• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Sumber-sumber Self Efficacy Terhadap Self Efficacy dalam Mata Pelajaran Matematik pada Siswa Kelas IX di SMP "X" Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontribusi Sumber-sumber Self Efficacy Terhadap Self Efficacy dalam Mata Pelajaran Matematik pada Siswa Kelas IX di SMP "X" Bandung."

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

sumber-sumber self efficacy terhadap self efficacy siswa dalam mata pelajaran matematika pada siswa kelas IX di SMP “X” Bandung. Subjek dari penelitian ini adalah 126 siswa kelas IX di SMP “X” Bandung.

Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner sumber-sumber self efficacy yang disusun oleh peneliti berdasarkan konsep teori dari Bandura (2002), terdiri dari 31 item dengan validitas berkisar 0,345 sampai 0,807 dan reliabilitas sebesar 0,706, 0,745, 0,769, 0,771 untuk masing-masing sumber. Selain itu, alat ukur yang digunakanadalah kuesioner derajat self efficacy yang disusun oleh peneliti juga berdasarkan konsep teori dari Bandura (2002) terdiri dari 56 item dengan validitas berkisar 0,302 sampai 0,727 dan reliabilitas sebesar 0,932. Selanjutnya data diolah dengan menggunakan uji statistik regresi melalui program SPSS 21 for windows.

Berdasarkan pengolahan data secara statistik dengan tingkat kepercayaan 95%, diperoleh nilai koefisien kontribusi sumber-sumber self efficacy terhadap self efficacy siswa dalam mata pelajaran matematika pada siswa kelas IX sebesar 0.311. Dari keempat sumber self efficacy, physiological and affective state memberikan pengaruh terbesar terhadap self efficacy siswa dalam mata pelajaran matematika pada siswa kelas IX sebesar 0,239, diikuti oleh mastery experiences sebesar 0.183, social verbal persuasion sebesar 0,108 dan vicarious sebesar 0,08%.

(2)

Abstract

This study was conducted to determine the extent of the contribution of the sources of self-efficacy on student’s self-efficacy in mathematics in the ninth grade students at the "X" junior high school Bandung. The subject of this study are 126 ninth grade students at the "X" junior high school Bandung.

Measuring instrument used was questionnaire of self-efficacy sources compiled by the researchers based on the concept of the theory of Bandura (2002), this questionnaire consists of 31 items with a range from 0.345 to 0.807 validity and reliability of 0.706 , 0.745 , 0.769 , 0.771 for each source. Another instrument used was a degree of self-efficacy questionnaire prepared by the researchers based on the concept of the theory of Bandura (2002) consists of 56 items with a range from 0.302 to 0.727 validity and reliability of 0.93. Furthermore, the data were analyzed using regression statistical tests through SPSS 21 for windows .

Based on the statistical data processing with a 95% confidence level, the value of the coefficient of the contribution of the sources of self-efficacy on student’s self-efficacy in mathematics in grade IX is 0.311. Among the four sources of self-efficacy, physiological and affective states have the greatest influence on student’s self-efficacy in mathematics in class IX 0.239 , followed by mastery experiences 0.183, social verbal persuasion 0.108 and vicarious experience 0.08 % .

(3)

Lembar Pengesahan...ii

Abstrak...iii

Kata Pengantar...v

Daftar Isi...viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah...1

1.2Identifikasi Masalah...13

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian...13

1.3.1 Maksud Penelitian...13

1.3.2 Tujuan Penelitian...13

1.4Kegunaan Penelitian...14

1.4.1 Kegunan Teoritis...14

1.4.2 Kegunaan Praktis...14

1.5Kerangka Pikir...15

1.6Asumsi Penelitian...25

1.7Hipotesis Penelitian...25

1.7.1 Hipotesis Mayor...25

(4)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Self-Efficacy...27

2.1.1 Pengertian Self-Efficacy...27

2.1.2 Perceived Self-Efficacy...29

2.1.3 Sumber-sumber Self-Efficacy...30

2.1.4 Proses Self-Efficacy...35

2.2 Remaja...42

2.2.1 Pengertian Masa Remaja...42

2.2.2 Perkembangan Remaja...43

2.2.3Transisi Menuju Sekolah Menengah/Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama...46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian...48

3.2 Bagan Rancangan Penelitian...48

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional...49

3.3.1 Variabel Penelitian...49

3.3.2 Definisi Operasional...50

3.3.2.1 Definisi Operasional Sumber-Sumber Self-Efficacy...50

3.3.2.2 Definisi Operasional Derajat Self-Efficacy...51

3.4 Alat Ukur...52

(5)

3.4.2 Alat Ukur Derajat Self-Efficacy...53

3.4.3 Sistem Penilaian...56

3.4.3.1 Sistem Penilaian Kuesioner Sumber-Sumber Self-Efficacy...56

3.4.3.2 Sistem Penilaian Kuesioner Derajat Self-Efficacy...56

3.4.4 Data Pribadi dan Data Penunjang...57

3.4.4.1 Data Pribadi... 57

3.4.4.2 Data Penunjang... 58

3.4.5 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur... 58

3.4.5.1 Validitas Alat Ukur... 58

3.4.5.2 Reliabiliras Alat Ukur...59

3.5 Populasi...61

3.5.1 Populasi Sasaran...61

3.5.2 Karakteristik Populasi...61

3.6 Teknik Analisis Data...61

3.7 Hipotesis Penelitian...63

BAB IV PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian...64

4.1.1 Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin...64

4.1.2 Gambaran Subjek Berdasarkan Usia...65

4.1.3 Gambaran Subjek Berdasarkan Nilai Raport...65

4.1.2 Gambaran Subjek Berdasarkan Les Matematika...65

(6)

4.2.1 Uji Hipotesis Penelitian...66

4.2.2 Kontribusi Sumber-Sumber Self Efficacy terhadap Self Efficacy dalam mata Pelajaran Matematika...71

4.3 Pembahasan...72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...78

5.2 Saran...79

5.2.1 Saran Teoritis...79

5.2.2 Saran Praktis...79

Daftar Pustaka...81

Daftar Rujukan...82

(7)

Tabel 3.2 Pembagian Item Dalam Kuesioner Derajat Self Efficacy...53

Tabel 3.3 Kategori Skor Kuesioner Sumber-Sumber Self Efficacy...55

Tabel 3.4 Kategori Skor Kuesioner Derajat Self Efficacy...56

Tabel 4.1 Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin...64

Tabel 4.2. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia...65

Tabel 4.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Nilai Raport Terakhir...65

Tabel 4.4 Gambaran Subjek Berdasarkan Les Matematika...65

Tabel 4.5 Gambaran Subjek Berdasarkan Metode Les...66

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji Statistik Regresi Linear Sumber-Sumber Self-Efficacy Terhadap Self-Self-Efficacy Dalam Pelajaran Matematika...67

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Statistik Regresi Linear Sederhana Mastery Experiences Terhadap Self-Efficacy Dalam Pelajaran Matematika...68

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Statistik Regresi Linear Sederhana Vicarious Experiences Terhadap Self-Efficacy Dalam Pelajaran Matematika...68

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Statistik Regresi Linear Sederhana Social/Verbal Persuasion Terhadap Self-Efficacy Dalam Pelajaran Matematika...69

(8)

Bagan 3.1 Bagan Rancangan Penelitian...48

Bagan 4.1. Kontribusi Sumber-Sumber Self-Efficacy Terhadap Self-Efficacy

(9)

1.1 Latar Belakang Masalah

Di zaman sekarang ini kemajuan suatu negara dipengaruhi oleh faktor

pendidikan. Suatu pendidikan tentunya akan mencetak sumber daya manusia yang

berkualitas baik dari segi spritual, intelegensi dan skill. Pendidikan merupakan

proses mencetak generasi penerus bangsa (Haryanto, S.Pd, 2014).

