anak-anak sekolah dan penyerahan obat ke anak-anak, Dinas Kominfo, BAPPEDA, PKK, dan Pemberdayaan Masyarakat), lintas program dan non kesehatan (kader, tokoh agama, tokoh masyarakat). Masukan untuk perbaikan eliminasi filariasis di Kabupaten Hulu sungai Utara yaitu melaksanakan pengobatan secara selektif pada sampel positif, penguatan kembali surveilans filariasis, survei entomologi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau keberadaan vektor, meningkatkan peran serta tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, PPK, kader kesehatan dalam kegiatan eliminasi filariasis, mengintensifkan kerja sama lintas sektor yang sudah berjalan dengan baik, monitoring dan evaluasi pelaksanaan program oleh pemerintah daerah secara berkala, agar evaluasi TAS tahap kedua dan ketiga juga berhasil, sehingga target Kabupaten Hulu Sungai Utara mendapatkan sertifikat eliminasi filariasis dari Kementerian Kesehatan dapat tercapai. Kata kunci: Eliminasi, Filariasis, Brugia malayi zoonotik
xvi ABSTRACT
EVALUATION STUDY OF FILARIASIS ELIMINATION IN INDONESIA 2017 : Kotawaringin Barat District and Hulu Sungai Utara District
(Brugia malayi zoonotic endemic area) dr. Hijaz Nuhung, M.Sc, dkk
Background: The number of districts / municipalities failing the TAS (Transmission Assessment Survey) poses obstacles to districts due to the size of the required resources (operational costs and human resources support), and not all filariasis endemic districts / municipalities fully implement filariasis POPM (at least 65% of total population); it is necessary to conduct a comprehensive study in order to know various aspects related to the failure / success of a district / city in implementing filariasis elimination.
Methods: The type of this research is descriptive research with cross sectional approach. This research was conducted in Kotawaringin Barat District (pass TAS-3) and Hulu Sungai Utara District (pass Re-TAS 1). The study was conducted for 10 months starting from February to November 2017. The tests were KAP, clinical, finger blood survey (SDJ), stool survey, Brugia malayi gene survey, surevi reservoar, vector survey, environmental survey and indepth interview . Locations in Kotawaringin Barat District are Sungai Bakau Village in and Desa Dawak for West Kotawaringin District. While the study location for North Hulu Sungai Regency (HSU) is Pihaung Village and Banjang Village.
Results: In Kabupaten Kotawaringin Barat, in KAP test it was found that from 620 respondents interviewed there were 26.2% who knew the cause and transmission of filariasis, and from 620 respondents there were 44.7% of respondents who joined POPM. In clinical trials it was found that from 620 respondents there were 11 (eleven) respondents diagnosed having filarial fever, 1 (one) respondent lymphadenitis and 1 (one) respondent early lymphodema. In a finger blood survey of 620 samples, there were 5 (five) positive microfilariae. In the stool survey of 150 primary school children, 4 (four) children were positive Trichuris trichiura, 4 (four) positive children of Ancylostoma duodenale / Necator americanus, 2 (two) positive mixed individuals from Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura and Ancylostoma duodenale / Necator americanus, 1 (one) positive mixed person from Trichuris trichiura and Ancylostoma duodenale / Necator americanus, and 1 (one) positive person Hyminolepis sp. In the Brugia malayi genes survey of 20 samples it was found that no positive children of Brugia malayi were found. In a reservoir survey of 101 captured reservoirs (cats, long-tailed macaques and dogs) it was found that there were 5 (five) positive reservoirs containing Brugia malayi, 5 (five) positive reservoirs containing Dirofilaria immitis, 16 (sixteen) positive reservoirs contains Dirofilaria repens, and there are 3 (three) positive mix reservoirs containing Brugia malayi and Dirofilaria repens. In mosquito vector surveys caught were 315 genus Mansonia mosquitoes, 260 genus Culex mosquitoes, 21 genus Anopheles mosquitoes, 46 Aedes genus mosquitoes, 243 genus Verallina, 3 mosquitoes of genus Coqullettidia, 312 genus of Armigeres genus and 1 mosquito of Lutzia genus. From PCR results it is known that mosquitoes of all genera no positive containing Brugia malayi.
In an environmental survey conducted in the village of Dawak found there are 21 environmental habitats of mosquito breeding consisting of river banks, ponds, concrete tanks, used tires, comberan, drums, buckets and rubber containers. Meanwhile, an environmental survey conducted in Sungai Bakau village found that there are 58 mosquito breeding habitats consisting of lagoons, wells, puddles, ponds, tubs, buckets, used boats and waterfront. In North Hulu Sungai Regency, in KAP test it was found that from 620 respondents there were 47.7% who knew the cause and
xvii
transmitters of filariasis, and from 620 respondents there were 73.1% who joined POPM. In clinical trials of 620 respondents it was found that 9 (nine) respondents were diagnosed with filarial fever. In the finger blood survey of 620 samples, there were 1 (one) positive microfilaria. In the stool survey of 155 samples was known 1 (one) positive person Vermicularis and 1 (one) positive person Hyminolepis sp. In the Brugia malayi gene survey of 20 samples no positive children of Brugia malayi were found. In a reservoir survey of 100 captured reservoirs (cats, long- tailed macaques and dogs) it was found that there were 21 (twenty-one) positive reservoirs containing Dirofilaria repens. In a survey of vectors of mosquitoes caught are 633 genus Mansonia mosquitoes, 784 genus Culex mosquitoes, 129 genus Anopheles mosquitoes, 15 Aedes genus mosquitoes, and 18 genus Coqullettidia mosquitoes. From PCR result known that Mansonia genus mosquito there is positive containing Brugia malayi. HSU regency is a district that had failed in the first TAS, so get 2 (two) years of addition of POPM that is in 2014 and 2015. Failure that there is due to low levels of public education about filariasis so on re-treatment made innovations in the form of changes in the preparation of drugs into powder with the addition of sweeteners and adding a contact material of biscuits. In 2014 and 2015 drug delivery is done directly by officers to posyandu and play group (kindergarten and early childhood). In the environmental survey conducted in Hulu Sungai Utara District, it was found that in Pihaung village, there were 21 environmental habitats of distributed mosquitoes, namely comberan (3 points), fish pond (1 point), pond filled with water plants (8 points), rice fields (3 dot), fish pond (1 point), and a small river that became the natural boundary with the neighboring village, and in Banjang Village found 47 environmental habitats of mosquito breeding comprised of comberan (16 points), pond (23 points), used boat (1 point ), well (1 point), river (5 point).
