• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL DAERAH

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

TAHUN 2014

(2)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page i Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Esa karena atas berkat dan rahmatNya buku Profil Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2014 dapat disusun.

Penyusunan buku profil daerah ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang Daerah Nusa Tenggara Timur antara lain meliputi kondisi wilayah, potensi sumberdaya maupun hasil-hasil pembangunan di Nusa Tenggara Timur.

Buku profil ini juga diharapkan dapat memberikan masukan dalam rangka perencanaan dan evaluasi pembangunan daerah di Nusa Tenggara Timur.

Di samping itu buku ini juga diharapkan dapat mendukung permusuan kebijakan pembangunan dan dapat memberikan informasi keberhasilan pembangunan serta pencapaian program pembangunan sesuai dengan visi dan misi pembangunan di Nusa Tenggara Timur.

Pada kesempatan ini disampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut bersumbangsih bagi suksesnya penyusunan buku ini.

Akhirnya kami mengharapkan masukan, usul dan saran bagi penyempurnaan buku ini dan semoga bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Kupang, November 2014

Kepala Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur,

Ir.Wayan Darmawa,MT Pembina Utama Madya NIP.19620505 198603 1 041

(3)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page ii

SEJARAH SINGKAT

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

1. Zaman Kebangkitan Nasional (±1900–1942)

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan–kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah ber ubah status menjadi Swapraja. Swapraja–

swapraja tersebut, 10 berada di pulau Timor (Kupang, Amarasi, Fatuleu, Am foan, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio Maffo, Biboki, Insana) satu di pulau Rote (Rote), satu di pulau Sabu (Sabu), 15 di pulau Sumba (Kanatang,Lewa–Kanbera, Tabundung, Melolo, Rendi Mangili, Wei jelu, Masukaren, Laura, Waijewa, Kodi–

Lauli, Membora, Umbu Ratunggay, Ana kalang, Wanokaka, Lambaja), sembilan di pulau Flores(Ende, Lio, Larantuka, Ado nara, Sikka, Ngada, Riung, Nage Keo, Manggarai), tujuh di pulau Alor–Pantar (Alor, Baranusa, Pantar, Matahari Naik, Kolana, Batu Lolang, Purema).Swapraja–swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian–bagian yang wilayah nya lebih kecil.Wilayah–wilayah kecil itu disebut kafetoran–kafetoran.

2. Zaman Pemerintahan Hindia Belanda

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya (Residentie Timor en Onder Hoorig Heden). Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau–pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor). Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang me miliki wilayah terdiri dari tiga afdeeling (Timor, Flores, Sumbawa dan Sumba), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja.Afde eling Timor dan pulau–pulau terdiri dari 6 onder afdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afde eling dengan ibukotanya di

(4)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page iii Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini terdiri dari 4 onder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling dipimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi kontrolir/ Controleur dan Geraghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Residen, asisten residen, kon troliir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeeling yakni kontrolirdibantu oleh pamong praja bumi putra berpangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969, hal . 49–51).

3. Zaman Pendudukan Jepang (1942–1945)

Pada tanggal 8 Maret 1942 komando angkatan perang Belanda di Indonesia menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Dengan demikian secara resmi Jepang menggantikan Belanda sebagai pemegang kekuasaan di Indonesia. Untuk Indonesia bagian timur termasuk wilayah Indonesia Bagian Timur wilayah NTT berada di bawah kekuasaan angkatan laut Jepang (Kaigun) yang berkedudukan di Makasar. Adapun da lam rangka menjalankan pemerintahan di daerah yang diduduki Kaigun menyusun pemerintahannya. Untuk wilayah Indonesia bagian timur dikepalai oleh Minseifu yang berkedudukan di Maka sar. Di bawah Minseifu adalah Minseibu yang untuk daerah Nusa Tenggara Timur termasuk ke dalam Sjoo Sunda Shu (Sunda Kecil) yang berada dibawah pimpinan Minseifu Cokan yang berkedudukan di Singaraja. Disamping Minseibu Cokan terdapat dewan perwakilan rakat yang disebut Syoo Sunda Sukai Yin. Dewan ini juga berpusat di Singaraja. Diantaranya anggota dewan ini yang berasal dari Nusa Tenggara Timur adalah raja Amarasi H. A. Koroh dan I. H. Doko. Untuk pemerintahan di daerah–

daerah nampaknya tidak banyak mengalami perubahan, hanya istilah–istilahnya saja yang dirubah. Bekas wilayah afdeeling dirubah menjadi Ken dan di Nusa

(5)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page iv Tenggara Timur ada tiga Ken yakni Timor Ken, Flores Ken dan Sumba Ken. Ken ini masing–masing dikepalai oleh Ken Kan rikan. Sedangkan tiap Ken terdiri dari beberapa Bunken (sama dengan wilayah onder afdeeling) yang dikepalai Bunken Karikan. Di bawah wilayah Bunken adalah swapraja–swapraja yang dikepalai oleh raja–raja dan pemerintahan swapraja ke bawah sampai ke rakyat tidak mengalami perubahan.

4. Zaman Kemerdekaan (1945–1975)

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasu kan NICA segera mengambil alih seluruh pemerintahan sipil di NTT, di mana susunan pemerintahan dan pejabat–

pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II.

Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi–sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaumpergerakan menghidupkan kembali Partai perseri katan Kebangsaan Timor yang berdiri sejaktahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja–raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S.Amalo menjadi Kepala Daerah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.

Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam

wilayah Propinsi Sunda Kecil. Berdasarkan atas keinginan serta hasrat dari rakyat Daerah Nusa Tenggara, dalam bentuk resolusi, mosi, pernyataan dan delegasi–

delegasi kepada Pemerintah Pusat dan Panitia Pembagian Daerah yang dibentuk

(6)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page v dengan Keputusan Presiden No.202/1956 perihal Nusa Tenggara, pemerintah berpendapat sudah tiba saatnya untuk membagi daerah Propinsi Nusa Tenggara termaksud da lam Peraturan Pemerintah RIS no.21 tahun 1950. (Lembaran Negara RIS tahun 1950 No.59) menjadi tiga daerah tingkat 1 dimaksud oleh undang–

undang No.1 tahun 1957. Akhirnya berdasarkan undang–undang No.64 tahun 1958 propinsi Nusa Tenggara dipecah menjadi Daerah Swa tantra Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (inventarisasi Land Use, 1967, hal.

2). Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur meliputi daerah Flores, Sumba dan Timor. Berdasarkan undang–undang No.69/ 1958 tentang pembentukan daerah–

daerah tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, maka daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur dibagi menjadi 12 Daerah Swatantra Tingkat II (Monografi NTT, 1975, hal. 297).

Adapun daerah swatantra tingkat II yang ada tersebut adalah : Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, Alor, Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu. Dengan keluarnya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Daswati I Nusa Tenggara Timur tertanggal 28 Pebruari 1962 No.Pem.66/1/2 yo tanggal 2 Juli 1962 tentang pembentukan kecamatan di Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur, maka secara de facto mulai tanggal 1 Juli 1962 swapraja–swapraja dihapuskan (Monografi NTT, Ibid, hal. 306).

Sedangkan secara de jure baru mulai tanggal 1 September 1965 dengan berlakunya undang–undang no.18 tahun 1965 tentang pokok–pokok pemerintahan daerah. Pada saat itu juga sebutan Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur dirubah menjadi Propinsi Nusa Tenggara Timur, sedangkan Daerah Swatantra Tingkat II dirubah menjadi Kabupaten. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur di Kupang, tanggal 20 Juli 1963 No.66/1/32 mengenai pembentukan kecamatan, maka Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 12 daerah tingkat II dibagi menjadi 90

(7)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page vi kecamatan dan 4.555 desa tradisionil, yakni desa yang bersifat kesatuan genealogis yang kemudian dirubah menjadi desa gaya baru. Pada tahun 2003 wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur terdiri dari 16 kabupaten dan satu Kota.

Kabupaten–kabupaten dan Kota tersebut adalah: Sumba Barat, Sumba Timur, Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, Rote Ndao, Manggarai Barat dan Kota Kupang. Dari 16 kabupaten dan satu kota tersebut terbagi dalam 197 kecamatan dan 2 585 desa/kelurahan. (Disarikan dari buku “Sejarah Daerah Nusa Tenggara Timur” Proyek Penelitian dan Pencetakan Kebudayaan Daerah 1977/1978).

