• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI. paling memungkinkan untuk dilakukan. Hal itu dikarenakan seorang produser

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI. paling memungkinkan untuk dilakukan. Hal itu dikarenakan seorang produser"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

63 BAB III

METODOLOGI

3.1. Gambaran Umum

Salah satu peran produser di dalam sebuah produksi adalah untuk membuat perencanaan produksi berdasarkan naskah yang sudah dibuat. Dari naskah tersebut seorang produser berusaha membuat perencanaan yang paling efektif dan paling memungkinkan untuk dilakukan. Hal itu dikarenakan seorang produser bertanggung jawab atas semua proses produksi dan menjadi problem solver jika ada masalah yang menimpa proses produksi. Salah satu metode perencanaan yang cukup sering digunakan adalah perencanaan kontingensi/strategi kontingensi (contingency planning/strategy contingency). Perencanaan kontingensi/strategi kontingensi membantu menganalisis masalah/ancaman apa saja yang akan mungkin terjadi serta membantu menentukan skenario terbaik sebagai solusi dari masalah atau ancaman tersebut.

Terlebih lagi dalam beberapa waktu belakangan ini wabah pandemi COVID-19 yang kian meluas membuat seluruh kegiatan masyarakat terhambat termasuk dalam pengerjaan proyek video tutorial PT. Demix yang sedang penulis kerjakan. Dengan kondisi tersebut maka diperlukan perencanaan khusus yang dibuat seorang produser berdasarkan kebijakan protokol kesehatan agar proses produksi dapat tetap dilanjutkan di tengah wabah pandemik. Proses perencanaan pun dibuat sebagai bentuk dukungan untuk melaksanakan production safety bagi

(2)

64 seluruh anggota kru dan pemain. Salah satu aspek yang dibahas adalah proses pemilihan lokasi dan cara mengembangkannya agar aman dan nyaman saat digunakan (location management). Maka dari itu penulis sebagai seorang produser menerapkan strategi kontingensi pada location management untuk menunjang production safety pada pengerjaan video tutorial PT Demix.

Pada proyek tugas akhir ini penulis menggunakan metode kualitatif dalam pembahasan tentang penerapan strategi kontingensi dalam location management untuk menunjang production safety. Menurut Raco (2010) metode penelitian kualitatif memiliki bentuk yang lebih bervariatif dibanding metode kuantitatif. Maka dari itu hasil yang didapatkan pun bisa dalam bentuk yang beragam. Creswell (2014) menjelaskan bahwa terdapat banyak metode penelitian kualitatif, namun terdapat 2 metode yang sering digunakan yaitu; narrative research dan phenomenological research.

Narrative research merupakan metode dimana peneliti mempelajari tentang kehidupan seorang individu dan meminta individu tersebut untuk bercerita mengenai kehidupan mereka. Metode ini mampu membantu peneliti untuk memahami dan menjelaskan kembali bagaimana kronologinya secara naratif. Phenomenological research merupakan dimana peneliti menjelaskan kembali bagaimana pengalaman seorang individu dalam menghadapi sebuah fenomena kemudian membandingkannya dengan apa yang ada di masyarakat. Penjelasannya pun bisa berupa makna dari pengalaman tiap individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Penulis menggunakan metode phenomenological research

(3)

65 sebagai metode pengumpulan data dimana penulis melakukan wawancara pada narasumber yaitu satu teman penulis yang merupakan seorang produser yang juga tengah melaksanakan produksi di tengah wabah pandemi COVID-19. Penulis melakukan wawancara dengan teman penulis terkait bagaimana pengalamannya dalam melaksanakan proses shooting terutama dalam menjaga keamanan dan keselamatan dari penularan COVID-19.

Neuman (2014) juga menambahkan dalam prakteknya, dari segi waktu pengukuran data metode kualitatif melakukan pengukuran selama proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dari pengukuran metode kualitatif pun bisa dalam berbagai macam bentuk, ukuran dan formulir karena metode kualitatif bisa dikembangkan ke banyak proses pengukuran lainnya. Pengukuran metode kualitatif juga terus mengalami pengembangan selama proses pengumpulan data sehingga hasil yang didapat terus dievaluasi dan diperbaiki sesuai dengan konsep. Pengukuran data kualitatif juga lebih sering menggunakan sistem induktif dimana data empiris yang menjadi ide abstrak diselaraskan dengan data, dan pada akhirnya akan ada perpaduan antara data dan ide.

Pembahasan mengenai peran produser akan difokuskan pada peran dalam menjaga keamanan dan keselamatan seluruh kegiatan produksi. Strategi kontingensi akan menggunakan tahap analisis masalah dan penentuan solusi. Location management sebagai media penerapan perencanaan akan mengacu pada tingkat resiko dan bahaya lokasi (terkait dengan wabah pandemi COVID-19) yang dipilih serta cara mengatasinya agar menjadi lokasi yang aman dan nyaman untuk

(4)

66 digunakan. Production safety membahas bagaimana melindungi seluruh tim produksi dan pemain di tengah keadaan darurat.

