• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 BAB III PERUMUSAN MASALAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3 BAB III PERUMUSAN MASALAH"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

3

BAB III  PERUMUSAN MASALAH 

 

3.1 Alasan Pemilihan Masalah  

Sejak  pasca  krisis  perbankan  pada  akhir  tahun  1990‐an  hingga  saat  ini  sejumlah  bank‐bank  besar  yang  lebih  sehat  –  baik  bank  lokal  maupun  bank  asing atau bank joint‐venture hadir memenuhi industri perbankan Indonesia.  Banyaknya  jumlah  bank  pada  saat  ini  menyebabkan  persaingan  menjadi  semakin  ketat.  Ketatnya  persaingan  membuat  bank‐bank  saling  berlomba  dalam menarik perhatian konsumen melalui layanan dan produk‐produknya.   

Dalam  menghadapi  ketatnya  persaingan,  strategi  saja  tidak  cukup  bagi  perusahaan  untuk  dapat  bertahan  apalagi  tumbuh.  Strategi  bisnis  yang  ada  harus  didukung  oleh  budaya  perusahaan  yang  tepat  dan  kuat  sehingga  perusahaan  bisa  memenangkan  kompetisi.  Selain  itu,  budaya  perusahaan  harus  sesuai  dengan  kondisi  lingkungan  bisnis  yang  sedang  terjadi.  Jika  budaya  yang  diterapkan  di  dalam  perusahaan  tidak  sesuai  dengan  lingkungan  maka  bukannya  menjadi  competitive  advantage  tetapi  justru  menjadi penghambat.  

Pada  saat  ini,  lingkungan  bisnis  berubah  dengan  sangat  cepat  dan  menuntut  penyesuaian  yang  lebih  cepat  dan  sering  pada  cara  kerja,  jenis  pekerjaan, dan kompetensi yang diperlukan. Budaya perusahaan yang dirasa  sesuai  dengan  kondisi  ini  adalah  budaya  perusahaan  yang  berbasis 

entrepreneurship.  Dengan  adanya  budaya  entrepreneurial,  perusahaan  dapat 

menghadapi  tantangan  bisnis  karena  dapat  membantu  perusahaan  dalam  bertindak  yang  sesuai  dengan  sifat  entrepreneurship  (“7Fs”  yang  akan  dijelaskan  lebih  lanjut).  Hal  inipun  akan  dapat  membantu  PT  Bank  Mega  Tbk.,  karena  dengan  dimilikinya  budaya  entrepreneurial,  PT  Bank  Mega  Tbk.  akan siap dalam menghadapi tantangan bisnis dan memenangkan persaingan  yang ketat. 

(2)

3.2 Posisi Permasalahan  

Sejak  berdiri  hingga  tahun  2003,  perhatian  pemilik  dan  manajemen  PT  Bank Mega Tbk. hanya terfokus pada pengembangan bisnis dan belum terlalu  memikirkan  masalah  budaya  perusahaan  (corporate  culture).  Namun  kemudian,  sejalan  dengan  pengembangan  bisnis  dan  peningkatan  profesionalisme  manajemen,  pemilik  mulai  menyadari  bahwa  untuk  bisa  tetap bertahan dan unggul dalam persaingan yang semakin ketat, perusahaan  juga harus memperhatikan budaya perusahaan yang diyakini mencerminkan  dan  berperan  penting  dalam  pembentukan  kualitas  kinerja  dari  organisasi  perusahaan.  

Perusahaan  dapat  mencapai  hasil  yang  optimal  jika  didukung  dengan  budaya  perusahaan  yang  sesuai  dan  sumber  daya  yang  kompeten.  Untuk  mendukung  hal  ini,  maka  dilakukan  penelitian  dalam  rangka  mendukung  pelaksanaan  budaya  perusahaan.  Penelitian  ini  dimaksudkan  untuk  melihat  budaya  perusahaan  yang  terjadi  dan  apakah  sesuai  dengan  iklim 

intrapreneurship  yang  diinginkan  agar  perusahaan  siap  dalam  menghadapi 

tantangan bisnis dan unggul dalam persaingan.      3.3 Tujuan Penelitian  Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:  • Mengidentifikasi apakah pada saat ini perusahaan telah memiliki budaya  entrepreneurial. 

• Mengidentifikasi  apakah  pihak  manajemen  pada  perusahaan  yang  disurvei telah menunjukkan perilaku entrepreneurial.  

• Memberikan  saran‐saran  kepada  perusahaan  dalam  melakukan  peningkatan pada budaya perusahaan yang berbasis  entrepreneurship. 

(3)

3.4 Pembatasan Masalah 

Pembatasan  masalah  yang  dilakukan  penulis  agar  penelitian  mengenai 

corporate culture menjadi lebih terarah, adalah: 

1. Penelitian dilakukan melalui penyebaran kuesioner pada karyawan di  4  divisi  yaitu  Corporate  Secretary  &  Legal  Division  (CSLD),  Credit 

Administration Division (CADD), Operation Service Division (OPSD), dan  Retail Product Management (RPMD) di kantor pusat PT Bank Mega Tbk. 

yang berlokasi di Jakarta. 

2. Data  yang  digunakan  dalam  pengolahan  data  pada  penelitian  ini  diperoleh  dari  hasil  kuesioner  ELQ  dan  EOS,  sedangkan  data‐data  lainnya  diperoleh  dari  hasil  wawancara,  studi  literatur,  dan  sumber  lainnya yang berhubungan dengan penelitian di PT Bank Mega Tbk.  3. Penelitian ini tidak berlanjut hingga ke tahap implementasi, dan hanya  terbatas pada indentifikasi dan saran perbaikan.     3.5 Tinjauan Pustaka  3.5.1 Budaya Perusahaan 

Budaya  perusahaan  merupakan  suatu  konsep  baru  yang  terlahir  dan  berkembang dari ilmu manajemen dan ilmu psikologi industri dan organisasi.  Salah  satu  tokoh  yang  mempelopori  teori  budaya  perusahaan  adalah  Edgar  Schein (1992) yang berpendapat bahwa budaya perusahaan adalah suatu pola  dimensi  milik  bersama  yang  dipelajari  suatu  kelompok  pada  saat  memecahkan  masalah  adaptasi  eksternal  dan  integrasi  internal,  yang  telah  cukup berhasil sehingga dianggap sah dan, karena itu, akan diajarkan kepada  anggota  kelompok  baru  sebagai  cara  yang  benar  untuk  mempersepsi,  berpikir, dan merasakan dalam menghadapi masalah serupa.  

(4)

Budaya  perusahaan  juga  didefinisikan  sebagai  sistem  nilai‐nilai  yang  diyakini oleh semua anggota organisasi dan yang dipelajari, diterapkan, serta  dikembangkan  secara  berkesinambungan,  berfungsi  sebagai  sistem  perekat,  dan  dapat  dijadikan  acuan  berperilaku  dalam  organisasi  untuk  mencapai  tujuan perusahaan yang telah ditetapkan (Moeljono, 2003).  

Berdasarkan  Kotter  dan  Heskett  (1992),  budaya  perusahaan  memiliki  dua tingkat, yaitu:  1. Bagian yang tampak (visible artefacts)  2. Bagian yang tidak tampak (shared values, deeper and less visible)  B A G IA N  Y A N G  T A M P A K B A G IA N  Y A N G  T ID A K  T A M P A K ~ B en tu k  g ed u n g  d an  lay ou t ru an g an ~ C ara berp ak aian

~ C ara b erk o m u n ikasi ~ C ara m en g am bil k ep u tu san ~ C ara p em bagian  kew en an g an

~ K eyak in an ~ N ilai‐n ilai ~ P erasaan ~ H arap an /Im p ian ~ H arg a d iri ~ P arad ig m a   Gambar 3.1Budaya Perusahaan    Victor S.L. Tan (2002) dalam bukunya “Changing Your Corporate Culture”  mengemukakan 10 karakteristik budaya perusahaan sebagai berikut:  

1. Individual  initiative  (inisiatif  individual).  Tingkat  tanggung  jawab,  kebebasan dan independensi yang dimiliki seseorang.  

2. Risk  tolerance  (toleransi  terhadap  tindakan  berisiko).  Tingkat  karyawan  diberi kebebasan untuk mengambil risiko, agresif dan inovatif.  

3. Direction  (pengarahan).  Kemampuan  suatu  perusahaan  untuk  menciptakan tujuan yang jelas dan menetapkan kinerja yang diinginkan.   4. Integration  (integrasi).  Tingkat  sejauh  mana  unit‐unit  dalam  perusahaan 

(5)

5. Management support (dukungan manajemen). Tingkat sejauh mana manajer  memberikan  komunikasi  yang  jelas,  asistensi  dan  dukungan  kepada  bawahannya. 

6. Control (kontrol).  Jumlah  aturan  dan  banyaknya  supervisi  langsung  yang  digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku karyawan.   7. Identity  (identitas).  Tingkat  sejauh  mana  para  karyawan  beridentifikasi 

dengan perusahaan secara keseluruhan, daripada dengan kelompok kerja  khusus tertentu atau bidang dari keahlian profesional tertentu. 

8. Reward  system  (sistem  imbalan).  Sejauh  mana  alokasi  imbalan  (gaji,  promosi,  dan  sebagainya)  didasarkan  atas  prestasi  kerja  pegawai,  bukan  didasarkan atas senioritas atau kesukaan (favouritism). 

9. Conflict  tolerance  (toleransi  terhadap  konflik).  Tingkat  sejauh  mana  karyawan  diberi  kebebasan  untuk  berbeda  pendapat  dan  melakukan  kritikan secara terbuka.  

10. Communication  patterns  (pola  komunikasi).  Tingkat  sejauh  mana  komunikasi perusahaan dibatasi pada hirarki wewenang formal. 