(8)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page vii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Sejarah Singkat ... ii

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel ... ix

Daftar Gambar ... xiv

Daftar Grafik ... xv

BAB I Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi Dan Arah Kebijakan 2013-2018 ... 1

1.1. Visi ... 1

1.2. Misi ... 2

1.3. Tujuan dan sasaran ... 3

1.4. Strategi dan kebijakan ... 9

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah ... 1

2.1. Posisi Astronomis ... 1

2.2. Kondisi Geografis ... 1

2.3. Kondisi Klimatologi ... 2

2.4. Kondisi Hidrologi ... 4

2.5. Kondisi Topografi ... 5

2.6. Kondisi Demografi ... 6

BAB III Kondisi Umum Pemerintahan ... 1

3.1. Administrasi Pemerintahan ... 1

3.2. Organisasi Daerah ... 2

3.3. Aparatur Daerah/PNS ... 15

BAB IV Kondisi Perekonomian ... 1

4.1.

Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2013 – 2014 ... 1

4.2. Kondisi EKonomi Makro Daerah 2013-2014 ... 7

4.3. Kondisi Investasi dari PMDN dan PMA ... 21

(9)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page viii

4.4. Kondisi Bank (Lembaga Keuangan) ... 22

4.5.

Ketenagakerjaan ... 24

BAB V Kinerja 8 Agenda Pembangunan Daerah ... 1

5.1. Peningkatan kualitas Pendidikan, kepemudaan dan keolahragaan ... 1

5.2. Pembangunan Kesehatan ... 11

5.3. Pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan pengembangan pariwisata ... 17

5.4.

Pembenahan system hukum dan Birokrasi daerah ... 27

5.5. Percepatan pembangunan infrastruktur berbasis tata ruang dan lingkungan hidup ... 31

5.6. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ... 72

5.7. Pembangunan Perikanan dan Kelautan ... 73

5.8.

Penanggulangan kemiskinan, bencana dan pengembangan kawasan perbatasan ... 73

BAB VI Enam Tekad Pembangunan ... 1

6.1. Pertanian dan Perkebunan ... 2

6.2. Peternakan ... 4

6.3. Koperasi ... 6

6.4. Kehutanan ... 9

6.5. Pariwisata ... 17

6.6. Kelautan dan Perikanan ... 25

(10)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keputusan Presiden 12 tahun 2012 tentang penetapan

wilayah sungai (WS) ... 5 Tabel 2.2 Rasio Ketergantungan Penduduk NTT 2011 – 2012 ... 7 Tabel 2.3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut

Kabupaten/Kota dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Tahun 2012... 8 Tabel 3.1 Jumlah Wilayah Administrasi dan Penduduk Tahun 2014 ... 1 Tabel 3.2 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Lingkup Pemerintah

Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2014 ... 10 Tabel 3.3 Jumlah PNS Provinsi NTT Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Tahun 2013... 15 Tabel 3.4 Jumlah PNS Provinsi NTT Berdasarkan umur Tahun 2013 ... 16 Tabel 3.5 Jumlah PNS Provinsi NTT Berdasarkan Agama Tahun 2013 ... 16 Tabel 3.6 Jumlah PNS Provinsi Nusa Tenggara Timur Berdasarkan Jabatan

Staf Tahun 2013 ... 17 Tabel 3.7 Jumlah PNS Provinsi Nusa Tenggara Timur Menurut Golongan

Tahun 2013... 17 Tabel 3.8 Jumlah PNS yang menduduki Jabatan di Lingkup

Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 ... 17 Tabel 4.1 Anggaran Pendapat Daerah Provinsi NTT Tahun 2013-2014 ... 2 Tabel 4.2 Anggaran Belanja Daerah Provinsi NTT Tahun 2013-2014 ... 4 Tabel 4.3 Anggaran Pembiayaan Daerah Provinsi NTT Tahun 2013-2014 .. 6 Tabel 4.4 Laju Petumbuhan Ekonomi per tahun di NTT dan Indonesia

2010-2013 ... 8 Tabel 4.5 Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Nusa

Tenggara Timur Atas Dasar Harga Berlaku menurut

Lapangan Usaha, 2010-2013 ... 9 Tabel 4.6 Inflasi Bulanan Nusa Tenggara Timur dan Nasional

Tahun 2013 (2007 = 100,00) ... 11 Tabel 4.7 Inflasi Nusa Tenggara Timur dan Nasional,

2012-2013 (2007 = 100,00) ... 12 Tabel 4.8 Pendapatan perkapita penduduk NTT dan Indonesia

2010-2013 ... 13 Tabel 4.9 Pendapatan per Kapita Nusa Tenggara Timur menurut

Kabupaten/Kota 2011-2013 ... 13

(11)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page x Tabel 4.10 Distribusi Pendapatan dan Indeks Gini Nusa Tenggara Timur

2011-2013 ... 15 Tabel 4.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin serta Garis

Kemiskinan per Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Timur

Tahun 2013... 17 Tabel 4.12 Kondisi Kemiskinan NTT 2008 – 2014... 18 Tabel 4.13 IPM menurut kabupaten/kota Tahun 2012-2013 ... 19 Tabel 4.14 Perbandingan IPM Provinsi NTT dengan IPM Nasional

Tahun 2008-2013 ... 20 Tabel 4.15 Realisaasi Proyek Dan Investasi Penanaman Modal

Menurut Kab/Kota 1013 ... 21 Tabel 4.16 Jumlah Kantor Bank Di Nusa Tenggara Timur

Menurut Kab/Kota Dan Jenis Bank, 2013 ... 22 Tabel 4.17 Jumlah Status Bank Di Nusa Tenggara Timur 2008-2013 ... 23 Tabel 4.18 Jumlah Penyimpanan Dana Pada Bank-Bank Penyelenggara

Menurut Kab/Kota Dan Jenis Simpanan Tahun 2013 ... 24 Tabel 4.19 Penduduk NTT Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kab/Kota dan

Jenis Kegiatan Agustus 2014 (jiwa) ... 26 Tabel 5.1 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Melek Huruf

Menurut Jenis Kelamin, Tahun 2005-2013 ... 1 Tabel 5.2 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Usia Sekolah dan

Jenis Kelamin, Tahun 2012-2013 ... 2 Tabel 5.3 Perkembangan APS dan APM Kabupaten/kota berdasarkan

Jenjang Pendidikan Tahun 2011-2013 ... 3 Tabel 5.4 Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Usia Sekolah dan

Jenis Kelamin, Tahun 2012-2013 ... 3 Tabel 5.5 Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Usia Sekolah dan

Jenis Kelamin, Tahun 2012-2013 ... 4 Tabel 5.6 Rasio Siswa/Guru Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2013 ... 4 Tabel 5.7 Perkembangan Jumlah Guru menurut Kualifikasi Pendidikan

Tahun 2013 di Provinsi NTT ... 5 Tabel 5.8 Perkembangan Jumlah Guru berdasarkan jenjang pendidikan

di Provinsi NTT Tahun 2013 ... 6 Tabel 5.9 Prestasi Atlet Provinsi NTT dicabang Olahraga Atletik

Tahun 2013... 7

(12)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page xi Tabel 5.10 Prestasi Atlet Tinju provinsi NTT Pada Berbagai Kejuaraan

Tahun 2013... 8

Tabel 5.11 Rincian Prestasi Untuk Cabang Olah Raga Taekwodo Tahun 2013... 9

Tabel 5.12 Rincian Prestasi Cabang Olahraga Pencak Silat Tahun 2013 ... 10

Tabel 5.13 Rincian Prestasi Cabang Olahraga Kempo Tahun 2013 ... 10

Tabel 5.14 Rincian Prestasi Cabang Olah raga POPCANAS Tahun 2013 ... 11

Tabel 5.15 Jumlah lahir hidup, kematian Ibu, kematian Bayi di Nusa Tenggara Timur Tahun 2008-Mei 2014 ... 11

Tabel 5.16 Jumlah Kasus Kematian Bayi dari 2008—Mei 2014 Menurut Kabupaten/Kota ... 12

Tabel 5.17 Rincian Kasus Kematian Ibu Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008 – Mei 2014... 13

Tabel 5.18 Persentase Balita Menurut Status Gizi Tahun 2010-2013 ... 15

Tabel 5.19 Ketersediaan SDM Kesehatan NTT Tahun 2014 ... 16

Tabel 5.20 Perkembangan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di NTT Tahun 2009-2013 ... 16

