1 I. EVALUASI KONDISI CUACA BULAN OKTOBER 2018
A. Monitoring Dinamika Atmosfer Oktober 2018
Kondisi cuaca di Indonesia termasuk Banyuwangi dikendalikan / dipengaruhi oleh fenomena-fenomena dinamika atmosfer berskala global, regional hingga lokal yang saling berinteraksi dan membentuk pola serta variabilitas cuaca - iklim di Banyuwangi. Berikut adalah monitoring kondisi fenomena-fenomena tersebut selama bulan Oktober 2018:
El Nino Southern Oscillation (ENSO)
Selama Oktober 2018, anomali suhu muka laut wilayah Samudera Pasifik Ekuatorial bagian tengah (Nino 3.4) menunjukkan kondisi hangat. Anomali suhu muka laut mingguan terakhir tercatat +0.94°C dan nilai bulanan Oktober 2018 adalah +0.8 sehingga termasuk kategori El Nino. Hal lainnya juga terlihat dari anomali angin pasat serta temperatur subsurface / bawah laut Pasifik dimana menunjukkan kondisi hangat khas El Nino. Namun nilai SOI (Southern Oscillation Index) pada Oktober tercatat +3.0 yang menunjukkan kondisi kembali Netral. Dengan kecenderungan suhu muka laut Nino 3.4 yang masih menghangat diprediksi kondisi El Nino berlangsung pada November 2018 hingga Maret 2019.
Gambar 1. Kondisi anomali suhu muka laut dan suhu bawah laut Pasifik, serta angin pasat di sekitar Pasifik Ekuatorial sampai akhir Oktober 2018 (Sumber : BoM)
2 Dipole Mode
Dipole Mode Indeks (DMI) di Samudera Hindia selama bulan Oktober 2018 menunjukkan nilai pada kisaran Kuat Positif dan terjadi penurunan pada akhir bulan. Indeks minggu terakhir Oktober 2018 tercatat +0.38, hal ini berkontribusi terhadap pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat. Kondisi DMI Kuat Positif ini diprediksi melemah pada November 2018 dan kembali Normal pada November 2018 hingga April 2019.
Gambar 2. Indeks Dipole Mode hingga akhir Oktober 2018 (Sumber : BoM)
Madden-Jullan Oscillation (MJO) dan Outgoing Longwave Radiation (OLR)
Posisi aktifitas MJO selama Oktober 2018 tidak aktif di Benua Maritim Indonesia (BMI), yang tentunya tidak berkontribusi pada kondisi liputan awan di wilayah Benua Maritim Indonesia. Dari anomali OLR wilayah Indonesia, terlihat warna kuning hingga coklat tua mendominasi hampir di seluruh wilayah Indonesia bagian Utara dan Selatan, namun untuk wilayah ekuator cenderung didominasi warna putih hingga biru. Hal ini menunjukkan wilayah Indonesia bagian ekuator cenderung lebih basah terkait bertambahnya daerah liputan awan pada Oktober 2018 dan khusus wilayah Banyuwangi menunjukkan dominan Positif (kering).
Gambar 3. Siklus posisi MJO dan anomali OLR selama Oktober 2018, Warna biru adalah OLR negatif, warna coklat adalah OLR positif (Sumber : BoM & NOAA)
3 Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Pada Oktober 2018, aliran massa udara wilayah Indonesia di selatan ekuator masih didominasi monsun Timuran, sedangkan wilayah Sumatera bagian Utara hingga Kalimantan bagian Utara didominasi angin Baratan. Kondisi tersebut menyebabkan bertambahnya pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera hingga Kalimantan bagian Utara. Memasuki awal November monsun Timuran diprediksi melemah dan semakin banyak pola siklonik dan pertemuan angin di sekitar ekuator. Memasuki kondisi peralihan dimana mulai stabilnya angin Baratan di utara ekuator, banyaknya pertemuan dan belokan angin di wilayah ekuator dapat mendukung pembentukan awan hujan, serta perlu diwaspadai terhadap kejadian angin kencang sesaat pada kondisi peralihan ini.
