4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Proses Pengolahan Kelapa Sawit
PKS (Pabrik Kelapa Sawit) pada umumnya mengolah bahan baku berupa Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit (Kernel). Proses pengolahan kelapa kelapa sawit sampai menjadi minyak sawit (CPO) terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
2.1.1 Uraian Produksi
1. Penerimaan Tandan Buah Segar
Tandan Buah Segar (TBS) dikelola dengan baik untuk menghindari kerusakan pada buah yang dapat menyebabkan rendahnya kualitas minyak yang dihasilkan. (Basiron 2005).
2. Perebusan
Perebusan dilakukan menggunakan uap pada tekanan 3 kg/cm2 pada suhu 143oC selama 1 jam. Proses ini dilakukan untuk mencegah naiknya jumlah asam lemak bebas karena reaksi enzimatik, mempermudah perontokan buah, dan mengkondisikan inti sawit untuk meminimalkan pecahnya inti sawit selama pengolahan berikutnya.
3. Perontokan
Tujuan dari perontokan adalah memisahkan buah yang sudah direbus dari tandannya. Perontokan dapat dilakukan dengan cara proses bantingan di thresher.
4. Pelumatan
Pelumatan dilakukan untuk memanaskan buah kembali memisahkan daging buah dari inti, dan memecah sel minyak sebelum mengalami ekstraksi.
Kondisi terbaik pelumatan ada pada suhu 95-100o C selama 20 menit.
5 5. Ekstraksi minyak
Ekstraksi minyak biasanya dilakukan dengan mesin press akan menghasilkan dua kelompok produk yaitu ( 1) campuran antara air, minyak dan padatan, (2) cake yang mengandung serat dan inti.
6. Klarifikasi Minyak
Kasar hasil ekstraksi akan memiliki komposisi 66% minyak, 24% air, dan 10% padatan bukan minyak (nonoily solids, NOS). Karena kandungan padatannya cukup tinggi, maka harus dilarutkan dengan air untuk mendapatkan pengendapan yang diinginkan. Setelahdilarutkan, minyakkasar · disaring untuk memisahkan bahan berserat. Produk kemudian diendapkan untuk memisahkan minyak dan endapan. Minyak pada bagian atas diambil dan dilewatkan pada pemumi setrifugal yang diikuti oleh pengering vakum. Selanjutnya didinginkan sebelum disimpan dalam tangki penyimpan.
7. Pengolahan Inti Sawit
Setelah dari stasiun Pressing diperoleh crude oil dan nut. Crude oil diproses di clarification Station sedangkan nut diolah distasiun kernel recovery hingg diperoleh produk berupa inti sawit (Palm Kernel). Pengolahan biji bertujuan untuk memperoleh inti sawit yang sesuai dengan standar mutu produk yang dihasilkan.
2.2 Mesin dan Peralatan di Pabrik Kelapa Sawit 2.2.1 Mesin dan Peralatan Produksi
Mesin produksi adalah suatu bangun komplek tersusun dari bagian-bagian yang saling menopang menghasilkan suatu fungsi kerja tertentu. Dalam arti lain, mesin adalah alat bantu mekanik yang susunannya komplek. Adapun mesin produksi yang ada di Pabrik Kelapa Sawit untuk setiap stasiunnya adalah sebagai berikut:
a. Jembatan Timbangan
Jembatan timbangan ini memiliki fungsi untuk menimbang berat TBS yang masuk setiap harinya
6 b. Loading ramp
Loading ramp berfungsi untuk tempat pengumpulan TBS sementara.
c. Transfer Carriage
Transfer carriage berfungsi untuk memindahkan lory rebusan dari stasiun d. Sterillizer
Mesin ini memiliki fungsi untuk merebus buah dan bertujuan untuk menonaktifkan enzim lipase yang menyebabkan naiknya asam lemak bebas, memudahkan lepasnya buah dari tandannya, melunakkan daging buah dan mengurangi kadar air.
e. Hoisting Crane
Alat yang digunakan untuk mengangkut lori tandan buah rebus yang keluar dari sterilizer dengan crane yang kemudian dituang dengan cara memutar luri pada titik sumbu
f. Thresher
Alat ini berguna untuk memisahkan tandan kosong dan brondolan matang g. Digester
Alat ini berfungsi untuk melumatkan brondolan atau buah sawit dengan proses pengadukan.
h. Screw Press
Mesin ini berfungsi untuk memeras brondolan yang telah dicincang untuk mendapatkan Minyak.
i. Sand Trap Tank
Alat ini berfungsi memisahkan pasir yang masih ada pada minyak.
j. Vibro Separator
Alat ini berfungsi menyaring crude oil dari serabut.
k. Continous Settling Tank
Alat ini berfungsi untuk memisahkan minyak, air dan NOS.
l. Oil Tank
Alat ini berfungsi untuk memanaskan minyak yang telah dipisahkan dari air dan kotoran dengan cara pengendapan.
