• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Tahapan Pengembangan Tes Pilihan Ganda Dua Tingkat (Two Tier Multiple Choice) untuk Mendeteksi Miskonsepsi Siswa pada Konsep Bahasan Sistem Regulasi Manusia

Tes diagnostik merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa (Arikunto, 2011: 47). Tes diagnostik yang dikembangkan adalah tes pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice). Pada tes ini terdiri atas dua pilihan jawaban yang benar. Tingkat pertama berisi tentang pertanyaan mengenai konsep yang diujikan sedangkan tingkat kedua berisi alasan untuk setiap jawaban pada pertanyaan di tingkat pertama sebagai bentuk tes diagnosa. Dengan menggunakan instrumen ini kemungkinan siswa menebak jawaban benar dapat diperkecil menjadi 4%

(Tuysuz, 2009 dalam Septiana dkk, 2014).

Peneliti memanfaatkan tes pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) untuk mendeteksi pemahaman konsep siswa terhadap materi pembelajaran. Alasan dikembangkannya tes pilihan ganda dua tingkat adalah untuk mengetahui lebih jauh pemahaman konsep siswa, hal ini ditandai dengan adanya jawaban berupa alasan mengapa siswa memilih jawaban yang tertera pada tingkat pertama. Berbeda halnya dengan pilihan ganda biasa yang hanya dapat menilai konten pengetahuan tanpa mempertimbangkan alasan dibalik pilihan tersebut.

Pengembangan tes pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) untuk mendeteksi miskonsepsi siswa pada pokok bahasan sistem regulasi manusia memiliki proses yang cukup panjang. Berikut ini hasil penelitian yang dilakukan dalam pengembangan tes soal-soal pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice):

1. Mendefinisikan Konten

Tahap awal dalam pengembangan tes pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) yaitu memilih pokok bahasan pembelajaran yang akan diteliti.

Dalam pengembangan ini, peneliti memilih pokok bahasan sistem regulasi manusia sebagai pokok bahasan yang akan diteliti. Alasannya adalah sebagian besar siswa SMA merasa sulit memahami pokok bahasan sistem regulasi manusia, dikarenakan banyaknya materi pada pokok bahasan sistem regulasi manusia.

Pokok bahasan dikembangkan menjadi peta konsep dan analisis konsep.

Pembuatan peta konsep untuk mengetahui subkonsep yang diajarkan berdasarkan

(2)

standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Menurut Nurhasanah (2014: 63) peta konsep menentukan subkonsep apa yang harus dibuat analisis konsepnya. Apabila dalam mendefinisikan subkonsep kurang tepat, maka miskonsepsi dapat terjadi. Oleh karena itu, peneliti mendefinisikan subkonsep pokok bahasan sistem regulasi manusia dengan menggunakan kamus Biologi dan beberapa sumber buku Biologi seperti Campbel.

2. Memperoleh Informasi tentang Miskonsepsi

Memperoleh informasi tentang miskonsepsi dilakukan peneliti dengan mengkaji literatur dan melakukan wawancara terhadap beberapa guru dan beberapa siswa disekolah. Dalam mengkaji literatur, peneliti menggunakan beberapa literatur nasional dan beberapa literatur internasioanal yang berkaitan dengan tema pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) yang dapat mendeteksi miskonsepsi siswa.

Wawancara dilakukan terhadap beberapa guru Biologi dan siswa SMA kelas XII IPA yang menyatakan bahwa materi sistem regulasi cukup sulit dipahami, sehingga pada saat diadakan evaluasi siswa banyak mengalami miskonsepsi terutama pada bagian sistem saraf, hormon dan kelenjar.

David Hammer, 1996 (dalam Tayubi, 2005) mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu konsepsi atau struktur kognitif yang melekat dengan kuat dan stabil dibenak siswa yang sebenarnya menyimpang dari konsepsi yang dikemukakan para ahli, yang dapat menyesatkan para siswa dalam memahami fenomena alamiah dan melakukan eksplanasi ilmiah.

Metode yang dilakukan peneliti untuk mendeteksi miskonsepsi dengan menggunakan Matriks Analisis Konsep (MAK) dan CRI (Certainty of Response Index). MAK bersumber dari pengembangan analisis konsep yang selanjutnya dikembangkan menjadi rancangan soal dengan ketentuan tiap jawaban diberi makna diantaranya miskonsepsi, paham konsep, dan tidak paham konsep. Sedangkan CRI merupakan teknik untuk mengidentifikasi miskonsepsi seseorang dengan cara mengukur tingkat keyakinan atau kepastian seseorang dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.

3. Mengembangkan Tes Soal-Soal Pilihan Ganda Dua Tingkat

Tes soal-soal pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) yang dikembangkan oleh peneliti meliputi: membuat kisi-kisi soal, membuat soal, validasi ahli, revisi, validasi empiris, hingga dihasilkan produk soal.

(3)

a. Membuat Kisi-Kisi Soal

Pembuatan kisi-kisi soal bertujuan agar soal yang dibuat tidak menyimpang dari materi yang disajikan. Menurut Arifin (2013: 93) kisi-kisi soal adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untuk berbagi topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu. Kisi-kisi soal berfungsi sebagai pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi perangkat tes.

Kisi-kisi soal yang dikembangkan oleh peneliti terdiri atas beberapa indikator dalam satu KD (Kompetensi Dasar). Indikator yang dibuat mengacu kepada KD untuk mendeteksi miskonsepsi yang terjadi pada siswa.

b. Membuat Soal

Pembuatan soal dikembangkan dari kisi-kisi soal yang telah dibuat sebelumnya. Pembuatan soal adalah penjabaran indikator menjadi pertanyaan- pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Hal ini sesuai dengan pendapat Arifin (2013: 101) yang menyatakan bahwa penulisan soal adalah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan terfokus serta menggunakan bahasa yang efektif, baik bentuk pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Kualitas butir soal akan menentukan kualitas tes secara keseluruhan.

c. Validasi Ahli

Validitas ahli dilakukan untuk mengetahui kualitas soal yang akan dikembangkan secara konten, konstruksi, dan bahasa. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan validasi ahli kepada dua dosen yang ahli dalam konten, konstruksi, dan bahasa. Untuk validasi konten divalidasi oleh Ibu Eka Fitriah M.Pd, validasi bahasa divalidasi oleh Ibu Dra.St.Atikah B dan validasi konstruksi divalidasi oleh Bapak Ipin Aripin, M.Pd.

d. Validitas Empiris

Validitas empiris dilakukan untuk mengetahui kualitas soal yang dikembangkan melalui kriteria validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda, tingkat pengecoh (distractor), faktor tebakan, bias tes dan ketidakwajaran skor. Validitas empiris ini dilakukan setelah soal yang dibuat divalidasi oleh ahli konten, konstruksi, dan bahasa. Validitas empiris dilakukan

(4)

dari tiga kali pengembangan soal yaitu uji coba terbatas, uji coba lapangan 1, dan uji coba lapangan 2 sehingga diperoleh produk soal.

B. Analisis Validitas Logis Pengembangan Tes Soal-Soal Pilihan Ganda Dua Tingkat (Two Tier Multiple Choice) untuk Mendeteksi Miskonsepsi Siswa pada Konsep Bahasan Sistem Regulasi Manusia

Pengembangan soal-soal pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) untuk mendeteksi miskonsepsi siswa pada konsep bahasan sistem regulasi manusia yang dikembangkan oleh penulis dianalisis secara logis dan empiris. Penyusunan draf soal yang telah dibuat sebelum diberikan kepada siswa, dianalisis secara logis oleh para ahli agar soal yang akan dikembangkan benar-benar layak untuk diuji cobakan ke siswa.

Analisis logis ini merupakan hasil penelaahan para ahli dan penilaian terhadap draf soal yang dibuat penulis. Dalam penelitian ini, terdapat tiga para ahli yang menelaah dan menilai soal yang telah dibuat oleh penulis. yaitu Ibu Eka Fitriah, M.Pd sebagai ahli konten, Ibu Dra.St Atikah B sebagai ahli bahasa dan Bapak Ipin Aripin, M.Pd sebagai ahli konstruksi.

