• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Asuhan Kristen Christian Nurture Horace Bushnell dan Implementasinya Bagi Keluarga di Era Digital 4.0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pola Asuhan Kristen Christian Nurture Horace Bushnell dan Implementasinya Bagi Keluarga di Era Digital 4.0"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 19

Pola Asuhan Kristen Christian Nurture Horace Bushnell dan Implementasinya Bagi Keluarga di Era Digital 4.0

Elisabeth Savitri Lukita Dewi

Prodi Pendidikan Agama Kristen, STT Injili Indonesia Medan Email: [email protected]

Abstract:

Undeniably, we are living in the world of which high digital technology has developed so fast. This brings positive impacts to all the people. However, it also gives negative influence towards human-being, especially children’s spiritual and mental growth. And as Christian parents living in the sophisticated world today, we have to be back to the Bible where parents have a very important role. Parents are commanded by God to be directly involved in nurturing and educating children. This study is intended to prove how important is Christian nurture and still relevant to be applied by the Christian parents. Based on the book ‘Christian Nuture’ written by Horace Bushnell, parents are the key to the growth of the children spiritually and mentally. To make the parents aware of their role and know how to do the role, Church must hold Christian education program “Christian Nurture” for the parents. By educating and empowering the parents, they will be able to nurture and educate the children. Parents and church have to work together to save the young generation.

Keywords: nutur; role; parents; impact; growth; children .

Abstrak:

Tak bisa disangkali, kita hidup dalam dunia dimana teknologi digital berkembang begitu cepat.

Hal ini membawa dampak positif bagi semua orang. Namun, hal ini juga berdampak negative terhadap manusia, khususnya bagi perkembangan rohani dan mental anak-anak. Dan sebagai orangtua Kristen yang hidup di dunia yang canggih hari-hari ini, kita harus kembali kepada Alkitab dimana orangtua memilili peranan penting. Orangtua diperintahkan Alla untuk langsung terlibat dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Studi ini bertujuan untuk membuktikan betapa penting asuhan Kristen dan masih trelevant diterapkan oleh para orangtua Kristen. Berdasarkan buku “Asuhan Kristen” karangan Horace Bushnell, orangtua adalah kunci bagi pertumbuhan mental dan rohani anak-anak. Untuk menyadarkan para orangtua akan perannya dan bagaimana melaksanakan perannya, Gereja haruslah mengadakan program parenting “Asuhan Kristen” bagi para orangtua. Dengan mendidik dan memberdayakan para orangtua, mereka akan mampu mengasuh dan mendidik anak-anak. Orangtua dan Gereja harus bekerja sama untuk menyelamatkan generasi muda.

Kata kunci: asuhan, peran, orangtua, dampak, pertumbuhan, anak-anak.

I. PENDAHULUAN

Pendidikan anak telah dipahami sebagai suatu hal yang sangat penting. Hanya lewat pendidikan, anak diharapkan kelak menjadi manusia seutuhnya dan berfungsi sepenuhnya. Namun, banyak orang tua masa kini kurang memahami pentingnya didikan atau asuhan Kristen sejak dini. Mereka merasa cukup memberi nafkah jasmani dan

(2)

Copyright©2021 – KERUGMA | 20

menyerahkan asuhan kepada pihak-pihak tertentu. Tanpa sadar, para orang tua kehilangan kesempatan mendidik anak pada masa keemasan mereka.

Horace Bushnell adalah penggagas Christian Nurture atau Asuhan Kristen.

Berawal dari keprihatinannya melihat anak yang cenderung diabaikan, ia mendorong para orang tua menerapkan asuhan Kristen kepada anak-anak pada usia sedini mungkin.

Melihat kondisi dunia masa kini dimana terjadi pengeroposan nilai-nilai Kristen, maka asuhan Kristen tepat diterapkan sebagai upaya membentengi anak dari pengaruh negatif dari lingkungan dan pergaulan. Bushnell menolak kegiatan gerejawi yang sifatnya sesaat, seperti kebaktian kebangunan rohani yang bertujuan membawa orang berbalik kepada Tuhan. Kegiatan ini hanya sesaat dan hanya menekankan pertobatan yang hebat namun sesaat. Setelah itu, petobat itu hilang tanpa pertumbuhan. Untuk itulah, ia lebih mendorong para orang tua untuk terlibat sejak dini terlibat dalam pendidikan rohani anak-anak mereka.

