• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Letak Geografis.

Lokasi penelitian bertempat di kebun teh Malabar dan Purbasari PTPN VIII Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Secara administrasi kebun teh Malabar dan Purbasari berada dibawah daerah administrasi pemerintahan Desa Banjar Sari dan Wanasuka.

Desa Banjar Sari terletak diketinggian ±1.500 meter di atas permukaan air laut, yang memiliki luas wilayah 2208,97 Ha. Bagian barat berbatasan dengan Desa Margaluyu, bagian utara berbatasan dengan Desa Sukamanah, bagian selatan berbatasan dengan Desa Wanasuka, dan bagian timur berbatasan dengan Desa Tarumajaya Kertasari. Jumlah penduduk desa Banjar Sari adalah 5641 jiwa, dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 2811 jiwa dan perempuan sebanyak 2830 jiwa. Jumlah keluarga di desa Banjar Sari adalah 314 kepala keluarga. Sedangkan jumlah keluarga miskin di desa Banjar Sari adalah 733 kepala keluarga dengan jumlah 2.164 jiwa.

Desa Wanasuka terletak diketinggian ±1550 di atas permukaan air laut yang memiliki luas wilayah 4555,96 Ha. Bagian utara berbatasan dengan Desa Margamukti, bagian selatan berbatasan dengan Desa Margaluyu, bagian timur berbatasan dengan Desa Santosa, dan bagian barat berbatasan dengan Desa Banjar Sari. Jumlah penduduk di Desa Wanasuka adalah 4880 jiwa, dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 2393 jiwa dan perempuan sebanyak 2487 jiwa. Jumlah kepala keluarga di Desa Wanasuka adalah 1548 kepala keluarga, dengan jumlah keluarga miskin sebanyak 876 kepala keluarga.

Kebun teh Malabar merupakan peninggalan masa penjajahan Hindia Belanda. Kebun ini merupakan kebun teh pertama dan tertua, yang dirintis oleh seorang warga negara Belanda yaitu Karl Albert Rudolf Bossca pada tahun 1896.

Beliau merupakan utusan dari Firma John Peet dan Co. Setelah masa penjajahan berakhir, kebun ini dikelola oleh masyarakat pribumi dalam bentuk BUMN dan melakukan perluasan lahan menjadi beberapa kebun, sala satunya adalah kebun

(2)

teh Purbasari. Kebun teh Malabar memiliki luas wilayah 2022,14 Ha, yang terdiri dari 4 afdeling yaitu afdeling malabar utara dengan luas kebun 444,41 Ha, afdeling malabar selatan dengan luas kebun 624,72 Ha, afdeling sukaratu dengan luas kebun 458,42 Ha, dan afdeling tanara dengan luas kenun 494,69 Ha. Jumlah kepala keluarga yang berdomisili di kebun teh Malabar adalah sebagai berikut : afdeling malabar utara berjumlah 69 kepala keluarga, afdeling malabar selatan berjumlah 152 kepala keluarga, afdeling sukaratu berjumlah 190 kepala keluarga dan afdeling tanara berjumlah 30 kepala keluarga.

Kebun teh Purbasari memiliki luas kebun 2115,97 Ha, yang terdiri 4 afdeling yaitu afdeling purbasari, afdeling kiararoa, afdeling Sri dan afdeling Citawa. Kepala keluarga yang berdomisili di kebun teh Purbasari adalah sebagai berikut : afdeling purbasari berjumlah 85 kepala keluarga, afdeling kiararoa berjumlah 78 kepala keluarga, afdeling sri berjumlah 165 kepala keluarga, dan afdeling citawa berjumlah 81 kepala keluarga.

Fasilitas Sosial dan Kesehatan

Untuk meningkatkan dan menciptakan kualitas kehidupan sosial di masyarakat dalam upaya peningkatan sumberdaya manusia dan derajat kesehatan masyarakat, pemerintah Kabupaten Bandung dan pihak PTPN VIII telah menyediakan sarana dan prasarana dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat di daerah tersebut. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran fasilitas pendidikan di kebun Desa Banjarsari dan Wanasuka Lokasi

Fasilitas

Pendidikan Banjar Sari % Wanasuka %

TK SD SLTP

3 4 1

37.5 50 12.5

2 4 0

33.33 66.66 0.00

Total 8 100 6 100

Sumber :Profil desa Banjar Sari dan Wanasuka 2007

Hasil analisis data profil Desa Banjar Sari dan Wanasuka Tahun 2007 menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan terbayak adalah tingkat sekolah dasar (SD), dengan persentase masing-masing adalah 50% untuk Desa Banjar dan

(3)

66.66% untuk Desa Wanasuka. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap rumah tangga yang memiliki anak usia pra sekolah, diperoleh informasi bahwa keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam memberikan pendidikan usia dini (TK) pada anaknya. Faktor penyebabnya yaitu jumlah fasilitas pendidikan tingkat usia dini (TK) yang terbatas dan jarak antara fasilitas pendidikan dengan pemukiman penduduk (terutama untuk Desa Wanasuka).

Hak memperoleh pendidikan bagi setiap individu merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 sehingga harus dilaksanakan. Oleh karena itu diperlukan penambahan fasilitas pembangunan fisik khususnya untuk pendidikan usia dini (TK) di wilayah Desa Wanasuka, sebagai bentuk pemerataan pendidikan di masyarakat.

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat dasar merupakan satu strategi menuju Indonesia sehat 2010 harus dilakukan secara sinergis. Oleh karena itu pemerintah Kabupaten Bandung dan PTPN VIII menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan di Desa Banjarsari dan Wanasuka. Sebaran fasilitas pelayanan kesehatan di Desa Banjar Sari dan Wanasuka tersebut disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran fasilitas pelayanan kesehatan di Desa Banjar Sari dan Wanasuka Desa

Fasilitas kesehatan

Banjar Sari % Wanasuka %

Balai pengobatan Tempat praktek bidan Posyandu

Polindes

1 1 7 1

10.00 10.00 70.00 10.00

1 0 8 1

10.00 0.00 80.00 10.00

Total 10 100 10 100

Sumber :Profil desa Banjar Sari dan Wanasuka 2007.

Hasil analisis data profil Desa Banjar Sari dan Wanasuka Tahun 2007, menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan sebagian besar adalah posyandu, dengan persentase masing-masing adalah 70% untuk Desa Banjar Sari dan 80% untuk Desa Wanasuka. Menurut Notoatmojo (2003), pelayanan kesehatan merupakan faktor penentu yang ikut berpengaruh terhadap status kesehatan individu, keluarga dan masyarakat.

Kegiatan posyandu di Desa Banjar Sari dan Wanasuka diantaranya adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan penimbangan, pemeriksaan ibu hamil

(4)

dan pemberian makanan tambahan pada anak balita, yang dilakukan secara rutin setiap bulan. Keterlibatan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan operasional posyandu berjalan dengan baik. Proses pelayanan kesehatan tersebut dijalankan oleh kader posyandu, meskipun fasilitas yang tersedia sangat terbatas.

Dalam upaya memenuhi permintaan konsumen, pihak PTPN VIII diwajibkan meningkatkan produksi teh dengan cara meningkatkan produktivitas kerja. Sebagian besar tenaga kerja pemetik teh adalah ibu rumah tangga, sehingga pihak PTPN VIII menyediakan fasilitas tempat penitipan anak (TPA) dan pengasuh di kebun teh Malabar dan Purbasari untuk tenaga kerja yang memiliki anak usia dini. Sebaran tempat penitipan anak (TPA) dan pengasuh di kebun teh Malabar dan Purbasari disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Sebaran tempat penitipan anak (TPA) dan pengasuh.

Tempat Penitipan Anak (TPA) Lokasi

Jumlah TPA % Pengasuh %

Malabar Purbasari

4 5

40 60

7 8

40 60

Total 9 100 15 100

Sumber :Laporan tahun 2007 kebun teh Malabar dan Purbasari.

Hasil analisis laporan data Tahun 2007 menunjukkan bahwa persentase sebaran fasilitas tempat penitipan anak (TPA) di kebun teh Malabar yaitu sebesar 40% dan di kebun teh Purbasari sebesar 60%. Sedangkan persentase sebaran pengasuh di kebun teh Malabar yaitu sebesar 40% dan di kebun teh Purbasari sebesar 60%. Orang tua pengasuh yang bekerja di tempat penitipan anak (TPA) merupakan karyawan PTPN VIII.