1. Ahli Konten

Tabel 4.1 Hasil Validasi Ahli Konten terhadap Instrumen Soal

No Kriteria Soal

Uji Kelayakan

Saran Perbaikan Layak Tidak

Layak 1 Materi soal sesuai indicator √

2 Materi yang ditanyakan

sesuai dengan kompetensi √ 3 Pilihan jawaban homogen

dan logis

Perbaiki pada beberapa option

panjang dan pendeknya 4 Hanya ada satu kunci

jawaban √

5 Pokok soal tidak memberi

petunjuk kunci jawaban √ 6 Panjang pilihan jawaban

relative sama √

7

Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan

“semua jawaban benar/

salah/ sejenisnya”

(5)

No Kriteria Soal

Uji Kelayakan

Saran Perbaikan Layak Tidak

Layak

8

Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia

Pada beberapa soal pemenggalan kata, awalan kata depan

tidak sesuai 9 Soal termasuk jenjang C1-

C6

Beberapa soal tidak sesuai dengan

jenjangnya 10

Pilihan jawaban tingkat kedua mendukung jawaban tingkat pertama

Berdasarkan tabel di atas, ahli konten berpendapat bahwa terdapat beberapa soal yang perlu penambahan kata atau penjelasan yang lebih rinci, diantaranya soal nomor 9, 44, 45, dan 46 pada draf soal A dan soal nomor 1, 3, 10, dan 42 pada draf soal B.

2. Ahli Konstruksi

Tabel 4.2 Hasil Validasi Ahli Kontruksi terhadap Instrumen Soal

No Kriteria Soal Nomor Soal yang Tidak

Sesuai dengan Kriteria 1 Pokok soal dirumuskan secara singkat, jelas

dan tegas

2 Soal yang dibuat berbentuk pernyataan yang diperlukan saja

3 Pokok soal tidak memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar

4

Pilihan jawaban yang berbentuk angka disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis waktunya

10 dan45 (A) 5 Pilihan jawaban yang dibuat memiliki

panjang yang relatif sama

6 Tampilan gambar, grafik, tabel, dan diagram berfungsi dengan jelas

7 Butiran soal yang dibuat tidak tergantung pada jawaban soal yang dibuat sebelumnya

Berdasarkan tabel di atas, ahli konstruksi berpendapat bahwa terdapat beberapa soal yang perlu dibenahi pada bagian tingkat pertama berupa pilihan jawaban yang berbentuk angka tidak tersusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka seperti soal yang tertera pada nomor 10 dan 45 draf soal A.

(6)

1. Ahli Bahasa

Tabel 4.3 Hasil Validasi Ahli Bahasa terhadap Instrumen Soal

No Kriteria Soal Nomor Soal yang Tidak

Sesuai dengan Kriteria 1 Soal yang dibuat sesuai dengan Kaidah

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 2 dan 4 (A) 2 Soal yang dibuat menggunakan bahasa yang

komunikatif sehingga mudah dimengerti 3 (A) 3 Soal yang dibuat tidak menggunakan bahasa

yang berlaku setempat 4

Pilihan jawaban tidak mengulang kata atua frase yang sama kecuali merupakan satu kesatuan pengertian

Berdasarkan tabel di atas, ahli bahasa berpendapat bahwa terdapat beberapa soal yang perlu dibenahi pada bagian tingkat pertama dan tingkat kedua berupa soal yang dibuat kurang sesuai dengan EYD seperti pada nomor 2 dan 4 draf soal B.

Selain itu terdapat pula soal yang dibuat tidak menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga kurang dimengerti seperti pada nomor 3 draf soal A.

Soal-soal yang telah divalidasi ahli dan terdapat kecacatan kemudian direvisi oleh penulis. Revisi yang dilakukan ini sesuai dengan arahan dan anjuran dari ahli konten, ahli konstruksi dan ahli bahasa. Berikut ini saran dan perbaikan yang dianjurkan dari para ahli:

Tabel 4.4 Saran Perbaikan Tim Ahli

No Aspek Saran Perbaikan

1 Konten Pokok soal yang dibuat harap diperjelas dan dipertegas 2 Konstruksi Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus berurutan

3 Bahasa Soal yang dibuat disesuaikan dengan EYD dan bahasa yang digunakan harus komunikatif

Berikut ini revisi yang dilakukan oleh penulis sesuai dengan saran perbaikan yang diberikan oleh ahli materi, ahli konstruksi, dan ahli bahasa.

(7)

Manakah dibawah ini peryataan yang benar mengenai karakteristik gerak refleks, yaitu ...

A. Gerak refleks merupakan gerak yang disadari B. Gerak refleks sama dengan gerak biasa

C. Gerak refleks berbeda dengan gerak biasa, karena gerak refleks tidak terjadi secara spontan

D. Gerak refleks berbeda dengan gerak biasa karena gerak refleks terjadi secara spontan

E. Gerak refleks sama dengan gerak biasa Alasanya adalah ...

1. Gerak refleks tidak diolah oleh otak terlebih dahulu 2. Gerak refleks diolah oleh otak terlebih dahulu 3. Gerak refleks, gerak yang dilakukan dengan sadar 4. Gerak refleks mekanismenya sama dengan gerak biasa 5. Gerak refleks tidak diolah disumsum tulang belakang

Soal nomor 9 bermaterikan tentang karakteristik gerak refleks. Soal yang dibuat penulis ini terdapat kata yang tidak sesuai dengan EYD yaitu kata Dibawah.

Menurut ahli bahasa seharusnya kata tersebut dipisah menjadi kata Di bawah.

Penulis merubah soal nomor 2 menjadi:

Manakah di bawah ini peryataan yang benar mengenai karakteristik gerak refleks, yaitu ...

A. Gerak refleks merupakan gerak yang disadari B. Gerak refleks sama dengan gerak biasa

C. Gerak refleks berbeda dengan gerak biasa, karena gerak refleks tidak terjadi secara spontan

D. Gerak refleks berbeda dengan gerak biasa karena gerak refleks terjadi secara spontan

E. Gerak refleks sama dengan gerak biasa Alasanya adalah ...

1. Gerak refleks tidak diolah oleh otak terlebih dahulu 2. Gerak refleks diolah oleh otak terlebih dahulu 3. Gerak refleks, gerak yang dilakukan dengan sadar 4. Gerak refleks mekanismenya sama dengan gerak biasa 5. Gerak refleks tidak diolah disumsum tulang belakang

Soal nomor 44 bermaterikan tentang ciri-ciri otak. Berikut ini pernyataan dalam soal nomor 44:

Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini!

1. Otak berfungsi sebagai pusat koordinasi dalam tubuh

2. Otak merupakan ujung anterior tabung neural yang membesar 3. Otak memberi alternatif jalan terpendek pada gerak refleks 4. Hanya otak yang diselubungi oleh selaput meninges 5. Otak berada didalam tulang tengkorak

Pernyataan diatas merupakan ciri-ciri dari otak yang benar ditunjukan pada nomor ...

A. 1, 2 dan 3 B. 1, 2 dan 4

(8)

C. 2, 3 dan 5 D. 3 dan 4 E. 1, 2 dan 5

Alasannya adalah ...

1. Otak bukan merupakan sistem utama dalam tubuh manusia 2. Otak merupakan sistem utama dalam tubuh manusia 3. Otak merupakan alat tambahan dalam tubuh manusia 4. Otak merupakan sistem alternatif pada gerak refleks 5. Otak merupakan sistem alternatif pada tubuh manusia

Soal nomor 44 yang dibuat oleh penulis disarankan oleh ahli konstruksi agar pada jawaban soal, opsion pilihan disamakan menjadi 3 option. Sehingga soal nomor 44 diubah menjadi:

Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini!

1. Otak berfungsi sebagai pusat koordinasi dalam tubuh

2. Otak merupakan ujung anterior tabung neural yang membesar 3. Otak memberi alternatif jalan terpendek pada gerak refleks 4. Hanya otak yang diselubungi oleh selaput meninges 5. Otak berada didalam tulang tengkorak

Pernyataan diatas merupakan ciri-ciri dari otak yang benar ditunjukan pada nomor ...

