ACTIVE ISOLATED STRETCHING LEBIH EFEKTIF DALAM
MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING
DARI PADA LATIHAN ACTIVE ISOLATED STRETCHING
PADA SEKAA TERUNA BANJAR MEDAHAN
I KADEK GUSNADI ADIWINATA
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
PADA SEKAA TERUNA BANJAR MEDAHAN
Skripsi ini diajukan sebagai
Salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA FISIOTERAPI
Oleh:
I KADEK GUSNADI ADIWINATA
NIM. 1202305024
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI,DAN PENDIDIKAN TINGGI
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
5
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat dan karunianya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Penambahan Shaking Massage Pada Latihan Active Isolated Stretching Lebih
Efektif Dalam Meningkatkan Fleksibilitas Otot Hamsring Dari Pada Latihan
Active Isolated Stretching Pada Sekaa Teruna Banjar Medahan”.
Tugas ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar
sarjana Fisioterapi. Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam penyusunan
skripsi penelitian ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terkait
dalam penulisan skripsi ini, yaitu kepada :
1. Prof. Dr. dr. Putu Astawa, Sp.OT., M.Kes selaku dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana
2. Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, MOH, PFK. selaku ketua Program Studi
Fisioterapi Universitas Udayana.
3. I Putu Sutha Nurmawan, SSt.FT, M.Fis selaku pembimbing sekaligus
pengajar yang telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam
penyusunan skripsi ini.
4. Dr.Ni Wayan Tianing, S.Si, M.Kes selaku pembimbing sekaligus pengajar
yang telah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan dalam
penyusunan skripsi ini.
6
5. Seluruh dosen yang telah memberikan bimbingan sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini tepat waktu.
6. Putu Nita Kumalasari, Made Widnyana dan Keluarga Besar saya yang
tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang selalu memberikan motivasi,
semangat agar penulis dapat menyelesaikan skripsi dan pendidikan Sarjana
Fisioterapi.
7. Seluruh teman-teman saya di Axoplasmic, angkatan 2012 Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana, tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Seluruh kerabat dan sejawat fisioterapi yang tidak mungkin penulis
sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi
ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak sangat
diharapkan.
Denpasar, 2 Juni 2016
Penulis
7
PENAMBAHAN SHAKING MASSAGE PADA LATIHAN ACTIVE
ISOLATED STRETCHING LEBIH EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN
FLEKSIBILITAS OTOT HAMSTRING DARI PADA LATIHAN ACTIVE
ISOLATED STRETCHING PADA SEKAA TERUNA BANJAR MEDAHAN
ABSTRAK
Fleksibilitas adalah kemampuan tubuh untuk mengulur diri seluas-luasnya yang ditunjang oleh luasnya gerakan pada sendi. Fleksibilitas salah satu komponen yang dibutuhkan pada setiap orang untuk menjaga kondisi fisik.Kondisi fisik yang baik akan mempengaruhi kualitas dari aktivitas yang dikerjakan, karena apabila keadaan fisik seseorang tanpa mengalami gangguan maka akan meningkatkan produktivitas yang berkualitas, sebaliknya bilamana seseorang tersebut mengalami gangguan maka akan mengganggu aktivitas yang menyebabkan turunnya kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penambahan shaking massage pada latihan active isolated
stretching dan latihan active isolated stretching dalam meningkatkan fleksibilitas
otot hamstring.
Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian randomized two group pre-test and post-test design. Sampel sebanyak 22 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan masing-masing 11 orang. Kelompok 1 diberikan latihan active isolated stretching dan kelompok 2 diberikan penambahan shaking massage pada latihan active isolated stretching.
Hasil penelitian ini dilakukan uji normalitas dengan saphiro wilk test dan uji homogenitas dengan levene’s test.Perbedaan rerata peningkatan fleksibilitas otot hamstring sebelum dan setelah perlakuan setiap kelompok di uji dengan
paired sample t-test, dengan hasil p=0,000 dan beda rerata 6,59±1,496 pada
kelompok 1. Pada kelompok 2 p=0,000 dengan beda rerata 7,95±1,680. Dari uji beda independent sample t-test didapatkan selisih p sebelum dan setelah perlakuan dengan nilai p=0,034 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok 1 dan kelompok 2.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan penambahan shaking massage pada latihan active isolated stretching lebih efektif dalam meningkatkan fleksibilitas otot hamstringdari pada latihan active isolated stretching.
Kata kunci: shaking massage, active isolated stretching, fleksibilitas, otot
hamstring.
8
THE ADDITION OF SHAKING MASSAGE IN ACTIVE ISOLATED STRETCHING IS MORE EFFECTIVE IN IMPROVING FLEXIBILITY OF HAMSTRING MUSCLES THAN ACTIVE ISOLATED STRETCHING
EXERCISE AT SEKAA TERUNA BANJAR MEDAHAN
ABSTRACT
Flexibility is the body's ability to extend themselves widest supported by the extent of movement in the joints. Flexibility is one of the components needed for every people to maintain physical condition. Good physical condition will affect the quality of the activity undertaken, because if the physical conditions of a person without disorder it will be increase the productivity of quality, otherwise when someone is experiencing interference will disrupt the activities that cause a decline in quality. The purpose of this research is to know the effectiveness of the addition of shaking massage on active isolated stretching exercises and active isolated stretching exercises to increase flexibility of hamstring muscles.
This research method is experimental research with the study design randomized two group pre-test and post-test design. The samples were consisting of 22 people who divided into two treatment groups of 11 people each. Group 1 was given active isolated stretching exercises and group 2 was given the addition shaking massage on active isolated stretching exercises.
The results of this study were conducted by normality shapiro wilk test and homogeneity test with levene's test. Differences between the average increase in the flexibility of the hamstring muscles before and after each treatment group tested by paired sample t-test, with the result p = 0.000 and a mean difference of 6.59 ± 1.496 in group 1. In group 2, p = 0.000 with a mean difference 7.95 ± 1.680. From different test independent sample t-test p difference obtained before and after treatment with p = 0.034 (p <0.05). The results showed that there were significant differences between group 1 and group 2.
Based on the results, it can be concluded the addition shaking massage on active isolated stretching exercises are more effective in improving the flexibility of the hamstring muscles of the active isolated stretching exercises.
Keywords: shaking massage, active isolated stretching, flexibility, hamstring muscles.