 

Budaya  awal  perusahaan  berasal  dari  filosofi  pendiri  organisasi  yang  kemudian ditularkan kepada karyawan melalui proses pembelajaran. Budaya  perusahaan  bisa  cocok  pada  waktu  dan  lingkungan  tertentu  tetapi  ketika  lingkungan  berubah,  maka  budaya  perusahaan  harus  disesuaikan.  Penyesuaian  ini  dilakukan  dengan  harapan  perusahaan  bisa  mempunyai  budaya yang “baik” yaitu yang kuat dan tepat (sesuai dengan kondisi bisnis).  Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa budaya perusahaan dapat  dipelajari  dan  dapat  diubah  mengikuti  perubahan  lingkungan  bisnis.  Proses  pembentukan budaya perusahaan adalah sebagai berikut (Tika, 2005): 

1. Interaksi  antar  pemimpin  atau  pendiri  perusahaan  dengan  kelompok/perorangan dalam perusahaan 

(6)

2. Dari interaksi tersebut timbul ide yang kemudian ditransformasi menjadi  artifak, nilai dan asumsi 

3. Artifak, nilai, dan asumsi kemudian diimplementasikan sehingga menjadi  budaya perusahaan 

4. Untuk  mempertahankan  budaya  perusahaan,  maka  dilakukan  pembelajaran kepada karyawan baru dalam perusahaan    Pimpinan/ Pendiri  Perusahaan Kelompok/ Perorangan  dalam  Perusahaan Ide Artifak Nilai Asumsi Implementasi Pembelajaran     1. Seleksi     2. Manajemen         Puncak     3. Internalisasi Budaya  Perusahaan   Gambar 3.2Skema Pembentukan Budaya Perusahaan  (Sumber: Tika, 2005)    3.5.2 Budaya Perusahaan Berbasis Entrepreneurship 

Budaya  perusahaan  berbasis  entrepreneurship  disebut  juga 

intrapreneurship (intra‐corporate dan entrepreneurship) yang berarti menerapkan 

aktifitas  wirausaha  di  dalam  perusahaan  (Gifford  Pichot  III,  1985). 

Intrapreneurship  didefinisikan  oleh  Hisrich  dan  Peters  (2004)  sebagai  usaha 

dari  perusahaan  untuk  menyempurnakan  proses  kerja  yang  ada  guna  meningkatkan profit perusahaan.  

Pelaku  intrapreneurship  disebut  intrapreneur.  Intrapreneur  adalah  orang  yang fokus pada inovasi dan kreatifitas, dan orang yang mentransformasikan  mimpi  dan  ide  menjadi  sesuatu  yang  menghasilkan  keuntungan  bagi  perusahaan.  

(7)

Hisrich  dan  Peters  (2004)  mengemukakan  bahwa  perusahaan  perlu  mengembangkan  lingkungan  entrepreneur  (intrapreneur  environment)  dan  karakteristik  kepemimpinan  (leadership  characteristic)  untuk  menciptakan  suasana  intrapreneurship.  Dan  untuk  bisa  dideskripsikan  sebagai  perusahaan  yang berorientasi entrepreneurial tinggi, maka perusahaan harus memiliki nilai  yang baik pada dimensi‐dimensi “7Fs” berikut (Thornberry, 2006): 

• Fast  (cepat):  Kecepatan  merupakan  competitive  advantage  dalam  menangkap  peluang  karena  dengan  dimilikinya  hal  ini,  berarti  perusahaan  bergerak  cepat  dalam  membuat  keputusan,  dalam  mengalokasikan sumber daya, dan dalam pendistribusian. 

• Flexible  (fleksibel):  Fleksibilitas  merupakan  hal  yang  sama  pentingnya  dengan  kecepatan  karena  dengan  dimilikinya  hal  ini,  berarti  perusahaan  memiliki kemampuan dalam mengalokasikan orang dan sumber daya.  • Focused  (fokus):  Perusahaan  harus  membangun  fokus  yang  jelas.  Fokus 

dan fleksibilitas harus berjalan beriringan.  

• Friendly (ramah): Perusahaan harus ramah kepada internal dan eksternal  konsumen  dan  kepada  karyawannya  karena  dengan  adanya  keramahan,  akan  timbul  kepuasan  konsumen  yang  pada  akhirnya  mendorong  perusahaan menuju peluang bisnis baru. 

• Frugal: Frugal berarti menggunakan dan menghemat penggunaan uang –  untuk mendukung strategi perusahaan – dengan bijaksana.   

• Far‐reaching:    Far‐reaching  berarti  pasar  dan  distribusi  perusahaan  harus  luas karena peluang bisnis tidak hanya terbatas pada daerah atau negara  tempat perusahaan berada.  

• Futuristic (orientasi pada masa depan): Futuristic berarti perusahaan harus  memiliki pandangan ke masa depan. 

 

Untuk  mengidentifikasi  budaya  entrepreneur  atau  kewirausahaan  yang  ada di dalam perusahaan, Thornberry (2006) menciptakan alat bantu berupa 

(8)

kuesioner  Entrepreneurial  Orientation  Survey  (EOS).  Pada  EOS,  responden  menilai  perusahaan  berdasarkan  dimensi‐dimensi  penting  yaitu:  penilaian  perusahaan  secara  umum,  rencana  strategi,  cross‐functionality,  dukungan,  intelejen pasar, risiko, kecepatan, fleksibilitas, fokus, masa depan, dan kondisi  perusahaan.  Selain  itu,  terdapat  juga  dimensi  tambahan  yaitu  orientasi  individu  dan  tentang  karyawan  itu  sendiri.  Dari  hasil  EOS,  perusahaan  bisa  mengetahui  dimensi  entrepreneur  yang  masih  kurang  dan  yang  harus  ditingkatkan  lagi  sehingga  nantinya  bisa  mendukung  perusahaan  dalam  menghadapi persaingan yang ketat ini. 

 

3.5.3 Entrepreneurial Leadership 

Thornberry  (2006)  mengklasifikasikan  entrepreneurial  leadership 

berdasarkan  peran  dan  fokusnya.  Berdasarkan  perannya,  tipe  pemimpin  dikelompokkan  menjadi  dua,  yaitu  activist  (pemimpin  yang  berperan  aktif)  dan  catalyst  (pemimpin  yang  berperan  sebagai  katalis). Dan berdasarkan fokusnya, tipe pemimpin  juga  dikelompokkan  menjadi  dua,  yaitu  pemimpin  yang  fokus  pada  internal  perusahaan  (internal  focus)  dan  pemimpin  yang  fokus  pada  kondisi  eksternal  perusahaan  (external  focus).  Klasifikasi 

(9)

Miners (Operational) Explorers (Market) Accelerators (Unit) Integrators (Enterprise) Activist Catalyst Internal External E n trep reneurial  Rol e Focus of Opportunity Search

Entrepreneurial Leadership and Roles

  Gambar 3.3 Karakteristik Kepemimpinan  (Sumber: Thornberry, 2006)   

Tipe  pemimpin  aktivis  merupakan  orang‐orang  yang  terlibat  langsung  dengan  value  creation  dimana  mereka  sendiri  yang  mengidentifikasi,  mengembangkan,  dan  menangkap  peluang  bisnis  baru.  Berdasarkan  fokusnya,  tipe  aktivis  terbagi  dua,  yaitu  miners  (internal  focus)  dan  explorers  (external focus) dimana: 

• Tipe miners merupakan tipe pemimpin yang lebih fokus pada aktifitas  internal perusahaan. Pemimpin dengan tipe ini sering mencari peluang  dalam  mencari  cara  untuk  bisa  menjalankan  bisnis  dengan  cara  yang  lebih  murah  sementara  penciptaan  nilai  yang  lebih  baik  bagi  konsumen tetap dilakukan. Pada umumnya tipe ini lebih memikirkan 

leveraging  assets  dan  sering  menemukan  peluang  bisnis  baru  dengan 

cara rearranging atas apa yang sudah dimiliki perusahaan dengan cara  kreatif.   

• Tipe  explorers  merupakan  tipe  pemimpin  yang  terlibat  langsung  dengan  value‐creating  activity  yang  bertujuan  utama  untuk 

(10)

mengembangkan pasar baru, produk dan layanan baru atau keduanya.  Kejelian  dalam  melihat  peluang  dan  keberanian  dalam  mengambil  risiko  merupakan  hal‐hal  yang  umumnya  dimiliki  oleh  pemimpin  dengan  tipe  ini.  Dengan  dimilikinya  hal‐hal  tersebut,  tipe  explorers  menjadi cepat dan berani dalam menangkap peluang pasar.  

 

Tipe  pemimpin  katalis  bukan  merupakan  orang  yang  terlibat  langsung  dengan  value  creation,  tetapi  berhubungan  dengan  penciptaan  lingkungan  yang  entrepreneurial.  Berdasarkan  fokusnya,  tipe  katalis  terbagi  dua,  yaitu 

accelerators (internal focus) dan integrators (external focus) dimana: 

Tipe  accelerators  merupakan  tipe  pemimpin  yang  fokus  pada  internal  perusahaan,  dan  bertindak  sebagai  katalisator.  Ciri  khas  dari  tipe  ini  biasanya  memimpin  suatu  unit,  divisi  atau  cabang  dari  perusahaan.  Pemimpin  dengan  tipe  ini  pada  umumnya  memotivasi  karyawannya  agar  menjadi  lebih  inovatif  dan  berperilaku  entrepreneurial,  serta  mendukung  para  karyawan  untuk  berani  mengambil  risiko  tanpa  adanya  hukuman  jika  mereka  membuat  kesalahan  karena  accelerator  yakin bahwa kesalahan merupakan proses pembelajaran.

 

Tipe  integrators  merupakan  tipe  pemimpin  yang  tidak  hanya  menciptakan  strategi  entrepreneurial  bagi  perusahaan  tapi  juga  membangun sumber daya manusia, stuktur, proses, dan budaya yang  mendukung  strategi  tersebut.  Biasanya  pemimpin  dengan  tipe  ini  berada pada level senior atau top management dalam struktur organisasi  perusahaan.

