78
BAB IV
Selasar Pendidikan Kartini Salatiga
4.1. Tinjauan Bangunan Cagar Budaya di Kota Salatiga 4.1.1. Sejarah Kota Salatiga
Sejarah berdirinya kota Salatiga tertulis di sebuah prasasti di dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo Lor, Salatiga, yang kemudian lebih dikenal dengan prasasti Plumpungan. Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swantantra bagi suatu daerah yang ketika itu bernama Hampra, yang kini bernama Salatiga.Perdikan berarti suatu daerah dalam kerajaan tertentu yang dibebaskan dari segala kewajiban pembayaran pajak atau upeti. Dasar pemberian perdikan itu diberikan kepada desa atau daerah yang benar-benar berjasa kepada seorang Raja.
Prasasti yang berhasil diterjemahkan oleh ahli epigraf Dr. J. G. de Casparis dan disempurnakan oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka ini diperkirakan dibuat pada hari Jumat, 24 Juli 750 Masehi. Ditulis oleh seorang Citraleka atau penulis, dibantu oleh sejumlah pemdeta dan ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Di dalam prasasti tersebut terdapat sebuah tulisan yang kini sangat akrab terdengar di telinga orang Salatiga bahkan menjadi salah satu slogan Kota Salatiga, yaitu “Srir
Astu Swasti Prajabyah”, yang artinya adalah “Semoga Bahagia, Selamatlah
Rakyat Sekalian”. Sejarawan memperkirakan, bahwa masyarakat Hampra telah berjasa kepada Raja Bhanu yang merupakan raja besar yang memiliki daerah
79
kekuasaan meliputi Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa dan Kabupaten Boyolali. Melalui Perda no. 15 tahun 1995 maka atas dasar catatan prasasti Plumpungan ini maka pada tanggal 24 Juli diperingati sebagai hari Jadi Kota Salatiga.
Setelah terbentukya kota Hampra atau kini Kota Salatiga, tidak banyak jejak-jejak historis dari Kota Salatiga, baik bukti secara tertulis maupun berupa artefak. Bahkan lokasi sekitar prasasti Plumpungan kini juga telah banyak perubahan, seperti semakin banyaknya perumah-perumahan modern yang seakan-akan menghapu jejak sejarah kota Salatiga. Bahkan di sekitar lokasi tempat Prasasti kini masuk dalam lokasi rencana proyek jalan bebas hambatan Semarang – Solo. Hal ini dikhawatirkan akan semakin menghilangkan jejak-jejak sejarah di Kota Salatiga.
Gambar 4.2
Prasasti Plumpungan Salatiga Sumber :www.salatiga.nl
80
Jejak sejarah perkembangan Kota Salatiga baru diketahui kembali atau terlacak pada jaman penjajahan Belanda. Jejak- jejak tersebut terdokumentasi dengan lumayan baik melalui bukti tertulis, foto-foto, ataupun berupa artefak, yang salah satunya adalah bangunan. Bangunan-bangunan peninggalan jaman penjajahan kini banyak di antaranya yang menjadi bangunan cagar budaya di Salatiga. Bangunan cagar budaya di Kota Salatiga sebagian besar adalah bangunan hasil peninggalan dari jaman penjajahan Belanda. Eddy Supangkat (2010) mengatakan bahwa karena letaknya yang strategis di antara dua kota yaitu Semarang dan Solo. Sehingga dalam perkembangannya kota Salatiga dijadikan sebuah kota garnisum atau kota militer. Perkembangan selanjutnya kota Salatiga tumbuh menjadi markas besar pasukan kavaleri dan artileri dari tentara kerajaan Hindia Belanda yang lebih sering disebut KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische
Leger), mereka membangunnya di sisi selatan Salatiga. Karena alasan tersebut
maka banyak orang-orang Belanda yang kemudian tinggal di Kota Salatiga, dan membangun berbagai macam bangunan di kota tersebut, bahkan pada tahun 1917 jumlah warga Belanda yang tinggal di Salatiga mencapai 20% dari jumlah total penduduk Kota Salatiga pada masa itu. Berdasarkan alasan itu pulalah pada tahun tersebut kota Salatiga mendapat status sebagai sebuah Gemeente (Kotapraja), berdasarkan Staatsblad No. 26 tahun 1917. Setelah menyandang status tersebut Salatiga dipimpin oleh seorang Burgemeester (Walikota) dengan didampingi oleh Gemeenteraad (Dewan Kota), yang terdiri dari 8 orang Belanda, 2 orang pribumi, dan 1 orang China.
81
Menurut Eddy Supangkat (2010), dalam masa itu perkembangan kota Salatiga termasuk maju, karena pada masa itu Salatiga sudah mempunyai sebuah kantor tata kota atau Kantor Palnologi di Prins Hendrikstraat (Jalan Yos Sudarso kini). Selain itu sektor pekerjaan umum mebuka jalan-jalan baru seperti :
1. Tontangscheweg (Jl. Diponegoro) 2. Soloscheweg (Jl. Jend. Sudirman) 3. Bringinscheweg (Jl. Pattimura) 4. Wilhemminalaan (Jl. Pemuda) 5. Emmalaan (Jl. Adisutjipto) 6. Prinsenlaan (Jl. Tentara Pelajar) 7. Julianalaan (Jl. Wahid Hasyim) 8. Arcterweg (Jl. Pungkursari) 9. Cavalerieweg (Jl. Veteran)
10. Kampementsweg (Jl. Ahmad Yani) 11. De Witteweg (Jl. Dr. Soemardi) 12. Kerkhofweg (Jl. Taman Pahlawan) 13. Kweek Schoolaan (Jl. Osamaliki) 14. Normal Schollweg (Jl. Kartini) 15. Verbindingsweg (Jl. Kalinongko) 16. Willemslaan (Jl. Ledoksari)
Kini banyak dari bangunan-bangunan cagar budaya di Kota Salatiga berada di sekitar jalan-jalan tersebut.Karena sebagian besar dari bangunan cagar budaya di Salatiga adalah bangunan Belanda bekas dari jaman penjajahan.