DAFTAR ISI
2.2.1 Definisi PemendekanOtot Hamstring ... 9
2.2.2 Patofisiologi ... 10
2.2.3 Tanda-tanda Pemendekan Otot Hamstring ... 11
2.3Fleksibilitas ... 12
2.3.1 Definisi ... 12
2.3.2 Keterbatasan Fleksibilitas ... 15
2.3.3 AlatUkur ... 16
2.4Stretching Exercise ... 17
2.4.1 Definisi Stretching Exercise... 17
2.4.2 Fisiologi Stretching ... 18
2.4.3 Mekanisme Pemanjangan Otot ... 21
2.5Active Isolated Stretching ... 23
2.5.1Respon Fisiologis AIS Terhadap Peningkatan Pemanjangan Otot .. 23
2.5.2Prosedur Pelaksanaan Metode Active Isolated Stretching ... 25
2.6 Massage ... 26
2.6.1 Manfaat Massage ... 27
2.6.2 Efek Massage ... 27
2.6.3 Indikasi dan Kontraindikasi Massage ... 29
2.6.3.1 Indikasi Massage ... 29
2.6.3.2 Kontraindikasi Massage ... 30
2.6.4 Shaking Massage ... 30
2.6.4.1 Pengertian Shaking Massage ... 30
2.6.4.2 Prosedur Pelaksanaan Manipulasi Shaking Massage ... 32
Bab III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, HIPOTESIS ... 33
3.1Kerangka Berpikir ... 33
4.3.4 Teknik Pengambilan Sampel... 42
4.4Variabel Penelitian ... 43
4.4.1 Klasifikasi Variabel ... 43
4.5 Definisi Operasional Variabel ... 43
4.6 Instrumen Penelitian ... 45
4.7 Prosedur Penelitian... 46
5.1 Data Karakteristik Sampel ... 54
5.2 Uji Normalitas dan Homogenitas ... 55
5.3 Pengujian Hipotesis ... 56
5.3.1 Uji Beda Rerata Fleksibilitas Otot Hamstring Sebelum dan Sesudah Pelatihan.. ... 56
5.3.2 Uji Komparasi Hasil Selisih Peningkatan Fleksibilitas Otot Hamstring Sebelum dan Sesudah Pelatihan Pada Kedua Kelompok ... 57
BAB VI PEMBAHASAN ... 59
6.1 Pembahasan Hasil Deskripsi Penelitian ... 59
6.2 Distribusi dan Varians Sampel Penilitian ... 59
6.3 Latihan Active Isolated Stretching Dapat Meningkatkan Fleksibilitas Otot Hamstring Pada Sekaa Teruna Banjar Medahan ... 60
6.4 Penambahan Shaking Massage Pada Latihan Active Isolated Stretching Dapat Meningkatkan Fleksibilitas Otot Hamstring Pada Sekaa Teruna Banjar Medahan ... 61
DAFTAR GAMBAR
2.1 Anatomi Otot Hamstring ... 9
2.2 Sit and Reach Test box ... 16
2.4 Mekanisme Kontraksi Otot ... 22
2.5 Memasang Yoga Strap Sebelum Stretching ... 25
2.6 Penguluran Otot Hamstring ... 26
2.7 Manipulasi Shaking ... 31
3.1 Kerangka Konsep ... 36
4.1 Bagan Rancangan Penelitian ... 38
4.2 Sit and Reach Test ... 44
4.2 Alur Penelitian ... 51
DAFTAR TABEL
2.1 Sit and Reach Test ... 17 5.1 Distribusi Data Sampel Berdasarkan Umur ... 54 5.2 Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Peningkatan Fleksibilitas Sebelum dan Sesudah Pelatihan ... 55 5.3 Uji Rerata Peningkatan Fleksibilitas Otot Hamstring Pada Seka Teruna
Sebelum dan Setelah Pelatihan Pada Kelompok 1 dan Kelompok 2 ... 56 5.4 Hasil Uji Independent T-test ... 57 5.5 Persentase Hasil Peningkatan Fleksibilitas Otot Hamstring ... 58
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia setiap hari melakukan gerakan untuk melakukan suatu tujuan
atau aktivitas hari dalam kehidupannya. Salah satu contoh aktivitas
sehari-hari adalah bersekolah,kuliah,bekerja yang merupakan kegiatan rutin.Hal tersebut
menjadi suatu hal yang alamiah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk
menjalankan aktivitas tersebut tubuh harus dalam kondisi yang baik dan sehat,
karena dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan apapun profesinya manusia juga
harus bergerak seperti berjalan, berlari, makan dan sebagainya (Nala, 2011).
Kondisi fisik yang baik akan mempengaruhi kualitas dari aktivitas yang
dikerjakan, karena apabila keadaan fisik seseorang tanpa mengalami gangguan
maka akan meningkatkan kinerja yang efektif, sebaliknya bilamana seseorang
tersebut mengalami gangguan maka akan mengganggu aktivitas yang
menyebabkan turunnya kualitas. Kemampuan melakukan aktivitas secara
fungsional seharusnya dapat dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan bantuan
orang lain, oleh karena itu suatu fungsi gerak fisik pada manusia didukung
beberapa aspek dasar. Aspek dasar tersebut yaitu keseimbangan atau postural
equilibrium, performa otot, daya tahan kardiopulmonal, fleksibilitas/mobilitas,
stabilitas, dan kontrol neuromuskular / koordinasi (Kisner &Colby, 2007).
Seiring berkembangnya kemajuan teknologi dan kemudahan yang ada saat
ini sehingga hampir semua aktivitas dilakukan oleh teknologi/mesin. Yang akan
menyebabkan orang akan menjadi jarang bergerak karena adanya fasilitas dari
teknologi/mesin. Orang yang mengembangkan gerakan biasanya hanya sebagai
hobi, prestasi dan menjaga kebugaran. Semakin canggihnya teknologi/mesin yang
diciptakan untuk memudahkan aktivitas seseorang, tidak selalu dapat
menguntungkan bagi manusia. Karena dengan segala kemudahan yang diciptakan,
ini dapat menyebabkan seseorang menjadi jarang bergerak karena semakin
berkembangnya jaman. Jika orang tersebut tidak mengembangkan gerakannya,
akan ada banyak kemungkinan terjadinya gangguan fungsional tubuh.
Kemungkinan gangguan gerak disebabkan karena inaktivitas, imobilisasi dan
postur yang salah berlangsung lama keadaan ini bisa menyebabkan kekakuan
sendi dan otot terjadi ketegangan, pemendekan, kontraktur, kelemahan dan atrofi.
Banyak orang yang mengalami cedera karena kurangnya fleksibilitas suatu otot
terutama otot hamstring.
Fleksibilitas merupakan rentang gerakan atau kemampuan suatu
jaringan/otot untuk memanjang semaksimal mungkin sehingga tubuh dapat
bergerak dengan lingkup gerak sendi yang maksimal, tanpa adanya rasa sakit atau
nyeri. Bompa (1994) menyebutkan bahwa fleksibilitas dipengaruhi oleh tipe dan
struktur sendi, ligamen, tendon, otot, usia dan jenis kelamin, suhu tubuh dan suhu
otot. Kurangnya mobilitas pada otot dalam waktu yang lama akan mengakibatkan
pemendekan jaringan otot. Selain daripada itu frekuensi pemakaian kerja otot
yang berlebihan akan mengakibatkan otot mengalami kelelahan berupa kontraktur
banyak sekali terjadi di masyarakat maupun pada olahragawan, walaupun kadang
tidak dirasakan sebagai suatu masalah yang serius.
