• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Komunikasi Interpersonal yang dilakukan Orang tua Dengan Anak Dalam Kehidupan Sehari-hari di Desa Cisaat Dukupuntang Cirebon

Komunikasi yang dilakukan orang tua dengan anak yang ada di Desa Cisaat ini menggunakan teori hubungan interpersonal dimana model komunikasi interaksional memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem, yang dimana setiap sistemnya memiliki sifat-sifat struktural, integrative dan medan untuk memahami sistem harus melihat struktur selanjutnya kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan tersebut.(Rakhmat, 2005: 124)

Banyak para orang tua atau ibu rumah tangga yang tak banyak mengetahui bahwa komunikasi dengan anak merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menjaga hubungan dengan sang anak. Komunikasi antara orang tua dan anak adalah sebuah proses pengiriman pesan yang dapat diterima sama dengan pesan yang dikirim.

Seperti saat peneliti melakukan wawancara dengan ibu Eni usia tiga puluh tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, informan baru mempunyai dua orang anak. Anak pertama berjenis kelamin laki-laki yang sekarang berusia 9 tahun yang masih duduk di kelas empat SD yang kebetulan bersekolah di lingkungan Desa Cisaat tepatnya di SDN 2 Cisaat. Saat ini anak yang keduanya berjenis kelamin perempuan usianya masih dua puluh dua bulan tepat bulan September nanti dua tahun. Saat peneliti ingin mewawancarai informan sedang duduk santai tepatnya pukul 13.00 WIB yang pada hari itu tepat pada tanggal 26 juli 2016 saat melakukan wawancara informan mengenakan pakaian sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, informan juga mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana panjang yang biasa di pakai sehari-hari. Saat sedang melakukan wawancara peneliti langsung menanyakan

(2)

bagaimana komunikasi yang di lakukan orang tua dengan anak ketika berada di rumah dan ibu Eni menjawab sebagai berikut:

“ketika saya melukan komunikasi dengan anak saya ya dengan sering berbicara langsung pada anaknya, saya sering menyuruh untuk belajar, kadang saya suruh ke warung, kadang saya juga suruh mengambilan sesuatu yang jauh dari saya tapi itu ketika di rumah saja. Tapi ya alhamdulilah walaupun anak saya di suruh kadang mau kadang engga”

Tidak hanya berdasarkan wawancara mendalam saja melainkan melalui observasi terlihat terjadi interaksi (komunikasi interpersonal) antara orang tua dan anak yaitu saat anak pertamanya yang bernama Ardis meminta uang untuk jajan, dan komunikasi yang terjadi seperti di bawah ini:

Ketika sang anak meminta uang untuk jajan pada ibunya Ardis berkata:mah menta duit yang artinya mah minta uang. Lalu ibu Eni menjawab seperti kebanyakan orang tua lainnya ia mejawab untuk apa nak? Dan sang anak menjawab dengan mudahnya untuk jajan mah. Dan tanpa berbicara ibu Eni mengeluarkan uag recehan yang ada di kantong celananya.

Begitu juga pada saat peneliti melakukan proses wawancara dengan Ardis, saat di wawancarai ardis kurang memahami maksud dari pertanyaan peneliti, dan akhirnya ibu Eni berusaha untuk menjelaskan maksud dari pertanyaan tersebut, berikut interaksi yang terjadi :

Ketika peneliti meananyakan apakah ade pernah disuruh sama ibu? Ardis pun menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu tersenyum saja, lalu seketika ibu Eni memberikan penjelasan pada peneliti bahwa Ardis anaknya aga pemalu sama pendatang baru.

Dari interaksi diatas terlihat bahwa, komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anak yaitu komunikasi hubungan interpersonal karena mereka saling memahami dan memberikan bantuan satu sama lain kalimat – kalimat yang disampaikan sekali

(3)

lagi bukan hanya menyampaikan isi tetapi juga mendefinisikan suatu hubungan interpersonal.dan dari jawaban tersebut pula mendidik dengan rasa sabar dan penuh kasih sayang pada sang anak adalah kunci utama dalam berkomunikasi dengan sang anak dengan adanya rasa sabar dan penuh cinta terhadap anak menjaikan anak terbuka dan mengungkapkan pikiran kepada orang tua, sehingga akan terjalin hubungan yang akrab dan berlangsung secara mendalam, adapun cara menumbuhkan rasa sabar dan cinta kasih sayang hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah, untuk mempertahankan supaya tidak berubah memerlukan tindakan tertentu untuk mengebalikan keseimbangan. Ada empat yamg perlu dipelihara pada keseimbagan ini, yaitu: keakraban, kontrol, respon yang tepat dan nada emosional yang tepat. (Rakmat, 2005: 129)

1. Keakraban

Keakraban merupakan salah satu pemenuhan akan kebutuhan kasih sayang.

Hubungan interpersonal antara orang tua dan anak akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan dalam menjalin komunikasi dengan lawannya seperti dari hasil pengamatan anak cenderung menjadi komunikator atau komunikan yang aktif terlihat dalam kehidupan sehari-hari meskipun memakai bahasa sunda anak bisa berkomunikasi secara interaktif.