Conclusion: The success of the third stage TAS implementation in Kotawaringin Barat District was supported by the epidemiology aspect of microfilariae found in the sample of finger blood survey of the community (0.8%), B. malayi not found in mosquitoes, although still found potential breeding ground for mosquito breeding, dominant mosquitoes which of the genus mansonia, B.
malayi was found in reservoir animals. The success of TAS stage three in West Kotawaringin Regency is supported by the management aspect of policy implementation in accordance with Minister of Health Decree No. 94 Year 2014 on Filariasis Control, budget supported by Local Government, human resources involved are sufficient, facilities and infrastructure have enough support, has been doing quite well. Inputs for the improvement of filariasis elimination in West Kotawaringin District are implementing POPM in Dawak Village in West Kotawaringin District and selectively treatment on positive samples in Sungai Bakau Village, strengthening filariasis surveillance from both Health Office and Puskesmas, entomology survey should be conducted on an ongoing basis to monitor the existence of vectors, intensify cross-sectoral cooperation that is already running well, monitoring and evaluation of program implementation by local governments on a regular basis. While the success of the one-phase Re-TAS implementation in Hulu Sungai Utara District was supported by the epidemiological aspect of microfilariae found in blood samples of the community (0.16%), B. malayi was not found in animal reservoir B. malayi was found in mosquito genus mansonia, potential breeding grounds for mosquito breeding were found at the site and the negative test of B. malayi gene showed no cross-reaction (PCR assay). The success of the first phase of Re-TAS implementation in Hulu Sungai Utara Regency is supported by the management aspect of central policy implementation in line with the regions, although there are no local regulations regulating filariasis elimination in Hulu Sungai Utara Regency, health HR plays an active role in filariasis elimination activities, the number is still limited, the Bupati is directly involved in POPM in a way and provides examples of direct medication so that people do not hesitate, utilize available facilities and infrastructure, there is cross-sectoral involvement (Dinas Pendidikan for school children data and delivery of drugs to children, Dinas Kominfo, BAPPEDA, PKK, and Community Empowerment), cross program and non-health (cadres, religious leaders, community leaders). Inputs for the improvement of filariasis elimination in Hulu Sungai Utara District are selective treatment of positive samples, reinforcement of filariasis surveillance, entomology surveys need to be done in a sustainable manner to monitor the existence of vectors, increasing the role of community leaders, religious leaders, traditional leaders, KDP, cadres health
xviii
in filariasis elimination activities, intensifying well-established cross-sectoral cooperation, monitoring and evaluation of program implementation by local governments on a regular basis, so that the second and third stage TAS evaluations are also successful, so that the target of Hulu Sungai Utara District receives a filariasis elimination certificate from the Ministry Health can be achieved.
Keywords: Elimination, Filariasis, Brugia malayi zoonotic
xix RINGKASAN PENELITIAN
Indonesia adalah salah satu dari 53 negara di dunia yang merupakan negara endemis filariasis. Pada tahun 2015, Menteri Kesehatan mencanangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga). Banyaknya kabupaten/kota yang gagal TAS (Transmission Assesment Survey) menimbulkan kendala bagi kabupaten/kota karena besarnya sumber daya yang diperlukan (biaya operasional dan dukungan SDM), belum seluruhnya kabupaten/kota yang endemis filariasis melaksanakan POPM filariasis secara menyeluruh (minimal 65% dari total populasi); untuk itu perlu dilaksanakan suatu studi yang menyeluruh guna mengetahui berbagai aspek terkait dengan kegagalan/keberhasilan suatu kabupaten/kota dalam melaksanakan eliminasi filariasis.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kotawaringin Barat (lulus TAS-3) dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (lulus Re-TAS 1). Penelitian dilakukan selama 10 bulan yaitu dimulai dari bulan Februari sampai dengan November 2017. Pengujian yang dilakukan antara lain KAP, klinis, survei darah jari (SDJ), survei tinja, survei gen Brugia malayi, surevi reservoar, survei vektor, survei lingkungan dan indepth interview.
Lokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat adalah Desa Sungai Bakau di dan desa Dawak untuk Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan lokasi studi untuk Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) adalah Desa Pihaung dan desa Banjang Provinsi Kalimantan Selatan. Di mana ke dua kabupaten tersebut merupakan wilayah endemis B. malayi zoonotic. Pemilihan lokasi kabupaten berdasarkan hasil TAS- 3 di Kabupaten Kotawaringin Barat yang dilaksanakan Subdit P2 Filariasis tahun 2016.