7 m. Vacum Dryer
Alat ini berfungsi untuk memisahkan air dengan cara penguapan.
n. Storage Tank
Alat ini berfungsi untuk menyimpan minyak hasil olahan serta untuk mengetahui jumlah hasil produksi perhari untuk mengetahui besarnya rendemen minyak yang dihasilkan.
o. Cake Breaker Conveyor
Alat ini berfungsi memisahkan gumpalan fibre (serabut) dan biji (cake) hasil dari keluaran press sehingga akan memudahkan pemisah fiber dan nut pada depericarper (fibre cyclone)di CBC juga terjadi proses penguapan akibat hamburan cake yang terjadi selama proses transportasi.
p. Depericarper
Alat ini berfungsi memisahkan serabut dari biji.
q. Hydrocyclone
Alat ini berfungsi untuk memisahkan cangkang dan inti sawit dengan prinsip
r. Vacum Dryer
Alat ini berfungsi untuk memisahkan air yang terkandung di inti sawit dengan cara mengalirkan udara panas melalui heater.
s. Kernel Silo
Alat ini berfungsi untuk menyimpan produksi yang keluar dari kernel silo.
2.3 Sistem Informasi 2.3.1 Sistem
Suatu sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu. Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem secara umum, yaitu :
a. Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur.
8
b. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.
c. Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.
d. Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar
2.3.2 Karakteristik Sistem
Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat tertentu, yaitu : 1. Komponen Sistem
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan.
2. Batasan Sistem
Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan luarnya.
3. Lingkungan luar Sistem
Lingkungan luar sistem adalah apapun di luar batasan dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem
4. Penghubung Sistem
Penghubung sistem merupak medua penghubung antara subsistem dengan subsistem lainnya. Melalui media penghubung ini memungkinkan sumber daya yang ada mengalir dari satu subsistem ke subsistem lainnya.
5. Masukan Sistem
Masukan (input) adalah hasil dari energi yang dimasukkan ke dalam sistem.
Masukan dapat berupa masukan perawatan dan masukan sinyal.
6. Keluaran Sistem
Keluaran adalah hasil dari energy yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan keluaran dapat merupakan masukan untuk subsistem yang lain.
7. Pengolah Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran.
9 8. Sasaran Sistem
Suatu sistem pasti mempunyai sasaran atau tujuan yang sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang dihasilkan sistem.
2.3.3 Kriteria Sistem yang Baik Kriteria sistem yang baik antara lain : 1. Kegunaan
Sistem harus dapat menghasilkan informasi yang tepat dan waktu yang relevan untuk proses pengambilan keputusan.
2. Ekonomis
Sistem harus dapat menyumbang suatu nilai tambah sekurang-kurangnya sebesar biayanya.
3. Keandalan
Keluaran dari sistem harus mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi dan dapat beroperasi secara efektif dan efisien.
4. Kapasitas
Sistem harus cukup sederhana sehingga struktur dan operasinya dapat dengan mudah dimengerti dan prosedur mudah diikuti.
5. Fleksibilitas
Sistem harus cukup fleksibel untuk menampung perubahan-perubahan.
2.3.4 Informasi
Informasi dapat didefenisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diintrepetasikan untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Informasi adalah data yang telah di proses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut. (McFadden, dkk 1999).
10 2.3.5 Kualitas Informasi
Dari segi kualitas, informasi harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias menyesatkan karena dari sumber informasi sampai penerima mungkin banyak gangguan yang dapat merubah informasi tersebut.
2. Relevan, berarti informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakai.
Informasi dikatakan bernilai bila manfaat lebih efektif dibanding dengan biaya mendapatkannya. Suatu informasi tidak dapat ditaksir keuntungannya dengan satuan nilai uang tetapi dapat ditaksir efektifitasnya.