3.1.1. Sinopsis

Video tutorial memiliki konsep berupa sesi wawancara dalam bentuk show kepada para pengguna produk Demix untuk bercerita mengenai pengalaman bagaimana kesannya saat menggunakan produk. Salah satu pengguna produk Demix yang diundang adalah Ibu Marni yang merupakan seorang ibu rumah tangga. Ibu Marni bercerita bahwa ia mengalami masalah pada lantai kamar mandinya yang retak dan berlumut. Pada saat itu Sunarto, suami Ibu Marni baru saja mengalami kecelakaan yang menyebabkan tangannya patah sehingga ia tidak bisa memperbaiki lantai tersebut. Ibu Marni pun meminta bantuan Bang Jali namun Bang Jali menolak dan memberikan saran kepada Ibu Marni untuk menggunakan produk Demix.

Kejadian pun semakin dengan Topik, putra Ibu Marni terpeleset karena lantai tersebut licin. Ibu Marni pun semakin resah dengan keadaan lantainya tersebut dan ia bertekad untuk memperbaikinya sendiri. Dengan dukungan dari Sunarto, Ibu Marni mengambil produk Demix dan saat ia mengusapnya muncul asap yang kemudian disusul dengan Mr. Mimo si tukang serba bisa. Mr. Mimo pun menenangkan Ibu Marni yang ketakutan kemudian mengenalkan produk C1 untuk memperbaiki lantai. Mr. Mimo pun mulai menjelaskan tahapan penggunaan produk kepada Ibu Marni dan tak lupa ia memberikan produk Nat sebagai

(5)

67 tambahan filler keramik. Setelah Mr. Mimo pergi Ibu Marni pun merasa senang karena bisa memperbaiki lantainya sendiri.

3.1.2. Posisi Penulis

Posisi penulisan pada laporan ini adalah seorang produser dari proyek tugas akhir video tutorial PT. Demix. Produser memiliki tanggung jawab terhadap seluruh kegiatan produksi mulai dari tahap development hingga saat exhibition. Produser juga memiliki wewenang untuk membuat perencanaan produksi mulai dari penjadwalan, anggaran, keamanan, keselamatan dan yang lainnya. Tidak hanya itu peran produser juga seringkali dikaitkan dengan tanggung jawab kualitas karya yang ia buat. Jadi tidak hanya mengurus produksi dari sisi managerial, produser juga memiliki tugas untuk menjaga konsep karya yang sudah dibuat agar tidak berubah atau berkurang.

3.1.3. Peralatan

Dalam proses perancangan perencanaan produksi dan penyusunan laporan tugas akhir yang berjudul “Penerapan Strategi Kontingensi Dalam Location Management Produksi Video Tutorial PT Demix Untuk Melaksanakan Production Safety di Tengah Wabah Pandemi COVID-19”, penulis menggunakan beberapa peralatan seperti:

1. Naskah 2. Laptop 3. Kalender 4. Kalkulator

(6)

68 5. Buku catatan

6. Alat tulis

7. Form Shooting Schedule 8. Form Crew Call

3.2. Tahapan Kerja

Tahapan kinerja penelitian dimulai dari saat wabah pandemi COVID-19 mulai menyebar membuat proses produksi video tutorial PT. Demix yang sedang dikerjakan oleh penulis terpaksa dihentikan sementara. Penulis berusaha mencari solusi salah satunya dengan membuat sebuah perencanaan produksi. Penulis memutuskan untuk menggunakan strategi kontingensi sebagai metode untuk membuat perencanaan. Strategi kontingensi membantu penulis dalam menganalisa masalah yang diakibatkan COVID-19 kemudian merancang skenario dari masing-masing masalah tersebut sebagai solusinya. Adapun solusi yang dibuat oleh penulis menggunakan kebijakan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang diberlakukan oleh pemerintah (melalui KEMENKES, KEMENDIKBUD, dan KEMENPAREKRAF). Perencanaan tersebut pun nantinya akan digunakan sebagai prosedur dari keseluruhan kegiatan produksi agar terhindar dari penularan COVID-19.

Untuk keperluan pengumpulan data penulis melakukan wawancara dengan seseorang yang memiliki pengalaman dan menghadapi COVID-19 sebagai sumber data. Penulis pun memutuskan untuk melakukan wawancara dengan salah satu teman penulis yang merupakan seorang produser film pendek sebagai narasumber. Narasumber melakukan proses produksi film pendek di tengah

(7)

69 wabah pandemi COVID-19, maka dari itu penulis menanyakan perihal bagaimana cara narasumber dalam menghadapi COVID-19. Berdasarkan hasil wawancara penulis mendapatkan bahwa narasumber juga membuat sebuah perencanaan dalam menghadapi COVID-19. Perencanaan tersebut berupa perencanaan yang berfokus pada bagaimana penerapan protokol kesehatan dapat diterapkan pada seluruh kegiatan produksi serta apa dampak dari penerapan tersebut. Tujuan dari perencanaan tersebut adalah agar proses produksi dapat berjalan dengan aman dan nyaman walau di tengah wabah pandemi COVID-19.