Hasil TAS-3 Kabupaten Kotawaringin Barat diketahui bahwa ada 4 (empat) orang anak SD kelas 1 dan 2 yang diperiksa positif antibodi B. malayi dengan rincian 2 (dua) orang di Desa Sungai Bakau, 1 orang di Desa Dawak dan 1 orang di Desa Sukamakmur.
Di Kabupaten Kotawaringin Barat, pada uji KAP diketahui bahwa dari 620 responden yang diwawancarai ada 26,2% yang mengetahui penyebab dan penularan filariasis, dan dari 620 responden tersebut ada 44,7% responden yang ikut POPM. Pada uji klinis diketahui bahwa dari 620 responden ada 11 (sebelas) responden didiagnosa memiliki demam filaria, 1 (satu) responden lymphadenitis dan 1 (satu) responden early lymphodema. Pada survei darah jari dari 620 sampel diketahui ada 5 (lima) orang yang positif mikrofilaria. Pada survei tinja dari 150 sampel anak SD diketahui ada 4 (empat) orang anak positif Trichuris trichiura, 4 (empat) orang anak positif Ancylostoma
xx
duodenale/Necator americanus, 2 (dua) orang positif mix dari Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Ancylostoma duodenale/Necator americanus, 1 (satu) orang positif mix dari Trichuris trichiura dan Ancylostoma duodenale/Necator americanus, dan 1 (satu) orang positif Hyminolepis sp. Pada survei gen Brugia malayi dari 20 sampel diketahui bahwa tidak didapatkan anak yang positif Brugia malayi. Pada survei reservoir dari 101 reservoir yang tertangkap (kucing, kera ekor panjang dan anjing) diketahui bahwa ada 5 (lima) reservoir yang positif mengandung Brugia malayi, 5 (lima) reservoir yang positif mengandung Dirofilaria immitis, 16 (enam belas) reservoir yang positif mengandung Dirofilaria repens, dan ada 3 (tiga) reservoir yang positif mix mengandung Brugia malayi dan Dirofilaria repens. Pada survei vektor nyamuk yang berhasil tertangkap yaitu 315 ekor nyamuk genus Mansonia, 260 ekor nyamuk genus Culex, 21 ekor nyamuk genus Anopheles, 46 ekor nyamuk genus Aedes, 243 ekor nyamuk genus Verallina, 3 ekor nyamuk genus Coqullettidia, 312 ekor nyamuk genus Armigeres dan 1 ekor nyamuk genus Lutzia. Dari hasil PCR diketahui bahwa nyamuk dari semua genus tidak ada yang positif mengandung Brugia malayi. Pada survei lingkungan yang dilakukan di Desa Dawak ditemukan ada 21 habitat lingkungan perindukan nyamuk yang terdiri dari tepi sungai , kolam, bak beton, ban bekas, comberan, drum, ember dan penampung karet. Sedangkan survei lingkungan yang dilakukan di Desa Sungai Bakau menemukan ada 58 habitat lingkungan perindukan nyamuk terdiri dari laguna, sumur, genangan air, kolam, bak WC, ember, perahu bekas dan tepi pantai.
Lokasi penelitian ke dua adalah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yaitu Desa Pihaung Kecamatan Haur Gading dan Desa Banjang Kecamatan Banjang. Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan wilayah endemis B. malayi zoonotic. Pemilihan lokasi kabupaten berdasarkan hasil TAS-1 di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang dilaksanakan Subdit P2 Filariasis tahun 2016. Hasil TAS-1 Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2016 adalah seluruh anak SD kelas 1 dan yang diperiksa negatif antibody B. malayi. Adanya hasil negatif tersebut, maka kriteria inklusi lokasi studi ditentukan berdasarkan kriteria endemisitas dari hasil pemetaan dan survei darah jari (SDJ) yang pernah dilakukan untuk menetapkan daerah sentinel dan/atau spot. Hasil SDJ tahun 2004 adalah 1,38% dengan jumlah desa yang ditemukan microfilaria sebanyak 5 (lima) desa. Desa Pihaung dan Desa Banjang ditetapkan sebagai sentinel.
Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada uji KAP diketahui bahwa dari 620 responden ada 47,7% yang mengetahui penyebab dan penular filariasis, dan dari 620
xxi
responden tersebut ada 73,1% yang ikut POPM. Pada uji klinis dari 620 responden diketahui bahwa 9 (sembilan) responden didiagnosa memiliki demam filaria. Pada survei darah jari dari 620 sampel diketahui ada 1 (satu) orang yang positif microfilaria. Pada survei tinja dari 155 sampel diketahui 1 (satu) orang positif Vermicularis dan 1 (satu) orang positif Hyminolepis sp. Pada survei gen Brugia malayi dari 20 sampel tidak didapatkan anak yang positif Brugia malayi. Pada survei reservoir dari 100 reservoir yang tertangkap (kucing, kera ekor panjang dan anjing) diketahui bahwa ada 21 (dua puluh satu) reservoir yang positif mengandung Dirofilaria repens. Pada survei vektor nyamuk yang berhasil tertangkap yaitu 633 ekor nyamuk genus Mansonia, 784 ekor nyamuk genus Culex, 129 ekor nyamuk genus Anopheles, 15 ekor nyamuk genus Aedes, dan 18 ekor nyamuk genus Coqullettidia. Dari hasil PCR diketahui bahwa nyamuk genus Mansonia ada yang positif mengandung Brugia malayi. Kabupaten HSU merupakan kabupaten yang pernah gagal dalam TAS pertama, sehingga mendapat 2 (dua) tahun penambahan POPM yaitu tahun 2014 dan 2015. Kegagalan yang ada terjadi karena rendahnya tingkat edukasi masyarakat tentang filariasis sehingga pada pengobatan ulang dilakukan inovasi berupa perubahan bentuk sediaan obat menjadi puyer dengan penambahan pemanis dan menambahkan bahan kontak berupa biskuit. Pada tahun 2014 dan 2015 pemberian obat dilakukan langsung oleh petugas ke posyandu dan kelompok bermain (TK dan PAUD).