82
4.1.2. Bangunan Cagar Budaya di Kota Salatiga
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bangunan cagar budaya di Kota Salatiga sebagian besar adalah bangunan colonial sisa dari jaman Hindia Belanda.Secara umum kondisi bangunan cagar budaya di Kota Salatiga tidak begitu baik. Banyak dari bangunan cagar budaya ini tidak terawat, bahkan menurut data dari Balai Pelestarian Peniggalan Purbakala Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Salatiga, jumlah bangunan cagar budaya di Kota Salatiga dari tahun ke tahun semakin berkurang. Hal ini salah satu disebabkan oleh dirubuhkannya bangunan cagar budaya ini yang kemudian akan digantikan dengan bangunan lain yang lebih baru.
Dari bangunan yang tersisa kini, menurut www.cagarbudayasalatiga.com salah satu situs resmi pemerintah Kota Salatiga yang menangani bangunan-bangunan cagar budaya di Kota Salatiga, bangunan tersebut kini berjumlah 143 bangunan. Untuk melihat secara rinci nama-nama bangunan tersebut, maka dapat dilihat dalam rincian bangunan cagar budaya di Kota Salatiga yaitu
83 1. Komplek Rumah Dinas Walikota
2. Rumah Tinggal 1 3. Rumah Tinggal 2
4. Kantor Asuransi Bumi Putera 5. Bank Salatiga, Jl. Diponegoro 10
Salatiga
6. Gereja Yesus Sejati, Jl. Diponegoro
11 Salatiga
7. SD 01/09 Salatiga, Jl. Diponegoro
13 Salatiga
8. SD 02/09 Salatiga, Jl. Diponegoro
12 Salatiga
9. Wisma BCA, Jl. Diponegoro 15
Salatiga
10. Rumah Tinggal 3, Jl. Diponegoro 18
Salatiga
11. Bank BII Salatiga, Jl. Diponegoro 20
Salatiga
12. Omah Mode, Jl. Diponegoro 22
Salatiga
13. Rumah Tinggal 4, Jl Diponegoro
21/23 Salatiga
14. Rumah Dinas Dokter, Jl. Diponegoro 24 Salatiga
15. Asrama CPM, Jl. Diponegoro 23
Salatiga
16. Kompleks Kodi IV/Diponegoro Korem 073/Makutarama, Jl. Diponegoro 28 Salatiga
17. Rumah Tinggal 5, Jl. Diponegoro 25
Salatiga
18. Law Office Legal Consultant Abdi Keadilan, Jl. Diponegoro 27 Salatiga 19. Rumah Tinggal Pastur, Jl.
Diponegoro 30 Salatiga
20. Rumah Tinggal 6, Jl. Diponegoro 38
Salatiga
21. Kompleks Kodim 0714, Jl. Diponegoro 40 Salatiga
22. Ex. Kompleks Kodim 0714/ Korem 073 Makutarama, Jl. Diponegoro 36
Salatiga
23. Rumah Tahanan Negara Salatiga,
Jl. Yos Sudarso 2 Salatiga
24. R.M. Waroeng Koe, Jl. Diponegoro
Salatiga
25. Asrama Susteran, Jl. Diponegoro
51 Salatiga
26. SMP Stella Matutina, Jl. Diponegoro
53 Salatiga
27. UKSW, Jl. Diponegoro 52-56 Salatiga
28. Rumah Tinggal 7, Jl. Diponegoro 60
Salatiga
29. Rumah tinggal (Distro),jl.
Diponegoro 61 Salatiga
30. Kantor Pengadilan Agama, Jl.
Diponegoro 72 Salatiga
31. Denpom IV/3, Jl. Diponegoro 76
Salatiga
32. Panti Asuhan Woro Wiloso, Jl.
Diponegoro 85 Salatiga
33. Kompleks Satlantas Polres Salatiga, Jl. Diponegoro 82 Salatiga 34. Oxford Course Indonesia, Jl.
Diponegoro 91 Salatiga
35. Rumah Tinggal 9, Jl. Diponegoro 82
B Salatiga
36. Rumah Dinas Denpom IV/3, Jl.
Diponegoro 93 Salatiga
37. Perhutani 075, Jl. Diponegoro 82
Salatiga
38. Rumah Tinggal 10, jl. Diponegoro
84 39. Kompleks Rumah Dinas Korem
073, Jl. Diponegoro Salatiga 40. LPIA, Jl. Diponegoro 101 Salatiga 41. Denhubrem 073, Jl. Diponegoro 86