3. Tepat pada waktunya, berarti informasi yang datang, penerima tidak boleh terlambat, informasi yang sudah using tidak akan mempunyai nilai lagi karena informasi merupakan landasan di dalam pengambilan keputusan.
2.3.6 Siklus Informasi
Data yang diolah melalui model menjadi informasi, penerima informasi kemudian membuat suatu keputusan dan melakukan suatu tindakan yang berarti menghasikan suatu tindakan yang lain akan membuat sejumlah data kembali. Data tersebut diidentifikasi sebagai input, diproses kembali lewat suatu model dan seterusnya membenuk suatu siklus informasi (Jogiyanto. H.
M, 2005 ). Siklus informasi dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.3.6 Siklus Informasi
11 2.3.7 Sistem Informasi
Sistem infor10masi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Mengacu pada defenisi sistem serta informasi diatas, maka sistem informasi dapat diartikan sebagai suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang meliputi berbagai macam komponen-komponen dalam organisasi untuk mencapai temuan yaitu menghasilkan informasi (Jogiyanto. H. M, 2005).
2.3.8 Komponen Sistem Informasi
Menurut Josh Burch dan Gary Grudnitski dalam bukunya Jogiyanto. H. M, 2005, mengemukakan bahwa sistem informasi mempunyai komponen- komponen sebagai berikut :
1. Blok Masukan
Masukan (input) berupa metode-metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen-dokumen dasar.
2. Blok Model
Terdiri dari kombinasi prosedur-prosedur, logika dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yang sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
3. Blok Keluaran
Keluaran merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
4. Blok Teknologi
Teknologi merupaka “kotak alat” (tool box) dalam sistem informasi.
Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian sistem secara keseluruhan.
12 5. Blok Basis Data
Basis data adalah kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan di perangkat keras computer dan digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya.
6. Blok Kendali
Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung diatasi.
2.4 Sistem Informasi Manajemen 2.4.1 Pengertian SIM
Sistem informasi manajemen (SIM) adalah sebuah sistem terstruktur yang digunakan untuk mengelola data secara terkomputerisasi (Kurniawan, 2002).
Di dalam SIM ini terdapat beberapa fungsi dibutuhkan oleh sebuah perusahaan, di antaranya :
a. Pencarian data
b. Pengupdatean data secara berkala
c. Penginformasian data kepada publik (dapat berupa report teks atau dalam bentuk tabel)
d. Penyimpanan data
Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah suatu alat (berupa sistem informasi) untuk menghasilkan informasi yang berkualitas guna mendukung manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Dari pengertian diatas, ada hal-hal pokok yang perlu dikaji, yaitu: sistem informasi, data dan database, informasi, serta proses pengambilan keputusan oleh manajemen dalam mengelola suatu organisasi/perusahaan.
2.4.2 Kegunaan Sistem Informasi Manajemen
Di era globalisasi, tantangan manajemen semakin kompleks dalam mengelola bisnis internasional antara lain: pertumbuhan sistem informasi internasional, mengorganisasikan sistem informasi internasional, mengelola sistem global,
13
persoalan teknologi dan peluang/kesempatan serta tantangan yang muncul, dengan senantiasa mempertimbang kan kekuatan dan kelemahan yang ada.
Dengan adanya SIM diharapkan memberikan beberapa kegunaan, yaitu : a. Pengambilan keputusan yang cepat, tepat, praktis dan rasional b. Pelaksanaan keputusan yang efisien
c. Pengawasan yang efektif d. Feed-back yang cepat e. Penilaian yang obyektif
2.4.3 Tujuan Sistem Informasi Manajemen
Berdasarkan pad pengertian-pengertian diatas, maka terlihat bahwa tujuan dibentuknya sistem informasi manajemen adalah supaya organisasi memiliki informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan manajemen, baik yang menyangkut keputusan-keputusan rutin maupun keputusan-keputusan strategis. (Lukman, 2018).
Sehingga sistem informasi manajemen adalah suatu sistem yang menyediakan kepada pengelola organisasi data maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi.