Pada survei lingkungan yang dilakukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara diketahui bahwa di Desa Pihaung ditemukan 21 habitat lingkungan perindukan nyamuk yang terdistribusi yaitu comberan (3 titik), kolam ikan (1 titik), kolam yang dipenuhi tumbuhan air (8 titik), sawah (3 titik), kolam ikan (1 titik), serta sungai kecil yang menjadi tapal batas alam dengan desa tetangga, dan di Desa Banjang ditemukan 47 habitat lingkungan perindukan nyamuk terdiri comberan (16 titik), kolam (23 titik), perahu bekas (1 titik), sumur (1 titik), sungai (5 titik).
Keberhasilan pelaksanaan TAS tahap ketiga di Kabupaten Kotawaringin Barat didukung oleh aspek epidemiologi yaitu mikrofilaria ditemukan pada sampel survei darah jari masyarakat (0,8%), B. malayi tidak ditemukan pada nyamuk, meskipun masih ditemukan tempat perindukan potensial untuk perkembang biakan nyamuk, nyamuk dominan yang dari genus mansonia, B.malayi ditemukam pada hewan reservoar.
Keberhasilan pelaksanaan TAS tahap tiga di Kabupaten Kotawaringin Barat didukung oleh aspek manajemen yaitu implementasi kebijakan sudah sesuai dengan Permenkes No 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis, anggaran didukung oleh Pemerintah
xxii
Daerah, SDM yang terlibat sudah mencukupi, sarana dan prasarana sudah cukup mendukung, kerjasama lintas sektor sudah berjalan cukup baik, Masukan untuk perbaikan eliminasi filariasis di Kabupaten Kotawaringin Barat yaitu melaksanakan POPM pada Desa Dawak di Kabupaten Kotawaringin Barat dan pengobatan secara selektif pada sampel positif di Desa Sungai Bakau, penguatan surveilans filariasis baik dari Dinas Kesehatan maupun Puskesmas, survei entomologi harus dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau keberadaan vektor, mengintensifkan kerja sama lintas sektor yang sudah berjalan dengan baik, monitoring dan evaluasi pelaksanaan program oleh pemerintah daerah secara berkala. Sedangkan keberhasilan pelaksanaan Re-TAS tahap satu di Kabupaten Hulu Sungai Utara didukung oleh aspek epidemiologi yaitu mikrofilaria ditemukan pada sampel darah masyarakat (0,16%), B.malayi tidak ditemukan pada hewan reservoir, B. malayi ditemukan pada nyamuk genus mansonia, tempat perindukan potensial untuk perkembang biakan nyamuk ditemukan di lokasi dan asil uji gen B. malayi negatif menunjukan tidak ada reaksi silang (Uji PCR). Keberhasilan pelaksanaan Re-TAS tahap satu di Kabupaten Hulu Sungai Utara didukung oleh aspek manajemen yaitu implementasi kebijakan pusat sejalan dengan daerah, meskipun belum ada peraturan daerah yang mengatur mengenai eliminasi filariasis di Kabupaten Hulu Sungai Utara, SDM kesehatan berperan aktif dalam kegiatan eliminasi filariasis, meskipun jumlah masih terbatas, Bupati terlibat langsung dalam POPM dengan cara dan memberikan contoh minum obat langsung agar masyarakat tidak ragu, memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia, terdapat keterlibatan lintas sektor (Dinas Pendidikan untuk data anak-anak sekolah dan penyerahan obat ke anak-anak, Dinas Kominfo, BAPPEDA, PKK, dan Pemberdayaan Masyarakat), lintas program dan non kesehatan (kader, tokoh agama, tokoh masyarakat). Masukan untuk perbaikan eliminasi filariasis di Kabupaten Hulu sungai Utara yaitu melaksanakan pengobatan secara selektif pada sampel positif, penguatan kembali surveilans filariasis, survei entomologi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memantau keberadaan vektor, meningkatkan peran serta tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, PPK, kader kesehatan dalam kegiatan eliminasi filariasis, mengintensifkan kerja sama lintas sektor yang sudah berjalan dengan baik, monitoring dan evaluasi pelaksanaan program oleh pemerintah daerah secara berkala, agar evaluasi TAS tahap kedua dan ketiga juga berhasil, sehingga target Kabupaten Hulu Sungai Utara mendapatkan sertifikat eliminasi filariasis dari Kementerian Kesehatan dapat tercapai.
xxiii
Berdasarkan penelitian di atas maka saran rekomendasi berupa pelaksanaan POPM pada Desa Dawak di Kabupaten Kotawaringin Barat yang positif Brugia malayi (4 orang dengan), pemberian pengobatan selektif bagi 1 orang penderita positif Brugia malayi di Desa Sungai Bakau di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Desa Pihaung Kabupaten Hulu Sungai Utara dan perlu dilakukan surveilans aktif di dua kabupaten tersebut.