Kita semakin sering mendengar istilah 4.0, namun tidak semua mengerti istilah tersebut. Apa itu era 4.0? Keberadaan era 4.0 sebenarnya adalah era yang ditandai dari suatu revolusi industri yang berkembang di seluruh dunia dewasa ini. Revolusi industri sendiri dapat dimaknai sebagai suatu perubahan yang terjadi secara luas di seluruh dunia dan berdampak luas pada ekosistem dan tatacara kehidupan manusia, terutama dalam proses kegiatan yang berhubungan dengan menambah hasil atau produksi.1 Memang benar, era revolusi industri menawarkan banyak kemudahan dan kepraktisan. Di era ini, berbagai informasi dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Berbagai pekerjaan termasuk bisnis menjadi lebih cepat, lebih efektif dan efisien. Namun demikian, ada banyak dampak negative dari kemajuan teknologi tersebut, khususnya bagi perkembangan anak. Perilaku manusia berubah negatif. Gaya hidup manusia menjadi konsumtif, individualistis, egoistis dan semakin sekular. Kenikmatan yang ditawarkan membuat manusia, termasuk para orang tua lebih fokus mengejar materi dan mengabaikan tugas mendidik. Tuntutan kebutuhan keluarga mendesak orang tua bekerja lebih giat. Alhasil, mereka tidak memberi porsi yang serius untuk mendidik anak.

1Irsyad Kamal, dkk,. Pembelajaran di Era 4.0: Aplikasi Teknologi Informasi dalam Pembelajaran.

(Bandung: Penerbit Yrama Widya, 2020), 1-2.

(3)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 21

Permasalahan dan Pemahaman yang Keliru

Ada berbagai pemahaman yang keliru, ketidakmengertian serta ketidakpedulian dari para orang tua tentang pendidikan. Pendidikan seringkali dipahami secara sempit, yaitu hanya sebagai pendidikan yang dilakukan lembaga resmi seperti sekolah dan kampus, yakni pendidikan formal yang bersifat akademis. Padahal, pendidikan lebih dari pemberian ijazah dan gelar tentu. Cakupan pendidikan begitu luas. Selain pendidikan formal di sekolah, ada pendidikan non formal yang dilaksanakan oleh masyarakat. Pendidikan yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga. Pendidikan informal ini begitu berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Ketidakpahaman dan pemahaman yang keliru ini membuat para orang tua tidak melibatkan diri dalam pendidikan karakter anak di rumah. Mereka merasa pendidikan formal jauh lebih penting untuk masa depan anak. Dan gelar akademis dianggap segala-galanya.

Pemahaman keliru lainnya adalah anggapan orangtua bahwa pendidikan diberikan pada saat anak umur tertentu, saat anak mulai bisa diajak berkomunikasi, bahkan ketika anak beranjak remaja. Sesungguhnya, kapan pendidikan dimulai? Ferry Yang berpendapat bahwa pendidikan dinilai ketika seorang anak itu mulai dibentuk oleh Tuhan dalam rahim. Di sana terjadi pendidikan. Pendidikan sudah berlangsung berjalan pada saat itu. Pada saat orang berinteraksi waktu makan pagi, pendidikan sudah terjadi.

Pada saat, orang bertinteraksi melalui membaca dongeng sebelum tidur malam, pendidikan sudah terjadi, Pada saat gesekan atau pertengkaran di dalam rumah, antara orang tua dan anak, disitu pun sudah terjadi pendidikan. Prinsip-prinsip apa yang diletakkan orang tuanya, yang dijalankan orang tuanya, itulah yang akan diadopsi anak- anak.2 Banyak orang tua tidak menyadari bahwa ucapan dan tindakannya diperhatikan dan ditiru anak mereka. Apa yang mereka lihat dan rasakan, diserap dan direkam dalam pikiran anak sehingga membentuk karakter yang cenderung permanen.

Lebih dari itu, Ferry Yang mengutip teori seorang psikoanalis Sigmund Freud, yaitu: orang-orang yang melecehkan pasangannya, kekerasan dalam rumah tangganya, biasanya laki-laki atau suami kepada istri, ketika diselidiki melalui psikoanalisis, sering

2 Ferry Yang., Pendidikan Kristen. (Surabaya: Penerbit Momentum. 2018), 145.

(4)

Copyright©2021 – KERUGMA | 22

kali ditemukan ternyata berlatar belakang ayah dari si pelecehnya juga sering melecehkan ibunya. Ia benci sekali kepada ayahnya karena melecehkan ibunya, tetapi dia sendiri malah ternyata juga menjadi orang yang melecehkan sama dengan ayahnya.3 Berdasarkan kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dimulai sejak janin ada dalam kandungan. Dalam hal ini, orang tua merupakan pengajar paling awal dan peletak dasar bangunan, sedangkan metode yang digunakan adalah keteladanan dan contoh nyata.