Salatiga
42. Roncalli, Jl. Diponegoro 90 Salatiga 43. Rumah Tinggal 11, Jalan
Diponegoro 109 Salatiga
44. Rumah Tinggal 12, Jl. Diponegoro
165 Salatiga
45. Kantor Pos, Jl. Moh. Yamin 3
Salatiga
46. Rumah tinggal (Dr. R. Hasmo Sugijarto), Jl. Moh Yamin 4 Salatiga 47. Rumah Tinggal 13, Jl. Moh. Yamin
5 Salatiga
48. Hotel Mutiara, Jl. Langensuko 31
Salatiga
49. Garasi Esto, Jl. Langensuko Salatiga
50. SD Fransiskus Xaverius (Marsudirini), Jl. Margosari 1 Salatiga
51. Rumah tinggal 19, Jl. Margosari 2
Salatiga
52. SD Salatiga 03/10, Jl. Margosari 3
Salatiga
53. Kantor Pegadaian 1, Jl. Moh. Yamin
8 Salatiga
54. Rumah Tinggal (Drg. Ceplis S. Supriyanti), Jl. Moh Yamin 29
Salatiga
55. SDN 05 Salatiga (SD Jeglong), Jl.
Kartini 42 Salatiga
56. SMA Negeri 3 Salatiga, Jl. Kartini
34 Salatiga
57. SMP Negeri 1 Salatiga, Jl. Kartini 24
Salatiga
58. SMP Negeri 2 Salatiga, Jl. Kartini 26
Salatiga
59. Asrama Polisi Kepatihan (Kesatrian), Jl. Adi Sucipto 21
Salatiga
60. Kompleks Polres Salatiga, Jl. Adi
Sucipto 1 Salatiga
61. GKJTU, Jl. Sukowati 74 Salatiga 62. Kantor Walikota Salatiga, Jl.
Sukowati 51 Salatiga
63. Bekas Gedung Pakuwon (Perjanjian Salatiga), Jl. Brigjen
Sudiarto 1 Salatiga
64. SMK Kristen Salatiga, Jl. Tentara
Pelajar 6 Salatiga
65. Rumah Tinggal (Pdt. Broto Semedi), Jl. Brigjen Sudiarto 12
Salatiga
66. Rumah Tinggal 16 Jl. Brigjen
Sudiarto 22 Salatiga
67. RM. Tempo Doeleoe, Jl. R. Patah 2
Salatiga
68. Kantor Pegadaian 2, Jl. R. Patah 5
Salatiga
69. Rumah Tinggal 31, Jl. R. Patah 8
Salatiga
70. Panti Asuhan Bakti Luhur, Jl. R.
Patah 10 Salatiga
71. Kantor Dana Pensiun Gereja Kristen, Jl. Yos Sudarso 5 Salatiga 72. Panti Asuhan Wiloso Tomo, Jl. Yos
Sudarso 20 Salatiga
73. Rumah Tinggal 41, Jl. Yos Sudarso
85 74. Rumah Tinggal 42, Jl. Yos Sudarso
21 Salatiga
75. Komplek Kantor Perhutani, Jl. Yos
Sudarso 9 Salatiga
76. Perumahan Dinas Korem, Jl. Yos
Sudarso 11a-11b Salatiga
77. Rumah Tinggal 40, Jl. Yos Sudarso
8 Salatiga
78. Rumah Tinggal 39, Jl. Yos Sudarso
6 Salatiga
79. Rumah Tinggal 27, Jl. Pattimura 2
Salatiga
80. Rumah Tinggal 30, Jl. Pattimura
Salatiga
81. Rumah Tinggal 28, Jl. Pattimura
51A Salatiga
82. Bank Jateng Salatiga, Jl. Pemuda 1
Salatiga
83. SMP Negeri 9 Salatiga, Jl. Pemuda
7 Salatiga
84. Gereja GPIB, Jl. Jend. Sudirman 1
Salatiga
85. Rumah Tinggal 20 Salatiga, Jl. Buk
Suling 10 Salatiga
86. Rumah Tinggal 21, Jl. Buk Suling
12 Salatiga 12 Salatiga
87. Rumah Tinggal 22, jl. Buk Suling 23
Salatiga
88. Rumah Tinggal 26, Jl. Taman
Pahlawan 65 Salatiga
89. Rumah Kereta Jenazah, Jl. Muwardi Salatiga
90. Rumah Tinggal (Dr. Muwardi), Jl.
Pemuda 11 Salatiga
91. Kompleks RS. Dr. Asmir, Jl.
Muwardi 50 Salatiga
92. Balai Pengobatan Umum Tabita, Jl.
Muwardi 51 Salatiga
93. Rumah Dinas Dandim 0714, Jl.
Nanggulan Salatiga
94. Rumah Tinggal 23, Jl. Nanggulan
G12 Salatiga
95. Rumah Tinggal 25, Jl. Nanggulan
G30 Salatiga
96. Rumah Tinggal 24, Jl. Nanggulan
H3 Salatiga
97. Rumah Tinggal 46, jl. Kalinyamat 26
Salatiga
98. Rumah Tinggal 45, Jl. Pemotongan
Salatiga
99. Rumah Toko 4, Jl. Pemotongan 75
Salatiga Salatiga
100. TPS, Jl. Pemotongan Salatiga 101. Rumah Tinggal (drg. Kristie), Jl.
Jend. Sudirman Salatiga
102. Hotel Slamet, Jl. Sukowati 42
Salatiga
103. Rumah Tinggal 14, Jl. Sukowati 11
Salatiga
104. Klenteng Amurva Bhumi, Jl. Sukowati 13 Salatiga
105. Rumah Tinggal 15, Jl. Sukowati 21
Salatiga
106. Rumah Tinggal 17 Salatiga, Jl.
Semeru 2 Salatiga
107. Rumah Toko, Jl. Semeru 4 Salatiga 108. Gudang, Jl. Semeru 5 Salatiga 109. Rumah Tinggal 18, Jl. Semeru 14
Salatiga
110. Rumah Toko 2, Jl. Semeru 18
Salatiga
111. Rumah Tinggal (Toko Aneka Jaya), Jl. Semeru 20 Salatiga
86 112. Rumah Toko 3, Jl. Semeru 52
Salatiga
113. Rumah Tinggal 44, Jl. A. Yani 16
Salatiga
114. Kompleks yonif 411, Jl. Veteran
Salatiga