Karakteristik Keluarga

Karakterisitik keluarga dalam penelitian adalah ciri khas yang dimiliki oleh masing-masing keluarga yang terdiri dari: umur orang tua, umur anak, jenis kelamin anak, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua dan jumlah anggota keluarga. Sebaran ibu dan bapak contoh berdasarkan umur disajikan pada Tabel 16.

(5)

Tabel 16 Sebaran ibu dan bapak contoh berdasarkan umur.

Ibu Ayah

Umur n % n %

20-28 29-37 38-46 47-52

10 15 24 2

19.60 29.41 47.05 3.92

13 19 14 5

25.49 37.25 27.45 9.80

Total 51 100 51 100

Tabel 16 menunjukkan bahwa sebaran umur ibu di kebun teh Malabar dan Purbasari terbanyak adalah berkisar antara 38 sampai 64 tahun atau sebesar 47.05%. Sedangkan sebaran umur bapak di kebun teh Malabar dan Purbasari terbanyak adalah berkisar antara 29 sampai 37 tahun atau sebesar 37.25%.

Pasangan suami istri di dua kebun terseut merupakan pasangan keluarga muda yang produktif.

Tingkat pendidikan adalah variabel penentu terhadap jenis pekerjan dan pendapatan keluarga. Hasil analisis data sebaran ibu dan bapak contoh berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17 Sebaran ibu dan bapak contoh berdasarkan tingkat pendidikan.

Tingkat pendidikan

Ibu Bapak

Kategori

n % n %

Tidak Sekolah Tidak Tamat SD SD/Sederajat SLTP/ Sederajat SMA/Sederajat

4 14 29 3 1

7.84 27.45 56.86 5.88 1.96

3 10 29 9 0

5.88 19.60 56.86 17.64

0

Total 51 100 51 100

Tabel 17 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu dan bapak yang berada di kebun teh Malabar dan Purbasari memiliki tingkat pendidikan SD/sederajat dengan persentase masing-masing sebesar 56.86%. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari disebabkan oleh biaya pendidikan yang tinggi sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat pada saat itu.

Pendidikan orang tua memiliki hubungan terhadap pengetahuan praktek kesehatan dan gizi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi, cenderung memilih makanan yang lebih baik dan berkualitas dibandingkan dengan orang tua yang

(6)

berpendidikan rendah. Orang tua yang berpendidikan tinggi memiliki kesempatan lebih luas dalam mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi anak.

Pendidikan rendah dan kemiskinan merupakan faktor dasar masalah gizi dan kesehatan, yang berdampak terhadap rendahnya sumberdaya manusia (Syarif 1997). Pendidikan merupakan variabel penentu dalam memperoleh pekerjaan dan pendapatan. Seseorang yang berpendidikan tinggi memiliki akses kerja yang lebih luas dan akses pekerjaan yang lebih baik bila dibandingkan dengan seseorang yang berpendidikan rendah. Sebaran ibu dan bapak berdasarkan lama mengikuti pendidikan formal, serta sebaran bapak berdasarkan jenis pekerjaan disajikan pada Tabel 18 dan 19.

Tabel 18 Sebaran ibu dan bapak contoh berdasarkan lama mengikuti pendidikan formal.

Ibu Ayah

Tahun

n % n %

0-2 3-5 6-8 9-11

12

8 10 29 3 1

17.64 19.60 56.86 5.88 1.96

7 4 32

8 0

13.72 7.84 62.74 15.68

0

Total 51 100 22 100

Tabel 18 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu dan bapak di kebun teh Malabar dan Purbasari memiliki lama mengikuti pendidikan formal berkisar antara 6 sampai 8 tahun, dengan persentase masing-masing sebesar 56.86% dan 62.74%. Lama mengikuti pendidikan formal menunjukkan tingkat pendidikan, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh seseorang.

Tabel 19 Sebaran bapak berdasarkan jenis pekerjaan.

Bapak Pekerjaan

n %

Tidak bekerja Petani Pedagang Buru tani Buru non tani PNS/ABRI/POLRI Pelayanan Jasa

5 0 1 42

3 0 0

9.80 0 1.96 82.35

5.88 0 0

Total 51 100

(7)

Tabel 19 menunjukkan bahwa sebagian besar bapak di kebun teh Malabar dan Purbasari bekerja sebagai buruh tani, yaitu sebesar 82.35%. Kartasapoetra dan Marsetoyo (2003) menyatakan bahwa jenis pekerjaan orang tua merupakan indikator penentu besarnya pendapatan keluarga. Semakin besar penghasilan yang diperoleh, maka konsumsi pangan keluarga semakin baik terutama yang berhubungan dengan harga dan jenis pangan berkualitas.

Selain faktor harga, distribusi pangan dalam keluarga menjadi penyebab masalah gizi kurang terutama keluarga besar. Jenis keluarga dan sebaran keluarga contoh berdasarkan besar pendapatan total/bulan disajikan pada Tabel 20 dan 21.

Tabel 20 Sebaran jenis keluarga contoh.

Jenis keluarga Kategori

n %

Keluarga kecil ≤4 Keluarga sedang 5-7 Keluarga besar ≥8

25 26 0

49.01 50.98 0.00

Total 51 100

Tabel 20 menunjukkan bahwa jenis keluarga yang ada di kebun teh Malabar dan Purbasari didominasi oleh keluarga sedang (jumlah anggota keluarga 5 sampai 7 jiwa) dan keluarga kecil (jumlah anggota keluarga ≤ 4 jiwa) dengan persentase masing-masing sebesar 50.98% dan 49.01%. Besar keluarga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap distribusi pangan, terutama keluarga dengan pendapatan rendah. Jumlah keluarga yang besar dan tidak didukung oleh pendapatan akan memiliki resiko kurang gizi yang tinggi, yang disebabkan oleh konsumsi gizi yang rendah dan bahan makan yang tidak berkualitas.

Berg (1986) menyatakan bahwa jumlah anak yang menderita kelaparan pada keluarga besar adalah empat kali lebih besar bila dibandingkan dengan keluarga kecil. Anak-anak yang mengalami gizi kurang pada keluarga yang beranggota banyak adalah lima kali lebih besar daripada keluarga yang beranggota keluarga sedikit.

(8)

Tabel 21 Sebaran keluarga contoh berdasarkan besar pendapatan total/bulan.

Pendapatan/ bulan Kategori

n %

Rp.200.000-699.999 Rp.700.000-1.199.999 Rp.1.200.000-1.699.999 Rp.1.700.000≥

28 11 10 2

54.90 21.56 19.60 3.92

Total 51 100

Tabel 21 menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga (54.90%) di kebun teh Malabar dan Purbasari memiliki pendapatan total/bulan berkisar antara Rp.200.000 sampai Rp.699.999, dengan rata-rata pendapatan total/bulan sebesar Rp.583.333. Rendahnya pendapatan keluarga disebabkan oleh sumber pendapatan keluarga yang hanya mengandalkan upah kerja dan tidak terdapatnya sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan.

Mudanijah et al (2006) menyatakan bahwa pendapatan berpengaruh terhadap daya beli pangan keluarga. Keluarga yang memiliki pendapatan tinggi, cenderung memilih bahan pangan yang berkualitas. Pendapatan total keluarga/bulan bila didistribusi berdasarkan pendapatan perkapita/bulan dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Sebaran keluarga contoh berdasarkan pendapatan per kapita/bulan.

Pendapatan/kapita/bulan Kategori

n %

Rp. 50.000-147.999 Rp.148.000-245.999 Rp.246.000-343.999 Rp.344.000≥

29 11 8 3

56.86 21.56 15.68 5.88

Total 51 100

Tabel 22 menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga contoh (56.86%) di kebun teh Malabar dan Purbasari memiliki pendapatan total/kapita/bulan berkisar antara Rp.50.000 sampai 147.999, dengan rata-rata pendapatan total/kapita/bulan sebesar Rp.170.890. Rendahnya pendapatan keluarga disebabkan oleh, jenis keluarga di kebun teh Malabar dan Purbasari sebagian besar adalah keluarga sedang dengan jumlah anggota keluarga 5 sampai 7 jiwa, dan hal ini akan berpengaruh terhadap distribusi pendapatan. Kecilnya pendapatan total/kapita

(9)

keluarga, disebabkan oleh sumber pendapatan yang masih mengandalkan orang tua terutama pada keluarga ukuran sedang. Misalnya anak usia produktif (pada keluarga sedang) yang belum bekerja, sehingga menyebabkan seluruh beban biaya hidupnya ditanggung oleh orang tuanya. Bila pendapatan perkapita tersebut dibandingkan dengan indikator kemiskinan Kabupaten Bandung, maka keluarga

contoh yang termasuk kategori tidak miskin dan miskin dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23 Sebaran keluarga contoh berdasarkan kategori miskin dan tidak miskin.