Kesalahan para orang tua dalam mendidik anak juga masih sering terjadi. Orang tua tidak membangun suasana yang menyenangkan di rumah. Ketika memberi nasehat dan didikan, suasana hati anak dan orang tua tidak mendukung. Misalnya, orang tua menasehati anak dalam kondisi marah atau emosional, bukan dalam suasana akrab dan terbuka. Teguran, didikan dan nasehat disampaikan dengan kemarahan membuat hati anak terluka. Telinga anak menolak didikan orang tuanya. Jika melihat ayat Alkitab dalam Ulangan 6:7-8, pendidikan dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan menyenangkan, dimana saja tanpa terikat waktu dan tempat, orang tua bisa menyampaikan didikannya secara berulang-ulang. Proses penyampaian didikan kepada anak secara berulang-ulang itu penting bagi pembentukan suara hati sehingga kelak membantu memberi pertimbangan moral. Ferry Young berkata, istilah “mengajarkannya berulang-ulang” di dalam bahasa Ibrani adalah “shinantam” yang berarti

“menajamkan”. Kata inilah yang dipakai saat orang menajamkan besi secara berulang- ulang. Ia juga menegaskan bahwa agar seseorang memilik karakter, pendirian dan pengertian, penajaman ini haruslah dikerjakan secara berulang-ulang, yaitu pertama harus membuang hal yang tidak baik dan mengarahkan kepada hal yang baik.4

Ada sebagian orang tua memegang prinsip yang salah, seperti yang diungkapkan oleh Peter Yang: “Ada orang-orang berpendapat bahwa keselamatan ada di tangan Tuhan, maka tidak perlu mengajarkan kepada anak. Sebab jika memang anak diselamatkan, maka apapun yang terjadi, dia pasti selamat. Demikian juga pengajaran yang baik tidak pasti membawa anak nantinya menjadi baik.”5 Lebih lanjut Yang menambahkan bahwa pemahaman yang keliru ini telah menyebabkan para orang tua membiarkan anak-anak berkubang dalam kehidupan yang sembarangan. Secara

3 Ibid., 145.

4 Ibid., 146-147.

5 Ibid,. 147.

(5)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 23

theology reformed, pandangan ini kelihatannya baik, secara konsep predestinasi, kelihatannya mereka benar, tetapi pengertian mereka sebetulnya salah kaprah.6

Pemikiran keliru juga masih dimiliki para orang tua. Menurut mereka, anak akan mengalami pertobatan hebat pada usia tertentu jika mereka dibawa ke gereja atau mengikuti kebaktian kebangunan rohani (KKR). Bushnell memberi kritikan tentang kegiatan gereja yang bersifat spektakuler. Ia secara terang-terangan menentang pelaksanaan event KKR karena kegiatan KKR menghasilkan pertobatan hebat tapi hanya sesaat. Setelah itu, petobat itu hilang tanpa pertumbuhan. Bushnell berpendapat anak-anak sejak dini sudah bisa diperkenalkan dengan Tuhan dan iman mereka bertumbuh lewat asuhan Kristen. Mereka bisa mengalami pertobatan tanpa harus menunggu mereka terlibat dalam kenakalan.

II. METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian menjadi penting dalam setiap penelitian sebagai acuan nilai keilmiahan sebuah penelitian. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian studi kepustakaan (library research), yakni menggunakan literature atau kepustakaan yang berkaitan dengan peran orangtua Kristen dalam pola asuh anak di era 4.0. Setelah melihat fenomena yang terjadi di masyarakat khususnya para orangtua Kristen masa kini, penulis mencoba menghubungkannya dengan pola asuhan Kristen yang masih relevan hingga kini. Dalam hal ini, penelitian bertujuan untuk menguji kebenaran teori Christian Nurture dari Horace Bushnell (penelitian pengujian atau verifikasi) terhadap perilaku orangtua masa kini yang cenderung mengabaikan perannya, yaitu mengasuh dan mendidik anak-anak.

III. PEMBAHASAN DAN HASIL Definisi Pendidikan Agama Kristen

Ada banyak definisi tentang pendidikan agama Kristen. Namun, yang menarik untuk dikaji dalam bagian ini adalah definisi dari Horace Bushnell yang menekankan pentingnya pendidikan untuk anak-anak sejak dini. Ia menganggap ini adalah tugas mulia yang seharusnya dikerjakan oleh para orang tua. Ia mendefinisikan Pendidikan

6 Ibid., 148.

(6)

Copyright©2021 – KERUGMA | 24

Agama Kristen dalam dua bagian. Pertama, pendidikan agama Kristen adalah pelayanan pedagogis dari pihak orang tua dan gereja secara khusus melibatkan kaum muda dngan cara yang wajar dalama pengalaman keluarga Kristen dan kehidupan jemaat tanpa mengharuskan kaum muda itu lebih dahulu mengalami pertobatan yang hebat pada umur tertentu. Kedua, pendidikan agama Kristen adalah pelayanan kegerejaan yang membimbing orangtua untuk membimbing orang tua untuk memenuhi panggilannya sebagai orang tua Kristen, dan sekaligus pula memperlengkapi warga jemaat untuk hidup sebagai anggota persekutuan yang beribadah, bersaksi, mengajar, belajar dan melayani nama Yesus Kristus.7 Berdasarkan definisi Bushnell di atas, terlihat jelas bahwa orang tua adalah pihak yang paling berperan dalam pendidikan anak.

