• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

65

PELAKSANAAN PERKAWINAN DAN PROSES PERALIHAN TANAH KARENA WARISAN BAGI MASYARAKAT PADANG PARIAMAN DI

PEKANBARU MENURUT HUKUM ADAT Fadillah Purnama Sary

STIH Persada Bunda ABSTRAK

From the research found out that parents and mamak’s role have changed proper to era transition and situation where the father’s role is very important therefore mamak’s role is not quite needed unless in undertaking the marriage where mamak in here is only playing a role to share the inheritance or if it intended, she will be asked the opinion. The undertaking marriage and inheritance of settlement abroad of Minangkabau People in Pekanbaru is still appropriate to acceptable custom in Padang Pariaman however not entirely custom carried out. System of inheritance applies the hereditary law of Minangkabau Custom that is Original Treasure of an heir namely High Heirloom inherited by Nephews/nieces of the heir, employment Treasure and collective treasure of the heir inherited by widow or daughters/sons of the heir. The implementation of the land handover carried out based on Civil Code where the process will assisted by Notary to land handover which caused by the heritage.

PENDAHULUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran orang tua dan mamak dalam pelaksanaan perkawinan dan pewarisan orang Minangkabau perantauan yang berada di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dengan cara menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan dengan mengelompok kan dan menseleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan kebenarannya, kemudian dihubungkan dengan teori-teori yang diperoleh dari peneltian kepustakaan. Dari penelitian diketahui bahwa peranan orang tua dan mamak sudah berubah sesuai dengan perubahan zaman dan keadaan dimana peran ayah sangatlah penting sehingga peran mamak tidak begitu dibutuhkan hanya saja dibutuhkan dalam pelaksanaan perkawinan yang mana mamak disini hanya berperan dalam pembagian waris ataupun apabila dikehendaki untuk diminta pendapat. Pelaksanaan perkawinan dan pewarisan orang Minangkabau perantauan yang berada di Kota Pekanbaru masih sesuai dengan adat yang berlaku di Padang Pariaman hanya saja tidak keseluruhan adat yang dilaksanakan.

(2)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

66

Sistem kewarisan tidak dapat dilepaskan dari sistem kekeluargaan yang dianut oleh masyarakat hukum adat di Indonesia. Masyarakat adat yang ada di Indonesia memeluk agama yang beda, bersuku-suku, kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbentuk kekeluargaan atau kekerabatan yang berbeda-beda pula. Adat istiadat adalah kebiasaan yang berlaku dalam suatu tempat yang berhubungan dengan tingkah laku dan kesenangan. Kebiasaan ini merupakan ketentuan yang dibiasakan oleh Ninik Mamak Pemangku Adat sebagai wadah penampung kesukaan orang banyak yang tidak bertentangan dengan adat yang diadatkan serta tidak bertentangan pula dengan akhlak yang mulia. Misalnya adat mainan layang-layang yang dilakukan sesudah panen, adat berburu pada musim panen, adat main sepak raga waktu senggang sesudah ke sawah, adat bertegak batu sesudah beberapa hari mayat terkubur ( Amir Syarifuddin : 1994, hal.187 ). Hukum waris adat di Indonesia tidak lepas dari pengaruh susunan masyarakat kekerabatan yang berbeda. Hukum waris adat mempunyai corak tersendiri dari alam pikiran masyarakat yang tradisional dengan bentuk kekerabatan maka system keturunannya patrilineal, matrilineal, dan parental atau bilateral. Pada bentuk kekerabatan yang sama belum tentu berlaku system kewarisan yang sama. Salah satu sistem itu adalah Sistem Matrilineal, yaitu sistem yang anggota masyarakat tersebut menarik garis keturunan ke atas melalui ibu, ibu dari ibu, terus ke atas sehingga dijumpai seorang perempuan sebagai moyangnya. Akibat hukum yang timbul adalah semua keluarga adalah keluarga ibu, anak-anak adalah masuk keluarga ibu, serta mewaris dari keluarga ibu. Suami atau bapak tidak masuk dalam keluarga ibu atau tidak masuk dalam keluarga istri. Dapat dikatakan bahwa sistem kekeluargaan yang ditarik dari pihak ibu ini, kedudukan wanita lebih menonjol daripada pria di dalam pewarisan ( Asri Thaher, S.H:hal. 21 ). Hukum waris menurut hukum adat Minangkabau merupakan masalah yang aktual dalam berbagai pembahasan. Hal itu disebabkan karena kekhasannya dan keunikannya bila dibandingkan dengan system hukum adat waris dari daerah-daerah lain di Indonesia. Sistem pewarisannya menggunakan Hukum Waris Adat Minangkabau yaitu Harta Asal pewaris yaitu Harta Pusaka Tinggi diwaris oleh kemenakan-kemenakan pewaris dan tidak boleh diwariskan kepada anak, Harta Pusaka Rendah Yaitu harta yang turun temurun dari satu generasi. Harta Pencaharian atau Harta Bersama pewaris diwaris oleh janda dan anak-anak pewaris. Pelaksanaan peralihan tanahnya di lakukan berdasarkan KUHPerdata yang mana prosesnya akan dibantu oleh Notaris untuk peralihan tanah yang terjadi karena warisan.

(3)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

67

Sebutan untuk harta suarang ini ada beberapa, diantaranya: Harta Pasuarangan, Harta Basarikatan, Harta Kaduo-duo, atau Harta Salamo Baturutan, yaitu seluruh harta benda yang diperoleh secara bersama-sama oleh suami istri selama masa perkawinan, tidak termasuk ke dalam harta suarang ini harta bawaan suami atau harta tepatan isteri yang telah ada sebelum perkawinan berlangsung. Dengan demikian jelaslah, bahwa harta pencaharian berbeda dengan harta suarang.

Dalam ketentuanya pewarisan Harta pusako tinggi di Minangkabau jika ibu meninggal, maka yang mendapatkan warisan adalah anak perempuannya saja. Sedangkan jika yang meninggal itu adalah sang bapak, maka yang menjadi ahli waris bukanlah anak kandungnya, melainkan anak-anak saudara wanita si bapak tersebut atau para kemenakannya yang perempuan. Harta pusaka rendah adalah harta warisan yang menjadi obyek dari hukum waris adat Minangkabau, yang dapat di bagi atas harta suarang, harta pencarian, harta bawaan, sedangkan harta pusaka tinggi bukan merupakan harta warisan karena sifatnya yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak dapat dialihkan kepada satu pihak saja. Kecuali dengan beberapa alasan yaitu :

· Rumah gadang ketirisan

· Anak gadis sudah berumur belum nikah ( mencegah jadi perawan tua ) · Mayat terbujur belum diurus

· Dalam perkembangannya berdasarkan penelitian terbaru Tanah harta pusaka tinggi bisa dialihkan untuk Naik Haji para Ninik Mamak.