Penulis pun menemukan persamaan reaksi terhadap fenomena COVID-19 dalam produksi film atau corporate video. Persamaan tersebut adalah penggunaan perencanaan sebagai salah satu cara untuk menghadapi COVID-19. Perencanaan dibuat agar seluruh proses produksi dapat bertahan selama di tengah wabah pandemi COVID-19. Adapun perencanaan tersebut dibuat menggunakan kebijakan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 sebagai rujukan sehingga langkah-langkah dari rencana tersebut memiliki dasar yang kuat serta aman untuk dilakukan. Dengan perencanaan yang matang dan penerapan yang baik maka proses produksi dapat dipastikan berjalan dengan aman dari COVID-19. Maka dari itu penulis menemukan kesimpulan awal bahwa dengan perencanaan yang baik serta penerapan yang sesuai maka proses produksi dapat berjalan dengan lancar walau diterjang masalah. Hasil dari wawancara tersebut penulis kembangkan pada penerapan perencanaan produksi yang sebelumnya sudah dirancang dan dievaluasi sehingga benar-benar siap untuk dijalankan.

(8)

70 Penulis menerapkan perencanaan produksi ini pada seluruh kegiatan produksi terutama pada saat proses location management (pemilihan dan pengembangan lokasi) hingga proses shooting. Setiap kegiatan produksi memiliki prosedur kinerja berdasarkan perencanaan produksi yang sudah dibuat oleh penulis. Pada setiap akhir kegiatan produksi penulis melakukan evaluasi terhadap tiap perencanaan yang sudah dilakukan untuk melihat dampak dari perencanaan tersebut apakah sudah baik atau belum. Evaluasi tersebut bertujuan untuk mempersiapkan rencana selanjutnya yang akan dilaksanakan. Selama proses produksi (shooting) berlangsung penulis memastikan bahwa seluruh perencanaan produksi dapat diterapkan dengan baik pada seluruh kegiatan produksi.

Tahap akhir dari penelitian ini adalah dimana proses produksi (shooting) telah selesai dilaksanakan, maka perencanaan yang sudah disiapkan sudah dijalankan secara keseluruhan. Penulis pun melakukan evaluasi akhir bersamaan dengan menilai hasil karya yang sudah dibuat. Hasilnya perencanaan produksi yang sudah dibuat mampu untuk melindungi seluruh kegiatan produksi dari ancaman masalah yang diakibatkan oleh COVID-19. Dengan terlindunginya seluruh kegiatan produksi maka aspek keselamatan dan keamanan seluruh tim produksi dan pemain pun (production safety) dapat terjaga dengan baik.

(9)

71 Gambar 3.1. Skema Perancangan

Sumber: Dokumen pribadi

3.3. Acuan

Penulis menggunakan acuan dari hasil wawancara penulis dengan narasumber terkait pengalamannya dalam melaksanakan produksi di tengah wabah pandemi COVID-19. Penulis mendapatkan informasi terkait bagaimana penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19 di lingkungan produksi. Narasumber menggunakan protokol kesehatan berdasarkan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dimana proses shooting tersebut berlangsung. Penerapan protokol kesehatan pun disesuaikan dengan seluruh kegiatan produksi mulai dari tahap development hingga tahap pasca-produksi. Tujuan dari penerapan itu adalah untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 di lingkungan produksi terutama bagi seluruh tim produksi dan pemain.

(10)

72 Narasumber mengatakan bahwa penerapan protokol kesehatan membutuhkan perencanaan karena penerapannya bisa merubah seluruh prosedur kinerja produksi. Perencanaan tersebut bisa berupa bagaimana cara penyesuaian protokol kesehatan terhadap seluruh kegiatan produksi serta mengantisipasi dampak dari penerapan tersebut. Setelah perencanaan penerapan protokol kesehatan sudah terbentuk maka langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa perencanaan benar-benar diterapkan dengan baik pada seluruh kegiatan produksi. Jika seluruh kegiatan produksi telah selesai maka perlu diadakan evaluasi terhadap perencanaan tersebut apakah sudah berjalan dengan baik, apakah menimbulkan dampak lain, atau bahkan menghambat proses kegiatan. Evaluasi ini berguna untuk mematangkan perencanaan sehingga perencanaan terus berkembang selama proses produksi.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut penulis menemukan bahwa apa yang penulis alami memiliki persamaan dengan apa yang narasumber alami dalam menghadapi COVID-19. Ketika proses produksi terhambat akibat adanya fenomena wabah pandemi COVID-19, perencanaan digunakan sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan produksi dari wabah pandemi COVID-19. Pembuatan perencanaan selalu dilakukan dalam sebuah produksi yang memiliki risiko bahaya/masalah dalam prosesnya, seperti wabah pandemi COVID-19. Situasi wabah pandemi COVID-19 membuat perencanaan harus dibuat secara khusus karena perencanaan harus memuat protokol kesehatan sebagai bagian dari prosedur yang harus dilakukan.

(11)

73 Tabel Perbandingan

No. Narasumber Penulis

1. Dalam menghadapi COVID-19,

narasumber membuat

perencanaan yang berisikan cara penerapan protokol kesehatan pada seluruh kegiatan produksi.

Dalam menghadapi COVID-19, penulis membuat perencanaan yang berisikan analisis masalah yang diakibatkan oleh COVID-19 kemudian menentukan skenario sebagai solusi sesuai dengan kebijakan protokol kesehatan.