Tabel 5.21 Jumlah Rumah Sakit menurut jenis Rumah Sakit di NTT Tahun 2014... 17

Tabel 5.22 Jumlah Desa/Kelurahan Lokasi Program 2011-2013 ... 18

Tabel 5.23 Alokasi Program per Kabupaten/Kota tahun 2011-2013 ... 20

Tabel 5.24 Kelompok dan Anggota Kelompok program 2011-2013 ... 21

Tabel 5.25 Pengembangan Desa Wisata di NTT Tahun 2013 ... 23

Tabel 5.26 Indeks Aspek Indeks Demokrasi Indonesia ... 30

Tabel 5.27 Panjang Jalan Nasional dan Provinsi menurut Jenis Permukaan Jalan dan Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Timur Tahun 2013... 32

Tabel 5.28 Panjang Jalan Nasional dan Provinsi menurut Jenis Permukaan Jalan dan Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 33 Tabel 5.29 Sumber Air Minum Per Desa/Kelurahan di NTT ... 35

Tabel 5.30 Jumlah dan Tipe Terminal di Nusa Tenggara Timur Tahun 2012 ... 36

Tabel 5.31 Arus Kunjungan Kapal Laut pada setiap Pelabuhan Laut Tahun 2012 - 2013 ... 42 Tabel 5.32 Arus Penumpang Kapal Laut pada setiap Pelabuhan Laut

(13)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page xii Tahun 2012 - 2013 ... 43 Tabel 5.33 Volume Bongkar Muat Barang dan Hewan pada Setiap

Pelabuhan Laut Tahun 2013 ... 44 Tabel 5.34 Banyaknya Perjalanan, Arus Penumpang, Kendaraan dan Barang

melalui ASDP (Ferry) pada setiap Pelabuhan Penyebrangan

Tahun 2013... 61 Tabel 5.35 Perkembangan Arus Pesawat dan Penumpang

di Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 – 2013 ... 63 Tabel 5.36 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di NTT

Tahun 2011 – 2013 ... 64 Tabel 5.37 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin serta Garis Kemiskinan

per Kabupaten/Kota di NTT Tahun 2013 ... 66 Tabel 5.38 Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan di NTT

Tahun 2011 – 2013 ... 67 Tabel 5.39 Jenis Potensi Bencana dan Wilayah Rawan Bencana

Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 68 Tabel 5.40 Jumlah Desa/Kelurahan Rawan Bencana

Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 69 Tabel 5.41 Perkembangan Jumlah Dan Jenis Bencana Tahun 2012-2013

Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 70 Tabel 5.42 Banyaknya Perjalanan, Arus Penumpang, Kendaraan dan Barang

melalui ASDP (Ferry) pada setiap Pelabuhan Penyebrangan

Tahun 2013... 71 Tabel 5.43 Perkembangan Arus Pesawat dan Penumpang

di Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 – 2013 ... 72 Tabel 5.44 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di NTT

Tahun 2011 – 2013 ... 74 Tabel 5.45 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin serta Garis Kemiskinan

per Kabupaten/Kota di NTT Tahun 2013 ... 75 Tabel 5.46 Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan di NTT

Tahun 2011 – 2013 ... 77 Tabel 5.47 Jenis Potensi Bencana dan Wilayah Rawan Bencana

Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 84 Tabel 5.48 Jumlah Desa/Kelurahan Rawan Bencana

Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 85

(14)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page xiii Tabel 5.49 Perkembangan Jumlah dan Jenis Bencana Tahun 2012-2013

Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 86

Tabel 5.50 Perbatasan Nusa Tenggara Timur denganRepublik Demokratik Timor Leste dan Australia ... 87

Tabel 6.1 Luas Tanam, Luas Panen, Rata-Rata Hasil dan Produksi Jagung Di Provinsi NTT Tahun 2013 ... 2

Tabel 6.2 Luas Panen menurut Jenis Tanaman di Provinsi NTT Tahun 2009-2013 ... 3

Tabel 6.3 Perkembangan Produksi menurut Jenis Tanaman Tahun 2009-2013 ... 4

Tabel 6.4 Jumlah Ternak Besar menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2013 ... 4

Tabel 6.5 Jumlah Ternak Besar menurut Kabupaten/Kota di Provinsi NTT Tahun 2013 ... 6

Tabel 6.6 Banyaknya Koperasi KUD dan Koperasi Lainnya Tahun 2013 ... 7

Tabel 6.7 Jumlah Koperasi di Provinsi NTT menurut Jenis Koperasi ... 8

Tabel 6.8 Luas Wilayah dan Luas Kawasan Hutan menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 9

Tabel 6.9 Potensi Kehutanan di Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 10

Tabel 6.10 Data Pengembangan Cendana Tahun 2009-2013 ... 11

Tabel 6.11 Persebaran Jenis Komoditi Perikanan di Provinsi NTT ... 27

Tabel 6.12 Lokasi Budidaya Mutiara di Provinsi NTT ... 30

(15)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Perkiraan perubahan pola hujan dan cura hujan di NTT ... 3 Gambar 4.1 Perkiraan perubahan pola hujan dan curah hujan di NTT ... 7 Gambar 5.1 Persentase masing-masing variable Indeks Demokrasi Indonesia

2010-2013 ... 30 Gambar 6.1 Pengembangan Perikanan Tangkap di NTT ... 26 Gambar 6.2 Pengembangan sentra kebun bibit rumput laut ... 29

(16)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Page xv

DAFTAR GRAFIK

Grafik 5.1 Tren Jumlah Kematian Bayi di Provinsi NTT

Tahun 2008-Mei 2014 ... 13 Grafik 5.2 Perkembangan Total Kasus Kematian Ibu 2008-Mei 2014 ... 15

(17)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 1

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 2013-2018

1.1 VISI

Visi Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagaimana tertuang di dalam RPJMD Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2013 – 2018 adalah :

“TERWUJUDNYA MASYARAKAT NUSA TENGGARA TIMUR YANG BERKUALITAS, SEJAHTERA DAN DEMOKRATIS DALAM BINGKAI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA”

Penjabaran makna dari Visi Provinsi NTT tersebut sebagai berikut:

1. Kualitas

mencerminkan keterwakilan sumber daya manusia (agenda pendidikan, kesehatan, perempuan, anak dan pemuda) dengan indikator-indikator kualitas IPM dan dikaitkan dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang berdaya-saing;

2. Sejahtera

mencerminkan keterwakilan agenda pembangunan (pendidikan, kesehatan, ekonomi, perempuan, anak dan pemuda) dengan indikator- indikator kualitas IPM; serta pembangunan ekonomi dan pariwisata, infrastruktur, dan tata ruang dan lingkungan hidup, Kelautan dan Perikanan dengan indikator-indikator ekonomi, infrastruktur dan tata ruang dan lingkungan hidup yang terukur;

B

A

B

1

(18)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 2

3. Demokratis

mencerminkan keterwakilan proses dan substansi agenda-agenda pembangunan yang dilakukan secara rasional dan objektif dengan mempertimbangkan aspek keterbukaan, partisipasi publik, kesamaan dan keadilan;

4. Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia

sebagai Provinsi tedepan di Selatan Indonesia maka seluruh rakyat Nusa Tenggara Timur dengan tekad yang bulat dan komitmen yang tinggi untuk tetap menjaga keutuhan, kedaulatan, kehormatan dan martabat bangsa Indonesia.

