RESPON DAN KOPING KELUARGA TERHADAP
PENDERITA KANKER SERVIKS YANG MENDAPAT
KEMOTERAPI DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA
NASKAH PUBLIKASI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk meraih gelar Sarjana Keperawatan
Disusun Oleh :
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
PENELITIAN
RESPON DAN KOPING KELUARGA TERHADAP PENDERITA
KANKER SERVIKS YANG MENDAPAT KEMOTERAPI DI
RSUD DR. MOEWARDI
Fika Kharisma*Winarsih Nur Ambarwati **Rina Ambarwati **
Abstrak
Proses perawatan penderita kanker merupakan pengalaman yang dapat
memberikan tekanan dan beban pada keluarga yang mengasuh pasien. Proses
perawatan menuntut keluarga untuk menyediakan dukungan dan bantuan dalam
urusan rumah tangga, perawatan fisik langsung, dan kebutuhan finansial.
Lamanya terapi kanker akan mempengaruhi cara keluarga merespon dan
menyikapi pengobatan dan perubahan yang terjadi pada penderita kanker serviks.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon dan koping keluarga
terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi di RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara mendalam (in-depth interview). Jumlah partisipan yang berpartisipasi
dalam penelitian ini sebanyak 8 orang yang diambil dengan menggunakan teknik
purposive sampling yaitu keluarga dari penderita kanker serviks yang memenuhi
kriteria. Hasil penelitian berupa respon keluarga terhadap penderita kanker serviks
yang mendapat kemoterapi adalah keluarga merasa sedih, khawatir, takut, lelah,
jenuh, pusing, kasihan, dan susah. Keluarga menyikapi perubahan dan pengobatan
penderita kanker serviks selama kemoterapi dengan sabar, rileks, berusaha untuk
melakukan pengobatan rutin, berdoa kepada Tuhan, dan ikhlas. Dampak penyakit
kanker serviks dengan kemoterapi terhadap perubahan peran keluarga adalah
penghasilan keluarga berkurang, urusan rumah tangga terbengkalai, pengasuhan
keluarga terbengkalai. Koping keluarga dalam menghadapi penderita kanker
serviks selama kemoterapi adalah dengan mencari dukungan sosial, mencari
hiburan, mencari informasi, mengontrol perasaan, melihat segi positif dari
masalah, dan dukungan spiritual. Dukungan keluarga terhadap penderita kanker
serviks yang mendapat kemoterapi adalah dengan memberikan semangat,
memberikan motivasi, memberikan nasehat, selalu merawat penderita kanker,
selalu menemani pasien ketika berobat, dan memenuhi keinginan pasien.
RESPONSE AND COPING MECHANISM OF FAMILY CAREGIVER TO
CERVICAL CANCER SURVIVOR WITH CHEMOTHERAPY IN RSUD
DR. MOEWARDI
Fika Kharisma* Winarsih Nur Ambarwati**Rina Ambarwati**
Abstract
The experience of the treatment process give pressure and burden in the
family cancer caregiver. It demands the family support, help physical treatment,
daily activities, and financial need. The cancer therapy that tend to spend long
time, it can influence family response and behaviour during the treatment and the
change of cervical cancer survivor. The purpose of this research is to know the
response and coping family caregiver to the cervical cancer survivor with
chemotherapy in RSUD Dr. Moewardi. The kind of this research is descriptive
qualitative research with the phenomenology approach. The method of collecting
data is in-depth interview. The total participant who participated in this research
are 8 persons by using purposive sampling of the cervical cancer family who
fulfill the criteria. The result of the research is the family's response to the cervical
cancer survivor is the family feel sad, worry, affraid, tired, dizzy, pity and
difficult. The family caregiver face the changing and treatment of patient
patiently, rilex, try to have the continuous treatment, pray to god and sincere. The
impact of this disease in family roles is the income of the family is decrease, the
houseworks is neglected. The family caregiver coping in facing the patient of
cervical cancer during chemotherapy is by searching the social support,
entertainment, information, control the feeling by seeing the positive side of the
problem and spiritual support. The family support to the patient is by giving spirit,
motivation, advice, and always take care the patient, as well as accompany her in
meeting the doctor and fulfill the patient desire.
PENDAHULUAN Latar belakang
Kanker serviks adalah kanker yang paling sering terjadi pada wanita. Berdasarkan International Agency for Research on Cancer (IARC) terdapat 528.000 kasus baru pada tahun 2012, dari kejadian di seluruh dunia sebagian besar (sekitar 85%) terjadi di negara-negara berkembang termasuk indonesia. Ketika kanker memengaruhi salah satu anggota keluarga, kanker tersebut juga akan memengaruhi keluarganya. Keluarga dari penderita kanker akan membantu dalam perawatan kanker selama di rumah sakit. Proses dalam perawatan ini menjadi stressor yang memberikan tekanan terhadap keluarga penderita dan dapat memengaruhi hubungan antara penderita kanker dan keluarganya. Keluarga yang membantu merawat penderita kanker dituntut untuk memenuhi seluruh kebutuhan penderita kanker seperti penyediaan dukungan dan bantuan fisik dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mandi, makan, dan berganti pakaian. Keluarga juga dituntut untuk memberikan dukungan psikologis seperti komunikasi, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan; tuntutan sosial seperti keaktifan dalam komunitas dan kerja; dan tuntutan ekonomi seperti kebutuhan finansial (Potter & Perry, 2009).
Berdasarkan penelitian Mellon (2006) tentang kualitas hidup penderita kanker ditemukan bahwa prediktor terkuat untuk kualitas hidup penderita kanker adalah tekanan dari keluarga dan dukungan sosial. Pada penelitian tersebut, keluarga yang mengasuh penderita kanker melaporkan kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan keluarga yang lainnya. Kekhawatiran dan masalah yang dihadapi penderita kanker dan keluarganya merupakan faktor penentu adaptasi dan kualitas hidup.
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui respon dan koping keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
LANDASAN TEORI Pengertian respon
Respon berasal dari kata response yang berarti balasan atau tanggapan (reaction). Respon adalah istilah psikologi yang
digunakan untuk menamakan reaksi terhadap rangsang yang diterima panca indera. Hal yang menunjang dan melatar belakangi ukuran sebuah respon adalah sikap, persepsi, dan partisipasi (Sobur, 2009).
Menurut Rosenberg dan Hovland dalam Gross (2013) Sikap adalah predisposisi untuk merespons golongan stimulus tertentu dengan golongan respon tertentu. Golongan respon tersebut adalah sebagai berikut :
1. Afektif : apa yang dirasakan seseorang tentang objek sikap, seberapa positif atau negatif objek sikap itu dievaluasi. Diartikan juga sebagai respon perseptual pernyataan verbal tentang afek
2. Kognitif : apa yang diyakini seseorang tentang seperti apakah objek sikap itu, secara objektif. Didefinisikan juga sebagai respon saraf simpatik yang berupa pernyataan verbal tentang keyakinan.
3. Perilaku : bagaimana seseorang pada kenyataannya merespons atau bermaksud merespon objek.
Pengertian Koping
Koping adalah proses dimana seseorang mencoba untuk mengatur perbedaan yang diterima antara keinginan (demands) dan pendapatan (resources) yang dinilai dalam suatu keadaan yang penuh tekanan. walaupun usaha koping dapat diarahkan untuk memperbaiki atau menguasai suatu masalah, hal ini juga dapat membantu seseorang untuk mengubah persepsinya atas ketidaksesuaian, menolerir atau menerima bahaya, juga melepaskan diri atau menghindari situasi stress. Stress diatasi dengan kognitif dan behavioral transactions melalui lingkungan (Nasir & Muhith, 2011). Menurut Stuart (2007) sumber koping terdiri atas beberapa hal, yaitu :
a. Kemampuan personal dalam menghadapi masalah, mengidentifikasi masalah, mencari pemecahan masalah, menimbang dan memutuskan suatu pilihan.
b. Dukungan sosial dapat memudahkan pemecahan masalah, memberikan kontrol sosial terbesar dalam individu tersebut.
d. Keyakinan positif yang meliputi keyakinan spiritual, pandangan positif seseorang dapat ditujukan sebagai dasar dari harapan dan dapat meningkatkan upaya koping seseorang dalam mengahadapi stressor.