Tetapi tidak dimungkin untuk mengalihkan harta pusaka tinggi diluar alasan itu. Para anggota kerabat hanya berhak untuk menikmati hasilnya seperti hasil dari berkebun, berladang, bertani diatas tanah harta pusaka tinggi tersebut. Menurut Prof. Soepomo, hukum kewarisan adat bersendi atas prinsip yang timbul dari aliran-aliran pemikiran komunal dan konkrit dari bangsa Indonesia. Hal ini dapat dilihat di daerah Minangkabau yaitu harta pusaka yang selama ahli waris hidup tidak dapat dibagi-bagi antara para anggota kesatuan Ahli waris melainkan para anggotanya hanya mempunyai hak untuk menguasai dan mengambil hasilnya selama hidup, contohnya adalah tanah harta pusaka tinggi. Tanah harta pusaka tinggi bersifat komunal berbeda dengan prinsip hukum waris yang diatur dalam hukum waris Islam. Keberadaan tanah harta pusaka tinggi di wilayah Sumatera Barat masih menjadi pembahasan dikalangan akademisi dan pemerintah, karena menurut pendapat orang Minang, tidak ada tanah yang tidak memiliki status kepemilikan. Sekalipun rimbo ( hutan belantara ) pasti dikuasai masyarakat adat Minang. Padahal disatu sisi Islam tidak mengenal sistem pewarisan komunal namun disisi lain orang Minang yang menganggap ajaran / adat Minang sesuai dengan aturan Islam berpendapat bahwa sistem pewarisan tanah harta pusaka tinggi tidak bertentangan dengan aturan Islam.

(4)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

68

Hukum Islam yang tertuang dalam Al quran ataupun sumber hukum Islam yang lain dan hukum positif di Indonesia ( dalam hal ini Kompilasi Hukum Islam ) belum membahas secara jelas tentang keberadaan tanah harta pusaka tinggi sebagai harta warisan. Hukum Waris Islam yang tertuang dalam Kompilasi Hukum Waris Islam tidak menyinggung mengenai tanah harta pusaka tinggi. Kompilasi Hukum Islam ( KHI ) hanya membahas mengenai jumlah bagian masing-masing pihak dalam pembagian harta warisan.

Hukum Kewarisan tidak dapat dipisahkan dengan sistem kekeluargaan sebab hukum kewarisan merupakan bagian dari hukum kekeluargaan. Hukum kewarisan adat Minangkabau tentulah sesuai dengan sistem pewarisan kekeluargaan Minangkabau. Namun dalam perkembangan zaman dan pengaruh berbagai budaya yang masuk sistem kekerabatan matrilineal telah mengalami perubahan. Sistem kekerabatan matrilineal tidak diterapkan sebagaimana mestinya. Pengaruh faktor sosial dan budaya telah menjadikan pergeseran dalam kehidupan masyarakat Minang. Kehidupan keluarga Minang yang digambarkan dalam satu rumah gadang yang terdiri dari beberapa keluarga kini hampir dikatakan tidak ada. Masing-masing telah membentuk keluarga batih terpisah dari keluarga inti. Hukum kewarisan adat tidak terikat pada ajaran agama tertentu ( KH. Ahmad azhar Basyir:hal 145 ) oleh karenanya masalah agama dalam hukum pewarisan adat tidak menjadi perhatian, tetapi berbeda didalam hukum kewarisan adat Minangkabau, karena orang Minang tidak mengakui anggota kerabatnya yang beragama di luar Islam, sehingga hak-hak yang melekat pada statusnya tersebut dicabut misalnya dalam hal ini tidak berhak untuk mendapat harta warisan.

Keberadaan Hukum Adat sangat penting karena hukum adat merupakan salah satu sumber dari pembentukan hukum nasional dan masyarakat hukum adat bersifat geneologis teritorial yaitu masyarakat yang terikat pada tempat kediaman daerah tertentu dan juga terikat pada hubungan keturunan dalam ikatan pertalian daerah tertentu serta sistem kekerabatan.

Kekerabatan ini sangat mempengaruhi sistem pewarisan pada masing-masing suku bangsa Indonesia. Sistem kekerabatan matrilineal merupakan sistem keturunan yang ditarik menurut garis ibu, kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya dari pada kedudukan pria di dalam hal pewarisan. Minangkabau menganut sistem perkawinan eksogami, yakni mencari jodoh keluar lingkungan kerabat matrilineal. Seseorang yang telah berumah tangga tetap menjadi kerabat asalnya. Pada saat perkawinan, suami dijemput oleh keluarga perempuan dengan upacara adat untuk kemudian dibawa kerumah isteri dengan nama “ alek malapeh marapulai ” ( adat melepas mempelai ).

(5)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

69

Bentuk perkawinan ini tidak mengenal pembayaran “ jujur ” atau “ kawin jujur ” seperti di Tapanuli. Konsekuensinya perkawinan jujur ini, isteri melepaskan kewargaan adatnya dari kerabat bapaknnya dan mengikuti kerabat suaminya. Sedangkan dalam perkawinan Pariaman pada khususnya bahwa laki-laki itu harus dijemput dengan uang atau barang, namun mahar atau maskawin seperti apa yang disyaratkan oleh agama Islam juga menjadi syarat dalam hukum adat Pariaman.

Tradisi bajapuik sudah ada dari zaman dahulu, bermula dari kedatangan Islam ke Nusantara. Mayoritas orang minang merupakan penganut agama Islam. Sumber adat minangkabau adalah Al-Qur’an, seperti kata pepatah minang “ adaik basandi syarak, syarak basandi kitabulloh ”. Jadi semua adat minang berasal dari ajaran Islam. Daerah Pariaman merupakan salah satu tempat berkembangnya agama islam, sehingga orang orang Pariaman sangat memegang teguh agamanya.

Tradisi bajapuik bersumber dari kisah pernikahan Rasululloh SAW. Rasululloh dulunya pemuda miskin yang bekerja dengan pedagang besar, yaitu Siti Khadijah Karena Muhammad memiliki sifat mulia, dan mendapat gelar al-amin atau orang terpercaya, Siti Khadijahpun menaruh hati padanya. Akhirnya Siti Khadijah meminta temannya untuk menanyakan pada Muhammad apakah beliau bersedia menjadi suami Khadijah, namun Muhammad merasa kurang enak, karena ia hanya pemuda miskin yang tak punya, mana mungkin dapat menikahi Siti Khadijah yang kaya raya. Namun Siti Khadijah berniat menghormati Muhammad, ia pun memberikan sejumlah hartanya pada muhammad agar Muhammad dapat mengangkat derajatnya dari seorang pemuda miskin menjadi pemuda yang setara dengan Siti Khadijah. Akhirnya merekapun menikah dan setelah mereka menikah, Siti Khadijah pun sangat menghormati suaminya dengan memanggil gelarnya misal sidi, bagindo atau sutan. Setelah menikah, Suami tinggal di rumah istrinya, di rumah tersebut, suami mereka dipanggil dengan hormat sesuai dengan gelarnya, tidak boleh dipanggil dengan nama aslinya.

Perkawinan Pariaman memakai Uang Jemput dan Uang Hilang. Jumlah Uang Jemput ini lebih besar dari pada Uang Hilang. Uang Jemput ini ditujukan kepada keluarga pengantin laki-laki ( marapulai ) dimana Uang Jemput ini akan dikembalikan lagi dalam bentuk emas atau perhiasan oleh keluarga pengantin laki-laki ( marapulai ). Uang jemput dikembalikan pada saat pengantin perempuan ( anak daro ) datang ke rumah pengantin laki-laki dimana sebagai tanda dari orang tua pengantin laki-laki sehingga pengantin perempuan pulang dari rumah keluarga pengantin laki-laki tidak hanya dengan tangan kosong tetapi dia membawa cendramata dari keluarga pengantin laki-laki.