(Rakhmat, 2005: 131)

Sama halnya ketika peneliti mewawancarai dengan ibu Rundasih umur empat puluh satu tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Kebetulan informan yang satu ini memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, yaitu hanya memiliki satu setengah kaki saja, namun informan memiliki banyak anak yaitu berjumlah empat orang anak namun anak pertama dan kedua sudah memiliki keluarga masing-masing, dan saat ini anak ketiganya sedang bekerja di salah satu tempat bangunan yang ada di cirebon. Anak yang paling kecil saat ini sedang duduk di kelas lima SD saat peneliti ingin melakukan bersekolah tidak jauh dari rumah, saat ini anak cucunya yang masih

(4)

berusia empat tahun tinggal bersama informan, orang tuanya sedang bekerja di luar kota, sehingga mengasuh dua orang anak sekaligus.

Pada saat melakukan wawancara tepatnya pulul 15:00 WIB informan sedang duduk santai di depan teras rumahnya yang kebetulan pada saat itu tetangga rumahnya juga sedang berkumpul atau duduk santai, berikut hasil wawancara dengan ibu Rundasih:

“ ketika saya melakukan komunikasi dengan anak saya ketika di rumah ya dengan berbicara langsung pada anaknya. menyuruh langsung ketika harus belajar, atau apa saja yang saya inginkan.

Alhamdulilah anak saya nurut kadang tapi kadang juga engga.”

Dari hasil pengamatan juga informan pada saat itu menyuruh juga anaknya untuk membelikan sabun ke warung dan anaknya mau membelikannya. Berikut hasil wawancara pada saat ibu Rundasih berinteraksi langsung dengan anaknya :

“nak belikan sabun buat nyuci besok,” dan anaknya hanya diam lalu mengambil uang pada saat ibu Rundasih mengelurkan uang dari kantongnya.

Peneliti banyak melihat terjadinya proses komunikasi pada orang tua di Desa Cisaat. Pola komunikasi yang terjadi antara ibu Rundasih dan ibu Eni ketika berinteraksi langsung dengan anaknya yaitu tahap dalam hubungan interpersonal yang dimana peneguhan hubungan interpersonal yang bersifat statis, tetapi selalu berubah, untuk mempertahankan supaya tidak berubah memerlukan tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangannya.

2. Kesepakatan

kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Jika dua orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan, siapakah yang harus berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, siapakah yang

(5)

dominan. Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah. (Rakhmat, 2005: 132)

Begitu juga pada saat peneliti melakukan wawancara dengan ibu Kuni usia 39 tahun, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga pendidikan terakhir hanya tamatan SD, informan memiliki tiga orang anak. Anak pertama dan kedua sudah berumah tangga namun anak keduanya walaupun sudah berumah tangga masih tinggal bersama, karena ada masalah dengan rumah tangganya, yang sudah memiliki anak yang baru berusia 4 tahun. Anak ketiga dari informan yang saat ini duduk di kelas tiga SD yang berusia 8 tahun. Saat peneliti melakukan wawancara yaitu tepat sehabis sholat isya informan sedang duduk-dukuk santai di depan teras rumahnya.

Pada saat peneliti ingin mewawancarai, peneliti dikira akan mengasih uang pada informan, namun peneliti menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan pada informan, dan informanpun mengerti maksud dan tujuan peneliti datang kerumahnya. Informan yang pada saat itu mengenakan baju sehari-harinya. Saat peneliti menanyakan langsung bagaimana komunikasi yang dilakukan dengan anaknya ketika berada di rumah, informan menjawab sebagai berikut :

“ saya kalo berkomunikasi langsung dengan anak saya ketika berada di rumah ya dengan bertanya langsung pada anaknya saya yang harus lebih aktif bertanya pada anak saya sehingga anak saya mau.

Komunikasi yang sering saya lakukan dengan anak saya ya dengan saya menyuruh untuk belajar ataupun yang lainnya ketika di rumah, ya suruh mandi suruh apa saja. Anak saya kalau di suruh ya alhamdulilah namanya juga anak-anak ya teh (sambil tersenyum) kadang mau kadang engga.”

Demikian jawaban dari ibu Kuni ketika peneliti mengajukan beberapa pertanyaan mengenai pola komunikasi yang di lakukan dengan anaknya ketika berada di rumah. Dan komuikasi yang di lakukan ibu kuni menunjukan hal yang sama

(6)

dengan ibu Rundasih sebagai informan sebelumnya. Namun orang tua juga yang lebih banyak mengontrol komunikasi dengan sang anak.