Menurut Stuart (2007) mekanisme koping berdasarkan penggolongannya menjadi dua yaitu :
a. Mekanisme koping adaptif
Merupakan mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi , pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang, dan aktivitas konstruktif.
b. Mekanisme koping maladaptif
Merupakan mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi , memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi, dan cenderung menguasai lingkungan METODELOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. jumlah pertisipan yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 8 orang partisipan. Proses pengambilan partispan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan di ruang mawar 3 RSUD Dr. Moewardi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu Pengumpulan data dengan wawancara mendalam yang ditandai dengan penggalian mendalam tentang segala sesuatu masalah penelitian.
INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif berupa pedoman wawancara, alat perekam, dan alat tulis. HASIL PENELITIAN
Gambaran Karakteristik Partisipan Partisipan yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 8 orang partisipan. Dua orang partisipan merupakan suami dari penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi, enam orang partisipan lainnya merupakan anak dari penderita kanker serviks dengan kemoterapi. Rata-rata usia partisipan adalah 47 tahun. Riwayat pendidikan dari partisipan adalah dua orang
diantaranya merupakan mahasiswa di perguruan tinggi, dua orang lainnya memiliki riwayat pendidikan terakhir SMA dan STM, empat orang memiliki riwayat pendidikan terakhir di Sekolah Dasar. Dari 8 orang partisipan tiga orang bekerja sebagai buruh, tiga orang bekerja sebagai pegawai swasta, dan dua orang lainnya tidak bekerja. Analisis tema
Respon keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi
Respon keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi yaitu keluarga merasa sedih, khawatir, takut, lelah, jenuh pusing, kasihan, dan susah.
Sedih
“Saya sedih gara-gara ibu yang biasanya seger, semangat, sekarang jadi harus bolak balik ke rumah sakit, kadang ngeliat ibu
kayak kesakitan sekali”(P1). “Sedih karena
ibu sakit kanker...”(P3). “ya pasti sedih mba, jangankan yang kemo, yang sakit biasa
aja juga sedih...karena ibu sakit.”(P6).
Respon keluarga terhadap penderita kanker yang mendapat kemoterapi adalah timbulnya perasaan sedih selama merawat penderita kanker serviks. Perasaan sedih tersebut muncul karena terdapat anggota keluarga yang mengalami kanker serviks, terjadi perubahan pada penderita kanker serviks yang tampak segar dan semangat ketika sebelum sakit, setelah mengalami kanker pasien harus berulang kali melakukan pengobatan di rumah sakit, dan perasaan sedih karena pasien tampak kesakitan. Diagnosis kaker menimbulkan kecemasan pada keluarga terutama pasangan dari penderita kanker. Hal tersebut disebabkan karena keseriusan dari penyakit, dan ketakutan akan kematian dicintai (Duci & Tahsini, 2012).
Cemas
“...saya merasa was-was..gara-gara
sakitnya kanker, kan sakit parah itu”(P1). “Khawatir juga mba sama obat kemonya
ibu, kan katanya dokter obotnya obat keras, jadi bahaya kalau sampai bocor, kan saya jadi khawatir kalau misalnya obatnya bocor
kena tangan saya”(P3).
keluarganya merupakan sakit yang parah, dan perasaan khawatir terhadap obat kemoterapi jika bocor dan mengenai tangan partisipan.
Secara teoritis tingkat kecemasan yang tinggi disebabkan karena keluarga berpikir tentang masa depan, menghadapi berbagai situasi yang menimbulkan stres, takut kehilangan atau takut sendirian dengan tanggung jawab yang besar untuk merawat anggota keluarga yang lain (Duci & Tahsini, 2012).
Takut
“Takut kalo ibu gak bisa sembuh, takut
kehilangan ibu”(P1). “...saya takut mba, dokternya bilang kalau kanker gak bisa sembuh, efek kemoterapi jelek-jelek semua...terus ngedrop, apalagi kalau misalnya ibu saya gak kuat fisiknya kan bisa merembet ke ginjalnya, ke paru-parunya, itu
yang saya takutkan...”(P5). “Saya takut
kalau kehilangan istri saya,.”(P8)
Perasaan takut tersebut timbul karena penderita kanker mengalami berbagai macam efek samping dari kemoterapi, takut jika anggota keluarganya yang menderita kanker serviks tidak bisa sembuh, dan takut kehilangan orang yang dicintai..
Lelah
“...ya capek mba... harus bolak balik ke
rumah sakit...”(P2). “...capek hati juga...
kadang kalo pas sudah waktunya buat kemo, sampai disini belum tentu dapat kamar mba, udah jauh-jauh kesini ternyata dokternya bilang kamarnya penuh, terus disuruh pulang lagi ke rumah, padahal rumah saya jauh...rumah sakit jauh dan transpor nya
pakai biaya, itu bikin capek mba...”(P6). “...Capek juga mba...Pengobatannya lama mba,.”(P7).
Pengobatan yang lama pada penderita kanker serviks menyebabkan munculnya perasaan lelah yang disebabkan karena keluarga harus berulang kali pergi ke rumah sakit untuk menjalani terapi kanker, lelah karena letak rumah sakit yang jauh dan keluarga harus mengeluarkan biaya untuk transportasi, dan perasaan lelah karena ketika akan kemoterapi, pasien belum tentu mendapat kamar untuk rawat inap, hal tersebut menyebabkan keluarga yang mengasuh pasien merasa lelah karena harus kembali ke rumah dengan menempuh jarak yang jauh dari rumah sakit.
Pengasuhan dan perawatan penderita kanker menyebabkan anggota keluarga yang merawat pasien merasakan ketegangan, depresi, kemarahan, dan kesulitan dalam melakukan perawatan kanker menyebabkan timbulnya kelelahan dan gangguan suasana hati (Schumacher, et al., 2008).
Jenuh
“...jenuh...di rumah sakitnya terlalu lama
mba,”(P2). “...ya kadang jenuh... gara-gara
gak bisa kumpul sama keluarga,”(P4). “Berhari-hari di rumah sa kit kan bikin
jenuh mba,”(P6).
Ketika keluarga dituntut untuk merawat anggota keluarganya yang mengalami kanker serviks maka respon yang muncul adalah perasaan jenuh yang disebabkan karena perawatan di rumah sakit yang terlalu lama, pengobatan kemoterapi yang dilakukan sampai 5 hari rawat inap, dan perasaan jenuh karena partisipan tidak bisa berkumpul dengan keluarganya.
Kasihan
“kasian ibu harus bolak balik ke rumah sakit buat berobat...”(P3). “Kasiannya kan
sakit kanker itu bahaya ya mba, Saya kasian sama ibu, kan efek dari kemoterapi itu mual, muntah, sering pipis, kasian aja gitu lho
sama ibu...”(P5).
Hubungan yang dekat antara keluarga dan penderita kanker serviks akan mempengaruhi respon keluarga terhadap penderita kanker serviks selama kemoterapi. Perasaan kasihan kepada penderita kanker serviks yang disebabkan karena anggota keluarganya menderita kanker serviks, harus berulang kali ke rumah sakit untuk berobat, dan perasaan kasihan yang timbul akibat efek kemoterapi yang dialami oleh penderita kanker serviks
Susah
“Susah ninggalin kerja mba, kalau gak kerja
gak ada uang, kalau gak ada uang ntar gak bisa makan.”(P2). “Ya susah..., ninggalin kerjaan...kalau saya gak kerja kan orang gak ada penghasilan kalau ninggalin
pacitan ke solo, ma kan sehari-hari, juga buat pengobatan ibu saya yang lagi stroke di rumah. Ekonomi susah, saya juga sudah
tidak kerja.”(P8).