115. SMK PGRI Salatiga, Jl. A. Yani 14
Salatiga
116. Rumah Tinggal (Villa Geertruida),
Jl. A. Yani 12 Salatiga
117. Rumah Tinggal 43, Jl. A. Yani 10
Salatiga
118. Kompleks MAN Salatiga, Jl. Wahid
Hasyim 12 Salatiga
119. Rumah Tinggal (J.A. Soegondo),
Jl. Imam Bonjol 2E Salatiga
120. Rumah Tinggal Wedana, Jl. Imam
Bonjol 12 Salatiga
121. Rumah Tinggal 37, Jl. Kauman 23
Salatiga
122. Rumah Tinggal 38, Jl. Kauman 31
Salatiga
123. Rumah Tinggal Asisten Wedana,
Jl. Kauman 36 Salatiga
124. Rumah Tinggal 32, Jl. Imam Bonjol
26 Salatiga
125. Rumah Tinggal (Image Print Center), Jl. Imam Bonjol 28 Salatiga 126. Rumah Tinggal (dr. Nany
Setyawati, M.Kes.), Jl. Imam Bonjol
53 Salatiga
127. Rumah Tinggal 33, Jl. Imam Bonjol
82 Salatiga
128. Rumah tinggal 34, Jl. Imam Bonjol
46 Salatiga
129. Rumah Tinggal (Indahati Hotel), Jl.
Imam Bonjol 88 Salatiga
130. Rumah Tinggal (Prudential), Jl.
Imam Bonjol 94 Salatiga
131. Rumah Tinggal (PT. Victoria Lintas Buana), Jl. Imam Bonjol 108 Salatiga 132. Rumah Tinggal 35, Jl. Imam Bonjol
66 Salatiga
133. TK Tunas Rimba, Jl. Jend. Sudirman 121B Salatiga
134. Rumah Tinggal 36, Jl. Jend.
Sudirman 218 Salatiga
135. Rumah Tinggal (HGB 38, SDR 778), Jl. Jend. Sudirman Salatiga 136. Kantor PPAT Burhanuddin, S.H.,
Jl. Jend. Sudirman 383 Salatiga
137. Polsek Tingkir, Jl. Soekarno Hatta
Km. 4 Salatiga
138. Gereja Salib Putih, Jl. Hasanudin
(Salatiga-Kopeng) Km. 4
139. Galeri Indosat, jl. Diponegoro 16
Salatiga
140. Rumah Tinggal 8, Jl. Diponegoro
74B Salatiga
141. Rumah Tinggal (George Reynekker), Jl. Diponegoro 79 Salatiga
142. Perpustakaan Daerah, Jl. Sukowati
7 Salatiga
143. Toko Ong Hwa Jay, Jl. Sukowati 12
87
Bangunan-bangunan cagar budaya di Kota Salatiga yang disebutkan di atas tersebar di seluruh Kecamatan di Kota Salatiga, tapi lokasi yang paling banyak terdapat bangunan cagar budaya adalah di jalan Diponegoro, hal ini dapat disimpulkan bahwa pusat pemerintahan dari Kota Salatiga pada Jaman Belanda adalah di daerah jalan Diponegoro, hal tersebut diperkuat dengan tipologi bangunan-bangunan tersebut yang berupa kantor-kantoir, hotel, komplek militer, kantor dinas, dan beberapa rumah. Bangunan-bangunan tersebut ada yang masih berfungsi sebagaimana dulu difungsikan, ada yang berganti alih fungsi, bahkan ada yang dibiarkan kosong. Untuk melihat persebaran bangunan – bangunan cagar budaya di Kota Salatiga dapat dilihat di peta di bawah ini :
Bangunan Cagar Budaya
Gambar 4.3
Persebaran Bangunan Cagar Budaya di kota Salatiga Sumber :dokumentasi pribadi
88
4.2. Bangunan Cagar Budaya di Sepanjang Jalan Kartini Salatiga
Selain di kawasan jalan Diponegoro seperti dijelaskan sebelumnya, kawasan di sepanjang jalan Kartini Salatiga atau dulunya bernama Normall
Schollweg, juga terdapat beberapa bangunan cagar budaya. Berbeda dengan
jalan Diponegoro yang didominasi oleh bangunan pemerintahan dan kemiliteran, bangunan di sepanjang jalan Kartini kesemuanya adalah bangunan yang dipergunakan untuk sekolah atau pendidikan. Bangunan-bangunan cagar budaya di sepanjang jalan Kartini seperti SD N 05 Salatiga (SD Jenglong), SMA Negeri 3 Salatiga, SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Salatiga masih kokoh berdiri hingga sekarang.
Selain mendirikan Eerste Europeesche Lagere School (sekarang dipakai untuk SD Negeri 1 dan 2) dan Holland Chinese School (HCS) di jalan Margosari, pemerintah Hindia Belanda juga membangun sebuah kawasan pendidikan di jalan Kartini. Normaalschool dan Kweekschool adalah dua bangunan sekolah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di jalan Kartini Salatiga. Normaalschool sekarang telah berubah menjadi SMA Negeri 3 Salatiga, sedangkan Kweekschool kini menjadi komplek SMP Negeri 2 Salatiga.Kini bangunan-bangunan tersebut masih kokoh walaupun terdapat penambahan dan perubahan-perubahan.