Sekolah merupakan salah satu lembaga penyelenggara pendidikan formal

yang mengadakan proses belajar mengajar untuk mengembangkan pengetahuan

siswa. Salah satu jenjang pendidikan yang dilalui adalah Sekolah Menengah

Pertama. Siswa yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) berusia

sekitar 12-15 tahun yang tergolong masa remaja. Banyak perubahan-perubahan

yang terjadi pada siswa SMP dalam masa remaja mereka sebagai masa peralihan,

seperti teman, lingkungan sekolah, dan pelajaran. Remaja mengalami tekanan dari

teman sebaya dan menginginkan untuk mengikuti temannya. Remaja menghadapi

tuntutan, harapan serta resiko-resiko dan godaan-godaan. Tuntutan yang dialami

remaja salah satunya adalah tuntutan yang berkaitan dengan keberhasilan dalam

prestasi akademik. (Santrock, 2003)

Di kota Bandung sendiri tercatat ada 332 Sekolah Menengah Pertama,

baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, salah satunya adalah

SMP “X”. SMP “X” merupakan salah satu sekolah swasta dengan akreditasi A di

(10)

tergolong lengkap dan baik, juga memiliki banyak prestasi baik dibidang

akademik maupun non-akademik.

Banyak fasilitas yang disediakan oleh SMP “X” yang dapat menunjang

kegiatan belajar siswa selama di sekolah. SMP “X” juga menyediakan sarana

untuk mengembangkan kecerdasan, bakat dan minat siswa melaui berbagai

macam kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia. SMP “X” memiliki program

pembekalan untuk murid yang akan mengikuti Olimpiade Sains, Matematika, atau

Fisika. Untuk murid yang mengalami masalah dan kesulitan dalam pelajaran,

SMP “X” menyelenggarakan kelas tambahan untuk membantu para murid terseut.

Pihak guru BK juga secara berkala mengadakan kegiatan yang ditujukan untuk

membantu siswa untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas dengan

baik.

SMP “X” juga memiliki banyak prestasi baik dalam bidang akademik

maupun non akademik. Prestasi yang pernah diraih oleh SMP “X” diantaranya

adalah mengirimkan siswanya untuk mengikuti olimpiade sains dan matematika,

lomba debat dan story telling dalam bahasa inggris, dan prestasi non akademik

seperti memenangkan perlombaan basket, kesenian, dan lain-lain. Namun, pada

kenyataannya tidak semua siswa dapat meraih prestasi akademik yang baik.

Menurut salah satu guru di SMP “X”, ada beberapa siswa yang menonjol di

bidang non-akademik namun kurang berprestasi dalam bidang akademik karena

mereka kurang berusaha dalam belajar sehingga nilai yang diperoleh masih

dibawah standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM ini merupakan

(11)

tersebut dari setiap mata pelajaran. Jadi para siswa yang nilai ulangannya belum

mencapai KKM yang sudah ditentukan harus mengikuti remedial.

Masalah prestasi belajar dialami oleh siswa SMP “X” di Bandung,

terutama pada siswa kelas IX. Menurut wali kelas siswa kelas IX, siswa kelas IX

dihadapkan pada beban untuk mempersiapkan diri mengikuti tes saringan masuk

ke SMA. Siswa kelas IX juga mendapatkan tekanan karena akan menghadapi

ujian nasional dan diharuskan untuk mengikuti kelas pemantapan dan try-out yang

cukup banyak. Salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional

adalah matematika. Siswa harus mengingat kembali apa saja yang sudah mereka

pelajari pada saat kelas VII dan VIII. Apa yang siswa alami pada saat kelas VII

dan VIII dapat berpengaruh pada diri mereka saat ini, misalnya pada persepsi

mereka mengenai pelajaran matematika dan kemampuan yang mereka miliki.

Kemampuan siswa dalam menyelesaikan tuntutan-tuntutan akademik yang

dihadapi tidak hanya dipengaruhi oleh potensi kognitif yang dimiliki siswa seperti

intelegensi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keyakinan siswa mengenai

kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tuntutan-tuntutan tersebut (Widanarti

dan Indati, 2002).

Dalam pelajaran matematika siswa dituntut untuk dapat menguasai materi

kesebangunan, bangun ruang, statistika, peluang, bilangan berpangkat dan bentuk

akar (operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan aljabar), dan

pola bilangan dan deret. Menurut guru matematika kelas IX di SMP “X” Bandung

untuk memahami materi-materi tersebut dibutuhkan berbagai macam kemampuan

(12)

tidak hanya sekedar menghafal rumus namun juga harus mampu mengaplikasikan

rumus dan memahami setiap persoalan, kemampuan untuk teliti dalam

mengerjakan soal-soal matematika, kemampuan imajinasi bentuk yang abstrak

untuk memahami bangun ruang, dan kemampuan penalaran. Menurut Piaget

(dalam Santrock, 2003) kemampuan penalaran deduktif hipotesis mulai

berkembang saat menginjak usia 11 tahun yaitu termasuk kedalam masa remaja,

kemampuan penalaran ini menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan

kognitif untuk memahami konsep abstrak dan mengembangkan hipotesis

mengenai cara memecahkan masalah, seperti aljabar dalam matematika.

Ada 126 siswa kelas IX yang terbagi kedalam 4 kelas. Menurut guru

matematika kelas IX di SMP “X” Bandung, banyak siswa memandang

matematika adalah pelajaran yang menakutkan, dari hasil ulangan harian 40-60%

siswa mendapat nilai dibawah KKM dan harus mengikuti remedial. Lebih lanjut

menurut guru tersebut, jumlah persentasi siswa yang mendapat nilai dibawah

KKM lebih besar daripada pada saat siswa kelas IX ini duduk dibangku kelas

VIII. Padahal nilai KKM saat kelas VIII lebih tinggi daripada di kelas IX. Di kelas

VII nilai KKM yang harus terpenuhi dalah 70, sementara di kelas IX 65.

