• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

8 A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan suatu penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain. Penelitian terdahulu dapat dijadikan sebagai acuan atau dasar dalam penelitian ini karena mememudahkan peneliti namun yang membedakan adalah pada objek yang diteliti karena terdapat persamaan model dalam penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Disini akan dicantumkan beberapa hasil penelitian sebagai bahan acuan dan perbandingan dalam penelitian ini, diantaranya yaitu :

Penelitian yang dilakukan oleh Sarjana (2016) menganalisis Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan PDRB terhadap Pengangguran di Provinsi Bali memiliki 2 (dua) variabel bebas yaitu inflasi (X1), pertumbuhan PDRB (X2), memiliki 1 (satu) variabel terikat yaitu pengangguran (Y). Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil dari penelitian tersebut adalah inflasi dan PDRB mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap pengangguran di Provinsi Bali, karena t hitung lebih besar dari t tabel atau signifikansinya lebih kecil dari 5%.

Inflasi dan pengangguran mempunyai pengaruh signifikan secara simultan terhadap di Provinsi Bali, karena F hitung lebih besar dari F tabel atau signifikansinya lebih kecil dari 5%.

(2)

Penelitian Suaidah dan Cahyono (2012) menganalisis Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat Pengangguran di Kabupaten Jombang dengan metode analisis regresi linier sederhana menemukan bahwa tingkat pengangguran dipengaruhi oleh tingkat pendidikan terutama lulusan SMA/Aliyah di Kabupaten Jombang. Lulusan SMA/aliyah yang bertambah mempengaruhi besarnya tingkatpengangguran. Koefisien determinasi ( ) sebesar 0,561188 menunjukkan tingkat pendidikan berpengaruh 56,11% terhadap tingkat pengangguran, sedangkan sisanya 43,89% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. Kesimpulan penelitian bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat pengangguran yang ada di Kabupaten Jombang.

Penelitian Anggoro dan Soesatyo (2015) menganalisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pertumbuhan Angkatan Kerja Terhadap Tingkat Pengangguran di Kota Surabaya dengan metode penelitian analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel independen yaitu pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan angkatan kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat pengangguran. Variabel pertumbuhan ekonomi menujukkan tanda negatif yang artinya menujukkan adanya pengaruh yang berbanding terbalik dan berlawan dengan tingkat pengangguran sedangkan variabel pertumbuhan angkatan kerja menujukkan tanda negatif namun tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran.

Koefisien determinasi sebesar 0,677768 menujukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan angkatan kerja berpengaruh sebesar 67,77% sedangkan

(3)

32,3% dipengaruhi oleh variabel lain. Kesimpulan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan angkatan kerja berpengaruh terhadap tingkat pengangguran di Kota Surabaya.

Penelitian Septianti dan Ayuningsasi (2011) menganalisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Inflasi dan Upah Minimum Terhadap Jumlah Pengangguran di Bali dengan metode penelitiananalisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, dan upah minimum secara simultan berpengaruh signifikan terhadap jumlah pengangguran di Bali. Variabel tingkat inflasi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah pengangguran di Bali, sedangkan pertumbuhan ekonomi dan upah minimum secara parsial tidak berpengaruh terhadap jumlah pengangguran di Bali. Variabel dominan dalam penelitian ini adalah tingkat inflasi, dimana 26 persen secara positif mempengaruhi jumlah pengangguran di Bali. Variasi pengaruh dari ketiga variabel bebas dapat diketahui berdasarkan nilai yang senilai 0,308.

Jadi, 30,8 persen variasi jumlah pengangguran dipengaruhi oleh petumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, dan upah minimum, sedangkan sisanya sebesar 69,9 persen dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model seperti pertumbuhan penduduk, kesehatan, pendidikan, kondisi geografis, jenis kelamin, dan urbanisasi.

(4)

B. Teori dan Tinjauan Pustaka 1. Teori Pengangguran

Menurut Sukirno (1994), pengangguran adalah jumlah tenaga kerja dalam perekeonomian yang secara aktif sedang mencari pekerjaan tetapi belum memperolehnya. Berikut adalah jenis-jenis pengangguran menurut Sadono Sukirno.

a. Pengangguran berdasarkan cirinya.

