ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan yang bergerak dalam sub sektor property dan real estate. Penelitian dilakukan pada tahun 2008 sampai 2010.
Data diperoleh dengan melakukan pencatatan di Pojok Bursa Efek Indonesia dan studi pustaka di internet. Dengan diperoleh data yang dibutuhkan, maka dapat dilakukan pengolahan terhadap data tersebut, sehingga dapat menjawab hipotesis yang diajukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh variabel tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan yang bergerak dalam sub sektor property dan real estate. Selain itu hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara variabel tingkat inflasi dan harga saham baik secara positif maupun secara negatif. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman oleh para investor dalam memilih saham yang tepat dalam berinvestasi bila terjadi pergerakkan inflasi yang dihadapi sebuah negara.
ABSTRACT
This research aims to analyze the effect of inflation on the price of shares company in sub sectors of property and real estate. The research periode is 2008 until 2010.
The data retrieved by performing record keeping at Pojok Bursa Efek Indonesia and the study of library and on the internet. The retrieved data is needed, then it can be done against such data processing, so that it can answer the hypotheses put forward.
The result showed that there is the influence of variable inflation rate with respect to the company’s share price in a sub property and real estate sectors. Additionally the result showed there is a correlated between a variable level of inflation and the stock price either positively or negatively. And the result of this research can be used as guidelines by investors in selecting the right stock in invest when there is inflation faced of the country.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRACT ... v
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 8
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian ... 8
1.3.3 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1Landasan Teori ... 11
2.1.1 Faktor Makro Ekonomi ... 11
2.1.1.1 Suku Bunga Bank Indonesia ... 11
2.1.1.2 Nilai Tukar Mata Uang (KURS) ... 12
2.1.1.3 Tingkat Inflasi ... 13
2.1.3 Harga saham ... 25
2.2 Penelitian Terdahulu ... 28
2.3 Kerangka Pemikiran ... 30
2.4 Hipotesis ... 32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian dan Periode Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian ... 34
3.1.2 Periode Penelitian ... 34
3.2 Jenis Penelitian ... 34
3.3 Metode Penelitian... 34
3.4 Alat Analisis ... 35
3.5 Populasi dan sampel ... 36
3.6 Variabel Penelitian ... 38
3.7 Definisi Operasional Variabel 3.7.1 Tingkat Inflasi ... 38
3.7.2 Harga Saham ... 38
3.8 Gambaran Umum Objek Penelitian 3.8.1 Bursa Efek Indonesia ... 38
3.8.2 Sektor Property dan Real Estate ... 41
3.9 Metode Analisis Data 3.9.1 Model dan Teknik Analisis Data ... 42
3.9.2 Analisis Regresi ... 43
3.9.3 Analisis Hubungan ... 43
4.1.2 Harga Saham Perusahaan Sub Sektor Property dan Real Estate ... 46
4.1.3 Uji Normalitas ... 48
4.1.4 Uji Anova ... 50
4.1.5 Saham-saham yang lolos uji untuk dilakukan penelitian ... 53
4.2 Pembahasan 4.2.1 Pembentukan Model Regresi ... 55
4.2.2 Pengujian Hipotesis I ... 66
4.2.3 Pengujian Hipotesis II ... 70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 77
5.2 Saran ... 79 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
TABEL 3.1 DATA POPULASI SAHAM SUB SEKTOR PROPERTY DAN REAL
ESTATE ... 35
TABEL 3.2 DATA SAMPEL SAHAM SUB SEKTOR PROPERTY DAN REAL ESTATE ... 36
TABEL 4.1 DATA INFLASI ... 44
TABEL 4.2 HARGA SAHAM ... 46
TABEL 4.3 UJI NORMALITAS KOLMOGOROV SMIRNOV ... 48
TABEL 4.4 DATA NILAI ANOVA ... 51
TABEL 4.5 SAHAM LOLOS UJI NORMALITAS DAN ANOVA ... 53
TABEL 4.6 BESAR PENGARUH YANG DIALAMI ... 66
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I Pendahuluan
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Pada era globalisasi yang terus dihadapi seluruh negara di dunia ini menyebabkan
terjadinya perkembangan pesat dalam segala aspek kehidupan dibandingkan
dengan jaman dahulu. Perkembangan yang terjadi dampak pada ilmu
pengetahuan maupun teknologi yang diterapkan oleh sebuah negara. Dengan
adanya perkembangan terhadap pertumbuhan suatu negara maka akan
menimbulkan banyak dampak yang akan dialami oleh sebuah negara. Dampak
tersebut akan berdampak positif seperti perekonomian maju, teknologi maju, dan
masih banyak lagi. Akan tetapi terdapat pula dampak yang negatif seperti
modernisasi yang menyebabkan orang-orang akan menjadi konsumtif. Dengan
pola hidup yang menjadi konsumtif maka menyebabkan orang-orang tersebut
tidak dapat melakukan kegiatan investasi ataupun menabung. Karena seluruh
uang yang dimiliki akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini
terjadi karena masyarakat tidak ingin menjadi orang yang tertinggal dengan
jaman yang semakin maju. Untuk mencegah hal itu terjadi maka banyak negara
yang mulai memberikan alternatif investasi kepada masyarakat yang memiliki
modal.