Tertulis di dalam buku Sejarah Bangunan Cagar Budaya di Kota Salatiga yang diterbitkan oleh Dishubkombudpar Kota Salatiga (2013), perkembangan kawasan jalan Kartini sebagai sebuah kawasan pendidikan tidak terlepas dari sejarah status Kota Salatiga itu sendiri. Sebelum pembentukan dewan – dewan
89
daerah pada tahun 1917 dan Salatiga belum berstatus sebagai sebuah
Gemeente, pendidikan di Kota Salatiga hanya diperuntukkan untuk orang – orang
Eropa saja dan hanya setingkat Sekolah Dasar (sekarang). Bangunan – bangunan sekolah pada masa itu seperti ELS (Eropeech Lager School), HIS (Hollande
Inlander School), PHIS (Partikelir Hollands Inlander School), maupun HCS (Holland Chinese School). Namun sejak status Salatiga berubah menjadi Gemeente yang dipimpin oleh seorang Burgermister (Walikota), maka di kawasan
jalan Kartini atau normallschoolweg direncanakan untuk didirikan sekolah – sekolah umum untuk pribumi, seperti HIS, MULO dan HIK. Kedatangan istri gubernbur Jenderal Limburg Stirum pada tahun 1919 dimanfaatkan untuk peresmian perltakan batu pertama di sekolah – sekolah yang direncanakan. Pemilihan lokasi di jalan Kartini sendiri juga tidak terlepas dari jaraknya yang dekat dengan kawasan bermukim orang pribumi di Kota Salatiga pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, yang menurut Supangkat (2010), permukiman warga pribumi di Kota Salatiga tersebar di Pancuran, Kalioso, Gendongan dan Kalicacing.
Berdasarkan yang ditulis di atas Salatiga pada masa pemerintahan Hindia Belanda dapat dikatakan maju dalam bidang pendidikannya, karena banyaknya bangunan sekolah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.Pemerintah Hindia Belanda menempatkan pendidikan sebagai salah satu komponen penting pembangunan Kota Salatiga. Maka kini tidak heran atau berlebihan apabila Salatiga disebut sebagai salah satu kota Pendidikan, di Indonesia.
90
Gambar 4.5
Bangunan Cagar Budaya di Sepanjang Jalan Kartini Salatiga Sumber :www.cagarbudayasalatiga.com
Gambar 4.4
Persebaran Bangunan Cagar Budaya di Sepanjang Jalan Kartini Salatiga Sumber :dokumentasi pribadi
52 53 54 55 56 57 58 59 Keterangan : 52. SD Salatiga 03 53. Pegadaian 54. Rumah drg. Ceplis 55. SD Salatiga 05
56. SMA Negeri 3 Salatiga 57. SMP Negeri 1 Salatiga 58. SMP Negeri 2 Salatiga 59. Rumah Tinggal
91
Gambar 4.6
Bangunan Cagar Budaya di Sepanjang Jalan Kartini Salatiga
92
4.2.1. Studi Bangunan SMP Negeri 1 Salatiga
SMP Negeri 1 Salatiga adalah merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Kota Salatiga.Sekolah ini beralamat di jalan Kartini no 24, kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo Salatiga.Bangunan SMP Negeri 1 Salatiga dulunya adalah merupakan bangunan MULO (Meer Uitgerbreid Lager
Onderwijs), yaitu sekolah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda
dikhususkan bagi warga pribumi yang dibangunan sekitar tahun 1900. Sekolah yangberidiri di atas tanah dengan luas 9.128 m2ini kini memiliki 21 ruang kelas.
Di dalam buku Sejarah Bangunan Cagar Budaya di Kota Salatiga oleh Dishubkombudpar Salatiga (2013), pada masa awal pendirian bangunan SMP Negeri 1 Salatiga ini dulunya diperuntukan sebagai bangunan MULO (Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs), yang mulai beroperasi pada tahun 1931. Desain
bangunan ini menggunakan pondasi terbuat dari batu kali yang dibuat tinggi, sehingga proses belajar mengajar siswa tidak terganggu oleh lalu lints di sekitar kawasan bangunan tersebut, selain desain kelas yang juga dirancang berundak – undak.
Bangunan SMP Negeri 1 Salatiga ini terdaftar sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Salatiga dengan nomor registrasi 11-73/Sla/070.Bangunan ini berbentuk U dengan menggunakan atap pelana dan terdapat court yard di tengah-tengah bangunannya.Secara estetika bangunan sekolah ini merupakan bangunan yang memperlihatkan ciri arsitektur colonial, dilihat dari bentuk bangunannya yang tinggi, penggunaan jendela-jendela yang besar, penggunaan
93
material batu untuk fasadenya. Salah satu keunikan dari bangunan SMP Negeri 1 Salatiga ini yang menjadikan daya tarik untuk kawasan di sekitarnya adalah terdapat menara lonceng di salah satu sudut bangnan yang menjadi nilai karakter untuk bangunan tersebut. Bangunan ini merupakan penguat nilai karakter pada kawasan kepatihan pada masa Kolonial Belanda. Di samping itu keunikan lainnya adalah terdapat aula untuk olahraga gymnastic, lengkap dengan tali ayunan pada masa desain awalnya. Ruangan ini dilengkapi dengan ruang ganti pakaian anak, selain itu bagian atas ruang gymnastic ini dilengkapi dengan kaca, sehingga pencahayaan alami pada ruangan ini dapat diakomodasikan secara optimal.