Selama merawat penderita kanker serviks, keluarga merasa susah karena ketika merawat penderita kanker serviks selama di rumah sakit partisipan harus meninggalkan keluarga dan pekerjaan, susah karena ketika meninggalkan pekerjaan maka penghasilan menjadi berkurang
Respon keluarga terhadap perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada penderita kanker serviks selama kemoterapi
Perubahan fisik :
Perubahan fisik yang terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi di antaranya adalah mual, muntah, meriang, sering buang air kecil, nafsu makan menurun, kesulitan tidur, pusing, lemas, konstipasi, diare, berat badan menurun Mual
“...kalau ibu di kemoterapi mesti mual...”(P1). “ibu setiap di kemo pasti mual tapi gak sampai muntah...”(P3). “...kadang mual...”(P4). “mual...”(P5). “ya mual...”(P6). “Paling mual mba,”(P8)
Respon keluarga ketika pasien mual
“Kalau mual biasanya saya kasih air
anget...”(P1). “Kalau ibu mual saya
biasanya kasih buah-buahan kayak apel
mba biar ngurangin mualnya...”(P3). “Kalau itu saya tanya langsung ke ibu
pengennya apa, kan yang tau perutnya gak enak kan yang sakit mba, jadi saya belikan pengennya ibu apa biar gak mual, Kadang juga saya kasih minyak angin di
perutnya.”(P4). “...Biasanya saya pijetin
leher belakangnya mba, kan juga sebelum
kemo sudah dikasih obat anti mual.”(P5). “Paling ngasih tempat muntah, terus dikasih minyak kayu putih.”(P6). “saya kasih minyak kayu putih di perutnya mba.”(P8).
Sebagian besar dari penderita kanker serviks mengeluh mual ketika kemoterapi. Respon keluarga untuk mengatasi keluhan mual yang dialami oleh pasien dengan cara memberikan air hangat dan memberikan buah-buahan, memijat leher penderita kanker serviks, memberikan minyak kayu putih di perut untuk mengurangi mual, dan memberikan apa yang diinginkan pasien untuk mengurangi mual.
Sekitar 70% sampai dengan 80% dari penderita kanker selama kemoterapi mengalami mual dan muntah. Hal tersebut memiliki dampak yang negatif pada kemampuan pasien untuk merawat dirinya sendiri dan melakukan kegiatan sehari-hari. Mual, muntah dan rambut rontok merupakan efek samping dari kemoterapi yang sering membuat pasien tertekan dan menarik diri dari kehidupan sosial. Penggunaan antiemetik yang sesuai efektif untuk mengurangi tingkat mual dan muntah pada pasien. Peran keluarga dalam mengatasi mual dan muntah yang terjadi pada pasien adalah membantu untuk meningkatkan kesehatan pasien dan melaporkan gejala dan kesulitan yang terjadi pada pasien kepada petugas medik (Grunberg, 2004).
Muntah
“...kalau ibu di kemoterapi muntah juga, kalau nyium bau nasi muntah...”(P1) “...tiap
ibu makan muntah makanannya
keluar...”(P2). “muntah-muntah
terus...”(P5). “...muntah...”(P6).
Respon keluarga ketika pasien muntah
“...Kalau mual sama muntah biasanya saya kasih air anget...”(P1). “Kalau ibu udah
muntah sama gak mau makan saya belikan
bubur sumsum.”(P2). “...Biasanya saya pijetin leher belakangnya mba, kan juga sebelum kemo sudah dikasih obat anti
mual.”(P5). “Paling ngasih tempat muntah, terus dikasih minyak kayu putih.”(P6).
Perubahan fisik yang terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi di antaranya adalah muntah. Respon keluarga dalam mengatasi muntah yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan cara memberikan air hangat, memberikan bubur sumsum, memijat leher pasien, memberikan minyak kayu putih, dan memberikan obat anti mual.
Meriang
“...meriang.”(P5).
Respon keluarga ketika pasien meriang
“...kalau meriang paling ya dikerokin.”(P5)
Dari hasil penelitian, perubahan fisik yang terjadi pada penderita kanker serviks ketika kemoterapi adalah meriang. Partisipan mengatasi meriang yang dialami oleh penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi dengan kerokan.
Sering buang air kecil
“...terus kalau pas kemo sering kencing
Respon keluarga ketika pasien sering buang air kecil
“dibiarkan aja mba, saya paling ya nganter
ibu ke kamar mandi.”(P5).
Sering buang air kecil merupakan salah satu perubahan fisik yang terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi. Keluarga mengatasi sering buang air kecil yang dialami oleh pasien dengan mengantarkan pasien ke kamar mandi dan tidak melakukan apa-apa untuk mengatasi hal tersebut
Nafsu makan menurun
“...ibu pas kemo jarang makan, sehari itu
cuman sekali itupun harus dipaksa
dulu...”(P1). “makannya kurang...”(P2). “kalau maem itu sedikit-sedikit habis cuman
setengahnya saja...”(P3). “Kadang makan gak mau...”(P4). “...istri saya juga kalau makan sedikit...”(P7). “gak nafsu makan...”(P8).
Respon keluarga ketika pasien susah makan
“...kalau ibu gak mau makan, saya paksa
nanti ibu malah mua l sama muntah, jadi
saya kasih roti atau bubur mba.”(P1). “...kalau ibu muntah sama gak mau makan, saya belikan bubur sumsum.”(P2). “kalau
susah makannya ya saya bujuk ibu biar mau makan dan ngehabisin makanannya...kalau gak mau makanan rumah sakit saya belikan
makanan di luar.”(P3). “Tanya lagi ke ibu
mau makan apa, atau mau minta lauk apa
biar mau makan,”(P4). “Kalau istri saya
gak nafsu makan gitu biasanya saya belikan soto mba, kalau pakai soto istri saya mau makan, walaupun makannya sedikit, yang penting istri saya makan.”(P8).
Perubahan fisik lain yang dialami penderita kankers serviks adalah penurunan nafsu makan. Selama kemoterapi penderita kanker makan sehari sekali dan harus dipaksa, makan sedikit dan hanya menghabiskan setengah porsi. Respon keluarga ketika mengatasi penurunan nafsu makan yang dialami penderita dengan memberikan roti atau bubur, dan memberikan makanan dan lauk pauk dari luar rumah sakit untuk menambah nafsu makan pasien.
Sulit tidur
“...tidurnya juga kadang kurang nyenyak
cepet kebangun kalau denger suara ribut sedikit, padahal mulai tidur jam 11-an nanti
jam 2 udah bangun...”(P3).
Respon keluarga ketika pasien sulit tidur
“Susah tidurnya saya gak bisa ngatasi mba,
namanya juga di rumah sakit di kelas 3 ya pasti susah tidur mba, gak mungkin bisa tidur tenang tanpa ada suara -suara...”(P3) Perubahan fisik lain yang dialami penderita kanker serviks adalah sulit tidur. Keluarga menjelaskan bahwa penderita kanker serviks mengalami tidur yang tidak nyenyak, cepat kebangun ketika mendengar suara yang ramai, frekuensi tidur malam dari jam 11 malam dan bangun tidur pada jam 2 pagi. Partisipan tidak bisa mengatasi kesulitan tidur pada penderita kanker serviks.
Gangguan tidur terutama insomnia, adalah keluhan umum yang sering terjadi pada penderita kenker. Data menunjukkan bahwa penderita kanker memiliki dua kali kemungkinan peningkatan gannguan tidur. Beberapa pasien diantaranya melaporkan sering terbangun ketika tidur di malam hari. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan tidur yang tidak memadai seperti kebisingan, pencahayaan yang terlalu berlebih, suhu ekstrim. Selain itu faktor psikologis seperti depersi dan kecemasan terhadap pengobatan dan terapi kanker, dan stres yang ditimbulkan karena pikiran tentang pekerjaan dan tanggung jawab dapat mempengaruhi gangguan tidur yang terjadi pada penderita kanker (Berger, et al., 2005).. Pusing
“Terus ibu juga jadi sering pusing...”(P1).
Respon keluarga ketika pasien pusing
“Kalau pusingnya biasanya nanti saya kerokin ibu, pijetin kepalanya.”(P1)
Dari hasil penelitian ditemukan perubahan fisik yang terjadi pada penderita kanker serviks adalah pusing. Respon keluarga dalam menghadapi masalah pusing yang dialami penderita adalah dengan memijat kepala pasien dan kerokan.
Lemas
“...lemes.”(P1). “...lemes...”(P2). “...lemes, cepat capek.”(P6)
Respon keluarga ketika pasien lemas
“Saya bilang ke ibu makan yang banyak,
kadang juga beli vitamin c mba di
apotik.”(P1). “Saya suruh makan yang
banyak, kalau gak mau makan nasi saya kasih bubur sumsum, kadang juga saya
belikan bubur kacang ijo.”(P2). “Nyuruh
Pengobatan kemoterapi pada penderita kanker serviks menimbulkan efek lemas pada pasien. Berbagai macam respon keluarga untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menganjurkan pasien meningkatkan konsumsi makan, menganjurkan pasien mengkonsumsi bubur sumsum dan bubur kacang hijau, menganjurkan pasien untuk banyak beristirahat dan mengkonsumsi vitamin c.