Pasar modal menjadi salah satu alternatif investasi. Pasar modal merupakan
sarana yang tepat bagi masyarakat yang memiliki modal untuk menanamkan
dana yang dimiliki di perusahaan-perusahaan yang dinilai memiliki daya untuk
bersaing. Dalam kegiatan investasi terutama saham, masyarakat yang memiliki
dana akan melakukan berbagai pertimbangan dengan memperhatikan
faktor-faktor yang akan berpengaruh terhadap pergerakan harga saham baik berdampak
positif maupun berdampak negatif. Dengan mempertimbangkan hal tersebut,
dapat dikatakan bahwa pasar modal juga mempunyai peranan strategis untuk
penguatan ketahanan ekonomi suatu negara. Akan tetapi pada 15 (lima belas)
BAB I Pendahuluan
2 dengan masih banyak investor yang melakukan pelarian uang ke luar negeri
(capital flight). Puncaknya terjadi pada saat krisis moneter tahun 1998 yang
melanda di Indonesia yang menyebabkan runtuhnya pilar-pilar perekonomian
nasional Indonesia. Ini ditandai dengan turunnya kepercayaan masyarakat
terhadap pemerintah terutama terhadap dunia perbankan. Hal ini dibuktikan
dalam bentuk penarikan dana besar-besaran oleh deposan (pemilik modal) untuk
kemudian disimpan di luar negeri atau capital flight (
www.suarakarya-online.com : 13 November 2008) dalam bentuk deposito baik jangka pendek
maupun jangka panjang dan juga dalam bentuk tabungan. Terjadinya capital
flight disebabkan karena tingkat suku bunga pinjaman yang tinggi hingga
mencapai kurang lebih 40% pertahun dan menyebabkan kegiatan ekonomi
terganggu. Dampak lain dari menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah dan juga bank dirasakan juga hingga ke pasar modal. Harga-harga
saham perusahaan yang ada di bursa efek mengalami penurunan secara tajam
sehingga menimbulkan kerugian yang cukup signifikan bagi investor. Dapat
dilihat dari banyaknya saham yang dijual hanya Rp 10,- per lembar saham dan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga di bawah Rp. 300,-. Hal
lain yang mempengaruhi penurunan kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah disebabkan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
dan juga disebabkan suku bunga tabungan yang ditawarkan oleh bank relatif
kecil. Hal ini menyebabkan banyak pemilik modal melarikan uang yang dimiliki
ke luar negeri atau menabung di bank yang ada di luar negeri ataupun
bank-bank asing yang ada di Indonesia dengan harapan akan mendapatkan keuntungan
yang lebih karena bunga yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan bank-bank
lokal. Untuk mencegah itu pemerintah juga pernah menekan capital flight dengan
cara memberlakukan peningkatan terhadap tingkat suku bunga pinjaman hingga
60% pertahun.