Walaupun merupakan bangunan warisan dari masa penjajahan kolonial Belanda bangunan SMP Negeri 1 Salatiga ini masih tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Bentuk dari bangunan SMP Negeri 1 Salatiga ini secara keseluruhan masih baik.Terdapat penambahan-penambahan ruang atau bangunan baru di Sekolah ini yang berdampingan dengan bangunan lama Sekolah ini.Penambahan-penambahan tersebut diakibatkan dari semakin meningkatnya kebutuhan akan ruang di sekolah akibat dari semakin berkembangnya sistem pendidikan, terutama sistem pendidikan di SMP, yang mempengaruhi berubahnya standar-standar sistem pengajaran yang terkadang harus membutuhkan standar ruang yang baru pula, sehingga dituntut adanya perubahan-perubahan serta penambahan ruang-ruang di sekolahan tersebut.
94 Administratif : Jl. Kartini 24 Salatiga Astronomis : 07°19’28,7”LSdan110°29’51,5” BT SMP Negeri 1 Salatiga No. Inventaris : 11-73/Sla/70 Kondisi Bangunan :
- Terawat
- Bentuk bangunan masih asli dengan beberapa tambahan
Reg. Foto : 11_73_STG_KJN_09 D 080
Gambar 4.7.
Dokumentasi lama Bangunan SMP Negeri 1 Salatiga (Sumber:Dishubkombudpar Kota Salatiga, 2013 )
Tabel 4.1. Daftar Profil Bangunan Cagar Budaya SMP N 1
Salatiga
Sumber : Bappeda Kota
95 Wujud dan Peranan Umu r Aspek Arsitektural Peran Sejarah Alternati f Bentuk Konserv asi Estetika Kejamak an Kelangkaa n Peran Terhadap Kawasan Keistim ewaan Komplek banguna n sekolah yang membent uk L shapeinie r dengan atap pelana Awal Abad XX Merupaka n bangunan sekolah yang jelas memperli hatkan ciri arsitektur kolonial Satu-satunya bangunan sekolah yang memiliki menara lonceng di salah satu sis bangunan Memperku at citra kawasan Kepatiha pada masa kolonial Bangunan ini merupaka n salah satu fasilitas kota modern dalam bidang pendidikan . Pada awalnya digunakan sebagai sekolah MULO (Moor Uitgebreid Lager Onderwijs) yang dikhususk an bagi anak- anak pribumi Preserva si
Tabel 4.2. Daftar Konservasi Bangunan Cagar Budaya SMP N 1 Salatiga
Sumber : Bappeda Kota
96 Gambar 4.8.
Foto-foto Bangunan SMP Negeri 1 Salatiga (Sumber: dokumentasi pribadi, 2015 )
97
Gambar 4.9.
Gambar denah dan Tampak SMP N 1 Salatiga
(Sumber: Sketsa pribadi, 2015 )
98
4.2.2. Studi Bangunan SMP Negeri 2 Salatiga
SMP Negeri 2 Salatiga beralamat di Jalan Kartini no. 26, kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo Salatiga. Sama dengan bangunan SMP Negeri 1 Salatiga dulunya bangunan SMP Negeri 2 Salatiga juga merupakan bangunan merupakan bangunan Kweekschool , yaitu sekolah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda khusus bagi perempuan. Bangunan SMP Negeri 2 Salatiga ini dibangunan pada tahun 1919.
Menurut buku Sejarah Bangunan Cagar Budaya di Kota Salatiga oleh Dishubkombudpar Salatiga (2013), rencana awal dibangun sekolah ini diperuntukkan bagi Government Meisijs Kweekschool (Sekolah Guru Putri), untuk mempersiapkan mengajar di derah – daerah. Sejak perletakan batu pertama, sekolah ini sudah menerima murid, namun belum dapat sepenuhnya menggunakan bangunan ini karena masih dalam tahap pengerjaan fisiknya.
Masih menurut sumber yang sama dari Dishubkombudpar Salatiga (2013) sekolah yang mulai beroperasi pada tahun 1933 ini pada bangunan utamanya tidak menggunakan batu kali sebagai pondasi bangunan. Bangunan induk berupa ruang kelas, TU, ruang direktur sekolah, asrama dan ruang praktik menggambar dan menulis serta kerajinan tangan yang terletak di luar area bangunan utama, serta terdapat pila rumah dirktur dan aula olahraga di tengah massa bangunan induk.
Seiring perkembangan jaman sekolah ini berubah nama menjadi
99
Pribumi). Pada masa penjajahan Jepang , bangunan ini berubah menjadi asrama bagi calon pasukan Peta yang bernama Seinendojo.
Bangunan SMP Negeri 2 Salatiga masuk ke dalam inventarisasi bangunan cagar budaya kota Salatiga dengan nomor inventaris 11-73/Sla/071. Bangunan
lama SMP Negeri 2 Salatiga berbentuk bujur sangkar dengan bangunan aula di
tengahnya. Secara estetika arsitektural bangunan ini mencirikan bangunan arsitektur kolonial. Dilihat dari bentuk penataan lay-out denah bangunan yang terta dengan rapi simetris yang mencirikan arsitektur modern yang berkembangan pada masa penjajahan kolonial Belanda. Selain itu bentuk jendela krepyak tinggi menambah kesan tersebut. Selain itu ornamen-ornamen pada fasade bangunan mencirikan bangunan hasil karya jaman kolonial Belanda.
Gambar 4.10.
