• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Sisdiknas tahun 2003 Bab I (1), dinyatakan sebagai sebuah proses. dan dengan kesengajaan berpegang pada aturan-aturan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Sisdiknas tahun 2003 Bab I (1), dinyatakan sebagai sebuah proses. dan dengan kesengajaan berpegang pada aturan-aturan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pengertian pendidikan seperti yang tertuang dalam UU Sisdiknas tahun 2003 Bab I (1), dinyatakan sebagai sebuah proses untuk meraih tujuan belajar yang dilakukan dengan sungguh- sungguh dan dengan kesengajaan berpegang pada aturan-aturan yang ditetapkan sehingga dapat merubah pola pikir pelajar untuk terus menggali kemampuan yang ada di diri masing-masing sehingga menumbuhkan kemampuan secara spiritual, kecerdasan berpikir, mampu mengendalikan diri, terampil, memiliki akhlak terpuji dan kepribadian luhur. Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mencerdasakan seseorang, akan tetapi dapat menerapkan kecerdasan yang dimiliki untuk dapat hidup dan memberikan manfaat di lingkungan masyarakat tempat tinggal dengan mengikuti ketetapan yang telah disepakati bersama. Sehingga, dalam menjalankan kehidupan tidak menyimpang dari norma dan aturan yang ada.

(2)

2

Pendidikan juga tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan sebagai salah satu upaya yang dilakukan dalam pembentukan karakter atau watak siswa menjadi lebih baik dan santun dalam berperilaku. Satuan pendidikan, memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan kompetensi dasar, sehingga dapat menghasilkan generasi yang kreatif dan inovatif, dan juga berdedikasi tinggi.

Pertanggungjawaban terhadap pendidikan bukanlah semata- mata merupakan kewajiban pemerintah. Peran serta orangtua dan juga masyarakat memberikan andil yang sangat penting di dalam pendidikan. Hubungan partisipasi antara sekolah dan masyarakat merupakan bagian dari tripusat pendidikan. Istilah tripusat pendidikan muncul dari Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara mengartikan bahwa ada tiga pusat yang bertanggungjawab atas terselenggaranya pendidikan dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain yaitu keluarga, sekolah, dan juga masyarakat (Wahyono, 2015: 10). Melalui kerjasama yang baik diantara ketiganya, diharapkan pendidikan akan semakin maju dan berkembang dengan baik.

(3)

3

Kondisi nyata yang terjadi saat ini, sebagian besar orangtua cenderung menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya kepada sekolah, tanpa berusaha untuk melibatkan diri di dalamnya. Orangtua tidak berupaya untuk mengenal lebih jauh sekolah beserta program-programnya, ikut berperan serta secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan juga dalam pengawasan. Sejauh ini, peran orangtua hanya sebatas mengikuti dan mendukung program sekolah yang telah ada. Alasan sibuk dengan tuntutan profesi menjadi faktor penghambatnya.

Menurut Rodliyah (2013: 31-32) pengertian partisipasi yaitu keterlibatan suatu kelompok baik secara mental dan juga emosional sehingga mendorong motivasi dalam mencapai tujuan dari organisasi. Partisipasi memungkinkan seseorang atau kelompok tertentu untuk ikut andil dalam kegiatan atau sebuah program. Partisipasi juga dapat diartikan sebagai keikutsertaansatu atau beberapa orang dalam suatu kegiatan diantaranya dalamcara menentukan sebuah ketetapan, implementasi agenda-agenda kegiatan, berdaya guna dalam melakukan evaluasi sebuah program (Dwiningrum, 2015: 50-51).

(4)

4

Apabila sebuah kegiatan tidak terdapat bentuk partisipasi dari orang lain, maka tujuan program tidak akan dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Orang yang turut serta dalam partisipasi harus berlandaskan keikhlasan dan kesadaran yang tinggi bahwa semua yang dia lakukan tidak hanya berguna bagi diri pribadi melainkan juga berguna bagi individu lain. Keikhlasan tanpa mengharapkan balasan dan tingginya kemauan untuk rela berkorban menjadi dasar yang kuat bagi seseorang untuk melakukan partisipasi. Oleh karena itu, seluruh proses kegiatan harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Bentuk partisipasi antara lain dapat berupa berupa tenaga, buah pikiran, material, maupun spiritual.