2.4.4 Karakteristik Sistem Informasi Manajemen
Beberapa karakteristik utama dari sistem manajemen informasi (Ahmad Lukman, 2018), adalah :
a. Beroperasi pada tugas-tugas yang terstruktur, dimana prosedur, pengambilan keputusan, arus informasi, format laporan dsb, sudah terdefenisi.
b. Bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya.
c. Menyediakan laporan untuk keperluan pengambilan keputusan.
d. Mempermudah akses informasi untuk keperluan manajemen.
14 2.5 Desain Sistem/Perancangan Sistem 2.5.1 Desain Sistem
Desain sistem adalah sebuah teknik pemecahan masalah yang saling melengkapi (dengan analis sistem ) yang mengangkat kembali bagian-bagian komponen menjadi sistem yang lengkap, harapannya sebuah sistem yang diperbaiki (Muslihudin dan Oktafianto, 2016). Hal ini melibatkan penambahan, penghapusan, dan perubahan-perubahan bagian relatif pada sistem awal (aslinya). Tujuan dari desain sistem ini adalah memenuhi kebutuhan pemakai sistem serta memberikan gambaran yang jelas dan lengkap kepada pemograman komputer dan ahli-ahli teknik lainnya yang terlibat.
2.5.2 Alat-alat bantu dalam Desain Sistem
Alat bantu yang digunakan dalam desain sistem adalah : 1. Bagan Alir (flowchart)
Merupakan bagan yang menunjukkan alir (flow) prosedur sistem secara logika. Bagan alir digunakan pertama untuk alat bantu komunikasi dan dokumentasi.
2. Context Diagram
Context Diagram adalah diagram tingkat atas yang merupakan diagram yang paling tidak detail dari sebuah sistem informasi yang menggambarkan aliran-aliran data kedalam dan keluar sistem dari entitas- entitas eksternal.
3. Data Flow Diagram
DFD sering digunakan untuk menggambarkan sisstem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut akan disimpan.
DFD merupakan alat yang digunakan pada metodologi pengembangan sistem yang terstruktur.
15 2.5.3 Desain Input Output
1. Desain Input
Masukan sistem harus dirancang secara rinci mulai perangkat yang akan digunakan sampai dengan desain yang digunakan karena jika desain masukan kurang lengkap maka akan berdampak informasi yang dihasilkan data yang disimpan atau informasi yang dihasilkan juga tidak seusai dengan kebutuhan sistem. Tujuan dari desain input adalah :
a. Untuk mengefektifkan biaya pemasukan.
b. Untuk mencapai keakuratan sistem yang tinggi.
c. Menjamin pemasukan data yang dapat diterima dan dimengerti oleh pemakai.
Dalam mendesain input ada beberapa tipe input yaitu : a. Ekternal, yaitu pemasukan data berasal dari luar organisasi b. Internal, yaitu pemasukakn data berasala dari dalam organisasi.
2. Deain Output
Desain output keluaran merupak hasil yang tidak diabaikan karena keluaran yang dihasilkan harus memudahkan bagian setiap unsur manusia yang memerlukan :
a. Eksternal, yaitu pengeluaran data untuk luar organisasi b. Internal, yaitu pengeluaran data untuk dalam organisasi.
2.6 Manajemen Perawatan (Maintanance) 2.6.1 Pengertian Manajemen Perawatan
Menurut (Melladya dkk. 2015) manajemen perawatan didefenisikan sebagai organisasi pemeliharaan yang sesuai dengan kebijaksanaan yang disetujui. Kebijaksanaan yang disetujui harus sejelas mungkin dan tidak boleh diragukan.
Salah satu unsur penting yang sering kali diabaikan oleh suaru entitas adalah tidak melakukan manajemen pemeliharaan dengan baik dan benar. Manajemen pemeliharaannya pada umumnya dipandang sebagai
16
faktor pemborosan, sesuatu yang sulit untuk dijadwalkan dan dikalkulasikan biayanya. Uraian pekerjaan harus meliputi suatu pernyataan kebijaksanaan pemeliharaan sebagaimana telah ditetapkan oleh manajemen, dan ini harus menjadi persyaratan baginya (Corder, 1988)
Dengan mengetahui tujuan dan sistem manajemen pemeliharaan yang diterapkan maka organisasi dapat mengatasi masalah, mengambil keputusan serta mengerti dengan jelas permasalahan yang dihadapi dan atau akan dihadapi.