Fleksibilitas dan mobilitas otot merupakan komponen terpenting dalam
suatu gerakan pada manusia, karena semakin fleksibel otot seseorang maka
semakin kecil kemungkinan akan terjadi cedera. Ketika otot berkontraksi,efek
fisiologis otot adalah memanjang dan memendek. Daya kontraktil pada otot
dilakukan untuk menggerakkan tulang dan memudahkan jarak dan gerak pada
persendian. Fleksibilitas yang baik selain memiliki keuntungan yang positif bagi
otot dan persendian, fleksibilitas otot juga mampu meningkatkan kualitas hidup
serta kemampuan fungsional secara mandiri. Menurut Nelson dan Kokkonen
(2007) fleksibilitas otot yang baik akan mencegah terjadinya cedera, mengurangi
terjadinya muscle soreness, dan meningkatkan efisiensi dalam semua aktivitas
fisik yang dilakukan sehari-hari.
Pemendekan otot hamstring merupakan suatu gambaran keterbatasan
gerak akibat dari pemendekan adaptif pada jaringan lunak (Kisner dan Colby,
2007). Penderita pemendekan otot hamstring tidak tampak terlihat kelainan fisik
bagi penderitanya namun secara umum penderita akan merasakan sensasi seperti
rasa tegang dan nyeri serta terbatasnya gerakan pada otot yang mengalami
pemendekan bisa terjadi pada siapa saja dan pemendekan otot hamstring
merupakan faktor yang sangat berisiko terhadap terjadinya cedera pada otot
(Witvrouw et al, 2003).
Otot hamstring merupakan otot yang sering sekali mengalami cedera. Hal
menyebabkan fleksibilitas otot hamstring jadi bermasalah. Otot hamstring
berfungsi sebagai gerakan fleksi lutut, ekstensi hip, eksternal dan internal rotasi
hip. Grup otot ini terdiri atas otot semimembranosus, otot semitendinosus, dan otot
biceps femoris. Hamstring merupakan jenis otot tipe I atau tonik, dimana bila
terjadi suatu patologi akan mengalami penegangan dan pemendekan. Panjang otot
hamstring berkaitan dengan fleksibilitas otot, dimana bila otot mengalami
pemendekan maka fleksibilitas otot juga akan menurun dan timbul nyeri.
Tightness hamstring adalah pemendekan pada otot hamstring.Tightness dapat
terjadi ketika otot bekerja secara intensif, respon otot lebih cepat untuk mengalami
pemendekan. Tightness membuat otot yang berlawanan bekerja lebih keras. Hal
ini akan membuat otot yang bekerja lebih sedikit menjadi lemah. Jika otot yang
memendek tetap dibiarkan, pola jalan seseorang akan ikut berubah.
Untuk mengatasi masalah pemendekan dan gangguan fleksibilitas yang
terjadi serta meningkatkan kerja otot hamstring secara optimal, maka dibutuhkan
suatu terapi atau bentuk latihan dengan cara menggunakan metode latihan
stretching, dan manipulasi massage.Stretching adalah suatu metode atau latihan
fisik yang meregangkan agar otot dapat terulur untuk meningkatkan dan menjaga
fleksibilitas serta mobilitas dari otot dan persendian, serta stretching juga mampu
mengurangi terjadinya cedera dan gangguan postur tubuh. Sedangkan massage
adalah salah satu bentuk teknik manipulasi memijat untuk meringankan rasa nyeri
dan menghasilkan suasana rileks dengan tujuan untuk menghasilkan efek-efek
Metode latihan stretching yang digunakan untuk mengurangi terjadinya
pemendekan otot hamstringdan meningkatkan fleksibilitas otot hamstring adalah
metode active isolated stretching yang merupakan suatu teknik atau metode
penguluran yang menggunakan adaptasi suatu kontraksi otot agonis secara aktif
dan merileksasikan otot antagonisnya melalui inhibisi timbal balik ( Reciprocal
Inhibition ) yang menyebabkan terjadinya peregangan pada otot antagonis tanpa
meningkatkan ketegangan otot ( Muscle Tension ) pada otot agonis (Longo,
2009). Metode ini bertujuan untuk memelihara atau pemulihan fisiologis dan
fungsi otot, tendon, ligamen, dan persendian untuk memfasilitasi mobilitas dari
permukaan jaringan fascia. Sedangkan teknik manipulasi massage yang
digunakan untuk mengurangi adanya rasa nyeri, relaksasi otot, mengurangi
terjadinya pemendekan otot hamstring dan meningkatkan fleksibilitas otot
hamstring adalah teknik manipulasi shaking massage yang merupakan suatu
teknik yang dilakukan dengan cara menggoncang-goncangkan sekelompok otot
tertentu dengan telapak tangan secara berurutan antara tangan kanan dan kiri.
Teknik ini bertujuan untuk merelaksasikan otot, merangsang saraf motorik,
mempercepat aliran darah, dan sangat efektif untuk mengatasi kram otot atau
ketegangan otot.
Dilihat dari manfaat kedua metode dan teknik latihan tersebut penulis
berminat untuk meneliti tentang perbedaan antara penambahan manipulasi
shaking massage pada latihan active isolated stretching dan latihan active isolated
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah latihan Active Isolated Stretching dapat meningkatkan fleksibilitas
otot hamstring pada Sekaa Teruna Banjar Medahan?
2. Apakah penambahan Shaking Massage pada latihan Active Isolated
Stretching dapat meningkatkan fleksibilitas otot hamstring pada Sekaa
Teruna Banjar Medahan?
3. Apakah penambahan Shaking Massage pada latihan Active Isolated
Stretching lebih efektif meningkatkan fleksibilitas otot hamstring daripada
latihan Active Isolated Stretching pada Sekaa Teruna Banjar Medahan?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk membuktikan bahwa latihan Active Isolated Stretching meningkatkan
fleksibilitas otot hamstring pada Sekaa Teruna Banjar Medahan.
2. Untuk membuktikan bahwa penambahan Shaking Massage pada latihan Active
Isolated Stretching meningkatkan fleksibilitas otot hamstring pada Sekaa
Teruna Banjar Medahan.
3. Untuk membuktikan bahwa penambahan Shaking Massage pada latihan Active
Isolated Stretchinglebih efektif meningkatkan fleksibilitas otot hamstring
daripada latihan Active Isolated Stretching pada Sekaa Teruna Banjar
1.4 Manfaat Penelitian
1. Ilmiah dan Teoritis
Untuk menambah wacana tentang intervensi terapi teknik Shaking
Massage dan latihan Active Isolated Stretching dalam meningkatkan fleksibilitas
otot hamstring.
2. Bagi Praktisi
a. Untuk memberikan alternatif intervensi terapi Active Isolated Stretching
dalam peningkatan fleksibilitas otot hamstring.
b. Untuk memberikan alternatif intervensi terapi penambahan Shaking Massage
pada latihan Active Isolated Stretching dalam meningkatkan fleksibilitas otot
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Biomekanik Otot Hamstring
Otot hamstring berfungsi sebagai gerakan untuk fleksi dari knee joint dan
membantu untuk gerakan ekstensi dari hip joint. Hamstring juga merupakan otot
tonik, yang berfungsi sebagai otot stabilitator postural, dan memiliki serat serabut
otot yang tebal yang memiliki kandungan myoglobin dan kapasitas oksidatif tinggi
sehingga tahan terhadap kelelahan yang cukup tinggi (Wismanto, 2011).
