34
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Gambaran Umum English First
`EF English First merupakan Penyedia Pelatihan Bahasa Inggris terbesar di indonesia dan di dunia, yang berada di bawah EF Education First. EF Education First adalah perusahaan pendidikan swasta terbesar di dunia dengan lima belas anak perusahaan dan organisasi nirlaba yang seluruhnya bergerak di bidang pembelajaran bahasa, perjalanan edukasi dan program akademis bergelar. Didirikan oleh Bertil Hul pada tahun 1965, dengan visi menjembatani perbedaan bahasa, budaya dan geografi yang memisahkan kita melalui pendidikan berkualitas terbaik.
Hingga kini, EF masih terus mempertahankannya karena visi tersebut selalu sesuai dengan jamannya.
Saat ini, EF memiliki lebih dari 35.000 karyawan, guru dan sukarelawan di seluruh dunia. Dengan 450 kantor dan sekolah di lebih dari 54 negara, EF telah mengubah dunia menjadi ruang kelas global. English First Membuka sekolah pertamanya di Jakarta pada tahun 1995, kini EF English First memiliki lebih dari 60 sekolah di lebih dari 20 kota yang tersebar baik di ibukota propinsi maupun kabupaten di seluruh Indonesia.
Di bawah PT. EF English First Eduka Group English First Surabaya pertama kali masuk tahun 1996 yang pertama kali berdiri di jalan kayun no 42 surabayta hingga saat ini English First di surabaya memiliki 7 cabang center dan yaitu : Pakuwon Trade Center, Bukitmas , Kayun , Delta Plaza , Klampis, Surabaya Town Square dan Jemursari, dengan total siswa mencapai hampir 5000 siswa di Surabaya .
35 3.1.1 Produk
1. EF Small Stars untuk Anak (4-6 tahun)
Program EF Small Stars yang inovatif dirancang khusus untuk anak-anak usia 4-6 tahun yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kognitif.
2. EF High Flyers untuk Anak (7-9 tahun)
EF High Flyers adalah kursus bahasa Inggris terbaru EF yang dirancang khusus untuk anak-anak 7-9 tahun. , anak-anak di didik dalam lingkungan berbahasa Inggris yang nyaman di mana mereka dapat membangun dasar berbahasa Inggris yang kuat.
3. EF Trailblazers untuk Remaja (10 -13 tahun)
Kursus EF Trailblazers 10 – 13 tahun, pembelajaran dengan sistem Common European Framework (CEF), yaitu kerangka belajar yang sesuai dengan standar di Eropa.
4. EF Frontrunner (14 tahun ke atas)
EF Frontrunner adalah kursus bahasa Inggris baru inovatif untuk remaja usia 14 tahun ke atas , yang dikembangkan secara khusus untuk melengkapi kehidupan remaja yang penuh kesibukan, dan membantu mereka mencapai tujuan belajar.di sekolah, atau pun untuk belajar ke luar negeri.
5. PROFESSIONAL ENGLISH
EF akan meningkatkan ketrampilan berbahasa inggris di dunia bisnis melalui materi Bahasa Inggris untuk Business Writing, Presentation, Leaderships &
Management, Negotiation, Social skill serta melatih Anda menghadapi tes internasional TOEFL & TOEIC. Sebagai siswa Pro English, Anda juga akan memiliki akses ke Spesific Industry English yang memungkinkan Anda
36
mempelajari bahasa Inggris yang spesifik seperti Finance English, Automotive English, English for Research, English for Medical dll .
6. PELATIHAN BAHASA INGGRIS UNTUK PERUSAHAAN
EF English First menyediakan program bahasa Inggris untuk grup perusahaan.
Materi pengajaran kursus bahasa Inggris untuk bisnis ini antara lain meliputi keterampilan meeting, presentasi, bernegosiasi dan berbicara lewat telepon.