Matematika merupakan pelajaran yang menjadi “momok” tersendiri bagi

para siswa. Dari wawancara yang dilakukan terhadap 14 orang siswa, sebanyak 10

siswa (71,4%) merasa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit dan

membingungkan. Mereka kesulitan memahami materi yang diajarkan dalam

pelajaran matematika. Hal tersebut juga membuat siswa tidak memahami cara

(13)

dalam mengerjakan dan membaca soal, maka hasil akhir yang diperoleh pun akan

salah.

Berdasarkan wawancara dengan 10 siswa yang menganggap matematika

adalah pelajaran yang sulit, merasa dirinya tidak yakin akan mampu mengerti dan

memahami materi dan juga soal-soal yang diberikan sehingga mereka menjadi

malas untuk berusaha lebih dan cenderung menjadi bersikap tidak peduli. Ketika

guru menjelaskan materi dikelas dan mereka menganggap materi tersebut sulit,

mereka lebih memilih untuk tidak mengikuti pelajaran itu dengan

sungguh-sungguh. Mereka cenderung hanya sekedar mendengarkan atau memilih untuk

melakukan kegiatan lain.

Hal ini didukung oleh pernyataan guru matematika kelas IX bahwa ada

beberapa siswa saat menghadapi persoalan yang sulit cenderung merasa tidak

yakin mampu mengerjakannya, mudah menyerah dan menunda mengerjakan soal

tersebut, mereka juga memilih untuk diam saja dan tidak bertanya pada guru yang

bersangkutan mengenai kesulitan yang mereka alami. Beberapa siswa merasa

materinya susah dan mereka tidak menguasainya, maka sekeras apapun usaha

mereka tidak yakin akan mampu mengerjakan soal tersebut. Siswa juga

menganggap dengan adanya tugas pun tidak membuat mereka yakin kemampuan

mereka dalam mata pelajaran matematika akan meningkat. Padahal dalam

pelajaran matematika dibutuhkan berbagai macam kemampuan agar dapat

mengerti dan memahami materi yang diberikan. Siswa diharapkan tidak hanya

sekedar menghafal rumus namun juga harus mengaplikasikan rumus dan

(14)

matematika, dan kemampuan penalaran untuk menganalisa ketika soal yang

diberikan berupa soal cerita, sehingga saat mengerjakan soal matematika

dibutuhkan ketenangan dan keyakinan.

Sedangkan sebanyak 4 siswa (28,6%) merasa pelajaran matematika

merupakan pelajaran yang menyenangkan. Mereka merasa tertarik untuk

mempelajari matematika karena mereka tidak perlu terlalu banyak menghapal

teori dan dapat menggunakan logika pada saat mengerjakan soal-soal. Bagi

mereka bila sering mengerjakan soal-soal latihan, maka tidak terlalu sulit untuk

mengerjakan soal-soal pada saat ulangan maupun ujian mid semester.

Menurut Widjajanti (2009), keyakinan siswa terhadap matematika

mempengaruhi bagaimana ia mempelajari pelajaran matematika. Keyakinan yang

salah, seperti menganggap matematika sebagai pelajaran yang sangat sulit, sangat

abstrak, penuh rumus, dan hanya dikuasai oleh anak-anak pintar, menjadikan

banyak siswa menjadi cemas berlebihan dalam menghadapi pelajaran dan

ulangan atau ujian matematika. Padahal kecemasan yang berlebihan berdampak

negatif terhadap hasil ujian atau ulangan yang diperoleh. Siswa membutuhkan

keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya untuk melalui setiap proses

pembelajaran seperti memahami dan mengerjakan soal-soal latihan yang

diberikan dalam tugas dan ulangan. Chapman (dalam Widjajanti, 2009) bahkan

menyatakan beliefs yang positif terhadap matematika merupakan hal penting yang

harus ditanamkan pada anak sejak dini mengingat beliefs dapat menjadi dasar

(15)

Siswa kelas IX yang memiliki keyakinan akan kemampuan mereka dalam

mengerjakan soal-soal ulangan matematika diharapkan dapat memenuhi standar

nilai KKM. Keyakinan akan kemampuan yang dimiliki oleh para siswa untuk

melakukan kegiatan belajar disebut Bandura sebagai self-efficacy. Self-efficacy

adalah keyakinan seseorang mengenai kemampuannya untuk dapat mengatur dan

melakukan tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai situasi yang diharapkan

(Bandura, 2002). Self-efficacy dapat dilihat melalui pilihan yang dibuat, seberapa

besar usaha yang dikeluarkan, berapa lama siswa dapat bertahan saat dihadapkan

pada rintangan-rintangan dan kegagalan, dan bagaimana penghayatan perasaannya

saat menghadapi keadaan yang menuntut (Bandura, 2002). Self-efficacy ini akan

menentukan tingkah laku siswa dalam proses belajar mereka. Dalam memecahkan

persoalan matematika yang relatif dianggap sulit, siswa yang mempunyai

keraguan tentang kemampuannya akan mengurangi usahanya bahkan cenderung

akan menyerah. Siswa yang mempunyai self efficacy tinggi menganggap

kegagalan sebagai kurangnya usaha, sedangkan siswa yang memiliki self efficacy

rendah menganggap kegagalan berasal dari kurangnya kemampuan (Hamidah,

2013)

Berdasarkan hasil wawancara dengan 14 orang siswa/i, dilihat dari

aspek-aspek self-efficacy, mengenai pilihan yang dibuat, 57,14 siswa/i cenderung merasa

kurang yakin mampu mengikuti pelajaran matematika yang diajarkan di kelas dan

memilih untuk mengerjakan tugas yang diberikan secara asal-asalan dan kurang

mempersiapkan diri untuk mengerjakan persoalan-persoalan matematika saat

(16)

pelajaran matematika yang diajarkan dikelas, memilih mengerjakan tugas

matematika yang diberikan oleh guru dengan sungguh-sungguh, dan mengikuti les

tambahan diluar jam sekolah. Mengenai besarnya usaha, sebanyak 64,28%

siswa/i kurang berusaha untuk dapat mengerti dan memahami materi yang

diajarkan dalam pelajaran matematika, mereka juga tidak mengurangi waktu

bermain agar dapat mengerjakan soal-soal matematika. Sisanya sebanyak 35,7%

siswa/i berusaha agar dapat memahami dan menguasai materi yang diajarkan

dalam pelajaran matematika dengan menyediakan waktu lebih untuk

memperbanyak berlatih soal-soal matematika.

Mengenai daya tahan,71,43% siswa/i merasa kurang yakin dapat bertahan

saat mengerjakan soal-soal matematika yang sulit. Sisanya sebanyak 28,57%

siswa/i merasa yakin mampu bertahan dalam mengerjakan soal-soal yang

dianggap sulit. Mengenai penghayatan perasaan, sebanyak 78,57% siswa/i merasa

kurang yakin dapat tetap tenang pada saat menghadapi soal-soal yang diluar

perkiraan mereka dan belum mereka pelajari. Mereka merasa cemas dan tidak

tenang sehingga mereka tidak yakin dapat mengatasi soal-soal yang sulit.