Otot hamstring merupakan salah satu group otot besar yang terdiri dari 3
kumpulan otot, yang tersusun oleh Biceps Femoris (BF), Semitendonosus (ST),
dan Semimembranosus (SM) (Gambar 2.1).
2.1.1 Otot Biceps Femoris
Merupakan otot yang terletak paling luar dari otot-otot penyusun
hamstring
Origo : Pada tuberositas ischia, setengah distal linea aspera tulang
femur, bagian lateral supracondylus.
Insersio : Condylus lateral tibia, collum femur.
Fungsi : Ekstensi hip, fleksi knee, lateral rotasi.
2.1.2 Otot Semitendinosus
Terletak diantara semimembranosus dan biceps femoris
Origo : Tuberositas Ischia
Insersio : Permukaan atas bagian medial pada tibia
Fungsi : Otot semitendinosus ini berfungsi sebagai penggerak ekstensi hip,
fleksiknee, dan internal rotasi hip.
2.1.3 Otot Semimembranosus
Letak dari otot semimembranosus berada pada bagian medial diantara
ketiga otot hamstring.
Origo : Berada pada tuberositas ischia
Insersio : Berada pada bagian posterior condyles medialis tibia
Fungsi : Otot semimembranosus ini berfungsi sebagai penggerak ekstensi
hip, fleksi knee, dan internal rotasi.
Gambar 2.1 : Anatomi otot hamstring
Sumber: (Stephen et al, 2006)
2.2 Pemendekan Otot Hamstring
2.2.1 Definisi Pemendekan Otot Hamstring
Pemendekan otot hamstring adalah suatu kondisi patologi pada otot
hamstring yang mengalami pemendekan yang menyebabkan gangguan anatomi
dan fungsional tubuh. Pemendekan disebabkan karena hypermobility. Jaringan
mengalami proses adaptasi dari jaringan yang disebut restrict movement dan
impair mobility. Hal ini sangat berpotensi terjadinya keterbatasan ROM ekstensi
lutut (Kisner et al, 2007). Menurut Wassem, (dalam Weerasekara, 2010)
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemendekan otot hamstring adalah
ketidakmampuan dari ekstensi lutut <1600 dalam posisi sendi panggul fleksi 900,
atau ketidakmampuan gerak SLR <900 (Weerasekara et al, 2010).
2.2.2 Patofisiologi
Otot spasme merupakan kontraksi berkepanjangan dari otot dalam
merespon adanya perubahan sirkulasi metabolisme yang terjadi ketika otot dalam
keadaan terus kontraksi (Kisner et al, 2007). Otot yang berkontraksi secara terus
menerus akan berada pada saat yang namanya kelelahan otot. Kondisi dimana
ATP dipakai secara terus menerus sedangkan produksi ATP tidak berimbang.
Tanpa adanya ATP yang cukup pada muscle fiber maka fungsi dari cross-bridge
dan ion transport tidak berjalan normal. Kelelahan otot dapat menjadi ekstrim jika
kontraksi berkepanjangan sedangkan ATP yang di produksi dengan pemakaian
tidak seimbang, sehingga otot akan mengalami kontraktur. Kontraktur otot terjadi
akibat tidak mampu melakukan kontraksi relaksasi pada otot (Guyton and Hall,
2006).
Pada pemendekan otot hamstring dalam jangka waktu yang lama akan
berpengaruh pada kestabilan otot-otot disekitarnya karena sifat kerja dari otot
seperti mata rantai antara otot yang satu dengan yang lain saling berhubungan.
Otot-otot disekeliling akan bekerja over karena menggantikan fungsi kerja otot
akibat kompensasi menyebabkan pergerakan dari persendian menjadi tidak
selektif. Efek dari pergerakan yang tidak selektif dalam jangka waktu yang lama
akan berakibat otot-otot disekitar ikut mengalami pemendekan (Shumway-Cook
& Wollacott, 2007).
2.2.3 Tanda-Tanda Pemendekan Otot Hamstring
Tanda-tanda yang timbul akibat adanya pemendekan otot hamstring otot
hamstring :
1. Nyeri otot hamstring
Nyeri otot hamstring terjadi karena menurunnya fleksibilitas suatu otot
sehingga kehilangan kemampuan untuk mengulur dan kembali ke bentuk semula.
Hal ini terjadi karena otot tersebut jarang atau tidak pernah terulur secara
maksimal sesuai kemampuannya sehingga jika terjadi pergangan pada otot
tersebut golgi tendon secara ototmatis akan memberikan reaksi perlawanan yang
menimbulkan nyeri saat dilakukan pergangan (Wismanto, 2011)
2. Spasme otot hamstring
Spasme otot merupakan kontraksi berkepanjangan dari otot dalam
merespon adanya perubahan sirkulasi metabolisme lokal yang terjadi ketika otot
dalam keadaan terus kontraksi (Kisner & Colby, 2007)
3. Keterbatasan ROM Lutut Ekstensi
Nyeri sebagai faktor yang sangat mengganggu sehingga secara otomatis
otot akan proteksi diri dengan membatasi ruang gerak dari persendian.
luas gerak sendi. ROM yang terbatas dan lokasi area nyeri maka dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari (Wismanto, 2011)
4. Menurunnya Fleksibilitas Otot Hamstring
Otot yang tidak pernah terulur secara maksimal dalam jangka waktu yang
lama atau otot tersebut bekerja dalam kondisi yang statis akan menyebabkan
penurunan fleksibilitas (Wismanto, 2011)
5. Kelemahan Otot Hamstring
Reaksi tubuh yang protektif karena adanya nyeri menyebabkan otot
tersebut akan membatasi ruang geraknya sehingga otot tidak akan pernah terulur
dan berkontraksi secara maksimal. Otot yang jarang digerakkan atau terulur secara
maksimal lama kelamaan otot tersebut akan mengalami kelemahan (Wismanto,
2011).
6. Gangguan Postur
Fleksibilitas yang menurun akan berdampak pada struktur organ yang lain
yaitu postur tubuh akan berubah. Postur yang tidak stabil dapat menyebabkan
munculnya berbagai permasalahan sehingga mengganggu pada saat beraktivitas
sehari-hari (Wismanto, 2011).
2.3 Fleksibilitas
2.3.1 Definisi
Membicarakan masalah fleksibilitas selalu mengacu pada kemampuan
ruang gerak sendi atau persendian tubuh. Fleksibilitas atau kelentukan adalah
luasnya gerakan pada sendi. Kemampuan untuk menggerakan tubuh dan anggota
tubuh seluas-luasnya, berhubungan erat dengan kemampuan gerak kelompok otot
besar dan kapasitas kinerjanya. Kemampuan ini terkait pula dengan peregangan
otot dan jaringan sekeliling sendi (Nala, 2011).