Gambar 4. Grafik indeks Monsun Australia harian yang dihitung dari data angin zonal arah barat-timur (komponen U) pada lapisan 850 mb (sumber: IPRC), dan normal streamline angin gradien
Oktober (sumber: NOAA)
Gambar 5. Anomali angin zonal dan meridional Oktober 2018 lapisan 850 mb (sumber: ESRL NOAA)
Pola aliran massa udara komponen zonal (timur – barat) di seluruh wilayah Jawa Timur selama Oktober 2018 kondisinya terjadi anomali positif yang mengindikasikan adanya dominasi massa udara dari barat dan lemahnya angin timuran dari klimatologisnya. Untuk komponen meridional (Utara – Selatan) di sebagian Jawa Timur khususnya Banyuwangi tidak terjadi anomali atau netral. Kondisi tersebut juga turut berperan dalam variabilitas hujan di Jawa Timur selama Oktober 2018.
4 Suhu muka laut perairan Indonesia
Kondisi anomali suhu muka laut di perairan Indonesia pada Oktober 2018 berkisar antara -2.0 hingga +0.5º C yang berada dikisaran negatif (mendingin). Untuk perairan sekitar Selatan Jawa cenderung cukup dingin dan hampir di seluruh perairan Indonesia bagian Barat bernilai negatif, namun untuk perairan Utara Papua cenderung hangat. Dengan suhu muka laut kisaran 26 – 29°C di wilayah perairan Jawa, menunjukkan berkurangnya potensi penguapan dan pembentukan awan selama Oktober 2018. Dinginnya suhu perairan ini menjadi salah satu faktor dalam berkurangnya pembentukan awan hujan di Jawa selama Oktober 2018. Untuk Jawa Timur di beberapa wilayah masih sesekali terjadi hujan ringan pada sore menjelang malam akibat kondisi lokal setempat dan didukung anomali positif suhu muka laut yang berfluktuatif harian dan bersifat lokal.
Gambar 6. Suhu Muka Laut Perairan Indonesia dan Anomalinya bulan Oktober 2018 (sumber: NOAA)
Gangguan Tropis
Selama Oktober 2018 tidak terdapat aktifitas gangguan tropis di wilayah Samudera Hindia selatan Indonesia. Adapun aktifitas siklon tropis terjadi di Belahan Bumi Utara yaitu Siklon KONGREY pada 30 September-3 Oktober, Siklon TITLI pada 11 Oktober, dan Siklon YUTU pada 21 Oktober- 2 November 2018.
Lokasi siklon yang cukup dekat sedikit berdampak terhadap kondisi cuaca di Indonesia bagian Utara khususnya Papua. Namun secara tidak langsung membuat monsun Baratan menguat di utara ekuator. Untuk wilayah selatan ekuator masih didominasi monsun timuran dan hanya meningkatkan kecepatan angin, dan arus di beberapa wilayah Indonesia.
Di wilayah Banyuwangi secara umum tidak terpengaruh selama periode terjadinya siklon tropis tersebut.
Gambar 7. Lintasan Siklon Tropis selama bulan Oktober 2018 (sumber: MSS) TC YUTU
TC TITLI
TC KONGREY
5 Kelembaban udara
Kelembaban udara relatif selama Oktober 2018 di Jawa Timur masih cenderung kering sama dengan bulan sebelumnya dengan rata-rata kisaran 55 – 61 %. Dari peta anomali terlihat di wilayah Jawa Timur tidak terjadi anomali atau sama dengan nilai rata- ratanya, hal ini berkorelasi positif dengan berkurangnya pertumbuhan awan dan sedikitnya hujan selama Oktober 2018 dimana wilayah khususnya Jawa Timur sedikit sebaran awannya.
Gambar 8. Kelembaban Udara Relatif Oktober 2018 dan Anomalinya pada level 850 mb (Sumber: ESRL NOAA)
Aktivitas Cuaca
Selama bulan Oktober 2018 wilayah Banyuwangi mengalami sedikit curah hujan yaitu skala rendah. Hujan kategori rendah (0-20 mm/ bulan) terjadi di sebagian besar wilayah Banyuwangi. Pada Oktober 2018 sebagian besar wilayah di Banyuwangi berada pada Musim Kemarau. Sedangkan pada Nopember 2018 wilayah Banyuwangi diprediksi akan mengalami masa peralihan musim/pancaroba (Dari musim Kemarau ke Musim Hujan). Perlu diwaspadai terjadinya angin kencang, puting beliung, petir, dan hujan lebat.