Sedangkan, 21,4% siswa/i merasa yakin bahwa mereka mereka dapat merasa

tenang jika menghadapi soal-soal di luar perkiraan mereka dan diluar apa yang

sudah mereka pelajari. Mereka merasa yakin mampu mengatasi persoalan sulit.

Terdapat sumber-sumber informasi berupa pengalaman-pengalaman dari

sekolah, lingkungan rumah, dan lingkungan sosial yang dapat membentuk dan

mengembangkan self-efficacy yang dimiliki siswa kelas IX (Bandura,2002).

(17)

yaitu : mastery experiences, vicarious experiences, social/verbal persuasions, dan

physiological and affective states.

Penghayatan siswa pada masing-masing sumber akan memiliki pengaruh

yang berbeda-beda pada pada keyakinan siswa akan kemampuannya untuk

menguasai pelajaran matematika. Siswa dapat membentuk, meningkatkan, atau

menurunkan keyakinan akan kemampuannya dalam pelajaran matematika

berdasarkan salah satu sumber saja atau kombinasi dari berbagai sumber dalam

pembentukkan keyakinan diri mereka (Bandura, 2002). Mastery experience yang

berupa pengalaman akan keberhasilan siswa kelas IX dalam mengerjakan

soal-soal latihan, tugas-tugas dan ulangan harian matematika dapat membuat mereka

menjadi lebih yakin akan kemampuan mereka untuk menguasai materi

matematika dan mengerjakan soal-soal ujian matematika. Vicarious experience

mengembangkan keyakinan siswa akan kemampuan mereka dalam menguasai

pelajaran matematika melalui pengamatan akan kemampuan dan pencapaian

teman yang dianggap memiliki kemampuan yang mirip dengan dirinya,

Verbal/social persuasions berupa informasi yang berupa dukungan dari orang tua, teman, dan guru yang dapat berupa nasihat, pujian dan perhatian dapat

mengembangkan keyakinan siswa akan kemampuan yang mereka miliki untuk

menguasai pelajaran matematika. Sumber informasi lainnya yaitu physiological

and affective states berupa keadaan fisik dan emosi siswa juga dapat membentuk keyakinan siswa dalam kemampuan menguasai pelajaran matematika, salah

satunya saat siswa dapat merasa tenang dalam mempelajari dan mengerjakan

(18)

yang sudah dipelajarinya akan mudah terlupakan. Selanjutnya, saat siswa sudah

tenang dan dapat berpikir lebih jernih, maka saat mengerjakan persoalan

matematika akan muncul keyakinan dari apa yang sudah dipelajari sebelumnya.

(Indrayani, 2012)

Berdasarkan wawancara dengan guru matematika, ketika kebanyakan

siswa di kelas mendapat nilai dibawah KKM, mereka menjadi menganggap

bahwa mendapat nilai dibawah KKM merupakan hal yang wajar karena

kebanyakan temannya juga mendapat nilai dibawah KKM. Bagi siswa yang sering

mendapat nilai dibawah KKM menjadi meragukan kemampuannya untuk

menetapkan target nilai yang tinggi pada ulangan selanjutnya. Hal ini pada

akhirnya mempengaruhi mood siswa dalam mempelajari matematika, siswa

menjadi mudah bosan dan tidak memperhatikan saat guru menjelaskan materi.

Menurut guru BK, siswa kelas IX seringkali dipengaruhi oleh

pengalaman-pengalamannya pada saat siswa duduk di kelas VII dan VIII, bahkan

siswa juga dipengaruhi oleh pengalaman mereka pada waktu SD. Berdasarkan

wawancara dengan guru BK di SMP “X”, ada siswa yang memiliki pengalaman

dalam mata pelajaran matematika pada saat siswa tersebut SD yang berpengaruh

sampai saat ini. Guru matematika SD siswa tersebut mengatakan bahwa siswa

tersebut tidak memiliki kemampuan untuk dapat menguasai pelajaran matematika.

Hal tersebut membuat siswa meragukan kemampuannya dan menganggap bahwa

sekeras apapun dia berusaha, dia tetap tidak akan mampu menguasai pelajaran

(19)

terget yang rendah, kurang berusaha dalam mempelajari matematika dan mudah

menyerah pada saat mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal matematika.

Diantara 14 orang siswa tersebut terdapat 11 siswa (78,5%) merasa

pengalaman keberhasilan di masa lalu (mastery experiences), seperti saat mereka

dapat mengerjakan persoalan matematika dalam tugas harian, dapat meningkatkan

keyakinan siswa untuk dapat mengerjakan soal-soal ulangan matematika. Namun,

sebanyak 3 siswa (21,4%) beranggapan jika mereka mampu mengerjakan

soal-soal latihan harian atau dapat mengerjakan persoal-soalan yang sulit atau mendapat

nilai tinggi hanya merupakan suatu kebetulan, bukan karena kemampuan mereka.

Selanjutnya, sebanyak 4 siswa (28,6%) mengatakan dengan mengamati

pengalaman orang lain yang memiliki kemampuan serupa dengan dirinya dapat

mengembangkan keyakinan akan kemampuan mereka dalam pelajaran

matematika (Vicarious Experiences). Mereka mengatakan jika bermain bersama

teman-teman yang mereka anggap rajin, mereka akan rajin juga dan sebaliknya.

Ketika melihat teman yang mendapat nilai yang tinggi, mereka akan terdorong

untuk mendapatkan nilai yang tinggi juga. Sedangkan sebanyak 10 siswa (71,4%)

beranggapan bahwa dengan mereka mengamati teman mereka yang mendapat

nilai baik atau buruk dalam pelajaran matematika, belum tentu mereka juga akan

mendapatkan hasil yang sama. Mereka tidak membandingkan diri mereka dengan

teman-temannya karena mereka merasa kemampuan mereka memang berbeda.

Ada 9 siswa (64,3%) siswa yang lebih yakin akan kemampuannya

meningkat setelah mendapat pujian baik guru, teman, atau orang tua

(20)

orangtua, teman maupun guru saat mereka dapat mengerjakan latihan soal di

papan tulis, saat mereka mendapat nilai yang baik saat ulangan, dan mendapat

nilai yang baik pada tugas yang mereka kerjakan, mereka menjadi lebih yakin

akan kemampuannya dalam pelajaran matematika. Sedangkan sebanyak 5 siswa

(35,71%) setelah mendapat pujian dari orangtua, teman maupun guru tetap tidak

menjadi lebih yakin akan kemampuannya dalam pelajaran matematika

Dan sebanyak 12 siswa (85,7%) siswa mengaku bahwa reaksi emosional

dan fisiologis yang dirasakannya, seperti ketegangan, keputusasaan, kesenangan,

kepuasan, kekecewaaan, tertawa, menangis, kemarahan dapat membuat mereka

kurang yakin akan kemampuan dalam pelajaran matematika (physiological and

affective states). Sisanya sebanyak 2 siswa (14,3%) menganggap keadaan emosional dan fisiologis mereka tidak mengganggu keyakinan mereka dalam

pelajaran matematika, mereka tetap merasa yakin mereka mampu mengerjakan

soal-soal matematika.