(6)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

70

Besar uang japuik ditentukan dalam uang rupiah yang nilainya sama dengan 30 ameh ( emas ), satu ameh setara dengan 2,5 gram emas. Semakin tinggi nilai uang japuik yang diberikan, menunjukkan semakin tinggi status sosial marapulai. Pada zaman sekarang, nilai uang jemputan bisa diganti dengan uang rupiah biasa, hewan atau kendaraan. Besar uang japuik, bila orang biasa, misal profesinya tukang becak atau orang biasa, dia dijemput dengan uang senilai Rp. 5.000.000, sedangkan bila ia adalah sarjana guru, dokter akan dijemput dengan uang senilai Rp. 35.000.000 - Rp.50.000.000, belum lagi bila mereka juga mempunyai gelar dari mamaknya, seperti sidi, bagindo atau sutan ( wawancara dengan Ibu Nuraini Senin 02 Januari 2010 ).

Secara teori tradisi bajapuik ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki. Ketika laki-laki dihargai dalam bentuk uang japuik, maka sebaliknya pihak perempuan dihargai dengan uang atau emas yang dilebihkan nilainya dari uang japuik atau dinamakan dengan agiah jalang. Kabarnya dahulu kala, pihak laki-laki akan merasa malu kepada pihak perempuan jika nilai agiah jalangnya lebih rendah dari pada nilai uang japuik yang telah mereka terima, tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Bahwa uang jemputan dikembalikan dalam bentuk hadiah. Jadi makna uang jemputan tak lebih sebagai perias saja.

Apabila tidak ada permusyawarahan antara para ninik mamak dan kesepakatan diantara dua keluarga. Maka perkawinan tersebut tidak akan berlangsung bila pihak keluarga wanita tidak menyetujui. Kesimpulannya uang jemputan tidak sama dengan uang hilang. Uang jemputan memiliki kewajiban dari keluarga marapulai untuk mengembalikan kepada anak daro dalam bentuk perhiasan atau pemberian lainnya pada saat dilangsungkan acara Manjalan Karumah Mintuo. Uang Jemputan ini sebenarnya adalah uang kontribusi dan uang distribusi. Artinya bagi yang menerima uang jemputan semestinya ia harus mengembalikan kepada pihak pengantin wanita / anak daro. Sementara UANG HILANG atau UANG DAPUR merupakan uang kompensasi sesuai dengan kesepakatan kedua keluarga. Apabila dalam perkawinan yang tidak melakukan uang japuik, maka akan dikenakan sanksi, terutama sanksi moral. Keluarga tersebut tentunya akan mendapat cemooh dari sanak keluarga dan teman-temannya, terutama dari mamaknya. Lalu keduanya mungkin bisa tidak jadi menikah, kemudian dicap tidak beradat dan akhirnya diusir dari kampungnya karena dianggap tidak menghargai ninik mamak. ( hasil wawancara dengan Bapak Hermanto, 10 Januari 2010 ).

(7)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

71

Orang-orang di luar suku pariaman dan orang pariaman yang tak tahu dengan budayanya menganggap bahwa bila ingin menikahi laki-laki pariaman, maka harus menjemputnya dengan sejumlah uang, bahkan ada yang megatakan bahwa laki-laki pariaman tersebut harus dibeli apabila ingin menikah dengan laki-laki pariaman. Tentu anggapan itu membuat geram sejumlah tokoh adat pariaman, namun memang anggapan tersebut telah tertanam di benak masyarakat luas yang tidak tahu dan tidak mengerti.

Buku-buku yang menuliskan tradisi bajapuik pun tidak ada yang menanggapi pendapat ini, datuk-datuk hanya diam karena kebanyakan mereka diangkat sebagai datuk karena mempunyai uang atau untuk mengangkat namanya saja, tak mengerti benar dengan adat dan tak memenuhi syarat menjadi datuk. Padahal tradisi bajapuik bertujuan mengangkat derajat pria di pariaman, mereka dijemput untuk menghormati pria tersebut yang akan menjadi anggota baru keluarga besar sang istri ( urang sumando ). Bahkan dalam perkembangnya muncul pula istilah yang disebut dengan uang hilang. Uang hilang ini merupakan pemberian dalam bentuk uang atau barang oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki, yang sepenuhnya milik laki-laki yang tidak dapat dikembalikan. Uang hilang diberikan kepada keluarga pengantin laki-laki ( marapulai ), tetapi Uang hilang ini tidak dikembalikan. Uang hilang biasanya dapat digunakan sebagai alasan untuk menolak secara halus. Jadi di dalam Perkawinan Pariaman, Uang jemput ini dapat berdiri sendiri tanpa harus adanya Uang hilang.

Sedangkan Uang hilang didalam perkawinan Pariaman tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya Uang jemput artinya, Uang hilang dapat dipakai menjadi syarat perkawinan setelah adanya Uang jemput yang menjadi syarat pertama didalam perkawinan menurut Hukum Adat Pariaman. Uang hilang yang sudah diberikan kepada pihak laki-laki tidak dapat dikembalikan, apapun yang terjadi baik pada masa pra nikah maupun pasca nikah. Pihak perempuan tidak dapat menuntut pengembalian, jika pihak laki-laki membatalkan pertunangan dan mengambil uang hilang.

Sedangkan uang japuik, dimana secara hukum adat, apabila ikatan pertunangan dibatalkan oleh salah satu pihak, maka pihak yang membatalkan ikatan pertunangan diharuskan membayar dana sebesar uang japuik atau disebut juga dengan lipek tando ( uang denda ). Bajapuik (dijemput) merupakan adat di Minang, dimana seorang perempuanlah yang memberikan sejumlah uang kepada calon suaminya sebagai maskawin. Uang tersebut disebut sebagai “Uang Japuik” atau ‘uang jemput’. Disebut uang jemput. Tradisi Minang memposisikan seorang laki-laki dalam pernikahan sebagai pendatang yang harus dijemput oleh pihak perempuan.

(8)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

72

Mengingat laki-laki diposisikan sebagai pendatang sehingga diinterprestasikan ke dalam bentuk prosesi Bajapuik dalam perkawinan yang melibatkan barang-barang bernilai seperti uang. Tradisi Bajapuik dianggap tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang mengharuskan laki-laki membayar mahar kepada perempuan, di samping untuk melaksanakan tradisi Bajapuik yang dianggap hanya sebagai hadiah perkawinan, masyarakat Pariaman tetap membayarkan mahar sesuai dengan ajaran Islam. Mahar atau maskawin bukan menjadi wajib nikah melainkan hal yang sakral yang harus dibayarkan dalam suatu pernikahan.

Perbandingan antara Uang jujur dalam perkawinan di Tapanuli dengan Uang hilang di masyarakat Pariaman maka Uang hilang dan Uang jujur adalah sama dimana uangnya sama-sama tidak dikembalikan. Bedanya uang hilang ini diberikan kepada para pihak keluarga laki-laki dari pihak keluarga perempuan. Sedangkan Uang Jujur sebaliknya dimana Uang Jujur ini diberikan kepada pihak keluarga perempuan dari pihak keluarga laki-laki.

