• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 1.1 Gambar 1.2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 1.1 Gambar 1.2"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

“Banyak perda telah tersesat ketika mempublikkan urusan privat.

Aturannya bisa sangat terlibat, mengurusi lakon dan moral individu. Gemar mengatur aurat warga, lalai membuat rakyat sejahtera. Terjebak menjual moralitas agama, dengan selera dan harga suka-suka. Semata menjadi jalan instan, mendongkrak politik pencitraan. Perda seharusnya memajukan kesalehan sosial, bukan memformalkan ritual. Membela hidup bersama, bukan meruncingkan yang berbeda. Hukum itu alat rekayasa sosial, bukan ajang pembakuan moral.”(Mata Najwa, 2013)

Demikianlah kutipan “Catatan Najwa” dalam program Mata Najwa edisi Rabu, 16 Januari 2013. Tayangan ini dipicu kemunculan surat edaran Walikota Lhokseumawe yang mengatur agar perempuan tidak duduk mengangkang saat dibonceng sepeda motor, serta rancangan peraturan daerah DPRD Kota Surabaya mengenai peraturan nama bayi dengan ciri khas kedaerahan. Mata Najwa mengangkat tema “Balada Perda” untuk membahas kedua aturan daerah tersebut, bersama dengan sejumlah aturan daerah lain yang mengundang pro dan kontra masyarakat.

Dalam edisi ini, Mata Najwa menghadirkan dua narasumber di studio.

Pertama, Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya (gambar 1.1). Narasumber kedua adalah Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Baktiono (gambar 1.2).

Gambar 1.1 Gambar 1.2

Walikota Lhokseumawe Ketua Komisi D DPRD Kota Suaidi Yahya Surabaya, Baktiono

(2)

Mata Najwa juga memutar cuplikan wawancara pilihan dengan sejumlah tokoh, yaitu Mantan Bupati Bualemo, Gorontalo, Alm. Iwan Bokings, mengenai eksperimennya mengajak para PNS ke penjara untuk mencegah korupsi. (Iwan Bokings meninggal pada 20 Oktober 2012); Bupati Kampar, Riau, Jefry Noer, mengenai usulan peraturan larangan menonton televisi dan wajib mengaji pukul 18.30 hingga 19.30 WIB pada tahun 2012;

dan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, mengenai pandangan Kemendagri terhadap keberadaan perda-perda yang kontroversial tersebut.

Pemberitaan mengenai peraturan daerah yang kontroversial bukan hal baru dalam media. Hasil penelusuran online pada tempo.co dan menemukan variasi pemberitaan pada tahun 2006, 2007, 2008 dan 2010.

(tempo.co) Gambar 1.3

Hasil penelusuran arsip online tempo.co dengan kata kunci “peraturan daerah”

(3)

Pemberitaan mengenai peraturan daerah kemudian kembali mendapat perhatian ketika pada bulan Januari 2013 Walikota Lhokseumawe mengeluarkan surat edaran yang mengatur agar warga perempuan tidak duduk mengangkang saat dibonceng sepeda motor. Melalui penelusuran arsip online, hanya program Mata Najwa, yang membahas permasalahan pro kontra perda dengan durasi sekitar 40 menit. TV One hanya memberikan porsi kecil dengan durasi sekitar satu menit untuk menginformasikan surat edaran Walikota Lhokseumawe mengenai larangan duduk mengangkang bagi kaum perempuan. Media online seperti kompas.com dan detik.com pun hanya memberikan perhatian kepada pro kontra perda secara tunggal. Di MetroTV sendiri, misalnya dalam headline news juga hanya memberikan paket sekitar satu menit mengenai perda. Hanya Mata Najwa yang memberikan perhatian khusus pada topik ini melalui wrap (istilah MetroTV untuk paket berisi sejumlah berita berbeda dengan topik yang sama) sejumlah aturan daerah yang mengundang pro dan kontra. Program talk show dalam stasiun TV berita lain, seperti Apa Kabar Indonesia Malam di TV One bahkan tidak mengangkat fenomena perda. Perhatian Mata Najwa ini mengindikasikan ada wacana yang ingin dibangun melalui pemberitaan mengenai Balada Perda ini.