 

Untuk mengidentifikasi perilaku entrepreneurial pemimpin yang ada di  dalam  perusahaan,  Thornberry  menciptakan  alat  bantu  berupa  kuesioner  ELQ  (Entrepreneurial  Leadership  Questionnaire).  Pada  ELQ,  responden  diberikan  pernyataan  mengenai  suatu  perilaku  entrepreneurial  untuk  dinilai 

(11)

tingkat  kepentingannya  (seberapa  penting  perilaku  seorang  manajer  dan  top 

management  berdasarkan  pandangan  karyawan)  dan  tingkat  frekuensinya 

(seberapa sering manajer dan top management melakukan perilaku tersebut).  Selain  menilai  penggolongan  berdasarkan  empat  tipe  entrepreneurial 

leadership  yaitu  Explorer,  Miner,  Accelerator,  dan  Integrator,  dalam  ELQ  juga 

terdapat  General  Entrepreneurial  Leadership  (GEL)  yang  menilai  entrepreneurial 

leaders  secara  umum.  Klasifikasi  dari  tipe  entrepreneurial  leaders  beserta 

rentangnya diperlihatkan pada tabel di bawah ini.     Tabel 3.1 Klasifikasi Pengukuran Variabel ELQ  High  (H) 34 ‐ 45 34 ‐ 45 26 ‐ 35 38 ‐ 50 53 ‐ 70 Medium (M) 23 ‐ 33 23 ‐ 33 18 ‐ 25 27 ‐ 37 36 ‐ 52 Low (L) 9 ‐ 22 9 ‐ 22 7 ‐ 17 10 ‐ 26 14 ‐ 35

Miner Accelerator Integrator

Nilai GEL Explorer

  (Sumber: Thornberry, 2006)    Dari hasil ELQ, perusahaan bisa mengetahui perilaku yang masih harus  ditingkatkan lagi karena masih kurang mendukung budaya entrepreneurial.    3.5.4 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas  Ada dua syarat yang berlaku pada sebuah kuesioner, yaitu keharusan  untuk  valid  dan  reliabel.  Untuk  memenuhi  syarat  tersebut  maka  kuesioner  harus  diuji  terlebih  dahulu.  Uji  yang  dilakukan  adalah  uji  validitas  dan  uji  reliabilitas.  

Uji  validitas  adalah  uji  yang  digunakan  untuk  mengetahui  kelayakan  butir‐butir  dalam  suatu  daftar  pertanyaan  dalam  mendefinisikan  suatu  variabel  yang  menjadi  sasaran  pokok  pengukuran  yang  dilakukan  dengan  instrumen  kuesioner  yang  digunakan.  Kuesioner  bisa  dikatakan  valid  jika  nilai  koefisien  korelasi  antara  skor  item  dengan  skor  totalnya  pada  taraf  signifikan 5%.  

(12)

Uji reliabilitas adalah uji yang digunakan untuk mengukur kestabilan  dan  konsistensi  responden  dalam  menjawab  hal  yang  berkaitan  dengan  konstruk‐konstruk  pertanyaan  yang  merupakan  dimensi  suatu  variabel  dalam  kuesioner.  Dalam  pengujian  ini  digunakan  koefisien  Cronbach’s  Alpha  karena  menggambarkan  kelengkapan  variasi  dari  item‐itemnya.  Rumus  koefisien Cronbach’s Alpha:  r k r k ) 1 ( 1 . − − = α   Dimana:  α = koefisien reliabilitas Cronbach’s Alpha      k = jumlah variabel manifes yang membentuk variabel lain      r = rata‐rata korelasi antar variabel manifes   

Tabel  3.2  di  bawah  ini  menunjukkan  klasifikasi  nilai  koefisien  keandalan yang dilakukan oleh Guilford (1973).     Tabel 3.2 Klasifikasi Nilai Koefisien Keandalan  Nilai Koefisien Tingkat Korelasi < 0.2 Tidak Ada 0.2 < k < 0.4 Rendah 0.4 < k < 0.7 Sedang 0.7 < k < 0.9 Tinggi 0.9 < k < 1 Tinggi Sekali 1 Sempurna

(13)

4

BAB IV  ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA 

 

4.1 Metodologi Pemecahan Masalah  

Metodologi  penelitian  merupakan  langkah‐langkah  dalam  penelitian  yang  dilakukan  dengan  maksud  agar  hasil  yang  sistematis  dapat  diperoleh,  sehingga penelitian dapat dengan mudah dipahami secara keseluruhan. Pada  bagian  ini  akan  digambarkan  mengenai  tahapan  penelitian  yang  dilakukan.  Tahapan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 4.1 di bawah  ini.    Identifikasi Masalah dan  Tujuan Penelitian Studi Pustaka Penentuan Metode Penelitian Pengumpulan dan Pengolahan  Data Analisis Hasil Pengolahan  Data Kesimpulan dan Saran   Gambar 4.1 Tahapan Penelitian 

(14)

4.1.1 Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian 

Dalam menghadapi ketatnya persaingan, strategi saja tidak cukup bagi  perusahaan  untuk  dapat  bertahan  atau  bahkan  tumbuh.  Strategi  bisnis  yang  ada  harus  didukung  oleh  budaya  perusahaan  (corporate  culture)  yang  tepat  dan  kuat  sehingga  perusahaan  bisa  memenangkan  kompetisi.  Permasalahan  inilah  yang  akan  dibahas  oleh  peneliti  yaitu  mengenai  pentingnya  budaya  perusahaan  sebagai  pondasi  perusahaan  yang  akan  mendukung  strategi  bisnis.  

Tujuan  penelitian  ditetapkan  berdasarkan  permasalahan  yang  ada  yaitu untuk mengetahui budaya perusahaan yang ada di PT Bank Mega Tbk.  dan  apakah  ada  perbedaan  antara  budaya  yang  ada  pada  saat  ini  dengan  budaya  yang  diharapkan.  Selain  itu  juga  untuk  mengidentifikasi  adanya  perilaku entrepreneurial di kalangan para pemimpin yang ada. 

 

4.1.2 Studi Pustaka 

Dilakukannya  studi  pustaka  yang  berkaitan  dengan  permasalahan  yang  ada  guna  mendukung  pemecahan  permasalahan  yang  ada,  dimana  bahan studi tersebut dapat didapat dari literatur, buku‐buku, dan sebagainya  dimana  studi  pustaka  yang  dilakukan  berfokus  pada  budaya  perusahaan  yang entrepreneurial.  

 

4.1.3 Metode Penelitian 

Untuk  mengetahui  bagaimana  bentuk  budaya  perusahaan  yang  ada,  dan  bagaimana  kemungkinan  pengaruhnya  terhadap  kelangsungan  hidup  perusahaan,  peneliti  menggunakan  dua  kuesioner  yaitu  Entrepreneurial 

Orientation  Survey  (EOS)  dan  Entrepreneurial  Leadership  Questionnaire  (ELQ) 

(15)

Division  (CSLD),  Credit  Administration  Division  (CADD),  Operation  Service  Division  (OPSD),  dan  Retail  Product  Management  (RPMD)  di  PT  Bank  Mega 

Tbk.   

4.1.4 Pengumpulan dan Pengolahan Data 

Data‐data  yang  digunakan  dalam  penelitian  dikumpulkan  melalui  kuesioner yang disebarkan kepada karyawan di 4 divisi PT Bank Mega Tbk.  dimana  terkumpul  kembali  formulir  EOS  sebanyak  105  responden  dan  formulir ELQ sebanyak 104 responden. Selain dari hasil pengisian kuesioner,  data‐data  juga  dikumpulkan  melalui  wawancara  dengan  karyawan  dan  observasi.  

Data‐data  yang  telah  terkumpul  kemudian  diuji  terlebih  dahulu.  Uji  yang dilakukan adalah uji validitas dan uji reliabilitas dengan menggunakan  program  SPSS  13.0  for  Windows.  Setelah  data  yang  ada  terbukti  valid  dan  reliabel,  barulah  data  diolah  dengan  menggunakan  program  Excel.  Pengolahan  data  EOS  dilakukan  dengan  cara  menghitung  rata‐rata  tiap  dimensi  kunci  yang  menentukan  budaya  perusahaan.  Hal  yang  sama  juga  dilakukan dengan data ELQ.  

 

4.1.5 Analisis dan Pembahasan 

Data‐data  yang  telah  diolah  kemudian  dianalisis  dan  dibahas.  Pada  bagian  ini  peneliti  menganalisis  budaya  perusahaan  yang  ada  di  PT  Bank  Mega Tbk. Hal yang dianalisis yaitu apakah budaya perusahaan saat ini telah  bersifat  entrepreneurial.  Selain  itu,  peneliti  juga  melakukan  analisis  terhadap  perilaku  pemimpin  di  perusahaan  berdasarkan  sifat  entrepreneurial.  Kemudian  dari  kedua  analisis  tersebut  dapat  diketahui  apakah  budaya 

(16)

perusahaan  pada  saat  ini  telah  sesuai  dengan  yang  diharapkan  atau  masih  terjadi kesenjangan diantara keduanya.  

 

4.1.6 Kesimpulan dan Saran 

Pada  tahap  ini  peneliti  menarik  kesimpulan  berdasarkan  dari  pengolahan  dan  analisis  yang  telah  dilakukan  pada  tahap  sebelumnya.  Setelah  itu,  peneliti  juga  memberikan  saran‐saran  kepada  manajemen  perusahaan  dengan  harapan  bisa  menjadi  masukan  yang  berguna  bagi  perusahaan. 

 

4.2 Pengumpulan dan Pengolahan Data 

4.2.1 Teknik Pengumpulan Data 

Dalam  melakukan  penelitian  akan  budaya  perusahaan,  peneliti  menggunakan  instrumen  agar  dapat  mengidentifikasi  budaya  perusahaan  yang  ada  pada  saat  ini.  Instrumen  yang  dipakai  dalam  penelitian  ini  adalah  kuesioner  yaitu  Entrepreneurial  Orientation  Survey  (EOS)  dan  Entrepreneurial 

Leadership Questionnaire (ELQ). 