Uang hilang sebagai pemberian berasal dari pihak keluarga perempuan diserahkan kepada pihak laki-laki pada waktu menjemput marapulai (menjemput calon pengantin laki-laki). Penyerahan atau penyelesaian harus dilakukan sebelum akad nikah dibacakan. Pelaksanaan penetapan uang hilang ini yaitu adanya perjanjian dari kedua pihak secara rahasia terbatas ( hanya diketahui oleh anggota keluarga kedua pihak ). Uang hilang ini merupakan pemberian dari calon pengantin perempuan ( anak daro ) kepada calon pengantin laki-laki ( marapulai ) yang tidak memerlukan pengembalian atau imbalan. Uang yang diberikan benar-benar hilang. Tidak merupakan aset suami istri seperti uang jemput. Mengenai jumlah dari uang hilang adalah sangat tergantung dari kemampuan seseorang.

Keberadaan dan kedudukan dari uang hilang dalam Hukum Adat Minangkabau

khususnya Pariaman, dalam pelaksanaannya terjadi pro dan kontra. Di satu sisi ( kelompok terbesar ) masyarakat secara umum dan terang-terangan melakukan

tradisi ini ditengah-tengah perkawinan anggota keluarga. Di sisi lain ada suara-suara dalam kelompok masyarakat penghasilan rendah yang menginginkan agar tradisi ini segera dihapus dikarenakan ketidakmampuannya mengikuti adat yang berlaku dalam Hukum Adat Pariaman. Semakin majunya pendidikan dan perkembangan kehidupan manusia serta pengaruh globalisasi dunia menyebabkan pola tingkah laku penganut adat suatu daerah ikut mengalami perubahan dalam tata nilai. Fakta dilapangan mencatat bahwasanya perbedaan antara uang japuik dan uang hilang semakin samar, sehingga masyarakat hanya mengenal uang hilang dalam tradisi bajapuik.

(9)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

73

Berdasarkan sistem kekerabatan Minangkabau yang matrilinieal tersebut, seorang laki-laki Minangkabau dalam fungsinya sebagai mamak ( saudara laki-laki ibu ) mempunyai tanggung jawab untuk memelihara anak-anak dari saudara perempuannya. Bahkan dapat dikatakan hubungan seorang mamak dengan para kemenakan (anak dari saudara perempuannya) secara adat jauh lebih kuat dari hubungan seorang ayah dengan anak-anaknya. Hal ini dapat dilihat dari aturan adat yang menetapkan para kemenakanlah yang nantinya mewariskan harta warisan dan kedudukan adat sako dan pusako seorang mamak ( A.A Navis: hal 161 ).

Mengenai fungsi dan tugas seorang mamak secara garis besarnya dapat di lihat antara lain adalah menjaga saudara-saudaranya yang perempuan, membimbing kemenenakan-kemenakannya serta menjaga harta pusako. Mamak akan memberikan petunjuk dan nasehat-nasehat untuk memecahkan kesulitan-kesulitan. Seorang mamak juga akan membantu kemenakan-kemenakannya dengan materi, juga bantuan tenaga sering diberikan oleh seorang mamak kepada kemenakannya kalau ia tidak mempunyai uang misalnya dalam membangun rumah, kesawah dan sebagainya.

Terhadap anak kemenakan perempuan bimbingan dan tanggung jawab mamak meliputi persiapan untuk menyambut warisan dan untuk melanjuti garis keturunan. Terhadap kemenakan-kemenakan laki-laki bimbingan dan tanggung jawab mamak meliputi kemampuan untuk memelihara harta pusaka serta mempersiapkan laki-laki untuk dapat mewarisi fungsi mamak untuk menjadi pemimpin dalam lingkungannya, baik dalam lingkungan rumah maupun dalam lingkungan suku.

Bimbingan yang dilakukan mamak terhadap kemenakan berlaku secara tidak formal, tetapi melalui latihan dan contoh tauladan yang dilakukan mamak saat dia menjalankan fungsinya di rumah gadang ( keluarga ). Si mamak menerima pula pengalaman itu dari mamaknya saat ia menjadi kemenakan. Penyampaian pengalaman seperti ini berlaku secara sambung-menyambung atau turun-temurun sehingga melembaga diantara mamak dan kemenakan.

Adat Minang secara turun temurun mengatur bahwa kaum laki-laki bertanggung jawab untuk melindungi kaum perempuan Minang, adat itu jualah yang mendasari aturan pembagian harta waris, sebagai pihak yang dilindungi maka harus dicukupi kebutuhannya. Oleh karena itu seluruh harta warisan hanya dibagikan kepada anak perempuannya, anak laki-laki Minang tidak sedikitpun mendapat harta warisan baik benda bergerak maupun tidak bergerak.

(10)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

74

Sehingga tidak mengherankan kalau kemenakan berhak atas warisan dari mamaknya. Berbeda dengan sistem kekerabatan lainnya yang ada di Indonesia. Jadi, kedudukan kemenakan menjadi perhatian yang sangat penting terhadap masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal karena merekalah sebagai penerus generasi dalam kekerabatannya. Hal ini menyebabkan peranan laki-laki atau suami terhadap isteri dan anak-anaknya sangat kecil dibandingkan dengan peranan dan tanggung jawab mamak pada kemenakan sebagai kapala waris yang sangat menonjol.

Perkembangan peranan mamak sekarang sudah mulai mengalami pergeseran. Hal tersebut disebabkan oleh budaya merantau orang Minangkabau. Yang semula berbentuk perkawinan semendo bertandang berubah menjadi perkawinan semendo menetap. Perkembangan bentuk semendo ini menuju kearah terbentuknya keluarga inti yang hanya terdiri dari ibu, ayah dan anak-anak.

Pada zaman sekarang antara mamak dengan ayah sudah terbentuk saling kerjasama dalam menjaga anak kemenakan bagi mamak dan anak bagi ayah. Kerjasama ini khususnya dalam hal perkawinan anak kemenakan. Perkawinan dengan adat bajapuik pada zaman sekarang tidak lagi merupakan tanggung jawab mamak tetapi juga menjadi tanggung jawab ayah selaku orang tua dalam keluarga. Mamak akan membatu apabila orang tuanya tidak sanggup membayar dan memikulnya maka mamak akan berusaha untuk memenuhinya.

Dengan membentuk somah-somah sendiri dimungkinkan terjadinya pergeseran dalam sistem dan bentuk perkawinan yang dijalankan di perantauan, dan segala akibat dan atau konsekuensi hukum daripadanya. Menyadari akan hal diatas, penulis merasa tertarik dan merasa ikut bertanggung jawab untuk memperjuangkan, supaya adat dan kebudayaan Minangkabau tetap tegak dan hidup dalam zaman modern sekarang ini, dengan cara melestarikan dan memeliharanya melalui suatu karya ilmiah dengan mengambil topik sebagian kecil dari Lembaga Adat Minangkabau yang hingga kini tetap hidup serta dipertahankan oleh penganutnya di daerah masing-masing. Tentu saja hal ini dalam konteks yang tidak terlalu luas serta lokal, sesuai dengan kemampuan dan tingkat pengetahuan penulis yang masih dalam taraf belajar.