Berdasarksn cirinya, pengangguran dibagi menjadi empat kelompok:

(1) Pengangguran Terbuka yaitu seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang selama periode tahun tertentu tidak bekerja, dan bersedia menerima pekerjaan, dan sedang mencari pekerjaan. Sebagai akibatnya dalam perkenomian semakin banyak tenaga kerja akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan. Dampak dari keadaan ini di dalam suatu jangka waktu yang cukup panjang mereka tidak melakukan pekerjaan.

Pengangguran terbuka dapat dikatakan sebagai akibat dari kegiatan ekonomi yang menurun, dari kemajuan tekonologi yang mengurangi penggunaan tenaga kerja atau sebagai kemunduran perkemabangan suatu industri.

(2) Pengangguran Tersembunyi. Pengangguran ini banyak terdapat pada di sektor pertanian dan jasa. Setiap kegiatan ekonomi membutuhkan tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tergantung pada banyak faktor. Pada negara berkembang, supaya dapat menjalankan kegiatannya

(5)

dengan efisien seringkali ditemukan bahwa jumlah tenaga kerja dalam suatu kegiatan ekonomi lebih banyak dari yang diperlukan.

(3) Pengangguran Musiman. Pengangguran ini terutama terdapat pada sektor pertanian dan perikanan. Misalnya pada musim hujan, penyadap karet dan nelayan tidak dapat melakukan pekerjannya dan terpaksa menganggur pada musim kemarau pula petani tidak dapat mengerjakan tanahnya.

Sehingga pada masa tersebut para petani, penyadap karet dan nelayan tidak melakukan pekerjaan lain maka mereka terpaksa menganggur. Inilah yang dapat dikatakan sebagai pengangguran musiaman.

(4) Setengah Menganggur. Pada negara-negara berkembang migrasi dari desa ke kota sangat pesat. Sebagai akibatnya tidak semua orang yang pindah ke kota dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah. Sebagian terpaksa menjadi penganggur separuh waktu. Disamping itu ada pula yang tidak menganggu, tapi tidak pula bekerja separuh waktu dan jam kerja mereka jauh lebih rendah dari jam kerja normal. Mereka mungkin hanya bekerja satu hingga dua hari seminggu, atu satu hingga empat jam sehari. Pekerja- pekerja yang mempunyai masa kerja seperti yang dijelaskan inilah yang digolongkan sebagai setengah menganggur.

b. Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya

(1) Pengangguran Friksional, adalah pengangguran normal yang terjadi jika ada 2-3% maka dianggap sudah mencapai kesempatan kerja penuh. Para penganggur ini tidak ada pekerjaan bukan karena tidak dapat memperoleh

(6)

kerja, tetapi karena sedang mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Dalam perekonomian yang berkembang pesat, pengangguran harus rendah dan pekerjaan mudah diperoleh. Pengusaha susah memperoleh pekerja, akibatnya pengusaha menawarkan gaji yang lebih tinggi. Hal ini akan mendorong pekerja untuk meninggalkan pekerjaannya yang lama dan mencari pekerjaan baru yang lebih tinggi gajinya atau lebih sesuai dengan keahliannya. Dalam proses mencari kerja baru ini untuk sementara para pekerja tersebut tergolong sebagai penganggur. Mereka inilah yang disebut sebagai pengangguran friksional.

(2) Pengangguran Siklikal adalah pengangguran yang terjadi karena merosotnya harga komoditas dari naik turunnya siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran tenaga kerja.

Misalnya di negara-negara produsen bahan mentah pertanian, penurunan ini mungkin disebabkan kemerosotan harga-harga komoditas.

Kemunduran ini menimbulkan efek pada perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan, yang juga akan mengalami kemerosotan dalam prmintaan terhadap produksinya. Kemerosotan permintaan agregat ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan mengurangi pekerja atau menutup perusahaannya, sehingga pengangguran akan bertambah. Pengangguran dengan wujud tersebut dinamakan pengangguran siklikal.

(3) Pengangguran Struktural adalah pengangguran karena kemerosotan beberapa faktor produksi sehingga kegiatan produksi menurun dan pekerja

(7)

diberhentikan. Tidak semua industri dan perusahaan dalam perkeonomian akan terus berkembang maju, sebagiannya akan mengalami kemunduran.

Kegiatan produksi dalam industri tersebut menurun merupakan sebab dari kemerosotan faktor produksi tersebut, dan sebagian pekerja terpaksa diberhentikan dan menjadi penganggur. Karena disebabkan oleh perubahan struktur ekonomi, pengangguran inilah yang dinamakan pengangguran struktural.