xxiv DAFTAR ISI
SK PENELITIAN ... iii SUSUNAN TIM PENELITI ... ix PERSETUJUAN ETIK ... x PERSETUJUAN ATASAN YANG BERWENANG ... xi KATA PENGANTAR ... xii ABSTRAK ... xiii RINGKASAN PENELITIAN ... xix DAFTAR ISI ... xxiv DAFTAR TABEL... xxv DAFTAR GAMBAR/GRAFIK/PETA ... xxx DAFTAR LAMPIRAN ... xxxi 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. LATAR BELAKANG ... 1 1.2. DASAR PEMIKIRAN ... 2 1.3. TUJUAN PENELITIAN ... 4 1.4. MANFAAT ... 4 2. METODE PENELITIAN ... 5 2.1. KERANGKA KONSEP... 5 2.2. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL ... 6 2.3. DESAIN PENELITIAN... 7 2.4. TEMPAT DAN WAKTU ... 7 2.5. POPULASI DAN SAMPEL (ESTIMASI DAN CARA PEMILIHAN) ... 8 2.6. INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA ... 18 2.7. BAHAN DAN PROSEDUR PENGUMPULAN DATA ... 18 2.8 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ... 25 3. HASIL PENELITIAN ... 26 4. PEMBAHASAN ... 848 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 100 6. UCAPAN TERIMA KASIH ... 102 7. DAFTAR KEPUSTAKAAN ... 103 8. LAMPIRAN ... 108
xxv DAFTAR TABEL
Tabel Keterangan Hal
1 Cakupan Pengobatan Massal (POPM) Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2007-2011
28 2 Cakupan Pengobatan Massal (POPM) Kabupaten Hulu Sungai Utara
Tahun 2007-2015
29 3 Jumlah Responden/Subyek Penelitian/Sampel Berdasarkan Jenis
Data/Informasi Yang Dikumpulkan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
29
4 Jumlah Responden/Subyek Penelitian/Sampel Berdasarkan Jenis Data/Informasi Yang Dikumpulkan Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
30
5 Karakteristik Responden Survei KAP Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
31 6 Karakteristik Responden Survei KAP Kabupaten Hulu Sungai Utara
Tahun 2017
32 7 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Mengetahui
Penyebab Penyakit Kaki Gajah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
35
8 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Menyebutkan Akibat Kaki Gajah (Filariasis) Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
35
9 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Dengan Sanak Famili/Tetangga Yang Pernah Mengalami Demam Berulang Disertai Pembengkakan Kelenjar Pada Lipat Paha Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
36
10 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Menyebutkan Cara Mencari Pengobatan Untuk Sanak Famili/Tetangga Yang Pernah Mengalami Demam Berulang Disertai Pembengkakan Kelenjar Pada Lipat Paha Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
36
11 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Mengetahui Tentang Pengobatan Pencegahan Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) Untuk Semua Penduduk Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
36
12 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Menyebutkan Sumber Informasi Pencegahan Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) Untuk Semua Penduduk Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
37
13 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Mengetahui Penyebab Penyakit Kaki Gajah Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
37
14 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Menyebutkan Akibat Kaki Gajah (Filariasis) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
38 15 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Dengan Sanak
Famili/Tetangga Yang Pernah Mengalami Demam Berulang Disertai Pembengkakan Kelenjar Pada Lipat Paha Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
38
16 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Menyebutkan Cara Mencari Pengobatan Untuk Sanak Famili/Tetangga Yang Pernah
38
xxvi
Mengalami Demam Berulang Disertai Pembengkakan Kelenjar Pada Lipat Paha Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
17 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Mengetahui Tentang Pengobatan Pencegahan Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) Untuk Semua Penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
39
18 Jumlah dan Persentase Responden Usia 15 Tahun Yang Menyebutkan Sumber Informasi Pencegahan Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) Untuk Semua Penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
39
19 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Penyakit Filariasis Dapat Dicegah Dengan Tidak Minum Obat Filariasis Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
40
20 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Penyakit Filariasis Dapat Dicegah Dengan Hanya Tidur Menggunakan Kelambu Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
40
21 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Jika Minum Obat Filariasis Harus Ada Pemberitahuan Terlebih Dahulu Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
40
22 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Akan Ada Efek Sampingnya Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
41
23 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Jika Tidak Minum Obat Filariasis Yakin Tidak Akan Tertular Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
41
24 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Jika Minum Obat Filariasis Akan Menyebabkan Kaki/Tangan Membengkak Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
41
25 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Karena Disuruh Orangtua/Keluarga/Kepala Desa/Tokoh Masyarakat/Kader Kesehatan Desa Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
42
26 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Karena Segan Kepada Kepala Desa/Tokoh Masyarakat/Kader Kesehatan Desa Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
42
27 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Kita Akan Sehat Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
42
28 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Karena Kesadaran Sendiri Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
43
29 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Penyakit Filariasis Dapat Dicegah Dengan Tidak Minum Obat Filariasis Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
43
30 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Penyakit Filariasis Dapat Dicegah Dengan Hanya Tidur Menggunakan Kelambu Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
43
31 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Jika Minum Obat Filariasis Harus Ada Pemberitahuan
44
xxvii
Terlebih Dahulu Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
32 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Akan Ada Efek Sampingnya Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
44
33 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Jika Tidak Minum Obat Filariasis Yakin Tidak Akan Tertular Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
44
34 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Jika Minum Obat Filariasis Akan Menyebabkan Kaki/Tangan Membengkak Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
45
35 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Karena Disuruh Orangtua/Keluarga/Kepala Desa/Tokoh Masyarakat/Kader Kesehatan Desa Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
45
36 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Karena Segan Kepada Kepala Desa/Tokoh Masyarakat/Kader Kesehatan Desa Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
46
37 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Kita Akan Sehat Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
46