Dengan keterlibatan orang tua dalam asuhan Kristen, anak bisa mengalami pertobatan tanpa harus menjadi nakal atau melakukan banyak kenakalan. Tentu saja, ini bisa terjadi bila anak dibesarkan dalam keluarga Kristen yang mengamalkan iman Kristen. Dalam definisi di atas, tanggungjawab gereja juga tak kalah pentingnya.

Disebutkan bahwa gereja berperan dalam membimbing para orang tua, menyadarkan mereka akan panggilan mereka dan memperlengkapi mereka agar mereka cakap dalam mendidik anak mereka. Memang, banyak orangtua tidak mengerti panggilannya sebagai pendidik utama dalam keluarga. Ketidakmengertian para orang akan panggilan inilah yang membuat mereka tidak ambil bagian yang serius dalam mengasuh dan mendidik anak. Itu sebabnya, gereja bertanggungjawab dalam hal ini.

Tujuan Pendidikan Agama Kristen Bagi Orang Tua

Di atas telah jelas dipaparkan bahwa orang tua merupakan pihak yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam asuhan Kristen. Hal ini didukung oleh pendapat Judy Ten Elshof. Menurutnya, pendidikan kehidupan keluarga harus berpusat di rumah, didukung oleh gereja dan harus berdasarkan teologi yang alkitabiah serta persekutuan yang kokoh bersama Allah dan sesama. Ini berarti bahwa membimbing, melatih dan mendidik kehidupan rohani generasi berikutnya adalah tanggungjawab utama orang tua di rumah.8

7 Robert R. Boelhke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen.

(Jakarta: Gunung Mulia. 2009), 500-501.

8 Judy Ten Elshof. Editor Michael J. Anthony Introducing Christian Education: Fondasi Pendidikan Abad 21. (Gandum Mas. 2017), 343.

(7)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 25

Namun, permasalahannya adalah bagaimana orangtua dapat menjalankan tanggungjawabnya jika mereka sendiri tidak mengerti akan perannya. Dalam hal ini, Gereja adalah lembaga ilahi yang memiliki peran penting dalam menyadarkan umat tentang panggilan yang mulia yakni mendidik anak. Gereja juga berperan mencerdaskan serta memberdayakan umat agar cakap mengajar anak mereka, sebagaimana Musa member perintah kepada bangsa Israel untuk mengajar anak agar mereka mengasihi Tuhan Allah dan mendidik mereka. Secara singkat, Gereja perlu melaksanakan pendidikan agama Kristen bagi orang tua. Menurut Bushnell, tujuan PAK bagi orang tua adalah menyediakan pengalaman belajar yang menolong orangtua mempertimbangkan sejumlah cara mengurus rumah tangga dan dampaknya secara khusus atas pertumbuhan anak, yang melibatkan mereka dalam penelahaan sumber iman Kristen, yang menggiatkannya memilih tindakan yang semakin selaras dengan iman yang mereka ungkapkan secara lisan sehingga mereka lebih mampu menyampaikan iman Kristen kepada anaknya.9

Horace Bushnell dan Sumbangan Pemikirannya

Horace Bushnell seorang pria yang penuh visi dan dapat melihat kebutuhan masa yang akan datang. Bushnell adalah pelopor teoretikus-teoretikus modern yang merekomendasikan pendekatan sosialisasi dalam pembentukan Kristen. Pendapatnya yang utama adalah mengenai Asuhan Kristen yang ditulis pada tahun 1840-an.

Gagasannya ini memiliki gema yang luar biasa sampai dewasa ini. Dia merancang fillsafat asuhan Kristen sebagai reaksi terhadap Revivalisme pada masanya dan lebih jauh sebagai reaksi terhadap tekanan ‘pertobatan’ dari Puritanisme tradisional. Pada tahun 1840-an Revivalisme kembali melanda negerinya: pada pertengahan abad ke-19 Charles Finney melakukan apa yang Jonathan Edwards dan George Whitefiled telah lakukan bagi Amerika pada abad ke-18. Mirip dengan pendahulunya, Revivalisme abad ke-19 menekankan keadaan manusia yang rusak total dan mendesak orang-orang untuk mengalami pertobatan yang radikal agar beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

9 Robert R. Boelhke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen.

(Jakarta: Gunung Mulia. 2009), 473.

