• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL."

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

HJ. AEMI LISONDA GULTOM

NIM. 1204724

ABSTRAK

Untuk berbicara dalam situasi yang tidak resmi, para siswa tidak banyak mengalami kesulitan, mereka dapat berbicara dengan lancar. Berbeda halnya apabila siswa dihadapkan suatu pembicaraan yang sifatnya resmi, misalnya diskusi atau pidato atau berbicara di depan kelas, banyak di antara mereka yang sulit mengungkapkan gagasan. Kesulitan berbicara siswa kelas VI dalam mengemukakan gagasan pada suasana formal atau resmi di depan kelas Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan penulis di SDN Cempaka Baru 01 ditemukan karena seringnya para guru menggunakan teknik ceramah untuk menjelaskan bahan ajar. Walaupun ada siswa yang mau berbicara tapi strukturnya masih berbelit-belit dan kurang sistematis sehingga tidak terjadi komunikasi yang baik antara si pembicara dan si penyimak, bahkan ada beberapa siswa yang sama sekali sulit dalam mengemukakan gagasan untuk berbicara. Penelitian ini membahas: (1) bagaimana perencanaan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual ?, (2) bagaimana proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual?,(3) bagaimana hasil pembelajaran berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual?. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan metode kualitatif dan deskriptif dengan subjek penelitian adalah siswa kelas enam tahun 2013-2014 SDN Cempaka Baru 01 Pagi Jakarta Pusat dengan jumlah 31 orang siswa. Hasil tindakan dalam pembelajaran berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual sangat efektif untuk penguasaan hubungan dengan topik dengan isi, struktur isi, keberanian dan kelancaran berbicara, berdasarkan hasil tindakan siklus I sampai dengan siklus III mengalami peningkatan.

(2)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

IMPROVED ABILITY TO SPEAK WITH A CONTEXTUAL APPROACH

THROUGH AUDIO VISUAL MEDIA

HJ . AEMI LISONDA GULTOM

NIM . 1204724

ABSTRACT

To speak in formal situations, the students did not experience any difficulties, they can speak fluently. Unlike the case when students are exposed to a conversation that an official nature, such as discussions or speeches or speaking in front of the class, many of them are difficult to express ideas. Difficulty speaking sixth grade students in expressing ideas in a formal or formal atmosphere in front of the class Based on interviews and observations of the author in New Cempaka SDN 01 is found as often teachers use the lecture to explain the techniques of teaching materials. While there are students who want to talk but its structure is still convoluted and less systematically so there is good communication between the speaker and the penyimak, even some students at all difficult to put forward ideas to talk . This study discusses : ( 1 ) how learning plan that can improve the ability to speak with a contextual approach through audio-visual media ?, ( 2 ) how the learning process can improve the ability to speak with a contextual approach through audio-visual media ?, ( 3 ) how the learning outcomes talk with contextual approach through audio-visual media ?. The research method used was action research with qualitative methods and descriptive research subject is the 2013-2014 sixth grade students of SDN 01 Morning New Cempaka Jakarta Pusat the number of 31 students. Action results in learning to talk with contextual approach through audio-visual media is very effective for control of the relationship with the subject content, the content structure, courage and eloquence, based on the results of the first cycle of action until the third cycle has increased.

(3)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

(4)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GRAFIK ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Batasan dan Perumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Struktur Organisasi Tesis……….... ... 7

BAB II KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL A. Hakikat Berbicara ... 8

1. Pengertian Berbicara... 8

2. Jenis - jenis Berbicara ... 11

3. Tujuan Berbicara ... 12

4. Manfaat Berbicara ... 13

5. Proses Berbicara ... 14

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bahasa ... 15

7. Tujuan Pengajaran Keterampilan Berbicara ... 17

B. Pengertian Pembelajaran Kontekstual ... 19

(5)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Komponen Pembelajaran Kontekstual ... 22

3. Strategi Pembelajaran Kontekstual ... 27

4. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Dasar ... 29

5. Teori-teori yang Mendukung Pembelajaran Kontekstual… ... 30

C. Media Adio Visual … ... 32

1. Pengertian Audio Visual……… ... 32

2. Proses Pemanfaatan Media Audio Visual………. .. 33

3. Kelebihan dan Kekurangan Media Audio Visual…………. ... 35

4. Tujuan Penggunaan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran……… .. 35

5. Penelitian Terdahulu………. ... 37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain penelitian ... 39

B. Metode dan Desain Intervensi Tindakan……….. .... 39

C. Lokasi, Waktu dan Subyek Penelitian ... 42

D. Data Penelitian ... 42

E. Teknik Pengumpulan Data ... 43

F. Analisa Data ... 44

G. Prosedur Penelitian ... 44

H. Definisi Operasional………... .. 47

I. Instrumen Penelitian ... 48

J. Instrument Pengumpulan Data………... .. 48

K. Instrument Pedoman Penelitian……….. .. 49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Hasil Penelitian ... 51

1. Penelitian Tindakan Kelas Siklus Pertama ... 56

a. Perencanaan (Planning) ... 56

b. Pelaksanaan (Actuating) ... 61

c. Pengamatan (Observation) ... 63

(6)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Penelitian Tindakan Kelas Siklus Kedua ... 83

a. Perencanaan (Planning) ... 83

b. Pelaksanaan (Actuating) ... 88

c. Pengamatan (Observation) ... 89

d. Refleksi (Reflection) ... 110

3. Penelitian Tindakan Kelas Siklus Ketiga ... 111

a. Perencanaan (Planning) ... 111

b. Pelaksanaan (Actuating) ... 116

c. Pengamatan (Observation) ... 117

d. Refleksi (Reflection) ... 137

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 142

1. Perencanaan Pembelajaran ... 142

2. Pelaksanaan Pembelajaran ... 142

3. Peningkatan Kemampuan Berbicara ... 144

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 148

B. Saran ... 150

DAFTAR PUSTAKA ... 152 LAMPIRAN

(7)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Perolehan Skor Berbicara Siswa Sebelum Diadakan Pembelajaran