Dan pada saat peneliti ingin mewawancarai informan selanjutnya yaitu jawaban serupa pun di ungkapkan oleh ibu Neneng, berikut tanggapannya:

“ saya berbicara dengan anak saya menyuruh atau berkomunikasi dengan anak saya dan sebaginya. Dan ketika saya melakukan komunikasi dengan anak saya misal ya harus belajar, harus makan, harus mandi. Dan anak saya alhamdulilah mau di suruh kalau sama ibunya.” (wawancara pada tanggal 27 juli 2016 pukul 09.00)

Dari hasil wawancara dengan ibu Neneng informan menggunakan komunikasi yang serupa dengan informan sebelumnya yaitu menggunakan peneguhan hubungan interpersonal. Ibu Neneng yang pada saat peneliti wawancarai usai membereskan pekerjaan rumahnya sehingga peneliti merasa tenang tidak mengganggu pekerjaan rumahnya. Ibu Neneng yang berusia 40 tahun pekerjaan sebagai ibu rumah tangga suaminya yang bekerja sebagai dinas di Kecamatan Sumber Cirebon itu memilih menjadi ibu rumah tangga menggurus anak-anaknya yang masih sekolah dan anak terakhirnya yang kebetulan kembar sedang duduk di kelas 4 SD sedang bersekolah yang semuanya laki-laki.

Dari beberapa informan yang sudah peneliti wawancarai bisa di tarik kesimpulan bahwa proses komunikasi yang di lakukan orang tua dan anak yang ada di Desa Cisaat termasuk kedalam komunikasi interpersonal, yaitu peneguhan hubungan interpersonal

3. Ketepatan respon

ketepatan respon yang dimana respons A harus di ikuti respon B yang sesuai.

Misalnya dalam percakapan, pertanyaan yang harus di sambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawa, permintaan keterangan dengan jelas. Respon disini bukan

(7)

saja berkenaan dengan pesan-pesan verbal tetapi juga pesan-pesan nonverbal.

(Rakhmat, 2005 126)

Hal yang berbeda yang dirasakan oleh anak, ketika saya mewawancarai saudara Sanda informan sedang berada di rumah mengenakan baju sehari-harinya saat itu informan juga sedang menonton televise sehingga peneliti mudah saat menanyakan pertanyaan pada informan berikut hasil wawancara dengan saudari Sanda sebagai berikut:

“saya kalau berkomunikasi dengan orang tua saya ketika di rumah ya alhamdulilah saya mengerti apa yang ibu sampaikan pada saya, dan orang tua saya pun mengerti apa yang saya bicarakan atau mengerti yang saya inginkan ya seperti ketika saya di suruh untuk belajar untuk sekolah, mengaji, mandi dan lain sebaginya teh.”

Begitu juga pada saat peneliti melakukan wawancara dengan saudara Wahyu, informan sedang bermain bersama teman-temannya, usia informan yang saat ini berusia 11 tahun duduk di kelas empat SD, Wahyu ini mempunyai saudara kembar yang juga sama wajah yang hampir sama membuat keliru bagi yang baru melihatnya.

Kembaran Wahyu yang bernama Widi ini sama berjenis kelamin laki-laki namun karakter dan sifatnya berbeda, bagi peneliti sendiri tidak susah membedakan mana Wahyu dan mana Widi karena masih kebetulan masih saudara jauh juga. Ketika saya menanyakan kenapa namanya berbeda jauh walaupun kembar informan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, orang tuanya lah yang memberikan nama jika maksud dan artinya informan juga tidak tau. Namun setelah di Tanya ternyata nama belakangnya atau nama kepanjangannya yang hampir mirip. Saking penasarannya peneliti menanyakan apakah nama tersebut informan menjawab Wahyu Wibisana dan yang satunya Widi Wijaksana, terkesan namanya sepeti tokoh pewayangan, mungkin orang tuanya suka pewayangan sehingga memberikan nama anaknya seperti tadi, mengenakan baju sehari-hari dengan gambar kartun yang sedang tren saat ini, berikut wawancaranya pada hari selasa 26 juli 2016 pukul 16.00 wib:

(8)

“pada saat saya berkomunikasi dengan orang tua saya ketika di rumah ya seperti biasanya berbicara langsung ketika saya ingin melakukan sesuatu menyuruh dan sebagainya, dan saya mengerti apa yang di katakana oleh orang tua saya walaupun kadang saya tidak nurut sama orang tua (sambil tersenyum). Ya seperti saya di suruh untuk belajar, mengaji, sekolah, makan, mandi dan sebaginya. Namun ketika saya ingin bermain saya juga kadang tidak menaggapi suruhan ibu”

Dari hasil pengamatan informan saudari Sanda dan saudara Wahyu memiliki komunikasi yang sama ketika di rumah atau ketika berkomunikasi dengan orang tuanya mereka mengerti maksud yang di samapikan orang tua padanya sehingga tidak ada hambatan komunikasi dalam berinteraksi dengan orang tuanya.

4. Nada bicara yang tepat

Nada emosional yang tepat dalam komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi di sini komunikasi yang secara tatap muka atau komunikasi yang langsung anatara dua orang dan menagkap reaksi secara langsung. (Rakhmat, 2005:

124). Dan komunikasi orang tua dan anak yang ada di Desa Cisaat Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon sudah mengerti dan terjalin dengan baik walaupun kadang masih ada sedikit hambatan yang terjadi ketika berkomunikasi.

Seperti halnya ketika peneliti mewawancarai ibu Kuni, berikut hasil wawancaranya:

“ ketika saya berbicara dngan anak saya nada bicara saya harus pelan, begitupun pada saat saya menyuruh anak saya untuk melakukan sesuatu atau di suruh untuk belajar. Jika nada saya terdengar lebih kasar maka anak saya tidak akan mau atau, dan namanya juga anak- anak berbicara yang lembut dan sopan akan mempengaruhi juga terhadap perkembangan anak saya nanti.”

