• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena belajar merupakan proses alamiah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena belajar merupakan proses alamiah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses pendidikan yang terjadi di sekolah tidak terlepas dari proses pembelajaran, yang dapat dikatakan sebagai hasil dari memori, kognisi dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang (Huda, 2013: 2). Pembelajaran pada hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan peserta didiknya dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah yang berada dibarisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Oleh karena itu, sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sebagai peserta didik, anak didik merupakan subjek sentral dalam dunia pendidikan yang memiliki potensi dan selalu mengalami perkembangan dan perubahan secara bertahap dan wajar. Para guru, perlu menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa sehingga potensi-potensi yang dimiliki anak didik dapat berkembang seoptimal mungkin dan menjadi nyata sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sering dikatakan sangat terbelakang, yang dibuktikan dengan hasil kelulusan peserta didik yang presentasinya rendah dan tingkat pengangguran intelektual yang tinggi. Lalu kita bertanya siapakah yang salah? Di lain pihak, ada banyak anak NTT yang bisa mengharumkan nama NTT ketika

(2)

mereka berada di luar daerah. Lalu kita bertanya lagi, mengapa demikian? Ada apa dengan pendidikan di NTT? Apakah masalahnya terletak pada peserta didik, kurikulum ataukah guru? Menurut Beatrix Igo, Laboran SMPS Seminari Santo Yohanes Berkhmans Mataloko mengatakan bahwa untuk membangun fondasi yang cukup kuat dalam bidang ilmu pengetahuan terutama pendidikan, kegiatan membaca, melakukan penelitian dan menulis adalah hal yang tidak bisa ditawar. Sedangkan menurut Rachman Firdaus, guru SMPN 1 Nagawutung-Lembata mengatakan bahwa ada empat hal yang menjadi kekeliruan guru dalam proses pembelajaran. Kekeliruan tersebut adalah pertama guru tidak berusaha mengetahui kemampuan awal peserta didik, kedua guru tidak pernah mengajak peserta didik berpikir, ketiga guru tidak berusaha memperoleh umpan balik dan yang keempat guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran. Dengan demikian, dalam era infromasi sekarang ini seharusnya telah terjadi perubahan peranan guru. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar (learning resources), akan tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran (manager of instruction). Sehingga, dalam posisi ini bisa terjadi guru dan peserta didik saling belajar (Cakrawala NTT, 2015: 35-40).

Berdasarkan hasil observasi dilapangan seperti pada SMPN 1 Kupang, bahwa tujuan pembelajaran belum bisa tercapai seoptimal mungkin karena terdapat berbagai kendala yang menghambat. Guru sering menggunakan metode pembelajaran yang kurang menyentuh aspek psikologi peserta didik. Selain masalah yang bersumber dari guru, masalah yang lain juga bersumber dari peserta didik, yakni hanya ada beberapa peserta didik atau orang yang sama saja yang berpartisipasi aktif dalam mengikuti pelajaran, sedangkan yang lainnya tidak

(3)

ikut berpartisipasi dan membuat keributan didalam kelas. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Kupang, diketahui bahwa :

1. Partisipasi peserta didik masih rendah, pembelajaran hanya didominasi oleh guru dan peserta didik yang dianggap mampu

2. Peralatan praktikum yang kurang memadai dan banyak yang rusak sehingga guru kesulitan dalam membimbing peserta didik melakukan eksperimen

3. Kurangnya peralatan praktikum tersebut menyebabkan peserta didik kurang memahami atau sedikit saja menguasai konsep dan penggunaan peralatan praktikum

4. Mata pelajaran fisika kurang diminati atau disukai oleh peserta didik karena dianggap sulit

5. Peserta didik acuh atau tidak mengikuti perintah guru untuk meminjam buku di perpustakaan sehingga menyebabkan pada saat pelajaran berlangsung ada beberapa peserta didik yang tidak memiliki buku sumber dan hanya duduk diam dan mendengar, hal ini juga akan berdampak pada

hasil belajar mereka yang harus mencapai standar KKM yang untuk setiap peserta didik adalah 76.

Masalah-masalah ini harus diatasi dan perlu diterapkan metode pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk secara bersama-sama aktif mempelajari konsep-konsep, mencari tahu dan mememecahkan berbagai fenomena alam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran. Jika peserta didik sudah menanamkan hal ini di pikirannya, tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan

(4)

tertekan dengan tugas, kemungkinan gagal, keterbatasan pilihan dan tentu saja bosan (Amri dan Ahmadi, 2010: 15).

Salah satu komponen yang mempengaruhi sistem pendidikan juga adalah kurikulum. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan secara substansial merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar disekolah (Siregar, 2015: 68). Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. SMPN 1 Kupang merupakan sebuah lembaga pendidikan formal yang sekarang ini masih menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Gerak merupakan materi pelajaran Fisika dalam pembelajaran IPA pada jenjang SMP yaitu pada kelas VII semester genap berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada materi pokok ini, peserta didik akan mempelajari konsep gerak yang dilengkapi dengan eksperimen-eksperimen yang berhubungan erat dengan pengalaman sehari-hari.