Melalui Media Audio Visual………. 51

4.2 Perangkat Pembelajaran Siklus I………... 57

4.3 Perolehan Skor Berbicara Siswa Dalam Pembelajaran dengan

Media Audio Visual Siklus I ... 67

4.4 Perolehan Skor Peningkatan Berbicara Siswa dalam

Pembelajaran Sebelum dan Sesudah Siklus I ... 79

4.5 Perangkat Pembelajaran siklus II ... 84

4.6 Perolehan Skor Berbicara Siswa Dalam Pembelajaran dengan

Media Audio Visual Siklus II ... 95

4.7 Perolehan Skor Peningkatan Berbicara Siswa Dalam

Pembelajaran Siklus I dan Siklus II ... 107

4.8 Perangkat Pembelajaran Siklus III ... 112

4.9 Perolehan Skor Berbicara Siswa Dalam Pembelajaran dengan

Media Audio Visual Siklus III ... 122

4.10 Perolehan Skor Peningkatan Berbicara Siswa Dalam

Pembelajaran Pada Siklus II dengan Siklus III ... 134

4.11 Perbandingan Skor Hasil Berbicara siswa Dalam Pembelajaran Berbicara Siswa dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Media

Audio Visual Pada Siklus I, Siklus II dan Siklus III ………. ... 138

4.12 Perbandingan Skor Hasil Berbicara Siswa dalam Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Media Audio Visual

(8)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GRAFIK

Grafik Halaman

4.1 Perolehan Skor Rata-rata Indikator Prasiklus ... 53

4.2 Skor Perolehan KKM ... 53

4.3 Perolehan Skor Berbicara Siswa Sebelum Dilaksanakan

Pembelajaran Melalui Media Audio Visual ... 54

4.4 Perolehan Skor Rata-rata Indikator Siklus I ... 68

4.5 Perolehan Skor Berbicara Siswa Pada Siklus I ... 69

4.6 Perbandingan Perolehan Skor Peningkatan Berbicara Siswa

Dalam Pembelajaran Sebelum dan Sesudah Siklus I ... 80

4.7 Perolehan Skor Rata-rata Indikator Siklus II ... 96

4.8 Perolehan Skor Berbicara Siswa Pada Siklus II ... 96

4.9 Perbandingan Perolehan Skor Berbicara Siswa Siklus I dan Siklus

II……… .... 108

4.10 Perolehan Skor Rata-rata Indikator Siklus III……….. ... 123

4.11 Perolehan Skor Berbicara anak pada Siklus III……….... .... 124

4.12 Perbandingan Perolehan Skor Berbicara Anak Siklus II dan

Siklus III………... ... 135

4.13 Skor Perbandingan Perolehan Berbicara Anak Siklus I, II dan

Siklus III………... ... 139

4.14 Perbandingan Hasil Berbicara Siswa Dalam Pembelajaran Dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Media Audi Visual

Pada Sikluss I dan III……… .... 141

4.15 Rata-rata Kelas Skor Siswa Tiap Siklus………... .... 146

(9)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

[image:9.595.129.509.176.657.2]

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

4.1 Tayangan Keong Mas……….. ... 63

4.2 Guru Menjelaskan Tujuan Pembelajaran Dongeng………. .... 64

4.3 Ada Siswa yang Masih Tidak Memperhatikan Tayangan Dongeng ... 64

4.4 Siswa Sedang Berdiskusi ... 65

4.5 Siswa Sedang Menceritakan Isi Dongeng... 65

4.6 Siswa Sedang Menceritakan Isi Dongeng... 66

4.7 Guru Menjelaskan Tujuan Pembelajaran Dongeng ... 90

4.8 Penayangan Dongeng Timun Mas ... 91

4.9 Siswa Menonton Dongeng ... 91

4.10 Siswa Sedang Berdiskusi ... 92

4.11 Guru Sedang Membimbing Dalam Diskusi ... 92

4.12 Siswa Bercerita dengan Malu-malu ... 93

4.13 Guru Menjelaskan Tujuan Pembelajaran Dongeng ... 118

4.14 Tayangan Dongeng Malin Kundang ... 118

4.15 Siswa Menonton Dongeng Malin Kundang ... 119

4.16 Siswa Berdiskusi Dalam Kelompok ... 119

(10)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Kisi-Kisi Kemampuan Berbicara Siswa ... 154

2 Pedoman Penilaian Berbicara (Menceritakan Kembali Isi

Dongeng ... 155

3 Rencan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pembelajaran Berbicara dengan Pendekatan Kontekstual dengan Media

Audio Visual ... 157

4 Lembar Observasi Proses Pembelajaran Berbicara dengan

Pendekatan Kontekstual Melalui Media Audio Visual ... 182

5 Pedoman Observasi Tentang Kemampuan Berbicara ... 185

6 Tes Kemampuan Berbicara dalam Menceritakan Kembali Isi

Tayangan dengan Media Audio Visual ... 187

7 Pedoman Wawancara Pelaksanaan Pembelajaran Berbicara

dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Media Audio Visual ... 190

8 Rekapitulasi Nilai Berbicara Siswa deangan Pendekatan

(11)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi, saling berbagi

pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Bahasa

Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting yakni sebagai bahasa negara

dan bahasa nasional.