Kondisi ini jika dibandingkan dengan kondisi normal/ rata-rata bulan Oktober secara spasial hujan yang terjadi seluruh wilayah Banyuwangi dalam kondisi Bawah Normal. Sifat hujan di Bawah Normal terjadi di seluruh wilayah Banyuwangi. Pada bulan Nopember 2018 diprakirakan sebagian besar wilayah Banyuwangi dominan berada pada masa Peralihan Musim/Pancaroba (yaitu dari musim Kemarau ke Musim Hujan), sedangkan wilayah Banyuwangi bagian Tengah dan Barat memasuki musim hujan.
Untuk wilayah perairan selatan Banyuwangi hal perlu diwaspadai adalah terjadinya gelombang tinggi serta tingginya kecepatan angin yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana. Hal tersebut disebabkan oleh daerah perairan selatan merupakan lautan lepas .
6 B. Pantauan Kondisi Cuaca Bulan Oktober 2018 di Kota Banyuwangi
Dari rentetan peta synoptic selama bulan Oktober 2018 menunjukan bahwa wilayah kota Banyuwangi masih berada pada Musim Kemarau, hal tersebut di tandai oleh jumlah curah hujan yang kurang dari 150 mm/ bulan. Angin pada umumnya bertiup dari arah yang bervariasi. Angin dominan bertiup dari arah Tenggara, dengan kecepatan 3 – 9 knots. Kondisi cuaca cerah, berawan, dan hujan intensitas sangat ringan hingga Ringan.
Angin maksimum terjadi pada 04 Oktober 2018 yaitu dari arah Timur dengan kecepatan maximum 14 knots. Jumlah Hujan di Kota Banyuwangi dalam satu bulan sebanyak 0.7 mm (Bawah Normal). Suhu tertinggi 33.6 °C terjadi pada 30 Oktober 2018, suhu terendah sebesar 23.0 ºC terjadi pada 03 Oktober 2018.
Berikut adalah rekap data meteorologi yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Banyuwangi pada bulan Oktober 2018, di mana pada tabel ini ditampilkan parameter hasil observasi yang merupakan hasil pengamatan di lapangan dan data normal/ rata- rata yang merupakan keadaan normal pada bulan yang bersangkutan.
Tabel 1. Rekap Data Meteorologi Stasiun Meteorologi Banyuwangi Oktober 2018
NO PARAMETER HASIL OBSERVASI
OKTOBER 2018
NORMAL OKTOBER (1981-2010)
1 Temperatur rata-rata 28.8 ⁰C 27.3 ⁰C
2 Temperatur maksimum 32.2 ⁰C 33.3 ⁰C
3 Temperatur minimum 24.6 ⁰C 22.2 ⁰C
4 Temp. maks. absolut 33.6 ⁰C 36.4 ⁰C
5 Temp. min. absolut 23.0 ⁰C 20.0 ⁰C
6 Tekanan udara rata-rata * 1012.7 mb 1010.9 mb
7 Kecepatan angin rata-rata 3.9 knots 3.4 knots
8 Arah angin terbanyak Tenggara Tenggara
9 Kelembaban rata-rata 69 % 76 %
10 Curah hujan 0.7 mm 70 mm
11 Jumlah hari hujan 5 hari hujan 9 hari hujan
7
8
Gambar 10. Grafik parameter cuaca dan mawar angin di kota Banyuwangi hasil observasi Oktober 2018 (Sumber: BMKG)
Penguapan yang terjadi selama Oktober 2018 mencapai 199.6 mm dengan rata-rata harian 6.4 mm, penguapan tertinggi 11.1 mm terjadi pada 31 Oktober 2018.
Penyinaran matahari rata-rata Oktober 2018 r a t a - r a t a 9 9 % . P e n y i n a r a n M a t a h a r i t e r t i n g g i mencapai 1 0 0 % terjadi pada dasarian I, II dan III.
Tekanan udara (QFF) r a t a - r a t a 1 0 1 2 . 7 m b , tertinggi 1014.6 mb pada 21 Oktober 2018 dan terendah 1010.5 mb pada 31 Oktober 2018.
Rata-rata kelembaban udara relative (RH) Oktober 2018 adalah 6 9 % dengan RH tertinggi 80 % pada 07 Oktober 2018, dan RH terendah 62 % pada 29 Oktober 2018.
Dari gambar mawar angin (windrose) terlihat arah angin bervariasi. Angin dominan bertiup dari arah Barat Daya , kecepatan angin 3 - 8 knots sebesar 66.9 %. Kecepatan angin tertinggi 14 knots dari arah Timur.