Dari hasil pengamatan juga bahwa komunikasi antara orang tua dan anak ketika berada di rumah bahwa setiap kita melakukan komunikasi, bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan namun juga menentukan kadar hubungan interpersonal antara orang tua dan anak, karena jika saja kadar hubungan antara anak

(9)

tidak ada komunikasi pun akan terhambat dan hubungan orang tua anakpun menjadi tidak harmonis.(Rakhmat, 2005: 121)

Nada komunikasi yang tepat juga akan mempengaruhi pola komunikasi yang terjadi dan banyak aspek yang akan terjadi pada tumbuh kembang sang anak jika nada pesan orang tua terdengar kasar atau lembut yang nanti ketika dewasa menjadikan anak berkarakter seperti orang tuanya ketika berkomunikasi dengan anak. (Lestari, 2012: 51)

Di tarik kesimpulan bahwa pola komunikasi yang di lakukan orang tua dan anak yang ada di Desa Cisaat ini dalam melakukan interaksi atau komunikasi dengan anak para orang tua mempunyai caranya masing-masing, dan setiap para orang tua memiliki karakter yang berbeda sehingga cara berinteraksi dengan anakpun berbeda pula, yang dilakukan oleh para orang tuapun sangat beragam.

Namun faktor utama yang harus dimiliki para orag tua adalah harus adanya rasa sabar orang tua dalam berkomunikasi dengan anak menggunakan komunikasi interpersonal dan peneguhan hubungan interpersonal.

4.2 Imbauan Pesan Orang tua Terhadap Anak dalam Meberikan Motivasi Belajar di Desa Cisaat Dukupuntang Cirebon

Imbauan pesan yang terjadi antara orang tua dan anak dalam memberikan motivasi belajar, imbauan pesan itu sendiri bila pesan-pesan kita yang dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain maka kita harus menyentuh motif yang menggerakan atau mendorong prilaku komunikate. Dengan perkataan lain untuk mengimbau agar bisa di terima dan melaksanakan gagasan yang di sampaikan.(http://eprints.pengertian/imbauan/para/ahli// di akses pada hari senin 22 agustus 2016)

Dan menjadi orang tua merupakan salah satu harapan yang dijalani oleh pasangan yang memiliki anak. Anak-anak menjalani proses tumbuh kembang dalam

(10)

suatu lingkungan dan hubungan di mana anak tumbuh dan berkembang yaitu di kelurganya dan hubungan yang terjalin pasti dengan orang tuanya. (Lestari, 2012:

16)

Begitu halnya yang terjadi dengan orang tua dan anak yang ada di blok dua Desa Cisaat di mana imbauan pesan orang tua tentunya memiliki respon yang berbeda terhadap anaknya. Di antara motif atau pendorong supaya imbauan pesan terjalin seperti yang di inginkan maka ada beberpa hal yang harus terjadi di antaranya:

1 .Penyampaian Pesan Berulang-ulang

Penyampaian pesan yang berulang-ulang menjadi salah satu faktor yang penting dalam memberikan sebuah imbauan pesan terlebih orang tua terhadap anaknya.

Kedekatan pengasuhan orang tua dan anak menunjukan bahwa hubungan orang tua dan anak akan bersifat interaksional. Artinya, perilaku orang tua, akan mempengaruhi perilaku anak dan sebaliknya perilaku anak akan memengaruhi respons orang tuanya.

Pengasuhan dalam hal ini merupakan kerja interaksional yang berlangsung sepanjang waktu dan bersifat dinamis. Pendekatan interaksi orang tua-anak memfokuskan pada hubungan dua pihak dan memandang hubungan orang tua-anak sebagai bagian dari suatu keseluruhan.(www.komunikasipraktis.com2004/10//)

Seperti imbauan pesan yang di lakukan oleh ibu Neneng terhadap anaknya ketika disuruh untuk belajar, berikut hasil wawancaranya:

“saya sering menyuruh anak untuk belajar. Walaupun kadang ada saja habatan ya teh namanya juga anak-anak apalagi anak laki-laki. Padahal saya sering menyuruh untuk belajar tapi alhamdulilah anak saya ketika disuruh untuk belajar sih mau tapi kadang juga ga mau. Walaupun saya juga sering memberikan motivasi pada anak saya, ya contohnya banyak di televisi menayangkan prestasi-prestasi anak. Dan alhamdulilah anak saya kalau di kelas mendapatkan juara atau rengking di kelasnya.”

(11)

Dari hasil wawancara pada ibu Neneng tersebut menunjukan bahwa harus adanya penyampain pesan yang berulang-ulang antara orang tua dan anak, serta rasa sabar yang harus di miliki ketika menyuruh sang anak untuk belajar, begitupun pola pengasuhan yang harus di miliki oleh para orang tua, peran orang tua dalam mendidik anak, dan harapan orang tua terhadap anaknya terlaksana sesuai yang di inginkan.