2. Perencanaan tersebut dipergunakan untuk menerapkan protokol kesehatan pada seluruh kegiatan produksi sehingga kegiatan produksi berjalan.

Perencanaan digunakan untuk seluruh kegiatan produksi namun fokus pada aspek-aspek yang memiliki risiko paling tinggi dalam penularan COVID-19 (contohnya seperti lokasi shooting).

3. Perencanaan menggunakan referensi dari kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dimana lokasi shooting tersebut dilaksanakan.

Perencanaan menggunakan referensi dari kebijakan pemerintah melalui

KEMENKES, KEMENDIKBUD,

dan KEMENPAREKRAF.

4. Perencanaan ini selalu dievaluasi pada saat setelah kegiatan produksi berlangsung sehingga

Perencanaan dibuat berdasarkan pengamatan di lapangan terutama terhadap kebijakan dan yang berlaku

(12)

74 perencanaan terus berkembang

berdasarkan evaluasi tersebut.

sehingga perencanaan terus bekermbang sesuai kondisi.

5. Tujuan dari penerapan perencanaan ini agar seluruh kegiatan produksi dapat berjalan dengan aman dan terhindar dari risiko penularan COVID-19.

Tujuan dari pembuatan perencanaan ini adalah untuk mengantisipasi seluruh masalah yang diakibatkan oleh COVID-19 sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari risiko penularan COVID-19.

Tabel 3.1. Tabel Perbandingan Phenomenological Research Sumber: Dokumen pribadi

Penulis juga menggunakan acuan lembar perencanaan yang pernah digunakan untuk berbagai macam antisipasi kegiatan. Salah satunya yang dibahas dalam buku “Panduan Perencanaan Kontinjensi Menghadapi Bencana” milik Triutomo, S. (2011). Pada lembar perencanaan ini dijelaskan mengenai jenis kerusakan yang mungkin akan terjadi serta sektor apa saja yang akan terkena dampaknya. Selain dampak dihitung berdasarkan skala tertentu, dimulai dari ringan hingga berat. Hal itu bertujuan untuk memberikan klasifikasi prioritas terhadap ancaman apa saja yang harus benar-benar diperhatikan. Penulis tidak mengambil secara utuh dari bentuk lembar perencanaan ini namun lebih kepada mengambil aspek yang sesuai dengan kebutuhan.

(13)

75 Gambar 3.2. Tabel Dampak Pada Aspek Sarana/Prasarana/Fasilitas/Aset

Sumber: Triutomo, S. (2011)

Contoh tabel diatas merupakan tabel yang biasa digunakan saat melakukan perencanaan kontingensi ketika menghadapi suatu bencana. Tabel diatas memberikan penjelasan mengenai dampak yang berakibat pada salah satu aspek, seperti sarana/prasarana/fasilitas/aset. Setelah tabel tersebut disusun maka akan terlihat dampak pada bagian mana yang dirasa paling besar sehingga dapat dibuat solusi tercepat bagi dampak tersebut.

Selain itu penulis juga menggunakan bentuk dari Safety Report sebagai acuan. Penulis menggunakan bentuk dari beberapa tabel yang ada di dalam Safety Report untuk dimasukkan ke dalam Contingency Strategy Planning. Alasan penggunaan bentuk acuan ini adalah karena bentuk dari Safety Report lengkap dan mudah dimengerti. Penggunaan dari tabel ini juga dapat memudahkan penulis untuk menjelaskan nya kepada seluruh tim produksi. Selain itu bentuk dari tabel ini juga mudah untuk dipahami oleh seluruh tim produksi karena pada sebelumnya bentuk Safety Report ini sudah dipelajari oleh seluruh tim produksi.

(14)

76 Gambar 3.3. Production Safety Form 1

Sumber: Dokumen Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.4. Production Safety Form 2

(15)

77 Gambar 3.5. Production Safety Form 3

Sumber: Dokumen Universitas Multimedia Nusantara

Gambar 3.6. Production Safety Form 4

(16)

78 Disamping menggunakan acuan untuk lembar perencanaan, penulis juga menggunakan acuan untuk memuat hasil kegiatan location management. Beberapa diantaranya seperti Location List dan Location Information dari buku “The Complete Film Production Handbook 4th Edition” karya Hothaner, E. (2010). Pada lembar informasi ini dijelaskan secara detail mengenai informasi lokasi yang sudah dikunjungi. Informasi tersebut juga dapat menjadi pondasi awal saat melakukan location management untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk meningkatkan lokasi tersebut. Lembaran informasi ini juga berguna untuk penulis sebagai bahan untuk menyusun perencanaan karena berhubungan dengan sumber daya yang tersedia. Selain itu lembaran ini juga menjadi dapat menjadi bahan pertimbangan pemilihan lokasi dari sisi managerial disamping pertimbangan kebutuhan naskah.

(17)

79 Gambar 3.7. Location Information Sheet

Sumber: Hothaner, E. (2010)

3.4. Proses Perancangan

Pada proses pembuatan proyek tugas akhir video tutorial PT Demix, penulis berperan sebagai seorang produser yang memegang kendali seluruh kegiatan produksi. Namun pada pembuatan laporan ini penulis berfokus pada proses

(18)

80 pembuatan perencanaan produksi pada proses location management berkaitan dengan production safety.