(8)

Copyright©2021 – KERUGMA | 26

Pertemuan-pertemuan kebangunan rohani diadakan untuk menimbulkan “pengalaman pertobatan”secara mendadak.10

Bushnell mulai mengecam keras gerakan kebangunan rohani dan seluruh sindrom pertobatan. Dari permulaan dia memberikan tesis yang menentang pendapat bahwa pertobatan akan terjadi bila anak bertumbuh dewasa. Ia berpendapat daripada menunggu anak bertobat pada usia dewasa, sebaiknya anak-anak diasuh sebagai seorang Kristen dari sejak kecil. Secara ringkas dia mengungkapkan: “Apa ide Pendidikan Kristen yang sebenarnya? Anak harus dibesarkan sebagai seorang Kristen dan tidak pernah tahu dirinya sebagai seorang bukan Kristen. Dengan kata lain, tujuan, usaha dan harapannya bukanlah seperti yang lazim berlaku, yakni mula-mula anak harus dibesarkan dalam dosa supaya ia bertobat ketika ia dewasa nanti; melainkan bahwa ia bersikap terbuka pada dunia sebagai orang yang senantiasa diperbarui secara rohani, tidak pernah ingat saat dia menalami pengalaman rohani yang bersifat teknis.”11

Bushnell menghasilkan buku yang berjudul Discourses on Christian Nurture yang mengundang kontroversi sengit di anatar para tokoh gereja pada waktu itu. Namun, karyanya yang paling terkenal hingga kini dan dianggap sebagai karya terbesar dalam sejarah pendidikan Agama Kristen adalah Christian Nurture (Asuhan Kristen). Menurut Bushnell, asuhan Kristen menempatkan tanggung jawab atas orang tua untuk menjalani kehidupan yang member kesaksian iman Kristen. Ia berkata kepada para orang tua:

“Pertama-tama milikilah iman Kristen dalam dirimu; kemudian ajarkan iman Kristen tersebut sebagaimana kamu menghidupinya, ajarkan iman Kristen dengan menghidupinya; karena kamu tidak dapat melakukannya dengan cara lain.”12 Pendapat Bushnell jelas menyebutkan bahwa semua berawal dari peran orang tua dan keteladanan hidup mereka dalam membesarkan dan mengasuh anak-anak. Cara paling efektif dalam asuhan Kristen adalah menghidupi iman Kristen dan mengajarkannya bukan dengan teori agamawi tapi dibuktikan dalam praktek hidup sehari-hari.

Bushnell lebih lanjut berpendapat bahwa keluarga adalah sumber asuhan Kristen yang utama. Para orang tua harus menjaga suasana keluarga supaya benar-benar Kristen karena anak-anak tumbuh dalam iman melalui proses induksi alamiah – proses induksi alamiah akan menjadi supranatural karena iman mereka dipercepat dan ditumbuhkan

10Thomas H. Groome, Christian Religious Education. Pendidikan Agama Kristen: Berbagi Cerita

& Visi Kita. (Jakarta:Gunung Mulia. 2015), 170.

11 Ibid., 171.

12 Ibid., 172.

(9)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 27

dalam suasana Roh Allah sendiri yang selalu memenuhi keluarga. Asuhan Kristen harus mulai sedini mungkin, bahkan sebelum kelahiran dan harus menjadi fondasi bagi seluruh usaha pendidikan yang berikutnya.13

Christian Nature vs Christian Nurture

Di atas telah dijelaskan bahwa ada beberapa pemahaman yang salah dari banyak orang tua tentang prinsip pendidikan anak. Itu sebabnya, Bushnell memunculkan pendapat yang mengundang perdebatan antara Christian Nature versus Christian Nurture, atau konsep bawaan versus pengasuhan. Bushnell berusaha mengarahkan pemikiran para orang tua yang memanipulasi konsep predestinasi, yang mana mereka melepas tanggungjawab atas anak-anaknya. Dalam hal ini, Bushnell member peringatan keras sekali kepada mereka.14