Konstipasi
“Bab nya susah mba, ibu sampe 5 hari gak
bab, kalau bab keras hitam mba, terus
sedikit...”(P1). “Bab nya dikit mba.”(P2). “...terus setelah kemo buang air besarnya
keras bisa sampe 5 hari gak bab mba. Kalau
sudah bab, keluarnya sedikit.”(P3). “Pas di
rumah bab agak susah mba.”(P5). “BAB nya susah mba.”(P8).
Respon keluarga ketika pasien konstipasi
“Kalau 5 hari belum bab juga beli obat
yang dimasukin ke pantat di apotek
mba.”(P1). “Saya suruh ibu buat ngemil
buah-buahan.”(P2). “...Kalau bab nya sulit biasanya di kasih obat dari dokter, trus saya
beliin ibu pepaya biar bab nya lancar.”(P3). “Biasanya di kasih dulcolax mba, sama saya
suruh makan sayur-sayuran buah-buahan
yang banyak.”(P5). “paling yo maem pepaya mba.”(P8).
Beberapa perubahan fisik yang sering terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi adalah konstipasi. Selama penderita kanker serviks mendapat kemoterapi, pasien sering mengeluh BAB sedikit, BAB keras, dan berwarna hitam, dan beberapa partisipan mengatakan bahwa penderita kanker serviks tidak BAB selama lima hari. Ketika penderita kanker serviks mengeluh kesulitan BAB, respon keluarga untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara menganjurkan panderita kanker serviks mengkonsumsi buah-buahan seperti pepaya, dan menganjurkan mengkonsumsi sayur-sayuran, dan memberikan obat pencahar seperti Dulcolax untuk mengatasi konstipasi yang dialami penderita kanker serviks. Adapun temuan penelitian kuantitatif, Ying, Ching, & Loke, (2011) meneliti tentang dampak terapi kanker yang berbeda terhadap pasien. Konstipasi dan Hot Flash (atau disebut juga Hot Flush) sering terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat terapi pembedahan, sedangkan diare dan BAB berdarah merupakan gejala yang sering
terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat radioterapi.
Diare
“...mencret...”(P6)
Respon keluarga ketika pasien diare
“Kalau lagi mencret saya belikan obat diare mba, diapet atau diatap mba.”(P6)
Perubahan fisik lain yang muncul ketika kemoterapi adalah diare. Keluarga mengatasi diare pada pasien dengan memberikan obat diare seperti diapet atau diatap untuk mengatasi diare pada penderita kanker serviks.
Diare dan BAB berdarah merupakan gejala yang sering terjadi pada penderita kanker serviks yang mendapat radioterapi (Ying, Ching, & Loke, 2011).
Penurunan Berat Badan
“Berat badannya turun mba, dulu berat
badannya 53 Kg, sekarang jadi 40
Kg...”(P7).
Respon keluarga untuk mengatasi penurunan berat badan
“Saya bilang ke istri saya makan yang
banyak, tapi tetep aja istri saya makannya sedikit, walaupun sudah saya paksa buat
makan banyak.”(P7).
Perubahan fisik pasien selama kemoterapi adalah pasien mengalami penurunan Berat badan dari 53 Kg turun menjadi 40 Kg. Hal tersebut disebabkan karena pasien hanya makan sedikit. Partisipan mengatasi penurunan berat badan yang terjadi pada pasien dengan cara mengatakan kepada pasien untuk menambah porsi makan. Perubahan psikologis
“...gak terlalu dipikir sama ibu, walaupun sakitnya kanker...”(P2). “Ibu orangnya
nyantai mba, ibu gak terlalu mikirin
sakitnya...”(P3)
Respon keluarga ketika pasien tidak memikirkan penyakitnya
“...Harus lebih peka mba sama ibu, harus
ditanyain terus keadaannya setiap hari, biar kalau ada yang dirasakan sama ibu, jadi bisa langsung diperiksakan ke rumah sakit.
Harus ngasih perhatian lebih ke ibu.”(P2)
Setelah didiagnosis menderita kanker serviks dan ketika melaksanakan terapi kanker, penderita kanker serviks tidak terlalu memikirkan penyakitnya. Sebagai keluarga dari penderita kanker serviks, partisipan merasa harus lebih perhatian kepada penderita kanker serviks. Perhatian tersebut berupa menanyakan keadaan pasien setiap hari sehingga ketika ada yang dirasakan pasien tentang penyakitnya partisipan bisa langsung memeriksakan kondisi pasien ke rumah sakit.
Tidak menampakkan kesedihan kepada keluarga
“...Ya mungkin ibu ngerasa susah juga, tapi
ibu gak di tampakin ke
anak-anaknya...”(P2).
Respon keluarga ketika pasien tidak menampakkan kesedihan kepada keluarga
“...Harus lebih peka mba sama ibu, harus
ditanyain terus keadaannya setiap hari, biar kalau ada yang dirasakan sama ibu, jadi bisa langsung diperiksakan ke rumah sakit.
Harus ngasih perhatian lebih ke ibu.”(P2).
Efek fisik dari kanker dan terapinya dapat menyebabkan tekanan psikologis yang serius. Pada konteks kanker, tekanan ini didefinisikan sebagai pengalaman emosional yang tidak menyenangkandan bersifat multifaktoral. Pengalaman ini dapat bersifat psikologis sosial dan spiritual (Potter & Perry, 2009).
Perubahan psikologis yang terjadi penderita kanker yaitu penderita kanker tidak ingin memperlihatkan kesulitan yang dialami ketika pasien merasa kesulitan karena penyakitnya kepada keluarga. Ketika hal tersebut terjadi keluarga mengatasinya dengan memberikan perhatian lebih kepada pasien dan menanyakan keadaan dan apa yang dirasakan pasien setiap hari.
Manja
“...ibu lebih manja, biasanya semua di
kerjain sendiri, sekarang apa -apa minta diladenin, makan minta disuapin, selalu
minta ditemenin...”(P3).
Respon keluarga ketika pasien manja
“...Kalau ibu minta ditemenin saya temenin terus, minta disuapin ya saya suapin. Namanya anak, sekarang udah waktunya
gantian ngopeni ibunya...”(P3).
Perubahan psikologis pada penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi adalah penderita lebih manja. Keluarga merasakan perubahan pasien yang lebih manja. Sebelum sakit, penderita kanker lebih mandiri, setelah sakit pasien meminta partisipan untuk melakukan hal seperti membantu makan, dan selalu meminta partisipan untuk menemani pasien. Partisipan merasakan bahwa hal tersebut tidak menjadi masalah bagi partisipan, partisipan memenuhi semua permintaan pasien seperti menyuapi makan dan menemani pasien, partisipan menganggap bahwa saat ini sebagai anak sudah waktunya untuk merawat orang tua.
Cepat marah
“Ibu lebih sensitif mba, agak cepet marah. Tapi ya itu wajar aja, kan ibu lagi sakit...Ya marah biasa mba, bukan marah besar mba, marahnya juga gak terlalu sering...agak
cepet marah daripada biasanya.”(P3).