3.1.2 Struktur Organisasi
Gambar 3.1 Struktur Organisasi English First Surabaya
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kausal menggunakan metode kuantitatif dengan metode survey kuesioner , dimana penelitian ini digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan sebab dan akibat antara market orientation , customer experience , perceived quality, brand reputation , dan customer loyalty
Menurut Sugiyono (2011) “desain kausal adalah penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan sebab-akibat antara variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi).”Penelitian jenis ini, yaitu kausal dimaksudkan untuk menjelaskan suatu generalisasi sampel
Direktur Utama
Area Manajer
Center Manajer
Course Consultant
Finance Manajer
Marketing Manager
HRD / GA Manajer
Direktur Pendidikan
Teacher Native Teacher
IT
Staff IT
Desain
Staff Desain Wakil
Direktur
37
terhadap populasinya dan menjelaskan hubungan atau pengaruh antara satu variabelnya dengan yang lain, yang diukur menggunakan statistik inferensial (Bungin, 2009).
Menurut Malhotra, (2004). menggunakan metode kuantitatif dengan metode survey kuesioner terstruktur yang diberikan kepada sampel dari sebuah populasi dan didesain untuk memperoleh informasi yang spesifik dari responden
3.3 Gambaran Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2011), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang memiliki karakteristik tertentu yang kemudian ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Sejalan dengan pengertian sebelumnya, populasi diartikan sebagai kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, obyek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajari atau menjadi obyek penelitian Kuncoro, (2003).
Populasi dari penelitian ini adalah pelanggan yang pernah menggunakan produk dan jasa yang diberikan oleh English First sejak tahun 2006
3.3.2 Sampel
Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability sampling , dan jenis yang digunakan adalah purposive sampling .
Sampel adalah sebagian dari populasi yang ditetapkan peneliti Sugiyono, (2007). Ditambahkan oleh Malhotra (2012) bahwa sampel adalah kelompok dari unsur-unsur populasi yang dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian. Dalam melakukan survei tidak perlu untuk meneliti semua individu dalam populasi karena akan banyak biaya dan waktu. Namun, syarat utama sampel yang baik yaitu apabila sampel yang diambil mewakili ciri dan karakteristik populasi (representatif) dengan bias yang terlalu kecil Sugiyono, (2011).
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non probability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
38
menjadi sampel Sugiyono, (2011). Teknik ini untuk mempermudah pengambilan sampel yang memiliki jumlah populasi tidak terdata.
Jenis non probability sampling yang digunakan adalah purposive sampling di mana peneliti melakukan penilaian untuk memilih anggota populasi yang dinilai paling tepat sesuai dengan kriteria tertentu Simamora, (2004). Jadi pengambilan elemen-elemen yang dimasukkan dalam sampel dilakukan dengan sengaja, ditambahkan pula sampel harus representatif atau mewakili populasi.
Pelanggan yang menjadi sampel sebagai responden dalam penelitian ini adalah pelanggan yang pernah menggunakan produk dan jasa dari English First setidaknya satu kali. Selain itu, jangka waktu penggunaan produk dan jasa dari English First setidaknya dalam 1 tahun terakhir pada saat pengisian kuesioner.
Penentuan ukuran sampel adalah menentukan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sedemikian rupa sehingga dapat mewakili populasinya.
Dalam menentukan jumlah minimum sampel, penulis menggunakan rumusan Slovin, yaitu:
𝑛 = (𝑍𝛼2)2𝑝 (1 − 𝑝) 𝑒2
𝑛 =(1,96)2 0,5(1 − 0,5) 0,102
𝑛 = 96,04 → dibulatkan menjadi 100 Dimana :
n = Jumlah sampel
𝑍𝛼2 = Angka yang menunjukkan suatu penyimpangan nilai variabel dari Mean dihitung dalam satuan deviasi standar tertentu (1,96) p = Probabilitas (0,5)
e = Taraf kesalahan, disarankan 10%
Jumlah sampel yang digunakan adalah 96,04 responden. Untuk memudahkan perhitungan maka jumlah responden dibulatkan menjadi 100. Oleh karena itu, kuesioner akan disebarkan kepada 100 responden ( Umar ,2004)
39 3.4 Jenis dan Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber data, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya Sugiyono, (2007). Dalam penelitian ini data primer berupa hasil jawaban responden atas kuesioner yang diajukan. Data primer ini selanjutnya akan diajukan sebagai data input untuk penelitian hipotesis.