Bila konsep Christian Nature diterapkan, maka terjadilah pembiaran. Anak-anak dibiarkan bertumbuh sendiri tanpa pengasuhan dan pengawasan. Bushnell member ilustrasi burung onta dan burung elang. Ketika burung onta bertelur, ia meletakkan telurnya di atas pasir dan membiarkan adanya ancaman dari predator. Sedangkan saat burung elang bertelur, ia meletakkan telur-telurnya di tempat yang aman supaya tidak ada predator yang memangsa terlur-telur elang itu. Apakah seperti itu kita perlakukan anak-anak kita? Kita biarkan predator memangsa anak-anak kita. Bushnell seolah mengatakan kepada para orang tua tersebut: “Itulah yang engkau lakukan kepada anak- anakmu! Lalu engkau memanipulasi kesalahanmu dengan menggunakan teori predestinasi. Engkau mengabaikan semua tanggungjawabmu lalu menyerahkannya kepada Tuhan?”15 Pendapat Bushnell menunjukkan keprihatinannya terhadap orang tua dan sekaligus, ia memaparkan betapa bahayanya anak yang dibiarkan tumbuh sendiri tanpa pengasuhan Kristen.

Pola asuhan Kristen yang diberikan kepada anak sejak dini menentukan perkembangan anak. Jika orang tua ingin melihat perkembangan anak dan keberhasilan masa depannya, maka orang tua tersebut harus menerapkan pola asuhan yang tepat, seperti yang dikatakan oleh Junihot bahwa salah satu cara agar anak ‘berhasil’ pada

13 Ibid., 172.

14 Ferry Young. Pendidikan Kristen. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2018), 148.

15 Ibid., 148-149.

(10)

Copyright©2021 – KERUGMA | 28

masa depannya dapat dilakukan di lingkungan keluarga, yaitu menerapkan pola asuh orangtua terhadap anak yang tepat. Kesalahan yang terjadi dapat berakibat buruk bagi masa depan anak, baik dari segi kognitif, afektif maupun perilaku.16

Urgensi Asuhan Kristen bagi Keluarga di Era 4.0

Sebuah keprihatinan muncul ketika nilai-nilai Kekristenan bergeser kepada nilai humanisme yang mengatasnamakan hak asasi manusia. Peter Yang dalam bukunya Pendidikan Kristen menyampaikan sesuatu yang menyedihkan di zaman sekarang ini.

Kira-kira sepuluh tahun belakangan ini semua orang di negara-negara barat berbicara toleransi, yakni toleransi terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual & Transgender).

Orang-orang homoseksual (gay) diizinkan hidup sebebas-bebasnya atau ditoleransi.

Toleransi sekarang akhirnya menjadi gerakan yang besar sekali di dunia barat yang melabrak orang-orang yang memiliki prinsip absolute, khususnya kita yang memegang firman Tuhan yang mengatakan bahwa LGBT adalah gaya hidup yangn berdosa, baya hidup yang tidak didukung oleh Alkitab, yang Tuhan tidak suka.17

Para orang tua Kristen masa kini menghadapi tantangan yang berat dalam mendidik dan mengasuh anak-anak arena ada banyak isu yang tidak sesuai dengan prinsip absolute dari firman Allah. Jika tidak segera diberi didikan dan asuhan Kristen, maka anak-anak akan terseret dengan arus yang menyesatkan. Ferry Yang juga berpendapat bahwa sungguh sulit bagi kita di zaman sekarang ketika kita memiliki anak-anak yang sedang bertumbuh saat ini. Ketika anak-anak kita masuk ke sekolah, mereka sudah dijejali dengan prinsip-prinsip toleransi model baru, dimana mereka akhirnya akan dibeli oleh dunia ini dan mereka akan menjadi perusak-perusak berikut di generasi akan datang. Misalnya, dalam kurikulum pendidikan di Toronto, Canada, anak kelas 3 SD sudah diajarkan bahwa LGBT adalah salah satu gaya hidup yang oke, yang normal, yang baik. Kehidupan homoseksual dipandang hanya sebagai pilihan sesuai dengan selera.18 Dari pendapat Young di atas, betapa pentingnya asuhan Kristen dalam perkembangan anak.

Pola asuh anak akan menentukan perkembangan anak. Anak akan sehat secara jasmani, rohani dan mentalnya jika diasuh secara benar. Karakter anak dapat dibentuk

16 Junihot, S. Psikologi Pendidikan Agama Kristen: Studi Psikologi Kristen dan Penerapannya dalam Pendidikan Agama Kristen. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2016), 97.

17 Ferry Young. Pendidikan Kristen. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2018), 141-142.

18 Ibid., 142.

(11)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 29

melalui asuhan yang benar sejak dini. Menurut Bushnell, sejak kecil anak bisa diarahkan hidup saleh. Perkembangan kesalehan dalam diri anak diajarkan secara tidak langsung melalui kelakuan orang tua yang diperlihatkan kepada anak. Dengan kata lain, mereka menyerap kesalehan orang tuanya.19 Jelas terbukti, kesalehan dan keteladanan hidup orang tua mempengaruhi kehidupan anak.