Mengingat fungsi yang diemban oleh bahasa Indonesia sangat banyak, maka kita perlu

mengadakan pembinaan dan pengembangan terhadap bahasa Indonesia. Tanpa adanya

pembinaan dan pengembangan tersebut bahasa Indonesia tidak akan dapat berkembang,

sehingga dikhawatirkan bahasa Indonesia tidak dapat mengemban fungsi-fungsinya.

Salah satu cara dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia

itu adalah melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Pembinaan dan pengembangan

kemampuan dan keterampilan berbahasa yang diupayakan di sekolah berorientasi pada empat

jenis keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara,

keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut

berhubungan erat satu dengan yang lain.

Seorang guru khususnya guru bahasa memiliki kewajiban sebagai pengarah atau

pembimbing agar siswa mampu berbahasa dengan baik. Pernyataan tersebut sesuai dengan

tujuan berbicara yaitu, Tujuan berbicara tiada lain adalah menumbuhkan anak didik agar

mereka sanggup bertutur secara lisan lancar dengan menggunakan kalimat-kalimat.

Berbicara berhubungan erat dengan perkembangan kosa kata yang diperoleh anak

melalui kegiatan menyimak dan membaca. Kebelum matangan dalam perkembangan bahasa

juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan suatu bahasa.

Untuk berbicara dalam situasi yang tidak resmi, para siswa tidak banyak mengalami

kesulitan, mereka dapat berbicara dengan lancar. Berbeda halnya apabila siswa dihadapkan

suatu pembicaraan yang sifatnya resmi, misalnya diskusi atau pidato atau berbicara di depan

(12)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dari hasil studi awal di SDN Cempaka Baru 01 tampak bahwa mereka mengungkapkan

gagasan atau perasaannya masih berbelit-belit dan kurang sistematis sehingga tidak terjadi

komunikasi yang baik. Bahkan ada beberapa siswa yang sama sekali sulit mengemukakan

gagasan , kurang percaya diri, suara terlalu pelan, dan berbicara tersendat sendat.

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan penulis di SDN Cempaka Baru

ditemukan bahwa seringnya para guru menggunakan teknik ceramah untuk menjelaskan bahan

ajar. Hal ini akan memperparah keadaan, sebab teknik ceramah tidak akan mampu

menerampilkan siswa dalam berbicara, tetapi hanya sekadar menghasilkan penguasaan

pengetahuan. Guru aktif menerangkan, dan siswa hanya mendengarkan bahan yang diajarkan,

sehingga kondisi pembelajaran sangat pasif dan membosankan. Padahal keberhasilan suatu

pembelajaran dipengaruhi juga oleh keaktifan para siswa dalam mengikuti pembelajaran

tersebut. Dengan demikian kemampuan berbicara siswa kelas VI SDN Cempaka Baru masih

kurang. Jumlah siswa kelas VI SDN Cempaka Baru 01 31 orang 20 siswa atau 65% masih

berkemampuan berbicara (mengungkapkan gagasan, menyusun pembicaraan yang runtut dan

sistematis) kurang. Hanya sebagian kecil saja 7 orang atau 23% siswa berkemampuan cukup,

dan 4 orang siswa atau 13% siswa berkemampuan berbicara baik.

Dari data awal di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbicara di SDN

Cempaka Baru 01 perlu ditingkatkan, terutama dalam membimbing siswa dalam

mengungkapkan gagasan dalam berbicara.

Oleh karena itu, bimbingan guru sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan minat

siswa untuk dapat berbicara dengan baik, di antaranya dengan latihan yang terus menerus agar

siswa terbiasa mengungkapkan gagasan secara sistemik. Di samping itu guru perlu

menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan, tidak monoton dan lebih bermakna, karena

itu para pendidik harus berjuang dengan segala cara dengan mencoba untuk membuat

pembelajaran yang dipelajari siswa di sekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan

mereka sehari-hari. Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru

tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun

pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara

mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa,

(13)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

sendiri ide-ide, dan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka

sendiri dalam belajar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak sulit untuk berbicara, diantaranya berikut

ini.

1. Anak kurang menguasai Bahasa Indonesia dengan baik, sehingga anak malu untuk

berbicara, dalam arti tidak ada keberanian untuk mengungkapkan pendapatnya.

2. Anak kurang fasih dalam melafalkan kata-kata bahasa Indonesia.

3. Anak kurang mampu menyusun struktur kalimat yang baik.

4. Anak kurang memahami dan kurang bisa menangkap topik yang diajukan oleh guru

untuk diceritakan.