yaitu berupa angket atau kuesioner yang disebarkan kepada para konsumen English First
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh penulis Sugiyono, (2007). Data sekunder diperoleh secara tidak langsung atau melalui pihak lain, atau laporan historis yang telah disusun dalam arsip yang dipublikasikan atau tidak. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa studi kepustakaan, jurnal, skripsi, literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan, dan informasi dokumentasi lain yang dapat diambil melalui sistem On-line (Internet) atau majalah-majalah perekonomian
3.5 Metode dan Prosedur Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah metode atau cara yang digunakan dalam mengumpulkan sumber data. Beberapa metode diantaranya adalah:
3.5.1 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan sebagai daftar penelitian dalam pembuatan analisis teori.
Studi pustaka perlu dilakukan dengan pertimbangan bahwa studi pustaka dapat menjadi jembatan antara teori yang telah ada sebelumnya dengan temuan yang ada di lapangan, sehingga akan membantu penulis mendalami obyek yang akan diteliti.
Penulis melakukan studi kepustakaan tersebut dengan mencari informasi dari text book, jurnalartikel dan tulisan ilmiah dari berbagai media internet.
40 3.5.2 Studi Lapangan
Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan secara langsung kepada obyek yang bersangkutan. Adapun pengumpulan data di lapangan dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada konsumen dari English First untuk keperluan menganalisis secara kuantitatif. Menurut Malhotra (2012) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan tertulis ataupun lisan kepada reponden untuk dijawabnya.
Format kuesioner dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian (A) bersifat umum dan berkaitan dengan data pribadi responden, sedangkan bagian (B) merupakan pernyataan-pernyataan mengenai komponen dari faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian yang diukur dengan menggunakan skala likert. Skala linkert digunakan untuk menghindari kesulitan responden dalam menjawab kuesioner dan agar nantinya reponden memilih dengan lebih teliti. Likert menggunakan pilihan Setuju atau Tidak Setuju atas suatu pernyataan. Cara pengisian kuesioner adalah responden diminta untuk memberi pendapat tentang serangkaian pernyataan yang berkaitan dengan obyek yang sedang diteliti dalam bentuk nilai sebagai berikut :
1 2 3 4 5
Keterangan :
1 : Sangat tidak setuju 2 : Tidak setuju 3 : Netral 4 : Setuju
5 : Sangat setuju
3.6 Klasifikasi Variabel
penelitian ini mengambil beberapa variable untuk diteliti dan ditarik kesimpulannya.
41 a. Variabel Independent / Eksogen
Disebut juga variabel bebas yang merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab atau timbulnya variabel dependen (terikat)/
endogen,
b. Variabel Perantara
adalah variabel yang menghubungkan variabel bebas terhadap variabel terikat tanpa memperkuat atau memperlemah hubungan antar variabel bebas degan variabel terikat
c. Variabel Intervening
Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen dengan menjadi hubungan yang tidak langsung dan dapat diamati dan diukur
d. Variabel Dependent / Endogen
Disebut juga variabel terikat yang merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas .
3.7 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 variabel, yaitu:
1. Variabel eksogen / independen, yaitu a. Market Orientation (x1)
Market Orientation didefinisikan sebagai upaya penciptaan superior value kepada pelanggan dan superior performance bagi perusahaan , untuk menjamin keberlangsungan usaha . berikut dimensi – dimensi yang dapat mengkur market orientation :
1. Customer Orientation
Orientasi konsumen adalah upaya perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan , sehingga menghasilkan kepuasan bagi pelanggan
42
X.1.1 : English First mampu memenuhi kebutuhan belajar bahasa inggris anda X.1.2 : Pelayanan English First sesuai dengan harapan konsumen
X.1.3 : Hasil belajar di English First sesuai dengan harapan anda
2. Competitor Orientation
Orientasi pesaing adalah kemampuan perusahaan untuk mengetahui dan memahami keunggulan bersaing perusahaan di bandingkan dengan pesaing X.1.4 : Metode pembelajaran English First lebih baik di bandingkan dengan
pesaingnya
X.1.5 : Service English First lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya X.1.6 : Inovasi English First lebih cepat dan lebih maju dibandingkan dengan
pesaingnya
3. Coordinate interfungtional
Koordinasi interfungsional adalah upaya perusahaan dalam mengirimkan Superior Performance, dimana adanya pelayanan yang baik secara menyeluruh X.1.7 : Pelayanan Course Consultant English First terkoordinasi baik
X.1.8 : Pelayanan Course Consultant English First Cepat
X.1.9 : Pelayanan Course Consultant English First terhubung antar bagian
2. Variabel Perantara a. Perceived Quality ( y1)
Perceived Quality adalah besarnya penilaian konsumen terhadap kualitas produk yang diberikan oleh perusahaan , hal ini di pengaruhi oleh besarnya manfaat yang di dapat di bandingkan dengan beasarnya biaya yang di keluarkan oleh konsumen , berikan adalah dimensi- dimensi yang mampu mengukur kualitas sebuah produk jasa
1. Performance (Unjuk Kerja):
Berhubungan dengan pelayanan dan jasa yang diberikan perusahaan kepada pelanggan
Y.1.1 : Materi Pendidikan di English First bertaraf Internasional
Y.1.2 : Metode Pembelajaran English first sesuai dengan metode Internasional
43
Y.1.3 : Cara pengajaran English First berstandart Internasional
2. Durability (Ketahanan):
Berhubungan dengan jangka waktu atau masa guna barang atau jasa yang digunakan dalam satu periode tertentu
Y.1.4 : Lama waktu belajar 6 bulan di English First sesuai memenuhi kebutuhan saya
Y.1.5 : Lama waktu belajar 90 menit mengajar di kelas tepat Y.1.6 : Lama frekuensi waktu pengajaran 1 minggu 2 kali tepat .
3. Serviceability (Kemampuan layanan):
Kemudahan mendapatkan pelayanan dan Informasi yang di butuhkan oleh pelanggan
Y.1.7 : Pelayanan Informasi bagi konsumen English First baik Y.1.8 : Pelayanan keluhan pelanggan English First baik
Y.1.9 : Course Consultant Memberikan pelayanan dengan ramah
4. Aesthetics (Keindahan):
Menyangkut dengan keindahan atau penampilan dan penyajian pelayanan atau jasa .
Y.1.10 : Penampilan Course Consultant menarik Y.1.11: Penampilan Guru English First menarik Y.1.12 : Desain buku pelajaran menarik
5. Perceived Quality (Kualitas yang dirasakan):
Kualitas yang diterima oleh pelanggan sehingga tertanam pada benak konsumen dengan baik
Y.1.13 : Biaya pendidikan di English First sesuai dengan kualitasnya Y.1.14 : Hasil belajar di English First sesuai dengan harapan saya Y.1.15 : Pelayanan English First Menunjukkan kualitas yang baik 6. Conformance (Kesesuaian):
44
Kesesuaian kinerja dan mutu produk dengan janji yang diberikan oleh perusahaan kepada konsumen .