Penyampaian pesan yang dilakukan oleh ibu Neneng sendiri menunjukan bahwa orang tua sering menyuruh dengan menggunakan bahsa yang dimengerti oleh sang anak sehingga penyampaian pesan antara ibu Neneng dan anaknya terjalin dengan baik dan lancar dengan adanya penyamapain yang di mengerti oleh sang anak.

2. Menggunakan Bahasa yang Lugas dan Jelas

Penggunaan bahasa yang di mengerti oleh orang tua dan anak akan juga mempengaruhi reaksi atau timbal balik dari sang anak sendiri seperti halnya yang di ungkap oleh ibu Kuni, berikut penjelasannya:

“ alhamdulilah dari kecil saya mendidik anak saya untuk selalu belajar sehabis pulang dari sekolah maupun mengaji, walaupun kadang juga ada hambatan sih ya ada namanya juga masih anak-anak. Anak saya sih alhamdulilah nurut ketika saya suruh untuk belajar, namun saya juga harus menggunakan bahasa yang jelas dan di megerti agar anak saya mau ketika di suruh sama saya walaupun saya jarang memberikan motivasi tapi alhamdulilah anak saya mau sendiri sejak kecil sudah terbiasa untuk di siplin belajar dan sering mendapat juara di sekolahnya.”

Dari jawaban ibu Neneng dan ibu Kuni menunjukan bahwa relasi orang tua dan anak sangat perlu dan harus terjalin antara orang tua dan anak agar kualitas hubungan orang tua dan anak ketika menyampaikan pesan yang baik dan penggunaan bahsa yang jelas akan sanggat berpengaruh terhadap reaksi dari snag anak sendiri.

(12)

Hubungan orang tua anak yang membuat anak merasa dicintai dan mengembangkan rasa percaya diri. Kehangatan yang terjalin memberikan konteks bagi afeksi positif yang akan meningkatkan mood untuk peduli dan tanggap terhadap satu sama lain. Kualitas hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak pun menjadi seperti yang di inginkan. (Lestari, 2012: 49)

Seperti halnya yang di alami ibu Eni ketika meberikan imbauan pada anaknya untuk belajar, berikut hasil wawancaranya:

“ saya sih sering menyuruh anak untuk belajar, tapi anak saya aga sedikit bandel, walaupun saya menggunakan bahasa yang halus teh mungkin karena laki-laki jadi rada susah, ”

Dari pemaparan di atas ibu Eni sudah meberikan imbauan namun anaknya tidak memberikan relasi yang di inginkan orang tua. Pengaruh prilaku orang tua juga sangat berpengaruh dalam tubuh kembang seorang anak. John Bowlby (1969), Dimensi kehangatan merupakan suatu rentang kontinum, yang di satu sisi ditandai oleh penerimaan yang mencakup berbagai perasaan dan perilaku yang menunjukan kehangatan, afeksi, kepedulian, kenyamanan, perhatian, perawatan, dukungan, dan cinta.mendefinisikan pengaruh perilaku pengasuhan sebagai faktor kunci dalam hubungan orang tua anak yang di bangun sejak usia dini.(Lestari, 2012: 17)

Jelas bahwa kedekatan antara orang tua dan anak menjadi salah satu komunikasi yang baik dengan anak. Hal ini juga di perkuat dengan jawaban anaknya yang bernama Sanda usia 10 tahun, yang saat ini duduk di kelas 5 SD, anak dari ibu Rundasih, berikut hasil wawancara dengan Sanda:

“ ibu sih sering menyuruh untuk belajar. Ibu menyuruh dengan omongan namun juga kadang dengan langsung membawakan buku pelajaran, ibu sih suka menyuruh saya untuk belajar. Alhamdulilah ada prestasi yang di dapat ketika saya nurut sama ibu”

(13)

Hal tersebut menujukan bahwa kedektan orang tua mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak yang di bangun sejak dini sehingga anak memiliki ikatan emosi, perasaan dan perilaku yang kuat dengan orang tua, dan yang terjadi oleh saudari Sanda menunjukan bahwa dengan sering menyampaikan pesan pesan atau perhatian dengan menggunkan bahasa yang lembut dan jelas membuat anak mengerti dan mau menjalankan tugas dari orang tuanya.

3. Memberikan Contoh Suri Tauladan Kepada Sang Anak

Memberikan contoh suri tauladan kepada sang anak menjadi salah satu faktor keberhasilan orang tua dalam memberikan imbauan pesan kepada sang anak dan Selain emosi yang kuat hubungan orang tua dan anak juga dapat dijelaskan dengan pendekatan teori penerimaan dan penolakan orang tua menurut Rohner dkk juga persepsi anak terhadap penerimaan dan penolakan orang tua atau sosok signifikan yang lain akan mempengaruhi perkembangan kepribadian individu dan mekanise yang di kembangkan dalam menghadapi suatu masalah yang sedang di hadapi.

(http///wiki.pedia.suri.tauladan///)

Seperti halnya yang di ungkapkan oleh ibu Rundasih

“Walaupun saya juga jarang memberikan motivasi pada anak saya, kadang saya hanya mengambilkannya buku lalu saya menyuruh untuk belajar atau membacanya, tapi alhamdulilah anak saya selalu naik kelas walaupun jarang mendapatkan juara di kelasnya, dan hambatan sih ada saja teh ya ketika saya memberikan imbauan pada anak saya ketika harus belajar. walaupun anak saya ya kadang nurut kadang juga ga nurut sama perintah saya..”