Untuk mengatasi masalah kesulitan berbicara pada siswa tersebut, maka perlu ada

teknik yang dianggap menarik dan menyenangkan. Salah satu pendekatan pembelajaran CTL

dan dengan menggunakan media audio visual.

CTL merupakan suatu konsep belajar di mana guru menghadirkan situasi dunia nyata

ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses

pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,

bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan

konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip

pembelajaran berbasis kompetensi.

Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning),

yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transfering diharapkan peserta didik

mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah

membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada

memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama

untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari

menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola

(14)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Salah satu media yang dapat dipilih untuk meningkatkan kemampuan berbicara adalah

dengan menggunakan model dongeng dengan media audio visual dalam kelompok kecil

maupun dalam kelompok besar, dengan tujuan siswa dapat menyampaikan pesan dan

menanggapi isi pesan dengan berbicara.

Dari uraian diatas maka penulis memberi judul tesis ini “Peningkatan Kemampuan

Berbicara dengan pendekatan Kontekstual melalui Media Audio Visual pada siswa kelas VI

SDN. Cempaka Baru 01 Kecamatan Kemayoran”.

B. Identifikasi, Batasan dan Perumusan Masalah.

Dari latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat

dikelompokan sebagai berikut.

1. Siswa sulit memahami isi dongeng, dan belum bisa menceritakan semua unsur-unsur

yang ada dalam dongeng.

2. Siswa kurang berani menjelaskan isi dongeng dan merangkai isi dongeng secara runtut.

3. Siswa cenderung tidak berani mengemukakan pendapat dalam pembelajaran.

4. Pembejalaran bahasa Indonesia kurang bervariasi atau monoton dan membuat

kejenuhan pada peserta didik sehingga siswa pasif dalam berbicara.

Batasan Masalah

Dari latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini dibatasi sebagai

berikut.

1. perencanaan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berbicara dengan

pendekatan kontekstual melalui media audio visual bagi peserta didik

2. proses pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berbicara dengan

pendekatan kontekstual melalui media audio visual bagi peserta didik

3. hasil belajar siswa dalam berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio

visual

Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian

(15)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan

berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual bagi peserta didik

?

2. Bagaimanakah proses pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berbicara

dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual bagi peserta didik ?

3. Bagaimana hasil belajar siswa dalam berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui

media audio visual?

C. Tujuan Penelitian

Memperhatikan rumusan masalah yang telah penulis tetapkan, maka tujuan penelitian

tindakan kelas ini dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Ingin mengetahui sejauhmana kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan melalui penggunaan media audio visual.

2. Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran berbicara siswa dengan pendekatan kontekstual melalui penggunaan media audio visual.

3. Mengujicobakan proses pembelajaran berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui penggunaan media audio visual.

4. Mengukur hasil yang dicapai dalam berbicara siswa melalui penggunaan media audio visual.

D. Manfaat Penelitian

Mengingat pentingnya penelitian ini dalam berbagai faktor, maka manfaat penelitian

ini ditinjau dari dua segi, yaitu :

1. Secara Teoretis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan khususnya tentang pembelajaran

dengan pendekatan kontekstual melalui media audio visual sebagai usaha untuk

meningkatkan kemampuan berbicara kelas VI Sekolah Dasar.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang teori

(16)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Secara Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan metode baru bagi guru

guna mengembangkan pembelajaran berbicara kelas kelas VI Sekolah Dasar melalui media

audio visual dengan pendekatan kontekstual, kemudian dapat menjadi alternatif cara belajar

berbicara yang efektif dan tepat bagi siswa, serta dapat menjadi sumbangan ide untuk

memperbaiki sistem pembelajaran berbicara yang lebih baik bagi sekolah.

E. Struktur Organisasi Tesis

BAB I Pendahuluan

Terdiri atas: latar belakang masalah, Identifikasi masalah, batasan masalah dan

rumusan masalah, Tujuan penelitian, Manfaat penelitian serta Struktur Organisasi

Tesis

BAB II Kemampuan berbicara dengan pendekatan kontekstual melalui media audio

visual meliputi: pengertian berbicara, jenis-jenis berbicara, tujuan berbicara,

manfaat berbicara, proses berbicara, faktor yang mempengaruhi bahasa, Tujuan

pengajaran keterampilan berbicara, prinsip pembelajaran kontekstual, komponen

pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran kontekstual, keunggulan dan

kelemahan pembelajaran kontekstual di Sekolah Dasar, Teori-teori yang

Mendukung Pembelajaran Kontekstual, Penerapan Contextual Teaching and

Learning dalam Pembelajaran

Bahasa Indonesia, Pengertian audio visual, proses pemanfaatan media audio

visual, kelebihan dan kekurangan penggunaan media audio visual, tujuan

penggunaan media audio visual dalam pembelajaran, dan penelitian terdahulu.

BAB III Metode Penelitian

Membahas desain penelitian, metode dan disain intervensi tindakan, lokasi, waktu

dan subyek penelitian, data penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa

data, prosedur penelitian, definisi operasional, intrumen penelitian,dan instrument

pedoman penelitian.

BAB IV Hasil Penelitian

Menjelaskan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian

(17)

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

(18)

1

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan kelas ( PTK ).