A. 1, 2 dan 3 B. 1, 2 dan 4 C. 2, 3 dan 5 D. 2, 3 dan 4 E. 1, 2 dan 5

Alasannya adalah ...

1. Otak bukan merupakan sistem utama dalam tubuh manusia 2. Otak merupakan sistem utama dalam tubuh manusia 3. Otak merupakan alat tambahan dalam tubuh manusia 4. Otak merupakan sistem alternatif pada gerak refleks 5. Otak merupakan sistem alternatif pada tubuh manusia

Soal nomor 45 bermaterikan tentang contoh gerak refleks. Berikut ini pernyataan dalam soal nomor 45:

Contoh gerak refleks dalam kehidupan sehari-hari ditunjukan oleh nomor ...

1. Lutut menendang ketika dipukul dengan palu 2. Berjalan menghampiri tempat tujuan

3. Tangan mengakat ketika menyentuh benda tajam 4. Otak berfikir mengerjakan soal

5. Mata menyipit ketika melihat cahaya A. 1, 2 dan 3

B. 2, 3 dan 4 C. 2 dan 3 D. 1, 3 dan 5 E. 2 dan 4

(9)

Alasannya adalah ...

1. Gerakan yang dilakukan dengan sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsangan

2. Gerakan yang dilakukan dengan sadar dan merupakan respon lambat setelah adanya rangsangan

3. Gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsangan

4. Gerakan yang tidak dilakukan dengan tidak sadar dan merupakan respon setelah adnya rangsangan

5. Gerakan yang tidak dilakukan dengan sadar dan merupakan respon lambat setelah adanya rangsangan

Soal nomor 45 yang dibuat oleh penulis disarankan oleh ahli bahasa agar pada option tingkat pertama disamakan menjadi 3 option Sehingga soal nomor 45 diubah menjadi:

Contoh gerak refleks dalam kehidupan sehari-hari ditunjukan oleh nomor ...

1. Lutut menendang ketika dipukul dengan palu 2. Berjalan menghampiri tempat tujuan

3. Tangan mengakat ketika menyentuh benda tajam 4. Otak berfikir mengerjakan soal

5. Mata menyipit ketika melihat cahaya A. 1, 2 dan 3

B. 2, 3 dan 4 C. 1, 3 dan 4 D. 1, 3 dan 5 E. 2, 3 dan 5

Alasannya adalah ...

1. Gerakan yang dilakukan dengan sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsangan

2. Gerakan yang dilakukan dengan sadar dan merupakan respon lambat setelah adanya rangsangan

3. Gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsangan

4. Gerakan yang tidak dilakukan dengan tidak sadar dan merupakan respon setelah adnya rangsangan

5. Gerakan yang tidak dilakukan dengan sadar dan merupakan respon lambat setelah adanya rangsangan

Soal nomor 46 bermaterikan tentang perbedaan saraf somatic dan saraf otonom. Berikut ini pernyataan dalam soal nomor 46:

Perhatikan tabel berikut ini!

No Saraf Otonom Saraf Somatik

1. Bekerja tanpa kesadaran Bekerja di bawah kesadaran 2. Mengatur gerakan tubuh Mengontrol kerja organ dalam 3. Merupakan saraf visceral Merupakan saraf eferen

(10)

somantik 4. Diperintah oleh sistem

saraf pusat

Tanpa diperntah oleh sistem saraf pusat

Berdasarkan tabel tersebut, perbedaan antara saraf somatik dan saraf otonom yang benar adalah ...

A. 1 dan 2 B. 1 dan 3 C. 1 dan 4 D. 2 dan 4 E. 3 dan 2

Alasannya adalah ...

1. Saraf otonom bekerja secara antagonis dengan saraf somantik 2. Saraf otonom bekerja secara protagonis dengan saraf somantik 3. Saraf otonom tidak mempengaruhi keja saraf somantik

4. Saraf otonom berpusat pada saraf pusat 5. Saraf otonom berpusat pada saraf tepi

Soal nomor 46 bermaterikan tentang struktur ginjal. Menurut ahli konstruksi pada pilihan jawaban tingkat pertama harus berurutan mulai dari angka terkecil sampai angka terbesar. Sehingga penulis kemudian mengurutkan angka dalam pernyataan soal. Berikut ini perubahan pada soal nomor 46:

Perhatikan tabel berikut ini!

No Saraf Otonom Saraf Somatik

1. Bekerja tanpa kesadaran Bekerja di bawah kesadaran 2. Mengatur gerakan tubuh Mengontrol kerja organ dalam 3. Merupakan saraf visceral Merupakan saraf eferen

somantik 4. Diperintah oleh sistem

saraf pusat

Tanpa diperntah oleh sistem saraf pusat

Berdasarkan tabel tersebut, perbedaan antara saraf somatik dan saraf otonom yang benar adalah ...

A. 1 dan 2 B. 1 dan 3 C. 1 dan 4 D. 2 dan 4 E. 2 dan 3

Alasannya adalah ...

1. Saraf otonom bekerja secara antagonis dengan saraf somantik 2. Saraf otonom bekerja secara protagonis dengan saraf somantik 3. Saraf otonom tidak mempengaruhi keja saraf somantik

4. Saraf otonom berpusat pada saraf pusat 5. Saraf otonom berpusat pada saraf tepi

Revisi yang sama dilakukan terhadap soal nomor 1 yang bermaterikan tentang system regulasi manusia. Berikut ini pernyataan soal nomor 1 paket B:

Perhatikan pernyataan dibawah ini!

(11)

1. Mekanisme gerak refleks pada manusia 2. Proses melihat oleh mata

3. Penyerapan makanan diusus 4. Proses peredaran darah manusia

5. Pengaturan hormon oksitosin untuk merangsang keluarnya air susu

Pernyataan diatas merupakan contoh nyata dari sistem regulasi manusia adalah ...

A. 1, 2 dan 3 B. 1, 2 dan 4 C. 1, 2 dan 5 D. 3 dan 4 E. 4 dan 5

Alasannya adalah ...

1. Sistem regulasi manusia dilakukan oleh sistem saraf, sistem endokrin dan sistem Regulasi

2. Sistem regulasi manusia dilakukan oleh sistem saraf, sistem pernafasan dan sistem indra

3. Sistem regulasi manusia dilakukan oleh sistem pencernaan, sistem pernafasan dan sistem indra

4. Sistem reguasi manusia dilakukan oleh sistem saraf, sistem endokrin dan sistem indra

5. Sistem regulasi manusia bukan dilakukan oleh sistem saraf, sisrem endokrin dan sistem indra

Menurut ahli bahasai soal yang dibuat penulis ini terdapat kata yang tidak sesuai dengan EYD yaitu kata Dibawah. Menurut ahli bahasa seharusnya kata tersebut dipisah menjadi kata Di bawah dan option pilihan pada tingkat satu harus disamakan menjadi 3 option. Sehingga penulis kemudian mengurutkan huruf dalam pernyataan soal dan menambahkan option pada tingkat satu. Soal nomor 1 diubah menjadi:

Perhatikan pernyataan di bawah ini!

1. Mekanisme gerak refleks pada manusia 2. Proses melihat oleh mata

3. Penyerapan makanan diusus 4. Proses peredaran darah manusia

5. Pengaturan hormon oksitosin untuk merangsang keluarnya air susu

Pernyataan diatas merupakan contoh nyata dari sistem regulasi manusia adalah ...

A. 1, 2 dan 3 B. 1, 2 dan 4 C. 1, 2 dan 5 D. 2, 3 dan 4 E. 3, 4 dan 5

Alasannya adalah ...

1. Sistem regulasi manusia dilakukan oleh sistem saraf, sistem endokrin dan sistem Regulasi

2. Sistem regulasi manusia dilakukan oleh sistem saraf, sistem pernafasan dan sistem indra

3. Sistem regulasi manusia dilakukan oleh sistem pencernaan, sistem pernafasan

(12)

dan sistem indra

4. Sistem reguasi manusia dilakukan oleh sistem saraf, sistem endokrin dan sistem indra

5. Sistem regulasi manusia bukan dilakukan oleh sistem saraf, sisrem endokrin dan sistem indra

Soal nomor 3 bermaterikan tentang ciri yang bukan sistem saraf. Berikut ini pernyataan dalam soal nomor 3:

Perhatikan pernyataan dibawah!