1.2 MISI

Untuk mewujudkan visi pembangunan tersebut maka ditetapkan 8 misi pembangunan yang akan menjadi acuan dalam penyiapan kerangka keja agenda pembangunan yaitu;

1. Meningkatkan pelayanan pendidikan dalam rangka terwujudnya mutu pendidikan, kepemudaan dan keolahragaan yang berdaya saing,

2. Meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat melalui pelayanan yang dapat dijangkau seluruh masyarakat,

3. Memberdayakan ekonomi rakyat dan mengembangkan ekonomi keparawisataan dengan mendorong pelaku ekonomi untuk mampu memanfaatkan keunggulan potensi lokal,

4. Pembenahan sistem hukum dan reformasi birokrasi daerah,

5. Mempercepat pembangunan infrastruktur yang berbasis tata ruang dan lingkungan hidup,

6. Meningkatkan kualitas kehidupan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta perlindungan dan kesejahteraan anak,

7. Mempercepat pembangunan Kelautan dan Perikanan,

8. Mempercepat penanggulangan kemiskinan, bencana dan pengembangan kawasan perbatasan.

(19)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 3

1.3 TUJUAN DAN SASARAN Misi 1

Meningkatkan pelayanan pendidikan dalam rangka terwujudnya mutu pendidikan Tujuan:

Meningkatkan mutu dan akses Pendidikan pada semua jenjang Sasaran:

 Meningkatnya rata-rata lama sekolah

 Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat

 Meningkatnya kualitas dan prosentase kelulusan semua jenjang pendidikan

 Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan

 Meningkatnya manajemen pengelolaan pendidikan

 Meningkatnya pendataan, pengkajian, pelestarian, pembinaan, pemanfaatan, pengembangan, pendokumentasian dan penyebarluasan kebudayaan

 Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan Perpustakaan

2. Meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan prestasi olah Raga Sasaran:

Mewujudkan generasi pemuda yang cerdas dan kreatif

 Menumbuhkankembangkan jiwa kepemimpinan dan kewirasahaan bagi pemuda

 Meningkatnya pembinaan olahraga secara menyeluruh dan berprestasi

 Meningkatkan sarana dan prasarana yang dapat diakses oleh masyarakat olah raga

Misi 2

Meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat melalui pelayanan yang dapat jangkau seluruh masyarakat

Tujuan:

1. Meningkatkan umur harapan hidup Sasaran:

 Meningkatnya Kualitas pelayanan Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu dan Posyandu

(20)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 4

Penurunan kematian ibu baru melahirkan dan dan anak baru lahir

 Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan tidak menular

2. Meningkatkan Kualitas Kehidupan keluarga Sasaran:

Meningkatnya kualitas dan jangkauan pelayanan KB 3. Optimalnya perlindungan kesehatan masyarakat

Sasaran:

Meningkatnya Askes pembiayaan kesehatan masyarakat Misi 3

Memberdayakan ekonomi rakyat dan mengembangkan ekonomi keparawisataan dengan mendorong pelaku ekonomi untuk mampu memanfaatkan keunggulan potensi lokal

Tujuan:

1. Peningkatan kapasitas ekonomi unggulan berbasis pertanian Sasaran:

 Meningkatnya pendapatan petani Meningkatkan potensi hasil hutan

Mewujudkan NTT sebagai Provinsi jagung, ternak, cendana, Destinasi Utama pariwisata Dunia dan NTT sebagai provinsi koperasi

Sasaran:

Terwujudnya komoditas jagung sebagai pendukung ketahahan pangan nasional

Meningkatkan ketahanan pangan melalui penyediaan cadangan pangan provinsi, penanganan daerah rawan pangan, penyediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan serta pengawasan dan pembinaan keamanan pangan

Meningkatnya pendampingan penyelenggaraan penyuluhan melalui penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan, kompetensi tenaga penyuluh serta peran dan fungsi BP3K, Posluhdes dan kelompok tani sebagai basis kegiatan pertanian, perikanan dan kehutanan

Meningkatnya pendapatan peternak

Meningkatnya kunjungan wisata dan rata-rata lama tinggal wisatawan

(21)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 5

Meningkatnya aktifitas Perdagangan Dalam Negeri dan ekspor

Meningkatnya Jumlah, jenis dan sebaran Koperasi dan UMKM Meningaktnya perbaikan lingkungan dan potensi ekonomi masyarakat berbasis cendana

Peningkatan nilai tambah dan jangkauan pasar produk unggulan Sasaran :

Meningkatnya pertumbuhan jumlah industri

Meningkatkan pembangunan pusat ekonomi baru ekonomi kerakyatan Sasaran :

 Meningakatnya jumlah dan volume kegiatan investasi

 Meningkatnya pelayanan perizinan sesuai SPM

 Meningatnya kompetensi dan daya saing tenaga kerja

 Meningkatnya perlindungan tenaga kerja

Meningkatnya jumlah peserta transmigrasi dalam wilayah NTT dan keluar wilayah NTT

Misi 4

Pembenahan sistem hukum dan reformasi birokrasi daerah Tujuan :

1. Peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan sesuai prinsip-prinsip good governance

Sasaran:

Terwujudnya penataan kelembagaan dan sumber daya pada Pemprov NTT Terwujudnya kebijakan ekonomi NTT yang kompetitif

Terwujudnya aparatur yang professional

Mewujudkan kepastian hukum dan menciptakan rasa keadilan dalam masyarakat

Sasaran:

 Terbentuknya sistem hukum daerah yang terarah untuk menyelesaiakan berbagai masalah sosial di NTT dan terciptanya sinkronisasi hukum dan HAM yang berpihak pada kepentingan rakyat.

3. Mewujudkan P-5 HAM Sasaran :

o Terwujudnya komitmen dan koordinasi hukum dalam pemberantasan KKN dan pelanggaran HAM dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembentukan produk hukum serta terwujudnya P5 HAM.

(22)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 6

4. Mewujudkan ketertiban keteraturan dan keamanan dalam masyarakat Sasaran :

o Terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum

5. Memperkokoh kesatuan dan persatuan serta politik didaerah yang dilandasi oleh semangat dan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 melalui sistem pengembangan politik yang demokratis dan berkedaulatan rakyat

Sasaran :

o Terwujudnya ketahanan seni, budaya, agama, kemasyarakatan dan ekonomi serta peningkatan koordinasi fasilitasi kewaspadaan nasional o Meningkatnya penghayatan, pengamalan, pelestarian dan pengamanan

idiologi pancasila serta meningkatkan rasa kebangsaan, cinta tanah air dan patriotisme untuk kejayaan bangsa dan negara serta meningkatkan kesadaran politik dan partsispasi dalam berdemokrasi

o Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi o Terwujudnya pelayanan publik yang memenuhi SPM dan SPD o Kajian Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB)

6. Peningkatan kapasitas pembiayaan pembangunan daerah Sasaran :

o Meningkatnya pendapatan daerah dan pengelolaan aset daerah o Terbangunnya sistem pengawasan internal pada setiap SKPD Pemprov o Meningkatnya sumber daya pendidikan kejuruan yang berbasis inovasi

daerah untuk menciptakan lapangan kerja sendiri

o Menciptakan korporasi kegiatan ekonomi produktif dan inovatif antar Desa Mandiri Anggur Merah menuju kemandirian ekonomi local

o Efektivitas dan dampaknya dalam pelaksanaan Pemilu Kada Langsung o Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga peneliti

Misi 5

Mempercepat pembangunan infrastruktur yang berbasis tata ruang dan lingkungan hidup

Tujuan :

1. Peningkatan kualitas dan persebaran aksesibilitas wilayah berbasis tata ruang Sasaran :

o Tersusunnya Rencana tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara berkelanjutan berwawasan lingkungan

(23)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 7

o Terciptanya konekktivitas antar pusat produksi dan pusat koleksi/distribusi barang dan jasa

o Meningkatnya kapasitas, partisipasi masyatakat dan produktifitas layanan jaringan irigasi teknis

o Meningkatnya profesionlisme masyarakat jasa konstruksi dalampembangunan infrastrukstur

o Meningkatnya jumlah rumah layak huni dalam lingkungan permukiman yang sehat bagi masyarakat miskin di perdesaan dan perkotaan

o Meningkatnya cakupan pelayanan air bersih untuk masyarakat

o Meningkatnya Ketersediaan Air Baku Bersih untuk Masyarakat Perdesaan

2. Peningkatan kualitas lingkungan untuk mendukung daya saing wilayah Sasaran :

o Review Kawasan Hutan

o Peningkatan Perlindungan dan Pengamanan hutan 50%

o Rehabilitasi dan Lahan seluas 3.500 Ha o Meningkatnya Kualitas Sanitasi Lingkungan o Meningkatnya Pelayanan Transportasi Publik o Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim o Men Kelestarian Lingkungan hidup

o Perlindungan dan pengawasan ekosistem pesisir, laut dan pulau-pulau kecil

o Penggunaan Energi Baru Terbarukan

o Pemanfaatan Sumber Daya Alam Pertambangan dan Peningkatan Kelestarian Lingkungan akibat Pertambangan

Misi 6

Meningkatkan kualitas kehidupan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta perlindungan dan kesejahteraan anak

Tujuan :