Keluarga contoh Kategorik

n %

Tidak miskin ≥Rp.144.000 Miskin <Rp. 144.000

29 22

56.86 43.14

Total 51 100

Berdasarkan indikator kemiskinan lokal yang ditentukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung maka 56.86% keluarga contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari dapat dikategorikan sebagai keluarga tidak miskin dan 43.14% dapat dikategorikan sebagai keluarga miskin.

Menurut Suhardjo (1987), masalah kemiskinan yang dialami keluarga merupakan faktor penyebab yang berhubungan dengan konsumsi pangan dan buruknya status gizi anak. Syarif (1997) menambahkan bahwa kemiskinan akan menyebabkan akses pangan dan kesehatan tidak memadai, dan berakibat terhadap konsumsi pangan yang rendah serta angka kesakitan tinggi, sehingga akan melahirkan anak kurang gizi dan sumberdaya manusia menjadi rendah.

Sebaran contoh berdasarkan umur dan jenis kelamin di kebun teh Malabar dan Purbasari disajikan pada Tabel 24. Hasil analisis data sebaran contoh berdasarkan umur dan jenis kelamin di kebun teh Malabar dan Purbasari sangat bervariasi. Contoh laki-laki didominasi oleh umur berkisar antara 63 sampai 67 bulan atau sebesar 33.33%, sedangkan contoh perempuan didominasi oleh umur berkisar antara 48 sampai 52 bulan atau sebesar 42.86%.

(10)

Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan umur dan jenis kelamin.

Laki-laki Perempuan Total

Umur (bulan)

n % n % n %

48-52 53-57 58-62 63-67 68-72

7 3 8 10

2

23.33 10.00 26.67 33.33 6.67

9 5 4 1 2

42.86 23.81 19.05 4.76 9.52

16 8 12 11 4

31.37 15.69 23.53 21.57 7.84

Total 30 100 21 100 51 100

Potensi Atlit Anak Usia 48-72 Bulan

Mengidentifikasi potensi atlit usia dini merupakan solusi terbaik dalam pencarian atlit yang berbakat. Usia 48-72 bulan merupakan usia minimal yang digunakan untuk menentukan potensi calon atlit usia dini. Potensi atlit usia dini dalam penelitian adalah kompetensi gerakan fisik yang berhubungan dengan kesegaran jasmani yang terdiri dari: kecepatan gerak , daya tahan otot, kekuatan otot dan daya tahan kardiovaskuler.

Hasil pengukuran potensi atlit usia dini yang dilakukan pada anak keluarga wanita pemetik teh di kebun teh Malabar dan Purbasari, secara umum diperoleh nilai yang bervariasi yaitu berkisar antara skor 1 sampai 5. Hasil pengukuran kecepatan gerak fisik yang dilakukan dengan metode lari cepat 100 meter disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25 Sebaran contoh berdasarkan lari cepat 100 meter.

Lari 100 meter Kategori

n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik

Sangat baik

4 26 18 3 0

7.8 51.0 35.3 5.9

0

Total 51 100

Tujuan pengukuran lari 100 meter berfungsi untuk menilai kecepatan gerak fisik. Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh 51.0% memiliki kecepatan gerak fisik yang termasuk kategori kurang. Skor maksimum yang diperoleh dalam pengukuran adalah 4 dan skor minimum adalah 1, dengan skor

(11)

pengukran rata-rata adalah 2.39±0.72. Pengukuran kecepatan gerak fisik contoh dengan metode lari cepat 100 meter merupakan ukuran yang tidak dimodifikasi.

Tabel 25 juga menunjukkan bahwa sebanyak 5.9% contoh memiliki kecepatan gerak fisik yang dikategorikan baik. Pencapaian hasil yang maksimal disebabkan oleh hasil pengukuran yang mencapai skor 4 berdasarkan pengujian kecepatan gerak fisik. Pada pengujian kecepatan gerak fisik diperoleh hasil bahwa sebagian besar contoh dikategorikan kurang. Hal ini disebabkan oleh koordinasi sistem motorik anak usia 48-72 bulan masih dalam tahap perkembangan. Menurut Sumantri (2005), kecepatan gerak motorik atau fisik merupakan satu perpaduan sistem syaraf dan sistem otot yang saling bekerja sama untuk melakukan suatu gerakan tubuh.

Pengukuran kecepatan gerak fisik pada contoh laki-laki lebih baik bila dibandingkan pada contoh perempuan. Pengukuran yang dilakukan pada 31 contoh laki-laki menunjukkan hasil bahwa 10% contoh memiliki potensi kecepatan gerak fisik yang baik. Pada contoh perempuan diperoleh hasil bahwa 47.61% contoh memiliki kecepatan gerak fisik yang termasuk kategori kurang (Lampiran 5). Hasil pengukuran yang cukup maksimal ini disebabkan oleh contoh laki-laki cenderung melakukan permainan-permainan yang lebih banyak melibatkan aktivitas fisik tinggi dibandingkan contoh perempuan sehingga menunjang hasil pengukuran.

Hasil pengukuran kecepatan gerak fisik ini dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Sumantri (2005) dalam menguji motorik kasar 269 anak laki-laki dan perempuan usia 3-6 tahun dengan tes lari cepat. Hasil pengujian membuktikan bahwa anak laki-laki memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan anak perempuan dan hasil yang sama ditemukan dalam penelitian ini. Untuk mencapai hasil maksimal dalam pengukuran kecepatan gerak fisik, diperlukan latihan yang dilakukan secara teratur dan terus-menerus, sehingga dapat beradaptasi terhadap gerakan fisik terutama sistem syaraf dan otot yang lebih peka dan sensitif terhadap stimulasi dari luar tubuh.

Pengukuran tes menggantung pada penelitian ini berfungsi untuk mengukur ketahanan otot tangan secara menyeluruh. Ukuran yang digunakan dalam pengujian ketahanan otot tangan adalah dengan metode menggantung,

(12)

dimodifikasi dari menggantung siku tekuk dirubah ke menggantung tanpa siku tekuk. Menurut Dewi (2005), contoh yang berusia 48-72 bulan tidak dapat melakukan gerakan menggantung dengan siku tekuk, disebabkan oleh perkembangan motorik kasar terutama otot besar pada tangan belum mampu melakukan gerakan tersebut. Hasil pengukuran tes menggantung pada contoh disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26 Sebaran contoh berdasarkan pengujian menggantung.

Menggantung Kategori

n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

0 5 27 17 2

0 9.8 52.9 33.3 3.9

Total 51 100

Tabel 26 menunjukkan bahwa 52.9% contoh memiliki ketahanan otot tangan yang termasuk kategori sedang. Skor pengukuran maksimum adalah 5 dan skor minimum 1, dengan skor rata-rata adalah 3.31±0.70. Analisis data juga ditemukan ketahanan otot baik 33.33% dan sangat baik 3.9%. Hasil yang maksimal ini disebabkan oleh anak usia 48-72 bulan memiliki perkembangan sistem motorik halus yang sudah baik terutama kemampuan memegang dan menjepit jari tangan (Soetjiningsih 1995).

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pada contoh laki-laki didominasi oleh ketahanan otot tangan yang dikategorikan sedang 46% dan baik 43.33%

(Lampiran 5). Sedangkan hasil pengukuran pada contoh perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar contoh 61.90% memiliki ketahanan otot tangan yang dikategorikan sedang (Lampiran 5). Pengukuran yang dilakukan menunjukkan bahwa seluruh contoh dapat melakukan gerakan menggantung, namun hasil pengukuran ketahanan otot tangan secara menyeluruh belum dapat dilakukan secara maksimal. Untuk mencapai hasil maksimal dalam pengukuran ketahanan otot tangan, diperlukan latihan secara teratur dan terus menerus sehingga otot- otot tangan dapat berkembang dan beradaptasi dengan gerakan yang dilakukan.

Gerakan menggantung dapat dilibatkan dalam permainan yang dilakukan contoh sehari-hari.