Fleksibilitas otot yang baik dikatakan apabila dapat berkontraksi secara
konsentrik maupun eksentrik dengan maksimal atau full ROM dan tanpa adanya
rasa nyeri atau gangguan. Otot hamstring yang mengalami gangguan atau
tightness menyebabkan seseorang mudah untuk terkena cedera (strain) dan dapat
berpengaruh pada kekuatan dan keseimbangan dari otot sehingga kerja dari otot
tidak bisa maksimal dan sinergis (Gago. dkk, 2013).
Menurut Frankl (dalam Suciptha, 2013), terdapat faktor internal dan faktor
eksternal yang mempengaruhi fleksibilitas yakni:
1. Faktor Internal Fleksibilitas :
a. Jaringan Otot : jaringan otot terbuat dari bahan elastis. Hal ini diatur dalam
bundle dari serat paralel.
b. Reseptor Peregangan : reseptor peregangan memiliki dua bagian: sel
spindle dan tendon golgi. Sel spindle, terletak di pusat otot, mengirim
pesan untuk otot untuk berkontraksi. Golgi reseptor tendon yang terletak
dekat ujung dari serat otot dan mengirim pesan untuk otot untuk relaksasi
c. Jaringan Areolar :adalah permeabel dan secara luas didistribusikan ke
seluruh tubuh. Jaringan ini bertindak sebagai pengikat untuk semua
d. Tendon : tendon tidak elastis dan bahkan kurang elastis. Tendon
dikategorikan sebagai jaringan ikat. Jaringan ikat mendukung,
mengelilingi, dan mengikat serat- serat otot. Mereka mengandung jaringan
elastis baik dan non-elastis.
e. Ligamen : ligamen terdiri dari dua jaringan yang berbeda yakni putih dan
kuning. Jaringan ikat putih tidak melar, tetapi sangat kuat sehingga bahkan
jika tulang yang patah jaringan akan tetap di tempatnya. Jaringan putih
memungkinkan kebebasan subjektif dari gerakan. Jaringan elastis kuning
dapat ditarik jauh saat kembali ke posisi semula.
f. Sendi : sendi dalam tubuh manusia dikelilingi oleh membran sinovial dan
tulang rawan artikular yang berfungsi melindungi dan memelihara sendi
dan permukaan sendi. Meningkatkan elastisitas otot dan luas gerak sendi
dengan mobilitas tertentu dapat meningkatkan fleksibilitas.
2. Faktor Eksternal Fleksibilitas ;
a. Pengaruh Usia: dari usia anak-anak, remaja, dan dewasa fleksibilitas
seseorang seperti kurva. Diawali usia anak – anak yang semakin
meningkat fleksibilitasnya namun sesudah remaja mulai menurun karena
gaya hidup aktif pada usia anak – anak mulai tidak dilakukan, apalagi pada
usia dewasa yang tentunya muncul berbagai masalah degeneratif seperti
nyeri sendi, nyeri otot dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin : secara umum perempuan lebih fleksibel daripada laki-laki.
testosteron yang memicu pertumbuhan dan pemendekan otot. Sedangkan
perempuan memiliki hormone esterogen yang lebih tinggi yang dapat
meningkatkan panjang otot dan kelemahan sendi.
c. Cidera : karena adanya cidera pada sendi, otot, tulang, dan ligament maka
seseorang akan takut menggerakkan anggota gerak karena nyeri sehingga
akan berpengaruh pada fleksibilitas
d. Pengalaman : seorang yang memiliki pengalaman dengan olahraga yang
membutuhkan gerakan dinamis yang besar seperti tari, senam atau bela
diri, akan memiliki jangkauan yang lebih baik gerak dari seseorang dengan
gaya hidup biasa saja atau sedikit pengalaman.
e. Kurang Aktif: orang yang aktivitasnya banyak diam akan berpengaruh
pada fleksibilitas. Hal ini terjadi karena jaringan lunak dan sendi menyusut
sehingga kehilangan daya regang otot , dimana jika seseorang tidak aktif
maka otot-otot dipertahankan pada posisi memendek dalam waktu yang
lama.
2.3.2 Keterbatasan Fleksibilitas
Keterbatasan fleksibilitas merupakan keadaan dimana sendi dan otot tidak
dapat digerakkan secar full ROM secara aktif maupun pasif. Hal ini dapat terjadi
karena suatu kondisi seperti terjadinya kekakuan sendi (joint stiffness) serta
pemendekan otot. Pada keterbatasan fleksibilitas otot hamstring biasanya
disebabkan beberapa faktor antara lain otot hamstring yang mengalami tightness
menurunnya mobilitas panggul, aktivitas yang berlebihan, serta pelatihan yang
tidak benar.
Pada kejadian nyeri punggung bawah, apabila diberikan latihan
penguluran rutin terhadap otot hamstring maka akan dapat menurunkan kualitas
rasa nyeri. Otot Hamstring yang berfungsi untuk gerakan fleksi lutut dan ekstensi
panggul dalam aktivitas sehari – hari jarang diberikan latihan khusus (Miller,
2010)
2.3.3 Alat Ukur
Sit and Reach Test merupakan metode pengukuran fleksibilitas otot
hamstring yang menggunakan media berupa boks terbuat dari papan yang
tingginya 30 cm, lalu diatas box diletakan penggaris ukur yang panjangnya 25 cm
keluar dari box dan -26 cm sampai ke ujung dari box tersebut. Gambar Sit and
Reach box disajikan pada Gambar 2.2
Gambar 2.2Sit and Reach box (Panteleimon et al, 2010)
Prosedurnya pada saat pengukuran dilakukan duduk di lantai dengan lutut
ekstensi penuh dan pergelangan kaki posisi normal terhadap boks. Kemudian
diperintahkan untuk menempatkan satu tangan di atas yang lain dan
perlahan-lahan maju sejauh mungkin sambil menjaga lutut tetap ekstensi. Gerakan
posisi akhir dari ujung jari (Quinn, 2008; Panteleimon et al, 2010). Kriteria
penilaian sit and reach test disajikan pada Tabel 2.1
Tabel 2.1Sit and Reach Test(Panteleimon et al, 2010)
Putra (cm) Kriteria
>40 Sangat baik
34-39 Diatas rata-rata
30-33 Rata-rata
25-29 Bawah rata-rata
<24 Buruk
2.4. Stretching Exercise
2.4.1 Definisi
Stretching exercise merupakan latihan mobilitas yang dapat dilakukan
secara pasif maupun aktif baik bantuan dari orang lain maupuan fisioterapis
(pendamping), bisa juga dilakukan secara mandiri. Stretching exercise ini dapat
memperkuat dan memperpanjang struktur kolagen. Latihan peregangan secara
alami dibatasi oleh rasa nyeri. Imobilitas nantinya akan perlu dilanjutkan dengan
mobilisasi untuk membantu reabsorsi jaringan parut dan rekapilerisasi area yang
mengalami cedera. Stretching exercise juga penting dalam upaya mencegah
kontraktur (pemendekan) sendi (Ylinen, 2008). Menurut (Nelson & Kokkonen,
2007) stretching merupakan bagian dasar dari optimalisasi kesehatan dan aktivitas
penguluran pada otot yang akan membantu meningkatkan fleksibilitas dan
mobilitas otot serta memaksimalkan Range of Motion (ROM) dari persendian.