1. Meningkatkan pemberdayaan dan perlindungan perempuan Sasaran :

o Meningkatnya kapasistas perempuan untuk mengkakses sumber daya pembangunan

o Meningkatnya Kelompok usaha perempuan

(24)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 8

o Tercapainya 30% keterwakilan jabatan perempuan sebagai tindakan afirmatif dalam jabatan legislatif, judikatif dan eksekutif

2. Peningkatan Kesejahteraan Anak Sasaran :

o Terbentuknya Desa Layak Anak Misi-7:

Mempercepat pembangunan Kelautan dan Perikanan Tujuan :

Peningkatan kesejahteraan nelayan serta pelaku usaha kelautan dan perikanan Sasaran :

o Meningkatnya produksi dan produktivitas berkualitas perikanan dan kelautan dan PAD Meningkatnya SDM kelautan dan Perikanan

o Meningkatnya Ketahanan Pangan dan gizi masyarakat dan Promosi o Jumlah investor dan industriperikanan mendukung peningkatan PDRB Misi 8

Mempercepat Penanggulangan Kemiskinan, Bencana dan Pengembangan Kawasan Perbatasan

Tujuan :

1. Percepatan penurunan Kemiskinan masyarakat Sasaran :

o Menurunnya Angka Kemiskinan penduduk dari 20,03 % menjadi 15,0 % o Meningkatnya perlindungan sosial bagi masyarakat miskin

2. Meningkatkan Ketahanan masyarakat terhadap bencana Sasaran :

o Mewujudkan Ketahanan Terhadap Bencana 3. Percepatan pembangunan wilayah perbatasan

Sasaran :

o Meningkatnya situasi keamanan yang kondusif di kawasan perbatasan antar Negara dan antar daerah.

(25)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 9

1.4 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Misi Pertama

Meningkatkan pelayanan pendidikan dalam rangka terwujudnya mutu pendidikan, kepemudaan dan keolahragaan yang berdaya saing.

Arah kebijakan dari misi pertama adalah meningkatkan mutu dan akses pendidikan pada semua jenjang serta meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan prestasi olah raga melalui :

1. Bidang Pendidikan :

a. Penyiapan pendidikan murah b. Kebijakan GONG BELAJAR

c. Perluasan akses pendidikan bagi masyarakat d. Pelaksanaan PLS Kejar (Paket B, C)

e. Meningkatkan pemerataan fasilitas pendidikan f. Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar g. Meningkatnya rasio guru murid

h. Peningkatan kompetensi guru (sertifikasi) i. Peningkatan jumlah guru berijasah S1 j. Penyebaran guru berdasarkan kebutuhan k. Penguatan Kualitas Pengelolaan pendidikan

l. Peningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan Perpustakaan 2. Bidang Kepemudaan dan Olahraga :

a. Memperluas kesempatan pemuda berorganisasi b. Meningkatkan Kepekaan sosial dan kompetensi pemuda

c. Memperluas cakupan olah raga usia dini di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi

d. Peningkatan pembinaan olahragwan berbakat dan pemberian reward insan olahraga yang berdesikasi dan berprestasi

e. Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana olah raga

(26)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 10

Misi Kedua

Meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat melalui pelayanan yang dapat jangkau seluruh masyarakat

Arah Kebijakan Pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan umur harapan hidup, meningkatkan kualitas kehidupan keluarga, serta mengoptimalkan perlindungan kesehatan masyarakat melalui :

1. Bidang Kesehatan:

a. Meningkatkan akses dan mutu upaya kesehatan yang berkelanjutan b. Revolusi KAI

c. Meningkatkan mutu pelayanan RSUD W.Z. Johanes sebagai rumah sakit rujukan daerah dan rumah sakit pendidikan

d. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen kesehatan

e. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan f. Meningkatkan upaya pemenuhan Jumlah, Mutu dan distribusi secara

berkeadilan SDM kesehatan

g. Meningkatkan sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan yang bermutu masyarakat

h. Kerjasama terpadu Lintas pelaku peningkatan partisipasi masyarakat dalam melaksanaan KB

i. Sinergi pembiayaan kesehatan masyarakat dengan JKN dan mitra potensial Misi Ketiga

Memberdayakan ekonomi rakyat dan mengembangkan ekonomi kepariwisataan dengan mendorong pelaku ekonomi untuk mampu memanfaatkan keunggulan potensi lokal.

Arah kebijakan Provinsi Nusa Tenggara Timur mewujudkan NTT sebagai provinsi jagung, ternak , cendana, destinasi utama pariwisata dunia dan NTT sebagai provinsi koperasi, meningkatkan nilai tambah dan jangkauan pasar produk unggulan, meningkatkan pembangunan pusat ekonomi baru ekonomi kerakyatan.

1. Bidang Ketahanan Pangan : Meningkatkan Diversifikasi pangan 2. Bidang Kehutanan :

a. Meningkatkan pengelolaan potensi hasil hutan kayu dan non kayu

(27)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 11

b. Pengembangan cendana berbasis masyarakat 3. Bidang Pertanian :

a. Meningkatkan produksi dan Produktivitas Komoditas jagung b. Meningkatkan jenis dan Populasi ternak

4. Bidang Pariwisata :

a. Meningkatkan kualitas dan keterjangkauan akses seluruh destinasi wisata b. Meningkatkan kualitas pelayanan wisata

5. Bidang Koperasi :

a. Meningkatnya daya tarik masyarakat

b. Meningkatkan daya dukung koperasi dalam pembangunan ekonomi daerah 6. Bidang Penanaman Modal :

a. Peningkatan partisipasi masyarakat dan investasi swasta pengembangan industri

b. Meningkatkan kecintaan masyarakat menggunakan produksi dalam daerah c. Penciptaan iklim investasi yang kondusif

7. Bidang Tenaga Kerja :

a. Pelatihan ketrampilan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan potensi ekonomi di perdesaan melalui pelatihan institusional dan institusional

b. Peningkatan kapasitas pengetahuan atas hak dan kewajiban tenaga kerja c. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan meningkatnya peran

kelembagaan hubungan industrial

d. Pembangunan kawasan transmigrasi baru yang potensial secara ekonomi serta penguatan kapasitas SDM dan kelembagaan melalui pemberian jaminan hidup, pelatihan, sarana produksi dan sarana ekonomi lainnya menuju kemandirian

Misi Keempat

Pembenahan sistem hukum dan reformasi birokrasi daerah

Meningkatkan penegakan supremasi hukum dalam rangka mementuk pemerintahan yang bersih dan bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme serta mewujudkan masyarakat yang adil dan sadar hukum.

(28)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 12

Mewujudkan kepastian hukum dan menciptakan rasa keadilan dalam masyarakat, Mewujudkan ketertiban, keteraturan dan keamanan dalam masyarakat, Mewujudkan P-5, Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, Peningkatan kualitas tatakelola pemerintahan sesui prinsip-prinsip good governance, Peningkatan kondisi pembangunan yang kondusif, Peningkatan pelaksanaan reformasi biroktrasi, Peningkatan kapasitas pembiayaan pembangun daerah, Memperkokoh Kesatuan dan persatuan serta politik di daerah yang dilandasi oleh semangat dan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 melalui sistem pengembangan sistem politik yang demokratis dan berkedaulatan rakyat

Arah kebijakannya melalui : 1. Bidang Otonomi Daerah :

a. Peningkatan kapasitas aparatur b. Peningkatan penyuluhan hukum

c. Peningkatan pelaksanaan RAHHAM di daerah

d. Peningkatan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemangku kepentingan

e. Peningkatan partisipasi masyarakat f. Penerapan Assement Centre

g. Penerapan Sistem Manajemen Pemerintah Daerah yang berbasis E Planing, E Organazing, E Actuating, dan E. Controling (E. POAC)

h. Penerapan E. Tata Naskah Dinas

i. Pengendalian dan pembinaan produk hukum daerah j. Menerapkan Sistem pengawasan internal pada setiap SKPD k. Meningkatkan profesionalisme aparat / SDM pengawas

l. Komitmen untuk menindaklanjuti LHP dengan menyelesaikan temuan- temuan yang ada

m. Peningkatan dan percepatan penyediaan sarana prasarana aparatur/perkantoran

n. Intensifikasi dan extensifikasi sumber-sumber penerimaan daerah.