Pasar modal Indonesia 8 (delapan) tahun ini berkembang cukup pesat. Hal ini
ditandai dengan banyak para investor asing maupun investor lokal yang
menanamkan modalnya pada perusahaan swasta domestik yang terdaftar dalam
BAB I Pendahuluan
3 modal semakin bergairah. Selain itu dapat dibuktikan dengan melihat indikator
ekonomi beberapa tahun terakhir ini, gejala pemulihan kepercayaan masyarakat
mulai tampak. Pada penutupan Desember 2003 IHSG mulai menanjak naik dan
berada pada posisi Rp. 691,90. Dan berikutnya terjadi peningkatan yang cukup
menjadikan perekonomian Indonesia merupakan salah satu negara berkembang
yang cukup baik. hal ini dapat dilihat Indonesia merupakan salah satu negara
yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif (melalui pertumbuhan
ekonomi Indonesia yang dapat dengan cepat pulih pasca terjadi krisis keuangan
global pada tahun 2008). Dibandingkan dengan Amerika, Indonesia dapat
mengalami pertumbuhan sebesar 4,4% setelah terjadinya krisis global yang
disebabkan karena Amerika mengalami krisis keuangan yang cukup berdampak
besar bagi perekonomian dunia (lilspace4dreams.wordpress.com). Dengan semakin menguatnya perekonomian Indonesia maka akan memberi dampak banyak
investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia karena memiliki
pendapat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup kuat dalam
menghadapi tantangan. Hal ini diperkuat oleh statement yang diberikan oleh
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan bahwa Indonesia akan
mengalami peningkatan sebesar 0,2 ( nol koma dua) persen pada tahun 2009
dibandingkan tahun 2011 ke level 5,7% (www.bisnis.com). Dan puncaknya
terjadi ketika tahun 2010 IHSG untuk pertama kalinya menembus angka Rp.
3.703,51 per lembar saham (www.duniainvestasi.com). IHSG merupakan
cerminan dari kegiatan pasar modal secara umum.
Dengan adanya hal seperti diatas maka membuat pasar modal sangat rentan
(sensitif) terhadap kondisi ekonomi yang dialami oleh suatu negara terutama
faktor makro ekonomi. Faktor makro ekonomi adalah kegiatan ekonomi yang
BAB I Pendahuluan
4 dan luar negeri (Murni, 2006:1-2). Faktor makro ekonomi meliputi tingkat suku
bunga pinjaman, tingkat kurs rupiah terhadap mata uang asing, jumlah uang yang
beredar, belanja pemerintah, dan juga tingkat inflasi. Faktor makro ekonomi yang
dihadapi oleh sebuah negara dapat berasal dari lingkungan internal maupun
eksternal suatu negara. Hal ini berdampak terhadap minat seorang investor untuk
menanamkan modalnya di pasar modal. Faktor makro ekonomi yang berasal dari
lingkungan internal suatu negara masih dapat dihadapi dan ditanggulangi oleh
pemerintah akan tetapi pemerintah akan sulit membendung faktor makro yang
berasal dari lingkungan eksternal suatu negara. Hal ini disebabkan karena
pemerintah tidak dapat memprediksikan apa yang akan terjadi di lingkungan
eksternal sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan internal masih dapat
diprediksikan dan juga pemerintah dapat menggunakan kekuasaannya untuk
menahan laju perubahan faktor makro ekonomi yang berasal dari lingkungan
internal. Faktor makro ekonomi yang berasal dari lingkungan internal meliputi
pembelanjaan negara, kebijakan pemerintah, pendapatan nasional, kebijakan
suku bunga dan masih banyak lagi. Akan tetapi pemerintah juga tidak dapat
mengabaikan faktor makro ekonomi yang berasal dari lingkungan eksternal dari
sebuah negara. Faktor eksternal meliputi inflasi, krisis global, dan perubahan kurs
mata uang. Faktor-faktor tersebut cukup diperhatikan oleh para investor dalam
memilih suatu investasi, terutama investasi dalam bentuk saham. Dari banyaknya
faktor makro ekonomi yang diperhatikan oleh para investor, faktor inflasi
merupakan salah satu faktor yang cukup menjadi sorotan.