(13)

Pengukuran tes baring duduk atau sit-up merupakan tes yang berfungsi untuk mengukur kekuatan otot perut. Pengukuran kekuatan otot perut dengan metode sit-up merupakan ukuran yang tidak dimodifikasi berdasarkan standar TKJI tahun 2005 khusus anak yang dikeluarkan oleh Depatemen Pendidikan Nasional. Hasil pengujian sit-up disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27 Sebaran contoh berdasarkan pengujian sit-up.

Sit-up Kategori

n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

1 8 37

5 0

2.0 15.7 72.5 9.8

0

Total 51 100

Tabel 27 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh 72.5% memiliki potensi kekuatan otot perut yang dikategorikan sedang. Skor pengukuran maksimum adalah 4 dan skor minimum adalah 1, dengan skor pengukuran rata-rata adalah 2.90±0.57. Hasil pengukuran tersebut disebabkan oleh hasil pengujian sebagian besar baru mencapai skor 3. Pada pengukuran kekuatan otot perut dengan metode sit-up, juga ditemukan contoh yang memiliki potensi kekuatan otot perut yang dapat dikategorikan baik yaitu sebesar 9.8% contoh.

Hasil yang maksimal ini disebabkan oleh skor hasil pengukuran kekuatan otot perut sudah mencapai skor 4. Pada pengukuran berdasarkan jenis kelamin diperoleh hasil bahwa 73.33% contoh laki-laki dan 71.42% contoh perempuan dapat dikategorikan sedang (Lampiran 5). Pengukuran yang dilakukan pada contoh laki-laki dan perempuan belum mendapatkan hasil yang maksimal, karena pertumbuhan dan perkembangan otot perut contoh belum mencapai kesempurnaan. Untuk mencapai hasil yang maksimal, gerakan-gerakan tersebut perlu dilibatkan dalam pola bermain anak sehari-hari, sehingga gerakan tersebut dapat dilakukan dengan mudah.

Pengukuran lompat tegak yang dilakukan berfungsi untuk mengukur tenaga eksplosif. Ukuran yang digunakan dalam pengukuran tenaga eksplosif tidak dimodifikasi dan menggunakan standar TKJI tahun 2005 khusus anak yang

(14)

dikeluarkan oleh Depatemen Pendidikan Nasional. Hasil pengukuran disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28 Sebaran contoh berdasarkan pengujian lompat tegak.

Lompat tegak Kategori

n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

0 15 33 3 0

0 29.4 64.7 5.9

0

Total 51 100

Tabel 28 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh 64.7% memiliki tenaga eksplosif yang dikategorikan sedang. Skor nilai maksimum dari pengukuran tengan eksplosif adalah 4 dan skor minimum 1, dengan skor rata-rata adalah 2.76±0.55. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengukuran tenaga eksplosif sebagian besar mencapai skor 3. Pada pengukuran tenaga eksplosif, juga ditemukan 5.9% contoh yang memiliki tenaga eksplosif yang dikategorikan baik.

Hasil maksimal tersebut disebabkan oleh nilai pengukuran sudah mencapai skor 4.

Faktor yang diduga berhubungan dengan hasil yang maksimal ini adalah ukuran tubuh yang besar terutama panjang tulang yang berpengaruh terhadap kecepatan, sedangkan besar otot memiliki kekuatan tinggi dalam memberikan reaksi (Tangkudung 2007).

Dewi (2005) menyatakan bahwa sistem motorik kasar pada anak usia 48-72 bulan, dengan gerakan melompat dan mengangkat tubuh baik dengan tumpuan satu kaki ataupun bergantian dapat dilakukan berdasarkan teori perkembangan anak. Namun berdasarkan hasil penelitian ini gerakan tersebut tidak dilatih sehingga menghasilkan gerakan yang tidak sempurna berdasarkan pengukuran potensi tenaga eksplosif. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pengukuran tenaga eksplosif, diperlukan keseimbangan badan dan kekuatan otot kaki.

Pengukuran kekuatan eksplosif dengan metode lompat tegak berdasarkan jenis kelamin menunjukkan hasil bahwa 705 anak laki-laki dan 57.14% anak perempuan memiliki kekuatan eksplosif yang dikategorikan sedang (Lampiran 5).

Faktor yang menyebabkan hasil pengukuran tersebut adalah karena pengujian kekuatan eksplosif merupakan pengujian untuk menghasilkan gerakan yang

(15)

berkualitas tinggi yang harus didukung oleh otot yang besar dan kematangan sistem motorik kasar maupun halus. Sedangkan usia 48-72 bulan merupakan usia dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan fisik. Untuk menghasilkan lompatan yang berkualitas diperlukan latihan secara teratur dan terus-menerus sehingga seluruh otot besar tumbuh berkembang dengan baik terutama otot kaki dan tubuh yang berhubugan dengan gerakan lompat tegak yang dilakukan. Gerakan-gerakan tersebut dapat dilibatkan dalam permainan sehari-hari, karena pada usia 48-72 bulan, anak-anak sering melakukan permainan yang berhubungan dengan gerakan yang digunakan dalam pengujian potensi atlit.

Gerakan lari 300 meter berfungsi untuk mengukur ketahanan kardiovaskuler. Ukuran yang digunakan dalam pengujian ketahanan kardiovaskuler dengan metode lari 300 meter, merupakan ukuran yang dimodifikasi dari lari 600 meter. Faktor yang menjadi pertimbangan dalam modifikasi ukuran pengujian ketahanan kardiovaskuler yaitu umur, kekuatan dan kemampuan fisik contoh. Hasil pengukuran gerakan lari 300 meter disajikan pada Tabel 29.

Tabel 29 Sebaran contoh berdasarkan tes lari 300 meter.

Lari 300 meter Kategori

n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

17 28 6 0 0

33.3 54.9 11.8 0 0

Total 51 100

Tabel 29 menunjukan bahwa 54.9% contoh memiliki potensi ketahanan kardiovaskuler yang dikategorikan kurang. Skor pengukuran maksimum adalah 3 dan skor minimum 1, dengan skor rata-rata adalah 1.78±0.64. Pengukuran ketahanan kardiovaskuler memiliki nilai yang rendah karena sebagian besar contoh baru mencapai skor 2. Tingkat pencapaian hasil pengukuran tersebut menunjukan daya tahan kardiovaskuler contoh belum dapat beradaptasi dengan baik saat melakukan aktivitas fisik tinggi, sehingga daya kerja jantung tidak maksimal dan berpengaruh terhadap kelelahan yang terjadi secara cepat.

(16)

Hasil pengukuran ketahanan kardiovaskuler berdasarkan jenis kelamin menunjukkan hasil bahwa 56.66% contoh laki-laki dan 52.38% contoh perempuan dikategorikan kurang (Lampiran 5). Rendahnya hasil pengukuran ketahanan kardiovaskuler diduga disebabkan oleh otot jantung yang belum mencapai perkembangan maksimal, sehingga tidak dapat bekerja dan beradaptasi dengan baik dalam sistem sirkulasi darah jantung. Aktivitas fisik seperti ini sangat membutuhkan kerja jantung yang maksimal, karena jantung merupakan organ tubuh vital yang berfungsi sebagai organ pemompa darah ke seluruh tubuh melalui arteri dan vena (Evelyn 2006).

Faktor yang juga diduga berhubungan dengan rendahnya skor yang diperoleh pada pengujian ketahanan kardiovaskuler dengan metode lari 300 meter adalah daya kerja paru-paru dalam menampung oksigen. Pada usia 48-72 bulan, ukuran paru-paru anak tidak seperti ukuran orang dewasa, sehingga tidak dapat menampung oksigen yang dihirup melalui sistem saluran pernapasan dalam jumlah besar. Rendahnya oksigen menyebabkan terjadinya kelelahan pada otot, karena oksigen merupakan salah satu faktor yang membantu dalam proses percepatan metabolisme energi terutama pada kegiatan fisik.

Mencapai ketahanan kardiovaskuler yang baik, dapat diperoleh melalui latihan secara teratur dan terus-menerus, sehingga otot jantung dan paru-paru dapat beradaptasi dengan aktivitas fisik yang tinggi. Bila tubuh dilatih dengan gerakan-gerakan yang dapat memacu kerja jantung dan paru-paru secara terus-menerus maka akan berdampak positif terhadap ketahanan kardiovaskuler.

Untuk meningkatkan ketahanan kardiovaskuler contoh, gerakan-gerakan yang berhubungan (seperti gerakan lari 300 meter) dapat dilibatkan dalam aktivitas bermain terutama dalam permainan-permainan yang aktif.