Respon keluarga ketika pasien cepat marah
“Kalau ibu marah ya didengerin aja, kan marahnya cuman sebentar, namanya anak, sekarang udah waktunya gantian ngopeni ibunya, saya gak merasa ini sebuah beban, dijalanin aja, dibuat tenang, kalau saya selalu merawat ibu saya ketika sakit semoga
sakitnya bisa lebih cepat sembuh.”(P3)
Biasa-biasa saja
“...ibu biasa-biasa saja...”(P2). “ibu
biasa-biasa aja...”(P4). “Ibu biasa-biasa-biasa aja mba,
ibu orangnya enjoy...”(P5). “ibu biasa -biasa saja mba, Ibu selalu semangat mba,
penyakitnya tidak dijadikan beban...”(P7). “Istri saya biasa-biasa aja mba”(P8). Partisipan mengatakan bahwa anggota keluarga mereka yang menderita kanker serviks dengan kemoterapi tampak tenang dan biasa-biasa saja.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan keluarga dalam mengatasi terapi kanker adalah jika pasien mengatakan
“baik-baik saja”. Keluarga mendefinisikan
“baik-baik saja” ketika gejala pasien seperti nyeri dan mual dapat dikendalikan dengan baik, nafsu makan pasien tidak terganggu, kondisi kognitif pasien baik dan mampu berkomunikasi untuk mengatakan kebutuhan mereka. Keluarga mengatakan lebih mudah ketika merawat pasien yang menerima penyakit mereka. Namun ketika pasien mengalami kemarahan dan frustasi hal tersebut dapat mempersulit keluarga dalam mengatasi penderita kanker (Stajduhar, Filles, & Barwich, 2008)
Banyak keinginan
“...mungkin ya pas kemo banyak pengennya, namanya juga orang sakit, apalagi sedang di kemo, kan juga pengennya maem yang enak yang bukan makanan rumah sakit, tapi ya itu sudah dibelikan, eh malah gak di
makan, tapi saya maklumin aja...”(P4). Respon keluarga ketika pasien banyak keinginan
“Dalam kondisi ibu yang sakit parah ya
saya harus lebih perhatian lagi sama ibu
mba.”(P4).
Pengobatan dan terapi kanker memicu timbulnya berbagai macam perubahan psikologis yang terjadi pada penderita kanker. Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa pasien lebih banyak keinginan selama kemoterapi. Dalam mengatasi hal tersebut partisipan harus lebih perhatian kepada anggota keluarga yang menderita kanker serviks selama kemoterapi.
Sosialisasi baik
“...sosialisasinya sama tetangga-tetangga di rumah baik, misalnya ada kumpul ibu-ibu
pkk, ibu saya tetep ikut...”(P5)
Efek gejala kanker akan mempengaruhi hubungan keluarga, performa kerja, dan mengisolasi penderita kanker dari aktivitas
sosial normal. Hal ini menimbulkan implikasi serius bagi kesejahteraan psikologis klien. Saat kanker mengubah citra tubuh atau fungsi seksual, penderita kanker merasakan kegelisahan dan depresi pada hubungan interpersonal. Pada beberapa kasus penderita kanker menunjukkan bahwa pasien merasa kualitas hidupnya buruk, memiliki citra tubuh dan strategi adaptasi yang buruk, dan tidak memiliki dukungan sosial (Hewitt, Greenfield, & Stovall, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit kanker yang dialami anggota keluarganya tidak mengisolasi penderita kanker dari aktivitas sosial seperti biasa. Pasien bersosialisasi dengan baik terhadap tetangga, selalu mengikuti acara kumpul ibu-ibu pkk. Kanker dan terapinya tidak mengubah citra tubuh pasien
Tidak minder
“...ibu orangnya enjoy, dia juga gak minder
walaupun sakit kanker...”(P5)
Perubahan psikologis yang terjadi pada anggota keluarga yang menderita kanker adalah pasien tidak merasa rendah diri atau minder.
Penyakit kanker mempengaruhi kualitas hidup pasien. Pasien menjadi lebih pasif selama di rumah sakit, mengalami isolasi sosial, ketakutan eksistensial, dan kekhawatiran terhadap keluarga terutama pengasuhan anak, kecemasan tentang karir kerja dan keuangan, dan memiliki harga diri rendah (Šprah & Šoštarič, 2004).
Malas
“Ya mungkin ibu lebih males, tapi saya
maklumin aja karena ibu lagi sakit...Yang biasanya maem sendiri masak sendiri, sekarang minta disuapin terus, terus biasanya rajin bersih-bersih rumah
sekarang banyak tidurnya.”(P6).
Respon keluarga ketika pasien malas
“Saya harus lebih perhatian sama ibu, kalau
ibu males ya biarkan saja kan ibu lagi sakit, jadi saya yang ngerjain semua, nyuapin ibu, bersih-bersih rumah.”(P6).
daripada beraktivitas. Cara keluarga untuk mengatasi hal tersebut dengan memberikan perhatian yang lebih besar kepada pasien, mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan membantu kebutuhan pasien seperti makan. Sikap keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi
Sikap keluarga dalam menghadapi penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi adalah keluarga sabar, rileks, berdoa kepada Tuhan, berusaha untuk melaksanakan pengobatan rutin, dan ikhlas.
Sabar
“...bolak balik terus, memang harus banyak
sabarnya.”(P2). “Dibuat sabar,”(P3). “Ya
harus banyak sabar.”(P4). “harus sabar.”(P6). “Saya harus banyak bersabar mba, ini cobaan dari Allah.”(P8).
Sikap partisipan terhadap keluarga yang menderita kanker serviks adalah sabar. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap partisipan ketika menghadapi perubahan psikologis yang terjadi pada penderita kanker seperti marah, manja, dan selalu minta ditemani, partisipan menghadapinya dengan mendengarkan kemarahan pasien, selalu memberikan apa yang diinginkan pasien, menemani pasien selama perawatan, dan menyikapi dengan sabar pengobatan dan terapi kanker yang mengharuskan keluarga untuk berulang kali kembali ke rumah sakit. Rileks
“Dibuat rileks mba, tenang,”(P3). “Dibuat santai mba...”(P7).
Sikap partisipan ketika menghadapi penderita kanker serviks adalah rileks. Keluarga menyikapi penderita kanker serviks dengan rileks, dan tenang karena menurut partisipan ketika partisipan tidak tenang akan meningkatkan beban pikiran yang dapat menimbulkan kesulitan pada partisipan
Berusaha untuk melaksanakan pengobatan rutin
“Pengobatan lama mba, tapi saya tetap
berusaha sebisa saya buat nyarikan obat, apa yang dikatakan dokter saya lakukan, pokoknya saya berusaha biar ibu cepat
sembuh...”(P2). “...Saya menjalani terus
pengobatan buat ibu biar ibu cepat
sembuh.”(P7).
Pengobatan dan terapi kanker serviks yang lama akan membuat partisipan harus menjalani pengobatan tersebut. Menurut
partisipan semua hal yang dikatakan dokter yang berhubungan dengan pengobatan akan partisipan lakukan seperti mengikuti jadwal rutin kemoterapi, menemani pasien kontrol, ketika dokter mengatakan untuk kembali ke rumah sakit partisipan menemani pasien kembali ke rumah sakit. Hal tersebut partisipan lakukan untuk kesembuhan anggota keluarganya yang menderita kanker serviks
Berdoa kepada Tuhan
“...berdoa kepada Allah semoga ibu cepat diberi kesembuhan...”(P3).
Pengalaman kanker akan menjadi tantangan bagi kesejahteraan spiritual seseorang. Tampilan kunci dari kesejahteraan spiritual meliputi hubungan yang harmonis, energi yang kreatif, dan kepercayaan akan adanya kekuatan yang lebih tinggi. Hubungan merupakan hal yang penting bagi penderita kanker, hubungannya dengan tuhan, kekuatan yang lebih tinggi, alam, keluarga, atau komunitas (Potter & Perry, 2009). Partisipan menyikapi pengobatan dan perubahan yang terjadi pada penderita kanker serviks dengan cara berdoa kepada Allah agar pasien diberi kesembuhan. Ikhlas
“ini cobaan dari Allah harus diterima dengan ikhlas.”(P6).
Dalam menyikapi pengobatan pada penderita kanker serviks partisipan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan cobaan dari Allah yang harus diterima dengan ikhlas.
Dampak penyakit kanker serviks dengan kemoterapi terhadap perubahan peran keluarga.
Dampak penyakit kanker serviks dengan kemoterapi terhadap parubahan peran keluarga adalah penghasilan keluarga berkurang, urusan rumah tangga terbengkalai, pengasuhan keluarga terbangkalai.
Penghasilan keluarga berkurang
“ibu pedagang, ibu yang kerja cari uang,
jadi ya berubah banget mba, dari kebutuhan ekonomi, keuangan, saya kan belum kerja mba masih kuliah, sekarang harus lebih berhemat, kebanyakan sekarang bergantung
dengan hasil kerjaannya kakak saya.”(P1). “ibu sudah gak bisa ke sawah, jadi sekarang
saya buat kebutuhan rumah sama kebutuhan adik-adik saya...”(P5).