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian di dalam kelas sasaran dengan

memanfaatkan interaksi, kolaborasi antara peneliti dengan kelas sasaran ( dalam hal

ini siswa ). Penelitian tindakan kelas dilaksanakan demi perbaikan dan peningkatan

praktek pembelajaran secara berkesinambungan, yang ada pada dasarnya melekat

pada terlaksananya misi profesional pendidikan yang dinamakan guru. Oleh karena

itu pendekatan tindakan kelas merupakan salah satu cara strategis memperbaiki

dan meningkatkan layanan pendidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks

upaya peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan dalam masyarakat

yang dapat berubah. Menurut Arikunto (2009) ada beberapa ahli yang

mengemukakan model penelitian dengan bagan yang berbeda, namun secara garis

besar terdapat 4 tahap yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan ( bahan ajar,

silabus, dan RPP ), (2) pelaksanaan (3) Pengamatan, (4) Refleksi.

B. Metode dan Disain Intervensi Tindakan

Jenis tindakan ini adalah penelitian tindakan (action research) yang

merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan atau

pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung pada

ruang kelas atau ajang dunia kerja. Dalam dunia pendidikan penelitian ini dapat

memperbaiki efektifitas dan efisiensi praktik pembelajaran.

Penelitian adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif

terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai

peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai dengan penilaian terhadap

tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar, untuk

(19)

2

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Ebbut mengemukakan bahwa penelitian adalah studi yang sistematis yang

dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan dengan

melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut.

Penelitian merupakan kegiatan siklusitas yang bersifat menyeluruh dan

berdaur ulang. Di mana setiap siklusnya terdiri dari tahapan-tahapan perencanaan (

planning ), penerapan tindakan ( action ), pengamatan dan evaluasi proses serta

hasil tindakan ( observation and evaluating ) , dan refleksi ( reflection ) setelah

terselesaikan refleksi lalu dilanjutkan dengan perencanaan kembali yang

merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah. Kemudian

disusun modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan

pengamatan lagi, begitu seterusnya membentuk sebuah siklus.

Adapun Model penelitian tindakan yang digunakan yaitu : penelitian

tindakan yang mengacu pada model Kemmis S. dan Tegart R, seperti pada gambar

(20)

3

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Desain penelitian yang digunakan adalah Model Spiral dari Kemmis dan

Taggart (Rochiati, 2012: 66) yang dapat digambarkan sebagai berikut:

[image:20.595.212.457.158.495.2]

Model Penelitian Kemmis dan McTaggart

Gambar 3.1

Model Spiral Kemmis dan Taggart

(Sumber : Hopkins, 1993 : 48)

Prosedur penelitian tindakan ini dilakukan melalui empat kegiatan, yaitu:

perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi dengan diawali

orientasi terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran.

Siklus ini berlangsung sebanyak tiga kali untuk melihat peningkatan

keterampilan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan

menggunakan pendekatan kontekstual dan berpedoman pada bagan di atas, hingga

(21)

4

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pembelajaran tampak sudah stabil dengan respon siswa yang diharapkan, maka

penelitian dapat diakhiri hingga siklus tersebut (Wiriaatmadja, 2002: 130-131).

C. Lokasi, Waktu dan Subyek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Cempaka Baru 01. Dengan beberapa

pertimbangan dan alasan penulis menentukan waktu penelitan tindakan dikerjakan

selama 2 bulan (Oktober s.d November 2013). Subyek dalam penelitian ini adalah

siswa kelas VI yang muridnya berjumlah 31 orang terdiri dari 15 siswa Jam

laki-laki dan 16 orang siswa perempuan. Dilaksanakan setiap hari kamis setiap

minggunya.

Penelitian ini menekankan kepada penggunaan media audio-visual dalam

pembelajaran bahasa indonesia pada pokok bahasan persoalan faktual untuk

meningkatkan keterampilan berbicara.

D. Data Penelitian

Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder yaitu hasil

pengamatan, wawancara, rekaman, dan hasil tes penilaian yang dilakukan peneliti

selam tindakan berbicara berlangsung. Data primer dan sekunder inilah yang

kemudian diolah melalui analisis data (dalam hal ini berupa refleksi yang akhirnya

dapat dijadikan simpulan sebagai jawaban atas pernyataan penelitian yang telah

ditetapkan. Fungsi data dalam adalah landasan refleksi (Madya, 1994:32).

Data penelitian ini berupa paparan proses selama pelaksanaan pembelajaran

berbicara, yaitu hasil observasi (catatan lapangan), perekaman, penilaian dan

wawancara berupa data verbal maupun nonverbal. Data verbal berupa kata-kata

lisan atau tertulis selama pembelajaran dan hasil kerja murid,sedangkan data

nonverbal berupa penilaian perilaku, interaksi atau kejadian pemantauan secara

proses terhadap pelaksanaan tindakan. Tahap pelaksanaan pembelajaran meliputi

tahap pembelajaran berbicara, tahap pelaksanaan, tahap pengisian wawancara,

(22)

5

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai hasil yang maksimal, dilakukan

dalam beberapa tahap, berikut ini.

Tahap I, guru mengadakan kegiatan belajar mengajar berbicara dengan

media audio visual, kemudian hasilnya dievaluasi, guru mencatat kekurangan siswa

dalam berbicara dan perlu diperbaiki.

