• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI AJARAN ASIH DALAM TRI PARARTHA: UPAYA REVITALISASI SIKAP TOLERANSI GENERASI Z

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI AJARAN ASIH DALAM TRI PARARTHA: UPAYA REVITALISASI SIKAP TOLERANSI GENERASI Z"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

25

UPAYA REVITALISASI SIKAP TOLERANSI GENERASI Z

I Made Sidia1), I Nengah Juliawan2), Ni Kadek Rika Pramestika Dewi3) Institut Seni Indonesia Denpasar1),

Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja2)3) E-mail: [email protected]1, [email protected]2,

[email protected]3

ABSTRACT

Education, economy, science and technology have experienced significant changes, this has an influence on all aspects of people's lives, especially in the order of individual behavior both positively and negatively. In order to create harmony in social behavior to respond to this development, it is necessary to have a conceptual context that is used as a guide or attitude, one of which is Asih which is love or compassion in Tri Parartha can be implemented by generation Z with supporting factors, namely the teachings of Tat Twam Asi, which means I am you, you are me. Tat Twam Asi's teachings teach to treat others the way you want to be treated. As for the example of the implementation of Asih's teachings, getting used to saying greetings, bowing when passing other people or older people as a form of respect and appreciation. In addition, Asih's teachings can be implemented through the local wisdom of Hindus in Bali, namely Manyama Braya or Matetulung. Through this concept, the younger generation, especially Generation Z today, can learn about respecting differences and placing others as family so that the spirit of tolerance remains.

Keywords: Asih, Tri Parartha, Tolerance, Generation Z

I. PENDAHULUAN

Globalisasi memiliki dampak besar pada perubahan sosial masyarakat, dengan adanya perubahan zaman ini, pola pikir manusia pun ikut berubah. Perubahan zaman membawa dampak positif maupun negatif.

Tidak hanya pada perubahan sosial masyarakatnya saja, namun globalisasi membawa pengaruh kepada seluruh aspek, baik dari segi pendidikan, ekonomi, IPTEK, bahkan moral suatu bangsa khususnya remaja mengalami perubahan. Dewasa ini, realita yang terjadi adalah adanya degradasi moral atau pengikisan nilai kemanusiaan akibat merosotnya nilai kasih sayang manusia, dalam kaitannya dengan realitas yang terjadi di masyarakat saat ini khususnya pada generasi muda. Generasi muda yang menjadi

harapan keluarga maupun bangsa, terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Hal ini terlihat dari maraknya kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Tindakan yang menimbulkan kekerasan ini terjadi karena rasa cinta kasih cenderung mengalami kekeringan, atau bahkan telah hilang. Hal ini menjadi tajuk utama dalam pemberitaan media massa kini baik secara digital maupun cetak. Salah satu contoh yang sedang viral saat ini yang tertuang dalam berita nasional oleh SindoNews.com tentang kawanan remaja dilaporkan melakukan penyerangan terhadap warga di salah satu masjid di Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, pada Jumat (16/4/2022) lalu.

(2)

26

Perbedaan generasi juga sering menimbulkan masalah, karena setiap generasi dikaitkan dengan nilai ideal tertentu yang dapat berbeda satu sama lain. Adapun kategori generasi, diantaranya generasi Baby Boomer, Generasi X (lahir tahun 1961-1980), Generasi Y (lahir tahun 1990-1995), Generasi Z (lahir tahun 1995-2010) hingga generasi Alpha. Pengelompokan ini didasarkan pada kesamaan jangkauan tahun lahir, tempat lahir, dan peristiwa yang berdampak signifikan bagi kehidupan kelompok. Artinya generasi merupakan sekelompok individu yang mengalami peristiwa yang sama dalam kurun waktu yang sama pula, Putra (Christiani &

Ikasari, 2020:84-105).

Lebih lanjut dalam penelitiannya, Christiani & Ikasari (2020:84-105) menyatakan Generasi Z memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan bangsa kini dan nanti.

Generasi Z memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Karakteristik Generasi Z lebih beragam dan bersifat global. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri karena suatu saat pasti memerlukan bantuan orang lain.

Manusia bisa hidup dengan baik, dan memiliki arti jika mereka hidup bersama orang lain dalam masyarakat. Maksudnya adalah untuk menjalin hubungan yang harmonis antar manusia, dan dalam ajaran Hindu hubungan horizontal maupun vertikal antara manusia, Tuhan Yang Maha Esa dan alam penciptanya, (Lagatama, 2020, p. 1 (2)).