o. Optimalisasi pendayagunaan aset bagi peningkatan PAD

p. Peningkatan pengawasan dan pengendalian tugas dan fungsi aparatur q. Peningkatan koordinasi ketahanan seni, budaya, agama, kemasyarakatan

dan ekonomi

r. Melakukan operasi Penegakan PERDA

(29)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 13

2. Bidang Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri

a. Penguatan koordinasi dan kerjasam pemeliharaan keamanan dan pemberdayaan masyarakat

b. Peningkatan partisipasi politik dan demokrasi melalui penguaatan dan permberdayaan masyarakat, institusi, kelompok (perempuan) dan Partai Politik

c. Peningkatan integrasi nasional (Persatuan dan Kesatuan Bangsa) dan peningkatan partisipasi politik serta demokrasi melalui penguatan dan pemberdayaan masyarakat, institusi, kelompok (perempuan) dan Partai Politik

d. Melakukan Operasi penertiban gangguan trantibum dan operasi penegakan perda serta mendukung upaya perlindungan masyarakat

e. Melakukan Bimbingan Teknis/ pelatihan-pelatihan fungsional bagi aparat sat. Pol PP Kabupaten/Kota

f. Mendukung upaya-upaya dalm perlindungan masyarakat (kegiatan penanggulangan bencana dan kegiatan kemasyarakatan lainnya)

3. Bidang Umum :

a. memastikan tersedianya indikator kinerja utama yang cukup solid untuk mengukur kinerja SKPD

b. meningkatkan ketaatan terhadap peraturan perundangan

c. Memberikan perhatian serius terhadap aspek pengendalian, evaluasi dan pelaporan pengendalian, evaluasi dan pelaporan

Misi Kelima

Mempercepat pembangunan infrastruktur yang berbasis tata ruang dan lingkungan hidup

Arah kebijakan dari Provinsi Nusa Tenggara Timur pada misi ini adalah peningkatan kualitas dan persebaran aksesibilitas wilayah berbasis tata ruang, peningkatan kualitas pelayanan dasar masyarakat yang lestari dan berskesinambungan, peningkatan kualitas lingkungan untuk mendukung daya saing wilayah melalui :

1. Bidang Perencanaan

Pemberian bantuan teknis bagi upaya penyusunan rencana tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh kabupaten/kota

(30)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 14

2. Bidang Perhubungan

a. Mengembangan sistem jaringan prasarana perhubungan terpadu antar moda (darat, laut dan udara) yang menjangkau pusat-pusat produksi di perdesaan dengan pusat koleksi-distribusi di perkotaan

b. Menjaga iklim usaha yang kondusif bagi dunia usaha jasa transportasi serta mengembangkan sistem pengawasan dan pengendalian yang efektif berkaitan dengan sertifikat layak jalan bagi kendaraan angkutan publik 3. Bidang Pekerjaan Umum

a. Meningkatkan kinerja pengelolaan sistem jaringan irigasi teknis demi meningkatkan produktifitas

b. Meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi dunia usaha jasa konstruksi serta meningkatkan sistem baku mutu pelayanan jasa konstruksi

c. Pemeliharaan peralatan Laboratorium Pengujian d. Pemeliharaan Peralatan berat Kebinamargaan

e. Bina manusia, bina usaha dan bina lingkungan dalam kerangka memampukan masyarakat miskin untuk memnuhi kebutuhan akan perumahan yang layak

f. Mengembangkan sistem produksi transmisi dan distribusi air secara merata bagi masyarakat perdesaan maupun perkotaan

g. Mendayagunakan potensi air permukaan maupun air tanah yang ada secara optimal untuk meningkatkan ketersediaan air baku

h. Mengembangkan sistem pengelolaan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan oleh masyarakat miskin 4. Bidang Kehutanan

a. Percepatan review Kawasan, pemantapan dan percepatan pembangunan kawasan hutan

b. Mengembangkan sistem pengawasan dan pengendalian yang efektif untuk mencegah kerusakan hutan yang semakin meluas

c. Rehabilitasi Hutan dan Lahan

d. Peningkatan perlindungan dan pengamanan hutan 5. Bidang Lingkungan Hidup

a. Mengembangkan sistem Mitigasi dan Adaptasi terhadap dampak Perubahan Iklim serta dampak Emisi Gas Rumah Kaca

(31)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 15

b. Mewujudkan penggunnaan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dengan mengembangkan sisitem pembinaan dan pengendalian untk mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

c. Terjaganya kelestarian alam akibat pertambangan Misi Keenam

Meningkatkan kualitas kehidupan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta perlindungan dan kesejahteraan anak

Meningkatkan pemberdayaan dan perlindungan perempuan, Meningkatkan Perlindungan anak melalui :

a. Adanya kebijakan, pemerintah (regulasi) yang menjamin pelaksanaan PUG, pemberdayaan perempuan dan peran serta perempuan

b. Adanya koordinasi hingga monev, guna menjamin sinergitas dan pencapaian target kinerja sebagaimana yang direncanakan

c. Adanya regulasi) yang menjamin peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak

d. Adanya Peningkatan Pemahaman dan komitmen segenap aparatur pemerintah untu mendukung peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak

e. Menerapkan pola pendampingan secara berkelanjutan dalam peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak

f. Melibatkan lembaga masyarakat, dalam peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak

g. Meningkatkan Pemahaman dan komitmen unsur toga, tomas, toda dan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak

Misi Ketujuh

Mempercepat Pembangunan Kelautan dan Perikanan

Arah kebijakan Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan kesejahteraan nelayan serta pelaku usaha kelautan dan perikanan, melalui :

a. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana perikanan yang ramah lingkungan(Tangkap, Budidaya dan Pengolahan)

b. Meningkatkan kualitas Ekosistem pesisir dan Pulau-pulau kecil yang lestari dan berkelanjutan

c. Meningkatan jumlah sarana pendidikan kejuruan kelautan dan perikanan d. Meningkatkan Jumlah kebutuhan Konsumsi ikan masyarakat

(32)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4

Bab 1- 16

Misi Kedelapan

Mempercepat Penanggulangan Kemiskinan, Bencana dan Pengembangan Kawasan Perbatasan

Arah kebijakan Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah percepatan penurunan kemiskinan masyarakat, meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana, percepatan pembangunan wilayah perbatasan, melalui :

a. Meningkatkan kemampuan masyarakat miskin melalui pola pemberdayaan Masyarakat

b. Peningkan kemitraan penanganan masyarakat penyandang masalah sosial c. Meningkatkan Mitigasi dan Adaptasi terhadap Bencana

d. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat di Perbatasan agar Tidak Terjadi Kesenjangan Ekonomi

e. Persehatian masyarakat perbatasan melalui pendekatan adat, agama dan hukum

(33)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-1

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 Posisi Astronomis

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di sebelah selatan katulistiwa pada posisi 80 –120 Lintang Selatan dan 1180 – 1250 Bujur Timur.

2.2 Kondisi Geografis

Nusa Tenggara Timur sebagai Provinsi kepulauan secara administratif terbagi dalam 1 kota, 21 Kabupaten, 306 Kecamatan, 316 Kelurahan dan 2.954 Desa.

Berdasarkan geografis maka sesuai karakteristik wilayah dibagi dalam tiga satuan wilayah Pembangunan (WP) yaitu; (i) WP Timor-Alor-Rote Ndao-Sabu Raijua meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten Alor, Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua; (ii) WP Flores- Lembata meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur dan kabupaten Lembata dan (iii) WP Sumba meliputi Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Luas wilayah daratan 4.734.990 Ha dan luas wilayah lautan 15.141.773, 10Ha yang tersebar pada 1.192 pulau. 44 pulau yang dihuni, 1.148 pulau belum dihuni, 246 pulau sudah bernama dan 946 lainnya belum bernama. Memiliki sungai besar sebanyak 40 sungai dengan panjang antara 25-118 Kilometer. Wilayahnya membentang sepanjang 160 Km dari Utara di Pulau Palue sampai Selatan di Pulau Ndana dan sepanjang 400 Km dari bagian barat di Pulau Komodo sampai Alor di bagian Timur.

B

A

B

2

(34)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-2 Batas-batas wilayah yaitu:

a. Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Negara Republic Democratic Timor Leste c. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores

d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia/Lautan Indonesia dan Australia

2.3 Kondisi Klimatologi

Iklim dipengaruhi geografis wilayah yang letaknya di antara benua Asia dan Australia serta antara samudra Hindia dan Pasifik. Secara umum beriklim tropis, dengan variasi suhu dan penyinaran matahari efektif rata-rata 8 jam per hari.