Berbeda halnya yang di ungkapkan oleh ibu Eni:

“ Padahal saya sering memberikan motivasi pada anak saya, untuk belajar seperti halnya prestasi yang di raih teman sekelasnya, ngasih tau agar rajin belajar. Kalau perubahan ya naik turun dulu sebelum punya adiknya suka juara karena sering saya sodorin buku

(14)

pelajaran agar dia belajar namun sekarang karena harus mengurus yang kecil jadi aga repot (sambil tersenyum) hambatan ya pasti ada ketika saya menyuruh anak saya untuk belajar. Dan anak saya ketika di bilangin ya banyak ga nurutnya, tapi kalau sama bapanya nurut.”

Imbauan pesan yang di lakukan oleh ibu Rundasih dan ibu Kuni hampir sama namun walaupun harus dengan menggunakan cara yang berbeda dalam memberikan contoh suri tauladan kepada sang anak walaupuns relasi antara orang tua dan anak berbeda. Menurut Chen, kualitas hubungan orang tua anak merefleksikan tingkatan dalam hal kehangatan, rasa aman, kepercayaan, afeksi positif, dan ketanggapan dalam hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak. (Lestari, 2012: 18)

Dari penjelasan di atas ternyata komunikasi dengan anak dalam mengajak untuk belajar tidak hanya menghalangi hambatan untuk berprestasi di sekolahnya, ada cara yang di lakukan orang tua atau komponen-komponen agar anak mau belajar di antaranya menyampaikan pesan yang berulang-ulang, menggunakan bahasa yang lugas dan jelas, dan memberikan contoh suri tauladan yang baik kepada sang anak.

4.3 Efektivitas Imbauan Pesan Orang tua Terhadap Anak Dalam Memberikan Motivasi Belajar di Desa Cisaat Dukupuntang Cirebon Seperti yang sudah di bahas pada bab sebelumnya efektivitas imbauan pesan orang tua terhadap anaknya dalam memberikan motivasi belajar. Dalam sebuah komunikasi tentunya memiliki efektivitas penyampaian sebuah pesan. Namun pada kenyataannya komunikasi yang efektiv tidaklah mudah karena semua orang belum tentu bisa melakukan komunikasi secara efektiv apalagi orang tua terhadap anak atau sebaliknya anak pada orang tua yang kadang tidak sesuai apa yang di inginkan.(Mulyana, 2013:50)

(15)

1. Waktu Yang Tepat

Waktu adalah sebuah perencanaan dan pengawasan sebab waktu menjadi salah satu sumber daya untuk melakukan sebuah pekerjaan yang harus di kelola secara efektif dan efesien yang harus di miliki orang tua dan anak.

(https://shirosetiawan.worldpress.com.pentingnya.tepat.waktu//)

Sebab harus adanya sikap sabar orang tua dan waktu yang tepat untuk memberikan motivasi pada anaknya. Namun orang tua juga perlu mengetahui bahwa anak juga memiliki haknya. Seperti hasil wawancara dengan ibu Eni:

“ketika saya menyuruh anak saya untuk belajar ya lepas pulang dari mengaji magrib baru saya tanyakan kepada anak saya, di bilang efektif ya engga juga teh, karena anak saya jarang mendapatkan prestasi di sekolahnya. Ya saya sih cuma bisa menasehatinya dengan sabar.”

Hal yang serupa juga di ungkapkan oleh ibu Neneng:

“kalau saya sering menanyakan atau mengingatkan mungkin efektif terhadap anak saya, namun kalau saya tidak mengingtkan ya sudah anak saya main saja dengan teman-temannya. Sikap saya pada anak saya ya dengan sabar dalam mendidik, anak-anak harus selalu di ingatkan.”

Dari hasil penjelasan ibu Eni dan ibu Neneng menunjukan bahwa dalam mendidik seorang anak tentunya harus dengan rasa sabar dan menentukan waktu yang tepat agar ketika sang anak di suruh mau melaksanakan perintah sari sang orang tua. Namun dalam pengasuhan seorang anak juga dipercaya memiliki dapak terhadap perkebangan anak tersebut, ada dua gaya pengasuhan menjadi faktor utama yang membuat anak menjadi pribadi apa kedepannya.(Lestari, 2012:47)

2. Situasi Yang Tepat

Situasi yang tepat membuat keadaan yang ada pada diri sendiri baik itu di luar maupun di dalam dirinya, dan sebagai orang tua harus mempunyai cara unuk

(16)

membuat situasi yang tepat agar ketika memberikan motivasi dengan sang anak dan juga gaya dari pengasuhan yang biasanya di lakukan oleh orang tua yang terlalu baik, situasi yang tepat juga akan cenderung memberi banyak kebebasan pada anak-anak dengan menerima dan memaklumi segala perilaku, tuntutan dan tindakan anak, namun kurang menuntut sikap tangggung jawab dan keteraturan perilaku anak.(Lestari, 2012: 48) Seperti hasil wawancara dengan ibu Eni:

“anak saya ketika di suruh untuk belajar lebih banyak engga maunya.