38 Jumlah dan Persentase Sikap Responden Usia 15 Tahun Dengan Pernyataan Minum Obat Filariasis Karena Kesadaran Sendiri Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
46
39 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Yang Dilaksanakan Ke Segenap Penduduk Desa Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
47
40 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Tentang Jumlah Macam Obat Yang Diberikan Petugas Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
47
41 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Tentang Meminum Semua Obat Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
48
42 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) dan Meminum Semua Obat Tentang Cara Minum Obat Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
48
43 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) dan Meminum Obat Tentang Kapan Obat Diminum Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
48
44 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Tetapi Tidak Meminum Obat Dengan Alasan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
49
45 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan 49
xxviii
Reaksi Pengobatan Yang Dirasakan Pertama Kali Minum Obat Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
46 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Setelah Minum Obat Yang Diberikan Ada Cacing Yang Keluar Dari Mulut Atau Keluar Sewaktu Buang Air Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
50
47 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Tidak Mau Ikut/Turut Serta Tidak Minum Obat Pencegah Filariasis Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
50
48 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Ada Pemberitahuan Sebelum Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
51
49 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Upaya Yang Dilakukan Di Dalam Rumah Untuk Menghindari Gigitan Nyamuk Pada Waktu Malam Hari Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
51
50 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Upaya Yang Dilakukan Di Luar Rumah Untuk Menghindari Gigitan Nyamuk Pada Waktu Malam Hari Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
52
51 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Yang Dilaksanakan Ke Segenap Penduduk Desa Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
52
52 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Tentang Jumlah Macam Obat Yang Diberikan Petugas Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
53
53 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Tentang Meminum Semua Obat Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
53
54 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) dan Meminum Semua Obat Tentang Cara Minum Obat Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
53
55 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) dan Meminum Obat Tentang Kapan Obat Diminum Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
54
56 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Pernah Ikut Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal (POPM) Tetapi Tidak Meminum Obat Dengan Alasan Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
54
57 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Reaksi Pengobatan Yang Dirasakan Pertama Kali Minum Obat Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
55
58 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Setelah Minum Obat Yang Diberikan Ada Cacing Yang Keluar Dari
55
xxix
Mulut Atau Keluar Sewaktu Buang Air Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
59 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Tidak Mau Ikut/Turut Serta Tidak Minum Obat Pencegah Filariasis Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
56
60 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Ada Pemberitahuan Sebelum Pengobatan Pencegahan Filariasis Secara Massal Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
56
61 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Upaya Yang Dilakukan Di Dalam Rumah Untuk Menghindari Gigitan Nyamuk Pada Waktu Malam Hari Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
56
62 Jumlah dan Persentase Responden Usia 5 Tahun Yang Menyebutkan Upaya Yang Dilakukan Di Luar Rumah Untuk Menghindari Gigitan Nyamuk Pada Waktu Malam Hari Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
57
63 Jumlah Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Klinis Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
57 64 Jumlah Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Mikroskop Survei
Darah Jari Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
58 65 Jumlah Parasit Mikrofilaria Per Sediaan Darah Pada Responden Positif
Mikrofilaria Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
58 66 Jumlah Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Klinis Kabupaten
Hulu Sungai Utara Tahun 2017
59 67 Jumlah Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Mikroskop Survei
Darah Jari Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
59 68 Jumlah Parasit Mikrofilaria Per Sediaan Darah Pada Responden Positif
Mikrofilaria Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
60 69 Jumlah Dan Persentase Responden Yang Positif Kecacingan Kabupaten
Kotawaringin Barat Tahun 2017
60 70 Jumlah Dan Persentase Responden Yang Positif Kecacingan Kabupaten
Hulu Sungai Utara Tahun 2017
61 71 Jumlah Anak SD Hasil Pemeriksaan Gen Brugia malayi Kabupaten
Kotawaringin Barat Tahun 2017
62 72 Jumlah Anak SD Hasil Pemeriksaan Gen Brugia malayi Kabupaten Hulu
Sungai Utara Tahun 2017
62 73 Jumlah Sampel Reservoar Yang Positif Mikrofilaria Kabupaten
Kotawaringin Barat Tahun 2017
63 74 Jumlah Sampel Reservoar Yang Positif Mikrofilaria Kabupaten Hulu
Sungai Utara Tahun 2017
64 75 Jumlah Sampel Vektor (Nyamuk) Yang Berhasil Ditangkap Dalam Dua
Periode Penangkapan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
65 76 Jumlah Sampel Vektor (Nyamuk) Yang Berhasil Ditangkap Dalam Dua
Periode Penangkapan Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
66 77 Kondisi Lingkungan Biologis Vektor dan Reservoar di Desa Kabupaten
Kotawaringin Barat Tahun 2017
67 78 Kondisi Lingkungan Biologis Vektor dan Reservoar di Desa Kabupaten
Hulu Sungai Utara Tahun 2017
68
xxx DAFTAR GAMBAR/GRAFIK/PETA
Gambar Keterangan Hal
1 Kerangka Konsep 5
2 Plotting rumah responden KAP dan lingkungan biologis vektor di Desa Sungai Bakau Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
33 3 Plotting rumah responden KAP dan lingkungan biologis vektor di Desa
Sungai Bakau Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2017
33 4 Plotting rumah responden KAP dan lingkungan biologis vektor di Desa
Pihaung Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
34 5 Plotting rumah responden KAP dan lingkungan biologis vektor di Desa
Banjang Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2017
34
xxxi DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Keterangan Hal
1 SP3 108
2 Foto Kegiatan 112
1 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam resolusi World Health Assembly (WHA) pada tahun 1997, filariasis yang dikategorikan sebagai neglected diseases (penyakit yang terabaikan) menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia 1. Indonesia adalah salah satu dari 53 negara di dunia yang merupakan negara endemis filariasis, dan satu-satunya negara di dunia dengan ditemukannya tiga spesies cacing filaria yang ada pada manusia yaitu:
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori 2).