Penilaian pengujian kecepatan gerak tubuh dengan metode lari 100 meter, ketahanan otot tangan dengan metode menggantung, kekuatan otot perut dengan metode sit-up, kekuatan eksplosif dengan metode lompat tegak dan ketahanan kardiovaskuler dengan metode lari 300 meter yang dimiliki contoh adalah mengukur potensi atlit secara menyeluruh dan hasilnya disajikan pada Tabel 30.

(17)

Tabel 30 Sebaran contoh berdasarkan lima parameter dan potensi atlit.

1 2 3 4 5 Potensi atlit

Kategori

% % % % % n % Sangat kurang

Kurang Sedang Baik Sagat baik

7.8 51.0 35.3 5.9

0

0 9.8 52.9 33.3 3.9

2.0 15.7 72.5 9.8

0

0 29.4 64.7 5.9

0

33.3 54.9 11.8 0 0

3 25 21 2 0

5.88 49.01 41.17 3.92

0

Total 100 100 100 100 100 51 100

Ket : 1 (lari 100 meter), 2 (mengantung), 3 (Sit-up), 4 (lompat tegak), 5 (lari 300 meter).

Tabel 30 menunjukkan bahwa 49.01 % contoh dikategorikan sebagai potensi atlit kurang dan 41.17% contoh dikategorikan sebagai potensi atlit sedang. Skor pengukuran maksimum adalah 18 dan skor minimum adalah 9, dengan skor rata- rata adalah 13.15±1.98. Rendahnya potensi atlit contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari disebabkan oleh hasil pengukuran potensi atlit sebagian besar berkisar antara skor 10 sampai 13, dan 14 sampai 17. Faktor yang diduga menyebabkan rendahnya potensi atlit contoh yaitu otot besar dan kontrol terhadap motorik halus seperti kontrol tangan, belum berkembang secara sempurna. Anak-anak belum terampil dan tidak dapat melakukan gerakan tubuh yang rumit (Sumantri 2005).

Rendahnya potensi atlit contoh disebabkan oleh hasil pengukuran lima parameter yang digunakan untuk mengukur dan menilai sebagian besar belum maksimal. Hasil pengukuran lari 100 meter, didominasi oleh kecepatan gerak fisik kategori kurang (51.0%) dengan skor rata-rata 2.39±0.72, pengukuran menggantung didominasi ketahanan otot tangan kategori sedang (52.9%) dengan skor rata-rata 3.31±0.70, pengukuran sit-up sebagian besar memiliki otot perut kategori sedang 72.5% dengan skor rata-rata 2.90±0.57, sedangkan pengukuran lompat tegak didominasi tenaga eksplosif kategori sedang 64.7% dengan skor rata-rata 2.76±0.55, serta pengukuran lari 300 meter didominasi ketahanan kardiovaskuler kategori kurang 54.9% dengan skor rata-rata 1.78±0.64. Nilai-nilai tersebut berpengaruh terhadap potensi atlit yang rendah pada contoh dengan usia 48-72 bulan di kebun teh Malabar dan Purbasari.

Pada hasil pengukuran, juga ditemukan contoh yang memiliki potensi atlit yang dapat dikategorikan baik yaitu sebesar 3.92%. Hasil yang maksimal disebabkan oleh lima ukuran terutama kecepatan fisik, ketahanan otot, kekuatan

(18)

otot dan tenaga eksplosif sudah mencapai tingkat nilai maksimal. Pada pengukuran lari 100 meter diperoleh kecepatan gerak fisik yang dikategorikan baik yaitu sebesar 5.9%. Contoh yang memiliki kecepatan fisik yang baik, diperlukan pembinaan sejak dini, oleh karena contoh memiliki kecepatan gerak fisik yang maksimal. Jenis olahraga yang diarahkan adalah jenis olahraga atletik dan sepak bola. Hasil pengukuran penggabungan antara kecepatan gerak fisik dan tenaga eksplosif kategori baik adalah 11.8%, sehingga bisa diarahkan ke jenis olahranga lari halang lintar dan bola voli. Sedangkan pada pengukuran menggantung, juga ditemukan ketahanan otot kategori baik 33.3% dan sangat baik 3.9%. Contoh yang memiliki ketahanan otot yang baik dapat dibina sejak dini, karena pada usia ini contoh telah memiliki kekuatan otot maksimal untuk melahirkan calon atlit-atlit berprestasi. Jenis olahraga yang harus diarahkan yaitu angkat besi, lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, tinju, panjat tebing dan olahraga lainnya yang berhubungan dengan kekuatan otot tangan.

Hasil pengukuran sit-up, ditemukan contoh yang memiliki kekuatan otot perut kategori baik 9.8%, sehingga diperlukan pembinaan sejak dini untuk diarahkan ke jenis olahraga yang berhubungan dengan kekuatan otot perut seperti tinju dan lain-lain. Pada pengukuran lompat tegak, juga ditemukan contoh yang memiliki potensi tenaga eksplosif kategori baik 5.9%. Jenis olahraga yang diarahkan yaitu lompat jauh, lompat tinggi, sepak bola dan olahraga yang berhubungan dengan kekuatan kaki, karena pada usia ini contoh telah memiliki tenaga eksplosif maksimal yang dapat dikembangkan.

Berdasarkan Lampiran 7, penggabungan nilai pengukuran kecepatan gerak fisik dan kekuatan otot tangan kategorik baik dengan prosentasi 19.6%. pada pengukuran kecepatan gerak fisik, kekuatan dan ketahanan otot kategori baik dengan prosentase 16.33%. Sedangkan pengukuran kecepatan gerak fisik, kekuatan otot tangan, ketahanan dan kekuatan eksplosif kategori baik dengan prosentasi 13.72%. Pengukuran kecepatan gerak fisik, kekuatan, ketahanan otot, tenaga eksplosif dan ketahanan kardiovaskuler karegori baik yaitu 10.98. Jenis olahraga yang perlu diarahkan adalah bola voli dan basket, sepak bola, atletik dan olahraga lainnya. Pengujian potensi atlit tersebut bila dibedakan berdasarkan jenis kelamin,

(19)

maka contoh laki-laki memiliki hasil lebih baik dibandingkan contoh perempuan.

Hasil pengujian disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31 Sebaran contoh usia 48-72 bulan berdasarkan potensi atlit dan jenis kelamin.

Laki-laki Perempuan Total

Kategori

n % n % n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

0 14 14 2 0

0.00 46.67 46.67 6.66

0

7 11

3 0 0

33.33 52.38 14.29

0 0

3 25 17 2 0

13.73 49.02 33.33 3.92

0

Total 30 100 21 100 51 100

Tabel 31 menunjukkan bahwa 46.7% dari 30 contoh laki-laki memiliki potensi atlit yang dikategorikan sedang dan kurang yaitu 46.7%, sedangkan 52.4%

dari 21 contoh perempuan memiliki potensi atlit yang dikategorikan kurang.

Rendahnya potensi atlit contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari dipengaruhi oleh hasil pegukuran lima parameter berdasarkan jenis kelamin terutama pengujian ketahanan kardiovaskuler dan kecepatan gerak yang memiliki hasil yang rendah pada contoh perempuan. Hal ini menunjukan bahwa dari lima parameter tes potensi atlit yang dilakukan, 6.6% dari 30 contoh laki-laki memiliki potensi atlit yang mencapai hasil cukup maksimal. Faktor yang diduga mempengaruhi perbedaan hasil pengukuran pada contoh laki-laki dan perempuan adalah struktur fisik yang dimiliki. Anak laki-laki memiliki ketahanan fisik lebih baik dibandingkan anak perempuan. Sumantri (2005) menyatakan bahwa anak laki-laki cenderung sedikit lebih tinggi dan besar dari anak perempuan. Faktor tersebut diduga menyebabkan terdapatnya perbedaan kemampuan kerja fisik contoh.

Aktivitas Bermain Anak Usia 48-72 Bulan

Bermain merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan, spontan dan didorong oleh motivasi internal yang umumnya dilakukan oleh anak-anak (Dariyo 2007). Aktivitas bermain dalam penelitian adalah aktivitas bermain usia 48-72 bulan yang melibatkan kombinasi organ fisik untuk merangsang

(20)

pertumbuhan. Pengukuran aktivitas bermain anak dalam penelitian menggunakan 10 item yang terdiri dari pertanyaan dan pengamatan yang dilakukan melalui wawancara kepada responden serta pengamatan langsung kegiatan bermain contoh. Hasil pengukuran disajikan pada Tabel 32 .

Tabel 32 Sebaran contoh berdasarkan jenis permainan tradisional.