2.4.2. Fisiologi Stretching
Secara akut peregangan dapat menyebabkan peningkatan dari compliance
otot yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena adanya sifat viscoelastic dari
serabut otot sehingga apabila diberikan suatu gaya maka serabut tersebut akan
memanjang dan apabila gaya tersebut dihilangkan panjang dari otot tersebut akan
berkurang seiring waktu.
Dalam tendon otot terdapat reseptor (proprioceptors) bertugas mendeteksi
adanya setiap perubahan di dalam otot yang kemudian diinformasikan ke susunan
saraf pusat, dan dari susunan saraf pusat dikeluarkan perintah untuk
menyesuaikan kondisi otot. Sehingga akan timbul gerakan tubuh baru yang telah
disesuaikan dengan gerakan tubuh secara sistemik. Proprioceptors berperan
menginformasikan stimulus secara konstan ke susunan saraf pusat.
Proprioceptors berada di dalam otot, tendon, dan sambungan-sambungan
termasuk di sekitar jaringan pelindung seperti kapsul, ligamen, serta
selaput-selaput lain dan dalam labirin dari telinga dalam.
Proprioceptors dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu : (1)muscle
proprioceptors yang terdiri dari muscle spindle dan golgi tendon organs, (2) joint
and skin proprioceptors, dan (3) labyrinthine and neck proprioceptors.Muscle
otot, dimana terdiri dari muscle spindle dan golgi tendon organs. Jadi setiap
pergerakan otot tidak lepas dari peranan muscle spindle dan golgi tendo organs.
Muscle spindle bertugas menerima rangsang dari regangan otot yang
terletak di dalam otot. Regangan yang cepat akan menghasilkan impuls yang kuat
pada muscle spindle. Adanya rangsangan yang kuat akan menyebabkan refleks
muscle spindle dengan cara mengirim impuls ke spinal cord menuju jaringan otot
dengan cepat, yang akan menimbulkan kontraksi otot yang cepat dan kuat.
Peranan dari muscle spindle yaitu dalam proses pergerakan atau pengaturan
motorik. Peran muscle spindle dalam pengaturan motorik adalah mendeteksi
adanya suatu perubahan panjang serabut otot dan kecepatan perubahan panjang
otot. Muscle spindle bekerja sebagai pembanding dari panjang kedua jenis serabut
otot intrafusal dan ekstrafusal. Bila panjang serabut ekstrafusal lebih besar
daripada panjang serabut intrafusal, maka spindle menjadi terangsang untuk
berkontraksi. Sebaliknya, bila panjang serabut ekstrafusal lebih pendek daripada
serabut intrafusal, maka spindle menjadi terinhibisi (keadaan yang menyebabkan
refleks seketika untuk menghambat terjadinya kontraksi otot). Jadi spindle
tersebut dapat dirangsang atau dihambat. Peregangan suatu kelompok otot
hendaknya dilakukan secara perlahan dan jangan dilakukan secara tiba – tiba,
karena akan merangsang muscle spindle dan menyebabkan reflek regang.
Stretch receptor letaknya di dalam tendon otot yang disebut golgi tendon
organs (GTO), tepat di luar perlekatan pada serabut otot. Tegangan otot yang
berlebihan mengakibatkan munculnya refleks GTO. Impuls dari GTO
berupa hambatan respon( negative feed-back) terhadap kontraksi otot yang
terjadi. Proses tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya sobekan otot
sebagai akibat tegangan yang berlebihan. Jadi dapat disimpulkan bahwa refleks
GTO merupakan pelindung untuk mencegah terjadinya kerobekan otot, namun
dapat juga bekerja sama dengan muscle spindle untuk mengontrol seluruh
kontraksi otot dalam pergerakan tubuh. Golgi tendon organjuga memiliki fungsi
dalam proses pergerakan atau pengaturan motorik yakni mendeteksi ketegangan
selama kontraksi otot atau peregangan otot. Golgi tendon organs dengan muscle
spindle memiliki perbedaan fungsi.
Pada golgi tendon organ memiliki fungsi sebagai pendeteksi adanya
ketegangan otot, sedangkan muscle spindle berfungsi untuk mendeteksi perubahan
panjang serabut otot. Golgi tendon organ memunculkan sinyal yang dihantarkan
ke medula spinalis untuk menyebabkan efek refleks pada otot yang bersangkutan.
Efek inhibisi dari golgi tendon organ menyebabkan rileksasi seluruh otot secara
tiba-tiba. Efek inhibisi terjadi pada waktu kontraksi atau regangan yang kuat pada
suatu tendon. Keadaan ini menyebabkan suatu refleks seketika yang menghambat
kontraksi otot serta tegangan dengan cepat berkurang. Pengurangan tegangan ini
berfungsi sebagai suatu mekanisme protektif untuk mencegah terjadinya robek
pada otot atau lepasnya tendon dari perlekatannya ke tulang.
Peregangan mempengaruhi sistem refleks pada otot, yang mengontrol efek
neural, meliputi refleks regang, refleks regang terbalik dan persepsi dan kontrol
teknik peregangan, menyebabkan kontraksi secara refleks dari musculotendinous
unit (MTU), menyebabkan persepsi nyeri.
Hal ini menyebabkan teraktivasinya Golgi Tendon Organ (GTO) yang
memiliki efek inhibisi terhadap kontraksi dan pacinian corpuscles. Kedua refleks
ini menyebabkan relaksasi pada MTU dan berkurangnya persepsi nyeri. Pada
gerakan peregangan yang dilakukan berulang terjadi perubahan dari tingkat
eksitabilitas neuron akibat paparan yang memanjang dari masukan afferen. Hal ini
menyebabkan terjadinya peningkatan toleransi terhadap maneuver peregangan
yang dilakukan. (Schwellnus, 2009).
2.4.3 Mekanisme Pemanjangan Otot
Terjadinya kontraksi otot dimulai dengan adanya beda potensial pada
motor end plate akibat suatu stimulus sehingga tercetusnya suatu potensial aksi
pada serat otot. Penyebaran depolarisasi terjadi ke dalam tubulus T dan
mengakibatkan pelepasan Ca2+ dari sisterna terminal retikulum sarkoplasmik
serta difusi Ca2+ ke filamen tebal dan filamen tipis. Selanjutnya terjadi suatu
pengikatan Ca2+ oleh troponin C, yang membuka tempat pengikatan myosin dari
Gambar 2.3 Mekanisme Kontraksi Otot Sumber: (Huxley and Hansen, 2010)
Proses diatas tersebut menyebabkan terbentuknya ikatan silang (cross
links) antara actin dan myosin dan terjadi pergeseran filamen tipis pada filamen
tebal (pemendekan atau kontraksi). Pada tahap relaksasi Ca2+ akan dipompakan
kembali kedalam retikulum sarkoplasmik dan terjadi pelepasan Ca2+ dari
troponin sehingga interaksi antara actin dan myosin berhenti. Saat proses otot
berkontraksi dan relaksasi maka otot akan mengalami perubahan panjang yang
dihasilkan serabut otot. Stretching akan memberikan efek langsung pada muscle
spindle. Muscle spindle akan menyampaikan stimulus ke medula spinalis
kemudian sistem saraf pusat. Impuls yang diproses menimbulkan stretch reflex
atau refleks miostatis untuk mencoba menahan perubahan panjang otot yang
Apabila perubahan panjang otot berlangsung secara tiba-tiba maka kontraksi akan
semakin kuat.