Tahap II, guru mengadakan kegiatan belajar mengajar berbicara dengan

menggunakan media audio visual dengan melihat kekurangan dari tahap I, guru

mengevaluasi hasilnya dan mencatat kemajuan dan kekurangan siswa dalam

berbicara dan perlu diperbaiki.

Tahap III, guru mengadakan kegiatan belajar mengajar berbicara dengan

media audio visual, dengan melihat kekurangan dari tahap II, guru mengevaluasi

hasilnya dan mencatat kemajuan dan kekurangan siswa dalam berbicara. Demikian

seterusnya sampai siswa tersebut benar-benar paham dan dapat berbicara dengan

baik dan benar

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Moleong (2002:111) ada empat teknik yang dapat digunakan

mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu (1) pengamatan, (2)

wawancara, (3) catatan lapangan, dan (4) penggunaan dokumen. Keempat teknik

tersebut digunakan sesuai dengan jenis data yang diperlukan. Dalam penelitian ini

keempat teknik ini yang dikemukakan Moleong tersebut digunakan secara

proporsional. Adapun instrumen yang digunakan selain penilaian sebagai

instrument kunci, juga digunakan format catatan lapangan, pedoman wawancara,

alat perekam, dan kamera foto.

Data utama penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya

adalah data tambahan (Leofland dalam Moleong, 2002). Oleh karena itu, observasi

dan wawancara mendalam merupakan teknik yang digunakan paling banyak dalam

(23)

6

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pelaksanaan lokakarya berbicara, yang pelaksanaannnya dilaksanakan

bersama-sama dengan praktisi. Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data

tentang kesan dan perasaan, serta pengalaman murid dalam lokakarya berbicara.

Wawancara ini dilakukan secara formal di kelas maupun non formal di luar kelas

dengan bantuan alat perekam. Catatan lapangan digunakan untuk mencatat refleksi

peneliti, pendapat, gagasan, yang berkaitan dengan data yang dicatat pada waktu

observasi.

F. Analisis Data

Analisis data penelitian tindakan menurut Madya (1994:33) diwakili oleh

momen refleksi putaran penelitian tindakan. Pengertian refleksi adalah mengingat

dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam

observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan kendala yang

nyata dalam tindakan (Madya, 1994:23). Namun demikian secara kualitatif analisis

penelitian pun tetap berpijak pada ciri penelitian kualitatif yaitu melalui

mengorganisasikan, mengurutkan data ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan

uraian dasar (Patton dalam Moleong, 2002). Proses analisis data menurut Moeloeng

sebagai berikut.

Proses analisis dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber dan berbagai teknik, yaitu wawancara yang telah dituliskan kemudian data tersebut direduksi. Langkah selanjutnya menyusun menjadi satuan-satuan, kemudian dikategorisasikan sambil membuat koding dan mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah data ditafsirkan, dimaknai dan disimpulkan.(2002:190)

Dari pendapat Moleong di atas dapat disimpulkan bahwa analisis dalam

penelitian ini dilakukan dengan reduksi data, menyajikan data, pemaknaan data dan

penyimpulan .

G. Prosedur Penelitian

Penelitian ini mengacu pada siklus kegiatan penelitian yang dikembangkan

(24)

7

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. Refleksi Awal,

Meliputi observasi dan wawancara awal tentang konteks yang sedang

berlangsung yaitu mengetahui kegiatan pembelajaran berbicara yang dilaksanakan

guru di kelas. Catatan hasil observasi awal secara garis besar memperlihatkan

bahwa pembelajaran berbicara di kelas yang diteliti belum maksimal.

Hasil observasi yang diperoleh kemudian dikonfirmasi dengan guru

pengajar dan murid setiap selesai pengamatan. Guru mengakui belum tahu strategi

apa yang harus dilakukan gar pengajaran itu terlaksana dengan baik.

2. Perencanaan Tindakan

Berdasarkan hasil refleksi awal guru dan peneliti secara kolaboratif

merencanakan tindakan. Langkah perencanaan meliputi kegiatan berikut.

1. Peneliti dengan guru menyusun rancangan tindakan berupa satuan

pelajaran dengan menggunakan media audio visual. Terlampir

2. Menyusun alat perekam data yang terdiri atas format catatan lapangan,

format observasi, format wawancara, menyiapkan rekaman, dan kamera

foto.

3. Menyusun rambu-rambu untuk mengolah data, baik data proses maupun

data hasil yang berkaitan dengan kemampuan berbicara siswa. Sumber

rambu-rambu ini dari fokus dan tujuan khusus yang telah ditetapkan

dalam rancangan tindakan (RPP). rambu-rambu ini berupa kriteria

norma yang dinyatakan dalam bentuk kemunculan deskriptor yang diisi

melalui ceklis. Rambu-rambu ini dimaksudkan untuk pedoman

menentukan keberhasilan atau kegagalan pembelajaran yang dilakukan.

(25)

8

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pada tahap pelaksanaan, operasionalnya dilakukan secara kolaboratif

antara praktisi dan peneliti. Ada pun kegiatan yang dilakukan pada tahap

ini sebagai berikut.

1. Pada tahap ini peneliti dan praktisi melaksanakan pembelajaran

berbicara menggunakan media audio visual dengan RPP yang telah

dibuat.

2. Peneliti melakukan pengamatan menggunakan instrument pengumpulan

data yang sudah ditetapkan yaitu format catatan lapangan, format

observasi dan alat perekam.