(4) Pengangguran Teknologi adalah pengangguran yang disebabkan oleh penggunaan mesin-mesin dan kemajuan teknologi sebagai pengganti tenaga manusia. Misalnya di pabrik-pabrik, tenaga kerja yang biasanya dilakukan oleh manusia kini digantikan dengan tenaga mesin. Hal inilah yang dapat menyebabkan terjadinya pengangguran teknologi.

2. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Sukirno (2008), meningkatnya kemakmuran masyarakat serta bertambahnya barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian disebut sebagai pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian pendapatan nasional riil dapat digunakan untuk menhitung laju pertumbuhan ekonomi. Sehingga dapat dikatakan pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan perekonomian suatu negara.

Menurut Pujoalwanto (2014), faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi antara lain:

(8)

a. Sumber daya manusia, merupakan factor terpenting dalam proses pembangunan. Cepat atau lambatnya proses pembangunan tergantung pada sejauh mana sumber daya manusianya selaku subyek pembangunan memiliki kompetensiyang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan. Dengan demikian jelas bahwa sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi.

b. Sumber daya alam, sebagian besar Negara berkembang bertumpu pada sumber daya alam yang dimiliki, namun hal ini tidak menjamin keberhasilan prose pembangunan dan pertumbuhan ekonomiapabila tidak didukung sumber daya manusia yang mengelolanya. Sumber daya alam yang dimaksud diantaranya yaitu kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.

c. Ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih yang berdampak pada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas dan pada akhirnya akan berdampak pada percepatan laju pertumbuhan ekonomi.

d. Budaya, faktor budaya ini dapat berfungsi sebagai pendorong proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang diantaranya adalah sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan teliti. Adapun budaya yang dapat

(9)

menghambat proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi diantaranya sikap anarkis, KKN, egois, boros dan sebagainya.

e. Sumber daya modal, modal dibutuhkan manusia untuk mengolah sumber daya alam dan meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi. Sumber daya modal adalah berupa barang-barang modal sangat penting bagi kelncaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitasnya.

Kuznets (1971), mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan barang ,semakin banyak jenis barang-barang ekonomi maka akan bermanfaat kepada penduduknya.

Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya.

Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik, ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu: jumlah penduduk, jumlah stok barang- barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan.

Walaupun pertumbuhan ekonomi tergantung pada banyak faktor, ahli-ahli ekonomi klasik terutama menitik beratkan pada pengaruh pertambahan penduduk pada pertumbuhan ekonomi.

Teori pertumbuhan ekonomi klasik juga menjelaskan apabila terdapat kekurangan penduduk, produksi marginal adalah lebih tinggi daripada pendapatan perkapita. Maka pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan perkapita. Akan

(10)

tetapi apabila penduduk sudah semakin banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi yaitu produksi marjinala akan akan mengalami penurunan. Oleh karenanya pendapatan nasional dan pendapatan perkapita menjadi lambat pertumbuhannya (Sukirno, 2006:433).

Menurut teori pertumbuhan Neo Klasik melihat dari sudut pandang pandangan yang berbeda, yaitu dari segi penawaran. Menurut teori ini yang dikembangkan oleh solow pertumbuhan ekonomi tergantung pada perkembangan factor-faktor produksi. Dalam persamaan ini dinyatakan dengan: ∆Y = f (∆K,∆L,∆T) dimana : ∆Y adalah tingkat pertumbuhan ekonomi, ∆K adalah tingkat pertumbuhan modal, ∆L adalah tingkat pertumbuhan penduduk, ∆T adalah tingkat perkembangan teknologi.

3. Teori Tenaga Kerja

Human Resources atau Sumber Daya Manusia (SDM) mengandung dua pengertian. Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan jasa yang diberikan dalam proses produksi. Kedua, Sumber Daya Manusia (SDM) menyangkut manusia yang mampu memberikan jasa atau usaha kerja. Mampu bekerja berarti mampu melakukan kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang disebut sebagai nilai ekonomis.

Usia dapat digunakan sebagai alat ukur kemampuan bekerja secara fisik.