1. Bekerjanya cepat 2. Bekerjanya lambat

3. Mengatur keseimbangan interval

4. Pengaturan dilakukan oleh benang-benang saraf 5. Berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan

Dari ciri-ciri diatas manakah pernyataan yang bukan mengenai sistem saraf ...

A. 1 dan 3 B. 1, 3 dan 4 C. 2, 3 dan 5 D. 2 dan 4 E. 1 dan 4

Alasannya adalah ...

1. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan neuron yang tidak berhubungan

2. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang saling terhubung

3. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang bukan terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang saling terhubung

4. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan neuron sensoris yang saling terhubung

5. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan neuron motoris yang saling terhubung

Menurut ahli bahasai soal yang dibuat penulis ini terdapat kata yang tidak sesuai dengan EYD yaitu kata Dibawah. Menurut ahli bahasa seharusnya kata tersebut dipisah menjadi kata Di bawah dan option pilihan pada tingkat satu harus disamakan menjadi 3 option. Sehingga penulis kemudian mengurutkan huruf dalam pernyataan soal dan menambahkan option pada tingkat satu. Soal nomor 3 diubah menjadi:

Perhatikan pernyataan di bawah!

1. Bekerjanya cepat 2. Bekerjanya lambat

3. Mengatur keseimbangan interval

4. Pengaturan dilakukan oleh benang-benang saraf 5. Berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan

Dari ciri-ciri diatas manakah pernyataan yang bukan mengenai sistem saraf ...

(13)

A. 1, 2 dan 3 B. 1, 3 dan 4 C. 2, 3 dan 5 D. 1, 2 dan 4 E. 1, 4 dan 5 Alasannya adalah ...

1. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan neuron yang tidak berhubungan

2. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang saling terhubung

3. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang bukan terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang saling terhubung

4. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan neuron sensoris yang saling terhubung

5. Sistem saraf adalah sistem organ pada manusia yang terdiri dari jutaan neuron motoris yang saling terhubung

Soal nomor 42 bermaterikan tentang kelainan yang terjadi pada kulit. Berikut ini pernyataan dalam soal nomor 42:

Berikut ini yang membedakan sistem saraf dan sistem hormon

No Sistem Hormon Sistem Saraf

1. Respon cepat Respon lambat

2. Dibawa melalui sirkulasi Signal-signal melalui neuron 3. Respon tidak langsung Respon langsung

4. Merupakan reseptor rangsangan dari luar

Berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan

Perbedaan yang benar ditunjukan pada nomor ...

A. 1, 2 dan 3 B. 1 dan 3 C. 1 dan 4 D. 2 dan 3 E. 2, 3 dan 4

Alasannya adalah ...

1. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostatis tubuh

2. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja bukan untuk mempertahankan homeostatis tubuh

3. Kedua sistem ini tidak saling berhubungan

4. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan metabolisme tubuh

5. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja bukan untuk mempertahankan metaboisme tubuh

Soal nomor 42 yang dibuat oleh penulis disarankan oleh ahli konten agar option pada tingkat pertama ditambahkan menjadi 3 option Sehingga soal nomor 42 diubah menjadi:

(14)

Berikut ini yang membedakan sistem saraf dan sistem hormon

No Sistem Hormon Sistem Saraf

1. Respon cepat Respon lambat

2. Dibawa melalui sirkulasi Signal-signal melalui neuron 3. Respon tidak langsung Respon langsung

4. Merupakan reseptor rangsangan dari luar

Berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan

Perbedaan yang benar ditunjukan pada nomor ...

A. 1, 2 dan 3 B. 1, 3 dan 4 C. 1, 2 dan 4 D. 2, 3 dan 4 E. 2, 3 dan 5

Alasannya adalah ...

1. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostatis tubuh

2. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja bukan untuk mempertahankan homeostatis tubuh

3. Kedua sistem ini tidak saling berhubungan

4. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan metabolisme tubuh

5. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja bukan untuk mempertahankan metaboisme tubuh

C. Analisis Validitas Empiris Pengembangan Tes Soal-Soal Pilihan Ganda Dua Tingkat (Two Tier Multiple Choice) untuk Mendeteksi Miskonsepsi Siswa pada Konsep Bahasan Sistem Regulasi Manusia

Validitas empiris bertujuan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan setiap soal yang digunakan (Arifin, 2013: 101-102). Sedangkan menurut Sugiyono (2010: 414) mengatakan validitas empiris dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi efektifitas suatu produk soal yang dikembangkan. Untuk mengetahui validitas empiris dari soal yang dibuat, peneliti mengembangkannya pada tiga sekolah SMA di Bekasi.

Soal-soal pilihan ganda dua tingkat (two tier multiple choice) yang telah direvisi menurut saran para ahli, kemudian diujicobakan. Dalam penelitian ini, uji coba yang dilakukan sebanyak tiga kali yaitu uji coba terbatas dan uji coba lapangan skala luas berupa uji coba lapangan 1 dan uji coba lapangan 2. Uji coba yang dilakukan ini bertujuan untuk memperoleh soal yang baik dilihat dari krietria validitas, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, distractor (tingkat pengecoh), faktor tebakan, bias tes, dan ketidakwajaran skor.

(15)

1. Uji Coba Terbatas

Uji coba terbatas dilakukan pada tanggal 20 Agustus 2016. Subjek dalam uji coba terbatas ini adalah siswa MAN 1 Kota Bekasi kelas XII IPA 2 yang berjumlah 40 siswa.

Uji coba yang dilakukan terdiri atas 100 soal yang terbagi ke dalam dua paket soal yaitu draf soal A terdiri atas 50 soal dan draf soal B terdiri atas 50 soal. Berikut ini komposisi soal uji coba terbatas pada draf soal A ditinjau dari segi materi dan jenjang kognitif:

Tabel 4.4 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Materi Draf Soal A Uji Coba Terbatas

No Label Konsep Jumlah % Jumlah

Soal Soal

1 Sistem Regulasi Manusia 1 2%

2 Sistem Saraf Manusia 4 8%

3 Sistem Saraf Pusat 2 4%

4 Sistem Saraf Tepi 4 8%

5 Neuron/Sel Saraf 5 10%

6 Otak 4 8%

7 Gerak Refleks 4 8%

8 Gerak Biasa 2 4%

9 Kelenjar Endokrin 6 12%

10 Hormon 6 12%

11 Telinga 3 6%

12 Hidung 2 4%

13 Mata 3 6%

14 Kulit 1 1%

15 Lidah 2 2%

16 Zat Psikoaktif 1 1%

Jumlah 50 100%

Berdasarkan tabel 4.4, draf soal A memiliki jumlah label yaitu 16 label konsep yang dijadikan untuk pembuatan soal dengan materi yang paling banyak tentang kelenjar endokrin dan hormon dengan presentase 12%. Sedangkan materi paling sedikit yaitu tentang sistem regulasi, kulit dan zat psikoaktif dengan presentase 1%.