Era digital 4.0 atau revolusi industri adalah sebuah situasi yang tak bisa dihindari.

Dunia masa kini sudah masuk dalam era kemajuan digital sebagai dampak pesatnya kemajuan teknologi. Perubahan zaman begitu cepat, menyebabkan banyak perubahan yang sangat cepat. Pergeseran peran orangtua juga nyata terjadi. Tuntutan kebutuhan mendorong para orang tua bekerja lebih giat lagi sehingga orangtua menyerahkan tugas mereka kepada pihak-pihak tertentu. Melihat kondisi para orang masa kini yang disibukkan dengan berbagai kegiatan dan pekerjaan, pola asuh anak cenderung terabaikan. Bahkan, banyak terjadi pembiaran dan tak ada pengawasan terhadap anak.

Anak cenderung hanya diberi fasilitas seperti ponsel pintar dan dibiarkan bermain dengan teknologi internet tanpa kontrol dan arahan. Mental dan karakater anak menjadi rusak. Mereka berubah semakin egois, individualis, konsumtif dan sekular karena tayangan yang mereka tonton melalui smart phone mereka.

Pendidikan dituntut mengikuti perkembangan zaman. Artinya, zaman yang semakin canggih diperlukan keterlibatan orang tua yang lebih serius lagi. Asuhan dan didikan Kristen seharusnya mendapat porsi yang lebih besar karena arus negative perkembangan teknologi semakin deras. Peran orang tua dalam asuhan anak sejak dini begitu penting. Asuhan Kristen bisa membentengi anak-anak dari pengaruh negative kemajuan teknologi dan kemerosotan nilai Kristiani. Bushnell mengingatkan betapa penting dan mendesaknya orang tua harus terlibat dalam mengasuh anak sebelum mereka terlibat dalam kenakalan, bahkan ia berkata bahwa sebelum anak mengenal kenakalan dirinya telah mengenal Tuhan dan mengalami pertobatan.

19 Robert R. Boelhke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen.

(Jakarta: Gunung Mulia. 2009), 490.

(12)

Copyright©2021 – KERUGMA | 30

Implementasi Asuhan Kristen Bagi Keluarga di Era 4.0

Dari berbagai kajian di atas, perlu diuraikan poin-poin untuk mengimplementasikan asuhan Kristen dalam keluarga masa kini. Setelah menyadari dan memahami peran, tanggungjawab dan fungsinya, para orang tua perlu memperkuat komitmen untuk lebih mengasihi anak dengan kasih tanpa syarat. Hal ini didukung oleh Judy Ten Elshof, yang mengatakan bahwa orang tua perlu mengembangang komitmen kovenantal. Menurutnya, ada tiga komitmen kovenantal. Pertama, komitmen yang berdiri di atas sebuah kovenan dewasa (tanpa syarat dan bersifat timbal balik). Seperti dalam kitab Kejadian 6:18 ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh. Kovenan ini menunjukkan kasih tanpa syarat dari allah sebagai orang tua kepada Nuh. Kemudia, dalam Kejadian 15:18, Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham dan keturunannya. Kovenan ini dibuat Allah tanpa syarat dan menjadi komitmen yang harus diberikan para orang tua kepada anak-anak mereka. Kedua, kasih kovenantal yaitu kasih yang penuh tanggungjawab terhadap anak mereka. Artinya, orang tua bertanggungjawab untuk meletakkan benih-benih dasar yang akan membantu anak menjaga keseimbangan antara menjadi individu yang setia kepada Tuhan dan menjadi seseorang yang setia kepada komunitasnya. Ketiga, kasih yang mencari. Orang tua berjanji untuk memberdayakan anak agar menjadi individu dan anggota masyarakat yang diciptakan Allah secara unik. Kualitas pengasuhan ini mencerminkan kasih Allah yang lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab orangtua.20 Kutipan di atas jelas menunjukkan kasih tanpa syarat menjadi fondasi pendidikan dan asuhan Kristen. Inilah yang akan membangun kehangatan hubungan keluarga. Dalam suasana yang menyenangkan, orang tua dapat mengajarkan apa yang mereka percaya, nilai-nilai rohani, nilai alkitabiah dan memberi teladan iman kepada anak.