Oleh karena itu, sikap dan perilaku toleransi di kalangan Generasi Z perlu ditanamkan sejak dini, dengan demikian pemahaman mengenai toleransi itu nantinya dapat dijadikan pedoman bersikap dan bertingkah laku di dalam kehidupan bermasyarakat. Pemahaman dan pengamalan ajaran agama sejak dini pun diyakini dapat menanggulangi permasalahan etika dan

karakter Generasi Z. Pengetahuan agama mampu membentengi generasi muda dari perilaku asusila, kriminalitas, dan budaya asing yang berdampak negatif.

Agama Hindu memiliki ajaran yang menuntun umatnya untuk selalu ada dijalan yang dharma untuk menjalani kehidupan.

Dijelaskan lebih lanjut ajaran etika Hindu antara lain, Tri Parartha yang merupakan tiga penyebab terwujudnya keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia yang terdiri dari Asih (cinta kasih), Punia (tulus dan ikhlas), Bhakti (hormat). Manfaat melaksanakan ajaran Tri Parartha yaitu timbulnya rasa saling menghargai, berkarakter yang baik, rasa cinta kasih dan selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua makhluk, (Lagatama, 2020, p. : 1 (2)).

Berdasarkan uraian keresahan dalam latar belakang mulai dari permasalahan serta issu yang terjadi saat ini yang memberikan pengaruh terhadap generasi Z, tentu penulis ingin memberikan sumbangsih konpsetual hindu tentang upaya dalam membangun karakter khususnya pada sikap toleransi generasi Z melalui ajaran Asih dalam Tri Parartha.

II. PEMBAHASAN A. Ajaran Tri Parartha

Agama Hindu memiliki ajaran yang menuntun umatnya untuk selalu ada dijalan yang dharma untuk menjalani kehidupan.

Salah satunya adalah ajaran Tri Parartha.

Secara etimologi Tri Parartha berasal dari bahasa Sanskerta, kata “Tri” yang berarti tiga, dan “Parartha” berarti kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatan. Dalam hal ini Tri Parartha berarti tiga cara yang menyebabkan terwujudnya kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan hidup umat manusia.

Keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan merupakan kebutuhan hidup manusia yang mesti dinikmati dalam kehidupan. Tanpa

(3)

27 keselamatan umat manusia tidak akan dapat

berbuat untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Secara umum Tri Parartha berarti tiga hal yang harus dilakukan oleh umat Hindu guna terwujudnya kesempurnaan spiritual, serta terwujudnya keselamatan, kebahagiaan, dan juga kesejahteraan hidup manusia, (Sanjaya &

Dewi, 2019, pp. 27-28). Adapun Tri Parartha terdiri dari:

1) Asih, artinya kasih sayang atau mengasihi menyayangi. Setiap perbuatan hendaknya didasari dengan perasaan kasih sayang sehingga maksud dan tujuan perbuatan itu mengarah kepada kebenaran dan kebaikan. Setiap makhluk ciptaan Tuhan wajib untuk dikasihi dan disayangi guna terbentuknya hubungan yang harmonis.

2) Punya, artinya pemberian yang dlandasi dengan ketulusikhlasan. Pemberian ini dapat berupa harta benda material, bantuan atau pertolongan, perhatian, tenaga, pengetahuan, dan juga pemikiran.

3) Bhakti, artinya sembah dan sujud kepada yang Dimuliakan. Bhakti umumnya ditujukan kepada Tuhan, para dewa, orang tua, guru, termasuk juga kepada alam.

Berdasarkan ajaran agama Hindu, guna mewujudkan kesejahteraann dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat dapat dicapai dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha.

B. Implementasi Ajaran Asih dalam Tri Parartha

Asih dalam Ajaran Tri Parartha merupakan cinta kasih, dimana cinta kasih ini mampu melandasi segala aspek, melaksanakan punya karena cinta kasih dan berbhakti pula atas dasar kasih sayang.