Berdasarkan segi jenjang kognitif, soal yang dibuat terdiri atas C1, C2, C3, C4, C5, dan C6. Berikut ini tabel yang menjelaskan tentang komposisi soal berdasarkan jenjang kognitif:

(16)

Tabel 4.5 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Jenjang Kognitif Draf Soal A Uji Coba Terbatas

No Label Konsep Jumlah Jenjang % Jumlah Jenjang

C1 C2 C3 C4 C5 C6 C1 C2 C3 C4 C5 C6

1 Sistem Regulasi

Manusia 1 0 0 0 0 0 2% 0% 0% 0% 0% 0%

2 Sistem Saraf

Manusia 0 1 1 2 0 0 0% 2% 2% 4% 0% 0%

3 Sistem Saraf Pusat 0 0 0 2 0 0 0% 0% 0% 4% 0% 0%

4 Sistem Saraf Tepi 1 0 0 3 0 0 2% 0% 0% 6% 0% 0%

5 Neuron/Sel Saraf 0 2 1 2 0 0 0% 4% 2% 4% 0% 0%

6 Otak 0 1 1 2 0 0 0% 2% 2% 4% 0% 0%

7 Gerak Refleks 0 0 2 1 0 1 0% 0% 4% 2% 0% 2%

8 Gerak Biasa 0 0 0 1 0 0 0% 0% 0% 2% 0% 0%

9 Kelenjar Endokrin 1 1 0 1 0 0 2% 2% 0% 2% 0% 0%

10 Hormon 2 0 2 2 0 0 4% 0% 4% 4% 0% 0%

11 Telinga 0 0 1 2 0 0 0% 0% 2% 4% 0% 0%

12 Hidung 1 0 0 1 0 0 2% 0% 0% 2% 0% 0%

13 Mata 0 0 2 1 0 0 0% 0% 4% 2% 0% 0%

14 Kulit 1 0 0 0 0 0 2% 0% 0% 0% 0% 0%

15 Lidah 0 2 0 0 0 0 0% 4% 0% 0% 0% 0%

16 Zat Psikoaktif 0 0 1 0 0 1 0% 0% 2% 0% 0% 2%

Jumlah 7 7 11 20 0 2 14% 14% 22% 40% 0% 4%

Berdasarkan tabel 4.5, draf soal A memiliki 16 label konsep yang dikelompokkan ke dalam beberapa jenjang kognitif dari C1 – C6. Draf soal A memiliki jumlah jenjang C4 yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah jenjang C yang lainnya yaitu sebanyak 40% dengan jumlah 20 soal. Jenjang kognitif C4 dipilih paling banyak dikarenakan menurut para guru Biologi pada jenjang pengetahuan terkadang siswa sering keliru dalam memahami materi yang diajarkan. Jumlah jenjang yang paling sedikit ialah C5 sebanyak 0% dengan jumlah 0 soal. Untuk C1 berjumlah 7 soal dengan presentase 14%, C2 memiliki jumlah 7 soal dengan presentase 14%, C3 berjumlah 11 soal dengan presentase 22%, dan C6 berjumlah 2 soal dengan presentase 4%.

Draf soal B terdiri atas 50 soal. Berikut ini komposisi soal uji coba terbatas pada draf soal B ditinjau dari segi materi dan jenjang kognitif:

(17)

Tabel 4.7 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Materi Draf Soal B Uji Coba Terbatas

No Label Konsep Jumlah % Jumlah

Soal Soal

1 Sistem Regulasi Manusia 1 2%

2 Sistem Saraf Manusia 4 8%

3 Sistem Saraf Pusat 2 4%

4 Sistem Saraf Tepi 4 8%

5 Neuron/Sel Saraf 5 10%

6 Otak 4 8%

7 Gerak Refleks 4 8%

8 Gerak Biasa 2 4%

9 Kelenjar Endokrin 6 12%

10 Hormon 6 12%

11 Telinga 3 6%

12 Hidung 2 4%

13 Mata 3 6%

14 Kulit 1 1%

15 Lidah 2 2%

16 Zat Psikoaktif 1 1%

Jumlah 50 100%

Berdasarkan tabel 4.7, draf soal B memiliki jumlah label yang sama dengan draf soal A yaitu 16 label konsep yang dijadikan untuk pembuatan soal dengan materi yang paling banyak tentang kelenjar endokrin dan hormon dengan presentase 12%. Sedangkan materi paling sedikit yaitu tentang sistem regulasi, kulit dan zat psikoaktif dengan presentase 1%. Berdasarkan segi jenjang kognitif, soal yang dibuat terdiri atas C1, C2, C3, C4, C5, dan C6. Berikut ini tabel yang menjelaskan tentang komposisi soal berdasarkan jenjang kognitif:

Tabel 4.8 Komposisi Soal Ditinjau dari Segi Jenjang Kognitif Draf Soal B Uji Coba Terbatas

No Label Konsep Jumlah Jenjang % Jumlah Jenjang

C1 C2 C3 C4 C5 C6 C1 C2 C3 C4 C5 C6

1 Sistem Regulasi

Manusia 1 0 0 0 0 0 2% 0% 0% 0% 0% 0%

2 Sistem Saraf

Manusia 0 1 1 2 0 0 0% 2% 2% 4% 0% 0%

3 Sistem Saraf

Pusat 0 0 0 2 0 0 0% 0% 0% 4% 0% 0%

4 Sistem Saraf

Tepi 1 0 0 3 0 0 2% 0% 0% 6% 0% 0%

5 Neuron/Sel

Saraf 0 2 1 2 0 0 0% 4% 2% 4% 0% 0%

(18)

6 Otak 0 1 1 2 0 0 0% 2% 2% 4% 0% 0%

7 Gerak Refleks 0 0 2 1 0 1 0% 0% 4% 2% 0% 2%

8 Gerak Biasa 0 0 0 1 0 0 0% 0% 0% 2% 0% 0%

9 Kelenjar

Endokrin 1 1 0 1 0 0 2% 2% 0% 2% 0% 0%

10 Hormon 2 0 2 2 0 0 4% 0% 4% 4% 0% 0%

11 Telinga 0 0 1 2 0 0 0% 0% 2% 4% 0% 0%

12 Hidung 1 0 0 1 0 0 2% 0% 0% 2% 0% 0%

13 Mata 0 0 2 1 0 0 0% 0% 4% 2% 0% 0%

14 Kulit 1 0 0 0 0 0 2% 0% 0% 0% 0% 0%

15 Lidah 0 2 0 0 0 0 0% 4% 0% 0% 0% 0%

16 Zat Psikoaktif 0 0 1 0 0 1 0% 0% 2% 0% 0% 2%

Jumlah 7 7 11 20 0 2 14% 14% 22% 40% 0% 4%

Berdasarkan tabel 4.8, draf soal A memiliki 16 label konsep yang dikelompokkan ke dalam beberapa jenjang kognitif dari C1 – C6. Draf soal A memiliki jumlah jenjang C4 yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah jenjang C yang lainnya yaitu sebanyak 40% dengan jumlah 20 soal. Jenjang kognitif C4 dipilih paling banyak dikarenakan menurut para guru Biologi pada jenjang pengetahuan terkadang siswa sering keliru dalam memahami materi yang diajarkan. Jumlah jenjang yang paling sedikit ialah C5 sebanyak 0% dengan jumlah 0 soal. Untuk C1 berjumlah 7 soal dengan presentase 14%, C2 memiliki jumlah 7 soal dengan presentase 14%, C3 berjumlah 11 soal dengan presentase 22%, dan C6 berjumlah 2 soal dengan presentase 4%.

Apabila draf soal A dan soal B digabungkan, berdasarkan jumlah materi soal dapat dilihat komposisi soal uji coba terbatas melalui diagram dibawah ini:

Gambar 4.1 Komposisi Soal Berdasarkan Materi Soal Uji Coba Terbatas Berdasarkan diagram batang 4.1, soal yang dibuat seimbang antara draf soal A dengan draf soal B. Tujuannya soal yang dikembangkan dapat mudah mendeteksi

0%2%

4%6%

10%8%

12%14%

DrafSsoal A Draf Soal B

(19)

miskonsepsi ditinjau dari jumlah materi yang disajikan. Soal yang bermaterikan kelenjar endokrin dan hormon memiliki presentase paling banyak pada draf soal A dan draf soal B dibandingkan dengan soal yang lainnya. Sedangkan materi tentang sistem zat psikoaktif memiliki presentase yang paling rendah. Adapun draf soal A dan soal B berdasarkan jenjang kognitif dapat dilihat komposisi soal uji coba terbatas melalui diagram dibawah ini:

Gambar 4.2 Komposisi Soal Berdasarkan Materi Soal Uji Coba Terbatas Berdasarkan diagram batang 4.2, soal dengan jenjang kognitif C1 – C6 memiliki jumlah yang seimbang dengan tujuan soal yang dikembangkan dapat mudah mendeteksi miskonsepsi ditinjau dari segi jumlah jenjang dan jumlah materi yang disajikan. Soal dengan jenjang C4 memiliki presentase yang lebih tinggi dibandingkan jenjang yang lainnya, sedangkan jenjang C5 memiliki presentase yang sangat rendah.