Simanjuntak, 2001, menyebutkan bahwa man power atau tenaga kerja adalah orang dalam usia kerja. Di indonesia, Badan Pusat Statistik tahun 1998 menentukan batasan

(11)

usia kerja 15 tahun keatas, yang sebelumnya dengan batasan usia 10 tahun keatas.

Dalam proses dasar aktivitas perekonomian yaitu produksi, sebagai pelaku ekonomi tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting, berbeda dengan faktor produksi lainnya yang bersifat pasif (seperti : bahan baku, modal, tanah dan mesin). Tenaga kerja memiliki kemampuan dapat bertindak aktif, mampu mempengaruhi dan melakukan manajemen terhadap faktor produksi lainnya yang terlibat dalam proses produksi (Sonny Sumarsono, 2003).

Tenaga kerja adalah penduduk dengan batas umur minimal 10 tahun tanpa batas maksimal. Dengan demikian, tenaga kerja di Indonesia yang dimaksudkan adalah penduduk yang berumur 10 tahun atau lebih, sedangkan yang berumur dibawah 10 tahun sebagai batas minimum. Ini berdasarkan kenyataan bahwa dalam umur tersebut sudah banyak penduduk yang berumur muda yang sudah bekerja dan mencari pekerjaan. (Payaman J. Simanjuntak, 2001)

Sedangkan menurut Sukirno (2003), tenaga kerja yang memiliki pendidikan cukup tinggi dan ahli dalam bidang tertentu disebut sebagai tenaga kerja terdidik.

Pada dasarnya tenaga kerja dibagi ke dalam kelompok angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja. Yang termasuk dalam angkatan kerja adalah (1) golongan yang bekerja dan (2) golongan yang menganggur dan mencari pekerjaan. Menurut BPS (2008), angkatan kerja yang di golongkan bekerja antara lain:

(12)

1. Angkatan kerja yang di golongkan bekerja, yaitu :

a) Mereka yang dalam seminggu sebelum pencacahan melakukanpekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan yang lamanya bekerja paling sedikit selama satu jam dalam seminggu yang lalu.

b) Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan tidak melakukan pekerjaan atau bekerja kurang dari satu jam tetapi mereka adalah :

1) Pekerja tetap, pegawai pemerintah / swasta yang saling tidak masuk kerja karena cuti, sakit, mogok, mangkir ataupun perusahaan menghentikan kegiatan sementara.

2) Petani yang mengusahakan tanah pertanian yang tidak bekerja karena menunggu hujan untuk menggarap sawah.

3) Orang yang bekerja di bidang keahlian seperti dokter, dalang,dan lain-lain.

2. Angkatan kerja yang digolongkan menganggur dan sedang mencaripekerjaan yaitu:

a) Mereka yang belum pernah bekerja, tetapi saat ini sedang berusaha mencari pekerjaaan.

b) Mereka yang sudah pernah bekerja, tetapi pada saat pencacaha menganggur dan berusaha mendapatkan pekerjaan.

c) Mereka yang dibebas tugaskan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaaan.

Sedangkan yang termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja atau penduduk usia kerja yang tidak bekerja dan tidak mempunyai pekerjaan, yaitu orang-orang yang kegiatannya bersekolah (pelajar, mahasiswa),

(13)

mengurus rumah tangga maksudnya ibu-ibu yang bukan merupakan wanita karierataubekerja, serta penerimaan pendapatan tapi bukan merupakan imbalan langsung dari jasa kerjanya (pensiun, penderita cacat). (Payaman J. Simanjuntak, 2001). Diagram struktur angkatan kerja dapat dilihat pada gambar 1.1

Gambar 2.1 Struktur Angkatan Kerja.

4. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dengan Jumlah Pengangguran.

Jumlah pengangguran dengan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang sangat erat. Pertumbuhan ekonomi merupakan angka kemakmuran suatu negara dengan spesifiknya pendapatan perkapitanya. Jika pertumbuhan ekonomi suatu negara semakin tinggi maka semakin rendah angka penganggurannya, maka suatu negara dikatakan pertumbuhan ekonominya baik bila angka kemndiriannya tinggi.