Pengajaran alternative yang sesuai pada materi tersebut adalah mencoba menerapkan model pembelajaran langsung. Model pembelajaran langsung (direct instruction) adalah suatu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah (Kardi dan Nur, 2000: 2). Model ini dilandasi oleh teori belajar perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada pengalaman termasuk pemberian umpan balik. Satu penerapan teori

(5)

perilaku dalam belajar adalah pemberian penguatan. Umpan balik kepada peserta didik dalam pembelajaran merupakan penguatan yang merupakan penerapan teori perilaku tersebut. Model pembelajaran langsung ini lebih mengutamakan pengetahuan deklaratif dan prosedural, sehingga peserta didik bisa memahami konsep materi pembelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Adapun beberapa hasil penelitian terdahulu yang mengatakan bahwa model pembelajaran langsung ini dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, yakni yang pertama oleh Sofiyah, yang menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penggunaan model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar fisika siswa SMP Islamiyah Ciputat, Tangerang Selatan. Hasil belajar yang diperoleh kelas eksperimen, yaitu kelas yang menggunakan model pembelajaran langsung mengalami peningkatan. Hal ini diperkuat dengan perolehan nilai rata-rata posttest eksperimen (63,7) > dan nilai rata-rata posttest control (44,23), dan yang kedua oleh Selestina B. Antonio yang menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran langsung adalah baik untuk materi pokok pengukuran pada peserta didik kelas VII SMPK Adisucipto Penfui Kupang.

Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Langsung Materi Pokok Gerak Pada Peserta Didik Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 1 Kupang Tahun Ajaran 2015/2016.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan umum dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah hasil penerapan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016?. Secara terperinci masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

(6)

1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016?

2. Bagaimana ketuntasan indikator hasil belajar dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016?

3. Bagaimana hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016?

4. Bagaimana respon peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan umum penelitian ini adalah “mendeskripsikan hasil penerapan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016”. Secara terperinci tujuan ingin di capai dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan kemampuan guru dalam dalam mengelolah kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016.

2. Mendeskripsikan ketuntasan indikator hasil belajar dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016.

(7)

3. Mendeskripsikan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016.

4. Mendeskripsikan respon peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran langsung materi pokok gerak pada peserta didik kelas VII semester genap SMPN 1 Kupang tahun ajaran 2015/2016.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Bagi peserta didik

a. Meningkatkan peran aktif peserta didik dalam kegiatan pembelajaran b. Meningkatkan semangat belajar peserta didik

c. Meningkatkan hasil belajar peserta didik 2. Bagi guru

a. Sebagai bahan informasi dalam memilih model atau pendekatan pembelajaran yang lebih tepat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

b. Membantu mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran khususnya mata pelajaran fisika.

3. Bagi sekolah

Memberikan masukan dan solusi bagi sekolah dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan suasana kegiatan pembelajaran yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan mutu sekolah.

(8)

a. Mendapat pengalaman dalam menerapkan model pembelajaran langsung sehingga kelak dapat diterapkan saat berada di lapangan.

b. Sebagai referensi bagi para peneliti selanjutnya. E. Batasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan penelitian ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut:

1. Penerapan adalah penggunaaan suatu model tertentu menurut aturan atau kaidah tertentu. 2. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai

pedoman dalam merencanakan pembelajaran yang sedemikian rupa sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.

3. Model pembelajaran langsung merupakan suatu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.

4. Gerak adalah perubahan posisi atau kedudukan terhadap titik acuan tertentu.

5. Peserta didik adalah seseorang yang sedang berkembang, memiliki potensi tertentu, dan dengan bantuan guru ia mengembangkan potensinya tersebut secara optimal.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena limpahan nikmat, rahmat, hidayah, serta ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul

Abstrak – Aktivitas penelusuran goa sangat di gemari oleh para penggiat alam seperti explore dan pemetaan goa serta teknik penelusuran goa vertical maupun horizontal, maka dari

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar,

Analisis pekerjaan dapat diartikan sebagai suatu aktivitas untuk mengkaji, mempelajari, mengumpulkan, mencatat, dan menganalisis ruang lingkup suatu pekerjaan secara

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa praktik pengelolaan keuangan desa yang dimulai dari prosedur perencaanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan,

Bagian pertama tentang pendekatan dalam kajian etika komunikasi yaitu pendekatan kultural guna menganalisis perilaku pelaku profesi komunikasi dan pendekatan strukrural

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Museum Adityawarman, terlihat dari pengkategorian skor dan nilai rata-rata pada statistik data hasil penelitian

Diisi dengan bidang ilmu yang ditekuni dosen yang bersangkutan pada