Soal yang telah dibuat kemudian diujicobakan dalam lingkup uji coba terbatas.

Hasil uji coba terbatas ini, dianalisis secara manual dengan menggunakan microsoft excel dan softwere Anates untuk mengetahui karakteristik tiap butir soal meliputi validitas, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, tingkat pengecoh, faktor tebakan, bias tes, dan ketidakwajaran skor.

a. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto, 2013: 211). Hasil angka korelasi dari 50 soal draf A yang telah diujicobakan pada 20 subjek menghasilkan koefesien korelasi sebesar 0,67. Angka tersebut menunjukkan bahwa korelasi sangat tinggi. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Arikunto (2009 dalam

0%

10%

20%

30%

40%

50%

C1 C2 C3 C4 C5 C6

Draf Soal A Draf Soal B

(20)

Akbar, 2013: 101) yang menyatakan bahwa apabila koefesien korelasi berada pada rentang 0,600 sampai dengan 0,800 menunjukkan validitas tinggi.

Dengan demikian, tes layak untuk diujicobakan pada tahap selanjutnya.

Berbeda halnya dengan hasil angka korelasi dari 50 soal draf B yang telah diujicobakan pada 20 subjek menghasilkan koefesien korelasi sebesar 0,20. Angka tersebut menunjukkan bahwa korelasi cukup. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Arikunto (2009 dalam Akbar, 2013: 101) yang menyatakan bahwa apabila koefesien korelasi berada pada rentang Antara 0,200 sampai dengan 0,400 menunjukkan validitas rendah. Meskipun demikian, tes layak untuk dilanjutkan pada tahap uji coba selanjutnya.

Perbedaan validitas dari draf soal A dengan draf soal B dapat dilukiskan melalui diagram berikut ini:

Gambar 4.3 Validitas pada Uji Coba Terbatas

Berdasarkan diagram 4.3, validitas pada draf soal A memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan validitas pada draf soal B. Hal ini menunjukkan draf soal A memiliki validitas dengan tinggi, sedangkan draf soal B memiliki validitas yang rendah. Meskipun demikian, tes layak untuk dilanjuan pada tahap uji coba selanjutnya.

b. Reliabilitas

Reliabilitas berarti keandalan, keterpercayaan, atau keajekan kemampuan soal tes apabila digunakan untuk mengetes berkali-kali. Arikunto menyatakan bahwa tes dinyatakan punya tingkat reliabilitas tinggi apabila hasil tes tersebut tetap (Akbar, 2013: 101). Hasil tes dari draf soal A yang berjumlah 50 soal menghasilkan reliabilitas sebesar 0, 80. Angka tersebut menunjukkan bahwa tes yang dilakukan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Sukardi (2010: 43) yang menyatakan bahwa rentang

0 0,2 0,4 0,6 0,8

Validitas

Validitas pada Uji Coba Terbatas

soal A soal B

(21)

derajat korelasi antara 0,80 < r11 ≤ 1,00 termasuk kriteria reliabilitas tinggi.

Dengan demikian, tes layak untuk dilanjutkan pada uji coba selanjutnya.

Berbeda halnya dengan hasil tes draf soal B yang berjumlah 50 soal menghasilkan reliabilitas sebesar 0,30. Angka tersebut menunjukkan bahwa tes yang dilakukan memiliki reliabilitas yang sangat rendah. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Sukardi (2010: 43) yang menyatakan bahwa rentang derajat korelasi antara 0,20 < r11 ≤ 0,40termasuk kriteria reliabilitas rendah.

Dengan demikian, tes layak untuk dilanjutkan pada tahap uji coba selanjutnya.

Gambar 4.4 Reliabilitas pada Uji Coba Terbatas

Berdasarkan diagram 4.4, reliabilitas pada draf soal A memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan reliabilitas pada draf soal B. Hal ini menunjukkan draf soal A memiliki reliabilitas dengan kategori tinggi, sedangkan draf soal B memiliki reliabilitas yang rendah. Dengan demikian, apabila validitas tinggi maka reliabilitas akan tinggi pula sebaliknya apabila validitasnya rendah maka reliabitas yang dihasilkan akan rendah pula.

c. Tingkat Kesukaran

Soal dapat dikatakan baik, apabila memiliki tingkat kesukaran yang proposional. Artinya, suatu tes terdiri dari soal yang mudah, sedang, dan sukar dengan jumlah yang proporsional. Pernyataan tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Arifin (2013: 266) yang menyatakan bahwa jika suatu soal memiliki tingkat kesukaran yang seimbang (proporsional) maka dapat dikatakan bahwa soal tersebut baik.

Hasil tes draf soal A yang terdiri dari 50 soal dianalisis dengan cara menyusun hasil tes dalam peringkat. Kemudian diambil 27 % (5 lembar jawaban) dari kelompok atas dan kelompok bawah. Hasil analisis menggunakan softwere Exel. Dengan demikian, tingkat kesukaran pada draf soal A setelah direkapitulasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1

Reliabilitas

Reliabilitas pada Uji Coba Terbatas

soal A soal B

(22)

Tabel 4.9 Rekapitulasi Analisis Tingkat Kesukaran Draf Soal A Uji Coba Terbatas

Analisis Tingkat Kesukaran

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Sangat

Sukar 13 4, 6, 7, 8, 20, 27, 29, 37, 38, 39, 45, 48, 49

Sukar 16 5, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 24, 28, 30, 31, 34, 40, 41, 50 Sedang 18 1, 2, 9, 10, 11, 14, 22, 23, 25,

26, 32, 33, 35, 36, 42, 43, 46, 47 Mudah 3 3, 21, 44

Sangat

Mudah 0

Tabel 4.9 menyatakan bahwa terdapat ketidakseimbangan antara soal yang dikategorikan sangat sukar, sukar, sedang, mudah dan sangat mudah. Hal ini terjadi karena soal yang dikategorikan mudah memiliki jumlah sedikit yaitu 3 soal. Sedangkan untuk soal yang dikategorikan sedang jumlahnya yaitu 18 dan sukar jumlahnya yaitu 16 soal. Jika dipresentasikan dalam diagram pie, yaitu sebagai berikut:

Gambar 4.5 Indeks Kesukaran Draf Soal A pada Uji Coba Terbatas Berdasarkan diagram pie 4.5, dapat diketahui soal yang dibuat pada draf A kurang proposional dikarenakan untuk kategori indeks kesukaran sangat sukar, sukar, sedang mudah dan sangat mudah memiliki presentase yang berbeda. Kategori sedang mendominasi kategori yang lainnya dengan presentase 36%. Sedangkan kategori mudah berada dalam presentase terendah sebesar 6%. Adapun kategori sangat sukar dan sukar yaitu 26% dan 32%.

Berbeda dengan hasil tes draf soal A, pada darf soal B yang terdiri dari 50 soal dianalisis dengan cara menyusun hasil tes dalam peringkat. Kemudian diambil 27 % (5 lembar jawaban) dari kelompok atas dan kelompok bawah.

Hasil analisis menggunakan softwere exel. Dengan demikian, tingkat

26%

32%

36%

6% 0%

Prosentasi Indeks Kesukaran Soal Uji Coba Terbatas Draf A

Sangat Sukar Sukar Sedang Mudah Sangat Mudah

(23)

kesukaran pada draf soal B setelah direkapitulasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.10 Rekapitulasi Analisis Tingkat Kesukaran Draf Soal B Tahap Uji Coba Terbatas

Analisis Tingkat Kesukaran

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Sangat

Sukar 17 1, 3, 7, 9, 10, 11, 14, 21, 29, 30, 39, 40, 43, 45, 47, 48, 49

Sukar 28

2, 4, 5, 6, 8, 12, 15, 16, 17, 18, 19, 22, 23, 24, 25, 27,28, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 42, 44, 46, 50 Sedang 5 7, 13, 20, 26, 41

Mudah 0

Sangat

Mudah 0

Tabel 4.10 menyatakan bahwa terdapat ketidakseimbangan antara soal yang dikategorikan sangat sukar, sukar, sedang, mudah dan sangat mudah. Hal ini bisa dilihat soal yang dikategorikan mudah dan sangat mudah memiliki jumlah sedikit yaitu 0 soal. Sedangkan untuk soal yang dikategorikan sangat sukar dan sedang yaitu 17 soal dan 5 soal. Sedangkan kategori sukar memiliki jumlah paling tinggi yaitu 28 soal. Jika dipresentasikan dalam diagram pie, yaitu sebagai berikut:

Gambar 4.6 Indeks Kesukaran Draf Soal B pada Uji Coba Terbatas Berdasarkan diagram pie 4.6, dapat diketahui soal yang dibuat pada draf A tidak proposional dikarenakan untuk kategori indeks kesukaran sangat sukar, sukar, sedang, mudah dan sangat mudah tidak seimbang. Draf soal B didominasi oleh kategori sukar dengan tingkat presentase tertinggi sebesar 56%.