C. Evaluasi Kondisi Cuaca Bandara Banyuwangi.
Bandar Udara Banyuwangi (IATA: BWX, ICAO: WADY) terletak di Desa Blimbingsari, Kec. Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada
koordinat 8°18′38.16″ LS 114°20′24.64″ BT dengan elevasi 25.66 meter (84.19 feet).
Bandara dengan landas pacu saat ini 2.250 meter tersebut dibuka pada 29 Januari 2010.
Hingga Oktober 2018 terdapat tiga maskapai penerbangan komersial yaitu Garuda Indonesia, Wings Air, NAM Air (Sriwijaya Group) dan yang terbaru adalah Citilink (Garuda Indonesia Group). Selain itu juga terdapat 3 sekolah penerbangan yaitu Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi (BP3B), Bali International Flight Academy (BIFA), dan Nusa Flying.
Kondisi parameter cuaca selama Oktober 2018 di Bandara Banyuwangi dari data hasil pengamatan BMKG pos meteorologi penerbangan bandara Banyuwangi dengan durasi pengamatan 24 jam (00.00 – 23.00 UTC) adalah sebagai berikut :
Wilayah Bandara Banyuwangi pada bulan Oktober 2018 normalnya berada pada masa musim Kemarau. Pada Oktober 2018 di Bandara Banyuwangi jumlah hujan 0,1 mm / bulan yang tertakar dan untuk bulan Oktober 2018 berada pada masa musim kemarau.
9 Curah hujan selama Oktober 2018 0,1 mm. Kelembaban udara relatif rata-rata 76 %.
RH tertinggi 80 % tanggal 06, 10 dan 12 Oktober 2018, terendah 69 % tanggal 31 O k t o b e r 2018. Tekanan udara (QNH) rata-rata 1013.9 mb, tertinggi 1015.9 mb dan terendah 1011.8 mb. Suhu rata–rata 27.3 °C dengan suhu maksimum absolut 32.3 °C terjadi pada 31 Oktober 2018, suhu minimum absolut 20.8 °C pada 09 dan 10 Oktober 2018. Arah angin bervariasi, kecepatan angin 3 – 18 knots. Angin dominan bertiup dari arah Tenggara dan Barat. Mayoritas kecepatan angin mencapai 65.2 % berkisar antara 3 – 8 knots. Kecepatan angin tertinggi 16 knots, terjadi pada 07 Oktober 2018 dari arah Tenggara.
Gambar 11. Grafik parameter cuaca hasil observasi Oktober 2018 di Banyuwangi Airport (Sumber: BMKG)
10 D. Evaluasi Kondisi Cuaca Penyeberangan Selat Bali
Berdasarkan pantauan data AWS maritim di pelabuhan penyeberangan Ketapang Banyuwangi, menunjukkan selama bulan Oktober 2018 angin dominan dari arah Selatan dengan kecepatan angin bervariasi 0 – 16 knots. Suhu berkisar antara 24.3 – 29.3°C, Kelembaban Udara Relatif 62.3 – 94 %, dan tekanan udara berkisar 1007.3 – 1015.2 mb.
Kondisi cuaca dominan Cerah - Berawan. Berikut grafik parameter cuaca selat Bali :
Gambar 12. Grafik Parameter Cuaca Penyeberangan Selat Bali (Sumber : AWS BMKG)
11 E. Analisa Hujan Oktober 2018 daerah Banyuwangi
Berdasarkan data curah hujan bulan Oktober 2018 dari stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama di Banyuwangi dapat disajikan evaluasinya sebagai berikut :
Jumlah Curah hujan tertinggi 2 mm/bulan terjadi di Bayulor dengan 1 hari hujan dengan sifat hujan Bawah Normal. Sementara curah hujan terendah 0 mm/bulan terjadi di sebagian besar kecamatan – kecamatan yang ada di Banyuwangi.
Gambar 13. Peta Distribusi Curah Hujan Oktober 2018 dan Sifat Hujan Oktober 2018 di Banyuwangi (Sumber:BMKG)
Dari peta terlihat bahwa secara spasial mayoritas wilayah Banyuwangi pada Oktober 2018 sangat kurang menerima curah hujan dan kategori Rendah. Jumlah curah hujan yang terjadi di seluruh wilayah Banyuwangi pada Oktober 2018 berkisar antara 0 – 20 mm/bulan.