2.5 Active Isolated Stretching (AIS).
Active Isolated Stretchingmerupakan suatu teknik atau metode stretching
yang menggunakan adaptasi suatu kontraksi otot agonis secara aktif dan
merelaksasikan otot antagonisnya melalui inhibisi timbal balik (Reciprocal
Inhibition) yang menyebabkan terjadinya peregangan pada otot antagonis tanpa
meningkatkan ketegangan otot (Muscle Tension) pada otot agonis (Longo, 2009).
Teknik Active Isolated Stretchingatau yang biasa disebut dengan metode Mattes
merupakan suatu pengembangan metode myofascial technique yang memiliki
tujuan untuk pemulihan fisiologis dan fungsi otot, tendon, ligamen, dan
persendian untuk memfasilitasi mobilitas dari permukaan jaringan fascia.
Menurut Longo (2009) Active Isolated Stretching sangat baik untuk
mengoptimalkan fleksibilitas pada otot, gerakan aktif yang memungkinkan otot
antagonis untuk relaksasi, sehingga terjadi peningkatan fleksibilitas tanpa
hambatan pada otot antagonisnya. Adapun tujuan dari pemberian Active Isolated
Stretchingadalah untuk mencegah dan atau mengurangi tightness serta mengulur
struktur jaringan lunak (soft tissue) yang berkaitan dengan spasme sehingga dapat
meningkatkan mobilitas dan fleksibilitas pada struktur soft tissue.
2.5.1 Respon Fisiologis Active Isolated StretchingTerhadap Peningkatan
Secara umum Active Isolated Stretching dilakukan untuk mendapatkan
penambahan panjang dari otot dan jaringan ikat. Dalam prosedur Active Isolated
Stretching pasien menunjukkan suatu kontraksi isotonik pada otot agonis dan pada
otot yang mengalami pemendekan (shortness), secara aktif akan memanjang.
Alasan penerapan teknik ini adalah bahwa kontraksi isotonik yang dilakukan saat
Active Isolated Stretching secara fisiologis akan merespon otot antagonis untuk
menghasilkan pemanjangan secara maksimal dan juga tanpa perlawanan. Adanya
kontraksi isotonik akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari Muscle
Spindel untuk segera mengulur panjang otot yang maksimal. GTO akan terlibat
dan menghambat ketegangan otot bila otot sudah mengulur maksimal sehingga
otot dapat dengan mudah di stretching.
Menurut Wismanto (2011), pemberian Active Isolated Stretching dapat
mengurangi iritasi terhadap saraf Aδ dan saraf tipe C yang menimbulkan nyeri
akibat adanya abnormal cross link. Hal ini dapat terjadi karena pada saat diberikan
Active Isolated Stretching serabut otot ditarik keluar sampai panjang sarkomer
penuh. Ketika hal ini terjadi maka akan membantu meluruskan kembali beberapa
serabut atau abnormal cross link pada otot yang memendek. Active Isolated
Stretching dapat bermanfaat pada serabut otot yang mengalami pemendekan.
Serabut otot yang terganggu akan menyebabkan penurunan elastisitas otot akibat
adanya taut band dalam serabut otot. Sarkomer sebagai komponen elastis di
dalam serabut otot akan mengalami gangguan. Pemberian Active Isolated
Stretchingyang dilakukan secara perlahan akan menghasilkan peregangan pada
terganggu. Active Isolated Stretching dapat mencegah dan atau mengurangi
tightness atau pemendekan otot dan perasaan yang tidak nyaman. Active Isolated
Stretchin gmerupakan stretching yang efektif, karena berpengaruh terhadap semua
otot hamstring yang membatasi gerakan.
2.5.2 Prosedur Pelaksanaan Metode Active Isolated Stretching.
Prosedur tindakan metode Aktive Isolated Stretching adalah sebagai berikut:
1. Sampel diminta untuk berbaring diatas matras dalam posisi yang nyaman
2. Sampel diminta untuk memasang yoga strap yang direkatkan permukaan
telapak kaki.
3. Sampel diminta untuk mengangkat kakinya (dengan lutut dalam posisi full
extensi dan ankle dalam posisi dorsi flexion) sehingga membentuk hip dalam
posisi fleksi.
4. Sampel menahan posisi tersebut selama 2 detik dan dilakukan pengulangan
sebanyak 10 kali dan 2 set.
5. Sebelumnya sampel diberi demo terlebih dahulu oleh Fisioterapis.
Gambar 2.5 Penguluran Otot Hamstring (Amin, 2015).
2.6 Massage
Kata masase atau massage berasal dari bahasa Arab “mash” yang berarti
menekan dengan lembut, atau dari Yunani “massien” yang berarti memijat atau
melulut. Massage merupakan salah satu manipulasi sederhana yang pertama-tama
ditemukan oleh manusia untuk mengelus-elus rasa sakit. Hampir setiap hari
manusia melakukan pemijatan sendiri. Semenjak 3000 tahun sebelum masehi,
massage sudah digunakan sebagai terapi.
Massage adalah tindakan penekanan oleh tangan pada jaringan lunak,
biasanya otot tendonatau ligamen, tanpa menyebabkan pergeseran atau perubahan
posisi sendi guna menurunkan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan atau
meningkatkan sirkulasi. Gerakan-gerakan dasar meliputi gerakan memutar yang
dilakukan oleh telapak tangan, gerakan menekan dan mendorong kedepan dan
kebelakang menggunakan tenaga, menepuk- nepuk, memotong-motong,
meremas-remas, dan gerakan meliuk-liuk. Setiap gerakan gerakan menghasilkan
tekanan, arah, kecepatan, posisi tangan dan gerakan yang berbeda-beda untuk
menghasilkan efek yang diinginkan pada jaringan yang dibawahnya (Simkin,
2.6.1 Manfaat Massage
Priyonoadi (2008) mengungkapkan, tujuan dan manfaat Massage secara
umum adalah :
1) Melancarkan peredaran darah, terutama dorongan terhadap darah veneus atau
darah yang menuju ke jantung. Kelancaran peredaran darah ini selanjutnya
akan mempercepat proses pembuangan sisa-sisa pembakaran dan penyebaran
sari makanan ke jaringan-jaringan tubuh.
2) Merangsang persarafan, terutama saraf tepi (perifer) untuk meningkatkan
kepekaan terhadap rangsang
3) Membersihkan dan menghaluskan kulit.