Sedangkan presentase terendah dimiliki oleh kategori mudah dan sangat mudah

34%

56%

10%

0% 0%

Prosentasi Indeks Kesukaran Soal Uji Coba Terbatas Draf B

Sangat Sukar Sukar Sedang Mudah Sangat Mudah

(24)

dengan presentase 0%. Adapun kategori sedang memiliki presentase 10% dan katagori sangat sukar 34%.

Berdasarkan dua diagram pen yang disajikan menunjukkan draf soal B memiliki indeks kesukaran yang lebih tinggi dibandingkan draf soal A. Hal ini disebabkan untuk kategori sukar draf soal B memiliki presentase yang lebih besar dibandingkan draf soal A. Sedangkan kategori mudah lebih banyak dimiliki oleh draf soal A dibandingkan dengan draf soal B.

d. Daya Pembeda

Daya pembeda soal tes adalah kemampuan soal untuk membedakan antara siswa pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi atau disingkat D (Akbar, 2013: 104). Berdasarkan hasil tes yang dilakukan terhadap 40 siswa, diperoleh daya pembeda dengan kategori jelek, cukup, baik, dan baik sekali. Berikut ini rekapitulasi daya pembeda yang terdapat pada draf soal A.

Tabel 4.11 Rekapitulasi Analisis Daya Pembeda Draf Soal A Tahap Uji Coba Terbatas

Analisis Daya Pembeda

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Sangat Baik 10 1, 2, 23, 25, 26, 32, 33, 35, 43, 46

Baik 8 9, 10, 22, 30, 36, 42, 47, 50

Cukup 2 21, 34

Jelek 9 5, 11, 13, 18, 19, 28, 31, 40, 44 Sangat

Jelek 21 3, 4, 6, 7, 8, 12, 14, 15, 16, 17, 20, 24, 27, 29, 37, 38, 39, 41, 45, 48, 49 Berdasarkan tabel 4.11, daya pembeda yang dihasilkan lebih didominasi oleh kategori sangat jelek, meskipun untuk kategori baik dan baik sekali hasilnya cukup seimbang. Hanya saja untuk kategori cukup sangat rendah dibandingkan kategori yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa soal yang dibuat memiliki daya pembeda yang tidak proposional sehingga soal harus direvisi dan beberapa soal dihilangkan. Untuk lebih jelas, lima kategori tersebut digambarkan dalam diagram pen.

(25)

Gambar 4.7 Daya Pembeda Draf Soal A pada Uji Coba Terbatas

Berdasarkan digaram pen 4.7, kategori daya pembeda yang dihasilkan didominasi oleh kategori sagat jelek dengan presentase 42%. Sedangkan kategori jelek yaitu 18 %, baik jumlah yaitu 16% dan sangat baik yaitu 20%.

Adapun kategori yang presntasenya paling sedikit adalah kategori cukup dengan presntase yang dihasilkan 4%. Dengan demikian, daya pembeda yang dihasilkan kurang baik dikarenakan jumlah kelima kategori tidak proposional.

Hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dapat dilukiskan dalam bentuk scatter plot berikut ini:

Gambar 4.8 Penyebaran Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Draf Soal A pada Uji Coba Terbatas

Berdasarkan scatter plot 4.8, hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dikategorikan cukup baik. Hal ini dikarenakan penyebaran tingkat kesukaran dan daya pembeda tidak merata dan hubungan diantara keduanya lebih banyak berada di dalam segitiga dibandingkan di luar segitiga.

Indeks tingkat kesukaran antara -0,5 – 1 dengan kategori, sukar, sedang dan

20%

16%

18% 4%

42%

Persentase Daya Pembeda Soal Uji Terbatas Draf A

Sangat Baik Baik Cukup Jelek Sangat Jelek

-0,5 0 0,5 1 1,5

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1

Daya Pembeda

Tingkat Kesukaran

Hubungan antara Tingkat Kesukaran & Daya

Pembeda Draf Soal A

(26)

mudah. Sedangkan indeks daya pembeda anatara 0 – 0,95 dengan kategori jelek, cukup, baik, dan baik sekali.

Berbeda halnya dengan draf soal B. Hasil tes yang dilakukan terhadap 20 siswa, diperoleh daya pembeda dengan kategori jelek, cukup, baik, dan baik sekali. Berikut ini rekapitulasi daya pembeda yang terdapat pada draf soal B.

Tabel 4.12 Rekapitulasi Analisis Daya Pembeda Draf Soal B Tahap Uji Coba Terbatas

Analisis Daya Pembeda

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal Sangat Baik 1 26

Baik 5 18, 22, 24, 25, 38 Cukup 5 12, 13, 20, 31, 50

Jelek 11 2, 4, 15, 17, 28, 32, 34, 35, 42, 44, 46, Sangat

Jelek 28

1, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 14, 16, 19, 21, 23, 27, 29, 30, 33, 36, 37, 39, 40, 41, 43, 45, 47, 48, 49

Berdasarkan tabel 4.12, daya pembeda yang dihasilkan lebih didominasi oleh kategori jelek, meskipun untuk kategori cukup dan baik hasilnya cukup seimbang. Hanya saja untuk kedua kategori tersebut jumlahnya sedikit.

Sedangkan untuk kategori sangat baik memiliki jumlah yang paling sedikit.

Untuk lebih jelas, lima kategori tersebut digambarkan dalam diagram pen.

Gambar 4.9 Daya Pembeda Draf Soal B pada Uji Coba Terbatas Berdasarkan digaram pen 4.9, kategori daya pembeda yang dihasilkan didominasi oleh kategori sangat jelek dengan presentase 56%. Sedangkan kategori cukup dan baik jumlah yang dihasilkan cukup seimbang yaitu 10 %.

Adapun kategori yang presntasenya rendah adalah kategori sangat baik dengan

2% 10%

10%

56% 22%

Persentase Daya Pembeda Soal Uji Terbatas Draf B

Sangat Baik Baik Cukup Jelek Sangat Jelek

(27)

presntase yang dihasilkan 2%. Dengan demikian, daya pembeda yang dihasilkan kurang baik dikarenakan jumlah kelima kategori tidak proposional.

Hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dapat dilukiskan dalam bentuk scatter plot berikut ini:

Gambar 4.10 Penyebaran Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Draf Soal B pada Uji Coba Terbatas

Berdasarkan scatter plot 4.10, hubungan antara tingkat kesukaran dengan daya pembeda dikategorikan cukup baik. Hal ini dikarenakan penyebaran tingkat kesukaran dan daya pembeda tidak merata dan hubungan antara keduanya lebih banyak berada di dalam segitiga dibandingkan di luar segitiga.

Indeks tingkat kesukaran antara -0,4 – 1 dengan kategori, sukar, sedang dan mudah. Sedangkan indeks daya pembeda anatara -0,4 – 0,8 dengan kategori jelek, cukup, baik, dan baik sekali.

Daya pembeda yang dihasilakan pada uji coba terbatas anatara draf soal A dan draf soal B keduanya didominasi oleh kategori jelek. Untuk itu pada tahap uji coba selanjutnya soal yang dibuat harus direvisi atau dihilangkan.