Kalau sama ibunya kurang nurut tapi kalau sama bapanya nurut, walaupun bapanya hanya ada di rumah ketika malam saja, siang hari bekerja mencari nafkah, saya yang sering di rumah walaupun di ingatkan tetap saja anaknya kurang nurut sama ibunya teh ”

Pengasuhan yang di lakukan ibu Eni mungkin termasuk gaya yang permisif sejak kecil memberikan kebebasan sehingga anak menjadi kurang tanggung jawab pada apa yang menjadi tugas seorang anak, waktu yang di gunakan ibu Eni juga ketika menyuruh anaknya dalam keadaan sedang ingin bermain bersama teman- temannya sehingga komunikasi dengan anak menjadi tidak baik sehingga situasi yang dilakukan ibu Eni kurang tepat, berbeda dengan bapanya yang menyuruh ketika malam hari sebelum mempersiapkn pelajaran sekolah untuk esok harinya.

Namun hal yang berbeda di ungkap oleh ibu Kuni, berikut wawancaranya:

“ketika saya selalu menyuruh anak saya untuk belajar, alahmdulilah efektif terhadap anak saya. Sikap seorang ibu sih ya sabar jika mengajari anak. Alhamdulilah mungkin karena anak perempuan juga jadi nurut. Dan anak saya selalu menanggapi maksud saya untuk belajar.”

Ibu Rundasih juga mengungkapkan:

“alahmdulilah dibilang efektif ya efektif. Saya sih hanya bisa menyuruhnya untuk selalu belajar. Dan anak saya kalau moodnya baik ya mau tapi kalau moodnya kurang baik ya engga mau.”

(17)

Pendapat ibu Kuni hampir sama dengan Eni dan ibu Rundasih di mana ketika anak di didik sejak usia dini maka anak memiliki hubungan yang dalam dengan orang tuanya, memberikan imbauan di waktu yang tepat juga mempengaruhi situasi seorang ibu dalam memberikan motivasi anak ketika disuruh untuk belajar, waktu yang tepat, dan rasa sabar juga menjadi faktor yang utama dalam mendidik seorang anak. Namun berbeda yang di ungkap oleh ibu Rundasih gaya pengasuhan yang mungkin bisa di bilang permisif juga namun kondisi mood seorang anak sebagai ibu harus bisa memahaminya.

Harapan semua orang tua yang ada di blok dua Desa Cisaat pada anaknya sederhana saja, pertama orang tua mengharapkan anaknya menjadi anak yang sholeh dan harapan kedua menjadi orang yang sukses. Namun menjadi orang yang sukses butuh peoses yaitu dengan belajar.

Namun bagi kebanyakan siswa, belajar berarti menggaris bawahi buku pelajaran dengan stabile berwarna warni sambil mendengarkan musik dari ruangan lain. Atau apabila menghadapi ujian semester esok harinya, belajar berarti minum kopi sebanyak mungkin atau meminum pil anti ngantuk dan menghabiskan sepanjang malam untuk menjejali otaknya dengan semua bahan ajaran yang sudah di ajarkan yang seharusnya dipelajari selama kurang lebih dua belas minggu sebelumnya. (Rifa hidayah, 2009: 30)

Begitu pula orang tua yang ada di blok dua Desa Cisaat Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon yang tentunya dalam mengajak anak untuk terus belajar di butuhkan motivasi yang kuat dan rasa sabar yang tinggi.

3. Tempat Yang Tepat

Tempat yang tepat merupakan keputusan yang penting karena mempengaruhi mood sang anak, seperti yang teradi di bok dua ketika orang tua

(18)

menyuruh anaknya untuk belajar maka seperti pada saat peneliti menayakan langsung pada anak-anaknya. Seperti yang di ungkap oleh saudari Sanda:

“ ibu menyuruh belajar ketika saya sedang menonton televisi kadang juga waktu sehabis mengaji magrib, tujuan ibu menyuruh saya untuk belajar ya agar saya menjadi anak yang pintar dan berprestasi di sekolah, menjadi kebanggan keluarga tentunya teh.”

Dari hasil penelitian terhadap anakpun jawaban hampir sama mereka mengetahui maksud dari orang tua menyuruhnya untuk terus belajar. Namun belajar saja tidak cukup untuk mencapai sebuah kesuksesan di butuhkn motivasi yang kuat agar anak terus mau belajar.

Secara umum juga terdapat dua peranan penting motivasi dan belajar, pertama motivasi merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar demi mencapai suatu tujuan. Dan kedua motivasi sebagai pernan penting dalam memberikan gairah, semangat, dan rasa senang dalam belajar.(Sardiman, 2012: 84)

Seperti wawancara pada saudari Syifa:

“ibu saya sering memberikan motivasi agar saya giat untuk belajar supaya menjadi orang yang sukses ketika besar nanti dan menjadi kebanggan orang tua.”

Dari penjelasan informan tersebut dapat dilihat bahwa masing-masing anak mengetahui tujuan dan manfaat orang tua menyuruh anaknya untuk belajar, dalam usia yang msih kecil memang seharusnya orang tua mengajarkan anaknya untuk belajar supaya besar nanti menjadi anak kebanggaan keluarga.