Dalam asuhan Kristen, Gereja perlu mendesain program mempersiapkan calon orang tua, yakni pasangan yang akan menikah. Dalam konseling pranikah, mereka disadarkan dan diajarkan bagaimana menjalankan peran mereka sebagai orangtua, yakni bahwa mereka harus mendidik anak sejak ada dalam kandungan ibu. Sedangkan, untuk pasangan suami istri yang relative muda, bahkan para orang tua tunggal, pihak gereja harus tetap mengingatkan fungsi mereka dan memberdayakan para orang tua dengan

20 Judy Ten Elshof., Introducing Christian Education: Fondasi Pendidikan Abad 21. (Gandum Mas, 2017), 344-345.

(13)

Volume 3, No 1, Tahun 2021

p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma

Copyright©2021 – KERUGMA | 31

berbagai cara, misalnya seminar parenting, seminar pendidikan atau melalui kotbah- kotbah inspiratif tentang pendidikan anak. Intinya, gereja harus memberi porsi perhatian yang serius untuk orang tua agar mereka menerapkan asuhan Kristen.

IV. KESIMPULAN/PENUTUP

Era 4.0 atau revolusi industri telah memberi banyak manfaat. Namun, tidak hanya berdampak positif, kemajuan teknoloni juga berdampak negatif, khususnya bagi perkembangan anak. Itu sebabnya, pemikiran tentang asuhan Kristen atau Christian Nurture yang diusulkan Horace Bushnell pada abad ke-19 menjadi relevan untuk diimplementasikan di abad ke-21 sekarang ini. Peran orang tua dan Gereja dalam pendidikan anak sejak dini menjadi sangat penting dan mendesak. Hal ini tidak bisa ditawar-tawar lagi karena kita harus serius menyelamatkan generasi penerus, yaitu anak-anak kita, dari derasnya arus negative kemajuan teknologi.

Tanggung jawab orang tua dan gereja tersebut bersifat komplementer atau saling mengisi. Kedua lembaga ilahi ini memiliki peran yang sangat penting dan harus ada kerjasama yang saling mendukung. Gereja memiliki fungsi menyadarkan dan mencerdaskan para orang tua akan tugasnya, sekaligus memberdayakan mereka untuk menjadi pendidik utama keluarga. Sedangkan, orang tua berkewajiban menjalankan tugas mulia dari Tuhan, yakni mendidik dan mengasuh anak secara berkesinambungan.

Asuhan Kristen harus dilaksankan sejak mereka dalam kandungan.

(14)

Copyright©2021 – KERUGMA | 32

DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Michael. J (editor). Introducing Christian Education: Fondasi Pendidikan Abad 21. Penerbit Gandum Mas. 2017.

Boelhke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Dari Yohanes Amos Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia.

Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.

Groome, Thomas H. Christian Religious Education: Pendidikan Agama Kristen.

Berbagi Cerita & Visi Kita. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2015.

Junihot, S. Psikologi Pendidikan Agama Kristen: Studi Psikologi Kristen dan Penerapannya dalam Pendidikan Agama Kristen. Yogyakarta: Penerbit Andi.

2016.

Kamal, Irsyad. Egi Arvian Firmansyah., Kurnia Khafidhatur Rafiah., Adil Falah Rahmawan. Cattleya Rejito. Pembelajaran di Era 4.0: Aplikasi Teknologi Informasi dalam Pembelajaran. Bandung: Penerbit Yrama Widya. 2020.

Yang, Ferry. Pendidikan Kristen. Surabaya: Penerbit Momentum. 2018.

Referensi

Dokumen terkait

Studi Pengembangan Antibiotik Alami Berbasis Penghambatan Sintesis Peptidoglikan Patogen 900/PKS/ITS/2019 29 Maret 2019 182 Fahmi Mubarok, ST., M.Sc., Ph.D Teknik Mesin

A ncak, bu birlik şim dilik siyasi alan d a birleşm ek şeklinde düşünülm

Bütün bunlar, bu söylediğim vasıf­ lar: A k ifin hemen her kitabında vardır Şimdi kısaca zamandan tasarruf etmek için Asım üzerinde duracağım: Neden Akif bu

Jadi dari kelima sampel tanah tersebut jenis tanah yang dominan yaitu lempung tak organik dengan plastisitas tinggi. Dari data hasil penelitian

BAGI YANG MASIH TERDAPAT KETIDAKSESUAIAN DATA, SILAHKAN HUBUNGI ADMIN REPORT CENTER.. PENGUMUMAN DAN PENETAPAN JUARA DILAKUKAN PADA TANGGAL

Berdasarkan hasil studi literatur tersebut, maka pada penelitian ini, metode servqual model digunakan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan publik terhadap sistem

A VILÁG, AZ EU ÉS MAGYARORSZÁG BORTER- ME LÉSE A­világ­bortermelése­az­évjárati­ingadozások­miatt

Mordan merupakan zat yang berfungsi sebagai pengikat warna. Mordan disebut juga sebagai zat khusus yang dapat meningkatkan lekatnya berbagai pewarna pada