Dengan mengamalkannya senantiasa mampu

menciptakan keharmonisan dan kedamaian, sesuai tujuan Agama Hindu yakni Moksartam Jagadhitaya Ca Iti Dharma. Ajaran Asih memiliki arti cinta kasih yaitu menyayangi dan mengasihi sesama makhluk dan lingkungan sebagaimana mengasihi diri sendiri. Dalam menjalankan kehidupan sepatutnya harus saling asah (menghargai), saling asih (mencintai), dan saling asuh (menghormati). Dengan tujuan agar terwujud kedamaian, kerukunan dan keharmonisan dalam kehidupan ini. Manusia dianggap makhluk paling sempurna dari semua makhluk, meskipun demikian manusia tidak boleh sombong, merasa tinggi, atau bertindak seenaknya. Hendaknya menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap semua makhluk agar terwujud kehidupan yang damai, hidup saling mengasihi diantara semua makhluk adalah tindakan manusia yang paling penting yang dapat mengarah pada pencapaian kebahagiaan abadi yang disebut Moksa.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbagai macam hiruk-pikuk mempersoalkan perbedaan, memperdebatkannya, bahkan dewasa ini semakin sering disuguhkan tindakan-tindakan intoleransi. Kemajuan teknologi informasi membuat hidup menjadi semakin berwarna dan siapapun bisa tiba-tiba menjadi jurnalis. Mengunggah, menyalin, dan meneruskan pesan dari informasi yang benar ke berita palsu, hoax, penistaan, bahkan provokasi. Tidak sedikit oknum bertindak sebagai hukum; mengadili, menghakimi, melakukan pembenaran perdebatan, menolak kemajemukan dan perbedaan. Kehidupan masyarakat yang rukun, damai dan tentram merupakan cita-cita semua bangsa, karena pada dasarnya tidak ada seorangpun yang menginginkan ketidakdamaian dalam hidupnya. Harapan ini tercermin dari berbagai upaya yang dilakukan untuk membangun perdamaian di antara masyarakat. Cita-cita dan harapan tersebut merupakan rambu-

(4)

28

rambu sikap dan tindakan individu dalam bermasyarakat, berbangsa, dan berbangsa.

Penting untuk memahami etika perilaku generasi muda saat ini, karena generasi muda pada dasarnya adalah kunci untuk mencapai cita-cita tersebut.

Menurut, Purwani & Kertamukti Generasi Z lebih terbuka dalam pemikirannya dan lebih toleran terhadap keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat meskipun bersikap individualis. Hal ini tentu perlu dibina dan dikuatkan kembali dengan pemahaman serta pengamalan ajaran agama sejak dini, salah satunya dengan mengamalkan ajaran Asih dalam Tri Parartha. Memperlakukan orang sebagai orang yang tidak membedakan warna kulit, golongan, kepercayaan atau agama.

Perlakuan tersebut harus bersifat universal karena merupakan dasar untuk mewujudkan dan membangun hubungan yang harmonis atau serasi antar sesama sebagai cerminan toleransi umat Hindu, (Sanjaya 2002:29).

Ajaran Tri Parartha pada hakekatnya mengandung nilai moral bersifat universal, sehingga dalam implementasinya tidak hanya oleh umat Hindu tetapi nilai moralnya dapat digunakan oleh siapapun sebagai landasan dalam berpikir, berkata dan bertingkahlaku.

Pengamalan ajaran Asih dalam Tri Parartha dapat menumbuhkan sikap toleransi antar sesama makhluk hidup. Generasi muda saat ini, sudah tidak asing lagi dengan kata toleransi, karena realita keanekaragaman bisa selaras atau bertentangan satu dengan lainnya.

Kondisi seperti ini akan lebih diperkuat oleh prilaku para pelaksana yang terlibat didalamnya. Generenasi muda, khusunya Generasi Z yang dikatakan lebih terbuka terhadap keberagaman harus terus dibina dan ditingkatkan melalui revitalisasi nila-nilai toleransi. Ajaran toleransi sebagai prilaku positif dalam hubungan antar sesama dilaksanakan menuju keselarasan hidup.

Faktor-faktor pendukung terwujudnya sikap toleransi dalam ajaran Asih ini adalah keberadaan ajaran Tat Twam Asi. Maksud yang terkandung dalam ajaran Tat Twam Asi ini “ia adalah kamu, saya adalah kamu, dan semua makhluk adalah sama” sehingga apabila kita menolong orang lain, berarti juga menolong diri kita sendiri. Ajaran Tat Twam Asi merupakan ajaran untuk memperlakukan manusia secara manusiawi.