Berdasarkan fenomena yang telah dijabarkan diatas, dapat dilihat bahwa

sumber-sumber self-efficacy memiliki pengaruh yang berbeda-beda untuk

membentuk dan mengembangkan self-efficacy dalam mata pelajaran matematika

pada siswa kelas IX SMP ‘X’. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai sejauh mana pengaruh sumber-sumber

(21)

1.2. Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui sejauh mana pengaruh

sumber-sumber self-efficacy yang meliputi mastery experiences, vicarious

experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai

pengaruh sumber-sumber self-efficacy (mastery experiences, vicarious

experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states) dan self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi sejauh

mana kontribusi sumber-sumber self-efficacy (mastery experiences,

vicarious experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states) terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

1.4. Kegunaan Penelitian

(22)

• Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dalam

ilmu psikologi pendidikan dalam pemahaman mengenai sumber-sumber

self-efficacy yang berkontribusi terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

• Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi peneliti lain untuk

mengembangkan dan meneliti lebih lanjut mengenai kontribusi

sumber-sumber self-efficacy terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika.

1.4.2. Kegunaan Praktis

• Memberi informasi kepada guru mata pelajaran matematika kelas IX

mengenai pengaruh sumber-sumber self-efficacy terhadap self-efficacy

dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP “X” di Bandung.

Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan

untuk memperlakukan siswa dengan cara yang tepat, sehingga dapat

mendorong siswa meningkatkan prestasi belajarnya, khususnya dalam

pelajaran matematika.

• Memberi informasi kepada guru BK dan Kepala Sekolah, mengenai

pengaruh sumber-sumber self-efficacy terhadap self-efficacy dalam

pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP “X” di Bandung.

Informasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk

membantu siswa dalam usaha meningkatkan self-efficacy belief dalam

pelajaran matematika.

(23)

Siswa kelas IX SMP “X” Bandung pada umumnya berusia antara 12-15

tahun, yang tergolong masa remaja. Menurut Santrock, masa remaja merupakan

masa transisi, dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia

18 dan 20 tahun (Santrock, 2003). Pada masa transisi ini remaja banyak

mengalami perubahan dan perkembangan. Siswa mengalami perkembangan

sosio-emosional. Pada masa ini siswa cenderung menggabungkan diri dalam kelompok

teman sebaya. Berkembang conformity, yaitu kecenderungan untuk mengikuti

pendapat, nilai, hobi, dan keinginan orang lain. Siswa cenderung banyak

dipengaruhi oleh teman-temannya, keinginan untuk dapat sama dengan temannya

membuat siswa menentukan pilihannya berdasarkan pada apa yang temannya

pilih. Siswa membentuk kelompok-kelompok yang sama dengan karakteristik

dirinya dan ingin menojolkan kelompok mereka. Pada masa remaja ini, keinginan

untuk bisa sama dengan yang lain dan bisa diterima oleh kelompok cukup tinggi.

Bagi sebagian siswa, dikucilkan dari kelompok merupakan hal yang dapat

menyebabkan stress, frustasi, dan rasa sedih (Santrock, 2003).

Selain itu, siswa juga mengalami perkembangan kognitif. Piaget (dalam

Santrock, 2003) menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi

formal. Dengan mencapai tahap operasi formal, siswa kelas IX SMP ‘X’ dapat

berpikir dengan idealistik, abstrak, dan logis. Siswa mulai menyusun

rencana-rencana untuk memecahkan masalah secara sistematis. Pada tahap ini remaja

secara kognitif mampu untuk melakukan analisis terhadap pemecahan masalah

dan mampu menemukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah. Dengan

(24)

realistik tentang kekuatan dan kelemahan, serta kemampuan yang dimilikinya

dalam menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah, dengan kata lain ketika

remaja berada dalam tahap formal operasional self efficacy mulai terbentuk dalam

diri remaja. Self-efficacy merupakan keyakinan seseorang mengenai

kemampuannya untuk dapat mengatur dan melakukan tindakan yang dibutuhkan

untuk mencapai situasi-situasi yang diharapkan (Bandura, 2002).

Dalam tahap formal operasional, siswa memiliki kemampuan penalaran

deduktif hipotesis yang menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan kognitif

untuk mengembangkan hipotesis mengenai cara memecahkan masalah, seperti

persamaan aljabar. Kemudian menarik kesimpulan secara sistematis dan

menyimpulkan pola mana yang diterapkan dalam memecahkan masalah. Dalam

mata pelajaran matematika siswa dituntut untuk dapat menguasai berbagai macem

teori yaitu : kesebangunan, bangun ruang, statistika, peluang, bilangan berpangkat

dan bentuk akar (operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan

aljabar), dan pola bilangan dan deret. Untuk dapat menguasai materi-materi

tersebut siswa membutuhkan kemampuan penalaran untuk dapat menganalisa cara

menyelesaikan persoalan matematika.

Kegiatan yang dilakukan dalam pelajaran matematika antara lain,

mengikuti kegiatan belajar matematika di kelas, memahami materi matematika

yang diajarkan, mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan dikelas,

mengerjakan tugas matematika, ulangan harian matematika dan ujian matematika.

Untuk dapat melalui setiap proses pembelajaran dalam pelajaran matematika,

(25)

materi pelajaran matematika dan memperoleh nilai ulangan matematika di atas

KKM. Keyakinan tersebut dikenal dengan self-efficacy (Bandura, 2002).

Self-efficacy yang dimiliki siswa dikembangkan oleh informasi-informasi yang diperoleh dari pengalaman di lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan

lingkungan sosial yang kemudian dapat dikelompokkan menjadi mastery

experiences, vicarious experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states. Keempat sumber di atas merupakan kumpulan informasi bagi siswa yang akan diolah melalui pemrosesan secara kognitif (Bandura, 2002).

Mastery experience mengarah pada pengalaman keberhasilan yang diperoleh siswa dalam mengerjakan tugas harian dalam mata pelajaran

matematika. Keberhasilan yang sering didapatkan siswa akan meningkatkan

self-efficacy yang dimiliki siswa tersebut akan kemampuannya dalam pelajaran matematika, sedangkan kegagalan yang dialami siswa akan membuat self-efficacy

siswa menjadi rendah. Siswa yang mengalami keberhasilan dalam mengerjakan

soal-soal latihan matematika, ulangan harian dan tugas matematika cenderung

akan meningkatkan keyakinan mereka akan kemampuan dalam pelajaran

matematika, mereka juga cenderung merasa lebih yakin akan mampu

mengerjakan soal ulangan atau ujian matematika. Sebaliknya, siswa yang

mengalami kegagalan dalam mengerjakan soal-soal latihan matematika, ulangan

harian dan tugas matematika, mereka cenderung merasa kurang yakin akan

kemampuan mereka untuk mengerjakan soal ulangan atau ujian matematika dan

(26)

Sumber self-efficacy selanjutnya yaitu vicarious experience, adalah

pengamatan akan keberhasilan atau kegagalan siswa lain yang dianggap memiliki

kemampuan yang sama dengan diri siswa dalam mengerjakan tugas dan soal

matematika. Self-efficacy yang dimiliki siswa dapat meningkat dengan melakukan

observasi terhadap keberhasilan siswa lain dalam pelajaran matematika dan

meniru perilaku siswa tersebut. Misalnya, saat siswa mengamati teman yang

memiliki kemampuan yang mirip dengan dirinya dapat mengerjakan soal-soal

matematika dan mendapatkan nilai yang baik, siswa tersebut cenderung akan

meningkatkan penilaian akan kemampuan mereka dalam pelajaran matematika.