Menurut Wijaya (S.F, personal communication, April 10, 2013), tim riset Mata Najwa, topik “Balada Perda” merupakan topik current affair yang disajikan untuk memberikan informasi yang lebih mendalam bagi pemirsa, karena dari riset yang dilakukan tim Mata Najwa, media online maupun televisi lainnya hanya memberikan informasi 5W+1H yang tidak mendalam.

Melalui grafis opening bumper, Mata Najwa mengklaim diri sebagai talk show dengan sifat kritis, tajam, fokus, dan investigatif.

(4)

Gambar 1.4

Grafis opening bumper Mata Najwa

Mata Najwa merupakan program talk show, yaitu program yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas suatu topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara (Morissan, 2008, p. 212). Talk show televisi diatur dengan seperangkat aturan atau panduan yang membuatnya berbeda dari bentuk-bentuk acara televisi lainnya – seperti soap opera, berita atau permainan – dan juga membedakannya dari percakapan biasa (Timberg, 2006, p.102).

Program talk show televisi menjadi menarik karena program talk show fokus pada debat publik yang pantas mendapat perhatian dan menjadi bagian penting dalam tataran televisi populer (Tolson, 2008, p.3). Tolson melanjutkan bahwa pentingnya program talk show terutama karena talk show berkisar pada “performa berbicara”, yaitu popularitas talk show terletak pada kepuasan melihat dan mendengar orang-orang berbicara dengan cara-cara tertentu. Selain itu, program talk show selalu didesain sedemikian rupa untuk menjangkau khalayak tertentu yang menjadi sasaran mereka (Tolson, 2008, p.28).

Sejalan dengan itu, Wijaya (S.F. Wijaya, personal communication, April 10, 2013) mengungkapkan sejak selesai riset, Mata Najwa memang memiliki agenda sendiri untuk membentuk opini khalayak. Agenda tersebut yang menentukan desain edisi Balada Perda.

Melihat latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melihat wacana yang dibangun dalam program Mata Najwa edisi Balada Perda di Metro TV. Pengertian wacana memiliki tiga hal yang sentral yaitu teks, konteks dan wacana (Eriyanto, 2012, p.9). Studi wacana di sini memasukkan

(5)

penelitian ini, wacana dalam Mata Najwa “Balada Perda” harus dilihat dengan konteks, seperti situasi politik khususnya dinamika penyelenggaraan otonomi daerah.

Di bawah payung paradigma kritis, terdapat beberapa model analisis yaitu model Roger Fowler dkk., model Theo van Leeuwen, model Sara Mill, model Teun A. van Dijk, dan model Norman Fairclough. Peneliti akan menggunakan model van Dijk, yang dikenal dengan sebutan model kognisi sosial, dengan beberapa alasan. Pertama, model van Dijk dikembangkan dari penelitian terhadap wacana dalam pemberitaan media. Kedua, model ini memperhatikan struktur meso, yaitu analisis terhadap kognisi individu/kelompok yang memproduksi teks (Eriyanto, 2012, p.345). Hal ini sesuai dengan penelitian ini bahwa wacana yang dicari adalah wacana yang dibangun dalam program televisi, bukan dalam karya linguistik atau penggunaan bahasa biasa. Selain itu, penelitian ini perlu melihat bagaimana struktur kognisi/mental tim pembuat program karena merekalah yang membangun wacana dalam program Mata Najwa “Balada Perda”.

Beberapa penelitian tentang wacana yang dibangun media telah dilakukan sebelumnya. Di antaranya “Orientalist Discourse in Media Texts”

oleh Necla Mora pada tahun 2009, “A Media Discourse Analysis of Racism in South African School” oleh Corene de Wet pada tahun 2001, dan “Wacana dalam Pemberitaan Mengenai RUU Keamanan Nasional di Harian Kompas”

oleh Virginia Listyani pada tahun 2012. Ketiga penelitian tersebut dilakukan pada pemberitaan media cetak. Penelitian-penelitian tersebut menggunakan metode analisis wacana kritis Theo van Leuween serta Terre Blache dan Durrheim.