3.4.1. Development

Pada tahap development penulis yang berperan sebagai seorang produser bekerja sama dengan sutradara dan penulis naskah untuk membentuk sebuah cerita berdasarkan dari produk client yang sudah dipilih PT Demix. PT Demix sendiri merupakan perusahaan yang memiliki produk mortar instan dan semacamnya untuk lantai dan dinding. PT Demix membutuhkan sebuah iklan yang bersifat edukatif namun menyenangkan tentang bagaimana cara penggunaan produknya. Maka dari itu tim produksi memutuskan untuk membuat sebuah video tutorial yang dikemas dengan alur cerita. Produser bersama sutradara dan penulis naskah pun berdiskusi mengenai tema apa yang akan digunakan dan pada akhirnya dipilih komedi sebagai tema utama dari cerita ini.

Setelah tema cerita ditentukan maka penulis melihat hasil logline-statement dan rancangan awal karakter kemudian memberikan tanggapan atau saran. Selain evaluasi naskah penulis juga melakukan survey ke beberapa lokasi toko bangunan untuk melihat langsung produk yang dijual serta produk pesaingnya. Dari hasil riset tersebut penulis memberikan beberapa saran kepada sutradara mengenai bagaimana sifat & karakteristik para pembeli produk. Penulis dan tim juga mengadakan rapat pertama secara langsung dengan client di kantornya. Pada waktu itu rapat membahas mengenai konsep, cerita, serta rancangan karakter yang sudah tim buat berdasarkan riset.

(19)

81 Setelah melihat hasil yang dibuat client pun setuju dan mulai menjelaskan secara lebih detail mengenai produk yang akan dibuatkan video tutorial-nya. Penjelasan itu pun dicantumkan ke dalam client brief dan creative brief. Kemudian penulis juga memastikan agar penjelasan yang ada di client brief dan creative brief dapat disampaikan melalui naskah cerita yang sedang dibuat. Pada proses pembuatan naskah penulis sebagai seorang produser juga memberikan beberapa revisi dan saran kepada penulis naskah terkait dengan pesan cerita dan apa saja yang harus ditampilkan. Tidak lupa juga penulis bersama sutradara dan penulis naskah meminta revisi dan masukan kepada client. Hingga pada akhir naskah pun masuk ke dalam final draft dan selanjutnya akan dianalisis sebagai bahan perencanaan produksi.

3.4.2. Pre-Production

Pada proses pre-production penulis bersama dengan sutradara melakukan proses script breakdown untuk mengetahui segala kebutuhan naskah yang harus dipersiapkan. Dari segi produser script breakdown berguna untuk memperkirakan lama waktu pengerjaan proyek (timeline), anggaran yang diperlukan (budget), dan tingkat risiko produksi (production safety). Setelah analisis dilakukan maka penulis pun merencanakan timeline sebagai acuan waktu pengerjaan proyek, proposed budget sebagai gambaran awal dari biaya seluruh kegiatan produksi dan perencanaan keamanan serta keselamatan produksi di awal sebagai antisipasi pada saat proses shooting. Setelah seluruh hasil timeline dan budget dibuat maka penulis mengumumkannya kepada seluruh tim produksi agar mereka tahu rentan

(20)

82 waktu kerja mereka dan nilai dari proyek yang dibuat. Penulis juga berdiskusi serta menerima beberapa saran dan permintaan tim produksi terkait dengan timeline dan budget agar seluruh tim produksi dapat bekerja secara nyaman dan efektif.

Sebelum proses selanjutnya dilakukan, wabah pandemi COVID-19 semakin merebak hingga membuat kegiatan pre-production harus dilakukan di rumah masing-masing sesuai kebijakan protokol kesehatan pemerintah. Hal ini juga membuat sebagian dari kegiatan pre-production sehingga penulis pun harus membuat perencanaan ulang agar proses produksi dapat tetap berjalan. Perencanaan tersebut disusun berdasarkan pengamatan penulis terhadap fenomena yang ada di lapangan serta hasil wawancara penulis dengan narasumber yang sebelumnya sudah melakukan proses produksi di tengah wabah pandemi COVID-19. Hal itu juga dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap ancaman yang akan mungkin terjadi. Bila ditemukan ancaman atau masalah maka penulis pun langsung merancang skenario sebagai solusi berdasarkan kebijakan protokol kesehatan sebagai referensi.

Dikarenakan perencanaan itu dibuat berdasarkan pengamatan, maka sesekali penulis melakukan pengembangan terhadap perencanaan yang ada tergantung kondisi yang ada di lapangan. Perencanaan ini juga penulis instruksikan kepada seluruh tim produksi terkait bagaimana seluruh kegiatan produksi akan menyesuaikan pada perencanaan yang sudah dibuat untuk meminimalisir risiko penularan COVID-19 selama kegiatan.