Riwayat kanker secara signifikan mempengaruhi kesempatan dan kemampuan penderita kanker dalam bekerja dan sering mengalami keterbatasan kerja akibat kondisi kesehatannya. Jika kanker tersebut mempengaruhi kemampuan kerja seseorang, penghasilan bagi keluarganya juga akan menurun. Penderita dan keluarga juga harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk pengobatan, alat medis, dan biaya asuransi. Bagi penderita kanker yang memiliki penghasilan rendah, masalah ini semakin besar jika tidak memiliki asuransi atau hanya memiliki asuransi yang kecil (Hewitt, Greenfield, & Stovall, 2005).
Dampak penyakit kanker terhadap keluarga adalah penghasilan keluarga berkurang. Hal tersebut disebabkan karena penderita kanker serviks juga berperan sebagai pencari nafkah. Walaupun sebagian besar dari partisipan menggunakan BPJS tetapi keluarga mengatakan bahwa kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari terasa sulit karena penghasilan keluarga menurun. Urusan rumah tangga terbengkalai
“Saya ya membantu ngerawat ibu setiap
hari, masak, nyuci, bersih-bersih rumah
juga saya...”(P1). “kesulitan sedikit pas
saya bersih-bersihin rumah, masak, biasanya yang nungguuin anak saya ibu, tapi sekarang harus pinter bagi-bagi waktu biar bisa ngurus rumah, orang tua, anak,
sama suami.”(P3). “saya juga harus lebih
bisa ngatur waktu buat ngurusin rumah sama adik-adik. Dulu kan ibu yang biasanya ngurusin adik sama ngurusin rumah, sekarang kan gak mungkin saya biarin ibu saya kerja berat.”(P5). “Ibu dulu sebelum sakit jualan, sekarang setelah sakit ya ga mungkin to mba nyuruh ibu kerja lagi, jadi semua Kerjaan ibu ya digantiin sama anak-anak nya mba, nyari uang, ngurus rumah semuanya anaknya yang ngerjain. Gantian ibu yang istirahat biar cepat sembuh. Kita sebagai anak ya harus ngertiin orang
tua.”(P6).
Selama pasien sedang dalam terapi kanker, partisipan harus menggantikan tugas penderita kanker seperti mengurus rumah tangga, merawat penderita kanker setiap hari, melakukan pekerjaan rumah tangga, hal tersebut menyebabkan perkerjaan keluarga menjadi bertambah sehingga partisipan
harus membagi waktu untuk mengurus anak dan suami, dan juga mengurus saudara kandung dan ayah.
Keluarga yang merawat penderita kanker
kemungkinan mengalami “Role Overload”
atau ketidakseimbangan dan ketidakwajaran dalam hal jumlah pekerjaan yang meningkat ketika merawat penderita kanker. Anggota keluarga yang merawat pasien akan mengambil tanggung jawab sebagai pengurus rumah tangga dan berperan sebagai pengasuh anggota keluarga yang lain. (Otis-Green & Juarez, 2012).
Pengasuhan keluarga terbengkalai
“biasanya yang nungguuin anak saya ibu,
tapi sekarang harus pinter bagi-bagi waktu biar bisa ngurus orang tua, anak, sama
suami.”(P3). “kan kondisi ibu sakit. Istri saya juga masih punya buyut mba, usianya hampir 100-an tahun, jadi yang nungguin ibu kan memang harus saya, istri saya di rumah ngurus buyutnya sama anak, kan biasanya ibu saya juga sering ngurusin anak saya, jadi bingung mba, jadi saya sama istri
saya harus bagi tugas.”(P4). “saya juga
harus lebih bisa ngatur waktu buat ngurusin rumah sama adik-adik. Dulu kan ibu yang biasanya ngurusin adik sama ngurusin rumah, sekarang kan gak mungkin saya
biarin ibu saya kerja berat.”(P5). “Saya
kerepotan mba mikirin harus ngurus rumah sama ngurus ibu saya yang sakit stroke, biasanya istri saya yang ngerawat ibu saya, sekarang saya harus ngurus istri sama ibu,
istri saya kan gak boleh kerja berat.”(P8)
Ketika salah satu anggota keluarga menderita kanker, keluarga akan berusaha mempertahankan fungsi inti keluarga seperti mempertahankan lingkungan emosional dan fisik yang aman, mengurangi ancaman kejadian yang traumatik, dan mengasuh dan mendukung anggota keluarga yang lain (Lewis, 2006).
mengasuh saudara-saudara kandung yang masih kecil..
Koping keluarga dalam menghadapi penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi
Koping keluarga dalam menghadapi penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi yaitu mencari dukungan sosial, mencari hiburan, mencari informasi, mengontrol perasaan, melihat segi positif dari masalah, dukungan spiritual.
Mencari dukungan sosial
“...saya lebih tenang dapat dukungan dari
temen-temen.”(P1). “...ngobrol sama orang -orang, kan di warung yang deket moewardi rame, jadi sekalian kenalan sambil ngobrol, kan sesama nunggu pasien.”(P2).
Koping keluarga dalam menghadapi bebagai masalah yang terjadi selama merawat penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi di antaranya adalah mencari dukungan sosial dengan cara mengobrol dengan teman, mengobrol dengan sesama penunggu pasien dan berbagi pengalaman bersama orang-orang tersebut.
Mencari hiburan
“Keluar, beli makan sambil ngopi...”(P2).
“Kalau sedih, mumet saya ngatasinya ya
nyari hiburan mba, kadang saya ke lantai bawah buat nonton tv, kalau gak telpon atau sms temen-temen saya biar bisa ngobrol
sambil gojek.”(P3). “Ya ibu saya tinggal dulu jalan keluar bentar mba, nonton.”(P4). “Paling keluar ngopi, mainan hp.”(P6).
Koping keluarga ketika menghadapi penderita kanker serviks dengan cara mencari hiburan untuk mengatasi berbagai perasaan yang timbul selama merawat pasien. Hal tersebut diungkapkan partisipan bahwa mereka mencari hiburan dengan membeli makan dan minum kopi, menonton televisi, menggunakan telepon genggam sebagai media hiburan, mengobrol dan bercerita humor dengan teman melalui sms dan telepon.
Mencari informasi
“...saya sering banyak tanya ke perawat
tentang pengobatannya.”(P3). “...saya cari di internet efek kemoterapi jelek-jelek
semua...”(P5).
Koping keluarga dalam menghadapi berbagai situasi dan perasaan yang muncul selama merawat penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi dengan mencari informasi. Ketika perasaan takut muncul
partisipan sering bertanya kepada perawat tentang pengobatan dan terapi pasien, dan menggunakan internet untuk mencari informasi tentang efek kemoterapi.
Keluarga yang merawat penderita kanker membutuhkan bantuan informasi tentang bagaimana melakukan perawatan pasien seperti transportasi pasien, monitoring gejala, perawatan pribadi seperti (mandi, makan, dan berpakaian), kebutuhan nutrisi yang diperlukan pasien, monitoring status penyakit dan pengobatan, kunjungan dokter, dan kebutuhan biaya pengobatan (Given, Given, & Kozachik, 2001).
Mengontrol perasaan
“Perasaan kayak gitu pasti ada terus mba,
jadi saya meyakinkan diri saya sendiri kalau dengan saya berusaha terus buat ngobatin
ibu, ibu saya pasti sembuh...”(P5). “Rasa
sedih tu gak bakalan hilang mba, saya bakalan sedih terus selama ibu belum sembuh, yang penting sedihnya jangan berlarut-larut...”(P6). “Selalu sabar aja mba, jangan dipendam, nanti kalau
dipendam malah susah sendiri.”(P6).
Ketika merawat penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi, berbagai macam perasaan muncul seperti perasaan sedih yang timbul selama merawat pasien. Hal tersebut menyebabkan partisipan menggunakan koping dengan cara mengontrol perasaan berupa mengatasi hal tersebut dengan meyakinkan diri sendiri bahwa jika partisipan terus berusaha untuk merawat pasien selama pengobatan dan terapi kanker pasien pasti sembuh, tidak terlalu larut dalam kesedihan, selalu sabar dan tidak memendam perasaan.
sendiri dan tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang (Duci & Tahsini, 2012). Melihat segi positif dari masalah
“...Pas sebelum ibu sakit mba, waktu
keluarga buat kumpul itu jarang, pada sibuk sendiri-sendiri, sekarang setelah ibu sakit pas setelah magrib bisa nonton bareng-bareng, makan bareng-bareng, ada hal positif yang
bisa diambil dari sakitnya ibu.”(P5).