Kondisi hujan yang terjadi pada Oktober 2018 bersifat Bawah Normal dan terjadi di seluruh wilayah Banyuwangi. Hal ini menunjukan bahwa Musim Hujan di banyuwangi bagian barat dan tengah mundur dari normalnya.
12 F. Monitoring Hari tanpa Hujan Berturut-turut
Gambar 14. Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut Oktober 2018 di Banyuwangi (Sumber: BMKG Banyuwangi)
Dari peta terlihat bahwa secara spasial sebagian besar wilayah Banyuwangi pada Oktober 2018 sangat kurang menerima hujan. Untuk kecamatan Songgon, Kalibaru, Glenmore, Gambiran, Silir Agung dan Pesanggaran selama 31-60 hari tidak terjadi hujan (klasifikasi sangat panjang). Sedangkan kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Licin, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, Genteng, Srono, Muncar, Bangorejo dan Purwoharjo telah tidak terjadi hujan berturut-turut selama >60 hari pada Oktober 2018 berpotensi terjadi kekeringan Ekstrim.
Walaupun pada awal Nopember 2018 ini beberapa wilayah Banyuwangi telah terjadi hujan dengan intensitas bervariasi (Ringan, Sedang dan Lebat) namun kurang berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan air tanah pada Nopember 2018 di wilayah Banyuwangi masih kurang.
13 II. PROSPEK CUACA BULAN NOVEMBER 2018
A. Prediksi Dinamika Atmosfer November 2018
Monitoring perkembangan ENSO dari BMKG menunjukkan bahwa periode El Nino Lemah masih berlangsung pada November hingga Desember 2018 dan diprediksi mencapai El Nino Sedang pada Januari hingga Maret 2019, sehingga tidak ada suplai massa udara dari Samudera Pasifik ke wilayah Indonesia. Sementara itu Dipole Mode Indeks (DMI) yang terpantau Kuat Positif pada Oktober 2018 diprediksi kembali di kisaran Normal pada November 2018 hingga April 2019. Hal ini mengindikasikan adanya peluang penambahan massa uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia bagian Barat pada November 2018 hingga April 2019.
Suhu muka laut (Sea Surface Temperature/ SST) perairan Indonesia pada November 2018 di perairan bagian Selatan Jawa diprediksi masih cenderung negatif atau mendingin dan untuk wilayah perairan Utara Papua diprediksi masih cenderung hangat, sedangkan di Wilayah Nino 3.4 Samudera Pasifik cenderung pada kondisi El Nino Lemah. Pola kondisi El Nino Lemah diprediksi berlangsung pada bulan November hingga Desember 2018.
Madden Jullian Oscillation pada pertengahan bulan Oktober 2018 tidak aktif di Benua Maritim Indonesia (BMI), dan diprediksi aktif pada pertengahan November 2018. Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR pada awal November 2018 Sumatera bagian Tengah hingga Utara, Kalimantan Tengah hingga Utara dan Utara Papua cenderung terjadi pertumbuhan awan konvektif. Untuk wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara cenderung sedikit terdapat wilayah pertumbuhan awan konvektif.
Pada skala regional secara normal pola tekanan udara rendah selama bulan November 2018 akan mulai muncul di Belahan Bumi Selatan (BBS). Seiring pergerakan semu matahari memasuki bulan November 2018 potensi terjadinya gangguan tropis di BBS mulai terlihat yang tentunya akan membuat monsun timuran menjadi tidak stabil dan melemah yang akan sedikit berdampak terhadap peningkatan curah hujan dengan didukung unsur lainnya seperti hangatnya suhu muka laut.
Melihat perkembangan dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kondisi cuaca iklim di Jawa Timur dan Banyuwangi khususnya, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar wilayah Banyuwangi pada bulan November 2018 mengalami peralihan musim, dan sebagian kecil wilayah yang masih mengalami kekeringan. Masih perlu kewaspadaan menghadapi potensi terjadinya cuaca ekstrim di musim peralihan terutama angin puting beliung. Untuk prakiraan curah hujan bulanan, sebagai dampak pola monsun timuran yang melemah maka diprediksi akumulasi curah hujan bulan November 2018 sebagian wilayah diprediksi curah hujannya berada pada kondisi normalnya. Hanya sebagian kecil wilayah yang masih berada dibawah kondisi rata-rata / normalnya.