Pelaksanaan Perkawinan Yang Dijalankan Oleh Warga Masyarakat Pariaman Yang ada di Pekanbaru

Beradasarkan hasil penelitian yang dilakukan, laki-laki yang melangsungkan perkawinan dengan perempuan yang tidak sesuku. Tidak ada paksaan untuk melangsungkan perkawinan dengan perempuan pilihan mamak dan orang tua.

(11)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

75

Menurut responden pernikahan yang dilakukan tidak satu suku karena ada larangan menurut adat dan karena rasa patuh dengan adat. Walaupun secara agama dibolehkan tetapi para responden tetap tidak mau mengambil resiko untuk melanggar aturan tersebut walaupun menikah di perantauan.

Pelaksanaan perkawinan adat pariaman ini tidak baku, karena ada sebagian masyarakat Pariaman tidak mengikuti aturan ini, disebabkan pengantennya bukan berasal dari daerah Pariaman. Tapi percampuran antara orang pariaman dengan orang non pariaman. Bila perkawinan campur daerah ini terjadi, tradisi bajapuik tidak akan dipraktekan. Kecuali, sudah ada kesepakatan diantara dua pihak, penganten pria dan penganten perempuan untuk mengikuti tradisi bajapuik ini. Kabarnya dulu pihak laki-laki akan merasa malu kepada pihak perempuan jika nilai agiah jalangnya lebih rendah dari nilai uang japuik yang mereka terima, tapi sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Makna saling menghargai inilah yang menjadi prinsip dasar dari tradisi bajapuik.

Namun dalam realitanya yang terjadi adalah terdapat jurang yang tajam antara teori dan prakteknya. Tradisi yang dilaksanakan oleh masayarakat hingga kini sudah jauh berbeda dengan prinsip dasarnya. Jika sebelumanya nilai agiah jalang melebihi uang japuik, maka dalam prakteknya sekarang adalah nilai agiah jalang malah lebih rendah dari nilai uang japuik. Adat Minangkabau menganut sistem perkawinan eksogami, yakni mencari jodoh keluar lingkungan kerabat. Pada saat perkawinan, pengantin laki-laki dijemput oleh keluarga perempuan dengan upacara adat untuk kemudian dibawa kerumah isteri dengan nama “ alek malapeh marapulai ” ( adat melepas mempelai ) ( Yaswirman : 137 ).

Perkawinan Pariaman memakai uang jemput dan uang hilang. Uang jemput dan uang hilang ini sama-sama ditujukan kepada keluarga pengantin laki-laki tetapi uang jemput ini akan dikembalikan lagi dalam bentuk emas atau perhiasan oleh keluarga pengantin laki-laki, sedangkan uang hilang ini tidak dikembalikan lagi karena uang hilang ini sebagai pengganti dari anak laki-lakinya yang sudah menikah dan masuk kedalam keluarga isterinya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan pada masyarakat pariaman yang ada di Pekanbaru sudah tidak memakai uang hilang hanya menggunakan uang jemput. Menurut Muhammad Yusuf Sikumbang selaku Ketua Persatuan Keluarga Padang Pariaman ( PKDP ) mengemukakan bahwa pada mulanya pelaksanaan perkawinan adat Pariaman di Kota Pekanbaru tetap mengikuti adat istiadat Pariaman, akan tetapi sesuai dengan perkembangan, sedikit demi sedikit ada hal-hal yang sudah tidak lazim lagi untuk dilakukan karena adanya faktor sosial dan ekonomi.

(12)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

76

Dari hasil wawancara yang didapat, pada zaman dahulu perkawinan yang paling disukai oleh masyarakat Minangkabau yang berasal dari Padang Pariaman adalah perkawinan pulang ka bako atau perkawinan pulang ke mamak karena perkawinan tersebut akan mempererat tali persaudaraan yang kuat dan terjalin dengan baik. Bentuk perkawinan yang demikian seorang kemenakan akan menjadi menantu mamaknya dan sebaliknya mamak akan menjadi mertua dari kemenakannya, sedangkan menurut hasil yang didapat dari penelitian perkawinan tersebut ada yang tidak menyukainya karena tidak akan memperbanyak jumlah keluarga atau kerabatnya serta dikhawatirkan apabila terjadi pertikaian dalam hubungan suami isteri akan mengakibatkan renggangnya hubungan tali persaudaraan.

Berdasarkan keterangan dan kenyataan di lapangan tampak terlihat bahwa sistem perkawinan yang dijalani adalah sistem perkawinan eksogami dimana seorang laki-laki mencari isteri dari luar suku sendiri. Dalam pencarian jodoh yang ideal sebenarnya adalah mengawini anak dari mamak dengan tujuan supaya harta pusaka kaum kerabat tidak jatuh ketangan kaum kerabat keluarga lain. Mengawini anak dari mamak termasuk dalam perkawinan eksogami dengan kata lain anak mamak bukanlah merupakan satu suku, karena anak mamak tersebut sukunya ditarik dari garis keturunan ibunya yaitu isteri dari mamak.

Semakin tampak perubahan pola dalam cara pemilihan pasangan hidup, dari cara mengawini gadis-gadis lainnya. Dengan demikian perkawinan yang dulu dianggap paling ideal dalam masyarakat Pariaman dalam kenyataan sekarang ini menurut hasil wawancara masyarakat yang ada di Kota Pekanbaru sudah jarang terjadi lagi seiring dengan perkembangan zaman.

Peranan Mamak dan Orang Tua dalam Pelaksanaan Perkawinan Pada Masyarakat Pariaman yang ada di Pekanbaru.

Peran orang tua berfungsi secara optimal dikarenakan memang peran mamak ( saudara laki-laki isteri ) berfungsi dalam kehidupan anak-anak dikarenakan

kemenakan tidak merasa dekat dengan mamaknya dan kemenakan lebih tergntung kepada orang tua. Mamak dalam masyarakat Minangkabau mempunyai fungsi dan tugas baik dalam bidang pendidikan, ekonomi rumah tangga maupun sosial keluarga. Berdasarkan hasil penelitian, yang melangsungkan perkawinan di Kota Pekanbaru dan sudah merantau mengaku bahwa di dalam keluarga ada kemenakan yang hidup dan tinggal bersama. Para responden mengatakan bahwa kehadiran kemenakan tersebut tidak berpengaruh terhadap kehidupan di perantauan karena kemenakan mendapatkan subsidi setiap bulannya dari orang tua yang berada di kampung.

(13)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

77

Secara kasarnya responden hanya menyediakan penginapan dan makan sehari hari, walaupun kadang-kadang memberi uang saku yang tidak banyak, tapi itu bukan berarti responden menanggung semua biaya hidup dan pendidikannya. Selanjutnya menurut responden, meskipun kemenakannya menjadi tanggung

jawab orang tuanya masing-masing tetapi para responden tidak berdiam diri saja, responden tetap berkedudukan sebagai mamak tetapi hanya sekedar

memberikan nasehat atau bahkan lainnya yang sifatnya tidak wajib (mengikat), bantuan yang diberikan responden hanyalah membantu berdasarkan hubungan kekeluargaan, tidak mutlak bertanggung jawab sepenuhnya dalam segala hal. Menurut responden mamak tetap berkedudukan sebagai mamak terhadap para kemenakannya yang tinggal di kampung atau kerabat asalnya, tetapi kedudukan tersebut hanyalah sebagai sebutan ( lambing ) saja untuk mengakui dan menghormati keberadaannya sebagai mamak dari para kemenakan tersebut karena ikatan kekeluargaan. Mamak disini berfungsi memberi nasehat atau bantuan dana apabila diminta dan sesuai dengan kemampuan mamak.