Musim hujan berlangsung antara bulan November hingga Maret dan musim kemarau antara bulan April hingga Oktober. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar 850 mm terjadi di Sabu, Maumere, dan Waingapu, sementara curah hujan tahunan kisaran 2500 mm terjadi di Ruteng, Kuwus, Mano, Pagal dan Lelogama.

Fenomena iklim global (El Nino dan La Nina) juga mempengaruhi kondisi iklim secara umum wilayah. Pada saat terjadinya fenomena El Nino (1997/1998;2002/2003;2009/2010), awal musim hujan umumnya mundur 1-3 dasarian, periode musim hujan semakin pendek dan sifat hujan umumnya dibawah normal sehingga berdampak pada kekeringan. Sebaliknya saat La Nina (1998/1999;2010/2012), awal musim hujan umumnya maju 1-3 dasarian, periode musim hujan semakin panjang dan sifat hujan diatas normal dan berpotensi menyebabkan banjir.

Berdasarkan analisis data series iklim (suhu udara dan curah hujan) selama 30 tahun (1983-2012), suhu udara rata-rata bulanan mengalami kecenderungan peningkatan 0.20C–0.40C dan curah hujan bulanan mengalami peningkatan sebesar 25-100 mm. Sementara itu awal terjadinya musim hujan cenderung mundur 1 s/d 3 dasarian dari normalnya. Periode musim hujan semakin pendek sebaliknya periode musim kemarau semakin panjang. Perkiraan awal musim hujan (AMH) dan musim hujan (MH) hasil kajian iklim NTT dan pemodelan iklim, SPARC project UNDP sebagaimana gambar 2.1.

(35)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-3 Gambar 2.1

Perkiraan perubahan pola hujan dan curah hujan di NTT

Kondisi iklim demikian mendeterminasi pola pertanian tradisional yang hanya mengusahakan tanaman semusim yang ditanam dalam periode musim hujan. Persoalan curah hujan dan pengaruh iklim global, terutama fenomena El Nino dan La Nina serta fenomena perubahan iklim global yang kurang menguntungkan berakibat pada kekeringan, gagal tanam, gagal panen, banjir dan gangguan hama dan penyakit tanaman yang serius.

2.3.1 Tipe

Konfigurasi Geografis NTT sebagai provinsi Kepulauan dan letaknya posisi silang di antara dua benua Asia dan Australia dan diantara dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik, menetukan karakteristik iklim di wilayah ini. Wilayah provinsi NTT secara umum termasuk ke dalam tipe iklim tropis dengan variasi Suhu dan Penyinaran Matahari yang rendah rata-rata suhu minimum dan maksimum masing-masing 240C dan 320C dengan panjang hari ±12 jam. Pola umum iklim wilayah ini adalah pola musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung antara bulan November sampai Maret dan musim kemarau antara bulan April dan Oktober. Pola iklim demikian dikendalikan oleh pola angin Moonsoon dari Tenggara yang relatif kering dan dari arah Barat Laut yang membawa banyak uap air.

Konfigurasi kepulauan dan topografi wilayah juga merupakan pengendali iklim lokal yang berpengaruh terhadap karakteristik iklim lokal. Akibatnya

(36)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-4 keragaman iklim antar wilayah didaerah ini juga sangat besar. Dari aspek curah hujan rata-rata curah hujan tahunan bervariasi antara 850 mm di daerah-daerah seperti Sabu, Maumere dan Waingapu sehingga lebih dari 2500 mm di Ruteng, Kuwus dan Lelogama.

2.3.2 Kelembaban

Secara umum, iklim wilayah NTT termasuk ke dalam kategori iklim semi-arid, dengan periode hujan yang hanya berlangsung 3-4 bulan dan periode kering 8-9 bulan. Kondisi iklim demikian mendeterminasi pola pertanian tradisional NTT yang hanya mengusahakan tanaman semusim , yang ditanam dalam periode musim hujan. Keadaan demikian juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja pertanian yang tergolong sangat rendah (jumlah jam kerja <5 jam/minggu), akibat dari waktu kerja bertani yang hanya berlangsung 3-4 bulan dalam setahun.

Persoalan curah hujan di NTT juga diperparah oleh pengaruh iklim global, terutama fenomena El Nino dan La Nina serta fenomena perubahan iklim global yang kurang menguntungkan. Dampak dari pengaruh iklim global dimaksud antara lain adalah waktu on set dan off set musim hujan yang suliy diprediksi dan fenomena kondisi musim kemarau dan musim hujan yang ekstrim. Akibatnya adalah antara lain: kekeringan, gagal tanam, gagal panen, banjir dan gangguan hama dan penyakit tanaman yang serius.

Kelembaban nisbi terendah terjadi pada Musim Timur Tenggara (63- 76%) yaitu bulan Juni sampai November dan kelembaban tertinggi pada Musim Barat Daya (82-88%) yaitu bulan Desember sampai bulan Mei.

Curah hujan tertinggi di wilayah Flores bagian barat, Sumba bagian barat dan Timor bagian tengah (2000-3000mm/thn).

Kecepatan angin rata-rata pada Bulan November sampai April 03-05 Knot dan angin Musim Timur Tenggara terjadi pada bulan Mei sampai dengan Oktober dengan kecepatan dapat mencapai 06-10 Knot (apabila ditunjang angin permukaan).

2.4 Kondisi Hidrologi

2.4.1 Daerah Aliran Sungai

Gambaran kondisi Hidrologi wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat dilihat dari potensi air permukaan dan air tanah. Secara umum, potensi hidrologi di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur terutama air permukaan tergolong kecil.

(37)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-5 Kondisi ini mengakibatkan sulitnya eksploitasi sumber air permukaan untuk kepentingan pembangunan. Daerah Aliran Sungai (DAS) dibentuk dari beberapa sungai dan Danau. Diwilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat 27 DAS dengan luas keseluruhan 1.527.900 Ha. Sungai yang terpanjang di wilyah Nusa Tenggara Timur adalah Sungai Benenai (100 Km) yang mencakup Kabupaten TTS, TTU dan Belu dengan DAS seluas: 4500 Km di Kabupaten Belu. DAS terluas adalah DAS Benenai yaitu 329.841 Ha.

Tabel 2.1

Keputusan Presiden 12 tahun 2012 tentang penetapan wilayah sungai (WS)

NO. WS NTT DAS

1. WS Flores 472

2. WS Flotim Kepulauan-Lembata-Alor 439

3. WS Benanain 45

4. WS Noelmina 186

5. WS Sumba 130

Total 1272

Sumber : Keppres 12 Tahun 2012

2.4.2 Debit

Curah hujan rata-rata di NTT adalah 1.200 mm, dengan baseflow andalan dari 194 sungai 122,50 m3/det setara dengan 3,863 Milyar m3/tahun. Dengan demikian kebutuhan air di NTT: penduduk=4,6 Juta x 1200= 5,520 Milyar setara dengan 175,038 m3/det dan itu berarti NTT mengalami devisit air= 175,038 – 122,5 = 52,538 m3/det setara dengan 1,657 Milyar m3/tahun.

2.5 Kondisi Topografi

Ketinggian wilayah 0- 1.000 Mdpl seluas 86,35% dan ketinggian >1.000 Mdpl seluas 3,65%. Topografi dominan berbukit hingga bergunung-gunung dengan kemiringan >40%. Wilayah dengan kemiringan <8% terbatas dan sebagian besar kemiringan lahan 8-40% sehingga tingkat erosi tinggi. Topografi Desa/Kelurahan yaitu 5,46 % berada di wilayah puncak, 41,23 % di wilayah lereng, 10,69 % di wilayah lembah dan 42,62 % berada pada wilayah datar. Sebagian besar tanah di wilayah ini memiliki solum yang sangat dangkal (<30 Cm).