(21)

83 1. Casting, Reading & Rehearsal

Perencanaan ulang berpengaruh kepada seluruh kegiatan produksi dimulai dari kegiatan casting. Proses casting dilakukan secara online dengan menggunakan media sosial sebagai media pencarian. Untuk peran yang diperlukan sendiri ada 6 peran yaitu; Ibu Marni, Sunarto, Topik, Neli, Matun dan Bang Jali. Setelah membuat iklan di media sosial, penulis sebagai produser bertanggung jawab untuk menampung seluruh pertanyaan dan tawaran yang dikirimkan oleh calon pemain. Ada pun prasyarat yang dibuat untuk calon pemain seperti menyertakan foto badan tampak depan, belakang dan samping kemudian video akting 4 ekspresi (senang, marah, takut, sedih) maksimal 3 menit serta biodata lengkap.

Penulis juga mengumpulkan seluruh data calon pemain ke dalam folder yang sudah dibuat agar nantinya dapat dengan mudah dilihat dan dipilih. Setelah proses casting ditutup, penulis bersama sutradara menentukan para pemain yang cocok dengan peran yang dibutuhkan. Para pemain yang sudah dipilih kemudian diperlihatkan kepada client untuk meminta penilaian dan masukkan. Saat client sudah setuju, penulis pun menghubungi tiap pemain yang sudah dipilih dan memberikan naskah sebagai bahan bacaan awal serta penjelasan mengenai karakter yang akan diperankan. Dikarenakan sedang berada di masa pandemik COVID-19, penulis juga menjelaskan bahwa seluruh kegiatan latihan akan dilakukan

(22)

84 secara online dan penulis juga memastikan bahwa seluruh pemain bisa mengikuti setiap proses latihan.

Setelah para pemain membaca naskah nya maka saatnya untuk melakukan proses rehearsal. Kegiatan rehearsal dilaksanakan secara virtual menggunakan aplikasi Google Meet atau Zoom dimana seluruh pemain diminta untuk hadir secara online. Sebelum itu, penulis juga merencanakan jadwal latihan yang sesuai dengan jadwal seluruh pemain sehingga tidak mengganggu proses latihan. Jadwal latihan pun ditentukan tiap 1 minggu sekali. Adapun materi proses latihan sudah dirancang bersama dengan sutradara sehingga seluruh proses latihan dapat membantu para pemain untuk menjiwai karakter yang ada. Salah satu materi latihannya adalah memperagakan dialog yang ada dan memberikan masukan kepada pemain terkait gaya dialog yang nantinya berpengaruh kepada karakter peran.

2. Location Scouting

Proses location scouting dilakukan pada saat kebijakan PSBB yang diberlakukan pemerintah sudah mulai dilonggarkan. Penulis bersama sutradara dan penata kamera mengunjungi beberapa kandidat lokasi yang sebelumnya sempat dikumpulkan. Saat sampai di lokasi penulis pun melihat seluruh area yang ada di lokasi sambil mencari informasi tentang pemilik lokasi, sumber daya, serta fasilitas yang ada di lokasi dan melakukan riset terhadap upaya penanggulangan COVID-19 di sekitar

(23)

85 lokasi. Tidak hanya itu penulis juga menanyakan perihal prosedur perizinan kepada pihak berwenang yang ada disana, kebijakan yang berlaku terutama terkait dengan pencegahan COVID-19 serta biaya penggunaan lokasi kepada pemilik lokasi.

Setelah selesai mengunjungi seluruh kandidat lokasi penulis pun membuat daftar lokasi yang berisikan alamat lokasi serta informasi terkait pemilik lokasi. Tidak hanya daftar lokasi, penulis juga membuat lembar informasi terkait lokasi yang berisikan informasi detail terkait tiap lokasi yang dikunjungi. Informasi detail yang dicantumkan terkait jadwal penggunaan lokasi, biaya penggunaan lokasi, serta fasilitas apa saja yang tersedia di lokasi dan sekitarnya. Penulis juga melakukan negosiasi kepada pemilik lokasi secara berkala terkait dengan biaya penggunaan lokasi serta fasilitas baru apa saja yang bisa disertakan di lokasi (berpengaruh pada biaya sewa lokasi) hingga pada akhirnya dibuat kesepakatan bersama.

Penulis juga membuat beberapa aspek penilaian terkait lokasi yang sudah dikunjungi. Aspek penilaian tersebut berguna untuk menilai sebuah lokasi apakah sudah memenuhi standar dari lokasi yang aman untuk digunakan pada saat wabah COVID-19. Adapun bobot penilaian menggunakan referensi dari kebijakan protokol kesehatan dari pemerintah yang membahas mengenai standar lokasi yang aman dari COVID-19. Penilaian tersebut nantinya akan dibicarakan kepada sutradara, DOP, dan production design sebagai bahan diskusi dalam pemilihan lokasi. Hasil

(24)

86 dari penilaian ini juga menentukan penulis dalam menentukan keputusan akhir dalam pemilihan lokasi karena lokasi menjadi tempat shooting berlangsung yang memiliki risiko paling tinggi dalam penularan COVID-19.