Koping keluarga dalam menghadapi situasi yang terjadi selama terapi kanker diantaranya adalah melihat segi positif dari masalah. Hal tersebut ditunjukkan dengan pernyataan partisipan bahwa sebelum anggota keluarganya menderita kanker serviks, waktu untuk kumpul keluarga jarang karena setiap anggota keluarga punya kesibukan masing-masing. Setelah terdapat anggota keluarga yang menderita kanker serviks, waktu kumpul keluarga lebih sering seperti menonton bersama setelah sholat maghrib, dan juga makan bersama.
Ketidakpastian dari penyakit kanker dan kenyataan bahwa orang yang dicintai mengalami penyakit kanker menyebabkan keluarga penderita kanker merasa kesulitan untuk mengatasi hal tersebut. Karena hitu, beberapa keluarga penderita kanker memanfaatkan dan menghargai waktu yang ada untuk bersama dengan penderita kanker dan tidak berkecil hati terhadap realitas di masa depan (Stajduhar, Filles, & Barwich, 2008).
Dukungan spiritual
“Saya berdoa semoga ibu cepat sembuh.”(P1). “...terus berdoa...”(P5). “...Lebih banyak berdoa kepada Allah, banyak beribadah.”(P6). “Kuncinya itu satu
mba serahkan semuanya kepada Allah, kita sudah berusaha semampunya, berdoa, sabar, jadi sisanya biar Allah yang
menentukan.”(P7). “saya cuman bisa sabar
dan berdoa, pasrahkan semua kepada
Allah.”(P8).
Strategi koping yang digunakan keluarga ketika menghadapi penderita kanker serviks adalah dengan mencari dukungan spiritual dengan cara berdoa kepada Allah agar pasien cepat diberi kasembuhan.
Dukungan keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi
Dukungan keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi berupa memberikan semangat, memberikan
motivasi, memberi nasehat, memberikan dukungan dengan cara selalu merawat penderita kanker, selalu menemani pasien ketika berobat, dan memenuhi keinginan pasien.
Memberikan semangat
“Saya selalu menyemangatin ibu...”(P1). “Dikasih semangatnya biasanya dengan omongan mba, ibu harus lebih bersabar,
dengan kasih sayang juga.”(P3). “Menyemangatin ibu, kalau ibu lagi males
ke rumah sakit, saya bilang ke ibu kalau
mau sembuh harus berobat.”(P6). “Ya bilang ke ibu mba biar ibu semangat.”(P7).
Dukungan keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi dengan cara memberikan semangat kepada pasien dengan memberi pernyataan agar pasien lebih bersabar, selain itu partisipan memberikan kasih sayang agar pasien lebih semangat.
Memberikan motivasi
“memberi ibu motivasi, saya juga lebih perhatian sama ibu, ibu pasti cepat sembuh, terus nanti bisa datang buat nemenin saya
wisuda.”(P1). “Dulu pas awal-awal ibu sakit, ibu sering bilang wah aku sebentar lagi mati, sebentar lagi mati, sering banget bilang gitu, saya tu sering bilang sama ibu jangan mikir kayak gitu, jangan berpikir negatif, kalau dari kita berpikir positif kalau sakitnya pasti sembuh, maka sembuhnya juga cepat, tapi kalau kita mikir wah aku mesti gak sembuh mesti sakit terus, itu kan bikin tubuh ngedrop, orang sehat aja kalau mikir berat-berat bisa sakit, jadi saya
bilangin gitu.”(P5). “Saya meyakinkan ibu kalau ibu pasti sembuh...”(P6).
Keluarga memberikan dukungan kepada penderita kanker serviks dengan cara memberikan motivasi. Keluarga memberikan motivasi dengan cara mengatakan kepada penderita kanker serviks untuk selalu berpikir positif karena dengan berpikir positif pasien akan lebih cepat sembuh dan jika berpikir negatif akan menimbulkan sakit yang lebih parah, memotivasi penderita kanker serviks dengan cara meyakinkan bahwa pasien pasti sembuh.
Memberikan nasehat
“Saya bilangin ibu untuk bersabar,
Allah, kalau di rumah saya bilang ke ibu jangan kerja yang berat-berat, banyak
istirahat.”(P2). “saya selalu menyuruh ibu
untuk terus rajin berobat, kontrol. Pokoknya
yang penting ibu sembuh.”(P4). “Saya juga
sering bilang jangan sedih, jangan berkecil hati, kan kalau penyakit tuha n yang beri, kita gak minta dan gak bisa menolak, saya bilang sama ibu kita syukuri aja apa yang dikasih Tuhan, memang harus sakit seperti ini jadi diambil hikmahnya, mungkin kita harus lebih deket sama keluarga, bisa lebih
deket lagi sama Tuhan.”(P5). “Saya selalu menyuruh istri saya agar lebih bersabar
dalam menghadapi penyakitnya.”(P8).
Dari hasil penelitian ditemukan berbagai macam dukungan keluarga terhadap penderita kanker serviks selama kemoterapi di antaranya adalah partisipan memberikan dukungan dengan cara memberikan nasehat kepada pasien. Partisipan mengatakan kepada pasien untuk selalu bersabar dan berusaha untuk terus rajin berobat agar pasien diberi kesembuhan, mengatakan kepada penderita kanker serviks untuk berdoa, beribadah, dan berserah diri kepada Allah, partisipan juga menasehati agar pasien tidak bekerja terlalu berat, banyak beristirahat, tidak berkecil hati, penyakit itu tuhan yang memberi sehingga tidak bisa ditolak dan diambil saja hikmahnya.
Selalu merawat penderita
“Pokoknya ngikutin perintah dokter mba,
saya membantu yang saya bisa buat perawatan dan pengobatan ibu...terus kebutuhan ibu saya bantu, kayak makan, ke
kamar mandi saya bantu.”(P2). ““apa yang
dokter bilang ya harus dituruti, jangan sampai ibu sakitnya tambah parah, saya juga udah ngasih tenaga dan waktu saya
buat ngerawat ibu.”(P4). “saya juga sudah
semampu saya berusaha merawat ibu, menemani ibu di rumah sakit, dari pengobatan pertama sampai pengobatan terakhir. Semuanya itu buat kesembuhan
ibu. Biar ibu sehat lagi kayak dulu.”(P5). “...memberikan apa yang istri saya
butuhkan seperti makan, membantu ke kamar mandi.”(P8).
Dukungan lain yang diberikan keluarga kepada penderita kanker serviks selama kemoterapi adalah selalu merawat penderita. Partisipan mendukung pasien dengan selalu merawat dan melakukan apa yang diperintahkan dokter untuk pengobatan dan
terapi pasien. Partisipan juga memberikan dukungan dengan memenuhi kebutuhan logistik pasien seperti membantu makan, membantu ke kamar mandi, dan memberikan tenaga dan waktu untuk perawatan pasien, selalu menemani dan merawat pasien selama pengobatan di rumah sakit.
Selalu menemani pasien ketika berobat
“...saya temani kontrol, saya temani di rumah sakit.”(P2). “apa yang bisa saya
berikan, saya kasih ke ibu, walaupun mungkin bukan dalam bentuk uang, saya temani ibu, saya rawat ibu ketika di rumah sakit, saya selalu menyuruh ibu untuk terus rajin berobat, kontrol. Pokoknya yang
penting ibu sembuh.”(P4).“saya juga sudah semampu saya berusaha merawat ibu, menemani ibu di rumah sakit, dari pengobatan pertama sampai pengobatan terakhir. Semuanya itu buat kesembuhan
ibu. Biar ibu sehat lagi kayak dulu.”(P5). “...selalu menemani ibu ketika dirawat...”(P6). “Saya juga selalu
menemani istri saya saat di rumah
sakit...”(P8).
Dukungan yang diberikan keluarga terhadap penderita kanker serviks selama kemoterapi adalah selalu menemani pasien ketika kontrol dan saat berobat di rumah sakit. Memenuhi keinginan pasien
“Terus juga apa pengennya ibu saya
usahain biar bisa kesampaian. Jadi bisa
nyenengin ibu lah.”(P3). “apa yang ibu
pengen kalau saya mampu saya
berikan.”(P4).