 

4.2.2 Teknik Pengukuran Variabel 

Instrumen  yang  dipakai  dalam  penelitian  ini  adalah  kuesioner.  Kuesioner  ini  terdiri  dari  pertanyaan‐pertanyaan  yang  kemudian  diukur  dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert adalah skala ordinal yang berisi  beberapa  alternatif  jawaban  (Santoso,  2006).  Contoh  penyajian  skala  Likert  untuk sebuah pertanyaan yang digunakan dalam kuesioner EOS:  

1 = Sangat Tidak Setuju  3 = Ragu‐ragu  5 = Sangat Setuju  2 = Tidak Setuju    4 = Setuju 

(17)

Beberapa  modifikasi  telah  dilakukan,  seperti  skala  diperlebar  menjadi  1  sampai  7,  atau  skala  diperkecil  menjadi  1  sampai  3.  Namun  pada  penelitian  ini, akan digunakan skala 5 tingkat. 

 

4.2.3 Uji Validitas dan Reliabilitas 

Berdasarkan analisis Neal Thornberry (2006), kuesioner EOS dan ELQ  –  yang  merupakan  suatu  alat  ukur  –  telah  diuji  validitas  dan  reliabilitasnya.  Selain  itu,  dua  kuesioner  tersebut  telah  sering  dipakai  dalam  mengukur  budaya  perusahaan  yang  berhubungan  dengan  entrepreneurship  di  perusahaan‐perusahaan besar di seluruh dunia seperti Siemens, IBM, dan 3M.  

Walaupun  demikian,  pengujian  terhadap  validitas  dan  reliabilitas  tetap  dilakukan.  Pengujian  kuesioner  EOS  dalam  survei  kali  ini  menggunakan  data‐data  yang  diperoleh  dari  hasil  survei  di  beberapa  perusahaan  di  Indonesia.  Pada hasil  uji  validitas  untuk  EOS,  diperoleh  hasil  yang valid karena nilai koefisien korelasi (r) hasil perhitungan lebih besar dari  nilai  “

r

table”  =  0,077  (dengan  faktor  error  5%).  Pada  uji  reliabilitas,  hasil  ditentukan  oleh  nilai  Cronbach’s  Alpha  yang  diperoleh  dari  hasil  uji  statistik  dan hal ini bisa dilihat pada Tabel 4.1.  

 

Tabel 4.1 Nilai Cronbach’s Alpha dan Koefisien Korelasi (r) 

Faktor Cronbachʹs Alpha Corrected Item Total Correlation

Umum 0.667 0.372 < r < 0.460 Rencana Strategis 0.674 0.397 < r < 0.464 Cross Functionality 0.722 0.341 < r < 0.647 Dukungan 0.745 0.365 < r < 0.585 Intelijen Pasar 0.717 0.329 < r < 0.589 Resiko 0.754 0.350 < r < 0.647 Kecepatan 0.703 0.411 < r < 0.558 Fleksibilitas 0.594 0.093 < r < 0.507 Fokus 0.736 0.305 < r < 0.610 Masa Depan 0.812 0.552 < r < 0.688 Orientasi Individu 0.816 0.192 < r < 0.675   (Sumber: Subandhi, 2007) 

(18)

Berdasarkan perbandingan antara nilai Cronbach’s Alpha dan klasifikasi  nilai  koefisien  keandalan  maka  diperoleh  pernyataan  bahwa  semua  data  adalah reliabel dengan skala antara sedang hingga tinggi. 

 

4.3 Analisis dan Interpretasi Hasil 

4.3.1 Entrepreneurial Orientation Survey (EOS) 

Berdasarkan  hasil  survei  EOS  yang  disebarkan  kepada  karyawan  PT  Bank  Mega  Tbk.,  didapatkan  hasil  yang  ditampilkan  berupa  spider  web  chart  yang bisa dilihat pada gambar di bawah ini.     0 1 2 3 4 5 Umum Rencana Strategi Cross Functionality Dukungan Intelijen Pasar Risiko Kecepatan Fleksibilitas Fokus Masa Depan Orientasi Individu   Gambar 4.2 Budaya PT Bank Mega Tbk.   

Rincian  nilai  yang  diperoleh  atas  survei  yang  dilakukan  dapat  dilihat  pada tabel di bawah ini.  Tabel 4.2 Hasil Perhitungan EOS  Kategori Nilai Umum 3.13 Rencana Strategi 3.22 Cross Functionality 3.58 Dukungan 3.50 Intelijen Pasar 3.45 Risiko 2.54 Kecepatan 3.70 Fleksibilitas 3.01 Fokus 3.45 Masa Depan 3.19 Orientasi Individu 2.46  

(19)

Berdasarkan  gambar  dan  tabel  di  atas,  bisa  dilihat  bahwa  hasil  perhitungan  memperlihatkan  kisaran  angka  antara  2.46  –  3.70  (skala  5).  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  secara  umum  budaya  entrepreneur  di  dalam  organisasi  PT  Bank  Mega  Tbk.  belum  diterapkan  secara  optimal  dan  masih  perlu ditingkatkan lagi. 

 

4.3.1.1 Dimensi Kondisi Perusahaan Secara Umum 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  kondisi  perusahaan  secara  umum  dimana  responden  diberikan  lima  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata  dari  penilaian  ini adalah 3.13 (skala 5). Hal ini menunjukkan bahwa dukungan perusahaan  terhadap budaya entrepreneurial baru mencapai tingkat cukup sehingga perlu  lebih  ditingkatkan.  Hasil  dari  penilaian  pada  dimensi  ini  dapat  dilihat  pada  gambar di bawah.  0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 2.22 3.33 3.85 4.01 2.25 1 2 3 4 5   Gambar 4.3 Dimensi Kondisi Perusahaan Secara Umum  Dimana:  1 Menekankan pengendalian anggaran secara ketat. (‐) 2 Memberikan reward  bagi seorang manajer yang melakukan cost cutting . (+) 3 Menyediakan dana untuk peluang bisnis baru. (+) 4 Menyediakan dana untuk ide‐ide yang benar‐benar bagus. (+) 5 Membutuhkan banyak tahapan persetujuan untuk mendapatkan dana investasi di luar  anggaran. (‐)  

(20)

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  dilihat  bahwa  karyawan  menilai  penekanan  dalam  pengendalian  anggaran  adalah  cukup  rendah  (dinilai  dari  aspek  entrepreneurial  culture)  yaitu  sebesar  2.22  (skala  5).  Ini  berarti  perusahaan  mengendalikan  anggarannya  secara  ketat.  Untuk  mendorong  tercapainya  kondisi  ini,  perusahaan  cukup  memberikan  penghargaan  antara  lain  berbentuk  kompensasi  dan  benefit  kepada  karyawan  yang  berhasil  melakukan penghematan biaya di segala aspek. Dikatakan cukup menghargai  karena hal tersebut ditunjukkan oleh angka 3.33 (skala 5) yang berarti cukup.  

Sebenarnya  perusahaan  tetap  bersedia  mengalokasikan  dana  untuk  peluang  bisnis  baru  yang  dianggap  menjanjikan.  Hal  ini  ditunjukkan  oleh  angka  yang  cukup  tinggi  yaitu  3.85  (skala  5).  Selain  itu,  perusahaan  juga  bersedia  menganggarkan  dana  untuk  ide‐ide  yang  benar‐benar  bagus  yang  diperlihatkan oleh angka yang tinggi yaitu 4.01 (skala 5). 

Namun  sayangnya  kesediaan  dalam  memberikan  dana  belum  didukung  dengan  prosedur  yang  cukup  singkat  sehingga  walaupun  karyawan  memiliki  kesempatan  dalam  mewujudkan  ide‐idenya  tetapi  tahapan  persetujuan  –  agar  karyawan  tersebut  bisa  mendapatkan  dana  –  cukup  berbelit‐belit.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  angka  yang  cukup  rendah  yaitu  2.25  (skala  5).  Panjangnya  tahapan  prosedur  yang  harus  dilalui  karyawan  dalam  mendapatkan  dana  proyek  baru  yang  idenya  disetujui  mempengaruhi  kecepatan  perusahaan  dalam  melakukan  langkah‐langkah  perbaikan  (corrective  action)  atau  realisasi  program  inovatif,  padahal  dalam  persaingan  yang  sangat  ketat,  kecepatan  bertindak  merupakan  hal  yang  sangat penting agar tidak ada peluang bisnis (business opportunity) yang lewat  begitu saja. 

(21)

4.3.1.2 Dimensi Rencana Strategi 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  rencana  strategi  yang  dibuat  oleh  perusahaan dimana responden diberikan lima pertanyaan. Nilai rata‐rata dari  penilaian ini adalah 3.22 (skala 5). Penilaian ini menunjukkan bahwa rencana  strategi  yang  dilakukan  mencapai  tingkat  cukup.  Hasil  dari  penilaian  pada  dimensi ini dapat dilihat pada gambar di bawah.  0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 2.15 3.67 2.19 4.16 3.94 1 2 3 4 5   Gambar 4.4 Dimensi Rencana Strategi  Dimana:  1 Menggunakan proses perencanaan strategi yang formal. (‐) 2 Membiarkan strategi tumbuh dan mungkin berubah mengikuti trend  pasar . (+) 3 Mengharapkan para manajer untuk selalu berpedoman pada rencana dan anggaran tahunan. (‐) 4 Tidak mempunyai rencana yang jelas. (‐) 5 Sangat bergantung pada konsultan di luar perusahaan untuk membuat strategi. (‐)    

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  dilihat  bahwa  nilai  dalam  penggunaan  proses  perencanaan  strategi  yang  formal  adalah  rendah  yaitu  sebesar  2.15  (skala  5).  Hal  ini  berarti  bahwa  dalam  melakukan  perencanaan  strateginya,  perusahaan  menggunakan  proses  yang  sangat  formal.  Proses  yang  sangat  formal  dapat  berdampak  buruk.  Dikatakan  demikian  karena  dengan  terlalu  formalnya  proses  perencanaan  strategi  berarti  fleksibilitas  perusahaan  dalam  memutuskan  sesuatu  dan  bertindak  menjadi  kurang.  Kurang  fleksibelnya  perusahaan  dalam  bertindak  dapat  menyebabkan  perusahaan    menjadi  kurang  bisa  membiarkan  strategi  tumbuh  berubah 

(22)

mengikuti  trend  pasar.  Hal  ini  dibuktikan  dengan  nilai  yang  hanya  sebatas  cukup saja yaitu sebesar 3.67 (skala 5). 