Pada masyarakat Minangkabau salah satunya masyarakat Pariaman yang merupakan bagian dari masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal tanggung jawab mamak sangatlah besar jika dibandingkan dengan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Karena tugas dan tanggung jawab serta kewajiban mamak ( saudara laki-laki dari ibu ) terhadap kemenakannya baik laki-laki maupun perempuan tidak ubahnya seperti tugas seorang ayah pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan yang selain matrilineal yang ada di Indonesia.

Letak perbedaannya adalah seorang mamak akan berhadapan dengan lebih banyak kemenakan jika mamak itu mempunyai banyak saudara perempuannya, sedangkan peranan seorang ayah hanya terhadap anak-anaknya saja. Kedudukan Laki-laki sebagai Ayah atau Mamak Kepala Waris dalam Masyarakat Pariaman di Kota Pekanbaru, tanggung jawab Laki-laki sebagai ayah atau suami pada masa sekarang ini diakui oleh para responden dalam pemberian nafkah lahir bathin kepada istri dan anak-anaknya. Mengenai biaya sekolah, makan, pakaian, dan sebagainya sudah merupakan tanggung jawab orang tua meskipun ada juga bantuan moril dan materil dari mamaknya terhadap keponakannya namun tidak sepenuhnya sesuai dengan kemampuan ekonomi mamak tersebut. Dengan demikan pada saat sekarang ini bagi yang merantau di Pekanbaru berpendapat bahwa peranan sebagai seorang ayah dan suami sudah bertanggung jawab. Peranan mamak masih tetap diharapkan dari kerabatnya.

(14)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

78

Kedudukan dan peranan mamak secara garis besar telah banyak diuraikan, pada intinya sekarang ini sudah tidak menonjol lagi kedudukan dan perananya karena tanggung jawabnya terhadap kemenakan telah diambil alih oleh orang tuanya misalnya dalam hal kemenakan perempuan yang akan menikah dengan pasangan pilihannya harus meminta restu mamak hanya sebagai formalitas saja karena pada umumnya mamak hanya menrestui perkawinan tersebut asalkan ayah dan ibunya telah menyetujui.

Menurut bapak Bagindo Josan bahwa pergeseran kedudukan dan peranan mamak yang dinilai sosialnya saja, sedangkan nilai yang prinsipil masih dipertahankan terutama dalam harta pusaka, apabila ada kemenakan yang akan menggadaikan harta pusaka harus seizin mamak, dan dalam kemenakan akan melangsungkan perkawinan maka mamak berkewajiban memberi gelar seperti sidi, bagindo, sutan, atau marah dan sebagainya yang biasanya diambil dari gelar ayah sedangkan suku turun dari ibunya.

Dengan demikian kedudukan dan peranan mamak terhadap kemenakannya menurut 5 responden dari hasil penelitian yang tinggal di perantauan Kota Pekanbaru untuk kedudukan dan peranan mamak di daerah asal Padang Pariaman yang dirasakan sekarang ini adalah :

1) Memelihara dan mengurus harta pusaka kalau belum dibagi-bagikan kepada kemenakan. Apabila sudah dibagi-bagikan kepada kemenakan - kemenakan maka mamak kepala waris akan memberikan izin untuk digadaikan;

2) Memberi gelar kepada kemenakan yang sudah menikah dengan mengambil gelar dari ayah;

3) Mamak-mamak yang duduk dalam Kerapatan Adat Nagari ( KAN ) untuk membantu penyelesaian perselisihan yang terjadi antara kemenakan-kemenakannya.

4) Memberikan nasehat atau bahkan lainnya yang sifatnya tidak wajib ( mengikat ).

5) Sebagai sebutan ( lambing ) untuk mengakui dan menghormati keberadaan mereka sebagai mamak dari para kemenakan karena ikatan kekeluargaan. 6) Dalam masalah adat, apabila ada kematian pada saat diadakan rapat

mengenai segala sesuatunya termasuk pemakaman maka mamaklah yang berperan memimpin rapat.

7) Dalam pembagian harta pusaka ( apabila masih ada ), akan dibagi oleh mamak sama adil dan sama rata.

8) Dalam perkawinan kemenakan hanya berfungsi memberikan doa restu dan memberi bantuan sesuai kemampuannya.

(15)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

79

Tugas mamak hanya berfungsi dalam masalah adat, misalnya kematian dimana diadakan rapat mengenai pemakaman, biaya pemakaman dan lainnya atau berfungsi mengenai pembagian harta pusaka ( kalau masih ada ), yaitu apabila harta pusaka tersebut berbentuk sawah, maka pada saat musim panen datang hasil panen akan dibagi sama rata dan adil oleh mamak.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa hubungan mamak dengan kemenakannya tidaklah dekat. Bahkan sebagai mamak, tidak tahu menahu dengan kehidupan kemenakannya, karena sudah sibuk mengurus isteri dan anak-anaknya sendiri. Jadi apabila kemenakan-kemenakan tersebut mendapat masalah maka mengadu dan meminta saran pendapat kepada orang tua masing-masing. Begitu juga dengan urusan jodoh para kemenakan yang tidak lagi menjadi urusan mamak. Mamak hanya terlibat pada saat memang diminta untuk memperisapkan upacara perkawinan, bahkan urusan mencari jodoh kemenakannya. Jadi memang hanya berfungsi memberikan doa restu. Dari uraian diatas disimpulkan bahwa secara umum melunturnya fungsi peranan mamak dalam struktur kepemimpinan sosial Minangkabau disebabkan oleh banyak hal, salah satunya kemenakan tidak lagi barajo ke mamak karena makin dominannya peran ayah dalam keluarga, sehingga peran mamak tidak dibutuhkan dan mamak itu sendiri sudah sibuk mengurus rumah tangganya sendiri, yaitu isteri dan anak-anaknya.

Kenyataan akhir-akhir ini, pendapa mamak tidak dituruti lagi. Bahkan cukup banyak mamak yang justru “ takut ” atau “ segan ” kepada kemenakannya yang telah menjadi pejabat, orang kaya, yang status sosialnya melebihi mamak, dan kemenakan tidak lagi berlakuan bertindak berdasarkan perintah mamak.

Peranan Pejabat Pembuat Akta Tanah ( PPAT ) Di Dalam Proses Peralihan Hak Atas Tanah Karena Warisan Menurut Hukum Adat.

Berdasarkan hasil penelitian, warga masyarakat Pariaman yang ada di Pekanbaru masih ada yang belum mendaftarkan peralihan hak atas tanahnya setelah orang tuanya meninggal dunia, padahal dalam Pasal 42 ayat ( 1 ) dan ( 2 ) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 sudah dijelaskan bahwa ahli waris berkewajiban untuk segera mendaftarkan peralihan hak atas tanah karena pewarisan.