Sedangkan untuk penyebaran data antara tingkat kesukaran dan daya pembeda sudah cukup baik dikarenakan penyebaran antar keduanya tidak merata, dikarenakan seluruh kategori pada keduanya dimiliki mulai dari angka terendah hingga angka tertinggi.

e. Kualitas Pengeoh (Distractor)

Kualitas pengecoh berfungsi untuk mengidentifikasi peserta tes yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. Menurut Sudijono (2005:

412) pengecoh berfungsi dengan baik apabila dipilih oleh > 5 % dari peserta

-0,6 -0,4 -0,2 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7

Daya Pembeda

Tingkat Kesukaran

Hubungan antara Tingkat Kesukaran & Daya

Pembeda Draf Soal B

(28)

tes. Pengecoh belum berfungsi apabila < 5% dari peserta tes. Dalam penelitian ini ada 10 pilihan jawaban yang terdiri atas 5 pilihan jawaban tingkat pertama dan 5 pilihan jawaban tingkat kedua. Berikut ini rekapitulasi distractor yang dihasilkan pada draf soal A.

Tabel 4.13 Kualitas Pengecoh Draf Soal A Tingkat Pertama Uji Coba Terbatas

Analisis Keberfungsia

n Pengecoh/

Distractor

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal

1 Pengecoh berfungsi dengan baik

15

2, 13, 14, 20, 23, 24, 26, 27, 29, 32, 33, 40, 43, 45, 49

2 pengecoh berfungsi dengan baik

16

5, 6, 10, 11, 16, 25, 30, 31, 34, 35, 37, 39, 41, 47, 48, 50

3 pengecoh berfungsi dengan baik

8 4, 7, 9, 18, 19, 21, 22, 46

4 pengecoh berfungsi dengan baik

3 36, 38, 44 Pengecoh tidak

berfungsi dengan baik

8 1, 3, 8, 12, 15, 17, 28, 42

Berdasarkan tabel 4.13, pengecoh yang dibuat pada tingkat pertama cukup baik. Hal ini dikarenakan pada kategori 1 dan 2 memiliki jumlah yang hampir seimbang yaitu 15 dan 16 soal. Kategori 3 dan pengecoh tidak berfungsi memiliki jumlah yang sama yaitu 8 soal. Hanya saja untuk kategori 4 jumlahnya sangat rendah yaitu 3 soal. Untuk lebih memperjelas, dapat dilihat dalam diagram pen berikut ini:

Gambar 4.10 Kualitas Pengecoh Draf Soal A Tingkat Pertama Uji Coba Terbatas

30%

32%

16%

6% 16%

Kualitas Pengecoh Tingkat Pertama

1 pengecoh berfungsi dengan baik

2 pengecoh berfungsi dengan baik

(29)

Berdasarkan diagram pen 4.10, pengecoh yang dibuat cukup baik meskipun presentase pengecoh 2 memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang lainnya sebesar 23%. Namun presentase tersebut tidak jauh berbeda dengan presentase kategori 1, 3 dan 5 pengecoh yang berfungsi dengan baik yaitu 30%, 16% dan 16%. Hanya saja jumlah presentase untuk kategori 4 berfungsi dengan baik jumlahnya paling rendah yaitu 6%.

Berbeda halnya dengan kualitas pengecoh pada tingkat dua dari draf soal A. Berikut ini kualitas pengecoh pada tingkat dua draf soal A:

Tabel 4.14 Kualitas Pengecoh Draf Soal A Tingkat Kedua Uji Coba Terbatas

Analisis Keberfungsi

an Pengecoh/

Distractor

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal 1 Pengecoh berfungsi

dengan baik 7 3, 4, 9, 17, 26, 27, 35 2 pengecoh berfungsi

dengan baik 18

2, 5, 7, 13, 16, 19, 24, 25, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 36, 39, 41, 47

3 pengecoh berfungsi

dengan baik 14 1, 6, 8, 10, 11, 15, 18, 20, 22, 34, 37, 38, 45, 49

4 pengecoh berfungsi

dengan baik 8 14, 23, 40, 42, 43, 46, 48, 50 Pengecoh tidak

berfungsi 3 12, 21, 44

Berdasarkan tabel 4.14, pengecoh yang dibuat pada tingkat kedua dikategorikan baik. Hal ini dikarenakan pada kategori 2 dan 3 pengecoh berfungsi dengan baik memiliki jumlah yang lebih tinggi dibandingkan kategori lainnya yaitu 18 dan 14 soal. Hanya saja untuk kategori 1 dan 4 pengecoh berfungsi dengan baik jumlahnya sangat rendah yaitu 7 dan 8 soal.

Adapun untuk kategori pengecoh tidak berfungsi dengan baik jumlahnya ada 3 soal. Untuk lebih memperjelas, dapat dilihat dalam diagram pen berikut ini:

(30)

Gambar 4.11 Kualitas Pengecoh Draf Soal A Tingkat Kedua Uji Coba Terbatas

Berdasarkan diagram pen 4.11, pengecoh yang dibuat dikategorikan baik, hal ini dikarenakan presentase tertinggi dimiliki oleh pilihan jawaban dengan kategori 2 dan 3 pengecoh berfungsi dengan presentase 36% dan 28%. Hanya saja untuk kategori 1 dan 4 pengecoh memiliki presentase yang rendah yaitu 14% dan 16%. Sedangkan untuk pengecoh yang tidak berfungsi memiliki presentase paling rendah diantara semua pengecoh yang berfungsi dengan presentase sebesar 6%.

Draf soal B terdiri atas 50 soal memiliki 10 pilihan jawaban yang terdiri 5 pilihan jawaban pada tingkat pertama dan 5 pilihan jawaban pada tingkat kedua. Satu pilihan jawaban benar dan empat pilihan jawaban lainnya sebagai pengecoh pada tingkat pertama. Berikut ini rekapitulasi kualitas pengecoh pada tingkat pertama draf soal B:

Tabel 4.15 Kualitas Pengecoh Draf Soal B Tingkat Pertama Uji Coba Terbatas

Analisis Keberfungsian

Pengecoh/

Distractor

Kategori Jumlah Keterangan /Nomor soal

1 Pengecoh berfungsi dengan baik

13 5, 8, 13, 15, 16, 17, 20, 22, 23, 25, 27, 35, 40 2 pengecoh

berfungsi dengan baik

8 9, 30, 36, 41, 43, 47, 48, 50

3 pengecoh berfungsi dengan baik

13 1, 3, 6, 11, 14, 21, 24, 26, 34, 42, 44, 45, 49 4 pengecoh

berfungsi dengan baik

14

2, 4, 7, 10, 12, 18, 28, 29, 32, 33, 37, 38, 39, 46

14%

28% 36%

16%

6%

Kualitas Pengecoh Tingkat Kedua

1 pengecoh berfungsi dengan baik

2 pengecoh berfungsi dengan baik

3 pengecoh berfungsi dengan baik

4 pengecoh berfungsi dengan baik

Gambar

Tabel 4.9 Rekapitulasi Analisis Tingkat Kesukaran Draf Soal A   Uji Coba Terbatas
Tabel 4.10 Rekapitulasi Analisis Tingkat Kesukaran Draf Soal B  Tahap Uji Coba Terbatas
Tabel 4.11 Rekapitulasi Analisis Daya Pembeda Draf Soal A   Tahap Uji Coba Terbatas
Gambar 4.10 Penyebaran Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda   Draf Soal B pada Uji Coba Terbatas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pembahasan Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis untuk membuktikan pengaruh strategi marketing mix terhadap loyalitas konsumen pada rumah makan sambel layah, maka

Bagi guru dan lembaga pendidikan, diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dan pengetahuan dalam penggunaan pembelajaran yang tepat untuk proses

Pada pola monokultur, kadar sari larut alkohol tertinggi (19,81%) diperoleh pada perlakuan dosis 20 ton kompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, lebih tinggi

Karakteristik iklim mikro pada sistem tanam jagung sigle row, doble row, twins row dan twins seeds dengan tanam tunggal dan tumpangsari jagung kedelai adalah Intersepsi

Pada bab ini akan disajikan hasil dari analisis terhadap faktor yang mempengaruhi stunting pada balita yang berada di Posyandu Kebonrejo Kabupaten Kediri. Responden

Berdasarkan sebaran waktu, peneliti membagi dalam 5 kategori waktu (Tabel 1) hal ini karena definisi terlambat di indonesia berdasarkan terapi menurut waktu