Namun, ketika siswa mengamati siswa lain yang gagal meskipun sudah berusaha

dengan baik, cenderung akan menurunkan penilaian mereka terhadap kemampuan

mereka dalam pelajaran matematika, hal ini juga menurunkan usaha mereka,

sehingga self-efficacy siwa menurun.

Social/verbal persuasions, yaitu salah satu cara untuk menguatkan self-efficacy siswa bahwa mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil. Dapat berupa pujian, nasehat, anjuran, kritikan, ejekan, peringatan, atau

sanjungan yang dilakukan oleh orang lain. Siswa yang sering mendapat pujian ,

sanjungan, dan nasehat yang berasal dari orangtua, guru, maupun teman

cenderung akan meningkatkan penilaian mereka akan kemampuan mereka untuk

mengerjakan soal ulangan atau ujian matematika, sehingga mereka cenderung

merasa lebih yakin akan kemampuannya. Sebaliknya siswa yang sering

mendapatkan kritikan dan ejekan yang berasal dari orangtua, guru, maupun teman

(27)

mengerjakan soal ulangan atau ujian matematika, mereka cenderung merasa tidak

yakin mampu mengerjakannya.

Physiological & affective states adalah keadaan emosional dan fisik siswa yang dapat berkontribusi terhadap self-efficacy siswa dalam melakukan

tugas-tugas mereka. Beberapa siswa menilai kemampuan diri mereka dalam

mengerjakan soal-soal ulangan atau ujian matematika berdasarkan keadaan fisik

dan emosional mereka. Kecemasan dan penurunan kondisi yang terjadi pada diri

siswa ketika mengerjakan soal-soal ulangan matematika sering diartikan sebagai

suatu kegagalan dan mereka menganggap hal ini menandakan ketidakmampuan

mereka dalam mengerjakan soal ulangan matematika. Pada umumnya siswa

cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai

oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan fisik. Siswa yang tidak

mengalami kecemasan dan penurunan kondisi fisik, cenderung akan

membayangkan keberhasilan dalam ulangan matematika tersebut. Siswa akan

cenderung merasa mantap dan yakin dalam mengerjakan soal ulangan matematika

dan dapat memperoleh nilai yang memenuhi standar KKM.

Selanjutnya sumber-sumber self-efficacy tersebut akan melalui pemrosesan

kognitif. Pemikiran dan penilaian dalam proses kognitif siswa kelas IX akan

mempengaruhi tingkah laku mereka. Dalam pemrosesan kognitif ini, siswa

berpikir secara logis tentang kehidupan seperti apa yang akan mereka alami di

masa mendatang. Siswa mampu memikirkan akan menjadi apa, menentukan

rencana dan tujuan jangka pendek dan panjang serta mulai menyelaraskan pikiran

(28)

panjang, seperti dalam masalah pendidikan (Inhelder dan Piaget, 1958, dalam

Bandura, 2002). Pembentukan kognitif ini kemudian menjadi panduan bagi siswa

kelas IX untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam pelajaran matematika.

Setelah pemrosesan kognitif tersebut, siswa akan memiliki tingkat

self-efficacy yang berbeda-beda, tergantung bagaimana siswa menginterpretasi dan menghayati sumber-sumber informasi yang diperoleh. Dari proses ini, pengolahan

dari empat sumber tersebut disimpan untuk dapat diterapkan pada situasi serupa di

masa yang akan datang. Siswa bisa membentuk, meningkatkan, atau menurunkan

keyakinan dirinya berdasarkan salah satu sumber saja atau kombinasi dari

berbagai sumber dalam pembentukkan keyakinan diri mereka akan kemampuan

dalam mempelajari matematika (Bandura, 2002).

Siswa yang menghayati sumber mastery experience, yaitu sering

mengalami keberhasilan dalam pelajaran matematika akan cenderung merasa

semakin yakin bahwa mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk

berhasil dalam mempelajari matematika (Bandura, 2002). Hal ini akan

menentukan pilihan yang mereka buat pada kesempatan selanjutnya. Siswa akan

menetapkan target yang lebih tinggi dan merasa tertantang untuk mencapai target

tersebut. Misalnya, pada saat siswa berhasil mendapat nilai yang diatas standar

KKM, siswa akan cenderung menetapkan target nilai yang lebih tinggi lagi

daripada nilai yang diperolehnya sebelumnya (pilihan yang dibuat). Siswa

berusaha untuk mengerahkan usaha untuk mencapai target yang telah mereka

tetapkan dengan belajar lebih giat dan berlatih soal-soal matematika (usaha yang

(29)

mengaplikasikan rumus pada soal matematika sebagai tantangan dan termotivasi

untuk dapat mengerjakan soal yang sulit tersebut, mereka tetap bertahan untuk

dapat menyelesaikan persoalan matematika yang sulit (bertahan saat mengalami

rintangan). Mereka juga merasa bersemangat untuk dapat menguasai pelajaran

matematika dan mengerjakan persoalan matematika sekalipun sulit (penghayatan

perasaan). Sedangkan, siswa yang mengalami kegagalan dalam pelajaran

matematika akan cenderung meragukan kemampuan mereka dalam mempelajari

matematika (Bandura,2002).

Disisi lain, siswa yang sering mengalami kegagalan dalam ulangan

matematika sebelumnya dan menghayatinya sebagai sesuatu yang menghambat

seringkali menilai kemampuan mereka berdasarkan kelemahan-kelemahan yang

mereka miliki, sehingga mereka cenderung merasa tidak memiliki kemampuan

untuk mengerjakan soal-soal matematika. Siswa juga cenderung akan menetapkan

target nilai yang terbatas dan kurang dapat mempertahankan komitmen dan

usahanya untuk mencapai target nilai yang telah ditetapkannya sendiri. Siswa

menganggap tugas yang sulit sebagai sesuatu yang menjadi hambatan, sehingga

siswa cenderung memilih untuk menghindar pada saat dihadapkan pada kesulitan.

Misalnya, siswa yang sering gagal dalam mengerjakan soal-soal latihan

matematika, cenderung akan menetapkan target yang terbatas dan kurang dapat

mengarahkan dirinya untuk mencapai target tersebut.