Dalam  melakukan  segala  sesuatunya,  perusahaan  menginginkan  karyawannya  untuk  bekerja  persis  dengan  segala  sesuatu  yang  telah  direncanakan.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  nilai  yang  rendah  yaitu  sebesar  2.19  (skala  5)  –  dinilai  dari  aspek  entrepreneurial  culture  –  yang  berarti  karyawan  dituntut  untuk  selalu  berpedoman  dengan  rencana  dan  anggaran  tahunan  yang  telah  dibuat.  Alasan  perusahaan  dalam  hal  ini  adalah  bahwa  rencana  strategi  yang  menjadi  pedoman  karyawannya  harus  jelas  –  sesuai  dengan yang sudah disetujui. Hal ini dapat dilihat dari tingginya nilai yaitu  sebesar 4.16 (skala 5). 

Nilai  ketergantungan  perusahaan  pada  konsultan  untuk  membuat  strategi adalah cukup tinggi yaitu sebesar 3.94 (skala 5). Hal ini berarti bahwa   di  beberapa  aspek,  perusahaan  masih  menggunakan  pihak  luar  yaitu  konsultan  dalam  pembuatan  strateginya  tetapi  bukan  berarti  hal  ini  menyebabkan  ketergantungan  pada  konsultan  karena  secara  keseluruhan  perusahaanlah yang memutuskan strategi‐strategi yang akan digunakan.  

 

4.3.1.3 Dimensi Cross Functionality (Kerjasama Antar Departemen / Fungsi)  Pada bagian ini, karyawan menilai kerjasama antar departemen/fungsi  dalam  perusahaan  dimana  responden  diberikan  lima  pertanyaan.  Nilai  rata‐ rata dari penilaian ini adalah 3.58 (skala 5). Penilaian ini menunjukkan bahwa  kerjasama  antar  departemen/fungsi  yang  telah  dilakukan  selama  ini  bernilai  cukup.  Hasil  dari  penilaian  pada  dimensi  ini  dapat  dilihat  pada  gambar  di  bawah. 

(23)

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 3.19 3.70 3.87 3.50 3.64 1 2 3 4 5   Gambar 4.5 Dimensi Cross Functionality  (Kerjasama Antar Departemen / Fungsi)  Dimana:  1 Memiliki sedikit hambatan untuk kerjasama antar departemen /fungsi. (+) 2 Mempunyai departemen‐departemen yang mau membagi ide dan informasi satu dengan yang  lain. (+) 3 Mendorong kegiatan diskusi antar departemen/antar fungsi dan pemecahan masalah. (+) 4 Secara formal memberikan penghargaan terhadap kerjasama antar departemen/antar fungsi.  5 Merotasi karyawan pada fungsi‐fungsi yang berbeda sebagai bagian dari proses formal  pengembangan SDM. (+)    

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  diketahui  bahwa  penilaian  dalam  adanya hambatan dalam bekerjasama antar departemen/fungsi adalah cukup  yaitu  sebesar  3.19  (skala  5)  yang  berarti  karyawan  tidak  memiliki  hambatan  yang berarti dalam bekerjasama antar departemen/fungsi yang ada.  

Hal  ini  menunjukkan  bahwa  komunikasi  antar  departemen/fungsi  berjalan  dengan  cukup  baik  yang  terbukti  dengan  cukup  tingginya  nilai  dalam  pembagian  ide  dan  informasi  antar  departemen/fungsi  yaitu  sebesar  3.70 (skala 5).  

Knowledge  management  merupakan  hal  yang  penting  bagi  perusahaan 

dalam menghadapi persaingan yang ketat karena dengan adanya pembagian  ide dan informasi antar departemen/fungsi berarti karyawan bisa mengetahui  informasi‐informasi  penting  sehingga  keputusan  akan  pelaksanaan  ide‐ide 

(24)

baru bisa dilakukan dengan cepat. Hal ini didukung oleh perusahaan dengan  cara  mendorong  adanya  kegiatan  diskusi  antar  departmen/fungsi  dan  pemecahan  masalah  yang  ditunjukkan  dengan  cukup  tingginya  nilai  untuk  penilaian hal ini yaitu sebesar 3.87 (skala 5).  

Sayangnya  dorongan  untuk  berdiskusi  antar  departemen/fungsi  kurang  didukung  dengan  pemberian  penghargaan  secara  formal  terhadap  kerjasama  antar  departemen/fungsi.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  lebih  rendahnya  nilai  pemberian  penghargaan  jika  dibandingkan  dengan  nilai  pemberian dorongan untuk berdiskusi yaitu sebesar 3.50 (skala 5). Pemberian  penghargaan  secara  formal  perlu  lebih  ditingkatkan  lagi  karena  dengan  adanya  penghargaan,  karyawan  bisa  menjadi  lebih  termotivasi  untuk  bekerjasama  terutama  dalam  berbagi  ide  dan  informasi  sehingga  kecepatan  perusahaan dalam berinovasi menjadi lebih baik lagi. 

Dalam  merotasi  karyawan  pada  fungsi‐fungsi  yang  berbeda,  perusahaan dinilai cukup tinggi perhatiannya yaitu sebesar 3.64 (skala 5). Hal  ini  menunjukkan  salah  satu  dukungan  perusahaan  dalam  pengembangan  SDM  sebagai  proses  formal.  Walaupun  demikian,  hal  ini  belum  bisa  dikatakan  baik  hingga  rotasi  karyawan  perlu  ditingkatkan  lagi  agar  terjadi 

knowledge management yang lebih baik. 

 

4.3.1.4 Dimensi Dukungan Terhadap Ide Baru 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  dukungan  perusahaan  terhadap  ide‐ide  baru  dimana  responden  diberikan  lima  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata  dari  penilaian  ini  adalah  3.50  (skala  5).  Penilaian  ini  menunjukkan  bahwa  perusahaan  cukup  memberi  dukungan  terhadap  ide‐ide  baru.  Hasil  dari  penilaian pada dimensi ini dapat dilihat pada gambar di bawah. 

(25)

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 3.80 3.89 3.37 3.09 3.38 1 2 3 4 5   Gambar 4.6 Dimensi Dukungan Terhadap Ide Baru  Dimana:  1 Secara umum, manajemen mendukung kita untuk memikirkan cara‐cara baru dan berbeda  dalam mengerjakan sesuatu. (+) 2 Ada satu fungsi penting di dalam organisasi, yang tanggung jawab utamanya adalah untuk  inovasi dan pengembangan bisnis baru. (+) 3 Kami memiliki sarana sumbang saran yang berhasil dalam menampung ide‐ide karyawan. (+) 4 Organisasi segan mempertanyakan/mengubah cara‐cara lama yang sudah ada didalam  organisasi dalam menghadapi sesuatu. (‐) 5 Kami sering bertemu secara informal untuk mendiskusikan ide bisnis baru. (+)    

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  diketahui  bahwa  manajemen  PT  Bank  Mega  Tbk.  cukup  mendukung  karyawan  untuk  memikirkan  cara‐cara  baru  dan  berbeda  dalam  mengerjakan  sesuatu.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  cukup  tingginya  dalam  penilaian  yaitu  sebesar  3.80  (skala  5).  Dukungan  ini  perlu  ditingkatkan  lagi  karena  dengan  adanya  dukungan  dari  pihak  manajemen,  karyawan  menjadi  belajar  untuk  selalu  berpikir  dan  bekerja  dengan  cara  yang  berbeda  sehingga  akan  terjadi  inovasi‐inovasi  yang  bisa  berguna bagi perusahaan.  

Salah  satu  dukungan  yang  diberikan  yaitu  dengan  adanya  fungsi  penting  di  dalam  organisasi  yang  bertanggung  jawab  dalam  inovasi  dan  pengembangan  bisnis  baru.  Untuk  hal  ini,  PT  Bank  Mega  Tbk.  tidak  secara  khusus  membangun  divisi  terpisah  tetapi  masing‐masing  divisi  telah  diberikan  fungsi  dan  tanggung  jawab  dalam  inovasi  dan  pengembangan 

(26)

bisnis baru yang prosesnya dilakukan seperti pada proses bisnis. Oleh karena  itu,  penilaian  dalam  hal  ini  merupakan  nilai  tertinggi  dalam  pemberian  dukungan perusahaan terhadap ide‐ide baru yaitu sebesar 3.89 (skala 5). 

Sayangnya  hal  ini  kurang  didukung  dengan  adanya  sarana  sumbang  saran dalam menampung ide‐ide karyawan sehingga nilai yang didapat yaitu  sebesar  3.37  (skala  5).  Selain  itu,  organisasi  cukup  segan  dalam  mempertanyakan/mengubah  cara‐cara  lama  yang  sudah  ada  didalam  organisasi  dalam  menghadapi  sesuatu  yang  ditunjukkan  dengan  nilai  3.09  (skala  5).  Hal  ini  perlu  diubah  karena  untuk  bisa  maju  dalam  bisnis,  perusahaan  tidak  bisa  selalu  memakai  cara  yang  sama  (lama)  karena  lingkungan usaha (macro dan micro environment) terus berubah sehingga cara‐ cara yang digunakan pun harus disesuaikan dengan  perubahan yang terjadi  di pasar. 

Penilaian  mengenai  frekuensi  bertemunya  karyawan  secara  informal  untuk  berdiskusi  mengenai  ide  bisnis  baru  ditampilkan  dengan  nilai  cukup  yaitu  sebesar  3.38  (skala  5).  Hal  ini  berarti  karyawan  cukup  sering  bertemu  secara  informal  untuk  berdiskusi  mengenai  ide  bisnis  baru.  Penilaian  cukup  sering  tidaklah  cukup  karena  ide  bisnis  baru  bisa  saja  lebih  sering  timbul  dalam diskusi informal sehingga hal ini harus lebih ditingkatkan lagi. 