Setelah seluruh informasi didapatkan maka penulis sebagai produser mengadakan rapat dengan seluruh tim produksi untuk menentukan lokasi mana yang memiliki potensi untuk dijadikan lokasi shooting. Bahan pertimbangannya adalah memenuhi kebutuhan naratif sesuai naskah, aspek penilaian tingkat keamanan dan kebersihan lokasi (terkait dengan penularan COVID-19), perizinan yang mudah, lokasi yang aman serta strategis (dekat dengan rumah sakit, kantor polisi, pemadam kebakaran dan fasilitas gawat darurat lainnya) dan biaya penggunaan lokasi yang sesuai. Berdasarkan pertimbangan tersebut akhirnya penulis bersama tim produksi memilih satu lokasi kemudian penulis langsung menghubungi pemilik lokasi terkait dengan konfirmasi penggunaan lokasi.

3. Recce & Cam Test

Pada proses recce & test cam penulis bersama seluruh tim produksi melakukan sesi simulasi shooting pada lokasi yang sudah ditentukan. Penulis sebagai produser akan mencatat kebutuhan apa saja yang sekiranya diperlukan saat proses shooting berlangsung. Selain mencatat seluruh kebutuhan tambahan, penulis juga melakukan analisis terhadap lokasi terkait dengan unsur keamanan dan keselamatan. Semua resiko

(25)

87 yang mungkin akan terjadi akan dicatat dan dijadikan bahan perencanaan pada saat proses shooting berlangsung. Hasil analisis tersebut nantinya juga akan dimasukkan ke dalam Safety Form yang berupa lembar informasi yang akan diberikan kepada seluruh kepada departemen tim produksi.

Lembaran tersebut berisi informasi mengenai resiko bahaya saat melakukan proses shooting serta bagaimana cara melakukan tindakan cepat untuk menangani bahaya tersebut. Di dalam lembaran itu juga berisikan kontak darurat seperti rumah sakit, kepolisian dan pemadam kebakaran yang sudah penulis survey lokasinya (dicari yang paling dekat dengan lokasi shooting) dan kontak seluruh kru serta pemain bila ada situasi gawat darurat. Penulis juga memberikan instruksi kepada seluruh tim produksi mengenai kegunaan dari Safety Form ini dan meminta seluruh kepala departemen untuk memberikan informasinya kepada tim mereka masing-masing.

Setelah semua itu dilakukan, penulis pun akhir menyusun anggaran terbaru yang disebut Adjustment Budget. Adjustment Budget sendiri merupakan anggaran yang akan benar-benar dikeluarkan menjelang proses shooting berlangsung. Anggaran ini juga dibuat berdasarkan hasil dari recce dan test cam sehingga terdapat kebutuhan-kebutuhan baru berbeda dengan proposed budget yang merupakan gambaran awal dari anggaran yang dibutuhkan. Anggaran ini nantinya akan dikirimkan kepada client

(26)

88 sehingga client tahu berapa anggaran pasti yang harus dilakukan untuk proyek ini. Penulis bersama dengan account executive melakukan diskusi dengan client terkait dengan anggaran yang diajukan hingga pada akhirnya nanti menemukan kesepakatan terkait besar anggaran yang diberikan dan cara penyalurannya.

4. Persiapan Shooting

Persiapan shooting merupakan tahapan dimana penulis bersama dengan tim produksi melakukan beberapa kegiatan untuk menunjang pelaksanaan di lokasi shooting. Kegiatan yang dilakukan berupa penataan properti pada lokasi dan upaya pencegahan kontaminasi COVID-19 pada lingkungan lokasi shooting. Kegiatan penyusunan properti dilakukan berdasarkan hasil desain dari production design. Kegiatan ini juga bertujuan untuk melihat kembali apakah desain properti yang sudah dibuat sudah cukup atau masih kurang. Seluruh properti yang sudah diletakkan dicatat kemudian difoto untuk keperluan script continuity. Bagi properti yang tidak terpakai akan diletakkan pada ruangan khusus di lokasi sehingga aman dari tindakan pencurian.

Upaya pencegahan kontaminasi COVID-19 dilakukan dengan penyemprotan cairan disinfektan ke seluruh area di lokasi secara berkala agar steril (misalkan saat sebelum-sesudah kegiatan produksi di lokasi), mengatur lokasi untuk meletakkan peralatan serta properti agar terhindar dari kontaminasi COVID-19, penyediaan beberapa fasilitas penunjang

(27)

89 protokol kesehatan di lokasi (tempat mencuci tangan, tempat penyediaan masker serta hand sanitizer, tempat sampah khusus untuk kegiatan shooting, dan lainnya), dan berkoordinasi dengan pihak berwenang seperti RT, RW, dan keamanan setempat bahwa di lokasi tersebut akan dilaksanakan kegiatan shooting. Selain pihak berwenang setempat, penulis juga berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat terkait kegiatan shooting serta upaya penanganan bila ditemukan gejala COVID-19.

3.4.3. Production

Pada saat proses shooting akan berlangsung penulis sebagai produser harus memastikan semua kebutuhan yang terkait dengan proses shooting sudah terpenuhi dan bisa datang pada saat hari shooting berlangsung. Penulis selalu melakukan cek ulang dan konfirmasi terhadap seluruh departemen yang membutuhkan properti dan peralatan khusus. Tidak hanya memastikan, penulis juga menyiapkan seluruh kebutuhan penunjang keamanan dan keselamatan di lokasi shooting yang berkaitan dengan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19. Terkait dengan pemain, sebelum hari shooting penulis juga memberikan informasi kepada seluruh pemain mengenai alamat lokasi serta jadwal mereka harus berada di lokasi.