Ya Tidak Total

Jenis permainan

n % n % n %

Waktu bermain >3 Jam Bermain kejar-kejaran Bermain kucing-kucingan Bola tangan

Bola kaki Lompat tali

Mengelilingi lingkaran Melompat satu kaki Melompat dua kaki

Permainan dilakukan dua minggu terakhir 48 51 50 6 27 40 51 47 44 51

94.11 100 98.03 11.76 52.94 78.43 100 92.15 86.27 100

3 0 1 45 23 11 0 4 7 0

5.89 0 1.07 88.24 47.06 21.57

0 7.85 13.73

0

51 51 51 51 51 51 51 51 51 51

100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Dari hasil analisis, contoh memiliki waktu bermain di kebun teh Malabar dan Purbasari >3 jam adalah sebesar 95.11%. Jenis permainan yang melatih kecepatan yaitu bermain kejar-kejaran bermain kucing-kucingan di kebun teh Malabar dan Purbasari adalah jenis yang sering dilakukan, dengan persentase masing-masing 100% dan 98.03%. Permainan tradisional bola kasti untuk melatih kekuatan tangan dan kecepatan adalah jenis permainan yang paling sering tidak dilakukan (88.24%). Hal ini disebabkan oleh jenis permainan bola kasti tidak diminati contoh terutama oleh contoh berjenis kelamin perempuan.

Sebanyak 52.94% contoh melakukan permainan tradisional bola kaki di kebun teh Malabar dan Purbasari, terutama didominasi oleh contoh laki-laki.

Budaya saat ini masih beranggapan bahwa permainan sepak bola hanya dikhususkan untuk laki-laki. Sebanyak 78.43% contoh melakukan permainan lompat tali yang berfungsi mengasah kekuatan otot kaki. Permainan ini merupakan permainan yang diminati oleh anak baik laki-laki maupun perempuan.

Sedangkan untuk permainan lari mengelilingi lingkaran untuk melatih kecepatan dan keseimbangan tubuh, sebanyak 100% contoh baik laki-laki maupun perempuan melakukan permaian tersebut.

(21)

Permainan yang melatih kekuatan otot dan kelincahan kaki dengan melompat tumpuhan satu kaki dan saling berganti, sebagian besar contoh dapat melakukan gerakan tersebut, yaitu 92.15% untuk satu kaki 92.15% dan 86.27%

untuk dua kaki. Dari gambaran deskriptif berdasarkan wawancara dan pengamatan terhadap kegiatan bermain, diperoleh aktivitas bermain contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari yang disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33 Sebaran contoh berdasarkan akitvitas bermain.

Aktivitas bermain Kategori

n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

0 1 10 23 17

0 1.96 19.60 45.09 33.33

Total 51 100

Tabel 33 menunjukkan bahwa 45.09% contoh memiliki aktivitas bermain yang dikategorikan baik. Skor nilai maksimum adalah 10 dan skor minimum adalah 5, dengan nilai rata-rata adalah 8.13±1.05. Tingginya aktivitas bermain disebabkan seluruh contoh memiliki waktu bermain diatas >3 jam. Selain waktu bermain, sebagian besar permainan tradisional seperti bermain kejar-kejaran, kucing-kucingan, lompat tali, lari mengelilingi lingkaran, melompat dengan satu kaki dan dua kaki dengan cara saling berganti sering dilakukan dalam aktivitas bermain contoh sehari-hari.

Tingginya aktivitas bermain anak diduga disebabkan juga oleh faktor usia, dimana usia 48-72 bulan merupakan usia aktif. Hampir seluruh waktu digunakan untuk tidur dan bermain dengan teman-temannya. Permainan ini bukan hanya mengasah ketangkasan organ motorik semata, tetapi juga perkembangan emosi dan sosial (Dewi 2005).

Perkembangan ketrampilan motorik kasar dengan melakukan gerakan lari, melompat dalam permainan kelihatannya sederhana, namun gerakan kaki, tangan dan seluruh tubuh merupakan aktivitas otot yang cukup rumit. Ketrampilan yang diasah melalui aktivitas bermain menuntut kematangan dalam koordinasi seluruh gerakan otot. Akitivitas bermain berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 34.

(22)

Tabel 34 Sebaran contoh berdasarkan aktivitas bermain dan jenis kelamin.

Laki-laki Perempuan Total Kategori

n % n % n %

Sangat kurang Kurang Sedang Baik Sangat baik

0 0 2 14 14

0 0 6.66 48.66 48.66

0 1 8 9 3

0 4.47 38.09 42.85 14.85

0 1 10 23 17

0 1.96 19.61 45.10 33.33

Total 30 100 21 100 51 100

Tabel 34 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh laki-laki 48.66% dari 30 orang contoh memiliki aktivitas bermain yang dikategorikan sangat baik dan baik. Faktor yang menyebabkan tingginya aktivitas bermain pada contoh laki-laki adalah waktu bermain dan jenis permainan tradisional yang sering dimainkan, dimana seluruh jenis permainan tradisional yang diamati sering dimainkan sehari- hari oleh contoh laki-laki. Jenis permainan yang dominan dilakukan oleh contoh laki-laki adalah sepak bola dan bola kasti atau bola tangan. Nilai tersebut mempengaruhi hasil pengukuran contoh laki-laki. Pada contoh perempuan, sebagian besar 42.85% dari 21 orang contoh memiliki aktivitas bermain yang dikategorikan baik. Hasil pengukuran aktivitas bermain contoh perempuan adalah belum maksimal karena dua jenis permainan terutama bola kasti atau bola tangan jarang dimainkan. Sedangkan permainan bola kaki tidak pernah dimainkan contoh perempuan. Jenis permainan merupakan ciri budaya setempat yang ikut berpengaruh dalam membatasi pemilihan permainan. Aktivitas bermain yang melibatkan organ fisik cenderung dilakukan contoh laki-laki daripada perempuan.

Status Kesehatan

Status kesehatan menurut Undang-undang Kesehatan nomor 23 Tahun 1992 adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Status kesehatan dalam penelitian adalah riwayat penyakit yang pernah diderita, meliputi diare dan ISPA yang dialami contoh satu bulan yang lalu dan saat penelitian berlangsung. Hasil analisis data status kesehatan contoh berdasarkan frekuensi sakit diare dan ISPA disajikan pada Tabel 35.

(23)

Tabel 35 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi sakit diare dan ISPA.

Diare ISPA

Frekuensi sakit

n % n %

Tidak pernah (0) Perna sakit(1-2) Sering sakit(≥3)

38 13 0

74.50 25.50

0

19 23 9

37.25 45.09 17.64

Total 51 100 51 100

Tabel 35 menunjukkan bahwa 74.50% contoh tidak pernah mengalami sakit diare dengan frekuensi sakit rata-rata 0.31± 0.54 per bulan, dan 45.09% contoh pernah mengalami sakit ISPA (1 sampai 2 kali per bulan) dengan frekuensi sakit rata-rata 1.07±1.09 per bulan. Tingginya frekuensi sakit disebabkan contoh mengalami frekuensi sakit berkisar 1 sampai 2 kali per bulan terutama penyakit ISPA. Faktor yang diduga menyebabkan tingginya frekuensi sakit ISPA yaitu keadaan sanitasi rumah masih belum memadai terutama jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara. Jumlah ventilasi udara belum dapat mengatur sirkulasi udara secara maksimal. Syarat rumah sehat untuk ventilasi udara yaitu 20% dari luas ruangan tidak dipenuhi, dan jumlah penghuni yang menempati rumah begitu padat. Ventilasi udara dan padatnya penghuni menyebabkan tidak maksimalnya sirkulasi udara sehingga mendukung terjadinya penularan ISPA.

Tabel 35 juga menunjukkan bahwa 25.40% contoh pernah mengalami sakit diare (1 sampai 2 kali per bulan). Faktor yang diduga berhubungan dengan frekuensi sakit diare yaitu air minum yang digunakan oleh keluarga contoh, dimana air tersebut bersumber dari mata air dan air tanah, sehingga kurang terjamin kebersihannya jika tidak ditangani dengan baik. Rendahnya frekuensi sakit diare diderita contoh masih memiliki dampak yang cukup besar terhadap kesehatan contoh.

Penyebab utama kematian anak di Indonesia saat ini disebabkan oleh penyakit ISPA dan infeksi diare (Depkes 2004). Kedua penyakit tersebut memiliki hubungan terhadap sanitasi lingkungan dan perilaku masyarakat. Blum dalam Notoatmojo (2003) menyatakan bahwa status kesehatan baik individu maupun masyarakat dipengaruhi oleh lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Sebaran tempat pengobatan contoh yang mengalami sakit dilihat pada Tabel 36.