Foto-foto Para Siswi Kweekschool di depan bangunan yang sekarang menjadi bangunan SMP Negeri 2 Salatiga
100 Administratif : Jl. Kartini 26 Salatiga Astronomis : 07°19’31,4”LSdan110°29’49,2” BT SMP Negeri 2 Salatiga No. Inventaris : 11-73/Sla/71 Kondisi Bangunan :
- Terawat
- Bentuk bangunan masih asli dengan beberapa tambahan Reg. Foto : 11_73_STG_KJN_09 D 081 Wujud dan Peranan Umur Aspek Arsitektural Peran Sejarah Alternatif Bentuk Konserva si Estetika Kejamak an Kelangkaan Peran Terhadap Kawasan Keistime waan Komplek bangunan sekolah yang membentu k L shapeden gan atap pelana dan penampila n di tengah yang mengguna kan perisai 1919 M Merupakan bangunan sekolah yang jelas memperlih atkan ciri arsitektur kolonial Mewakili gaya bangunan sekolah yang berkemba ng di Kota Salatiga Memperkuat citra kawasan Kepatiha pada masa kolonial Bangunan ini merupakan salah satu fasilitas modern dalam bidang pendidikan. Awalnya digunakan sebagai sekolah putri negeri (Gouverne ments Meijes Kweekscho ol), atau Sekolah Kartini Preservas i
Sumber : Bappeda Kota
Salatiga
Tabel 4.4. Daftar Konservasi Bangunan Cagar Budaya SMP N 2 Salatiga
Sumber : Bappeda Kota
Salatiga
101 Gambar 4.11.
Foto-foto i bangunan SMP Negeri 2 Salatiga (Sumber: dokumentasi pribadi, 2015 )
102
Gambar 4.12.
Gambar denah dan Tampak SMP N 2 Salatiga
(Sumber: Sketsa pribadi, 2015 )
103
4.2.3. Studi Bangunan SMA Negeri 3 Salatiga
SMA Negeri 3 Salatiga beralamat di jalan Katini nomor 34, kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo Salatiga.Bangunan ini dulunya merupakan bangunan normaal school, atau sekolah khusus orang warga negara Belanda yang tinggal di Salatiga. Bangunan SMA Negeri 3 Salatiga ini merupakam komplek bangunan sekolah yang memiliki masa-masa bangunan yang terpencar. Selain ruang-ruang kelas sekolahan, di dalam komplek SMA Negeri 3 Salatiga ini terdapat rumah dinas yang diperuntukkan untuk guru sekolah tersebut. Diperkirakan bangunan ini dibangun pada sekitar tahun 1900.
Tertulis di dalam buku Sejarah Bangunan Cagar Budaya di Kota Salatiga oleh Dishubkombudpar Salatiga (2013), awal mula gedung SMA Negeri 3 ini dibangun untuk dipergunakan sebagai sebuah bangunan Indische Kweekschool (HIK). Hasil pendidikan HIK ini dipersiapkan sebagai guru atau tenaga pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di daerah – daerah., maka dibangunlah sebuah skolah HIK di Kota Salatiga dengan sistem pendidikan asrama yang diwajibkan bagi para siswa sekolah tersebut. Lahan yang luas pada area bangunan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai asrama baik putra maupun putir yang terpisah, rumah – rumah dinas bagi pengajar, lapangan olahraga dan aula kesenian. Direktur terakhir dari HIK adalah van den Bar.
Di dalam buku Sejarah Bangunan Cagar Budaya Salatiga (2013) juga menceritakan riwyat bangunan yang kini menjadi SMA Negeri 3 Salatiga tersebut pada masa penjajahan Jepang, bangunan ini dimanfaatkan sebagai SGB
104
(Sekolah Guru B). Pada awal tahun 1952, sebagian dari bangunan ini dipinjam oleh Yayasan Kristen untuk dipergunakan sebagai ruang kelas bagi murid –murid SMA Kristen Salatiga. Sekolah ini merupakan rintisan sekolah setingkat dengan SMA kini, karena pemerintah Kota Salatiga pada masa itu belum mendirikan sekolah SMA Negeri. Setelah SGB dibubarkan bangunan ini beralih fungsi kembali menjadi SGTK (Sekolah Guru Taman Kanak – Kanak), dan terakhir berganti lagi menjadi tempat pendidikan SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Pada masa otonomi daerah pada tahun 1994/1995, aset – aset Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berada di Kota Salatiga kembali diserahkan kepada Pemerintah Kota Salatiga. Pada tahun itu juga bangunan tersebut beralih fungsi kembali menjadi sebuah sekolah negeri SMA Negeri 3 Salatiga hingga saat ini.
Bangunan SMP Negeri 3 Salatiga masuk ke dalam iventarisasi bangunan cagar budaya kota Salatiga dengan nomor inventaris 11-73/Sla/072. Seperti telah dijelaskan sebelumnya masaa bangunan sekolah ini terpencar satu sama lain sehingga memiliki lahan yang cukup luas. Secara arsitektural bangunan SMA Negeri 3 Salatiga ini bercirikan arsitektur kolonial. Terlihat dari penggunaan material-material bangunan yang didominasi dengan penggunaan dinding bata yang tebal dikarenakan berfungsi sebagai penopang struktur atap, penggunaan jendela yang lebar, serta ornamen-ornamen pada fasade bangunan yang semakin memperkuat karakter arsitektur kolonial pada bangunan tersebut. Menurut Dishubkombudpar Salatiga (2013), kondisi bekas bangunan HIK ini sebagian besar masih sama utuh dan asli, terutama bangunan rumah dinas guru yang bercirikan arsitektur Eropa. Ruang – ruang yang dulunya dijadikan ruang asrama
105
murid – murid HIK yang kosong kini dimanfaatkan untuk kegiatan penataran dan pelatihan, aula kesenian yang terletak di sebelah kanan lokasi belajar mengajar telah direnovasi dengan tambahan fasade depan.