Pada saat hari shooting berlangsung, penulis sebagai produser sudah berada di lokasi sebelum waktu crew call tujuannya adalah untuk memastikan seluruh peralatan, properti, dan kebutuhan logistik lainnya sudah tersedia di lokasi. Penulis juga bertanggung jawab kepada seluruh pemain yang akan datang

(28)

90 ke lokasi bila mereka mengalami kendala saat hendak menuju lokasi. Sebelum proses shooting dimulai, penulis memberikan instruksi perihal prosedur kegiatan shooting sesuai kebijakan pemilik lokasi atau pihak berwenang dan terutama yang terkait dengan protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Penulis juga bertugas untuk memastikan seluruh kebijakan tersebut dilaksanakan selama proses shooting berlangsung dan sebagai seorang produser penulis memiliki wewenang untuk menegur segala tindakan yang melanggar kebijakan.

Setelah proses shooting usai, penulis pun mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemain yangs sudah bersedia ikut proses shooting kemudian memberikan informasi terkait pembayaran fee dan pengurusan beberapa dokumen sebagai laporan. Setelah itu, penulis kembali melakukan cek kepada seluruh peralatan dan properti yang akan dikembalikan. Penulis juga bertanggung jawab untuk mengembalikan kondisi lokasi seperti sedia kala, maka dari itu penulis bersama tim melakukan kegiatan bersih-bersih hingga kondisi lokasi seperti sedia kala. Tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pemilik lokasi karena telah meminjamkan tempat miliknya sebagai lokasi shooting proyek ini. 3.4.4. Post-Production

Pada masa post-production penuli sebagai produser memiliki kewajiban untuk membuat laporan produksi serta mengawasi jalannya proses editing yang sedang dilakukan. Laporan produksi tersebut salah satunya berupa laporan anggaran akhir (Final Budget). Final Budget merupakan laporan anggaran yang berisikan anggaran yang sudah dikeluarkan selama proses shooting (shooting budget). Ketika proses shooting berlangsung banyak hal yang tidak diduga akan mungkin

(29)

91 terjadi dan kebanyakan dari hal tak terduga tersebut memakan biaya tambahan. Hal itu lah yang akan terlihat dari laporan anggaran ini, apakah anggaran akan bertambah dengan kecil atau besar. Harga yang terdapat di dalam final budget juga didapatkan dari bukti pengeluaran selama proses produksi berlangsung, maka dari itu penulis juga mengumpulkan bukti-bukti pembayaran untuk bukti laporan keuangan kepada client nantinya.

Penulis juga memiliki peran untuk mengawasi jalannya proses editing dimulai dari proses rough cut hingga proses memasukkan musik ke dalam karya. Penulis tidak memiliki wewenang untuk menentukan proses editing sudah mencapai pick lock namun penulis hanya memberikan masukan serta saran kepada sutradara dan editor terkait hasil editing. Penulis bersama dengan account executive juga melakukan diskusi kepada client terkait dengan hasil editing, penulis sebagai wakil dari tim produksi juga memberikan jawaban bila client bertanya. Jika proses editing sudah selesai maka penulis akan melakukan proses delivery karya kepada client untuk melihat hasil akhir. Hasil akhir diputuskan ketika penulis sudah menyerahkan lembar kesepakatan terkait hasil proyek kepada client dan sudah ditandatangani.

Gambar

Tabel 3.1. Tabel Perbandingan Phenomenological Research  Sumber: Dokumen pribadi
Gambar 3.4. Production Safety Form 2
Gambar 3.6. Production Safety Form 4

Referensi

Dokumen terkait

Konsep asuransi adalah konsep yang menyangkut jasa pertanggungan atau pengelolaan resiko dan juga pertanggungan ulang resiko hal tersebut sesuai dengan Pasal 1

Kesimpulan dari penelitian ini adalah; pertama, walaupun pada masa itu kerap disebut sebagai masa pekerjaan mencari orang, namun angka pengangguran di awal tahun 1950-an

Berdasarkan hasil observasi awal yang penulis lakukan di SD Negeri 18 Banda Aceh tepatnya di kelas VI, penulis melihat kurangnya respon siswa terhadap materi pelajaran yang

1) Pendidikan, pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan mempunyai wawasan lebih luas tertuma penghayatan akan arti pentingnya

pokok) pada saat harga mahal dan menimbunnya dengan tujuan untuk menjual kembali pada saat harganya lebih mahal. 7) Taghrir, yaitu upaya mempengaruhi orang lain, baik

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan konsep interaksi sosial penduduk lansia di Kampung Tejokusuman dengan mengidentifikasi pola interaksi sosial, setting fisik

Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa kualitas data input dan Tingkat pemahaman pengguna mengenai SIMDA merupakan faktor pendukung dari implementasi SIMDA namun

Menurut Saya hal yang paling menonjol sebagai kelebihan Saya adalah soal perencanaan. Dalam setiap kegiatan saya selalu mengawali dengan perencanaan. Termasuk di