Manusia diperlakukan sebagai manusia, apa adanya, (Sanjaya 2002:27-28). Didalam filsafat Hindu dijelaskan bahwa Tat Twam Asi adalah ajaran kesusilaan yang tanpa batas. Ajaran Tat Twam Asi senantiasa mengajarkan untuk saling mengasihi atau mencintai makhluk lain, yang mengandung asas diantaranya, 1) Asas suka duka, artinya dalam suka dan duka dilalui bersama-sama. 2) Asas paras paros, artinya orang lain adalah bagian dari diri sendiri dan diri sendiri adalah bagian dari orang lain. 3) Asas salunglung sabayantaka, artinya baik buruk, mati hidup ditanggung bersama. 4) Asas saling asah, saling asih, saling asuh, artinya saling menyayangi atau mencintai, serta saling tolong menolong antar sesama makhluk hidup. Asas-asas ini dapat djadikan pedoman dalam meningkatkan sikap toleransi pada generasi muda.

Praktik implementasi ajaran Asih dalam upaya revitalisasi sikap toleransi terhadap generasi Z dewasa ini yaitu dalam interaksi sehari-hari, dengan membiasakan diri mengucapkan salam kemudian menyapa dengan sopan santun, misalnya kepada orang tua di rumah, guru di sekolah, dan dalam setiap kesempatan di masyarakat.

Membungkukkan badan ketika melewati orang lain atau orang yang lebih tua sebagai bentuk rasa hormat dan menghargai. Tradisi atau kebiasaan ini sudah mulai pudar di kalangan generasi muda saat ini, beberapa masyarakat khususnya generasi muda saat ini

(5)

29 menganggap hal tersebut perilaku “deso” atau

kuno dilakukan di masa sekarang ini, padahal hal tersebut merupakan etika dasar dalam berperilaku sehari-hari yang dapat menunjukkan rasa hormat serta cinta kasih kita terhadap orang lain sehingga perlu ditekankan kembali penerapannya.

Implementasi ajaran Asih selanjutnya yang mampu diterapkan oleh generasi z khususnya di Bali yaitu Manyama Braya atau Matetulung. Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan sistem kekerabatan dan kekeluargaannya. Begitu pula dengan umat Hindu di Bali yang masih menjaga kearifan lokal yaitu tradisi kekeluargaan dan kekerabatannya. Istilah Manyama Braya atau Matetulung yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Bali. Manyama Braya atau Matetulung adalah menyediakan diri untuk datang ke rumah warga lainnya yang mengadakan suatu upacara, membangun rumah, dan kegiatan lainnya. Melalui konsep ini kita dapat mengajarkan kepada generasi muda khususnya Generasi Z saat ini tentang sikap toleransi yaitu menghargai perbedaan dan meningkatkan rasa persaudaraan, menempatkan orang lain sebagai keluarga sehingga timbul rasa kasih sayang kepada sesama walaupun memiliki perbedaan. Hal tersebut merupakan salah satu implementasi ajaran Asih dalam Tri Parartha yaitu cinta kasih terhadap sesama. Untuk mencapai kehidupan yang harmonis dalam kebhinekaan adalah melalui toleransi. Merawat toleransi hanya dapat berhasil jika seluruh masyarakat menyadarinya. Kearifan lokal tentang keragaman dan perbedaan harus selalu diingat dan diterapkan khususnya bagi generasi muda dalam semangat toleransi.

III. KESIMPULAN

Agama Hindu memiliki ajaran yang menuntun umatnya untuk selalu ada dijalan yang dharma untuk menjalani kehidupan.

Dijelaskan lebih lanjut ajaran etika Hindu antara lain, Tri Parartha yang merupakan tiga penyebab terwujudnya keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia yang terdiri dari Asih (cinta kasih), Punia (tulus dan ikhlas), Bhakti (hormat). Asih dalam Ajaran Tri Parartha merupakan cinta kasih, dimana cinta kasih ini mampu melandasi segala aspek, melaksanakan punya karena cinta kasih dan berbhakti pula atas dasar kasih sayang. Dengan mengamalkannya senantiasa mampu menciptakan keharmonisan dan kedamaian, sesuai tujuan Agama Hindu yakni Moksartam Jagadhitaya Ca Iti Dharma. Pengamalan ajaran Asih dalam Tri Parartha dapat menumbuhkan sikap toleransi antar sesama makhluk hidup.

Generasi muda saat ini, sudah tidak asing lagi dengan kata toleransi, realita keanekaragaman bisa selaras atau bertentangan satu dengan lainnya. Kondisi seperti ini akan lebih diperkuat oleh prilaku para pelaksana yang terlibat didalamnya.