Mengenai bidang tanah hak yang sudah didaftar dan yang belum didaftar dalam waktu 6 bulan setelah orang tuanya meninggal dunia. Berdasarkan Pasal 23 ayat ( 1 ) undang-undang pokok Agraria mengenai hak milik baik setiap peralihan, hapusnya dan pembebanannya wajib untuk didaftarkan.

(16)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

80

Selanjutnya mengenai tata cara pendaftaran tanah diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah Menteri Agraria / Kepala badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang ketentuan pelaksanaan peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. Pendaftaran tanah diselenggarakan dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dan demi tertibnya administrasi pertanahan.

Terhadap tanah warisan tersebut sebagian masyarakat mengatakan belum dilakukan pembagian, artinya masih terjadi pemilikan tanah secara bersama atas tanah warisan tersebut. Dengan menanyakan pewaris meninggal dunia atau melihat surat kematian pewaris dan surat tanda bukti hak milik atas tanah atau sertipikat serta tanda bukti permohonan pendaftaran peralihan haknya. Dan terhadap pembagian warisan di kedua desa tersebut diselesaikan dengan menggunakan pewarisan menurut hukum adat, yaitu dengan pembagian sama rata di antara semua ahli waris.

Menurut Eva Yulida bahwa ketidaktahuan warga masyarakat mengenai batas waktu pendaftaran peralihan hak milik atas tanah yang diperoleh dari warisan dan perincian biaya diperlukan untuk mengurus pendaftaran peralihan hak milik atas tanah adalah bukan merupakan alasan. Memang diakui bahwa selama ini lokasi penelitian belum semuanya didatangi oleh pihak pemerintah ( Badan Pertanahan nasional ) melakukan penyuluhan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan.

Ketidaktahuan tersebut antara lain disebabkan oleh warga masyarakat sendiri tidak bertanya terlebih dahulu ke kantor pertanahan setempat. Karena pada asasnya pelayanan yang dilakukan kepada warga masyarakat adalah terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui tentang hak dan kewajiban atas tanahnya tidak dipungut biaya. Bahkan untuk membantu masyarakat mengenai prosedur pendaftaran peralihan hak dapat di peroleh dari blangko yang tersedia di Badan Pertanahan Nasional yang memuat syarat-syarat pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan. Dengan hal tersebut dapat memudahkan masyarakat yang akan mengurus pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan dengan sendiri. Pejabat pembuat akta tanah adalah pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah. Pejabat pembuat akta tanah mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah, yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum.

(17)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

81

Akta PPAT merupakan salah satu sumber data bagi pemeliharaan pendaftaran tanah, maka wajib sedemikan rupa sehingga dapat dijadikan dasar yang kuat untuk pendaftaran pemindahan dan pembebanan hak yang bersangkutan. Dalam hal pelayanan pembuatan akta untuk memperoleh hak atas tanah telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, Tentang Pendaftaran Tanah, sebelum diajukan pendaftaran hak di Kantor Pertanahan.

Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan ( disengaja ) atau peristiwa hukum ( otomatis / tidak disengaja ) yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Contoh peristiwa hukum adalah warisan karena pemilik meninggal dunia. Perolehan hak pada dasarnya ada dua : yaitu peralihan hak dan perolehan hak baru. Peralihan hak berarti sebelum memperoleh hak, hak atas tanah dan atau bangunan tersebut sebelumnya sudah ada di “ orang ” lain. Karena perbuatan atau peristiwa tertentu, haknya beralih kepada subjek hukum A ke subjek hukum ke B. Sedangkan perolehan hak baru biasanya berasal dari tanah negara kemudian diperoleh subjek pajak. Atau konversi hak, contohnya, dari hak adat menjadi hak milik ( Miftachul Machsun : 2009, hal.13 ). Peralihan hak atas tanah terjadi karena beralih atau dialihkan. Beralih, misalnya karena pewarisan. Sedangkan dialihkan, misalnya karena jual beli, tukar menukar, hibah dan penyertaan modal berupa bidang tanah ke dalam suatu perusahaan ( Herman Hermit : 2004, hal 21 ).

Menurut Hukum Perdata jika pemegang sesuatu hak atas tanah meninggal dunia, hak tersebut karena hukum beralih kepada ahli warisnya. Peralihan hak tersebut kepada para ahli waris, yaitu siapa-siapa yang termasuk ahli waris, berapa bagian masing-masing dan bagaimana cara pembagiannya diatur oleh Hukum Waris almarhum pemegang hak yang bersangkutan. Syarat utama untuk mendaftarkan peralihan hak milik atas tanah adalah adanya akta yang dibuat oleh PPAT yaitu akta pembagian hak bersama atau disebut dengan Akta Pembagian Hak Bersama ( APHB ). Pembuatan akta pembagian hak bersama oleh PPAT dilakukan apabila pewaris meninggal dunia, meninggalkan lebih dari 1 ( satu ) orang atau beberapa orang ahli waris, apabila dibalik nama maka sertipikat atas nama semua ahli waris, akan tetapi semua ahli waris telah sepakat untuk mensertifikatkan tanahnya atas nama salah satu ahli waris saja, oleh karena harus dibuatkan akta pembagian hak bersama yang dibuat oleh PPAT. Peranan pejabat pembuat akta tanah dalam perbuatan hukum peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan berkaitan dengan pembuatan Akta Pembagian Hak Bersama ( APHB ).

(18)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

82

Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik karena pewarisan yaitu :

a) Dari masyarakat

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan masyarakat masih ada yang belum mengetahui pentingnya pendaftaran hak milik atas tanah, dan pada saat pengajuan permohonan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah belum melengkapi syarat-syarat yang ditentukan oleh pemerintah. Dan masih ada yang belum mengerti pentingnya pendaftaran peralihan hak milik atas tanah guna kepastian tanah. Untuk itu masyarakat perlu adanya penyuluhan yang dilakukan oleh kantor pertanahan, guna kelancaran pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan. Masih ada orang yang enggan untuk melakukan peralihan hak milik atas tanahnya karena ketidaktahuan mengenai pelaksanaan peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan. Ketidaktahuan warga masyarakat atas syarat- syarat yang dibutuhkan pemohon dalam melaksanakan peralihan hak milik atas tanahnya. Pemohon peralihan hak dilakukan pada saat akan dijual sehingga peralihan harus segera dilakukan. Selain itu penyebab yang lain yaitu kurangnya pemahaman mengenai sertipikat tanah yang dapat dijadikan bukti yang kuat apabila terjadi masalah mengenai kepemilikan tanah pada nantinya. Apabila nantinya terjadi masalah dapat mnunjukkan bukti yang telah kita miliki.

b) Dari kantor pertanahan

Kendala yang dihadapi dari kantor pertanahan yaitu dalam hal pendaftaran peralihan hak atas tanah, pemohon belum bisa melengkapi data-data yang dibutuhkan. Kendala lain yang dihadapi adalah apabila saat berjalannya proses peralihan hak ada yang tidak termasuk atas pengajuan peralihan hak atas tanah yang diperoleh dari pewarisan dengan alasan tertentu, misalnya : syarat yang diajukan terdapat pemalsuan tanda tangan, tidak terima mengenai bagian harta. Untuk itu seharusnya kantor pertanahan melakukan perubahan-perubahan yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pegawai kantor pertanahan.