3. Peneliti dan praktisi melakukan refleksi terhadap tindakan yang

dilakukan. Hal ini dilakukan oleh peneliti dan praktisi melalui diskusi.

Dari kegiatan ini terbuahkan hasil refleksi

4. Mengadakan Evaluasi / Refleksi

Evaluasi ini berupa pemeriksaan kesesuaian informasi yang dikumpulkan

dengan berdasarkan pada target yang telah ditetapkan. Apakah informasi yang

terkumpul itu sesuai dengan target yang telah ditetapkan pada waktu perencanaan?

Selain itu juga perlu meninjau kelemahan dari target hasil yang telah ditetapkan

atau kelemahan pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan.

Di sini dipilih mana hasil-hasil yang sesuai dengan target, mana hasil yang lemah

karena tidak sesuai dengan target. Langkah ini penting sebagai bahan untuk

mempersiapkan perencanaan berikutnya. Hal ini sesuai dengan fungsi evaluasi

tindakan/refleksi juga dapat berfungsi untuk mengetahui jika ada hasil sampingan

pelaksanaan tindakan, baik yang bersifat positif maupun negatif

(Sumarno,1997:11).

Evaluasi ini dilaksanakan setiap selesai tindakan, berupa diskusi dengan

pengamat lain yaitu teman sejawat dan praktisi. Pada tahap ini sering praktisi

sendiri menyadari kesalahan atau kekurangannya selama mengajar dan memohon

saran kepada para pengamat. Di sinilah terjadi evaluasi secara seksama sekaligus

(26)

9

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. Perencanaan Ulang

Perencanaan ulang didasarkan hasil langkah keempat. Peneliti dan praktisi

merencanakan tindakan ulang dengan memperbaiki hal-hal yang kurang sesuai atau

masih kurang optimal.

Perencanaan ulang hasil perbaikan ini dibuat seminggu sebelum tindakan

ulang penyempurnaan dilakukan kembali. Dengan demikian praktisi (guru)

mempunyai waktu untuk mempelajari bahan/ perencanaan hasil perbaikan untuk

diterapkan/ dilaksanakan pada siklus berikutnya.

6. Melaksanakan Tindakan Ulang

Tindakan ulang dilaksanakan dalam siklus baru seperti pelaksanaan siklus

sebelumnya (tahap ketiga) dengan beberapa perbaikan/ penyempurnaan dari hasil

refleksi/evaluasi

H. Definisi Operasional

Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap penelitian ini, maka perlu

didefinisikan hal-hal sebagai berikut:

1. Kemampuan berbicara yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu

keterampilan menyampaikan pesan secara lisan antar satu individu dengan

individu lainnya agar maksud dan tujuan dari penyampai pesan dapat

dipahami dan dimengerti sehingga kepentingan dua individu tersebut dapat

terwujud melalui proses komunikasi.

2. Pendekatan Kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran di mana materi

(27)

10

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kehidupan sehari‐hari, baik,di sekolah maupun di lingkungan masyarakat

secara luas.

3. Media audio-visual yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah video

animasi yang bertujuan untuk membantu memperjelas pemahaman siswa

terhadap materi yang disampaikan karena materi disampaikan dengan

ilustrasi yang jelas.

I. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data dalam penelitian tindakan

berpusat pada penelitian itu sendiri, karena penelitian berperan sebagai pengamat

penuh dan berperan aktif, Moleong (2002, 121), menyatakan “Kedudukan penelitian dalam penelitian deskritif-kualitatif cukup rumit, mengingat ia sekaligus

sebagai perencana, pelaksana, penganalisis, penafsir data dan pada akhirnya

sebagai pelapor. “ Oleh karena itu peneliti sebagai instrument sangat tepat dan sulit

untuk diganttikan kedudukannya.

Penelitian ini menggunakan dua jenis instrumen yaitu (1) instrument

pengumpul data, untuk mengumpulkan data awal, dan (2) instrument pedoman

penilaian, untuk mengumpulkan prestasi hasil belajar siswa dalam keterampilan

berbicara.

J. Instrumen Pengumpul Data

Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1)

observasi, instrument ini digunakan waktu peneliti dapat memperoleh data awal

sebagai bahan penelitian. (2) catatan lapangan, digunakan pada waktu proses

terjadinya kegiatan belajar mengajar. (3) wawancara, hal ini yang menjadi objek

wawancara guru dan murid, guru dilaksanakan pada awal dan akhir penelitian tapi

siswa dilakukan pada setiap siklus berakhir. (4) kamera foto, tapecorder,

dilaksanakan pada waktu proses kegiatan belajar mengajar yang sebagai bahan

(28)

11

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Data yang dikumpulkan peneliti dalam penelitian ini adalah kemampuan

berbicara siswa melalui media audio visual dalam pembelajaran bahasa dan sastra

Indonesia di sekolah dasar.

Media audio visual yang dibuat oleh peneliti sebanyak empat buah tayangan

cerita. Hal ini disesuaikan dengan tarap kemampuan siswa sekolah dasar.

K. Instrumen Pedoman Penelitian

Instrumen pedoman penelitiian ini memuat tentang alat yang menjadi tolak

ukuran pada siswa selama proses kegiatan belajar mengajar. Komponen yang

tercantum dalam instrument ini adalah (1) isi cerita yang termasuk komponen ini

hubungan topik dengan isinya, struktur isi, dan kualitas isi. dan (2) non kebahasaan

melingkupi keberanian dan kelancaran.