Kerjasama yang baikyang dilakukan sekolah dan masyararakat akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang siswa di sekolah. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menyebutkanpengertian partisipasi masyarakat sebagai akomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Alfitri (2011: 204) berpendapat

(5)

5

bahwa partisipasi masyarakat adalah suatu hal yang berguna dalam mendapatkan informasi tentang keadaan, kepentingan dan perilaku masyarakat demi keberhasilan sebuah program pembangunan.

Menurut Rodliyah (2013: 36) partisipasi masyarakat dalam pendidikan yaitu: (1) Ikut serta dalam mengontrolproses dan perkembangan pribadi anak-anak di rumah, kemudian memberikan laporan serta berkonsultasi dengan pihak sekolah apabila diperlukan; (2) Menjadi penyedia fasilitas belajar dirumah dan membimbing dengan penuh perhatian; (3) Ikut serta memfasilitasi kebutuhan belajar di sekolah; (4) Melakukan pembayarankeuangan sekolah tepat pada waktunya; (5) Berkoordinasi dengan sekolah tentang keadaan siswa; (6) Bersedia hadir ke sekolah jika dibutuhkan sewaktu-waktu; (7) Melakukan diskusi dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan; (8) Membantu memfasilitasi kebutuhan belajar dalam proses pembelajaran; (9) Memfasilitasi sekolah dengan peralatan untuk praktek jika sewaktu-waktu dibutuhkan (10) Bersedia menjadi narasumber atau tenaga pelatih apabila diperlukan; (11)

(6)

6

Mengajukan pertimbangan-pertimbangan perbaikan pendidikan di sekolah; (12) Ikut melakukan control sosial jalannya pendidikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dikemukakan oleh Suroso, Hakim, &Noor (2014: 7) yaitu meliputi internal dan eksternal. Beberapa faktor tersebut menunjukkan bahwa faktor komunikasi, usia, dan kepemimpinan mempunyai hubungan erat dengan partisipasi masyarakat.

Berbeda dengan pendapat di atas, Nasdian (2014: 110) menganggap bahwa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap komunitas atau kelompok tertentu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat.

Menurut Mulyasa (2012: 77), indikator keterlibatan orangtua dan masyarakat yakni: (1) Komunikasi harmonis dengan orangtua, dan juga melibatkan mereka dalam pelaksanaan program-program yang berlaku di sekolah; (2) Prosedur pelibatan orangtuasiswa dalam kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah disampaikan secara jelas dan dilaksanakan secara sungguh-

(7)

7

sungguh; (3) Orangtuasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan kunjungan ke sekolah dalam upaya untuk melakukan pengamatan program pendidikan dan pembelajaran yang ada; (4) Tingkat kehadiran orangtuasiswa tinggi, ketika diadakan pertemuan-pertemuan di sekolah; (5) Terjalin kerjasama yang baik dalam hal pemantauan pekerjaan rumah siswa; (6) Masyarakat dan juga orangtua ikut terlibat dalam penentuan keputusan-keputusan di sekolah; (7) Komunikasi intens antara guru dan orangtua siswa tentang kemajuan belajar siswa, sehingga diketahui kelebihan dan kekurangan bidang-bidang yang dikuasai oleh siswa; (8) Sebagian besar orangtuasiswa ikut mempromosikan program pembelajaran yang ada di sekolah; (9) MelaluiKomite Sekolah, masyarakat secara aktif ikut menjalankan peran dan fungsi sesuai dengan aturan.

Hubungan selaras sekolah dan masyarakatakan menciptakanhubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Apabila terjalin hubungan yang harmonis, maka akan menciptakan iklim yang baik diantara keduanya. Sekolah maupun masyarakat akan dapat menjalankan perannya dalam

(8)

8

memberikan kontribusi untuk kemajuan pendidikan di sekolah.

Banyak kendala yang dihadapi sekolah dalam menggalang partisipasi dengan masyarakat. Hal ini mendorong setiap sekolah seyogyanya memiliki sebuah wadah yang dapat menjembatani hubungan antara pihak sekolah dengan pihak masyarakat.