 

4.3.1.5 Dimensi Intelijen Pasar 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  kemampuan  perusahaan  dalam  melakukan intelijen pasar dimana responden diberikan lima pertanyaan. Nilai  rata‐rata  dari  penilaian  ini  adalah  3.45  (skala  5).  Penilaian  ini  menunjukkan  bahwa  perusahaan  cukup  melakukan  intelijen  pasar  untuk  membaca  trend  yang ada di pasar bernilai. Hasil dari penilaian pada dimensi ini dapat dilihat  pada gambar di bawah. 

(27)

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 4.28 2.84 3.52 3.20 3.42 1 2 3 4 5   Gambar 4.7 Dimensi Intelijen Pasar  Dimana:  1 Konsumen adalah raja bagi perusahaan kami. (+) 2 Kecuali kamu berada di divisi pemasaran atau penjualan, dorongan untuk bertemu konsumen  sangat kurang. (‐) 3 Perusahaan secara rutin melakukan survey kepuasan konsumen dan menyebarkan hasilnya  secara internal untuk semua pihak dalam perusahaan. (+) 4 Manajemen puncak jarang sekali mengunjungi konsumen secara langsung. (‐) 5 Sebagian besar karyawan mengetahui siapa pesaing utama dan bagaimana cara  menghadapinya. (+)    

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  dilihat  bahwa  penilaian  akan  anggapan bahwa konsumen adalah raja bagi perusahaan bernilai tinggi yaitu  sebesar  4.28  (skala  5)  yang  berarti  karyawan  menganggap  konsumen  adalah  raja  bagi  perusahaan.  Hal  ini  sesuai  dengan  corporate  service  tagline  yang  diluncurkan  perusahaan  yaitu  “We  Love  Our  Customers”.  Dengan  diluncurkannya  tagline  ini,  karyawan  diharapkan  memberikan  pelayanan  yang terbaik dan tulus sehingga dapat memberikan pengalaman bertransaksi  yang  luar  biasa  kepada  nasabah  mengingat  PT  Bank  Mega  Tbk.  merupakan  perusahaan yang bergerak dalam bidang layanan jasa perbankan. 

Nilai  yang  diberikan  karyawan  mengenai  dorongan  untuk  bertemu/berkomunikasi  dengan  konsumen  walaupun  berada  di  luar  divisi  pemasaran atau penjualan bernilai cukup rendah yaitu sebesar 2.84 (skala 5)  yang  menunjukkan  bahwa  karyawan  yang  didukung  untuk  sering  bertemu 

(28)

konsumen  barulah  divisi  pemasaran  atau  penjualan  yang  dianggap  harus  lebih  berurusan  langsung  dengan  konsumen  dalam  pekerjaannya.  Hal  ini  perlu  ditingkatkan  lagi  karena  bertemu  langsung  dengan  konsumen  merupakan  hal  yang  penting  karena  perusahaan  jadi  bisa  mengetahui  apa  saja  yang  diinginkan  dan  dibutuhkan  oleh  konsumen  sehingga  perusahaan  bisa terus memberikan pelayanan yang terbaik. 

Walaupun  karyawan  diluar  divisi  pemasaran  atau  penjualan  belum  didorong  untuk  sering  bertemu  konsumen,  perusahaan  mendukung  pemberian  pelayanan  yang  bertujuan  untuk  mendapatkan  kepuasan  konsumen dengan cara memiliki spesial unit yang bernama KYC (Know Your 

Customers)  dimana  melalui  KYC,  perusahaan  menjadi  lebih  mengenal 

konsumennya.  Selain  itu  perusahaan  juga  mendukung  dengan  cara  cukup  rutin  mengadakan  survei  mengenai  kepuasan  konsumen  dan  menyebarkan  hasilnya  secara  internal  untuk  semua  pihak  dalam  perusahaan.  Hal‐hal  ini  merupakan  hal  yang  penting  bagi  perusahaan  mengingat  konsumen  adalah  raja bagi perusahaan sehingga kepuasan konsumen menjadi perhatian nomor  satu. Oleh karena itu, hal ini perlu ditingkatkan lagi sehingga nilai awal yang  diperoleh yaitu sebesar 3.52 (skala 5) bisa menjadi lebih baik lagi. 

Penilaian  karyawan  akan  frekuensi  manajemen  puncak  mengunjungi  konsumen secara langsung adalah sebesar 3.20 (skala 5). Hal ini baru bernilai  cukup  dan  hal  ini  belum  bisa  dikatakan  baik  karena  walaupun  manajemen  puncak meyakini bahwa konsumen menjadi perhatian nomor satu tetapi hal  ini kurang didukung dengan tingginya frekuensi yang dilakukan manajemen  puncak dalam mengunjungi konsumen secara langsung. 

Dalam  melakukan  market  intelligence,  selain  mempunyai  pengetahuan  tentang  konsumen,  karyawan  juga  diharapkan  mempunyai  pengetahuan  akan  pesaing  utama  dan  cara  menghadapinya.  Nilai  untuk  hal  ini  adalah   cukup  yaitu  sebesar  3.42  (skala  5)  yang  berarti  hampir  sebagian  besar  karyawan memiliki pengetahuan akan pesaing dan cara menghadapinya. Hal 

(29)

ini  harus  lebih  ditingkatkan  lagi  karena  jika  semua  karyawan  memiliki  pengetahuan ini berarti perusahaan bisa menjadi lebih cepat dalam membaca 

trend pasar dan menangkap peluang‐peluang bisnis baru. 

 

4.3.1.6 Dimensi Keberanian Pengambilan Risiko 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  keberanian  perusahaan  terhadap  pengambilan risiko dimana responden diberikan enam pertanyaan. Nilai rata‐ rata dari penilaian ini adalah 2.54 (skala 5). Penilaian ini menunjukkan bahwa  keberanian  perusahaan  dalam  mengambil  risiko  masih  kurang  padahal  keberanian  dalam  pengambilan  risiko  sangat  diperlukan  dalam  menangkap  peluang bisnis baru agar perusahaan bisa memberikan produk dan pelayanan  terbaik  kepada  nasabah.  Hasil  dari  penilaian  pada  dimensi  ini  dapat  dilihat  pada gambar di bawah.  0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 3.28 1.77 2.25 3.13 2.83 1.96 1 2 3 4 5 6   Gambar 4.8 Dimensi Pengambilan Risiko  Dimana: 

1 Perusahaan kam i bangga akan o rientasi dan budaya ko nservatif (anti perubahan). (‐) 2 K am i berhati‐hati untuk tidak m em buat kesalahan. (‐)

3 K am i berani m elakukan investasi bisnis baru hanya berdasarkan intuisi tanpa m enggunakan  analisis m endalam . (+)

4 O rang‐orang yang didalam  organisasi secara um um  m em iliki kebebasan dan keberanian yang  cukup besar untuk m encoba hal baru dan gagal. (+)

5 K ita berbicara banyak tentang perlunya pengam bilan resiko  dalam  perusahaan, nam un  kenyataannya o rang‐o rang yang berani m encoba dan gagal tidak bertahan lam a di perusahaan  tersebut (bisa karena dihukum , dipecat, dll). (‐)

(30)

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  diketahui  bahwa  PT  Bank  Mega  Tbk. tidak dinilai sebagai perusahaan yang bangga akan orientasi dan budaya  konservatif  yang  ditunjukkan  oleh  nilai  yang  cukup  3.28  (skala  5).  Hal  ini  berarti  perusahaan  tidak  terpaku  pada  budaya  konservatif  dan  berani  melakukan  perubahan.  Dengan  lingkungan  yang  selalu  berubah  dan  persaingan yang sangat ketat, perusahaan cukup melakukan perubahan agar  bisa melihat dan menangkap peluang bisnis baru.  

Dalam  hal  keberanian  mengambil  risiko,  karyawan  tidak  dapat  dikatakan berani karena dalam melakukan segala sesuatunya, mereka terlalu  berhati‐hati agar tidak membuat kesalahan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai  yang  sangat  rendah  yaitu  sebesar  1.77  (skala  5)  yang  merupakan  nilai  terendah pada bagian ini. Karena selalu berhati‐hati maka karyawan menjadi  kurang  berani  melakukan  investasi  bisnis  baru  dengan  hanya  berdasarkan  intuisi  semata  sehingga  setiap  kali  akan  melakukan  investasi  bisnis  baru  harus menggunakan analisis mendalam. Hal ini diperlihatkan oleh nilai yang  cukup rendah yaitu sebesar 2.25 (skala 5). Analisis memang diperlukan dalam  melakukan  investasi  baru  tetapi  jika  terlalu  berhati‐hati,  perusahaan  bisa  kehilangan kesempatan dalam menangkap peluang.

Penilaian  akan  kebebasan  dan  keberanian  –  untuk  mencoba  hal  baru  dan  gagal  –  yang  dimiliki  oleh  orang‐orang  yang  didalam  organisasi  adalah  cukup yaitu sebesar 3.13 (skala 5). Hal ini menunjukkan bahwa orang‐orang  yang  didalam  organisasi  secara  umum  cukup  memiliki  kebebasan  dan  juga  memiliki  keberanian  yang  cukup  besar  untuk  mencoba  hal  baru  dan  gagal.  Sayangnya hal ini kurang didukung perusahaan. Dikatakan demikian karena  walaupun  sering  dibicarakan  tentang  perlunya  pengambilan  risiko  namun  kenyataannya  orang‐orang  yang  berani  mencoba  dan  gagal  tidak  bisa  bertahan lama di perusahaan (bisa karena diberi penalti, dipecat, dll). Hal ini  diperlihatkan  dengan  nilai  yang  cukup  rendah  yaitu  sebesar  2.83  (skala  5).  Sebaiknya perusahaan lebih mendukung hal ini karena sebenarnya kegagalan 

(31)

merupakan  proses  dari  pembelajaran  dan  pemberian  sanksi  kepada  karyawan  yang  berusaha  inovatif  /  kreatif  namun  gagal  akan  menghambat  kegiatan entrepreneurship di perusahaan.  