Y.1.16: English First adalah lembaga pendidikan Internasional
Y.1.17 : Materi pembelajaran English First sesuai dengan Internasional Y.1.18 : Jumlah maksimal murid dalam kelas maksimal 15 orang
7. Reliability (Kehandalan):
kemungkinan produk atau jasa mampu memenuhi kebutuhan atau keinginan pelanggan sehingga mampu memenuhi cita – cita pelanggan
Y.1.19 : Belajar di English First membuat saya mampu mencapai nilai tinggi dalam TOEFL / IELTS
Y.1.20 : Belajar di English First membantu saya belajar di sekolah
Y.1.21 : Ilmu yang saya dapat di English First masih dapat saya gunakan 10 tahun lagi
8. Features (fitur):
Nilai tambah atau innovasi baru yang ditambahkan pada fitur dasar. Sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan pelanggan
Y.1.22 : I-lab membantu saya belajar lebih baik Y.1.23 : I-lab membantu saya belajar di rumah
Y.1.24 : I-lab memberikan saya tambahan materi yang saya butuhkan
b. Customer Experience (y2)
Customer Experience adalah pengalaman yang tercipta dari adanya pengalaman membeli atau mengkonsumsi produk dan jasa . yang mampu dirasakan baik secara afeksi maupun kognisi dari konsumen , berikaut beberapa dimensi yang mampu mengukur Customer Experience :
45
1. Sense, adalah dimensi yang berkaitan dengan panca indra, seperti pengalaman melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa dan bau.
a. Differentiator
Y.2.1 : Desain ruang kelas English First menarik perhatian Y.2.2 : Desain Eksterior English First berbeda dengan yang lain b. Motivator
Y.2.3 : Suasana di dalam ruang kelas nyaman untuk belajar Y.2.4 : Guru EF mendorong saya untuk belajar bahasa inggris c. Add Value
Y.2.5 : Sistem pembelajaran dilakukan oleh guru native sangat menarik Y.2.6: Penggunaan media komputer dalam pembelajaran menarik
2. Feel, pengaruh merek kepada konsumen, baik pengalaman yang berhubungan dengan suasana hati maupun pengalaman yang berhubungan dengan emosi a. Moods
Y.2.7 : Kegiatan belajar mengajar menyenangkan bagi saya Y.2.8 : Kegiatan Life –club menyenangkan
b. Emotion
Y.2.9 : Suasana pembelajaran yang kondusif membuat hati saya senang Y.2.10 : Saya senang belajar dengan guru English First
3. Think, mendorong pelanggan agar tertarik dan berpikir secara kreatif, baik pengalaman dalam bentuk inspirasi, teknologi maupun kejutan, sehingga konsumen melakukan evaluasi kembali
Y.2.11 : Pembelajaran di English First membuat saya suka akan bahasa Inggris
Y.2.12 : Belajar di English First membuat saya bercita – cita ke luar negeri Y.2.13 : Saya merasa bahasa inggris bermanfaat lebih bagi saya
4. Act, pola perilaku dan gaya hidup dalam jangka panjang, berdasarkan pengalaman yang terjadi dari interaksi
Y.2.14 : Di English First saya menjadi bisa berbicara dengan bahasa inggris
46
Y.2.15 : Di English First saya terbiasa berbicara dengan bahasa inggris Y.2.16 : Belajar di English first saya berani berbicara dengan Native
Speaker
5. Relate. pengalaman melalui hubungan dengan orang lain, kelompok lain, maupun hubungan dengan kelompok sosial
Y.2.17 : Sertifikat English First berguna untuk kuliah saya nanti Y.2.18 : Sertifikat English First berguna untuk saya kerja nanti
Y.2.19 : Hasil tes TOEFL English First berguna untuk saya sekolah ke luar negeri
3. Variabel Interventing a. Brand Reputation ( y3 )
Reputasi merek adalah pandangan konsumen terhadap nama baik atau padangan masyarakat akan kulitas yang diberikan oleh produk tersebut, hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan yang tinggi dari masyarakat pada umumnya , berikut adalah dimensi –dimensi yang mampu mengukur reputasi sebuah merek