Dengan kriteria penilaian sebagai berikut.

1. Hubungan Isi dengan Dongeng

5 = Isi dongeng cocok dengan judul,sudah mengandung 4 unsur dongeng (tema, latar, tokoh, watak dan amanat dari dongeng)

4 = hanya dapat menceritakan 3 unsur dongeng

3 = hanya dapat menceritakan 2 unsur dongeng

2 = hanya dapat menceritakan 1 unsur dongeng

1 = Benar-benar dirasakan hampir tidak ada hubungan isi dengan cerita. Banyak sekali penyimpangan isi dari topik.

2. Kualiatas Isi

5 = Isi cerita sangat bermakna, sangat bermutu, empat unsur dari dongeng diceritakan.

4 = Isi cerita sudah bagus, bermakna, tetapi belum sampai pada tingkat istimewa hanya tiga unsur dongeng yang diceritakan

3 = Kualitas isi memadai, tidak bagus tetapi tidak pula jelek, baru dua unsur dongeng yang diceritakan

(29)

12

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1 = Isi cerita sangat jauh dari memadai. tidak sesuai dan tidak ada maknanya yang diceritakan.

3. Keberanian

5 = Sangat berani, bersemangat, arah pandangan kedepan.

4 = Berani, cukup bersemangat.

3 = Agak malu, tetapi bersemangat.

2 = Malu-malu dan tidak bersemangat.

1 = Tidak berani tetapi memaksakan diri ke depan.

4. Kelancaran

5 = Sangat lancar, baik dari segi penguasaan isi maupun bahasa.

4 = Pembicaraan lancar, hanya ada beberapa gangguan yang tidak berarti.

3 = Cukup lancar walaupun ada gangguan

2 = Pembicaraan agak kurang lancar, agak sering berhenti.

(30)

151

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arikunto Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Arsjad, Maidar Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Bruce Joyce. 2009. Models of Teaching, Model-model Pengajaran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Burhan Nurgiyantoro.1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia. Yogyakarta: BPFE.

Burhan Nurgiyantoro. 2010. Sastra Anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Cahyani, Isah. dkk 2010. Menulis Proposal Penelitian. Bandung: CV. Bintang Warli Artika.

Depdiknas. (2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual teaching and Learning

(CTL). Jakarta : Ditjen Dikdasmen

Hendrikus, D.W (2005). Retorika: Termpil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, dan Bernegosiasi (berdebat). Yokyakarta: Kanisius.

Herawati Etit. 2010. Keefektifan Model Respon Analisis Untuk Meningkatkan

Kemampuan Apresiasi Cerita Anak dan Membaca Kreatif Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Tesis. Bandung: Universitas pendidikan Indonesia.

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : PT

RajaGrafindo Persada.

Kunandar. 2012. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai

Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kusumah Wijaya. 2011. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks

Majid, Abdul A. 2008. Mendidik dengan Cerita. Bandung: PT Rosdakarya.

(31)

152

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Nurhadi, dkk. 2002. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and

Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas

Negeri Malang.

Nurhadi. (2004). Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang

Rahman. 2011. Model Mengajar dan Bahan Pembelajaran. Jatinangor: Alqa Prisma Interdelta.

Resmini Novi. 2008. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi, Bandung; Percetakan Universitas Pendidikan Indonesia.

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Impelementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. (Cet. II). Jakarta: Kencana.

Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. (Cet. VII). Bandung: Alfabeta.

Sofian, 2010, Pemanfaatan Media Video untuk meningkatkan Motivasi Belajar

Siswa di MAN 3 Jambi.

Sumiati dan Asra. 2009. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Susilana, Rudi. Riyana Cepi (2008). Media Pembelajaran, Bandung: Jurusan Kurtekpend FIP UPI.

Tarigan, H.G (1981). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tarigan.(1988) Berbicara sebagai suatu ketrampilan berbahasa.

Bandung:Angkasa.

Tarigan, H.G. (2008). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Tim KBBI. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

(32)

153

Aemi Lisonda Gultom, 2014

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tarigan.(1988) Berbicara sebagai suatu ketrampilan berbahasa.

Gambar

Gambar  Halaman
Gambar 3.1 Model Spiral Kemmis dan Taggart

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian Naimah dan Utama (2006:19) menunjukkan bahwa pada perusahaan-perusahaan besar, semakin banyak informasi non-akuntansi yang tersedia sepanjang tahun,

[r]

Dalam bab ini dikemukakan mengenai teori-teori yang digunakan sebagai landasan dalam pembahasan masalah yang terdiri dari pengertian manajemen, pengertian manajemen sumber daya

7) Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang Terjal (gb.kiri).. 8) Pembangunan rumah yang benar di

Tujuan ini memperoleh gambaran mengenai manfaat hasil belajar Pengetahuan Bahan Makanan pada praktik pembuatan main course dari seafood berkaitan dengan tahap

[r]

Hasil: Dari 918 orang (100%) sampel pasien TB paru tersangka yang dikumpulkan di RSUP Adam Malik Medan, didapati bahwa 204 orang (22.2%) merupakan pasien yang pertama kali

[r]