Okun (1929), yang memiliki teori yang disebut dengan Hukum Okun menyatakan bahwa untuk setiap penurunan 2 persen GDP yang berhubugan dengn GDP potensial, angka pengangguran akan meningkat sebesar 1 persen. Hukum Okun menyediakan hubungan yang sangat penting antara pasar output dan pasar tenaga

(14)

kerja, yang menggambarkan asosiasi antara pergerakan jangka pendek pada GDP riil dan perubahan angka pengangguran. (Samuelson and Nordhaus,2004)

Apabila output nasional/daerah mengalami peningkatan dalam hal ini adalah pertumbuhan ekonomi, maka akan menyebabkan permintaan tenaga kerja naik dan jumlah pengangguran menurun. Namun sebaliknya, jika PDB riil mengalami penurunan, maka output yang diproduksi turun. Turunnya produksi tersebut mengakibatkan produsen mengurangi kapasitas produksi dan mengurangi input dalam hal ini tenaga kerja yang akhirnya mengakibatkan pengangguran meningkat.

5. Hubungan Jumlah Angkatan Kerja dengan Jumlah Pengangguran.

Kenaikan jumlah angkatan kerja adalah salah satu akibat dari kenaikan jumlah penduduk yang dialami oleh negara Indonesia. Namun jika hal tersebut tidak iringi oleh kenaikan kesempatan kerja maka jumlah angkatan kerja yang jumlahnya meningkat tersebut tidak dapat didistribusikan ke lapangan pekerjaan. Dan tentu saja hal ini akan berdampak pada bertambahnya jumlah pengangguran.

Berdasarkan penjelasan ahli-ahli ekonomi klasik, kaitan diantara pendapatan per kapita dan jumlah penduduk dijelaskan oleh suatu teori. Teori tersebut adalah teori penduduk optimum. Dalam teori ini dijelaskan bahwa apabila produksi marjinal lebih tinggi daripada pendapatan per kapitam maka hal ini adalah akibat dari kekurangan penduduk. Akibatnya pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan per kapita. Namun disisi lain, apabila penduduk sudah terlalu banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, maka produksi marjinal akan mulai mengalami penurunan. Berdasarkan hal tersebut,

(15)

pendapatan nasional dan pendapatan per kapita menjadi semakin lambat pertumbuhannya.

C. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kajian pustaka dan diperkuat dengan penelitian terdahulu, diduga bahwa Pertumbuhan Ekonomi dan Jumlah Angkatan Kerja berpengaruh terhadap Jumlah Pengangguran di Kota Batu. Maka secara sederhana, kerangka pemikiran dapat dirumuskan pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.2 Kerangka pikir variabel penelitian D. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara/kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam suatu penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis yang dimaksud merupakan dugaan yang mungkin benar atau mungkin salah. Dengan mengacu pada dasar suatu pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan

Pertumbuhan Ekonomi (X1)

Jumlah Angkatan Kerja (X2)

Jumlah Pengangguran (Y)

(16)

dengan penelitian di bidang ini, maka diajukan hipotesis: “Diduga bahwa Pertumbuhan Ekonomi dan Jumlah Angkatan Kerja berpengaruh signifikan terhadap Jumlah Pengangguran di Kota Batu.”

Gambar

Gambar 2.1 Struktur Angkatan Kerja.
Gambar 2.2 Kerangka pikir variabel penelitian  D.   Hipotesis

Referensi

Dokumen terkait

Karyawan atau tenaga kerja adalah manusia yang merupakan faktor produksi yang dinamis memiliki kemampuan berpikir dan motivasi kerja, jika pihak manajemen perusahaan jasa

Mubyarto (1981: 108) secara jelas dan tegas membedakan antara keduanya yaitu: modal merupakan salah satu faktor produksi dalam pertanian disamping tanah, tenaga kerja dan

Faktor-faktor produksi tersebut adalah luas lahan, tenaga kerja, bibit, pupuk urea, dan pupuk posca, dimana faktor-faktor produksi tersebut menjadi biaya dalam usahatani ubi

Hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyatakan bahwa apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit,

Oleh karena itu, pihak manajemen perlu mengetahui kesenjangan yang terjadi dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan yang

1) Faktor kondisi merupakan faktor pada produksi dan kebutuhan infrasutruktur yang dilakukan untuk bersaing di dunia industri. Keahlian tenaga kerja maupun sumber

Usahatani adalah ilmu yang mempelajari tentang cara petani dalam mengelola input atau faktor-faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, teknologi, pupuk, benih, dan pestisida

Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan karyawan perusahaan, pemimpin harus berani dan tegas bertindak untuk memberikan sanksi sesuai dengan