Sedangkan upaya yang dilakukan dalam mengantisipasi dan menangani kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan peralihan hak milik atas tanah yaitu :

1) Masyarakat pemegang hak yang baru apabila dalam pengajuan permohonan peralihan hak karena pewarisan harus melengkapi persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Hal ini dapat diketahui dari pejabat kantor pertanahan yang menyebutkan, dalam pelaksanaan pendaftaran hak milik atas tanah karena pewarisan yang kurang persyaratannya dalam pelaksanaan pendaftaran peralihan hak atas tanah yang diajukan.

(19)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

83

Oleh karena itu sebaiknya dalam pelaksanaannya seharusnya masyarakat ikut aktif dalam kelancaran pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan. Dan apabila kurang mengerti mengenai persyaratan yang digunakan dapat meminta panduan pada kantor pertanahan bagian informasi yang telah tersedia disana.

2) Untuk kantor pertanahan dengan melakukan penyuluhan secara rutin dan penyebarluasan informasi pertanahan dilaksanakan oleh kantor pertanahan baik mengenai informasi pendaftaran tanah, peraturan-peraturan pertanahan, dan pentingnya pendaftaran peralihan hak milik atas tanah guna menjamin kepastian hukum bagi pemegang hak milik atas tanah. Selain dilakukan penyuluhan-penyuluhan guna kelancaran pada saat proses pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan juga ditunjang dengan kualitas para pegawai yang ada pada kantor pertanahan. Oleh karena itu hendaknya para pegawai dikirim untuk belajar lagi guna untuk memenuhi kualitas para pegawai untuk menunjang pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan dapat berjalan dengan lancar. Apabila terjadi keberatan dalam pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah karena pewarisan yang diajukan oleh para ahli waris yang merasa keberatan adanya pembagian harta waris tersebut, diselesaikan secara intern terlebih dahulu oleh para pihak yang merasa keberatan, dan apabila tidak dapat terselesaikan maka kantor pertanahan melimpahkannya kepada pengadilan, dan kantor pertanahan akan melanjutkan kembali apabila telah ada putusan dari pengadilan.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Pelaksanaan perkawinan yang dianut oleh orang Minangkabau yang bertempat

tinggal di Kota Pekanbaru Provinsi Riau masih melaksanakan tata cara perkawinan adat Pariaman tetapi ada bagian-bagian dari tata cara tersebut yang tidak dilakukan karena Faktor ekonomi dan kesepakatan antara kedua keluarga. Misalnya dalam hal pelaksanaan perkawinan yang memakai Uang Jemput dan Uang Hilang yang mana hanya salah satu yang tetap dilaksanakan yaitu Uang Jemput, sedangkan Uang Hilang sudah tidak dilaksanakan dalam perkawinan. Budaya uang japuik dalam upacara pernikahan adat pariaman ini merupakan salah satunya banyak yang menganggap bahwa ini adalah budaya yang negatif karena dalam budaya ini mempelai laki - laki dibeli oleh mempelai wanitanya, tapi jika tradisi ini di teliti lebih dalam budaya ini adalah budaya yang baik karena pemberian uang ini kepada mempelai laki - laki adalah bentuk penghormatan dari keluarga mempelai wanita kepada keluarga sang laki - laki yang telah merawatnya dari lahir sampai dewasa.

(20)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

84

Karena di dalam budaya orang pariaman laki - laki yang telah menikah akan tinggal bersama keluarga mempelai wanitanya.

2. Peran orang tua dalam hal pelaksanaan perkawinan sangatlah penting dalam hal pemberian izin untuk melaksanakan perkawinan. Begitu juga dengan peran seorang mamak, di masa sekarang ini peran mamak sudah bergeser sehingga peran mamak hanya ada pada saat pemberian restu, pelaksanaan perkawinan atau pada saat pembagian warisan dan pemakaman keluarga dan mamak juga berperan memberi nasehat kepada kemenakannya.

3. Peranan PPAT dalam proses peralihan yang di karenakan warisan sangatlah penting karena pada saat peralihan hak atas tanah yang akan di daftarkan di Kantor Pertanahan yang berwenang adalah PPAT, tetapi dalam pembagian warisan tetap menggunakan cara adat Minangkabau. Sehingga peranan PPAT disini hanya terhadap peralihan hak atas tanah dari pewaris terhadap ahli waris yang berhak sesuai dengan kesepakatan ahli waris.

4. Dalam hal pelaksanaan perkawinan hendaklah adat yang menjadi ciri khas pariaman tetap dilaksanakan karena disitulah terdapat perbedaan dengan adat perkawinan lainnya.

5. Saran kepada orang tua hendaknya tetap melaksanakan adat perkawinan dan warisan sesuai dengan adat Pariaman. Sedangkan saran kepada mamak harus lebih bersifat terbukepada masyarakat di sarankan untuk tetap menjaga nilai-nilai kebudayaan minang supaya adat minang tetap terjaga.

6. Saran kepada PPAT dan pemerintah dalam hal ini harus memberikan penyuluhan dan kemudahan bagi masyrakat untuk pelaksanaan pendaftaran peralian hak atas tanah karena warisan.

DAFTAR PUSTAKA

Hermit, Herman, 2004, Cara Memperoleh Sertifikat Tanah Hak Milik, Tanah Negara dan Tanah Pemda ( Teori dan Praktek Pendaftaran Tanah di Indonesia ), CV. Mandar Maju, Bandung.

Machsun, Miftachul, 2009, “ Beberapa Persoalan yang Dihadapi atau Mungkin Dihadapi Notaris dan PPAT dalam Melaksanaakan jabatannya Berikut Solusinya ”, Makalah Acara Upgrading dan Refreshing Course pada Kongres ke XX Ikatan Notaris Indonesia, Surabaya.

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Yaswirman, 2006, Hukum Keluarga Adat dan Islam, Andalas University Press Kampus UNAND Limau Manis, Padang.

(21)

JURNAL EKONOMI Volume 25, Nomor 4 Desember 2017

85

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah Menteri Agraria / Kepala badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang ketentuan pelaksanaan peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 4.3 Kriteria dan nilai bobot pengujian 1 Hasil pengujian pertama dengan bobot sesuai dengan yang ada di perusahaan, dapat disimpulkan bahwa alternatif ke sembilan

Peneliti mempersiapkan instrument penelitian yang terdiri dari silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kemudian membuat lembar kerja siswa (LKS) untuk

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Pengaruh Sediaan

Cafe Zybrick Coffee & Cantina sendiri. Menurut pemilik Cafe Zybrick Coffee & Cantina , membuat pelanggan merasa puas adalah salah satu tujuan utama baginya. Usaha

Menurut Gresham dan Elliott (2008) tingkat hambatan yang dialami anak berpengaruh positif dengan keterampilan sosial yang dimilikinya. Anak dengan tingkat hambatan

Pendidikan karakter ditanamkan agar siswa kelak menjadi manusia yang memiliki kepribadian sosial. Karakter siswa yang terbentuk sejak dini akan menentukan karakter

Oleh itu, kefahaman dan pengetahuan ini akan membentuk sistem kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan serta implikasi kepada pembentukan masyarakat Malaysia yang

Perlindungan hukum diberikan kepada pendesain, yaitu seseorang atau beberapa orang yang menghasilkan Desain Industri, dalam suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi,