• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Letak dan luas wilayah Sub DAS Keduang

Sub DAS Keduang daerah hulu DAS Bengawan Solo, secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah, terletak antara 7032' - 8012' LS dan 11004' sampai 111018' BT (peta lokasi pada Lampiran 1). Daerah ini berada di atas jalur yang tidak stabil yaitu antara patahan shield Sunda dan Asia, dan dinding Sahul dari daratan Gondwana. Disamping Sub DAS Keduang, DAS Bengawan Solo memiliki enam Sub DAS lainnya, yaitu Sub DAS Tirtomoyo, Sub DAS Temon, Sub DAS Bengawan Solo Hulu, Sub DAS Alang, Sub DAS Wuryantoro dan sungai-sungai kecil lainnya yang mengalir masuk ke dalam Waduk Gajah Mungkur (Waduk Wonogiri). Dari ketujuh Sub DAS tersebut, Sub DAS Keduang memiliki wilayah terluas mencapai 426 km2 atau sebesar 33,8% dari seluruh wilayah DAS Bengawan Solo. Luas masing-masing Sub DAS disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Luas masing-masing Sub DAS Bengawan Solo

No. Sub DAS luas (km2) (%)

1. Bengawan Solo Hulu

200 15,9 2. Temon 69 5,5 3. Alang-Unggahan 235 18,7 4. Tirtomoyo / Wiroko 206 16,3 5. Wuryantoro 73 5,8 6. Keduang 426 33,8 7. Lainnya 51 4,0 Jumlah : 1.260 100,0

Sumber : CDMP Study for Bengawan Solo River Basin, 2000

Sub DAS Keduang terletak dalam wilayah administratif Kecamatan Slogohimo, Jatiroto, Jatisrono, Sidoharjo dan Ngadirojo. Sub DAS Keduang merupakan salah satu Sub DAS dari daerah tangkapan Waduk Wonogiri dengan pola aliran utama berbentuk denritik di utara dan tralis di bagian selatan. Gradien

(2)

sungai utama sebesar 5,73 persen dan kemiringan rata-rata Sub DAS-nya sebesar 21,05 persen sedangkan bentuknya membulat.

4.2. Penggunaan Lahan

Total luas lahan di lokasi penelitian (sembilan desa) adalah 5.643,8 ha dimana sebagian besar ( 53,7%) adalah lahan tanah kering dan 26,7% adalah hutan. Sisanya merupakan lahan sawah 11,8%, lahan tadah hujan 3,9% dan lain-lain 3,9%. Luas penggunaan lahan masing-masing desa disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Luas penggunaan lahan per desa.

No. Nama Desa

Sawah (ha) Tadah hujan (ha) Tanah kering (ha) Hutan (ha) Lain-lain (ha) Jumlah (ha) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Setren Sokoboyo Karang Pandan Watusumo Pingkuk Sumberejo Sembukan Gemawang 64,7 65,2 69,6 114,6 72,2 95,0 46,8 8,0 131,2 - - - - - 21,9 3,7 153,0 43,3 323,8 340,5 213,2 252,4 117,2 279,4 217,5 569,5 717,8 516,0 - - 45,9 24,7 65,0 - 503,0 350,0 97,7 27,9 18,4 13,1 6,7 1,7 15,7 39,5 - 1.000,2 433,6 301,2 426,0 220,8 463,0 283,7 1.273,0 1.242,3 Total : Persentase : 667,3 11,8% 221,9 3,9% 3.031,3 53,7% 1.50 ,6 4 26,7% 220,7 3,9% 5.643,8 100,0%

Sumber : Diolah dari Monografi Desa, 2008.

4.3. Potensi Erosi

Sembilan desa yang tersebar di lima kecamatan terletak di wilayah Sub DAS Keduang. Desa Setren, Sokoboyo, Karang, Pandan dan Watusomo terletak di bagian hulu Sub DAS Kedaung. Desa Sumberejo dan Pingkuk terletak di bagian tengah sedangkan desa Sembukan dan Gemawang terletak di bagian hilir. Desa-desa tersebut merupakan daerah perbukitan dengan jenis tanah hampir seluruhnya latosol merah yang kekuningan yang rawan erosi pada waktu musim hujan.

(3)

Hasil pemetaan yang dilakukan oleh LSM Persepsi dan JICA (2006), menunjukkan bahwa ke sembilan desa tersebut merupakan daerah rawan erosi tanah. Desa Setren, Desa Karang, dan Desa Sokoboyo yang terletak di daerah hulu Sub DAS Keduang memiliki 37 titik rawan erosi. Desa Pandan, Desa Watusumo, Desa Sumberejo dan Desa Pingkuk yang terletak di daerah tengah memiliki 45 titik rawan erosi. Sedangkan Desa Sembukan dan Desa Gemawang yang terletak di daerah hilir Sub DAS Keduang memiliki 37 titik rawan erosi. Tanah yang terkikis pada waktu hujan masuk ke dalam sungai keduang yang akhirnya masuk ke dalam waduk Gajah Mungkur menjadi sedimentasi. Titik-titik rawan erosi tersebut tersebar di masing-masing desa sebagaimana disajikan pada Tabel 10 dan peta lokasi erosi dapat dilihat pada Lampiran 1 sampai dengan 10.