Tahun 2000 WHO mendeklarasikan global eliminasi filariasis pada tahun 2020.
Di Indonesia program eliminasi filariasis telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI pada tanggal 8 April 2002 di Sumatera Selatan. Sejak pencanangan tersebut, Menteri Kesehatan mengeluarkan Keputusan Nomor: 157/Menkes/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota yaitu Penatalaksanaan Kasus Kronis Filariasis. Tahun 2005 dikeluarkan Keputusan Nomor: 1582/Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) 2.
Sampai akhir tahun 2016, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, terdapat 239 kabupaten/ kota endemis filariasis. Dari 236 kabupaten/kota yang endemis filariasis tersebut, 55 kabupaten/kota telah melakukan pemberian obat pencegahan massal filariasis (POPM) selama 5 tahun berturut-turut (5 putaran). Sisanya sebanyak 181 kabupaten/kota akan melaksanakan POPM sampai dengan tahun 2020, dengan jumlah penduduk sebesar 76 juta jiwa. Kabupaten/kota yang melaksanakan POPM, pada tahun ketiga dilakukan evaluasi yang berupa pre-survei dengan melaksanakan survei darah jari guna mengetahui ada tidaknya mikrofilaria dalam darah. Selanjutnya setelah 5 tahun POPM dilakukan evaluasi dengan survei kajian penularan/TAS-1 dengan menggunakan rapid diagnostic test/RDT 1. RDT yang digunakan adalah brugia rapid testTM untuk parasit Brugia malayi dan/atau Brugia timori 1,2,3,4., dan immunochromatographic test (ICT) untuk parasit Wuchereria bancrofti. Brugia rapid test digunakan untuk mendiagnosis ada tidaknya antibodi B. malayi/B. timori, sedangkan ICT untuk mendiagnosis ada tidaknya antigen W.
bancrofti. Dari hasil TAS-1 tsb akan diketahui apakah di kabupaten/kota tersebut masih terjadi penularan filariasis atau masih dikategorikan sebagai daerah endemis. Terhadap daerah yang masih terjadi penularan filariasis akan dilakukan POPM ulang selama 2 putaran (2 tahun) 5,6,7. Untuk hasil TAS-1 dengan nilai di bawah nilai cut-off maka
2
kabupaten/kota tersebut dinyatakan lulus TAS. Selama 2 tahun setelah dinyatakan lulus, kabupaten/kota melaksanakan surveilans filariasis. Setelah 2 tahun masa surveilans, dilakukan evaluasi (TAS-2). Dua tahun kemudian dilakukan lagi evaluasi (TAS-3). Jika dalam 2 periode masa surveilans dapat dilalui dengan status lulus TAS, maka kabupaten/kota tsb disertifikasi dengan status filariasis telah tereliminasi. Dari status terakhir per tahun 2015, terdapat 29 kabupaten/kota yang telah lulus Transmission Assesment Survey (TAS) dan 22 kabupaten/kota gagal TAS baik TAS1, TAS2 atau TAS3.
Pada tahun 2015, Menteri Kesehatan mencanangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga). Sebelumnya pada tahun 2014 7, Menkes mengeluarkan Permenkes No. 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis. Dengan berlakunya Permenkes ini, maka Kepmenkes No. 1582/2005 dan Kepmenkes No. 893/2007 dinyatakan tidak berlaku.
Banyaknya kabupaten/kota yang gagal TAS menimbulkan kendala bagi kabupaten/kota karena besarnya sumber daya yang diperlukan (biaya operasional dan dukungan SDM), dan belum seluruh kabupaten/kota yang endemis filariasis melaksanakan POPM filariasis secara menyeluruh (minimal 65% dari total populasi); untuk itu perlu dilaksanakan suatu studi yang menyeluruh guna mengetahui berbagai aspek terkait dengan kegagalan/keberhasilan suatu kabupaten/kota dalam melaksanakan eliminasi filariasis.
1.2. Dasar Pemikiran
Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan kabupaten/kota untuk lulus TAS.
Salah satu adalah cakupan POPM yang belum mencapai target yang ditentukan. Dari hasil kajian yang dilakukan Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes RI; persentase cakupan pengobatan massal pada tahun 2009 mencapai 59,48%. Persentase cakupan ini masih jauh di bawah target yang ditetapkan WHO (minimal 65% dari total populasi atau 85% dari total sasaran) 8. Rendahnya cakupan POPM antara lain terbatasnya sumber daya yang tersedia, tingginya biaya operasional kegiatan POPM, dan penolakan masyarakat dengan adanya reaksi pengobatan seperti demam, mual, muntah, pusing, sakit sendi dan badan 8,9. Namun kegagalan TAS tidak hanya dari aspek manajemen POPM dan metode surveilans yang diterapkan. Aspek lain yang terkait dengan lingkungan (masih adanya reservoar dan vektor penyakit), perilaku masyarakat, faktor sosial ekonomi masyarakat yang masih rendah, dan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kabupaten/kota terkait dengan pengendalian filariasis; yang perlu diketahui secara lebih mendalam dan komprehensif.