Hal ini disebabkan karena faktor inflasi akan mempengaruhi daya beli seseorang
dalam membeli suatu komoditas ataupun barang kebutuhan sehari-hari. Inflasi
merupakan gejala kenaikan harga barang-barang secara keseluruhan dan secara
terus menerus dalam rentang waktu tertentu (Murni, 2006 : 203). Dengan
terjadinya inflasi yang tinggi maka akan mengakibatkan daya beli masyarakat
pun menurun. Hal ini disebabkan karena terjadi kenaikan terhadap harga
barang-barang dan menyebabkan para produsen atau konsumen merasa kesulitan dalam
memenuhi kebutuhan. Dengan adanya kenaikan terhadap harga bahan baku yang
BAB I Pendahuluan
5 kepada konsumen, maka akan berdampak harga jual produk tersebut menjadi
sangat mahal karena biaya produksi mengalami kenaikan. Dengan terjadinya
kenaikan biaya produksi maka akan menyebabkan kenaikan harga produk
tersebut. Dengan adanya kenaikan tersebut maka akan membuat terjadinya
penurunan terhadap penjualan perusahaan. Sedangkan jika dilihat dari sudut
pandang konsumen, dengan adanya inflasi maka konsumen sulit dalam
memenuhi kebutuhannya. Hal ini dikarenakan harga-harga barang kebutuhan
menjadi mahal dan tidak jarang barangnya menjadi langka karena keterbatasan
produsen dalam memproduksi barang yang dibutuhkan oleh para konsumen akan
tetapi permintaan terhadap barangnya begitu banyak. Dengan terjadinya tingkat
inflasi yang tinggi akan mengakibatkan kelumpuhan dalam perekonomian suatu
negara. Hal ini juga berdampak terhadap pasar modal di Indonesia.
Selain itu, dengan adanya inflasi maka berdampak dan dirasakan juga oleh
perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang penyediaan real estate dan
juga property. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan baku seperti semen, batu
bata, kayu, besi beton, pasir, keramik, dan lain-lain yang digunakan oleh
perusahaan dalam membangun bangunan yang akan dijual mengalami kenaikan
secara terus-menerus. Dengan terjadinya kenaikan terhadap bahan baku maka
akan menyebabkan terjadinya pula kenaikan biaya produksi yang dibebankan
terhadap barang yang diproduksi. Barang yang diproduksinya berupa bangunan
baik rumah, apartemen, real estate, maupun gedung-gedung untuk tempat
berusaha. Dengan semakin besar biaya produksinya maka akan membuat
perusahaan menaikan harga barang yang dijual. Dengan kenaikan harga barang
yang dihasilkan maka akan meningkatkan harga jual produk tersebut. Dan ketika
produk yang dihasilkan dipasarkan maka harganya akan sangat mahal. Hal ini
yang membuat minat beli konsumen menjadi menurun. Karena masyarakat lebih
berpikir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada digunakan untuk
berinvestasi dalam bentuk property ataupun real estate. Hal ini disebabkan karena
dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja sudah begitu sulit. Oleh sebab itu
banyak masyarakat lebih memilih untuk tidak memperhatikan dunia property dan
BAB I Pendahuluan
6 Hal ini diperkuat oleh penelitian terdahulu. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Fama (1981) kemudian diteliti kembali oleh Geske and Roll (1983) dan diperkuat oleh Chen et al. (1986) dan didapat hasil yang saling menguatkan tentang terdapat pengaruh yang cukup signifikan faktor makro ekonomi terhadap pergerakkan harga saham.
Ajayi dan Mougoue (1996) juga menggunakan variabel makroekonomi nilai tukar dan harga saham. Mereka meneliti hubungan dinamis antara harga saham dan nilai tukar pada “Delapan Besar” pasar modal, yaitu Canada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat dengan menggunakan bivariate error correction model. Hasil penelitian mereka menunjukkan hubungan yang signifikan
antara nilai tukar dan harga saham (pasar modal dan pasar uang).
Selain itu, Moradoglu, et al. (2000) melakukan penelitian yang sama dengan menggunakan variabel makro dan harga saham. Beliau mengemukakan bahwa penelitian tentang perilaku harga saham telah banyak dilakukan, terutama dalam kaitannya dengan variabel makroekonomi. Dan menurut hasil penelitian Moradoglu mengatakan bahwa harga saham dipengaruhi oleh fluktuasi makroekonomi. Beberapa variabel makroekonomi yang digunakan antara lain; tingkat inflasi, tingkat bunga, nilai tukar, indeks produksi industri, dan harga minyak.