Tugas orang tua sendiri hanyalah membantu memberikan tambahan wawasan bagi anak sebagai pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan. Jika anak kurang memiliki keputusan pada dirinya sendiri maka dialah yang nanti yang akan menjalani terhadap pilihannya sendiri.

(19)

4. Konsistensi orang tua

Konsistensi menepatkan suatu gagasan atau sebuah keputusan tidak berubah-ubah memandang manusia sebagai mahluk yang dihadapkan pada berbagai konflik yang mungkin terjadi diantara beberapa kepercayaan yang dimiliki atau diantara beberapa hubungan sosial, diimana orang tua di hadapkan untuk bisa mempengaruhi sang anak agar mau belajar.(w.syam nina, 2012: 80)

Dan yang terjadi pada orag tua yang ada di blok dua desa Cisaat ini konflik antara orang tua dan anak memang ada namun para orang tua bisa mencegah dan mempunyai solusi sendiri jika ada konflik dengan sang anak.

Seperti yang di ungkap oleh ibu Neneng, berikut hasil wawancaranya:

“ketika terjadi kesalah pahaman dengan anak ya saya sih memberikan penjelasan langsung maksud dan tujun apa yang di sampaikan bahwa hal tersebut baik ataupun buruk sehingga sang anak bisa mengerti tujuan saya menyuruh untuk belajar.”

Dari hasil penjelasan ibu Neneng menunjukan bahwa konsistensi orang tua yang ada di blok dua mempengaruhi mengerti tidaknya pesan yang di sampaikan oleh orang tua sendiri kepada sang anak, memberikan imbuan pesan kepada sang anak dengan terus menerus menjadi salah satu faktor pendukung yang mempengaruhi sebuah ke efektifan dan memberikan motivasi kepada sang anak sendiri.

Hal serupa juga di ungkapkan oleh ibu Kuni, berikut wawancaranya:

“saya sih sering teh terjadi kesalahpahaman dengan anak saya, ya namun saja juga harus mengerti sebagai orang tua harus sabar dalam menghadapi situasi mood seorang anak, dan saya juga mengerti tidak hanya sekali dalam memberikan motivasi kepada sang anak harus terus menerus dan sabar.”

(20)

Dari penjelasan ibu Kuni sendiri sebagai orang tua haruslah mempunyai sikap konsitensi dalam memberikan motivasi kepada sang anak, agar anak mau belajar memberikan motivasi tidaklah hanya sekali butuh waktu dan sikap yang konsisten ataupun istiqomah dalam menjalankan kewajiban sebagai orang tua, tentunya harapan ini juga di miliki oleh ibu-ibu yang ada di blok dua sehingga anaknya menjadi apa yang di harapkan.

Dan orang tua yang ada di blok dua Desa Cisaat Dukupuntang Cirebon ini sudah menyuruh memberikan arahan pada anaknya, namun semuanya kembali pada anak tersebut apakah mau atau tidak. Tentunya setiap orang tua berbeda dalam menjalankan perannya sebagai orang tua adapun orang tua yang mendidik anaknya agar menjadi dirinya sendiri hal itu dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi anak dalam mengambil keputusan untuk kehidupannya.

Penjelasan pada efektivitas imbauan pesan pada anaknya dengan kemampuan para orang tua yang berbeda dalam hal berkomunikasi dengan anak namun orang tua juga mampu mengatasi masalah yang terjadi selama berkomunikasi mengajak anak untuk selalu belajar, meskipun dengan cara yang berbeda-beda, namun tidak hanya itu para orang tua juga mempunyai semangat agar anaknya mau belajar dengan baik, waktu yang tepat, situasi yang tepat dan tempat yang tepat akan mepengaruhi dari efektivitas itu sendiri.

Namun penjelasan pada efektivitas di sini masi bersifat umum perlu di butuhkan lagi penelitian lanjutan tentang pembahsaan teori yang lebih spesifik.

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan Rumah Tangga (Y) adalah total pendapatan bersih dalam satuan rupiah per tahun yang diperoleh dari komoditi pangan, hortikultura, perkebunan, ternak, dan

7 tahun 1989, Majelis Hakim telah mendengar keterangan para saksi masing-masing bernama SAKSI 1 yaitu saksi selaku kakak kandung Pemohon dan SAKSI 2 selaku

Sedangkan dalam hal pelanggaran hak cipta yang ada dalam perbuatan cyber crime dalam bentuk phising, yang mana perbuatannya adalah membuat tampilan yang mirip dengan

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai Di

mengakses sumber-sumber dan bahan-bahan pembelajaran tersebut. Kondisi seperti ini diharapkan dapat menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Portal

disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat hipertensi dengan kejadian demensia pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha

Kuesioner terbuka dan tertutup dengan 5 skala Lickert tentang evaluasi kurikulum dilakukan berdasarkan 3 aspek yaitu perencanaan, implementasi dan assessment dibagikan kepada

Setiap orang dan/atau badan hukum sebagai pemilik, pengelola atau penanggung jawab bangunan gedung yang melakukan pelanggaran atas kewajiban yang