2.6.2 Pengertian Perawatan
Untuk memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu maka kegiatan produksi perusahaan manufaktur haruslah berlangsung lancar. Untuk itu kondisi dan ketersediaan mesin produksi adalah hal penting yang harus dijaga dan dipertahankan. Dalam kenyataannya, kerusakan mesin terjadi akibat kegagalan komponen. (Li dan Thomson, 2005).
Kegagalan komponen mesin yang terjadi karena kemerosotan kondisinya pada umumnya dapat terdeteksi dengan gejala getaran dan suara. Namun kegagalan komponen juga dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa diawali dengan munculnya gejala kerusakan. Dengan adanya masalah yang timbul akibat terjadinya kegagalan komponen maka perawatan mesin perlu dilakukan dengan menerapkan sistem perawatan preventive.
Perawatan mesin dapat didefenisikan sebagai kegiatan yang harus dilakukan secara rutin dan berkala dengan penggantian komponen- komponen yang mengalami kerusakan untuk memulihkan kondisinya agar berfungsi sebagaimana mestinya. (Gross, Jhon, 2002).
17 2.6.3 Jenis-jenis Perawatan
Dalam istilah perawatan (maintanance) tercakup dua kegiatan yaitu perawatan dan perbaikan. Perawatan dimaksudkan sebagai kegiatan untuk mencegah kerusakan, sedangkan kegiatan perbaikan dimaksudkan sebagai tindakan untuk menghilangkan dan memperbaiki penyebab kerusakan. Pemilihan program perawatan akan memengaruhi kelangsungan produktifitas produksi pabrik. Karena itu perlu dipertimbangkan secara cermat mengenai bentuk perawatan yang akan digunakan terutama berkaitan dengan kebutuhan produksi, waktu, biaya, keterandalan tenaga perawatan dan kondisi peralatan yang dikerjakan.
Pengelompokan jenis-jenis perawatan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain tidak ada yang sama. Hal ini disebabkan setiap perusahaan memiliki karakter dan pola manajemen yang berbeda.
Namun dengan demikian, secara umum pengelompokkan kegiatan perawatan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu perawatan terencana (plained maintanance), dan perawatan tidak terencana (unplained maintanance). Jenis-jenis perawatan :
a. Perawatan pencegahan (preventive maintanance) adalah kegiatan perawatan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan, atau kegiatan perawatan yang direncanakan untuk melakukan pencegahan tersebut meliputi: inspeksi, perbaikan kecil, pelumasan dan penyetelan, sehingga peralatan atau mesin-mesin selama beroperasi terhindar dari kerusakan.
b. Perawatan korektif (corective maintanance) adalah kegiatan perawatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fasilitas/peralatan hingga mencapai kondisi yang dapat diterima. Dalam perbaikan dapat dilakukan peningkatan- peningkatan sedemikian rupa, seperti melakukan perubahan atau modifikasi rancangan agar peralatan menjadi lebih baik.
18
c. Perawatan darurat (emergency maintanance) adalah kegiatan perbaikan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga.
d. Perawatan berjalan (running maintanance) dimana pekerjaan perawatan dilakukan ketika fasilitas atau peralatan dalam keadaan beroperasi. Perawatan berjalan diterapkan pada peralatan-peralatan yang harus beroperasi terus dalam melayani proses produksi.
Beberapa kegiatan dilakukan seperti pembersihan, pemeriksaan, penyetelan.
e. Perawatan berhenti (shut down maintanance) dimana pekerjaan perawatan dilakukan ketika fasilitas atau peralatan harus dalam keadaaan berhenti. Perawatan berhenti merupakan kegiatan perawatan yang telah direncanakan. Beberapa kegiatan yang dilakukan seperti pembersihan, pemeriksaan, overhaul.
f. Perawatan setelah kerusakan (breakdown maintanance) merupakan pekerjaan perawatan dilakukan setelah terjadi kerusakan pada peralatan, dan untuk memperbaikinya harus disiapkan suku cadangn material, alat-alat dan tenaga kerjanya.
g. Perawatan Menyeluruh (overhaul maintanance) merupakan kegiatan rutin yang meliputi pembongkaran, pembersihan, pemeriksaan, pengukuran, perbaikan, perakitan, dan pengetesan.
19
Gambar 2.6.3 Jenis-jenis Perawatan