Selanjutnya Gupta (2000) yang mengadakan penelitian di Indonesia dengan menggunakan data periode 1993-1997 menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan kausalitas antara tingkat bunga, nilai tukar, dan harga saham. Hasil ini bertolak belakang dengan Sitinjak dan Kurniasari (2003) yang menemukan bahwa nilai tukar dan tingkat bunga SBI berpengaruh terhadap IHSG. Namun Saadah dan Panjaitan (2006) kembali menunjukkan bahwa tidak ada interaksi dinamis yang signifikan antara harga saham dan nilai tukar.
BAB I Pendahuluan
7 variabel makroekonomi terutama tingkat inflasi apakah sebenarnya berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan yang bergerak di sub sektor property dan real astate yang listing di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu, dalam skripsi ini, peneliti mengambil judul:
“ANALISIS PENGARUH TINGKAT INFLASI TERHADAP HARGA
BAB I Pendahuluan
8
1.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dari penelitian yang penulis ambil
adalah sebagai berikut:
1. Apakah variabel independen yaitu tingkat inflasi mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu harga saham perusahaan
yang bergerak dalam bidang sub sektor property dan real estate.
2. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat inflasi dan
harga saham perusahaan yang bergerak dalam bidang sub sektor property
dan real estate.
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Penelitian
Bertolak pada latar belakang permasalahan diatas maka tujuan dari
diadakannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen yaitu
tingkat inflasi terhadap variabel dependen yaitu harga saham
perusahaan yang bergerak dalam sub sektor property dan real
estate.
2. Untuk mengetahui bagaimana hubungan keeratan variabel
independen yaitu tingkat inflasi terhadap variabel dependen yaitu
harga saham perusahaan go publik yang bergerak dalam bidang
sub sektor property dan real estate .
1.3.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan
terutama investor sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk
pengambilan keputusan investasi di pasar modal. Secara terperinci
BAB I Pendahuluan
9 1. Bagi Investor dan Emiten
Bagi investor dan emiten yang tercatat di BEI, hasil dari penelitian
ini dapat membantu mereka dalam menentukan apakah akan
menjual, membeli, ataukah menahan saham yang mereka miliki
berkenaan dengan terjadinya perubahan tingkat inflasi. Karena
jika terjadi kesalahan dalam menentukan dan menerapkan strategi
perdagangan di pasar modal, akan berakibat buruk bagi
perusahaan atau investor sehingga dapat mengalami kerugian
apabila tingkat inflasi yang terjadi dan dialami suatu negara
berdampak secara positif dan signifikan terhadap harga saham
perusahaan.
2. Bagi Pemerintah
Dengan diketahuinya dampak kenaikan atau penurunan tingkat
inflasi terhadap Harga Saham perusahaan yang bergerak dalam
sub sektor real estate, maka pemerintah dapat membuat
kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan kenaikan atau penurunan
tingkat inflasi sehingga pengaruh yang telah atau akan terjadi
dapat diantisipasi dan ditangani dengan sebaik-baiknya.
3. Bagi Perusahaan
Dengan diketahuinya besarnya pengaruh tingkat inflasi yang
dihadapi oleh suatu perusahaan yang bergerak di sub sektor
property dan real estate maka perusahaan dapat melakukan
perhitungan berapa besar kerugian yang akan dialami jika terjadi
peningkatan tingkat inflasi. Dengan itu pula perusahaan dapat
melakukan pencegahan dengan cara menjual/ menerbitkan saham
dan juga membeli saham/ menarik kembali saham sehingga
terhindar dari kerugian dan juga masih tetap mendapatkan
kepercayaan dari para investor. Hal ini disebabkan karena
perusahaan dapat tetap bertahan dengan baik di tengah fluktuatif
tingkat inflasi yang dihadapi oleh suatu negara. Dengan
mengetahui itu semua maka perusahaan tetap mendapat
BAB I Pendahuluan
10 tetap menghasilkan keuntungan sehingga dapat membagikan
dividen kepada para investor.