(24)

Tabel 36 Sebaran tempat pengobatan bila contoh mengalami sakit.

Tempat Pengobatan n %

Tidak pernah Rumah sakit Dokter Puskesmas

Beli obat di warung Pengobatan tanaman obat Pengobatan lain

4 1 7 26

7 5 1

7.84 1.96 13.73 50.98 13.73 9.80 1.96

Total 51 100

Berdasarkan Tabel 36, 50.98% contoh yang mengalami sakit berobat di puskesmas. Tingginya kunjungan ke puskesmas disebabkan oleh akses ke puskesmas yang ada di kebun teh Malabar dan Purbasari mudah dijangkau masyarakat, serta biaya pelayanan kesehatan yang murah dengan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Tabel 36 juga menunjukkan bahwa 9.80% contoh diberikan tanaman obat bila mengalami sakit, hal ini menggambarkan kemandirinan orang tua dalam penanggulangan kesehatan anak. Selain itu ada 13.73% contoh yang diberikan obat yang dibeli dari warung bila mengalami sakit. Hal ini terjadi dengan alasan bahwa orang tua contoh tidak memiliki biaya untuk pergi ke tempat pelayanan kesehatan. Notoatmojo (2003) menyatakan bahwa kemiskinan merupakan faktor penyebab rendahnya akses pelayanan kesehatan.

Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan dalam penelitian adalah nilai dari zat gizi energi, protein, vitamin A dan zat besi (Fe), dari jenis pangan yang dikonsumsi anak usia 48-72 bulan yang diperoleh melalui recall 2 x 24 jam, selama 2 hari yang dibandingkan dengan angka kecukupan rata-rata individu yang dianjurkan per orang per hari.

Hasil analisis data konsumsi zat gizi disajikan pada Tabel 37.

Tabel 37 Sebaran contoh usia 48-72 berdasarkan konsumsi zat gizi rata-rata dan rasio kecukupan.

Konsumsi zat gizi Kosumsi rata-rata zat gizi Rasio kecukupan rata-rata Energi (kkal)

Protein (g) Vitamin A (RE) Zat besi (mg)

1215±1204.57 21,15±9,15 281,76±243.63

6,40±2.76

76,78±11,70%

51,80±20,54%

39,55±27,38%

61,63±17,64%

Rata-rata ±SD

(25)

Konsumsi energi rata-rata per orang per hari di kebun teh Malabar dan Purbasari adalah 1215±1204,57 kkal dengan nilai konsumsi maksimum sebesar 1681,57 kkal dan nilai konsumsi minimum sebesar 808,73 kkal. Konsumsi energi dari 51 contoh belum memenuhi angka kecukupan konsumsi energi yang dianjurkan per orang per hari (1550 kkal), dengan rasio kecukupan energi sebesar 76.78±11.70%. Tingginya rasio kecukupan disebabkan oleh terdapatnya variasi data konsumsi energi dari 51 contoh. Kebutuhan energi contoh telah terpenuhi, karena rasio kecukupan energi sudah diatas 70%. Konsumsi energi contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari sebagian besar bersumber dari karbohidrat yaitu nasi yang merupakan makanan pokok utama. Menurut Ahmad et al. (2007), energi berasal dari bahan pangan yang dikonsumsi yang bersumber dari karbohidrat, lemak dan protein.

Fungsi protein untuk tubuh manusia adalah sebagai berikut : 1) membangun sel tubuh, 2) mengganti sel tubuh, 3) membuat air susu dan hormon, 4) membuat protein darah, 5) menjaga asam-basa cairan tubuh, dan 6) pemberi kalori (Irianto 2007). Konsumsi protein contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari rata-rata per orang per hari adalah 21,15±9,16 gram. Konsumsi protein maksimum adalah 45,16 gram dan minimum adalah 6,73 gram. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan protein yang dianjurkan (39 gram), maka rata-rata konsumsi protein dari 51 contoh belum terpenuhi. Rasio kecukupan protein contoh adalah 51.80±20.54%, dan hal ini menggambarkan bahwa konsumsi protein contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari belum terpenuhi. Rendahnya konsumsi protein contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari disebabkan oleh sumber protein yang dikonsumsi contoh sebagian besar mengandalkan protein nabati yaitu tempe dan tahu. Tempe dan tahu merupakan sumber protein nabati, namun konsumsi protein nabati tersebut juga masih sangat rendah sehingga tidak memenuhi kecukupan protein yang dianjurkan.

Konsumsi protein yang bersumber dari protein hewani seperti ikan dan telur masih rendah. Almatsier (2005) menyatakan bahwa sumber kandungan protein tertinggi terdapat pada bahan makanan hewani. Rendahnya konsumsi protein diduga juga disebabkan oleh faktor kemiskinan, sehingga masyarakat belum mampu menjangkau bahan pangan yang berkualitas. Menurut Mundanijah et al.

(26)

(2006), faktor ekonomi dan harga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi pangan.

Konsumsi vitamin A yang cukup sangat baik untuk tubuh. Vitamin A berfungsi dalam hal penglihatan, pertumbuhan dan perkembangan, diferensiasi sel, reproduksi dan kekebalan tubuh (Ahmad et al 2007). Jenis makanan hewani dan nabati yang kaya akan kandungan vitamin A yaitu hati, telur, wortel, sayur berwarna hijau, produk susu dan keju (Irianto 2007). Konsumsi vitamin A contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari rata-rata adalah 281,76±243,63, dengan nilai maksimum adalah 478 RE dan nilai minimum adalah 116 RE. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan vitamin A yang dianjurkan (450 RE), maka rata-rata konsumsi vitamin A contoh termasuk kategori kurang atau belum terpenuhi, dengan rasio kecukupan 39.55±27.38%. Rendahnya konsumsi vitamin A karena rendahnya konsumsi sayur-sayuran dan pangan hewani contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari.

Rata-rata konsumsi zat gizi besi (Fe) contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari adalah 6,40±2,76, dengan nilai maksimum sebesar 16.32 mg dan nilai minimum sebesar 2.78 mg. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan zat besi rata-rata yang dianjurkan (9 mg), maka rata-rata konsumsi zat gizi besi (Fe) contoh belum memenuhi angka kecukupan yang dianjurkan. Bila dikonversikan ke rasio kecukupan konsumsi besi (Fe), maka diperoleh rasio kecukupan zat gizi besi (Fe) sebesar 61.63±17.64. Rendahnya kosumsi zat gizi besi (Fe) disebabkan oleh masih rendahnya konsumsi pangan hewani dan sayuran. Bahan pangan kaya akan zat gizi besi (Fe), dan sebagian besar tekandung pada bahan makanan hewani. Untuk mendapatkan zat gizi yang berkulaitas dalam bahan makanan, diperlukan konsumsi makanan yang beragam, karena seluruh zat gizi makro, mikro, vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh tidak terdapat dalam satu jenis bahan pangan. Tubuh memerlukan zat gizi dalam batas tertentu, bila konsumsi melebihi kebutuhan tubuh, maka akan berdampak terhadap kesehatan. Konsumsi zat gizi yang cukup digunakan sebagai sumber energi, zat pembangun, zat pembentuk dan zat pengatur dalam menjalankan proses tubuh. Kebutuhan zat gizi seseorang dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur aktivitas fisik, berat badan, tinggi badan, genetik serta keadaan fisiologis seseorang (Karyadi dan Muhilal 1998).

(27)

Jumlah zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan normal juga tergantung dari kualitas zat gizi yang dimakan seperti bagaimana zat gizi itu mudah dicerna (digestibility) dan diserap (absorbability) (Pudjiadi 2005).