Gambar 4.13.
Foto Kondisi Dulu SMA Negeri 3 Salatiga (Sumber: Dishubkombudpar, 2013 )
106 Administratif : Jl. Kartini 34 Salatiga Astronomis : 07°19’33,4” LS dan110°29’56,1” BT
SMA Negeri 3 Salatiga No. Inventaris : 11-73/Sla/72 Kondisi Bangunan : - Terawat - Terdiri atas beberapa bangunan - Bentuk bangunan masih asli Reg. Foto : 11_73_STG_KJN_09 D 082 Wujud dan Peranan Umur Aspek Arsitektural Peran Sejarah Alternatif Bentuk Konserva si Estetika Kejamak an Kelangkaan Peran Terhadap Kawasan Keisti mewaa n Kompleks bangunan sekolah yang membentuk L shapeinier dengan atap pelana. Di dalam kompleks ini selain terdapat bangunan sekolah, juga perumahan dinas untuk para guru Awal Abad XX Merupakan bangunan sekolah yang jelas memperlih atkan ciri arsitektur kolonial Mewakili gaya bangunan sekolah yang berkemba ng di Kota Salatiga Memperkuat citra kawasan Kepatiha pada masa kolonial Bangunan ini merupakan salah satu fasilitas kota modern dalam bidang pendidikan. Pada awalnya digunakan sebagai Normaalscho ol, tapi dalam perkembanga nnya menjadi Sekolah Guru Bantu Preservas i
Sumber : Bappeda Kota Salatiga
Tabel 4.6. Daftar Konservasi Bangunan Cagar Budaya SMA N 3 Salatiga
Sumber : Bappeda Kota
Salatiga
107 Gambar 4.14.
Foto-foto Bangunan SMA Negeri 3 Salatiga (Sumber: dokumentasi pribadi, 2015 )
108
Gambar 4.15.
Gambar denah dan Tampak SMA N 3 Salatiga
(Sumber: Sketsa pribadi, 2015 )
109
4.2.4. Studi Bangunan SD Negeri Salatiga 05
SD Negeri Salatiga 05 beralamat di jalan Katini nomor 42, kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo Salatiga. Bangunan ini bebrntuk L shapier yang terdiri awalnya dari dua massa bangunan. Bangunan sekolah dasar ini dibangun sekitar tahun 1900. Kondisi kini bangunan ini dapat dikatakan berubah, elemen arsitektural yang menandakan bahwa bangunan ini adalah bangunan kolonial adalah elemen atapnya yang masih menandakan karakter arsitektur kolnial. Sedangkan fasade bangunan sendiri sudah bayak dilakukan perubahan-perubahan. Bangunan SD Negeri Salatiga 05 ini terdaftar dalam inventarisasi bangunan cagar budaya di Kota Salatiga dengan nomor 11-73/Sla/112.
Ditulis di dalam buku Sejarah Bangunan Cagar Budaya Salatiga oleh Dishubkombudpar Salatiga (2013), bangunan ini merupakan Bangunan sekolah lain yang ada di kawasan Normaalschool, sekolah tersebut merupakan tempat praktik mengajar bagi siswa-siswa Normaal Kweekschool dan Kweekschool voor
Inlanders Meijses Onderwij. Secara tampilan bangunan, tampak pada bangunan
ini sudah banyak mengalami perubahan – perubahan, menurut pemaparan beberapa guru sekolah tersebut yang sudah lumayan lama menepati bangunan tersebut, bangunan SD Negeri Salatiga 05 ini mengalami banyak perubahan pada tahun 2007. Pada tahun tersebut sekolah mengajukan dana bantuan DAK untuk merenovasi bangunan sekolah yang mulai termakan usia. Didniding – dinding bangunan yang dulunya menggunakan gedeg atau dinding anyaman bambu diganti dengan dinding yang bermaterial bata. Sedangka rangka – rangka kayu
110
penumpu atap yang dulu menggunakan bilah – bilah kayu jati diganti kayu – kayunya, namun elemen – elemen kusen seperti pintu masih tetap dipertahankan. Administratif : Jl. Kartini 42 Salatiga Astronomis : 07°19’35,0” LS dan110°30’01,5” BT SD Negeri Salatiga 5 No. Inventaris : 11-73/Sla/112
Kondisi Bangunan : - Terawat - Bangunan Telah direnovasi Reg. Foto : 11_73_STG_KJN_09 D 083 Wujud dan Peranan Umur Aspek Arsitektural Peran Sejarah Alternatif Bentuk Konserva si Estetika Kejamak an Kelangkaan Peran Terhadap Kawasan Keisti mewaa n Kompleks bangunan sekolah yang membentuk L shapeinier dengan atap pelana. Awal Abad XX Merupakan bangunan sekolah yang jelas memperlih atkan ciri arsitektur kolonial Mewakili gaya bangunan sekolah yang berkemba ng di Kota Salatiga Memperkuat citra kawasan Kepatiha pada masa kolonial Bangunan ini merupakan salah satu fasilitas kota modern dalam bidang pendidikan. Pada awalnya digunakan sebagai tempat praktek mengajar calon guru yang sedang belajar di Normaalscho ol Preservas i
Tabel 4.8. Daftar Konservasi Bangunan Cagar Budaya SD N Salatiga 5
Sumber : Bappeda Kota Salatiga
Tabel 4.7. Daftar Konservasi Bangunan Cagar Budaya SD N Salatiga 5
111 Gambar 4.16.
Foto-foto Bangunan SD Negeri Salatiga 05 (Sumber: dokumentasi pribadi, 2015 )