Tabel 10 Jumlah daerah titik rawan erosi pada masing-masing desa

No. Daerah rawan erosi Luas wilayah (ha) Jumlah (titik) Daerah Hulu 37 1. Desa Setren 1.002,2 12 2. Desa Sokoboyo 433,6 14 3. Desa Karang 301,2 11 Daerah Tengah 45 4. Desa Pandan 426,0 11 5. Desa Watusumo 220,8 16 6. Sumberejo 283,7 5 7. Desa Pingkuk 463,0 13 Daerah Hilir 37 8. Desa Sembukan 1.273,0 20 9. Desa Gemawang 1.242,3 17 Jumlah : 5.643,8 119

Sumber : Persepsi dan JICA, 2007.

4.4. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di lokasi penelitian pada umumnya masih terbatas. Hal ini tercermin antara lain dari tingkat pendidikannya yang pada umumnya masih rendah dan sebagian besar hidupnya menggantungkan pada usaha pertanian. Gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat tersebut adalah sebagai berikut :

(4)

4.4.1. Jumlah dan Umur Penduduk

Jumlah penduduk dari sembilan desa 30.168 orang, terdiri dari laki-laki 14.939 orang dan perempuan 15.229 orang. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dan golongan umur di sembilan desa tersebut disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan golongan umur

Golongan umur

Laki - Laki Perempuan Jumlah

No. Desa 16Th 17-5Th >56 Th <16Th 7-55Th >56 Th Laki-laki Perempuan 1. Setren 491 891 182 486 895 185 1.564 1.566 2. Sokoboyo 467 1.014 288 496 1.046 242 1.769 1.784 3. Karang 447 1.099 262 372 997 437 1.808 1.806 4. Pandan 622 769 324 649 726 346 1.715 1.721 5. Watusumo 50 452 378 466 410 381 880 1.257 6. Pingkuk 456 479 162 516 469 167 1.097 1.152 7. Sumberejo 506 810 276 501 796 346 1.592 1.643 8. Sembukan 742 865 667 701 980 346 2.274 2.027 9. Gemawang 757 915 568 765 917 591 2.240 2.273 Total : 4.538 7.294 3.107 4.952 7.236 3.041 14.939 15.229 Persentase : 15,0% 24,2 % 10,3 % 16,5 % 24,0 % 10,0 % 49,5 % 50,5 % Sumber : Diolah dari Monografi Desa, 2008.

Tabel 11 menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbesar menurut golongan umur adalah penduduk yang berumur antara 17-55 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Penduduk laki-laki yang berumur antara 17-55 tahun berjumlah 7.294 orang (24,2 %) dan perempuan 7.236 orang (24,0%). Penduduk laki-laki yang berumur kurang dari 16 tahun adalah sebesar 4.538 orang (15%) dan perempuan sebesar 4.952 orang (16,5%), sedangkan jumlah penduduk laki-laki yang berumur lebih dari 56 tahun adalah sebesar 3.107 orang (10,3%) dan perempuan sebesar 3.041 orang (10%).

(5)

4.4.2. Mata Pencaharian Pokok

Mata pencaharian pokok penduduk yang berumur 10 tahun ke atas sebagian besar adalah Petani. Jumlah penduduk yang mempunyai mata pecaharian pokok petani (termasuk buruh tani) adalah sebesar 14.528 orang (64%), buruh bangunan dan industri sebesar 3.841 orang (17,0%), Pedagang sebesar 988 orang (4,4%), swasta sebesar 801 orang (3,5%) dan lain-lain sebesar 2.525 orang (11.1 %). Mata pencaharian pokok penduduk umur 10 tahun ke atas di sembilan desa disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Mata Pencaharian pokok penduduk umur 10 tahun ke atas

Mata pencaharian pokok No. Desa

Petani Swasta Buruh Pedagang Lain-lain Jumlah

1. Setren 1.610 70 25 55 43 1.803 2. Sokoboyo 1.600 200 1.500 200 95 3.595 3. Karang 1.850 4 55 18 58 1.985 4. Pandan 1.383 178 539 85 639 2.824 5. Watusumo 1.316 4 122 61 156 1.659 6. Pingkuk 2.112 3 - 8 23 2.146 7. Sumberejo 820 288 593 216 1.356 3.273 8. Sembukan 850 29 520 300 130 1.829 9. Gemawang 2.987 25 487 45 25 3.569 Total : 14.528 801 3.841 988 2.525 22.683 Persentase : 64,0% 3,5% 17,0% 4,4% 11,1% 100% Keterangan :

Petani : Petani Sendiri dan Buruh Tani Swasta : Pengusaha besar, sedang dan kecil Buruh : Buruh Bangunan dan Buruh Industri Lain-lain : ABRI, PNS, Pensiunan dll.

Sumber : Diolah dari Monografi Desa, 2008

Tabel 12 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk bermata pencaharian pokok petani, dengan usaha sampingan sebagai pedagang, pertukangan, dan peternakan. Dari jumlah seluruh petani yang ada, petani yang terlibat langsung dengan kegiatan rehabilitasi hutan, lahan dan konservasi sumber

(6)

daya air adalah sebesar 1.653 orang yang tersebar di sembilan desa. Komposisi petani per desa disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Distribusi jumlah petani yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi hutan, lahan dan sumber daya air

No. Desa Jumlah (orang)

1. Setren 172 2. Sokoboyo 195 3. Karang 198 4. Pandan 188 5. Watusumo 117 6. Pingkuk 123 7. Sumberejo 177 8. Sembukan 236 9. Gemawang 247 Total : 1.653 Sumber : KKTA, 2008. 4.4.3. Kelembagaan Sosial

Lembaga sosial yang ada di sembilan desa pada saat ini antara lain kelompok tani, kelompok jati, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lembaga-lembaga tersebut pada saat ini kurang aktif, namun beberapa lembaga masih dirasakan bermanfaat bagi masyarakat setempat. Lembaga yang masih aktif adalah kelompok jati dan LSM yang kegiatannya menampung program-program GNRHL. Kegiatan yang dilakukan oleh lembaga ini antara lain mengkoordinir pembelian pupuk dan benih secara bersama, membantu pembangunan desa, memberikan penyuluhan dan menyediakan pupuk organik. Lembaga-lembaga sosial yang lain pada umumnya hanya aktif pada saat ada kegiatan yang bersifat keproyekan. Kondisi ini menyebabkan fungsi sebagai wahana pemberdayaan masyarakat menjadi tidak optimal.

Disamping lembaga-lembaga sosial yang ada, dalam rangka implementasi program GN-KPA telah dibentuk Kelompok Konservasi Tanah dan Air (KKTA) di sembilan desa sebagai wahana untuk melaksanakan kegiatan rehabilitasi hutan,

(7)

lahan dan konservasi sumberdaya air di Sub DAS Keduang. Sruktur organisasi KKTA terdiri dari ketua, bendahara, sekretaris, seksi konservasi, seksi kelembagaan dan seksi pengembangan usaha. KKTA merupakan forum diskusi masyarakat dalam pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan rehabilitasi hutan, lahan dan konservasi sumberdaya air. Selama ini KKTA dianggap banyak membantu para petani dalam kegiatan pendistribusian bibit tanaman bantuan dari pemerintah, mengkoordinir dan membantu pelaksanaan penanaman pohon serta membantu mengawasi pemeliharaan pasca tanam. Keberadaan lembaga ini masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya untuk dibahas pada saat forum pertemuan dengan para penentu kebijakan. Oleh karena itu lembaga ini diharapkan dapat berperan aktif membantu masyarakat dalam mendukung kegiatan rehabilitasi hutan, lahan dan konservasi sumberdaya air di Sub DAS Keduang agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

Gambar

Tabel 8  Luas masing-masing Sub DAS Bengawan Solo
Tabel 9  Luas penggunaan lahan per desa.
Tabel 10  Jumlah daerah titik rawan erosi pada masing-masing desa
Tabel 11  Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan golongan umur
+3

Referensi

Dokumen terkait

Wen-kai dan Hong-Fwu (2009) mengembangkan model Salameh dan Jaber (2000) dengan mengkaji model inventori untuk produk cacat pada saat ada potongan harga dimana produk-produk

Salah satunya adalah dengan menggunakan Teknik Substring Weighting , yaitu implementasi text mining dari tiap- tiap nama mata kuliah asal yang dimanfaatkan sebagai dasar

Dengan demikian, tidak akan terjadi pelaksanaan program yang Dengan demikian, tidak akan terjadi pelaksanaan program yang terkotak-kotak, semua program akan

Berdasarkan hal tersebut, maka dalam penelitian ini akan dilakukan sintesis dan karakterisasi TiO2 mesopori terdoping galium III pada variasi konsentrasi dopan galium III 0; 0,5;

Selisih perubahan kadar gula darah antar waktu perlakuan dari jam ke-0 ke pengukuran jam ke-1 menunjukkan bahwa peningkatan kadar gula terrendah adalah pada pemberian

Pada penelitian ini akan dilakukan perbandingan antara metode Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) dan Simple Additive Weighting

Christine Hakim telah menetapkan Kriteria produk sebagai standar kualitas yang harus di penuhi oleh Perusahaan Rendang dan Keripik KOKOCI yakni sebagai Untuk semua

(1) Setiap Tenaga Kependidikan yang mengetahui telah terjadinya pelanggaran Peraturan Disiplin memiliki hak untuk melaporkan kepada Dekan, Ketua Jurusan atau Kepala