1. Brand Benefit Apakah merek benar-benar berbeda, penting dan bernilai di mata konsumen.
Y.3.1 : English First berstandar internasional
Y.3.2 : Sertifikat English First bermanfaat bagi saya saat melamar kerja Y.3.3 : Harga yang saya bayarakan sesuai dengan manfaat English First
2. Emotional Brand Apakah merek memiliki komitmen untuk menyediakan manfaat emosional tertentu bagi konsumen.
Y.3.4 : Belajar di English First membuat saya bangga
Y.3.5 : Saya percaya bahwa English First memiliki kualitas yang baik Y.3.6 : English First mampu memenuhi kebutuhan saya
3. Brand Promise Apakah merek secara konsisten memenuhi janji dan menyampaikan komitmennya kepada konsumen.
47
Y.3.7 : Belajar di English First mampu meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya
Y.3.8 : Belajar di English First membuat saya mendapat nilai tes TOEFL/IELTS yang saya inginkan
Y.3.9 : Melalui English First saya bisa untuk sekolah ke luar negeri
4. Variabel endogen / dependen, yaitu:
a. Customer loyalty (z1)
Customer loyalty adalah komitmen yang mendalam dari konsumen untuk memiliki hubungan jangka panjang dengan merek atau perusahaan. Customer loyalty dapat diukur dalam indikator sebagai berikut.
Z1.1 Saya akan mengatakan kalau English First itu terbaik
Z1.2 Saya akan merekomendasikan English First kepada teman, rekan, atau kerabat saya
Z1.3 Saya akan kembali ke English First bila saya memerlukan pendidikan bahasa inggris
3.8 Teknik Analisa Data 3.8.1 Path Analysis
Peneliti menggunakan analisis PLS-SEM karena kondisi yang ditemui didalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bentuk penelitian ini merupakan analisa pengaruh
b. PLS-SEM dapat menganalisa model pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan, dimana biasanya pendekatan berbasis regresi generasi pertama memiliki batas penggunaan analisa pengaruh hanya satu lapis saja (Gefen, Straub, &
Boudreau, 2000). Dengan keuntungan ini, peneliti dapat mencari pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel independen dengan variabel dependen, seperti pada model pengaruh antara experience quality terhadap perceived value, brand image, dan customer loyalty.
c. Jumlah sampel kecil
48
d. Teori yang digunakan hanya sedikit dan lebih spesifik
e. Diasumsikan tidak adanya error atau missing value pada data f. Tidak adanya masalah multicollinearity pada data yang digunakan.
Adapun struktur penyusunan penggunaan PLS-SEM yang diterapkan didalam tahap-tahapnya adalah:
a. Dilakukan tahap evaluasi reliability yang terbagi menjadi dua tahap, yaitu evaluasi indicator reliability, dan evaluasi internal consistency reliability. Evaluasi reliability ini dilakukan untuk melihat apakah data yang digunakan didalam penelitian ini konsisten atau tidak, karena hal ini dapat berpengaruh besar terhadap output data yang akan diuji selanjutnya.
b. Kemudian dilakukan evaluasi validitas data dengan menggunakan convergent validity dan discriminant validity, dimana evaluasi ini bertujuan untuk melihat apakah variabel yang digunakan didalam penelitian ini akurat dalam melakukan pengolahan data.
c. Dilakukan uji path coefficient dan coefficient of determination.
d. Digunakan metode bootstrapping untuk mencari nilai t-statistics yang penggunaannya adalah untuk pengujian hipotesis.