Menurut Anwas (2013: 75), untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat yang tinggi dapat diupayakan dengan meningkatkan perkembangan organisasi atau kelembagaan non formal di dalam masyarakat. Lembaga yang dapat menjadi perantara dalam menyalurkan aspirasi antara masyarakat dengan sekolah yaitu Komite Sekolah.

Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 menjelaskan, Komite Sekolah adalah lembaga independen yang memiliki susunan anggota terdiri komunitas sekolah, orangtua/wali siswa, dan juga tokoh-tokoh masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan.

Komite Sekolah memegang peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan karena segala kegiatan yang berlangsung di sekolah seharusnya selalu melibatkan dan atas persetujuan maupun pengawasan dari Komite Sekolah.

(9)

9

Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 pasal 4 menjelaskan tentang keanggotaan Komite Sekolah terdiri dari beberapa elemen diantaranya adalah: berasal dari orangtua/wali siswa aktif (≤ 50%), tokoh-tokoh masyarakat (≤ 30%), dan pakar pendidikan (≤ 30%). Keanggotaan Komite Sekolah dipilih oleh sekolah dari perwakilan masyarakat setempat yang peduli terhadap pendidikan. Dapat menjadi panutan di masyarakat, baik dalam pekerjaan maupun perilaku hidup sehari-hari. Anggota Komite Sekolah dapat berasal dari perwakilan orangtua/ wali murid yang dipilih secara demokratis, para tokoh masyarakat, dan pemerhati pendidikan.

Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 menerangkan tentang pembentukan Komite Sekolah dilakukan secara akuntabel dan demokratis melalui rapat orangtua/wali siswa. Secara akuntabel artinya, dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan secara demokratis maksudnya adalah, bahwa proses pemilihan Komite Sekolah dilakukan secara musyawarah mufakat dan apabila diperlukan melalui pemungutan suara terbanyak (voting).

(10)

10

Pada setiap sekolah pasti memiliki keanggotaan Komite Sekolah yang terstruktur. Akan tetapi, program-program kerja Komite Sekolah yang ditetapkan berbeda tergantung dari kebutuhan masing-masing sekolah. Tujuan dari program kerja ini adalah sebagai alat untuk mengevaluasi / tolok ukur ketercapaian tujuan program, elemen-elemen faktor pendukung dan penghambat, sehingga dapat dilakukan antisipasi dalam perencanaan program kerja syang berkesinambungan.

Menurut Nelliraharti (2018: 22), dalam melaksanakan peran dan fungsinya, Komite Sekolah memiliki beberapa kelemahan.

Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain disebabkan oleh: (1) kurangnya sosialisasi aturan perihal tugas, peran dan tanggungjawab Komite Sekolah. Dapat dikatakan bahwa peran Komite Sekolah hanya untuk sekedar formalitas belaka; (2) Kurangnya peningkatan kompetensi Komite Sekolah melalui seminar-seminar, lokakarya, pelatihan dan sebagainya; (3) Belum tercukupinya dana operasional Komite Sekolah. Hal ini menjadikan fungsi pengawasan/ kontrol yang dilakukan oleh Komite Sekolah tidak dapat berjalan secara maksimal; (4)

(11)

11

Kurangnya jalinan hubungan kemitraan dan kerja sama yang sinergis; (5) Semua unsur Komite Sekolah tidak terwakili dengan baik, dan keputusan yang diambil tidak secara demokratis.

Uraian tersebut selaras dengan penelitian Sosiatun (2015: 99) yang membahas tentang evaluasi kinerja Komite Sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa rendahnya tingkat kinerja Komite Sekolah di SMA Negeri Demak dikarenakan Komite Sekolah belum mengetahui tentang tugas pokok dan fungsinya, sehingga dalam melaksanakan kinerja menjadi kurang maksimal. Apabila Komite Sekolah sudah mengetahui tugas pokok dan fungsinya sejak awal, memahami AD/ART nya maka Komite Sekolah akandapat menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Hal ini akan menjadikan mutu pelayanan pendidikan di sekolah menjadi lebih meningkat. Fasilitas pendidikan yang ada di sekolah akan lebih diperhatikan demi kemajuan sekolah melalui dana aspirasi yang dihimpun dari masyarakat melalui Komite Sekolah.