3
Salah satu keberhasilan POPM di Kabupaten Alor adalah meningkatnya KAP (Knowledge, Attitudes, and Practice) penduduk. Semula 54% penduduk yang mendengar dan mengetahui filariasis, menjadi 89% penduduk yang tahu filariasis setelah dilaksanakan sosialisasi. Meningkatnya KAP penduduk tentang POPM filariasis berdampak dengan meningkatnya cakupan penduduk yang makan obat sebesar 80% 10. Studi yang dilaksanakan oleh Sekar Tuti dkk pada tahun 2006 di Pulau Alor menunjukkan bahwa selama 5 tahun POPM di 9 desa, mf rate turun dari 2,1%--3% menjadi 0% 11. Demikian juga hasil studi yang dilakukan oleh Clare Huppatz pada 5 negara di Pasifik menemukan bahwa pelaksanaan POPM selama 5 tahun berturut-turut dapat menurunkan antigenaemia di bawah 1% 12. Di India filariasis endemik di 17 negara bagian dan 6 union territories dengan 553 juta penduduk berisiko terinfeksi filariasis. Umumnya India endemis W.
bancrofti, hanya 2% yang endemis B. malayi yaitu di negara bagian Kerala, Tamil Nadu, Andhra Pradesh, Orissa, Madhya Pradesh, Assam dan Benggala Barat. Pada tahun 2007, dari 250 kabupaten endemik, cakupan pengobatan massal adalah 82% dari 518 juta penduduk, dan setahun kemudian meningkat menjadi 85,92%. Meningkatnya angka cakupan pengobatan massal dikarenakan kampanye pengendalian dan pencegahan filariasis yang merupakan Kebijakan Kesehatan Nasional Tahun 2000 dalam upaya eliminasi filariasis tahun 2015 13. Secara fenomenal, Tiongkok berhasil melaksanakan eliminasi filariasis pada tahun 2006 dengan menggunakan fortifikasi garam dapur dengan DEC. Keberhasilan program eliminasi filariasis tersebut karena merupakan program prioritas di 864 kabupaten/kota, sebagai upaya yang berkelanjutan sejak tahun 1949, adanya kerja sama yang erat antar instansi yang terkait, partisipasi aktif masyarakat di wilayah endemis, dan tingginya intensitas kampanye pengendalian dan pencegahan 14. Keberhasilan Tiongkok ini dapat dijadikan contoh atas adanya partisipasi aktif masyarakat dan kampanye pengendalian dan pencegahan filariasis.
Dari pengalaman Tiongkok dan hasil keempat studi tersebut di atas, tampak bahwa keberhasilan pelaksanaan eliminasi filariasis terjadi jika adanya kebijakan pemerintah daerah untuk menjadikan eliminasi filariasis sebagai program prioritas, adanya kontinuitas POPM, dan promosi kesehatan yang intensif. Berdasarkan hal tersebut, bagaimana dengan Indonesia. Dimana letak kegagalan dan keberhasilan kabupaten/kota dalam pelaksanaan eliminasi filariasis yang telah berlangsung sejak tahun 2002. Faktor kegagalan dan keberhasilan inilah yang akan dicari dalam studi ini dengan melibatkan berbagai unit/instansi yang berada di lingkup Badan Litbangkes.
4 1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui dan menganalisis program eliminasi filariasis di kabupaten/kota yang telah melaksanakan POPM.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan menganalisis kegagalan dan keberhasilan eliminasi filariasis dari hasil analisis aspek epidemiologi (host, agent, lingkungan).
2. Mengetahui dan menganalisis kegagalan dan keberhasilan eliminasi filariasis dari hasil analisis aspek manajemen.
3. Mendapatkan masukan yang signifikan untuk perbaikan eliminasi filariasis di Indonesia
1.4. Manfaat
Hasil studi diharapkan dapat dijadikan dasar atau acuan dalam hal pengembangan model eliminasi filariasis yang dapat diterapkan oleh pelaksana program dalam penanggulangan filariasis.
Untuk melaksanakan program penanggulangan filariasis, telah ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis. Dalam Permenkes tersebut, penyelenggaraan penanggulangan filariasis dilaksanakan oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran serta masyarakat. Penanggulangan filariasis dilaksanakan dengan empat pokok kegiatan yaitu (1) surveilans kesehatan (penemuan penderita, survei data dasar prevalensi mikrofilaria, survei evaluasi prevalensi mikrofilaria, dan survei evaluasi penularan); (2) penanganan penderita; (3) pengendalian faktor risiko melalui pemberian obat pencegah massal (POPM); dan (4) komunikasi, informasi, dan edukasi.
5 2. METODE PENELITIAN
2.1. Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka Konsep Keterangan Diagram
1. Keberhasilan kabupaten/kota dalam eliminasi filariasis didasari oleh lulus tidaknya saat dilakukan evaluasi (TAS). Pelaksanaan TAS dilakukan setelah POPM dilakukan selama 5 putaran (5 tahun) berturut-turut tanpa terputus. Pernyataan lulus TAS jika jumlah sampel anak usia sekolah (kelas 1 dan 2 atau berumur 6-7 tahun) yang diperiksa antibodi/antigen lebih rendah dari nilai cut-off kritis yang ditetapkan (= 18).
Sedangkan yang gagal TAS adalah sebaliknya (di atas nilai cut-off kritis yang ditetapkan).