Siswa yang menghayati sumber vicarious experience, yaitu siswa yang

mengamati teman yang memiliki kemampuan serupa dengan dirinya sering

(30)

merasa semakin yakin apabila mereka mengerahkan usaha yang sama besarnya

dengan temannya, maka mereka juga dapat memperoleh keberhasilan dalam

mengerjakan soal-soal matematika. Sehingga mereka juga menjadi termotivasi

untuk lebih mengerahkan usahanya untuk mencapai tujuan, yaitu berhasil dalam

mempelajari matematika. Misalya, saat siswa melihat temannya yang memiliki

kemampuan yang mirip dengan dirinya, setelah berusaha dan belajar dengan baik

mendapatkan nilai diatas KKM. Keadaan tersebut dapat meningkatkan keyakinan

siswa akan kemampuan yang dimilikinya, bahwa apabila mereka melakukan

usaha yang baik dan belajar dengan rajin, maka merekapun dapat meraih nilai

diatas KKM. Mereka cenderung memperbesar dan mempertahankan usahanya

agar dapat memperoleh keberhasilan seperti yang telah diraih temannya. Hal

sebaliknya terjadi pada siswa yang sering mengamati teman mereka yang

mengalami kegagalan dalam pelajaran matematika dan menghayati kegagalan

temannya sebagai hal yang menghambat, akan menurunkan penilaian akan

kemampuan mereka dalam pelajaran matematika. Siswa juga cenderung akan

menurunkan usaha mereka untuk mencapai tujuan atau target yang telah mereka

tetapkan dalam pelajaran matematika. Siswa juga cenderung menjadi kurang

mampu bertahan dalam mencapai target yang telah mereka tetapkan dalam

pelajaran matematika. Model sosial yang dipilih bisa teman sebangku, teman yang

dianggap saingan di kelas, teman dalam kelompok bermain di sekolah, atau

mungkin juga seseorang yang memiliki hubungan keluarga, seperti kakak atau

(31)

Siswa yang menghayati sumber social/verbal persuasion, yaitu siswa yang

sering mendapatkan persuasi verbal dari lingkungan baik dari guru, orangtua,

maupun teman, bahwa mereka mampu menguasai pelajaran matematika dan

memutuskan untuk membuat target pencapaian nilai ulangan matematika yang

tinggi, mereka juga cenderung akan mengeluarkan usaha yang lebih besar dan

mempertahankan usahanya tersebut saat mengalami hambatan dalam mencapai

target yang telah ditetapkan, mereka juga cenderung menjadi lebih bersemangat

dalam mempelajari matematika. Namun, pada siswa yang sering mendapat

persuasi verbal dari lingkungan, bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk

menguasai pelajaran matematika, dan menghayati hal tersebut sebagai hal yang

menghambat, cenderung memilih untuk menetapkan target nilai ulangan

matematika yang rendah dan mereka cenderung mudah menurunkan usaha mereka

dalam menghadapi persoalan-persoalan matematika, mereka bahkan cenderung

mudah merasa cemas dan menghindari mengerjakan persoalan-persoalan tersebut

saat menghadapi kesulitan, misalnya dengan melihat dan menyalin jawaban

temannya. Pada siswa yang sering diyakinkan secara verbal bahwa mereka

memiliki kemampuan untuk mengerjakan soal-soal matematika, cenderung

mampu mengarahkan dan mengerahkan usaha yang lebih besar dan

mempertahankan usaha tersebut, daripada siswa yang memiliki keraguan diri dan

berfokus pada kelemahan pribadi pada saat kesulitan timbul (Bandura,2002).

Sselanjutnya siswa yang menghayati sumber physiological and affective

(32)

bahwa mereka mampu menguasai pelajaran matematika sehingga mereka memilih

untuk menetapkan target nilai yang tinggi dalam pelajaran matematika dan

mereka cenderung merasa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan soal-soal

matematika dan mengerahkan usaha mereka dalam mencapai target yang mereka

tetapkan. Mereka juga menjadi lebih bersemangat dan merasa tertantang untuk

menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul dalam mengerjakan

persoalan-persoalan matematika. Sedangkan siswa yang sering mengalami

penurunan kondisi fisik (seperti pusing, mual, lemas), ketegangan, stres,

cenderung menginterpretasikan hal-hal tersebut sebagai tanda-tanda kegagalan

terhadap hasil usaha dalam mengerjakan soal-soal ulangan matematika. Sehingga

siswa menjadi ragu dan keyakinan siswa dalam mempelajari matematika

cenderung menurun sehingga mereka cenderung memilih untuk menetapkan

target nilai yang rendah dalam ulangan matematika dan kurang bersemangat

dalam mencapai target yang telah mereka tetapkan tersebut. Mereka juga

cenderung mudah menyerah dalam berusaha dan menghindari kesulitan. Untuk

(33)

Bagan 1.1 Bagan Kerangka Pikir

1.6.Asumsi Penelitian

Dari kerangka pemikiran di atas, maka dapat ditarik asumsi sebagai

berikut:

- Self-efficacy siswa kelas X SMP ‘X’ di Bandung dalam pelajaran matematika terlihat dari keyakinannya akan kemampuan untuk mengikuti

kegiatan belajar matematika di kelas, memahami materi matematika yang

diajarkan, mengerjakan tugas matematika, ulangan harian matematika dan

ujian matematika. Siswa Kelas IX

SMP ‘X’ Bandung Mengikuti

Pelajaran Matematika

Sumber-sumber

Self-efficacy

MasteryExperiences

Social/Verbal

Self-Efficacy

• Pilihan yang dibuat

• Usaha yang dikerahkan

• Bertahan saat mengalami

rintangan dan kegagalan

• Penghayatan perasaan

Vicarious experiences

Physiological and Affective States

(34)

- Sumber-sumber self-efficacy siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung meliputi

mastery experiences, vicarious experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states.

- Keempat sumber self-efficacy (mastery experiences, vicarious

experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states) memiliki pengaruh terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika yang dimiliki setiap siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

1.7.Hipotesis Penelitian

Berdasarkan asumsi di atas, maka diturunkan hipotesis penelitian sebagai

berikut:

1.7.1. Hipotesis Mayor

- Terdapat pengaruh yang signifikan sumber-sumber self-efficacy terhadap

self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

1.7.2. Hipotesis Minor

- Terdapat pengaruh yang signifikan dari sumber mastery experiences

terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX

SMP ‘X’ di Bandung.

- Terdapat pengaruh yang signifikan dari sumber vicarious experiences

terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX

(35)

- Terdapat pengaruh yang signifikan dari sumber social/verbal persuasions

terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX

SMP ‘X’ di Bandung.

- Terdapat pengaruh yang signifikan dari sumber physiological and affective

states terhadap self-efficacy dalam pelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP ‘X’ di Bandung.

(36)

5.1. Kesimpulan

Dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini, dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut, yaitu :

Berdasarkan pengolahan data regresi linear berganda, sumber-sumber self

efficacy secara keseluruhan memberikan pengaruh bagi self efficacy dalam mata pelajaran matematika pada siswa kelas IX di SMP “X” Bandung. Hal ini

sejalan dengan teori Bandura (2002), self efficacy siswa kelas IX di SMP “X”

Bandung dapat dibentuk melalui keempat sumber self efficacy yang meliputi

mastery experiences, vicarious experiences, social/verbal persuasions, dan physiological and affective states.