3.8.2 Indicator Reliability dan Internal Consistency Reliability
Untuk mengukur seberapa reliable indikator yang digunakan, maka digunakan pengukuran indicator reliability dan internal consistency reliability dari pengukuran dengan indikator refleksif. Nilai indicator reliablity didapatkan dari pangkat dua angka outer loading yang merupakan suatu korelasi antara item score/component score dengan construct score yang dihitung dengan analisa partial least square regression. Suatu indikator dikatakan reliable jika indicator reliability tersebut setidaknya memiliki nilai lebih dari 0.70 (Hulland, 1999).
Kemudian, dilakukan pengukuran nilai internal consistency reliability dengan melihat angka dari composite reliability sebagai pengganti skala pengukuran cronbach alpha yang dahulunya marak digunakan untuk penelitian
49
ilmu sosial. Nilai composite reliability harus diatas 0,70 agar suatu latent variable dapat dikatakan reliable
3.8.3 Convergent Validity dan Discriminant Validity ( F )
Untuk mengukur validitas suatu latent variable, maka dilakukan dua uji validitas yang disebut convergent validity dan discriminant validity. Convergent validity dilihat berdasarkan nilai average variance extracted (AVE) yang didapat melalui partial least square regression. Nilai AVE harus lebih besar dari 0.50 agar dapat dikatakan valid Ghozali (2010,).Adapun rumus dasar dari AVE adalah sebagai berikut:
∑i2var F AVE =
∑i2 var F + ∑Qii
i2, F, dan Qii, adalah factor loading, factor variance, dan unique/error variance. Apabila F di set 1, maka Qii adalah 1- akar dari i.
Discriminant validity diukur dengan membandingkan angka dari akar pangkat dua nilai AVE dengan korelasi antar latent variable. Untuk melakukan hal ini secara terstruktur, maka dibuatlah tabel yang memuat korelasi antar latent variable dan juga dituliskan nilai akar pangkat dua dari AVE yang bercetak tebal untuk memudahkan pemeriksaan.
3.8.4 Path Coefficient dan Coefficient of Determination ( R2)
Model structural atau inner model dievaluasi untuk melihat adanya seberapa kuat pengaruh variabel independen pada variabel dependen dengan melihat nilai path coefficient antara angka 0 sampai 1. Semakin kuat angka path coefficient mendekati angka 1, artinya pengaruh variabel independen tersebut semakin kuat mempengaruhi variabel dependen. Sedangkan apabila nilai path coefficient itu mendekati angka -1, maka artinya variabel independen itu semakin kuat pengaruhnya dalam memperlemah variabel dependennya.
50
Setelah itu coefficient of determination (R2) yang ada pada setiap variabel dependen dievaluasi dengan melihat presentase varian yang dijelaskan, yaitu dengan melihat R2 pada konstruk variabel dependen dengan menggunakan pengukuran R-square. Pada marketing research, nilai R2 antara 0,25 – 0,50 artinya lemah, 0,50 – 0,75 artinya sedang, dan 0,75 keatas artinya substansial.
3.8.5 T-test
T-test digunakan untuk mendapatkan nilai t-statistics yang diperlukan apabila peneliti ingin melakukan uji hipotesis, sehingga peneliti dapat mengatakan pengaruh sebuah variabel dapat dikatakan memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak. Sementara itu, untuk melihat apakah pengaruh tersebut positif dan negatif, peneliti dapat melihat nilai original sample yang juga merupakan nilai path coefficient. Prosedur t-test yang digunakan didalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode bootstrapping. Bootstrapping merupakan suatu proses pengujian re-sampling yang dilakukan oleh sistem komputer untuk mengukur akurasi pada sample estimate.
Dengan kata sederhananya, proses bootstrapping digunakan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diamati. Nilai bootstrap >= 1,96 menunjukkan bahwa pengaruh variabel tersebuat signifikan, sedangkan apabila nilainya dibawah 1,96, maka pengaruhnya lemah.
3.8.6 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan data secara deskriptif yang memuat tentang jawaban-jawaban responden. Statistik deskriptif digunakan untuk secara singkat menyimpulkan hasil dari survey yang telah didapat selama penelitian.