Sebagai akibat dari pemberian hukuman kepada karyawan yang gagal  yaitu  karyawan  menjadi  kurang  berani  dalam  bertindak  dan  lebih  memilih  untuk tumbuh berkembang secara terencana dan terkontrol yang ditunjukkan  dengan nilai yang cukup rendah pada bagian ini yaitu sebesar 1.96 (skala 5).  Segala  sesuatu  yang  terencana  dan  terkontrol  memang  baik  untuk  mengurangi  risiko  kegagalan  tetapi  jika  terlalu  berhati‐hati  perusahaan  bisa  tertinggal dalam menangkap peluang. Oleh karena itu, diperlukan keberanian  dalam  pengambilan  risiko  terutama  di  lingkungan  bisnis  yang  menuntut  kecepatan dalam bereaksi. 

 

4.3.1.7 Dimensi Speed (Kecepatan) 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  kecepatan  perusahaan  dalam  menangani  masalah  dimana  responden  diberikan  empat  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata dari penilaian ini adalah 3.70 (skala 5) dan merupakan nilai tertinggi  dari keseluruhan suvei yang menilai elemen entrepreneurship dari perusahaan.  Penilaian ini menunjukkan bahwa perusahaan cukup cepat dalam bertindak.  Hasil dari penilaian pada dimensi ini dapat dilihat pada gambar di bawah.  0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 4.03 3.37 3.62 3.79 1 2 3 4   Gambar 4.9 Dimensi Speed (Kecepatan) 

(32)

Dimana:  1 Keluhan‐keluhan konsumen ditangani secara cepat dan efisien. (+) 2 Masalah‐masalah yang ada tidak bisa diselesaikan secara cepat. (‐) 3 Para manajer memiliki otonomi yang besar dalam membuat keputusan. (‐) 4 Konsumen menggambarkan kita sebagai perusahaan yang bergerak cepat. (+)    

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  dilihat  bahwa  penanganan  terhadap keluhan‐keluhan kosumen dilakukan dengan cepat dan efisien yang  ditunjukkan  dengan  nilai  yang  tinggi  yaitu  sebesar  4.03  (skala  5).    Hal  ini  merupakan  merupakan  hal  yang  baik  karena  dengan  cepatnya  penanganan  keluhan konsumen, nasabah menjadi puas akan pelayanan perusahaan yang  berarti  sesuai  dengan  budaya  perusahaan  yang  perhatian  utamanya  adalah  memberi pelayanan yang terbaik kepada nasabah. 

Selain menangani keluhan‐keluhan konsumen, perusahaan juga cukup  cepat  dalam  menyelesaikan  masalah‐masalah  yang  ada  walaupun  tidak  secepat  dalam  menangani  keluhan‐keluhan  konsumen.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan nilai yang cukup yaitu sebesar 3.37 (skala 5). Kecepatan penanganan  masalah  masih  harus  ditingkatkan  lagi  karena  kecepatan  bisa  menentukan  keberhasilan  maupun  kegagalan  dalam  pergerakan  dunia  bisnis  yang  serba  cepat ini. 

Dalam  hal  pengambilan  keputusan,  para  manajer  tidaklah  memiliki  otonomi  yang  besar  dalam  memutuskan  segala  sesuatunya.  Penilaian  untuk  hal ini adalah cukup tinggi yaitu sebesar 3.62 (skala 5) yang berarti karyawan  juga turut serta dalam menyelesaikan suatu masalah. Turut berpartisipasinya  karyawan  dalam  menyelesaikan  suatu  masalah  merupakan  hal  yang  bagus  karena berarti pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan lebih cepat. 

Dengan cepatnya penanganan akan keluhan‐keluhan konsumen, maka  konsumen  menggambarkan  perusahaan  ini  sebagai  perusahaan  yang  bergerak  cepat.  Penilaian  untuk  hal  ini  mendapat  nilai  yang  cukup  tinggi 

(33)

yaitu  sebesar  3.79  (skala  5).  Kecepatan  perusahaan  bergerak  di  mata  konsumen merupakan hal yang bagus karena dengan ini berarti perusahaan  bisa memenuhi keinginan konsumen dengan cepat. 

 

4.3.1.8 Dimensi Fleksibilitas 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  fleksibilitas  perusahaan  dalam  menjalankan  bisnisnya  dimana  responden  diberikan  lima  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata  dari  penilaian  ini  adalah  3.01  (skala  5).  Penilaian  ini  menunjukkan  bahwa  fleksibitas  perusahaan  dalam  bertindak  baru  bernilai  cukup  dan  hal  ini  masih  belum  memadai  karena  lingkungan  bisnis  yang  berubah  dengan  cepat  menuntut  fleksibilitas.  Hal  ini  masih  perlu  ditingkatkan  lagi  karena  fleksibilitas  merupakan  hal  penting  agar  bisa  menangkap  peluang  dengan  cepat  sehingga  bisa  menentukan  keberhasilan  dari  perusahaan.  Hasil  dari  penilaian pada dimensi ini dapat dilihat pada gambar di bawah.    0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 3.05 3.36 3.46 2.11 3.09 1 2 3 4 5   Gambar 4.10 Dimensi Fleksibilitas         

(34)

Dimana:  1 Kami sangat bergantung pada team ad hoc  /jangka pendek dalam menyelesaikan masalah‐ masalah. (+) 2 Ketika kami melihat peluang bisnis, kami lambat dalam mengalokasikan sumber daya untuk  menangkap peluang tersebut. (‐) 3 Kami sering memindahkan orang‐orang ke beberapa fungsi dan departemen yang berbeda  untuk meningkatkan perspektif (cara pandang) yang lebih luas. (+) 4 Kami diharapkan untuk mengikuti tahap‐tahap formal yang telah ditetapkan dalam  menyelesaikan suatu pekerjaan. (‐) 5 Kami tidak mementingkan penggunaan status jabatan dan gelar di dalam perusahaan. (+)     Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa untuk harapan agar  karyawan  mengikuti  tahap‐tahap  formal  yang  telah  ditetapkan  dalam  menyelesaikan  suatu  pekerjaan  mendapat  nilai  yang  cukup  rendah  yaitu  sebesar  2.11  (skala  5)  yang  berarti  karyawan  selalu  diharapkan  untuk  mengikuti  tahap‐tahap  formal  yang  telah  ditetapkan  dalam  menyelesaikan  pekerjaannya.  Hal  ini  perlu  diperhatikan  karena  penyelesaian  masalah  dengan  harus  selalu  melalui  tahap‐tahap  formal  akan  membutuhkan  waktu  yang  cukup  lama  sedangkan  dalam  pergerakan  bisnis  yang  cepat  ini  sangat  diperlukan reaksi yang cepat pula.  

Dengan  adanya  tuntutan  untuk  selalu  mengikuti  tahap  formal,  maka  karyawan  menjadi  kurang  sering  membentuk  team  ad  hoc/jangka  pendek  dalam  menyelesaikan  masalah  yang  ditunjukkan  oleh  nilai  yang  bernilai  cukup  yaitu  sebesar  3.05  (skala  5).  Kurang  bergantungnya  karyawan  pada 

team  ad  hoc  dalam  meyelesaikan  masalah  menunjukkan  bahwa  perusahaan 

kurang  fleksibel  dalam  menghadapi  suatu  permasalahan.  Fleksibilitas  merupakan hal penting yang dapat menentukan kecepatan perusahaan dalam  menangkap  peluang  bisnis.  Kurang  fleksibelnya  perusahaan  dapat  mengakibatkan  perusahaan  menjadi  lambat  dalam  menangkap  peluang  bisnis. Hal ini ditunjukkan oleh nilai yang hanya bernilai cukup yaitu sebesar  3.36 (skala 5) yang berarti dalam melihat peluang bisnis, perusahaan menjadi  kurang cepat dalam mengalokasikan sumber daya untuk menangkap peluang 

(35)

tersebut. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kecepatan reaksi, perusahaan  harus lebih fleksibel dalam hal ini.  

Dalam  pemindahan  orang‐orang  ke  beberapa  fungsi  dan  departemen  yang berbeda untuk meningkatkan perspektif (cara pandang) yang lebih luas,  perusahaan mendapatkan nilai 3.46 (skala 5) yang berarti perusahaan cukup  melakukan pemindahan (rotasi) orang‐orang ke fungsi dan departemen yang  berbeda. Dilakukannya perpindahan merupakan hal yang cukup baik karena  dengan  demikian,  karyawan  akan  mendapat  pengetahuan  lain  mengenai  fungsi  dan  departemen  yang  berbeda  di  perusahaan.  Hal  ini  masih  perlu  ditingkatkan lagi karena luasnya perspektif (cara pandang) karyawan dalam  bekerja  dapat  menentukan  fleksibilitas  dan  kecepatan  reaksi  perusahaan  dalam menghadapi tantangan bisnis. 

Penilaian  akan  penggunaan  status  jabatan  dan  gelar  di  dalam  perusahaan  adalah  3.09  (skala  5)  yang  berarti  perusahaan  tidak  terlalu  mementingkan  penggunaan  status  jabatan  dan  gelar  dalam  berkomunikasi.  Hal  ini  merupakan  hal  yang  cukup  baik  karena  penggunaan  status  jabatan  dan  gelar  dalam  perusahaan  dapat  mengganggu  karyawan  dalam  berkomunikasi sehingga dapat menghambat fleksibilitas perusahaan.  

 

4.3.1.9 Dimensi Fokus 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  fokus  perusahaan  dalam  menjalankan  bisnisnya  dimana  responden  diberikan  enam  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata  dari  penilaian  ini  adalah  3.45  (skala  5).  Penilaian  ini  bernilai  cukup  dan  menunjukkan  bahwa  perusahaan  cukup  fokus  dalam  menjalankan  bisnisnya. Hasil dari penilaian pada dimensi ini dapat dilihat pada gambar di  bawah. 