Geologi wilayah termasuk dalam kawasan circum-pasific dengan dua karakteristik yaitu; Pulau-pulau seperti Pulau Flores, Alor, Komodo, Solor, Lembata

(38)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-6 dan pulau sekitarnya terbentuk secara vulkanik dan sering terjadi patahan dan pulau Sumba, Sabu, Rote, Semau, Timor dan pulau sekitarnya terbentuk dari dasar laut yang terangkat ke permukaan. Memiliki 11 gunung berapi aktif (vulkanik) dengan ketinggian antara 600–2.200 Mdpl, tersebar dari pulau Flores hingga Lembata. Semuanya pernah terjadi erupsi tahun 1881–2012 dan saat ini sedang aktif Gunung Egon di Kabupaten Sikka. Pulau pada jalur vulkanik tanahnya subur dan kaya potensi tambang namun labil. Deposit tambang yang menonjol yaitu Pasir, Besi(Fe), Mangan(Mn), Emas(AU), Flourspor(Fs), Bari(Ba), Belerang(S), posfat(Po), Zeolit(Z), Batu Permata(Gs), Pasir Kwarsa (Ps), Pasir(Ps), Gipsum(Ch), Batu Marmer(Mr), Batu Gamping, Granit (Gr), Andesit (An), Balsistis, Pasir Batu(Pa), Batu Apung (Pu), Tanah Diatomea (Td) Lempung/clay (Td).

Untuk keseimbangan lingkungan terdapat Kawasan Lindung seluas 652.916 Ha yang terbagi dalam beberapa jenis kawasan yaitu Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya 170.461 Ha, Kawasan Taman Buru seluas 4.498 Ha, Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah, Kawasan Pengungsian Satwa dan Kawasan Koridor Jenis Satwa/Biota Laut yang dilindungi. Kawasan perlindungan terdiri atas Kawasan sempadan pantai seluas 56.274 Ha, kawasan sempadan sungai seluas 181.837 Ha dan kawasan sekitar danau seluas 28.944 Ha.

Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya terdiri atas: Kawasan suaka alam laut; Laut Sawu dan Laut Flores; Kawasan suaka margasatwa seluas 12.322 Ha, Kawasan cagar alam seluas 47.253 Ha, Kawasan pantai berhutan bakau seluas 10.073 Ha, Kawasan taman nasional seluas 151.483 Ha; Kawasan taman nasional laut Komodo dan Kawasan Taman Nasional Laut Selat Pantar, Kawasan taman hutan raya Prof Ir. Herman Yohannes, Kawasan taman wisata alam seluas 55.537 Ha, Kawasan taman wisata alam laut dan Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.

Kawasan budi daya terdiri atas: kawasan hutan produksil, kawasan hutan rakyat, kawasan pertanian, kawasan perikanan, kawasan pertambangan, kawasan industri, kawasan pariwisata dan kawasan peruntukan permukiman. Kawasan peruntukan hutan seluas 258.845 Ha, Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas seluas 206.747 Ha dan Kawasan peruntukan hutan produksi seluas 103.889 Ha.

2.6 Kondisi Demografi

Secara umum, tren yang terbaca pada tabel dibawah ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk antara laki-laki dan perempuan hampir sama yakni 2,4 juta jiwa pada 2 tahun berturut-turut yakni tahun 2012 dan 2013. Sedangkan khusus pada tahun 2014, terjadi perbedaan tren bahwa jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dimana jumlah penduduk perempuan lebih besar atau 2.540.980 jiwa dari jumlah penduduk laki-laki atau 2.495.917 jiwa.

(39)

P R O F I L D A E R A H N T T 2 0 1 4 Bab 2-7 Jumlah penduduk Nusa Tenggara Timur dari tahun 2012 sampai dengan 2014 mengalami peningkatan yaitu 4.871.227 jiwa tahun 2012, 4.953.967 jiwa tahun 2013, dan tahun 2014 meningkat menjadi 5.036.897 jiwa, dengan kontribusi terbesar adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan dan yang terendah adalah Kabupaten Sumba Tengah diikuti oleh Kabupaten Belu.

Tabel 2.2

Jumlah penduduk per Kabupaten/Kota Tahun 2012-2014

L P TOTAL L P TOTAL L P TOTAL

Kab. Kupang 163,76 4 156,131 319,895 168,316 160,372 3 28,688 173,5 96 164,819 338,415 Timor Te ngah Selatan 220,78 9 227,904 448,693 222,490 229,432 4 51,922 225,0 95 231,057 456,152 Timor Te ngah Utara 117,16 4 119,539 236,703 118,596 120,907 2 39,503 119,8 14 122,268 242,082

Belu 98,30 5 98,025 196,330 100,095 99,895 1 99,990 101,7 12 101,572 203,284

Rote Ndao 67,16 3 64,304 131,467 70,080 67,102 1 37,182 72,4 11 69,695 142,106

Sabu Raijua 40,20 2 38,390 78,592 41,407 39,490 80,897 42,7 01 40,800 83,501

Kota Kupang 183,37 4 175,008 358,382 187,869 180,330 3 68,199 194,6 06 185,478 380,084 Sumba Timur 122,22 0 114,274 236,494 124,115 116,075 2 40,190 124,8 83 118,126 243,009 Sumba Barat 59,69 5 55,977 115,672 60,816 56,971 1 17,787 62,0 34 57,873 119,907 Sumba Barat Daya 153,91 8 145,616 299,534 157,306 148,889 3 06,195 160,5 20 151,990 312,510

Sumba Tengah 33,47 8 31,592 65,070 34,210 32,104 66,314 34,8 06 32,587 67,393

Manggarai 149,22 0 155,221 304,441 151,711 157,903 3 09,614 154,0 95 160,396 314,491 Manggarai Timur 129,52 2 132,255 261,777 130,807 134,172 2 64,979 132,1 86 136,232 268,418 Manggarai Barat 116,51 0 118,301 234,811 119,678 121,227 2 40,905 121,5 96 124,221 245,817 Flores Timur 114,41 7 124,897 239,314 115,503 126,087 2 41,590 116,7 75 127,710 244,485

Lembata 58,12 6 65,851 123,977 59,405 67,299 1 26,704 60,6 79 68,803 129,482

Sikka 144,72 3 161,708 306,431 145,997 163,011 3 09,008 147,0 89 164,322 311,411

Nagekeo 65,40 1 69,026 134,427 66,170 70,031 1 36,201 67,0 04 70,915 137,919

Ngada 72,38 3 75,508 147,891 73,517 76,669 1 50,186 74,6 18 77,901 152,519

Ende 125,83 1 139,473 265,304 126,502 140,407 2 66,909 127,0 76 141,238 268,314

Alor 95,12 9 99,590 194,719 96,007 100,606 1 96,613 96,7 28 101,472 198,200

NUSA TENG GARA TIMUR 2,414,29 5 2,456,932 4,871,227 2,455,068 2,498,899 4,9 53,967 2,495,9 17 2,540,980 5,036,897

KAB/KOTA 2012 2013 2014

Sumber: Hasil survey BPS, 2014

Gambar

Tabel 2.1   Keputusan Presiden 12 tahun 2012 tentang penetapan
Tabel  dibawah  menunjukkan  secara  detail  presentasi  jumlah  penduduk  per  Kabupaten/Kota  pada  masing-masing  cakupan  wilayahnya  dari  Desa,  Kelurahan,  Kecamatan dan Kabupaten/Kota, kondisi Tahun 2014
Tabel 4.12  Kondisi Kemiskinan NTT

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, variabel ukuran perusahaan yang dimoderasi oleh PMK 191/2015 (Size atau x2 _ M Rev) mempunyai nilai signifikan yang lebih besar dari

Apabila kita tertarik untuk melakukan pembelian barang atau melakukan transaksi secara angsuran tentu saja harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh masing- masing

Jadi, berdasarkan uraian di atas, penelitian ini merupakan penelitian yang datanya berupa kata-kata atau ujaran seperti apa adanya dari penutur untuk menjaring medan makna verba

Sistem Hukum Eropa Continental dan Anglo Saxon (Struktur) Eropa Continental Anglo Saxon • Mengenal pembidangan hukum publik. (HTN dan HAN) dan private (Perdata, dagang, Acara Perdata)

Sehubungan dengan ketentuan Pasal 55 ayat (2) yang memungkinkan terjadinya perbedaan penafsiran mengenai penjelasan Undang-Undang menyatakan bahwa yang dimaksud

Untuk menunjang ujian praktik mengajar tersebut praktikan mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah melalui tahap pembimbingan dengan guru pamong

dikarenakan meningkatnya modal usaha sehingga para mustahik dapat meningkatkan produksi yang berdampak pada peningkatkan penghasilan. Adapun Peningkatan labasetidaknya

Saat saya sakit, orang tua selalu menyalahkan saya karena terlalu sering mengikuti kegiatan Mudika.. Orang tua saya sering bertanya kepada saya tentang kegiatan yang sedang