Generenasi muda, khusunya Generasi Z yang dikatakan lebih terbuka terhadap keberagaman harus terus dibina dan ditingkatkan melalui revitalisasi nila-nilai toleransi. Ajaran toleransi sebagai prilaku positif dalam hubungan antar sesama dilaksanakan menuju keselarasan hidup.

Faktor-faktor pendukung terwujudnya sikap toleransi dalam ajaran Asih ini adalah keberadaan ajaran Tat Twam Asi. Ajaran Tat Twam Asi ini mengajarkan untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Adapun contoh implementasi ajaran Asih diantaranya dengan membiasakan diri mengucapkan salam, membungkukkan badan ketika melewati orang lain atau orang yang lebih tua sebagai bentuk rasa hormat dan menghargai. Selain itu, dengan kearifan lokal umat Hindu di Bali, yaitu Manyama Braya atau Matetulung.

Melalui konsep ini, generasi muda khususnya

(6)

30

Generasi Z saat ini dapat belajar tentang menghargai perbedaan dan menempatkan orang lain sebagai keluarga sehingga jiwa toleransi tetap terus melekat yang didasari oleh rasa cinta kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Casram, C. (2016). Membangun sikap toleransi beragama dalam masyarakat plural. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial Budaya, 1(2), 187- 198.

Christiani, L. C., & Ikasari, P. N. (2020).

Generasi Z Dan Pemeliharaan Relasi Antar Generasi Dalam Perspektif Budaya Jawa. Jurnal Komunikasi dan Kajian Media, 4(2), 84-105.

Kultural, P. K. (2016). Tat Twam Asi:

Adaptasi Nilai Kearifan Lokal dalam Pengentasan Kemiskinan Kultural.

Lagatama, P. (2020). Komunikasi Ajaran

Etika Hindu Dalam

Menumbuhkembangkan Karakter Generasi Muda Dalam Pergaulan Sehari-Hari. Communicare, 1(2).

Mertayasa, I. K. (2020). Tat Twam Asi:

Landasan Moral Untuk Saling Asah, Asih dan Asuh. Jayapangus Press Books, 85-100.

Sanjaya, I. (2002). Mengangkat Nilai-Nilai Agama dalam Menghadapi Globalisasi. Surabaya: Paramita.

Sanjaya, P., & Dewi, P. E. (2019). Bahan Ajar Susila. Singaraja: Jurusan Dharma Sastra STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Setyaningsih, S. (2019). Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dalam Pembentukan Karakter Anak Hindu Di Sekolah Dasar Negeri Surakarta. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(2), 297-332.

Surawati, N. M., & Suasthi, I. G. A. (2019).

Integrasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam Penyusunan Perangkat Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di Sekolah Dasar. Widyanatya, 1(1), 21-35.

Wiraputra, A. A. G. (2021). Ajaran Tri Parartha dalam Kakawin Aji Palayon. Dharma Sastra: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Daerah, 1(1), 1-13.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah peneliti amati faktor pendukung kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesionalisme di SMA Negeri 6 Lubuklinggau bahwa, guru sudah sertifikasi semuanya, dan

Pekerjaan sambilan yang umumnya dipilih oleh mahasiswa adalah penjaga warnet, menjadi guru les, pelayan rumah makan dan cafe, serta pekerjaan lepas lainnya.. Meskipun

Keluhan terbanyak yang dirasakan pekerja ada pada sakit/kaku di leher bagian atas, sakit di bahu kiri, sakit di bahu kanan, sakit di punggung, sakit pada pinggang,

Kemudian usaha kedua yaitu merencanakan kampanye diawali dengan menyusun tujuan dari kampanye Counting Down ini yaitu: untuk menberikan informasi kepada

Kedua, pertanggungjawaban Genocide terhadap pelaku dilakukan oleh individu, komando atas perintah atasan dan jabatan resmi pemerintahan dengan berdasarkan Pasal 25:

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hubungan antara persepsi siswa tentang efektivitas penggunaan media pembelajaran, minat dan sikap siswa dengan hasil

Oleh karena itu, stigmatisasi bidan PMTCT pada ibu hamil HIV dan AIDS lebih sedikit dibanding kelompok diskusi lainnya hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

untuk dihindari. 4) Metode lain yang digunakan Imam Al-Ghazali dalam pendidikan. Akhlak adalah memperhatikan tingkat