14
Gambar 15. Prediksi ENSO dan anomali Suhu Permukaan Laut (Sumber : BMKG, NCEP - NOAA)
15 B. Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Hujan Banyuwangi bulan Nopember 2018
Berdasarkan hasil perhitungan statistik dan pantauan kondisi fisis dan dinamis atmosfer di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya serta kondisi lokal masing-masing wilayah terutama topografi daerah Jawa Timur, maka curah hujan daerah Banyuwangi untuk bulan Nopember 2018 diprakirakan sebagai berikut :
Curah Hujan wilayah Banyuwangi berkisar 50 mm hingga 400 mm
Sifat Hujan wilayah Banyuwangi dominan Normal
Gambar 16. Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Hujan Nopember 2018 Banyuwangi (Sumber Data: BMKG Staklim Malang)
16 C. Prakiraan Potensi Banjir Nopember 2018
Berikut adalah peta prakiraan potensi Banjir bulan Nopember 2018. Dari peta terlihat wilayah di Banyuwangi diprediksi tidak berpotensi banjir (aman). Memasuki bulan Nopember 2018 mayoritas wilayah Banyuwangi mulai memasuki musim hujan.
Gambar 17. Prakiraan Daerah Potensi Banjir Nopember 2018 (Sumber:BMKG)
III. INFORMASI TERBIT-TERBENAM MATAHARI NOPEMBER 2018
Berikut adalah data terbit terbenamnya matahari, selama bulan Nopember 2018 di wilayah Kota Banyuwangi :
17 IV. KEJADIAN GEMPABUMI DIRASAKAN SIGNIFIKAN DI WILAYAH BANYUWANGI
Gambar 18. Kejadian Gempabumi yang signifikan di Banyuwangi (Sumber:BMKG)
Kejadian Gempa Bumi yang signifikan dan dirasakan sampai di wilayah Banyuwangi pada Oktober 2018 adalah gempa bumi berkekuatan 6.4 SR, yang terjadi di laut 61 Km TimurLaut Situbondo dengan kedalaman 10 Km. Dirasakan sampai di Wilayah Kabupaten Banyuwangi dengan kekuatan III-IV MMI namun tidak berakibat terjadi kerusakan fatal.
V. KEJADIAN CUACA EKSTRIM OKTOBER 2018
Cuaca / Iklim Ekstrim adalah suatu kondisi meteorologi yang menyimpang dari nilai rata- ratanya atau menyimpang terhadap nilai batas ambang meteorologi di wilayah tersebut.
Dampak pemanasan global yang berlanjut pada perubahan iklim diyakini sebagai salah satu pemicu munculnya cuaca/iklim ekstrim baik dari tingkat keseringan, cakupan luas wilayah maupun nilainya, dimana cuaca/iklim ekstrim tersebut berpotensi menimbulkan bencana dan kerugian bahkan korban jiwa.
Tabel 2. Cuaca/ Iklim Ekstrim Bulan Oktober 2018 Banyuwangi
KRITERIA KETERANGAN
Angin dengan kecepatan > 45 Km/jam -
Suhu udara > 35˚ C -
Suhu udara < 15˚ C -
Kelembaban udara < 30 % -
Curah Hujan >100 mm / hari -
Tanah Longsor -
Banjir Bandang -
Waterspout -
18 DAFTAR ISTILAH INFORMASI CUACA, IKLIM DAN GEMPABUMI
ENSO adalah singkatan dari El-Nino Southern Oscillation. Secara umum para ahli membagi ENSO menjadi ENSO hangat (El-Nino) dan ENSO dingin (La-Nina). Kondisi tanpa kejadian ENSO biasanya disebut sebagai kondisi normal. Referensi penggunaan kata hangat dan dingin adalah berdasarkan pada nilai anomali suhu permukaan laut (SPL) di daerah NINO di Samudera Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur. Pada saat fenomena El Nino berlangsung, kondisi atmosfer di wilayah Indonesia cenderung kering, sehingga potensi kondisi curah hujannya berkurang atau lebih sedikit dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Kondisi sebaliknya terjadi ketika fenomena La Nina berlangsung, dimana atmosfer wilayah Indonesia umumnya akan cenderung basah, sehingga bisa berpotensi menyebabkan intensitas curah hujan yang lebih banyak dibanding rata-rata normalnya.
Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan sebelah barat Sumatera. Perbedaan nilai anomali suhu muka laut tersebut selanjutnya dikenal sebagai Dipole Mode Indeks (DMI), dimana DMI positif berdampak berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, DMI negatif berdampak meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
Asian Cold Surge atau seruakan dingin Asia digunakan untuk menggambarkan penjalaran massa udara dari Asia akibat adanya tekanan tinggi di daerah tersebut dan menjalar ke arah selatan menuju ekuator dengan membawa massa udara dingin. Indeks yang digunakan untuk identifikasi aktivitas cold surge adalah dengan menghitung indeks monsun yaitu selisih nilai tekanan antara Titik 115° BT/ 30° LU (didekati dengan data dari stasiun Wuhan di daratan China) dengan tekanan di Hongkong (116° BT/ 22° LU). Threshold value yang digunakan untuk indeks monsun dari gradient tekanan adalah ≥10 mb sebagai indikator adanya cold surge.
MJO singkatan dari Madden Jullian Oscillation adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan fluktuasi antar musiman yang terjadi di sekitar wilayah tropis. Keberadaan MJO ditandai dengan adanya penjalaran pada arah timuran di wilayah tropis dimana terjadinya penambahan intensitas curah hujan pada daerah tersebut, terutama di atas Samudera Hindia dan Pasifik. Anomali curah hujan seringkali merupakan indikator pertama dalam mengindikasikan kejadian MJO, dimana pada mulanya intensitas curah hujan tinggi terjadi di Samudera Hindia dan kemudian menjalar ke arah timur melewati wilayah Indonesia menuju Samudera Pasifik barat dan tengah panjang siklus MJO diperkirakan sekitar 30-60 harian.
Penemu dari fenomena MJO ini adalah Madden dan Jullian.
OLR singkatan dari Outgoing Longwave Radiation adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas atau banyaknya radiasi gelombang panjang dari bumi ke atmosfer.
Anomali OLR yang bernilai negatif menunjukkan jumlah radiasi yang terukur di atmosfer sangat sedikit karena terhalang oleh intensitas perawanan yang cukup tinggi di atmosfer. Sedangkan anomali OLR positif menunjukkan jumlah radiasi dari bumi yang cukup banyak karena tidak terhalang oleh kondisi perawanan di atmosfer. Satuan OLR adalah weber/m-2.
Monsun adalah sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah secara periodik setiap setengah tahun sekali. Sirkulasi angin Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan udara tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan udara tinggi di Australia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia.
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (ITCZ/ Inter Tropical Convergence Zone) merupakan daerah tekanan udara rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi selalu berubah mengikuti pergerakan posisi semu matahari ke arah utara dan selatan
19 khatulistiwa. Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan hujan.
Curah Hujan (mm) adalah ketinggian air hujan yang terkumpul dalam penakar hujan pada tempat yang datar, tidak menyerap, tidak meresap dan tidak mengalir. Unsur hujan 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air hujan setinggi satu milimeter atau tertampung air hujan sebanyak satu liter.
Zona Musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan periode musim hujan. Wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas daerah administrasi pemerintahan. Dengan demikian satu kabupaten/ kota dapat saja terdiri dari beberapa ZOM dan sebaliknya satu ZOM dapat terdiri dari beberapa kabupaten.
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu :
a. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10 b. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20
c. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
Sifat Hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim hujan atau satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1971 - 2000). Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu :
a. Atas Normal (AN), jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya b. Normal (N), jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya c. Bawah Normal (BN), jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap rata-
ratanya
Gempa adalah getaran bumi yang terjadi sebagai akibat penjalaran gelombang seimik/gempa yang terpancar dari sumbernya/sumber energi elastik
Gempa Tektonik adalah gempabumi yang disebabkan oleh adanya pergeseran atau pergerakan lempeng bumi
Magnitude adalah parameter gempa yang berhubungan dengan besarnya kekuatan gempa di sumbernya. Ada beberapa jenis magnitude, yaitu: magnitude lokal (ML), magnitude gelombang permukaan (Ms), magnitude gelombang badan (mb), magnitude momen (Mw), magnitude durasi (Md).
Intensitas gempa adalah besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa berdasarkan tingkat kerusakan dan reaksi manusia yang disebabkan oleh gempa tersebut.
Skala Richter Suatu ukuran obyektif kekuatan gempa dikaitkan dengan magnitudenya, dikemukan oleh Richter (1930).
Skala MMI (Modified Mercally Intensity) adalah suatu ukuran subyektif kekuatan gempa dikaitkan dengan intensitasnya
20 Tabel Skala Intensitas Gempabumi BMKG dalam MMI