4. Bagi Peneliti dan Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti sendiri, penelitian ini dapat membuka cakrawala
baru. Bahwa faktor-faktor ekonomi makro terutama fakor inflasi
juga berpotensi mempengaruhi kinerja bursa saham, jadi tidak
hanya faktor-faktor internal bursa itu sendiri saja. Bagi peneliti
selanjutnya, hasil dari penelitian ini bisa dijadikan dasar dan juga
bisa dikembangkan secara luas lagi dengan mengambil
faktor-faktor ekonomi yang lain, seperti kurs rupiah dan suku bunga SBI
BAB V Kesimpulan dan Saran
75
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1KESIMPULAN
Penelitian ini dilakukan untuk menjawab atau membuktikan hipotesis pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan yang bergerak dalam sub sektor property dan real estate dan juga menjawab hubungan antara tingkat inflasi dan harga saham perusahaan yang bergerak dalam sub sektor property dan real estate dengan periode waktu penelitian dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17.0 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan dan hubungan keduanya. Hal ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh:
a. Panca Wiratama Sakti Tbk. (PWSI) besarnya pengaruh sebesar 49,60% dengan besarnya hubungan -0,701.
b. Perdana Garuda Prima Tbk. (GPRA) besarnya pengaruh sebesar 48,90% dengan besar hubungan 0,700.
c. Pudjiadi Pretige Tbk. (PUPD) besarnya pengaruh sebesar 43,60% dengan besar hubungan 0,660.
d. Ciputra Development Tbk. (CTRA) besarnya pengaruh sebesar 40,90% dengan hubungan sebesar 0,639.
e. Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) besarnya pengaruh sebesar 36,20% dengan hubungan sebesar 0,601.
f. Cowell Development Tbk. (COWL) besarnya pengaruh sebesar 32,00% dengan hubungan sebesar 0,566.
g. Ciputra Surya Tbk. (CTRS) besarnya pengaruh sebesar 30,90% dengan hubungan sebesar -0,556.
BAB V Kesimpulan dan Saran
l. Intiland Development Tbk. (DILD) besarnya pengaruh sebesar 19,10% dengan hubungan sebesar -0,437.
m. Bekasi Alam Pemula Tbk. (BAPA) besarnya pengaruh sebesar 14,30% dengan hubungan sebesar 0,379.
n. Ciputra Property Tbk. (CTRP) besarnya pengaruh sebesar 11,90% dengan hubungan sebesar -0,345.
o. Jakarta International Hotel Development Tbk. (JIHD) besarnya pengaruh sebesar 9,90% dengan hubungan sebesar -0,314.
p. Kawasan Jakarta Jababeka Tbk. (KIJA) besarnya pengaruh sebesar 9,40% dengan hubungan sebesar -0,307.
BAB V Kesimpulan dan Saran
77 5.2SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Rahardja, Pratham dan Manurung, Mandala. 2004. Pengantar Ilmu Ekonomi
(Mikroekonomi dan Makroekonomi). Edisi Revisi. Jakarta : Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Husnan, Suad. 2005. Dasar-dasar Reori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi
Keempat. Yogjakarta: Percetakan AMP YKPN.
Murni, Asfia. 2006. Ekonomika Makro. Edisi Pertama. Bandung: Refika Aditama.
Sukirno, Sadono. 2008. Makroekonomi Teori Pengantar. Edisi ketiga. Jakarta :
RajaGrafindo Persada.
Hubbard, R. Glenn, dan O’Brien, Anthony P. Economics. Pearson International Edition.
Permana, Yogi. 2009. Analisis Fundamental Keuangan, Tingkat Bunga, dan Tingkat
Inflasi Terhadap Pergerakan Harga Saham ( Study Kasus Perusahaan Semen yang
Terdaftar di BEI). Jurnal Keuangan. Universitas Gunadharma.
Meta, Rayun Sekar. Perbedaan Pengaruh Inflasi, Tingkat Suku Bunga dan Nilai Tukar
Rupiah/US Dollar Terhadap Return Saham. Jurnal Keuangan.
Prihantini, Ratna. 2009. Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar, ROA, DER, dan CR
Terhadap Return Saham. Tesis Magister Manajemen, Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro, Semarang ( dipublikasikan).
Tendelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi, Jakarta:
Kanisius.
www.idx.co.id
www.duniainvestasi.com