Status Anemia

Penilaian status gizi secara laboratorium atau biokimia digunakan untuk mendeteksi tahap defisiensi subklinis dan untuk mengkonfirmasi diagnosa secara klinis terhadap seseorang. Cara ini merupakan metode yang dinilai secara objektif, karena tidak melibatkan emosi dan faktor subjektif lainnya. Untuk menilai apakah seseorang mengalami anemia, dapat dilakukan dengan pengukuran haemoglobin (Hb) (Gibson 2005). Haemoglobin (Hb) adalah cairan merah dalam darah yang berfungsi mengangkut oksigen yang disebarkan ke seluruh tubuh. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sahli. Metode ini digunakan sebagai pengganti dari metode sianmethemoglobin, karena di tempat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas) di daerah penelitian tidak tersedia metode sianmethemoglobin, dimana metode ini merupakan metode yang direkomendasikan oleh WHO. Metode sahli akan lebih baik dilakukan bila menggunakan tenaga ahli yang telah mengikuti pendidikan, pelatihan dan berpengalaman (Muhilal & Saidin 1980). Untuk mencegah bias lebih besar, maka dalam pengukuran haemoglobin (Hb), ujung jari anak-anak setelah terlebih dahulu dibersihkan dengan alkohol, kemudian daerah tersebut dibersihkan lagi dengan tisu untuk mencegah terjadi percampuran alkohol dan plasma darah.

Hasil pengukuran haemoglobin (Hb), yang dilakukan selama dua hari di kebun teh Malabar dan Purbasari, menyatakan bahwa sebagian besar contoh mengalami kekurangan haemoglobin (Hb) dalam darah atau anemia. Hasil pengukuran status biokimia tersebut disajikan pada Tabel 38.

Tabel 38 Sebaran contoh berdasarkan haemoglobin (Hb).

Haemoglobin (Hb) n %

Normal (≥110g/l atau 115g/l) Anemia (<110g/l atau 115g/l)

19 32

37.25 62.74

Total 51 100

(28)

Tabel 38 menunjukkan bahwa sebanyak 62.74% contoh di kebun teh Malabar dan Purbasari mengalami status anemia dan 37.25% contoh memiliki haemoglobin (Hb) normal yaitu, dengan nilai rata-rata 11.10±0.79. Rendahnya haemoglobin (Hb) contoh karena masih rendahnya konsumsi zat gizi terutama zat gizi besi (Fe) dan protein. Konsumsi zat gizi besi (Fe) rata-rata adalah 6,40±2,76 dan protein adalah 21,15±9,16 (Tabel 35). Kedua zat gizi tersebut merupakan bahan yang dibutuhkan tubuh dalam pembentukan haemoglobin (Hb) darah.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia antara lain asupan zat gizi besi (Fe) yang tidak memadai, terjadi peningkatan kebutuhan fisiologis dan kehilangan banyak darah (Ahmad et al. 2007). Sebaran haemoglobin (Hb) berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 39.

Tabel 39 Sebaran contoh berdasarkan haemoglobin (Hb) dan jenis kelamin.

Laki-laki Perempuan Total Haemoglobin (Hb)

n % n % n %

Normal (≥110g/l atau 115g/l) Anemia (<110g/l atau 115g/l)

10 20

33.33 66.66

9 12

42.85 57.14

19 32

37.25 62.75

Total 30 100 21 100 51 100

Tabel 39 menunjukkan bahwa 66.66% (dari 31 contoh) contoh laki-laki dan 57.14% (dari 21 contoh) contoh perempuan memiliki status anemia. Rendahnya kadar haemoglobin (Hb) diduga disebabkan oleh rendahnya konsumsi zat gizi besi (Fe). Jika jumlah masukan zat gizi besi (Fe) melalui makanan sehari-hari tidak dapat mencukupi, adanya kebutuhan fisiologis atau kehilangan zat gizi besi (Fe) yang meninggi, mengakibatkan keadaan kekurangan zat gizi besi (Fe) dalam tubuh. Anemia yang tinggi juga akan berdampak terhadap rendahnya produktifitas tubuh, menurunnya kemampuan berpikir dan suplai oksigen yang tidak maksimal ke seluruh jaringan tubuh (Pudjiadi 2005).

Status Gizi

Kumaidi (1998) menyatakan bahwa jenis antropometri tinggi badan dan berat badan merupakan pendekatan antropometri yang terhandal dan mudah dilakukan. Status gizi dalam penelitian ini adalah keadaan gizi anak usia 48-72

(29)

bulan secara antropometri dengan menggunakan indeks BB/U, TB/U, BB/TB WHO/NCHS, yang dianalisis menggunakan program nutrisurvey 2005. Hasil analisis data status gizi berdasarkan indeks BB/U disajikan pada Tabel 40.

Tabel 40 Sebaran contoh berdasarkan status gizi BB/U.

Status gizi Kategori

n %

Buruk ( Z-score<-3) Kurang (Z-score -3 sd -2) Normal (Z-score -2 sd 2

2 16 33

3.92 31.37 64.70

Total 51 100

Tabel 40 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh 64.70% memiliki status gizi normal, dengan nilai rata-rata Z-score sebesar -1.66±0.80. Indikator pengukuran status gizi dengan indeks BB/U mencerminkan keadaan status gizi saat ini. Rendahnya nilai Z-score berdasarkan indeks BB/U merupakan indikator kekurangan gizi kronis (Gibson 2005). Sebaran contoh berdasarkan indeks status gizi BB/U dan jenis kelamin di kebun teh Malabar dan Purbasari disajikan pada Tabel 41.

Tabel 41 Sebaran contoh berdasarkan status gizi (BB/U) dan jenis kelamin.

Laki-laki Perempuan Total

Status Gizi

n % n % n %

Buruk ( Z-score<-3) Kurang (Z-score -3 sd-2) Normal (Z-score -2 sd 2)

0 10 20

0,00 33.33 66.66

2 6 13

9.52 28.57 61.90

2 16 33

3.92 31.37 64.70

Total 30 100 21 100 51 100

Tabel 41 menunjukkan bahwa 64.70% contoh berjenis kelamin laki-laki dan 61.90% contoh berjenis kelamin perempuan memiliki status gizi normal berdasarkan indeks BB/U. Tabel 41 juga menunjukkan bahwa masih terdapat contoh berjenis kelamin perempuan yang mengalami status gizi buruk dan kurang, yaitu masing-masing sebesar 9.52% dan 28.57%. Pengukuran status gizi berdasarkan indeks TB/U pada contoh dikebun teh Malabar dan Purbasari disajikan pada Tabel 42.

Gambar

Tabel 30 Sebaran contoh berdasarkan lima parameter dan potensi atlit.  1 2 3 4 5 Potensi  atlit  Kategori   % % % % %  n  %  Sangat kurang  Kurang  Sedang  Baik  Sagat baik  7.8  51.0 35.3 5.9 0  0  9.8  52.9 33.3 3.9  2.0  15.7 72.5 9.8 0  0  29.4 64.7 5.
Tabel 32 Sebaran contoh berdasarkan jenis permainan tradisional.
Tabel 36 Sebaran tempat pengobatan bila contoh mengalami sakit.  Tempat Pengobatan  n  %  Tidak pernah  Rumah sakit  Dokter  Puskesmas
Tabel 42 Sebaran contoh berdasarkan status gizi  TB/U.  Status gizi  Kategori   n  %  Kurang (Z-score &lt;-2)  Normal (Z-score -2 sd 2)  37 14  72.54 27.45  Total  51  100

Referensi

Dokumen terkait

Jumlah individu musuh alami hanya yang berada berjarak 1 m dari sarang lebah dikoleksi kemudian dihitung dengan menggunakan counter.. Musuh alami yang dikoleksi, diawetkan

dengan warga negara mayoritas muslim, tentunya menjadi tolak ukur tersendiri bagi pelaku usaha dalam memproduksi produk yang halal dan boleh dikonsumsi sesuai dengan syar’i, oleh

Demikian pula kebijakan/aturan; undang-undang/peraturan menteri/peraturan daerah; pembangunan sarana dan prasarana fasilitas infrastruktur yang mendukung aktivitas

Sedang untuk siswa yang tidak aktif akan mendapatkan teguran-te- guran baik lewat pembina pramuka atau- pun oleh Waka Kesiswaan diteruskan ke- pada Wali Kelas

Stakeholders tersebut dapat merupakan sistem sosial yang terdiri atas tokoh masyarakat, kontak tani, penyuluh, dan unit pelayanan teknis (UPT). Selain itu, dukungan sumberdaya

Tikus yang diinduksi bising dengan intensitas 90-95 dB selama 8 jam sehari dalam jangka waktu 12 hari kemudian pada hari ke-13 sampai hari ke-19 tidak diberikan perlakuan

Laju penetrasi formula II lebih rendah dibandingkan formula I dapat disebabkan karena pH sediaan formula II lebih besar dari pada pKa natrium diklofenak (pKa=4),

Suatu RFID tags dapat berupa benda yang sangat kecil, sehingga dapat disatukan dengan menggunakan media kertas stiker misalnya, ketika kode-kode identitas yang