Berbeda dengan ketiga penelitian di atas, penelitian ini melihat wacana yang dibangun dalam media televisi, khususnya dalam program talk show. Penelitian terhadap wacana dalam program talk show sebelumnya telah ada yaitu “Critical Discourse Analysis of Political TV Talks Shows of Pakistani Media” oleh Hafiz Ahmad Bilal pada tahun 2012. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis model van Dijk namun tidak melakukan dimensi analisis kognisi sosial. Dalam penelitian mengenai wacana yang

(6)

dibangun dalam program Mata Najwa “Balada Perda” ini peneliti akan menggunakan ketiga dimensi analisis van Dijk yaitu struktur teks, kognisi sosial, dan analisis sosial.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana wacana yang dibangun dalam program Mata Najwa ‘Balada Perda’ di Metro TV?”

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana wacana yang dibangun dalam program Mata Najwa “Balada Perda” di Metro TV.

1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Akademis

Penelitian ini akan memperkaya studi mengenai wacana kritis dalam talk show politik di televisi, terutama dengan menggunakan metode Critical Discourse Analysis. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian teks media khususnya program televisi talk show.

1.4.2. Manfaat Praktis

Bagi media, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagaimana menampilkan wacana melalui talk show televisi. Khalayak pun dapat menjadi lebih kritis dalam mengkonsumsi teks media dan sadar bahwa teks media dapat mengandung wacana tertentu.

1.5. Batasan Penelitian

Batasan penelitian ini adalah:

a. Subjek penelitian ini adalah Program Mata Najwa edisi Balada Perda tanggal 16 Januari 2013, yang terdiri dari surat Edaran Walikota Lhokseumawe mengenai larangan duduk mengangkang bagi perempuan, raperda komisi D DPRD kota Surabaya mengenai pengaturan nama bayi

(7)

dengan ciri khas kedaerahan, inisiatif Bupati Boalemo untuk mengajak para pejabat mengunjungi penjara dan menginap di rumah warga miskin, dan aturan Bupati Kampar mengenai wajib mengaji dan mematikan televisi. Sedangkan objek penelitian ini adalah wacana dalam pemberitaan Mata Najwa Balada Perda..

b. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis, model Teun A. van Dijk yang disebut model kognisi sosial.

1.6.Sistematika Penulisan BAB 1: PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah yang mendasari pelaksanaan penelitian ini, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi teori-teori pendukung yang relevan dengan penelitian ini, nisbah antar konsep serta kerangka berpikir yang memandu penelitian.

BAB 3: METODE PENELITIAN

Bab ini mengungkapkan definisi konseptual, jenis penelitian, metode penelitian, subjek dan objek penelitian, unit analisis, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan triangulasi penelitian.

BAB 4: ANALISIS DATA

Bab ini memaparkan gambaran umum subjek penelitian, temuan data, analisis dan interpretasi data.

BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab terakhir dalam penelitian ini berisi kesimpulan hasil penelitian, keterbatasan penelitian dan saran yang diberikan untuk perkembangan akademis dan praktis.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah Presiden Hosni Mubarak jatuh, militer Mesir menghadapi tantangan serius bagaimana mereka menstranformasikan diri menjadi organisasi militer yang profesional dan

Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Lampung melaksanakan system Pelaksanaan Pelayanan Publik kepada masyarakat terkait informasi Pelaksanaan Kegiatan di Satuan

Keamanan pada kamar tidur Keamanan sirkulasi kamar tidur tidak terpenuhi dikarenakan satu kamar di isi dengan 4 orang dengan tempat tidur tingkat dengan ukuran 1x2 meter dan

RSUD.Prof.Dr.Aloei Saboe kota Gorontalo Pencegahan flebitis dapat dilakukan dengan cara bagaimana perawat bisa memilih ukuran yang tepat untuk vena pasien, letak

Daerah Tingkat II Kota Pematang Siantar merupakan salah satu daerah dari Wilayah Republik Indonesia yang banyak menyimpan berbagai peristiwa sejarah.. Pembentukan Pematang

Meningkatnya konsentrasi ambien menyebabkan meningkatnya dampak pencemaran pada kesehatan manusia dan nilai ekonomi dari gangguan kesehatan tersebut (Gambar 4 dan Gambar 5).. Gambar

Aspek-aspek yang diamati terhadap aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung meliputi: (1) membuka pembelajaran, (2) menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang akan

Dengan adanya program pemerintah dalam memusatkan para pengrajin yang ada di Medan di harapkan bangunan yang akan didirikan ini dapat dengan mudah berintegrasi dengan