Evaluasi kinerja Komite Sekolah dilakukan untuk mengukur sejauh mana hasil kerja dan kontribusi yang telah dilakukan oleh

(12)

12

Komite Sekolah. Keikutsertaan Komite Sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, menilai serta mengevaluasi kebijakan-kebijakan program sekolah yang sedang dijalankan.

Serupa dengan hal ini, penelitian oleh J. Riyono, Suyatmini, dan Sumardi (2015: 10) yang membahas tentang peran Komite Sekolah dalam kebijakan sekolah. Kesimpulan dalam penelitian ini adalahbahwa peran Komite Sekolah dilihat dari aspek perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan kebijakan sekolah sesuai dengan program kerja sekolah, dan berjalan secara koordinatif.

Sebelum pertama kali dibentuk Komite Sekolah, SD Negeri Tuntang 02 sangat kesulitan dalam hal penyaluran aspirasi ke masyarakat. Keinginan untuk memajukan sekolah terkadang urung terwujud dikarenakan tidak adanya wadah yang dapat menampung segala bentuk harapan dan cita-cita dari semua dewan pendidik. Harapan dan cita-cita untuk meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri Tuntang 02 dulu hanya sebatas angan- angan saja. Komite Sekolah di SD Negeri Tuntang 02 pertama kali dibentuk sekitar tahun 2002. Pembentukan Komite Sekolah

(13)

13

di SD Negeri Tuntang 02 sudah berjalan sekitar 17 tahun. Jabatan Ketua Komite di SD Negeri Tuntang 02 dipertahankan selama beberapa periode, bahkan belum pernah terganti sampai saat ini.

Beberapa kegiatan sebagai program kerja Komite Sekolah untukmemajukan pendidikan di SD Negeri Tuntang 02 antara lain sebagai berikut: (a) membantu sekolah dalam meningkatkan sarana dan prasarana sekolah; (b) menjembatani aspirasi sekolah dengan masyarakat; (c) ikut serta dalam merencanakan, menilai, mengawasi, mengevaluasi program-program sekolah; (d) membantu sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, e) menjadi pengayom bagi sekolah; (f) memberikan dukungan kepada sekolah baik dalam bentuk material maupun spiritual.

Permendikbud Nomor 75 tahun 2016 pasal 8 menjelaskan Komite Sekolah dapat menjabat keanggotaan maksimalselama tiga tahun dalam satu periode dan dapat dipilih lagi hanya untuk satu kali periode pemilihan berikutnya. Secara peraturan perundang-undangan, penetapan keanggotaan Komite Sekolah di SD Negeri Tuntang 02 tidak sesuai dengan peraturan yang sedang berlaku. Salah satu yang menjadi alasan dari keputusan ini

(14)

14

dikarenakan, diantara sekolah dan juga komite telah terjalin hubungan yang sangat baik dan harmonis selama bertahun-tahun.

Pihak sekolah merasa sudah cocok dengan struktur keorganisasian Komite Sekolah yang dibuat. Sehingga selama ini, segala permasalahan yang menyangkut dengan hubungan partisipasi antara sekolah dengan masyarakat dapat teratasi dengan baik tidak terkendala oleh apapun. Meskipun demikian, hal ini perlu diluruskan karena tindakan yang telah dilakukan dalam pemilihan kepengurusan anggota Komite Sekolah di SD Negeri Tuntang 02 telah menyalahi ketetapan yang ada.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara bersama Kepala Sekolah di SD Negeri Tuntang 02,bahwa dalam menjalankan tupoksinya, kinerja yang dilakukan oleh Komite Sekolah masih belum dilakukan secara maksimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan. Terdapat tiga aspek yang tidak sesuai dengan Permendikbud No. 75 Tahun 2016 yaitu dalam hal reorganisasi keanggotaan Komite Sekolah, perencanaan dalam penggalangan dana kepada masyarakat, dan

(15)

15

pembuatan perencanaan kinerja Komite Sekolah berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD dan ART).