Sumber self efficacy yang paling berpengaruh terhadap self efficacy siswa

dalam mata pelajaran matematika pada siswa kelas IX di SMP “X” Bandung

adalah physiological and affective (23,9%), diikuti oleh mastery experiences

(18,9%), social/verbal persuasion (10,8%), dan vicarious experience (0,8%).

• Berdasarkan pengolahan data regresi linear sederhana, dari keempat sumber

self efficacy hanya sumber vicarious experience yang memiliki kontribusi yang tidak signifikan terhadap self efficacy dalam mata pelajaran matematika

(37)

Mayoritas siswa kelas IX di SMP “X” Bandung memiliki derajat self efficacy

yang tinggi (79,37%), sedangkan sisanya memiliki derajat self efficacy yang

rendah (20,63%).

5.2. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka peneliti

menyarankan :

5.2.1. Saran Teoritis

1. Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian lanjutan, hasil dari penelitian

ini dapat digunakan sebagai masukan jika ingin melakukan penelitian

terhadap siswa kelas VII dan VIII dalam pelajaran matematika.

2. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mengenai kontribusi

sumber-sumber self efficacy terhadap derajat self efficacy dalam mata pelajaran

lainnya selain matematika.

3. Penelitian mengenai self efficacy masih terbuka luas untuk penelitian lanjutan,

mengingat teori self efficacy ini tidak hanya terkait dengan jenjang pendidikan

SMP saja, tetapi dapat juga dilakukan penelitian mengenai self efficacy pada

jenjang pendidikan lainnya.

5.2.2. Saran Praktis

1. Bagi guru mata pelajaran matematika kelas IX SMP “X” di Bandung agar

(38)

terhadap derajat self efficacy dalam mata pelajaran matematika sebagai

referensi dalam meningkatkan prestasi akademik siswa. Diharapkan guru

menjadi lebih memahami siswa dan dapat memperlakukan siswa dengan cara

yang tepat, guru dapat melakukan beberapa hal berikut ini :

• Guru dapat menaruh perhatian pada kondisi fisik dan perasaan siswa

dalam menentukan metode mengajar. Misalnya, menyajikan materi

dengan cara mengajar yang membuat siswa menjadi tertarik dan

senang dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

• Memberikan nasihat dan dorongan pada saat siswa memperoleh nilai

yang kurang baik, serta memberikan bimbingan dan pengarahan

kepada siswa pada saat melakukan kesalahan dalam pelajaran

matematika.

• Memberikan pujian kepada siswa pada saat siswa memperoleh nilai

yang memuaskan atau pada saat siswa menunjukkan kemajuan dari

hasil yang diperolehnya sebelumnya.

2. Bagi guru BK agar melakukan konseling berkala kepada siswa dalam

memaknakan keberhasilan maupun kegagalan yang dialami dalam pelajaran

matematika. Hal ini dapat dilakukan sebagai upaya untuk membantu siswa

memaknakan dan menanggulangi kegagalan yang dialami siswa, sehingga

siswa tidak beranggapan bahwa kegagalan yang dialaminya merupakan suatu

(39)

3. Bagi Kepala Sekolah SMP “X” agar dapat menggunakan informasi tentang

pengaruh sumber-sumber self efficacy terhadap derajat self efficacy dalam

mata pelajaran matematika dalam melalukan pendampingan baik pada siswa

maupun orangtua siswa. Misalnya dengan menyelenggarakan pertemuan guru

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, Albert. 2002. Self-Efficacy: The Exercise Of Control. New York: W.H.

Freeman and Company

Bandura, Albert. 2002. Self-Efficacy in Changing Societies. New York:

Cambridge University.

Diane E, Papalia. 2001. Human Development Third Edition. New York:

McGraw-Hill co.

Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing: Design, Analysis, and Use.

Boston: Copyright Allyn & Bacon.

Guilford, J.P. 1995. Fundamental Statistics in Psychology and Education. Tokyo:

McGraw Hill Kogakusha.

Lovelace E., Nancy. 2000. Research Methods and Statistics. Florida: Harcourt

College Publishers.

Santrock, John. W. 2003. Adolescent Perkembangan Remaja. Edisi ke-6. Jakarta:

Erlangga.

Siegel, Sidney. 1997. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Sudjana. 1983. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Edisi Pertama. Bandung :

Tarsito

(41)

DAFTAR RUJUKAN

Badan Akreditasi Negara.2014.Akreditasi Sekolah Di Provinsi Jawa Barat.2014.

(Online),

http://www.ban-sm.or.id/provinsi/jawa-barat/akreditasi/view/198321, diakses 20 Februari 2014.

Hamidah, M.Pd. 2013. Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematik. Jurnal. Bandung: STKIP Siliwangi.

Haryanto, S.Pd. 2012. Pentingnya pendidikan bagi kehidupan. (Online) http://belajarpsikologi.com/pentingnya-pendidikan-bagi-kehidupan/, diakses pada 22 Februari 2014

Indrayani, Trisia. 2012. Kontribusi Sumber-Sumber Efficacy Terhadap Self-Efficacy Belief Dalam Mata Pelajaran Kimia Pada Siswa Kelas X SMA “X” di Bandung. Skripsi. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Triandesa, Trisa. 2008. Suatu Penelitian Mengenai Kontribusi Sumber-Sumber Self-Efficacy Terhadap Academic Self-Efficacy Pada Siswa Kelas XII di Kota Bandung (Suatu Studi Pada Siswa Kelas XII Yang Akan Menghadapi Ujian Nasional Pada Pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia). Skripsi. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

Widanarti, N dan Indati, A. 2002. Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Self Efficacy pada Reamaja di SMU Negeri 9 Yogyakarta. Jurnal Psikologi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Referensi

Dokumen terkait

Pada masalah khusus membahas mengenai tata bangunan kantor Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan untuk sebagai bangunan penunjang aksibilitas petugas Pemadam Kebakaran

Proyek tersebut dibangun dengan luas tanah 4.720 m2, serta luas bangunan 45.211,7 m2, yang terdiri dari Office Tower 29 lantai, Car Parks 3 lantai pada basemant dan 8 lantai

Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor, Bogor..

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari tiga variable, yaitu dua variabel bebas (independent va riables) dalam penelitian ini adalah: kepemimpinan instruksional

Terbit dua kali setahun, pada bulan April dan Oktober berisi tulisan yang diangkat dari basil kjian analisis kritis dan penelitian di bidang kcsehatan olahraga..

Penjelasan (Aanwejzing), Panitia memberikan Penjelasan secara rinci kepada peserta lelang tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai Dokumen

ANALISIS KEMITRAAN ANTARA PT PERTANI (PERSERO) DENGAN PETANI PENANGKAR BENIE PAD1. DI KAIIUPATEN

Dinas Pendidikan maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) hendaknya secara periodik mengadakan workshop , penataran, maupun istilah lain yang tujuannya untuk