4) Menurunkan ketegangan otot dan relaksasi otot untuk mempertinggi daya
kerjanya.
5) Mengurangi atau menghilangkan ketegangan saraf dan mengurangi rasa sakit
atau nyeri
2.6.2 Efek Massage
Menurut Wijanarko dan Riyadi (2010), ada beberapa efek massage yaitu
efek terhadap peredaran darah, lymphe, otot, kulit, dan saraf
1) Efek massage terhadap peredaran darah dan lymphe
Massage menimbulkan efek memperlancar peredaran darah. Manipulasi
yang dikerjakan dengan gerakan yang menuju kearah jantung, secara mekanis
akan membantu mendorong pengaliran darah dalam pembuluh vena menuju
ini berarti membantu penyerapan sisa-sisa pembakaran yang tidak diperlukan
lagi.
2) Efek Massage Terhadap Otot
Massage memberi efek memperlancar proses penyerapan sisa-sisa
pembakaran yang berada didalam jaringan otot yang dapat menimbulkan
kelelahan. Dengan manipulasi yang memberikan penekanan dan peremasan
kepada jaringan otot maka darah yang ada didalam jaringan otot, yang
mengandung zat-zat sisa pembakaran yang tidak diperlukan lagi terlepas keluar
dari jaringan otot dan masuk kedalam pembuluh vena. Kemudian saat penekanan
kendor maka darah yang mengandung bahan bakar baru mengalirkan bahan
tersebut kejaringan, sehingga kelelahan dapat dikurangi. Selain itu massage juga
memberi efek bagi otot yang mengalami ketegangan atau pemendekan karena
massage pada otot berfungsi mendorong keluarnya sisa-sisa metabolisme,
merangsang saraf secara halus dan lembut agar mengurangi atau melemahkan
rangsang yang berlebihan pada saraf yang dapat menimbulkan ketegangan.
3) Efek Massage Terhadap Kulit
Massage memberi efek melonggarkan perlekatan dan menghilangkan
penebalan-penebalan kecil yang terjadi pada jaringan dibawah kulit, dengan
demikian memperbaiki penyerapan.
4) Efek Massage Terhadap Saraf
Sistem Saraf Parifer adalah bagian dari sistem saraf yang didalam
sarafnya terdiri dari sel-sel yang membawa informasi ke sel saraf sensorik dan
Sel-sel sistem saraf sensorik mengirimkan informasi ke sistem saraf pusat dari
organ-organ internal atau dari rangsangan eksternal. Sel-sel sistem saraf motorik tersebut
membawa informasi dari SSP ke organ, otot, dan kelenjar. Sistem saraf parifer
dibagai menjadi dua cabang yaitu sistem saraf somatik dan sistem saraf otonom.
Sistem saraf somatik terutama merupakan sistem motorik, yang semua sistem
saraf ke otot, sedangkan sistem saraf otonom merupakan adalah sistem saraf yang
mewakili persarafan motorik dari otot polos, otot jantung dan sel-sel kelenjar.
Sistem otonom ini terdiri dari dua komponen fisiologis dan anatomis yang
berbeda, yang saling bertentangan yaitu sistem simpatik dan parasimpatik. Dapat
melancarkan sistem saraf dan meningkatkan kinerja saraf sehingga tubuh dapat
lebih baik.
2.6.3 Indikasi dan Kontraindikasi Massage
2.6.3.1 Indikasi Massage
Indikasi merupakan suatu keadaan atau kondisi tubuh dapat diberikan
manipulasi massage, serta massage tersebut akan memberikan pengaruh yang
positif terhadap tubuh. Indikasi dalam massage adalah:
1) Keadaan tubuh yang sangat lelah.
2) Kelainan-kelainan tubuh yang diakibatkan pengaruh cuaca atau kerja yang
kelewat batas (sehingga otot menjadi kaku dan rasa nyeri pada persendian
2.6.3.2 Kontraindikasi Massage
Kontraindikasi terhadap massage adalah sebagai keadaan atau kondisi
tidak tepat diberikan massage, karena justru akan menimbulkan akibat yang
merugikan bagi tubuh itu sendiri. Kontra- indikasi dalam massage adalah:
1. Pasien sedang menderita penyakit kulit. Adanya luka-luka baru atau cedera
akibat berolahraga atau kecelakaan.
2. Sedang menderita patah tulang, pada tempat bekas luka, bekas cedera, yang
belum sembuh betul.
3. Pada daerah yang mengalami pembengkakan atau tumor yang diperkirakan
sebagai kanker ganas atau tidak ganas
4. Pasien dalam keadaan menderita penyakit menular.
2.6.4 Shaking Massage
2.6.4.1 Pengertian Shaking Massage
Manipulasi shaking dapat dilakukan menggunakan seluruh permukaan
tapak tangan dan jari-jari dengan cara bersamaan pada bagian otot yang tebal dan
lebar. Otot yang panjang dan sempit cukup dengan menggunakan jari-jari atau
satu tapak tangan saja, seolah-olah menjepit otot dengan ujung-ujung jari
kemudian digoncang kekanan dan kekiri atau ke atas dan bawah. Manipulasi
ShakingMassage diberikan beberapa saat dengan singkat dan kuat karena berat
dalam melakukannya . Manfaat dari manipulasi shaking adalah: (1) meningkatkan
kelancaran peredaran darah, terutama dalam penyebaran sari-sari makanan
yang lebih berat, tanpa memberi pengaruh yang merugikan pada persarafan
maupun serabut-serabut otot itu sendiri.
Shaking adalah gerakan tangan untuk mengangkat dan menekan otot
dengan menggunakan tiga jari, ibu jari, atau tangan dan siku. Manfaat dari
shaking massage yaitu :
1. Dengan bergantian meremas dan santai, pembuluh darah dan pembuluh
limfatik dikosongkan dan diisi, membawa nutrisi segar ke otot-otot.
2. Membantu untuk memecah dan membuang deposit lemak disekitar paha.
3. Memperlancar aliran darah.
4. Setiap racun yang telah terakumulasi dikeluarkan dari jaringan yang lebih
dalam.
5. Membantu untuk mencegah kekakuan otot.
6. Menenangkan saraf.
7. Membawa suplai darah yang lebih banyak ke otot.
8. Membantu melindungi otot agar tidak kaku atau rileksasi otot.
9. Membebaskan perlengketan jaringan.
Gambar manipulasi shaking disajikan pada Gambar 2.7
Gambar 2.6 Manipulasi shaking
2.6.4.2Prosedur pelaksanaan manipulasi shaking massage
1) Pasien dalam posisi tengkurap dan rileks
2) Fisioterapis memberikan teknik manipulasi shaking kepada pasien dengan
cara melakukannya adalah dengan jari-jari membengkok pada bagian paha
khususnya otot hamstring yang dilakukan dengan gerakan-gerakan ke
samping, ke atas dan ke bawah (menggoncangkan). Manipulasi dilakukan
dengan irama yang hidup serta tangan berpindah-pindah dan berdekatan.