Dokumen-dokumen keadministrasian yang dimiliki oleh Komite Sekolah kurang lengkap, terutama untuk periode masa jabatan tahun 2019, tidak ditemukan adanya dokumen AD dan ART Komite Sekolah. Padahal AD dan ART sangat penting untuk menentukan mekanisme kerja Komite Sekolah. Selain, itu selama ini dalam melakukan penggalangan dana atau sumber daya pendidikan lain dari masyarakat tidak melalui pembuatan pengajuan proposal bantuan/sumbangan yang diketahui oleh Kepala Sekolah. Hal ini diakui oleh Komite Sekolah sebagai kelalaian dalam pembuatan kelengkapan administrasi Komite Sekolah.

Apabila hal ini dibiarkan secara terus menerus, maka baik dari pihak Komite Sekolah maupun pihak sekolah akan selamanya melanggar tata aturan yang tertuang dalam perundang- undangan yang berlaku. Padahal, sudah sepatutnya lembaga pendidikan mentaati aturan-aturan yang telah dibuat oleh

(16)

16

pemerintah. Termasuk di dalamnya peraturan yang mengatur tentang Komite Sekolah.

Meskipun sudah terbentuk selama beberapa periode, akan tetapi kinerja Komite Sekolah di SD Negeri Tuntang 02 belum pernah dilakukan evaluasi. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi Kinerja Komite Sekolah di SD Negeri Tuntang 02”. Evaluasi ini,

diharapkan dapat mengetahui kinerja Komite Sekolah di SD Negeri Tuntang 02 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang.

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolahdalam memberi pertimbangan penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di SD Negeri Tuntang 02?

2. Bagaimana tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam menggalang dana dan sumber daya pendidikan lainnya dari masyarakat di SD Negeri Tuntang 02?

(17)

17

3. Bagaimana tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam mengawasi pelayanan pendidikan di SD Negeri Tuntang 02?

4. Bagaimana tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi atas kinerja sekolah di SD Negeri Tuntang 02?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan utamayaitu sebagai rekomendasi kepada SD Negeri Tuntang 02 terhadap perbaikan kinerja Komite Sekolah. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk:

1. Mengevaluasi tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam memberi pertimbangan penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di SD Negeri Tuntang 02.

2. Mengevaluasi tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam menggalang dana dan sumber daya pendidikan lainnya dari masyarakat di SD Negeri Tuntang 02.

(18)

18

3. Mengevaluasi tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam mengawasi pelayanan pendidikan di SD Negeri Tuntang 02.

4. Mengevaluasi tingkat ketercapaian kinerja Komite Sekolah dalam menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi atas kinerja sekolah di SD Negeri Tuntang 02.

1.4. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi perkembangan ilmu pengetahuan tentang manajemen pendidikan, khususnya dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan kinerja Komite Sekolah.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Komite Sekolah

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam meningkatkan kinerja Komite Sekolah.

b. Bagi Kepala Sekolah

(19)

19

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam melakukan perbaikan atas permasalahan- permasalahan yang menyangkut tentang kinerja Komite Sekolah.

c. Bagi Dinas Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam meningkatkan program-program kerja Komite Sekolah sehingga dapat meningkatkan peran Komite Sekolah di Kabupaten Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari isi paper ini adalah untuk menganalisa unjuk kerja sistem kompresi citra grayscale asli, apakah informasi data citra hasil rekonstruksi benar-benar dapat

Desa swasembada merupakan desa yang memiliki kemandirian lebih tinggi dalam berbagai bidang yang terkait dengan aspek sosial dan ekonomi. Prasarana dan sarana yang lebih

Kajian ini dilaksanakan bagi mendapatkan maklumat tentang tahap penggunaan komputer di kalangan guru-guru di beberapa buah sekolah menengah di daerah Seremban,

Dalam hal ini peran fungsi dan tanggung jawab perawat psikiatri dalam meningkatkan derajat kesehatan jiwa, dalam kaitannya dengan menarik diri adalah

a) 12 kes yang melibatkan Kluster Jun Heng. b) 6 kes merupakan individu yang disaring melalui pengesanan kes secara aktif kontak kepada kes positif COVID-19. c) 3 kes saringan

Manfaat yang dapat diraih oleh para pelaku bisnis yang telah peduli terhadap tanggung jawab sosial, antara lain (1) terpelihara dan mertingkatnya citra

Fungsi terkait untuk menangani permasalahan tersebut biasanya pakai trigger mas, namun sepengetahuan saya, di MySQL kita tidak dapat memanipulasi row pada tabel yang