(36)

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 3.61 3.35 3.91 2.67 3.72 3.46 1 2 3 4 5 6   Gambar 4.11 Dimensi Fokus  Dimana:  1 Kami hanya melakukan beberapa hal, tetapi kami mengerjakannya dengan baik. (+) 2 Kita adalah organisasi yang terkotak‐kotak, bagian yang satu tidak mengetahui apa yang  dilakukan bagian yang lain. (‐) 3 Manajemen puncak memiliki visi yang sangat jelas mengenai kemana arah kita dan bagaimana  mencapainya. (+) 4 Jika kamu bertanya pada dua orang yang berbeda tentang strategi perusahaan, kamu mungkin  akan mendapat dua jawaban yang berbeda. (‐) 5 Kami bersedia mengeluarkan dana, selama itu untuk hal‐hal yang benar. (+) 6 Bahkan orang‐orang yang bekerja pada level terbawah tahu mengenai visi perusahaan. (+)    

Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  dilihat  bahwa  perusahaan  cukup  fokus  dalam  menjalankan  bisnisnya.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  nilai  yang  cukup tinggi dalam penilaian mengenai fokus karyawan dalam bekerja yaitu  sebesar  3.61  (skala  5)  yang  menggambarkan  bahwa  walaupun  karyawan  hanya  melakukan  beberapa  hal  tetapi  pekerjaannya  dikerjakan  dengan  baik.  Fokusnya  perusahaan  didukung  dengan  kesediaan  perusahaan  dalam  mengeluarkan  dana.  Nilai  untuk  kesediaan  dalam  pengeluaran  dana  adalah  cukup  tinggi  yaitu  sebesar  3.72  (skala  5)  yang  berarti  selama  untuk  hal‐hal  yang  benar  –  yaitu  untuk  menangkap  peluang  bisnis  atau  bahkan  membuat  peluang  baru  –  yang  sesuai  dengan  lingkup  bisnisnya,  perusahaan  bersedia  mengeluarkan dana. 

(37)

Perusahaan  bukanlah  organisasi  yang  terkotak‐kotak.  Hal  ini  ditunjukkan dengan nilai yang cukup yaitu sebesar 3.35 (skala 5) yang berarti  perusahaan  merupakan  satu  kesatuan  organisasi  dimana  bagian  yang  satu  cukup  mengetahui  apa  yang  dilakukan  bagian  yang  lain.  Kesatuan  dari  perusahaan  bisa  ditingkatkan  lagi  dengan  rotasi  karyawan  sehingga  antar  departemen  bisa  berbagi  informasi  dan  saling  mengetahui  apa  yang  dilakukan oleh bagian lain. 

Dalam  hal  kejelasan  visi,  manajemen  puncak  memiliki  visi  yang  jelas  yang ditunjukkan dengan nilai yang cukup baik yaitu sebesar 3.91 (skala 5).  Hal  ini  bisa  lebih  ditingkatkan  lagi  karena  kejelasan  visi  dari  manajemen  puncak  dapat  mempermudah  pemahaman  karyawan  akan  arah  yang  ingin  dituju  dan  cara  pencapaiannya.  Kejelasan  visi  dari  manajemen  puncak  ini  didukung  dengan  sosialisasi  yang  cukup  baik.  Hal  ini  ditunjukkan  dengan  nilai  yang  cukup  yaitu  sebesar  3.46  (skala  5)  yang  berarti  visi  perusahaan  cukup  tersosialisasi  dengan  baik  sehingga  cukup  diketahui  sampai  level  terbawah perusahaan. 

Sayangnya  kejelasan  visi  kurang  didukung  dengan  kejelasan  strategi  perusahaan  sehingga  dapat  menyebabkan  timbulnya  ketidaksepahaman  mengenai  strategi  perusahaan.  Penilaian  untuk  hal  ini  adalah  cukup  rendah  yaitu  sebesar  2.67  (skala  5)  yang  berarti  pada  dua  karyawan  bisa  diperoleh  pemahaman  akan  strategi  perusahaan  yang  berbeda.  Penjelasan  mengenai  strategi  perusahaan  harus  lebih  disosialisasikan  lagi  karena  ketidaksepahaman  karyawan  akan  strategi  perusahaan  dapat  menyebabkan  perusahaan berjalan salah arah. 

 

4.3.1.10 Dimensi Orientasi Masa Depan 

Pada bagian ini, karyawan menilai orientasi perusahaan di masa depan   dimana  responden  diberikan  lima  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata  dari  penilaian 

(38)

ini adalah 3.19 (skala 5). Penilaian ini menunjukkan bahwa perusahaan cukup  berorientasi  pada  masa  depan  walaupun  masih  belum  memadai.  Hasil  dari  penilaian pada dimensi ini dapat dilihat pada gambar di bawah.  0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Mean 3.67 2.81 3.37 3.22 2.90 1 2 3 4 5   Gambar 4.12 Dimensi Orientasi Perusahaan pada Masa Depan  Dimana:  1 Kami sadar bahwa perusahaan kami adalah perusahaan yang terdepan/terbaik di bidangnya. (+) 2 Kami tidak banyak berinvestasi di R&D. (‐) 3 Perusahaan kami senang menciptakan pasar yang benar‐benar baru berdasarkan produk‐produk  yang sangat inovatif, dimana konsumen sendiri belum tahu kalau mereka membutuhkannya. (+) 4 Kami cenderung lebih sebagai pengikut/ follower  daripada pemimpin dalam pengembangan  produk baru. (‐) 5 Secara umum, para karyawan tidak diberikan penghargaan dalam bereksperimen mencoba hal‐ hal baru. (‐)    

  Berdasarkan  gambar  di  atas,  dapat  diketahui  bahwa  karyawan  menempatkan perusahaan sebagai perusahaan yang cukup baik di bidangnya  yang  ditunjukkan  dengan  nilai  yang  cukup  tinggi  yaitu  3.67  (skala  5).  Di  dunia  bisnis  yang  sarat  akan  persaingan  ini,  penilaian  cukup  baik  saja  tidak  lah  cukup.  Oleh  karena  itu,  perusahaan  harus  lebih  meningkatkan  lagi  pelayanan  dan  produk‐produknya  agar  bisa  menjadi  perusahaan  yang  baik  atau  bahkan  terbaik  di  bidangnya  sehingga  bisa  menjadi  lebih  maju,  lebih  berkembang, dan pada akhirnya bisa memenangkan persaingan.  

(39)

  Salah  satu  hal  yang  bisa  mempengaruhi  peningkatan  pelayanan  dan  penciptaan  produk‐produk  baru adalah  adanya  R&D. Dengan  adanya  R&D,  perusahaan  bisa  menciptakan  produk‐produk  baru  ataupun  hal‐hal  baru  yang  nantinya  bisa  mendukung  jalannya  bisnis.  Sayangnya  hal  ini  kurang  didukung  oleh  perusahaan.  Kurangnya  dukungan  dari  perusahaan,  ditunjukkan  dengan  nilai  cukup  rendah  yaitu  sebesar  2.81  (skala  5)  yang  berarti perusahaan belum banyak berinvestasi di R&D.  

  Penciptaan  produk‐produk  baru  yang  sangat  inovatif  ini  nantinya  dapat mendorong terciptanya pasar yang benar‐benar baru. Sayangnya hal ini  kurang  dapat  terealisasi  dimana  hal  ini  ditunjukkan  dengan  nilai  yang  baru  bernilai  cukup  yaitu sebesar  3.37  (skala  5).  Kurang  terealisasinya  penciptaan  pasar  yang  benar‐benar  baru,  menyebabkan  perusahaan  cenderung  menjadi  pengikut. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sebesar 3.22 (skala 5) yang berarti  dalam  pengembangan  produk,  perusahaan  masih  cenderung  menjadi  pengikut (follower) ketimbang memimpin. 

  Penilaian  dalam  pemberian  penghargaan  kepada  karyawan  –  yang  bereksperimen mencoba hal‐hal baru – masih rendah yaitu sebesar 2.90 (skala  5). Hal ini berarti masih kurangnya apresiasi perusahaan terhadap karyawan  yang  melakukan  eksperimen.  Pemberian  penghargaan  terhadap  karyawan  yang  kreatif  dan  inovatif  harus  lebih  ditingkatkan  lagi  karena  adanya  apresiasi yang sesuai bisa menjadi motivasi karyawan dalam berinovasi yang  nantinya  hal  ini  dapat  mendorong  terciptanya  pasar  yang  benar‐benar  baru  bagi perusahaan. 

 

4.3.1.11 Dimensi Orientasi Individu 

Pada  bagian  ini,  karyawan  menilai  orientasi  mereka  sendiri  terhadap  nilai‐nilai  entrepreneurship  dimana  responden  diberikan  9  pertanyaan.  Nilai  rata‐rata dari penilaian ini adalah 2.46 (skala 5) dan merupakan nilai terendah 

Gambar

Tabel  3.2  di  bawah  ini  menunjukkan  klasifikasi  nilai  koefisien  keandalan yang dilakukan oleh Guilford (1973).     Tabel 3.2 Klasifikasi Nilai Koefisien Keandalan  Nilai Koefisien Tingkat Korelasi &lt; 0.2 Tidak Ada 0.2 &lt; k &lt; 0.4 Rendah 0.4 &
Tabel 4.1 Nilai Cronbach’s Alpha dan Koefisien Korelasi (r) 

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Dosen Pembimbing Nama Mahasiswa NIM Hari Mulai Berakhir Ruang

Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan 2 Penyidikan dan Pengamanan Hutan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan

Pengelolaan sumber daya air sering berfokus pada pemenuhan kebutuhan air yang meningkat tanpa memperhitungkan secara memadai kebutuhan untuk melindungi kualitas dan

bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk mengikatkan diri dalam Kesepakatan Bersama tentang Kerja Sama Pengawasan Obat dan Makanan, dengan ketentuan

Konsep nilai waktu dari uang (time value of money) pada dasarnya menjelaskan bahwa uang dalam jumlah yang sama yang diterima hari ini nilainya lebih besar dari nilainya di masa

Dalam Temu Alumni yang dihelat di Hotel Padjajaran tersebut, beberapa kontingen UNAIR juga berkesempatan untuk mempresentasikan karyanya di hadapan para alumni.. Nasih menjelaskan

Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa (1) sebuah modul menggunakan strategi pembelajaran PDEODE dengan pendekatan saintifik kelas IX SMP materi peluang,