Memenuhi keinginan pasien merupakan salah satu bentuk dukungan keluarga terhadap penderita kanker serviks selama kemoterapi. Partisipan berusaha memenuhi keinginan pasien untuk menyenangkan hati pasien.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengambil kesimpulan bahwa :
1. Respon keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi adalah keluarga merasa sedih, khawatir, takut, lelah, jenuh, pusing, kasihan, dan susah.
rileks, berusaha untuk melakukan pengobatan rutin, berdoa kepada Tuhan, dan ikhlas.
3. Dampak penyakit kanker serviks dengan kemoterapi terhadap perubahan peran keluarga adalah penghasilan keluarga berkurang, urusan rumah tangga terbengkalai, pengasuhan keluarga terbengkalai.
4. Koping keluarga dalam menghadapi penderita kanker serviks selama kemoterapi adalah dengan mencari dukungan sosial, mencari hiburan, mencari informasi, mengontrol perasaan, melihat segi positif dari masalah, dan dukungan spiritual. 5. Dukungan keluarga terhadap penderita
kanker serviks yang mendapat kemoterapi adalah dengan memberikan semangat, memberikan motivasi, memberikan nasehat, selalu merawat penderita kanker, selalu menemani pasien ketika berobat, dan memenuhi keinginan pasien.
Saran
Penelitian ini meneliti tentang respon dan koping keluarga terhadap penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi. berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan peneliti maka peneliti memberikan saran kepada :
1. Praktisi kesehatan
Berbagai kekhawatiran dan masalah yang dihadapi penderita kanker serviks dan keluarganya menjadi hal yang perlu diantisipasi oleh praktisi kesehatan terutama perawat. Keluarga sering merasa dirinya tidak siap dalam mengahadapi kanker. Praktisi kesehatan perlu memberikan informasi dan edukasi terkait dengan hal yang perlu diantisipasi oleh penderita kanker dan keluarga. Karena kanker dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya maka perlu adanya pengkajian untuk mengetahu kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual klien dan keluarga. Sehingga keluarga merasa lebih mampu menghadapi penderita kanker serviks selama proses terapi kanker.
2. Peneliti selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti secara lebih terperinci tentang respon dan koping keluarga dalam
menghadapi penderita kanker serviks yang mendapat kemoterapi.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson-Hanley, C., Sherman, M. L., Riggs, R., Agocha, V. B., & Compas, B. E. (2003). Neuropsychological Effects of Treatments for Adults with cancer: A Meta-Analysis and Review of the Literature. Journal of the International Neuropsychological Society , 9 (7), 967-982.
Anwar, M., Baziad, A., & Prabowo, R. P. (2011). Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Baker-Glenn, E. A., Park, B., Granger, L., Symonds, P., & Mitchell, A. J. (2011). Desire for Psychological Support in Cancer Patients with Depression or Distress: Validation of a Simple Help Question . Psycho-Oncology , 525-531. Berger, A. M., Parker, K. P.,
Young-McCaughan, S., Mailory, G. A., Barsevick, A. M., Beck, S. L., et al. (2005). Sleep/Wake Disturbances in People With Cancer and Their Caregivers: State of the Science. Oncology Nursing Forum , 3 (26), 98-120.
Danim, S. (2002). Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia. Dantes, N. (2012). Metode Penelitian.
Yogyakarta: Andi Offset.
Deshields, T. L., Rihanek, A., Potter, P., Zhang, Q., kuhrik, M., Kuhrik, N., et al. (2012). Psychosocial Aspects of Caregiving : Perceptions of Cancer Patients and Family Caregivers. Support Care Cancer , 349-356.
Literature Review. European Scientific Journal , 8 (11), 160-173. Friedman, M. M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik. (I. Debora, & Y. Asy, Penerj.) Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Given, B. A., Given, C. W., & Kozachik, S.
(2001). Family Support in Advanced Cancer. CA Cancer Journal for Clinicians , 51 (4), 213-231.
Globocan 2012 (IARC). (2012). Dipetik Maret 10, 2014, dari International Agency for Research on Cancer (IARC):
http://globocan.iarc.fr/pages/fact_sh eets_cancer.aspx
Gross, R. (2013). Psychology The Science of Mind and Behaviour (6th Edition ed.). (H. P. Soetjipto, & S. M. Soetjipto, Penerj.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Grunberg, S. M. (2004). Chemotherapy-Induce Nausea and Vomiting: Detection, and Treatment-How are we doing? The Journal of Supportive Oncology , 2, 1-12. Halgin, R. P., & Whitbourne, S. K. (2010).
Psikologi Abnormal (Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis). (A. Tusya'ni, L. S. Sembiring, P. G. Gayatri, & P. Nurdina, Penerj.) Jakarta: Salemba Medika.
Herdiansyah, H. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Hewitt, M., Greenfield, S., & Stovall, E. (2005). From Cancer Patient to Cancer Survivor: Lost in Transition. Institute of Medicine and National Research Council. Washington, D.C.: The National Academies Press.
Hidayat, A. A. (2008). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2012, Oktober 25). Dipetik Desember 2, 2013, dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia: http://www.depkes.co.id
Lapau, B. (2012). Metode Penelitian Kesehatan : Metode Ilmiah Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Lewis, F. M. (2006). The Effects of Cancer Survivorship on Families and Caregivers. The American Journal of Nursing , 106 (3), 20-25.
Mason, M. (2010). Sample Size and Saturation in PhD Studies Using Qualitative Interviews. Forum Qualitative
Sozialforschung/Forum:
Qualitative Social Research , 11, 1-12.
Mellon, S., Northouse, L. L., & Weiss, L. K. (2006). A Population-Based Study of the Quality of Life of Cancer Survivors and Their Family Caregivers. Cancer Nurs , 120-131. Moeloek, F. A., & Nuranna, L. (2006). Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (hal. 130-135). Jakarta: POGI. Muhlisin, A. (2012). Keperawatan
Keluarga. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Nasir, A., & Muhith, A. (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika.
Norwitz, E. R., & Schorge, J. O. (2008). At a Glance Obstetri & Ginekologi. Jakarta: Erlangga.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
of Family Caregivers. Semin Oncol Nurs , 28 (4), 246-255.
Parkin, D. Max; Bray, Freddie; Ferlay, J.; Pisani, Paola. (2005). Global Cancer Statistics, 2002. CA Cancer Journal for Clinicians , 55, 91-92. Potter, P. A., & Perry, A. G. (2009).
Fundamental of Nursing, 7th edition. Singapore: Elsevier Inc. Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Schumacher, K. L., Stewart, B. J., Archbold, P. G., Caparro, M., Mutale, F., & Agrawal, S. (2008). Effects of Caregiving Demand, Mutuality, and Preparedness on Family Caregiver Outcomes During Cancer Treatment. Oncology Nursing Forum , 35 (1), 49-56.
Sobur, A. (2009). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Šprah, L., & Šoštarič, M. (2004).
Psychosocial Coping Strategies in Cancer Patients. Radiology and Oncology , 38 (1), 35-42.
Stafford, L., & Judd, F. (2011). Long Term Quality of Life in Australian Women Previously Diagnosed with Gynaecologic Cancer. Support Care Cancer , 2047-2050.
Stajduhar, K., Filles, G., & Barwich, D. (2008). Family Caregiver Coping in End-of-Life Cancer Care. Victoria: Canadian Cancer Society. Stuart, G. W. (2007). Buku Saku
Keperawatan Jiwa. (R. P. Kapoh, & E. K. Yudha, Penerj.) Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sugiyono. (2009). Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Waggoner, S. E. (2003). Cervical Cancer. The Lancet , 2217-2219.
Ying, C. Z., Ching, S. S., & Loke, A. Y. (2011). Quality of Life in Cervical Cancer Survivor: A Review of Literature and Directions for Future Research. Oncology Nursing Forum , 38 (2), 109-115.
*Fika Kharisma: Mahasiswa S1 Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani Tromol Post 1 Kartasura
** Winarsih Nur Ambarwati, S. Kep, Ns. ETN. M. Kep: Dosen Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani Tromol Post 1 Kartasura. **Rina Ambarwati, S.Kep., Ns: Dosen Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani Tromol Post 1 Kartasura